Anda di halaman 1dari 20

1

Laporan kasus

SEORANG PASIEN DENGAN DIAGNOSIS SKIZOFRENIA
PARANOID




Oleh :
Reni Christiani Ibrahim
13014101102











BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2014
2

LAPORAN KASUS


I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. J.R
Umur : 35 tahun
Jenis kelamin : Laki-Laki
Tempat/tanggal lahir : Atep, 20/05/1979
Status perkawinan : belum menikah
Jumlah anak : -
Pendidikan terakhir : SD
Perkerjaan : Petani
Suku/bangsa : Minahasa/Indonesia
Agama : Kristen protestan
Alamat sekarang : Atep Dsn.VIII Langowan Timur
Tanggal MRS : 26 Juni 2014
Cara MRS : Pasien datang diantar oleh keluarga
Tanggal pemeriksaan : 27 Juni 2014
Tempat pemeriksaan : Ruangan Intensif III Pria
RS. Prof. Dr. V. L. Ratumbuysang Manado


II. RIWAYAT PSIKIATRIK
Riwayat psikiatri diperoleh pada tanggal 27 Juni 2014, di ruangan
perawatan Intensif III Pria RS. Prof. Dr. V. L. Ratumbuysang Manado dari:
- Autoanamnesis dengan pasien.
- Catatan rekam medis pasien.
- Aloanamnesis dengan: Tn.E.R (60 tahun), ayah pasien, suku
Minahasa, pendidikan tidak sekolah, pekerjaan petani.



3

A. Keluhan Utama
Mengamuk dan membongkar barang-barang, karena mendengar adanya
bisikan yang menyuruhnya. Perasaan takut, dan curiga.

B. Riwayat Gangguan Sekarang
Pasien mengatakan sering mengamuk dan membongkar barang-barang
tanpa sebab hanya karena mendengar adanya bisikan yang menyuruh pasien
melakukan hal tersebut sejak 2 bulan terakhir, muncul sekitar 2-3x, biasanya
dipicu jika pasien sedang sendirian. Pasien meyakini bisikan yang didengarnya
adalah suara iblis. Pasien juga mengatakan pernah melukai diri sendiri karena
mendengar ada bisikan yang menyuruhnya. Riwayat pernah mengalami keluhan
yang sama sejak tahun 2003 dan sudah bolak balik masuk rumah sakit. Pasien
juga menjadi merasa curiga akan diceritakan oleh orang lain, dan takut akan
keramaian.
Pasien juga mengeluh kadang merasa gelisah dan tegang yang sudah
dialami sekitar 11 tahun yang lalu. Keluhan ini bermula ketika pasien
mendapatkan penyakit malaria, setelah itu pasien sering menganiaya fisik dirinya
sampai 7x dengan mengiris-iris tangannya menggunakan silet, sehingga pasien
dibawa ke poliklinik psikiatri RS. Prof. Dr. V. L. Ratumbuysang untuk kontrol.
Menurut ayah pasien, pasien tidak rutin minum obat dan sering muncul kembali
keluhan tersebut bahkan pernah sampai memukul orang tua tanpa sebab
dikarenakan mendengar bisikan yang menyuruhnya untuk memukul orang tua.
Berdasarkan catatan rekam medik, pasien pertama kali kontrol di
Poliklinik RS. Prof. Dr. V. L. Ratumbuysang pada tanggal 24 April 2003, 18 Juli
2010, 18 September 2010 dan 8 November 2013. Pasien pulang dikarenakan
kondisi yang sudah kembali tenang dan dianjurkan rawat jalan, tetapi pasien
sering bolak-balik rumah sakit karena keluhan kambuh kembali. Pada saat dirawat
di RS. Prof. Dr. V. L. Ratumbuysang didiagnosis sebagai skizofrenia paranoid
(F20.0).



