Anda di halaman 1dari 13

Struktur, Perkembangan, dan Hormon Organ Reproduksi Wanita

Valentine Seftiana Soesanto


102011212 / D-3
valentine.seftiana@hotmail.com
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara Jakarta Barat

Pendahuluan
Genetik modern dan embriologi eksperimental memastikan dengan jelas bahwa, pada
sebagian besar spesies mamalia, berbagai perbedaan antara pria dan wanita tergantung pada
kromosom (kromosom Y) dan sepasang struktur endokrin, testis pada pria dan ovarium pada
wanita. Setelah lahir, gonad beristirahat sampai masa akil balik, saat gonad diaktifkan oleh
gonadotropin dari hipofisis anterior. Hormon yang disekresikan oleh gonad akan
menyebabkan timbulnya gambaran khas pada pria dan wanita, serta akan menyebabkan
perkembangan pada organ reproduksinya. Dalam makalah ini, penulis akan membahas
mengenai struktur organ reproduksi wanita, siklus menstruasi, dan pengaruh hormonnya.
Organ Reproduksi Femina


Organ untuk pembiakkan atau organ reproduksi dapat dibagi dalam organ interna dan
eksterna. Organ eksterna bersama-sama dikenal sebagai vulva, dan terdiri atas bagian-bagian
berikut.
Mons veneris. Sebuah bantalan lemak yang terletak di depan simfisis pubis. Daerah ini
ditutupi bulu pada masa pubertas.
1
Labia mayora (bibir besar). Dua lipatan tebal yang membentuk sisi vulva, dan terdiri atas
kulit dan lemak, dan jaringan otot polos, pembuluh darah, dan serabut saraf. Labia mayora
panjangnya sekitar 7,5 cm.
1
Nimfae atau labia minora (bibir kecil). Adalah dua lipatan kecil dari kulit di antara bagian
atas labia mayora. Labianya mengandung jaringan erektil.
1
Klitoris (klentit) adalah sebuah jaringan erektil kecil yang serupa dengan penis laki-laki.
Letaknya anterior dalam vestibula.
1
Vestibula di setiap sisi dibatasi lipatan labia dan bersambung dengan vagina. Uretra juga
masuk ke dalam vestibula di depan vagina, tepat di belakang klitoris. Kelenjar vestibularis
mayor (Bartholini) terletak tepat di belakang labia mayora di setiap sisi. Kelenjar ini
mengeluarkan lendir dan salurannya keluar antara himen dan labia minora. Himen adalah
diafragma dari membran tipis, di tengahnya berlubang supaya kotoran menstruasi dapat
mengalir keluar. Letaknya di mulut vagina, dan dengan demikian memisahkan genitalia
eksterna dan interna. Tidak adanya lubang-lubang pada himen merupakan keadaan abnormal
yang jarang terjadi dan disebut himen imperforata. Keadaan ini tidak dapat diketahui sampai
umur menstruasi seorang gadis; kotoran tidak dapat keluar, berkumpul di dalam vagina, dan
membuat vagina mekar.
1
Sementara itu, organ genitalia interna terdiri dari ovarium, tuba falopii, uterus dan vagina
yang akan dibahas satu persatu di bawah ini.
Ovarium
Ovarium merupakan dua struktur kecil berbentuk oval, masing-masing berukuran
sekitar 2 x 4 x 1,5 cm berada jauh di dalam pelvis wanita sedikit lateral terhadap dan di
belakang uterus. Kedua organ ini terikat lemah pada uterus oleh pita jaringan ikat. Pada
pemeriksaan bimanual, pemeriksa akan merasakan benda menyerupai almond yang bergeser
di antara jari-jari pemeriksa saat melakukan palpasi. Setelah menopause, ovarium mungkin
tidak dapat terpalpasi sama sekali.
1

Ovarium terletak di tepi pelvis dan ditopang oleh ligamentum ovarii (yang terentang
dari uterus ke kutub medial ovarium) dan ligamentum infundibulopelvis. Ovarium terletak
pada fossa di sisi dinding pelvis yang dibatasi oleh peritoneum. Di bagian atas, ovarium
dibatasi oleh pembuluh darah iliaca externa, di bagian bawah oleh saraf dan pembuluh darah
obturator, di bagian posterior oleh ureter serta arteri dan vena uterina, dan di anterior oleh
pelekatan ligamentum latum dengan pelvis. Tuba uterina terletak di atas permukaan medial
ovarium.
2

