Anda di halaman 1dari 6

1

STUDI KOORDINASI RELE PROTEKSI PADA SISTEM


KELISTRIKAN PT. BOC GASES GRESIK JAWA TIMUR
Albertus Rangga P. 2206100149
Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya

Abstrak - Suatu industri membutuhkan sistem
kelistrikan yang memiliki keandalan dan
kontinuitas yang baik untuk menjaga
terlaksananya proses produksi. Hal ini
dimaksudkan supaya konsumsi energi listrik oleh
beban-beban industri dapat berlangsung terus
menerus. Oleh karena itu, diperlukan adanya
suatu sistem kelistrikan yang tetap dapat
menyuplai beban ketika sedang terjadi gangguan.
Untuk mewujudkan hal tersebut di PT. BOC
Gases Gresik Jawa Timur, maka perlu adanya
evaluasi ulang dari peralatan rele proteksi
dengan menganalisa sistem kelistrikan di PT.
BOC Gases Gresik Jawa Timur termasuk
koordinasi proteksi dan setting rele pengaman
dengan menggambarkan kurva karakteristik rele
pengaman beserta hasil perhitungan dalam
menentukan setting pengaman.
Dari analisis dapat diketahui bahwa perlu
dilakukan pengaturan ulang untuk rele arus lebih
terutama pelindung motor dengan penambahan
time delay (t>>) sebesar 0,1 detik. Hal ini
bertujuan agar agar pengamanan dapat berjalan
dengan lebih tepat dalam mengatasi gangguan
yang terjadi. Pada rele arus lebih yang terletak
pada feeder dan generator juga dilakukan
pengaturan ulang untuk I>, t>, I>>, dan t>>
sehingga keandalan sistem dapat terjaga dan
bekerja lebih optimal.
1. PENDAHULUAN
Dewasa ini, suatu industri akan selalu
berkembang mengikuti pertumbuhan jaman.
Semakin berkembangnya suatu industri akan
diikuti oleh bertambahnya proses produksi pada
industri tersebut. Hal tersebut akan
mengakibatkan bertambahnya jumlah beban-
beban produksi yang baru. Pertumbuhan jumlah
beban tersebut harus selalu dapat diatasi atau
dijaga kelangsungan suplai dayanya oleh
peralatan pengaman. Hal ini bertujuan agar
apabila terjadi gangguan pada suatu bagian dalam
indsutri maka peralatan-peralatan pengaman
tersebut dapat mengamankan daerah-daerah yang
tidak terkena gangguan sehingga proses produksi
dapat tetap berjalan.
Pengaturan setting pengaman rele dan
koordinasinya ini mempunyai banyak syarat-
syarat tertentu. Ada banyak parameter-parameter
yang harus dipenuhi agar sistem pengaman dapat
berjalan seperti yang diinginkan. Jika persyaratan-
persyaratan tersebut tidak dipenuhi maka dapat
menyebabkan sistem pengaman tidak berjalan
sebagaimana yang diinginkan. Akan tetapi kondisi
yang ideal, yaitu dapat mengamankan peralatan-
peralatan dari gangguan secara sempurna, sangat
jarang bisa dicapai, akan tetapi dalam tugas akhir
ini akan dicari setting pengaman beserta
perhitungannya sehingga sistem pengaman dapat
berjalan mendekati kondisi yang ideal.
Dalam penulisan tugas akhir ini, diasumsikan
semua peralatan (Sistem pembangkitan, sistem
distribusi, motor-motor) berada dalam kondisi
optimal dan dapat bekerja dengan baik
sebagaimana mestinya. Pembangkitan maksimum
menggunakan 8 buah generator dan pembangkitan
minimum menggunakan 7 buah generator. Rele
yang dianalisis hanya rele arus lebih dan sistem
kelistrikan yang dianalisis hanya pada bagian
tegangan tinggi (20 kV ; 11 kV ; 3,3 kV), tidak
termasuk rele tegangan rendah serta tidak
termasuk sistem kelistrikan pada PT.
SMELTING. Sistem kelistrikan pada
PT.SMELTING diasumsikan tidak memberikan
kontribusi arus gangguan pada PT. BOC Gases
Gresik Jawa Timur karena tidak adanya generator
pada sistem PT. SMELTING
2. TEORI PENUNJANG
2.1 Rele Proteksi
Rele proteksi atau yang juga disebut sebagai
rele pengaman adalah salah satu komponen
penting yang digunakan dalam sistem proteksi
atau sistem pengaman jaringan, dan digunakan
untuk mengirimkan sinyal kepada pemutus
(circuit breaker) supaya dapat mebuat keputusan
untuk membuka atau menutup jaringan. Fungsi
utama dari rele ini adalah ketika terjadi gangguan
pada sistem maka peralatan sensing pada rele ini
bertugas untuk mendeteksi adanya
ketidaknormalan pada sistem tenaga listrik dan
selanjutnya mengirimkan sinyal ke pemutus
(circuit breaker) untuk memutuskan jaringan yang
sedang mengalami gangguan.
Rele mempunyai kemampuan untuk
mengubah data masukkan input menjadi sebuah
keluaran yang berbentuk gerakkan kontak. Ada
dua gerakkan yang dimiliki output rele ini yaitu
menutup (close) atau menahan (block). Jika output
rele berada pada posisi menutup maka rele akan
memberikan sinyal untuk melakukan proses
pembukaan circuit breaker ( trip ) yang nantinya
akan mengisolasi sistem yang terkena gangguan
dari sistem-sistem lain yang tidak terkena
2