4

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Riwayat gangguan psikiatrik
Menurut rekam medis, diketahui pasien sudah pernah dirawat di RS.
Prof. Dr. V. L. Ratumbuysang pada tanggal 24 April 2003, 18 Juli 2010, 18
September 2010 dan 8 November 2013 dengan diagnosis yang sama yaitu
Skizofrenia paranoid (F20.0).
2. Riwayat gangguan medis
Riwayat malaria sejak tahun 2013. Tidak ada riwayat cedera
kepala, tidak ada riwayat digigit anjing, tidak ada riwayat gangguan di organ
lain, tidak ada keluhan nyeri yang mengganggu, tidak ada keluhan yang
berhubungan dengan seksual dan gangguan somatosensorik lainnya.
3. Riwayat penggunaan zat psikoaktif
Pasien hanya mengkonsumsi obat yang diberikan dokter namun
tidak rutin minum. Pasien mengkonsumsi minuman beralkohol sejak masih
muda 20 tahun lalu dan baru berhenti sejak mendapat keluhan kembali
yaitu 2 bulan lalu . Pasien juga merokok sejak masih muda 20 tahun lalu
dan masih mengkonsumsi sampai sekarang.

III. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI
A. Riwayat Prenatal dan Perinatal (usia 0-18 bulan)
Pasien adalah anak kedua dari 3 bersaudara. lahir melalui persalinan
normal di rumah yang ditolong oleh bidan dan dalam keadaan sehat,
menurut pasien langsung menangis, riwayat biru/kuning (-), tanpa cacat
bawaan.

B. Riwayat Masa Kanak Awal (usia 1-3 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan masa kanak awal sesuai dengan
usia pasien. Berat badan tidak diperoleh keterangan. Pada usia ini pasien
mulai belajar berbicara, berjalan dan makan sendiri. Saat kecil pasien
memiliki kepribadian yang ramah dan senang bermain. Pasien minum ASI
dan tidak terdapat masalah dalam makan. Pasien disuruh oleh kedua orang
tua yang tidak memiliki penyakit psikiatrik atau medis.
5

C. Riwayat Masa Kanak Pertengahan (usia 4-11 tahun)
Pasien merupakan anak yang dekat dengan kedua orangtuanya.
Menurut pasien, pasien merupakan murid biasa-biasa saja di sekolah.
Pasien menyelesaikan pendidikan sekolah dasar tanpa ketinggalan kelas.

D. Riwayat Masa Akhir Remaja
Pasien termasuk anak yang dapt bergaul dengan teman-teman di
sekolah dan lingkungan sekitar. Pasien tidak pernah terlibat masalah yang
berarti di dalam sekolahnya. Pasien tidak menyelesaikan SMP hanya atas
keinginan sendiri.

E. Riwayat Masa Dewasa
1. Riwayat pekerjaan
Pasien pekerja sebagai petani. Pasien membantu ayahnya yang juga
bekerja sebagai petani di sawah. Pasien menjadi petani sejak usia 20
tahun.
2. Riwayat psikoseksual
Orientasi seksual pasien adalah lawan jenisnya yang sebaya.
3. Riwayat perkawinan
Pasien belum menikah.
4. Kehidupan beragama
Pasien beragama Kristen protestan dan rajin beribadah. Pasien
beribadah tiap minggu di gereja.
5. Riwayat kehidupan sosial
Hubungan pasien dan keluarga serta tetangganya baik dan tidak
pernah ada masalah.
6. Riwayat pelanggaran hukum
Pasien tidak pernah melakukan perbuatan yang melanggar hukum.
7. Situasi kehidupan sekarang
Pasien tinggal bersama dengan kedua orang tua dalam satu rumah.
Pasien tinggal di rumah orang tua, beratap seng, memiliki 2 kamar
tidur, 1 kamar mandi, 1 ruang tamu dan WC. Pasien sering berinteraksi
6

dengan tetangga dan sering terlibat kerja bakti. Pasien merupakan
orang yang rapih dan tidak suka melihat rumah dalam keadaan
berantakan.
8. Riwayat keluarga
Pasien adalah anak kedua dari 4 bersaudara, pasien termasuk
golongan keluarga dengan finansial yang cukup. Hubungan dengan
orangtua adalah baik. Ayah dan Ibu pasien mendidik pasien dan
saudara-saudaranya dengan kasih sayang walaupun sedikit tegas.

