Anda di halaman 1dari 28

MEMBANGUN KEMBALI AKHLAK DALAM HIDUP BERMASYARAKAT

Makalah

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas pada Mata Kuliah Tahdzib Akhlak

Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Sofyan Sauri, M.Pd

Akhlak Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Sofyan Sauri, M.Pd Oleh: Mira Hayati (1301989) Nadya Donna

Oleh:

Mira Hayati

(1301989)

Nadya Donna Putri

(1306666)

Wihdatul Islami Pathurahman

(1307250)

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG

2014

KATA PENGANTAR

ميحر ر لا نمحر ر لا لا مسب

Puji serta syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kami nikmat iman, Islam, sehat dan lain sebagainya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Solawat serta salam selayaknya kita curahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menyelamatkan kita dari zaman Jahiliyah yang penuh dengan kegelapan ilmu. Makalah ini penyusun susun salah satunya bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah tahdzib akhlak yang diampu oleh Bapak Prof. Dr. H. Sofyan Sauri, M.Pd. Di samping itu, penyusun memutuskan untuk membahas judul ini karena melihat keadaan

akhlak di luar sana yang cenderung merosot dewasa ini. Penyusun berharap makalah yang disusunnya ini dapat bermanfaat bagi kami penyusun khususnya dan para pembaca umumnya. Dalam proses penyusunan makalah ini tentunya tidak terlepas dari dukungan dan campur tangan pihak lain. Oleh karena itu, penyusun mengucapkan terima kasih kepada:

1. Orang tua kami yang sampai saat ini masih diberikan nikmat umur sehingga masih setia mendidik kami dengan cinta kasihnya yang sangat besar. Dengan ikhtiarnya yang luar biasa disertai kesabarannya yang tak terhingga penyusun bisa berada di posisi yang sekarang sedang dijalaninya.

2. Bapak Prof. Dr. H. Sofyan Sauri, M.Pd yang senantiasa berbagi ilmu sehingga penulis tidak merasa 'buta' dalam mengerjakan tugas makalah ini.

3. Teman-teman seperjuangan yang bersedia 'direpotkan' oleh kami dalam pencarian bahan-bahan makalah ini.

4. Pihak lain yang juga ikut serta memotivasi penyusun yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu dalam lembaran kertas ini. Demikian kata pengantar ini penyusun sampaikan. Mudah-mudahan apa yang

telah penyusun goreskan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak, khususnya penyusun sendiri.

Bandung, 15 April 2014

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

ii

BAB I

PENDAHULUAN

1

A.

LATAR BELAKANG MASALAH

1

B.

IDENTIFIKASI MASALAH

2

C.

RUMUSAN MASALAH

3

D.

TUJUAN PENULISAN

3

1. Tujuan Umum

3

2. Tujuan Khusus

3

E.

MANFAAT MAKALAH

3

1. Manfaat Teoretis

3

2. Manfaat Praktis

4

F. METODE PENULISAN

4

BAB II

LANDASAN TEORI

5

A.

AKHLAK BERTAMU DAN MENERIMA TAMU

5

1. Al-Qur'an

5

2. Al-Hadits

5

B.

AKHLAK DALAM HIDUP BERTETANGGA

6

1. Al-Qur'an

6

2. Al-Hadits

6

C.

AKHLAK KEPADA SESAMA MUSLIM

6

1. Al-Qur'an

6

2. Al-Hadits

6

D.

AKHLAK KEPADA ORANG-ORANG YANG BERBEDA AGAMA

7

1. Al-Qur'an

7

2. Al-Hadits

7

BAB III

PEMBAHASAN

8

A.

AKHLAK BERTAMU DAN MENERIMA TAMU

8

1. Bertamu

8

2. Menerima Tamu

10

B.

AKHLAK DALAM HIDUP BERTETANGGA

11

2.

Kedudukan Tetangga

12

3. Anjuran Berbuat Baik Kepada Tetangga

12

4. Ancaman Atas Sikap Buruk Terhadap Tetangga

13

5. Bentuk-bentuk Perbuatan Baik Kepada Tetangga

14

6. Bertetangga Dengan Non-Muslim

15

C. AKHLAK KEPADA SESAMA MUSLIM

16

1. Memberdayakan Salam

17

2. Mendo'akan yang Bersin

18

3. Memenuhi

Undangan

18

4. Menengok yang Sakit

18

5. Mengantarkan Jenazah

18

D. AKHLAK KEPADA ORANG-ORANG YANG BERBEDA AGAMA

20

BAB IV PENUTUP

22

A. SIMPULAN

22

B. REKOMENDASI

23

DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH Dalam hidup bersama dengan sesamanya (bermasyarakat), setiap individu menempati kedudukan (status) tertentu, mempunyai dunia dan tujuan hidupnya masing- masing, namun demikian sekaligus ia pun mempunyai dunia bersama dan tujuan hidup bersama dengan sesamanya (Syaripudin T, 2013:12). Masyarakat yang dicita-citakan oleh Islam adalah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Bukan sebaliknya masyarakat yang penuh dengan kemewahan, poya-poya, kemungkaran dan kemaksiatan yang merajalela, lupa terhadap Allah sebagai pencipta (Sauri S, 2006:68). Dengan mengintegrasikan kedua teori di atas, kami mendapatkan suatu hubungan erat antara individu dalam suatu masyarakat dengan keterwujudan baldatun thayyibatun yang dicita-citakan oleh Islam. Setiap individu yang ada dalam suatu masyarakat dan memiliki tujuan hidup masing-masing pergerakannya dibatasi oleh tujuan hidup bersama masyarakat tersebut. Dalam artian individu tidak bisa seenaknya mewujudkan tujuan hidupnya dengan mengabaikan tujuan hidup masyarakat sekitarnya. Kepedulian setiap individu terhadap tujuan hidup bersama masyarakatnya akan mempercepat perkembangan menuju terwujudnya tujuan bersama tersebut. Salah satu masalah yang dihadapi umat Islam sekarang ini adalah rendahnya rasa kesatuan dan persatuan sehingga kekuatan mereka menjadi lemah (Sauri S, 2012:152). Sektor kehidupan yang mengalami kelemahan ini salah satunya adalah sektor sosial dan budaya. Hal ini tampak pada akhlak pergaulan hidup bertetangga, akhlak bertamu dan menerimanya, serta akhlak bergaul dengan orang-orang muslim dan non-muslim secara umum. Dalam hal tamu bertamu, individu yang berposisi sebagai tamu cenderung tidak beretika. Ada di antara mereka yang ketika bertamu, ia meminta ijin kepada tuan rumah dengan berteriak-teriak. Di samping itu, ada pula yang tampak memaksa masuk ke rumah tuan rumahnya meskipun tuan rumah tersebut tidak berkenan untuk menerimanya. Ada juga yang berposisi sebagai penerima tamu tidak memperlakukan tamunya dengan baik. Ia menerima tamunya dengan muka yang masam, tidak memberikan jamuan kepada tamunya, dan bahkan tidak mempersilakan tamunya untuk duduk.

Dalam hal bertetangga, individu-individu yang tinggal berdekatan cenderung acuh dan tidak saling peduli satu sama lain. Hal ini tampak dari kebiasaan mereka yang ketika bertemu, perbuatan saling sapa pun tidak terjadi diantara mereka. Ada pula individu yang tampak tidak suka ketika bertemu dengan tetangganya. Ia menampakan muka masamnya dan berlalu dengan mata mendelik. Proses sosialisasi dengan saudara seislam pun mengalami degradasi yang terlihat dari kebiasaannya yang cuek antara satu individu dengan individu lainnya. Ketidakpedulian ini terjadi bukan hanya pada antar-pribadi saja, tapi juga antar-masyarakat. Seperti contohnya ketika para penghuni blok A mengalami kekeringan, saudara-saudaranya yang menghuni di blok B tidak menghiraukan musibah yang sedang dialami oleh para penghuni blok A. Pun demikian dengan proses sosialisasi dengan non-muslim. Bergaul dengan mereka yang berbeda agama seperti dilarang dalam masyarakat. Hubungan baik dengan orang Kristen (contohnya) dianggap sebagai orang yang sudah terbawa arus buruk. Berbagai permasalahan di atas melatarbelakangi kami untuk menyusun makalah yang bertajuk akhlak dalam bermasyarakat ini. Lebih khususnya kami memberi judul makalah ini “Membangun Kembali Akhlak Dalam Hidup Bermasyarakat”.

