Anda di halaman 1dari 44

POLITIK HUKUM DALAM PEMBENTUKAN

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN NASIONAL


MAKALAH BESAR
Tugas Mata Kuliah Politik Hukum
Pro! DR! Sat"a Ar"a#to$ S! H!$ M! H!
Ol%h &
'hristia# Erikso# Sitio
()*+,**--+./
No! A0s%# & **
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM
1AKULTAS HUKUM
UNI2ERSITAS PAN'ASILA
3AKARTA
*-+4
PENDAHULUAN
A! Latar B%laka#g
Secara teoretikal, fungsi pembentukan hukum pada dasarnya merupakan
fungsi melaksanakan perintah undang-undang yang dibuat oleh badan legislatif.
Pembentukan hukum oleh hakim dalam rangka memutuskan perkara yang sedang
diperiksanya, termasuk pembentukan peraturan perundang-undangan baik oleh badan
eksekutif secara tersendiri maupun bersama-sama dengan badan legislatif, tidak lain
sebenarnya fungsi melaksanakan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam undang-
undang.
Pembentukan hukum dalam prinsip pembagian kekuasaan (division of powers
principle) merupakan fungsi ketatanegaraan/pemerintahan yang dijalankan oleh
badan eksekutif, legislatif dan yudikatif untuk membentuk hukum, baik hukum yang
tertulis (geschreven recht) maupun hukum yang tidak tertulis (ongeschreven recht).
Dalam konsep pemisahan kekuasaan (separation of powers), fungsi ini menjadi
otoritas badan legislatif saja, badan-badan kekuasaan lain tidak memiliki fungsi
tersebut. Sedangkan dalam konsep pembagian kekuasaan (division of powers), fungsi
ini dijalankan baik oleh badan legislatif, ekskutif maupun yudikatif.
Etimologis kata politik berasal dari bahasa Yunani polis yang dapat berarti
kota atau negara-kota. Dari kata polis ini kemudian diturunkankata-kata lain seperti
!polites! "#arganegara$ dan !politikos! nama sifat yang berarti ke#arganegaraan
"ci%ic$, dan !politike techne! untuk kemahiran politik serta !politike episteme! untuk
ilmu politik. &emudian orang 'oma#i mengambil oper perkataan Yunani itu dan
menamakan pengetahuan tentang negara "pemerintah$ !ars politica!, artinya
kemahiran "kunst$ tentang masalah-masalah kenegaraan.
(
)enurut Prof. Sudarto !Politik *ukum! adalah kebijaksanaan dari negara
dengan perantaraan badan-badan yang ber#enang untuk menetapkan peraturan-
peraturan yang dikehendaki, yang diperkirakan bisa digunakan untuk
mengekspresikan apa yang dicita-citakan. Pembentukan undang-undang merupakan
(
+. sj#ara, S.*.,.,.). Pengantar Ilmu Politik, Putra -bardin, .andung/ (000, hal 1(.
proses sosial dan proses politik yang sangat penting artinya dan mempunyai pengaruh
yang luas, karena itu "undang-undang$ akan memberi bentuk dan mengatur atau
mengendalikan masyarakat. 2ndang-undang oleh penguasa digunakan untuk
mencapai dan me#ujudkan tujuan-tujuan sesuai dengan yang dicitia-citakan. Dengan
demikian, dapat dikatakan bah#a 2ndang-undang mempunyai dua fungsi, yaitu/
(. +ungsi untuk mengekspresikan nilai, dan
1. +ungsi instrumental.
.erpijak pada kedua fungsi hukum di atas, maka dapat dikatakan bah#a hukum
bukan merupakan tujuan, melainkan sebagai sarana untuk me#ujudkan apa yang
dicita-citakan. ni berarti, apabila kita mau membicarakan !Politik hukum ndonesia!,
maka mau tidak mau kita harus memahami terlebih dahulu !apa yang menjadi cita-
cita dari bangsa ndonesia merdeka!.
3ita-cita inilah yang harus di#ujudkan melalui sarana undang-undang
"hukum$. Dengan mengetahui masyarakat yang bagaimana yang dicita-citakan oleh
bangsa ndonesia, maka dapat ditentukan !sistem hukum! yang bagaimana yang
dapat mendorong terciptanya sistem hukum yang mampu menjadi sarana untuk
me#ujudkan masyarakat yang dicita-citakan oleh bangsa ndonesia.
1

Dengan kata lain dapat dikatakan bah#a perundang-undangan memang
bentuk pengaturan legal dalam sebuah negara hukum yang demokratis. 4amun
peraturan hukum formal tak pernah netral, karena ada politik hukum di belakangnya.
*ukum formal itu lahir, hidup, dan juga bisa mati, dalam dinamika budaya hukum.
politik hukum menjadi sangat terasa, karena pemerintah pusat sangat berperan dalam
penyusunannya, sementara sebagai pemerintah pusat juga menjadi pihak dalam tarik
ulur posisi otonomi daerah. Dengan demikian suatu sistem hukum harus mengandung
peraturan-peraturan melalui pembentukan peraturan perundang-undangan sebagai
#ujud aplikatif politik hukum sebisa mungkin bersifat netral dan tidak memihak.
Peraturan perundang-undangan merupakan bagian atau subsistem dari sistem
hukum. 5leh karena itu, membahas mengenai politik peraturan perundang-undangan
1
Prof. Dr. 4yoman Serikat Putra 6aya, S*,)*, Politik Hukum, .adan Penyediaan .ahan &uliah
Program Studi )agister &enotariatan 2ndip, Semarang/ 1778, hal (9.
pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dari membahas mengenai politik hukum.
stilah politik hukum atau politik perundang-undangan didasarkan pada prinsip
bah#a hukum dan/atau peraturan perundang-undangan merupakan bagian dari suatu
produk politik karena peraturan perundang-undangan pada dasarnya merupakan
rancangan atau hasil desain lembaga politik "politic body$.
9
Sedangkan pemahaman
atau definisi dari politik hukum secara sederhana dapat diartikan sebagai arah
kebijakan hukum yang akan atau telah dilaksanakan secara nasional oleh pemerintah.
:
). )ahfud )D mengemukakan bah#a politik hukum meliputi/
Pertama; pembangunan hukum yang berintikan pembuatan dan pembaharuan
terhadap materi-materi hukum agar dapat sesuai dengan kebutuhan;
Kedua; pelaksanaan ketentuan hukum yang telah ada termasuk penegasan fungsi
lembaga dan pembinaan para penegak hukum.
<
Sebagaimana telah disebutkan, bah#a politik peraturan perundang-undangan
merupakan bagian atau subsistem dari politik hukum, dengan demikian dapat
dikatakan bah#a mempelajari atau memahami politik hukum pada dasarnya sama
dengan memahami atau mempelajari politik perundang-undangan demikian pula
sebaliknya, karena pemahaman dari politik hukum termasuk pula di dalamnya
mencakup proses pembentukan dan pelaksanaan/penerapan hukum "salah satunya
peraturan perundang-undangan$ yang dapat menunjukkan sifat ke arah mana hukum
akan dibangun dan ditegakkan.
=
.agir )anan mengartikan istilah politik perundang-
9
*). ,aica )ar>uki, Kekuatan engikat Putusan ahkamah Konstitusi !erhadap "ndang#"ndang,
6urnal ,egislasi ?ol. 9 4omor (, )aret 177=, hal. 1. ,ihat juga ). )ahfud )D, Politik Hukum di
Indonesia, cet. ,,P9ES, 6akarta, 177(, hal. <. )ahfud )D menyebutkan bah#a hukum merupakan
produk politik yang memandang hukum sebagai formalitas atau kristalisasi dari kehendak-kehendak
politik yang saling berinteraksi dan saling bersanginan. ,ebih jauh )ahfud )D mengemukakan
bah#a hubungan kausalitas antara hukum dan politik yang berkaitan dengan pertanyaan apakah hukum
mempengaruhi politik ataukah politik yang mempengaruhi hukum, dapat dija#ab Pertama; hukum
determinan atas politik yaitu kegiatan-kegiatan politik diatur oleh dan harus tunduk pada aturan-aturan
hukum. Kedua$ politik determinan atas hukum karena hukum merupakan hasil atau kristalisasi dari
kehendak-kehendak politik yang saling berinteraksi dan bahkan saling bersaingan. Ketiga; politik dan
hukum sebagai subsistem kemasyarakatan berada pada posisi yang sederajat determinasinya
:
). )ahfud )D, Politik Hukum di Indonesia, cet. ,,P9ES, 6aklarta, 177(, hal. 0
<
bid. ,ihat juga -bdul *akim @aruda 4usantara, Politik Hukum %asional, makalah pada &erja
,atihan .antuan *ukum, Surabaya, September (0A<.
=
.agir )anan, Politik Perundang#undangan, )akalah, 6akarta, )ei (00:, hal. (
undangan secara sederhana yaitu sebagai kebijaksanaan mengenai penentuan isi atau
obyek pembentukan peraturan perundang-undangan.
Sedangkan pembentukan peraturan perundang-undangan itu sendiri diartikan
sebagai tindakan melahirkan suatu peraturan perundang-undangan.
8
-bdul Bahid
)asru mengartikan politik peraturan perundang-undangan sebagai kebijakan
(beleids&policy) yang diterjemahkan sebagai tindakan pemerintahan/negara dalam
membentuk peraturan perundang-undangan sejak tahap perencanaannya sampai
dengan penegakannya "implementasinya$.
A
Sehingga dapat disimpulkan bah#a politik
perundang-undangan merupakan arah kebijakan pemerintah atau negara mengenai
pengaturan "substansi$ hukum yang dituangkan dalam peraturan perundang-undangan
"hukum tertulis$ untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara.
Selanjutnya, dimana dapat kita melihat gambaran mengenai politik
perundang-undangan yang sedang dijalankan oleh pemerintah/negaraC 2ntuk melihat
perkembangan politik perundang-undangan yang berlaku pada masa tertentu secara
substansial dan sederhana sebenarnya dapat dilihat dari/
(. produk peraturan perundang-undangan yang dibentuk pada masa itu yang
secara mudah dan spesifik lagi biasanya tergambar pada konsiderans
menimbang dan penjelasan umum "bila ada$ dari suatu peraturan perundang-
undangan yang dibentuk; dan
1. kebijakan yang dibuat oleh pemerintah/negara pada saat itu yang merupakan
garis pokok arah pembentukan hukum, seperti @.*4 pada masa
pemerintahan orde baru atau Prolegnas dan 'encana Pembangunan 6angka
)enengah 4asional yang berlaku pada saat ini
.erdasarkan hal ini, penulis tertarik untuk mengkaji hubungan negara hukum dan
pembentukan hukum, politik hukum dalam pembentukan peraturan perundang-
undangan nasional
B! Rumusa# Masalah
8
bid, hal. 1
A
-bdul Bahid )asru, Politik Hukum dan Perundang#undangan, )akalah, 6akarta, 177:.
.erdasarkan uraian pada latar belakang tersebut, maka rumusan masalah yang
dapat diambil adalah /
(. .agaimana hubungan 4egara hokum dengan pembentukan hokum, politik
dengan hukum, dan politik hukum dengan peraturan perundang-undangan di
ndonesiaC
1. -pa saja upaya yang akan ditempuh dalam merealisasikan apa yang menjadi
pembenahan sistem politik hukum oleh pemerintahC
9. .agaimana peranan politik hukum dalam pembentukan Peraturan Perundang-
undangan di ndonesiaC
.
BAB II
TIN3AUAN PUSTAKA
A! Kor%lasi Hukum D%#ga# Ilmu P%#g%tahua# No# Hukum
)asuk dalam disiplin ilmu apakah hukum itu sebenarnyaC ni merupakan
pertanyaan dasar jika kita berbicara tentang hukum dan ilmu lain diluar hukum.
-pakah hukum itu berdiri sendiri dengan ciri khasnyaC Detapi mengapa hukum selalu
dapat dikaitkan dengan disiplin ilmu lainnyaC
Perkembangan ilmu hukum selalu diikuti pertanyaan-pertanyaan diatas. -pa
hukum tetap pada porsinya sebagai ilmu murni sebagaimana tertuang dalam teori
hukum murni *ans &elsenC Sedangkan perkembangan jaman menuntut hukum bisa
berkolaborasi dengan disiplin ilmu lain, jika tidak, maka hukum akan gagal
me#ujudkan ketertiban dan keadilan dalam masyarakat. *ukum harus mengikuti
perkembangan masyarakat dan juga perkembangan ilmu pengetahuan agar hukum
bisa tetap eksis dalam me#arnai perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.