SILSILAH KELUARGA/GENOGRAM







Keterangan :
: Laki-laki : telah meninggal
: Perempuan
: Pasien

F. Persepsi Pasien tentang Diri dan Kehidupannya
Pasien ingin merasa sembuh, dan kembali beraktivitas seperti sedia
kala.





7

IV. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Pasien adalah seorang laki-laki berusia 35 tahun, tampak sesuai
usianya, berkulit sawo matang, rambut hitam, penampilan cukup rapi
dengan menggunakan kaos dan celana pendek. Pasien tampak tenang
saat diwawancara.
2. Kesadaran
Compos mentis.
3. Perilaku dan aktivitas psikomotor
Pasien berbaring di tempat tidur. Pasien dapat mengikuti wawancara
dengan baik.
4. Sikap terhadap pemeriksa
Pasien cukup kooperatif. Pada saat wawancara pasien dapat
menjawab pertanyaan dengan benar tapi masih dibantu oleh orang tua.

B. Mood dan Afek
1. Mood : Eutimik
2. Afek : Serasi
3. Kesesuaian : sesuai afek

C. Pembicaraan
Selama wawancaara pasien menyimak pertanyaan dan menjawab
dengan jawaban yang cukup tepat. Artikulasi cukup jelas walaupun
kadang pasien bicara berbelit-belit, volume sedang dan intonasi jelas, isi
pembicaraan cukup luas.

D. Gangguan Persepsi
Tidak ditemukan halusinasi

E. Pikiran
1. Arus pikiran : koheren
8

2. Isi pikiran : waham dikendalikan (+), halusinasi auditorik (+).

F. Fungsi Kognitif
1. Orientasi
Orientasi waktu : baik. Pasien tahu waktu saat pemeriksaan dan
dapat membedakan siang dan malam.
Orientasi tempat : baik. Pasien mengetahui dimana dia saat ini.
Orientasi orang : baik. Pasien dapat mengenali keluarganya.
Daya konsentrasi : baik.
2. Perhatian
Ketika wawancara berlangsung pasien dapat memusatkan perhatian.
3. Daya ingat
Jangka panjang : cukup baik.
Jangka pendek : cukup baik.
Segera : cukup baik.

G. Penilaian Realitas
Penilaian realitas : Halusinasi auditorik (+) Pasien mengaku sering
mendengar bisikan yang menyuruhnya memukul
seseorang dan membongkar barang-barang.
Waham dikendalikan (+) Pasien meyakini bahwa
bisikan yang dia dengar adalah iblis.

H. Tilikan
Tilikan 4 (pasien menyadari bahwa dirinya sakit dan butuh bantuan
tetapi tidak mengetahui dan memahami penyebabnya).

I. Taraf dapat dipercaya
Penjelasan pasien dapat dipercaya.



9

V. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT
A. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum : sedang
2. Kesadaran : compos mentis
3. Tanda vital : T: 90/60mmHg, N: 90x/m, R: 20x/m, SB: 36,
0
C
4. Kepala : conj.anemis -/-, sklera ikterik -/-
5. Thoraks : C: S
I-II
regular, bising (-)
P: sp.vesikuler, Rh-/-, Wh -/-
6. Abdomen : datar, lemas, BU (+) normal, H/L ttb
7. Ekstremitas : akral hangat, edema (-)