B. IDENTIFIKASI MASALAH Dari berbagai masalah yang telah dipaparkan di atas, kami mengidentifikasi masalah-masalah tersebut sebagai berikut:

1. Minimnya pengetahuan masyarakat tentang akhlak bertamu, menerima tamu, serta bergaul dengan sesama muslim dan non-muslim.

2. Egoisme masyarakat yang cenderung tinggi sehingga terlalu memegang prinsip individualistisnya.

3. Tidak suka terhadap akhlak tetangga atau sesamanya yang dinilai kurang sesuai dengan nilai dan norma masyarakatnya.

4. Adanya rasa dengki terhadap tetangga yang menurutnya lebih berkecukupan dibandingkan dengan dirinya sendiri.

5. Kurangnya komunikasi antar tetangga, sehingga menimbulkan kecanggungan di antara mereka untuk saling bertegur sapa.

6. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran mengenai akhlak pribadi yang baik, yang layak dikembangkan dalam dirinya sehingga membuat orang lain jenuh terhadap tingkah lakunya yang kurang menyenangkan.

7.

Masih menempelnya paradigma yang mengatakan bahwa non-muslim berbahaya bagi

Islam.

8.

Masyarakat masih merasa takut untuk kenal dan berhubungan baik dengan non-muslim.

C.

RUMUSAN MASALAH Adapun rumusan masalah yang menjadi batasan pembahasan makalah ini ialah:

1.

Bagaimanakah akhlak bertamu dan menerima tamu yang dianjurkan oleh Islam?

2.

Bagaimanakah akhlak bertetangga yang baik menurut Islam?

3.

Bagaimanakah akhlak terhadap saudara seislam yang seharusnya?

4. Bagaimanakah anjuran dan batasan berakhlak terhadap orang-orang yang berbeda

agama?

D.

TUJUAN PENULISAN

1.

Tujuan Umum

Tujuan umum dari penulisan makalah ini ialah:

a. Untuk mengetahui gagasan atau konsep untuk membangun kembali akhlak dalam hidup bermasyarakat.

b. Untuk memenuhi salah satu tugas kelompok mata kuliah tahdzib akhlak.

2.

Tujuan Khusus

Adapun tujuan khususnya yaitu:

a. Untuk mengetahui akhlak bertamu dan menerima tamu yang dianjurkan oleh Islam.

b. Untuk mengetahui akhlak bertetangga yang baik.

c. Untuk mengetahui akhlak terhadap saudara seislam yang seharusnya.

d. Untuk mengetahui anjuran dan batasan berakhlak terhadap orang-orang yang berbeda agama.

E.

MANFAAT MAKALAH

1.

Manfaat Teoretis

Manfaat teoretis dari makalah ini ialah:

a. Menambah wawasan keilmuan mengenai akhlak bertamu dan menerima tamu yang dianjurkan oleh Islam.

b. Menambah wawasan keilmuan mengenai akhlak bertetangga yang baik.

seharusnya. d. Menambah wawasan keilmuan mengenai anjuran dan batasan berakhlak terhadap orang-orang yang berbeda agama. 2. Manfaat Praktis Adapun manfaat praktisnya yaitu:

1. Menjadi tadzkiroh (pengingat) untuk senantiasa menjaga akhlak baik terhadap orang- orang di sekitar kita.

2. Menjadi referensi tambahan bagi siapa saja yang hendak membuat suatu karya tulis mengenai akhlak.

3. Membantu memudahkan para pendidik dalam mendidik akhlak bermasyarakat.

4. Menjadi inspirasi tambahan dalam menyusun strategi untuk melakukan gebrakan revolusi akhlak bermasyarakat.

F. METODE PENULISAN

Dalam penulisan makalah ini, kami menggunakan metode penulisan secara umum, dengan sistematika langkahnya sebagai berikut:

1. Mengumpulkan informasi dan bahan materi yang relevan.

2. Menganalisis informasi dan materi.

3. Menuangkan informasi dan hasil analisis dalam makalah.

4. Evaluasi makalah.

5. Editing makalah.

6. Fiksasi makalah.

BAB II LANDASAN TEORI

A. AKHLAK BERTAMU DAN MENERIMA TAMU

1. Al-Qur'an

مكلل ريخ مكلذ اهلهأ ىلع اوملل ست و اوسنأتست ىت ح مكتويب ريغ اتويب اولخدت ﻻ اونمأ نيذلل ا اهي ل آي

رون ) نوركل ذت مكلل عل

ل

(27 :

ل

لا

Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta ijin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu, agar kamu (selalu) ingat” (QS. An-Nur: 27) Berkaitan dengan ayat di atas, Jalaluddin AS-Suyuthi (2008:401) mengatakan bahwa “Al-Faryabi dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari 'Adi bin Tsabit bahwa seorang wanita Anshor datang dan berkata, “wahai Rasulullah, di rumah saya berada dalam keadaan yang saya harap tidak ada seorangpun yang melihat saya dalam keadaan itu, akan tetapi selalu saja ada seseorang lelaki dari keluarga saya yang masuk rumah sementara saya berada dalam keadaan tersebut. Apa yang harus saya perbuat?” Maka turunlah ayat “Wahai orang-orang beriman janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu ”” Usamah Ar-Rifa'i (2008:333) juga mencantumkan hadits yang menjadi asal usul diturunkannya ayat ini pada kitab Tafsirul Wajiz, “Dari Sahal bin Sa'ad berkata, “Seseorang mengintip dari lubang kamar Nabi SAW dan bersama Nabi SAW ada al-midra

(sisir dari besi atau kayu) untuk menggaruk kepalanya. Kemudian Rasulullah bersabda, 'seandainya aku tahu bahwa kamu mengintip (melihat), maka aku pasti menusukkan ini ke matamu. Sesungguhnya minta ijin itu disyari'atkan untuk menjaga pandangan mata'. -Dengan lafadz lain- sesungguhnya Allah SWT menjadikan izin untuk menjaga pandangan mata.”” (HR. Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ahmad)

2. Al-Hadits

لقيلف رخلا مويلا و هلل لاب نمؤي ناك نم لاق ملل س و هيلع هلل لا ىلل ص هلل لا لوسر نع ةريره يبأ نع

رخلا مويلا و هلل لاب نمؤي ناك نم و هراج مركيلف رخلا مويلا و هلل لاب نمؤي ناك نم و تمصيل وأ اريخ

( ملسم و يراخبلا هاور) هفيض مركيلف

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir,

maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

B. AKHLAK DALAM HIDUP BERTETANGGA

1. Al-Qur'an

يذذ رذ اج ج لل او ج نذ يكذ اس ج لل او ج م لل او ج ى ب لل ا يذذ بذ و اس ج إذ نذ ي ذل او ج لل ابذ و ائن ي هذ بذ اوكق رذ ش الج و لا اود ق او ج

ج

لل ج إذ م ام ج ت جكجلم ج و يبذ س لا نذ ب بذ ن لل ابذ بذ حذ اص ل لاو ج بذ ن لل ا رذ اج ج لل او ج ى ب قق لل ا

