Anda di halaman 1dari 45

PRAKTIKUM DASAR SISTEM KOMUNIKASI

PERCOBAAN III
FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING DAN DEMULTIPLEXING




Oleh:
KELOMPOK IV

I Made Artawan
(1319451017)


NamaAsisten :
Komang Oka Kurniya Devayama (1004405034)
Muhammad Audy Bazly (1004405052)


LABORATORIUM DASAR SISTEM KOMUNIKASI
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
2014

BAB I
PERCOBAAN III
FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING DAN DEMULTIPLEXING

1.1. Tujuan
1. Untuk mengetahui blok-blok yang menyusun Frequency
Division Multiplexing dan Frequency Division Demultiplexing.
2. Untuk mengetahui proses-proses yang terjadi dalam teknik
Frequency Division Multiplexing dan Frequency Division
Demultiplexing.

1.2. Peralatan
1. Perangkat keras Frequency Division Multiplexing dan Frequency
Division Demultiplexing.
2. Oscilloscope
3. Frequency Counter
4. Kabel-kabel Penghubung



BAB II
DASAR TEORI

2.1. Panjang Gelombang
Besarnya panjang gelombang yang terjadi dapat dicari dengan
mempergunakan rumus di bawah ini ;

........................................ (2.1)
dengan :
f = frekuensi ( Hertz (Hz) )
= panjang gelombang (meter (m) )
c = kecepatan cahaya ( 3 x 10
8
m/s )

2.2. Multiplexing
Multiplexing adalah Teknik menggabungkan beberapa sinyal untuk
dikirimkan secara bersamaan pada suatu kanal transmisi. Dimana perangkat yang
melakukan Multiplexing disebut Multiplexer atau disebut juga dengan istilah
Transceiver / Mux. Dan untuk di sisi penerima, gabungan sinyal - sinyal itu akan
kembali di pisahkan sesuai dengan tujuan masing masing. Proses ini disebut
dengan Demultiplexing. Receiver atau perangkat yang melakukan Demultiplexing
disebut dengan Demultiplexer atau disebut juga dengan istilah Demux.
Tujuan Muliplexing adalah meningkatkan effisiensi penggunaan
bandwidth / kapasitas saluran transmisi dengan cara berbagi akses bersama.
Jenis Teknik Multiplexing
Teknik Multiplexing yang umum digunakan adalah :
a. Time Division Multiplexing (TDM) :
- Synchronous TDM
- Asynchronous TDM
b. Frequency Division Multiplexing (FDM)
c. Code Division Multiplexing (CDM)


Berikut ini Pengertian dari jenis-jenis teknik Multiplexing:
a. Time Division Multiplexing (TDM)
Secara umum TDM menerapkan prinsip pemnggiliran waktu pemakaian
saluran transmisi dengan mengalokasikan satu slot waktu (time slot) bagi setiap
pemakai saluran (user).
TDM yaitu Terminal atau channel pemakaian bersama-sama kabel yang
cepat dengan setiap channel membutuhkan waktu tertentu secara bergiliran
(round-robin time-slicing). Biasanya waktu tersebut cukup digunakan untuk
menghantar satu bit (kadang-kadang dipanggil bit interleaving) dari setiap channel
secara bergiliran atau cukup untuk menghantar satu karakter (kadang-kadang
dipanggil character interleaving atau byte interleaving). Menggunakan metoda
character interleaving, multiplexer akan mengambil satu karakter (jajaran bitnya)
dari setiap channel secara bergiliran dan meletakkan pada kabel yang dipakai
bersama-sama sehingga sampai ke ujung multiplexer untuk dipisahkan kembali
melalui port masing-masing. Menggunakan metoda bit interleaving, multiplexer
akan mengambil satu bit dari setiap channel secara bergiliran dan meletakkan
pada kabel yang dipakai sehingga sampai ke ujung multiplexer untuk dipisahkan
kembali melalui port masing-masing. Jika ada channel yang tidak ada data untuk
dihantar, TDM tetap menggunakan waktu untuk channel yang ada (tidak ada data
yang dihantar), ini merugikan penggunaan kabel secara maksimun. Kelebihanya
adalah karena teknik ini tidak memerlukan guardband jadi bandwidth dapat
digunakan sepenuhnya dan perlaksanaan teknik ini tidak sekompleks teknik FDM.
Teknik TDM terdiri atas :
- Synchronous TDM
Hubungan antara sisi pengirim dan sisi penerima dalam komunikasi data
yang menerapkan teknik Synchronous TDM dijelaskan secara skematik pada
gambar:

Gambar 2.1 Synchronous TDM
Cara kerja Synchronous TDM dijelaskan dengan ilustrasi dibawah ini:

Gambar 2.2 Ilustrasi hasil sampling dari input line

- Asynchronous TDM
Untuk mengoptimalkan penggunaan saluran dengan cara menghindari
adanya slot waktu yang kosong akibat tidak adanya data ( atau tidak aktif-nya
pengguna) pada saat sampling setiap input line, maka pada Asynchronous TDM
proses sampling hanya dilakukan untuk input line yang aktif saja. Konsekuensi
dari hal tersebut adalah perlunya menambahkan informasi kepemilikan data pada
setiap slot waktu berupa identitaspengguna atau identitas input line yang
bersangkutan. Penambahan informasi pada setiap slot waktu yang dikirim
merupakan overhead pada Asynchronous TDM.
Gambar di bawah ini menyajikan contoh ilustrasi yang sama dengan
gambar Ilustrasi hasil sampling dari input line jika ditransmisikan dengan
Asynchronous TDM.