Arteri ovarika berasal dari aorta yang berada sedikit di bawah arteri renalis dan
merupakan pemasok darah ovarium yang utama. Arteri ovarika berjalan melewati rongga
retroperitoneal abdomen di dekat ureter. Darah yang memasuki ovarium keluar melalui vena
ovarika. Vena ovarika mengalirkan darah ke vena cava pada sisi kanan dan ke vena renalis
pada sisi kiri. Perbedaan anatomis dalam aliran vena ini sangat penting. Semakin lateral posisi
vena ovarika kiri membuatnya lebih rentan terhadap obstruksi dan pembentukan thrombus,
terutama pada kehamilan. Aliran limfatik ovarium berjalan ke nodus lumbalis (para-aorta).
1

Ovarium tersuspensi dari ligamen uterus pada lipatan peritoneum yang disebut
mesovarium, melalui jalan pembuluh darah memasuki ovarium pada hilumnya. Organ ini
dilapisi oleh epitel kuboid rendah yang asalnya disebut epitel germinal dan dianggap bahwa
oosit berasal dari epitel ini, walaupun anggapan ini salah. Meskipun saat ini dikenal bahwa sel
germinal primordial mempunyai asal di luar gonad, istilahnya tetap. Di bawah epitel
germinal, terdapat lapisan jaringan penghubung avaskular berwarna pucat, tunika albuginea,
yang terdiri dari serat kolagen yang tersusun parallel terhadap permukaan organ. Zona luar
ovarium, korteks, sangat selular, dan mempunyai komposisi sel seperti fibroblas pada
jaringan jala serat kolagen tipis. Zona dalam ovarium yang lebih kecil, medulla, berwarna
lebih pucat dan terdiri dari jaringan penghubung renggang yang mengandung serat-serat lebih
elastik, kadang-kadang sel otot polos, dan sejumlah arteri dan vena yang berkelok-kelok dari
cabang kecil beradiasi ke korteks. Korteks dan medulla tersusun tanpa garis demarkasi yang
jelas.
3

Pada korteks terdapat banyak folikel yang memperlihatkan ukuran dengan rentang lua.
Mayoritas adalah folikel primordial yang terdiri dari oosit sferis besar yang dilapisi oleh
lapisan tunggal sel kuboid rendah atau skuamosa. Pada saat lahir hanya terdapat jenis folikel.
Pada bulan dan tahun-tahun berikut, beberapa dari folikel ini mengalami perkembangan
lanjutan untuk membentuk folikel primer, dengan oositnya lebih besar dan dikelilingi oleh
dua lapisan sel folikular atau lebih. Setelah pubertas, beberapa folikel primer ini memasuki
fase pertumbuhan cepat, pada setiap siklus menstruasi. Oosit membesar dan sel-sel
mengelilingi oosit, kemudian disebut sel granulosa, berproliferasi, meningkatkan diameter
folikel. Oosit dipindahkan ke satu sisi oleh perkembangan rongga terisi cairan yang terletak
eksentrik pada masa sel granulosa, disebut antrum. Pada stadium perkembangan ini, folikel
disebut folikel sekunder atau folikel antral. Satu dari kohort folikel yang tumbuh ini menjadi
dominan, meneruskan perkembangannya, mencapai diameter sampai 20mm, dan menonjol
dari permukaan ovarium. Pada ovulasi dalam siklus tengah, dinding tipisnya ruptur dan ovum
dikeluarkan. Folikel antral besar lainnya menjalani proses alami degenerasi yang disebut
atresia folikular.
3

