Anda di halaman 1dari 4

Kelompok III(2C Transportasi) Laboratorium Pengujian Bahan

Jurusan Teknik Sipil


Politeknik Negeri Ujung Pandang 143

JOB XXVII
PENGUJIAN KELARUTAN BITUMEN DALAM CCL
4

(SOLUBILITY of BITUMEN MATERIAL)


A. TUJUAN
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan kadar bitumen yang larut dalam
larutan CCl
4
.
Sedangkan sasaran praktikum ini adalah :
1. Dapat melakukan pengujian pemeriksaan kadar bitumen dengan
menggunakan larutan CCl
4.

2. Dapat menentukan nilai bitumen yang larut dalam larutan CCl
4.


B. DASAR TEORI
Ketidaklarutan bitumen yang melebihi 0,5% menunjukkan terjadinya
kontaminasi bitumen dengan mineral lain dan pemanasan yang berlebihan.
Tinggi rendahnya kelarutan bitumen disebabkan oleh kontaminasi atau oleh
pemanasan yang berlebihan, bisa ditentukan dengan spot test. Secara garis
besarnya bitumen dilarutkan pada cairan CCl
4
, Larutan ini kemudian
diteteskan pada suatu kertas penyaring. Jika spot pada kertas penyaring
berwarna seragam (tidak bergradasi) maka dianggap bahwa bitumen tersebut
masih murni. Ketidakmurnian bitumen pada tes jenis ini disimpulkan jika dari
hasil penetesan pada kertas penyaring menghasilkan spot yang berwarna
coklat gelap atau hitam dengan lingkaran disekelilingnya yang berwarna lebih
terang.

C. ALAT DAN BAHAN
Alat :
1. Botol Kaca
2. Corong
3. Gelas Ukur


Kelompok III(2C Transportasi) Laboratorium Pengujian Bahan

Jurusan Teknik Sipil
Politeknik Negeri Ujung Pandang 144

4. Oven.
5. Timbangan dengan ketelitian 0,01 gram.
6. Spatula.

Bahan :
1. AspalCairan
2. pelarut (CCl
4
)
3. .Kertas filter.

D. LANGKAH KERJA
1. Menyiapkan Sampel
Memanaskan sampel bitumen keras sampai menjadi cair dan
mengaduknya untuk mencegah pemanasan setempat. Pemanasan tidak
lebih dari 30 menit pada suhu 110
0
C.
2. Prosedur Kerja
a. Memasukkan sampel kedalam gelas ukur sebanyak 2,0 gram.
b. Sampel didiamkan sampai dingin, kemudian ditimbang dengan
timbangan berketelitian 0,01 gram.
c. Menambahkan 100 ml cairan pelarut (CCl
4
) ke dalam gelas uur, lalu
diaduk-aduk hingga sampel aspal tadi larut dan tidak ada bagian dari
sampel yang tertinggal pada permukaan gelas ukur tersebut.
d. Menimbang kertas filter lalu dioven hingga tidak mengandung kadar
air lagi.
e. Setelah itu erlenmeyer disumbat dengan kertas saring.
f. Menuangkan larutan aspal ke dalam erlenmeyer yang telah diberi
kertas saring.
g. Larutan tadi dibiarkan menetes sedikit demi sedikit hingga seluruh
larutan habis.
h. Setelah seluruh larutan habis, kertas saring diangkat lalu dioven
hingga kering.
i. Setelah dioven kertas tersebut ditimbang dengan tinbangan
berketelitian 0,01 gram.


Kelompok III(2C Transportasi) Laboratorium Pengujian Bahan

Jurusan Teknik Sipil
Politeknik Negeri Ujung Pandang 146

E. HASIL PENGAMATAN
Perhitungan menggunakan presentase total dari material yang tidak larut
dari sampel yang larut di dalam cairan pelarut adalah sebagai berikut:
Untuk material yang tidak larut (%) % 100
B
A

Untuk sampel yang larut (%) % 100 100
B
A

dimana :
A = berat total material yang tidak larut
B = berat total sampel

Tabel Data dan Hasil Perhitungan :
NO. URAIAN SAMPEL SATUAN
1. Berat Erlenmeyer + aspal 325,1 gr
2. Berat Erlenmeyer kosong 323,1 gr
3. Berat aspal (a) 2 gr
4. Berat saringan + endapan 1,6 gr
5. Berat saringan kosong 1,5 gr
6. Berat endapan (b) 0,1 gr
7. Atau b / a x 100 % 5 %
Kelarutan = 100 % - 5 % = 95 %

F. KESIMPULAN
Setelah melakukan percobaan ini didapatkan hasil bahwa material
yang larut sebesar 95 %. Hal ini berarti sampel yang diuji tidak memenuhi
syarat, dimana nilai minimum kelarutan aspal yaitu 99 %.




Kelompok III(2C Transportasi) Laboratorium Pengujian Bahan

Jurusan Teknik Sipil
Politeknik Negeri Ujung Pandang 147

G. DOKUMENTASI








Kompor gas Gelas Ukur







Kertas Filter Botol Kaca dan Corong









Proses penimbangan
berat saringan + endapan
Proses penimbangan
berat saringan kosong