gangguan. Berikut ini adalah blok diagram dari
cara kerja rele pengaman.


Gambar 1. Blok Diagram Rele

Oleh karena rele merupakan salah satu
peralatan proteksi sistem yang sangat penting,
maka dalam pengaturannya harus dilakukan
dengan secermat dan seteliti mungkin untuk
memperkecil terjadinya kesalahn operasi pada
saat terjadi gangguan.

2.2 Rele Arus Lebih
Rele arus lebih adalah sebuah jenis rele
proteksi yang bekerja berdasarkan prinsip
besarnya arus input yang masuk ke dalam
peralatan sensing rele. Apabila besaran arus yang
masuk melebihi harga arus yang telah disetting
(I
P
) sebagai standart kerja rele tersebut, maka rele
arus ini akan bekerja dan memberikan perintah
pada CB untuk memutuskan sistem.
Pada umumnya karena kebanyakan rele arus
lebih memakai trafo arus ( CT ) sebagai alat
bantu, maka besaran I
P
juga dinyatakan sebagai
arus keluaran gulungan sekunder dari CT. Begitu
pula apabila terjadi arus gangguan (I
F
) yang
terjadi di dalam daerah pengamanan rele juga
dinyatakan terhadap gulungan sekunder CT.
Secara singkat prinsip kerja rele arus lebih
dapat ditulis sebagai berikut :
Jika I
F
> I
P
maka rele bekerja ( trip )
Sebaliknya I
F
< I
P
maka rele tidak bekerja
( block )
Jadi apabila peralatan sensing daripada rele
mendeteksi adanya besaran arus gangguan yang
lebih besar nilainya dari arus kerja yang telah
disetting maka rele akan memberikan perintah
untuk trip. Sedangkan apabila rele mendeteksi
adanya arus gangguan namun besaran arus
tersebut tidak melebihi besar nilai arus kerja maka
rele akan memberikan perintah untuk block.

2.3 Prinsip Kerja Rele Arus Lebih
Rele arus lebih adalah rele yang bekerja
berdasarkan arus lebih akibat adanya gangguan
yang terjadi pada sistem akibat adanya gangguan
hubung singkat atau adanya beban lebih
(overload). Setelah mendeteksi adanya gangguan
maka rele ini akan memberikan sinyal pada
pemutus untuk memutuskan saluran sesuai dengan
karakteristik waktu yang telah ditentukan. Skema
kerja dari rele ini dapat dilihat pada Gambar 2
berikut.