Gambar 2.3 Frame pada Asysnchronous TDM

b. Frequency Division Multiplexing (FDM)
Prinsip dari FDM adalah pembagian bandwidth saluran transmisi atas
sejumlah kanal (dengan lebar pita frekuensi yang sama atau berbeda) dimana
masing-masing kanal dialokasikan ke pasangan entitas yang berkomunikasi.
Contoh aplikasi FDM ini yang polpuler pada saat iniadalah Jaringan Komunikasi
Seluler, seperti GSM ( Global System Mobile) yang dapat menjangkau jarak
100m s/d 35 km. Tingkatan generasi GSM adalah sbb:
1. First-generation: Analog cellular systems (450-900 MHz)
- Frequency shift keying for signalling
- FDMA for spectrum sharing
- NMT (Europe), AMPS (US)
2. Second-generation: Digital cellular systems (900, 1800 MHz)
- TDMA/CDMA for spectrum sharing
- Circuit switching
- GSM (Europe), IS-136 (US), PDC (Japan)
3. 2.5G: Packet switching extensions
- Digital: GSM to GPRS
- Analog: AMPS to CDPD
4. 3G:
- High speed, data and Internet services
- IMT-2000

Gambar 2.4 Pemakaian Frekuensi pada GSM

FDM yaitu pemakaian secara bersama kabel yang mempunyai bandwidth
yang tinggi terhadap beberapa frekuensi (setiap channel akan menggunakan
frekuensi yang berbeda). Contoh metoda multiplexer ini dapat dilihat pada kabel
coaxial TV, dimana beberapa channel TV terdapat beberapa chanel, dan kita
hanya perlu tunner (pengatur channel) untuk gelombang yang dikehendaki. Pada
teknik FDM, tidak perlu ada MODEM karena multiplexer juga bertindak sebagai
modem (membuat permodulatan terhadap data digital). Kelemahan Modem
disatukan dengan multiplexer adalah sulitnya meng-upgrade ke komponen yang
lebih maju dan mempunyai kecepatan yang lebih tinggi (seperti teknik
permodulatan modem yang begitu cepat meningkat). Kelemahannya adalah jika
ada channel (terminal) yang tidak menghantar data, frekuensi yang dikhususkan
untuk membawa data pada channel tersebut tidak tergunakan dan ini
merugikandan juga harganya agak mahal dari segi pemakaian (terutama
dibandingkan dengan TDM) kerana setiap channel harus disediakan frekuensinya.
Kelemahan lain adalah kerana bandwidth jalur atau media yang dipakai
bersama-sama tidak dapat digunakan sepenuhnya, kerana sebagian dari frekuensi
terpaksa digunakan untuk memisahkan antara frekuensi channelchannel yang ada.
Frekuensi pemisah ini dipanggil guardband.Pengalokasian kanal (channel)
ke pasangan entitas yang berkomunikasi diilustrasikan pada gambar dibawah ini :

Gambar 2.5 Frequency Division Multiplexing

c. Code Division Multiplexing (CDM)
Code Division Multiplexing (CDM) dirancang untuk menanggulangi
kelemahankelemahan yang dimiliki oleh teknik multiplexing sebelumnya, yakni
TDM dan FDM.. Contoh aplikasinya pada saat ini adalah jaringan komunikasi
seluler CDMA (Flexi) Prinsip kerja dari CDM adalah sebagai berikut :
1. Kepada setiap entitas pengguna diberikan suatu kode unik (dengan
panjang 64 bit) yang disebut chip spreading code.
2. Untuk pengiriman bit 1, digunakan representasi kode (chip spreading
code) tersebut.
3. Sedangkan untuk pengiriman bit 0, yang digunakan adalah inverse
dari kodetersebut.
4. Pada saluran transmisi, kode-kode unik yang dikirim oleh sejumlah
pengguna akan ditransmisikan dalam bentuk hasil penjumlahan (sum)
dari kode-kode tersebut.
5. Di sisi penerima, sinyal hasil penjumlahan kode-kode tersebut akan
dikalikan dengan kode unik dari si pengirim (chip spreading code)
untuk diinterpretasikan.
Selanjutnya :
- Jika jumlah hasil perkalian mendekati nilai +64 berarti bit 1,
- Jika jumlahnya mendekati 64 dinyatakan sebagai bit 0.
Contoh penerapan CDM untuk 3 pengguna (A,B dan C) menggunakan
panjang kode 8 bit (8-chip spreading code) dijelaskan sebagai berikut :
a. Pengalokasian kode unik (8-chip spreading code) bagi ketiga pengguna :
- kode untuk A : 10111001
- kode untuk B : 01101110
- kode untuk C : 11001101
b. Misalkan pengguna A mengirim bit 1, pengguna B mengirim bit 0 dan
pengguna C mengirim bit 1. Maka pada saluran transmisi akan dikirimkan
kode berikut :
- A mengirim bit 1 : 10111001 atau + - + + + - - +
- B mengirim bit 0 : 10010001 atau + - - + - - - +
- C mengirim bit 1 : 11001101 atau + + - - + + - +
- Hasil penjumlahan (sum) = +3,-1,-1,+1,+1,-1,-3,+3
c. Pasangan dari A akan menginterpretasi kode yang diterima dengan cara :
- Sinyal yang diterima : +3 1 1 +1 +1 1 3 +3
- Kode milik A : +1 1 +1 +1 +1 -1 1 +1
- Hasil perkalian (product) : +3 +1 1 +1 +1 +1 +3 +3 = 12
- Nilai +12 akan diinterpretasi sebagai bit 1 karena mendekati nilai
+8.
d. Pasangan dari pengguna B akan melakukan interpretasi sebagai berikut :
- Sinyal yang diterima : +3 1 1 +1 +1 1 3 +3
- Kode milik B : 1 +1 +1 1 +1 +1 +1 1
- Jumlah hasil perkalian : 3 1 1 1 +1 1 3 3 = -12
- Berarti bit yang diterima adalah bit 0, karena mendekati nilai 8.


