Anda di halaman 1dari 9

0

GENERAL BUSINESS ENVIRONMENT


TECHNOLOGICAL ENVIRONMENT :
PROCESSING TECHNOLOGY

Penerapan Metode Enhanced Oil Recovery (EOR)
Untuk Meningkatkan Produksi Minyak Pertamina

Pengajar:
Prof. Dr. Zuprizal



Oleh:
Robi Aprilianto
12/343598/PEK/18014
Angkatan 61 Reguler Kelas B

MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013
1

I. Pendahuluan
Secara umum bisnis diartikan sebagai usaha yang dilakukan oleh perseorangan atau
umum dengan menjual barang dan/atau jasa dengan tujuan untuk mencari keuntungan. Dalam
pelaksanaannya karena bisnis merupakan suatu kegiatan yang melibatkan lebih dari satu
pihak dengan syarat-syarat tertentu maka akan terdapat banyak faktor yang memiliki
pengaruh terhadap bisnis. Dari berbagai faktor yang mempengaruhi bisnis salah satunya
adalah faktor processing technology. Menurut Zuprizal (2013), teknologi dapat didefinisikan
sebagai seluruh pengetahuan, produk, proses, alat, metode, dan sitem yang digunakan dalam
pembuatan barang atau penyediaan jasa. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa teknologi
adalah cara kita melakukan sesuatu atau penerapan pengetahuan, suatu sarana yang
membantu upaya manusia. Orang biasanya memahami teknologi sebagai perangkat keras
(hardware) seperti mesin, komputer, atau alat-alat elektronis yang agak maju. Namun,
sesungguhnya teknologi mencakup lebih daripada itu. Ada beberapa entitas teknologi selain
perangkat keras, termasuk perangkat lunak dan keterampilan manusia atau brainware.
Dari beberapa klasifikasi atas teknologi salah satunya adalah new tchnology yaitu
teknologi yang baru diperkenalkan atau diterapkan yang mempunyai dampak nyata pada cara
sebuah perusahaan memproduksi atau menyediakan barang atau jasa. Jenis teknologi ini akan
mempunyai akibat besar pada peningkatan produktivitas dan daya saing. Dengan bantuan
teknologi maka diharapkan mampu memaksimalkan produktivitas atau dapat juga membuat
proses produksi berjalan lebih efektif dan efisien. Dengan adanya penerapan teknologi baru
tersebut dimana akan diikuti peningkatan produktivitas akan membawa dampak yang sangat
signifikan bagi perusahaan karena hal ini bisa menjadi kekuatan perusahaan dalam
persaingan di pasar. Adanya perkembangan teknologi harus dicermati oleh pelaku bisnis
karena perkembangan tersebut terkadang mampu mempengaruhi keberlangsungan proses
bisnis. Hal ini bisa diartikan bahwa perkembangan teknologi sangat penting diperhatikan oleh
pelaku bisnis karena bisa dimanfaatkan sebagai peluang jika pelaku bisnis jeli
mengaplikasikan teknologi kedalam proses bisnis perusahaan yang mampu meningkatkan
produktivitas dan membuat proses produksi menjadi lebih efektif dan efisien. Dalam makalah
ini akan membahas mengenai penerapan metode Enhanced Oil Recovery (EOR) untuk
meningkatkan produksi minyak Pertamina.

II. Proses Mendapatkan Minyak Bumi
Minyak bumi terbentuk dari sisa-sisa tumbuh-tumbuhan dan hewan yang mati sejak
zaman dahulu, diperkirakan sekitar 10 sampai 600 juta tahun yang lalu. Setelah organisme
2

