Anda di halaman 1dari 91

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Gangguan skizofrenia pada umumnya ditandai dengan distorsi pikiran
dan persepsi yang mendasar dan khas yang disebabkan oleh afek yang tidak
wajar atau tumpul. Onset gangguan ini dapat bersifat akut dengan perilaku
yang amat terganggu, atau bersifat tersembunyi dengan perkembangan
berbagai gagasan dan tingkah laku yang aneh secara bertahap.
Sebelum seseorang terkena gangguan ini, pada umumnya penderita
sudah memiliki beberapa ciri tertentu. Kepribadian penderita sebelum sakit
disebut sebagai kepribadian premorbid. Kepribadian premorbid ini
seringkali digambarkan sebagai orang yang mudah curiga, pendiam, sukar
bergaul, lebih senang untuk menarik diri dari lingkungan sekitarnya, dan
menyendiri serta eksentrik atau aneh. Kepribadian premorbid sebelumnya
didahului oleh gejala-gejala awal yang disebut dengan fase prodromal yang
ditandai dengan mulai munculnya gejala-gejala yang tidak lazim, misal
pikiran yang tidak rasional, perilaku yang aneh, penarikan diri, perasaan
yang tidak wajar dan sebagainya. Gejala-gejala prodromal ini seringkali
tersamar dan tidak disadari oleh anggota keluarga yang lainnya dan setelah
2



beberapa bulan kemudian gangguan skizofrenia ini muncul secara klinis dan
nyata, yaitu kekacauan dalam alam perasaan, alam pikiran, dan perilaku.
Gejala gangguan kesehatan mental yang meliputi gangguan kecemasan,
panik, depresi hingga gangguan berat seperti schizophrenia hingga pada
tindakan bunuh diri semakin marak di tengah masyarakat dan yang lebih
buruk lagi adalah pemerintah maupun masyarakat kurang bisa menangani.
Kesehatan mental yang mengalami penurunan disebabkan oleh
gangguan jiwa ini terjadi hampir diseluruh negara di dunia. World Health
Organization (WHO) yang menangani masalah kesehatan dunia
memandang serius masalah kesehatan mental dengan menjadikan isu global
WHO. Badan kesehatan dunia ini mengangkat beberapa jenis gangguan
jiwa seperti schizophrenia, alzheimer, epilepsy, keterbelakangan mental dan
ketergantungan terhadap alkohol serta ketergantungan narkoba sebagai isu
yang perlu untuk mendapatkan perhatian yang serius.
Penanganan penderita schizophrenia saat ini belumlah memuaskan,
terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Penyebab utama
adalah minimnya penanganan tersebut salah satunya adalah ketidaktahuan
keluarga penderita maupun masyarakat umum tentang jenis penyakit ini.
Stigma yang berkembang saat ini adalah gangguan schizophrenia adalah
suatu penyakit yang tidak bisa diobati dan disembuhkan, sehingga penderita
schizophrenia mendapatkan perlakuan yang berbeda atau diskriminatif yang
nantinya lambat laun akan menyebabkan penderita schizophrenia tidak
mendapatkan pertolongan yang memadai karena banyak penderita
3



schizophrenia yang tidak dibawa berobat dan bahkan disembunyikan oleh
keluarganya.
Schizophrenia ini memiliki beberapa subtipe, salah satunya adalah
gangguan schizophrenia tipe paranoid yang ciri-cirinya berfokus pada satu
atau lebih waham atau adanya halusinasi audotoris yang sering (APA,
2000). Perilaku dan pembicaraan dari seseorang yang mengalami
skizofrenia paranoid tidak menunjukkan disorganisari yang jelas
sebagaimana ciri dari tipe yang tidak terorganisasi, tidak juga jelas dalam
meunjukkan afek atau memiliki afek datar atau tidak sesuai dengan perilaku
dari gangguan katayonik. Waham mereka seringkali mencakup tema-tema
kebesaran, persekusi, atau kecemburuan. Mereka mungkin meyakini adanya
suatu pemikiran yang tidak ada buktinya sekalipun. Mereka akan merasa
sangat gelisah,bingung, dan ketakutan.
Pada kasus ini, AS mengalami gangguan skizofrenia tipe paranoid
dimana gejala-gejala yang menonjol yang dialami AS adalah menarik diri
dengan berdiam diri di kamar, merasa dirinya terancam, kerap kali
mendengar suara tanpa wujud, tidak berani keluar rumah, takut dengan
orang asing yang melewati depan rumahnya, dan takut dibunuh oleh orang-
orang sewaan. AS sempat melakukan percobaan bunuh diri dengan
meminum cairan pembersih lantai di dalam kamarnya.
Perlu diketahui dari riwayat medis, AS sudah keluar masuk RSJ Menur
Surabaya sebanyak tiga kali dengan gangguan yang sama yaitu gangguan
skizofrenia tipe paranoid. Pertama dan kedua kali AS masuk pada tahun
4



yang sama yaitu tahun 2012. Pertama tanggal 4 Desember dan sempat
keluar dalam beberapa hari kemudian AS kembali dimasukkan RSJ Menur
pada tanggal 10 dengan gangguan yang sama. Setelah keluar kurang lebih
empat bulan dari Menur, AS dimasukkan kembali ke RSJ Menur dua kali
dengan waktu yang hampir berdekatan yaitu tanggal sembilan dan duapuluh
empat April 2013 dengan gangguan yang sama.
Gejala tersebut nampak lagi lebih kurang empat bulan paska keluar
dari Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya sebelum pihak keluarga kembali
memasukkan AS ke RSJ Menur. Perilaku yang mengganggu khususnya
berdiam diri di kamar dan tidak mau berinteraksi dengan orang lain yang
mendorong pihak keluarga membawanya ke Rumah Sakit Jiwa. Oleh karena
itu perlu adanya penanganan dan terapi yang tepat dan benar untuk
membantu AS agar lebih adaptif, sehingga akhirnya dapat diharapkan AS
mampu menjalankan fungsinya sehari-hari dengan normal.

B. Tujuan dan Manfaat Praktek Kerja
1. Tujuan
Berdasarkan uraian yang telah disampaikan, praktek kerja ini
bertujuan untuk mengerti dan memahami fungsi serta peran Psikologi
Klinis di lingkungan masyarakat sekitar, serta mampu
mengidentifikasikan beberapa macam gangguan psikis dan
permasalahannya, juga mampu mengintegrasikan hasil tes psikologi,
5



mengintepretasikan, serta menganalisa hasil pemeriksaan psikologi
terutama pada gangguan skizofrenia tipe paranoid.

2. Manfaat
Manfaat yang Manfaat yang didapat dari praktek kerja ini adalah :
a. Untuk peneliti
Dapat mengetahui lebih jelas gejala, pemeriksaan, dan penanganan
pada klien yang mengalami gangguan.
b. Untuk klien
Dapat mengungkapkan perasaan klien, mampu bersosialisasi dan
beradaptasi kembali dengan lingkungan dengan baik dan klien
merasa nyaman dalam melakukan kegiatan bersama.

C. Identifikasi Kasus
1. Klien
Nama Lengkap : AS
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tempat/Tanggal Lahir : 9 Februari 1984
Suku Bangsa : Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Belum bekerja
Status Pernikahan : Belum menikah
6



Alamat : Ketabang Ngemplak Nomer 22 RT 07 RW
07 Kecamatan Genteng, Surabaya
Anak ke : 3 dari : 5 bersaudara
Hobi/Kegemaran : Mendengarkan musik

2. Orang Tua Klien
a. Ayah Kandung
Nama : M. T
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Ketabang Ngemplak Nomer 22 RT 07 RW
07 Kecamatan Genteng, Surabaya
Umur : 60 tahun
Suku bangsa : Jawa
Agama : Islam
Pendidikan : STM
Pekerjaan : Wiraswasta (penjual minuman)
Tingkat Ekonomi : Menengah ke bawah

b. Ibu Kandung
Nama : E.S
Jenis Kelamin : Perempuan
7



Alamat : Ketabang Ngemplak Nomer 22 RT 07 RW
07 Kecamatan Genteng, Surabaya
Umur : 54 tahun
Suku bangsa : Jawa
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Tingkat Ekonomi : Menengah ke bawah

3. Susunan Keluarga
Tabel 1. Susunan Keluarga
No Nama L/P Usia
Pendidi
kan
Pekerjaan Status Ket
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
M.T
E.S
L.S
H.S
A.S
N.W
S.S
L
P
P
L
L
P
L
60 th
54 th
35 th
32 th
29 th
25 th
21 th
STM
SMA
SMA
SMA
SMA
SMA
SD
Wiraswasta
Ibu rumah tangga
Ibu rumah tangga
Karyawan
Belum bekerja
Belum bekerja
Karyawan
Menikah
Menikah
Menikah
Menikah
Belum
Menikah
Belum
Ayah
Ibu
Kakak
Kakak
Pasien
Adik
Adik

8



4. Riwayat Kasus
AS adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Sejak kecil, AS
tergolong anak yang biasa saja. AS tidak pernah tinggal kelas dalam
riwayat pendidikannya di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama,
maupun di Sekolah Menengah Atas. Ia mendapatkan fasilitas
pendidikan yang terbaik dari orangtuanya dengan disekolahkan ke
sekolah yang terbaik juga. Sedangkan untuk perkembangan selanjutnya,
ia tidak mampu meneruskan kuliahnya dengan alasan orangtuanya tidak
mampu membiayai biaya pendidikannya di bangku kuliah.
Hubungan dengan keluarga menurut AS dahulu terdapat masalah.
Dahulu dia kerap kali bertengkar dengan orangtuanya, khususnya Ayah,
sampai pernah AS akan dibunuh oleh ayahnya. Masalah tersebut dipicu
oleh perasaan AS yang kurang puas dengan keadaan keluarganya dan
menganggap ayahnya adalah orang yang hanya mewarisi kekayaan dari
kakek neneknya. AS lebih suka berteman dengan anak-anakorang kaya
dan anak-anak pejabat yang kerap kali orang tua temannya ia
bandingkan dengan orang tuanya sendiri dan mengatakan ia kurang
puas dengan orang tuanya.
Ketika menginjak SMA, AS mulai menunjukkan perilaku yang
tidak seperti biasanya. AS sering pulang malam dan menunjukkan
emosi negatif dengan sering marah-marah ketika keinginannya tidak
dipenuhi oleh orang tua. AS lebih percaya apa kata teman-temannya
daripada kata keluarga.
9



Sejak kejadian dimana kakak laki-laki AS, HS, dikejar AS dengan
menggunakan parang membuat hubungan AS dengan keluarga semakin
renggang. Ia kurang bisa berkomunikasi secara baik dengan
keluarganya. Kehidupan sehari-hari AS pada masa itu hanya bermain
dan berkumpul dengan teman-temannya. AS hanya makan dan tidur
saja ketika ia pulang ke rumah dan ketika diajak berkomunikasi dengan
keluarganya, AS tidak menjawab lalu pergi. Kejadian tersebut tidak
hanya sekali dua kali akan tetapi berkali-kali.
Suatu ketika AS menginginkan motor dan orang tua AS
membelikannya dengan harapan AS akan lebih giat belajar. Harapan
orang tua pupus karena AS malah lebih sering pulang malam dan tidak
menuruti permintaan orang tua agar lebih giat belajar. AS menjadi
sering bolos sekolah kurang lebih selama satu bulan setengah.
Untunglah pihak sekolah masih memberi kesempatan pada AS sehingga
ia bisa naik kelas dan tidak dikeluarkan dari sekolah.
Perilaku AS semakin menjadi ketika ia memasuki bangku kuliah. Ia
meneruskan kuliah di salah satu Perguruan Tinggi favorit di Surabaya.
Ia mengikuti teman-temannya untuk mencoba beberapa jenis narkoba,
sabu-sabu. AS yang dahulu di bangku SMA hanya mencicipi, sekarang
ia tidak hanya sekali menikmati barang haram tersebut, dalam kurun
waktu beberapa tahun itu tak terhitung berapa kali ia menikmatinya
selain minuman keras.
10



