Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rubella atau Campak Jerman merupakan penyakit anak menular yang lazim biasanya
ditandai dengan gejala gejala utama ringan, ruam serupa dengan campak (rubeola) ringan atau
demam skarlet, dan pembesaran serta riveri limfonodi pascaoksipital, retroaurikuler, dan
servikalis posterior. Campak Jerman atau rubela ini biasanya hanya menyerang anakanak
sampai usia belasan tahun. !api, bila penyakit ini menyerang anak yang lebih tua dan de"asa,
terutarna "anita de"asa, infeksi kadang kadang dapat berat, dengan manifestasi keterlibatan
sendi dan purpura. #an bila bila penyakit ini menyerang ibu yang sedang mengandung dalam
tiga bulan pertama, bisa menyebabkan cacat bayi "aktu dilahirkan. Rubella pada a"al kehamilan
dapat menyebabkan anomali kongenital berat. $indrom rubella kongenital adalah penyakit
menular aktif dengan keterlibatan multisistem, spektrum ekspresi klinis luas, dan periode infeksi
aktif pascalahir dengan pelepasan virus yang lama.
Rubella menjadi penting karena penyakit ini dapat menimbulkan kecacatan pada janin.
$indroma rubella congenital (Congenital Rubella $yndrome, CR$) terjadi pada %&' bayi yang
dilahirkan oleh "anita yang terinfeksi rubella selama trimester pertama kehamilan( risiko
kecacatan congenital ini menurun hingga kirakira )&*&' pada minggu ke)+ dan lebih jarang
terjadi bila ibu terkena infeksi pada usia kehamilan *& minggu. ,nfeksi janin pada usia lebih
muda mempunyai risiko kematian di dalam rahim, abortus spontan dan kecacatan congenital dari
sistem organ tubuh utama. Cacat yang terjadi bisa satu atau kombinasi dari jenis kecacatan
berikut seperti tuli, katarak, mikroftalmia, glaucoma congenital, mikrosefali, meningoensefalitis,
keterbelakangan mental, patent ductus arteriosus, defek septum atrium atau ventrikel jantung,
purpura, hepatosplenomegali, icterus dan penyakit tulang radiolusen.
-enyakit CR$ yang sedang dan berat biasanya sudah dapat diketahui ketika bayi baru lahir(
sedangkan kasus ringan yang mengganggu organ jantung atau tuli sebagian, bisa saja tidak
terdeteksi beberapa bulan bahkan hingga beberapa tahun setelah bayi baru lahir. #iabetes
1
mellitus dengan ketergantungan insulin diketahui sebagai manifestasi lambat dari CR$.
.alformasi congenital dan bahkan kematian janin bisa terjadi pada ibu yang menderita rubella
tanpa gejala.
-enyakit ini terdistribusi secara luas di dunia. /pidemik terjadi dengan interval 01 tahun (+
% tahun), paling sering timbul pada musim semi dan terutama mengenai anak serta de"asa muda.
-ada manusia virus ditularkan secara oral droplet dan melalui plasenta pada infeksi kongenital.
$ebelum ada vaksinasi, angka kejadian paling tinggi terdapat pada anak usia 0)2 tahun. #e"asa
ini kebanyakan kasus terjadi pada remaja dan de"asa muda.
3elainan pada fetus mencapai 4&' akibat infeksi rubela pada ibu hamil selama minggu
pertama kehamilan. Risiko kelainan pada fetus tertinggi (0&+&') terjadi pada bulan pertama
dan menurun menjadi 20' pada bulan keempat kehamilan ibu. $urvei di ,nggris ()%1&)%12)
menunjukkan insidens infeksi fetus sebesar 04' dengan rubela klinis dan hanya )%' yang
subklinis. $ekitar 50' bayi yang terinfeksi rubela kongenital mengalami defek.
6nak laki laki dan "anita sama sama terkena. -ada populasi yang rapat seperti institusi dan
6srama tentara, hampir )&&' dari individu yang rentan dapat terinfeksi. -ada ke7ompok
keluarga penyebaran virus kurang8 0&+&' anggota keluarga yang rentan mendapat penyakit.
9anyak infeksi yang subklinis, dengan rasio *8) antara penyakit yang tidak tampak dengan
penyakit yang tarnpak. Rubella biasanya terjadi selama musim semi.
-emeriksaan serologis sebelum penggunaan vaksin rubella rnenunjukkan bah"a sekitar
5&' populasi de"asa di 6merika $erikat dan benua lain mempunyai antibodi terhadap rubella.
#i populasi pulau, seperti populasi !rinidad dan :a"aii, hanya *&' dari orang de"asa yang
diperiksa dapat dideteksi antibodi.