Folikel primordial. Pada ovarium fetus, oogonia berproliferasi dan berlanjut ke profase divisi
meiotic pertama dan pada divisi ini oogonia tertahan pada stadium diktiat. Pada folikel
primordial ovarium postnatal, oosit adalah sel sferis besar, berdiameter sampai 25m, dilapisi
oleh beberapa sel folikular skuamosa.
3
Folikel primer. Transisi dari folikel primordial diam menjadi folikel primer melibatkan
perubahan pada oosit. Sel folikular dan sel-sel stroma yang berdekatan. Oosit tumbuh menjadi
lebih besar dan sel folikular kehilangan konfigurasi epitel skuamosanya, pertama menjadi
kuboid, kemudian berproliferasi membentuk dua atau tiga lapis sel granulose membentuk
ireguler. Sering ditemukan folikel dikelilingi oleh lamina basalis tebal yang disebut membran
limitan eksterna. Dengan berkembangnya perubahan pada folikel ini, sel stromal yang
mengelilingi menjadi lebih padat di sekitarnya dan membentuk lapisan dengan batas luar yang
menjelaskan penyakit, yang disebut teka folikuli.
3
Folikel antral. Bila folikel primer memulai pertumbuhannya, awal siklus menstruasi, sel
granulosa melakukan proliferasi secara cepat dan bila diameter folikel sekitar 200m, dengan
6-10 baris di sekitar oosit, cairan jernih mulai menumpuk dalam ruang interseluler dengan
ukuran dan bentuk bervariasi di antara sel granulosa. Cairan ini, disebut liquor foliculi,
terutama adalah cairan transudat plasma darah, tetapi kaya akan hialuronat dan mengandung
faktor pertumbuha, steroid, dan hormon gonadotropik pada beberapa waktu konsentrasinya
dalam darah. Dengan meningkatnya jumlah cairan ini, ruang menjadi konfluen, mambentuk
kavitas antral kresentik tunggal. Folikel ini disebut folikel antral atau sekunder. Pada folikel
yang tumbuh, beberapa akumulasi kecil bahan yang terwarna padat dapat ditemukan di antara
sel granulosa. Penumpukan ini disebut badan Call-exner. Oosit folikel antral terletak dalam
kumulus ooforus, suatu massa sel granulosa local tebal yang berproyeksi ke dalam antrum.
Segera mengelilingi zona pelusida, terdapat lapisan sel granulosa kuboid yang menempel
lekat, disebut korona radiata. Teka interna menebal berbentuk baji, disebut theca cone, meluas
dari folikel ke arah permukaan ovarium. Dengan berkembangnya pertumbuhan, dua lapisan
menjadi dapat dikenali dalam teka, disebut teka interna, satu lapisan kapiler kaya vascular dan
sel epiteloid yang kemudian memerlukan gambaran tipikal sel yang mensekresi steroid dan
teka eksterna yang mengandung sel stromal fusiformis dan jaringan penghubung. Lapisan sel
granulose folikel tebal tetap avaskular di seluruh perkembangan folikular dan mendapat
makanan melalui difusi dari kapiler teka interna.
3
Folikel matang (folikel Graafian). Folikel matang adalah vesikel transluen besar yang
membuat korteks menebal dan menonjol 1 cm atau lebih di atas permukaan ovarium.
Dindingnya tampak keras, seakan cairan di dalamnya di bawah tekanan, tapi impresi ini tidak
disokong oleh pengukuran langsung. Sehingga, menipisnya dinding pada preparat untuk
ovulasi tidak diakibatkan oleh tekanan, tetapi pengaturan kembali sel-selnya selama fase
terminal pertumbuhannya. Menyertai perubahan ini, terdapat koalesensi ruang interseluler
penuh cairan di antara sel-sel pada basalis kumulus ooforus. Keadaan ini menyebabkan
pelepasan oosit, korona radiatanya dan beberapa sel granulose yang menempel, yang
kemudian mengambang bebas dalam liquor foliculi.
3

Ovulasi. Pematangan folikel Graaf dan pengeluaran ovum disebut ovulasi. Bila folikel Graaf
sobek, maka terjadi sedikit perdarahan, terjadi penggumpalan darah di dalam ruang folikel,
dan sel-sel yang berwarna kuning yang berasal dari dinding folikel tumbuh masuk ke dalam
gumpalan itu dan membentuk korpus luteum atau badan kuning. Bila ovum yang keluar itu
dibuahi korpus luteum tumbuh terus sampai beberapa bulan, menjadi sangat besar, dan mulai
atrofik setelah kira-kira 5-6 bulan kemudian. Bila ovum tidak dibuahi, korpus luteum hanya
bertahan 12-14 hari, sampai tepat sebelum permulaan masa menstruasi berikutnya, kemudian
menjadi atrofik dan diganti jaringan perut.
4
Korpus luteum menghasilkan hormon
progesterone dan estrogen. Hormon ini menyebabkan dinding uterus, yakni endometrium
menebal, siap menerima ovum yang telah dibuahi. Akan tetapi, jika fertilisasi tidak terjadi
hormon akan berkurang, sehingga korpus luteum mengalami degenerasi dan dinding
endometrium luruh. Proses ini disebut menstruasi.

