Anda di halaman 1dari 14

BUDIDAYA TANAMAN BAYAM MERAH

(Amaranthus gangeticus L.)


SECARA ORGANIK



LAPORAN

OLEH:










MATA PELAJARAN PRAKARYA
KELAS X MIA 6
SMA NEGERI 1 SINGAPARNA
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Alloh Yang Maha Esa atas rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.
Adapun judul dari laporan ini adalah Budidaya Bayam Merah (Amaranthus
gangeticus L.) Secara Organik, yang merupakan salah satu tugas mata pelajaran Prakarya.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih jauh dari sempurna.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
perbaikan laporan ini dimasa yang akan datang. Akhir kata penulis mengucapkan terima
kasih.


Singaparna, Juni 2014


Penulis,















PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sesuai dengan standar pertanian organik yang ditetapkan secara umum, dalam
melaksanakan pertanian organik harus mengikuti aturan berikut : menghindari
penggunaan pupuk kimia, zat pengatur tumbuh (ZPT), pestisida sintetis, dll.
Pengendalian hama dilakukan dnegan cara mekanis, biologis, dan rotasi tanaman serta
peningkatan kesuburan tanah dilakukan secara alami melalui penambahan pupuk
organik, sisa tanaman, dll.
Dalam pertanian organik tidak ada racun yang dapat membunuh petani baik
secara langsung maupun tidak langsung. Hal termudah dapat dibuktikan dari bahan
dasar pembuatan pupuk organik, pestisida organik, dll. Bahan ini bisa didapat dari alam
dan lingkungan sekitar.
Prinsip yang dikembangkan dalam pertanian organik adalah prinsip kesehatan
yaitu pertanian organik harus melestarikan kesehatan tanah, hewan, tumbuhan, dan
manusia. Prinsip ekologi didasarkan pada sistem dan siklus ekologi kehidupan. Prinsip
keadilan pertanian organik harus membangun hubungan yang mampu mengikat
keadilan lingkungan. Prinsip perlindungan pertanian organik harus dikelola secara hati
hati dan bertanggung jawab.
Revolusi hijau (Green Revolution) yang dicanangkan pada tahun 1970-an telah
mengubah wajah pertanian, tidak saja di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Praktik
tindak agronomi yang bertumpu pada input kimiawi sejak dicanagkannya Revolusi Hijau
memang dapat meningkatkan produksi pangan. Akan tetapi, pada
kenyataannya penerapan dalam jangka waktu panjang sintetik) dengan dosis tinggi
tidak saja berpengaruh menurunkan tingkat kesuburan tanah, tetapi juga berakibat pada
merosotnya keragaman hayati dan meningkatnya serangan hama, penyakit, dan gulma.
Pertanian organik adalah sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu,
dengan cara mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agroekosistem secara alami,
sehingga menghasilkan pangan dan serat yang cukup berkualitas dan berkelanjutan.
Tanaman sayuran termasuk komoditas yang mengosumsi hara tanah cukup
tinggi. Pupuk organik sangat perlu diberikan pada tanaman sayuran, terutama sayuran
yang memerlukan nitrogen. Bahan organik terutama pupuk kandang yang diberikan
pada tanaman harus sudah matang karena bahan organik yang belum matang
mengalami proses dekomposisi yang menghasilkan panas atau racun yang berbahaya
bagi tanaman.
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah
1. dapat melakukan budidaya tanaman bayam Merah (Amaranthus
gangeticus L.) dengan menggunakan sistem organik.
2. Menciptakan lapangan kerja sendiri
3. Memeilhara dan bertanfggung jawab terhadap tanaman






















TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut Fazria (2011) tanaman bayam merah diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom: Plantae ; Divisio: Spermatophyta; Sub Divisio: Angiospermae; Kelas:
Dycotiledoneae; Ordo: Amaranthales; Family: Amaranthaceae; Genus: Amaranthus;
Spesies: Amaranthus gangeticus L.
Batang bayam umumnya tegak, tetapi ada pula yang jenis bayam yang
batangnya menjalar, ada yang batangnya bercabang ada pula yang tidak bercabang.
Warna batang juga ada yang hijau, merah, kuning atau kombinasinya (Sahat dan
Hidayat, 1996).
Daun berbentuk bulat telur dengan ujung agak meruncing dan urat urat daun
yang jelas. Warna daun bervariasi, mulai dari hijau muda, hijau tua, hijau keputihan, dan
berwarna merah (Hadisoeganda, 1996).
Bunga tersusun dalam malai yang tumbuh tegak, keluar dari ujung tanaman
ataupun dari ketiak-ketiak daun. Bentuk malai bunga memajang
mirip ekor kucing, dan pembungaannya dapat berlangsung sepanjang musim atau tahun
(Ariyanto, 2008).
Biji bayam berbelah dua, warna kulit biji hitam atau coklat tua. Dari setiap tandan
(malai) bunga dapat dihasilkan ratusan hingga ribuan biji. Ukuran biji sangat kecil,
bentuknya bulat dan berwarna coklat tua mengkilap sampai hitam kelam, namun pada
varietas maksi bijnya berwarna putih sampai krem (Sahat dan Hidayat,
1996).
Sistem perakaran tanaman bayam merah adalah akar tunggang dan menyebar.
Akarnya berwarna putih kecoklatan, dengan rambut akar yang banyak, tudung akar
yang tepat posisinya menjadi organ penyerapan hara dan air dari dalam tanah
(Hadisoeganda, 1996).
Syarat Tumbuh
Iklim
Keadaan angin yang terlalu kencang dapat merusak tanaman bayam khususnya
untuk bayam yang sudah tinggi. Kencangnya angin dapat merobohkan tanaman.
Tanaman bayam cocok ditanaman didataran tinggi maka curah hujannya juga lebih dari
1500 mm / tahun (Ariyanto, 2008).
Tanaman bayam memerlukan cahaya matahari penuh. Kebutuhan akan sinar
matahari untuk tanaman bayyam cukup besar. Pada tempat ternaungi pertumbuhan
bayam menjadi kurus. Suhu rata rata 16-20
0
C (Hadisoeganda, 1996).
Kelembaban udara yang cocok untuk tanaman bayam antara 40% - 60%.
Kebutuhan matahari 400 800 foot candless, curah hujan 1000 2000 mm / tahun
dengan kelembaban diatas 60% (Fazria, 2011).
Tanaman bayam dapat tumbuh optimal pada ketinggian 0 700 meter. Namun
pada umumnya tanaman ini lebih baik tumbuh didataran tinggi yang bersuhu rendah
(Hadisoeganda, 1996).
Tanaman bayam umumnya tumbuh baik ditanah tanah vulkanis atau ordo
andisol, karena perakaran bayam yang serabut. Namun iklim tanah ini harus dalam
keadaan iklim mikro (Ariyanto, 2008).
Tanah
Bayam dapat tumbuh sepanjang tahun, baik di dataran rendah maupun di
dataran tinggi. pH yang baik untuk pertumbuhannya antara 6-7. Di bawah pH 6,
tanaman bayam akan merana, sedangkan di atas pH 7, tanaman akan menjadi klorosis
(warnanya putih kekuning-kuningan), terutama pada daun yang masih muda (Ariyanto,
2008).
Tanaman bayam sangat reaktif terhadap ketersediaan air didalam tanah. Bayam
termasuk tanaman yang membutuhkan air yang cukup, kelerangan lahan untuk
budidaya tanaman bayam adalah sekitar 15
0
45
0
(Hadisoeganda, 1996).
Tanaman bayam tumbuh disemua jenis tanah seperti ultisol, inceptisol, andisol,
dan entisol. Pada tanah kering suplai air dibutuhkan agar menghindari kekeringan yang
mengakibatkan tanaman immobil (Fazria, 2011).
Pemberian air yang cukup, aerase yang optimal dapat meningkatkan produksi
daun bayam. Namun struktur tanah yang keras akan menyebabkan daun tanaman layu
dan tidak produktif (Sahat dan Hidayat, 1996).
Tanaman ini dapat tumbuh pada tanah tanah gambut. Namun perawatan tanah
tanaman harus secara intensif karena jika perawatan dilakukan secara konvensional
akan menyebabkan tanaman mengalami lalu permanen (Fazria, 2008)
Kompos
Pengomposan ditakrifkan sebagai proses biologi oleh kegiatan mikroorganisme
dalam mengurai bahan organik menjadi bahan semacam humus. Bahan yang terbentuk
mempunyai berat volume yang lebih rendah daripada bahan dasarnya, stabil,
dekomposisi lambat dan sumber pupuk organik (BPPP, 2007).
Kompos alami yang ada dialam adalah humus, humus adalah bahan organik
yang tersimpan bertumpuk tumpuk dipermukaan tanah selama bertahun tahun
secara liar tanpa ada campur tangan manusia. 20 30 cm top soil, persentase dari total
seluruh tanah sangat sedikit (Perwitsari, 2011).
Proses pengomposan yang baik dan berjalan cepat memerlukan penghawaan
yang berjalan lancar. Membalik kompos setiap tiga minggu bertujuan memeperlancar
sirkulasi udara dan mempercepat proses perombakan bahan organik. Aktivitas mikroba
memerlukan aliran udara yang lancar. Kandungan air yang cukup selama proses
pengomposan merupakan kunci keberhasilan proses dekomposisi secara aerob.
Apabila kompos terlalu basah maka cenderung menjadi kompak dan berlendir, sedang
kalau terlalu kering maka proses dekomposisi tidak berjalan baik (BPPP, 2007).
Kondisi kelengasan dan bahan dasar kompos menentukan nisbah C/N dan nilai
pupuk kompos. Hasil akhir kompos harus mengandung antara 30% - 60% bahan
organik. Pengujian kimiawi termasuk pengukuran C, N dan nisbah C/N merupakan
indikator kematangan kompos. Apabila nisbah C/N kompos 20 atau lebih kecil berarti
kompos tersebut siap digunakan. Akan tetapi, nisbah C/N bahan kompos yang baik
dapat berkisar antara 5 dan 20 (Murbandono, 2008).
Pengukuran suhu kompos menggunakan termometer alkohol diketahui bahwa
proses dekomposisi suhu kompos akan membentuk kurva U terbalik dengan adanya
fase dekomposisi, fase akhir dekomposisi, dan tanahapan dekomposisi. Pada umumnya
fluktuasi suhu kompos dapat naik sampai titik klimaks kemudian turun pertanda
mikroorganisme dalam kompos sudah tidak bekerja lagi. (Rukiyati, 2010).

