Anda di halaman 1dari 17

Meningitis

Definisi
Meningitis adalah infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai piameter
(lapisan dalam selaput otak) dan arakhnoid serta dalam derajat yang lebih ringan
mengenai jaringan otak dan medula spinalis yang superfisial.3
Meningitis dibagi menjadi dua golongan berdasarkan perubahan yang terjadi
pada cairan otak yaitu meningitis serosa dan meningitis purulenta. Meningitis serosa
ditandai dengan jumlah sel dan protein yang meninggi disertai cairan serebrospinal
yang jernih. Penyebab yang paling sering dijumpai adalah kuman Tuberculosis dan
virus. Meningitis purulenta atau meningitis bakteri adalah meningitis yang bersifat
akut dan menghasilkan eksudat berupa pus serta bukan disebabkan oleh bakteri
spesifik maupun virus. Meningitis Meningococcus merupakan meningitis purulenta
yang paling sering terjadi.
Penularan kuman dapat terjadi secara kontak langsung dengan penderita dan
droplet infection yaitu terkena percikan ludah, dahak, ingus, cairan bersin dan cairan
tenggorok penderita.1 !aluran nafas merupakan port dentree utama pada penularan
penyakit ini. "akteri#bakteri ini disebarkan pada orang lain melalui pertukaran udara
dari pernafasan dan sekresi#sekresi tenggorokan yang masuk secara hematogen
(melalui aliran darah) ke dalam cairan serebrospinal dan memperbanyak diri
didalamnya sehingga menimbulkan peradangan pada selaput otak dan otak
Klasifikasi meningitis
1. Meningitis bakterial
Meningitis bakterial merupakan salah satu penyakit infeksi yang menyerang susunan saraf pusat,
mempunyai resiko tinggi dalam menimbulkan kematian, dan kecacatan. $iagnosis yang cepat dan
tepat merupakan tujuan dari penanganan meningitis bakteri
Meningitis bakterial selalu bersifat purulenta.Pada umumnya meningitis purulenta timbul sebagai
komplikasi dari septikemia. Pada meningitis meningokokus, prodomnya ialah infeksi nasofaring,
oleh karena invasi dan multiplikasi meningokokus terjadi di nasofaring. Meningitis purulenta dapat
menjadi komplikasi dari otitis media akibat infeksi kuman#kuman tersebut
%tiologi dari meningitis bakterial antara lain &
1. S. pneumonie : "akteri ini yang paling umum menyebabkan meningitis pada bayi ataupun anak#anak.
'enis bakteri ini juga yang bisa menyebabkan infeksi pneumonia, telinga dan rongga hidung (sinus)
(. N. meningitis :"akteri ini merupakan penyebab kedua terbanyak setelah streptococcus pneumonie
terjadi akibat adanya )!P* dan kemuadian bakteri masuk kedalam peredaran darah
3. Group B streptococcus atau S. agalactiae
+. L. monocytogenes : )ni merupakan salah satu jenis bakteri yang juga bisa menyebabkan meningitis.
"akteri ini dapat ditemukan dibanyak tempat, dalam debu dan dalam makanan yang terkontaminasi.
Makanan ini biasanya yang berjenis keju, hot dog dan daging sand,ich yang mana bakteri ini berasal dari
he,an lokal (peliharaan)
-. H. influenza : .aemophilus influen/ae type b (.ib) adalah jenis bakteri yang juga dapat menyebabkan
meningitis. 'enis virus ini sebagai penyebabnya infeksi pernafasan bagian atas, telinga bagian dalam dan
sinusitis. Pemberian vaksin (.ib vaccine) telah membuktikan terjadinya angka penurunan pada kasus
meningitis yang disebabkan bakteri jenis ini.
0. Stapylococcus aureus
2. Meningitis tuberkulosa
1ntuk meningitis tuberkulosa sendiri masih banyak ditemukan di )ndonesia karena
morbiditas tuberkulosis masih tinggi. Meningitis tuberkulosis terjadi sebagai akibat komplikasi
penyebaran tuberkulosis primer, biasanya di paru. 2erjadinya meningitis tuberkulosa bukanlah
karena terinfeksinya selaput otak langsung oleh penyebaran hematogen, melainkan biasanya
sekunder melalui pembentukan tuberkel pada permukaan otak, sumsung tulang belakang atau
vertebra yang kemudian pecah kedalam rongga arakhnoid.Pada pemeriksaan histologis, meningitis
tuberkulosa ternyata merupakan meningoensefalitis. Peradangan ditemukan sebagian besar pada
dasar otak, terutama pada batang otak tempat terdapat eksudat dan tuberkel. %ksudat yang
serofibrinosa dan gelatinosa dapat menimbulkan obstruksi pada sisterna basalis. %tiologi dari
meningitis tuberkulosa adalah Mycobacterium tuberculosis
3. Meningitis viral
$isebut juga dengan meningitis aseptik, terjadi sebagai akibat akhir 3 se4uel dari berbagai
penyakit yang disebabkan oleh virus seperti campak, mumps, herpes simpleks, dan herpes /ooster.
