Anda di halaman 1dari 9

1

Tinjauan Pustaka

Struktur dan Fungsi Sistem Urinaria serta Mekanisme
Pembentukan Urin
Alvin Wijaya Rustam
NIM : 102011239
Kelompok E1
AlvinWijayaa@yahoo.com

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara no. 6 Jakarta


Pendahuluan
Kita sebagai manusia pasti melakukan banyak kegiatan dalam kehidupan sehari-hari,
salah satu hal yang dilakukan manusia untuk bertahan hidup adalah mengeluarkan benda-benda
asing(zat-zat dalam tubuh yang tidak dibutuhkan) dari tubuh. Salah satu cara untuk
mengeluarkan benda-benda asing tersebut adalah dengan buang air kecil yang biasa disebut urin.
Dalam urin, terdapat zat-zat yang tidak dibutuhkan oleh tubuh atau yang terlalu banyak dalam
tubuh yang dikeluarkan karena dalam tubuh kita kadar cairannya harus seimbang. Dalam ilmu
kedokteran sistem ini disebut juga sistem urinaria(urinary system) yang didalamnya terdiri dari
berbagai macam mekanisme dan berbagai macam organ. Untuk lebih mengerti tentang sistem
urinaria(urinary system) saya akan menjelaskan sedikit tentang sistem urinaria.



2


Makroskopis
Sistem urinaria, terdiri dari berbagai macam organ yang penting dalam proses
terbentuknya urin dan saluran-saluran untuk mengeluarkan urin dari tubuh kita. Berikut adalah
organ-organ yang terkait dalam sistem urinaria, khususnya pada pria yaitu Ginjal, Ureter, Vesika
urinaria, Uretra.

Ginjal
Ginjal adalah organ yang berbentuk seperti kacang berwarna merah tua, panjangnya
sekitar 12,5cm dan memiliki tebal 2,5cm setiap ginjal memiliki berat antara 125g sampai 175g
pada pria dan pada wanita 115g sampai 155g.
Ginjal terletak di area yang tinggi yaitu pada dinding abdomen posterior berdekatan
dengan dua pasang iga terakhir, organ ini merupakan organ retroperitoneal (terletak dibelakang
peritoneum) dan terletak diantara otot-otot punggung. Tiap-tiap ginjal memiliki kelenjar
diatasnya yang disebut juga glandula supra renal. Ginjal kiri dan kanan tidak memiliki tempat
yang bersebelahan (posisi yang sama) dikarenakan pada ginjal kanan terdapat hati atau hepar,
sehingga ginjal kanan terletak lebih bawah daripada ginjal kiri.
Ginjal atau ren juga memiliki pembungkus, ada tiga lapisan jaringan yang membungkus
ginjal. Yang pertama adalah Fascia renal yaitu pembungkus terluar, pembungkus ini melabuhkan
ginjal pada struktur di sekitarnya dan mempertahankan posisi organ. Kedua, Lemak
perineal(kapsula adiposa) yaitu jaringan adiposa yang terbungkus oleh fascia ginjal, kapsula
adiposa merupakan jaringan yang membantali ginjal dan berfungsi untuk mempertahankan posisi
ginjal. Ketiga, kapsula fibrosa yaitu merupakan membrane halus transparan yang langsung
membungkus ginjal dan mudah sekali untuk dilepas.
Ginjal kanan memiliki batas anterior yaitu glandula suprarenalis, hepar, duodenum,
flexura coli dextra. Batas posteriornya diaphragma, iga XII, muskulus psoas, muskulus quadratus
lumborum dan muskulus transversus abdominis.
Ginjal kiri memiliki batas anterior glandula suprarenalis, lien, gaster, pancreas, flexura
coli sinistra, jejunum. Batas posteriornya diaphragma, iga XI dan XII, muskulus psoas, muskulus
quadratus lumborum dan muskulus transversus abdominis.
1,2

