Anda di halaman 1dari 31

REFERAT

PEMERIKSAAN TULANG UNTUK IDENTIFIKASI


UMUR DAN JENIS KELAMIN
DISUSUN OLEH :
Bagus Anggoro
Latifah Evi Nurlaeli

G6A 002 001


G6A 002 098

Nur Asri

G6A 002 150

Zulkarnain Prakoso

G6A 002 155

RESIDEN PEMBIMBING :
dr. Intarniati N

DOSEN PEMBIMBING :
dr. Bambang Prameng Sp.F

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2007

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.................................................................................................................2
KATA PENGANTAR..................................................................................................2
A.LATAR BELAKANG............................................................................................3
B.MASALAH............................................................................................................3
C.TUJUAN.................................................................................................................3
D.MANFAAT............................................................................................................4
TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................................5
A.BIOLOGI TULANG MANUSIA..........................................................................5
1.Anatomi Tulang ......................................................................................................5
2.Struktur Molekuler Tulang .....................................................................................6
3.Histologi dan Metabolisme Tulang ........................................................................6
4.Pertumbuhan Tulang ..............................................................................................8
B.PENENTUAN JENIS KELAMIN BERDASAR PEMERIKSAAN TULANG....9
1.Identifikasi Berdasarkan Tulang-Tulang Kranium............................................9
2.Identifikasi Berdasarkan Tulang-Tulang Post-Kranium..................................14
C.PENENTUAN UMUR BERDASARKAN PEMERIKSAAN TULANG...........21
KESIMPULAN...........................................................................................................28

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat dan
KaruniaNya, sehingga kami dapat menyelesaikan referat yang berjudul Pemeriksaan
Tulang Untuk Identifikasi Umur dan Jenis Kelamin ini.
Referat ini disusun sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam
menyelesaikan program pendidikan profesi dokter pada bagian Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Kami
mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat :
1. Dr. L. Bambang Prameng N., Sp.F
2. Dr. Intarniati N. R.
yang telah memberikan bimbingan serta meluangkan waktunya bagi kami semua
sehingga referat ini terselesaikan.
Semoga referat ini dapat menambah wawasan serta informasi tentang
Pemeriksaan Tulang Untuk Identifikasi Umur dan Jenis Kelamin dalam Ilmu
Kedokteran Forensik bagi pembaca dan penulis.
Semarang,

Oktober 2007

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan
membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang.1 Tetapi adakalanya
korban yang ditemukan hanya berupa potongan tubuh atau bahkan hanya berupa
kerangka. Jika demikian maka proses identifikasi akan lebih sulit. Meskipun
demikian dari kerangka tersebut kita masih dapat memperoleh informasi yang
berkaitan dengan identitas seseorang seperti ras, jenis kelamin, umur, dan
perkiraan tinggi badan dari pemilik rangka tersebut.
Cabang ilmu dari forensik yang berkaitan dengan proses identifikasi
adalah antropologi forensik. Definisi dari antropologi forensik itu sendiri adalah
identifikasi dari sisa hayat manusia yang jaringan lunaknya telah hilang sebagian
atau seluruhnya sehingga tinggal kerangka, dalam konteks hukum.2
Dalam antropologi forensik, proses identifikasi rangka manusia dimulai
dengan identifikasi ras, lalu dilanjutkan dengan identifikasi jenis kelamin
kemudian identifikasi umur dan diakhiri dengan identifikasi tinggi badan. 2 Dalam
referat ini, kami akan membahas lebih lanjut mengenai identifikasi umur dan jenis
kelamin berdasarkan pemeriksaan tulang.

B. MASALAH
1. Bagaimanakah cara menentukan umur dan jenis kelamin berdasarkan
pemeriksaan tulang?
2. Tulang apa saja yang dapat digunakan untuk identifikasi umur dan jenis
kelamin?