Pada meningitis virus ini tidak terbentuk eksudat dan pada pemeriksaan cairan serebrospinal (5!!)
tidak ditemukan adanya organisme. )nflamasi terjadi pada korteks serebri, !ite matter, dan lapisan
menigens. 2erjadinya kerusakan jaringan otak tergantung dari jenis sel yang terkena. Pada herpes
simpleks, virus ini akan mengganggu metabolisme sel, sedangkan jenis virus lain bisa menyebabkan
gangguan produksi en/im neurotransmiter, dimana hal ini akan berlanjut terganggunya fungsi sel dan
akhirnya terjadi kerusakan neurologis
%tiologi dari meningitis viral antara lain &
2abel (.1. 6irus yang dapat menyebabkan meningitis
COMMON
NONARTHROPOD VIRUSES
"icorna#irus $%N&'
%nterovirus
%chovirus
5o7sackie *
5o7sackie "
%nterovirus 8, 1
Poliovirus
Herpes simple( type ) $HS*+)' $,N&'
ARTHROPOD-BORNE VIRUSES (ARBOVIRUSES)
Toga#irus $&lpa#irus- %N&'
%astern e4uine encephalitis (%%%)
9estern e4uine encephalitis (9%%)
6ene/uelan e4uine encephalitis (6%%)
.la#i#irus $%N&'
!t. :ouis encephalitis (!:%)
9est ;ile virus (9;6)
Bunya#irus $%N&'
5alifornia encephalitis
UNCOMMON
&rena#irus $%N&'
:ymphocytic choriomeningitis (:5M)
"aramy(o#irus %N&'
Mumps
%etro#irus $%N&'
.uman )mmunodeficiency virus (.)6#1)
RARE
Herpes #irus $,N&'
Herpes simple( type / $HS*+/'
0pstein+Barr #irus $0B*'
5ytomegalovirus (5M6)
*aricella+1oster #irus $*1*'
.uman herpes virus type 0 (..6#0)
&deno#irus $,N&'
2olti#irus $%N&'
5olorado tick fever
Bunya#irus $%N&'
2oscana virus (a Phlebovirus)
4. Meningitis jamur
Meningitis oleh karena jamur merupakan penyakit yang relatif jarang ditemukan, namun
dengan meningkatnya pasien dengan gangguan imunitas, angka kejadian meningitis jamur semakin
meningkat. Problem yang dihadapi oleh para klinisi adalah ketepatan diagnosa dan terapi yang
efektif. !ebagai contoh, jamur tidak langsung dipikirkan sebagai penyebab gejala penyakit 3 infeksi
dan jamur tidak sering ditemukan dalam cairan serebrospinal (5!!) pasien yang terinfeksi oleh
karena jamur hanya dapat ditemukan dalam beberapa hari sampai minggu pertumbuhannya
%tilogi dari meningitis jamur antara lain&
1. 2ryptococcus neoformans
(. 2occidioides immitris
Anatomi dan Fisiologi Selaput tak
<tak dikelilingi oleh lapisan mesodermal yang disebut dengan meningens.
:apisan terluar disebut dura mater, lapisan tengah disebut arachnoid, dan lapisan terdalam disebut
pia mater
*. !apisan dura mater
merupakan lapisan yang terkuat dan melekat ke tengkorak.$urameter merupakan tempat
yang tidak kenyal yang membungkus otak,sumsum tulang belakang, cairan serebrospinal
dan pembuluh darah.
$urameter terbagi lagi atas durameter bagian luar yang disebut selaput tulang tengkorak
(periosteum) dan durameter bagian dalam (meningeal) meliputi permukaan tengkorak
untuk membentuk falks serebrum, tentorium serebelum dan diafragma sella.

". !apisan Arak#noid
$isebut juga selaput otak, merupakan selaput halus yang memisahkan durameter dengan
piameter, membentuk sebuah kantung atau balon berisi cairan otak yang meliputi seluruh
susunan saraf pusat. =uangan diantara durameter dan arakhnoid disebut ruangan subdural
yang berisi sedikit cairan jernih menyerupai getah bening. Pada ruangan ini terdapat
pembuluh darah arteri dan vena yang menghubungkan sistem otak dengan meningen
serta dipenuhi oleh cairan serebrospinal.
