Anda di halaman 1dari 4

1

Pendapat Hukum (Legal Opinion) Tentang Penutupan Operasional Tambang


PT. Newmont Nusa Tenggara oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat


Disusun Oleh : Rusdianto S, S.H., M.H., dosen tetap bagian Hukum Tata Negara dan
Pemerintahan Program Pascasarjana Universitas Narotama Surabaya



KASUS POSISI
PT. Newmon Nusa Tenggara (NNT) merupakan perusahaan patungan PT. Newmont Indonesia
Limited (perusahaan asing) dengan PT. Pukuafu yang komposisi sahamnya masing-masing 80%
dan 20%. Kontrak Karya antara PT.NNT dengan Pemerintah Republik Indonesia dibuat dan
ditandatagani pada tanggal 2 Desember 1986.

Berdasarkan Kontrak Karya, 80% saham modal asing harus didivestasikan sebesar 31% sampai
Maret 2010, tetapi mundur hingga Maret 2011. 24% saham telah didivestasikan dan dimiliki oleh
Pemda Sumbawa, Pemda Sumbawa Barat dan Pemprov NTB.

PT.NNT telah menawarkan sisa 7% saham tersebut kepada pemerintah pusat sesuai Pasal 24 ayat
(3) Kontrak Karya. Pemda Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menginginkan agar sisa 7% saham
tersebut dimiliki sepenuhnya oleh Pemda KSB. Akan tetapi hingga tanggal 18 Maret 2011,
pemerintah pusat belum memutuskan siapa yang berhak membeli 7% saham tersebut.

Pada tanggal 18 Maret 2011, Bupati KSB mengirimkan surat kepada PT.NNT yang menyatakan
bahwa jika divestasi 7% saham tersebut tidak diberikan kepada Pemda KSB, maka Bupati KSB
akan menutup operasional tambang PT.NNT pada 19 April 2011.

Presiden Direktur PT. NNT menyatakan bahwa tindakan Pemda KSB tersebut telah melanggar
ketentuan perundang-undangan.

ISU HUKUM DAN PERTANYAAN HUKUM
1. Apakah Pemda KSB berhak memiliki divestasi sisa 7% saham modal asing tersebut?
2. Apakah Pemerintah Daerah KSB berwenang untuk menutup operasional tambang PT.NNT
mengingat Kontrak Karya antara PT.NNT dengan Pemerintah Pusat (Menteri Pertambangan)
dibuat dan ditantatangani pada Tahun 1986?

DASAR HUKUM
1. Pasal 1338 KUH Perdata
2. UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
3. UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal
4. UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara
5. PP Nomor 22 Tahun 2010 tentang Wilayah Pertambangan
6. PP No. 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu
Bara
2

7. Kontrak Karya antara Pemerintah Republik Indonesia dan PT. Newmont Nusa Tenggara

ANALISIS
Analisis I su Satu:
Pasal 2 ayat (4) UU No.32 th. 2004 menyebutkan bahwa Pemerintah daerah dalam
menyelenggarakan urusan pemerintahan memiliki hubungan dengan Pemerintah dan dengan
pemerintahan daerah lainnya termasuk dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya
lainnya yang menjadi kewenangan daerah dan juga hubungan koordinasi antara pemerintah pusat
dan pemerintah daerah dalam bidang penanaman modal sebagaimana dimaksud dalam ketentuan
pasal Pasal 14 ayat (1) huruf n dan Pasal 17 UU No.32 th. 2004 jo Pasal 27 UU No. 25 th. 2007.
Maka berdasarkan ketentuan tersebut, Pemerintah Pusat harus berhubungan dan melakukan
koordinasi dengan pemerintah daerah dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam.
Dalam ketentuan Pasal 24 ayat 3 Kontrak Karya disebutkan bahwa divestasi saham modal
asing akan ditawarkan pertama-tama kepada pemerintah dan jika pemerintah dalam waktu
30 hari sejak diterimanya penawaran itu pemerintah tidak menerimanya, maka barulah divestasi
saham modal asing tersebut ditawarkan kepada warga negara Indonesia atau perusahaan
Indonesia yang dikendalikan oleh warga negara Indonesia.
Dalam kasus ini, permasalahan yang penting adalah defenisi atau tafsiran terhadap
konsep pemerintah. Pemerintah yang dimaksud pada Kontrak Karya tersebut dapat dilihat
dari ketentuan Pasal 1 angka 10 Kontrak Karya yang menyebutkan bahwa Pemerintah berarti
Pemerintah Republik Indonesia, Menteri, Departemen, Badan, Lembaga, Pemerintah Daerah,
Kepala Daerah Tingkat I atau Tingkat II nya. Dengan demikian, maka Pemerintah Daerah
termasuk Kepala Daerah Tingkat I dan II { sekarang Kepala Daerah Provinsi (Gubernur) dan
Kepala Daerah Kabupaten/Kota ( Bupati/Walikota) } juga merupakan pemerintah
sebagaimana yang dimaksud pada Pasal 24 ayat 3 Kontrak Karya.
Dengan demikian, dalam menentukan siapa yang berhak membeli dan memiliki sisa
divestasi 7% saham modal asing tersebut, pemerintah pusat (menteri) hendaknya melakukan
koordinasi dengan pemerintah daerah (gubernur dan/atau walikota). Jika pemerintah pusat tidak
menerima (menginginkan) penawaran divestasi tersebut, maka sudah seharusnya pemerintah
daerah lah yang berhak untuk memiliki sisa 7% saham tersebut.