B. Status Neurologi
1. GCS : E
4
M
6
V
5

2. TRM : kaku kuduk (-), Laseque (-), Kernig (-), Brudzinsky I (-)
3. Mata : gerakan normal, searah, pupil bulat, isokor, diameter
3mm/3mm, reflex cahaya (+/+).
4. Pemeriksaan nervus kranialis
a. N. olfaktorius (N.I)
Tidak dilakukan evaluasi.
b. N. optikus (N.II)
Tidak dilakukan evaluasi.
c. N. okulomotorius (N.III), n. trochlearis (N.IV), n. abducens (N.VI)
Selama wawancara dapat diamati bahwa pasien memliki gerakan
bola mata yang wajar.
d. N. trigeminus (N.V)
Selama wawancara berlangsung terlihat wajah pasien simetris.
e. N. facialis (N.VII)
Selama wawancara berlangsung terlihat wajah pasien simetris.
f. N. vestibulocochlearis (N.VIII)
Pasien dapat mendengar dan mengulangi kata-kata dalam jarak
dekat dan jauh. Selama wawancara pasien mampu menjawab
pertanyaan dengan tepat. Hal ini memberi kesan bahwa pendengaran
10

pasien normal. Untuk fungsi keseimbangan pasien, tidak dievaluasi
karena pasien terbaring di tempat tidur.
g. N. glosssopharyngeus (N.IX), n. vagus (N.X)
Artikulasi pasien cukup jelas, kemampuan menelan normal.
h. N. accessories (N.XI)
Selama wawancara berlangsung terlihat bahwa pasien dapat
menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan, hal ini menandakan bahwa
fungsi Nervus Aksesorius pasien dalam keadaan normal.
i. N. hypoglossus (N.XII)
Tidak dilakukan evaluasi.
Ekstrapiramidal sindrom : Tidak ditemukan ada gejala ekstrapiramidal

C. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan


VI. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
Pasien berusia 35 tahun, laki-laki, belum menikah, pendidikan terakhir
tamat SD, suku Minahasa, pekerjaan petani, tinggal di Atep Langowan Timur,
dibawa keluarga ke UGD Jiwa di RS. Prof. Dr. V. L. Ratumbuysang pada tanggal
26 Juni 2014 dengan keluhan utama mengamuk dan membongkar barang-barang,
karena mendengar adanya bisikan yang menyuruhnya. Pasien meyakini bahwa
bisikan yang menyuruhnya adalah iblis. Pasien juga merasa takut akan keramaian,
dan kadang curiga.
Sebelumnya pasien juga pernah mengalami keluhan seperti ini dan sudah
bolak balik masuk rumah sakit. Sejak 11 tahun lalu pasien sudah mengontrolkan
diri di poliklinik psikiatri RS. Prof. Dr. V. L. Ratumbuysang karena keluhan yang
sama dan juga melakukan penganiayaan fisik diri 7x dengan mengiris-iris
tangannya. Kemudian pasien masuk rumah sakit karena mengamuk dan marah
marah tanpa sebab, halusinasi auditorik (+), waham dikendalikan (+), pasien juga
pernah memukul orang tuanya.
11

Hubungan pasien dengan kedua orang tua adalah cukup baik, pasien
membantu ayahnya bekerja di sawah, pasien belum menikah. Pemeriksaan status
mental didapatkan mood pasien eutimik, afek serasi. Pasien cukup tenang dan
kooperatif menjawab pertanyaan dengan volume suara yang sedang dan artikulasi
cukup jelas tetapi kadang agak berbelit-belit. Bentuk pikiran ditemukan koheren.
Isi pikiran ditemukan adanya waham dikendalikan (+) dan halusinasi auditorik
(+). Penjelasan pasien dapat dipercaya. Orientasi waktu, tempat dan orang cukup
baik, Tingkat tilikan 4. Tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan fisik.


