Anda di halaman 1dari 13

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK)

Uraian Pendahuluan

1. Latar Belakang


Masalah pangan nasional merupakan hal yang penting dalam kerangka
pembangunan nasional, khususnya dalam sektor pertanian. Hal ini
berkaitan dengan masalah pengadaan pangan nasional, khususnya
komoditas pangan (beras, kedele, dan jagung), yang sampai saat ini
masih bergantung pada kegiatan import. Ketergantungan akan barang
baku impor juga akan berakibat pada subsektor lainnya, misalnya
peternakan, dimana peningkatan harga bahan baku akan berdampak
pada peningkatan harga pakan yang akan berimbas pada kenaikan harga
jual ternak. Hal ini disebabkan oleh terjadinya peningkatan kebutuhan
konsumsi beras yang tidak diikuti oleh peningkatan produksi beras
nasional. Salah satu faktor terjadinya kekurangan pangan nasional
adalah terjadinya pengalihan lahan-lahan pertanian produktif (subur)
kesektor-sektor bukan pertanian.
Keadaan di atas yang mendorong pemerintah melakukan berbagai
program untuk peningkatan produksi pertanian, antara lain program
intensifikasi dan ekstensifikasi. Selain bertujuan untuk peningkatan
produksi pertanian, program tersebut ditujukan untuk peningkatan
perekonomian rakyat, khususnya di pedesaan, yang akan berimplikasi
pada perekonomian nasional. Namun program tersebut lebih banyak
bertumpu pada pembangunan pertanian dari sisi budidaya tanaman
yang merupakan sub-sistem dari sistem agrobisnis.
Agropolitan didefinisikan sebagai sebuah kota pertanian yang tumbuh
dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agrobisnis serta
mampu melayani, mendorong, menarik, menghela kegiatan
pembangunan pertanian di wilayah sekitarnya (hinterland). Sistem
agrobisnis merupakan pembangunan pertanian yang dilakukan secara
terpadu, tidak hanya usaha budidaya (on farm) tetapi juga meliputi
pembangunan agrobisnis hulu (penyediaan sarana pertanian), agrobisnis
hilir (prosesing dan pemasaran hasil pertanian), dan jasa-jasa
pendukungnya. Konsep dasar pengembangan agropolitan adalah sebagai
upaya menciptakan pembangunan inter-regional berimbang, khususnya
dengan meningkatkan keterkaitan pembangunan kota-desa (rural-urban
linkage) melalui pengembangan kawasan perdesaan yang terintegrasi di
dalam sistem perkotaan secara fungsional dan spasial. Pengembangan
ekonomi masyarakat pedesaan diupayakan melalui optimalisasi
sumberdaya lokal dengan pengembangan ekonomi dan investasi
dibidang prasarana dan sumberdaya alam. Pengembangan ekonomi
agropolitan harus lebih bertumpu pada pembangunan sistem dan usaha
agribisnis, dimana seluruh sub-sistem agribisnis (budidaya, sarana-
prasarana produksi, pengolahan hasil, pemasaran, dan jasa) dibangun
secara simultan dan harmonis.
Batasan kawasan agropolitan tidak ditentukan oleh batasan administratif
pemerintah, tetapi lebih ditentukan dengan memperhatikan keterkaitan
ekonomi secara fungsional. Penetapan kawasan agropolitan hendaknya
dirancang secara lokal dengan memperhatikan realitas perkembangan
agrobisnis yang ada di setiap daerah. Bentuk dan kawasan agropolitan
dapat meliputi satu wilayah desa/ kelurahan atau kecamatan atau
beberapa kecamatan dalam kabupaten/ kota atau dapat juga meliputi
wilayah yang dapat menembus wilayah kabupaten/ kota lain yang
berbatasan. Tahapan awal kegiatan pengembangan kawasan agropolitan
adalah terbentuknya master plan (rencana induk) yang diperlukan
dalam pengembangan kawasan, baik berupa pemilihan lokasi yang
potensial, mewujudkan keterkaitan antar kegiatan yang memanfaatkan
ruang, kebijakan mengenai kawasan, pengembangan kawasan-kawasan
produktif, mengarahkan pembangunan kawasan agropolitan yang saling
mendukung antar bagian kawasan, strategi pengembangan kawasan
serta penyiapan penyusunan program-program pembangunan yang
akan direncanakan dalam kurun waktu tertentu. Sesuai dengan
kesepakatan interdep yang dikoordinir oleh Departemen Pertanian,
penyusunan Master Plan Kawasan Agropolitan merupakan
tanggungjawab pemerintah kabupaten.
Kabupaten Tanah Bumbu yang mempunyai luas 506.696 Ha atau
13,56% dari wilayah Provinsi Kalimantan mempunyai potensi yang besar
untuk mengembangkan agropolitan. Tercatat 43,08% dari jumlah
penduduk bekerja pada sektor primer, yaitu bidang pertanian,
perkebunan dan pertambangan, sedangkan luas lahan yang digunakan
untuk sektor kebun, perkebunan, dan persawahan mencapai 18,93%
dari total wilayah kabupaten. Potensi ini lah yang menjadi faktor
pendukung dilaksanakannya pekerjaan Penyusunan Master Plan
Kawasan Agropolitan Kabupaten Tanah Bumbu pada tahun anggaran
2014.