Gambar 2. Rangkaian Rele Arus Lebih

Pada kondisi normal dimana arus yang
terdeteksi oleh kumparan sekunder dari CT tidak
melebihi suatu besaran yang sebelumnya telah
ditetapkan sebagai besaran standart maka kondisi
CB akan tetap menutup dan arus pada sistem tetap
mengalir ke bawah. Dalam kondisi ini tripping
coil akan juga dalam kondisi menutup karena arus
yang terdeteksi masih berada di bawah besaran
standart yang telah ditentukan.
Apabila suatu ketika terjadi sebuah gangguan
pada sistem, maka harga arus yang mengalir pada
sistem akan naik melampaui besaran standart
yang telah ditentukan sebelumnya. Hal ini akan
menyebabkan rele bekerja dengan pertama
menutup kontak rele sesuai dengan harga arus dan
karakteristik yang dimiliki oleh rele tersebut. Ini
akan menyebabkan arus mengalir pada ke tripping
coil sehingga kontak utama CB akan membuka.
Karena terbukanya kontak utama CB, maka arus
dari sistem tidak dapat lewat kembali atau
terputus. Hal ini dimaksudkan untuk segera
mengisolir daerah yang mengalami gangguan agar
tidak sampai mempengaruhi daerah-daerah lain
yang tidak terkena gangguan.

2.4 Penyetelan Rele Arus Lebih Untuk
Gangguan Fasa
Penyetelan rele arus lebih ini
memperhitungkan dua faktor utama, yaitu arus
beban penuh dan arus hubung singkat
minimum.keduanya ini sangat berperan dalam
menentukkan batas bawah dan batas atas dalam
penentuan arus kerja rele.
Untuk batas bawah pada umumnya, sebuah
rele diharuskan untuk tidak bekerja pada saat
beban maksimum sedang terjadi di dalam sistem
atau saat semua motor yang berada di daerah
operasinya sedang bekerja, hal ini bisa dituliskan
dalam persamaan :

(1)

Keterangan :
I
PP
= Setting arus
K
sf
= Faktor keamanan ( 1,05 1,3 )
Gangguan Rele
Pemutus
3

K
d
= Faktor arus kembali dan arus kerja
(0,70,95)
I
FL
= Arus beban penuh

Pada umumnya dalam praktek di lapangan
dipakai faktor sebesar 1,25 ( besaran ini
bergantung pada permintaan seberapa sensitif
peralatan rele arus lebih tersebut diinginkan untuk
bekerja) sehingga persamaan batas bawah di atas
menjadi :
I
PP
= 1,25 * I
FL

Sedangkan untuk batas atasnya, diharapkan
sebuah rele akan bekerja apabila mendeteksi
adanya sebuah arus gangguan terutama gangguan
hubung singkat. Arus gangguan hubung singkat
yang terbesar dihasilkan oleh gangguan hubung
singkat tiga fasa ke tanah sedangkan gangguan
hubung singkat terkecil dihasilkan oleh hubung
singkat antar fasa. Untuk penyetelan batas atas
dipakai arus gangguan yang terkecil yaitu arus
gangguan hubung singkat antar fasa. Hal ini bisa
dituliskan dalam persamaan :
(2)
Keterangan :
I
PP
= Setting arus
K
s
= Faktor sensitivitas ( 1,3 1,5 )
I
sc min
= Arus gangguan hubung singkat
minimum (gangguan antar fasa)

Pada umumnya dalam praktek di lapangan
dipakai faktor sensitivitas 1,3 sehingga persamaan
batas atas di atas dapat ditulis menjadi :
I
PP
= 0,8 * I
sc min
. (3)
Sehingga persamaan untuk penyetelan rele
arus lebih untuk gangguan fasa dapat ditulis
sebagai berikut :
1,25 * I
FL
< I
PP
< 0,8 * I
sc min
..
..
(4)

Sedangkan untuk setting waktu diatur
sedemikian rupa sehingga rele yang berada paling
jauh dari generator / sumber mempunyai setting
waktu yang sekecil mungkin dan rele yang berada
paling dekat dengan generator / sumber
mempunyai setting waktu yang sebesar mungkin.
Hal ini dimaksudkan supaya suplai daya listrik
yang berasal dari generator tidak mudah putus
atau lepas dari sistem apabila terjadi gangguan.
Faktor-faktor yang diperlukan untuk
penyetelan setting waktu ini adalah besarnya arus
hubung singkat maksimum, setting arus, dan
kurva karakteristik rele. Setelah mengetahui
multi-tap current setting dan dengan melihat
kurva karakteristik maka dapat diketahui berapa
setting waktu yang tepat untuk rele tersebut.
3. SISTEM KELISTRIKAN DI PT. BOC
GASES GRESIK JAWA TIMUR
3.1 Sistem Jaringan di PT. BOC Gases Gresik
Jawa Timur
Sistem jaringan yang dipakai di PT. BOC
Gases Gresik Jawa Timur adalah sistem radial.
Sistem tegangan yang dipakai adalah 20 kV; 11
kV; 6 kV; 3,3 kV dan 0,4 kV.