VII. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
Aksis I : F20.0 Skizofrenia Paranoid
Aksis II : Ciri gangguan kepribadian paranoid
Aksis III : Tidak ada diagnosis
Aksis IV : Masalah berkaitan dengan lingkungan sosial
Aksis V : GAF scale 70-61 = beberapa gejala ringan dan meetap diabilitas
ringan dalam fungsi, secara umum baik.
GAF scale HLPY 80-71 = gejala sementara, dan dapat diatasi,
disabilitas ringan dalam sosial, pekerjaan, dll.


VIII. PROBLEM
A. Organobiologi : tidak ada
B. Psikologi : Waham dikendalikan (+), halusinasi
auditorik (+), tegang, merasa curiga terhadap orang lain, takut akan
keramaian.
C. Lingkungan dan sosial ekonomi : Sedikit kesulitan dalam interaksi
sosial, pasien hanya suka tinggal dalam rumah karena curiga dan takut
dengan banyak orang.



12

IX. RENCANA TERAPI
A. Psikofarmako
Risperidone 2mg 2x1
THP (Trihexypenidil) 2mg 2x1/2
Merlopam 2mg 0-0-1

B. Psikoterapi dan Intervensi Psikososial
a. Terhadap pasien
Memberikan edukasi dan support terhadap pasien agar
memahami gangguannya lebih lanjut, cara pengobatannya, efek
samping yang kemungkinan muncul, serta pentingnya
kepatuhan dan keteraturan minum obat.
Memberikan dukungan kepada pasien untuk meningkatan rasa
percaya diri, perbaikan fungsi sosial dan pencapaian kualitas
hidup yang baik.
Memotivasi dan memberikan dukungan kepada pasien agar
pasien tidak merasa putus asa dan semangat juangnya dalam
menghadapi hidup ini tidak kendur.
b. Terhadap keluarga pasien
Meminta keluarga untuk tetap memastikan pasien tetap berada
dalam pengawasan keluarga
Memberikan pengertian dan dukungan kepada keluarga akan
pentingnya peran keluarga pada perjalanan penyakit
Meminta keluarga untuk tetap memberikan perhatian penuh
terhadap pasien dan mengawasi pasien dalam meminum obat
teratur serta mengenali gejala-gejala kekambuhan.
Memberikan psiko-edukasi yaitu menyampaikan informasi
kepada keluarga mengenai kondisi pasien dan menyarankan
untuk senantiasa memberikan dukungan selama masa
pengobatan.


13

X. PROGNOSIS
A. Ad vitam : dubia ad bonam
B. Ad fungsionam : dubia ad bonam
C. Ad sanationam : dubia ad bonam


XI. ANJURAN
Dianjurkan kepada keluarga agar dapat memberikan dukungan dan
kunjungan berkala selama masa pengobatan. Memberikan konseling yang teratur
kepda pasien untuk bisa memperbaiki pemahamam tentang realitas yang ada,
tingkah laku, serta pola pikir pasien agar menyadarkan pada pasien bahwa pasien
memerlukan pengobatan yang teratur.




















14

XII. DISKUSI
A. Diagnosis
Skizofrenia adalah gangguan psikotik dan paling sering ditemukan.
Hampir 1% penduduk didunia penduduk di dunia menderita skizofrenia selama
hidup mereka. Gejala skizofrenia biasanya muncul pada usia remaja akhir atau
dewasa muda. Gejala skizofrenia yang paling menonjol adalah waham dan
halusinasi. Skizofrenia terbagi menjadi beberapa subtype berdasarkan variabel
kliniknya yaitu skizofrenia paranoid, skizofrenia disorganisasi, skizofrenia
katatonik, skizofrenia tak terinci, skizofrenia residual, skizofrenia simpleks,
depresi pasca skizofrenia, skizofrenia yang tak tergolongkan, dan depresi pasca
skizofrenia.
1,2
Berdasarkan DSM V, kriteria diagnosis skizofrenia:
a. 2 atau lebih gejala di bawah ini, setiap gejala spesifik dialami selama
kurang lebih 1 bulan. Di antaranya:
Waham
Halusinasi
Inkohorensia
Tingkah laku katatonik
Gejala-gejala negative seperti emosi, dll.
b. Untuk hasil yang lebih signifikan onset masalah tersebut, akan
mengganggu fungsi level satu atau dua lebih area seperti pekerjaan,
hubungan dengan relasi atau diri sendiri.
c. Tanda yang berulang selama kira-kira 6 bulan
d. Gangguan skizoaktif dan depresi atau gangguan bipolar, tetapi tidak
sering.
e. Masalah yang menyangkut penggunaan zat ataupun obat-obatan.
3

