Anda di halaman 1dari 15

PROGRAM DRUG UTILIZATION REVIEW DI RS

Salah satu masalah penting yang dihadapi unit pelayanan kesehatan adalah rasionalitas
penggunaan obat. WHO mendefinisikan penggunaan obat rasional sebagai berikut : pasien
menerima obat sesuai dengan kebutuhan klinisnya, dengan dosis yang sesuai, dan rentang
waktu yang sesuai, dengan harga terendah.
Penggunaan obat rasional membutuhkan pendekatan individual pada pasien. Keberhasilan
terapi obat tergantung pada :
Kemampuan dokter mendiagnosis masalah kesehatan utama, memilih dosis yang
tepat, bentuk sediaan dan rute administrasi yang tepat, mengidentifikasi kemungkinan
efek samping dan interaksi obat, dan mencegah terapi duplikasi.
Kemampuan farmasis menyiapkan obat dan perawat memberikan obat pada pasien.

Penerapan Formularium RS dapat membantu optimalisasi pengobatan, menyediakan obat
esensial dan mengontrol biaya terapi, sehingga merupakan dasar pengobatan rasional. Tetapi
FRS yang sudah tepat tidak bisa menjamin obat telah diresepkan dan digunakan dengan tepat
pula. Salah satu mekanisme untuk menjamin ketepatan peresepan dan penggunaan obat
adalah proses drug utilization review (DUR) atau evaluasi penggunaan obat.

Program DUR harus direncanakan dengan hati-hati oleh staf medis untuk menyertakan obat-
obat yang paling menimbulkan masalah bila tidak digunakan dengan tepat. Dengan
membandingkan penggunaan obat sesungguhnya dengan standar atau pedoman pengobatan,
DUR dapat mendeteksi terapi oabt yang tidak sesuai dan/atau tidak perlu. Program DUR
dapat dirancang untuk memonitor obat tertentu, kelompok obat maupun obat-obat yang
digunakan untuk penyakit tertentu.

Bila suatu masalah teridentifikasi, dirancang suatu intervensi dan diterapkan untuk
memperbaiki pola penggunaan obat. Intervensi yang dapat dilakukan meliputi program
pendidikan, penyediaan informasi obat, perubahan kebijakan dan prosedur RS, serta
perubahan formularium RS.

Beberapa istilah dalam DUR :
Kriteria : parameter yang telah ditentukan sebelumnya tentang peresepan dan penggunaan
obat dan digunakan dalam program DUR untuk membandingkan dengan kenyataannya.
Kriteria sebaiknya disusun atau diseleksi oleh tenaga kesehatan profesional.

Threshold atau ambang batas : merupakan persentase, yang besarnya ditetapkan oleh komite
DUR, yang menandakan titik dimana terjadi masalah terapi obat. Sebagai contoh, ambang
95% berarti komite DUR menentukan bahwa terjadi masalah bila kurang dari 95% data
terkumpul untuk suatu kriteria menunjukkan kepatuhan/kesesuaian.
Prospective DUR : melibatkan perbandingan obat yang dipesan dengan kriteria sebelum
pasien menerima obat. Jenis evaluasi ini ideal karena bersifat poten preventif, dan karena
intervensi terpusat pada individu pasien.

Concurrent DUR : melibatkan evaluasi obat yang dipesan selama terapi. Evaluasi jenis ini
ideal karena penyesuaian terapi obat mungkin diperlukan berdasarkan perkembangan
diagnosis dan tes laboratorium.

Retrospective DUR : melibatkan evaluasi obat yang telah diresepkan dan digunakan. Evaluasi
tipe ini paling mudah dan murah, namun tidak memungkinkan dilakukan intervensi untuk
memperbaiki terapi yang telah diterima pasien yang digunakan sebagai objek penelitian.

Intervensi : aktivitas yang diseleksi oleh komite DUR untuk mengoreksi masalah terapi obat
yang teridenfikasi selama monitor dan evaluasi DUR.

Program DUR dibagi menjadi 4 fase : perencanaan, pengumpulan data dan evaluasi,
intervensi dan evaluasi program.