3.2 Sistem Pembangkit di PT. BOC Gases
Gresik Jawa Timur
Sistem pembangkitan yang dipakai di PT.
BOC Gases Gresik Jawa Timur menggunakan 7
buah generator ( dalam kondisi baik ) dengan total
daya 49,6 MW. Terdapat dua pembangkit
cadangan lain yang saat ini sedang tidak
dioperasikan dengan total daya 12,2 MW. Akan
tetapi pada pembangkitan maksimun salah satu
generator cadangan yang berdaya 3,2 MW juga
ikut dinyalakan, hanya pada saat pembangkitan
maksimum saja. Sedangkan saat pembangkitan
minimum hanya tujuh generator saja yang
dinyalakan. Ketujuh pembangkit yang
dioperasikan tersebut merupakan sumber daya
yang utama dalam melayani kebutuhan daya
setiap motor atau beban yang ada di PT. BOC
Gases Gresik Jawa Timur. Sumber dari PLN
hanyalah sebagai cadangan apabila nantinya
terdapat defisit suplai daya. Namun saat ini
sedang direncanakan untuk menyalakan salah satu
pembangkit cadangan dan menjual sisa daya yang
tidak terpakai tersebut ke PLN.

3.3 Sistem Distribusi di PT. BOC Gases
Gresik Jawa Timur
Sebuah sistem distribusi adalah suatu saluran
yang bekerja secara terpadu untuk menyalurkan
energi listrik dari sumber ke beban atau dari
produsen listrik ke konsumen listrik. Sistem
distribusi yang digunakan di PT. BOC Gases
Gresik Jawa Timur ini adalah sistem radial.
Suplai listrik yang berasal dari tujuh generator
dengan total daya 49,6 MW tersebut dialirkan ke
beban-beban atau motor yang ada melalui sebuah
bus dengan sistem tegangan 11 kV. Oleh karena
beberapa dari beban yang ada memakai sistem
tegangan yang berbeda maka dubutuhkan
beberapa transformator daya yang digunakan
untuk menyuplai beban dengan rating tegangan
yang sesuai.
Sedangkan beban-beban yang terdapat di
sistem kelistrikan PT. BOC Gases Gresik Jawa
Timur ini terbagi dalam dua bagian yaitu :

- Substation 1APD-MCC-1
Pada substation ini terdapat tujuh motor
induksi yang membutuhkan suplai daya dari
sistem, ketujuh motor induksi tersebut dapat
dilihat pada Tabel 1 berikut :

4

Tabel 1. Beban Terpasang pada Bus 1APD-MCC-1
No. ID Beban
Rating
Tegangan
(kV)
Rating
Daya
(kW)
FLA
(Ampere)
1 1FWA-P-3C 3,3 223,8 49,48
2 1FWA-P-3B 3,3 223,8 49,48
3 1HRC-FAN-1A 3,3 150 30,35
4 1HRC-FAN-1B 3,3 150 30,35
5 1HRC-FAN-1C 3,3 150 30,35
6 1HRC-P-1A 3,3 447,6 108,76
7 1HRC-P-1B 3,3 447,6 108,76

- Bus 1APD-MCC-2
Pada bus ini hanya ada terdapat satu buah
beban dengan spesifikasi sebagai berikut :.