3etika "abah rubella merebak di 6merika $erikat pada tahun )%+1)%+0, lebih *&,&&& bayi
telah dilahirkan cacat. ;abah Rubela juga dikatakan menyebabkan sekurangkurangnya )&,&&&
kasus keguguran dan bayi yang lahir mati saat dilahirkan. #iperkirakan *0 ' bayi yang
terinfeksi rubela pada tiga bulan pertama usia kandungan dilahirkan dengan satu jenis atau lebih
kecacatan.
2
-ada tahun )%5% < )%%& sejumlah kasus rubella menyerang lebih banyak pada anak remaja
di atas umur )0 tahun dan de"asa diperkirakan karena kegagalan vaksinasi pada setiap individu.
Resiko terserang rubella kembali menurun untuk semua umur dan dilaporkan kasus di 6merka
$erikat pada tahun )%%% sebanyak *+1.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Campak Jerman (Rubella, Campak 4 hari) adalah suatu infeksi virus menular, yang
menimbulkan gejala yang ringan (misalnya nyeri sendi dan ruam kulit). 9erbeda dengan campak,
rubella tidak terlalu menular dan jarang menyerang anakanak. Jika menyerang "anita hamil
(terutama pada saat kehamilan berusia 5)& minggu), bisa menyebabkan keguguran, kematian
bayi dalam kandungan atau kelainan ba"aan pada bayi.
2.2 Etiologi
Rubella disebabkan oleh suatu R=6 virus, genus Rubivirus, famili !ogaviridae. >irus
dapat diisolasi dari biakan jaringan penderita. $ecara fisikokimia"i virus ini sama dengan
anggota virus lain dari famili tersebut, tetapi virus rubela secara serologik berbeda. -ada "aktu
terdapat gejala klinis virus ditemukan pada sekret nasofaring, darah, feses dan urin. >irus rubela
tidak mempunyai pejamu golongan intervetebrata dan manusia merupakan satusatunya pejamu
golongan vertebrata. Cara -enularannya melalui kontak dengan sekret nasofaring dari orang
terinfeksi. ,nfeksi terjadi melalui droplet atau kontak langsung dengan penderita. -ada
lingkungan tertutup seperti di asrama calon prajurit, semua orang yang rentan dan terpajan bisa
terinfeksi. 9ayi dengan CR$ mengandung virus pada sekret nasofaring dan urin mereka dalam
jumlah besar, sehingga menjadi sumber infeksi. -enyebab rubella atau campak Jerman adalah
virus rubella. .eski virus penyebabnya berbeda, namun rubella dan campak (rubeola)
mempunyai beberapa persamaan. Rubella dan campak merupakan infeksi yang menyebabkan
kemerahan pada kulit pada penderitanya. -erbedaannya, rubella atau campak Jerman tidak
terlalu menular dibandingkan campak yang cepat sekali penularannya. -enularan rubella dari
3
penderitanya ke orang lain terjadi melalui percikan ludah ketika batuk, bersin dan udara yang
terkontaminasi. >irus ini cepat menular, penularan dapat terjadi sepekan () minggu) sebelum
timbul bintikbintik merah pada kulit si penderita, sampai lebih kurang sepekan setelah bintik
tersebut menghilang. =amun bila seseorang tertular, gejala penyakit tidak langsung tampak.
?ejala baru timbul kirakira )2 < *) hari kemudian. $elain itu, campak lebih lama proses
penyembuhannya sementara rubella hanya 4 hari, karena itu pula rubella sering disebut campak 4
hari.
2.3 Patofisiologi
-enularan terjadi melalui droplet, dari nasofaring atau rute pernafasan. $elanjutnya virus
rubela memasuki aliran darah. =amun terjadinya erupsi di kulit belum diketahui patogenesisnya.
>iremia mencapai puncaknya tepat sebelum timbul erupsi di kulit. #i nasofaring virus tetap ada
sampai + hari setelah timbulnya erupsi dan kadangkadang lebih lama. $elain dari darah dan
sekret nasofaring, virus rubela telah diisolasi dari kelenjar getah bening, urin, cairan
serebrospinal, 6$,, cairan sinovial dan paru. -enularan dapat terjadi biasanya dari 1 hari sebelum
hingga 0 hari sesudah timbulnya erupsi. #aya tular tertinggi terjadi pada akhir masa inkubasi,
kemudian menurun dengan cepat, dan berlangsung hingga menghilangnya erupsi. Ruam nampak
akibat titer serum antibody meningkat dan mempengaruhi antigenantibodi dan berinteraksi di
kulit. >irus telah dapat ditemukan diseluruh kulit baik yang terlibat maupun yang tidak selama
4
masa infeksi, dan penyebarannya karena factor lain yang mungkin berperan dalam patogenesis
eksantem. 6ntibody :6, mencapai puncaknya pada hari )* < )2 setelah timbulnya ruam dan
akan kembali stabil setelah kirakira * minggu kemudian. >irus rubella mempunya 4 polipeptida
mayor yang mencakup ) kapsid protein dan * amplop glikoprotein /) dan /*. 6ntibodi anti/)
mungkin memegang peranan utama dalam respon serologik.