Keadaan perekonomian keluarga AS jatuh begitu AS menginjak
semester akhir. Ayah AS yang sebelumnya adalah pengusaha angkutan
umum di Surabaya harus merelakan semua armadanya dijual satu
persatu untuk menutupi biaya hidup keluarga. Selain armada, ayah AS
yang sebelumnya atlet sepeda nasional juga menjual medalinya untuk
biaya hidup.
Perubahan hidup yang drastis tersebut membuat AS dan kakak laki-
laki pertamanya putus kuliah. AS membantu perekonomiankeluarga
dengan bekerja. Ia menghindar dari teman-temannya karena merasa
teman-temannya meninggalkan dirinya yang sudah jatuh. AS menjadi
orang yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari orang yang
terbuka menjadi tertutup dan tidak maumenjalin hubungan dengan
teman-temannya.
Pertama AS bekerja di perusahaan bagian mesin ATM, akan tetapi
hal tersebut tidak bertahan selama satu bulan dan akhirnya ia keluar.
Kedua, AS bekerja di pabrik. Dan di sinilah AS merasa ia membuat
kesalahan dengan mengadukan salah satu rekan kerjanya yang bekerja
merugikan perusahaan. AS yang merasa ketakutan akhirnya berhenti
dan pada saat itu mulai nampak gejala-gejala AS terkena gangguan
jiwa.
Pada tahun 2012 orang tua AS membawa AS ke Rumah Sakit Jiwa
Menur untuk mendapatkan perawatan karena keluarga AS merasa
11



kesulitan dengan perilaku AS yang mengurung diri dan tidak mau
makan serta tidur untuk waktu yang cukup lama yaitu seminggu.
Ketika ditanya kenapa, AS hanya menjawab kalau ia takut dibunuh
teman kerjanya yang telah ia adukan ke bos. AS lebih sering
mengurung diri di kamar dan lupa untuk makan. AS sering mendengar
suara ancaman akan dibunuh dengan menggunakan pembunuh
bayaran. Setelah keluar dari RSJ Menur, AS meminta bekerja di
Kalimantan bersama kakak laki-lakinya. AS bekerja di pabrik akan
htetapi Hal tersebut tidak bertahan lebih dari tiga bulan karena AS
merasa dirinya terancam akan dibunuh oleh teman kerjanya di tempat
baru itu. Akhirnya AS dimasukkan kembali ke RSJ Menur oleh pihak
keluarga pada tahun 2013.
5. Riwayat Perkembangan, meliputi :
a. Perkembangan Intelektual
Secara intelektual, AS memiliki perkembangan yang tidak
menonjol. AS menempuh pendidikan sampai jenjang kuliah kan
tetapi ia putus di tengah jalan. Dari sekolah dasar sampai SMA hasil
belajar yang diperolehnya tergolong biasa-biasa saja. AS bisa
mengikuti kegiatan belajar yang diberikan guru, tidak pernah tinggal
kelas namun juga tidak pernah mencapai prestasi di kelas. Motivasi
belajar yang ditunjukkannya kurang maksimal dimana AS hanya
belajar di sekolah saja dan tidak mau mengulang pelajaran ketika ia
12



di rumah. AS kurang disiplin dalam mengatur waktu belajarnya, ia
lebih mementingkan untuk keluar berkumpul bersama temannya dari
SMA lain.
b. Perkembangan Sosial
Sejak kecil secara sosial, AS tidak mengalami hambatan. Ia
dapat berteman dengan siapa saja tanpa terkecuali. Ia tidak
membutuhkan waktu yang lama untuk bisa menerima dan diterima
oleh teman-temannya saat bermain. Semenjak ia duduk di bangku
SMA, ia mengalami perubahan yang cukup drastis. Ia lebih selektif
dalam memilih teman dan hanya mau berteman dengan anak-anak dari
kalangan berada saja yang setingkat dengan keluarganya. Perilaku
kmemilih teman tersebut berubah total ketika ia menginjak bangku
kuliah. Pada masa itu keadaan ekonomu keluarganya mengalami
gangguan. AS merasa ditinggalkan oleh teman-temannya dan dibenci.
Hal tersebut yang membuatnya mengurung diri dan tidak mau
bersosialisasi dengan teman-temannya lagi.
c. Perkembangan Emosional
AS cenderung tidak mampu mengontrol dorongan-dorongan
yang ada dalam dirinya, sehingga dengan segala daya dan upaya akan
ia lakukan untuk meraih apa yang diinginkannya. Hal tersebut AS
nampakkan dengan cara emosional. AS sejak kecil telah menunjukkan
sifat emosional ketika menginginkan sesuatu, perilaku ini nampak
13



ketika ia beranjak ke usia remaja. AS suka marah-marah tidak jelas
dan sering menodongkan pisau atau melemparkan barang ketika
menginginkan sesuatu hingga mendapatkan apa yang ia inginkan.
D. Jadwal Pemeriksaan
Tabel 2. J adwal Pemeriksaan
No. Hari/Tanggal Waktu Kegiatan
1. Selasa 7/05/13 8.30- 12.00= 3.30 Membangun rapport +
assesment (NSQ) a/n AS
2. Rabu 8/05/13 09.00- 12.15= 3.15 Interview + CAQ 2 (sampai
nomer 50)
3. Jumat 9/05/13 08.30-13.00= 4.30
16.05-17.30= 1.25
Observasi + CAQ2
WWQ+Bender Gestalt+Raport
4. Sabtu
11/05/13
9.30-10.40= 1.10 SSCT
5. Senin
13/05/13
9.00-12.30= 3.30
16.00-18.30= 2.30
Lanjut SSCT
WAIS
6. Selasa
14/05/13
9.00-12.30= 3.30
15.30-17.30= 2.00
WAIS+Wartegg
BAUM+Observasi
7. Rabu 15/05/13 8.00-12.30= 3.30
15.30-18.30= 3.00
BAUM+HTP
Interview+TAT
8. Kamis
16/05/13
9.00-12.30= 3.30
15.30-18.30= 3.00
Observasi+TAT+Rho
Rho+Interview

14



BAB II
INTERVENSI

A. Problematika
1. Problem yang Dihadapi
Sejak mengalami gangguan, AS menjadi rentan dengan
perubahan yang terjadi di lingkungannya. Gerakan sekecil apapun yang
terjadi di sekitarnya akan ia respon dengan sangat berlebihan. AS
menjadi lebih sensiftif dalam pendengaran dan melihat gerakan sekecil
apapun sebagai ancaman yang akan menyakiti dirinya.
Kecenderungan merespon peristiwa secara berlebihan dan
kecenderungan klien untuk membuat kesimpulan berdasarkan hal yang
terbatas dari pemahaman yang selektif inilah yang memicu
kekambuhan klien. Pembuatan kesimpulan nampak dari cara AS
meminum obat yang diberikan Rumah Sakit. AS minum obat hanya
yang ia sukai dan waktu dia merasa sakit saja.
AS mengembangkan bermacam-macam sikap yang tidak matang
dan tingkah laku abnormal dimana AS cenderung tertutup dan menarik
diri dari lingkungannya. AS mengalami kesulitan dalam
mengekspresikan keinginannya. Kondisi tersebut membuatnya rentan
terhadap frustasi yang berkaitan dengan agresifitas dan antisosial.
15



Dalam merespon peristiwa dalam kehidupannya, AS mengembangkan
pola-pola yang tidak sesuai dengan realita yang ada. AS selalu
menggunakan mekanisme pertahanan ego yang berlebihan sampai
akhirnya terjadi disentegrasi kepribadian.
2. Keluhan
a. Internal
AS merasa bahwa dirinya sulit untuk tidur. Ia malas untuk
melakukan sesuatu dan merasa dirinya mudah untuk merasa capek
dan lelah. AS lebih suka untuk berdiam diri di kamarnya daripada
melakukan sesuatu diluar. Asjuga sering kali mengatakan bahwa
dirinya sering pusing. AS merasa tidak nyaman apabila keluar rumah
dan bertemu dengan orang lain. Ia merasa bahwa semua orang
terutama para tetangganya membenci dan ingin membunuhnya. AS
juga mengatakan bahwa dirinya manja serta sulit untuk
mengendalikan keinginannya.
b. Eksternal
Kegiatan yang dilakukan AS sehari-hari hanyalah mengurung
diri di kamar, merokok, minum kopi dan mendengarkan musik. Ia
sering melamun jika tidak ada yang mengajaknya bicara dan berdiam
diri untuk jangka waktu beberapa jam. AS sering kali mengatakan
kepada orang tuanya bahwa dia dan seluruh anggota keluarganya
diancam dan ingin lapor ke polisi agar keluarganya aman. Jika ada
salah satu anggota keluarga yang pergi, AS sering gelisah. AS tidak
16



berani keluar rumah dan ketakutan ketika mendengar atau melihat
orang yang berjalan melewati depan rumahnya.
3. Gejala yang ditunjukkan
Sering melamun dan merokok. Hari berganti hari, AS menjadi
pendiam dan matanya bergerak dengan cepat untuk mengawasi setiap
orang yang lewat. Pekerjaannya hanya di kamar, merasa ketakutan,
mendengar suara mengancam, lupa makan, dan lupa mandi. Sedangkan
kalau ditanya, AS hanya memberikan jawaban kalau dia ketakutan di
kejar temannya yang dendam. Hal ini berkembang hingga AS
menampakkan gejala lebih pendiam, tidak mau makan dan mandi sama
sekali, tidak mau berinteraksi dengan orang luar selain keluarga, dan
sampai ke tahap ia tidak berani keluar rumah sama sekali.
B. Anamnesa
1. Auto Anamnese
AS mengatakan bahwa dahulu dia adalah anak yang suka
melawan perintah orang tuanya, bandel, tidak mau mendengar nasehat
dari kakak-kakaknya dan cenderung menentang perkataan keluarganya.
Ia merasa lebih dekat dengan mamanya dibanding dengan ayah karena
menganggap ayahnya adalah sosok yang kurang bisa mengerti dirinya
dan suka untuk memarahinya.
AS dari kecil mengatakan bahwa ia suka sekali menggoda orang
tua dan saudaranya dengan membalikkan informasi atau perintah yang
17



diberikan oleh keluarga, misalnya saja ia diminta untuk memakai sandal
dengan benar akan tetapi AS memakai sandal kiri untuk kaki kanan dan
sebaliknya. AS melakukan itu karena ia hanya ingin melihat wajah
ayahnya marah dan membetulkan cara dia memakai sandal dengan
benar.
AS kecil sangat pemalu dan kurang bisa bergaul dengan teman-
temannya. Ia merasa bahwa waktu kecil ia berbeda sekali dengan masa
remajanya. AS bersekolah di sekolah-sekolah favorit dari tingkat SD
sampai masuk kuliah. AS mengatakan bahwa ayahnya menginginkan
pendidikan yang terbaik baginya.
AS mulai menunjukkan sikap memberontak begitu ia masuk ke
jenjang pendidikan SMP. Ia bergaul dengan anak-anak orang
terpandang menurutnya. Ia pernah ikut balapan motor liar tanpa
sepengetahuan orang tuanya dan mulai belajar merokok saat itu.
Perilaku AS semakin menjadi ketika ia masuk di salah satu SMA
favorit di Surabaya. AS yang seharusnya bersekolah di SMA X malah
lebih suka untuk bertemu dengan teman-temannya dari sekolah Y yang
terkenal dengan pergaulan kalangan atas. AS jadi lebih sering
membolos sekolah agar bisa bersama-sama dengan teman-temannya
dari SMA Y.
AS belajar untuk mengenal minuman keras pada waktu ia masuk
SMA. AS tidak hanya mencicipi minuman keras saja, ia juga mencicipi
beberapa jenis narkotika seperti sabu-sabu. AS mengatakan bahwa ia
18



hanya sekali saja mencicipi barang tersebut waktu SMA. Hubungan AS
dengan keluarganya semakin memburuk dengan adanya kejadian
motor yang dibelikan oleh ayahnya, dalam jarak beberapa hari AS
rombak dengan mengganti ban asli dengan ban sepeda yang dikayuh
dengan kaki hingga akhirnya motor tersebut rusak. AS dimarahi oleh
ayahnya akan tetapi AS kabur dan tidur di rumah temannya dalam
jangka waktu beberapa hari.
AS selalu mengutamakan kepentingan teman-temannya daripada
kepentingan keluarganya. Pernah suatu ketika SS meminjam helm
milik teman AS tanpa ijin, AS emosi dan melempar SS yang baru saja
pulang kerumah dengan menggunakan helm.
Setelah lulus SMA, AS melanjutkan kuliah di salah satu
Perguruan Tinggi yang cukup ternama di Surabaya. Pada waktu itu, AS
mengatakan bahwa ia cukup populer di antara teman-temannya dan
sempat menjalin hubungan dengan mahasiswi kedokteran Perguruan
Tinggi Negeri ternama di Surabaya. Hubungan AS dengan mantan
pacarnya tersebut berjalan kurang lancar karena AS mengatakan bahwa
pacarnya suka selingkuh dan terakhir kali mereka putus dengan alasan
mantan pacar AS selingkuh dan tidur dengan sahabat AS sendiri. Pada
saat itulah AS merasakan dikhianati oleh orang yang ia percaya. AS
sendiri tidak menyangka bahwa ia akan dikhianati oleh sahabat dan
pacarnya sendiri
19