3


Struktur Internal Ginjal
Ginjal memiliki hilus yang diartikan sebagai tingkat kecekungan bagian medial daripada
ginjal. Sinus ginjal yaitu rongga berisi lemak yang membuka pada hilus, sinus ini membentuk
perlekatan untuk jalan masuk dan keluar daripada organ pembuluh vena, arteri, limf, dan saraf,
juga ureter. Pelvis ginjal yaitu perluasan ujung proksimal ureter, yang berlanjut menjadi dua
sampai tiga calyx mayor, yaitu rongga yang mencapai glandular. Setiap Calyx mayor ini akan
bercabang menjadi beberapa calyx minor. Parenkim Ginjal adalah jaringan ginjal yang
menyelubungi sinus ginjal yang terdiri dari medulla(dalam) dan korteks(luar).
1,2

Vaskularisasi Ginjal
Pembuluh arteri yang menuju ke ginjal adalah arteri renalis yang bercabang langsung
dari aorta abdominalis. Masing-masing daripada arteri renalis membelah menjadi cabang arteri
segmentalis yang masuk ke hilus ginjal, terdiri dari empat pembuluh darah didepan pelvis dan
satu pembuluh darah dibelakang pelvis. Mereka tersebar ke berbagai segmen atau daerah-daerah
pada ginjal. arteri lobaris yang berasal dari arteri segmentalis, masing-masing satu untuk satu
piramis renis. Sebelum masuk ke substansia ginjal, setiap arteri lobaris bercabang menjadi arteri
interlobaris yang berjalan menuju perbatasan korteks dan medulla dan bercabang menjadi
arteri arcuata yang melengkung disekitar basis piramis renis, lalu mempercabangkan arteri
interlobularis yang berjalan ke atas dalam korteks.
Vena pada ren mengalirkan darah dari vena interlobularis menuju vena arcuata vena
lobaris vena segmentalis vena renalis lalu ke vena cava inferior.
Saraf yang mempersarafi ginjal berasala dari lexus simatikus renalis yang tersebar
sepanjang av.renalis.
Pembuluh limf mengikuti perjalanan arteri renalis menuju nnll.aortae lateral yang
terdapat di sekitar pangkal arteri renalis.
1,2

Ureter
Ureter merupakan saluran untuk menyalurkan urin dari ren(ginjal) ke vesica
urinaria(kandung kencing). Ureter memiliki panjang sekitar 35-40cm terdiri atas dinding luar
yang fibrus, lapisan tengah yang berotot, dan lapisan mukosa sebelah dalam. Ureter bermulai
4

sebagai pelebaran hilum ginjal dan berjalan ke bawah melalui rongga abdomen masuk kedalam
pelvis bermuara ke dalam sebelah posterior vesica urinaria.
3

Vesica Urinaria
Vesica urinaria berfungsi sebagai penampung urin, organ ini berbentuk kendi. Letaknya
di belakang simfisis pubis. Pada bayi letaknya lebih tinggi. Bagian terbawah terpancang erat
disebut basis. bagian atas yaitu fundus yang akan membesar ketika urin masuk dan memiliki
puncak(apex) yang mengarah ke depan bawah di belakang simfisis pubis.
Pada vesica urinaria terdapat muara daripada dua ureter yang bermuara secara oblique
yang tujuannya agar urin tidak dapat kembali ke dalam ureter. Terdapat juga uretra yang keluar
dari vesica urinaria sebelah depan. Daerah segitiga antara dua lubang ureter dan satu lubang
uretra disebut juga trigonum vesica urinarius.
3

Vesica urinaria dipendarahi oleh arteri vesicalis superior yang memperdarahi fundus
vesica urinaria, arteri vesicalis inferior yang memperdarahi bagian caudal dan lateral bagian
depan vesica urinaria, dan arteri vesicadeferensialis yang memperdarahi 1/3 permukaan posterior
vesica urinaria.
3