FASE 1 : PERENCANAAN
Langkah 1. Menbentuk komite DUR.
Langkah 2. Menulis kebijakan dan prosedur
Langkah 3. Menentukan semua bagian atau departemen di RS dimana obat digunakan
(termasuk gawat darurat, ICU, bagian bedah, radiologi, dll).
Langkah 4. Identifikasi obat-obat yang berpeluang dimasukkan dalam program.
Langkah 5. Penilaian sumber daya yang tersedia untuk penetapan kriteria, pengumpulan dan
evaluasi data, dan pemilihan obat yang dimasukkan dalam program.
Langkah 6. Untuk masing-masing obat, ditentukan aspek (indikasi, dosis, bentuk sediaan,
dll) penggunaan obat yang dimonitor atau dievaluasi.
Langkah 7. Pemilihan kriteria dan penentuan ambang batas.
Langkah 8. Pemastian metodologi untuk pengumpulan dan evaluasi data, serta penyusunan
jadwal..
Langkah 9. Edukasi staf RS tentang program DUR dan kriteria yang sudah ditentukan.

FASE 2: PENGUMPULAN DATA DAN EVALUASI
Langkah 10. Pengumpulan data.
Langkah 11. Evaluasi data and penentuan apakah ada masalah penggunaan obat

FASE 3: INTERVENTION
Langkah 12. Diseminasi hasil pada staf RS.
Langkah 13. Jika ditemukan masalah penggunaan oabt, dirancang dan diterapkan suatu
intervensi.
Langkah 14. Dilakukan pengumpulan data lagi untukm menentukan apakah penggunaan obat
telah membaik setelah dilakukan intervensi.
Langkah 15. Diseminasi hasil re-evaluasi.

FASE 4: EVALUASI PROGRAM
Langkah 16. Evaluasi semua aktivitas program DUR pada akhir tahun evaluasi, dan
merencanakan aktivitas untuk tahun berikutnya.


FASE 1 : PERENCANAAN

Langkah 1. Menbentuk komite DUR.

Seperti halnya penyusunan Formularium RS, DUR merupakan tugas staf medis dibantu
farmasis dan perawat. Jika di RS sudah ada Komite FRS, komite ini yang bertanggung jawab
terhadap program DUR atau bisa dibentuk subkomite DUR. Komposisi anggota komite DUR
harus melibatkan tenaga profesional yang berkompeten dalam perbaikan terapi obat di RS,
dan mempunyai akses langsung dengan semua bagian di RS dimana obat digunakan.

Kewajiban penting dari Komite DUR adalah penentuan kriteria. Keberhasilan DUR dalam
perbaikan terapi obat dan mengontrol biaya obat sangat tergantung pada partisipasi aktif
dokter, farmakologis klinis, farmasis klinis, dengan didukung pengetahuan tentang
farmakoterapi dan farmakokinetika.

Langkah 2. Menulis kebijakan dan prosedur

Berikut ini adalah elemen-elemen penting yang direkomendasikan dimasukkan dalam
kebijakan dan prosedur DUR :

a. Pernyataan program
Harus dinyatakan bahwa program DUR bersifat berkelanjutan, dan merupakan suatu
kebijakan, sehingga staf medik paham bahwa RS berkomitmen untuk menjamin penggunaan
obat yang efektif dan aman, dan bahwa evaluasi penggunaan obat bukan aktivitas yang
dilakukan setelah ada masalah namun merupakan kegiatan kontinyu.

b. Pernyataan Misi
Berikut ini contoh pernyataan sederhana, mencakup tujuan dan aktivitas utama dari program
DUR :
Komite DUR, bekerja sama dengan Instalasi Farmasi, akan bertanggung jawab untuk
menjamin penggunaan obat yang ssuai, aman dan efektif di RS. Hal ini akan dijalankan
melalui pengembangan dan pelaksanaan program monitoring dan evaluasi yang sistematik,
berkelanjutan dan berdasar kriteria, bekerja sama dengan Komite Formularium. Temuan dari
monitoring dan evaluasi akan ditindaklanjuti dengan berbagai aktivitas, termasuk
penambahan obat baru dalam Formularium, penghapusan obat dari Formularium, pembatasan
penggunaan obat tertentu pada sebagian pasien atau penyakit, intervensi edukasi, untuk
memperbaiki penggunaan obat.

c. Anggota komite
Umumnya komite DUR terdiri dari tenaga profesional yang bertanggung jawab terhadap
penggunaan obat di bagian farmasi, spesialis (bedah, gawat darurat, anak, dll), bagian
informasi obat, dan perawat. Panitia Ad hoc dapat dibentuk khusus untuk penentuan kriteria,
evaluasi data dan merancang intervensi. Ketua dan sekretaris komite sebaiknya ditunjuk atau
dipilih berdasarkan kebijakan RS. Biasanya farmasis atau farmakologis klinis berperan
sebagai sekretaris.