Budidaya Tanaman Secara Organik
Budidaya tanaman secara vertikal (vertikultur) yang merupakan cara menanam
tanaman yang disusun secara vertikal dapat menjadi alternatif untuk memanipulasi
lahan sempit. Kelebihan sistem ini lahan irit dan produksi dapat maksimal (Aminatun,
2003).
Teknologi vertikultur sangat meguntungkan bagi penduduk kota besar yang
memiliki lahan terbatas. Teknologi vertikultur bisa untuk berbagai jenis tanaman seperti
seledri, sawi, tomat, pare, kacang panjang, dan mentimun (Guntoro, 2011).
Bila akan menggunakan wadah tanam dari bambu, kita siapkan bambu.
Persyaratan vertikultur adalah kuat mudah dipindahkan. Tanaman yang akan ditanaman
sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan (BPTS, 2011).
Budiaya tanaman secara organik harus memperhatikan bahan bahan yang
digunakan yaitu : kompos yang sudah matang, aplikasi, dan waktu panen yang tepat
karena hal tersebut dapat mempengaruhi harga jual, kualitas produksi, dll. (Mahfud,
dkk., 2000).
Budidaya tanaman secara organik merupakan budidaya tanaman setelah
terjadinya residu pestisida dalam produk pertanian konvensional. Budidaya bayam
secara organik diharapkan mampu meningkatkan kualitas produk untuk menekan residu
bahan kimia berbahaya (Nuryadin dan Sumasni, 2011).
Bayam merah mengandung protein, asam folat dan glution. Bayam merah juga
dapat membersihkan darah setelah melahirkan, memperkuat akar rambut, mengobati
disentri, dan animea. (Warta Kesra, 2012).
Keunggulan nilai nutrisi bayam sayuran terutama pada kandungan vitamin A
(beta kareotein), vitamin C, riboflavin, dan asam amino thiamine dan niacin.
Kandungan terpenting dalam bayam sayur adalah kalsium dan zat besi (Sahat dan
Hidayat, 1996).





BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan dilaksanakan di lahan praktikum prakarya di samping gedung Alula
Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah benih bayam sebagai
bahan tanaman yang akan diamati, tanah sebagai media tanam yang digunakan, karung
bekas sebagai wadah tanam, pupuk kandang kerbau dan air.
Alat yang digunakan adalah cangkul untuk mengolah lahan dan
mengaduk/membalik kompos, gembor sebagai wadah untuk menyiram tanaman dan
kompos, bambu dan plastic sebagai pelindung dari hujan deras.


PELAKSANAAN PERCOBAAN
Pembuatan media tanam
Pembuatan media tanam dilakukan selama 1 minggu. di mulai dari
mencampurkan kotoran kerbau dan tanah dengan rasio 1:3 , kemudian masukan
campuran itu kedalam karung lalu jahit bagian atasnya dan simpan.
Persemaian Benih Bayam
- Potonglah bagian samping karung Media tanam yang telah di simpan
- Gemburkan tanah yang ada dalam karung tersebut agar memudahkan tanaman
tumbuh.
- Semailah benih tanaman bayam merah dengan tertata.
- Timbunlah benih dengan tanah tipis.
- Siram dengan air secukupnya
Pemeliharaan tanaman Bayam
Penyiraman
Penyiraman dilakukan secara rutin setiap hari menggunakan gembor pada sore
hari.



Penyiangan
Penyiangan dilakukan seminggu sekali dengan menggunakan tangan saat gulma
mulai tumbuh di media tanam. Gulma yang tumbuh di media tanam dicabut dengan
tangan sampai lahan bersih dan bebas gulma..
Pemanenan Tanaman Bayam
Pemanenan dilakukan pada saat tanaman bayam sudah berumur 5 MST.

























TABEL PENGAMATAN
No. Bulan Minggu ke- Uraian
1 Tanaman sudah mulai berkecambah dengan tinggi
1 cm
2 Tinggi tanaman mencapai 5 cm, belum ada
masalah apapun
3 Tinggi tanaman hanya bertambah 2 cm menjadi 7
cm, pertumbuhan tanaman melambat
4 Pertumbuhan tinggi tanaman naik signifikan
menjadi 15 cm, terdapat sehelai daun yang bolong
digigit ulat
5 Tinggi tanaman 18 cm, 3 helai daun digigit ulat,
dan terdapat gulma yang tumbuh cukup banyak
6 Setelah pemberian pestisida dan pembersihan
gulma, tinggi tanaman bertambah 5 cm dan lubang
di daun tidak bertambah
7 Tinggi tanaman menjadi 28 cm lubang daun
bertambah banyak, bunga bayam sudah muncul
8 Bunga bayam tambah besar, tinggi tanaman 33 cm
9 Ulat tidak terkendali, lubang bertambah banyak,
tinggi 35cm
Ulat yang banyak ini disebabkan oleh banyaknya ulat di sekitar tanaman bayam
dan keadaan lingkungan sekitar yang buruk.








KESIMPULAN DAN SARAN
Budidaya bayam merah secara organik lebih baik produksinya daripada budidaya
bayam secara konvensional. Karena pada budidaya bayam secara organik diperoleh
kualitas produk yang lebih sehat dan tidak ada tesidu pestisida dan pupuk sintetis. Hal
ini sesuai dengan dengan Sinaga yang menyatakan bahwa hasil pertaian organik
umumnya lebih sehat daripada hasil pertanian konvensional, karena pada budidaya
secara organik residu pestisida tidak ada.

Saran
Diharapkan dalam melakukan percobaan budidaya bayam merah
secara organik harus memperhatikan waktu aplikasi biosida, kompos, dan compost tea
agar diperoleh hasil yang maksimal dan untuk selanjutnya disarankan untuk melakukan
pertanian secara organik karena memiliki peluang besar dimasa depan.


















LAMPIRAN