Fungsi ovarium dikontrol oleh hormon
yang dihasilkan oleh hipofisis, follicle-stimullating hormone dan luteinizing hormone.
5
Ovarium mulai berfungsi saat pubertas dan kemudian mengeluarkan ovum setiap
bulan sejak usia 13 sampai 45 tahun, usia umum menopause. Ovarium pada anak-anak licin,
tetapi permukaan folikel yang ruptur mengerut, sehingga akhirnya menjadi sangat tidak
teratur dan agak berbentuk seperti buah badam. Hormon dari ovarium juga bertanggung
jawab untuk perkembangan sistem reproduksi dan perkembangan umum, yang menandai
pubertas pada wanita, dan terjadi pada usia sekitar 13 tahun. Hal ini menunjukkan
perkembangan genital eksterna, pada uterus, dan pada payudara: pertumbuhan rambut pada
genital dan aksila. Hal ini menggambarkan perkembangan mental wanita, yang secara
bertahap semakin matang sesuai dengan matangnya organ reproduksi.
5

Tuba uterina (tuba falopii)
Tuba falopii merupakan struktur saluran bilateral yang melekat ke uterus pada setiap
kornu (ujungnya). Kedua tuba uterine berfungsi membawa ovum dari ovarium ke uterus.
Panjang setiap tuba 7-14 cm dan biasanya terletak horizontal dekat uterus. Mendekati kutub
ovarium bagian bawah, tuba uterine berjalan mengelilingi ovarium dan akhirnya berhubungan
dengan permukaan media posterior ovarium.
2
Setiap tuba terbagi atas isthmus, ampula, dan infundibulum. Segmen paling medial
adalah isthmus, yang berdiameter sempit, dan mengakhiri perjalanan uterus intramuralnya
dengan sebuah ostium berukuran kira-kira 1 mm. Bagian lebih distal dari isthmus adalah
ampula yang lebih berliku-liku dan lebih lebar. Di bagian distal, ampula berakhir pada
infundibulum berbentuk corong yang mempunyai serangkaian tonjolan tersebar berbentuk
jari-jari tangan sebagai batas paling distal, yang disebut fimbria. Mulut infundibulum yang
berbentuk corong, selain fimbria yang dapat menjangkau luas, berdiameter kira-kira 3 mm
dan bermuara ke dalam rongga peritoneum. Infundibulum disokong longgar oleh ligamentum
infundibulopelvis (ligamentum suspensorium ovarii).
2

Pasokan darah ke tuba falopii sebagian besar melalui pembuluh darah ovarika,
walaupun anastomosis dengan cabang-cabang ascendens arteri uterine terdapat pada
ligamentum latum. Aliran limfatik pada tuba uterine mengikuti aliran ovarium yaitu ke nodus
para-aorta. Tuba berfungsi membawa sperma dan telur ke tempat terjadinya fertilisasi di
dalam tuba dan mengembalikan zigot yang telah dibuahi ke dalam rongga uterus untuk proses
implantasi. Bersama dengan ovarium, tuba falopii dibungkus oleh satu lapis peritoneum
parietal yang disebut ligamentum latum. Keadaan ini membentuk struktur yang memiliki
ketebalan ganda yang dibatasi oleh ligamen rotundum uterus di bagian superior. Ligamen
latum ini menghubungkan uterus, tuba falopii, dan ovarium ke dinding samping pelvis sedikit
lateral terhadap struktur-struktur ini. Ligamen ini mengandung pembuluh-pembuluh darah,
termasuk arteri dan vena uterina.
1

Persarafan saluran ovum berasal dari pleksus simpatis dan parasimpatis ovarii dan
pelvis. Perdarahan tuba berasal dari arteri uterine cabang tuba dan dari cabang ovarium.
Drainase vena melalui vena tuba yang menyertai arteri. Drainase limfe terletak retroperitoneal
terhadap nodus aorta lumbalis.
2

Dinding tuba tersusun atas komponen serosa (peritoneal), subserosa, atau adventisial
(vaskuler dan fibrosa), muscular, dan mukosa. Lapisan muscular tersusun atas lapisan otot
polos sirkuler di bagian dalam, dan otot polos longitudinal di bagian luar. Mukosa dilapisi
oleh epitel kolumnar sekretoris bersilia yang tersusun dalam lipatan longitudinal yang
menjadi lebih kompleks pada ampula. Gerakan silianya mengarah ke uterus.
2

Uterus
Uterus merupakan struktur muscular tunggal, berbentuk buah pir yang terletak di
antara kandung kemih dan rectum pada pelvis wanita. Uterus yang matang memiliki berat 30-
40 g pada wanita yang belum pernah melahirkan dan 75-100 g pada wanita yang pernah
melahirkan. Uterus diikat pada pelvis oleh tiga set ligamen jaringan ikat: ligamen rotundum,
kardinal, dan uterosakral. Ligamen rotundum melekat ke kornu uterus pada bagian anterior
insersi tuba falopii. Struktur menyerupai tali ini melewati pelvis, memasuki cincin inguinal
pada dua sisi dan mengikat osteum dari tulang pelvis dengan kuat. Ligamen ini memberikan
stabilitas bagian atas uterus namun tidak terlalu penting. Ligamen kardinal menghubungkan
uterus ke dinding abdomen anterior setinggi serviks. Ligamen uterosakral mengikat ke uterus
di bagian posterior setinggi serviks dan berhubungan dengan tulang sacrum. Ligamen
kardinal dan uterosakral memberikan penopang yang sangat kuat pada dasar pelvis wanita.
Kerusakan pada ligamen-ligamen ini, terutama akibat tegangan saat melahirkan, dapat
menyebabkan prolaps uterus dan dasar pelvis ke dalam vagina atau bahkan melewati vagina
dan mencapai vulva.
1