ار ن وخق فج الن ات ج خل م اكج

ل

ج

م

ج ات ج

ى

ج

ى ي

ج

ل قك ن ي أ

ق

ل

ل

ى ج ر ل

ق

ام ج

ج ان ن ح

ل

ج

ل

ل او ج

ل د ج

ج

ج

ل ش

ج

ل ق ت

ق ج ق

ج ه ج لل

ج

ق

ق ل

ع

ب

ى ج ر ل

ق

ج

ن

ن م ب حذ ي الج ه لا ن

ج

ق

ل

ق

ج

ل

ج ل

ذ

ل ج

ج

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan

berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An Nisa: 36)

2. Al-Hadits

لقيلف رخلا مويلا و هلل لاب نمؤي ناك نم لاق ملل س و هيلع هلل لا ىلل ص هلل لا لوسر نع ةريره يبأ نع

رخلا مويلا و هلل لاب نمؤي ناك نم و هراج مركيلف رخلا مويلا و هلل لاب نمؤي ناك نم و تمصيل وأ اريخ

( ملسم و يراخبلا هاور) هفيض مركيلف

“Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, ia bersabda 'Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya'.” (HR. Bukhari dan Muslim)

C. AKHLAK TERHADAP SAUDARA SEISLAM

1. Al-Qur'an

(10

: تارجحلا) نومحرت مكلل عل هللا اوقت ل ا و مكيوخأ نيب اوحلصأف ةوخإ نونمؤملا امن ل

إ

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (QS.

Al- أujurat:10)

2. Al-Hadits

د ر هيخأ ىلع ملسملل بجت سمخ ملس و هيلع هللا ىلل ص هللا لوسر لاق لاق ةريره ابأ ن أ

ل

( ملسملا هاور) زئانجلا عابت ل ا و ضيرملا ةدايع و ةوعد ل لا ةياجإ و سطاعلا تيمشت و ملس ل لا

ل

“Bahwa Abu Hurairah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW ‘kewajiban seorang muslim terhadap sesama muslim ada lima: menjawab salam, mendoakan yang bersin, memenuhi undangan, mengunjungi yang sakit, dan ikut mengantarkan jenazah’.” (HR. Muslim)

D. AKHLAK TERHADAP ORANG-ORANG YANG BERBEDA AGAMA

1. Al-Qur'an

(107: ءايبنلا ) نيملاعلل ةمحر الل إ كانلسرأ امو

Dan tidaklah Kami mengutusmu kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS.

Al-Anbiya:107).

2. Al-Hadits

ملس

ل

لاب ىراصن ل لا ﻻو دوهيلا اوئدبت ﻻ

أ ةريره يبأ نع

( ملسملا هاور ) هقيضأ ىلإ هور طضاف قيرط يف مهدحأ متيقل اذإف

لاق ملل س و هيلع هلل لا ىلل ص

ل

هلل لا لوسر ن

ل

“Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda 'Janganlah kalian mendahului orang-orang Yahudi dan Nasrani memberi salam. Apabila kalian berpapasan dengan salah seorang diantara mereka di jalan, maka desaklah dia ke jalan yang paling sempit’.” (HR. Muslim)

BAB III

PEMBAHASAN

Assiba'i (1993:323) menyatakan bahwa “Kehidupan sosial menurut Islam didasarkan

pada keluhuran budi dan ketinggian akhlak, bahkan hal ini dianggap sebagai salah satu

bagian penting dalam 'aqidahnya”. Setiap perbuatan yang dalam lingkup masyarakat harus

dilakukan dengan disertai akhlak, baik itu perkataan maupun perbuatan. Kesertaan akhlak

dalam berprilaku menggambarkan keteguhan aqidah yang dimiliki. Seseorang yang

beraqidah kuat tentu akan melakukan suatu hal dengan kehati-hatian karena takut akan

balasan yang akan ia terima jika berprilaku buruk.

Al-Qur'an mengajarkan untuk melakukan perbuatan ma'ruf sehingga ia bisa hidup di

tengah masyarakat dengan sebaik-baiknya serta mendapatkan keridhoan Allah (Sauri,

2006:76). Adapun beberapa uraian akhlak baik dalam lingkup bermasyarakat ialah sebagai

berikut:

A. AKHLAK BERTAMU DAN MENERIMA TAMU

Dalam hidup bermasyarakat, kita tidak pernah lepas dari kegiatan bertamu dan

menerima tamu. Adakalanya kita mengunjungi sanak saudara, kerabat, kenalan kita

dan adakalanya kita juga dikunjungi teman-teman kita. Supaya kegiatan tersebut tetap

berdampak positif bagi kedua belah pihak, baik pihak yang mengunjungi maupun

pihak yang dikunjungi, maka Islam memberikan tuntunan bagaimana sebaiknya

kegiatan bertamu dan menerima tamu dilakukan.

1. Bertamu

Menurut Solihin, Ihin dan Rahmat, A (2006 : 88-89), bertamu termasuk

bagian dari silaturahmi, yaitu menjalin ikatan kekeluargaan untuk membentuk

kebahagiaan bersama. Firman Allah SWT:

ب ح جافج ةق و ج خل ذا ن مذ ؤل م لال ام ج ج ن ذا

قكي ل خل جان ج ج او ل ق ذلص ل

ل

ج

م و

ل

ي

ج و ق

ل

ن

ق

ل

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara, karena itu damaikanlah

antara kedua saudaramu.” (Q.S. Al-Hujurat, 49: 10)

a. Kebiasaan bertamu

Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT di atas bahwa orang yang

beriman hendaklah menghubungkan tali persaudaraan. Salah satu cara dengan

mendamaikan atau menghubungkan tali persaudaraan adalah dengan jalan bertamu.

Dengan bertamu terjalinlah semua hubungan, terpecahlah kesulitan yang dihadapi

dan terciptalah suatu ikatan batin yang membuat hati jadi tenang, sehingga terjamin

ketenteraman yang akan membawa umur panjang. Selain itu, kebiasaan bertamu

akan membawa rezeki dan memperoleh pengampunan dosa bagi yang bertamu dan

yang menerima tamu.

Sabda Rasulullah SAW:

ج

م ل

ذ

هذ بذ و ذق ةذ ر ج فذ غل م بذ ج خ ر اذج ا هذ قذ ز ل رذ بذ لج خ د م و ل قج ىلج ع ف لا لج خ اذج ا

ق

ل ن

ج

ج ر ج

ج ،ج

ج

ج ج خ

ج

ذ و

ج م

ج

ق

ي ج

ل

ل

ض

ج د

ج

Artinya: “ Bilamana seorang tamu memasuki suatu kaum maka ia masuk

dengan membawa rezekinya sendiri, dan bila ia keluar dengan membawa ampunan

bagi mereka.” (H.R. Iman Daulany dari Anas)

b. Tata cara bertamu dan menerima tamu

Tiap bertamu dan menerima tamu tentu ada tata cara (adab) tersendiri

menurut kebiasaan dan sangat tergantung kepada orang yang dikunjungi. Kalau kita

bertamu kepada sanak keluarga tentu berbeda dengan bertamu kepada keluarga lain.

Begitu pula bertamu kepada orang kebanyakan, tentu tidak sama dengan bertamu

kepada seorang petinggi di kantornya.

Walau demikian, secara umum Islam memberikan petunjuk tentang

bagaimana bertamu dan menerima tamu dengan cara yang baik, antara lain:

a. Mulai mengucapkan salam dan wajib membalasnya.

b. Berjabat tangan, bila tidak merusak syariat Islam.

c. Ikutilah apa yang diperintahkan oleh penerima tamu, karena tamu itu ibarat mayat

yang diatur oleh penerima tamu.

d. Hormatilah tamu, karena sesungguhnya menghormati tamu merupakan tanda orang

beriman kepada Allah dan hari kemudian.

e. Berikan pertolongan/bantuan kepada tamu yang memerlukan bantuan.

