Anda di halaman 1dari 37

MESIN MILLING

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Proses Produksi




Penulis :
Arif Rahman Hidayat
NIM : 201302003



POLITEKNIK ENJINERING INDORAMA
TEKNIK MEKATRONIKA
PURWAKARTA
2014

ii





KATA PENGANTAR



Pertama tama penulis ingin memanjatkan puji dan syukur yang besar kepada
Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga
tersusun dan selesainya makalah yang berjudul MESIN MILLING.

Makalah ini bertujuan membahas dasar dasar mesin milling. Makalah ini
terdiri dari tiga bab. Bab I berisi pengenalan mesin milling dan jenis jenis mesin
milling yang banyak digunakan. Bab II menjelaskan tentang proses pemakanan pada
mesin milling Bab III berisi jenis jenis alat potong dan jenis alat pencekam yang
digunakan dalam proses pengerjaan di mesin milling .

Penulis berterima kasih kepada rekan rekan yang telah membantu
dalam pengerjaan makalah ini dengan memberikan ide dan saran yang bermanfaat.
Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada dosen Proses Produksi
yang telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat.

Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Saran
yang membangun diperlukan untuk menyempurnakan makalah ini.




Purwakarta, 28 Juni 2014




Penulis

































































iii





DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR............................................................................................... ii

DAFTAR ISI ............................................................................................................ iii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... iv

BAB I ........................................................................................................................ 1

PENGERTIAN UMUM ............................................................................................ 1

1.1 Pengertian Mesin Milling ........................................................................... 1

1.2 Prinsip Kerja ............................................................................................... 1

1.3 Jenis-Jenis Mesin Milling ........................................................................... 2

BAB II ....................................................................................................................... 5

GERAKAN PEMAKANAN ..................................................................................... 5

2.1 Bagian-Bagian Milling dan Fungsinya ....................................................... 5

2.2 Gerakan-Gerakan Mesin Milling dan Arah Pemakanan ............................. 7

2.3 Perhitungan Dasar pada Mesin Milling ...................................................... 8

2.4 Bentukan yang bisa dikerjakan Mesin Milling ......................................... 11

2.5 Komponen Mesin Milling......................................................................... 12

BAB III.................................................................................................................... 15

ALAT POTONG DAN ALAT PENCEKAM ......................................................... 15

3.1 Alat Potong (Cutter) Milling.................................................................... 15

3.2 Sistem Pencekaman Mesin Milling .......................................................... 25

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 15






iii

iv





DAFTAR GAMBAR



Gambar 1.1 Mesin milling horizontal ........................................................................... 2

Gambar 1.2 Mesin milling vertikal ............................................................................... 3

Gambar 1.3 Mesin Milling universal ............................................................................ 3

Gambar 2.1 Komponen pada Mesin Milling ................................................................ 5

Gambar 3.1 Mata potong muka................................................................................... 17

Gambar 3.2 Mata potong selubung ............................................................................. 17

Gambar 3.3 a) Solid cutter; b) Inserted theeth Cutter ................................................. 18

c) Arbor type cutter; d) Shank type............................................................................. 18

Gambar 3.4 a) Roughing Cutter ; b) Finishing Cutter ................................................ 20

Gambar 3.5 a) Helical Milling Cutter ; b) Slot Milling Cutter ................................... 21

Gambar 3.6 Gear Cutter ............................................................................................. 22

Gambar 3.7 Convex Cutter .......................................................................................... 22

Gambar 3.8 Concave Cutter ........................................................................................ 23

Gambar 3.9 T Slot Cutter ............................................................................................ 23

Gambar 3.10 Pisau frais sudut .................................................................................... 24

Gambar 3.11 Endmill Cutter ....................................................................................... 24

Gambar 3.12 a) Shell Endmill Cutter, b) Heavy Duty Endmill Cutter........................ 25

Gambar 3.13 a) Fixed vice, b) Swivel vice, c) Compount vice.................................... 26

Gambar 3.14 a) Rotary table, b) Fixture Chuck......................................................... 26

Gambar 3.15 Komponen clamp bolt and nut .............................................................. 27

