Anda di halaman 1dari 16

POLITEKNIK AKAMIGAS PALEMBANG

I. Scale
Endapan scale adalah endapan mineral yang terbentuk pada bidang permukaan
yang bersentuhan dengan air formasi sewaktu minyak diproduksikan ke permukaan.
Timbulnya endapan scale tergantung dari komposisi air yang diproduksikan.
A. Tempat Pengendapan Scale
Formasi produktif
Zona perforasi
Peralatan produksi bawah permukaan : gravel pack, screen liner, working barrel
dan tubing produksi
Pipa alir di permukaan
Dan peralatan produksi lainnya

B. Kondisi Yang Mendukung Terjadinya Scale
Perubahan tekanan dan temperatur
Larutan lewat jenuh (supersaturated solution)
Terjadinya perubahan komposisi air formasi
Perubahan derajat keasaman (pH)
Bercampurnya air formasi dari lapisan yang berbeda

C. Kerugian Akibat Masalah Scale
Kerusakan formasi batuan disekitar lubang bor (kehilangan tekanan / potensi
formasi)
Penurunan produksi
Kerusakan alat alat produksi
Meningkatnya biaya produksi


POLITEKNIK AKAMIGAS PALEMBANG

D. Mencegah Terbentuknya Endapan Scale
Pencegahan terbentuknya scale adalah usaha preventif yang dilakukan sebelum
terbentuknya endapan scale. Pada kenyataannya proses pembentukan scale sama sekali
tidak dapat dicegah, sehingga upaya yang dilakukan semata-mata hanyalah
meminimalisasi pembentukan dan terutama pengendapan scale, sehingga permasalahan
yang terjadi sebagai akibat dari pengendapan tersebut dapat dicegah
E. Menggunakan Zat-zat Kimia Pengontrol Scale
Salah satu cara untuk mencegah terjadinya scale yaitu dengan cara menjaga kation-
kation pembentuk scale tetap berada dalam larutannya. Zat-zat kimia yang ditambahkan
dalam air berfungsi sebagai pencegah terbentuknya scale (scale inhibitor) di dalam larutan
tersebut.
Ada beberapa metode treatment yang dapat dilakukan untuk menginjeksikan scale
inhibitor, yaitu :
. Squeeze Treatment
Squeeze treatment ini merupakan suatu cara menginjeksikan inhibitor ke dalam
formasi dengan tekanan injeksi tertentu dibawah tekanan rekah formasi dan diatas tekanan
formasi. Inhibitor dilarutkan dalam fluida pembawa yang disertai dengan zat aktif
permukaan untuk memperbaiki kebasahan batuan formasi. Dengan adanya inhibitor ini,
maka terbentuklah lapisan pelindung (protective film) pada permukaan pipa selama operasi
injeksi dan selama aliran fluida produksi mengandung inhibitor dengan konsentrasi yang
cukup tinggi.
. Batch Treatment
Batch treatment merupakan suatu cara dengan menempatkan scale inhibitor ke
dalam sumur melalui tubing dalam jumlah yang hampir sama dengan jumlah air yang
diproduksikan per hari. Dengan adanya aliran fluida dari reservoir yang mengalir ke
lubang sumur, maka fluida akan bercampur dengan scale inhibitor yang ada. Akibatnya
scale inhibitor bercampur dengan fluida produksi dan selanjutnya akan terbawa ke atas
POLITEKNIK AKAMIGAS PALEMBANG