:apisan tengah3arachnoid ini penting untuk aliran normal dari cairanserebrospinal (5!!).
$. !apisan %iameter
:apisan piameter merupakan selaput halus yang kaya akan pembuluh darah kecil yang
mensuplai darah ke otak dalam jumlah yang banyak. :apisan ini melekat erat dengan
jaringan otak dan mengikuti gyrus dari otak. =uangan diantara arakhnoid dan piameter
disebut sub arakhnoid. Pada reaksi radang ruangan ini berisi sel radang. $isini mengalir
cairan serebrospinalis dari otak ke sumsum tulang belakang."agian terdalam3piamater );)
penting untuk mengarahkan pembuluh darah di otak
:apisan diantara arachnoid dan piamater diisi oleh cairan serebrospinal (5!!), yang
melindungi otak dari trauma
>ambar (.0. >ambaran lapisan meningens
>ambar (.. *liran cairan serebrospinal dari pembentukan sampai penyerapan di
sinus dura
%atofisiologi Meningitis
Meningitis pada umumnya sebagai akibat dari penyebaran penyakit di organ atau
jaringan tubuh yang lain. 6irus 3 bakteri menyebar secara hematogen sampai ke selaput otak,
misalnya pada penyakit ?aringitis, 2onsilitis, Pneumonia,"ronchopneumonia dan %ndokarditis.
Penyebaran bakteri3virus dapat pula secara perkontinuitatum dari peradangan organ atau jaringan
yang ada di dekat selaput otak,misalnya *bses otak, <titis Media, Mastoiditis, 2rombosis sinus
kavernosus dan !inusitis. Penyebaran kuman bisa juga terjadi akibat trauma kepala dengan
fraktur terbuka atau komplikasi bedah otak. )nvasi kuman#kuman ke dalam ruang subaraknoid
menyebabkan reaksi radang pada pia dan araknoid, 5!! (5airan!erebrospinal) dan sistem
ventrikulus.
Mula#mula pembuluh darah meningeal yang kecil dan sedang mengalami hiperemi dalam
,aktu yang sangat singkat terjadi penyebaran sel#sel leukosit polimorfonuklear ke dalam ruang
subarakhnoid, kemudian terbentuk eksudat. $alam beberapa hari terjadi pembentukan limfosit
dan histiosit dan dalam minggu kedua sel#sel plasma. %ksudat yang terbentuk terdiri dari dua
lapisan, bagian luar mengandungleukosit polimorfonuklear dan fibrin sedangkan di lapisaan
dalam terdapat makrofag.Proses radang selain pada arteri juga terjadi pada vena#vena di korteks
dan dapat menyebabkan trombosis, infark otak, edema otak dan degenerasi neuronneuron.
2rombosis serta organisasi eksudat perineural yang fibrino#purulen menyebabkan kelainan
kraniales. Pada Meningitis yang disebabkan oleh virus, cairan serebrospinal tampak jernih
dibandingkan Meningitis yang disebabkan oleh bakteri.
Se&ara umum patofisiologi dari meningitis adala# sebagai berikut
*gen penyebab
@
)nvasi ke susunan saraf pusat melalui aliran darah
@
"ermigrasi ke lapisan subarakhnoid
@
=espon inflamasi di piamater, arakhnoid, cairan serebrospinal, dan ventrikuler
@
%ksudat menyebar di seluruh saraf kranial dan saraf spinal
@
Aerusakan neurologis
!elain dari adanya invasi bakteri, virus, jamur, maupun proto/oa, masuknya kuman juga dapat
melalui trauma tajam, prosedur operasi, dan abses otak yang pecah. Penyebab lainnya adalah adanya
rinorea, otorea pada basis kranial yang memungkinkan kontaknya 5!! dengan lingkungan luar
1.1. Meningitis bakterial
Bacterial meningitis merupakan tipe meningitis yang paling sering terjadi. 2etapi tidak setiap
bakteri mempunyai cara yang sama dalam menyebabkan meningitis. H. influenza dan N. meningitidis
biasanya menginvasi dan membentuk koloni di sel#sel epitel faring. $emikian pula S. pneumonie,
hanya saja S. pneumonie dapat menghasilkan immunoglobulin * protease yang mennonaktifkan
antibodi lokal
"akteri yang paling sering menyebabkan meningitis adalah S. pneumonie dan N. meningitis.
"akteri tersebut menginisiasi kolonisasi di nasofaring dengan menempel di sel epitel nasofaring.