*ukum ada untuk masyarakat bukan sebaliknya, sehingga masyarakat dapat mentaati
hukum. *ukum tidak dapat dilihat hanya dengan menggunakan kacamata kuda tapi
harus dilihat secara luas karena hukum tidak hanya ilmu rasional sebagaimana yang
berkembang dalam era modern tapi hukum dapat juga dilihat dari segi ilmu lain,
sehingga hukum tidak hanya bersifat rasional tetapi juga metafisik dan metayuridik.
-spekEaspek lain seperti masyarakat, sejarah, politik, ekonomi, teknologi juga dapat
dimasukkan dalam objek kajian ilmu hukum. Sebagaimana ungkapan Scholten
"dalam )ahendra putra kurnia$ /
F bahan positif ini, yakni undang-undang, %onis-%onis dan sebagainya,
ditentukan secara histories dan kemasyarakatan. Penetapan undang-undang
adalah sebuah peristi#a histories, ia juga merupakan akibat dari serangkaian
fakta yang dapat ditentukan secara kemasyarakatan. Dalam pengolahan
undang-undang oleh ilmu hokum, bahan terberi ini tidak kehilangan karakter
historical dan sosialnya. Sebaliknya, justru karakter historical dan
kemasyarakatan bahan hukum itu menyebabkan pengolahan bahan hukum
itu tidak sepenuhnya terolah. lu hokum sensiri mempertahankan unsure
historical dan social bahan olahannya.G
.erdasarkan ungkapan Scholten tersebut dapat ditafsirkan bah#a hukum tidak
hanya memuat unsur hukum logika rasional saja melainkan juga memasukkan unsur-
unsur lainnya sebagai materi muatannya. lmu hukum merupakan hukum positif tapi
tidak hanya berkutat pada peraturan semata. *ukum harus tetap memperhatikan
aspek-aspek non hukum lainnya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kajian
ilmu hukum positif. *al serupa juga diungkapkan oleh )au#issen dalam sistematika
pengembanan hukum, menjelaskan jenis-jenis ilmu hukum yang pada intinya juga
memberikan peluang masuknya ilmu pengetahuan lain kedalam ilmu hukum,
sehingga dapat dikatakan bah#a ilmu hukum terbuka dan integrati%e dengan ilmu
yang lain.
B! POLITIK HUKUM
Diba#ah ini ada beberapa definisi yang akan disampaikan oleh beberapa ahli /
0
(. Satjipto 'ahardjo
Politik *ukum adalah akti%itas untuk menentukan suatu pilihan mengenai
tujuan dan cara E cara yang hendak dipakai untuk mencapai tujuan hukum dalam
masyarakat.
Satjipto 'ahardjo memdefinisikan politik hukum sebagai akti%itas memilih dan cara
yang hendak dipakai untuk mencapai tujuan social dan hukum tertentu dalam
masyarakat. Didalam studi politik hukun. )enurut Satjipto 'ahardjo muncul
beberapa pertanyaan mendasar, yaitu/
(7
(. Dujuan apa yang hendak dicapai melalui sistem yang adaC
1. 3ara-cara apa dan yang mana yang dirasa paling baik untuk dipakai dalam
mencapai tujuan tersebutC
9. &apan #aktunya dan melalui cara bagaimana hokum itu perlu diubahC
0
http///balian>ahab.#ordpress.com/politik hukum/-pa Politik *ukum tuH I )akalah, .erita,
Paparan dan Diskusi )asalah *ukum J,a# EducationJ.htm , diakses tanggal 18 6uni 17(1 pukul
17.:1 #ib
(7
)oh. )ahfud )D, )embangun Politik *ukum )enegakan &onstitusi, 'aja#ali Pres, 6akarta,
17((, *al.(:
:. Dapatkah suatu pola yang baku dan mapan dirumuskan untuk membantu dalam
memutuskan proses pemilihan tujuan serta cara-carauntuk mencapai tujuan
tersebut dengan baikC
6adi yang di katakan politik hukum bila dilihat dari asal katanya
mengandung arti sebagai kegiatan yang berdasarkan kekuasaaan dalam 4egara
berupa pengembilan keputusan, membuat kebijakan, melakukan pembagian hokum
berkenaan dengan masyarakat, lembaga-lembaga, proses-proses dalam kehidupan
4egara. &egiatan tersebut menyangkut tujuan hukum dan melaksanakan tujuan
hokum dalam suatu 4egara.
1. Padmo Bahjono disetir oleh &otam Y. Stefanus
Politik *ukum adalah kebijaksanaan penyelenggara 4egara tentang apa yang
dijadikan criteria untuk menghukumkan sesuatu " menjadikan sesuatu sebagai *ukum
$. &ebijaksanaan tersebut dapat berkaitan dengan pembentukan hokum dan
penerapannya. Definisi politik hukum yang dikemukakan oleh padmo Bahjono
mengatakan bah#a politik hukum adalah kebijakan dasar yang menentukan arah,
bentuk, maupun isi hukum yang akan dibentuk, di dalam tulisannya yang lain Padmo
Bahjono memperjelas politik hokum adalah kebijakan penyelegaraan 4egara tentang
apa yang dijadikan kreteria untuk menghukumkan suatu yang di dalamnya mencakup
pembentukan, penerapan, dan penegakan hukum
9. ,. 6. ?an -peldorn
Politik hukum sebagai politik perundang E undangan . Politik *ukum berarti
menetapkan tujuan dan isi peraturan perundang E undangan . " pengertian politik
hukum terbatas hanya pada hukum tertulis saja.
:. Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto
Politik *ukum sebagai kegiatan E kegiatan memilih nilai- nilai dan
menerapkan nilai E nilai.
<. )oh. )ahfud )D.
Politik *ukum " dikaitkan di ndonesia $ adalah sebagai berikut /
a$ .ah#a definisi atau pengertian hukum juga ber%ariasi namun dengan meyakini
adanya persamaan substansif antara berbagai pengertian yang ada atau tidak
sesuai dengan kebutuhan penciptaan hukum yang diperlukan.
b$ Pelaksanaan ketentuan hukum yang telah ada , termasuk penegasan .ellefroid
dalam bukunya Inleinding !ot de 'echts (eten )chap in %ederland
sehingga politik hukum adalah legal policy atas garis "kebijakan$ resmi tentang
hokum yang akan diberlakukan baik dengan perbuatan hokum baru maupun dengan
pengantian hokum lama, dalam rangka mencapai tujuan 4egara.
)engutarakan posisi politik hukum dalam pohon ilmu hukum sebagai ilmu.
Politik hukum merupakan salah satu cabang atau bagian dari ilmu hukum,
menurutnya ilmu hukum terbagi atas /
((
(. Dogmatika *ukum
)emberikan penjelasan mengenai isi " in houd $ hukum , makna ketentuan E
ketentuan hukum , dan menyusunnya sesuai dengan asas E asas dalam suatu sistem
hukum.
1. Sejarah *ukum
)empelajari susunan hukum yang lama yang mempunyai pengaruh dan
peranan terhadap pembentukan hukum sekarang. Sejarah *ukum mempunyai arti
penting apabila kita ingin memperoleh pemahaman yang baik tentang hukum yang
berlaku sekarang
9. Perbandingan *ukum
)engadakan perbandingan hukum yang berlaku diberbagai negara , meneliti
kesamaan, dan perbedaanya
:. Politik *ukum
Politik *ukum bertugas untuk meneliti perubahan E perubahan mana yang
perlu diadakan terhadap hukum yang ada agar memenuhi kebutuhan E kebutuhan
baru didalam kehidupan masyarakat
((
Soeharjo dalam http///balian>ahab.#ordpress.com/politik hukum/-pa Politik *ukum tuH I
)akalah, .erita, Paparan dan Diskusi )asalah *ukum J,a# EducationJ.htm , diakses tanggal 18 6uni
17(1 pukul 17.:1 #ib
<. lmu *ukum 2mum
Didak mempelajari suatu tertib hukum tertentu , tetapi melihat hukum itu
sebagai suatu hal sendiri, lepas dari kekhususan yang berkaitan dengan #aktu dan
tempat. lmu *ukum umum berusaha untuk menentukan dasar- dasar pengertian
perihal hukum , ke#ajiban hukum , person atau orang yang mampu bertindak dalam
hukum, objek hukum dan hubungan hukum. Danpa pengertian dasar ini tidak
mungkin ada hukum dan ilmu hokum
.erdasarkan atas posisi ilmu politik hukum dalam dunia ilmu pengetahuan
seperti yang telah diuraikan , maka objek ilmu politik hukum adalah K *2&2) K.
*ukum 4asional tradisional )engandung K de !, K asas !, K nilai K, sumber
hukum ketika semua itu dijadikan satu maka disebut kegiatan Politik *ukum
4asional.
. 'uang @erak Politik *ukum Suatu 4egara
-danya Politik *ukum menunjukkan eksistensi hukum negara tertentu ,
bergitu pula sebaliknya, eksistensi hukum menunjukkan eksistensi Politik *ukum
dari negara tertentu.
. Poltik *ukum &ekuasaan Dan Barga )asyarakat
Politik *ukum mengeja#antahkan dalam nuansa kehidupan bersama para
#arga masyarakat . Di lain pihak Politik *ukum juga erat bahkan hampir menyatu
dengan penggunaan kekuasaaan didalam kenyataan. 2ntuk mengatur negara , bangsa
dan rakyat. Politik *ukum ter#ujud dalam seluruh jenis peraturan perundang E
undangan negara.
. ,embaga E ,embaga Yang .er#enang
)ontesLuieu mengutarakan Drias Politica tentang kekuasaan negara yang
terdiri atas 9 " tiga $ pusat kekuasaan dalam lembaga negara, antara lain /
a$ Eksekutif
b$ ,egislatif
c$ Yudikatif
Yang berfungsi sebagai centra E centra kekuasaaan negara yang masing E masing
harus dipisahkan. Dalam kaitanya dengan Politik *ukum yang tidak lain tidak bukan
adalah penyusunan tertib hukum negara . )aka ketiga lembaga tersebut yang
ber#enang melakukannya.
-da pemahaman yang baru mengenai ruang gerak bah#a Politik *ukum itu
sendiri itu dinamis. .ersama dengan laju perkembangan jaman , maka ruang gerak
Politik *ukum tidak hanya sebatas negara sendiri saja melainkan meluas sampai
keluar batas negara hingga ke tingkat nternasional. )enurut pendapatnya Sunaryati
*artono , Politik *ukum tidak terlepas dari realita sosial dan tradisional yang terdapat
di negara kita dan di lain pihk. Sebagai salah satu anggota masyarakat dunia ,maka
Politik *ukum ndonesia tidak terlepas pula dari 'ealita dan politik *ukum
nternasional.
(1
&alau kita kaji antara Politik *ukum dan -sas--sas *ukum maka akan
terlihat konsep sebagai berikut /
Politik *ukum di negara manapun juga termasuk di ndonesia tidak bisa lepas
dari asas *ukum.
diantara asas!itu terhadap asas yang dijadikan sumber tertib hukum bagi suatu
negara.
-sas hukum yang dijadikan sumber tertib *ukum/dasar 4egara di sebut /
@rund 4orm
Di ndonesia yang dijadikan dasar negara adalah Pancasila
-sas hukum yang dijadikan dasar negara ini merupakan hasil proses
pemikiran yang digali dari pengalaman .angsa ndonesia sendiri; bukan
diambil dari hasil perenungan belaka; bukan hal yang serta merta masuk
kedalam pemikiran masyarakat ndonesia tetapi ada yang bersifat 4asional
(. ada yang lebih khusus lagi seperti / kehidupan agama,suku,profesi, dll.
1. ada yang merupakan hasil pengaruh dari sejarah dan lingkungan
masyarakat dunia.