Gambar 3.16 Dividing Head ....................................................................................... 27




v





Gambar 3.17 a) Side Lock Arbor; b) Shell-Mill Arbor............................................... 28

Gambar 3.18 a) Shell Mill Arbor, b) Drill Chuck ....................................................... 29

Gambar 3.19 Collet Arbor .......................................................................................... 29

Gambar 3.20 Boring Head Arbor ............................................................................... 30

Gambar 3.21 Horizontal Arbor ................................................................................... 30











































1




BAB I

PENGERTIAN UMUM



1.1 Pengertian Mesin Milling


Milling merupakan suatu proses pengikisan material untuk membuat suatu
bentukan. Prosedur permillingan yang tepat, pemilihan perkakas yang cocok dan
ketepatan tinggi memungkinkan pembuatan benda kerja akan meperoleh hasil yang
maksimal. Namun dalam pengerjaannya, benda kerja harus memiliki kualitas
permukaan yang baik. Hasil dari prosses milling dapat berupa kasar maupun halus.
Mesin milling (frais) adalah mesin perkakas pembuat suatu permukaan benda
kerja menjadi rata baik horizontal maupun vertikal serta permukaan sudut atau
permukaan miring. Mesin ini juga dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan khusus
seperti : membuat roda gigi, spiral, uril dan masih banyak lagi.
Salah satu contoh dari mesin milling yaitu mesin milling vertikal (tegak). Pada
mesin milling vertikal (tegak) kepala mesin dapat diputar ke arah kanan, kiri, depan
dan belakang dimana spindel mesin terpasang tegak terhadap kepala mesin. Mesin
jenis ini menggunakan cutter yang tegak lurus.


1.2 Prinsip Kerja


Prinsip dasar dari mesin milling adalah pergerakkan alat potong atau cutter
berputar di tempat sedangkan benda kerja bergerak ke arah cutter sehingga terjadi
penyayatan benda kerja oleh cutter.











2





1.3 Jenis-Jenis Mesin Milling


Penggolongan mesin milling menurut jenisnya penamaannya disesuaikan
dengan posisi spindel utamanya dan fungsi pembuatan produknya, ada beberapa jenis
mesin milling dalam dunia manufacturing antara lain:
1.3.1 Mesin Milling Horizontal
Mesin milling jenis ini mempunyai pemasangan spindel dengan arah
horizontal dan digunakan untuk melakukan pemotongan benda kerja dengan
arah mendatar.













Gambar 1.1 Mesin milling horizontal


1.3.2 Mesin Milling Vertikal
Kebalikan dengan mesin milling horizontal, pada mesin milling ini
pemasangan spindelnya pada kepala mesin adalah vertikal, pada mesin milling
jenis ini ada beberapa macam menurut tipe kepalanya, ada tipe kepala tetap,
tipe kepala yang dapat dimiringkan dan tipe kepala bergerak. Kombinasi dari
dua tipe kepala ini dapat digunakan untuk membuat variasi pengerjaan dengan
sudut tertentu.
3


















Gambar 1.2 Mesin milling vertikal


1.3.3 Mesin Milling Universal
Mesin milling ini mempunyai fungsi bermacam-macam sesuai dengan
prinsipnya, seperti misalnya frais muka, frais spiral, dan lainnya. Konstruksi
mesin freis universal tidak berbeda dengan mesin freis datar, perbedaannya
hanya terletak pada mejanya. Meja mesin dapat digeser (diputar) sehingga
membentuk sudut (swivel), disamping dapat bergerak mendatar dan tegak.
Oleh karena itu mesin freis universal sering digunakan untuk membuat benda
kerja roda gigi spiral (heliks). Sumbu utama (spindel) gaungan bidang vertikal
dan horizontal.













Gambar 1.3 Mesin Milling universal
4





Jadi frais universal adalah salah satu jenis mesin frais yang dapat
digunakan pada posisi tegak (vertical) dan mendatar (horizontal) dan memilki
meja yang dapat digeser/diputar pada kapasitas tertentu.