2.3. Frequency Division Multiplexing (FDM)
Frequency Division Multiplexing (FDM) adalah teknik menggabungkan
banyak saluran input menjadi sebuah saluran output berdasarkan frekuensi. Jadi
total bandwith dari keseluruhan saluran dibagi menjadi sub-sub saluran oleh
frekuensi. Tiap sinyal modulasi memerlukan bandwidth center tertentu disekitar
frekuensi carriernya, dinyatakan sebagai suatu saluran (channel). Sinyal input baik
analog maupun digital akan ditransmisikan melalui medium dengan sinyal
analog.Pada teknik FDM, tidak perlu ada MODEM karena multiplexer juga
bertindak sebagai modem (membuat permodulatan terhadap data digital). Contoh
aplikasi FDM ini yang polpuler pada saat ini adalah Jaringan Komunikasi Seluler,
seperti GSM ( Global System Mobile) yang dapat menjangkau jarak 100 m s/d 35
km.
Pada Frequency Division Multiplexing, beberapa sinyal informasi dikirim
secara serentak / bersamaan dengan menggunakan beberapa sinyal pembawa (sub-
carrier) untuk dimodulasi dengan masing-masing sinyal informasi.

Gambar 2.6 Blok Diagram FDM

FDM bisa dipergunakan bersama-sama dengan sinyal-sinyal analog.
Sejumlah sinyal secara simultan dibawa menuju media yang sama dengan cara
mengalokasikan band frekuensi yang berlainan ke masing-masing sinyal.
Diperlukan peralatan modulasi untuk memindahkan setiap sinyal ke band
frekuensi yang diperlukan, sedangkan peralatan multiplexing diperlukan untuk
mengkombinasikan sinyal-sinyal yang dimodulasi. Jalur ini dapat memuat
multiplexing transmisi data dalam jumlah besar secara simultan dengan
menggunakan . Multiplexing dalam bentuk paling sederhana di dalamnya terdapat
input n untuk multiplexer yang dihubungkan kedemultiplexer melalui sebuah jalur
tunggal. Saluran tersebut mampu membawa n channel data yang terpisah.
Multiplexer mengabungkan data dari jalur input n dan mentransmisikannya
melalui jalur berkapasitas tinggi. Demultiplexer menerima aliran data yang sudah
di-multiplex-kan, kemudian memisakan data berdasarkan channel, lalu
mengirimkannya ke saluran output yang tepat FDM antara lain Band Siaran Radio
Komersial AM dan Band Siaran Televisi Komersial.
FDM adalah teknik multiplexing analog karena informasi yang memasuki
sistem FDM adalah dalam bentuk analog, dan akan tetap berbentuk analog selama
proses transmisi. Pada FDM, beberapa sumber dengan spektrum frekuensi yang
sama masing-masing akan dikonversikan ke dalam spektrum frekuensi yang
berbeda, untuk kemudian ditransmisikan melalui media transmisi yang sama.
Sehingga beberapa kanal komunikasi yang sempit (narrow band) dapat
ditransmisikan melalui sebuah sistem transmisi yang lebar (wideband).

Gambar 2.7 Tampak depan Perangkat FDM


2.4. Frequency Division Demultiplexing
Frequency Division Demultiplexing adalah suatu teknik untuk
memulihkan sinyal yang telah ter-multiplexing melalui FDM, guna
mendapatkan sinyal aslinya (sinyal informasi).

Gambar 2.8 Blok Diagram FDM pengirim dan penerima

Perangkat yang melakukan Multiplexing disebut Multiplexer atau disebut
juga dengan istilah Transceiver / Mux. Dan untuk di sisi penerima, gabungan
sinyal sinyal itu akan kembali di pisahkan sesuai dengan tujuan masing -
masing. Proses ini disebut dengan Demultiplexing.
Terdapat sebuah alat untuk melakukan multiplexing dan
demultiplexing,nama alat tersebut untuk melakukan multiplexing disebut
multiplekser (MUX) dan alat yang melakukan proses yang berlawanan disebut
demultiplekser, (DEMUX).

Gambar 2.9 MUX dan DEMUX
BAB III
CARA KERJA

3.1. Langkah Percobaan Frequency Division Multiflexing (FDM)
A. Persiapan
1. Hidupkan perangkat percobaan
2. Hidupkan saklar dah ukurlah besamya frekuensi sinyal
informasi dan bentuk gelornbangnya dengan mengukur pada
terminal S1 seperti gambar berikut :

Gambar 3.1 Skema pengukuran frekuensi sinyal informasi

3. Ukurlah besar frekuensi dan bentuk. sinyal osilator seperti gambar
berikut :


Gambar 3.2 Skema pengukuran frekuensi sinyal osilator

4. Putar-putarlah timer di bagian belakang perangkat supaya diperoleh
keluaran 14 kHz untuk masing-masing kanal 1,2,3 secara berurut.