2. !anifestasi Klinis
3eluhan yang dirasakan biasanya lebih ringan dari penyakit campak. 9ercakbercak
mungkin juga akan timbul tapi "arnanya lebih muda dari campak biasa. 9iasanya, bercak timbul
pertama kali di muka dan leher, berupa titiktitik kecil ber"arna merah muda. #alam "aktu *2
jam, bercak tersebut menyebar ke badan, lengan, tungkai, dan "arnanya menjadi lebih gelap.
9ercakbercak ini biasanya hilang dalam "aktu ) sampai 2 hari.
!andatanda dan gejala ,nfeksi rubella dimulai dengan adanya demam ringan selama )
atau * hari (%% )&& #erajat @ajrenheit atau 41.* 41.5 derajat celcius) dan kelenjar getah
bening yang membengkak dan perih, biasanya di bagian belakang leher atau di belakang telinga.
-ada hari kedua atau ketiga, bintikbintik (ruam) muncul di "ajah dan menjalar ke arah ba"ah.
#i saat bintik ini menjalar ke ba"ah, "ajah kembali bersih dari bintikbintik. 9intikbintik ini
biasanya menjadi tanda pertama yang dikenali oleh para orang tua. Ruam rubella dapat terlihat
seperti kebanyakan ruam yang diakibatkan oleh virus lain. !erlihat sebagai titik merah atau
merah muda, yang dapat berbaur menyatu menjadi sehingga terbentuk tambalan ber"arna yang
merata. 9intik ini dapat terasa gatal dan terjadi hingga tiga hari. #engan berlalunya bintikbintik
ini, kulit yang terkena kadangkala megelupas halus. ?ejala lain dari rubella, yang sering ditemui
pada remaja dan orang de"asa, termasuk8 sakit kepala, kurang nafsu makan, conjunctivitis
ringan (pembengkakan pada kelopak mata dan bola mata), hidung yang sesak dan basah, kelenjar
getah bening yang membengkak di bagian lain tubuh, serta adanya rasa sakit dan bengkak pada
persendian (terutama pada "anita muda). 9anyak orang yang terkena rubella tanpa menunjukkan
adanya gejala apaapa.
5
9erbeda dengan rubeola, tidak ada fotofobia. 6ngka sel darah putih normal atau sedikit
menurun, trombositopeni jarang, dengan atau tanpa purpura. !erutama pada "anita yang lebih
tua dan "anita de"asa, poliartritis dapat terjadi dengan artralgia, pembengkakan, nyeri dan efusi
tetapi biasanya tanpa sisa apapun. $etiap sendi dapat terlibat, tetapi sendisendi kecil tangan
paling sering terkena. 7amanya biasanya beberapa hari( jarang artritis ini menetap selama
berbulanbulan. -arestesia juga telah dilaporkan. -ada satu epidemi orkidalgia dilaporkan pada
sekitar 5' orang lakilaki usia perguruan tinggi yang terinfeksi.
3etika rubella terjadi pada "anita hamil, dapat terjadi sindrom rubella ba"aan, yang
potensial menimbulkan kerusakan pada janin yang sedang tumbuh. 6nak yang terkena rubella
sebelum dilahirkan beresiko tinggi mengalami keterlambatan pertumbuhan, keterlambatan
mental, kesalahan bentuk jantung dan mata, tuli, dan problematika hati, limpa dan sumsum
tulang. -enularan >irus rubella menular dari satu orang ke orang lain melalui sejumlah kecil
cairan hidung dan tenggorokan.
-ada janin, infeksi rubella dapat menyebabkan abortus bila terjadi pada trisemester ,.
mulamula replikasi virus terjadi dalam jaringan janin, dan menetap dalam kehidupan janin, dan
mempengaruhi pertumbuhan janin sehingga menimbulkan kecacatan atau kelainan yang lain.
,nfeksi ibu pada trisemester kedua juga dapat menyebabkan kelainan yang luas pada organ.
.enetapnya virus dan interaksi antara virus dan sel di dalam uterus dapat menyebabkan kelainan
yang luas pada periode neonatal, seperti anemia hemolitika dengan hematopoiesis ekstra
meduler, hepatitis, nefritis interstitial, ensefalitis, pankreatitis interstitial dan osteomielitis.