Uretra
Uretra merupakan sebuah saluran yang berjalan dari leher vesica urinaria ke lubang luar.
Dilapisi oleh membran mukosa yang bersambung dengan membran yang melapisi vesica
urinaria. Meatus urinarius terdiri atas serabut otot lingkar yang membentuk sphincter urethra
yang pada pria panjangnya sekitar 17 sampai 22,5cm.
3
Uretra pada pria terdiri dari empat bagian yaitu, uretra pars preprostatica yang memiliki
panjang sekitar 0,5-1,5cm. Uretra pars prostatica yang kurang lebih sekitar 3cm yang melewati
kelenjar prostat. Uretra pars membranasea yang merupakan saluran yang paling pendek sekitar
1-2cm yang membentang dari apex prostatica ke bulbus penis, saluran ini merupakan bagian
saluran yang paling sempit karena terdapat otot yang melingkar yaitu muskulus sphincter
urethrae. Dan uretra pars spongiosa yaitu bagian uretra yang terpanjang sekitar 15cm yang
membentang dari bulbus penis sampai ujung glands penis.
1-3



5

Kelenjar Prostat
Kelenjar prostat atau yang disebut juga glandula prostata merupakan kelenjar eksokrin
fibromuskular yang berbentuk menyerupai limas yang terbalik. Glandula prostata dibedakan
menjadi lima lobus yaitu, lobus anterior, lobus medius, lobus posterior, dan lobus lateralis
sebanyak 2 buah. Glandula prostata dipendarahi oleh arteri vesikalis inferior, arteri rectalis
media, dan cabang-cabang arteri pudenda interna.
1-3


Mikroskopis
Ginjal
Dalam ginjal manusia terdapat nefron yang merupakan unit fungsional ginjal untuk
memproduksi urin.

Nefron
Dalam masing-masing ginjal manusia terdapat sekitar 1,5juta tubuli uriniferi(nefron,
tubulus koligentis). Sepanjang nefron ini dapat dibedakan menjadi enam segmen masing-masing
terdapat pada tingkat tertentu dalam korteks atau medulla. Nefron ini terdiri dari glomerulus,
kapsula bowman, tubulus kontortus proksimal, tubulus rektus proksimal, ansa henle pars
descendens, loop of henle, ansa henle pars ascendens, tubulus rectus distalis, tubulus kontortus
distalis, tubulus koligens, dan ductus koligentis.
Rongga bowman merupakan pelebaran berdinding tipis yang melekuk ke dalam
membentuk struktur berongga berbentuk mangkok, yang berhubungan dengan glomerulus yang
merupakan berkas-berkas globular kapiler yang berkelok-kelok. Tubulus proksimal dapat
dibedakan menjadi tubulus kontortus proksimal(pada korteks), dan tubulus rektus proksimal
yang meluas dari korteks ke dalam pita luar dari medulla. Dan menjadi tubulus intermediate atau
bisa disebut juga sebagai ansa henle yang dapat dibagi menjadi ansa henle pars descendens dan
ansa henle pars acsendens, dilanjuti oleh tubulus distalis, yang terdiri dari tubulus rektus distalis
dan tubulus kontortus distalis, lalu dihubungkan dengan ductus koligens oleh tubulus koligentis,
yang pada ujungnya merupakan papilla renis.
Tubulus kontortus proksimal memiliki epitel kuboid rendah, intinya bulat dan letaknya
berjauhan, bersifat asidofil dan lumennya tidak jelas. Ansa henle memiliki epitel selapis gepeng.
Lumennya kecil mirip kapiler, berbentuk seperti huruf U. Pars asenden dilapisi oleh epitel
6