?. &erangka ,andasan Politik *ukum Di ndonesia
4egara ' lahir dan berdiri tanggal (8 -gustus (0:<, proklamasi
kemerdekaan yang dikumandangkan oleh r. Soekarno dan *atta atas nama bangsa
(1
5p.cit.
ndonesia pada tanggal (8 -gustus (0:< tersebut merupakan detik penjebolan tertib
hukum kolonial dan sekaligus detik pembangunan tertib hukum nasional " Datanan
*ukum 4asional $.
?. Mu#5ul#"a Politik Hukum Di I#6o#%sia
)uncul pada tanggal (8 -gustus (0:< ,yaitu saat dikumandangkannya
Proklamasi, bukan tanggal (A -gustus (0:< saat mulai berlakunya konstitusi / hukum
dasar negara '.
?! Siat Politik Hukum
)enurut .agir )anan , seperti yang dikutip oleh &otan Y. Stefanus dalam
bukunya yang berjudul K Perkembangan &ekuasaan Pemerintahan 4egara ! bah#a
Politik *ukum terdiri dari
(9
(. Politik *ukum yang bersifat tetap " permanen $
.erkaitan dengan sikap hukum yang akan selalu menjadi dasar kebijaksanaan
pembentukan dan penegakkan hukum. .agi bangsa ndonesia , Politik *ukum tetap
antara lain /
i. Derdapat satu sistem hukum yaitu Sistem *ukum 4asional.
Setelah (8 -gustus (0:<, maka politik hukum yang berlaku adalah politik
hukum nasional , artinya telah terjadi unifikasi hukum " berlakunya satu sistem
hukum diseluruh #ilayah ndonesia $. Sistem *ukum nasional tersebut terdiri
dari/
(. *ukum slam " yang dimasukkan adalah asas E asasnya$
1. *ukum -dat " yang dimasukkan adalah asas E asasnya $
9. *ukum .arat "yang dimasukkan adalah sistematikanya$
ii. Sistem hukum nasional yang dibangun berdasarkan Pancasila dan 22D (0:<.
iii. Didak ada hukum yang memberi hak istime#a pada #arga negara tertentu
berdasarkan pada suku , ras , dan agama. &alaupun ada perbedaan , semata E
mata didasarkan pada kepentingan nasional dalam rangka keasatuan dan
persatuan bangsa.
i%. Pembentukan hukum memperhatikan kemajemukan masyarakat
(9
bid.
)asyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan hukum ,
sehingga masyarakat harus ikut berpartisipasi dalam pembentukan hukum .
%. *ukum adat dan hukum yang tidak tertulis lainnya diakui sebagai subsistem
hukum nasional sepanjang nyata-nyata hidup dan dipertahankan dalam
pergaulan masyarakat.
%i. Pembentukan hukum sepenuhnya didasarkan pada partisipasi masyarakat.
%ii. *ukum dibentuk dan ditegakkan demi kesejahteraan umum " keadilan sosial
bagi seluruh rakyat $ ter#ujudnya masyarakat yang demokratis dan mandiri
serta terlaksananya negara berdasarkan hukum dan konstitusi.
1. Politik *ukum yang bersifat temporer.
Dimaksudkan sebagai kebijaksanaan yang ditetapkan dari #aktu ke #aktu
sesuai dengan kebutuhan.
'! HUKUM SEBAGAI ALAT
)oh. )ahfud )D bah#a politik hukum itu merupakan Klegal Policy!
tentang hokum yang diberlakukan atau tidak diberlakukan utuk mencapai tujuan
4egara. Disini hukum diposisikan sebagai alat untuk mencapai tujuan 4egara.
Derkait dengan ini Suyaryati *artono perna mengemukakan tentang Khukum sebagai
alat! sehingga secara praktis politik hukum politik hukum juga merupakan sebagai
alat atau sarana dan langka yang dapat digunakan pemerintah untuk menciptakan
sestem hukum nasional guna mencapai cita-cita bangsa dan tujuan 4egara.
(:
Politik hokum itu ada yang bersifat permanen atau jangka panjang dan ada
yang bersifat periodic. Yang bersifat permanen misalnya berlakunya prinsip
pengujian yudisial, ekonomi, kerakyatan, keseimbangan atara kepastian hokum,
keadilan, dan kemanfaatan, penggantian hukum-hukum peninggalan kolinial dengan
hukm nasional, penguasan sumber daya alam oleh 4egara, kemerdekaan kekuasan
kehakiman, dan sebagainya. Disini terlihat bah#a beberapa prinsip yang dimuat di
dalam 22D sekaligus berlakunya sebagai Politik hokum.
(<

(:
)oh. )ahfud )D, Politik *ukum Di ndonesia, 'aja#ali Pres, 6akarta, 17((, *al.1.
(<
bid. *al. 9
)enurut .agir )anan, Politik *ukum ada yang bersifat permanen "tetap$
ada yang bersifat temporer. Politik *ukum yang tetap adalah yang berkaitan dengan
sifat hukum yang akan selalu menjadi dasar kebijakan pembentukan dan penegakan
hukum.sedangkan *ukum temporer adalah kebijakan yang di tetapkan dari #aktu ke
#aktu sesuai dengan kebutuhan termasuk kategori ini )isalnya penentuan Prioritas
pembentukan pereturan daerah, pembaharuan undang-undang yang menunjang
pembangunan nasiaonal dan sebagainya.
(=
D! HUKUM SEBAGAI PRODUK POLITIK
-sumsi dasar yang diperngunakan kajian ini adalah hukum merupakan
produk politik sehingga kerakter isi setiap produk hukum akan dangat ditentukan atau
di#arnai oleh imbangan kekuatan atau komfigurasi politik yang melahirkannya.
-susumsi ini dipilih berdasarkan kenyataan bah#a setiap produk hokum merupakan
produk keputusan politik sehingga hukum dapa dilihat sebagai kristalisasi dari
pemikiran politik yang saling berinteraksi di kalangan para politisi. )eski dari sudut
Kdas sollen! ada pandangan bah#a politik harus tunduk pada ketentuan hukum,
namun kajian ini lebih melihat sudut Kdas sein! atau empiric bah#ah hukumlah
yang dalam kenyataannya di tentukan oleh komfirgurasi politik yang
melatarbelakaginya. +ungi instrumental hukum sebagai sarana kekuasaan politik
dominan yang lebih terasa bila dibandingkan dengan fungsi-fungsi lainnya. .ahlkan,
fenomena itu dapat dilihat dari pertumbuhan pranata hukum, nilai dan prosedur,
perundangan-undangan dan birokrasi penegakan hukum yang bukuan hanya
mencerminkan hukum sebagai kondisi dan proses pembangunan melainkan juga
menjadi penopang tangguh struktur politik, ekonomi, social.
(8
*ukum diberi fungsi utama sebagai instrumen program pembagunan karena
hukum sebenarnya bukan tujuan utam. Dengan demikian, dapat dipahami jika terjadi
kecenrungan bah#a hukum dinuat dalam rangka memfasilitasi dan mendukung
politik. -kibatnya segala peraturan dan produk hukum yang dinilai tidak dapat
(=
Mudan -rif +akrulloh, lmu ,embaga Dan Pranata *ukum, 'aja#ali Pers, 6akarta, 17((, *al. (1(
(8
)oh. )ahfud )D, )embangun Politik *ukum.., 5p.cit. *al.=:
me#ujutkan stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi harus diubah atau
dihapuskan. Dengan demikian, sebagai produk politik, hukum dapat dijadikan alat
justifikasi bagi %isi politik pengusaha. Dalam kenyataannya, kegiatan legeslatif
"pembuatan undang-undang$ memang lebih banyak memuat keputusan-keputusan
politik ketimpangan menjalankan pekerjaan-pekerjaan hukum yang sesungguhnya
sehingga lembaga legeslatif lebih dekat dengan politik dari pada hukum.
(A
Secara teoritis hubungan hukum dengan politik memag dapat di bedakan
atas tiga macam hubungan. Pertama sebagai das sollen, hukum diterima atas politik
karena setiap agenda politik harus tunduk pada aturan aturan. &edua das sein, politik
determinan atas hukum karena dalam faktanya hukum merupakan produk politik
sehigga hukum apa pun yang ada di depan kita lain merupakan kristalisasi dari
kehendak politik yang saling bersaingan. &etiga, politik dan hokum berhubungan
secara interdeterminan karana politik tampa hukum akan >alim sedangkan hukum
tampa penga#alan politik akan lumpuh. *ukum dalam konteks ini diartikan sebagai
undang-undang yang dibuat oleh lembaga legeslatif.
(0

(A
bid. *al.=<
(0
)oh. )ahfud )D, &onstitusi Dan *ukum Dalam &ontro%ersi, 'aja#ali Pers, 6akarta, 17(7, *al.
=0-87
BAB III
POLITIK HUKUM PEMBENTUKAN
PERUNDANG-UNDANGAN
A! N%gara Hukum 6a# P%m0%#tuka# Hukum
*-
Pembentukan hukum dalam prinsip pembagian kekuasaan (division of powers
principle) merupakan fungsi ketatanegaraan/pemerintahan yang dijalankan oleh
badan eksekutif, legislatif dan yudikatif untuk membentuk hukum, baik hukum yang
tertulis (geschreven recht) maupun hukum yang tidak tertulis (ongeschreven recht).
Dalam konsep pemisahan kekuasaan (separation of powers), fungsi ini menjadi
otoritas badan legislatif saja, badan-badan kekuasaan lain tidak memiliki fungsi
tersebut. Sedangkan dalam konsep pembagian kekuasaan (division of powers), fungsi
ini dijalankan baik oleh badan legislatif, ekskutif maupun yudikatif.
Pembentukan peraturan perundang-undangan merupakan salah satu bagian
dari kegiatan pembentukan hukum. )enurut sifat hukum yang dibentuk,
pembentukan hukum itu dapat dibagi menjadi 1 "dua$, yaitu/
"($ pembentukan hukum yang tertulis, berupa traktat, yurisprudensi, dan peraturan
perundang-undangan; dan
"1$ pembentukan hukum yang tidak tertulis, berupa, hukum adat dan hukum
kebiasaan.
Dengan demikian, maka pembentukan peraturan perundang-undangan pada
dasarnya merupakan salah satu bagian dari pembentukan hukum yang tertulis.
Dikatakan demikian, karena pembentukan hukum yang tertulis itu tidak hanya berupa
pembentukan peraturan perundang-undangan saja, akan tetapi juga mencakup
pembentukan traktat dan yurisprudensi.
+ungsi pembentukan peraturan perundang-undangan merupakan fungsi yang
dapat dimiliki oleh setiap badan atau pejabat negara/pemerintahan. +ungsi
pembentukan peraturan perundang-undangan dapat dibedakan menjadi 1 "dua$, yaitu/
17
Delfina @usman, Politik Hukum dan odifikasi Hukum *alam Pembentukan Peraturan Perundang#
"ndangan %asional, 1< )ei 17(9.
"($ fungsi pembentukan peraturan perundang-undangan yang daya ikat dan daya
berlakunya ke dalam "internal pembentuk peraturan perundang-undangan$; dan
"1$ fungsi pembentukan peraturan perundang-undangan yang daya ikat dan daya
berlakunya ke dalam "internal pembentuk peraturan perundang-undangan$ dan
keluar "masyarakat/komunitas sasaran di luar pembentuk peraturan perundang-
undangan$.
B! Hu0u#ga# 7olitik hokum 6%#ga# hokum 6a# 7olitik hokum 6%#ga#
7%ratura# 7%ru#6a#g-u#6a#ga#
.eberapa literatur mengungkapkan bah#a hukum dianggap sebagai tujuan
dari politik. -dalah maksud dari politik agar ide-ide hukum atau rechtsidee seperti
kebebasan, keadilan, kepastian, dan sebagainya ditempatkan dalam hukum positif
dan pelaksanaan sebagian atau secara keseluruhan, dari ide hukum itu merupakan
tujuan dari proses politik. &edua, bah#a hukum sekaligus merupakan alat dari
politik. Dalam hal ini politik mempergunakan hukum positif "peraturan perundang-
undangan$ untuk mencapai tujuannya dalam arti merealisasikan ide-ide hukum
tersebut.