Setelah kejadian tersebut, terjadi pergolakan keadaan ekonomi
keluarga AS. Usaha yang dijalankan oleh ayah AS mengalami kesulitan
yang mengharuskan ayah AS menjual beberapa armada mikrolet yang
beliau miliki untuk menyambung hidup keluarga. Tidak hanya itu,
ayah AS juga menjual medali hasil olimpiade yang telah beliau
dapatkan dengan susah payah. AS yang baru saja masuk kuliah terpaksa
berhenti di semester 3 karena kekurangan biaya dan berusaha mengalah
untuk kedua adiknya agar mereka berdua bisa melanjutkan sekolah
sampai jenjang SMA.
AS mencoba bekerja di beberapa perusahaan hasil rekomendasi
dari ayahnya. Ia mengatakan bahwa pernah bekerja di supermarket
sampai ia bekerja di Jakarta dan ikut dengan pamannya. Akan tetapi ia
tidak betah di Jakarta dengan alasan bibinya cerewet dan tidak suka
jika AS menumpang hidup dirumah pamannya.
Setelah kembali ke Surabaya, AS bekerja di pabrik. Ia mendapati
salah satu rekan kerjanya melakukan kecurangan. AS melaporkan hal
tersebut ke atasannya agar rekan kerjanya tersebut ditegur dan
dinasehati. Setelah kejadian tersebut AS mengatakan bahwa ia merasa
rekan kerjanya dendam terhadapnya karena rekan kerjanya tersebut
dipecat karena AS telah mengadukannya ke atasan. AS mengatakan
bahwa ia diancam akan dibunuh. AS ketakutan dan akhirnya
mengajukan surat pengunduran diri ke perusahaan tersebut.
20



AS mengatakan bahwa bukan hanya rekan kerjanya saja yang
mengancam akan membunuhnya, teman SMAnya juga ikut mengancam
akan membunuhnya. AS mengatakan bahwa kejadian tersebut dipicu
karena kesalahpahaman di media sosial Facebook dimana AS menulis
unek-uneknya dari saduran puisi dan teman AS meresponnya negatif.
AS mengatakan ia sudah minta maaf akan tetapi temannya tidakmau
memaafkannya. AS ketakutan dan mengatakan berkali-kali ia minta
maaf akan tetapi ia tetap diancam akan dibunuh meskipun bukan
dengan tangannya. Ia mengatakan bahwa temannya akan menyewa
pembunuh bayaran untuk membunuh ia beserta keluarganya.
Keluarga AS yang mengetahui ada hal yang aneh dengan AS
mulai mengobatkan AS ke Rumah Sakit Jiwa. Setelah sekali masuk
RSJ, AS meminta kepada orang tuanya agar ia dikirim ke Kalimantan
bersama kakaknya agar ia bisa hidup tenang dan mulai lembaran baru.
Akan tetapi tidak sampai tiga bulan AS tinggal di Kalimantan, iamulai
menunjukkan gejala kambuh dan akhirnya dipulangkan kembali ke
Surabaya dan dimasukkan lagi ke RSJ Menur.
AS bercita-cita ingin ke luar negeri agar orang-orang yang
mengejarnya tidak bisa memburunya lagi. Ia ingin membuka lembaran
baru dan memulai kehidupan baru agar ia bisa lebih tenang.



21



2. Allo Anamnese (keterangan dari Ibu dan Ayah AS)
AS adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Sejak kecil, AS
memang adalah anak kesayangan orang tuanya, terutama ayah. AS
menjadi anak baik sampai dia menginjak bangku SMP. Orang tua AS
selalu memberikan pendidikan yang terbaik untuknya. Selain
pendidikan, AS selalu diberikan fasilitas baik untuk sekolah maupun
kehidupan yang layak.
Sebelum menginjak SMP, AS adalah anak yang suka memutar
balikkan perintah orang tuanya. Misalkan saja orang tua meminta AS
mengenakan sandal dengan benar, akan tetapi AS mengenakan sandal
terbalik dan waktu ditergur, AS hanya tersenyum simpul dan tidak
membenarkan sandal yang ia kenakan.
AS mudah akrab dengan siapapun. Ia mudah bergaul dengan
teman-temannya dibanding dengan saudaranya yang lain. AS tidak
mempermasalahkan timbal balik dalam menolong teman-temannya.
Jika temannya butuh bantuan, ia akan menolong temannya tanpa
imbalan apapun hanya saja AS meminta agar mereka bisa jadi saudara
akrab.
AS cenderung manja dan bertindak semaunya sendiri. AS juga
orang yang kurang bertanggung jawab dengan apa yang telah ia
perbuat. Suatu ketika AS membolos sekolah waktu SMP selama dua
bulan. AS yang ketakutan tidak berani menemui kepala sekolah dan
akhirnya ayah AS, MT, yang meminta kepada kepala sekolah agar AS
22



diberikan kesempatan lagi agar dia dinaikkan kelas sekaligus tidak
dikeluarkan dari sekolah.
AS memiliki sifat yang keras kepala dimana semua kemauannya
harus dituruti oleh keluarganya. Kejadian dimana AS meminta sesuatu
ke keluarga dan keluarnya kurang bisa memenuhi, AS menjadi emosi
dan tidak pulang beberapa hari sampai keluarga kebingungan
mencarinya baik di sekolah maupun di rumah teman-temannya.
Akhirnya keluarga terpaksamemenuhi keinginan AS tersebutwalaupun
akhirnya AS kurang bisa menjaga barang pemberian orang tuanya.
AS kurang mampu mengontrol emosinya ketika berhadapan
dengan keluarganya dan lebih mementingkan keinginan teman-
temannya. Kejadian itu bermula ketika SS meminjam helmteman AS
tanpa ijin. Teman AS yang meminta helm tersebut menunggui SS
sampaipulang ke rumah meskipun AS bersedia mengganti helm
temannya tersebut dengan helmnya yang jauh lebih bagus dan mahal.
SS yang pulang dini hari menjadi sasaran kemarahan AS. AS yang
tanpa berkata sepatah katapun langsung melempar helm yang ia punya
ke arah SS dengan keras. Untungnya SS memiliki gerak reflek yang
cukup bagus dan bisa menghindar. Helm yang dilemparkan AS berubah
bentuk menjadi pecah berkeping-keping. AS yang berang tersebut
kemudian memarahi adiknya habis-habisan dan sempat memukul SS
dan untungnya keluarga bisa memegangi AS yang kalut karena emosi.
23



Menurut ayahnya, AS adalah anak yang teguh pada pendiriannya
dan suka menentang perintah orang tuanya. Kalau ia ditegur dan diberi
nasehat, AS akan semakin menentang nasehat orang tuanya. AS kurang
menaruh rasa hormat kepada ayahnya karena AS mengira semua harta
yang dimiliki oleh orang tuanya adalah warisan dari kakek nenek baik
dari ibu atau ayahnya. AS kurang peduli dengan masalah yang terjadi
dikeluarganya dan cenderung lebih suka menghabiskan waktu dengan
teman-temannya yang kebanyakan berasal dari kalangan orang-orang
berada. Ayah AS yang kurang sabar pernah memiliki keinginan untuk
membunuh AS yang menurut beliau tdak pantas untuk hidup karena
menyusahkan keluarga. Niat ayah AS tersebut dicegah oleh ibu AS, ES,
dengan mengatakan bahwa bagaimanapun juga AS adalah anak mereka.
AS lebih dekat dengan ibunya daripada ayah. AS tidaktega
melihat ibunya menangis karena ia merasa gagal dan tidak berguna jadi
anak. Tapi karena dorongan dari teman-temannya, AS lebih cenderung
memusatkan semuanya pada teman dan kurang peduli dengan keadaan
keluarga.
Keluarga akhirnya mengetahui ada yang aneh dengan AS waktu
keluarga mulai memasuki babak kejatuhan. AS lebih banyak
mengurung diri di kamar dan mau keluar. Sampai akhirnya kejadian
dimana AS keluar kerja dengan alasan ada masalah dengan rekan
kerjanya dan akhirnya keluarga memasukkan AS ke Rumah Sakit Jiwa
Menur dan menjalani perawatan selama beberapa kali di sana.
24



C. Pemeriksaan
1. Observasi
a. Secara Umum
Berdasarkan pengamatan, AS seorang pria yang pendiam, yang
memiliki tinggi badan 165 cm dengan berat 55kg. Bentuk wajah
lonjong dengan kulit putih langsat. Penampilan sehari-hari cukup rapi,
namun kurang bersih karena rambut AS yang dibiarkan agak panjang
dengan alasan ia suka dengan rambut panjang seperti anak-anak zaman
sekarang. AS lebih banyak melamun ketika ia tidak diajak berinteraksi
dengan orang lain.



25



b. Secara Khusus
Pada saat menikuti tes, AS berusaha mengerjakan dengan
perlahan dan beberapa kali terhenti di tengah atau di akhir tes karena ia
capai. DW dapat menjawab dengan lancara dan pahamdengan instruksi
yang diberikan.
Tabel 3. Observasi pada Saat Tes
No. Jenis Tes Observasi
1. WAIS
NS pada saat mengikuti tes kondisi fisik
kurang baik. AS mengerjakan soal-soal
tersebut kurang kooperatif. AS paham
dengan instruksi yang diberikan. AS
beberapa kalimengatakan bahwa dirinya
bodoh dan takut kelihatan bodohnya.
Beberapa kali berhenti dan mengatakan
tidak sanggup, akan tetapi setalah
diberitahukan bahwa ia bisa akhirnya AS
mau mengerjakan kembali sampai akhir.
Tes ini berlangsung beberapa hari dengan
pemberian subtes yangberselang-seling
antara verbal dan performen.
2.
Grafis (DAP, BAUM,
HTP) dan Wartegg
Selama tes berlangsung, AS cenderung
tegang dan beberapa kali berkomentar,
tidak apa-apa kan mbak gambarnya
26



jelek. Setelah diinformasikan bahwa yang
dilihat bukan bagus atau jeleknya gambar,
AS kembali berkomentar takut kalau
gambar yang ia gambar menunjukkan sifat
jeleknya, kembali tester memberikan
keyakinan pada AS bahwa itu semua
untuk membantu kesembuhan AS dan
hanya tester saja yang tahu hasil dari
gambar tersebut, barulah AS mau
menggambar. Ia berhenti beberapa kali
dan menghapus hasil gambarannya. Dalam
tes grafis ini AS kerjakan selama beberapa
hari.
3. Bender Gestalt
AS lebih banyak diam.ia langsung
mengerjakan tanpa menghitung stimulus,
iabaru menghitung stimulus dikartu nomer
2 dan 5. Pada kartu nomer 7, AS
memperbaiki responnya dengan
menghapus.
4. SSCT
Ada beberapa kalimat yang kurang ia
pahami dalam SSCT yang mengharuskan
AS bertanya kembali. Hal tersebut tidak
membuat AS mengosongi jawaban
27



meskipun ia mengerjakannya dengan
melompati beberapa soal dan akhirnya
kembali ke soal yang kurang ia mengerti.
Ia meminta tolong tester untuk menuliskan
jawaban karena ia merasa pusing jika
melihat tulisan yang banyak.
5. NSQ
Selama mengikuti tes, AS kooperatif. AS
langsung mengerjakan tes yang diberikan
tanpa bertanya lagi dengan instruksi. AS
mengerjakan tes ini dengan menghabiskan
beberapa batang rokok.
6. WWQ
Px mendengarkan dengan seksama soal
yang dibacakan oleh tester. Ia tidak
menghiraukan suara lain yang ada di
dalam ruangan dan tetap mendengarkan
soal yang dibacakan oleh tester. AG.ST
tidak berani memandang wajah tester dan
tetap memandang lurus. Walaupun begitu,
ia masih bisa mendengarkan pertanyaan
yang dibacakan tester dengan seksama.
7. CAQ 2
AS mengerjakan tes dengan segera setelah
ia mendapatkan instruksi dari tester. Ia
tetap fokus ke soal-soal yang ada di
28



hadapannya meskipun teman-temannya
yang lain mengajaknya berbincang-
bincang. Pada pertengahan soal, Px
meminta agar tes dilanjutkan nanti sore
karena ia merasa capai dengan soal yang
begitu banyak. Dan pada sore harinya Px
langsung mengerjakan soal sembari
menghisap rokoknya. Ketika selesai
mengerjakannya, Px mengucap syukur dan
mengatakan bahwa tes tersebut gampang-
gampang susah.
8. TAT
Selama mengikuti tes, AS kurang
semangat dan cenderung diam. AS
menstimulus tiap kartu dengan singkat
sehingga tester mencoba bertanya sesuai
dengan instruksi awal TAT. AS menolak
kartu yang ia anggap suram dan
menakutkan sehingga tester mencoba
memberikan kartu tersebut esok hari.
9. RHO
AS cukup kooperatif dalam menyelesaikan
tes ini. Ia beberapa kali tersenyum karena
ia menganggap gambar yang diberikan
adalah gambar aneh. AS menyelesaikan
29



tes ini dengan kurun waktu kurang lebih
satu jam.