melalui peralatan-peralatan produksi. Scale inhibitor ditempatkan pada beberapa feet
dibawah lubang sumur, ketika fluida mengalir ke lubang sumur. Meskipun demikian,
ternyata scale inhibitor yang ditempatkan di dasar sumur ini tidak dapat bertahan lama,
sehingga scale inhibitor hanya berguna dalam waktu yang relatif sangat singkat.
. Continous Treatment
Continous treatment merupakan suatu cara treatment dengan jalan menginjeksikan
scale inhibitor ke dalam sumur melalui annulus oleh chemical injection pump. Dengan cara
tersebut dapat menyebabkan zat kimia tersebut menyembur ke bawah (ke dasar sumur) dan
dengan segera dapat menjaga kelarutan. Untuk memenuhi kebutuhan di atas diperlukan
kecepatan injeksi yang didasarkan pada jumlah produksi fluida total dan bahan kimianya
harus dipompakan sedemikian rupa, sehingga konsentrasinya tidak kurang dari batas
minimum yang diijinkan.
Jenis scale inhibitor yang biasa digunakan di lapangan adalah inorganic
polyphospate, organic scale control chemical (organic phospate dan phosphonate) dan
polyorganic acid. Selain itu polimer juga digunakan untuk mencegah atau menghambat
pembentukan scale.
1. Inorganic Polyphospate
Merupakan padatan inorganic yang tidak berkristal, yang terdiri dari dua jenis yaitu
plain polyphospate dan controlled solubility polyphospate. Kedua macam zat tersebut
mempunyai komposisi yang berbeda, tetapi mekanisme pencegahannya sama. Pemilihan
kedua zat tersebut mempunyai komposisi sama tergantung pada metode treating yang
dipakai. Plain polyphospate lebih cepat larut dalam air daripada controlled solubility
polyphospate, polyphospate dapat diatur kelarutannya. Controlled solubility polyphospate
harganya relatif lebih mahal daripada plain polyphospate.
a. Plain Polyphospate
Zat kimia jenis ini lebih cepat larut dalam air daripada controlled solubility
polyphospate (CSP). Cara pemakaiannya adalah plain polyphospate dapat dilarutkan
POLITEKNIK AKAMIGAS PALEMBANG

dalam air kemudian diinjeksikan ke system menggunakan pompa kimia (chemical pump)
atau ditempatkan dalam ball feeder atau basket sebagai gumpalan padatan.
b. Controlled Solubility Polyphospate
Zat kimia jenis ini mempunyai kelebihan dibandingkan dengan plain polyphospate,
yaitu proses kelarutannya lebih lambat dan dapat memberikan konsentrasi yang diperlukan
untuk suatu periode waktu yang lama.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan kelarutan CSP adalah :
Ukuran partikel
Dengan semakin kecilnya ukuran partikel, maka semakin cepat polyphospate
terlarut, karena luas permukaan semakin besar.
Temperatur
Kecepatan kelarutan akan naik 35% untuk setiap kenaikan temperatur air 10F
Kadar cloride
Setiap penambahan 2,000 mg/lt Cl

akan dapat menaikkan kelarutannya 65%


Kekerasan (hardness)
Kelarutan akan turun jika kekerasan (konsentrasi Ca
++
dan Mg
++
) dalam air naik.
Komposisi kimia
Kecepatan kelarutan dapat dikontrol dengan cara mencampur komposisi-komposisi
polyphospate yang berbeda-beda.
Kecepatan kelarutan yang diinginkan dapat dilakukan dengan cara mengatur
komposisi polyphospate dan ukuran partikelnya. Hal ini karena konsentrasi polyphospate
tersebut berkurang terhadap waktu sehingga kelarutan controlled solubility polyphospate
berada pada kecepatan tertentu.
POLITEKNIK AKAMIGAS PALEMBANG

Controlled solubility polyphospate ini selalu ditempatkan dalam bentuk padatan.
Cara pemakaian yang umum digunakan di lapangan adalah :
Bypass feeder
Pada cara ini air mengalir melalui container yang berisi CSP yang berbentuk bola,
sehingga bypass feeder kemudian sering disebut sebagai ball feeder.
Basket
Basket yang berisikan CSP dapat digantungkan di tanki atau diturunkan ke dasar
sumur.
Rathole packing
Polyphospate diletakkan di annulus sumur (bila tidak ada packer) atau dilakukan
peretakan didasar sumur. Kemudian bola-bola CSP dipompakan ke rekahan
tersebut.
Fracture packing
Pada cara ini dilakukan perekahan (fracturing) di dasar sumur, kemudian bola-bola
controlled solubility polyphospate dipompakan ke bagian rekahan tersebut.
Adapun cara yang dipilih adalah polyphospate harus berada pada titik dalam
system yang terbentuk scale.
Mekanisme pencegahan dengan menggunakan inorganic polyphospate adalah
sebagai berikut :
Pada saat scale CaCO
3
mulai terbentuk yang terdiri dari kristal-kristal kecil,
maka kristal-kristal ini akan memisahkan diri dari air.
Selanjutnya ion phospate akan membungkus kristal yang sangat kecil sebelum
kristal tersebut sempat membesar.
Pada coating action (aksi pembungkusan), terjadi penyerapan inti scale oleh
phospate, sehingga hal ini akan menghentikan pembentukan scale.
POLITEKNIK AKAMIGAS PALEMBANG