2. Maksud dan
Tujuan

Maksud dan tujuan yang hendak dicapai dari pengembangan
kawasan Agropolitan adalah untuk meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat melalui pencepatan pengembangan wilayah
dan peningkatan keterkaitan desa dan kota dengan mendorong
berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berbasis
kerakyatan, berkelanjutan, dan terdesentralisasi di kawasan.
Maksud dari kegiatan ini adalah Memberi informasi kepada seluruh
pemangku kepentingan tentang peluang Kabupaten Tanah Bumbu
membangun Kawasan Agropolitan dalam rangka akselerasi
pembangunan Ekonomi melalui Pembangunan Agribisnis dengan
pendekatan Perwilayahan.
Tujuan dari kegiatan Penyusunan Masterplan Kawasan Agropolitan
Kabupaten tahun 2014 adalah mendapatkan dukungan kongkrit baik
dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemangku kepentingan, serta
kalangan swasta dalam rencana Pengembangan Agribisnis dengan
cakupan :
a. Rencana struktur tata ruang.
b. Pemanfaatan/ tata guna lahan.
c. Kebutuhan fisik (prasarana dan sarana).
d. Pemberdayaan kelembagaan.
e. Pemberdayaan stakeholders serta kebijakan
pengembangan agribisnis dan kawasan Agropolitan terpilih

3. Sasaran Sasaran dari kegiatan penyusunan Kawasan Agropolitan di Kabupaten
ini adalah tersusunnya instrumen Perencanaan Pembangunan Kawasan
Agropolitan yang meliputi:
Rencana Dasar Pengembangan Kawasan Agropolitan
Rencana Pengembangan Komoditas Unggulan Kawasan
Agropolitan .
Rencana Infrastruktur dan Suprastruktur Kawasan Agropolitan
Rencana Struktur Tata Ruang Kawasan Agropolitan
Rencana Manajemen dan Pengusahaan Kawasan
Rencana Pengembangan Sarana Kawasan Agropolitan


4. Lokasi Kegiatan Kabupaten Tanah Bumbu


5. Sumber
Pendanaan
Kegiatan ini dibiayai dari sumber pendanaan: APBD Kabupaten Tanah
Bumbu Tahun Anggaran 2014


6. Nama dan
Organisasi Pejabat
Pembuat
Komitmen
selaku PPK : Kabid Tata Ruang dan Jasa Konstruksi Dinas Pekerjaan Umum
Kabupaten Tanah Bumbu




Data Penunjang

7. Data Dasar

Data dasar dalam kegiatan ini, yaitu Dokumen Kontrak Pekerjaan
Konsultansi antara PPK dan Penyedia Jasa Konsultansi yang termasuk
dalam lingkup pelaksanaan monitoring dan evaluasi.