Uterus dibagi menjadi tiga area secara anatomis dan fungsional, yaitu serviks, segmen
bawah uterus, dan korpus uterus. Serviks sebagian besar terdiri atas jaringan ikat yang kuat
dan biasanya berukuran 4 cm. Sekitar 2 cm serviks menonjol ke vagina, sedangkan sisanya
tetap berada intraperitoneal. Serviks membuka ke arah uterus melalui ostium interna dan ke
arah vagina melalui ostium eksterna. Segmen bawah uterus meliputi sepertiga bagian bawah
uterus. Otot pada segmen bawah menyebabkan pembukaan dan penipisan serviks saat
persalinan. Korpus, yang merupakan segmen terbesar uterus, terdiri atas otot yang tebal.
Bagian paling atas dari uterus di antara kedua tuba falopii disebut fundus, suatu istilah yang
kadang digunakan untuk menunjukkan seluruh korpus uterus.
1

Pasokan darah ke uterus bersifat kompleks. Bagian fundus dipasok oleh pembuluh
yang berasal dari arteri ovarika, sementara korpus, segmen bawah, serviks dipasok oleh arteri
uterina. Arteri uterina merupakan cabang terbesar dari arteri iliaka interna bagian anterior
(yang juga dikenal sebagai arteri hipogastrika). Arteri uterine berjalan dari dinding samping
serviks menuju ke uterus setinggi ostium servikalis interna dan ligamen cardinal dan
uterosakral. Selain itu arteri uterina juga menyilang ureter, yang berjalan langsung dari ginjal
ke kandung kemih. Aliran limfatik uterus mengikuti pasokan darahnya. Aliran limfatik
fundus dan bagian atas korpus, seperti ovarium, menuju nodus linfatikus pada rantai para-
aorta. Aliran limfatik pada bagian bawah korpus uterus dan serviks menuju nodus yang
terletak di sepanjang pembuluh iliakan interna dan eksterna. Uterus berfungsi menunjang
pertumbuhan janin selama kehamilan.
1

Dinding uterus terdiri dari bagian terluar serosa (perimetrium); bagian tengah
miometrium (lapisan otot polos); dan bagian terdalam lapisan endometrium. Endometrium
menjalani perubahan siklus selama menstruasi dan membentuk lokasi implantasi untuk ovum
yang dibuahi. Endometrium tersusun dari dua lapisan. Lapisan superficial (stratum
fungsionalis) endometrium berukuran lebih tebal. Lapisan ini mengandung kelenjar yang
merespons hormon steroid, dan biasanya hampir secara keseluruhan runtuh saat menstruasi.
Lapisan basal (stratum basalis) tidak berubah selama siklus berlangsung.
6

Vagina
Vagina merupakan struktur tubular yang terbentang antara muaranya pada introitus
perineum dengan serviks. Permukaannya dibungkus oleh epitel yang lemah dan berugae.
Duapertiga bagian atasnya paling tepat disebut sebagai bagian dari genitalia interna karena
adanya hubungan embriologis dengan uterus. Himen, merupakan potongan membran tipis
yang mungkin tetap ada selama pubertas atau saat hubungan seksual pertama kali, terlihat
sebagai lingkaran jaringan yang tidak teratur pada muara vagina ke vulva. Vagina berfungsi
menahan penis selama hubungan seksual dan menyimpan semen untuk sementara.
1

Serviks menonjol beberapa sentimeter ke bagian atas vagina membentuk cekungan
yang disebut forniks. Karena bibir posterior serviks seringkali lebih panjang dibanding
dibanding bibir anteriornya, forniks posterior mungkin lebih dalam dibanding forniks
anterior. Forniks-forniks lateral berukuran sama.
2

Vagina terletak di antara kandung kemih dan rectum dan disokong terutama oleh
ligamentum transversum servikalis (ligamentum kardinale) dan muskulus levator ani.
Peritoneum pada bagian posterior cul-de-sac (cavum Douglasi) sangat berdekatan dengan
forniks posterior vagina, penting diperhatikan saat pembedahan.
2