Percobaan:
A. Pengukuran keluaran penguat
1. Hubungkan kanal 1 osciloscope dengan terminal S1-1 dan
hubungkan kanal 2 osciloscope dengan terminal SP-1 seperti gambar
berikut :

Gambar 3.3 Skema pengukuran keluaran penguat

2. Lanjutkan pengukuran untuk kanal 2 dan 3.catat hasilnya.
3. Bandingkan bentuk sinyal informasi dengan bentuk sinyal
keluaran penguat masing-masing kanal.

B. Pengukuran keluaran modulator
4. Hubungkan kanal 1 oscilloscope dengan terminal SP-1 dan
hubungkan kanal 2 osciloscope dengan terminal SM-1 seperti gambar
berikut:

Gambar 3.4 Skema pengukuran SP dengan SM

5. Lanjutkan pengukuran untuk kanal 2 dan 3, catat hasilnya.
6. Bandingkan bentuk sinyal keluaran penguat (sinyal masukan
modulator) dengan keluaran modulator

C. Pengukuran keluaran Modulator
7. Hubungkan perangkat FDM dengan oscilloscope seperti pada
gambar berikut:

Gambar 3.5 Skema pengukuran SP dengan SMX

8. Perhatikan bentuk sinyal keluaran Multiplexer dan berikan komentar

3.2. Langkah Percobaan Frequency Division Demultiplexing
A. Persiapan :
1. Alat ukurnya (oscilloscope) terlebih dahulu dikalibrasi.
2. Hidupkan perangkat percobaan, terus tekan switch pada posisi on.

Gambar 3.6 Tampak Depan Perangkat Frequency Division Demultiplexing


Gambar 3.7 Tampak Belakang Perangkat Frequency Division Demultiplexin
3. Lakukan pengukuran oscillator dengan oscilloscope dan frequency
counter (seperti gambar di bawah). Atur nilai frekuensi osilator
(sesuai dengan yang ditunjukkan frekuensi counter), dengan menge-
trim (putar-putar trimer di bagian belakang perangkat) sehingga
diperoleh frekuensi yang sama dengan pengirimnya. Catat hasil
pengukurannya.
4. Hubungkan perangkat penerima (frekuensi division
demultiplexing) dengan pengirimnya.

B. Percobaan :
5. Amati dan catatlah sinyal yang diterima dari transmisi
dengan oscilloscope.
6. Amati dan catatlah keluaran dari masing-masing band-pass
filter.Hubungkan Kanal-1oscilloscope dengan keluaran BPF 1 dan
Kanal-2 oscilloscope dengan keluaran modulator 1 pada penerimanya.
Demikian juga untuk BPF-2 dan BPF-3.
7. Amati dan catatlah masukan dan keluaran dari masing-
masing demodulator. Masukan demodulator adalah keluaran dari BPF.
Gunakan kedua kanal dari oscilloscope (mode dual) untuk
mengamatinya.
8. Amati dan catatlah masukan dan keluaran dari masing-masing low-
pass filter. Masukan LPF adalah keluaran dari demodulator. Gunakan
kedua kanal dari oscilloscope (mode dual) untuk mengamatinya.
9. Amati dan catatlah masukan dan keluaran dari masing-masing
penguat dengan oscilloscope (mode dual).
10. Amati dan catatlah frekuensi akhir (penguat) dengan frequency
counter. Bandingkan dengan input pada bagian pengirimnya.
11. Hubungkan masing-masing osilator sub-pembawa pada pengirimnya
untuk digunakan pada penerimanya. Tekan saklar jumper osilator
pengirim pada posisi"ON". Lakukan lagipengukuran seperti langkah
(3) sampai (10).