Dengan demikian, dengan peraturan yang ada atau hukum positif, politik
dapat mengarahkan dan membentuk masyarakat kepada tujuan tertentu. Dalam hal
ini, kita ingat sebutan bah#a hukum adalah alat rekayasa sosial atau a tool of social
engineering. politik dan hukum mempunyai peranan serta tugas yang sama yaitu
memecahkan masalah kemasyarakatan di mana politik adalah aspek dinamis dan
hukum merupakan aspek yang statis.
Dari apa yang diuraikan itu, menjadi jelas bah#a hubungan antara politik dan
hukum adalah dasar dari politik hukum dengan ketentuan bah#a pelaksanaan
pengembangan politik hukum tidak bisa dipisahkan dengan pelaksanaan
pengembangan politik secara keseluruhan. -tau, dapat dikatakan, prinsip dasar yang
dipergunakan sebagai ketentuan pengembangan politik akan juga berlaku bagi
pelaksanaan politik hukum yang di#ujudkan melalui peraturan perundang-undangan
Peraturan Perundang-undangan "legislation$ merupakan bagaian dari hukum
yang dibuat secara sengaja oleh institusi negara. a muncul tidak tiba-tiba. 4amun,
dibuat dengan tujuan dan alasan tertentu. )engingat harus ada konsitensi dan korelasi
antara apa yang ditetapkan sebagai politik hukum dengan yang ingin dicapai sebagai
tujuan. politik hukum dapat dibedakan dalam dua dimensi. Dimensi pertama adalah
politik hukum yang menjadi alasan dasar dari diadakannya suatu peraturan
Perundang-undangan. politik hukum dengan dimensi alasan dasar seperti ini menurut
*ikmahanto sebagai Kkebijakan dasar! atau dalam bahasa inggris disebut Kbasic
policy!.
Dimensi kedua dari politik hukum adalah tujuan atau alasan yang muncul
dibalik pemberlakuan suatu peraturan Perundang-undangan, yang kemudian disebut
sebagai K&ebijakan Pemberlakuan! atau yang dalam bahasa inggris disebut sebagai
Kenactment policy!. )elalui Kkebijakan Pemberlakuan! inilah dapat dilakukan
pengidentifikasian beragam kebijakan pemberlakuan undang-undang di ndonesia
Pembenahan sistem politik hukum dalam lima tahun mendatang mempunyai
sasaran terciptanya sistem hukum nasional yang adil, konsekuen, dan tidak
diskriminatif termasuk tidak diskriminatif terhadap perempuan atau bias gender$;
terjaminnya konsistensi seluruh peraturan Perundang-undangan pada tingkat pusat
dan daerah, serta tidak bertentangan dengan peraturan dan perundangan yang lebih
tinggi; dan kelembagaan peradilan dan penegak hukum yang ber#iba#a, bersih,
profesional dalam upaya memulihkan kembali kepercayaan hukum masyarakat
secara keseluruhan. -rahan kebijakan adalah untuk memperbaiki susbtansi "materi$
hukum , struktur "kelembagaan$ hukum, dan kultur "budaya$ hukum sebagaimana
pendapat ,a#rence ). +riedman seorang ahli hukum tentang Sistem hukum .
Pembenahan sistem dan politik hukum pada tahun 1778 diarahkan kepada
kebijakan untuk mendorong penyelenggaraan penegakan hukum, pemberantasan
korupsi dan reformasi birokrasi serta terjaminnya konsistensi peraturan Perundang-
undangan pada tingkat pusat dan daerah serta tidak bertentangan dengan peraturan
dan perundangan diatasnya.
2paya yang akan ditempuh dalam merealisasikan apa yang menjadi pembenahan
sistem politik hukum oleh pemerintah terangkum dalam Perpres 4omor 8 Dahun
177< tentang 'encana Pembangunan 6angka )enengah 4asional Dahun 177:-1770
meliputi /
(. )enata kembali substansi hukum melalui peninjauan dan penataan kembali
peraturan Perundang-undangan untuk me#ujudkan tertib Perundang-
undangan; dan menghormati serta memperkuat kearifan lokal dan hukum
adat untuk memperkaya sistem hukum dan peraturan melalui pemberdayaan
yurisprudensi sebagai bagian dari upaya pembaruan materi hukum nasional ;
1. )elakukan pembenahan sruktur hukum melalui penguatan kelembagaan
dengan meningkatkan profesionalisme hakim dan staf peradilan serta kualitas
sistem peradilan yang terbuka dan transparan ; menyederhanakan sistem
peradilan, meningkatkan transparansi agar peradilan dapat diakses oleh
masyarakat dan memastikan bah#a hukum diterapkan dengan adil dan
memihak pada kebenaran; memperkuat kearifan lokal dan hukum adapt untuk
memperkaya sistem hukum dan peraturan melalui pemberdayaan
yurisprudensi sebagai bagian dari upaya pembaruan hukum nasional;
9. )eningkatkan budaya hukum antara lain melalui pendidikan dan sosialisasi
berbagai peraturan Perundang-undangan serta perilaku keteladanan dari
kepala negara dan jajarannya dalam mematuhi dan menaati hukum serta
penegakan supremasi hukum .
Dengan demikian pembenahan pada politik hukum akan memberikan
pembenahan pula pada pembenahan peraturan perundang-undangan
'! Politik hukum 7%0%#tuka# 7%ratura# 7%ru#6a#g-u#6a#ga# #asio#al
Pembentukan peraturan perundang-undangan secara ideal dilandasi paling
tidak oleh 9 "tiga$ hal, yaitu/
"($ -sas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik;
"1$ Politik hukum "peraturan perundang-undangan$ nasional yang baik; dan
"9$ Sistem pengujian peraturan perundang-undangan yang memadai.
Pembentukan peraturan perundang-undangan sebagai bagian dari konsep
politik hukum berada dalam ruang konfigurasi yang tidak bebas nilai. 4ilai-nilai yang
berasal dari aspek sosial, budaya, politik, ekonomi, hukum dan sebagainya saling
berinteraksi dan saling mempengaruhi satu sama lainnya. Dengan demikian,
pembentukan peraturan perundang-undangan dalam konsep politik hukum tidak
hanya memiliki satu konfigurasi saja, melainkan lebih. -da konfigurasi politik, ada
konfigurasi sosio-kultural, ada konfigurasi sosial-ekonomi, ada konfigurasi hukum
dan sebagainya. &onfigurasi-konfigurasi dalam pembentukan peraturan perundang-
undangan ini secara teoretikal akan menghasilkan 9 "tiga$ klasifikasi dasar hukum
atau peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam masyarakat, yaitu /
1(
(+) hukum atau peraturan perundang-undangan sebagai pelayan kekuasaan
represif (law or legislation as the servant of repressive power)$
(,) hukum atau peraturan perundang-undangan sebagai institusi tersendiri yang
mampu menjinakkan represi dan melindungi integritas dirinya (law or
legislation as a differentiated institution capable of taming repression and
protecting its own integrity)$
"9$ hukum atau peraturan perundang-undangan sebagai fasilitator dari berbagai
respon terhadap kebutuhan dan aspirasi sosial (law or legislation as a
facilitator or response to social needs an aspirations).
Politik hukum "peraturan perundang-undangan$ nasional merupakan
kebijakan yang dibuat oleh pejabat atau badan/lembaga negara atau pemerintahan
untuk membentuk suatu peraturan perundang-undangan yang baik. Politik hukum
nasional dalam arti ini secara konstitusional dapat ditemukan dalam 2ndang-2ndang
Dasar. Pasal ( 22D (0:< memberikan landasan bagi konsep politik hukum
"peraturan Perundang-undangan$ nasional di ndonesia yang hendak
diimplementasikan.
Pasal ( 22D (0:< itu dirumuskan sebagai berikut /
"($ 4egara ndonesia adalah 4egara &esatuan yang berbentuk republik.
1(
Philippe 4onet and Philip Sel>nick, -aw and )ociety in !ransition . !oward /esponsive -aw,
*arper N 'o#, 4e# York, (08A, hlm. (:
"1$ &edaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut 2ndang-2ndang
Dasar.
"9$ 4egara ndonesia adalah negara hukum.
.erdasarkan rumusan Pasal ( 22D (0:< itu, maka konsep politik hukum
"peraturan Perundang-undangan$ nasional kita paling tidak dilandasi oleh 9 "tiga$
prinsip yang fundamental sebagai berikut/
"($ Prinsip negara hukum (welfare state)$
"1$ Prinsip negara kesatuan (unitary state) dengan bentuk pemerintah republik$ dan
"9$ Prinsip demokrasi (democracy).
Prinsip negara hukum yang dianut dalam konsep politik hukum "peraturan
Perundang-undangan$ nasional kita adalah prinsip welfare state. Prinsip ini dapat
ditemukan dalam Pembukaan 22D (0:< alenia keempat.
FKemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan
%egara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk mema0ukan
kese0ahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan
Kebangsaan Indonesia itu 12
Prinsip welfare state dalam Pembukaan 22D (0:< itu mengisyaratkan agar
dalam pembentukan politik perundang-undangan nasional berorientasi pada tujuan
untuk/
"($ melindungi segenap bangsa ndonesia dan seluruh tumpah darah ndonesia;
"1$ memajukan kesejahteraan umum;
"9$ mencerdaskan kehidupan bangsa; dan
":$ ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Prinsip negara kesatuan (unitary state) mengisyaratkan agar setiap pembentukan
politik perundang-undangan nasional, bingkai dan limitasinya adalah negara
kesatuan, dengan bentuk pemerintahannya republik. ni artinya, bah#a setiap
peraturan perundang-undangan yang hendak dibentuk harus dalam rangka
mengokohkan 4egara &esatuan 'epublik ndonesia. .entuk negara kita menurut
22D (0:< adalah negara kesatuan "bukan federal$, sedangkan bentuk pemerintahan
negara kita adalah republik "bukan monarchi$. )aka pembentukan dan materi
peraturan perundang-undangan baik di Pusat maupun Daerah tidak boleh lepas dari
kedua hal tersebut.
Selanjutnya prinsip demokrasi (democracy) mengisyaratkan agar setiap
pembentukan politik perundang-undangan nasional, senantiasa melibatkan peran serta
rakyat. 'akyat harus diberikan ruang secara demokratis untuk terlibat pada setiap
pembentukan peraturan perundang-undangan, mulai pada tahap rancangan hingga
pasca pengundangan. Pelibatan rakyat dalam setiap pembentukan peraturan
perundang-undangan tidak saja mencerminkan prinsip demokrasi telah dianut dalam
konsep politik hukum nasional itu, akan tetapi juga memberikan indikasi
terbentuknya penyelenggaraan pemerintahan yang terbuka dan responsif
"partisipatif$, serta mengarahkan bagi terbentuknya produk hukum "peraturan
perundang-undangan$ yang demokratik.
Pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik harus memperhatikan
lingkup atau lingkungan kuasa hukum, yang menurut Log%ma## dapat dibedakan
menjadi : "empat$ hal, yaitu/
11
a! Li#gku#ga# kuasa t%m7at (ruimtegebeid atau territorial sphere).
.erlakunya aturan hukum "peraturan perundang-undangan$ di batasi oleh
ruang atau tempat. -pakah sesuatu aturan hukum itu berlaku untuk suatu #ilayah
negara atau hanya berlaku untuk suatu bagian dari #ilayah negara. Seperti diketahui,
Gdaerah kekuasaan! berlakunya suatu undang-undang dapat meliputi seluruh #ilayah
negara, tetapi untuk suatu keadaan tertentu atau suatu materi tertentu hanya
diberlakukan untuk suatu #ilayah tertentu pula. Suatu Perda hanya berlaku untuk
suatu #ilayah daerah tertentu.
0! Li#gku#ga# kuasa 7%rsoala# (zakengebeid atau material sphere).
Suatu materi atau persoalan tertentu yang diatur dalam suatu peraturan
perundang-undangan mengidentifikasi masalah tertentu. Dengan demikian maka
persoalan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan menunjukkan lingkup
11
Delfina @usman, Politik Hukum dan odifikasi Hukum *alam Pembentukan Peraturan Perundang#
"ndangan %asional, 1< )ei 17(9
materi yang diatur, apakah persoalannya adalah persoalan publik atau pri%at,
persoalan perdata atau pidana, dan sebagainya. )ateri tersebut menunjukkan lingkup
masalah atau persoalan yang diatur.