C. TUJUAN
Tujuan dari penulisan referat ini adalah agar mahasiswa dapat mengetahui
cara-cara dan tulang apa saja yang dapat dijadikan sebagai tolok ukur dalam
identifikasi umur dan jenis kelamin.
3

D. MANFAAT
Manfaat dari penulisan referat ini adalah untuk menambah informasi
mengenai penentuan umur dan jenis kelamin berdasarkan pemeriksaan tulang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. BIOLOGI TULANG MANUSIA


Tulang manusia berbeda dengan tulang hewan dalam hal struktur,
ketebalan, ukuran dan umur penulangan (osifikasi). Setiap manusia memiliki 190
tulang, dan tulang ini dibedakan menjadi tulang panjang, pendek, pipih dan tidak
teratur. Tulang panjang kita dapati pada tangan dan kaki seperti humerus, radius,
ulna, femur, tibia dan fibula. Tulang pendek meliputi tulang belikat/klavikula,
metacarpal, dan metatarsal (jari tangan dan kaki). Tulang pipih terdapat pada
tulang-tulang atap tengkorak seperti frontal, parietal, dan occipital. Tulang tidak
teratur adalah tulang vertebra dan basis cranii.2
1. Anatomi Tulang
Secara umum, rangka orang dewasa memiliki dua komponen struktur
yang mendasar yaitu tulang spongiosa dan kompakta/kortikal. Struktur
kompak talkortikal terdapat pada bagian tepi tulang panjang meliputi
permukaan eksternal. Pada bagian internal tulang, terdapat struktur spongiosa
seperti jala jala sedangkan bagian tengah tulang panjang kosong atau disebut
cavitas medullaris untuk tempat sumsum tulang.2
Pada persendian, tulang kompakta ditutupi oleh kartilago/tulang rawan
sepanjang hidup yang disebut tulang subchondral. Tulang subchondral pada
persendian ini lebih halus dan mengkilap dibanding tulang kompakta yang
tidak terletak pada persendian. Contohnya adalah pada bagian distal humerus
atau siku. Selain itu, tulang subchondral pada sendi juga tidak remiliki kanal
Haversi.2
Pada tulang vertebra, strukturnya porus dan dinamakan tulang trabecular atau cancellous. Daerah tulang trabekular pada rangka yang sedang
tumbuh memiliki tempat-tempat sumsum merah, jaringan pembuat darah atau
hemopoietic yang memproduksi sel-sel darah merah, putih dan platelet.
Sumsum kuning berfungsi terutama sebagai penyimpan sel-sel lemak di
kavitas medullaris pada tulang panjang, dikelilingi oleh tulang kompakta.
5

Selama pertumbuhan, sumsum merah digantikan secara progresif oleh


sumsum kuning di sebagian besar tulang panjang.2
Bagian-bagian tulang panjang yang panjang dan silindris disebut
diaphysis, sedang ujung proksimal dan distalnya terdapat epiphysis dan
metaphysis. Jadi, diaphysis adalah batang tulang panjang, epiphysis adalah
ujung akhir tulang panjang sedangkan metaphysis adalah ujung tulang panjang
yang melebar ke samping. Semasa hidup, bagian eksternal tulang yang tidak
berkartilago dilapisi oleh periosteum. Periosteum adalah membran dengan
vaskularisasi yang memberi nutrisi pada tulang. Bagian internal tulang dilapisi
oleh endosteum/membran seluler. Baik periosteum maupun endosteum adalah
jaringan osteogenik yang berisi sel-sel pembentuk tulang. Pada periosteum
yang mengalami trauma, sel-sel pembentuk tulang juinlahnya bertambah. Pada
periostitis/trauma pada periosteum ditandai dengan pembentukan tulang baru
di permukaan eksternal tulang yang nampak seperti jala/trabekular.
2. Struktur Molekuler Tulang
Tulang manusia dan hewan sama-sama terdiri atas kolagen, molekul
protein yang besar, yang merupakan 90% elemen organik tulang. Molekulmolekul kolagen membentuk serabut-serabut elastik pada tulang tapi pada
tulang