1.3.4 Plano Milling
Plano milling digunakan untuk benda kerja yang besar dan berat.


1.3.5 Surface Milling
Surface milling digunakan untuk produksi massal, kepala spindel dan
cutter dinaikturunkan.


1.3.6 Tread Milling
Thread milling digunakan untuk pembuatan ulir.


1.3.7 Gear Milling
Gear milling digunakan untuk pembuatan roda gigi.


1.3.8 Copy Milling
Copy milling digunakan untuk pembuatan benda kerja yang
mempunyai bentuk tidak beraturan
5





BAB II

GERAKAN PEMAKANAN


2.1 Bagian-Bagian Milling dan Fungsinya


Mesin milling terdiri dari beberapa bagian utama. Adapun bagian-bagian
utama dari mesin milling, antara lain:


























Gambar 2.1 Komponen pada Mesin Milling


1. Spindle Utama
Merupakan bagian yang terpenting dari mesin milling. Tempat untuk mencekam
alat potong. Di bagi menjadi 3 jenis yaitu vertical spindle, horizontal spindle,
dan universal spindle.



6







2. Meja / Table
Merupakan bagian mesin milling, tempat untuk clamping device atau benda
kerja. Di bagi menjadi 3 jenis yaitu, fixed table, swivel table, dan compound
table.
3. Motor Drive
Merupakan bagian mesin yang berfungsi menggerakkan bagian bagian mesin
yang lain seperti spindle utama, meja ( feeding ) dan pendingin ( cooling ). Pada
mesin milling sedikitnya terdapat 3 buah motor yaitu motor spindel utama, motor
gerakan pemakanan (feeding), dan motor pendingin (cooling).
4. Tranmisi
Merupakan bagian mesin yang menghubungkan motor penggerak dengan yang
digerakkan. Berdasarkan bagian yang digerakkan dibedakan menjadi 2 macam
yaitu :
a. Transmisi spindle utama :
b. Transmisi feeding
Berdasarkan sistem tranmisinya dibedakan menjadi 2 macam yaitu :
a. Transmisi gear box
b. Transmisi v blet
5. Knee
Merupakan bagian mesin untuk menopang / menahan meja mesin. Pada bagian
ini terdapat transmisi gerakan pemakanan ( feeding ).
6. Column / Tiang
Merupakan badan dari mesin. Tempat menempelnya bagian bagian mesin yang
lain.
7. Base / Dasar
Merupakan bagian bawah dari mesin milling. Bagian yang menopang badan /
tiang. Tempat cairan pendingin.
7





8. Control
Merupakan pengatur dari bagian bagian mesin yang bergerak. Ada 2 sistem
kontrol yaitu :
a. Mekanik
b. Electric
Dibagi menjadi 2 bagian :
1. Sederhana
2. Komplek ( CNC )


2.2 Gerakan-Gerakan Mesin Milling dan Arah Pemakanan


Seperti yang telah dielaskan pada prinsip kerja, pada mesin milling alat
potong bergerak berputar pada sumbunya. Gerakan-gerakannya ada tiga macam,
yaitu:
1. Main Cutting (Gerakan Pemotongan)
Gerakan main cutting yaitu dengan berputarnya cutter atau alat potong
pada sumbunya. Dengan gerakan ini sisi potong cutter akan memotong benda
kerja secara terus menerus.


2. Feed Motion (Gerakan Pemakanan)
Gerakan Pemakanan adalah gerakan penyayatan yang teratur sehingga
tercapai ukuran dan bentuk yang diinginkan. Gerakan ini dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu:
a. Manual, dilakukan oleh tangan operator dengan cara memutar
hadel yang ada pada mesin, terletak pada sumbu x. Gerakannya ke
arah kanan dan kiri.
b. Otomatis, ditimbulkan oleh putaran motor yang diteruskan oleh
pulley ataupun roda gigi ke meja kerja. Gerakan secara otomatis ini
akan menghasilkan permukaan benda kerja menjadi lebih baik
8





dibandingkan dengan manual karena gerakan pemakanannya yang
konstan.


3. Setting Motion (Penempatan Benda Kerja)
Untuk mesin-mesin manual atau semi otomatis gerakan ini dilakukan
dengan cara memutar hadel yang ada pada mesin. Sedangkan untuk mesin-
mesin yang canggih seperti CNC gerakannya dilakukan dengan menekan
tombol tertentu yang ada pada mesin dan kedalaman pemakanan akan
ditunjukkan pada layer monitor.