Salah satu problem dari polyphospate adalah bersifat reversion, yaitu polyphospate
dapat berubah bentuk karena waktu, sehingga ia tidak dapat bertindak lagi sebagai
inhibitor. Apabila ditempatkan dalam larutan, maka semua polyphospate cenderung untuk
terhidrolisa menjadi orthophospate. Orthophospate bereaksi dengan kalsium membentuk
kalsium phospate yang tidak dapat larut sehingga menyebabkan penyumbatan.
Polyphosphate juga menjadi orthophospate yang tergantung pada temperatur, keasaman,
kadar mineral, kadar phospate dan sifat phospate itu sendiri. Kecepatan pembalikan (rate
of reversion) akan naik jika pH turun (semakin asam) dan air bertambah panas. Hal yang
perlu untuk diperhatikan adalah bahwa polyphospate ini dapat mengendap dan
menimbulkan problem tanpa reversion jika konsentrasinya dalam air terlalu tinggi.
2. Organic Scale Control Chemical
Scale inhibitor jenis ini merupakan bahan organic yang larut dalam air. Bahan
kimia ini biasanya diperdagangkan dalam bentuk cairan, kecuali beberapa polimer
didapatkan di pasaran dalam bentuk tepung kemudian dilarutkan dalam air sebelum
digunakan.
Organic scale control chemical tidak menimbulkan problem reversion seperti
inorganic polyphospate. Zat ini lebih efektif untuk mencegah scale karbonat dan CaSO
4

daripada inorganic polyphospate. Cairan organic diinjeksikan pada daerah yang mungkin
paling efektif terbentuk scale.
Organic scale control chemical yang ada di pasaran adalah organic phospate ester,
organic phospane dan organic polymer. Cairan organic phospate ini banyak digunakan
dalam system dengan menggunakan pompa kimia standar dan mudah diinjeksikan ke
dalam formasi.
Liquid organic chemical banyak digunakan sebab mudah dimasukkan ke dalam
formasi, disamping itu lebih efektif dalam mencegah scale sulfide dari pada inorganic
polyphospate. Cairan organic harus diinjeksikan ke dalam system dititik yang paling
efektif terbentuk scale.

POLITEKNIK AKAMIGAS PALEMBANG

3. Polymer
Jenis-jenis polymer yang biasa digunakan dalam upaya pencegahan pembentukan
scale antara lain adalah Corexit 7647, Corexit 7606 dan Visco 962, yang kesemuanya
merupakan merek dagang.
Corexit 7647 (merek dagang dari perusahaan Exxon) merupakan jenis low
molecular weight water soluble polymer dan corexit 7606 merupakan low molecular
weight acrylic polymer. Kedua jenis polimer ini sangat efektif apabila digunakan untuk
continous injection, well circulation, system peralatan di permukaan dan squeezed
treatment ke dalam formasi.
Bahan tersebut merupakan inhibitor yang stabil diatas temperatur 500F dan
mampu mengontrol deposisi karbonat dan sulfate salt dari jenis kalsium, magnesium,
strontium dan barium. Visco 962 merupakan polyacrilate yang dapat digunakan untuk
squeezed atau well circulation treatment, untuk menghambat pengendapan scale CaSO
4

dan BaSO
4
. Polimer jenis ini direkomendasikan untuk temperatur diatas 400 F.
Scale inhibitor lainnya
1. Hidrokarbon
Hidrokarbon diperlukan sebagai pelarut hidrokarbon digunakan untuk
menghilangkan minyak, parafin, atau asphaltic materials yang menutupi scale yang
terbentuk, karena apabila digunaka asam sebagai penghilang scale maka asam ini tidak
akan bereaksi dengan scale yang tertutupi oleh minyak (oil coated scale), oleh sebab itu
minyak harus dihilangkan terlebih dahulu dari scale dengan menggunakan hidrokarbon.