5! Li#gku#ga# kuasa ora#g (personengebied)
Sesuatu aturan mungkin hanya diberlakukan bagi sekelompok atau
segolongan orang atau penduduk tertentu. Dengan ditetapkannya subjek atau orang
tertentu dalam peraturan perundang-undangan tersebut maka hal itu memperlihatkan
adanya pembatasan mengenai orangnya. 2ndang-2ndang tentang Pega#ai 4egeri,
2ndang-2ndang tentang Denaga &erja, 2ndang-2ndang tentang Peradilan )iliter,
dan sebagainya, menunjukkan bah#a peraturan perundang-undangan tersebut hanya
diberlakukan bagi kelompok orang yang diidentifikasi dalam peraturan perundang-
undangan itu.
6! Li#gku#ga# kuasa 8aktu (tijdsgebied atau temporal sphere)
,ingkungan #aktu menunjukkan kapan suatu peraturan perundang-undangan
berlaku, apakah berlaku untuk suatu masa tertentu atau untuk masa tidak tertentu,
apakah mulai berlaku sejak ditetapkan berlaku surut sebelum ditetapkan. .erlakunya
suatu peraturan hukum ditentukan oleh #aktu.
D! Ko#lik Hukum UU Nomor +* Tahu# *-++
Peraturan perundang-undangan menurut Pasal ( angka 1 2ndang-2ndang
4omor (1 Dahun 17(( adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara
atau pejabat yang ber#enang dan mengikat secara umum. .erdasarkan pengertian ini,
maka yang disebut dengan peraturan perundang-undangan bentuknya pasti tertulis. a
dibuat oleh lembaga negara atau pejabat yang ber#enang, dan mengikat secara
umum. 6adi berdasarkan rumusan ketentuan ini, pembentuk peraturan perundang-
undangan itu ada 1 "dua$, yaitu / "($ lembaga negara; dan "1$ pejabat yang
ber#enang.
6ika pengertian Gpejabat yang ber#enangG dapat diartikan sebagai pejabat
yang berdasarkan peraturan perundang-undangan memiliki ke#enangan yang sah
untuk membentuk suatu peraturan perundang-undangan, maka pertanyaan hukumnya
kemudian adalah siapa yang dimaksud dengan lembaga negara ituC
Sebelum 22D (0:< diamandemen, lembaga-lembaga negara kita menurut Sri
Soemantri )., terdiri dari / )ajelis Permusya#aratan 'akyat ")P'$, Presiden "dan
Bakil Presiden$, De#an Per#akilan 'akyat "DP'$, De#an Pertimbangan -gung
"DP-$, .adan pemeriksa &euangan ".P&$, dan )ahkamah -gung ")-$.
19

Setelah adanya perubahan "amandemen$, 22D (0:< kita menurut 6imly
-sshiddiLie mengenal beberapa lembaga negara, yaitu / )P', DP', De#an
Per#akilan Daerah "DPD$, Presiden, )ahkamah -gung, )ahkamah &onstitusi,
.adan Pemeriksa &euangan, serta lembaga tambahan lain yang bersifat independen
seperti &omisi Pemilihan 2mum "&P2$.
1:

Dengan demikian, apabila kita menggunakan pendapat 6imly -sshiddiLie
untuk menja#ab pertanyaan / siapakah yang dimaksud dengan lembaga negara yang
berwenang membuat peraturan perundang#undangan itu, maka ja#abannya adalah
)P', DP', DPD, Presiden, )ahkamah -gung, )ahkamah &onstitusi, .P&, serta
lembaga tambahan lain yang bersifat independen seperti &omisi Pemilihan 2mum
"&P2$.
Pertanyaan selanjutnya adalah, benarkah bah#a hanya lembaga negara saja
yang memiliki ke#enangan untuk membentuk peraturan perundang-undangan di
ndonesiaC 6a#abannya jelas tidak. Di luar lembaga negara, seperti lembaga
pemerintahan daerah juga memiliki ke#enangan untuk membentuk peraturan
perundang-undangan yang la>im kita kenal dengan Peraturan Daerah "Perda$. Di
tingkat Desa, ternyata juga ada lembaga pemerintahan desa yang memiliki
ke#enangan untuk membentuk peraturan perundang-undangan, yang la>im disebut
dengan Peraturan Desa.
19
Sri Soemantri )., Kekuasaan dan )istem Pertanggung0awab Presiden Pasca Perubahan ""* +345,
makalah pada Seminar Sistem Pemerintahan ndonesia Pasca -mandemen 22D(0:<, .P*4
Departemen &ehakiman bekerjasama dengan +akultas *ukum 2ni%ersitas -irlangga dan kan#il
Departemen &ehakiman dan *-) Pro%insi 6a#a Dimur, Surabaya 0 6uni 177:, hlm. =.
1:
6imly -sshiddiLie, 'ormat Kelembagaan %egara dan Pergeseran Kekuasaan *alam ""* +345,
+*-2 Press, Yogyakarta, 177:, hlm. (1
.erdasarkan uraian di atas, maka dapat dikemukakan, bah#a rumusan
pengertian peraturan perundang-undangan sebagaimana tersebut dalam Pasal ( angka
1 2ndang-2ndang 4omor (1 Dahun 17(( itu kurang tepat. Pengertian peraturan
perundang-undangan itu seharusnya juga mencakup lembaga pemerintahan, baik
pusat maupun daerah, di samping lembaga negara sebagai pembentuk peraturan
perundang-undangan di ndonesia.
E! K%0i9aka# Politik Hukum Nasio#al
Sebelum telah diuraikan mengenai politik hukum pembentukan peraturan
perundang-undangan berikut konflik yang muncul dari peraturan pembentukan
perundang-undangan, sekarang kita akan membahas mengenai politik perundang-
undangan nasional, sebelum lebih jauh membahas politik perundang-undangan, maka
terlebih dahulu perlu kita memahami politik hukum sebagai induk dari politik
perundang-undangan. 5leh karena itu, perlu disinggung secara garis besar mengenai
arah kebijakan politik hukum nasional yang sedang dilaksanakan pada saat ini.
-rah kebijakan politik hukum nasional dilandaskan pada keinginan untuk
melakukan pembenahan sistem dan politik hukum yang dilandasikan pada 9 "tiga$
prinsip dasar yang #ajib dijunjung oleh setiap #arga negara yaitu/
(. supremasi hukum;
1. kesetaraan di hadapan hukum; dan
9. penegakan hukum dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan hukum.
&etiga prinsip dasar tersebut merupakan syarat mutlak dalam me#ujudkan cita-cita
ter#ujudnya negara ndonesia yang damai dan sejahtera. -pabila hukum ditegakkan
dan ketertiban di#ujudkan, maka diharapkan kepastian, rasa aman, tenteram, ataupun
kehidupan yang rukun akan dapat ter#ujud. 2ntuk itu politik hukum nasional harus
senantiasa diarahan pada upaya mengatasi berbagai permasalahan dalam
penyelenggaraan sistem dan politik hukum yang meliputi permasalahan yang
berkaitan dengan substansi hukum, struktur hukum, dan budaya hukum.
(. Su0sta#si Hukum (Legal Substance/
Pembenahan substansi hukum merupakan upaya menata kembali materi
hukum melalui peninjauan dan penataan kembali peraturan perundang-undangan
untuk me#ujudkan tertib perundang-undangan dengan memperhatikan asas
umum dan hirarki perundang-undangan dan menghormati serta memperkuat
kearifan lokal dan hukum adat untuk memperkaya sistem hukum dan peraturan
melalui pemberdayaan yurisprudensi sebagai bagian dari upaya pembaruan materi
hukum nasional. *al ini yang akan dibahas selanjutnya karena materi ini
merupakan bagian dari politik perundang-undangan.
1. Struktur Hukum (Legal Structure)
Pembenahan terhadap struktur hukum lebih difokuskan pada penguatan
kelembagaan dengan meningkatkan profesionalisme hakim dan staf peradilan
serta kualitas sistem peradilan yang terbuka dan transparan; menyederhanakan
sistem peradilan, meningkatkan transparansi agar peradilan dapat diakses oleh
masyarakat dan memastikan bah#a hukum diterapkan dengan adil dan memihak
pada kebenaran; memperkuat kearifan lokal dan hukum adat untuk memperkaya
sistem hukum dan peraturan melalui pemberdayaan yurisprudensi sebagai bagian
dari upaya pembaruan materi hukum nasional. Dalam kaitannya dengan
pembenahan struktur hukum ini, langkah-langkah yang diterapkan adalah/
a. M%#um0uhka# k%m0ali k%7%r5a"aa# mas"arakat 7a6a sist%m
hukum 6a# k%7astia# hukum!
&urangnya independensi lembaga penegak hukum yang terjadi
selama kurun #aktu silam memba#a dampak besar dalam sistem
hukum. nter%ensi berbagai kekuasaan lain terhadap kekuasaan
yudikatif telah mengakibatkan terjadinya partialitas dalam berbagai
putusan, #alaupun hal seperti ini menyalahi prinsip-prinsip
impartialitas dalam sistem peradilan telah mengakibatkan degradasi
kepercayaan masyarakat kepada sistem hukum maupun hilangnya
kepastian hukum.
0! P%#"%l%#ggaraa# 7ros%s hukum s%5ara tra#s7ara# 6a# 6a7at
6i7%rta#ggu#g9a8a0ka# (aku#ta0ilitas/!
-kuntabilitas lembaga hukum tidak dilakukan dengan jelas, baik
kepada siapa atau lembaga mana lembaga tersebut harus
bertanggung ja#ab maupun tata cara bagaimana yang harus
dilakukan untuk memberikan pertanggungja#abannya, sehingga
memberikan kesan proses hukum tidak transparan. *al ini juga
berkaitan dengan Kbudaya! para penegak hukum dan masyarakatnya,
sebagai contoh kurangnya informasi mengenai alur atau proses
beracara di pengadilan sehingga hal tersebut sering dipakai oleh
oknum yang memanfaatkan hal tersebut untuk menguntungkan
dirinya sendiri. &urangnya bahkan sulitnya akses masyarakat dalam
melakukan penga#asan terhadap penyelenggaraan peradilan
membuka kesempatan terjadinya penyimpangan kolektif di dalam
proses peradilan sebagaimana dikenal dengan istilah mafia peradilan
yang sampai saat ini tiada kunjung dapat teratasi, oleh kerena itu
sangat diperlukan penetapan langkah-langkah prioritas dalam
pembenahan lembaga peradilan.
5! P%m0%#aha# 6a# 7%#i#gkata# sum0%r 6a"a ma#usia 6i 0i6a#g
hukum!
Secara umum, kualitas sumber daya manusia di bidang hukum, dari
mulai para peneliti hukum, perancang peraturan perundang-
undangan sampai tingkat pelaksana dan penegak hukum masih perlu
peningkatan, termasuk dalam hal memahami dan berperilaku
responsif gender. 'endahnya kualitas sumber daya manusia di
bidang hukum juga tidak terlepas dari belum mantapnya sistem
pendidikan hukum yang ada. Selain itu telah menjadi rahasia umum
bah#a proses seleksi maupun kebijakan pengembangan sumber daya
manusia di bidang hukum yang diterapkan banyak menyimpang
yang akhirnya tidak menghasilkan SD) yang berkualitas. *al ini
pula yang memberikan berpengaruh besar terhadap memudarnya
supremasi hukum serta semakin menambah ketidakpercayaan
masyarakat terhadap sistem hukum yang ada.
9. Bu6a"a Hukum (Legal Culture/
2nsur yang ketiga dalam arah kebijakan politik hukum nasional adalah
meningkatkan budaya hukum antara lain melalui pendidikan dan sosialisasi
berbagai peraturan perundang-undangan. *al ini bertujuan untuk menumbuhkan
kembali budaya hukum yang sepertinya Ksemakin hari semakin memudar!