2.3 Perhitungan Dasar pada Mesin Milling


Perhitungan pada mesin milling digunakan untuk menentukan ketepatan
pemakanan agar sesuai dengan jenis bahan dan jenis pemotong pada mesin milling.





Keterangan:
n

1000 xCS

xD


N = Kecepatan Putaran (rpm)
CS = Cutting Speed (m/menit)
D = Diameter benda kerja (mm)
= 3,14


2.3.1 Kecepatan Potong (CS)
Selain kecepatan putaran mesin, kecepatan potong pun menjadi hal
yang harus diperhatikan sebelum memulai pengerjaan dengan mesin mlling.
9
































Pada kecepatan potong ada beberapa hal yang mempengaruhi kecepatan
antara lain:
1. Material Alat Potong dan Ketajaman
Perhatikan material alat potong yang kita gunakan sebelum melakukan
pengefraisan. Apabila material yang kita gunakan adalah material yang keras,
maka gunakanlah kecepatan potong yang tinggi dengan catatan ketajaman alat
potong juga harus tinggi. Sebaliknya kalau kita mengunakan kecepatan tinggi
untuk alat potong yang tidak keras dan kuat serta tidak tajam, maka akan
berakibat cutter akan patah atau gempil.
2. Material Benda Kerja yang Akan Kita Kerjakan
Material benda kerja yang kita gunakan akan mempengaruhi kecepatan
potong. Apabila kita mengunakan material yang keras tetapi dengan
10





kecepatan yang tinggi akan berakibat pahat cepat aus dan kemungkinan akan
patah sebelum kita menyelesaikan pengerjaan kita.


3. Kedalaman Pemakanan yang Kita Inginkan
Kedalaman pemakanan yang tinggi akan mengakibatkan beban pada alat
potong semakin besar sehingga kita harus mengunakan kecepatan potong
yang rendah agar tidak menghasilkan tekanan yang terlalu besar pada cutter.


4. Pencekaman Benda Kerja
Apabila kita ingin mengunakan cutting speed yang tinggi usahakan agar
pencekaman pada benda kerja harus kuat. Hal ini dilakukan agar benda kerja
tidak terangkat pada saat pemakanan atau nantinya lepas dari tangem.


5. Jenis Pengerjaan
Kecepatan alat potong juga ditentukan oleh jenis pengerjaan. Apabila kita
melakukan pengerjaan roughing maka kecepatan potong harus tinggi dan
sebaliknya pada proses finishing gunakanlah kecepatan potong yang rendah.


6. Kondisi Mesin
Kondisi mesin juga ikut menentukan kecepatan potong pada proses
pengefraisan. Kondisi mesin yang tua harus mengunakan kecepatan potong
yang rendah agar mesin awet dan tahan lama.


7. Diameter Alat Potong
Perbedaan diameter pada alat potong juga menentukan kecepatan alat
potong yang harus kita gunakan.
11




















2.4 Bentukan yang bisa dikerjakan Mesin Milling


Pengerjaan yang dapat dilakukan oleh mesin milling antara lain:
a. meratakan permukaan sebuah benda
b. membuat lubang
c. membuat permukaan yang miring
d. membuat permukaan spiral
e. membuat bentukan ulir
f. membuat bentukan silindris
g. roda gila
Pemakanan yang paling umum dilakukan mesin milling adalah pemakanan
benda kerja berbentuk kotak atau persegi, walaupun mesin milling sebenarnya dapat
melakukan pemakanan terhadap benda silindris.
Pemakanan pada benda kerja mengunakan mesin milling, dapat dilakukan
dengan pemakanan dari samping (pengikisan samping) dan pemakanan muka
(pengikisan muka). Pada saat melakukan pengikisan usahakan cutter jangan terlalu
banyak mengenai benda kerja, karena ini akan menyebabkan cutter menjadi patah
atau gompel karena cutter tidak mampu menahan beban pengikisan.
dibutuhkan untuk mempermudah proses milling, antara lain:

12





Dalam pemakanan juga harus diperhatikan, material benda kerja dan material
alat potong atau cutter. Material cutter harus lebih kuat dari material benda kerja dan
jangan sampai kita salah memilih material alat potong yang akan kita gunakan.