2. Asam klorida
Asam klorida adalah bahan yang banya digunakan untuk membersihkan scale yang
telah terbentuk. Bahan ini dapat digunakan pada berbagai kondisi. Asam klorida digunakan
dengan konsentrasi 5%, 10%, atau 15% Hcl. Reaksi yang terjadi:
CaCO3 + 2 HCI H2O + CO2 + CaCl2
Corrotion inhibitor harus ditambahkan dalam Hcl untuk menghindari efek keasaman pada
pipa yang dapat menyebabkan korosi.
POLITEKNIK AKAMIGAS PALEMBANG

3. Inorganic Converters
Inorganic converters biasanya merupakan suatu karbonat atau hidroksida yang akan
bereaksi dengan kalsium sulfat dan membentuk acid soluble calcium carbonate. Kemudian
diikuti dengan penambahan asam klorida untuk melarutkan karbonat atau kalsium
hidroksida yang terbentuk.
CaSO4 + (NH4)2CO3 (NH4)2S04 + CaCO3
CaCO3 + 2 Hcl H2O + CO2 + CaCl2
CO2 yang terbentuk dari reaksi dengan asam ini akan membantu mengeluarkan
secara mekanis scale yang mungkin tersisa. Inorganic converters sebaiknya tidak
digunakan pada scale yang keras.

4. Organic Converters
Organic converters seperti natrium sitrat, potassium asetat sering digunakan.
Reaktan ini akan bereaksi dengan scale kalsium sulfat, sehingga scale akan menjadi lebih
lunak dan mudah dibersihkan dengan melewatkan air.

5. Natrium Hidroksida
Larutan 10% natrium hidroksida dapat melarutkan hingga 12,5% berat dari scale
kalsium karbonat.

II. KOROSI
Korosi adalah suatu proses elektrokimia dimana atom-atom akan bereaksi dengan
zat asam dan membentuk ion-ion positif (kation). Hal ini akan menyebabkan timbulnya
aliran-aliran elektron dari suatu tempat ke tempat yang lain pada permukaan metal.
Secara garis besar korosi ada dua jenis yaitu :

Korosi Internal
yaitu korosi yang terjadi akibat adanya kandungan CO2 dan H2S pada minyak
bumi, sehingga apabila terjadi kontak dengan air akan membentuk asam yang merupakan
penyebab korosi.


POLITEKNIK AKAMIGAS PALEMBANG

Korosi Eksternal
Yaitu korosi yang terjadi pada bagian permukaan dari sistem perpipaan dan peralatan, baik
yang kontak dengan udara bebas dan permukaan tanah, akibat adanya kandungan zat asam
pada udara dari tanah.

Tempat-tempat Terjadinya Korosi Pada Produksi Minyak
Masalah korosi yang terjadi dilapangan produksi minyak adalah
1. Down Hole Corrosion
High Fluid level pada jenis pompa angguk di sumur minyak dapat menyebabkan
terjadinya stress pada rod bahkan dapat pula terjadi corrosion fatigue. Pemilihan material
untuk peralatan bottom hole pump menjadi sangat renting. Pompa harus dapat tahan
terhadap sifat-sifat korosi dari fluida yang diproduksi dan tahan pula terhadap sifat abrasi.

2. Flowing well
Anulus dapat pula digunakan untuk mengalirkan inhibitor ke dasar tubing dan
memberikan proteksi pada tabung dari kemungkinan bahaya korosi. Pelapisan dengan
plastik dan memberikan inhibitor untuk proteksi tubing dapat pula digunakan pada internal
tubeing surface.

3. Casing Corrosin .
Casing yang terdapat di sumur-sumur produksi bervariasi dari yang besar sampai
yang cnsentric acid. Diperlukan perlindungan katiodik untuk external casing. Korosi
internal casing tergantung dari komposisi annular fluid.

4. Well Heads .
Peralatan dari well heads, terutama pada well gas tekanan tinggi, sering mengalami
korosi yang disebabkan oleh kecepatan tinggi dan adanya turbulensi dari gas.

5. Flow Lines
Adanya akuntansi dari deposit di dalam flow line dapat menyebabkan korosi dan
pitting yang akhirnya menyebabkan kebocoran. Internal corrosion di dalam flow line dapat
dicegah dengan inhibitor.

POLITEKNIK AKAMIGAS PALEMBANG

Tipe korosi di Lapangan Minyak
Tipe-tipe korosi di lapangan minyak pada umumnya diklasifikasikan sebagai
berikut:

1. Uniform Corrosion
Yaitu korosi yang terjadi pada permukaan logam yang berbentuk pengikisan
permukaan logam secara merata sehingga ketebalan logam berkurang sebagai akibat
permukaan terkonversi oleh produk karat yang biasanya terjadi pada peralatan-peralatan
terbuka. misalnya permukaan luar pipa.
2. Pitting Corrosion
Yaitu korosi yang berbentuk lubang-lubang pada permukaan logam karena
hancurnya film dari proteksi logam yang disebabkan oleh rate korosi yang berbeda antara
satu tempat dengan tempat yang lainnya pada permukaan logam tersebut.