Sebelum memasuki rumah seseorang, hendaklah yang bertamu terlebih

dahulu meminta izin dan mengucapkan salam kepada tuan rumah. Sebagaimana

Firman Allah SWT (QS. An-Nur :27)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang

bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.

Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat”

Meminta izin bisa dengan kata-kata, dan bisa pula dengan ketukan pintu atau

tekan tombol bel atau cara-cara yang lebih dikenal dalam masyarakat setempat.

Bahkan salam itu sendiri bisa juga dianggap sekaligus sebagai permohinan izin.

Menurut Rasulullah saw, meminta izin maksimal boleh dilakukan tiga kali.

Apabila tidak ada jawaban, sebaiknya yang bertamu kembali pulang. Jangan sekali- kali masuk rumah orang lain tanpa izin, karena disamping tidak menyenangkan bahkan mengganggu tuan rumah, juga dapat berakibat negatif kepada tamu itu sendiri. Mengapa meminta izin maksimal tiga kali? Karena ketukan pertama, sebagai pemberitahuan kepada tuan rumah akan kedatangan tamu, ketukan kedua, memberikan kesempatan tuan rumah untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan, ketukan ketiga, diharapkan penghuni rumah sudah berjalan menuju pintu. Setelah ketukan ketiga tetap tidak ada yang membukakan pintu, ada kemungkinan tidak ada orang di rumah atau tuan rumah sedang tidak bersedia menerima tamu. Tamu tidak boleh mendesakkan keinginannya untuk bertamu setelah ketukan ketiga, karena hal tersebut akan mengganggu tuan rumah. Sekalipun tuan rumah dianjurkan untuk menerima dan memuliakan tamu, tapi tetap berhak menolak kedatangan tamu kalau memang dia tidak berkenan. Disamping meminta izin dan mengucapkan salam, masih ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh setiap orang yang hendak bertamu, diantaranya:

a. Jangan bertamu sembarang waktu. Bertamulah pada saat yang kiranya tuan rumah tidak akan terganggu.

b. Jangan terlalu lama bertamu sehingga merepotkan tuan rumah. Segeralah pulang jika urusan sudah selesai.

c. Jangan melakukan kegiatan yang menyebabkan tuan rumah terganggu. Diizinkan masuk rumah bukan berarti diizinkan segala-galanya.

d. Kalau disuguhi minuman atau makanan, hormatilah jamuan itu. Bahkan Rasulullah saw menganjurkan kepada orang yang berpuasa sunah sebaiknya membukai puasanya untuk jamuan (HR. Baihaqi).

e. Hendaklah pamit ketika akan pulang.

2. Menerima tamu Rasulullah saw mengaitkan sifat memuliakan tamu itu dengan keimanan terhadap Allah SWT dan Hari Akhir. Beliau bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah ia memuliakan

tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Memuliakan tamu dilakukan antara lain dengan menyambut kedatangannya dengan muka manis dan tutur kata yang lemah lembut, mempersilakan duduk di tempat yang baik. Kalau perlu disediakan ruangan khusus menerima tamu yang dijaga kerapihannya. Kalau tamu datang dari tempat yang jauh dan ingin menginap, tuan rumah wajib menerima dan menjamunya maksimal tiga hari tiga malam. Lebih dari itu terserah tuan rumah tetap menjamunya atau tidak. Menurut Rasulullah saw, menjamu tamu lebih dari tiga hari nilainya sedekah, bukan lagi kewajiban. Rasulullah saw bersabda:

Menjamu tamu itu hanya tiga hari. Jaizahnya sehari semalam. Apa yang dibelanjakan untuk tamu diatas tiga hari adalah sedekah. Dan tidak boleh bagi tamu tetap menginap (lebih dari tiga hari) Karen ahal itu akan memberatkan tuan rumah.” (HR. Tirmidzi) Menurut Imam Malik, yang dimaksud dengan jaizah sehari semalam adalah memuliakan dan menjamu tamu pada hari pertama dengan hidangan yang istimewa dari hidangan yang biasa dimakan tuan rumah sehari-hari. Sedangkan hari kedua dan ketiga dijamu dengan hidangan biasa sehari-hari. Sedangkan menurut Ibn al-Atsir, yang dimaksud dengan jaizah sehari semalam adalah memberi bekal kepada tamu untuk perjalanan sehari-semalam. Namun bagaimanapun bentuknya, substansinya tetap sama yaitu anjuran untuk memuliakan tamu sedemikian rupa.

B. AKHLAK DALAM HIDUP BERTETANGGA

1. Batasan Tetangga Siapakah yang tergolong tetangga? Apa batasannya? Karena besarnya hak tetangga bagi seorang muslim dan adanya hukum-hukum yang terkait dengannya, para ulama pun membahas mengenai batasan tetangga. Para ulama khilaf dalam banyak pendapat mengenai hal ini. Sebagian mereka mengatakan tetangga adalah ‘orang-orang yang shalat subuh bersamamu’, sebagian lagi mengatakan ’40 rumah dari setiap sisi’, sebagian lagi mengatakan ’40 rumah disekitarmu, 10 rumah dari tiap sisi’ dan beberapa pendapat lainnya (lihat Fathul Baari, 10 / 367).

Namun pendapat-pendapat tersebut dibangun atas riwayat-riwayat yang

lemah. Oleh karena itu Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata: “Semua

riwayat dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang berbicara mengenai batasan

tetangga adalah lemah tidak ada yang shahih. Maka zhahirnya, pembatasan yang

benar adalah sesuai ‘urf” (Silsilah Ahadits Dha’ifah, 1/446). Sebagaimana

kaidah fiqhiyyah yang berbunyi al ‘urfu haddu maa lam yuhaddidu bihi asy

syar’u (adat kebiasaan adalah pembatas bagi hal-hal yang tidak dibatasi oleh

syariat). Sehingga, yang tergolong tetangga bagi kita adalah setiap orang yang

menurut adat kebiasaan setempat dianggap sebagai tetangga kita.

2. Kedudukan Tetangga Bagi Seorang Muslim

Hak dan kedudukan tetangga bagi seorang muslim sangatlah besar dan mulia.

Sampai-sampai sikap terhadap tetangga dijadikan sebagai indikasi keimanan.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

Barangsiapa

tetangganya

ه ر ج اج ج م رذلك ي لل فج رذ خذ آلل ا م ي

ق

ل

ق

ذ

ل

و ج لل او ج لابذ ن ي اكج ن م

ج

ج

هذ لل

ق

ج

ق

مذ ؤ ن

ل

ل

yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan

(HR. Bukhari 5589, Muslim 70)

Bahkan besar dan pentingnya kedudukan tetangga bagi seorang muslim

sangatlah ditekankan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi

Wasallam bersabda:

قث ر ذ و س ج ت ن ن ىت رذ اج ج ـلل ابذ ي صذ و لق ي جذ لج از ج ام ج

ه

ق

ل

ج ق ي

ج

ق ج ل ن أ

ه

ق ل ج ظ ج

ج ل ح ج

ل

ل نذ ي

ل ق ي

ل رذ ب

ل

Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa

tetangga itu akan mendapat bagian harta waris” (HR. Bukhari 6014, Muslim

2625)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan: “Bukan berarti

dalam hadits ini Jibril mensyariatkan bagian harta waris untuk tetangga karena

Jibril tidak memiliki hak dalam hal ini. Namun maknanya adalah beliau sampai

mengira bahwa akan turun wahyu yang mensyariatkan tetangga mendapat bagian

waris. Ini menunjukkan betapa ditekankannya wasiat Jibril tersebut kepada

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam” (Syarh Riyadhis Shalihin, 3/177)

3. Anjuran Berbuat Baik Kepada Tetangga

Karena demikian penting dan besarnya kedudukan tetangga bagi seorang

muslim, Islam pun memerintahkan ummatnya untuk berbuat baik terhadap

tetangga. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) :