BAB IV
DATA HASIL PERCOBAAN

4.1. Frequency Division Multiplexing (FDM)
4.1.1. Sinyal Keluaran Penguat

Gambar 4.1 Sinyal keluaran penguat S1-1 dan SP-1

Parameter sinyal :
Frekuensi : 808,1 Hz.
PK-PK : 512 mV
Amplitudo 496 mV


Gambar 4.2 Sinyal keluaran penguat S1-2 dan SP-2

Parameter sinyal :
Frekuensi : 2,685 kHz.
PK-PK : 9,60 mV
Amplitudo : 3,20 mV


Gambar 4.3 Sinyal keluaran penguat S1-3 dan SP-3

Parameter sinyal :
Frekuensi : 2,066 kHz.
PK-PK : 468 mV
Amplitudo : 448 mV


4.1.2. Sinyal Keluaran Modulator ( SP dengan SM)


Gambar 4.4 Sinyal keluaran modulator SP-1 dan SM-1

Parameter sinyal :
Frekuensi : 806.5 Hz.
PK-PK : 1,31 V
Amplitudo : 1,30 V



Gambar 4.5 Sinyal keluaran modulator SP-2 dan SM-2

Parameter sinyal :
Frekuensi : 16,23 kHz.
PK-PK : 4,00 mV
Amplitudo : 3,20 mV



Gambar 4.6 Sinyal keluaran modulator SP-3 dan SM-3

Parameter sinyal :
Frekuensi : 2,058 kHz.
PK-PK : 976 mV
Amplitudo : 960 mV



4.1.3. Sinyal Keluaran Modulator ( SP dengan SMX)


Gambar 4.7 Sinyal keluaran modulator SP-1 dan SMX

Parameter sinyal :
Frekuensi : 808.1 Hz.
PK-PK : 1,33 V
Amplitudo : 1,32 V



Gambar 4.8 Sinyal keluaran modulator SP-2 dan SMX

Parameter sinyal :
Frekuensi : *** Hz.
PK-PK : 4,00 mV
Amplitudo : 4,00 mV



Gambar 4.9 Sinyal keluaran modulator SP-3 dan SMX

Parameter sinyal :
Frekuensi : 2,058 kHz.
PK-PK : 976 mV
Amplitudo : 960 mV

4.2. Frequency Division Demultiplexing


Gamba 4.10 Sinyal Osilator pada kanal 1

Parameter sinyal :
Frekuensi : 14,03 kHz.
PK-PK : 268 mV
Amplitudo : 260 mV


Gambar 4.11 Sinyal Osilator pada kanal 2

Parameter sinyal :
Frekuensi : 33,50 kHz.
PK-PK : 136 mV
Amplitudo : 133 mV


Gambar 4.12 Sinyal Osilator pada kanal 3

Parameter sinyal :
Frekuensi : 33,67 kHz.
PK-PK : 136 mV
Amplitudo : 133 mV


Gambar 4.13 Sinyal keluaran BPF-1 dan Modulator-1

Parameter sinyal :
Frekuensi : 14,64 kHz.
PK-PK : 33,0 mV
Amplitudo : 20,0 mV


Gambar 4.14 Sinyal keluaran BPF-2 dan Modulator-2

Parameter sinyal :
Frekuensi : 41,67 kHz.
PK-PK : 14,6 mV
Amplitudo : 7,20 mV


Gambar 4.15 Sinyal keluaran BPF-3 dan Modulator-3

Parameter sinyal :
Frekuensi : 66,89 kHz.
PK-PK : 32,6 mV
Amplitudo : 12,8 mV


Gambar 4.16 Sinyal keluaran LPF-1 dan demodulator-1

Parameter sinyal :
Frekuensi : 826,4 Hz.
PK-PK : 72,8 mV
Amplitudo : 25,6 mV


Gambar 4.17 Sinyal keluaran LPF-2 dan demodulator-2

Parameter sinyal :
Frekuensi : 52,08 kHz.
PK-PK : 25,0 mV
Amplitudo : 6,80 mV


Gambar 4.18 Sinyal keluaran LPF-3 dan demodulator-3

Parameter sinyal :
Frekuensi : 16,13 kHz.
PK-PK : 50,8 mV
Amplitudo : 8,00 mV


BAB V
ANALISIS HASIL PERCOBAAN

5.1. Frequency Division Multiplexing (FDM)
5.1.1. Sinyal Keluaran Penguat

Gambar 5.1 Sinyal keluaran penguat S1-1 dan SP-1

Parameter sinyal :
Frekuensi : 808,1 Hz.
PK-PK : 512 mV
Amplitudo : 496 mV
Panjang gelombang :





Gambar 5.2 Sinyal keluaran penguat S1-2 dan SP-2
Parameter sinyal :
Frekuensi : 2,685 kHz.
PK-PK : 9,60 mV
Amplitudo : 3,20 mV
Panjang gelombang :





Gambar 5.3 Sinyal keluaran penguat S1-3 dan SP-3

Parameter sinyal :
Frekuensi : 2,066 kHz.
PK-PK : 468 mV
Amplitudo : 448 mV
Panjang gelombang :




Dari ketiga gambar diatas dapat disimpulkan bahwa setiap pergantian
kanal mulai dari kanal 1 sampai kanal 3 terjadi perubahan frekuensi sinyal,
dimana frekuensi pada kanal 1 merupakan frekuensi terendah, dan pada kanal 2
mengalami peningkatan dan turun kembali pada kanal 3.
5.1.2. Sinyal Keluaran Modulator ( SP dengan SM)


Gambar 5.4 Sinyal keluaran modulator SP-1 dan SM-1
Parameter sinyal :
Frekuensi : 806.5 Hz.
PK-PK : 1,31 V
Amplitudo : 1,30 V
Panjang gelombang :







Gambar 5.5 Sinyal keluaran modulator SP-2 dan SM-2


Parameter sinyal :
Frekuensi : 16,23 kHz.
PK-PK : 4,00 mV
Amplitudo : 3,20 mV
Panjang gelombang :






Gambar 5.6 Sinyal keluaran modulator SP-3 dan SM-3
Parameter sinyal :
Frekuensi : 2,058 kHz.
PK-PK : 976 mV
Amplitudo : 960 mV
Panjang gelombang :



Dari ketiga gambar sinyal diatas dapat disimpulkan bahwa setiap
perpindahan kanal terjadi perubahan terhadap bentuk sinyal, dimana pada gambar
kanal 1 dan 3 sinyal terlihat semakin kecil ( besar amplitudo gelombang lebih
rendah ) tetapi berbeda pada kanal 2. Terjadi juga perubahan pada frekuensi sinyal
terjadi perubahan frekuensi sinyal, dimana frekuensi pada kanal 1 merupakan
frekuensi terendah, dan pada kanal 2 mengalami peningkatan dan turun kembali
pada kanal 3.

5.1.3. Sinyal Keluaran Modulator ( SP dengan SMX)


Gambar 5.7 Sinyal keluaran modulator SP-1 dan SMX

Parameter sinyal :
Frekuensi : 808.1 Hz.
PK-PK : 1,33 V
Amplitudo : 1,32 V
Panjang gelombang :





Gambar 5.8 Sinyal keluaran modulator SP-2 dan SMX
Parameter sinyal :
Frekuensi : *** Hz.
PK-PK : 4,00 mV
Amplitudo : 4,00 mV
Nilai panjang gelombang dari kanal 2 tidak bisa dihitung karena
frekuensinya tidak diketahui. Hal ini dikarenakan kesalahan pada alat
ukur.