Tabel 2. Beban Terpasang pada Bus 1APD-MCC-2
No. ID Beban
Rating
Tegangan
(kV)
Rating
Daya
(kW)
FLA
(Ampere)
1 1HRC-P-1C 3,3 447,6 108,76

Tabel 3. Tabulasi Setting Eksisting Rele Motor
ID Rele
CT
Ratio
Eksisting
FLA
(kA)
Tap
Time
Dial
Inst.
52BFP3C 75/5 49,48 0,8 17 8
52BFP3B 75/5 49,48 0,8 17 8
52CTF1A 75/5 30.29 0,55 19 5,9
52CTF1B 75/5 30.29 0,55 19 5,9
52CTF1C 75/5 30.29 0,55 19 5,9
52CWP1A 200/5 98,96 0,87 8 7,1
52CWP1B 200/5 98,96 0,87 8 7,1
52CWP1C 200/5 98,96 0,87 8 7,1

Tabel 4. Tabulasi Setting Eksisting Rele Arus Lebih
ID
Rele
CT
Ratio
Eksisting
Tap
Time
Dial
Inst. Delay
52-2 800/5 6,2 1 None -
52-6 800/5 5.2 1 None -
52-1 300/5 0.5In 4 10 -
52-5 3000/5 0,22In - - 1
52-3 800/5 6,2 1 None -
52-7 800/5 6,2 1 None -
CB-2 250/5 5.46 0,7 None -
52-8 300/5 0.5In 4 10 -
52-16 250/5 5,46 0,7 None -
52-18 250/5 5,46 0,7 None -
52-20 250/5 5,46 0,7 None -
CB-14 3000/5 0,22In - - 1
52-10 3000/5 0,22In - - 1
52-12 300/5 0.5In 4 10 -
52-13 300/5 0.5In 4 10 -
52-11 2000/5 - - - 1

3.4 Koordinasi Rele di di PT. BOC Gases
Gresik Jawa Timur
Koordinasi rele ditujukan untuk menjaga
kontinuitas pelayanan pada daerah yang tidak
terganggu, dengan cara memisahkan secara cepat
daerah yang mengalami gangguan sehingga
keandalan sistem tetap terjaga. Sistem proteksi di
PT. BOC Gases Gresik Jawa Timur, dalam
menentukan setting proteksinya harus
memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
- Kemampuan mengamankan sistem dari
gangguan berupa hubung singkat dan beban lebih.
- Mempunyai selektifitas dalam melakukan
pengamanan.
- Sensitif terhadap gangguan yang dapat
mengganggu sistem operasi.
Untuk tabel koordinasi rele pada PT. BOC
Gases Gresik Jawa Timur bisa dilihat pada Tabel
3 dan Tabel 4.
4. ANALISIS HUBUNG SINGKAT DAN
KOORDINASI RELE DI PT BOC
GASES GRESIK JAWA TIMUR
4.1 Perhitungan Setting Rele di PT. BOC
Gases Gresik Jawa Timur
Pada tugas akhir ini rele arus lebih (Over
Current Relay OCR) yang dianalisis adalah rele-
rele yang bekerja pada sistem tegangan menengah
yaitu pada sistem 20 kV, 11 kV dan 3,3 kV. Rele-
rele ini mempunyai tugas untuk mengamankan
peralatan-peralatan utama seperti generator,
busbar, transformator dan motor yang ada pada
sistem. Karena sebuah sistem adalah mungkin
untuk terkena suatu gangguan, maka perhitungan
dengan memperhatikan kemampuan serta setting
peralatan menjadi penting untuk menghindarkan
terjadinya hal-hal yang dapat berakibat fatal pada
sistem secara keseluruhan.
Dalam tugas akhir ini perhitungan-
perhitungan akan dilakukan dengan memakai
simulasi ETAP Power Station. Perhitungan yang
dilakukan menyangkut arus hubung singkat
maksimum (hubung singkat 3 pada saat
pembangkitan maksimum) dan arus hubung
singkat minimum (hubung singkat 2 pada saat
pembangkitan minimum) atau dengan cara
mengalikan arus hubung singkat maksimum
dengan koefisien 0,866 pada kondisi
pembangkitan minimum.