ى ب لل ا يذذ رذ اج ج لل او ج نذ يكذ اس ج لل او ج م لل او ج ى ب لل ا يذذ بذ و اس ج إذ نذ ي ذل او ج لل ابذ و ائن ي هذ بذ اوكق رذ ش الج و لا اود ق او ج

ج

لل ج إذ م ام ج ت جكجل م و يبذ س لا نذ ب بذ ن للابذ بذ حذ اص ل لاو ج بذ ن لل ا رذ اج ج لل او ج

ى ج ر ل

ق

ق

ج ات ج

ى

ج

ى ي

ل

ى ج ر ل

ق

ل

ل

ق

ج

ج ان ن ح

ل

ام ج ل

ج

ذ

ج

ل

ل ش

ل

ج

ج

ل ق ت

ج

ج ه ج لل

ق ق

ج

ج

ج

م

ل د ج

ج

ج

ق ل

ع

ب

الن ات ج خل م اكج ن ب حذ ي الج ه لا ن

ق

ج

ن

ل

ج

م

ق

ل

ق

ج

ل

ج

قكن ق ي أ

ل او ج

ار ن وخق فج

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu

pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak

yatim,

dan

orang-orang

miskin,

tetangga

yang

memiliki

hubungan

kerabat

tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-

banggakan diri” (QS. An Nisa: 36)

Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan ayat ini: “Tetangga yang lebih

haknya. Maka sudah semestinya seseorang

mempererat hubungannya terhadap tetangganya, dengan memberinya sebab-sebab

hidayah, dengan sedekah, dakwah, lemah-lembut dalam perkataan dan perbuatan

dekat tempatnya, lebih besar

serta tidak memberikan gangguan baik berupa perkataan dan perbuatan” (Tafsir As

Sa’di, 1/177)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

ج

ج

هذ رذاج ج ـلذ م

ل ق ق ل

خ

ه ر ي هذ للا د عذ نذ ار ج جذ ـلل ا ر و

ج

ج

ج ل

ن

ل

ي

خ ، هذ بذ حذ اص ج ه ر ي هذ للا د عذ بذ اح ج ل ي

ق ل

ي

ج

ل ق ق ل

ذل م

ج

خ

ج ل

ن

ل

ق ل

ص لا ر خ

Sahabat yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap

sahabatnya. Tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik

sikapnya terhadap tetangganya” (HR. At Tirmidzi 1944, Abu Daud 9/156, dinilai

shahih oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 103)

Maka jelas sekali bahwa berbuat baik terhadap tetangga adalah akhlak yang

sangat mulia dan sangat ditekankan penerapannya, karena diperintahkan oleh Allah

dan Rasul-Nya.

4. Ancaman Atas Sikap Buruk Kepada Tetangga

Disamping anjuran, syariat Islam juga mengabakarkan kepada kita ancaman

terhadap orang yang enggan dan lalai dalam berbuat baik terhadap tetangga.

Bahkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menafikan keimanan dari orang

yang

Wasallam bersabdaL

lisannya

kerap

menyakiti tetangga. Beliau Shallallahu’alaihi

ب اج ج نق م الج ي ذذ لل ا

ق

ق ج

ه

ئذ او ج ه ر

ج ق ق

ل

ل

أ

ج ج

ي

ج

: لج اقج ؟هذ للا لج و ل

س ر اي ج ن م و

ج

ق ج

ل

ج

:

لج ي

ل

قذ

.

نق مذ ؤل ي الج هذ للاو ج ، نق مذ ؤل ي الج هذ للاو ج ، نق مذ ؤل ي الج هذ للاو ج

ق

ق

ق

Demi Allah, tidak beriman, tidak beriman, tidak beriman. Ada yang bertanya:

‘Siapa itu wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Orang yang tetangganya tidak

aman dari bawa’iq-nya (kejahatannya)‘” (HR. Bukhari 6016, Muslim 46)

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: “Bawa’iq maksudnya culas, khianat,

zhalim dan jahat. Barangsiapa yang tetangganya tidak aman dari sifat itu, maka ia

bukanlah seorang mukmin. Jika itu juga dilakukan dalam perbuatan, maka lebih

parah lagi. Hadits ini juga dalil larangan menjahati tetangga, baik dengan perkataan

atau perbuatan. Dalam bentuk perkataan, yaitu tetangga mendengar hal-hal yang

membuatnya terganggu dan resah”. Beliau juga berkata: ”Jadi, haram hukumnya

mengganggu tetangga dengan segala bentuk gangguan. Jika seseorang

melakukannya, maka ia bukan seorang mukmin, dalam artian ia tidak memiliki sifat

sebagaimana sifat orang mukmin dalam masalah ini” (Syarh Riyadhis Shalihin,

3/178)

Mengganggu tetangga juga termasuk dosa besar karena pelakunya diancam

dengan neraka. Ada seorang sahabat berkata:

يه ،اهيف ريخ ﻻ :لاق . اهناريج يذؤت ءيش اهناسل يفو ،راهنلا موصتو ليللا يلصت ةنلف نإ ! هللا لوسر اي

رانلا يف

Wahai Rasulullah, si Fulanah sering shalat malam dan puasa. Namun lisannya

pernah menyakiti tetangganya. Rasulullah bersabda: ‘Tidak ada kebaikan

padanya, ia di neraka’” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak 7385, dinilai shahih

oleh Al Albani dalam Shahih Adabil Mufrad 88)

Sebagaimana Imam Adz Dzahabi memasukan poin ‘mengganggu tetangga’

dalam kitabnya Al Kaba’ir (dosa-dosa besar). Al Mula Ali Al Qari menjelaskan

mengapa wanita tersebut dikatakan masuk neraka: “Disebabkan ia mengamalkan

amalan sunnah yang boleh ditinggalkan, namun ia malah memberikan gangguan

yang hukumnya haram dalam Islam” (Mirqatul Mafatih, 8/3126).

5. Bentuk-Bentuk Perbuatan Baik Kepada Tetangga

Semua bentuk akhlak yang baik adalah sikap yang selayaknya diberikan

kepada tetangga kita. Diantaranya adalah bersedekah kepada tetangga jika memang

membutuhkan. Bahkan anjuran bersedekah kepada tetangga ini sangat ditekankan

oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :

ه ر و ش ي ا نق مذ ؤل م ـلل ا س ي جل

Bukan mukmin, orang yang

kelaparan” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra 18108, dishahihkan Al Albani

dalam Silsilah Ash Shahihah 149)

هذ بذ ن ىلج إ ع ئذ اج ج اج ج ع ب ي ذلل ج

ل ج ج

ع

ق ق

ج

ق ج

ل

ج

ل

sedang

tetangga

ق

ج ل

kenyang

perutnya

sebelahnya

Beliau juga bersabda:

ج

ر ع بذ اه ج مذ م صذ أ

ج

ل

ه ب فج كج نذ ار ج جذ ن مذ تم ي ج لج ه أ ر ا م

ق ل

ل

ي

ل

ل

ب

ل

ل

ظ ق ل ج

ل

ن

ج

قث ، ه ء ام ج ل ثذ لك أ

فم و م

ج

ل ق ل

ل

ن

ق

ج

ر فج اقن ر ت خل ب اذج إذ

ج ج

م

ج

ج ط ج

Jika engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihatlah keluarga

tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik” (HR.

Muslim 4766)

Dan juga segala bentuk akhlak yang baik lainnya, seperti memberi salam,

menjenguknya ketika sakit, membantu kesulitannya, berkata lemah-lembut,

bermuka cerah di depannya, menasehatinya dalam kebenaran, dan sebagainya.