Gambar 5.9 Sinyal keluaran modulator SP-3 dan SMX

Parameter sinyal :
Frekuensi : 2,058 kHz.
PK-PK : 976 mV
Amplitudo : 960 mV
Panjang gelombang :



Dari ketiga gambar sinyal diatas dapat disimpulkan bahwa setiap
perpindahan kanal terjadi perubahan terhadap bentuk sinyal, dimana pada gambar
kanal 1 dan 3 sinyal terlihat semakin renggang, tetapi berbeda pada kanal 2.
Terjadi juga perubahan pada frekuensi sinyal terjadi perubahan frekuensi sinyal,
dimana frekuensi pada kanal 1 merupakan frekuensi terendah, namun karena
terjadi kesalahan pada alat, frekuensi pada kanal 2 tidak diketahui, dan pada kanal
3 mengalami peningkatan.
5.2. Frequency Division Demultiplexing

Gamba 5.10 Sinyal Osilator pada kanal 1
Parameter sinyal :
Frekuensi : 14,03 kHz.
PK-PK : 268 mV
Amplitudo : 260 mV
Panjang gelombang :





Gambar 5.11 Sinyal Osilator pada kanal 2

Parameter sinyal :
Frekuensi : 33,50 kHz.
PK-PK : 136 mV
Amplitudo : 133 mV
Panjang gelombang :





Gambar 5.12 Sinyal Osilator pada kanal 3

Parameter sinyal :
Frekuensi : 33,67 kHz.
PK-PK : 136 mV
Amplitudo : 133 mV
Panjang gelombang :




Dari ketiga gambar sinyal diatas dapat disimpulkan bahwa setiap
perpindahan kanal terjadi perubahan terhadap frekuensi sinyal, dimana frekuensi
sinyal selalu mengalami kenaikan setiap pergantian kanal dari kanal 1 sampai
kanal 3.


Gambar 5.13 Sinyal keluaran BPF-1 dan Modulator-1

Parameter sinyal :
Frekuensi : 14,64 kHz.
PK-PK : 33,0 mV
Amplitudo : 20,0 mV
Panjang gelombang :





Gambar 5.14 Sinyal keluaran BPF-2 dan Modulator-2

Parameter sinyal :
Frekuensi : 41,67 kHz.
PK-PK : 14,6 mV
Amplitudo : 7,20 mV
Panjang gelombang :





Gambar 5.15 Sinyal keluaran BPF-3 dan Modulator-3

Parameter sinyal :
Frekuensi : 66,89 kHz.
PK-PK : 32,6 mV
Amplitudo : 12,8 mV
Panjang gelombang :




Dari ketiga gambar sinyal diatas dapat disimpulkan bahwa setiap
perpindahan kanal terjadi perubahan terhadap frekuensi sinyal, dimana frekuensi
sinyal selalu mengalami kenaikan setiap pergantian kanal dari kanal 1 sampai
kanal 3.


Gambar 5.16 Sinyal keluaran LPF-1 dan demodulator-1

Parameter sinyal :
Frekuensi : 826,4 Hz.
PK-PK : 72,8 mV
Amplitudo : 25,6 mV
Panjang gelombang :





Gambar 4.17 Sinyal keluaran LPF-2 dan demodulator-2

Parameter sinyal :
Frekuensi : 52,08 kHz.
PK-PK : 25,0 mV
Amplitudo : 6,80 mV
Panjang gelombang :





Gambar 4.18 Sinyal keluaran LPF-3 dan demodulator-3

Parameter sinyal :
Frekuensi : 16,13 kHz.
PK-PK : 50,8 mV
Amplitudo : 8,00 mV
Panjang gelombang :




Dari ketiga gambar sinyal diatas dapat disimpulkan bahwa setiap
perpindahan kanal terjadi perubahan terhadap bentuk sinyal, dimana pada gambar
kanal 1 dan 3 sinyal terlihat semakin kecil ( besar amplitudo gelombang lebih
rendah ) tetapi berbeda pada kanal 2. Terjadi juga perubahan pada frekuensi sinyal
terjadi perubahan frekuensi sinyal, dimana frekuensi pada kanal 1 merupakan
frekuensi terendah, dan pada kanal 2 mengalami peningkatan dan turun kembali
pada kanal 3.
Tugas dan Pertanyaan (1)
Pada percobaan, sinyal - sinyal informasi terlebih dahulu memodulasi
masing- masing sinyal pembawa sebelum dijumlah/dimultiflex.
1. Apakah tujuan modulasi sebelum multiplex tersebut?
2. Apa yang terjadi jika proses modulasi ini dilakukan?
3. Untuk sinyal pentransmisian, perlukah diadakan proses modulasi lagi

Jawaban
1. Sebelum kita bahas tujuan modulasi tersebut, kita tinjau terlebih dahulu
pengertian dari modulasi tersebut. Modulasi merupakan teknik penumpangan
sinyal informasi pada sinyal carrier dimana sinyal carrier ini memiliki
frekuensi yang jauh lebih tinggi dari sinyal informasi. Hal ini dilakukan agar
informasi dapat sampai pada tujuannya dan bisa dengan jarak yang sangat
jauh. Sehingga sangat jelas bahwa tujuan modulasi sebelum multiplex adalah
supaya sinyal informasi dapat sampai pada tujuannya dan bisa dengan jarak
yang sangat jauh.

2. Jika modulasi ini dilakukan tentu saja sangat membantu dalam hal
pentransmisian sinyal informasi. Sinyal informasi menjadi lebih mudah
sampai pada tujuan walaupun pada jarak yang sangat jauh.