d. Frekuensi pertemuan
Frekuesi pertemuan sangat bergantung pada jangkauan program, yang ditentukan berdasarkan
sumber daya yang tesedia dan kebutuhan klinis. Jadwal minimal harus mencakup pertemuan
tahunan, pertemuan untuk penentuan kriteria, evaluasi data, merancang intervensi, dan
mengevaluasi program.

e. Siklus program
Siklus program DUR harus melibatkan 4 aktivitas berdasrkan fase, yaitu perencanaan,
pengumpulan data dan evaluasi, intervensi dan evaluasi program. Siklus tahunan adalah yang
terbaik.

f. Aspek penggunaan obat yang akan dievaluasi
Aspek penggunaan obat akan berbeda tiap obat dan tiap RS, karena perbedaan pola pasien,
kapasitas laboratorium, spesialiasi, dan anggaran untuk obat. Salah satu pendekatan, adalah
dengan mengklasifikasikan aspek ke dalam : justifikasi (dasar kebenaran) penggunaan,
indikator proses, dan indikator hasil.

Parameter justifikasi penggunaan menetapkan pada kondisi bagaimana obat yang akan
dievaluasi seharusnya diresepkan, yaitu merupakan indikasi obat. Contoh, indikasi
ceftazidime adalah untuk infeksi Pseudomonas aeruginosa; atau digoxin, digunakan bila
terjadi takhiaritmia atrial.

Indikator proses, merupakan parameter yang menggambarkan berbagai aspek terapi yang
akan dievaluasi, meliputi :
Indikasi
Efek samping
Manajemen overdosis
Preparasi
Rute Administrasi
Interaksi obat-obat dan obat-makanan
Monitoring/tes laboratorium
Edukasi pasien

Indikator hasil, merupakan hasil dari terapi. Contoh : indikator hasil untuk ceftazidime
adalah: penurunan demam sedikitnya 1
o
C dalam 3 hari setelah dosis pertama, eradikasi
bakteri yang ditandai dengan kultur negatif dalam 24 jam setelah penghentian ceftazidime;
dan white blood count (WBC) ada dalam rentang normal. Indikator juga bisa mencakup biaya
terapi.

g. Persyaratan Penetapan kriteria
Persyaratan untuk kriteria penggunaan obat harus disusun menggunakan berbagai sumber,
termasuk literatur ilmiah, pengalaman RS, pedoman terapi, dan lain-lain.

h. Diseminasi informasi
Hasil monitoring dan evaluasi didiseminasikan pada personil RS yang terkait. Hal ini akan
membantu mencegah persepsi negatif dari staf medik.

i. Tipe intervensi
Intervensi yang dapat dilakukan untuk memperbaiki penggunaan obat:
Program edukasi berkelanjutan
Pedoman tertulis penggunaan obat
Pembuatan form pesanan untuk obat khusus
Perubahan kebijakan RS dan prosedur
Penambahan atau penghapusan obat dalam formularium
Pembatasan peresepan
Konseling formal atau nonformal

j. Evaluasi Program
Program DUR dievaluasi pada tiap akhir siklus, sehingga peningkatan dapat dibuat, dan
untuk menilai dampak klinis dan ekonomis pada RS.

Langkah 3. Menentukan semua bagian atau departemen di RS dimana obat digunakan
(termasuk gawat darurat, ICU, bagian bedah, radiologi, dll).

Umunya program DUR tidak diberlakukan terhadap semua obat yang digunakan di RS dalam
setiap siklus programnya. Beberapa bagian, seperti farmasi, bedah, anak, masuk dalam
program DUS setiap tahun, tapi bagian lains eperti radiologi hanya dimasukkan misalnya
setiap tiga atau empat tahun sekali.

Langkah 4. Identifikasi obat-obat yang berpeluang dimasukkan dalam program.

Tidak mungkin dan tidak perlu memonitor dan mengevaluasi semua obat yang digunakan di
RS. Komite DUR harus menentukan obat prioritas, yang perbaikan penggunaannya akan
menghasilkan dampak klinis dan ekonomis yang besar, antara lain obat-obat yang:
Biaya tinggi, volume tinggi, obat yang penting secara klinis (bisa diidentifikasi dan
dipilih dengan analisis ABC/VEN)
Digunakan oleh pasien beresiko tinggi (geriatri, ICU, anak, dll)
Mempunyai efek samping bermakna, indeks terapi sempit
Digunakan dalam diagnosis yang paling umum
Dalam pertimbangan untuk ditambahkan dalam formularium, dan
Baru saja ditambahkan dalam FRS

a. Biaya tinggi, volume tinggi, obat yang penting secara klinis (bisa diidentifikasi dan dipilih
dengan analisis ABC/VEN)

Sebuah alat yang banyak digunakan untuk identifikasi obat sebagai target DUR adalah
analisis ABC/VEN.
Analisis ABC adalah metode dimana obat dibagi berdasarkan penggunaan per tahun (unit cost
times annual consumption):
Kelas A (10 - 20% item yang biayanya 75-80% dari total pembiayaan obat),
Kelas B (10 - 20% item dan mencapai 15 - 20% dari pembiayaan),
Kelas C (60 -80% item dan menelan 5 -10% dari pembiayaan).
Dari hasil analisis ABC, maka obat-obat yang masuk dalam kelompok A potensial untuk
dimasukkan dalam program DUR.