"akteri tersebut berpindah menyeberangi sel epitel tersebut menuju ke ruang intravaskular atau
menginvasi ruang intravaskular dengan menciptakan ruang di tigt 3unction dari sel epitel kolumnar.
!ekali masuk aliran darah, bakteri dapat menghindari fagositosis dari neutrofil dan komplemen
dengan adanya kapsul polisakarida yang melindungi tubuh mereka. Bloodborne bacteria dapat
mencapai fleksus koroideus intraventrikular, menginfeksi langsung sel epitel fleksus koroideus, dan
mencapai akses ke cairan serebrospinal. "eberapa bakteri seperti S. pneumonie dapat menempel di
sel endotelial kapiler serebral dan bermigrasi mele,ati sel tersebut langsung menuju cairan
serebrospinal. "akteri dapat bermultiplikasi dengan cepat di cairan serebrospinal karena kurang
efektifnya sistem imun di cairan serebrospinal (5!!). 5airan serebrospinal (5!!) normal
mengandung sedikit sel darah putih, sedikit protein komplemen, dan immunoglobulin. Aekurangan
komplemen dan immunoglobulin mencegah opsonisasi dari bakteri oleh neutropil. ?agositosis
bakteri juga diganggu oleh bentuk cair dari cairan cerebrospinal itu sendiri
Peristi,a yang penting dalam patogenesis meningitis bacterial adalah reaksi inflamasi
diinduksi oleh bakteri. Manifestasi#manifestasi neurologis yang terjadi dan komplikasi akibat
meningitis bacterial merupakan hasil dari respon imun tubuh terhadap /at patogen yang masuk
dibandingkan dengan kerusakan jaringan langsung oleh bakteri. !ehingga cedera neurologis dapat
terus terjadi meskipun bakteri telah ditangani dengan antibiotik
:isis dari bakteri dan dilepaskannya komponen#komponen dinding sel di ruang subaraknoid
merupakan langkah a,al dari induksi respon inflamasi dan pembentukan eksudat di ruang
subarakhnoid. Aomponen dinding sel bakteri, seperti molekul lipopolisakarida (:P!) bakteri gram
negatif dan asam teikhoic dan peptidoglikan S. pneumonie, menginduksi inflamasi selaput meningens
dengan menstimulasi produksi sitokin#sitokin inflamasi dan kemokin#kemokin oleh mikroglia,
astrosit, monosit, dan sel leukosit 5!!. Aemudian, setelah 1#( jam :P! dilepaskan di cairan
serebrospinal (5!!), sel sel endotelial dan meningeal, makrofag, dan mikroglia akan mengeluarkan
Tumor Necrosis .actor (TN.) dan 4nterleu5in+/ ():#1) :alu kemudian setelah dilepaskannya sitokin
tersebut, akan terjadi peningkatan kandungan protein 5!! dan leukositosis. Aemokin (yang turut
menginduksi migrasi leukosit) dan berbagai sitokin inflamasi lainnya juga diproduksi dan diskresi
oleh leukosit dan jaringan yang diinduksi oleh 4L+/ dan TN. .
Aebanyakan patofisiologi dari bacterial meningitis merupakan akibat dari meningkatnya
sitokin 5!! dan kemokin. TN. dan 4L+/ bekerja sinergis meningkatkan permeabilitas Blood+Brain
Barrier (BBB), yang mengakibatkan edema vasogenik, bocornya protein serum ke ruang
subarakhnoid. %ksudat di ruang subarakhnoid mengganggu aliran 5!! di sistem ventrikular dan
mengurangi reabsorbsi dari 5!! di sinus dura, sehingga dapat menyebabkan communicating edema
dan concomitant interstitial edema.
2.2. Meningitis tuberkulosa
"2* masuk tubuh
@
2ersering melalui inhalasi, jarang pada kulit, saluran cerna
@
Multiplikasi
@
)nfeksi paru3focus infeksi lain
@
Penyebaran homogen
@
Meningens
@
Membentuk tuberkel
@
"2* tidak aktif3dorman
"ila daya tahan tubuh lemah
@
=uptur tuberkel meningen
@
Pelepasan "2* ke ruang subarakhnoid
@
Meningitis
2erjadi peningkatan inflamasi granulomatus di leptomeningen (piamater dan arakhnoid) dan korteks
serebri di sekitarnya menyebabkan eksudat cenderung terkumpul di daerah basal otak
3. 3. Meningitis viral
*da ( rute virus menyerang sistem saraf pusat manusia, yaitu hematogenus (infeksi
enterovirus) dan limfogenus (infeksi .erpes !impleks 6irus (.!6)). %nterovirus pertama kali
menuju ke lambung, bertahan dari keasaman asam lambung, dan berlanjut ke saluran pencernaan di
ba,ahnya lagi. "eberapa virus bereplikasi di nasofaring dan menyebar ke kelenjar limfe regional.