3. Seperti yang telah dijelaskan dalam teori penunjang, multiplexing adalah
suatu cara pengiriman sinyal informasi melalui sebuah saluran transmisi
secara bersama-sama dengan menggunakan beberapa sinyal pembawa.
Karena telah digunakannya beberapa sinyal pembawa ini maka tidak perlu
dilakukan.



Tugas dan Pertanyaan (2)
1. Jelaskan hasil dari masing-masing pengukuran yang diperoleh !
2. Bandingkan antara keluaran modulator (pada pengiriman) dengan keluaran
BPF !
3. Apakah keluaran low-pass filter mengalami pergeseran fase ? Jelaskan !
4. Jelaskan pengaruh sinkronisasi gelombang pembawa !

Jawaban

1. Hasil dari masing-masing pengukuran :
a) Pengukuran dari keluaran BPF dan Modulator:
Sinyal yang diterima merupakan sinyal modulator. Setiap kanal
menghasilkan sinyal termodulasi yang berbeda-beda, karena frekuensi dari
setiap kanal berbeda. Dari hasil percobaan ini dapat diketahui bahwa BPF
berfungsi untuk menyeleksi atau menyaring frekuensi sinyal rendahpada
setiap kanal. BPF ini terjadi setelah sinyal informasi dikirimkan dan
masuk ke tahap FDD. Dari data pengukuran terhadap perbandingan
parameter sinyal keluaran BPF dan sinyal modulator, perbandingan antara
kanal 1, kanal 2 dan kanal 3 menunjukkan sinyal yang dihasilkan oleh
setiap kanal mengalami perubahan. Pada setiap pengukuran yang
dilakukan, setiap kanal akan mengalami perubahan frekuensi modulator
maupun frequency BPF.

b) Pengukuran dari pengeluaran BPF dan Demodulator:
Dari data pengukuran terhadap perbandingan parameter sinyal
keluaran BPF dan sinyal demodulator, perbandingan antara kanal 1, kanal
2 dan kanal 3 menunjukkan sinyal yang dihasilkan oleh setiap kanal
mengalami perubahan. Pada setiap pengukuran yang dilakukan, setiap
kanal akan mengalami perubahan frekuensi demodulator maupun
frequency BPF. Tetapi dapat dilihat bahwa frequency sinyal yang
dihasilkan oleh BPF memiliki frekuensi yang lebih kecil daripada
frekuensi sinyal keluaran demodulator. Hal ini disebabkan karena sebelum
terdemodulator terdapat sebuah oscilator yang berfungsi untuk
membangkitkan frekuensi dari BPF. Dengan melihat dari hasil percobaan,
dapat ditunjukkan bahwa BPF berfungsi untuk melewatkan frekuensi
tengah dan meredam frekuensi atas dan bawah dari sebuah frekuensi yang
dilewatkan.

c) Pengukuran dari keluaran LPF dan Demodulator:
Amplitudo sinyal Demodulator dan LPF memiliki perbedaan sinyal
yang dihasilkan. Amplitudo sinyal Demodulator lebih kecil dibandingkan
amplitudo sinyal LPF. Dari data pengukuran terhadap perbandingan
parameter sinyal keluaran LPF dan sinyal demodulator, sinyal LPF sesuai
dengan teori fungsi LPF yaitu sebuah rangkaian penyaring yang melalukan
band frekuensi bawah dan meredam band frekuensi atasnya. Karena
keluaran dari low-pass filter mengalami pergeseran fasa, hal ini dapat
dilihat dari bentuk-bentuk arah sinyal informasi awal dengan output. Ini
terjadi karena sinyal yang telah mengalami modulasi, demodulasi tentunya
akan mengandung tambahan komponen-komponen sinyal, low pass filter
inilah berfungsi memilih sinyal yang frekuensinya rendah dan
mengeliminasi komponen-komponen sinyal yang tidak diperlukan untuk
tujuan memperoleh sinyal asli.


2. Perbandingan antara keluaran modulator (pada pengiriman) dengan keluaran
BPF!
1. Gambar Sinyal Demodulator BPF 1


2. Gambar Demulator dan BPF 2


3. Gambar Demulator dan BPF 3

Keluaran modulator (pada pengirim) dengan keluaran BPF mengalami
peningkatan frekuensi yang cukup besar. Dari segi bentuk sinyal, sinyal
modulator memiliki pola yang lebih teratur dibandingkan dengan sinyal BPF
(Sinyal modulator terletak di bawah). Lebih jelasnya dapat dilihat bahwa
frequency sinyal yang dihasilkan oleh BPF memiliki tampilan sinyal yang
berbeda, sinyal yang ditampilkan oleh modulator masih dalam keadaan terkena
noise sehingga sinyalnya masih tampak berantakan.

3. Low Pass Filter
Pada Low Pass Filter biasa terjadi pergeseran fase. Pergeseran Fase
mempengaruhi fase dari gelombang gelombang komponen dan meskipun tidak
terlihat dalam grafik spectrum, hal ini akan jelas tampak pada bentuk
gelombang keluaran. Hal ini dapat mempengaruhi filter untuk dapat
meneruskan komponen komponen dalam frekuensi rendah atau pada frekuensi
tinggi dari suatu spectrum dengan distorsi dari amplitude dan fase yang dapat
diabaikan. Low-pass filter yang digunakan setiap kali komponen-komponen
frekuensi tinggi harus disingkirkan dari sinyal.

4. Pengaruh sinkronisasi gelombang pembawa :
Sinkronisasi pada gelombang pembawa mempengaruhi osilator yaitu
menyamakan frekuensi osilator pengirim dan penerima agar sinyal yang
dikirimkan dapat diterima dengan baik. Selain itu pengaruh sinkronisasi pada
gelombang pembawa dapat mempengaruhi oscillator untuk menyamakan
antara oscilator pengirim dengan oscillator penerima.