"terdegradasi$. -patisme dan menurunnya tingkat appresiasi masyarakat pada
hukum de#asa ini sudah sangat mengkha#atirkan, maraknya kasus main hakim
sendiri, pembakaran para pelaku kriminal, pelaksanaan sweeping oleh sebagian
anggota masyarakat bahkan di depan aparat penegak hukum merupakan gambaran
nyata semakin menipisnya budaya hukum masyarakat. Sehingga konsep dan
makna hukum sebagai instrumen untuk melindungi kepentingan indi%idu dan
sosial hampir sudah kehilangan bentuknya yang berdampak pada terjadinya
ketidakpastian hukum !yang tercipta! melalui proses pembenaran perilaku salah
dan menyimpang bahkan hukum sepetinya hanya merupakan instrumen pembenar
bagi !perilaku salah!, seperti s#eeping yang dilakukan oleh kelompok masa,
oknum aparat yang membacking orang atau kelompok tertentu, dan lain
sebagainya.
Dingkat kesadaran masyarakat terhadap hak, ke#ajibannya, dan hukum
sangat berkaitan dengan "antara lain$ tingkat pendidikan dan proses sosialisasi
terhadap hukum itu sendiri. Di lain pihak kualitas, profesionalisme, dan kesadaran
aparat penegak hukum juga merupakan hal mutlak yang harus dibenahi.
Balaupun tingkat pendidikan sebagian masyarakat masih kurang memadai,
namun dengan kemampuan dan profesionalisme dalam melakukan pendekatan
dan penyuluhan hukum oleh para praktisi dan aparatur ke dalam masyarakat,
sehingga pesan yang disampaikan kepada masyarakat dapat diterima secara baik
dan dapat diterapkan apabila masyarakat menghadapi berbagai persoalan yang
terkait dengan hak dan ke#ajibannya serta bagaimana menyelesaikan suatu
permasalahan sesuai dengan jalur hukum yang benar dan tidak menyimpang.
2ntuk mendukung pembenahan sistem dan politik hukum tersebut, telah
ditetapkan sasaran politik hukum nasional yaitu terciptanya suatu sistem hukum
nasional yang adil, konsekuen, dan tidak diskriminatif "termasuk bias gender$;
terjaminnya konsistensi seluruh peraturan perundang-undangan pada tingkat pusat
dan daerah, serta tidak bertentangan dengan peraturan dan perundangan yang lebih
tinggi, dan kelembagaan peradilan dan penegak hukum yang ber#iba#a, bersih,
profesional dalam upaya memulihkan kembali kepercayaan hukum masyarakat secara
keseluruhan.
2ntuk me#ujudkan sasaran tersebut, maka disusun suatu program pembangunan
politik hukum, antara lain dengan melakukan/
(. program perencanaan hukum;
1. Program pembentukan hukum;
9. program peningkatan kinerja lembaga peradilan dan lembaga penegakan
hukum lainnya;
:. program peningkatan kualitas profesi hukum; dan
<. program peningkatan kesadaran hukum dan hak asasi manusia.
1! Politik P%ru#6a#g-u#6a#ga#
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bah#a politik perundang-
undangan merupakan arah kebijakan pemerintah atau negara mengenai arah
pengaturan "substansi$ hukum yang dituangkan dalam peraturan perundang-undangan
"hukum tertulis$ untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. )engapa
hanya menggambarkan keinginan atau kebijakan pemerintah atau negaraC Dalam
2ndang-2ndang Dasar 4egara 'epublik ndonesia Dahun (0:< disebutkan bah#a
ke#enangan atau organ pembentuk peraturan perundang-undangan adalah hanya
negara atau Pemerintah.
1<
Dengan demikian dapat dikatakan bah#a pembentukan peraturan perundang-
undangan merupakan bentuk monopoli negara yang absolut, tunggal, dan tidak dapat
1<
*al ini disebut sebagai Kasas kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat! yang terdapat dalam
Pasal < 2ndang-2ndang 4omor (1 Dahun 17(( tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
dialihkan pada badan yang bukan badan negara atau bukan badan pemerintah.
Sehingga pada prinsipnya tidak akan ada deregulasi yang memungkinkan
pens#astaan pembentukan peraturan perundang-undangan. 4amun demikian dalam
proses pembentukannya sangat mungkin mengikutsertakan pihak bukan negara atau
Pemerintah dengan kata lain masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan
atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan rancangan undang-undang dan
rancangan peraturan daerah.
*al tersebut didasarkan pada kenyataan bah#a peraturan perundang-
undangan, baik langsung maupun tidak langsung akan selalu berkenaan dengan
kepentingan umum, oleh karena itu sangat #ajar apabila masyarakat diikutsertakan
dalam penyusunannya.
&eikutsertaan tersebut dapat dalam bentuk memberikan kesempatan kepada
masyarakat untuk melakukan berbagai prakarsa dalam mengusulkan/memberikan
masukan untuk mengatur sesuatu atau memberikan kesempatan pada masyarakat
untuk menilai, memberikan pendapat atas berbagai kebijaksanaan negara atau
Pemerintah di bidang perundang-undangan. Dalam praktek, pengikutsertaan
dilakukan melalui kegiatan seperti pengkajian ilmiah, penelitian, berpartisipasi dalam
forum-forum diskusi atau duduk dalam kepanitiaan untuk mempersiapkan suatu
rancangan peraturan perundang-undangan.
Pada forum De#an Per#akilan 'akyat juga dilakukan pemberian sarana
partisipasi yang dilakukan melalui pranata 6dengar pendapat6 atau 6public hearing6.
.erbagai sarana untuk berpartisipasi tersebut akan lebih efektif bila dilakukan dalam
lingkup yang lebih luas bukan saja dari kalangan ilmiah atau kelompok profesi, tetapi
dari berbagai golongan kepentingan "interest groups$ atau masyarakat pada
umumnya. 2ntuk me#ujudkan hal tersebut biasanya diperlukan suatu sistem
desiminasi rancangan peraturan perundang-undangan agar masyarakat dapat
mengetahui arah kebijakan atau politik hukum dan perundang-undangan yang
dilaksanakan. Sehingga pembangunan dan pembentukan peraturan perundang-
undangan dapat mengarah pada terbentuknya suatu sistem hukum nasional ndonesia
yang dapat mengakomodir harapan hukum yang hidup di dalam masyarakat
ndonesia yang berorientasi pada terciptanya hukum yang responsi%e. .erkaitan
dengan hal tersebut )ahfud )D juga menyatakan/
*ukum yang responsi%e merupakan produk hukum yang lahir dari strategi
pembangunan hukum yang memberikan peranan besar dan mengundang partisipasi
secara penuh kelompok-kelompok masyarakat sehingga isinya mencerminkan rasa
keadilan dan memenuhi harapan masyarakat pada umumnya.
1=
Dari yang telah diuraikan tersebut, maka seharusnya peraturan perundang-
undangan dapat diformulasikan sedemikian rupa yaitu sedapat mungkin menampung
berbagai pemikiran dan partisipasi berbagai lapisan masyarakat, sehingga produk
hukum yang dihasilkan dapat diterima oleh masyarakat. Pemahaman mengenai hal ini
sangat penting karena dapat menghindari benturan pemahaman antara masyarakat dan
pemerintah atau negara yang akan terjebak ke dalam tindakan yang dijalankan diluar
jalur atau landasan hukum. .ila hukum yang dihasilkan adalah hukum yang
responsif, maka tidak akan ada lagi hukum siapa yang kuat "punya kekuasaan$ akan
menguasai yang lemah atau anggapan rakyat selalu menjadi korban, karena lahirnya
hukum tersebut sudah melalui proses pendekatan dan formulasi materi muatannya
telah menampung berbagai aspirasi masyarakat. Pada dasarnya penerimaan "resepsi$
dan apresiasi masyarakat terhadap hukum sangat ditentukan pula oleh nilai,
keyakinan, atau sistem sosial politik yang hidup dalam masyarakat itu sendiri.
18

Dalam sejarah perkembangan peraturan perundang-undangan di ndonesia
pernah terjadi bah#a selama lebih dari 97 tahun sebelum reformasi tahun (00A,
konfigurasi politik yang berkembang di negara ndonesia dibangun secara tidak
demokratis sehingga hukum kita menjadi hukum yang konser%atif dan terpuruk
karena selalu dijadikan sub ordinat dari politik. Sedangkan ciri atau karakteristik yang
melekat pada hukum konser%atif antara lain/
(. Proses pembuatannya sentralistik "tidak partisipatif$ karena didominasi oleh
lembaga-lembaga negara yang dibentuk secara tidak demokrastis pula oleh
1=
). )ahfud )D, *emokratisasi *alam /angka Pembangunan Hukum 7ang /esponsif, )akalah,
+* 24DP, Semarang, (00=, hlm (
18
skandar &amil, Peradilan 8nak, akalah, Disampaikan pada Borkshop "/ound !able *iscussion$
mengenai Pedoman Di%ersi untuk Perlindungan .agi -nak Yang .erhadapan dengan *ukum, 6akarta,
( 6uni 177<
negara. Di sini peran lembaga peradilan dan kekuatan-kekuatan masyarakat
sangat sumir.
1. sinya bersifat positivist#instrumentalistik "tidak aspiratif$ dalam arti lebih
mencerminkan kehendak penguasa karena sejak semula hukum telah
dijadikan alat "instrumen$ pembenar yang akan maupun "terlanjur$ dilakukan
oleh pemegang kekuasaan yang dominan.
9. ,ingkup isinya bersifat open responsi%e "tidak responsif$ sehingga mudah
ditafsir secara sepihak dan dipaksakan penerimanya oleh pemegang
kekuasaan negara.
:. Pelaksanaannya lebih mengutamakan program dan kebijakan sektoral jangka
pendek dari pada menegakkan aturan-aturan hukum yang resmi berlaku.
<. Penegakannya lebih mengutamakan perlindungan korp sehingga tidak jarang
pembelokan kasus hukum oleh aparat dengan mengaburkan kasus
pelanggaran menjadi kasus prosedur atau menampilkan kambang hitam
sebagai pelaku yang harus dihukum.
1A

Sejalan dengan ). )ahfud )D, mengenai ciri tersebut, Satya -rinanto
memberikan pendapatnya bah#a produk hukum yang konser%atif mempunyai makna/
Pro6uk hukum konservatifortodokselitis adalah produk hukum yang isinya lebih
mencerminkan %isi sosial elit politik, keinginan pemerintah, dan bersifat positi%is-
instrumentalis, yakni menjadi alat pelaksanaan ideologi dan program negara. a lebih
tertutup terhadap tuntutan-tuntutan kelompok-kelompok maupun indi%idu-indi%idu
dalam masyarakat. Dalam pembuatannya, peranan dan partisipasi masyarakat relatif
kecil.
S%6a#gka# 7ro6uk hukum responsifpopulistik adalah produk hukum yang
mencerminkan rasa keadilan dan memenuhi harapan masyarakat. Dalam proses
pembuatannya memberikan peranan besar dan partisipasi penuh kelompok-kelompok
sosial atau indi%idu-indi%idu dalam masyarakat. *asilnya bersifat responsif terhadap
1A
). )ahfud )D, -angkah Politik dan 9ingkai Paradikmatik *alam Penegakan Hukum Kita,
)akalah, .ahan &umpulan Perkuliahan Pasca Sarjana +* 2, 177:, hal 9-<
tuntutan-tuntutan kelompok-kelompok sosial atau indi%idu-indi%idu dalam
masyarakat.
10

Dari pengalaman sejarah hukum
97
tersebut seharusnya perlu dirancang suatu
skenario politik perundang-undangan nasional yang berorientasi pada pemahaman
konsep sistem hukum nasional yang di#ujudkan dalam bentuk penyusunan peraturan
perundang-undangan secara komprehensif dan aspiratif. Penyusunan atau
pembentukan peraturan perundang-undangan yang aspiratif tersebut merupakan
rangkaian dari langkah-langkah strategis yang dituangkan dalam program
pembangunan hukum nasional yang dilaksanakan untuk me#ujudkan negara hukum
yang adil dan demokratis serta berintikan keadilan dan kebenaran yang mengabdi
kepada kepentingan rakyat dan bangsa di dalam bingkai 4egara &esatuan 'epublik
ndonesia.
G! La#gkah Strat%gis Politik P%ru#6a#g-u#6a#ga# Nasio#al
Sehubungan dengan politik pembangunan hukum dan politik peraturan
perundang-undangan nasional, paling tidak pemerintah dan De#an Per#akilan
'akyat telah menetapkan dua langkah strategis, yaitu dengan menetapkan Program
,egislasi 4asional 17(7-17(: dan menetapkan Peraturan Presiden 4omor < Dahun
17(7 tentang 'encana Pembangunan 6angka )enengah 4asional Dahun 17(7-17(:.