8. Standar Teknis Petunjuk/ Peraturan lain yang mendukung


9. Studi-Studi
Terdahulu
Revisi Rencana Tata Ruang wilayah Kab. Tanah Bumbu (RTRW), RDTR
kawasan perkotaan Kecamatan

10. Referensi Hukum Dasar hukum kegiatan Penyusunan Masterplan Agropolitan Kabupaten
Tanah Bumbu adalah sebagai berikut:
1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
(Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4725).
2. PP Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan
Ruang.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah Nasional.
4. Peraturan Menteri PU Nomor 20 tahun 2011 tentang Pedoman
RDTR dan Peraturan Zonasi untuk Kabupaten / Kota
5. Undang-undang No. 25 Tahun 2000 tentang propenas menyusul
Undang-undang No. 7 1996 tentang pangan yang menyebutkan
perlunya dibangun ketahanan pangan yang meliputi ketersediaan,
distribusi dan konsumsi pangan untuk mengantisipasi
kemungkinan terjadinya kerawanan pangan jika dikaitkan
dengan peningkatan laju pertumbuhan penduduk (LPP).
6. UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
7. UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara
PemerintahPusat Dan Daerah
8. PP No. 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan hak dan kewajiban
serta bentukdan tatacara peran serta masyarakat dalam penataan
ruang
9. UU No 24 tahun 1992 tentang penataan Ruang yang antara lain
menyebutkan bahwa penataan ruang berdasarkan fungsi kawasan
dan aspek kegiatan yang meliputi kawasan pedesaan, kawasan
perkotaan dan kawasan tertentu
10. Undang-undang No. 23 tahun 1983 tentang Budidaya Tanaman
yang memberikan kebebasan pada petani untuk menentukan
komoditas yang ditanam sepanjang komoditas tersebut
menguntungkan,