BAB VI
PENUTUP

6.1. Simpulan
Berdasarkan data yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Multiplexing adalah Teknik menggabungkan beberapa sinyal untuk
dikirimkan secara bersamaan pada suatu kanal transmisi.
2. Frequency Division Multiplexing (FDM) adalah teknik
menggabungkan banyak saluran input menjadi sebuah saluran output
berdasarkan frekuensi. Jadi total bandwith dari keseluruhan saluran
dibagi menjadi sub-sub saluran oleh frekuensi. Tiap sinyal modulasi
memerlukan bandwidth center tertentu disekitar frekuensi carriernya,
dinyatakan sebagai suatu saluran (channel). Sinyal input baik analog
maupun digital akan ditransmisikan melalui medium dengan sinyal
analog.
3. Pada sistem Frequency Division Multiplexing (FDM) sinyal-sinyal
informasi yang akan dikirim dimodulasi terlebih dahulu sebelum di-
multiplexing. Tujuannya untuk memvariasikan sinyal yang akan di-
multiplexing sehingga tidak terjadi penumpukan antar sinyal yang
dikirim.
4. Proses-proses yang terjadi dalam Frekuensi Division Multiplexing yaitu
input sinyal informasi pada kanal 1 sampai dengan 3, sinyal informasi
yang sudah dikuatkan dengan sinyal penguat pada kanal 13
selanjutnya sinyal informasi yang sudah dikuatkan ditumpangkan pada
sinyal carrier pada kanal 1-3. Kemudian akan terjadin proses modulasi
sinyal informasi dan sinyal carrier pada kanal 1-3. Sinyal yang sudah
termodulasi kemudian mengalami proses multiplexing. Dan
memodulasikan sinyal yang sudah di-multiplexing untuk dikirimkan
kembali.
5. Frequency Division Demultiplexing adalah suatu teknik untuk
memulihkan sinyal yang telah ter-multiplexing melalui FDM, guna
mendapatkan sinyal aslinya (sinyal informasi). Perangkat yang
melakukan Multiplexing disebut Multiplexer atau disebut juga dengan
istilah Transceiver / Mux. Dan untuk di sisi penerima, gabungan sinyal-
sinyal itu akan kembali di pisahkan sesuai dengan tujuan masing -
masing. Proses ini disebut dengan Demultiplexing.
6. Perangkat yang melakukan Multiplexing disebut Multiplexer atau
disebut juga dengan istilah Transceiver / Mux. Dan untuk di sisi
penerima, gabungan sinyal - sinyal itu akan kembali di pisahkan sesuai
dengan tujuan masing masing. Sinyal Keluaran Multiplex ini
merupakan sinyal yang diukur dengan perangkat FDM dan
oscilloscope. Bentuk sinyal yang dihasilkan jernih seperti aslinya tanpa
adanya noise dan bentuk gelombangnya memajang.
7. Proses-proses yang terjadi dalam Frequency Division Multiplexing:
Input sinyal informasi pada kanal 1 sampai kanal 3 merupakan sinyal
informasi yang sudah dikuatkan dengan sinyal penguat pada kanal 13.
Selanjutnya sinyal informasi yang sudah dikuatkan ditumpangkan pada
sinyal carrier pada kanal 1-3. Kemudian akan terjadin proses modulasi
sinyal informasi dan sinyal carrier pada kanal 1-3. Sinyal yang sudah
termodulasi kemudian mengalami proses multiplexing. Dan
memodulasikan sinyal yang sudah di multiplexing untuk dikirimkan
kembali.
8. Besar frekuensi sinyal termodulasi tergantung dari besar frekuensi
sinyal informasi, semakin besar frekuensi sinyal informasi maka
semakin kecil frekuensi sinyal termodulas, begitu sebaliknya.
9. Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa pada sinyal modulator
yang memiliki frekuensi paling tinggi terdapat pada kanal 3 dan pada
kanal 1 memiliki frekuensi paling rendah. Oleh sebab itu pada kanal 1
memiliki panjang gelombang paling panjang karena memiliki frekuensi
paling rendah.
10. Pada dasarnya FDD (Frequency Division Demultiplexing) merupakan
kebalikan dari FDM (Frequency Division Multiplexing), dimana FDM
sebagai pengirim dan FDD sebagai penerima. Dalam Frequency
Division Demultiplexing (FDD) terdapat beberapa proses yaitu :
Proses Penyaringan Sinyal
Proses memilih sinyal yang frekuensinya rendah untuk dilewatkan
dan mengeliminasi komponen-komponen sinyal yang tidak diperlukan
untuk tujuan memperoleh sinyal asli ini disebut sebagai Low Pass
Filter.
Demodulasi
Proses mendapatkan kembali sinyal informasi dari sinyal carrier,
biasanya tahap demodulasi ini terdapat di demultiplexing,
mengembalikan sinyal aslinya setelah tahap modulasi.
- Demultiplexing
Proses pemisahan beberapa kanal yang telah digabungkan.
- Penguatan sinyal
Pada proses ini yang dikuatkan adalah amplitudo dari sinyal
sehingga dapat sama dengan sinyal yang dikirim oleh pengirim.

Proses secara sederhananya dapat diperhatikan pada gambar dibawah :






demodulasi
demultiplex
demodulasi
Sinyal
Sinyal
Gambar 6.1 Skema Proses Demultiplexing