Diagnosis pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksan
status mental. Dari anamnesis ditemukan gejala-gejala yang mengarah dengan
diagnosis Skizofrenia Paranoid. Skizofrenia paranoid adalah tipe paling stabil dan
paling sering. Berdasarkan PPDGJ III, kriteria diagnosis skizofrenia paranoid:
1. Halusinasi yang harus menonjol yaitu suara-suara halusinasi yang
mengancam pasien atau memberi perintah, atau halusinasi auditorik tanpa
bentuk verbal berupa bunyi peluit, mendengung, atau bunyi tawa.
15

Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual atau lain-
lain perasaan tubuh, halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol.
2. Waham dapat berupa hamper setiap jenis, tetapi waham dikendalikan atau
passivity dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang
paling khas.
3. Gejala terlihat sangat konsisten, sering paranoid, pasien dapat atau tidak
bertindak sesuai dengan wahamnya.
4

Dalam kasus ini ditemukan pasien termasuk waham dikendalikan (+), dan
halusinasi auditorik (+), karena mengeluh sering mengamuk dan membongkar
barang-barang karena mendengar bisikan yang menyuruhnya. Bisikan tersebut
pasien yakini adalah suara iblis. Gejala paranoid juga terlihat pada pasien ini
karena pasien merasa takut akan keramaian dan curiga dengan orang lain. Gejala
ini sudah dirasakan berluang ulang sejak 11 tahun yang lalu.
Pada pemeriksaan status mental didapatkan mood eutimia yaitu suasana
perasaan dalam rentang normal individu mempunyai penghayatan perasaan
dengan irama hidupnya. Afek yang didapatkan adalah afek serasi yaitu
menggambarkan keadaan normal dari ekspresi emosi yang terlihat dari keserasian
antara ekspresi emosi dan suasana yang dihayatinya.
2


B. Ciri Kepribadian
Ciri gangguan kepribadian ada berbagai macam yaitu ciri gangguan
kepribadian khas, skizoid, paranoid, dissosial, emosional tak stabil, histrionik,
anankastik, cemas, dependen, dan campuran. Pada pasien ini mengarah ke ciri
gangguan kepribadian paranoid. Ciri-ciri gangguan kepribadian ini adalah:
a. Kepekaan berlebihan terhadap kegagalan dan penolakan,
b. Kecenderingan untuk tetap menyimpan dendam misalnya menolak untuk
memaafkan suatu penghinaan dan luka hati atau masalah kecil,
c. Kecurigaan dan kecenderungan yang mendalam untuk mendistorsikan
pengalaman dengan menyalah-artikan tindakan orang lain yang netral atau
bersahabat sebagai suatu sikap permusuhan atau penghinaan,
d. Perasaan bermusuhan dan ngotot tentang hak pribadi tanpa memperhatikan
situasi yang ada (actual situation),
16

e. Kecurigaan yang berulang, tanpa dasar (justification), tentang kesetiaan seksul
dari pasangannya,
f. Kecenderungan untuk merasa dirinya penting secara berlebihan, yang
bermanifestasi dalam sikap yang selalu merujuk ke diri sendiri,
g. Preokupasi dengan penjelasan-penjelasan yang bersekongkol dan tidak
substantive dari suatu peristiwa, baik yang menyangkut diri pasien sendiri
maupun pada umumnya.
Untuk menegakkan diagnosis gangguan kepribadian paranoid dibutuhkan
paling sedikit 3 kriteria diatas. Pada pasien ini didapatkan hanya 1 ciri gangguan
kepribadian cemas yaitu perasaan kecurigaan terhadap orang lain dan takut akan
keramaian, sehingga hanya disebut ciri gangguan kepribadian paranoid (tidak
menggunakan kode diagnostik).
4