2.5 Komponen Mesin Milling


Saat melakukan pekerjaan pada mesin milling ada beberapa alat yang
NO KOMPONEN /
PERALATAN
FUNGSI GAMBAR
1 Soft hammer Memparalelkan benda kerja di
swivel vice dan membuka
collet arbor di mesin milling.

2 Kikir/File Mendebur benda kerja agar
swivel vice tidak rusak dan
tidak baret.

3 Parallel Block Alat bantu alas untuk benda
kerja. Cek terlebih dahulu
parallel block yang akan kita
gunakan dengan caliper.

4 End Mill Cutter Roughing Mengurangi allowance dari
material mentah sampai
mendekati ukuran yang
diinginkan.


13
5 End Mill Cutter Finishing Memasukkan ukuran dan
menghaluskan permukaan
benda kerja. Maksimal
pemakanan mm.

6 Measuring Tool (Alat Ukur)
a. Caliper Mengukur benda kerja yang
ukurannya umum atau khusus
tetapi khusus yang allowance-
nya agak besar (>0,02mm)

b. Micrometer Mengukur benda kerja yang
presisi atau mengukur benda
kerja dengan toleransi ISO

9 Swivel Vice Tanggem yang bisa diputar ke
arah mendatar.

10 Side Lock Arbor Digunakan untuk mencekam
alat potong yang bertangkai
silindris dengan diameter
tertentu.

11 Sleeve Arbor Digunakan untuk mencekam
alat potong yang bertangkai
taper.


14
12 Shell Mill Arbor Digunakan untuk mencekam
Shell End Mill cutter (SEMC).

13 Collet Arbor Pencekam alat potong yang
berfungsi untuk memegang
alat potong yang bertangkai
silindris.

14 Collet Pencekam cutter bersama
collet arbor.

15 Drill Chuck Arbor Digunakan hanya untuk
mencekam Twist Drill yang
bertangkai silindris.








BAB III

ALAT POTONG DAN ALAT PENCEKAM


3.1 Alat Potong (Cutter) Milling
Ada tiga hal yang akan dibahas mengenai cutter yaitu material cutter, tipe
cutter, dan jenis cutter.


3.1.1 Material Cutter
Dalam menggunakan mesin milling, selain material benda kerja, kita
juga harus memperhatikan material cutter yang akan digunakan. Berikut
adalah material yang digunakan untuk membuat cutter:

High

Carbon

Steel

Bahan cutter yang paling lunak dengan daya tahan panas terhadap
panas hingga 220
o
C. Biasannya digunakan untuk mengerjakan material
yang lunak seperti kayu atau plastik. Kecepatan potongnya mencapai
0.15 m/s.

High

Speed

Steel

(HSS)

Material ini tahan terhadap panas hingga 600
o
C. Biasanya sering
dilapisi dengan titanium agar tidak cepat aus. Kecepatan potongnya
dapat mencapai 0.8 1.8 m/s.

Cast

Alloy

Material ini dapat tahan pada temperatur sampai dengan 760
o
C.
Kecepatan potong material mampu 60% lebih cepat dari kecepatan
potong High Speed Steel.

Cemented

Carbide

(Cermet)

Material ini lebih keras dibanding High Speed Steel. Kecepatan
potongnya dapat mencapai 150 m/min. Harga menjadi lebih mahal.



15
16






Ceramic

Terbuat dari Alumunium Oxide (Al2O3) sehingga menjadi sangat padat
dan keras, kecepatan potongnya dapat mencapai 600 m/min. Tahan
terhadap temperatur yang tinggi.

Diamond

Material alami yang paling keras. Bahan ini untuk proses super
finishing dan pengerjaan presisi. Tahan terhadap suhu hingga 900
o
C.


3.1.2 Tipe Cutter
Cutter yang digunakan pada mesin milling ada tiga tipe yang masing-
masing mempunyai perbedaan sudut, besar gigi dan sudut potongnya.
a. Tipe H (keras)

Digunakan

untuk

material

yang

mempunyai

keuletan

sampai

100

kpmm
2
.

Mempunyai

sudut

potong

besar.