tersebut mati, jasad mereka tertinggal di cekungan dasar laut membentuk endapan lumpur
yang kaya akan lumpur organik. Setelah beribu-ribu tahun lumpur organik tersebut terkubur
dan termampatkan oleh lapisan sedimen diatasnya dan berlahan-lahan berubah menjadi
senyawa komplek campuran antara hidrogen dan karbon. Campuran senyawa kompleks
inilah yang kita kenal sebagai minyak bumi. Proses pencarian (eksplorasi) minyak dari perut
bumi dilakukan dilakukan dengan cara modern menggunakan pencitraan satelit dan
menganalisa permukaan bebatuan. Setelah dilakukan serangkaian analisa selanjutnya
dipelajari sifat-sifat fisik dari lapisan tanah. Berbagai metode digunakan namun yang paling
sering digunakan adalah seismologi. Proses ini bertujuan untuk mencari tempat yang
memiliki kandungan gas/ minyak bumi Dengan menggunakan gelombang akustik yang
merambat ke lapisan tanah, Gelombang ini direfleksikan dan ditangkap oleh sensor, dari
proses perambatan gelombang ini akan diolah dan terlihat lapisan2 tanah untuk diteliti
manakah lapisan yang berpotensi mengandung gas/ oil. Seismologi bisa digunakan untuk
mencari cadangan minyak bumi baik di darat maupun di laut.
Setelah ditemukan sumber minyak bumi, selanjutnya dilakukan pengeboran minyak
bumi. Terdapat beberapa tahapan dalam pengeboran minyak bumi, yaitu :
1. Drilling and Well Construction
Dalam tahap ini dilakukan pemasangan rig pengeboran yaitu suatu bangunan dengan
peralatan untuk melakukan pengeboran ke dalam reservoir bawah tanah untuk
memperoleh air, minyak, atau gas bumi, atau deposit mineral bawah tanah. Rig digunakan
untuk mengebor dengan kedalaman 2000 sampai 4000 meter tapi ada juga yang sampai
6000 meter. Rig dilengkapi mata bor dengan diameter 20 sampai 50 sentimeter yang
berputar menembus perut bumi.
2. Well Logging
Dalam tahap ini dilakukan pemetaan lapisan tanah dan juga mengambil sampel untuk
dicek kandungannya (minyak, gas, atau cuma air). Dari sini ketahuan lapisan tanah dan
batuan mana yang mengandung air, mana yang ada gas, dan lapisan tanah mana yang ada
kandungan minyaknya.
3. Well Testing
Proses ini adalah proses dimana lapisan yang diperkirakan mengandung oil/gas di
"tembak",dengan explosif. Setelah itu minyak yang terkandung diantara pori-pori batuan
akan mengalir menuju tempat yang pressure nya lebih kecil yaitu keatas permukaan
tanah.
3

4. Well Completion
Proses ini adalah proses instalasi aksesoris sumur sebelum nantinya sumur siap
diproduksi. Fungsi utamanya adalah menyaring "pasir" yang dihasilkan setelah proses
penembakan dalam well testing sehingga pasir tidak ikut mengalir bersama minyak/gas
yang bisa membahayakan peralatan.
5. Production
Proses dimana dimana sumur siap untuk berproduksi dan nantinya akan diolah lagi ke
tempat penyulingan untuk diolah dalam berbagai bentuk. Contoh: Minyak tanah, bensin,
solar,kerosin, LPG, dll.

III. Metode Enhanced Oil Recovery (EOR)
Proses perolehan minyak dibagi menjadi tiga jenis yaitu perolehan tahap pertama,
tahap kedua dan tahap ketiga. Proses perolehan minyak konvensional atau biasa dikenal
dengan perolehan tahap pertama merupakan proses perolehan dengan menggunakan tenaga
pendorong alami, seperti tenaga pendorong gas terlarut (solution gas drive), tenaga
pendorong air (water drive), dan tenaga pendorong tudung gas (gas cap drive). Mengingat
masih cukup besarnya minyak yang tersisa setelah produksi tahap pertama, maka untuk
mengatasi hal tersebut diupayakan suatu usaha untuk meningkatkan perolehan minyak.
Metode peningkatan perolehan minyak tahap lanjut ini dikenal dengan metode peningkatan
perolehan tahap kedua (secondary recovery) dan metode peningkatan perolehan tahap ketiga
(tertiary recovery). Metode perolehan minyak tahap kedua mengacu pada teknik yang
bertujuan untuk mempertahankan tekanan reservoir, seperti injeksi air atau injeksi gas.
Sedangkan metode peningkatan perolehan minyak tahap ketiga mengacu pada semua teknik
yang diaplikasikan sesudah teknik perolehan tahap kedua. Teknik perolehan minyak tahap
kedua dan tahap ketiga biasa dikenal dengan teknik peningkatan perolehan minyak (enhanced
oil recovery EOR). Secara umum EOR didefinisikan sebagai teknik peningkatan perolehan
minyak dengan melakukan injeksi material, yang secara normal material tersebut tidak berada
di reservoir. Definisi EOR tersebut mencakup semua jenis proses perolehan minyak (drive,
push-pull, dan well treatment) dan melingkupi berbagai teknik peningkatan perolehan dengan
menggunakan bahan kimia (chemicals agent). Dengan menggunakan cara perolehan tahap
pertama dan kedua, produksi minyak hanya berkisar antara 20-40%, sedangkan dengan
menggunakan metode EOR, meskipun lebih mahal tetapi meningkatkan produksi minyak
sekitar 75% yang bisa diambil dari sumber.