Siklus menstruasi
Gametogenesis dan steroidogenesis berlangsung secara terus menerus pada pria
pascapubertas. Sebaliknya wanita pascapubertas memperlihatkan perubahan siklis yang
berulang-ulang di dalam aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium yang menyebabkan (i)
pematangan dan pelepasan gamet dari ovarium dan (ii) persiapan uterus untuk menunjang
kehamilan jika terjadi fertilisasi. Pada keadaan tidak terjadi konsepsi, setiap siklus berakhir
dengan perdarahan menstruasi. Gonadotropin hipofisis, yaitu LH dan FSH, menghubungkan
hipotalamus dan ovarium dan memperantarai perubahan siklis ini. Siklus menstruasi manusia
paling mudah dimengerti jika proses ini dibagi menjadi empat fase berdasarkan perubahan
fungsional dan morfologis di dalam ovarium dan endometrium: (i) folikular, (ii) ovulatoir,
(iii) luteal, dan (iv) menstruasi.
Fase folikular. Secara konvensional, fase ini dikenal dengan fase pertama yang merupakan
suatu fase pada siklus menstruasi sampai terjadinya ovulasi. Pada siklus menstruasi 28 hari,
fase ini meliputi 14 hari pertama. Selama fase ini, sekelompok folikel ovarium akan mulai
matang. Walaupun hanya satu yang akan menjadi folikel dominan, yaitu folikel de Graaf.
Setelah satu siklus berakhir, kematian dari korpus luteum yang telah diprogram menyebabkan
penurunan sekresi hormon yang drastic. Penurunan total estradiol serum melepaskan inhibisi
umpan balik negatif pusat pada sekresi FSH. Penurunan progesterone dan inhibin A terlibat
dalam derajat yang lebih rendah. Peningkatan sekresi FSH selama fase luteal akhir disertai
oleh peningkatan frekuensi denyut sekresi LH. Hari pertama perdarahan menstruasi
ditetapkan sebagai hari pertama fase folikular. Selama 4-5 hari pertama fase ini,
perkembangan folikel ovarium awal ditandai oelh proliferasi dan aktifitas aromatase sel
granulose yang diinduksi oleh FSH. Sel teka pada folikel yang berkembang menghasilkan
precursor androgen. Precursor ini dikonversi menjadi estradiol dalam sel granulose yang
berdekatan. Proses ini disebut sebagai hipotesis dua-sel. Kadar estradiol meningkat. Folikel-
folikel yang direkrut kini memiliki beberapa lapis sel granulose yang mengelilingi
oositnyadan sedikit akumulasi cairan folikular. FSH menginduksi sintesis reseptor FSH
tambahan pada sel granulose, yang memperbesar efeknya masing-masing. FSH juga
menstimulasi sintesis reseptor LH yang baru pada sel granulose, yang kemudian memulai
respon LH. Pada hari ke 5-7 siklus menstruasi, sebuah folikel mendominasi folikel lain, dan
akan menjadi matang dan berovulasi antara hari ke 13 dan 15. Selama fase folikular tengah
dan akhir, kadar estradiol dan inhibin B yang terus meningkat dalam sirkulasi akan menekan
sekresi FSH, sehingga mencegah pengambilan folikel yang baru. Penningkatan estradiol
dalam sirkulasi yang sangat tinggi dan terus menerus menimbulkan efek yang tidak
diharapkan pada kelenjar hipofisis: penigkatan eksponensial pada sekresi LH. Ovarium juga
menunjukkan respon yang meningkat terhadap gonadotropin. Akhirnya kadar estrogen yang
tinggi menyebabkan pertumbuhan jaringan endometrium yang melapisi uterus. Fase ini
disebut fase proliferatif.
1
Fase ovulatoir. Fase dalam siklus menstruasi ini ditandai dengan lonjakan sekresi LH
hipofisis yang memuncak saat dilepaskannya ovum yang matang melalui kapsul ovarium.
Progesterone mulai meningkat saat lonjakan LH menginduksi sintesis progesterone oleh sel
granulose.
1
Fase luteal. Setelah ovulasi, gambaran morfologis dan fungsional yang dominan pada
ovarium adalah pembentukan dan pemeliharaan korpus luteum. Pada manusia, sel luteal
membuat estrogen dan inhibin dalam jumlah besar. Ciri-ciri fase luteal adalah konsentrasi
progesterone dan 17-hidroksiprogesteron yang tinggi yang disekresi oleh korpus luteum.
Progesterone pada kadar yang meingkat ini mencegah estrogen untuk menstimulasi lonjakan
LH yang lain dari hipofisis. Selain itu, pada keadaan terdapatnya kombinasi antara tingginya
konsentrasi progesterone dan estrogen, frekuensi denyut GnRH praovulatoir menurun,
menyebabkan sekresi FSH dan LH hanya pada garis dasar. Lamanya fase luteal lebih
konsisten daripada fase folikular, biasanya 14 2 hari. Jika tidak terjadi kehamilan, korpus
luteum spontan mengalami regresi dan perkembangan folikel berlanjut ke siklus berikutnya.
Hanya sedikit LH yang diperlukan untuk mempertahankan korpus luteum pada siklus yang
normal. Namun demikian, setelah 14 hari, sekresi LH basal pun tidak lagi mampu menunjang
fungsi endokrin kelenjar. Jika terjadi kehamilan, pemeliharaan korpus luteum dan produksi
progesteronnya sangat penting untuk keberhasilan gestasi awal. HCG merupakan hormon
yang homolog dengan LH. HCG disekresi oleh jaringan plasenta (trofoblas) pada kehamilan.
Dengan adanya kehamilan, HCG yang disekresi trofoblas gestasional dapat memelihara
korpus luteum sampai trofoblas mengambil alih fungsi sekresi progesteron. Kadar
progesterone yang tinggi juga menimbulkan fase sekretorik di dalam endomterium, yang
ditandai oleh pematangan endometrium yang memungkinkan implantasi embrio.
1
Fase menstruasi. Hari pertama menstruasi menandai permulaan siklus berikutnya.
Sekelompok folikel baru telah direkrut dan akan berlanjut menjadi folikel yang matang, dan
salah satunya akan berovulasi. Fenomena yang disebut menstruasi sebagian besar merupakan
peristiwa endometrial yang dipicu oleh hilangnya dukungan progesterone terhadap korpus
luteum pada siklus nonkonsepsi. Penurunan progesterone pramenstruasi berhubungan dengan
penurunan aktivitas 15-hidroksiprostaglandin dehidrogenase. Akibatnya terjadi kontraksi
miometrium dan vascular di dalam uterus. Pengendalian kontraktilitas tersebut berpusat pada
terjadinya iskemia endometrium, yang merupakan awal dari peluruhan endometrium dan
penghentian perdarahan menstruasi.
1