.asa inkubasi berlangsung sekitar )& hari, tapi bisa berkisar antara 1)5 hari dari saat terpajan
sampai timbul gejala demam, biasanya )2 hari sampai timbul ruam. Jarang sekali lebih lama dari
)%*) hari. ,? untuk perlindungan pasif yang diberikan setelah hari ketiga masa inkubasi dapat
memperpanjang masa inkubasi.
?ejala rubella kongenital dapat dibagi dalam 4 kategori 8
). $indroma rubella kongenital yang meliputi 2 defek utama yaitu 8
6
a ?angguan pendengaran tipe neurosensorik. !imbul bila infeksi terjadi
sebelum umur kehamilan 5 minggu. ?ejala ini dapat merupakan satu
satunya gejala yang timbul.
b ?angguan jantung meliputi -#6, >$# dan stenosis katup pulmonal.
c ?angguan mata 8 katarak dan glaukoma. 3elainan ini jarang berdiri
sendiri.
d Retardasimental
dan beberapa kelainan lain antara lain8
e -urpura trombositopeni ( 9lueberry muffin rash )
f :epatosplenomegali, meningoensefalitis, pneumonitis, dan lainlain
*. /Atended < sindroma rubella kongenital.. .eliputi cerebral palsy, retardasi mental,
keterlambatan pertumbuhan dan berbicara, kejang, ikterus dan gangguan imunologi
( hipogamaglobulin ).
4. #elayed sindroma rubella kongenital. .eliputi panensefalitis, dan #iabetes .ellitus
tipe), gangguan pada mata dan pendengaran yang baru muncul bertahuntahun
kemudian.
7
!abel ). .anifestasi Rubella 3ongenital
Masa inkubasi
.asa inkubasi adalah )2*) hari. #alam beberapa laporan lain "aktu inkubasi minimum
)* hari dan maksimum )1 sampai *) hari. !anda yang paling khas adalah adenopati
retroaurikuler, servikal posterior, dan di belakang oksipital. /nantem mungkin muncul tepat
sebelum mulainya ruam kulit. Ruam ini terdiri dari bintikBbintik merah tersendiri pada palatum
molle yang dapat menyatu menjadi "arna kemerahan jelas pada sekitar *2jam sebelum ruam.
Masa prodromal
-ada anak biasanya erupsi timbul tanpa keluhan sebelumnya( jarang disertai gejala dan tanda
masa prodromal. =amun pada remaja dan de"asa muda masa prodromal berlangsung )0 hari
dan terdiri dari demam ringan, sakit kepala, nyeri tenggorok, kemerahan pada konjungtiva,
rinitis, batuk dan limfadenopati. ?ejala ini segera menghilang pada "aktu erupsi timbul. ?ejala
8
dan tanda prodromal biasanya mendahului )0 hari erupsi di kulit. -ada beberapa penderita
de"asa gejala dan tanda tersebut dapat menetap lebih lama dan bersifat lebih berat. -ada *&'
penderita selama masa prodromal atau hari pertama erupsi timbul suatu enantema, tanda
@orschheimer, yaitu makula atau petekiia pada palatum molle. -embesaran kelenjar limfe bisa
timbul 01 hari sebelum timbul eksantema, khas mengenai kelenjar suboksipital, postaurikular
dan servikal dan disertai nyeri tekan.
Masa eksantema
$eperti pada rubeola, eksantema mulai retroaurikular atau pada muka dan dengan cepat meluas
secara kraniokaudal ke bagian lain dari tubuh. .ulamula berupa makula yang berbatas tegas
dan kadangkadang dengan cepat meluas dan menyatu, memberikan bentuk morbiliform. -ada
hari kedua eksantem di muka menghilang, diikuti hari ke4 di tubuh dan hari ke2 di anggota
gerak. -ada 2&' kasus infeksi rubela terjadi tanpa eksantema. .eskipun sangat jarang, dapat
terjadi deskuamasi posteksantematik. 7imfadenopati merupakan suatu gejala klinis yang penting
pada rubela. 9iasanya pembengkakan kelenjar getah bening itu berlangsung selama 05 hari.
-ada penyakit rubela yang tidak mengalami penyulit sebagian besar penderita sudah dapat
bekerja seperti biasa pada hari ke4. sebagian kecil penderita masih terganggu dengan nyeri
kepala, sakit mata, rasa gatal selama 1)& hari.