Analisis VEN merupakan sistem penetapan prioritas pemilihan, pengadaan dan evaluasi obat,
dimana obat diklasifikasikan berdasarkan dampak kesehatannya : Vital, Esensial dan
Nonesensial.
Obat Vital : Obay yang potensial sebagai life-saving (misal, vaksin), obat yang
penghentiannya menyebabkan efek signifikan sehingga harus selalu tersedia (misal
propranolol, insulin, steroid).
Obat Esensial: Obat yang efektif melawan penyakit yang kurang parah, tapi sangat signifikan.
Obat Non-esensial: Obat untuk penyakit self-limiting, obat yang efikasinya dipertanyakan dan
obat yang mempunyai biaya tinggi tapi dengan keuntungan terapi yang terbatas.

Jika dibutuhkan, klasifikasi yang lebih detil dapat dilakukan , seperti :
Terapi etiotrof : terapi ditujukan pada penghilangan penyebab penyebab penyakit
Terapi patogenik : terapi ditujukan pada penghilangan atau penekanan mekanisme
perkembangan penyakit
Terapi simtomatik : terapi ditujukan pada penghilangan atau penurunan manifestasi
penyekit tertentu
Terapi penggantian : terapi ditujukan pada ketidakcukupan senyawa aktif endogen
Terapi pencegahan : terapi ditujukan untuk pencegahan penyakit

Contoh obat-obat yang berdasarkan analisis ABC/VEN masuk dalam kelompok A, esensial
dan biaya tinggi :
Cyclosporine 100mg tablet
Immunoglobulin 1ml ampule
Ondensetron 4mg tablet
Nimodipine 30mg tablet
Lovastatin 40mg tablet
Imipenem/Cilastatin 500mg vial
Ceftazidime 1.0 gm vial

Penggunaan yang tepat obat-obat ini mempunyai dampak klinis dan ekonomis, sehingga
komite DUR harus memertimbangkan masukknya obat-obat ini dalam program.

b. Digunakan oleh pasien beresiko tinggi (geriatri, ICU, anak, dll)

Sebagai contoh, RS harus mengidentifikasi obat-obat berikut yang penting penggunaannya
pada pasien geriatri:
Theophylline
Cimetidine
Nitroglycerine
Heparin
Chlorpromazine
Carbamazepine
Fenoterol

Daftar sejenis harus disusun juga untuk unit gawat darurat, anak, atau pasien beresiko lain.

c. Mempunyai efek samping bermakna, indeks terapi sempit

Ummnya obat dengan indeks terapi sempit juga menyebabkan efek samping serius, dan
biasanya membutuhkan perhitungan hati-hati dosis inisial, monitoring rutin laboratorium,
penyesuaian dosis, dan manajemen efek samping. Contoh obat-obat dengan indeks terapi
sempit adalah :
Gentamicin
Chloramphenicol
Phenylbutazone
Sulfadimezine
Quinidine
Phenacetin
Digoxin
Metamizole

d. Digunakan dalam diagnosis yang paling umum

Program DUR terhadap obat-obat yang digunakan dalam diagnosis yang paling umum juga
berdampak besar pada klinis maupun ekonomis. Informasi tentang diagnosis bisa didapat dari
bagian rekam medis ata statistik RS.

e. Dalam pertimbangan untuk ditambahkan dalam formularium, dan

Komite FRS biasanya menangani permintaan tertulis penambahan suatu obat untuk
dimasukkan dalam FRS, kemudian melakukan evaluasi DUR sebelum memutuskan untuk
memasukkan obat tersebut.

f. Baru saja ditambahkan dalam FRS

Obat yang sangat efektif bisa ditambahkan langsung ke dalam FRS sebelum digunakan secara
rutin oleh staf medis, namun sebaiknya obat ini kemudian jadi prioritas program DUR.