(. R%#5a#a P%m0a#gu#a# 3a#gka M%#%#gah Nasio#al Tahu# *-+--*-+4!
Dalam rangka pembenahan sistem dan politik hukum nasional, pada tanggal
17 6anuari 17(7 ditetapkan Peraturan Presiden 4omor < Dahun 17(7 tentang
'encana Pembangunan 6angka )enengah 4asional Dahun 17(7-17(:. Satya
-rinanto dalam pidato pengukuhan sebagai @uru .esar Detap +akultas
*ukum 2ni%ersitas ndonesia menyatakan bah#a Peraturan Presiden tentang
10
Satya -rinanto, Kumpulan ateri Pendukung (!ransparansi) Politik Hukum dan Politik
Perundang#undangan (*ihimpun dari 9erbagai )umber), Disampaikan pada Pendidikan dan Pelatihan
Perancangan Perundang-undangan .agi -egislative *rafterSekretariat 6enderal DP' ', tanggal (:
-pril 1779, hal. A
97
Satjipto 'ahardjo, Ilmu Hukum , PD 3itra -ditya .akti, .andung, 1777, hal. (78. Satjipto 'ahardjo
mengutip Paul Scholten yang mengemukakan konsep bah#a hukum merupakan suatu kesatuan norma-
norma yang merupakan rangkaian perjalanan sejarah yang memandang kebelakang kepada peraturan
perundang-undangan yang ada dan memandang kedepan untuk mengatur kembali
'encana Pembangunan 6angka )enengah 4asional ini dapat dikatakan
sebagai @aris-garis .esar *aluan 4egara "@.*4$ yang pernah ada dalam Era
5rde ,ama dan 5rde .aru.
9(
.ila dilihat dari beberapa hal yang berkaitan dengan pembenahan substansi
hukum, maka dapat dikatakan bah#a politik hukum atau politik peraturan perundang-
undangan dalam 'encana Pembangunan 6angka )enengah 4asional ini diarahkan
pada permasalahan terjadinya tumpang tindih dan inkonsistensi peraturan perundang-
undangan dan implementasi undang-undang yang terhambat peraturan
pelaksanaannya. .erdasarkan adanya permasalahan tersebut, maka politik hukum
nasional akan diarah pada terciptanya hukum nasional yang adil, konsekuen, dan
tidak diskriminatif serta menjamin terciptanya konsistensi seluruh peraturan
perundang-undangan pada tingkat pusat dan daerah serta tidak bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya.
2ntuk itu dalam rangka mengimplementasikan politik pembangunan hukum
nasional
91
maka dengan Peraturan Presiden tentang 'encana Pembangunan 6angka
)enengah 4asional tersebut ditetapkan suatu landasan politik perundang-undangan
nasional yang sejak tahun 177< telah menetapkan kebijakan untuk memperbaiki
substansi hukum melalui peninjauan dan penataan kembali peraturan perundang-
undangan dengan memperhatikan asas umum dan hierarki peraturan perundang-
undangan.
Peninjauan dan penataan kembali peraturan pundang-undangan tersebut
adalah merupakan kegiatan yang dilakukan untuk melakukan peninjauan dan
penataan peraturan perundang-undangan termasuk didalamnya melakukan kegiatan
pengharmonisasian berbagai rancangan peraturan perundang-undangan dengan
rancangan peraturan perundang-undangan yang lain maupun terhadap peraturan
perundang-undangan yang telah ada, juga melakukan pengharmonisasi peraturan
9(
Satya -rinanto, Politik Pembangunan Hukum %asional dalam :ra Pasca /eformasi, Pidato
2pacara Pengukuhan sebagai @uru .esar tetap pada +*-2, 6akarta, (A )aret 177=, hal. (: E (=.
-lasan menyebut sama dengan @.*4 dalam era 5rde ,ama dan 5rde .aru, karena sebagai akibat
proses perubahan 2D (0:<, dimana salah satu dasar pemikiran perubahannya adalah tentang
kekuasaan tertinggi di tangan )P', maka semenjak tahun 177:, )P' hasil pemilihan umum pada
tahun tersebut tidak lagi menetapkan produk hukum yang berupa @.*4
91
Satya -rinanto, 5p.3it., hal. 1<
perundang-undangan yang sudah ada dengan peraturan perundang-undangan yang
lain. *al ini dimaksudkan agar peraturan perundang-undangan yang tumpang tindih,
inkonsistensi, bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi
"disharmonis$ dapat ditinjau kembali untuk dilakukan perubahan atau re%isi.
Politik perundang-undangan yang tertuang dalam 'encana Pembangunan
6angka )enengah 4asional ditujukan untuk menciptakan persamaan persepsi dari
seluruh pelaku pembangunan khususnya di bidang hukum dalam menghadapi
berbagai isu strategis dan global yang secara cepat perlu diantipasi agar penegakan
dan kepastian hukum tetap berjalan secara berkesinambungan yang diharapkan akan
dihasilkan kebijakan/materi hukum yang sesuai dengan aspirasi masyarakat serta
mempunyai daya laku yang efektif dalam masyarakat dan dapat menjadi sarana untuk
me#ujudkan perubahan-perubahan di bidang sosial kemasyarakatan
99
.
5leh karena itu, sasaran politik perundang-undangan nasional saat ini harus
mengacu pada 'encana Pembangunan 6angka Panjang 4asional "'P6P4$ sebagai
arah dan prioritas pembangunan secara menyeluruh yang dilakukan secara bertahap
dan juga 'encana Pembangunan 6angka )enengah 4asional "'P6)$ 17(7-17(:.
-cuan tersebut sangat penting karena politik peraturan perundang-undangan
merupakan salah satu unsur penting dalam rangka pembangunan hukum nasional
secara keseluruhan yang merupakan suatu proses yang dinamis, mengalami
perubahan sesuai dengan dinamika kehidupan masyarakat dan politik yang tidak
terlepas dari/
a. keadaan masa lalu yang terkait dengan sejarah perjuangan bangsa;
b. keadaan saat ini yang berkaitan dengan kondisi obyektif yang
terjadi; serta
c. cita-cita atau keinginan yang ingin di#ujudkan di masa yang akan
datang.
9:

99
)ochtar &usumaatmadja, 'ungsi dan Perkembangan Hukum dalam Pembangunan %asional, 0ilid
III, %o. 4, Padjadjaran, .andung, (087, hal. <-(=, dalam Satjipto 'ahardjo, Hukum dan Perubahan
)osial, Penerbit -lumni, .andung, (080, hal. (=(.
9:
Prolegnas/ instrumen perencanaan perundang-undangan
'encana Pembangunan 6angka )enengah 4asional yang telah ditetapkan juga
telah mengarahkan pembentukan peraturan perundang-undangan yang harus
dilakukan melalui proses yang benar dengan memperhatikan tertib perundang-
undangan serta asas umum peraturan perundang-undangan yang baik. -dapun pokok-
pokok politik perundang-undangan yang akan dilaksanakan dalam 'encana
Pembangunan 6angka )enengah 4asional, dapat dikelompokkan antara lain meliputi
kegiatan/
a. Penegakkan dan &epastian *ukum yang meliputi antara lain/
($ Penguatan dan Pemantapan *ubungan &elembagaan -ntar Penegak
*ukum;
1$ Peningkatan &inerja ,embaga .idang *ukum;
9$ Peningkatan Pemberantasan &orupsi;
:$ Peningkatan &ualitas Pelayanan Publik;
<$ Peningkatan &apasitas dan -kuntabilitas -parat *ukum;
=$ n%entarisasi dan Penyelarasan Peraturan Perundang-undangan yang
menghambat pembangunan;
8$ Peningkatan Penghormatan, Pemajuan, dan Penegakan *-)
b. Pelaksanaan berbagai pengkajian hukum dengan mendasarkan baik dari hukum
tertulis maupun hukum tidak tertulis yang terkait dengan isu hukum, hak asasi
manusia dan peradilan;
c. Pelaksanaan berbagai penelitian hukum untuk dapat lebih memahami kenyataan
yang ada dalam masyarakat;
d. *armonisasi di bidang hukum "hukum tertulis dan hukum tidak tertulis/hukum
adat$ terutama pertentangan antara peraturan perundang-undangan pada tingkat
pusat dengan peraturan perundang-undangan pada tingkat daerah yang
mempunyai implikasi menghambat pencapaian kesejahteraan rakyat;
e. Penyusunan naskah akademis rancangan undang-undang berdasarkan kebutuhan
masyarakat;
f. Penyelenggaraan berbagai konsultasi publik terhadap hasil pengkajian dan
penelitian sebagai bagian dari proses pelibatan masyarakat dalam proses
penyusunan rekomendasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat;
g. Penyempurnaan dan perubahan dan pembaruan berbagai peraturan perundang-
undangan yang tidak sesuai dan tidak sejalan dengan kebutuhan masyarakat dan
pembangunan, serta yang masih berindikasi diskriminasi dan yang tidak
memenuhi prinsip kesetaraan dan keadilan;
h. Penyusunan dan penetapan berbagai peraturan perundang-undangan berdasarkan
asas hukum umum, taat prosedur serta sesuai dengan pedoman penyusunan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
*! Program L%gislasi Nasio#al (Prol%g#as/
Program ,egislasi 4asional "Prolegnas$ adalah bagian dari manajemen dan
politik pembentukan peraturan perundang-undangan yang merupakan instrument
perencanaan program pembentukan 2ndang-2ndang yang disusun secara berencana,
terpadu, dan sistematis
9<
yang ditetapkan untuk jangka #aktu panjang, menengah, dan
tahunan berdasarkan skala prioritas pembentukan 'ancangan 2ndang-2ndang.
Prolegnas sangat diperlukan untuk menata sistem hukum nasional secara menyeluruh
dan terpadu yang didasarkan pada cita-cita Proklamasi dan landasan konstitusional
negara hukum ndonesia. Dasar hukum penyusunan Program ,egislasi 4asional
"Prolegnas$ saat ini adalah 2ndang-2ndang 4omor (7 Dahun 177: tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dan Peraturan Presiden 4omor =(
Dahun 177< tentang Data 3ara Penyusunan dan Pengelolaan Program ,egislasi
4asional.
Prolegnas memuat program pembentukan 2ndang-2ndang dengan pokok
materi yang akan diatur serta keterkaitannya dengan peraturan perundang-undangan
lainnya yang merupakan penjelasan secara lengkap mengenai konsep 'ancangan
2ndang-2ndang yang meliputi/
a. latar belakang dan tujuan penyusunan;
9<
'epublik ndonesia, Peraturan Presiden %omor ;+ !ahun ,<<5, Psl. ( angka ( lihat pula Pasal (
angka 0 2ndang-2ndang 4omor (7 Dahun 177: tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
b. sasaran yang akan di#ujudkan;
c. pokok-pokok pikiran, lingkup atau obyek yang akan diatur; dan
d. jangkauan dan arah pengaturan.
9=

Penyusunan Prolegnas di lingkungan De#an Per#akilan 'akyat
dikoordinasikan oleh .adan ,egislasi dan Penyusunan Prolegnas di lingkungan
Pemerintah dikoordinasikan oleh )enteri *ukum dan *ak -sasi )anusia. *asil
penyusunan Prolegnas di lingkungan De#an Per#akilan 'akyat oleh .adan ,egislasi
dikoordinasikan dengan Pemerintah melalui )enteri *ukum dan *-) dalam rangka
sinkronisasi dan harmonisasi Prolegnas.
Di lingkungan pemerintah, )enteri *ukum dan *-) sebagai koordinator
dalam pelaksanaan pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi
'ancangan 2ndang-2ndang di lingkungan pemerintah. 2paya pengharmonisasian,
pembulatan, dan pemantapan konsepsi 'ancangan 2ndang-2ndang diarahkan pada
per#ujudan keselarasan dengan falsafah 4egara, tujuan nasional berikut aspirasi yang
melingkupinya, 2ndang-2ndang Dasar 4egara 'epublik ndonesia Dahun (0:<,
2ndang-2ndang lain yang telah ada berikut segala peraturan pelaksanaannya dan
kebijakan lainnya yang terkait dengan bidang yang diatur dalam 'ancangan 2ndang-
2ndang tersebut.