Hadits yang dijadikan landasan teori akhlak bertetangga menyeru kita untuk

memuliakan tetangga, memelihara hak-haknya dan berbuat baik kepadanya dengan

segala macam kebaikan menurut kemampuan kita, dan berbicara yang baik, yakni

perkataan yang di dalamnya terkandung pahala. Adapun berbuat baik di sini,

misalnya seperti memberikan hadiah kepadanya, mengucapkan salam,

menghilangkan kesulitannya, menolong kebutuhannya, menolak segala macam

gangguan dan ikut memikul deritanya, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi

(Ammaroh, dkk. 2003:319).

6. Jika Bertetangga Dengan Non-Muslim

Dalam firman Allah Ta’ala pada surat An Nisa ayat 36 di atas, tentang anjuran

berbuat baik pada tetangga, disebutkan dua jenis tetangga. Yaitu al jaar dzul

qurbaa (tetangga dekat) dan al jaar al junub (tetangga jauh). Ibnu Katsir

menjelaskan tafsir dua jenis tetangga ini: “Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari

Ibnu Abbas bahwa al jaar dzul qurbaa adalah tetangga yang masih ada hubungan

kekerabatan dan al jaar al junub adalah tetangga yang tidak memiliki hubungan

kekerabatan”. Beliau juga menjelaskan: “Dan Abu Ishaq meriwayatkan dari Nauf

Al Bikali bahwa al jaar dzul qurbaa adalah muslim dan al jaar al junub adalah

Yahudi dan Nasrani” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/298).

Anjuran berbuat baik kepada tetangga berlaku secara umum kepada setiap

orang yang disebut tetangga, bagaimana pun keadaannya. Ketika menjelaskan

hadits

ي ه ت ن ن ىت رذ اج ج ـلل ابذ ي صذ و لق ي جذ لج از ج ام ج

ه قث ر ذ و

ق

ق ن

ل ج ق س ج ل

ج

ج أ

ق

ل

ج ظ ج

ج ل ح ج

ل

ل نذ ي

ل ق ي

ل رذ ب

ل

Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa

tetangga itu akan mendapat bagian harta waris

Al ‘Aini menuturkan: “Kata al jaar (tetangga) di sini mencakup muslim,

kafir, ahli ibadah, orang fasiq, orang jujur, orang jahat, orang pendatang, orang asli

pribumi, orang yang memberi manfaaat, orang yang suka mengganggu, karib

kerabat, ajnabi, baik yang dekat rumahnya atau agak jauh” (Umdatul Qaari,

22/108). Demikianlah yang dilakukan para salafus shalih.

Dikisahkan dari Abdullah bin ‘Amr Al Ash:

لج وس ق ج

ق

ل

ع

ر ت مذ س ؟ي ل دذ وه لل ا ان ج رذاج ج ذل ت ه أ

ق ج

ج

ي د ج ؟يوهيلا انراجل تيدهأ هملغل لوقي لج ع ج فج ،ةع اش ج ه جل ت ح بذ ذق ه ج ن أ

ج

ج

ل ج

ل

ج ج

ق

ل

ج

ق ل

ي

:

ذ

هذ لل لا

seorang

pemuda: ‘akan aku hadiahkan sebagian untuk tetangga kita yang orang Yahudi’.

Pemuda tadi berkata: ‘Hah? Engkau hadiahkan kepada tetangga kita orang

Yahudi?’. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ‘Jibril

senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu

dalam Al Adabul

Mufrad 78/105, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Adabil Mufrad)

هثرويس هنأ تننظ ىتحراجلاب ينذ يصذ وي

ق

لق يرذ ب جذ

ل

Beliau

لج از ج ام ج ” :

lalu

لق وق م لل و جل ع للا ىلل ج

ق

ج ج

ي

ج

ل

س هذ ي

ج ج

ج

ق

ه

ج

ص

berkata

kepada

ج

“Beliau

menyembelih

seekor

kambing.

akan

mendapat

bagian

harta

waris‘”

(HR.

Al

Bukhari

Oleh karena itu para ulama menjelaskan bahwa tetangga itu ada tiga macam:

Tetangga muslim yang memiliki hubungan kerabat. Maka ia memiliki 3 hak,

yaitu: hak tetangga, hak kekerabatan, dan hak sesama muslim.

Tetangga muslim yang tidak memiliki hubungan kekerabatan. Maka ia

memiliki 2 hak, yaitu: hak tetangga, dan hak sesama muslim.

Tetangga non-muslim. Maka ia hanya memiliki satu hak, yaitu hak tetangga.

Dengan demikian berbuat baik kepada tetangga ada tingkatannya. Semakin

besar haknya, semakin besar tuntutan agama terhadap kita untuk berbuat baik

kepadanya. Di sisi lain, walaupun tetangga kita non-muslim, ia tetap memiliki satu

hak yaitu hak tetangga. Jika hak tersebut dilanggar, maka terjatuh pada perbuatan

zhalim dan dosa. Sehingga sebagai muslim kita dituntut juga untuk berbuat baik

pada tetangga non-muslim sebatas memenuhi haknya sebagai tetangga tanpa

menunjukkan loyalitas kepadanya, agamanya dan kekufuran yang ia anut. Semoga

dengan akhlak mulia yang kita tunjukkan tersebut menjadi jalan hidayah baginya

untuk memeluk Islam.

C. AKHLAK KEPADA SAUDARA SEISLAM

Dikatakan dalam hadits Rasulullah SAW bahwasanya orang-orang muslim

adalah seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain. Secara tidak

langsung di dalam hadits tersebut terdapat perintah untuk menjaga keharmonisan

hubungan antar muslim. Hal tersebut sejalan dengan firman Allah dalam Qur’an surat

Al-Hujurat ayat 10:

إ

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah

antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat

rahmat” (QS. Al-hujurat:10)

Untuk melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya tersebut kita dapat mengacu

kepada hadits Rasul yang menyatakan kewajiban-kewajiban muslim terhadap muslim

yang lain. Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Hurairah

berkata:

ةياجإ و سطاعلا تيمشت و ملس ل لا د ر هيخأ ىلع ملسملل بجت سمخ ملس و هيلع هللا ىلل ص هللا لوسر لاق

( ملسملا هاور) زئانجلا عابت ل ا و ضيرملا ةدايع و ةوعد ل لا

(10

:تارجحلا) نومحرت مكلل عل هللا اوقت ل ا و مكيوخأ نيب اوحلصأف ةوخإ نونمؤملا امن ل

ل

Telah bersabda Rasulullah SAW ‘kewajiban seorang muslim terhadap sesama

muslim ada lima: menjawab salam, mendoakan yang bersin, memenuhi undangan,

mengunjungi yang sakit, dan ikut mengantarkan jenazah’.” (HR. Muslim)

Berdasarkan hadits di atas, maka kewajiban-kewajiban muslim terhadap muslim

lainnya adalah:

1. Memberdayakan salam

Salam merupakan do’a, yaitu mendo’akan keselamatan kepada yang diberi

salam. Dalam beberapa hadits, Rasulullah bersabda tentang anjuran mengucapkan

salam dan kewajiban menjawabnya. Beberapa tata aturan salam ialah sebagai

berikut:

f. Hendaklah mengucapkan salam jika bertemu dan bertamu.

g. Bila bertemu, yang mengucapkan salam ialah:

1) Yang muda kepada yang tua

2) Yang berkendaraan kepada yang berjalan

3) Yang berjalan kepada yang duduk

4) Yang sedikit kepada yang banyak

h. Bila rombongan, maka yang mengucapkan dan menjawab salamnya cukup

satu orang.

2. Mendo’akan yang Bersin Bersin merupakan suatu nikmat yang sangat luar biasa dari Allah SWT. Mendo’akan yang bersin sangat ditegaskan oleh Rasulullah SAW jika yang bersin mengucapkan Alhamdulillah. Namun jika tidak, maka kita tidak perlu mendo’akannya. Dalam suatu hadits, Rasulullah bersabda “Apabila salah seorang dari kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan ‘alhamdulillah’, sedangkan saudaranya atau temannya hendaklah mengucapkan ‘yarhamukallah’ (semoga Allah merahmatimu), dan hendaklah ia membalas ‘yahdikumullahu wa yushlih baalakum’ (semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu)”.