dewasa,

kolagen

mengeras

karena

terisi

bahan

anorganik

hydroxyapatite. Kristal-kristal mineral ini dalam bentuk calcium phosphate


mengisi matriks kolagen. Serabut-serabut protein dan mineral ini membuat
tulang memiliki dua sifat: melunak seperti karet bila mineral anorganiknya
rusak atau mengeras (bila direndam dalam larutan asam); atau retak dan
hancur bila kolagen/organiknya rusak (bila direbus/dipanasi).2
3. Histologi dan Metabolisme Tulang
Histologi adalah studi jaringan pada tingkat mikroskopik. Tulang
imatur dan mater berbeda struktumya. Tulang imatur lebih primitif dalam
istilah evolusi phylogenetiknya, berupa jaringan ikat yang kasardan seperti jala
kolagen, polanya random dan tidak teratur orientasinya. Tulang imatur lebih
banyak memiliki osteocyte, biasanya terdapat pada tulang yang menderita
tumor, pada penyembuhan fraktur dan pada rangka embryonik.2

Tulang kompakta tidak bisa diberi nutrisi melalui difusi permukaan


pembuluh-pembuluh darah, sehingga memerlukan sistem Haversi. Tulang
trabekular lebih pores dan menerima nutrisi dari pembuluh darah di sekitar
ruang sumsum. Tulang dewasa baik yang kompakta maupun trabekular secara
histologis adalah tulang lamela.2
Pemeriksaan mikroskopik potongan melintang tulang kompakta
umumnya menunjukkan 4 sampai dengan 8 cincin konsentris yang dinamakan
lamella haversi. Pemeriksaan setiap lamella menunjukkan tumpukan paralel
serabut kolagen. Serabut kolagen pada lamella berikutnya berorientasi ke arah
yang berbeda. Perbedaan arah serabut-serabut kolagen ini menambah kekuatan
struktur tulang. 2
Setiap batang potongan melintang tulang kompakta lamelar disebut
sistem Haversi atau osteon berukuran 0,3 mm diameternya dan 3-5 mm
panjangnya. Inti sistem haversi adalah kanal haversi dimana darah, lymfe dan
serabut saraf lewat. Kanal-kanal kecil tambahan disebut kanal-kanal
Volkmann membelah jaringan tulang secara oblique pada sudut runcing di
permukaan periosteal dan endosteal untuk menghubungkan kanal kanal
Haversi, membentuk jaringan yang mensuplai darah dan limfe ke sel-sel
tulang panjang. 2
Lubang-lubang kecil di dalam setiap lamella disebut lacunae. Setiap
lacunae mempunyai sel-sel tulang disebut osteocyte. Nutrisi ditransport ke selsel ini melalui kanalikuli. Osteoblast adalah sel-sel tulang yang berfungsi
untuk membentuk, sintesis, dan deposit materi tulang, biasanya terkonsentrasi
di bawah periosteum. Osteoblast membuat osteoid matriks organik tak
terkalsifikasi

yang

kaya

kolagen.

Kalsifikasi

tulang

terjadi sebagai kristal-kristal hydroatapatite, komponen anorganik. tulang


Ketika osteoblast dikelilingi matriks tulang, disebut osteocyte, sel-sel
yang terletak di dalam lacunae dan bertanggung jawab memelihara tulang.
Osteoklas

bertugas

meresorbsi

tulang.