selapis kuboid. Tubulus kontortus distal memiliki epitel selapis kuboid rendah dan inti selnya
jaraknya berdekatan. Bersifat basofil dan lumennya terlihat jelas serta lebih besar dari lumen
tubulus kontortus proksimal. Duktus koligens memiliki epitel kuboid, sitoplasmanya pucat, batas
selnya terlihat jelas.
4
Ureter
Ureter terdiri dari dinding luar yang fibrus, lapisan tengah yang berotot, dan lapisan
mukosa sebelah dalam. Lapisan otot ada ureter terbagi menjadi tiga yaitu lapisan otot
memanjang (dalam), lapisan otot melingkar(tengah), dan lapisan otot memanjang(luar).
3
Vesica Urinaria
Dinding daripada vesica urinaria terdiri atas lapisan serosa sebelah luar, lapisan
muskularis(tunika muskularis), sub mukosa, dan mukosa yang terdiri dari epitel transisional.
Lapisan muskular terdiri atas berkas-berkas serat otot polos yang tersusun rapi secara tidak
beraturan.
3
Uretra
Uretra dibedakan menjadi tiga segmen, uretra pars prostatika, uretra pars membranasea
dan uretra pars spongiosa. Uretra prostatica paling dekat ke vesika urinaria dan dilapisi epitel
transitional. Uretra membranosa dilapisi epitel bertingkat torak dan dibungkus oleh sphinter
uretra externa (voluntary). Uretra spongiosa dilapisi epitel bertingkat torak dan di beberapa
tempat terdapat epitel berlapis gepeng. Dipertengahan uretra terdapat sphinter externa (muskular
bercorak).
4
Kelenjar Prostat
Prostat merupakan kelenjar acsesorius terbesar pada saluran reproduktif pria. Sekresinya
bersamaan dengan sekresi vesikula seminalis menambah volume ejakulat. Kelenjar ini berukuran
seperti kastanye kuda mengelilingi uretra di daerah asalnya dari vesica urinaria.
4


7

Mekanisme Pembentukan Urin
Urin pada ginjal dibentuk melalui beberapa tahap antara lain, filtrasi, reabsorbsi, dan
sekresi. Filtrasi terjadi ketika darah mengalir dari arteriole aferen ke glomerulus. Karena
glomerulus merupakan pembuluh darah yang memiliki pori atau pembuluh darah yang bersifat
fenestrate, maka setiap partikel yang berada di plasma darah yang dapat keluar melewati pori
yang ada dapat masuk ke dalam ruangan daripada kapsul bowman dan plasma yang masuk(yang
telah tersaring) disebut juga sebagai filtrat, tetapi partikel yang tidak lebih kecil dari pori-pori
pada kapiler glomerulus tidak dapat keluar, kecuali ada membran yang tidak berfungsi secara
normal(fisiologis). Laju filtrasi ini dipengaruhi oleh tekanan glomerulus yaitu tekanan yang
berasal dari jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh, tekanan darah pada kapiler
glomerulus yaitu sekitar 45mmHg, tekanan kapsula bowman yaitu tekanan yang berasal dari
kapsula bowman ke arah glomerulus sekitar 18mmHg. Tekanan osmotik kapiler glomerulus dan
tekanan osmotik kapsula bowman.
Reabsorbsi. Reabsorbsi terjadi pada seluruh bagian dari tubulus, di tubulus-tubulus
tertentu substansi secara selektif direabsorbsi. Reabsorbsi juga merupakan suatu mekanisme
mengambil kembali substansi yang berada pada lumen daripada tubulus yang masih ingin
dipakai oleh tubuh. Mekanisme reabsorbsi disini adalah merupakan mekanisme transport aktif
yang membutuhkan energi.
Sekresi. Sekresi merupakan mekanisme dimana yang terjadi adalah substansi dalam
aliran darah yang tidak terpakai atau tidak lagi dibutuhkan dikeluarkan ke lumen tubulus melalui
epitel tubulus untuk dikeluarkan dari tubuh.
Pada Tubulus proksimal terjadi Reabsorbsi dan sekresi. Yang di reabsorbsi pada tubulus
proksimal adalah glukosa, asam amino (100%), Na
+
67% obligat, PO
4
-
, elektrolit, air(65%),
Urea(50%), dan K(semua direabsorbsi). Sekresi yang terjadi pada tubulus proksimal yaitu
sekresi ion, dan ion organik yang tidak lewat pada proses filtrasi dan tidak dibutuhkan oleh
tubuh.
Pada ansa henle pars descendens yang terjadi adalah epitel tubulus hanya permeable
dengan air, sehingga air dapat direabsorbsi sedangkan ion-ion lain tetap berada dalam lumen
8