Prolegnas merupakan acuan dalam proses perencanaan penyusunan peraturan
perundang-undangan sekaligus sebagai bagian dari proses persiapan pembentukan
peraturan perundang-undangan memiliki peran yang sangat penting dalam
pembangunan hukum secara keseluruhan. Prolegnas dapat pula dikatakan sebagai
gambaran politik perundang-undangan ndonesia yang berisi rencana pembangunan
peraturan perundang-undangan.
Pembentukan peraturan perundang-undangan yang terarah melalui Prolegnas
diharapkan dapat mengarahkan pembangunan hukum, me#ujudkan konsistensi
peraturan perundang-undangan, serta menghindari adanya disharmonis peraturan
perundang-undangan baik yang bersifat %ertikal maupun hori>ontal. Dengan
disusunnya Prolegnas diharapkan akan dihasilkannya suatu kebijakan yang sesuai
9=
bid, Psl. :
dengan aspirasi masyarakat yang berkeadilan, mengandung perlindungan dan
penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta mempunyai daya laku yang efektif
dalam masyarakat.
Selain sebagai instrumen mekanisme perencanaan hukum yang
menggambarkan sasaran politik hukum atau polotik perundang-undangan secara
mendasar, Prolegnas juga memuat daftar 'ancangan 2ndang-2ndang yang dibentuk
selaras dengan tujuan pembangunan hukum nasional yang tidak dapat dilepaskan dari
rumusan pencapaian tujuan negara sebagaimana dimuat dalam Pembukaan 22D
4egara 'epublik ndonesia Dahun (0:<, yaitu/
a. melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah ndonesia;
b. mencerdaskan kehidupan bangsa; memajukan kesejahteraan umum; dan
c. ikut melaksanakan ketertiban dunia.
.erdasarkan hal tersebut, Program ,egislasi 4asional Dahun 17(7E17(: yang
berlaku saat ini disusun sebagai politik perundang-undangan yang merupakan
implementasi dari substansi politik pembentukan hukum nasional untuk rentang
#aktu tahun 17(7 sampai dengan tahun 17(:. Di dalam Prolegnas dimuat rencana
peraturan perundang-undangan yang akan dibuat selama kurun #aktu lima tahun
tersebt yang dituangkan dalam &eputusan De#an per#akilan 'akyat 'epublik
ndonesia. .erdasarkan &eputusan DP' ' 4omor :(-/DP' '//1770-17(7 dan
&eputusan DP' ' 4omor :(./DP' '//1770-17(7 terdapat sebanyak 1:8 "dua
ratus empat puluh tujuh$ '22 yang disepakati dalam Prolegnas 17(7-17(: untuk
disusun dan beberapa '22 &umulatif Derbuka. Dari rencana tersebut, saat 87 '22
telah ditetapkan menjadi prioritas pembahasan pada 17(7 dan kemungkinan
penambahan dari < jenis '22 ng bersifa &umulatif Derbuka.
98
BAB I2
PENUTUP
98
RUU Kumulati T%r0uka& ($ '22 tentang Pengesahan Perjanjian nternasional, 1$ '22 tentang
Pengesahan Perjanjian nternasional, 9$ '22 tentang -nggaran Pendapatan dan .elanja 4egara, :$
'22 tentang Pembentukan Daerah Pro%insi dan &abupaten/&ota , <$ '22 &umulatif Derbuka tentang
Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti 2ndang-2ndang )enjadi 2ndang-2ndang
&ES)P2,-4
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut / *ubungan
4egara hokum dengan pembentukan hokum dapat dilihat dari definisi 4egara hukum
itu sendiri, 4egara hokum secara sederhana dapat diartikan bah#a 4egara dalam
melaksanakan kegiatan pemerintahannya melandaskan pada hokum yang dalam hal
ini lebih pada peraturan perundang-undangan sebagai produk hokum, maupun dari
putusan hakim. Sedangkan hubungan politik hokum dengan hokum adalah bah#a
politik hukum merupakan bagian dari ilmu politik dengan objek kajian hokum
sehingga politik huku merupakan arah pandang hokum dari segi politik dan untuk
membatasi ilmu politik tersebut harus ada hokum didalamnya, begitu pula dengan
politik hokum pembentukan peraturan perundang-undangan merupakan arah pandang
dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yang dalam hal ini biasa
dilakukan dengan membuat rencana pembangunan jangka menengah dan juga
program legislasi nasional. -rah kebijakan politik hukum nasional dilandaskan pada
keinginan untuk melakukan pembenahan sistem dan politik hokum. -pabila hukum
ditegakkan dan ketertiban di#ujudkan, maka diharapkan kepastian, rasa aman,
tenteram, ataupun kehidupan yang rukun akan dapat ter#ujud. 2ntuk itu politik
hukum nasional harus senantiasa diarahan pada upaya mengatasi berbagai
permasalahan dalam penyelenggaraan sistem dan politik hukum yang meliputi
permasalahan yang berkaitan dengan substansi hukum, struktur hukum, dan budaya
hokum.
Selain itu Program legeslasi nasional dan Program legeslasi daerah merupakan
Potret Politik hokum nasional dan daerah yang memuat rencana materi dan sekaligus
merupakan instrumen "mekanisme$ pembuatan hukum atau pembentukan hukum
dalam bentuk kebijakan 4egara dan pemerintah. Pembentukan hukum di ndonesia
dari pusat ke daerah tidak lepas dari politik dan kekuasan dari para legislatornya,
pembentukan politik peratuaran daerah harusnya meberikan ruang masyarakat untuk
ikut serta dalam pembentukan peraturan agar masyarakat biasa menaati peraturan dan
perencanaan hukum harusnya konsisten dengan tujuan, dasar dan cita hokum yang
mendasarinya. politik hukum itu merupakan Klegal Policy! tentang hukum yang
diberlakukan atau tidak diberlakukan utuk mencapai tujuan 4egara. Disini hukum
diposisikan sebagai alat untuk mencapai tujuan 4egara. )aka sebenarnya politik
hukum dalam pembentukan pereturan daerah "politik perundang-undangan$ dapat
dibaca sebagai segala sesuatu yang berada di balik sebuah pereturan daerah antara
lain berupa tujuan, fungsi, Paradigma, kehendak politik 4egara, maupun ideologi
hukum.
S-'-4
Setiap persoalan hukum selalu dihadapkan pada persoalan substansi
hokum, struktur hokum dan budaya hokum, sehingga perlu dilakukan pembenahan
mulai dari substansi hukumnya , penegak hukumnya dan juga pelibatan masyarakat
dalam setiap proses pembuatan peraturan perundang-undangan dan juga sebaiknya
pembentukan pereturan peraturan perundang-undangan dari pusat dan daerah
harusnya memperhatikan apa yang di inginkan masyarakan dan sesuai dengan kultur
masyarakat ndonesia.
D-+D-' .-3--4
Buku :
*. -bdul ,atif dan * hasbi -li, Politik Hukum, Sinar @rafika, 6akarta, 17(7
+. sj#ara, S.*.,.,.). Pengantar Ilmu Politik, Putra -bardin, .andung/ (000
Prof. Dr. 4yoman Serikat Putra 6aya, S*,)*, Politik Hukum, .adan Penyediaan
.ahan &uliah Program Studi )agister &enotariatan 2ndip, Semarang/ 1778
). )ahfud )D, Politik Hukum di Indonesia, cet. ,,P9ES, 6akarta, 177(
)oh. )ahfud )D, embangun Politik Hukum enegakan Konstitusi, 'aja#ali
Pres, 6akarta, 17((.
)oh. )ahfud )D, Politik Hukum *i Indonesia, 'aja#ali Pres, 6akarta, 17((
)oh. )ahfud )D, Konstitusi *an Hukum *alam Kontroversi, 'aja#ali Pers,
6akarta, 17(7, *al. =0-87
Philippe 4onet and Philip Sel>nick, -aw and )ociety in !ransition . !oward
/esponsive -aw, *arper N 'o#, 4e# York, (08A
*amsa *alim dan &emal 'edindo Syahrul Putera, =ara Praktis enyusun dan
erancang Peraturan perundagan, 6akarta, &encana )edia @rup, 1770
@de Panjia -sta#a Dan Suprin 4aGa, *inamika Hukum dan Ilmu Perundangan#
undanga di Indonesia, -lumni, .andung, 177A
6imly -sshiddiLie, 'ormat Kelembagaan %egara dan Pergeseran Kekuasaan *alam
""* +345, +*-2 Press, Yogyakarta, 177:
&urnia, )ahendra Putra, Hukum Kewilayahan Indonesia$Harmonisasi Hukum
Pengembangan Kawasan Perbatasan %kri 9erbasis !ekhnologi >oo )pasial,
)alang/2. Press, 17((
Satjipto 'ahardjo, Ilmu Hukum , PD 3itra -ditya .akti, .andung, 1777
Soimin, Pembentukan Peraturan Perundang#"ndangan %egara *i Indonesia, 2
Press, Yogjakarta, 17(7.
)ochtar &usumaatmadja, 'ungsi dan Perkembangan Hukum dalam Pembangunan
%asional, 0ilid III, %o. 4, Padjadjaran, .andung, (087
Satjipto 'ahardjo, Hukum dan Perubahan )osial, Penerbit -lumni, .andung, (080
Mudan -rif +akrulloh, Ilmu -embaga *an Pranata Hukum, 'aja#ali Pers, 6akarta,
17((
?urnal, akalah .
*). ,aica )ar>uki, Kekuatan engikat Putusan ahkamah Konstitusi !erhadap
"ndang#"ndang, 6urnal ,egislasi ?ol. 9 4omor (, )aret 177=
-bdul *akim @aruda 4usantara, Politik Hukum %asional, makalah pada &erja
,atihan .antuan *ukum, Surabaya, September (0A<
-bdul Bahid )asru, Politik Hukum dan Perundang#undangan, )akalah, 6akarta,
177:
.agir )anan, Politik Perundang#undangan, )akalah, 6akarta, )ei (00:
skandar &amil, Peradilan 8nak, akalah, Disampaikan pada Borkshop "/ound
!able *iscussion$ mengenai Pedoman Di%ersi untuk Perlindungan .agi -nak
Yang .erhadapan dengan *ukum, 6akarta
). )ahfud )D, -angkah Politik dan 9ingkai Paradikmatik *alam Penegakan
Hukum Kita, )akalah, .ahan &umpulan Perkuliahan Pasca Sarjana +* 2,
177:
). )ahfud )D, *emokratisasi *alam /angka Pembangunan Hukum 7ang
/esponsif, )akalah, +* 24DP, Semarang, (00=
Satya -rinanto, Politik Pembangunan Hukum %asional dalam :ra Pasca /eformasi,
Pidato 2pacara Pengukuhan sebagai @uru .esar tetap pada +*-2, 6akarta, (A
)aret 177=
Satya -rinanto, Kumpulan ateri Pendukung (!ransparansi) Politik Hukum
dan Politik Perundang#undangan (*ihimpun dari 9erbagai )umber),
Disampaikan pada Pendidikan dan Pelatihan Perancangan Perundang-
undangan .agi -egislative *rafterSekretariat 6enderal DP' ', tanggal (:
-pril 1779
Sri Soemantri )., Kekuasaan dan )istem Pertanggung0awab Presiden Pasca
Perubahan ""* +345, makalah pada Seminar Sistem Pemerintahan
ndonesia Pasca -mandemen 22D(0:<, .P*4 Departemen &ehakiman
bekerjasama dengan +akultas *ukum 2ni%ersitas -irlangga dan kan#il
Departemen &ehakiman dan *-) Pro%insi 6a#a Dimur, Surabaya 0 6uni
177:
Peraturanperundang#undangan .
2ndang-undang Dasar 4egara 'epublik ndonesia Dahun (0:<
2ndang-2ndang 4omor (7 Dahun 177: tentang Pembentukan Peraturan Perundang-
undangan jo. 2ndang-2ndang 4omor (1 Dahun 17(( .
Perpres 4omor 8 Dahun 177< tentang 'encana Pembangunan 6angka )enengah
4asional Dahun 177:-1770
Peraturan Presiden 4omor =( Dahun 177<.