C. Rencana Terapi
a. Psikofarmako
Skizofrenia diobati dengan golongan obat anti psikotik. Pada pasien ini
diberikan obat anti psikotik golongan benzisoxazole yaitu risperidone 2mg 2x1.
Risperidone merupakan golongan anti psikosi atipikal dengan mekanisme kerja
adalah memblokade dopamine pada reseptor pasca sinaptik neuron di otak,
khususnya di system limbic dan system ekstrapiramidal (Dopamine D2
receptor antagonists) dan juga berafinitas terhadap Serotonin 5 HT2
Receptors (Serotonin-dopamine antagonists), sehingga efektif untuk gejala
negatif. Efek samping yang terjadi dapat berupa sedasi dan inhibisi psikomotor
(rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerja psikomotor menurun,
kemampuan kognitif menurun), dan gangguan otonomik (hipotensi,
antikolinergik/parasimpatolitik, mulut kering, kesulitn miksi dan defekasi,
hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intraokuler meninggi, gangguan irama
jantung), gangguan ekstrapiramidal (dystonia akut, akathisia, sindrom
Parkinson seperti tremor, brdikinesia, rigiditas), gangguan endokrin,
hematologik biasanya pada pemakaian jangka panjang. Risperidone diberikan
sebagai pilihan pengobatan pasien ini karena resiko terjadi efek samping dapat
ditolerir.
5

17

Pada pasien juga diberikan Trihexyphenidyl (THP) 2mg 2x
1
/
2
yaitu
golongan obat antiparkinson. THP digunakan untuk mengurangi kegoyahan
dan gelisah yang dapat disebabkan oleh beberapa obat penenang. Selain itu
juga pasien diberikan merlopan 2mg 0-0-1 yang merupakan golongan anti
ansietas. Merlopam (Lorazepam) merupakan golongan benzodiazepine, dengan
mekanisme kerja yaitu dapat bereaksi dengan reseptor (benzodiazepine
reseptors) akan meng-reinforce the inhibitory action of GABA-ergic neuron
yang mengendalikan sistem limbik SSP yang terdiri dari dopaminergic,
noradrenergic, dan serotoninergic neurons, sehingga hiperaktivitas yang
terjadi dapat mereda. Efek samping dari penggunaan obat ansietas adalah
sedasi (rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerja psikomotor menurun,
kemampuan kognitif melemah), dan relaksasi otot (rasa lemas, cepat lelah, dll).
Untuk mengurangi resiko ketergantungan obat, maksimum lama pemberian
sekitar 3 bulan dalam rentang dosis terapeutik. Pasien diberikan merlopam
untuk mengatasi gangguan paranoidnya.
5

b. Psikoterapi
1. Psikoterapi supporitf
Ventilasi : memberikan kesempatan kepada pasien untuk
mengungkapkan perasaan dan keluhannya sehingga pasien merasa lega.
Konseling : memberikan penjelasan kepada pasien sehingga dapat
membantu pasien dalam memahami penyakit dan cara mengatasinya
2. Sosioterapi
Memberikan penjelasan kepada keluarga dan orang disekitar tentang
penyakit pasien sehingga dapat memberikan dukungan moral dan menciptakan
lingkungan yang kondusif sehingga dapat membantu proses penyembuhan.