4


Gambar III.1
Proses Perolehan Minyak Tahap Kedua

Ada tiga jenis utama EOR, yaitu pemulihan termal, injeksi kimia, dan injeksi gas.
Besarnya biaya pengembangan penggunaan metode EOR untuk pengangkatan hidrokarbon
kepermukaan menyebabkan produsen tidak menggunakan EOR pada semua sumur dan
waduk. Oleh karena itu, setiap sumur harus dievaluasi untuk menentukan jenis EOR terbaik
yang bisa berfungsi pada reservoir. Hal ini dilakukan melalui karakterisasi reservoir, skrining,
scoping, dan pemodelan dan simulasi sumur minyak.
1. Pemulihan Termal
Pemulihan termal berupa menkondisikan panas di reservoir untuk menurunkan viskositas
minyak. Berulang kali, uap diarahkan ke sumur minyak yang berfungsi menipiskan
minyak dan meningkatkan kemampuannya untuk mengalir keatas.
2. Injeksi Kimia
Metode EOR dengan injeksi kimia membantu membebaskan minyak yang terjebak dalam
reservoir. Metode ini memperkenalkan rantai molekul panjang yang disebut polimer ke
dalam reservoir untuk meningkatkan efisiensi waterflooding atau untuk meningkatkan
efektivitas surfaktan , yang merupakan pembersih yang membantu tegangan permukaan
yang lebih rendah yang menghambat aliran minyak melalui reservoir .

5

Gambar III.2
Proses Perolehan Minyak Metode EOR Injeksi Kimia


3. Injeksi Gas
Injeksi gas yang digunakan sebagai metode tersier pemulihan melibatkan penyuntikan gas
alam, nitrogen atau karbon dioksida ke dalam reservoir . Gas dapat memperluas dan
mendorong gas yang lain melalui reservoir, atau mencampur dengan atau melarutkan
dalam minyak, penurunan viskositas dan meningkatkan aliran. Karbon dioksida EOR (
CO2 - EOR ) adalah metode yang paling populer, pengembangan teknologi untuk
menyuntikkan CO2 diciptakan sebagai produk sampingan dari keperluan industri .
Gambar III.3
Proses Perolehan Minyak Metode EOR Injeksi Gas


6

IV. Penerapan Metode EOR Oleh Pertamina
Hingga saat ini Pertamina telah memegang mayoritas wilayah kerja minyak dan gas di
Indonesia, sekitar 58% wilayah kerja minyak yang gas di Indonesia telah dikuasai oleh PT
Pertamina. Demikian juga dari sisi cadangan minyak, dari total sebanyak 3,6 miliar barel
cadangan minyak Indonesia sebanyak hampir 50% merupakan cadangan minyak dan gas
yang ada di wilayah kerja Pertamina. Pemanfaatan teknologi peningkatan produksi minyak
dengan metode EOR sudah dilakukan oleh Pertamina. Hal ini dikuatkan dengan
dikeluarkannya Permen No 06 Tahun 2010 tentang Peningkatan Produksi Migas dan Inpres
No 2 Tahun 2012. Dalam Permen No 6 Tahun 2010, antara lain ditetapkan bahwa KKKS
memproduksikan kembali lapangan yang pernah berproduksi, salah satunya melalui teknologi
EOR. Untuk itu perlu dilakukan inventarisasi lapangan yang tidak berproduksi namun
berpotensi. Kewajiban studi EOR juga telah dimasukkan dalam kontrak bagi hasil (PSC).
Selain upaya-upaya tersebut, Pemerintah juga mendorong keterlibatan badan litbang atau
perguruan tinggi untuk berperan dalam penelitian jenis fluida injection, microbial, CO2 dan
nitrogen.
Penggunaan metode EOR dengan menggunakan injeksi kimia ini pertama kali
dilakukan Pertamina di wilayah pengeboran minyak Lapangan Tanjung Tabalong,
Kalimantan Selatan sejak tanggal 12 Februari 2013. Hal ini sudah membawa dampak positif
yaitu mampu meningkatkan laju aliran produksi minyak sebelumnya sebesar 300 barel per
hari menjadi mencapai 700 barel per hari. Injeksi kimia di lokasi pertama di Lapangan
Tanjung saat ini telah menggunakan 1 sumur injeksi dan 2 sumur monitoring, secara
keseluruhan program injeksi kimia secara penuh akan berjumlah 36 lokasi (36
pattern) dengan menggunakan beberapa sumur eksisting sebagai sumur injeksi dan sumur
monitoring. Untuk itu, SKK Migas mewajibkan kepada Kontraktor Kontrak Kerja Sama
(KKS) agar menerapkan teknologi pengurasan minyak tingkat lanjut dari lapangan yang
sudah mengalami penurunan produksi alamiah. Selain itu proses EOR yang diterapkan ini
tidak akan mengganggu lingkungan karena yang diinjeksikan bukanlah material yang
berbahaya yautu garam, soda dan surfactant yang dibuat IPB dimana keseluruhannya harus
memenuhi kriteria lingkungan. Mengenai tingkat keberhasilan proyek EOR ini tergantung
indikasi yang ditunjukkan dari hasil sumur yang sudah diinjeksikan, berdasarkan data tiga
sumur pemantauan dari 300 meter yang dinjeksikan semuanya menunjukkan terjadinya
peningkatan produksi.