*.0 Diagnosis
#iagnosis klinis sering kali sukar dibuat untuk seorang penderita oleh karena tidak ada
tanda atau gejala yang patognomik untuk rubela. $eperti dengan penyakit eksantema lainnya,
diagnosis dapat dibuat dengan anamnesis yang cermat. Rubela merupakan penyakit yang
epidemik sehingga bila diselidiki dengan cermat, dapat ditemukan kasus kontak atau kasus lain
di dalam lingkungan penderita.sifat demam dapat membantu dalam menegakkan diagnosis, oleh
karena demam pada rubela jarang sekali di atas 45,0CC. -ada infeksi tipikal, makula merah muda
yang menyatu menjadi eritema difus pada muka dan badan serta artralgia pada tangan penderita
9
de"asa merupakan petunjuk diagnosis rubela. -erubahan hematologik hanya sedikit membantu
penegakan diagnosis. -eningkatan sel plasma 0*&' merupakan tanda yang khas. 3adang
kadang terdapat leukopenia pada a"al penyakit yang dengan segera segera diikuti limfositosis
relatif. $ering terjadi penurunan ringan jumlah trombosit.
#iagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan serologik yaitu adanya peningkatan titer
anibodi 2 kali pada hemaglutination inhibition test (:6,R) atau ditemukannya antibodi ,g .
yang spesifik untuk rubela. !iter antibodi mulai meningkat *225 jam setelah permulaan erupsi
dan mencapai puncaknya pada hari ke +)*. selain pada infeksi primer, antibodi ,g . spesifik
rubela dapat ditemukan pula pada reinfeksi. #alam hal ini adanya antibodi ,g . spesifik rubela
harus di interpretasi dengan hatihati. $uatu penelitian telah menunjukkan bah"a telah tejadi
reaktivitas spesifik terhadapp rubela dari sera yang dikoleksi, setelah kena infeksi virus lain.
.embedakan rubella dengan campak (D.v.), demam scarlet (lihat infeksi $treptokokus)
dan penyakit ruam lainnya (misalnya infeksi eritema dan eksantema subitum) perlu dilakukan
karena gejalanya sangat mirip. Ruam makuler dan makulopapuler juga terjadi pada sekitar )0'
penderita dengan infeksi mononucleosis (terutama jika diberikan ampisilin), juga pada infeksi
dengan enterovirus tertentu dan sesudah mendapat obat tertentu. #iagnosa klinis rubella kadang
tidak akurat. 3onfirmasi laboratorium hanya bisa dipercaya untuk infeksi akut. ,nfeksi rubella
dapat dipastikan dengan adanya peningkatan signifikan titer antibodi fase akut dan konvalesens
dengan tes /7,$6, :6,, pasif :6 atau tes 76, atau dengan adanya ,g. spesifik rubella yang
mengindikasikan infeksi rubella sedang terjadi.
$era sebaiknya dikumpulkan secepat mungkin (dalam kurun "aktu 1)& hari) sesudah
onset penyakit dan pengambilan berikutnya setidaknya 1)2 hari (lebih baik *4 minggu)
kemudian. >irus bisa diisolasi dari faring ) minggu sebelum dan hingga * minggu sesudah
timbul ruam. >irus bisa ditemukan dari contoh darah, urin dan tinja. =amun isolasi virus adalah
prosedur panjang yang membutuhkan "aktu sekitar )&)2 hari. #iagnosa dari CR$ pada bayi
baru lahir dipastikan dengan ditemukan adanya antibodi ,g. spesifik pada spesimen tunggal,
dengan titer antibodi spesifik terhadap rubella diluar "aktu yang diperkirakan titer antibodi
maternal ,g? masih ada, atau melalui isolasi virus yang mungkin berkembang biak pada
tenggorokan dan urin paling tidak selama ) tahun. >irus juga bisa dideteksi dari katarak
kongenital hingga bayi berumur 4 tahun.
10
#iagnosis prenatal dilakukan dengan memeriksa adanya ,g. dari darah janin melalui
C>$ ( chorionoc villus sampling ) atau kordosentesis. 3onfirmasi infeksi fetus pada trimester ,
dilakukan dengan menemukan adanya antigen spesifik rubella dan R=6 pada C>$. .etode ini
adalah yang terbaik untuk isolasi virus pada hasil konsepsi.
9erdasarkan gejala klinik dan temuan serologi, sindroma rubella kongenital (CR$,
Congenital Rubella $yndrome) dapat diklasifikasikan sebagai berikut 8
). CR$ confirmed. #efek dan satu atau lebih tandaE gejala berikut 8
>irus rubella yang dapat diisolasi.
6danya ,g. spesifik rubella
.enetapnya ,g? spesifik rubella.
*. CR$ compatible. !erdapat defek tetapi konfirmasi laboratorium tidak lengkap.
#idapatkan * defek dari item a , atau masingmasing satu dari item a dan b.
a. 3atarak danE atau glaukoma kongenital, penyakit jantung kongenital, tuli,
retinopati.