Analisis I su Dua
Dalam kaitannya dengan kasus penutupan operasi tambang PT.NNT yang akan dilakukan
oleh Pemda KSB, maka untuk dapat mengetahui apakah Pemda KSB memiliki kewenangan
untuk melakukan penutupan operasional tambang atau tidak, para pihak harus tetap
memperhatikan peraturan perundang-undangan dan Kontrak Karya yang telah ditandatangani.
Setiap penanam modal baik penanam modal dalam negeri maupun penanam modal asing,
berdasarkan ketentuan Pasal 15 huruf e dan Pasal 16 huruf f UU No. 25 th. 2007 wajib dan
bertanggungjawab mematuhi semua ketentuan peraturan perundang-undangan. Dengan
demikian, maka setiap penanam modal, baik penanam modal dalam negeri maupun penanam
modal luar negeri harus mematuhi semua peraturan perundang-undangan yang berlaku di
Indonesia.
Ketentuan mengenai diwajibkannya para penanam modal untuk mematuhi semua ketentuan
perundang-undangan tidaklah berarti bahwa penanam modal harus mengikuti semua
kehendak pemerintah diluar isi kontrak karya yang telah disepakati. Karena bagaimanapun,
3

Kontrak Karya atau work of contract itu merupakan salah satu bentuk perjanjian ( Salim HS,
2007: 128) dan merupakan bentuk kerjasama modal asing dengan badan hukum yang
menggunakan modal nasional ( Erman Rajagukguk, dkk., 1995: 186). Bahwa berdasarkan
ketentuan Pasal 1338 KUH Perdata berlaku asas Pacta Sunt Servanda yaitu suatu perjanjian
yang telah disepakati secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.
Oleh karena Kontrak Karya tersebut merupakan perjanjian, maka Kontrak Karya tersebut
merupakan suatu privatrechtelijke rechtshandlingen atau tindakan hukum privat pemerintah
( Philipus M. Hadjon, 2007: 175). Dalam konsep Hukum Administrasi, tindakan hukum privat
pemerintah juga harus tunduk pada Civil Code are also applied as well as action by privat
persons ( Ching- Hsiou Chen dalam Yong Zhang, 1999: 31 ) dan bukan merupakan suatu
publiekrechtelijke rechtshandlingen atau tindakan hukum publik pemerintahan yang bersifat
sepihak ( Tutik Triwulan Titik, 2010: 326 ).
Dengan demikian, maka segala bentuk tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pemerintah
maupun Pemda KSB harus tunduk terhadap ketentuan Kontrak Karya yang disepakati tersebut,
termasuk prosedur penutupan operasional tambang.
Untuk proses pengakhiran Kontrak Karya atau penutupan operasi tambang, maka harus
diperhatikan ketentuan Pasal 20 ayat 1 Kontrak Karya, yaitu bahwa pemerintah (termasuk
pemerintah daerah) jika PT.NNT lalai (default) dalam hal ini tidak memberikan divestasi
saham kepada pemerintah maka pemerintah harus memberikan teguran atau pemberitahuan
tertulis kepada PT.NNT dan PT.NNT mendapat jangka waktu maksimal 180 hari untuk
memperbaiki kelalaian tersebut. Dan jika selama 180 hari tersebut PT.NNT tidak
memperbaiki kelalaiannya maka pemerintah dapat mengakhiri Kontrak Karya, yaitu
pemberhentian atau penutupan operasional tambang.
Akan tetapi, dalam hal ini, istilah pemerintah yang dimaksud juga masih
membutuhkan penafsiran (lihat penjelasan tentang siapa yang dimaksud dengan
pemerintah pada analisis isu 1). Apakah Pemerintah Pusat ataukah Pemerintah Daerah yang
berwenang untuk menutup atau mengakhiri kontrak karya?. Oleh karena itu, maka penting untuk
memperhatikan ketentuan Peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu UU No.4 th.2009
sebagai pengganti UU No. 11 th. 1967 termasuk juga Peraturan pelaksananya, dalam hal ini PP
No. 22 th. 2010 dan PP No. 23 th. 2010.
Konsep kewenangan merupakan konsep hukum publik khususnya Hukum Administrasi.
Untuk mengetahui apakah pejabat Tata Usaha Negara memiliki kewenangan atau tidak maka
dapat dilihat dari tiga hal, yaitu bevoegdheid ratione materie ( berwenang karena materi ),
bevoegdheid ratione loci ( berwenang karena tempat ) dan bevoegdheid ratione temporis (
berwenang karena waktu).
Materi yang menjadi objek permasalahan adalah termasuk dalam jenis pertambangan
mineral logam sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 34 ayat (2) hruf b UU No. 4 th.
2009 jo. Pasal 2 ayat (2) huruf b PP no. 23 th. 2010 dan juga seperti tercantum dalam Pasal 1
angka 6 Kontrak Karya.
Izin Usaha Pertambangan (IUP) produksi pertambangan PT.NNT diberikan oleh Menteri
karena Kontak Karya tersebut dibuat dan ditandatangani pada tahun 1986 sebelum diterapkannya
sistem otonomi daerah di Indonesia.
Untuk jenis pertambangan mineral logam Bupati/Walikota berwenang memberikan IUP
produksi apabila lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan pemurnian, serta pelabuhan berada
di dalam 1 (satu) wilayah kabupaten/kota atau wilayah laut sampai dengan 4 (empat) mil dari
4