Ruang Lingkup

11. Lingkup Kegiatan

Lingkup kegiatan penyusunan master plan kawasan agropolitan meliputi
:
1. Identifikasi kesesuaian lahan kawasan agropolitan untuk komoditas
unggulan dan jenis aktivitas yang akan dikembangkan dan kebijakan
rencana pemanfaatan ruang pada lingkup yang lebih luas seperti
RDTRK, RTRWK, dan RTRWP.
2. Kajian potensi dan masalah kawasan serta orientasi kawasan ditinjau
dari :
a. Kondisi fisik dasar kawasan yang meliputi keadaan
topografi/ kemiringan tanah, geologi/ struktur batuan/ tanah,
hidrologi/ sumber-sumber air, iklim. Informasi tersebut perlu
dilengkapi peta dengan kedalaman skala 1 : 10.000;
b. Tata guna lahan eksisting yang meliputi pola pemanfaatan lahan
(lahan budidaya dan non budidaya) yang disajikan dalam peta
dengan kedalaman 1 : 10.000
c. Aspek kependudukan yang meliputi jumlah penduduk 5 tahun
terakhir, distribusi penduduk, data penduduk berdasarkan usia
kerja dan jenis struktur tenaga kerja
d. Kondisi fungsi-fungsi kawasan yang meliputi fungsi kawasan
pertanian (pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan,
perikanan) dan non pertanian fungsi ekonomi meliputi pusat
perbelanjaan/ kios saprotan, perdagangan, pelayanan
pergudangan, fungsi sosial yang meliputi fasilitas pendidikan,
kesehatan, rekreasi dan sebagainya) disajikan dalam peta dengan
kedalaman 1 : 10.000
e. Kondisi prasarana kawasan yang meliputi panjang dan lebar jalan
menurut fungsinya, jenis dan kondisi perkerasan jalan, disajikan
dalam bentuk peta dengan kedalaman 1 : 10.000, sistem distribusi
dan kapasitas irigasi, sumber air bersih dan air baku, sistem
distribusi jaringan listrik dan jaringan telekomunikasi, sistem
pembuangan air limbah dan pembuangan sampah.
3. Melakukan analisis berdasarkan potensi dan masalah kawasan.
Adapun tahapan analisis tersebut meliputi :
a. Proses penentuan jenis kawasan berdasarkan kegiatan dominan
yang ditetapkan berdasarkan :
Rencana penggunaan lahan yang telah ditetapkan
berdasarkan RTRWP, RTRWK, dan RDTRK.
Analisis persebaran kegiatan dalam kawasan
Analisis kemudahan pencapaian antar bagian dalam
kawasan
b. Proses penentuan struktur pengembangan tata ruang kawasan
berdasarkan :
Analisis kecenderungan perkembangan fisik dasar
kawasan
Analisis tingkat pelayanan sarana dan prasarana kawasan
Analisis hubungan fungsional antar kegiatan-kegiatan
dalam kawasan
c. Proses penentuan jenis dan intensitas prasarana dan sarana utama
bagian wilayah kawasan :
Analisis daya tampung ruang (land capability)
Analisis kebutuhan jenis sarana dan prasarana
berdasarkan pada fungsi dan daya tampung
kawasan/ bagian kawasan
Pemahaman dan penafsiran standar teknis dan identifikasi
keinginan masyarakat guna menghitung besarnya
kebutuhan ruang bagi prasarana dan sarana untuk setiap
bagian atau wilayah kawasan.
4. Melakukan perumusan rencana dengan tahapan sebagai berikut :
a. Identifikasi kebijaksanaan dasar rencana yang mencakup :
Penentuan fungsi kawasan
Penentuan kebijakan kependudukan, dalam jumlah dan
kepadatan
Pengembangan tata ruang, dalam hal penetapan secara
intensitas dan ekstensifikasi
Penentuan strategi dasar pengembangan kegiatan-kegiatan
kawasan
Pengembangan sarana dan prasarana dalam kaitannya
dengan fungsi-fungsi kawasan yang akan ditingkatkan
b. Selanjutnya rumusan kebijaksanaan rencana tersebut dijabarkan
dalam rencana-rencana fisik kawasan, meliputi :
Pengembangan konsep kawasan agropolitan yang
direncanakan pada masa datang yang memberikan
gambaran sketsa lokasi kegiatan-kegiatan utama seperti
pusat-pusat produksi, pemasaran, permukiman, dan
jaringan jalan utama.
Konsep kawasan ini harus menggambarkan sistematika
fungsi-fungsi kawasan dan hubungan antar fungsi
kawasan.
c. Pengembangan rencana struktur tata ruang kawasan yang
mengatur/ mengarahkan penempatan dan intensitas tiap jenis
penggunaan seperti :
Rencana pengembangan pemukiman
Rencana pengembangan pusat-pusat produksi
Rencana pengembangan pusat-pusat pemasaran
Rencana pengembangan sistem transportasi
Rencana prasarana dan sarana yang meliputi :
- Jenis-jenis sarana untuk kegiatan sosial dan
ekonomi
- Penempatan lokasi prasarana dan sarana
- Jenis-jenis prasarana menurut sistem jaringan
kapasitasnya
5. Setelah dijabarkan dalam merumuskan pokok-pokok pelaksanaan
pembangunannya antara lain meliputi :
a. Tahapan pelaksanaan, yaitu mengatur prioritas pelaksanaan
pembangunan pada tiap jangka waktu pendek, menengah dan
panjang, disusun beserta program-program pembangunan yang
meliputi jenis dan besar setiap program,
b. Penetapan pembiayaan pembangunan yaitu menetapkan sumber-
sumber pembiayaan untuk pelaksanaan pembangunan yang
meliputi APBD I/ II, bantuan pusat, bantuan luar negeri, pelibatan
swasta dan BUMN/ D,
c. Pengorganisasian aparatur pelaksanaan pembangunan kawasan
baik organisasi fungsional dan kewenangan-kewenangan tata
kerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Adapun jenis informasi penunjang yang menyangkut tahapan
identifikasi, analisis dan rencana meliputi :
1. Fasilitas pelayanan lainnya untuk mendukung kegiatan di kawasan
agropolitan yang meliputi kondisi fisik (topografi, tata guna lahan,
iklim, hidrologi), kondisi sosial (meliputi : jumlah dan persebaran
penduduk) dan ekonomi kawasan (kegiatan pertanian dan non
pertanian, kegiatan industri dan jasa), prasarana dan sarana kawasan
(sistem jaringan jalan, jaringan listrik, jaringan telekomunikasi,
sistem jaringan irigasi dan air bersih, permukiman, sarana
perdagangan dan jasa, keuangan dan sebagainya).
2. Penatapan jenis kegiatan yang akan dikembangkan dan penetapan
jenis komoditi yang akan dikembangkan pada kawasan agropolitan.
3. Kajian tentang aturan atau peraturan yang berkaitan dengan
pemanfaatan lahan kawasan agropolitan.
4. Kajian tentang pengembangan sistem dan usaha agribisnis dalam
suatu kesisteman yang utuh dan menyeluruh, yang meliputi :
a. Pengembangan sub-sistem budidaya (on-farm agribisnis)
b. Sub-sistem agribisnis hulu
c. Sub-sistem agribisnis hilir dan
d. Pengembangan jasa-jasa penunjang
5. Kajian tentang pengembangan kelembagaan kawasan agropolitan.
6. Kajian tentang pengembangan perkreditan dan permodalan.
7. Kajian tentang kebutuhan prasarana dan sarana dan menyusun
kebutuhan tersebut menjadi program-program pembangunan, yaitu :
a. Prasarana dan sarana untuk menunjang sub-sistem agribisnis
hulu (up stream agribusiness) untuk kelancaran aliran barang
masuk dari kota ke kawasan agropolitan berupa :
- Jalan penghubung antar desa-kota
- Gudang penyimpanan saprotan
(sarana produksi pertanian)
- Tempat bongkar muat saprotan.
b. Prasarana dan sarana untuk menunjang sub-sistem usaha
tani/ pertanian primer (on-farm agribusiness) untuk
peningkatan usaha budidaya pertanian (tanaman pangan,
hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan
kehutanan) berupa:
- Jalan usaha tani dari desa pusat ke
desa hinterland maupun antar desa
hinterland yang menjadi pemasok
hasil pertanian
- Penyediaan sarana air baku melalui
pembuatan embung-embung sumur
- Dermaga, tempat pendaratan ikan,
dan tambatan perahu
- Sub-terminal pengumpul pada desa-
desa hinterland
c. Prasarana dan sarana untuk menunjang sub-sistem agribisnis
hilir (down stream agribusiness) berupa industri pengolahan
hasil pertanian sebelum dipasarkan berupa :
- Sarana pengeringan hasil pertanian
- Gudang penyimpanan hasil
pertanian, termasuk
pengawetan/ pendinginan
- Sarana pengolahan hasil pertanian
- Terminal, pelataran, tempat parkir
serta bongkar muat
- Kelembagaan perekonomian seperti
bangunan koperasi, perbankan, balai
pelatihan
- Jalan antar desa-kota, antar desa,
poros desa, lingkar desa
- Sarana penunjang seperti
pembangkit listrik, telepon, air
bersih dan pembuangan limbah.