3. Memenuhi Undangan Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda bahwa jika kita diundang, hendaklah datang (memenuhi undangannya). Hal tersebut dapat dijadikan sebagai wujud menghargai saudara kita yang telah bersedia mengundang untuk datang ke acaranya. Selama undangannya merupakan hal-hal yang tidak bertentangan dengan agama, maka kita berkewajiban untuk memenuhinya.

4. Menengok yang sakit Menurut ilmu kedokteran, jika seorang yang sakit ditengok oleh keluarga ataupun teman-temannya, maka akan muncul respon positif dari otaknya. Hal tersebut dikarenakan adanya rasa bahagia dalam diri pasien yang ditengok tersebut. Saat menengok orang sakit, kita juga dianjurkan untuk mendo’akannya agar lekas sembuh. Begitulah muslim yang sesungguhnya, ia amat peduli dengan saudaranya. Dengan do’a yang kita panjatkan, disadari atau tidak, itu dapat mempererat hubungan psikologis. Dengan demikian, rasa peduli kita terhadap orang yang mendo’akan ataupun dido’akan akan tumbuh semakin kuat.

5. Mengantarkan jenazah Mengantarkan jenazah merupakan salah satu kewajiban muslim terhadap muslim lainnya. Ini bertujuan untuk menghormatinya yang telah berperan dalam hidup kita, sedikit ataupun banyak. Adapun untuk aturan mengantarkan jenazah ini ialah bagi laki-laki boleh mengantarkan sampai ke kuburannya. Namun bagi wanita, hal itu lebih baik tidak dilakukannya karena emosional wanita yang lebih kuat dari laki-laki.

Dikhawatirkan wanita yang mengantar sampai ke kuburannya akan terlarut dalam

kesedihan yang teramat dalam, apalagi jika yang meninggal itu adalah orang-

orang terdekatnya. Maka dari itu Islam mencegahnya.

Selain 5 kewajiban yang tercantum di atas, akhlak terhadap sesama muslim juga

mencakup

“ukhuwah Islamiyah tidak akan terwujud kalau tanpa sendi-sendi yang kokoh, yang

(2008:371) mengatakan bahwa

kategori

ukhuwah

islamiyah.

Fauzan

mendasarinya

sayang, rela berkorban, toleransi, musyawarah.”

Sendi-sendi ukhuwah islamiyah itu, antara lain husnul zhan, kasih

Menurut Solihin & Rahmat, (2006: 70-71), bahwa dalam pergaulan hidup

bermasyarakat seringkali terjadi perbedaan sikap, pendapat, dan pandangan terhadap

suatu masalah yang dihadapi atau terjadi. Maka untuk menghindari pertengkaran,

permusuhan, dan perpecahan di antara kita dalam kehidupan sehari-hari kita diberi

tuntunan oleh Allah SWT seperti terkandung dalam Q.S. Ali Imran ayat 159 dan Q.S.

Asy-Syura ayat 38, yaitu

bila ada kesalahan, atau

dimusyawarahkan dengan cara yang baik. Apabila hal itu telah dilaksanakan maka

hasilnya diserahkan kepada Allah SWT atau bertakwalah kepada Allah SWT.

dengan

saling

memaafkan

Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Ali Imran ayat 159:

م ه ر ل وذ اش ج ه جل ر

ل ق

ج

ل ق

و م

ل

فذ غل ت او ج ه ن فق ع افج كج ذل و ن

ج

ل

ل ق

ل

ج

ل

س م ع

ل ج

ح

ل

مذ او ل ض ج بذ لل ق لال ظ ج ذل غج اظ ل فج ت قك و م جل ت ذل هذ للا ن ةم م ر بذ فج

ق ج ل

ل

ف

ن

ج

ل

ي

ن

ل

ج ن

ل جل و ج

ل ه ق

ل

ج ن

ج م

ل

ذ

ج

ح ام ج

ج

ل

ن ي ذللكذ و ج ت لال ب حذ ي للا ن ج ذا هذ للا ىلج ع لل لك فج ت ع ذ فج رذ م جﻻلا ىفذ

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah, kamu berlaku lemah-lembut terhadap

mereka.

tentulah mereka

menjauhkan diri dari sekelilingmu, karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah

ampunan dari mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (Q.S. Ali

Imran, 3: 159)

ج

ل

ج

ق

م

ق

ل

ق

ج

ه

ل

ج

ج

ج

ج ت

و

ج

م ز اذج ا

ل ج ج

ل

Sekiranya

kamu

bersikap

keras

lagi

berhati

kasar

Dikatakan pula dalam Q.S. Asy-Syura ayat 38:

ن قق فذ ن ه ان ج ر مذ و ه ن ج ىر ش ه جاو ج

ج و

ل

ل ق ي ل ق

م

قل ز ج ام ل

ج

ج

ج م ل ق

ج ل ي

ب

ج ل

و

ق

ق ل

م ق ر م ةج لص ل لا اوم ق اقج جاو ج م هذ ب ذ ر ذل او ل اج ج س

ل

ل

ل ج

ق

ب

ج

ت

ل

ج

ج ي ذذ لل

ا ن

ل

او ج

Artinya: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan

mendirikan shalat, urusan mereka (putuskan) dengan musyawarah antara mereka,

juga mereka nafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

(Q.S. Asy-Syura, 42:38)

D.

AKHLAK KEPADA ORANG-ORANG YANG BERBEDA AGAMA

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

(107:ءايبنلا ) نيملاعلل ةمحر الل إ كانلسرأ امو

Dan tidaklah Kami mengutusmu kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”

(QS. Al-Anbiya:107).

Ayat tersebut dapat kita refleksikan pada cara kita berprilaku terhadap orang-

orang non-muslim. Karena Islam merupakan Rahmatan lil ‘Alamin, maka sudah

sepantasnyalah kita sebagai pemeluknya berprilaku baik kepada semua orang,

termasuk non-muslim. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga kedamaian antar umat,

dan bertoleransi di tengah perbedaan-perbedaan yang ada.

Akhlak baik memang sangat dianjurkan dalam Islam, namun Islam juga

mengajarkan untuk berbuat tegas dan bersungguh-sungguh dalam jihad menegakan

agama-Nya. Ada saatnya kita harus berbuat baik, bertoleransi, membantu, dan

menghormati orang-orang non-muslim. Namun ada waktunya juga kita harus

menentang mereka, bahkan sampai memeranginya.

Rasulullah SAW bersabda:

( ملسملا هاور ) هقيضأ ىلإ هور طضاف قيرط يف مهدحأ متيقل اذإف ملس ل لاب ىراصن ل لا ﻻو دوهيلا اوئدبت ﻻ

Janganlah kalian mendahului orang-orang Yahudi dan Nasrani memberi salam.

Apabila kalian berpapasan dengan salah seorang diantara mereka di jalan, maka

desaklah dia ke jalan yang paling sempit’.” (HR. Muslim)

Hadits tersebut melarang kita untuk mengucapkan salam kepada non-muslim.

Hal ini dikarenakan salam merupakan suatu do’a agar si penerima salam mendapatkan

keselamatan, kebaikan dalam hidupnya. Bukan kita tidak boleh untuk mendo’akan

orang non-muslim, hanya salam ini bisa juga disebut budaya Islam, sehingga hanya

para pemeluk agama Islam-lah yang berhak menerima salam.

Adapun jika ada orang non-muslim yang mengucapkan salam kepada kita, maka

hendaklah kita menjawabnya dengan “ مكيلع و” saja. Begitulah Rasulullah mengajarkan

umatnya dalam hal salam dengan orang non-muslim.