!etelah virus menempel ke reseptor di enterosit, virus menembus lapisan epitelialnya dan melakukan
replikasi di sel enterosit tersebut. $ari situ, virus menuju peyer patces, dimana replikasi yang lebih
lanjut terjadi. Aemudian dari situ viremia enterovirus berkembang ke sistem saraf pusat (!!P), hati,
jantung, dan sistem retikuloendotelial. $an kemudian virus bereplikasi dengan cepat di tempat#
tempat tersebut. Mekanisme enterovirus memasuki !!P diduga dengan cara menembus BBB tigt
3unction dan memasuki cairan serebrospinal (5!!)
"erla,anan dengan enterovirus, infeksi .!6 mencapai !!P dengan jalur neuronal. Pada
.!6#1 ensepalitis, virus masuk le,at jalur oral menuju nervus trigeminal dan olfaktori, sedangkan di
.!6#( aseptic meningitis, virus menyebar dari lesi genital menuju sacral ner#e roots menuju
meninges. $ari situ, .!6#( menjadi fase laten dan menunggu untuk reaktivasi menjadi episode
aseptik meningitis.
4. 4. Meningitis jamur
*da tiga pola dasar infeksi jamur pada susunan saraf pusat yaitu & meningitis kronis,
vaskulitis, dan invasi parenkimal.
Pada infeksi 2ryptococcal jaringan menunjukkan adanya meningitis kronis pada
leptomeningen basal yang dapat menebal dan mengeras oleh reaksi jaringan penyokong dan dapat
mengobstruksi aliran likuor dari foramen luschka dan magendi sehingga terjadi hidrosepalus. Pada
jaringan otak terdapat substansia gelatinosa pada ruang subarakhnoid dan kista kecil di dalam
parenkim yang terletak terutama pada ganglia basalis pada distribusi arteri lentikulostriata. :esi
parenkimal terdiri dari agregasi atau gliosis. )nfiltrat meningens terdiri dari sel#sel inflamasi dan
fibroblast yang bercampur dengan 2ryptococcus. "entuk granuloma tidak sering ditemukan, pada
beberapa kasus terlihat reaksi inflamasi kronis dan reaksi granulomatosa sama dengan yang terlihat
pada Mycobacterium tuberculosa dengan segala bentuk komplikasinya.
Manisfestasi klinis
Aeluhan pertama biasanya nyeri kepala. =asa ini dapat menjalar ke tengkuk dan
punggung. 2engkuk menjadi kaku. Aaku kuduk disebabkan oleh mengejangnya otot#otot
ekstensor tengkuk. "ila hebat, terjadi opistotonus, yaitu tengkuk kaku dalam sikap kepala
tertengadah dan punggung dalam sikap hiperekstensi. Aesadaran menurun. 2anda AernigBs dan
"rud/inky positif.
'ejala klinis
Meningitis ditandai dengan adanya gejala#gejala seperti panas mendadak,letargi, muntah
dan kejang. $iagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan cairan serebrospinal (5!!) melalui
pungsi lumbal.
Meningitis karena virus ditandai dengan cairan serebrospinal yang jernih serta rasa sakit
penderita tidak terlalu berat. Pada umumnya, meningitis yang disebabkan oleh Mumps#irus
ditandai dengan gejala anoreksia dan malaise, kemudian diikuti oleh pembesaran kelenjer parotid
sebelum invasi kuman ke susunan saraf pusat.
Pada meningitis yang disebabkan oleh 0co#irus ditandai dengan keluhan sakit kepala,
muntah, sakit tenggorok, nyeri otot, demam, dan disertai dengan timbulnya ruam makopapular
yang tidak gatal di daerah ,ajah, leher, dada, badan, dan ekstremitas.
>ejala yang tampak pada meningitis 2o(sac5ie virus yaitu tampak lesi vasikuler pada
palatum, uvula, tonsil, dan lidah dan pada tahap lanjut timbul keluhan berupa sakit kepala,
muntah, demam, kaku leher, dan nyeri punggung.
Meningitis bakteri biasanya didahului oleh gejala gangguan alat pernafasan dan
gastrointestinal. Meningitis bakteri pada neonatus terjadi secara akut dengan gejala panas tinggi,
mual, muntah, gangguan pernafasan, kejang, nafsu makan berkurang, dehidrasi dan konstipasi,
biasanya selalu ditandai dengan fontanella yang mencembung. Aejang dialami lebih kurang ++
C anak dengan penyebab Haemopilus influenzae, (- C oleh Streptococcus pneumoniae, (1 C
oleh Streptococcus, dan 18 C oleh infeksi Meningococcus.