4.2 Analisis Setting Rele
Setelah mengetahui besar arus hubung
singkat yang dapat terjadi pada setiap bus dan
dapat merusak peralatan-peralatan yang ada pada
bus tersebut, maka perlu dilakukan perhitungan
setting rele yang digunakan untuk mengamankan
sistem tersebut dengan membatasi besaran
nominal arus untuk menjaga kestabilan sistem.
Data-data yang diperlukan dalam perhitungan
analisis setting rele ini adalah rating trafo arus
yang dipakai, karakteristik rele, kemampuan
peralatan, dan rating tegangan kerja. Berikut ini
contoh perhitungan analisis setting rele untuk rele
arus lebih (50/51) :

- Setting Rele untuk Bus 1APD-MCC-1

SLD untuk bus 1APD-MCC-1 adalah sebagai
berikut seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.
5


Gambar 4. SLD untuk Bus 1APD-MCC-1

a. CB 52BFP3C
Jenis Rele : GE Multilin 239
CT : 75/5 A
Tap : 0,15 - 20
FLA :
=
LRA (arus starting) :
= 6 x FLA = 6 x 49,58 = 297,48 A
Tap :
( Tap dipilih 4,2 )
- Setting Waktu
Td :
( t diinginkan 0,1 s )

Td
set
1,39
Maka dipilih setting Td : 1,5
- Setting Arus ( I>> )
I
set
< 0,8 x
Isc max motor 1FWA-P-3C = 0,259 kA ( didapat
dengan program ETAP )
I
set
< 0,8 x
I
set
< 11,96
Maka dipilih setting I>> : 8
- Setting Waktu ( t>> )
Dipilih Setting Waktu ( t>> ) : 0,11 s

b. CB 1APD-52-1
Jenis Rele : GE Multilin 735/737
CT : 1000/5 A
Tap : 1,1 2,2
FLA :

( asumsi motor terbesar start terakhir )

LRA (arus starting) :
= Inrush Transformator = 8 x FLA
= 8 = 2068 A

Tap : x In = 1,07 x In
( Tap dipilih 1,1 In)
- Setting Waktu
Td :
( t diinginkan 0,4 s )
= = 0,31
Td
set
0,31
Maka dipilih setting Td : 1
- Setting Arus ( I>> )
I
set
< 0,8 x
I
set
< 0,8 x
I
set
< 12,4
Maka dipilih setting I>> : 4,5
- Setting Waktu ( t>> )
t>> : 0,11 + 0,3 = 0,41 s
Dipilih Setting Waktu ( t>> ) : 0,41 s

c. CB 52-1
Jenis Rele : GE Multilin 735/737
CT : 300/5 A
Tap : 1,1 2,2
FLA :
(FLA trafo sisi tegangan rendah
dirubah ke dalam tegangan tinggi)
LRA ( arus starting ) :
(LRA trafo sisi tegangan rendah
dirubah ke dalam tegangan tinggi)
Tap : x In = 1,07 x In
( Tap dipilih 1,3 In )
- Setting Waktu
Td :
( t diinginkan 0,6 s )

Td
set
4,4
Maka dipilih setting Td : 4,5
- Setting Arus (I>>)
< I
set
< 0,8 x


Dipilih I = 5000 A
I / ( nCT ) = 5000 / ( 300 ) = 16,67
Dipilih setting I>> : 16
- Setting Waktu (t>>)
Dipilih Setting Waktu (t>>) : 0,12 s

4.3 Hasil Koordinasi Rele Arus Lebih pada
PT. BOC Gases Gresik Jawa Timur
Hasil koordinasi rele arus lebih setelah
dilakukan analisa perhitungan sesuai rumus dapat
dilihat pada Tabel 5.

5. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil simulasi dan analisis, dapat
diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
- Dengan pengintegrasian yang dilakukan PT.
BOC Gases Gresik Jawa Timur ke PLN
6

menyebabkan short circuit level di PT. BOC
Gases Gresik Jawa Timur meningkat, contoh
pada bus 11 kV BUS-1 kondisi sebelum
pengintegrasian arus hubung singkat
maksimum sebesar 29.804 kA menjadi 39.285
kA, hal tersebut mengharuskan adanya
koordinasi ulang (resetting) dari rele arus lebih
agar dapat lebih sensitif.