ل

Allah berfirman yang artinya “Hai manusia, sesungguhnya kami menjadikan

kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita, dan menjadikan kamu berbangsa-

bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal. Sesungguhnya orang mulia di

antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesunggunya Allah

Maha mengetahui lagi maha mengenal.” (Q.S. Alhujurat [49]:13).

Ajaran Islam tentang kasih sayang telah lama dikumandangkannya dengan sempurna dan indah. Namun kebanyakan dari manusia tidak menyadari apa arti sesungguhnya dari kasih sayang itu sendiri, sehingga dapat terhenti dan menyimpang dari aturan-aturan yang telah difirmankan oleh Allah SWT dan sabda-sabda Rasulnya. Makna kasih sayang tidak berujung, sedangkan rasa kasih sayang adalah sebuah fitrah yang mesti direalisasikan tehadap sesama sepanjang kehidupan di dunia ini ada, tentunya dalam koridor-koridor Islam. Ini berarti bahwa Islam tidak mengenal waktu, jarak dan tempat akan sebuah kasih sayang baik terhadap teman, sahabat, kerabat, tetangga, dan keluarganya sendiri. Kita juga perlu mencontoh teladan Nabi SAW dan para sahabatnya yang benar-benar meraelisasikan makna kasih sayang yang tanpa batas itu, tentunya untuk mencapai keridhoan Allah semata yang bukan untuk mencari kesenangan dunia. Kosa kata “cinta” dewasa ini sepertinya milik umat Kristiani (Sauri, 2014:29). Padahal kenyataan-kenyataan dari sifat kasih sayang Rasulullah SAW sejak dulu kala bermacam-macam dan mencakup kasih sayangnya terhadap kaum muslimin, mencakup kawan dan lawan, orang merdeka maupun budak, bahkan merata kepada yang tua dan yang muda, yang muslim ataupun non muslim, besar dan kecil mencakup para manusia dan binatang. Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “sesungguhnya aku sedang melakukan shalat, aku ingin memperpanjang shalatku tetapi karena aku mendengar ada anak yang menangis maka aku ringankan shlatku, aku tidak ingin mempersukar ibunya” (Al-Hufy, 1981:277). Itu merupakan salah satu bentuk kasih sayang Rasulullah kepada kaum muslimin. Para tawanan dari orang-orang musyrik Quraisy dibebaskan dengan membayar tebusan, tetapi terhadap orang-orang yang miskin Rasulullah membebaskan mereka dari pembayaran seperti Abi Azzah ‘Umar bin Abdillah, karena dia adalah seorang yang miskin dan ayah dari beberapa anak perempuan. Dia minta dibebaskan dari pembayaran, maka oleh Rasulullah dibebaskan (Al-Hufy, 1981:282). Dari uraian di atas, kita bisa tahu bahwa kasih sayang Rasulullah tidak hanya mencakup kepada orang muslim saja namun sama halnya kepada orang-orang musyrik juga tidak di beda-bedakan.

BAB IV

PENUTUP

A. SIMPULAN Dari apa yang sudah dipaparkan oleh penyusun dalam bab-bab sebelumnya, maka kami menyimpulkan beberapa hal, diantaranya:

1. Akhlak bertamu yang baik menurut Islam ialah dimulai dengan meminta ijin dan mengucapkan salam, maksimal sampai tiga kali. Jika sesudah tiga kali salam tidak juga dibukakan pintu, maka hendaklah pulang dan jangan memaksakan kehendak untuk bertamu. Batas maksimal bertamu ialah sampai tiga hari. Peraturang untuk bertamu pun ialah tidak di sembarang waktu, tidak sampai merepotkan tuan rumah, tidak sampai mengganggu tuan rumah, menghormati jamuan, dan pamit ketika akan pulang. Adapun akhlak menerima tamu ialah memuliakan tamu dengan memasang muka manis, bertutur kata yang lemah lembut, mempersilakan duduk, dan menjamunya. Untuk menjamu tamu, Rasulullah membatasi dengan waktu paling lama ialah tiga hari. Lebih dari itu, maka termasuk pada sodaqoh bagi tamu tersebut.

2. Akhlak bertetangga yang baik menurut Islam ialah dengan bersedekah kepadanya jika ia membutuhkan. Selain itu, dianjurkan pula untuk saling menyapa, menjenguk ketika ia sakit, berkata lemah lembut, bermuka cerah di depannya, menasehatinya dalam kebenaran, dan sebagainya.

3. Akhlak kepada saudara seIslam ialah dengan berusaha untuk menjaga hubungan agar tetap baik, harmonis, dan tidak terjadi perselisihan. Beberapa kewajiban muslim terhadap muslim lainnya ialah memberdayakan salam, menengok orang sakit, memenuhi undangannya, mendo’akan yang bersin, dan mengantarkan jenazah.

4. Akhlak kepada orang-orang non-muslim ialah dengan tetap beretika baik selama non-muslim tersebut tidak mengganggu keagamaan kita. Adapun salah satu ketegasan Rasulullah ialah untuk tidak memulai mengucapkan salam kepada non- muslim.

B. REKOMENDASI Makalah yang kami susun ini tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya

tersendiri. Untuk tindak lanjut makalah ini, penyusun memberikan saran sebagai berikut:

1. Bagi para pembaca pada umumnya, khususnya yang juga menilai makalah ini, penyusun mengharapkan koreksinya jika terdapat kesalahan atau kekeliruan dalam makalah ini, baik itu dari segi penulisannya maupun esensinya.

2. Kita selaku muslim yang baik dan beretika, mari kita mulai mengubah diri kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

3. Penyusun membuat makalah ini bukan berarti kami sudah sempurna akhlaknya. Oleh karena itu, kami mohon kerjasama semuanya untuk mewujudkan pribadi yang islami pada diri kami khususnya, dan kita semua pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Abu, M. (2009). Akhlak Bermasyarakat Dalam Islam. [Online]. Tersedia di:

Ammaroh, M., Syalabi, A.A., & Jalhum, I. (2003). Pelita As-Sunnah Petunjuk Jalan Bagi Kaum Muslimin. Bandung: CV Pustaka Setia Assiba'i, M.H. (1993). Kehidupan Sosial Menurut Islam Tuntunan Hidup Bermasyarakat. Bandung: CV Diponegoro Fauzan, dkk. (2008). Kajian Tematik Al-Qur'an Tentang Kemasyarakatan. Bandung:

Penerbit Angkasa Iqbal, D. (2012). Makalah Akhlak Bermasyarakat. [Online]. Tersedia di:

http://blog.umy.ac.id/divtaiqbal/2012/11/19/makalah-akhlak-bermasyarakat/ Diakses 6 Februari 2014 Kamaratih, A.A. (2010). Akhlak Dalam Bermasyarakat Menurut Islam. [Online]. Tersedia di: http://www.gudangmateri.com/2010/12/akhlak-dalam-bermasyarakat- menurut.htm Diakses 15 Februari 2014 Kusriyah, A. (2013). Akhlak Terhadap Sesama Muslim dan Kepada Non Muslim Menurut

di:

Etika,

Agama

dan

Budaya.

[Online].

Tersedia

Diakses 17 Februari 2014 Sanrawijaya. (2013). Akhlak Dalam Masyarakat. [Online]. Tersedia di:

2014.

Sauri, S. (2006). Membangun Komunikasi Dalam Keluarga. Bandung: PT Genesindo Sauri, S. (2006). Pendidikan Berbahasa Santun. Bandung: PT Genesindo Sauri, S. (2012). Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Islam. Bandung: Rizqi Press Sauri, S. (2014). Filsafat dan Teosofat Akhlak. Bandung: Rizqi Press Solihin, I., & Rahmat, A. (2006). Pendidikan Agama Islam 1. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Syaripudin, T., dkk. (2013). Landasan Pendidikan. Bandung: Sub Koordinator MKDP Landasan Pendidikan Jurusan Pedagogik FIP UPI