3. Stress Corrosion Cracking
Yaitu korosi berbentuk retak-retak yang tidak mudah dilihat, terbentuk
dipermukaan logam dan berusaha merembet ke dalam. Ini banyak terjadi pada logam-
logam yang banyak mendapat tekanan. Hal ini disebabkan kombinasi dari tegangan tarik
dan lingkungan yang korosif sehingga struktur
logam melemah.

4. Erosion Corrosion
Yaitu korosi yang terjadi karena tercegahnya pembentukan film pelindung yang
disebabkan oleh kecepatan alir fluida yang tinggi, misalnya abrasi pasir,

5. Galvanic Corrosion
Yaitu korosi yang terjadi karena terdapat hubungan antara dua metal yang
disambung dan terdapat perbedaan potensial antara keduanya.

6. Crevice Corrosion
Yaitu korosi yang terjadi di sela-sela gasket, sambungan bertindih, sekrupsekrup
atau kelingan yang terbentuk oleh kotoran-kotoran endapan atau timbul dari produk-
produk karat
POLITEKNIK AKAMIGAS PALEMBANG

Cara Mencegah Korosi
Pemakaian Bahan-Bahan Kimia (Chemical Inhibitor)
Untuk memperlambat reaksi korosi digunakan bahan kimia yang disebut inhibitor
corrosion yang bekerja dengan cara membentuk lapisan pelindung pada permukaan metal.
Lapisan molekul pertama yang tebentuk mempunyai ikatan yang sangat kuat yang disebut
chemis option. Corrosion inhibitor umumnya berbentuk fluid atau cairan yang diinjeksikan
pada production line. Karena inhibitor tersebut merupakan masalah yang penting dalam
menangani kororsi maka perlu dilakukan pemilihan inhibitor yang sesuai dengan
kondisinya. Material corrosion inhibitor terbagi 2, yaitu :
1. Organik Inhibitor
Inhibitor yang diperoleh dari hewan dan tumbuhan yang mengandung unsur karbon
dalam senyawanya. Material dasar dari organik inhibitor antara lain:
Turunan asam lemak alifatik, yaitu: monoamine, diamine, amida, asetat, oleat, senyawa-
senyawa amfoter. Imdazolines dan derivativnya

2. Inorganik Inhibitor
Inhibitor yang diperoleh dari mineral-mineral yang tidak mengandung unsur
karbon dalam senyawanya. Material dasar dari inorganik inhibitor antara lain kromat,
nitrit, silikat, dan pospat.

Jenis Zat Kimia
1. Surfaktan
Tipikal monomer surfaktan kutub nonpolar (lypophile moiety) dan kutub polar
(hydrophile moiety), atau disebut juga amphiphile.
Struktur kimia monomer surfaktan secara umum dilambangkan dengan tadpole,
dimana ekornya adalah kutub nonpolar dan kepalanya sebagai kutub polar, seperti terlihat
pada Gambar 8.
Jenis-jenis Surfactant yang biasa digunakan dalam injeksi zat kimia adalah sodium
dodecyl sulfate dan sulfonate, seperti terlihat pada Gambar 9 dan Gambar 10.

POLITEKNIK AKAMIGAS PALEMBANG

Berdasarkan pada jenis kutubnya, surfactant dapat dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu

Jenis Contoh

Anionics
Sulfonates, Sulfa-tes,
Carboxyla-tes, Phosphates.

Cationics
Quaternary am-monium
organics, Pyridinum, Imida-
zolinium, Piperidi- nium.

Nonionics
Alkyl-, Alkyl- acyl- Acyl-,
Acylamin-do-, Aminepoly-
glycol.

Amphoterics
Aminocarboxylie Acids

2. Polimer
Jenis-jenis polimer yang dapat digunakan dalam proses injeksi polimer antara lain
adalah xanthan gum, hydrolized polyacrylamide (HPAM), polimer gabungan (copolymer)
antara monomer asam akrilik (acrylic acid) dengan acrylamide, gabungan polimer antara
acrylamide dengan 2-acrylamide 2-metil propana sulfonat (AM/AMPS),
hydroxyethylcellulose (HEC), carboxymethyl-hydroxyethylcellulose (CMHEC),
polyacrylamide (PAM), polyacrylic acid, glucan, dextran polyacrylic oxide (PEO), dan
polyvinyl alcohol. Dari semua jenis tersbut, jenis polimer yang banyak digunakan dalam
aplikasi lapangan adalah xanthan gum, hydrolized polyacrylamide dan copolymer acrylic
acid-acrylamide.
Secara garis besar, jenis polimer yang beredar di pasaran dapat digolongkan menjadi
dua jenis, yaitu polyacrylamide dan polysacharide.