garis pantai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) huruf a PP No. 23 th. 2010. Untuk
PT.NNT, lokasi pemurnian tidak berada pada Kabupaten KSB sehingga yang berwenang
memberikan IUP Produksi adalah Menteri sebagaimana dimaksud Pasal 35 ayat (1) huruf c
dan Pasal 38 huruf a PP No. 23 th. 2010. Hal ini berarti juga sesuai dengan apa yang telah dibuat
dan ditandatangani sebelum berlakunya UU No. 4 th. 2009 yaitu ketika Kontrak Karya dbuat dan
ditandatangani oleh Pemerintah Indonesia dengan PT. NNT.
Walaupun lokasi pertambangan berada di wilayah KSB akan tetapi yang berwenang
menetapkan Wilayah Pertambangan ( WP ), Wilayah Usaha Pertambangan ( WUP ) dan Wilayah
Izin Usaha Pertambangan ( WIUP ) adalah Menteri sebagaimana dimaksud masing-masing pada
Pasal 15 ayat (1), Pasal 16 ayat (2), Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 22 PP No. 22 th. 2010.
Oleh karena terkait masalah siapa yang berwenang memberikan izin, maka berlaku asas
contrarius actus yaitu pencabutan izin adalah kewenangan dari pejabat yang memberikan
izin. Dengan dicabutnya izin tersebut, maka dapat diartikan bahwa seseorang atau badan hukum
yang izinnya dicabut tersebut tidak boleh lagi melakukan perbuatan atau tindakan-tindakan yang
sebelumnya diperbolehkan. Untuk kasus ini maka dapat diartikan bahwa pencabutan izin berarti
merupakan bentuk penutupan atau penghentian operasional dari PT. NNT. Sehingga yang berhak
mencabut izin tersebut adalah Menteri.
Dengan demikian baik secara materi, tempat dan waktu, Pemda KSB tidak memiliki
kewenangan ( onbevoegdheid ratione materie, onbevoegdheid ratione loci, onbevoegdheid
ratione tempores ) untuk menutup operasional pertambangan PT. NNT karena yang
berwenang adalah Menteri.

KESIMPULAN
1. Bahwa Pemda KSB berhak memiliki ( menerima) divestasi sisa 7% saham modal asing yang
akan didivestasikan oleh PT. NNT sebagaimana dimaksud pada ketentuan Pasal 24 ayat 3
Kontrak Karya dengan tetap melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat.
2. Bahwa Pemda KSB (Bupati KSB) tidak memiliki kewenangan untuk melakukan penutupan
atau penghentian operasional pertambangan PT.NNT akan tetapi dapat melakukan koordinasi
dengan Menteri untuk meminta Menteri menutup atau menghentikan operasional
pertambangan PT. NNT .