- Hasil Koordinasi Setting Rele

Gambar 5 Gambar Hasil Resetting untuk Bus
1APD-MCC-1 dengan motor 1FWA-P-3C

Tabel 5. Hasil Koordinasi Rele Arus Lebih
Rele
Resetting
IDMT High Setting
I> t> I>> t>>
52BFP3C 4,2 1,5 8 0,11
52BFP3B 4,2 1,5 8 0,11
52CTF1A 2,7 2,5 5 0,11
52CTF1B 2,7 2,5 5 0,11
52CTF1C 2,7 2,5 5 0,11
52CWP1A 3,4 0,65 5,2 0,11
52CWP1B 3,4 0,65 5,2 0,11
52CWP1C 3,4 0,65 5,2 0,11
1APD-52-1 1,1In 1 4,5 0,41
1APD-52-2 1,1In 1 4,5 0,41
52-1 1,3In 4,5 16 0,12
52-8 In 4 15 0,12
52-12 1,3In 4,5 16 0,12
52-13 In 4 15 0,12
52-5 0,8In 2,5 5 0,5
52-10 0,8In 2,5 5 0,5
CB 14 In 2 5 0,5
52-2 5,2 0,3 None -
52-6 4,4 0,3 None -
52-3 5,2 0,3 None -
52-7 5,2 0,3 None -
CB 2 5,3 0,4 None -
52-16 5,3 0,4 None -
52-18 5,3 0,4 None -
52-20 5,3 0,4 None -
52-11 0,9In 2 4 0,72
MHI-4 0,9In 1 5 1
Keterangan : = Resetting
- Setelah dilakukan perhitungan ulang analisis
koordinasi rele arus lebih, terdapat beberapa
koordinasi yang kurang sempurna pada sistem
eksisting, terutama pada rele motor, dimana
sebelumnya tidak dilakukan pegaturan time
delay (t>>), pada rele yang berada di saluran
feeder, pengaturan I>, t>, I>>, t>> pun tidak
sesuai dengan perhitungan secara manual
dengan mengacu pada teori dan rumus.
- Setelah dilakukan resetting, maka pada rele
motor dilakukan penambahan t>> sebesar 0,11
s. dengan harapan agar pengamanan dapat
berjalan dengan lebih tepat dalam mengatasi
gangguan yang terjadi. Untuk rele-rele arus
lebih yang berada pada saluran feeder, juga
dilakukan pengaturan ulang baik I>, t>, I>>,
t>> sesuai dengan rumus perhitungan dan teori
yang ada untuk mencapai sistem proteksi yang
ideal. Untuk rele pelindung generator, hanya
dilakukan perubahan pengaturan setting untuk
I> dan t> berdasarkan perhitungan rumus.

DAFTAR REFERENSI
[1] Wahyudi,Ir. Diktat Sistem Pengaman
Tenaga Listrik, JTE-ITS, Surabaya, 2007.
[2] Ontoseno P, Diktat Mata Kuliah Analisis
Sistem Tenaga I, JTE-ITS, Surabaya, 2008.
[3] Ontoseno P, Diktat Mata Kuliah Analisis
Sistem Tenaga II, JTE-ITS, Surabaya, 2008.
[4] Datasheet, Motor Protection Relay, 239,
GE Multilin.
[5] Datasheet, SR Feeder Relay, 735/737, GE
Multilin.
[6] Datasheet, Generator Protection, M-3420,
Beckwith Electric Company, 2001.
[7] Irwin Lazar, Electrical System Analysis and
Design for Industrial Plants, McGraw-Hill,
Inc, 1980
[8] Titarenko M.Ivonovsky,Protective Relaying
in Electrical Power System.
[9] P.M. Andersson, Power System Protection,
McGraw-Hill, 1998.
[10] Sanil S. Rao,Switchgear and Protection,
Khanna Publishes, 1980.

BIODATA PENULIS
Albertus Rangga Permana
lahir pada tanggal 5 Maret
1988 di Surabaya.
Menempuh pendidikan
sekolah menegah di SMPK
St. Clara Surabaya angkatan
2000 dan SMAK St. Louis I
Surabaya angkatan 2003.
Pada saat ini sedang
menyelesaikan kuliah di
jurusan teknik elektro di ITS angkatan 2006. Pada
semester 5 mengambil bidang studi atau
spesialisasi teknik sistem tenaga.