7

V. Kesimpulan
Metode EOR sebagai perkembangan teknologi berupa cara baru dalam perolehan
minyak bumi mampu meningkatkan produksi minyak bumi. Pemanfaatan teknologi
peningkatan produksi minyak dengan metode EOR sudah dilakukan oleh Pertamina dan
mendapatkan dukungan dari pemerintah dengan dikeluarkannya Permen No 06 Tahun 2010
tentang Peningkatan Produksi Migas dan Inpres No 2 Tahun 2012. Meskipun memerlukan
biaya yang lebih mahal, namun penggunaan metode ini bila dilakukan dengan tepat akan
mampu meningkatkan produksi minyak secara signifikan sehingga akan lebih
menguntungkan bagi Pertamina.
Metode EOR bisa digunakan untuk mengeksploitasi produksi minyak pada sumur tua
yang sudah pernah dieksploitasi sebelumnya dengan metode konvensional sehingga potensi
sumur tersebut dapat digali secara maksimal. Penggunaan metode EOR dengan injeksi kimia
tidak berbahaya bagi lingkungan karena menggunakan material yang diinjeksikan ramah
lingkungan. Diharapkan dengan pemanfaatan proses teknologi baru dalam perolehan minyak
ini mampu lebih meningkatkan lagi produksi minyak secara signifikan.

8

Referensi
Zuprizal, 2013. Processing Technology. Bahan ajar disampaikan dalam kelas General
Business Environment MMUGM.
Rigzone. What is EOR, And how does it work? Diakses dari
http://www.rigzone.com/training/insight.asp?insight_id=313&c_id=4
Wikipedia, Enhanced Oil Recovery. Diakses dari :
http://en.wikipedia.org/wiki/Enhanced_oil_recovery
Website Kementerian ESDM, 2013. Terapkan EOR, Produksi Lapangan Tanjung
Diharapkan Meningkat Empat Kali Lipat. 27 Juli 2013. Diakses dari
http://www.esdm.go.id/berita/migas/40-migas/6388-terapkan-eor-produksi-lapangan-
tanjung-diharapkan-meningkat-empat-kali-lipat.html
Website Lemigas ESDM, 2013. Screening EOR Injeksi CO2 Lapangan -Lapangan di
Cekungan Sumatra Selatan. Diakses dari
http://www.lemigas.esdm.go.id/id/prdkpenelitian-241-.html
Migas Review. Penerapan EOR oleh Pertamina EP. Diakses dari
http://migasreview.com/penerapan-eor-oleh-pertamina-ep.html
Energitoday, 2013. Teknologi EOR Pertamina EP Dipuji SKK Migas. Minggu 21/07/2013.
Diakses dari : http://www.energitoday.com/2013/02/20/skk-migas-apresiasi-
pertamina-ep-terapkan-eor-di-wilayah-kerjanya/