18

XIII. WAWANCARA PSIKIATRI
Wawancara dilakukan di ruang perawatan Itensif III Pria RS. Prof. Dr. V.
L. Ratumbuysang Manado pada tanggal 27 Juni 2014 jam 12.00 WITA. Saat
wawancara pasien sedang berbaring diatas tempat tidur.
A: Pemeriksa B: Pasien
C: Ayah pasien

A : Selamat siang bapak
B : siang dok.
A : perkenalkan saya dokter muda , nama bapak syapa?
B : J.R
A : boleh mo Tanya-tanya sebentar bapak?
B : boleh.
A : bapak umur berapa?
B : 35 tahun
A : tinggal dimana kang?
B : di Atep Langowan
A : bapak bekerja ?
B : ada bantu bapak disawah jadi petani
A : kalau boleh tahu bapak pe pendidikan terakhir apa?
B : cuman sampe SD
A : bapak so berapa lama di sini?
B : baru masuk ulang kemarin, so 11 tahun dirawat disini.
A : kalau boleh tau bapak masuk rumah sakit karena kiapa kank?
B : macam dengar iblis bagitu no
A : boleh dirincikan bapak?
B : ada suara kayak angin jadi tegang-tegang ada suruh pa kita beking ini
beking itu, leng kali 2-3x.
A : ada dapa suruh apa bapak?
B : ada rupa suruh bongkar tu barang-barang, pukul orang bagitu dok.
Pokoknya cari masalah no.
A : trus selain dengar suara-suara ada apa le bapak? Ada liat liat ato cium cium
19

sesuatu padahal disekitar situ nda ada?
B : oh kalau itu nyanda pernah dok.
A : trus sampai sekarang masih ja rasa bagitu? Kong so berapa kali da rasa
bagitu?
B : io sampe sekarang dok, mar so nda rekeng berapa kali no. pokoknya so byk
A : pernah rasa takut atau curiga tidak?
B : pernah dok, rupa tako tako banyak orang, sampe so jarang keluar rumah.
A : curiga pernah?
B : io dok, rasa curiga rupa tu orang-orang da ceritakan pa kita no.
A : pernah rasa punya pikiran kalau orang lain bisa tau ato orang lain ambil?
B : nyanda
A : pernah punya keinginan melukai diri sendiri?
B : ini dank dok, kita da iris-iris tangan pake silet tu lalu tahun 2003.
A : kenapa itu? Ada yang suruh ato bagaimana?
B : io ada yang suruh pa kita, pikiran sendiri dok.
A : makase ne, sekarang kita mo tanya-tanya deng bapaknya? Bapak nama
syapa kang?
C : E.R
A : J.R ada berapa bersaudara? J.R anak keberapa?
C : 3 bersaudara, anak kedua
A : saudara lain bagaimana?
C : baik, so berkeluarga samua dok, tinggal dia belum.
A : J.R pernah sakit apa sebelumnya?
C : ow pernah, tu ada sakit Malaria konk habis itu rujuk kamari karena da jadi
bagini.
A : J.R ada konsumsi alkohol dan rokok?
C : oh itu pernah, da baminum dari muda umur 20 sto, mar so berhenti pas
dapa bagini 2 bulan lalu. Tu merokok sampe sekarang dok.
A : ok ne bapak makase d p waktu. Selamat siang.
B&C : io, makase. Siang.


20

DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan H, Sadock B, Grebb J. Sinopsis Psikiatri: Ilmu Pengetahuan
Perilaku Psikiatri Klinis Jilid I. Binarupa Aksara Publisher. 2010.
2. Elvira S, Hadisukanto G. Buku Ajar Psikiatri. Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; Jakarta. 2010.
3. American Psychiatric Association. DSM-5 Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorders: Fifth Edition. American Psychiatric
Publishing; Washington DC. 2013.
4. Maslim R. Diagnosis Gangguan Jiwa. Pedoman Penggolongan dan
Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia. Edisi III. Bagian Ilmu Kedokteran
Jiwa FK Unika Atma Jaya. PT Nuh Jaya; Jakarta. 2001.
5. Maslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi III.
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya. PT Nuh Jaya; Jakarta.
2007.