30



2. Tes Psikologi (WAIS, SSCT, NSQ, WWQ, CAQ2, TAT, Rho, Wartegg
& Grafis : DAP, BAUM, dan HTP)
a. Tes Intelegensi
1. WAIS
Tabel 4. I Q
Sub Test Angka Skala IQ Kategori
Verbal 49 88 Di bawah Rata-rata
Performance 45 94 Rata-rata
Skala Lengkap/Full 94 90 Rata-rata

Tabel 5. Angka Skala Tiap Sub Test WAI S
NO.
RINGKASAN
Tes Angka Kasar Angka Skala
1. Informasi 11 8
2. Pengertian 12 7
3. Hitungan 11 10
4. Perssamaa 9 8
5. Rentangan Angka 9 7
6. Perbendaharaan Kata 39 9
Angka Verbal = 49
7. Simbol Angka 25 5
8. Melengkapi Gambar 9 7
31



9. Rancangan Balok 40 12
10. Mengatur Gambar 16 7
11. Merakit Obyek 40 14
Angka Performance = 45
Angka Total = 94
ANGKA VERBAL : 49 IQ : 88
ANGKA PERFORMANCE : 45 IQ : 94
ANGKA SKALA LENGKAP : 94 IQ : 90

Tabel 6. I nterpretasi Kualitatif WAIS
NO. Aspek dalam Tes WAIS Interpretasi
1. Nilai Full IQ 90 Taraf intelegensi AS berada di rentang
normal.
2. MD = 7% Tidak ada indikasi kemunduran mental.
3. Nilai IQ verbal lebih rendah
daripada IQ performance (88
< 94)
Kurang bisa mengungkapkan apa yang
ada dalam hatinya, cenderung melakukan
sesuatu tanpa bicara apapun, cenderung
intelegensi rendah, histerik, narsistik,dan
psikopat.
4. Nilai OIQ lebih besar
daripada nilai FIQ (93 > 90)
IQ individu belum belum berfungsi
secara optimal karena ia sedang dalam
kondisi kurang enak badan atau sakit,
32



5. Rancangan balok (baik
sekali)
kemampuan berpikir konseptual, pembentukan
konsep nonverbal, koordinasi visual motor, daya
konsentrasi tinggi, daya tahan terhadap stress,
keluwesan dalam memecahkan masalah (problem
solving)..
6. Merakit obyek (baik sekali) Kemampuan menempatkan sesuatu ke
dalam konsep atau pengalaman yang
sudah familiar, kecepatan persepsi,
kemampuan organisasi visual motorik
dan kemampuan manipulatif.
7. Simbol angka (Kurang Sekal) Konsentrasi lemah dan ingatan jangka pendek,
kelambatan berpikir dan belajar hal-hal baru, daya
tahan terhadap stress lemah.
8. Melengkapi gambar (kurang) Miskinnya pengalaman, cenderung
berpikir globar; dan kurang konseptual
dalam mengamati masalah.
9. Mengatur gambar (kurang) Kurang peka terhdap orang lain, sikap
impulsif atau bertindak sebelum berpikir
panjang, cenderung menghindari situasi
sosial yang menimbulkan kecemasan.



33



Interpretasi:
Saudara AS mempunyai kapasitas intelektual berada pada
kategori rata-rata. Hal ini menunjukkan bahwa AS mempunyai
kemampuan yang cukup dalam menganalisa, memecahkan masalah
yang bersifat sederhana namun untuk hal-hal yang bersifat kompleks,
AS masih membutuhkan bimbingan dari orang lain. Saudara AS
cenderung kurang mampu membedakan hal-hal yang bersifat penting
dan kurang penting sehingga segala permasalahan yang ia hadapi
diartikan sebagai sesuatu yang besar dan hal tersebut sangat menyita
perhatiannya. Dalam kondisi tidak mampu mengatasi permasalahan
tersebut, saudara AS cenderung mengalami kecemasan yang dapat
menyebabkan depresi. Kemampuan penyesuaian diri terhadap
lingkungan sekitar tergolong kurang. AS bertindak lebih dahulu
daripada berpikir. AS memiliki miskinnya pengalaman untuk
diaplikasikan dalam berhubungan dengan lingkungan sekitar. Ia
cenderung mengindari situasi sosial dimana situasi tersebut mudah
untuk membuatnya cemas. AS kurang peka terhadap orang lain dan
cenderung memanipulatif masalah yang ia hadapi.



34



2. Bender Gestalt
Tabel 7. Skoring Tes Bender Gestalt
KARTU
SCORE DEVELOPMENTAL
AGE
EMOTIONAL INDICATOR
A - -
1 - -
2 - -
3 - -
4 - -
5 - -
6
18a distortion of shape
19 integrasi
-
7 - -
8 - -
TOTAL 2 0

Interpretasi :
Tidak ada indikasi keruskan otak secara organik.


35



b. Tes Kepribadian dan Inventori
1. NSQ
Tabel 8. Skoring NSQ
Komponen Total Angka Skala Keterangan
I (Sensitifitas) 14 8 Tinggi
F (Depresi) 8 4 Rendah
E (Dominan) 11 6 Normal
An (Kecemasan) 12 7 Tinggi
Total 43 7 Tinggi
Interpretasi:
Adanya gangguan yang terjadi pada AS. Ia merasa menjadi orang
yang lemah dan tidak mampu berbuat apa-apa dalam menghadapi masalah
meskipun ia tidak mudah untuk mengalami depresi. Ia mudah sekali untuk
cemas ketika akan dihadapkan pada suatu masalah yang menurutnya tidak
dapat ia selesaikan dengan baik.


36



2. SSCT
Tabel 9. Skoring Tiap Agent SSCT
NO.
AGENT OF
RELATION
SKOR KETERANGAN
1. Ibu
1
AS menilai bahwa sosok ibu yang
seharusnya adalah seperti ibunya yang
selalu memanjakan dia dan mengerti
dia,
2. Ayah
3
AS merasa bahwa ayahnya adalah
orang yang keras dan tidak mau
mendengarkan keinginannya. Ayah
dianggap sebagai sosok yang kurang
mengerti dia dan tidak meloloskan
beberapa keinginannya.
3. Kehidupan
Keluarga
2
AS menganggap bahwa keluarganya
kurang bisa menerima keadaan dan
masih memperlakukan dia seperti anak
kecil yang butuh bimbingandan tidak
diperbolehkan melakukan seperti
keinginannya.
4 Wanita 2 AS menilai bahwa wanita cuma
memanfaatkan pasangannya dan tidak
37



tulus mencintai pasangannya.
5. Hubungan
Heteroseksual
3
AS iri dengan orang yang bisa hidup
layak seperti pacaran akan tetapi ia
takut dengan pernikahan karena ia
tidak menyukai wanita yang hanya
memanfaatkan kekasihnya dan tidak
mencintai dengan setulus hati.
6. Teman dan
Kenalan
3
Merasa bahwa teman-temannya telah
meninggalkannya dan menganggap dia
tidak ada. Ia tidak senang terhadap
orang yang tidak mau memaafkan
kesalahan dan menggunakan jalan
belakang.
7. Pimpinan/Atasan
0
AS menganggap bahwa atasan adalah
orang yang baik dan mengerti keadaan
pegawainya.
8. Bawahan
0
Dengan bawahan AS akan menghargai
bawahannya dan berusaha
membimbing bawahannya jika
bawahannya kurang mengerti tugas
yang iaberikan.
38



9. Teman Sekerja
4
AS mengalami ketakutan dengan
teman sekerja yang ia anggap iri hati
dan ia takut untuk bersaing.
10. Ketakutan
5
AS memiliki ketakutan yang besar
akan kematian, dikhianati, dikejar, dan
diburu sehingga ia akan sering
melarikan diri.
11. Rasa Bersalah
4
AS merasa bahwa ia sering
mengecewakan orang tuanya dengan
bersikap durhaka dan berani terhadap
orang tuanya.
12. Kemampuan Diri
Sendiri
1
AS ingin sembuh dari penyakit jiwa
yang ia alami sekarang akan tetapi ia
kurang berusaha maksimal untuk
mencapai kesembuhan tersebut.
13. Masa Lalu
1
AS merasa bahwa masa lalunya baik-
baik saja dan merasa bahwa masa
lalunya lebih bahagia dibanding
sekarang.
14. Masa Depan
3
AS pesimis dengan masa depannya. Ia
selalu ingin melarikan diri keluar
39



negeri dan sembuh di sana.
15. Cita-cita
4
AS ingin menjadi lebih baik dan
memperbaiki kesalahan di masa lalu,
hidup tenang dan membuka lembaran
baru dengan pergi ke luar negeri.

Kesimpulan Agent Yang Diprediksi Bermasalah :
1. Teman Sekerja : 4
2. Ketakutan : 5
3. Rasa Bersalah : 4
4. Cita-cita : 4
AS cenderung mengalami ketakutan dengan teman sekerja yang
ia anggap iri hati dan ia takut untuk bersaing. AS takut dengan
persaingan tidak sehat yang dilakukan oleh temannya dan jika ada
sesuatu, temannya itu akan melakukan berbagai macam cara untuk
menyakitinya.
AS memiliki ketakutan yang besar akan kematian, dikhianati,
dikejar, dan diburu sehingga ia akan sering melarikan diri dan
meninggalkan semua yang ia punya agar ia bisa hidup tenang dan
membuka lembaran baru dengan pergi ke luar negeri karena AS
merasa bahwa ia sering mengecewakan orang tuanya dengan bersikap
durhaka dan berani terhadap orang tuanya.

40



3. WWQ
Tabel 10. Skoring WWQ
Faktor Sten Keterangan Kategori
1 168 Einfacho emotivitat Kecenderungan
patologis
2 168 Psychathenic Obsessionen Kecenderungan
patologis
3 270 Schisoido Tendenze Patologis
4 180 Paranoide Tendenze Patologis
5 234 Depressive und
hypochondriache Tendenze
Patologis
6 180 Impulsive und Epileptische Patologis
7 156 Instabilitie Kecenderungan
patologis
8 0 Antisoziale Tendenze Normal






41



Keterangan :
>180 : patologis
120-180 : kecenderungan patologis
< 120 : Normal
Interpretasi:
Dengan sakit yang di deritanya saat ini, saudara AS
mengalami indikasi patologis dalam aspek paranoid dan gejala
skizoid yang dimana ia mudah sekali menjadi depresi ketika ia
tidak bisa menyelesaikan masalah yang terjadi padanya. Selain
itu, penyebab lain yang menyebabkan ia mudah masuk ke dalam
depresi adalah AS memiliki ketidakstabilan baik dalam bertindak
yang mengarah ke AS tidak dapat menghentikan dorongan-
dorongan yang terjadi pada dirinya. AS memiliki kedangkalan
emosi sehingga ia sulit untuk mengekspresikan emosi yang ia
rasakan di depan orang lain. Pengekspresian emosi yang kurang
baik tersebut membuat AS merasa dia sakit secara fisik yang tidak
bisa disembuhkan dan itu ia ulang-ulang ketika ia memiliki
masalah yang tak bisaia selesaikan.