Sudut

spiral

25
o
.


Jumlah

giginya

banyak.


Pemakanan

tiap

giginya

kecil.

b. Tipe N (normal)

Digunakan

untuk

baja

biasa

yang

mempunyai

keuletan

sampai

80

kpmm
2
.

Sudut

potongnya

tidak

begitu

besar.


Sudut

spiral

30
o
.


Jumlah

giginya

lebih

sedikit.


Pemakanan

tiap

giginya

lebih

besar

c. Tipe W (lunak)

Digunakan

untuk

bahan

yang

lunak.


Sudut

potongnya

kecil.


Sudut

spiral

35
o
.
17






Jumlah

giginya

sedikit.


Pemakanan

tiap

giginya

besar.



3.1.3 Jenis Cutter


Dalam mesin milling ada 2 jenis mata potong dari cutter milling, yaitu:
a. Mata Potong Muka (Face Milling Cutter)









Gambar 3.1 Mata potong muka


b. Mata Potong Selubung (Side Milling Cutter)











Gambar 3.2 Mata potong selubung


Berdasarkan kontruksi permukaan cutter, cutter dibagi menjadi tiga
macam antara lain:
1. Solid Cutter
Seluruh giginya menjadi satu dengan body atau gigi potongnya
berasal dari material asal/bodynya
18





2. Typed Solid Cutter
Seperti halnya solid cutter, hanya giginya saja yang terbuat dari
cemented carbide atau stelite tipis yang dipasang pada body dengan
cara dibrassing sehingga harga cutter dapat ditekan.









a) b)









c) d)


Gambar 3.3 a) Solid cutter; b) Inserted theeth Cutter
c) Arbor type cutter; d) Shank type


3. Inserted Teeth Cutter
Gigi cutter dipasang pada body yang terbuat dari material yang
tidak mahal dan pisau potong dipegang secara mekanikal dan bila
giginya patah/gempil dapat diganti dengan mudah.
Berdasarkan cara pencekamannya cutter dibagi menjadi tiga macam
antara lain:
19





1. Arbor Type Cutter
Jenis ini pada tangkainya dilengkapi dengan lubang atau alur
pasak. Alur ini berguna untuk pemasangan pada arbor mesin
milling sehinggga cutter terpasang dengan kuat.


2. Shank Type Cutter
Cutter ini terdiri dari tangkai yang menjadi satu dengan alat
potongnya. tangkai tersebut bisa silindris atau tirus.


3. Facing Type Cutter
Cutter ini dipegang dengan mengunakan short arbor dan untuk
pemakanan permukaan yang rata.


Berdasarkan arah putarannya cutter dibagi menjadi dua macam antara
lain :
1. Right Hand Rrotational Cutter
Cutter ini dalam pengunaannya berputar berlawanan arah dengan arah
jarum jam dan tipe cutter ini banyak digunakan.
2. Left Hand Rotational Cutter
Cutter ini dalam pemakaiannya berputar searah jarum jam, dan cutter
ini jarang dipakai sehingga sulit didapatkan dipasaran.


Berdasarkan pemakaiannya cutter dibagi menjadi dua macam antara
lain:
1. Roughing Cutter
Cutter yang alur spiralnya terputus untuk mengurangi gaya potong yang
besar ketika proses roughing.
20












a) b)
Gambar 3.4 a) Roughing Cutter ; b) Finishing Cutter


2. Finishing Cutter
Cutter yang alur spiralnya tidak terputus dan hanya dipakai untuk proses
finishing dengan depth of cut yang kecil dan menuntut kehalusan.


Berdasarkan pola alur cutter dapat dibagi dalam tiga macam antara
lain:
1. Pola Alur Lurus
Cocok dipakai untuk pengerjaan material dengan hasil sayatan
pendek-pendek dan chips akan mudah keluar.


2. Pola Alur Miring/Spiral
Terdapat dua macam yaitu spiral kiri dan spiral kanan, biasanya
dipakai untuk benda kerja besar dan pemakanan yang tebal.


3. Pola Alur Profil
Biasanya dipakai untuk membuat permukaan khusus/profil, misalnya
gear, radius, ulir dll. Cutter ini dapat diasah tetapi hanya pada
permukaan potongnya saja, karena apabila bagian lain yang diasah
dapat mengakibatkan perubahan bentuk profil dari cutter.