12. Keluaran
1

Produk yang dihasilkan oleh konsultan ini harus sesuai dengan keluaran
yang diinginkan, meliputi :
a) Laporan Pendahuluan
Dengan spesifikasi :
Judul buku : Laporan Pendahuluan
Jumlah buku : 5 buku
Ukuran buku : A4 (29,7 x 21 cm)
Pengetikan : 1.5 spasi, pada kertas putih polos

b) Laporan bulanan
Dengan spesifikasi :
Judul buku : Laporan Antara
Jumlah buku : 10 buku ( 2 buku x 5 bulan)
Ukuran buku : A4 (29,7 x 21 cm)
Pengetikan : 1.5 spasi, pada kertas putih polos
c) Laporan Antara
Dengan spesifikasi :
Judul buku : Laporan Antara
Jumlah buku : 5 buku
Ukuran buku : A4 (29,7 x 21 cm)
Pengetikan : 1.5 spasi, pada kertas putih polos
d) Laporan Akhir Sementara/ Draf Laporan Akhir
Dengan spesifikasi :
Judul buku : Draft Laporan Akhir
Jumlah buku : 5 buku
Ukuran buku : A4 (29,7 x 21 cm)
Pengetikan : 1.5 spasi, pada kertas putih polos
e) Laporan Akhir
Dengan spesifikasi :
Judul buku : Laporan Akhir
Jumlah buku : 10 buku
Ukuran buku : A4 (29,7 x 21 cm)

1
Dijelaskan pula keterkaitan antara suatu keluaran dengan keluaran lain.
Pengetikan : 1.5 spasi, pada kertas putih polos
Dilengkapi dengan executive summary 10 buku
f) Album Peta Rencana
Dibuat dalam rangkap 10 (Sepuluh) beserta softcopy, dan harus
diserahkan selambat-lambatnya pada masa akhir berakhirnya
Surat Perintah Kerja (SPK) diterbitkan.
Dengan spesifikasi :
Judul buku : Album Peta
Jumlah buku : 10 buku
Ukuran buku : A0 (84,1 x 118,9 cm)
g) Flash Disk Data Laporan
Diserahkan 2 (dua) buah, dan harus diserahkan selambat-
lambatnya pada masa akhir berakhirnya Surat Perintah Kerja
(SPK) diterbitkan.
h) Standbaner
Dibuat sebanyak 5 (lima) buah, dan harus diserahkan selambat-
lambatnya pada masa akhir berakhirnya Surat Perintah Kerja
(SPK) diterbitkan
i) Draf Raperda
Dibuat sebanyak 5 (lima) buku, dan harus diserahkan selambat-
lambatnya pada masa akhir berakhirnya Surat Perintah Kerja
(SPK) diterbitkan