). -urpura, splenomegali, kuning, mikrosefali, retardasi mental, meningo
ensefalitis, penyakit tulang radiolusen.
*.CR$ possible. #efek klinis yang tidak memenuhi kriteria untuk CR$
compatible.
4. CR, ( Congenital Rubella ,nfection ). !emuan serologi tanpa defek.
2. $tillbirths. $tillbirth yang disebabkan rubella maternal
0. 9ukan CR$. !emuan hasil laboratorium tidak sesuai dengan CR$8
!idak adanya antibodi rubella pada anak umur F *2 bulan dan pada ibu.
3ecepatan penurunan antibodi sesuai penurunan pasif dari antibodi didapat.
11
2." Diagnosis Ban#ing
-enyakit yang memberikan gejala klinis dan eksantema yang menyerupai rubela adalah 8
a.-enyakit virus 8 campak, roseola infantum, eritema mononukleosis infeksiosa
dan -ityriasis rosea
b.-enyakit bakteri 8 scarlet fever ($karlatina).
c. /rupsi obat 8 ampisilin, penisilin, asam salisilat, barbiturat, ,=:, fenotiazin dan
diuretiktiazid.
9ercak erupsi rubela yang berkonfluensi sulit dibedakan dari morbili, kecuali bila ditemukan
bercak koplik yang karakteristik untuk morbili. /rupsi rubela cepat menghilang sedangkan erupsi
morbili menetap lebih lama. 9ila terjadi kemerahan difus dan tampak bercakbercak ber"arna
lebih gelap diatasnya, perlu dibedakan dari scarlet fever. !idak seperti scarlet fever, pada rubela
daerah perioral terkena.
/rupsi pada infeksi mononukleosis dapat menyerupai rubela derajat berat, namun
penyakit itu dimulai dengan difteroid atau -laut>incentlike tonsilitis, demam lebih tinggi,
pembesaran kelenjar getah bening umum serta pembesaran hepar dan limpa.
-ada sifilis stadium dua ditemukan juga eksantema yang menyerupai rubela, disertai
pembesaran kelenjar getah bening umum, kadangkadang perlu pemeriksaan serologik untuk
sifilis. /rupsi obat menyerupai rubela yang dapat disertai pembesaran kelenjar getah bening
disebabkan terutama oleh senya"a hidantoin. -ada kasus yang meragukan dapat dilakukan
pemeriksaan hemogram dan serologik.
2.$ Pengo%atan
Jika tidak terjadi komplikasi bakteri, pengobatan adalah simtomatis. 6damantanamin
hidrokhlorida (amantadin) telah dilaporkan efektif in vitro dalam menghambat stadium a"al
infeksi rubella pada sel yang dibiakkan. Gpaya untuk mengobati anak yang sedang menderita
rubela kongenital dengan obat ini tidak berhasil. 3arena amantadin tidak dianjurkan pada "anita
hamil, penggunaannya amat terbatas. ,nterferon dan isoprinosin telah digunakan dengan hasil
yang terbatas.
12
?ambar ). .anegement dari "anita yang terkena virus rubella.
2.& I'(nisasi
>aksin campak yang mengandung virus yang dilemahkan adalah vaksin pilihan
digunakan bagi semua orang yang tidak kebal terhadap campak, kecuali ada kontraindikasi.
-emberian dosis tunggal vaksin campak hidup (live attenuated) biasanya dikombinasikan dengan
vaksin hidup lainnya (mumps. rubella), dapat diberikan bersamasama dengan vaksin yang
diinaktivasi lainnya atau bersamasama toksoid( dapat memberikan imunitas aktif pada %2%5'
individuindividu yang rentan, kemungkinan kekebalan yang timbul dapat bertahan seumur
hidup, kalaupun terjadi infeksi maka bentuk infeksinya sangat ringan atau infeksi tidak nampak
dan tidak menular. #osis kedua vaksin campak dapat meningkatkan tingkat kekebalan sampai
%%'. $ekitar 0)0' dari orang setelah divaksinasi menunjukkan gejala kelesuan dan demam
mencapai 4%.2HC (l&4H@). gejala ini muncul antara 0)* hari setelah diimunisasi, biasanya akan
berakhir setelah )* hari, namun tidak begitu mengganggu. Ruam, pilek, batuk ringan dan bercak
3oplik kadangkadang juga dapat timbul. 3ejang demam dapat pula timbul, namun sangat jarang
dan tanpa menimbulkan gejala sisa. ,nsidensi tertinggi terjadinya kejang demam adalah pada
anakanak dengan ri"ayat atau keluarga dekat (orang tua atau saudaranya) mempunyai ri"ayat
kejang demam. /nsefalitis dan ensefalopati pernah dilaporkan terjadi setelah diimunisasi campak
(kejadiannya kurang dari ) kasus per ) juta dosis yang diberikan).