POLITEKNIK AKAMIGAS PALEMBANG

Polyacrylamide
Molekul polyacrylamide adalah rangkaian molekul yang sangat panjang dari unit
molekul acrylamide.
Berat molekul dari polyacrylamide antara 1 sampai 10 juta dan bersifat tahan
terhadap serangan bakteri. Polyacrylamide mudah terkena kerusakan mekanik karena
rantainya yang sangat panjang sehingga mudah putus, pecah. Polyacrylamide lebih sensitif
terhadap salinitas tetapi lebih tahan terhadap serangan bakteri.
Pada penambahannya untuk menaikkan viskositas, polyacrylamide merubah
permeabilitas batuan reservoir, dan ini juga menurunkan mobilitas air injeksi.
Jika permeabilitas batuan reservoir rendah, maka polimer dengan konsentrasi
rendah dapat digunakan untuk memperoleh kestabilan mobilitas yang sama .
Polysacharide
Polysacharide terbentuk dari proses fermentasi pada bakteri (biopolimer). Jenis
polysacharide yang digunakan dalam proses injeksi adalah xanthan gum, yang merupakan
kotoran extracellular yang terbentuk pada permukaan sel mikroba. Xanthan Gum
dihasilkan dari aktivitas bakteri xanthomonas campsentris pada media karbohidrat, dengan
tambahan protein dan zat anorganik dari nitrogen.
Pemanasan dilakukan untuk mematikan bakteri xanthomonas campsentris, dan
setelah itu polimer diendapkan dari kaldu dengan penambahan alkohol tertentu. Berat
molekul 5 juta dan memiliki kerentanan yang relatif lebih besar terhadap bakteri jika di
bandingkan dengan polyacrylamide.
Xanthan Gum tidak sensitif terhadap salinitas dan tahan terhadap kerusakan
mekanik, sehingga lebih mudah menanganinya dalam hubungannya dengan peralatan di
lapangan.
Kelemahan dari Xanthan Gum adalah menyebabkan adanya penyumbatan formasi
dan lemah terhadap serangan bakteri. Problem pernyumbatan formasi dapat diperbaiki
dengan filtrasi atau proses penambahan dan bactericides dapat untuk mencegah degradasi
oleh bakteri. Temperatur yang cocok untuk Xanthan Gum adalah 160 F
4)
.


POLITEKNIK AKAMIGAS PALEMBANG

Cara Lain Mencegah Korosi

Proteksi Katiodik
Untuk mencegah terjadinya proses korosi atau setidak-tidaknya untuk
memperlambat proses korosi tersebut, maka dipasanglah suatu anoda buatan di luar logam
yang akan diproteksi. Daerah anoda adalah suatu bagian logam yang kehilangan elektron.
Ion positifnya meninggalkan logam tersebut dan masuk ke dalam larutan yang ada
sehingga logaml tersebut berkarat. Terlihat disini karena perbedaan potensial maka arus
elektron akan mengalir dari anoda yang dipasang dan akan menahan melawan arus
elektron dari logam yang didekatnya, sehingga logam tersebut berubah menjadi daerah
katoda. Inilah yang disebut Cathodic Protection. Dalam hal diatas elektron disuplai kepada
logam yang diproteksi oleh anoda buatan sehingga elektron yang hilang dari daerah anoda
tersebut selalu diganti, sehingga akan mengurangi proses korosi dari logam yang
diproteksi. Anoda buatan tersebut ditanam dalam suatu elektrolit yang sama (dalam hal ini
tanah lembab) dengan logam (dalam hal ini pipa) yang akan diprotekasi dan antara dan
pipa dihubungkan dengan kabel yang sesuai agar proses listrik diantara anoda dan pipa
tersebut dapat mengalir terus menerus.
Coating
Cara ini sering dilakukan dengan melapisi logam (coating) dengan suatu bahan
agar logam tersebut terhindar dari korosi.