13. Peralatan,
Material, Personil
dan Fasilitas dari
Pengguna
Anggaran/ Pejabat
Pembuat
Komitmen

Data dan fasilitas yang disediakan oleh Pengguna Anggaran/ Kuasa
Pengguna anggaran/ Pejabat Pembuat Komitmen yang dapat
digunakan dan harus dipelihara oleh penyedia jasa :
1. Laporan dan Data (bila ada)
Kumpulan laporan dan data sebagai hasil studi terdahulu serta
photografi (bila ada).
2. Staf Pengawas/ Pendamping
Pengguna Anggaran / kuasa pengguna anggran/ Pejabat
Pembuat Komitmen akan mengangkat petugas atau wakilnya
yang bertindak sebagai pengawas atau pendamping
(counterpart), atau project officer (PO) dalam rangka
pelaksanaan jasa konsultansi.
3. Fasilitas yang disediakan oleh Pejabat Pembuat Komitmen yang
dapat digunakan oleh penyedia jasa akan ditentukan kemudian.

14. Peralatan dan
Material dari
Penyedia Jasa
Konsultansi

Peralatan dan Material yang harus disediakan oleh Penyedia Jasa:
Penyedia jasa harus menyediakan dan memelihara semua fasilitas
dan peralatan yang dipergunakan untuk kelancaran pelaksanaan
pekerjaan.
Barang-barang yang harus disediakan oleh penyedia seperti
kendaraan roda 4, roda 2, komputer dan printernya, peralatan
survey dan ukur sesuai jumlah dalam biaya non personil

15. Lingkup
Kewenangan
Penyedia Jasa

Disesuaikan dengan dokumen kontrak dan aturan yang berlaku



16. Jangka Waktu
Penyelesaian
Kegiatan

Waktu pelaksanaan untuk pekerjaan ini adalah 150 (seratus lima puluh)
hari kalender terhitung sejak dikeluarkannya Surat Perintah Mulai Kerja
(SPMK)

17. Personil


Posisi Kualifikasi Jumlah
Orang Bulan
Tenaga Ahli:

Team Leader










Ahli
Lingkungan/ Penyehata
n







Ahli pertanian/ ilmu
tanah




Ahli Planologi,
pendidikan S1/ S2 Teknik
Perencana Wilayah dan
Kota/ Teknik
Pengembangan
Wilayah,Ahli Planologi
Pengalaman 7 tahun
dibidangnya untuk S1
dan 5 tahun dibidangnya
untuk S2.

Ahli
Lingkungan/ Penyehata
n, pendidikan S1/ S2
bidang Lingkungan,
Pengalaman 5 tahun
dibidangnya untuk S1
dan 3 tahun
dibidangnya untuk S2.
.

Ahli pertanian/ ilmu
tanah, pendidikan S1/ S2
pertanian/ ilmu tanah,
Pengalaman 5 tahun
dibidangnya untuk S1

1 5










1 4








1 4








Ahli Sipil







Ahli Ekonomi
pembangunan






Ahli Hukum
Kelembagaan






dan 3 tahun dibidangnya
untuk S2.

Ahli Sipil, pendidikan
S1/ S2 Teknik Sipil, Ahli
Sipil Pengalaman 5 tahun
dibidangnya untuk S1
dan 3 tahun dibidangnya
untuk S2.


Ahli ekonomi,
pendidikan S1/ S2 bidang
perekonomian,
Pengalaman 5 tahun
dibidangnya untuk S1
dan 3 tahun dibidangnya
untuk S2.