Langkah 5. Penilaian sumber daya yang tersedia untuk penetapan kriteria,
pengumpulan dan evaluasi data, dan pemilihan obat yang dimasukkan
dalam program.

Komite dapat menyusun sendiri kriteria, meminta partisipasi para spesialis dan staf klinik,
atau menggunakan kriteria yang sudah baku dan tidak bias dari literatur. Kolektor data harus
dipilih hati-hati, dan harus terlatih dengan informasi kesehatan pasien (karena umumnya
digunakan data rekam medis). Pengetahuan tentang nama dan kekuatan obat juga penting. RS
yang baru pertama melakukan program DUR bisa memilih 12 obat dalam satu tahun,
sehingga monitoring dan evaluasi dapat diselesaikan dalam satu bulan untuk masing-masing
obat.

Langkah 6. Untuk masing-masing obat, ditentukan aspek (indikasi, dosis, bentuk
sediaan, dll) penggunaan obat yang dimonitor atau dievaluasi.

Tidak mungkin untuk menilai semua aspek dalam penggunaan obat yang telah diseleksi,
sebaiknya dipilih aspek yang paling penting yang akan dimonitor dan dievaluasi, antara lain :

Indikasi
Koontraindikasi
Efek samping
Manajemen overdosis
Dosis
Terapi duplikasi
Preparasi
Administrasi
Interaksi obat-obat dan obat-makanan
Monitoring/tes laboratorium
Edukasi/instruksi pada pasien
Hasil terapi
Biaya seluruh terapi

Contohnya, komite telah memilih ceftazidime, heparin, dan salbutamol untuk evaluation.
Untuk masing-masing obat, komite mengidentifikasi aspek penting pelayanan dan alasan
pemilihan aspek ini :

Ceftazidime merupakan sefalosforin gengerasi tiga, bersifat bakterisidal, mahal, spektrum
luas. Luasnya penggunaan obat ini memberikan dampak ekonomis pada biaya. Diketahui
bahwa obat ini sering digunakan untuk infeksi ringan, tanpa dilakukan uji sensitivitas dan
kultur, sehingga memungkinkan perkembangan resistensi, dan menjadi tidak efektif lagi saat
dibutuhkan pasien untuk infeksi yang lebih serius. Selain itu, obat ini sering diberikan
bersama antibiotik bakteriostatik lain seperti eritromisin. Dengan pertimbangan di atas, aspek
penting yang digunakan adalah : indikasi, uji laboratorium, dan interaksi obat-obat.

Heparin adalah obat yang sering digunakan dan berpotensi menyebabkan konsekuensi bahaya
apabila tidak digunakan dengan tepat, selain itu sering digunakan pada pasien dengan kondisi
kritis. Perdarahan internal atau bahkan kematian dapat terjadi bila heparin digunakan pada
keadaan kontraindikasi, bila efek samping atau overdosis tidak diatasi dengan tepat, atau
penetapan dosis tidak benar (seharusnya dilakukan tes laboratorium). Pasien yang
menggunakan heparin biasanya juga menerima obat-obat lain, sehingga potensial terjadi
interaksi obat. Dengan pertimbangan di atas, dilakukan monitoring terhadap : konraindikasi,
efek samping, dosis, manajemen overdosis, tes laboratorium dan interaksi obat.

Salbutamol merupakan bronkodilator simpatomimetik selektif yang sering digunakan untuk
asma dan chronic obstructive pulmonary disease (COPD). Tes kekuatan ekspirasi perlu
dilakukan untuk menentukan apakah pasien memang membutuhkan salbutamol. Walaupun
bekerja pada reseptor selektif di bronkhial, tapi dosis yang tidak tepat dapat menyebabkan
takhikardi, dan aritmia jantung. Pasien yang tidak bisa menggunakan bentuk sediaan inhaler
membutuhkan bentuk sediaan oral. Pasien sering membutuhkan inhaler setelah keluar dari
RS, tapi obat menjadi tidak efektif bila penggunaan inhaler tidak tepat. Edukasi pada pasien
tentang penggunaan inhaler yang tepat sangat penting. Sehingga aspek penggunaan untuk
salbutamol meliputi : tes pernafasan, dosis, bentuk sediaan, dan edukasi pasien.

Langkah 7. Pemilihan kriteria dan penentuan ambang batas.