Pada anak#anak dan de,asa biasanya dimulai dengan gangguan saluran pernafasan
bagian atas, penyakit juga bersifat akut dengan gejala panas tinggi, nyeri kepala hebat, malaise,
nyeri otot dan nyeri punggung. 5airan serebrospinal tampak kabur, keruh atau purulen.
Meningitis 2uberkulosa terdiri dari tiga stadium yaitu &
Stadium ( atau stadium prodormal selama (#3 minggu dengan gejala ringan dan nampak
seperti gejala infeksi biasa. Pada anak#anak, permulaan penyakit bersifat subakut, sering tanpa
demam,muntah#muntah, nafsu makan berkurang, murung, berat badan turun, mudah tersinggung,
cengeng, opstipasi, pola tidur terganggu dan gangguan kesadaran berupa apatis. Pada orang
de,asa terdapat panas yang hilang timbul, nyeri kepala, konstipasi, kurang nafsu makan,
fotofobia, nyeri punggung, halusinasi, dan sangat gelisah.
Stadium (( atau stadium transisi berlangsung selama 1 D 3 minggu dengan gejala
penyakit lebih berat dimana penderita mengalami nyeri kepala yang hebat dan kadang disertai
kejang terutama pada bayi dan anak#anak. 2anda#tanda rangsangan meningeal mulai nyata,
seluruh tubuh dapat menjadi kaku, terdapat tanda#tanda peningkatan intrakranial, ubun#ubun
menonjol dan muntah lebih hebat.
Stadium ((( atau stadium terminal ditandai dengan kelumpuhan dan gangguan kesadaran
sampai koma.Pada stadium ini penderita dapat meninggal dunia dalam ,aktu tiga minggu
bila tidak mendapat pengobatan sebagaimana mestinya.
%emeriksaan )angsangan Meningeal
1. %emeriksaan Kaku Kuduk
Pasien berbaring terlentang dan dilakukan pergerakan pasif berupa fleksi dan
rotasi kepala. 2anda kaku kuduk positif (E) bila didapatkan kekakuan dan tahanan
pada pergerakan fleksi kepala disertai rasa nyeri dan spasme otot. $agu tidak dapat
disentuhkan ke dada dan juga didapatkan tahanan pada hiperekstensi dan rotasi
kepala.
2. %emeriksaan *anda Kernig
Pasien berbaring terlentang diluruskan tangan diangkat dan dilakukan fleksi pada sendi
panggul kemudian ekstensi tungkai ba,ah pada sendi lutut sejauh mengkin tanpa rasa
nyeri. 2anda Aernig positif (E) bila ekstensi sendi lutut tidak mencapai sudut 13-F
(kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna) disertai spasme otot paha biasanya diikuti
rasa nyeri
3. %emeriksaan *anda "rud+inski ( , "rud+inski !e#er-
Pasien berbaring terlentang dan pemeriksa meletakkan tangan kirinya
diba,ah kepala dan tangan kanan diatas dada pasien kemudian dilakukan fleksi
kepala dengan cepat kearah dada sejauh mungkin. 2anda "rud/inski ) positif (E) bila
pada pemeriksaan terjadi fleksi involunter pada leher.
4. %emeriksaan *anda "rud+inski (( , "rud+inski Kontra !ateral *ungkai-
Pasien berbaring terlentang dan dilakukan fleksi pasif paha pada sendi
panggul (seperti pada pemeriksaan Aernig). 2anda "rud/inski )) positif (E) bila pada
pemeriksaan terjadi fleksi involunter pada sendi panggul dan lutut kontralateral.
%emeriksaan %enunjang Meningitis
1. %emeriksaan %ungsi !umbal
:umbal pungsi biasanya dilakukan untuk menganalisa jumlah sel dan protein cairan
cerebrospinal, dengan syarat tidak ditemukan adanya peningkatan tekanan intrakranial.
a. Pada Meningitis !erosa terdapat tekanan yang bervariasi, cairan jernih, sel darah putih
meningkat, glukosa dan protein normal, kultur (#).
b. Pada Meningitis Purulenta terdapat tekanan meningkat, cairan keruh, jumlah sel darah
putih dan protein meningkat, glukosa menurun, kultur (E) beberapa jenis bakteri.