Hormon ovarium
Ketepatan pola siklus fungsi sistem reproduksi perempuan diatur melalui
keseimbangan hormon hipotalamus (GnRH), hipofisis (FSH dan LH), dan hormon ovarium
(estrogen dan progesteron). Mekanisme umpan balik positif dan negatif juga turut terlibat.
6

Menarke (periode menstruasi pertama). Menandakan awitan maturasi seksual perempuan.
Saat kanak-kanak ovarium mensekresi sedikit estrogen yang menghambat pelepasan GnRH
hipotalamus. Saat pubertas, hipotalamus menjadi kurang sensitive terhadap estrogen dan
melepas GnRH melalui semprotan pulsatil. GnRH menstimulasi hipofisis anterior untuk
melepas FSH dan LH yang pada gilirannya, akan menstimulasi ovarium untuk memproduksi
estrogen dan progesterone. Estradiol adalah estrogen yang secara biologis paling aktif dan
paling penting yang disekresi ovarium. Estron adalah estrogen lemah yang dibentuk melalui
konversi androstenedion. Estriol adalah estrogen yang terlemah.
6

Estrogen. Estrogen yang terdapat secara alamiah adalah 17-estradiol, estron, dan estriol.
Hormon-hormon ini disekresikan oleh teka interna dan sel granulose folikel ovarium, korpus
luteum, dan plasenta. Jalur biosintesis nya melibatkan pembentukannya dari androgen. Juga
dibentuk melalui aromatisasi androstenedion di dalam sirkulasi. Sel-sel teka interna memiliki
banyak reseptor LH, dan LH bekerja melalui cAMP untuk meningkatkan perubahan
kolesterol menjadi androstenedion. Sebagian androstenedion diubah menjadi estradiol, yang
masuk ke dalam sirkulasi. Sel teka interna juga memberikan androstenedion pada sel
granulose. Sel granulose membuat estradiol bila mendapat androgen. Estrogen mempercepat
pertumbuhan folikel ovarium dan meningkatkan motilitas tuba uterine. Hormon ini
meningkatkan aliran darah uterus dan memiliki efek penting pada otot polos uterus. Pada
wanita imatur dan yang menjalani kastrasi, uterus berukuran kecil serta miometriumnya atrofi
dan inaktif. Estrogen meningkatkan jumlah otot uterus dan kandungan protein kontraktilnya.
Di bawah pengaruh estrogen, otot menjadi lebih aktif dan mudah terangsang, dan potensial
aksi pada setiap serat menjadi lebih sering. Uterus yang didominasi oleh estrogen juga peka
terhadap oksitosin.
7
Hormon ini merangsang semua pertumbuhan organ reproduksi, terutama
lapisan mukosa dan lapisan otot tuba uterin, uterus, dan vagina. Estrogen juga menstimulasi
pertumbuhan duktus dan alveoli kelenjar mammae. Estrogen mempengaruhi konfigurasi
tubuh total melalui peningkatan pembentukan tulang dan peningkatan penumpukan lemak
dalam semua jaringan subkutan, terutama di area bokong, paha, dan payudara. Estrogen
mengakibatkan produksi sekresi serviks berair jernih yang cenderung memfasilitasi masuknya
sperma ke dalam uterus.
6