Bahan-bahan Kimia Lain yang banyak Digunakan pada Proses Produksi

Pottasium Chloride atau senyawa kimia kalium klorida (KCl) adalah garam halida
logam terdiri dari kalium dan klor. Dalam keadaan murni, itu tidak berbau dan
memiliki tampilan kristal putih atau tak berwarna vitreous, dengan struktur kristal
yang memotong dengan mudah dalam tiga arah. Kristal kalium klorida adalah
berpusat muka kubik. Kalium klorida secara historis dikenal sebagai "muriate dari
potas," nama ini kadang-kadang masih ditemui berkaitan dengan penggunaannya
sebagai pupuk. Potash bervariasi dalam warna dari merah muda atau merah
menjadi putih tergantung pada proses penambangan dan pemulihan digunakan.
Potas putih, kadang-kadang disebut sebagai potas larut, biasanya lebih tinggi dalam
analisis dan digunakan terutama untuk membuat pupuk starter yang cair. KCl
POLITEKNIK AKAMIGAS PALEMBANG

digunakan dalam kedokteran, aplikasi ilmiah, dan pengolahan makanan. Ini terjadi
secara alami sebagai silvit mineral dan dalam kombinasi dengan natrium klorida
sebagai sylvinite. Dalam dunia perminyakan sendiri KCL digunakan untuk
mencegah terjadinya Hydrasi Secondary Emulsifier
Lime Ca(OH)
2
/Kapur adalah istilah umum untuk kalsium yang mengandung bahan
anorganik, di mana karbonat, oksida dan hidroksida mendominasi. Tepatnya, kapur
adalah kalsium oksida atau kalsium hidroksida. Itu juga merupakan nama untuk
mineral tunggal (kapur asli) dari komposisi CaO, terjadi sangat jarang.
Bahan-bahan ini masih digunakan dalam jumlah besar sebagai bahan bangunan dan
rekayasa (termasuk produk batu kapur, beton dan mortar) dan sebagai bahan baku
kimia, antara penggunaan lainnya. Kapur industri dan penggunaan banyak dari
produk yang dihasilkan tanggal dari periode prasejarah di kedua Dunia Lama dan
Dunia Baru. Batuan dan mineral dari bahan-bahan yang berasal, biasanya batu
kapur atau kapur, terutama terdiri dari kalsium karbonat. Dalam dunia
perminyakan, lime/kapur digunakan untuk mengatur pH bila lumpur terlalu asam
Carbogel/Geltone2.
Calcium Chloride, CaCl
2
, adalah garam kalsium dan klorin. Berperilaku sebagai
halida ionik khas, dan padat pada suhu kamar. Aplikasi umum meliputi air garam
untuk tanaman pendingin, es dan pengendalian debu di jalan, dan pengeringan.
Karena sifat higroskopis nya, kalsium klorida anhidrat harus selalu tertutup rapat,
kedap udara kontainer. Dalam dunia perminyakan, calcium chloride digunakan
untuk Controll pH Smooth Fluid,Sebagai bahan utama / base Fluid
Invasil/Dynamic Fluid Loss.
Barite (BaSO4) Pada umumnya, mengandung campuran unsur Cr, Ca, Pb, dan Ra,
yang senyawanya mempunyai bentuk kristal yang sama.
Unsur pengotor barit adalah besi oksida, lempung, dan unsur organik, yang
semuanya dapat memberikan beragam warna pada warna kristal barit murni adalah
putih atau abu-abu.
Sebagai unsur Barium (Ba), barit juga dijumpai sangat terbatas mengandung
feldspar (3% BaO), plagioklas (7,3% BaO), muskovit (9,9% BaO), dan biotit (6-
8% BaO). Kerak bumi rata-rata mengandung unsur barium sekitar 0,05%. Barit
juga dijumpai sebagai mineral ikutan (gangue mineral) terutama pada cebakan
POLITEKNIK AKAMIGAS PALEMBANG

logam sulfida, seperti timah.
Sebagian besar produksi barit dunia digunakan dalam industri perminyakan.
Pemakaian ini mencapai sekitar 85-90% dari produksi barit secara keseluruhan.
Sisanya digunakan sebagai bahan baku dalam industri kimia barium, pada dunia
perminyakan sendiri barit digunakan sebagai bahan pengisi dan pengembang
(filler dan extender), dan agregat semen,Sebagai material pemberat