tubulus, karena hal ini terjadi maka filtrate mengalami kondisi yang hiperosmotik. Keadaan
hiperosmotik ini paling tinggi ketika mencapai lengkung ansa henle.
Pada ansa henle pars ascendens yang terjadi adalah reabsorbsi NaCl dan epitelnya
impermeable terhadap air, sehingga air tidak dapat diserap kembali(reabsorbsi), dan hanya NaCl
yang direabsorbsi, sehingga keadaan filtrate kembali menjadi isoosmotik lalu karena NaCl terus
menerus diserap, ketika mencapai perbatasan antara ansa henle pars ascendens dengan tubulus
distalis, cairan menjadi hipoosmotik.
Pada Tubulus distal juga terjadi reabsorbsi dan sekresi. Reabsorbsi yang terjadi
merupakan reabsorbsi yang fakultatif yaitu reabsorbsi yang bervariasi (dipengaruhi oleh zat
tertentu). Reabsorbsi yang terjadi pada tubulus distalis adalah reabsorbsi Na yang dikendalikan
oleh aldosteron, dan reabsorbsi air yang dipengaruhi oleh ADH. Sekresi yang terjadi adalah
sekresi K yang dipengaruhi oleh aldosteron dan sekresi H yang dipengaruhi oleh faktor pH
cairan.
Pada ductus koligentis terjadi reabsorbsi air yang dipengaruhi oleh ADH dan sekresi H
yang dipengaruhi oleh pH cairan tubuh.
5
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Faktor yang mempengaruhi buang air kecil adalah faktor usia, jenis kelamin, dan infeksi
saluran kemih. Pembesaran kelenjar prostat dipengaruhi oleh faktor usia yaitu oleh kadar
testosterone yang berubah dan menurun, yang perlu diperhatikan bahwa kelenjar prostat bisa saja
membesar dikarenakan oleh hipertrofi biasa, atau pembesaran akibat kanker prostat. Pembesaran
prostat ini biasanya dialami oleh orang yang sudah berumur 70 tahun atau bisa saja sudah
dialami gejalanya ketika sudah mencapai 60 tahun. Faktor yang kedua adalah faktor jenis
kelamin, karena kelenjar prostat terdapat pada laki-laki, maka hanya laki-laki yang dapat
mengalami pembesaran kelenjar prostat. Dan faktor lainnya adalah infeksi saluran kemih, infeksi
saluran kemih adalah infeksi yang dapat terjadi di seluruh bagian sistem urinaria, termasuk pada
ginjal, infeksi saluran kemih ini biasanya dapat terjadi karena adanya bakteri dalam saluran
kemih, dan juga bisa terjadi karena rusaknya glomerulus yang mengakibatkan zat-zat yang
seharusnya tidak di filtrasi menjadi dapat di filtrasi seperti protein, kreatinin dan lain-lain,
beberapa dari zat-zat tersebut dapat saja membentuk endapan yang menutupi saluran kemih
9

sehingga terjadi penyumbatan saluran kemih, contoh endapan yang dapat terjadi adalah batu
cystin, batu fosfat, batu oksalat, dan batu urat.
6-7


Penutup
Buang air kecil yang sedikit tidak tuntas, dapat saja terjadi salah satunya dikarenakan
oleh pembesaran kelenjar prostat yang membuat menyempitnya saluran kencing(uretra), tetapi
tidak menutup kemungkinan hal ini dapat juga disebabkan oleh hal lain selain membesarnya
kelenjar prostat.

Daftar Pustaka
1. Snell RS. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi ke-6. Jakarta:
EGC;2006.h.270-6.
2. Sloane E. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC;2003.h.318-25.
3. Pearce EC. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Cetakan ke-33. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama; 2009.h.298-305.
4. Bloom, Fawcett. Buku ajar histologi. Edisi ke-12. Jakarta:EGC; 2002.h.824-34.
5. Guyton AC, Hall JE. Textbook of medical physiology. 11
th
ed. Philadelphia: Elsevier;
2006.p.403,1280.
6. Faiz O, Moffat D. At a glance anatomi. Jakarta: Erlangga; 2004.h.133.
7. Wibowo DS. Anatomi tubuh manusia. Jakarta: Grasindo; 2008.h.11.