Progesteron. Progesteron adalah suatu steroid C
21
yang disekresikan oleh korpus luteum,
plasenta, dan (dalam jumlah kecil) folikel. Organ sasaran utama progesterone adalah uterus,
payudara, dan otak. Progesterone berperan dalam perubahan progestasional di endometrium
dan perubahan siklik di serviks dan vagina yang telah dijelaskan di atas. Hormon ini memiliki
efek antiestrogenik pada sel miometrium, menurunkan kemudahan otot uterus terangsang,
kepekaannya terhadap oksitosin, dan aktivitas listrik spontan sementara meningkatkan
potensial membran. Di payudara, progesterone merangsang pembentukan lobulus dan
alveolus. Hormon ini menginduksi diferensiasi jaringan duktus yang telah dipersiapkan oleh
estrogen dan mendorong fungsi sekresi payudara selama laktasi. Efek umpan-balik
progesterone bersifat kompleks dan terjadi baik pada tingkat hipotalamus maupun hipofisis.
Progesterone dosis besar menghambat sekresi LH dan meningkatkan efek inhibisi estrogen,
yang mencegah ovulasi.
Kontrol fungsi ovarium
FSH dari hipofisis bertanggung jawab terhadap pematangan awal folikel ovarium, dan
FSH serta LH bersama-sama bertanggung jawab terhadap pematangan akhir. Letupan sekresi
LH berperan menyebabkan ovulasi dan pembentukan awal korpus luteum. Juga terdapat
letupan-letupan sekresi FSH yang lebih kecil pada pertengahan siklus, yang kemaknaannya
masih belum diketahui. LH merangsang sekresi estrogen dan progesterone dari korpus
luteum.
Hipotalamus. Hipotalamus menempati posisi kunci dalam pengendalian sekresi gonadotropin.
Kontrol hipotalamus dikerjakan oleh GnRH yang disekresikan ke dalam pembuluh hipofisis
portal. GnRH merangsang sekresi FSH serta LH, dan kecil kemungkinannya bahwa terdapat
FRH lain.
Penutup
Organ reproduksi wanita terbagi menjadi eksterna dan interna. Organ genitalia eksterna terdiri
dari mons veneris, labia mayora, labia minora, klitoris, dan vestibula. Sedangkan organ
genitalia interna nya terdiri dari ovarium, tuba falopii, uterus, dan vagina. Setelah masa
pubertas, di dalam ovarium terjadi proses pematangan folikel yang nantinya setelah matang
akan diovulasikan. Apabila tidak terjadi pembuahan pada ovum yang diovulasikan, maka
akan terjadi menstruasi. Siklus yang terjadi setiap 28 hari ini dipengaruhi oleh berbagai
hormon, di antaranya estrogen, progesterone, LH, FSH. Maka di dalam skenario yang
didapat, apabila terjadi siklus menstruasi yang tidak teratur, hal ini mungkin disebabkan oleh
adanya gangguan pada produksi hormon.
Daftar pustaka
1. Heffner LJ, Schust DJ. At a glance sistem reproduksi. Edisi kedua. Jakarta: Erlangga;
2005.h.28-40.
2. Benson RC, Pernoll ML. Buku saku obsteri dan ginekologi Jakarta: EGC; 2008.h.34-9.
3. Fawcett DW. Buku ajar histologi. Jakarta: EGC; 2002.h.731-52.
4. Pearce EC. Anatomi dan fisiologi. Jakarta: Gramedia; 2009.h.318.
5. Watson R. Anatomi dan fisiologi. Jakarta: EGC; 2002.h.421-3.
6. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC; 2003.h.356-9.