Pisau mesin frais/Cutter mesin frais baik horisontal maupun vertical
memiliki banyak sekali jenis dan bentuknya. Pemilihan pisau frais
21





berdasarkan pada bentuk benda kerja, serta mudah atau kompleksnya benda
kerja yang akan dibuat. Adapun jenis-jenis pisau frais, antara lain:


a. Pisau Mantel (Helical Milling Cutter)
Pisau jenis ini dipakai pada mesin frais horizontal. Biasanya digunakan
untuk pemakanan permukaan kasar (Roughing) dan lebar








a)














b)
Gambar 3.5 a) Helical Milling Cutter ; b) Slot Milling Cutter




b. Pisau Alur (Slot Milling Cutter)
Pisau alur berfungsi untuk mebuat alur pada bidang permukaan benda
kerja. Jenis pisau ini ada beberapa macam yang penggunaanya
disesuaikan dengan kebutuhan. Gambar 92 a dan b menunjukkan jenis
pisau alur mata sayat satu sisi, gambar 92 c dan d menunjukkan pisau
22





alur dua mata sayat yaitu muka dan sisi, gambar 92 e dan f
menunjukkan pisau alur dua mata sayat yaitu muka dan sisi dengan
mata sayat silang.


c. Pisau Frais Gigi (Gear Cutter)
Pisau frais gigi ini digunakan untuk membuat roda gigi sesuai jenis
dan jumlah gigi yang dinginkan. Gambar 93 menunjukkan salah satu
jenis gear cutter.












Gambar 3.6 Gear Cutter


d. Pisau Frais Radius Cekung (Convex Cutter)
Pisau jenis ini digunakan untuk membuat benda kerja yang bentuknya
memiliki radius dalam (cekung)










Gambar 3.7 Convex Cutter
23





e. Pisau Frais Radius Cembung (Concave Cutter)
Pisau jenis ini digunakan untuk membuat benda kerja yang bentuknya
memiliki radius dalam (cekung)












Gambar 3.8 Concave Cutter


f. Pisau Frais Alur T (T Slot Cutter)
Pisau jenis ini hanya digunakan untuk untuk membuat alur berbentuk
T seperti halnya pada meja mesin frais.











Gambar 3.9 T Slot Cutter




g. Pisau Frais Sudut
Pisau jenis ini digunakan untuk membuat alur berbentuk sudut yang
hasilnya sesuai dengan sudut pisau yang digunakan. Pisau jenis ini
memilki sudut-sudut yang berbeda diantaranya: 30, 45, 50, 60, 70
24





dan 80. Gambar 97 a menunjukkan pisau satu sudut 60 (angle cutter),
Gambar 97 b menunjukkan pisau dua sudut 45x45 (double angle
cutter), Gambar 97 c menunjukkan pisau dua sudut 30x60 (double
angle cutter).












Gambar 3.10 Pisau frais sudut


h. Pisau Jari (Endmill Cutter)
Ukuran pisau jenis ini sangat bervariasi mulai ukuran kecil sampai
ukuran besar. Cutter ini biasanya dipakai untuk membuat alur pada
bidng datar atau pasak dan jenis pisau ini pada umumnya dipasang
pada posisi tegak (mesin frais vertical), namun pada kondisi tertentu
dapat juga dipasang posisi horizontal yaitu langsung dipasang pada
spindle mesin frais.













Gambar 3.11 Endmill Cutter
25





i. Pisau Frais Muka dan Sisi (Shell Endmill Cutter)
Jenis pisau ini memilki mata sayat dimuka dan disisi, dapat digunakan
untuk mengefrais bidang rata dan bertingkat. Gambar menunjukkan
pisau frais muka dan sisi.









a) b)
Gambar 3.12 a) Shell Endmill Cutter, b) Heavy Duty Endmill Cutter


j. Pisau Frais Pengasaran (Heavy Duty Endmill Cutter)
Pisau jenis ini mempunyai satu ciri khas yang berbeda dengan cutter
yang lain. Pada sisinya berbentuk alur helik yang dapat digunakan
untuk menyayat benda kerja dari sisi potong cutter, Sehingga cutter ini
mampu melakukan penyayatan yang cukup besar.


k. Pisau Frais Gergaji (Slitting Saw)
Pisau frais jenis ini digunakan untuk memotong atau membelah benda
kerja. Selain itu juga dapat digunakan untuk membuat alur yang
memilki ukuran lebar kecil.