Kriteria merupakan pernyataan tentang penggunaan obat yang tepat. Metode untuk menyusun
kriteria antara lain:

Menggunakan kriteria yang sudah baku, seperti Pedoman Terapi Standar yang
disusun oleh WHO, DepKes, atau kelompok spesialis. Kriteria seperti ini tidak bias,
disusun oleh para ahli, serta telah teruji klinis.
Mengadopsi kriteria yang sudah ada dan dimodifikasi sesuai kebutuhan RS.
Menyusun sendiri kriteria, berdasar pedoman diagnosis dan terapi RS

Berikut ini contoh bagaimana RS memilh kriteria untuk obat anti-inflamasi non steroid:
Di RS ini, rematik artritis dan inflamasi merupakan penyakit yang paling umum dan banyak
pasien mendapatkan terapi kronis. Analisis ABC menunjukkan bahwa biaya untuk obat-obat
mencapai 15% dari total anggaran obat:

Asetosal
diclofenac
flurbiprofen
ibuprofen
naproxen
piroxicam

Diketahui bahwa peresepan yang tidak tepat obat-bat ini dapat menyebabkn terjadi
komplikasi. Komite membatasi aspek evaluasi pada kontra indikasi dan interaksi. Karena
komite tidak punya akses pada kriteria yang sudah baku, maka kriteria berikut disusun
berdasarkan literatur ilmiah, serta pengalaman ahli rematologi :

Kontra indikasi : gangguan renal kronis, hipersensitivias terhadap asetosal dan AINS,
penyakit tukak dan erosi saluran cerna, riwayat koagulopati, gagal jantung kongestif,
kehamilan, menyusui. Ascites dan sirosis.

Interaksi obat : antikoagulan tak langsung, cyclosporine, methotrexate, ACE inhibitor,
corticosteroids.

Langkah 8. Pemastian metodologi untuk pengumpulan dan evaluasi data, serta
penyusunan jadwal.

Sebelum melakukan monitoring dan evaluasi, metodologi pengumpulan data harus sudah
dibakukan meliputi : elemen data, sumber data, formulir yang digunakan, penanggung jawab
dan jumlah sampel.

Elemen data : Menggambar kan masing-masing elemen data yang harus dikumpulkan selama
evaluasi, seperti :
Nama dokter, spesialitas, nama obat, dosis, jumlah obat, durasi terapi, harga, dll.

Sumber data : Diidentifikasi apakah elemen data dapat ditemukan pada sumber data terpilih.
Misalnya : rekam medis, laporan hasil laboratorium, rekam farmasi, dll.

Formulir : Seetlah elemen data ditentukan, disusun formulir yang akan digunakan untuk
melaporkan data yang disusun secara sistematis, dan memastikan semua data yang
dibutuhkan sudah tercantum dalam formulir. Formulir harus dirancang untuk memudahkan
analisis akhir.

Penanggung jawab : Adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pengumpulan, penataan,
dan pelaporan data.

Ukuran sampel : Diputuskan berapa banyak data yang harus dikumpulkan dengan
mempertimbangkan aspek berikut : tujuan evaluasi, penggunaan bulanan atau tahunan dari
obat, waktu, sumber daya dan biaya.
Pertimbangan lain penentuan jumlah sampel adalah :
Untuk obat yang sering diresepkan, hanya dibutuhkan 30-50 kasus, atau persen
tertentu.
Untuk obat yang jarang diresepkan, tapi penting secara klinis atau ekonomis, perlu
dikumpulkan data sepanjang waktu evaluasi.

Juga harus dipertimbangkan apakah data akan dikumpulkan secara prospektif, konkuren atau
retrospektif.

Prospective DUR monitoring, membandingkan obat yang dipesan dengan kriteria dan
melakukan intervensi sebelum pasien menerima obat. Keuntugan utamanya adalah potensial
dalam pencegahan, dan perlu digunakan bila ketidahpatuhan pada kriteria akan menghasilkan
konsekuensi serius. Dampak dari DUR ini bersifat langsung, berbagai masalah penggunaan
obat dapat terdeteksi dan diceah, termasuk :
Dosis yang tidak tepat
Bentuk sediaan atau rute administrasi ang tidak tepat
Durasi terapi yang tidak tepat
Itnteraksi obat-obat
Duplikasi terapi
Kontraindikasi obat-penyakit
Alergi obat dan efek samping lain
Permintaan uji laboratorium/monitoring yang tidak tepat.

Contoh : kriteria telah ditentukan bahwa dikontradindikasikan untuk pasien menerima
antibiotik bakteriostatik dan bakterisidal bersama-sama. Jika pasien telah mendapat
gentamisin, dan farmasis menerima permintaan eritromisin, farmasis tidak boleh memberikan
eritromisin, tapi harus menghubungi dokter untuk melakukan perubahan.