13
#i ,ndonesia kejadiankejadian seperti ini dipantau oleh -okja 3,-, (3ejadian ,kutan
-aska ,munisasi). Gntuk mengurangi jumlah kegagalan pemberian vaksin, di 6merika $erikat
jad"al rutin pemberian vaksin campak * dosis, dengan dosis a"al diberikan pada umur *)0
bulan atau sesegera mungkin setelah usia itu. #osis kedua diberikan pada saat masuk sekolah
(umur 2+ tahun) namun dapat juga dosis kedua ini diberikan sedini mungkin, 2 minggu setelah
dosis pertama dalam situasi dimana risiko untuk terpajan campak sangat tinggi. 3edua dosis
diberikan sebagai vaksin kombinasi ..R (measles, mumps dan rubella). ,munisasi rutin dengan
..R pada umur )* bulan penting dilakukan di "ilayah dimana timbul kasus campak.
$elama terjadi 379 di masyarakat, usia yang direkomendasikan untuk imunisasi
menggunakan vaksin campak monovalent dapat diturunkan menjadi +)) bulan. #osis kedua
vaksin campak kemudian diberikan pada umur )*)0 bulan dan dosis ketiga pada "aktu masuk
sekolah. #ari hasil penelitian di 6frika dan 6merika 7atin menunjukkan bah"a umur optimal
untuk diimunisasi di negara berkembang sangat tergantung pada antibodi maternal yang masih
bertahan pada bayi dan tingkat risiko terpajan campak pada umur yang lebih muda. $ecara
umum ;:I menganjurkan pemberian imunisasi campak pada umur % bulan. #i 6merika 7atin,
-6:I (-an 6merican :ealth Irganization) sekarang merekomendasikan pemberian imunisasi
rutin pada umur )* bulan dan pemberian imunisasi tambahan secara berkala pada kampanye
-ekan ,munisasi =asional untuk mencegah terjadinya 379.
). -enyimpanan dan pengiriman vaksin8 ,munisasi bisa tidak memberikan perlindungan
apabila vaksin tidak ditangani atau disimpan dengan benar. $ebelum dilarutkan, vaksin campak
disimpan dalam keadaan kering dan beku, relatif stabil dan dapat disimpan di freezer atau pada
suhu lemari es (*5HC( 40,+2+,2H@) secara aman selama setahun atau lebih. >aksin yang telah
dipakai harus dibuang dan jangan dipakai ulang. 9aik vaksin bekukering atau yang sedang
dipakai dilapangan harus dilindungi dari sinar ultraviolet yang lama karena dapat menyebabkan
virus menjadi tidak aktif.
*. ,munisasi ulang8 #i 6merika $erikat sebagai tambahan terhadap imunisasi rutin
imunisasi ulang diberikan pada anakanak yang baru masuk sekolah, imunisasi ulang diperlukan
lagi bagi anakanak yang memasuki $.6, bagi mereka yang akan masuk perguruan tinggi atau
kepada mereka yang akan masuk ke fasilitas pera"atan penderita, kecuali bagi mereka yang
14
memiliki ri"ayat pemah terkena campak atau ada bukti serologis telah memiliki imunitas
terhadap campak atau telah menerima * dosis vaksin campak. 9agi mereka yang hanya
menerima vaksin campak yang telah diinaktivasi, imunisasi ulang dapat menimbulkan reaksi
lebih berat seperti bengkak lokal dan indurasi, limfadenopati dan demam, namun mereka akan
terlindungi terhadap sindroma campak atipik.
4. 3ontra indikasi penggunaan vaksin virus hidup 8
a. >aksin yang mengandung virus hidup tidak boleh diberikan kepada pasien dengan
penyakit defisiensi imunitas primer yang mengenai fungsi sel ! atau defisiensi imunitas yang
didapal karena leukemia, limfoma, penyakit . keganasan lain atau terhadap mereka yang
mendapatkan pengobatan dengan kortikosteroid, radiasi, obatobat alkilating atau anti metabolit,
infeksi oleh :,> bukan merupakan kontra indikasi yang mutlak. #i 6merika $erikat imunisasi
..R dapat dipertimbangkan untuk diberikan kepada orang dengan infeksi :,> asimptomatis
tanpa bukti adanya supresi imunologis yang berat. ;:I merekomendasikan pemberian
imunisasi campak kepada semua bayi dan anakanak dengan mengabaikan status :,>nya, sebab
risiko untuk terkena campak yang berat pada anakanak itu lebih besar.