42



4. CAQ2
Tabel 11. Skoring CAQ 2
Faktor Total
Angka
Skala
Keterangan
D1
(Hypocondriasis)
8 6 Sedang
D2 (Anxiety) 8 6 Sedang
D3 (Agitation)
10 5
Cenderung
Rendah
D4 (Anxious
Depresion)
11 7
Cenderung
Tinggi
D5 (Low Energy
Depresion)
10 6 Sedang
D6 (Guilt &
Resentment)
9 6 Sedang
D7 (Boredom &
Withdrawal)
9 7
Cenderung
Tinggi
Pa (Paranoia) 8 6 Sedang
Pp (Penyimpangan
Psikotik)
10 7
Cenderung
Tinggi
Sc (Schizofrenia) 11 4 Rendah
As (Psychastenia) 11 7 Sedang
43



Ps(Ketidakmampuan
Psikologi)
9 6 Sedang

Tabel 12. Profile CAQ 2

STEN
FAKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 FAKTOR
D1 . . . . . . . . . . D1
D2 . . . . . . . . . . D2
D3 . . . . . . . . . . D3
D4 . . . . . . . . . . D4
D5 . . . . . . . . . . D5
D6 . . . . . . . . . . D6
D7 . . . . . . . . . . D7
Pa . . . . . . . . . . Pa
Pp . . . . . . . . . . Pp
Sc . . . . . . . . . . Sc
As . . . . . . . . . . As
Ps . . . . . . . . . . Ps

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

STEN
Keterangan :
1-5 : Rendah
5,5-7,5 : Sedang
8-10 : Tinggi
Interpretasi :
Berdasarkan hasil tes di atas maka dapat disimpulkan bahwa AS
kurang suka pada hal yang mengambil resiko tinggi dan tanggung jawab.
Canggung, kurang cekatan dalam mengerjakan sesuatu, sering ketakutan,
44



kurang percaya diri, jarang mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiran
mereka, tidak sanggup mengatasi keadaan yang tiba-tiba berubah.
Perasaan-perasaan tersebut didasari oleh perasaan yang tidak berarti dari
dirinya sehingga ia merasa tidak pantas untuk berteman dengan orang lain
atau ia sering menghindari kontak dengan orang lain. Hal tersebut
membuat AS merasa lebih menderita dibandingkan dengan orang lain
yang memiliki penderitaan yang sama dengannya. AS yang merasa lebih
menderita tersebut akhirnya menuangkan semua idenya ke dalam
keinginan untuk melakukan sesuatu di luar pikiran manusia pada
umumnya yang merupakan aspek dari depresi.dan ada indikasi skizofrenia


45



5. TAT
Subyek adalah seorang yang cukup memiliki semangat
untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, namun setiap usaha
yang ia lakukan jika mengalami hambatan akan membuat
subyek menunjukkan sikap pesimis, pasrah, cenderung mudah
menyerah dan kurang memiliki daya juang untuk bangkit
kembali.
Subyek selalu menunjukkan perasaan sedih, kecewa dan
setiap masalah yang dihadapi dan hidup senantiasa diwarnai
dengan hal-hal yang kurang menyenangkan dan cenderung
menekan dia. Banyak kejadian yang menyedihkan yang dia
alami namun karena sifat tertutup yang dimilikinya yang
cenderung menyimpan semua masalahnya sendiri membuat
subyek kurang mampu mengutarakan perasaan dan pikirannya
dengan lebih terbuka.
Ada keinginan subyek untuk memperbaiki kesalahannya
dan selalu ada penyesalan dalam setiap cerita yang dibuatnya.
Menjalin sosialisai dengan lingkungan seringkali terhambat
karena subyek kurang mampu menjalin hubungan yang baik
dengan orang lain dimana masih adanya perasaan takut dan
kurang mampu memposisikan diri dengan orang lain.


46



6. Rorschach
AS cenderung melihat segala sesuatu secara keseluruhan
tanpa mau melihat secara mendalam masalah yang ada
dihadapannya yang terbukti dari sebagian respon Whole. Ia
memiliki imajinasi yang cukup bagus dengan memberikan
beberapa respon original dari respon keseluruhan yang ia
berikan. AS suka untuk menyembunyikan apa yang ada di
dalam pikirannya dan suka untuk berpura-pura. AS juga
memiliki sifat yang pemalas dan tergantung dengan orang lain
dengan respon benda mati atau binatang yang tidak bergerak
sama sekali.


47



7. Wartegg & Grafis
AS memiliki motivasi berprestasi yang kurang dimana ia
tidak menampakkan usaha-usaha untuk maju dan mencapai
suatu prestasi dengan maksimal. Dorongan dan harapannya
besar akan sesuatu akan tetapi AS cenderung mengalami
hambatan dalam mencapai tujuan tersebut karena AS mengalami
kecemasan dan ragu dengan kemampuan yang dimilikinya dan
kurang adanya keberanian untuk mengambil keputusan sendiri.
Setiap permasalahan yang dihadapinya cenderung tidak ia
tuntaskan dalam penyelesaiannya dan AS memilih untuk
melarikan diri yang akan semakin membuat masalahnya
semakin runyam.
AS kurang mau menerima kenyataan dan sering regresi
ke masa lalu dengan mengenang masa lalu yang ia anggap
sebagai masa dimana ia merasa senang dan bahagia. Selain itu,
AS memiliki kecenderungan untuk obsesif kompulsif ketika ia
tidak mampu menyelesaikan masalahnya.
AS kurang mampu menjalin hubungan dengan
lingkungan sekitar. Ia kurang mampu menerima kenyataan yang
terjadi pada dirinya sekarang sehingga ia sering kali
menganggap bahwa dirinya masih berusia lebih muda yang
mengindikasikan sifat manja dan kekanak-kanakan.
48



AS merasa lebih dekat secara emosional dengan sosok
ibunya yang selalu terbuka dengannya. Ia menggambarkan
sosok ayahnya sebagai sosok yang kuat meskipun menganggap
ayahnya tidak sesempurna sosok ayah yang ia idamkan. AS juga
merasa bahwa keluarga terlalu melindunginya yang
membuatnya tidak dapat bertindak semaunya.



49



BAB III
LANDASAN TEORI
A. Definisi Gangguan Skizofren Paranoid
Maramis (1997) menjelaskan bahwa Psikotik adalah suatu gangguan
jiwa yang serius, yang timbul karena penyebab organik ataupun emosional
(fungsional) dan yang menunjukkan gangguan kemampuan berpikir, beraksi
secara emosional, mengingat, berkomunikasi, menafsirkan kenyataan dan
beritndak sesuai dengan kenyataan itu, sedemikian rupa sehingga
kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sangat terganggu.
Gangguan psikotik ditandai oleh preilaku regresif-impulsif serta waham dan
halusinasi. Istilah psikotik dapat dipakai untuk keadaan seperti yang
disebutkan di atas dengan variasi yang luas mengenai berat dan lamanya.
Menninger (dalam Maramis, 1997) menyebutkan limasindrom klasik
yang menyertai sebagian besar pola psikotik, yaitu :
1. Perasaan sedih, bersalah, dan tidak mampu yang mendalam.
2. Keadaan terangsang yang tidak menentu dan tidak terorganisai,
disertai pembicaraan dan motorik yang berlebihan.
3. Regresi ke autism manerisme pembicaraan dan perilaku, isi
pikiran yang berwaham, acuh tak acuh terhadapharapan sosial.
4. Preokupasi yang berwaham, disertai kecurigaan, kecenderungan
membela diri atau rasa kebesaran.
50



5. Keadaan bingung dan derilium dengan disorrientasi dan
halusinasi.
Skizofrenia dengan subtipe paranoid mencerminkan ego yang
dibanjiri dengan dorongan seksual primitif atau agresi atau impuls-impuls
yang berasal dari id. Impuls-impuls teersebut mengancam ego dan
berkembang menjadi konflik intrapsikis yang kuat (Nevid, 2003). Ego
menjebatani hubungan atara diri dengan dunia luar, kerusakan pada fungsi
ego ini berpengaruh terhadap adanyajarak terhadap realita. Masukan dari id
menyebabkan fantasi menjadi disalah artikan sebagai realita, menyebabkan
halusinasi dan waham. Impuls-impuls primitif mungkin juga membawa
beban yang lebih berat daripada norma-norma sosial dan diekspresikan pada
perilaku yang aneg dan tidak sesuai secara sosial (Nevid, 2003).
Menurut PPDGJ III (2001) menyatakan suatu deskripsi sindrom
penyebab (banyak belumdiketahui) dan perjalanan penyakit (tidak bersifat
kronis atau berulang) yang luas, serta sejumlah akibat yang bergantung pada
pertimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya. Pada umumnya
ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik oikiran dan
persepsi serta afek yang tidak wajar atau tumpul. Kesadaran yang jernih dan
kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara walaupun
kemundurankognitif tertentu dapat berkembang kemudian.
Pada gejala skizofrenia paranoid, gejala yang dimunculkan akan
didominasi oleh hal-hal antara lain ;
51



1. Ciri-ciri utamanya adalah waham yang sistematis atau halusinasi
pendengaran.
2. Individu ini dapat penuh curiga, argumentatif, kasar, dan agresif.
3. Perilaku kurang agresif, kerusakan sosial lebih sedikit dan
prognosisnya lebih baik dibandingkan dengan jenis-jenis
skizofrenia lainnya.
Gangguan kepribadian paranoid biasanya dapat dibedakan karena
gangguan delusional karena waham yang terpaku tidak ditemukan pada
gangguan kepribadian paranoid. Keadaan ini dapat dibedakan dari
skizofrenia paranoid karena halusinasi dan pikiran formal tidak ditemukan
pada gangguan kepribadianparanoid. Gangguan kepribadian paranoid dapat
dibedakan dari gangguan kepribadian ambang karena pasien paranoid jarang
mampumelibatkan secara berlebuhan dan rusuh dalam persahabatan dengan
orang lain seperti pasien ambang. Pasien paranoid mempunyai karakter anti
sosial sepanjang riwayat antisosial. Orang degan gangguan kepribadian
skizoid adalah menarik diri dam menjauh tetapi tidak memiliki gagasan
paranoid.
B. Terapi Psikologis
1. Cognitive Behavior Therapy
Dalam kasus ini AS megalami perasaan yang kurang dekat
dengan keluarga khususnya orang tuanya. AS senantiasa mencari
kehidupan lain di luar keluarga dimana ia bebas mengekspresikan apa
52



yang ia inginkan. Keadaan tersebut hanya berlangsung sampai keluarga
AS tertimpa musibah dimana MT, ayah AS, mengalami kebangkrutan
di usaha yang ia jalankan. AS menjadi tertekan dan menghindari teman-
teman yang biasanya berkumpul dan mengajaknya keluar. Berkali-kali
AS merasa kalau teman-temannya mulai menjauhi AS semenjak ayah
AS bangkrut dan menganggapnya sebagai orang yang gagal padahal
teman-temannya, terutama teman yang AS tuduh akan membunuhnya,
bersikap biasa dan mencoba untuk menjalin hubungan yang baik
dengan AS.
Menurut Oemarjoedi (2003), teori Cognitive Behavior pada
dasarnya meyakinibahwa pola pemikiran manusia terbentuk
melaluiproses rangkaian Stimulus-Kognisi-Respon (SKR), yang saling
berkaitan dan membentuk semacam jaringan SKR dalam otak manusia,
dimana proses kognitif akan menjadi faktor penentu dalam menjelaskan
bagaimana manusia berpikir, merasa dan bertindak.
Sementara adanya keyakinan bahwa manusia memiliki potensi
tertentu untuk menyerapkan pemikiran yang rasional dan irasional,
dimana pemikiran yang irasional dapat menimbulkan gangguan emosi
dan tingkah laku, maka Terapi Cognitive Behavior diarahkan kepada
modifikasi fungsi perilaku, merasa bertindak, dengan menekankan
peran orak dalam menganalisa, memutuskan, bertanya, berbuat, klien
diharapkan dapat mengubah tingkah lakunya dari negatif ke positif.

53



a. Tujuan Terapi
Tujuan terapi Cognitive Behavior adalah mengajakklien
untuk menentang pikiran dan emosi yang salah dengan
menampilkan bukti-bukti yang bertentangan dengan keyakinan
klien tentang masalah yang dihadapinya. Terapis diharapkan
mampu menolong klien untuk mencari keyakinan yang sifatnya
dogmatis dalam diri klien dan secara kuat mencoba
menguranginya.
b. Teknik Terapi
Beberapa variasi teknik perubahankognisi, emosi dan
tingkah laku menjadi sarana psikoterapi yang penting dalam
Cognitive Behavior. Metode ini berkembang sesuai kebutuhan
klien, dimana terapis bersikap aktif, direktif, terbatas waktu,
berstruktur, dan berpusat pada masa kini. Teknik ini menyanggah
keyakinan irrasional klien dengan menggunakan pekerjaan
rumah, mengumpulkan data asumsi-asumsi negatif, mencatat
aktivitas, membentuk interpretasi yang berbeda, belajar keahlian
menyelesaikan masalah, merubah pola pikir dan pola bicara,
berimajinasi dan secara kuat menentang keyakinan yang salah.