Begitu juga, kriteria sudah ditentukan bahwa pasien tidak boleh menerima gentamicin dan
furosemide bersama-sama. Dalam kasus ini farmasis harus menghubungi dokter dan
menyampaikan kemungkinan efek nefrotoksisitas dari gentamisin.

Concurrent DUR monitoring, membamdingkan penggunaan obat dengan kriteria selama
terapi, seperti pada prospective monitoring. Bedanya, pada concurrent monitoring, intervensi
bersifat koreksi. Contoh : kriteria ditentukan bahwa dosis gentamisin harus dihitung
berdasarkan berat badan, dan disesuaikan dengan tes ginjal dan pendengaran. Farmakologis
klinis dan farmasis harus mencek parameter ini tiap hari, dan menghubungi dokter bila dosis
tidak dihitung dengan tepat, atau diperlukan penyesuaian dosis.

Retrospective DUR monitoring, mengevaluasi obat yang telah diresepkan setelah diberikan
pada pasien. Intervensi tidak dapat dilakukan untuk memperbaiki penggunaan obat pada
pasien yang dievaluasi. Tapi dapat digunakan untuk memonitor aspek yang sama seperti pada
prospective DUR, misalnya :
Identikasi frekuensi peresepan obat tunggal atau kelompok obat
Membandingkan peresepan antar dokter
Membandingkan peresepan dengan pedoman terapi standar
Monitoring penggunaan terapi obat dengan biaya tinggi

Contohnya, RS melakukan DUR terhadap gentamisin, dengan kriteria menyatakan bahwa
penggunaannya dikontraindikasikan pada gagal ginjal. Rekam medis pasien yang telah keluar
RS pada bulan sebelumnya dievaluasi dan ternyata ada masalah peresepan. Staf medis
memutuskan untuk melakukan evaluasi intensif semua obat golongan aminoglikosida, dan
hasilnya ternyata sama. Kemudian program edukasi dilakukan tentang penggunaan antibiotik
pada pasien gagal ginjal. Berdasarkan informasi yang didapat dari tahap sebelumnya, komite
menyusun jadwal DUR tahunan.

Langkah 9. Edukasi staf RS tentang program DUR dan kriteria yang sudah
ditentukan.

Sebelum dilakukan pengumpulan data, edukasi penting untuk dilakukan pada staf medis dan
farmasis tentang tujuan program DUR, untuk membangun dukungan pada program.
Diseminasi dapat dilakukan lewat memo atau surat, namu sebaiknya dalam pertemuan
internal untuk memungkinkan diskusi tentang program .

FASE 2: PENGUMPULAN DATA DAN EVALUASI

Langkah 10. Pengumpulan data.

Prospective
Pengumpulan data dalam prospective DUR dilakukan evaluasi terhadap permintaan obat dari
dokter, yang tata caranya tergantung pada sistem distribusi di masing-masing RS.
Pada sistem distribusi terpusat, dimana permintaan obat dievaluasi oleh farmasis di bagian
farmasi sebelum distribusi dosis pertama, pengumpulan data dilakukan di bagian farmasi.
Dalam sistem ward-stock, prospective DUR hanya mungkin dilakukan bila ada petugas
pengumpul data yang mengevaluasi permintaan sebelum diberikan oleh perawat (jadi
setidaknya harus ada farmasis di ruang perawatan).

Concurrent
Pengumpulan data pada Concurrent DUR serupa dengan prospective, dapat dilakukan di
farmasi atau ruangan. Bedanya adalah pengumpulan data tidak dilakukan sebelum pemberian
dosis pertama.

Retrospective
Pada Retrospective DUR pengambilan data dilakukan di baian rekam medis. Elemen data
yang tidak ada di rekam medis, seperti harga, dan lain-lain dapat dirujuk di bagian lain.

Langkah 11. Evaluasi data and penentuan apakah ada masalah penggunaan obat

Evaluasi data merupakan tahapan penting dalam program DUR, karena kesimpulan yang
dihasilkan dari analisis data dapat menghasilkan perubahan kebijakan RS, penambahan atau
pengurangan FRS, pembatasan peresepan, dan konseling staf RS. Jika ambang batas
dilampaui, informasi harus dicermati, data yang meragukan sebaiknya dikonfirmasi. Jika
ambang batas 100% dicapai menunjukkan kepatuhan sempurna terhadap kriteria. Jika
ambang batas ditetapkan 95%, tapi tidak tercapai (misalnya hanya 98%), komie DUR harus
memutuskan apakah perlu dilakukan evaluasi terhadap penyebab ketidakpatuhan terhadap
kriteria, yang nantinya dapat digunakan untuk mengevaluasi penetapan kriteria itu sendiri.
Jika ambang batas tidak dicapai, berarti ada masalah penggunaan obat.Kasus ketidakpatuhan
kemudian dievaluasi, untuk melihat apakah obat benarbeanr digunakan dengan tidak tepat.
Jika komite menentukan ada masalah penggunaan obat, apakah terbatas pada individu
tertentu atau terjadi secara luas, apakah terjadi di ruang atau departemen tertentu, dan
sebagainya.