Pembentukan

kembali

atau

remodelling tulang terjadi pada tingkat seluler di mana osteoklas


meresorpsi jaringan tulang dan osteoblast membangun jaringan tulang. 2

4. Pertumbuhan Tulang
Osteogenesis atau osifikasi terjadi pada dua lokasi: intramembraneous
(contohnya pada tulang frontal dan parietal) dan endochondral (contohnya
pada tulang iga, vertebra, basis cranii, tulang tangan dan kaki), di mana
osifikasinya melalui fase kartilago. Pertumbuhan tulang meluas dari lokasi
penetrasi awal, yang menjadi foramen nutrisi, Membrana tipis bemama
perichondrium mengelilingi kartilago pada tulang panjang. Osteoblast di
bawah perichondrium pada tulang panjang fetus mulai mendeposit tulang di
sekitar bagian luar batang kartilago. Sekali hal ini terjadi, membran ini disebut
periosteum, jaringan ikat berserabut yang mendeposit tulang selapis demi
selapis. Diameter tulang panjang meningkat, dan osteoklas pada permukaan
endosteal meresorpsi tulang sedangkan osteoblas pada periosteum mendeposit
tulang. Proses pertumbuhan pada tulang melebar (diametrik) tulang panjang
ini disebut pertumbuhan aposisional. 2
Pertumbuhan memanjang tulang panjang terjadi pada bidang
epiphyseal oleh karenanya lokasi ini disebut bidang pertumbuhan yang
terletak diantara metaphysis (pusat osifikasi primer) dan epiphysis (pusat
osifikasi sekunder). Pertumbuhan memanjang ini menjauhi bagian tengah
tulang yakni menuju proksimal dan menuju distal. Pertumbuhan memanjang
tulang panjang berhenti ketika metaphysis menyatu dengan epiphysis. 2
Pada sebelas minggu sebelum lahir. biasanya terdapat kurang lebih
800 pusat osifikasi. Pada waktu lahir terdapat 450 pusat osifikasi. Pusat
osifikasi primer muncul sebelum lahir dan pusat osifikasi sekunder muncul
sesudah lahir. Setelah dewasa, semua pusat osifikasi primer dan sekunder
menyatu dan jumlah tulang menjadi 206 elemen. 2

B. PENENTUAN JENIS KELAMIN BERDASAR PEMERIKSAAN TULANG


Tulang manusia dewasa menunjukkan adanya dimorfisme seksual sehingga
laki-laki dan perempuan dapat dibedakan berdasarkan morfologinya. 2 Perlu
diingat bahwa sebelum dilakukan identifikasi jenis kelamin kita sebaiknya terlebih
dahulu melakukan identifikasi ras, hal ini dikarenakan ras tertentu memiliki
morfologi yang khas sehingga dapat mengaburkan dimorfisme seksual itu sendiri.
Akurasi penentuan jenis kelamin dari tulang bervariasi terhadap usia subjek,
derajat fragmentasi tulang dan variasi biologis.3 Selain itu Krogmann juga
menyimpulkan bahwa akurasi ini dipengaruhi oleh kelengkapan kerangka yang
ada yaitu ketepatan penentuan jenis kelamin dengan pemeriksaan rangka adalah
100% bila seluruh tulang tersedia, 95% bila hanya pelvis, 92% bila dengan tulnag
tengkorak, 98% bila dengan pelvis dan tulang tengkorak, 98% bila dengan pelvis
dan tulang panjang, serta 80 % bila hanya dengan tulang panjang.1,3 ini
mengindikasikan kepentingan relatif

berbagai tulang dalam penentuan jenis

kelamin.
1. Identifikasi Berdasarkan Tulang-Tulang Kranium.
Identifikasi berdasarkan tulang-tulang kranium ada dua cara. Cara
yang pertama yaitu dengan pengamatan dan cara yang kedua dengan
pengukuran.
a. Cara pengamatan
Terdapat dua cara pengamatan identifikasi jenis kelamin dari tulang
kranium, yaitu menurut Buikstra dan Mielke (1985) serta menurut
Krogmann (1986).

Tabel 1. Identifikasi tulang kranium menurut Buikstra dan Mielke (1985)4


Karakter tulang
Kranium dan wajah
Kapasitas kranium
Rigi supraorbitalis
Dahi/frontal
Batas tepi atap orbita
Krista
temporalis,

Laki-laki
Secara umum lebih besar
Cenderung >1450 cc
Lebih menonjol
Mengarah kebelakang