54



c. Proses Terapi
Menurut teori Cognitive Behavior yang asli, terapi
Cognitive Behavior memerlukan sedikitnya 12 sesi pertemuan
yang secara sistematis dan terencana meliputi :
1) Asessment dan Diagnosa sesi 1-2
2) Pendekatan Kognitif sesi 2-3
3) Formulasi Kasus sesi 3-5
4) Fokus Terapi sesi 4-10
5) Intervensi Tingkah Laku sesi 5-7
6) Perubahan Core Belief sesi 8-11
7) Pencegahan Relapse sesi 11-12
Namun berdasarkan pengalaman praktek yang telah
dilakukan, jumlah 12 sesi ini menjadi sangat sulit untuk dilakukan
di Indonesia karena proses terapi menjadi :
1) Terlalu lama, sementara klien mengharapkan hasil yang
dapat segera dilaksanakan manfaatnya.
2) Terlalu mahal, karena 12 sesi berarti sedikitnya 12 jam
kunjungan terapi, sementara dalam masyarakat
umumnya mengeluarkan dana untuk terapi masih
dianggap sebagai pemenuhan kebutuhan tersier.
3) Terlalu rumit dimana klien yang mengalami gangguan
padaumunya datang berkonsultasi dalam kondisi
pikiran yang sudah begitu berat, sehingga tidak mampu
55



lagi mengikuti program terapi yang merepotkan, atau
karena kapasitas intelegensi dan emosi klien yang
terbatas.
4) Membosankan,karena kemajuan dan perkembangan
terapi menjadi sedikit demi sedikit.
5) Menurunkan keyakinan klien akan kemampuan
terapisnya, antara lain karena alasan-alasan yang telah
disebutkan di aras, yang dapat berakibat kegagalan
terapi.
Setelah dilakukan observasi dan waawancara kepada AS,
diketahui bahwa keyakinan irasional yang dimiliki AS sejalan
dengan tujuan terapi Cognitive Behavior maka terapis berusha
mengajak klien menentang pikiran dan emosi yang salah dengan
menampilkan bukti-bukti yang bertentangan dengan keyakinan
klien tentang masalah yang dihadapi.
2. Program Intervensi Keluarga
Konflik-konflik keluarga dan interaksi yang negatif dapat
menumpuk stres pada anggota keluarga yang mengalami gangguan
psikotik, dimana meningkatkan resiko episode berulang (Marsh dan
Jonsosn, 1997). Berharap anggota keluarga daoat membantu klien
dalampenyesuaian diri dengan beban untuk merawat dan membantu
klien dalam mengembalikan cara-cara yang lebih kooperatif dan tidak
terlalu konfrontatif dalam berhubungan dengan orang lain.
56




BAB IV
INTEGRASI TES DAN PSIKODINAMIKA
A. Integrasi Tes
Tabel 13. I ntegrasi Tes
Aspek yang
Diungkap
Integrasi Hasil Tes Alat Tes
Intelektual Saudara AS mempunyai kapasitas
intelektual berada pada kategori
rata-rata. Hal ini menunjukkan
bahwa AS mempunyai
kemampuan yang cukup dalam
menganalisa, memecahkan masalah
yang bersifat sederhana namun
untuk hal-hal yang bersifat
kompleks, AS masih membutuhkan
bimbingan dari orang lain. Cara
berpikirnya cenderung kurang
sistematis dan melompat-lompat.
Sehingga dalam mengambil
keputusan, AS kurang mampu
membedakan hal-hal yang bersifat
WAIS dan Bender
Gestalt
57



penting dan kurang penting
sehingga segala permasalahan yang
ia hadapi diartikan sebagai sesuatu
yang besar dan hal tersebut sangat
menyita perhatiannya. AS
mengalami kecemasan yang dapat
menyebabkan depresi.
Kemampuan penyesuaian diri
terhdap lingkungan sekitar
tergolong kurang. AS bertindak
lebih dahulu daripada berpikir. AS
memiliki miskinnya pengalaman
untuk diaplikasikan dalam
berhubungan dengan lingkungan
sekitar. Ia cenderung mengindari
situasi sosial dimana situasi
tersebut mudah untuk membuatnya
cemas. AS kurang peka terhadap
orang lain dan cenderung
memanipulatif masalah yang ia
hadapi.


58



Aspek yang
Diungkap
Integrasi Hasil Tes Alat Tes
Emosi/Afeksi AS cenderung memiliki sifat yang
mudah sekali cemas ketika ia
dihadapkan pada suatu masalah
yang dimana ia kurang bisa
mengatasinya.
AS akan menunjukkan gejala
depresi jika ia berada dalam
masalah yang tidak bisa ia
selesaikan karena sifat pemalasnya.
AS memilih untuk melarikan diri.
AS kurang mau menerima
kenyataan dan sering regresi ke
masa lalu dengan mengenang masa
lalu yang ia anggap sebagai masa
dimana ia merasa senang dan
bahagia. Selain itu, AS memiliki
kecenderungan untuk obsesif
kompulsif ketika ia tidak mampu
menyelesaikan masalahnya.
AS selalu menunjukkan perasaan
sedih, kecewa, pesimis, pasrah,
WWQ, NSQ, CAQ2,
Rho, TAT, Wartegg &
Grafis (BAUM, DAP,
HTP)
59



cenderung mudah menyerah dan
kurang memiliki daya juang untuk
bangkit kembali ketika ia
menghadapi masalah yang
cenderung menekan dia. Banyak
kejadian yang menyedihkan yang
dia alami namun karena sifat
tertutup yang dimilikinya. AS
kurang mampu mengutarakan
perasaan dan pikirannya dengan
lebih terbuka.


60



Aspek yang
Diungkap
Integrasi Hasil Tes Alat Tes
Sosialisasi Kemampuan penyesuaian diri
terhadap lingkungan sekitar
tergolong kurang karena subyek
kurang mampu menjalin hubungan
yang baik dengan orang lain
dimana masih adanya perasaan
takut dan kurang mampu
memposisikan diri dengan orang
lain dan ia suka untuk
menyembunyikan apa yang ada di
dalam pikirannya dan suka untuk
berpura-pura.. AS bertindak lebih
dahulu daripada berpikir. AS
memiliki miskinnya pengalaman
untuk diaplikasikan dalam
berhubungan dengan lingkungan
sekitar. Ia cenderung mengindari
situasi sosial dimana situasi
tersebut mudah untuk membuatnya
cemas. AS kurang peka terhadap
orang lain dan cenderung
WWQ, CAQ2, Rho,
TAT, SSCT, Wartegg
dan Grafis (BAUM,
DAP, HTP)
61



memanipulatif masalah yang ia
hadapi. Hal tersebut ditunjukkan
dari ketakutannya dengan teman
sekerja yang ia anggap iri hati dan
ia takut untuk bersaing. AS takut
dengan persaingan tidak sehat yang
dilakukan oleh temannya dan jika
ada sesuatu, temannya itu akan
melakukan berbagai macam cara
untuk menyakitinya.
Ia merasa menjadi orang yang
lemah dan tidak mampu berbuat
apa-apa dalam menghadapi
masalah meskipun ia tidak mudah
untuk mengalami depresi.
AS kurang suka pada hal yang
mengambil resiko tinggi dan
tanggung jawab. Canggung,
kurang cekatan dalam mengerjakan
sesuatu, sering ketakutan, kurang
percaya diri, jarang
mengungkapkan apa yang ada di
dalam pikiran mereka, tidak
62



sanggup mengatasi keadaan yang
tiba-tiba berubah. Perasaan-
perasaan tersebut didasari oleh
perasaan yang tidak berarti dari
dirinya sehingga ia merasa tidak
pantas untuk berteman dengan
orang lain atau ia sering
menghindari kontak dengan orang
lain.



63




B. Psikodinamika
1. Uraian Mengapa Subyek Mengalami Gangguan
AS memiliki kapasitas intelektual beradapada kategori rata-rata
dimana AS mempunyai kemampuan yang cukup dalam menganalisa,
memecahkan masalah yang bersifat sederhana namun untuk hal yang
bersifat kompleks, AS masih membutuhkan bimbingan dari orang lain dan
kurang memiliki perencanaan yang matang dalam melakukan sesuatu.
Sehingga dalam bertindak,AS cenderung gegabah dantidak siap menerima
konsekuensi yang akan dihadapinya.
AS adalah orang yang kurang bisa mempertahankan pendapat dan
apa yang diyakininya. Motivasi berprestasinya rendah dimana tidak ada
usaha-usaha nyata yang dilakukan untuk mendapatkan dan meraih cita-cita
yang dia inginkan. AS cenderung menghindar ketika ia dihadapkan pada
tanggung jawab yang harus ia selesaikan. AS tergolong orang yang mudah
menyerah dan tidak menyadari bahwa apa yang ia kerjakan hari ini akan
berpengaruh kepada masa depannya. Begitu pula dengan keinginannya
untuk sembuh yang tidak ia tunjukkan dengan tindakan nyata dengan
minum obat dan mengurus diri sendiri, akan tetapi ia lebih berangan-angan
untuk kerja di luar negeri agar ia tidak dikejar oleh orang-orang yang
menurutnya membenci dan ingin membunuhnya.
AS cenderung mengalami ketakutan akan dikhianati oleh temannya
sehingga ia akan sering melarikan diri dan meninggalkan semua yang ia
64



punya agar ia bisa hidup tenang dan membuka lembaran baru dengan pergi
ke luar negeri karena AS kurang terlatih dalam mengungkapkan ide atau
perasaannya dan kurang terlatih untuk memutuskan sesuatu dengan tepat.
AS adalah individu yang kurang mampu menjalin hubungan sosial
yang baik dengan lingkungannya, baik di rumah ataupun di tempat kerja.
AS tidak mudah untuk beradaptasi, tidak mempunyai ketajaman pikiran
dan tanggung jawab terhadap apa yang ditugaskan sehingga ia kurang
mampu menempatkan diri pada posisi yang tepat di setiap lingkungannya.
AS juga kurang menyukai adanya perubahan, cenderung kurang percaya
diri, canggung dan tidak sanggup mengatasi keadaan yang tiba-tiba terjadi.
Perkembangan emosi AS cenderung belum mantap, dimana pada
saat dihadapkan dalam situasi keramaian dan disinggung soal temannya
yang ia katakan mencoba untuk menyakitinya, AS merasa sedih dan tidak
berdaya, ada kekhawatiran dan ketidakmampuannya dalam menerima
tanggung jawab yang besar dan hal ini meskipun pernah diutarakan ke
keluarganya, akan tetapi keluarga hanya menganggap hal tersebut hanya
sebagai karangan AS saja. AS memilikiharapan untukdapat menikmati
hidup dengan mendapatkan kebutuhan tanpa harus bekerja terlalu keras.
Setelah adanya hubungan yang memburuk dengan temannya, AS
juga ditinggalkan oleh seseorang yang sangat dikasihinya karena orang
tersebut hanya menganggap AS sebagai teman saja dan hanya AS yang
memiliki perasaan sedangkan si wanita tidak. Hal tersebut semakin
65



membuat AS merasa rendah diri dan kehilangan harapan dan tumpuan
akan kasih sayang.
Perubahan sikap AS semakin membuat keluarga resah,dimana AS
menjadi lebih pendiam, tidak peduli dengan dirinya sendiri dan orang lain,
tidak lagi emosional dengan membentak keluarganya. Sikap menarik diri
ia tunjukkan dengan lebih suka berada di kamar dengan mendengarkan
musik dan merokok. AS juga kurang mau bergaul dengan tetangga,
berlama-lama duduk di dapur, kurang mengurus diri dan jarang mandi.
Kepribadian yang rapuh karena jati diri yang kurang mantap
menjadikannya individu yang cenderung antisosial dan impulsif dengan
lingkungan sekitarnya. Karena kontrol yang kurang, AS melakukan hal-hal
yang merugikan baik merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.
2. Pricipitating Event
Kejadian pencetus yang menyebabkan AS mengalami gangguan ini
adalah peristiwa kejatuhan usaha orang tuanya dan juga kejadian di tempat
dahulu ia bekerja sehingga membuat AS cenderung mengalami ketakutan
akan menghadapi hidupnya dimana ia merasa tidak berguna dan tidak
mampu ketika ia tidak lagi memiliki apa-apa untuk disandingkan dengan
teman-temannya yang lain. AS menjadi takut dan taruma, sehingga
perilaku yang dimunculkan adalah ketika ia bermasalah dengan teman
sekerjanya. Sejak itu AS menjadi lebih pendiam dan lupa akan aktivitas
lainnya yang harus ia lakukan seperti mandi, makan, dan lain sebagainya.
66



AS hanya berkata bahwa ia sedang diincar dan dicari seseorang yang akan
membunuhnya.