3.2 Sistem Pencekaman Mesin Milling

3.2.1 JenisJenis Pencekaman Benda Kerja

Harus

tegar

dan

kuat

supaya

dapat

menahan

penetrasi

gaya

akibat

proses

pemotongan.

Mudah

dan

cepat

untuk

penyetelan

pencekaman

benda

kerja.

26





a) Vice atau Tanggem
Fixed vice adalah tanggem yang tidak bisa dirubah atau diputar
posisinya. Swivel Vice adalah tanggem yang bisa diputar kearah mendatar.
Compount Vice adalah tanggem yang dapat diputar kearah mendatar dan
vertikal.









a) b) c)
Gambar 3.13 a) Fixed vice, b) Swivel vice, c) Compount vice


b) Rotary Table
Rotary table adalah alat bantu untuk membuat profil radius dan
memperbesar lubang.












a) b)
Gambar 3.14 a) Rotary table, b) Fixture Chuck


c) Fixture Chuck
Fixture chuck adalah alat yang digunakan untuk pemegang benda kerja yang
berbentuk silindris atau segi banyak beraturan.
27









d) Clamp, Bolt and Nut
Clamp,Bolt and Nut adalah alat untuk mencekam benda kerja yang tidak
dapat dicekam dengan alat bantu yang umum.








Clamping Steping Block Bolt

Gambar 3.15 Komponen clamp bolt and nut


e) Dividing Head/Diverential Head
Dividing head/diverential head adalah alat yang digunakan untuk melakukan
proses pembagian sudut benda kerja dengan tepat.












Gambar 3.16 Dividing Head
28





Contohcontoh pencekaman benda kerja :





























3.2.2 JenisJenis Pencekaman Alat Potong
a. Side Lock Arbor
Side lock arbor adalah alat yang digunakan untuk mencekam alat potong yang
bertangkai silindris dengan diameter tertentu.









a) b)
Gambar 3.17 a) Side Lock Arbor; b) Shell-Mill Arbor
29









b. Sleeve Arbor
Sleeve arbor adalah alat yagn digunakan untuk mencekam alat potong yang
bertangkai tepar.


c. Shell-Mill Arbor
Shell-mill arbor adalah alat yang digunkan untuk mencekam End Mill Cutter.









a) b)
Gambar 3.18 a) Shell Mill Arbor, b) Drill Chuck




d. Collet Arbor
Collet arbor adalah alat yang digunakan untuk Pencekam alat potong yang
berfungsi untuk memegang alat potong yang bertangkai silindris.








Gambar 3.19 Collet Arbor
30





e. Drill Chuck
Drill chuck adalah alat yang digunakan hanya untuk mencekam Twist Drill
yang bertangkai silindris.


f. Boring Head Arbor
Boring head arbor adalah alat yang digunakan untuk memperbesar lubang
dengan ukuran yang lebih presisi.









Gambar 3.20 Boring Head Arbor


g. Horizontal Arbor
Horizontal arbor adalah alat yang digunakan khusus untuk proses milling
horizontal, cutter yang dipakai berjenis plain mill cutter












Gambar 3.21 Horizontal Arbor
31





DAFTAR PUSTAKA


Usher, John T. 1896 . The Modern Machinist. New York : N. W. Henley

Noble, David F . 1984 . Forces of Production: A Social History of Industrial
Automation, New York : Knopf

Roe, Joseph Wickham. 1916 . English and American Tool Builders . Connecticut:
Yale University

Roe, Joseph Wickham . 1918 . The Mechanical Equipment: Volume 3: Factory
Management Course 3 . New York : Industrial Extension Institute, Inc

Woodbury, Robert S. 1972 . [1960], History of the Milling Machine. Massachusetts:
MIT Press,

Encyclopdia Britannica (2011)