2. %emeriksaan dara#
$ilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin, jumlah leukosit, :aju %ndap $arah (:%$),
kadar glukosa, kadar ureum, elektrolit dan kultur.
a. Pada Meningitis !erosa didapatkan peningkatan leukosit saja. $isamping itu, pada
Meningitis 2uberkulosa didapatkan juga peningkatan :%$.
b. Pada Meningitis Purulenta didapatkan peningkatan leukosit.
>lukosa serum & meningkat ( meningitis )
:$. serum & meningkat ( meningitis bakteri )
!el darah putih & sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil ( infeksi bakteri )
%lektrolit darah & abnormal .
%!=3:%$ & meningkat pada meningitis
Aultur darah3 hidung3 tenggorokan3 urine & dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi
atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi
1. %emeriksaan )adiologis
a. Pada Meningitis !erosa dilakukan foto dada, foto kepala, bila mungkin dilakukan
52!can.
b. Pada Meningitis Purulenta dilakukan foto kepala (periksa mastoid, sinus paranasal, gigi
geligi) dan foto dada.
M=)3 skan 52 & dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat ukuran3letak ventrikelG
hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor
=onsen dada3kepala3 sinus G mungkin ada indikasi sumber infeksi intra kranial.
%enatalaksanaan
%en&ega#an Meningitis
%rimer
2ujuan pencegahan primer adalah mencegah timbulnya faktor resiko meningitis bagi
individu yang belum mempunyai faktor resiko dengan melaksanakan pola hidup sehat.
Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan imunisasi meningitis pada bayi agar
dapat membentuk kekebalan tubuh. 6aksin yang dapat diberikan seperti Haemopilus influenzae
type b (.ib), "neumococcal con3ugate #accine (P56), "neumococcal polysaccaaride #accine
(PP6), Meningococcal con3ugate #accine (M56+), dan MM% $Measles dan %ubella'. )munisasi
.ib 2on3ugate #accine $.b#<5 atau P=P#<MP) dimulai sejak usia ( bulan dan dapat digunakan
bersamaan dengan jad,al imunisasi lain seperti $P2, Polio dan MM=. 6aksinasi .ib dapat
melindungi bayi dari kemungkinan terkena meningitis .ib hingga HC. Pemberian imunisasi
vaksin .ib yang telah direkomendasikan oleh 9.<, pada bayi (#0 bulan sebanyak 3 dosis
dengan interval satu bulan, bayi #1( bulan di berikan ( dosis dengan interval ,aktu satu bulan,
anak 1#- tahun cukup diberikan satu dosis. 'enis imunisasi ini tidak dianjurkan diberikan pada
bayi di ba,ah ( bulan karena dinilai belum dapat membentuk antibodi.
Meningitis Meningococcus dapat dicegah dengan pemberian kemoprofilaksis (antibiotik)
kepada orang yang kontak dekat atau hidup serumah dengan penderita. 6aksin yang dianjurkan
adalah jenis vaksin tetravalen *, 5, 913- dan I. meningitis 2"5 dapat dicegah dengan
meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan cara memenuhi kebutuhan gi/i dan pemberian
imunisasi "5>. .unian sebaiknya memenuhi syarat kesehatan, seperti tidak over cro,ded (luas
lantai J +,- m( 3orang), ventilasi 18 D (8C dari luas lantai dan pencahayaan yang cukup.
Pencegahan juga dapat dilakukan dengan cara mengurangi kontak langsung dengan
penderita dan mengurangi tingkat kepadatan di lingkungan perumahan dan di lingkungan seperti
barak, sekolah, tenda dan kapal. Meningitis juga dapat dicegah dengan cara meningkatkan
personal ygiene seperti mencuci tangan yang bersih sebelum makan dan setelah dari toilet.
Sekunder
Pencegahan sekunder bertujuan untuk menemukan penyakit sejak a,al, saat
masih tanpa gejala (asimptomatik) dan saat pengobatan a,al dapat menghentikan perjalanan
penyakit. Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan diagnosis dini dan pengobatan segera.
$eteksi dini juga dapat ditingkatan dengan mendidik petugas kesehatan serta keluarga untuk
mengenali gejala a,al meningitis.$alam mendiagnosa penyakit dapat dilakukan dengan
pemeriksaan fisik,pemeriksaan cairan otak, pemeriksaan laboratorium yang meliputi test darah
danpemeriksaan K#ray (rontgen) paru .!elain itu juga dapat dilakukan surveilans ketat terhadap
anggota keluarga penderita, rumah penitipan anak dan kontak dekat lainnya untuk menemukan
penderita secara dini. Penderita juga diberikan pengobatan dengan memberikan antibiotik yang
sesuai dengan jenis penyebab meningitis yaitu &
Meningitis "urulenta
Haemopilus influenzae b & ampisilin, kloramfenikol, setofaksim, seftriakson.