67



BAB V
DIAGNOSA, PROGNOSA, DAN TERAPI
A. Diagnosa
Berdasarkan pemeriksaan dan evaluasi psikologi yang dilakukan,
diketahui bahwa kecerdasan AS berada pada kategori rata-rata. AS memiliki
tipe kepribadian yang tertutup, kaku, sensitif. AS memiliki motivasi yang
rendah, ingin melarikan diri dari masalah yang ia hadapi, dan cenderung
menyalahkan orang lain ketika ia disudutkan. AS juga memiliki stabilitas
emosi yang belum mantap, kepribadianyang imatur (tidak matang)
cenderung berpikir lebih muda dari usia sesungguhnya, malas dan bertindak
sehingga kurang mampu untuk mengambil keputusan dan sangat tergantung
atau dependen.
Gejala-gejala utama yang ditunjukkan oleh klien adalah perubahan
perilaku yang ia tunjukkan dengan lebih banyak mengurung diri di kamar,
mengalami sulit tidur sampai beberapa hari, ketakutan akan dikejar dan
dibunuh oleh orang, mudah curiga dengan orang asing yang ia temui, dan
indra pendengaran dan pengelihatan menjadi lebih peka.
Berdasarkan gambaran diagnosa psikologik yang ditemukan, bila
ditulis berdasarkan diagnosa multiaksial PPDGJ-III adalah sebagai berikut:
Axis I : F20.2 Skizofrenia Paranoid
Axis II : Z03.2 Tidak Ada Diagnosis
68



Tipe kepribadian tertutup, kaku, dan sensitif
Axis III : Tidak ada
Axis IV : Tidak ada
Axis V : GAF Scale 60-51 (gejalasedang/moderate, disabilitas
sedang).
B. Prognosa
Dalam Maramis (2007, hal 275) untuk menetapkan prognosa harus
mempertimbangkan faktor-faktor di bawah ini:
1. Kepribadian prepsikotik; bila schizoid dan dalam hubungan
antarmanusia memang kurang memuaskan maka prognosa lebih
jelek.
2. Bila skizofrenia timbul secara akut, maka prognosa lebih baik
daripada penyakit itu mulai secara perlahan-lahan.
3. Jenis : prognosis jenis katatonik yang paling baik dari semua
jenis. Sering penderita skizofrenia katatonik sembuh dan kembali
ke kepribadian prepsikotik. Kemudian menyusul prognosa dengan
jenis paranoid. Banyak dari penderita ini dapat kembali ke
masyarakat. Skizofrenia hebefrenik dan skizofrenia simplex
mempunyai prognosa yang sama jelek. Biasanya penderita
dengan jenis skizofrenia ini menuju ke arah kemunduran mental.
4. Umur. Makin muda umur pemulanya, maka jelek prognosanya.
69



5. Pengobatan. Makin lekas diberi pengnarkan, makin baik
prognosanya.
6. Ada faktor pencetus, seperti penyakit badaniah atau stress
psikologis, maka prognosianya lebih baik.
7. Faktor keturunan. Prognosa menjadi lebih berat bila di dalam
keluarga terdapat seorang atau lebih yang juga menderita
skizofrenia.
Berdasarkan hasilpemeriksaan dan diagnosis, maka dapat diperkirakan
prognosa untuk gangguan yang dialami AS adalah: BURUK dengan
pertimbangan
1. AS memiliki kepribadian yang kurang matang, stabilitas emosi
yang kurang mantap dan cenderung memiliki pendirian yang
keras.
2. Kurangnya kerjasama yang baik sehingga AS kerap kali kembali
ke delusi pikirannya.
3. Penyakit skizofrenia yang dialami AS termasuk dalam onset
lambat. Gangguan paranoid ini berulang-ulang, mengingat
riwayat medis AS sejak kurang lebih tiga tahun yang lalu hingga
saat ini semakin parah.
4. Kurang adanya dukungan dari keluarga untuk bisa memberikan
ketegasan dalam memberlakukan aturan dalam keluarga sehingga
AS sering berontak dan bertindak semaunya.
70



5. AS pemalas dan pasif sehingga sulit untuk beraktivitas (terapi
kerja tidak bermanfaat).
6. AS tidak rutin minum obat di rumah dan keluarga lebih banyak
menuruti keinginan AS untuk membiarkannya tidak minum obat
sesui dengan anjuran dokter.
C. Usulan Terapi
1. Konseling Kognitif Behavior
Usulan konseling yang diberikan adalah Cognitive Behavuor
Therapy. Intervensi CBT atau pendekatan konseling kognitif-behavior
ini juga menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam mengurangi
bahkan menghilangkan halusinasi atau delusi pada pasien skizofrenia
(Bouchard dkk, 1996; Bustillo dkk, 2001). Tujuannya adalah mengajak
AS untuk menentang pikiran-pikirannya yang salah dengan
menampilkan bukti-bukti yang bertentangan dengan keyakinan AS
tentang masalah yang dihadapinya sehingga AS mendapatkan dan bisa
melakukan perilaku yang adaptif di saat menghadapi masalah.
Adabeberapa sesi yang akan dilakukan seperti di bawah ini:
Tabel 14. Usulan Konseling
No.
Langkah-langkah
Konseling
Sesi Konseling Hari/Tanggal
1. Assesment dan Diagnosa 1 dan 2 Sesuai jadwal
pemeriksaan
2. Pendekatan Kognitif 3 dan 4 Jadwal menyesuaikan
71



3. Formulasi Status 4 Jadwal menyesuaikan
4. Fokus Terapi 5-7 Jadwal menyesuaikan
5. Intervensi Tingkah Laku 5-7 Jadwal menyesuaikan
6. Perubahan Core Belief 8 Jadwal menyesuaikan
7. Pencegahan Relaps 8 Jadwal menyesuaikan

2. Psikoedukasi Kepada Orangtua AS
Menururt Arif (2006), penting kiranya memberikan informasi
(psikoedukasi) kepada keluarga sehingga adanya penyesuaian diri
keluarga kepada klien dan mampu menerima, memahami apa yang
menjadi kebutuhan klien. Informasi yang akurat tentang sakit yang
diderita klien, apa penyebab terjadinya gangguan tersebut dan bantuan
apa saja yang diperlukan klien dalammasa pengobatan dan
penyembukan. Informasi yang tepat akan menghilangkan sikap saling
menyalahkan satu samalain, memberikan pegangan untuk dapat
bertahan secara realistis dan membantu keluarga untuk mengarahkan
sumberdaya yang dimiliki pada usaha-usaha produktif. Pemberian
informasi yang tepat dapat dilakukan dengan suatu program
psikoedukasi untuk keluarga.
Psikoedukasi kepada keluarga khususnya orang tua AS yang
merupakan salah satu bagian dari keluar AS yang terdekat. Konseling
ini bertujuan untuk membantu keluarga AS agar memahami kondisi AS
secara keseluruhan dan membantu AS untuk menemukan dirinya
72



sendiri dan merubah pola pikirnya demi memperoleh cara pandang
yang berbeda terhadap diri dan sekelilingnya. Dengan psikoedukasi ini
diharapkan keluarga AS dapat memahami mengenai gangguan jiwa
skizofeenia dan dapat membantu mempercepat proses penyembuhan
AS.
Tabel 15. Usulan Konseling
No. Hari/Tanggal Agenda Pertemuan Alasan Yang Terlibat
1.
Menjelaskan sakit
apa yang diderita
klien
Orangtua belum
memahami gangguan
yang dialami klien
Konselor dan
orangtua
2.

Apa penyebab
terjadinya gangguan
Orangtua belum
memahami penyebab
gangguan yang
dialami klien
Konselor dan
orangtua
3.
Role play: refleksi isi
dan perasaan atas
respon yang
diberikan oleh klien
Orangtua memiliki
pengetahuan cara
merefleksikan apa
yang disampaikan AS
Konselor dan
orangtua
4.

Menjelaskan efek
obat bagi
penyembuhan klien.
Orangtua belum
memahami efek obat
yang dikonsumsi
untuk proses
penyembuhan klien
Konselor dan
orangtua
5.
Memberikan
informasi kepada
anggota keluarga
yang lain (kakak)
yang berada di rumah
akan pendisiplinan
minum obat teratur
LS
memahami,menyadari
aktivitas minum obat
terhadap AS
Konselor dan
orangtua




73



D. Proses Pelaksanaan Terapi
Tabel 16. Proses Pelaksanaan Terapi
No.
Langkah-langkah
Konseling
Sesi Konseling Hari/Tanggal
1. Assesment dan Diagnosa 1 dan 2 Sesuai jadwal
pemeriksaan
2. Pendekatan Kognitif 3 dan 4 Jadwal menyesuaikan
3. Formulasi Status 4 Jadwal menyesuaikan
4. Fokus Terapi 5-7 Jadwal menyesuaikan
5. Intervensi Tingkah Laku 5-7 Jadwal menyesuaikan
6. Perubahan Core Belief 8 Jadwal menyesuaikan
7. Pencegahan Relaps 8 Jadwal menyesuaikan

Hasil pencatatan proses pelaksaanaan konseling yang dilakukan ada di
tabel tabel 17. Sedangkan pencatatan psikoedukasi terdapat pada tabel 18,
19, 20, 21, dan 22.









74



Tabel 17
PENCATATAN HASIL KONSELING DENGAN COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY
No.
Hari/Tanggal
Konseling
Langkah-langkah Konseling Hasil dari Konseling
1. Sesuai jadwal
pemeriksaan
Assesment dan Diagnosa
1. AS adalah orang yang kurang mempunyai semangat baik dalam
semangat hidup maupun semangat untuk menggapai cita-citanya, kurang
mandiri dalam mengambil keputusan, permasalahan dengan teman yang
dianggapnya akan menaruh dendam seumur hidup, kurangnya perhatian
dari orangtua dan hanya figur ayah saja yang ia takuti, selebihnya ibu
sebagai tempat ia mengadu. AS mengalami ketakutan akan disakiti
sampai dibunuh oleh orang yang selama ini dendam padanya.
2. Skizofrenia Paranoid.
2.
Pendekatan Kognitif
Pendekatan Rasional Emotif Behavior, diidentifikasi pernyataan-
pernyataan irasional yang dipegang oleh AS antara lain:
Aku takut sama teman yang dendam dan akan membunuhku.
Orang yang dendam akan mengejar sampai mati.
Aku rela dibunuh jika saya terbukti salah. Silahkan dia membunuhku.
Temanku menyewa pembunuh bayaran untuk membunuhku.
75



Dia tidak akan memaafkanku.
Dia di luar kelihatan memaafkan tapi sebenarnya dia masih mengincar
leherku dan ingin membunuhku.
Hidup di luar negeri lebih baik daripada hidup disini karena di sini
dikejar-kejar terus.
Dia tidak hanya mengincar untuk membunuhku tapi juga ingin
membunuh keluargaku.
Teman-temanku meninggalkanku karena aku tidak kaya lagi.
3.
Formulasi Status
Secara kognisi, AS banyak memiliki pemikiran-pemikiran yang
irasional dan adanya distorsi kognitif.
Secara emosional AS masih berada pada kondisi yang labil dimana
masih tergantung.
AS tidak mampu melakukan hubungan atau kontak sosial dengan orang
lain, tidak mampu bekerja dengan baik, dan tidak mampu melakukan
tugas dan tanggung jawab atas diri sendiri.
4.
Fokus Terapi
Konselor melakukan konfrontasi atas pernyataan yang diberikan AS:
Jika mas seperti ini dengan menglewatkan makan,minum obat dan tidak
tidur, hal itu tidak akan menyelesaikan masalah namun akan membuat
76



mas AS sakit dan proses penyembuhan mas AS semakin lama.
Kalau mas AS ke luar negeri dengan tidak berbekal apa-apa hanya
nekat saja bukankah di sana mas AS akan semakin bingung. Apalagi
mas AS tidak bisa berbahasa Inggris lho. Bahasa Inggris itu bukanlah
bahasa mudah yang dapat kita pelajari dalam satu atau dua hari saja
tetapi bisa sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Itupun bagi
mereka yang memiliki daya ingat yang baik dan sehat.
Jangan sampai mas AS disana tidak punya sanak saudara dan kambuh
kembali, siapa yang akan menolong mas AS. Kan kalau di sini mas AS
enak masih ada keluarga yang masih memperhatikan mas AS.
Jika teman mas AS dendam dan ingin sekali membunuh mas AS, lalu
kenapa mas AS bisa hidup sampai sekarang? Dan keluarga mas AS
tetap utuh.
Untuk hal kecil saja seperti minum obat mas AS masih menyepelehkan
apalagi kalau mas AS diberi tanggung jawab yang besar?
Kalau tetangga mas AS juga benci dan tidak suka mas AS, kemarin
waktu mas AS mengantar saya ke parkiran tidak mungkin mereka
menyapa mas AS dengan tersenyum dan mengajak mas AS ngobrol
77