FASE 3: INTERVENSI

Langkah 12. Diseminasi hasil pada staf RS.

Jika analisis data DUR telah lengkap, hasilnya harus dilaporkan pada dokter dan staf lain
yang relevan seperti farmasis dan perawat. Hasil dapat didiseminasikan melalui mekanisme :
Pertemuan dokter mingguan
Diseminasi lewat majalah / newsletter
Pertemuan ad hoc
Mepresentasikan hasil di tempat-tempat pertemuan seperti ruang perawat di tiap
bangsal

Langkah 13. Jika ditemukan masalah penggunaan oabt, dirancang dan diterapkan
suatu intervensi.

Intervensi dapat berupa edukasi atau operasional, sedangkan targetnya bisa individu yang
tidak patuh pada kriteria atau kelompok. Jika ditemukan ada masalah penggunaan obat,
komite harus :
1. Melakukan satu atau lebih intervensi yang akan memperbaiki penggunan obat :
a. Intervensi edukasi, meliputi :
Program edukasi sesaat atau berkelanjutan
Konseling formal dan informal
Surat pada dokter
Newsletters, pedoman penggunaan obat dan media indormasi lain
b. Intervensi operasional, meliputi:
Pengembangan formulir permintaan obat
Perubahan kebijakan dan prosedur RS
Penambahan atau pengurangan FRS
Pembatasan peresepan
Implementasi atau revisi pedoman terapi standar
Pembelian peralatan baru
Perubahan staf

2. Identifikasi target
Target untuk intervansi tergantung pada masalah. Jika ketidakpatuhan terhadap kriteria
bersifatluas, intervensiditujukan pada seluruh staf medis, atau kelompok spesialis. Jika hanya
sebagian kecil dokter atau staf tidak patuh, intervensi dapat dilakukan langsung pada dokter
atau staf yang tidak patuh. Dalam DUR prospektif, target intervensi selalu dokter.

3. Membentuk penanggung jawab untuk merancang dan melakukan intervensi
Intervensi dapat dirancang dan dilakukan oleh anggota komite, staf RS atau ahli dari luar RS.
Ketua komite bertanggung jawab untuk pengiriman surat dan aktivitas konseling. Intervensi
lain seperti tulisan di media informasi, rancangan kebijakan baru, membutuhkan keterlibatan
staf RS lain. Ahli dari luar dapat diminta untuk memberikan eduksi pada staf RS.

Langkah 14. Dilakukan pengumpulan data lagi untuk menentukan apakah
penggunaan obat telah membaik setelah dilakukan intervensi.

Dilakukan monitoring pola peresepan untuk menilai efektivitas intervensi. Re-evaluasi bisa
dilakukan 6-12 bulan setelah intervensi, dan dilakukan di tempat dan data yang sama dengan
sebelum intervensi. Jika re-evaluasi masih menyisakan ada masalah, komite perlu
memfokuskan pada re-evaluasi kriteria yang bermasalah.

Langkah 15. Diseminasi hasil re-evaluasi.

Diseminasi hasil re-evaluasi dilakukan sepert pada langkah 12.

FASE 4: EVALUASI PROGRAM

Langkah 16. Evaluasi semua aktivitas program DUR pada akhir tahun evaluasi, dan
merencanakan aktivitas untuk tahun berikutnya.

Pada akhir siklus evaluasi, komite DUR harus melakukan evaluasi terhadap program DUR,
bila perlu membuat perubahan kebijakan dan prosedur. Pertimbangan lain dalam evaluasi
program adalah :
Apakah obat yang dipilih untuk program sudah sesuai
Apakah aspek penting sudah ditetapkan dalam program
Apakah ambang batas telah sesuai
Apakah masalah teridentifikasi
Apakah intervensi sudah sesuai
Apakah masalah penggunaan obat terpecahkan atau teapi pengobatan menjadi lebih
baik
Apakah DUR mempunyai dampak pada insiden efek samping obat, interaksi obat-
obat atau kesalahan pemberian obat
Apakah shasil didiseminasikansesuai kebijakan
Apakah DUR berdampak pada finansial di RS