Perempuan
Secara umum lebih kecil
Cenderung <1300 cc
Lebih halus, datar
Halus,
tegak,
dan

membulat
Tumpul
Tajam
garis Lebih berkembang dan Kurang
berkembang,

nuchale, dan protuberentia

menonjol

halus dan lebih datar

occipitalis eksterna
Krista mastoideus, processus Lebih besar, lebih lebar Halus, lebih tegak dan
supramastoideus,

processus dan kasar

zygomaticus
Tulang zygomaticus

membulat

Lebih besar, lebih lebar Kecil,

ramping

dan kasar
halus
Mandibula: corpus, ramus, Lebih lebar, besar, tinggi, Kecil dan halus
symphisis dan condylus
Sudut gonion

kuat dan kasar


Tajam,
kuat,

Dagu/ gnathion

cenderung eversi
Cenderung segi empat, Lebih runcing

kasar, Cenderung <125

berproyeksi kedepan

10

dan

Tabel 2. Identifikasi tulang kranium menurut Krogmann (1986)5


Karakter tulang
Ukuran secara umum
Rigi supra orbitalis
Proccesus mastoideus
Regio occipital
Eminensia frontalis
Eminensia parietal
Orbita
Dahi
Tulang pipi
Palatu
Condylus occipitalis
Mandibula
Bentuk dagu
Sudut gonial
Gonial flare

Laki-laki
besar
Lebih menonjol
Sedang-besar
Terdapat tanda perlekatan
otot
Kecil
Kecil
Persegi dengan tepi
tumpul
Membentuk slope, kurang
membulat
Berat, menonjol kelateral
Besar, lebar, bentuk U
Besar
Besar, simphysis tinggi,
ramus lebar
Bentuk U
Membentuk sudut
Menonjol

Perempuan
Kecil
Lebih halus, datar
Kecil-sedang
Tidak terdapat tanda
perlekatan otot
Besar
Besar
Bulat dengan tepi tajam
Vertical
Kecil, ramping
Kecil, parabolic
Kecil
Kecil, simphysis rendah
dan ramus lebih kecil
Bentuk V
Vertical
Datar

Gambar. 1 Perbandingan antara tengkorak laki-laki dan perempuan (kiri) dan perbandingan
antara mandibula laki-laki dan perempuan (kanan)

b. Cara pengukuran
Cara identifikasi dengan menggunakan pengukuran memiliki
akurasi 80-90%. Standar pengukuran yang digunakan adalah pengukuran
Hooton (1946). Sembilan pengukuran tersebut adalah sebagai berikut:2

11

1) Panjang glabelo-occipital: panjang maksimum krania, dari titik paling


anterior tulang midfrontal tengah ketitik paling jauh di midoccipital
(GO)
2) Lebar maksimum kranium: lebar terbesar kranium, dihitung tegak
lurus terhadap bidang midsagital, hindari krista supramastoidea (LM)
3) Tinggi basion-bregma: tinggi kranium diukur dari basion (titik tengah
pada tepi anterior foramen magnum ke bregma (titik temu antara
sutura coronalis dan sagitalis) (B-BR)
4) Diameter maksimum bi-zygomatic: lebar maksimum antara permukaan
lateral lengkung zygomatic kanan dan kiri, diukur tegak lurus terhadap
bidang midsagital (MD-BZ)
5) Tinggi prosthion-nasion: titik terendah pada tepi alveolar antara kedua
incisivus pertama atas, ke nasion (titik tengah sutura naso-frontalis)
(P-N)
6) Basion-nasion: dari basion ke nasion (B-N)
7) Basion-prosthion: dari basion ketitik paling anterior di maksila pada
bidang midsagital (B-P)
8) Lebar eksternal palatum: lebar maksimum palatum, diukur dari bagian
luar tepi alveolar (PT)
9) Panjang mastoid: diukur tegak lurus terhadap bidang Frankfurt
horizontal (tepi bawah orbita dan tepi atas meatus acusticus externus)
(MSL)

12

Gambar. 2 Panjang maksimum krania (GO) ditunjukkan dengan panah hitam.


Tinggi kranium (B-BR) ditunjukkan dengan panah merah, prosthion-nasion(P-N)
ditunjukkan dengan panah merah muda, Basion-nasion(B-N) panah hijau,
Basion-prosthion(B-P) panah biru.