banyak.
Guna-guna itu hanya ada di jaman dahulu mas. Hanya orang yang
imannya kurang kuat percaya dengan hal seperti itu.Coba mas AS lebih
banyak sholat dan mengaji untuk menghindari dari hal semacam itu.
Bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah malah kalau mas AS
bunuh diri nanti di neraka mas AS akan disiksa.
Ada beberapa distorsi kognitif yang dialami AS, antara lain:
a. Mudah membuat kesimpulan tanpa adanya fakta yang mendukung.
Mereka berkumpul membicarakan aku mbak.
b. Kecenderungan memperbesar dan memperkecil masalah.
Mendramatisir kondisi, jika aku tetap dikejar seperti ini maka
lebih baik aku mati saja.
Mengabaikan harapan dan peraturan orangtua untuk meminum
obat atau kontrol agar ia sembuh, percuma kontrol dan minum
obat karena obat tidak akan menyelesaikan masalahku.
Merasa dirinya paling menderita, aku sedih dikejar terus dan
tidak ada yang percaya bahwa aku akan dibunuh.
c. Personalisasi: kecenderungan menghubungkan antara kejadian
78



eksternal dengan diri sendiri dan menyalahkan diri sendiri.
Kenapa selalu aku yang dicari oleh orang dan selalu mereka
ingin membunuhku?
d. Kesalahan dalam menduga pikiran orang lain sehingga salah
mengambil keputusan.
Mereka berkumpul untuk membicarakan aku. Mereka
membicarakan keburukanku pada masa lalu dan menyebutkan
bahwa aku terkena karma. Mereka hanya baik di luar ketika ada
mbak, sebenarnya mereka iri karena aku dekat dengan mbak.
Teman-temanku yang dahulu dekat denganku sekarang pergi
meninggalkanku mbak karena aku sudah tidak berguna lagi bagi
mereka.
5.
Intervensi Tingkah Laku
Intervensi perilaku yang diberikan adalah dengan memberi saran perilaku
apa yang telah AS lakukan. Hal-hal yang dilakukan:
1. Komunikasi yang berkualitas dengan keluarga khususnya orangtua.
2. AS lebih memperhatikan kesehatan terutama pola makan dan minum
obat teratur.
3. Berinteraksi dengan tetangga dengan keluar membeli kebutuhannya
79



sendiri.
6. Perubahan Core Belief AS :
7.
Pencegahan Relaps
Usaha-usaha untuk mempertahankan perubahan perilaku sehingga
mencegah terjadinya relapse yaitu dengan :
Mengontrol diri dengan menilai diri sendiri dengan kenyamanan
yang dirasakan ketika ia bergaul dengan orang di sekitarnya.
AS : sejauh ini ya aku bisa ngobrol dengan mereka meski tidak lama
mbak. Aku berusaha baik saja sama mereka dan semoga
mereka tidak berbicara macam-macam di belakangku mbak.
Menyadarkan bahwa AS memiliki kesiapan untuk menerima
konsekuensi atas pilihan yang dibuat.
AS : sejauh ini aku siap mbak jika mereka memintaku minta maaf.
AS : aku akan membuka lembaran baru mbak dengan orang yang
baru juga.




80



Tabel 18
PENCATATAN HASIL PSIKOEDUKASI I
Tanggal Nama Data Faktual
Proses Yang Terjadi Selama Sesi
Berlangsung
Hasil Dari Tiap Sesi
MT &
ES
Orangtua belum memahami
gangguan yang dialami AS
Orangtua tampak lancar dalam
menceritakan kabar AS, dan selalu
menyebutkan bahwa AS memiliki sifat
yang membangkang.
Sakit yang dialami AS karena
perasaan ketakutan, sedih, dan
kecewa yang berkepanjangan
sehingga membuatnya depresi.


Catatan Perbaikan
Agenda Pertemuan
Berikutnya
Mencatat Perasaan
Konselor
Tanda Tangan
konselor
Harapan kepada keluarga untuk tetap
melakukan kontak setiap hari dengan
menanyakan ADL AS sehingga AS
merasa diperhatikan. Dan juga
menghilangkan mindset bahwa AS sakit
karena diguna-guna.
Adanya kerja sama yang baik
Apa penyebab terjadinya
gangguan

81




Tabel 19
PENCATATAN HASIL PSIKOEDUKASI II
Tanggal Nama Data Faktual
Proses Yang Terjadi Selama Sesi
Berlangsung
Hasil Dari Tiap Sesi
MT &
ES
Orangtua belum memahami
penyebab gangguan yang
dialami AS
Orang tua tidak pernah menuntut sesuatu
yang berlebihan kepada AS, AS jarang
mengutarakan perasaannya.
Pemahaman orang tua kalu AS
memiliki harapan yang tinggi,
perasaan sedih karena ditinggalkan
teman-teman baiknya.


Catatan Perbaikan
Agenda Pertemuan
Berikutnya
Mencatat Perasaan
Konselor
Tanda Tangan
konselor
Harapan kepada keluarga agar mampu
memberikan refleksi yang tepat atas apa yang
disampaikan AS dan mencoba memahami
bahwa penyebab penyakit yang diderita oleh
AS adalah bukan karena faktor ilmu gaib.
Adanya kerja sama yang baik
Role play : Refleksi isi dan
perasaan.

82



Tabel 20
PENCATATAN HASIL PSIKOEDUKASI III
Tanggal Nama Data Faktual
Proses Yang Terjadi Selama Sesi
Berlangsung
Hasil Dari Tiap Sesi
MT &
ES
Orangtua belum memahami
cara memberikan refleksi yang
tepat kepada AS
Orang tua cukup kooperatif untuk belajar
memberikan refleksi
Selama ini orang tua kurang mampu
memberikan refleksi sehingga respon
yang diberikan orangtua cenderung
ketus.


Catatan Perbaikan
Agenda Pertemuan
Berikutnya
Mencatat Perasaan
Konselor
Tanda Tangan
konselor
Orang tua lebih bersikap empati Adanya kerja sama yang baik
Psikoedukasi obat



83



Tabel 21
PENCATATAN HASIL PSIKOEDUKASI IV
Tanggal Nama Data Faktual
Proses Yang Terjadi Selama Sesi
Berlangsung
Hasil Dari Tiap Sesi
MT &
ES
Orangtua belum memahami
efek obat yang dikonsumsi
bagi kesembuhan AS
Orang tua kurang kooperatif dalam untuk
memahami efek obat yang dikonsumsi
oleh AS
Orang tua menjadi pendisiplin untuk
klien agar minum obat dan kontrol
secara teratur.


Catatan Perbaikan
Agenda Pertemuan
Berikutnya
Mencatat Perasaan
Konselor
Tanda Tangan
konselor
Orang tua lebih mengetahui efek obat
bagi kesembuhan AS.
Adanya kerja sama yang baik
Perhatian dari anggota
keluarga yang lain.



84



Tabel 22
PENCATATAN HASIL PSIKOEDUKASI V
Tanggal Nama Data Faktual
Proses Yang Terjadi Selama Sesi
Berlangsung
Hasil Dari Tiap Sesi
LS LS memahami, menyadari
aktivitas minum obat terhadap
AS
LS cukup kooperatif untuk memahami dan
menyadari efek positif dari minum obat
secara teratur bagi kesembuhan AS.
LS memahami pentingnya kontrol
dan minum obat secara teratur bagi
AS.


Catatan Perbaikan
Agenda Pertemuan
Berikutnya
Mencatat Perasaan
Konselor
Tanda Tangan
konselor
LS lebih perhatian kepada AS dengan
mengingatkan AS untuk kontrol dan
minum obat secara teratur.
Adanya kerja sama yang baik
Menjadikan keluarga lebih
peduli dengan kesembuhan
AS.
85



E. Evaluasi Hasil Konseling

F. Saran
1. Klien
a. AS lebih banyak menjalin komunikasi yang baik dengan anggota
keluarganya.
b. AS lebih bersikap terbuka dengan orang lain yang dipercaya, baik
dengan ibu, saudara, maupun teman.
c. Rajin dan teratur minum obat dan mengontrol kondisi kesehatan yang
dialami.
d. Berani untuk berinteraksi dengan tetangga di lingkungan tempat
tinggalnya.
Saran yang ditujukan kepada klien bertujuan untuk menanamkan
kedisiplinan pada klien dalam hal meminum obat baik dalampengawasan
maupun tanpa pengawasan serta mampu memiliki pemahaman bahwa
klien memiliki potensi untuk dapat menjalin hubungan yang baik dengan
orang lain.
2. Keluarga
a. Memberikan dukungan yang penuh terhadap klien agar dapat
menerima segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki klien.
b. Menguatkan bahwa klien dapat sembuh.
c. Membina komunikasi yang baik agar klien dapat lebih terbuka kepada
keluarga tentang masalah yang sedang dihadapi sehingga ia merasa
dihargai dalam keluarga.
d. Memahamidan belajar untuk lebih sabar, apa yang menjadi kebutuhan
klien dan mencoba membantunya.
e. Menciptakan suasana aman dan nyaman di rumah dengan senantiasa
bercerita tentang apa yang dirasakan.
86



f. Lebih tegas dalam mengontrol klien waktu minum obat dan kontrol
ke RSJ.
Saran pada pihak keluarga bertujuan untuk memberikan
pemahaman akan sakit yang dialami klien, dan bagaimana
memperlakukan sehingga dapat memberikan lingkungan yang kondusif.
3. Lingkungan Tempat Tinggal Klien
a. Menyapa dan mengajak klien bicara agar klien merasa diterima dan
diperhatikan oleh orang-orang sekitarnya serta tidak mengucilkan
klien.
b. Memberikan dorongan dan semangat kepada klien agar dapat menata
masa depan yang penuh harapan dan semangat.



87



LAMPIRAN: PELAKSANAAN KONSELING

KONSELING COGNITIVE BEHAVIOR



WAWANCARA DENGAN AS (RUANG KENARI)
Hari, 00-00-2013, pukul 00.00-00.00
EMA :
AS :

WAWANCARA DENGAN AS (RUANG KENARI)
Hari, 00-00-2013, pukul 00.00-00.00
EMA :
AS :


WAWANCARA DENGAN AS (RUMAH)
Hari, 00-00-2013, pukul 00.00-00.00
EMA :
AS :


WAWANCARA DENGAN MT & ES (RSJ MENUR)
Hari, 00-00-2013, pukul 00.00-00.00
EMA :
AS :

WAWANCARA DENGAN MT & ES (RUMAH)
Hari, 00-00-2013, pukul 00.00-00.00
88



EMA :
AS :


PSIKOEDUKASI I
KONSELING DENGAN MT DAN ES (DI RUMAH AS)
Hari, 00-00-2013, pukul 00.00-00.00
Nara
sumber
Dialog Microskill








PSIKOEDUKASI II
KONSELING DENGAN MT DAN ES (DI RUMAH AS)
Hari, 00-00-2013, pukul 00.00-00.00
Nara
sumber
Dialog Microskill







89




PSIKOEDUKASI III
KONSELING DENGAN MT DAN ES (DI RUMAH AS)
Hari, 00-00-2013, pukul 00.00-00.00
Nara
sumber
Dialog Microskill








PSIKOEDUKASI IV
KONSELING DENGAN MT DAN ES (DI RUMAH AS)
Hari, 00-00-2013, pukul 00.00-00.00
Nara
sumber
Dialog Microskill








PSIKOEDUKASI V
KONSELING DENGAN LS (DI RUMAH AS)
90



Hari, 00-00-2013, pukul 00.00-00.00
Nara
sumber
Dialog Microskill
















NARRATIVE RECORDING

Siang itu, Jumat, 24 Mei 2013, pukul 13.00 WIB observer datang ke
rumah AS. Cukup sulit untuk mencari alamat rumahnya dengan beberapa kali
observer harus berputar jauh dan bertanya beberapa kali di jalan. Gang yang
sempit dimana hanya bias dilewati oleh motor saja karena jarak antar satu rumah
dengan rumah yang lainnya berdekatan. Kendaraan observer terpaksa diparkir di
parkiran yang disewakan tiap bulannya.
Kami diterima dengan baik oleh para tetangga ketika kami pertama kali
menanyakan alamat rumah pak MT. Dan benar saja ketika kami sampai di depan
rumah, kami disambut dengan baik oleh ibu dan juga ayah dari AS. Kami
91



berbincang-bincang sesaat di tempat yang dianggap ruang tamu dan pada akhirnya
kami diminta masuk oleh AS ke ruangannya. Rumah terlihat berantakan dari luar
dengan penempatan prabot yang kurang rapi. Ada beberapa ruangan yang hanya
terdiri dari sekat triplek saja. Tembok terlihat kusam dengan penerangan yang
kurang sehingga terlihat suram. Di ruangan AS tersedia sebuah TV berukuran 21
inchi yang berdampingan dengan almari dan juga kasur yang diletakkan langsung
di atas lantai.
Secara ekonomi kelihatan sekali mereka berada dalam keluarga yang
kurang mampu. Namun mereka berusaha untuk menyambut kami dengan
menyuguhkan minuman dan makanan yang menjadi jualan mereka. Ayah AS
bekerja dengan berjualan minuman dan kakaknya, LS, berjualan makanan ringan.