b. -enderita dengan penyakit akut yang berat dengan atau tanpa demam, pemberian
imunisasi ditunda sampai mereka sembuh dari fase akut penyakit yang diderita( penyakit ringan
seperti diare atau ,$-6 bukan merupakan kontra indikasi.
c. Irang dengan ri"ayat hipersensivitas anafilaktik terhadap pemberian vaksin campak
sebelumnya, mereka yang sensitif terhadap gelatin atau neomisin, tidak boleh menerima vaksin
campak. 6lergi terhadap telur, meskipun bila terjadi anafilaktik tidak dianggap sebagai kontra
indikasi.
d. 3ehamilan. $ecara teoritis vaksinasi tidak diberikan pada "anita hamil( mereka diberi
penjelasan tentang risiko teoritis kemungkinan terjadi kematian janin apabila mereka menjadi
hamil dalam "aktu ) bulan setelah mendapat vaksin campak monovalen atau 4 bulan setelah
mendapat vaksin ..R.
15
e. >aksinasi harus diberikan paling lambat )2 hari sebelum pemberian ,? atau sebelum
transfusi darah. ,? atau produk darah dapat mengganggu respons terhadap vaksin campak
dengan lama "aktu yang bervariasi tergantung daripada dosis ,?. #osis yang biasa diberikan
untuk :epatitis 6 dapat. mengganggu respons terhadap vaksin selama 4 bulan( dosis ,? yang
sangat besar yang diberikan melalui intra vena dapat mengganggu respons terhadap vaksin
sampai selama )) bulan .
BAB III
KESI!PULAN
,bu hamil dengan janin yang dikandungnya sangat peka terhadap infeksi dan penyakit menular.
9eberapa di antaranya meskipun tidak mengancam nya"a ibu, tetapi dapat menimbulkan
dampak pada janin dengan akibat antara lain abortus, pertumbuhan janin terhambat, bayi mati
dalam kandungan, serta cacat ba"aan. 3ebanyakan penyakit infeksi diperparah dengan
terjadinya kehamilan. #an ada pula -enyakit yang nampaknya tidak terlalu mengancam ji"a ibu
16
hamil bahkan tidak nampak gejala tetapi bisa membahayakan terhadap janin. $alah satu
penyebab penyakit intrauterin yang sering menyebabkan dampak yang berbahaya pada janin
adalah rubella. #iganosis rubella pada ibu hamil harus ditegakan secepat mungkin. dan kontak
dengan virus rubella harus dihindari pada trimester satu dan dua, "alaupun ibu hamil tersebut
memiliki hasil ,g? yang positif.
1,2,3
tindakan pengobatan serta pencegahan dengan vaksinasi maupun hubungan seksual yang sehat
dan baik yang dapat dilakukan oleh "anita hamil dan suami sehingga diharapkan menurunkan
angka kematian ibu maupun bayi, serta menurukan angka kecacatan pada bayi.
2
Daftar P(staka
). =elson, ,lmu 3esehatan 6nak edisi )0 volume ,, J )%%+ -enerbit 9uku 3edokteran
/?C hal, )*&2 )*)2.
*. -rof. #r. !. :. Rampengan, $p6(3), -enyakit ,nfeksi !ropik pada 6nak edisi * J *&&0
-enerbit 9uku 3edokteran /?C, hal *+4 < *1*
4. $ar"ono -ra"irohadjo, ,lmu 3ebidanan edisi 4 cetakan + J *&&* Kayasan 9ina -ustaka
$ar"ono -ra"irohardjo, hal 01* < 012
17
2. Centers for #isease Control. Control and prevention of rubella8 evaluation and
management of suspected outbreaks, rubella in pregnant "omen, and surveillance for
congenital rubella syndrome. ..;R Recomm Rep July )4, *&&)(0&(RR)*)()<*4.
0. .arino !, 9 7aartz, $/ $mith, $? ?ompf, 3 6llaboun, J/ .arinez, et al. *&)&. Viral
Infections and Pregnancy. #iunduh dari8 http8EEemedicine.medscape.comEarticleE*40*)4
overvie". #iakses pada 4 Juni *&)4
6. Wiknojosastro H. , Saifudin B. A. dan Ra!i"!ad!i #., $%"u &'(idanan. )a*asan Bina
+ustaka Sar,ono +ra,iro!ardjo -disi 3 'takan &'s'"(i%an. .akarta 2007.
1. ;illiams Ibstetrics. *)st ed. Cunningham @?, :auth JC, 7eveno 3J, ?ilstrap 7 ,,,,
9loom $7, ;enstrom 3#, eds. =e" Kork8 .c?ra":ill .edical -ublishing #ivision(
*&&)8)2+1
18