Streptococcus pneumonia & kloramfenikol , sefuroksim, penisilin, seftriakson.
Neisseria meningitidies & penisilin, kloramfenikol, serufoksim dan seftriakson.
Meningitis Tuber5ulosa $Meningitis Serosa'
Aombinasi );., rifampisin, dan pyra/inamide dan pada kasus yang beratdapat ditambahkan
etambutol atau streptomisin. Aortikosteroid berupa prednisone digunakan sebagai anti inflamasi
yang dapat menurunkan tekanan intrakranial dan mengobati edema otak.
*ertier
Pencegahan tertier merupakan aktifitas klinik yang mencegah kerusakan lanjut atau
mengurangi komplikasi setelah penyakit berhenti. Pada tingkat pencegahan ini bertujuan untuk
menurunkan kelemahan dan kecacatan akibat meningitis, dan membantu penderita untuk
melakukan penyesuaian terhadap kondisi yang tidak diobati lagi, dan mengurangi kemungkinan
untuk mengalami dampak neurologis jangka panjang misalnya tuli atau ketidakmampuan untuk
belajar. ?isioterapi dan rehabilitasi juga diberikan untuk mencegah dan mengurangi cacat.
Komplikasi
.idrosefalus obstruktif
Meningococc: !epticemia ( mengingocemia )
!indrome ,ater#friderichen (septik syok, $)5,perdarahan adrenal bilateral)
!)*$. ( !yndrome )nappropriate *ntidiuretic hormone )
%fusi subdural
Aejang
%dema dan herniasi serebral
5erebral palsy
>angguan mental
>angguan belajar
*ttention deficit disorder
%rognosis Meningitis
Prognosis meningitis tergantung kepada umur, mikroorganisme spesifik yang
menimbulkan penyakit, banyaknya organisme dalam selaput otak, jenis meningitis dan lama
penyakit sebelum diberikan antibiotik. Penderita usia neonatus, anak#anak dan de,asa tua
mempunyai prognosis yang semakin jelek, yaitu dapat menimbulkan cacat berat dan kematian.
Pengobatan antibiotika yang adekuat dapat menurunkan mortalitas meningitis purulenta,
tetapi -8C dari penderita yang selamat akan mengalami se6uelle (akibatsisa). :ima puluh persen
meningitis purulenta mengakibatkan kecacatan seperti ketulian, keterlambatan berbicara dan
gangguan perkembangan mental, dan - D 18C penderita mengalami kematian Pada meningitis
2uberkulosa, angka kecacatan dan kematian pada umumnya tinggi. Prognosa jelek pada bayi dan
orang tua. *ngka kematian meningitis 2"5 dipengaruhi oleh umur dan pada stadium berapa
penderita mencari pengobatan.Penderita dapat meninggal dalam ,aktu 0#L minggu.Penderita
meningitis karena virus biasanya menunjukkan gejala klinis yang lebih ringan,penurunan
kesadaran jarang ditemukan. Meningitis viral memiliki prognosis yang jauh lebih baik. !ebagian
penderita sembuh dalam 1 D ( minggu dan dengan pengobatan yang tepat penyembuhan total
bisa terjadi.
Neurologi ui
Neurologi 5lini5 pem fisi5 dan mental
&nonim. )778. &pa 4tu Meningitis.9%L:
ttp:::!!!.bluefame.com:lofi#ersion:inde(pp:t;8)<=.tml
0llenby- Miles.- Tegtmeyer- >en.- Lai- Susanna.- and Braner- ,ana. )77?. Lumbar "uncture.
Te Ne! 0ngland @ournal of Medicine. /) : =AA 9%L :
ttp:::content.ne3m.org:cgi:reprint:=AA:/=:e/).pdf
Harsono. )77=. Meningitis. >apita Sele5ta Neurologi. ) 9%L :
ttp:::!!!.uum.edu.my:medic:meningitis.tm
@apardi- 4s5andar. )77). Meningitis Meningococcus. 9S9 digital library 9%L :
ttp:::library.usu.ac.id:do!nload:f5:beda+is5andarB)73apardi)=.pdf
Cuagliarello- *incent @.- Sceld D. /EE8. Treatment of Bacterial Meningitis. Te Ne! 0ngland
@ournal of Medicine. ==? : 87<+/? 9%L :
ttp:::content.ne3m.org:cgi:reprint:==?:/7:87<.pdf
Fayasan Spiritia. )77?. Meningitis >ripto5o5us. Lembaran 4nformasi A7=. 9%L :
ttp:::spiritia.or.id:li:bacali.ppGlinoHA7=