Ahli Hukum,
pendidikan S1/ S2
bidang Hukum,
Pengalaman 5 tahun
dibidangnya untuk S1
dan 3 tahun
dibidangnya untuk S2



1 4




1 3




1 2



Tenaga Pendukung (jika ada):
Administrasi



Surveyor



Drafter/
CAD Design


Operator Komputer

SLTA/ sed 5 tahun
D3/ S0 3 Tahun


STM Bangunan 5 tahun
D3 sipil 3 Tahun


STM Bangunan 5 Tahun



SLTA/ Sed 3 tahun
1 5




3 1


1 3



1 5


18. Jadwal Tahapan
Pelaksanaan
Kegiatan

Konsultan Selaku Penyedia Jasa secepatnya menyusun jadual kegiatannya
secara detail dan menyeluruh
Tahapan Pelaksanaan kegiatan ini antara lain :
1. Persiapan
2. Survey dan Pengumpulan Data Lapangan
a. Koordinasi dan Konsultasi
b. Identifikasi kawasan perencanaan
b. Permasalahan dan potensi masalah
3. Analisa dan Pemecahan Masalah
a. Analisa Data Lapangan
b. Usulan dan Inovasi penyelesaian masalah
4. Program Perencanaan
a. Pra Rencana
b. Diskusi Pembahasan
c. Penyusunan Draft pengaturan Kepala Daerah berupa draft Perda
5. Penyusunan Laporan Perencanaan



Laporan

19. Laporan
Pendahuluan



20. Laporan Bulanan


Laporan pendahuluan diserahkan paling lambat 30 (tiga puluh) hari
kalender setelah penandatanganan kontrak sebanyak 5 (lima) buku
kemudian dilakukan diskusi pembahasan bersama Tim Supervisi di
Daerah.

Laporan Bulanan memuat: Progres Perencanaan yang telah dilaksanakan
termasuk laporan fakta dan Analisa hasil survey dan laporan
perkembangan dan permasalah dalam penyusunan perencanaan
Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya: 7(tujuh) hari kerja setiap
bulannya diterbitkan sebanyak 2 (dua)tiap bulannya buku laporan.

21. Laporan Antara Laporan Antara diserahkan paling lambat 90 (sembilan puluh) hari
kalender setelah penandatanganan kontrak sebanyak 5 (lima) buku dan
dilakukan diskusi pembahasan bersama Tim Supervisi di Daerah.

22. Laporan akhir
sementara/ draf
akhir
Laporan akhir sementara/ draf akhir diserahkan paling lambat 120
(seratus dua puluh) hari kalender setelah penandatanganan kontrak
sebanyak 5 (lima) buku dan dilakukan diskusi pembahasan bersama Tim
Supervisi di Daerah.


23. Laporan Akhir Laporan Akhir harus diserahkan paling lambat 150 (seratus lima puluh)
hari kalender setelah penandatanganan kontrak sebanyak 10 (sepuluh)
buku. Laporan akhir ini merupakan hasil akhir rumusan/ kesepakatan
sektoral dan daerah serta merupakan penyempurnaan dari Laporan draf
akhir
Hal-Hal Lain

24. Produksi dalam
Negeri

Semua kegiatan jasa konsultansi berdasarkan KAK ini harus dilakukan di
dalam wilayah Negara Republik Indonesia kecuali ditetapkan lain dalam
angka 4 KAK dengan pertimbangan keterbatasan kompetensi dalam
negeri.
25. Persyaratan
Kerjasama
Jika kerjasama dengan penyedia jasa konsultansi lain diperlukan untuk
pelaksanaan kegiatan jasa konsultansi ini maka persyaratan berikut harus
dipatuhi:
26. Pedoman
Pengumpulan
Data Lapangan
Pengumpulan data lapangan harus memenuhi persyaratan berikut:
1. Survey daerah perencanaan
2. Pendekatan kepada masyarakat (Diskusi Langsung, Kuisioner)
3. Koordinasi dengan instansi terkait , desa/ kelurahan, dan kecamatan
setempat.

27. Alih Pengetahuan Jika diperlukan, Penyedia Jasa Konsultansi berkewajiban untuk
menyelenggarakan pertemuan dan pembahasan dalam rangka alih
pengetahuan kepada personil proyek/ satuan kerja Pengguna
Anggaran/ Kuasa Pengguna Anggaran/ Pejabat Pembuat Komitmen.


Karang Bintang, Maret 2014

An. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kab. Tanah Bumbu
Pejabat Pembuat Komitmen





Joko Sosanto, ST
NIP. 19810825 200604 1 015