Gambar. 3 Diameter maksimum bi-zygomatic (MD-BZ) ditunjukkan dengan


panah merah Lebar maksimum kranium(LM) ditunjukkan dengan panah biru

Gilles dan Elliot (1963) mengembangkan metodologi penentuan


jenis kelamin dengan analisa fungsi diskriminan dengan menggunakan
standar pengukuran tersebut. Kita ambil 3 persamaan dari 21 fungsi yang
dikembangkan:
1)

(GO x 1.236)-(LM x 1.00)+(MD-BZ x 3.291)+(MSL x 1.528) =

2)

(GO x 2.11)+(LM x 1.00)+(MD-BZ x 4.963)+(MSL x 8.037) =

3)

(GO x 1.165)+(B-N x 1.659)+(MD-BZ x 3.976)-(B-P x 1.00)+


(P-N x 1.541) =
Tabel 3. Persamaan Gilles dan Elliot (1963)5
Persamaan
1
2

Laki-laki, p.05

565,79

1448,76

935,75

Laki-laki, rata-rata

558,22

1436,80

920,55

Borderline

536,93

1387,72

891,48

Perempuan, rata-rata

515,63

1338,64

862,41

13

Perempuan, p.05

509,72

1316,72

849,99

Gnay dan Altinkk (2000) telah melakukan penelitian untuk


membedakan jenis kelamin berdasarkan area foramen magnum, yaitu luas
dari lingkaran semu yang jari-jarinya ditentukan dengan rata-rata dari
separuh panjang dan separuh lebar dari foramen magnum.

A
B

Gambar. 4
Jari-jari area foramen magnum (misal: r) = A + B
2
Area foramen magnum = 22 x r2

Rata rata daerah foramen magnum adalah 909.91 + 126.02 mm pada pria
dan 819.01 117.24 mm2- pada wanita.6
2. Identifikasi Berdasarkan Tulang-Tulang Post-Kranium
Identifikasi jenis kelamin berdasarkan tulang-tulang post-cranial
seringkali diobservasi berdasarkan dari ukuran tulang dan tekstur tulang.
Tetapi hal ini seringkali menimbulkan kesalahan karena banyak terjadi
tumpang tindih antara laki-laki dan wanita baik diantara populasi yang sama
maupun antar populasi yang berbeda.5
Pada umumnya pemeriksaan untuk penetuan jenis kelamin berdasarkan
tulang panggul, tulang dada dan tulang panjang.
a. Tulang panggul
14

Washburn dan Krogmann (1962) menyatakan bahwa hanya dengan


memeriksa tulang panggul tanpa pemeriksaan lain sudah dapat ditentukan
jenis kelamin pada sekitar 90% kasus.7
Washburn menemukan rumus Ischiopubic indeks yaitu:
Ischiopubic indeks = panjang os pubis x 100
panjang os ischium
Pengukuran harus dikerjakan dengan hati-hati, panjang os pubis
diukur dari dataran simfisis sampai titik acuan di asetabulum; panjang os
ischium diukur dari tempat yang sama sampai atas paling distal dari os
ischium. Titik acuan yang dimaksud terletak pada tempat bersatunya tiga
bagian tulang imatur inominata, biasanya ditandai dengan sebuah takik
pada permukaan artikuler dari asetabulum (schultz).8 Jika indeks isciopubic (pada ras kulit putih) kurang dari 90 maka adalah pelvis pria; jika
lebih dari 95 maka adalah pelvis wanita.

Gambar. 5 Pelvis laki-laki (kiri) dan pelvis wanita (kanan). Panjang os pubis
ditandai dengan panah biru sedangkan panjang os ischium dengan panah merah.

Asetabulum lebih luas pada pria, diameter rata ratanya 52 mm


dibandingkan rata rata diameter asetabulum wanita yaitu 46 mm. Mangkok
sendi pada pria juga menghadap lebih kelateral dibandingkan pada wanita.
Secara alamiah ukuran asetabulum berhubungan dengan caput femoris,
dimana akan dibicarakan kemudian. Takik panggul yang lebih besar
adalah sebuah kriteria yang penting, sempit dan dalam pada pria; dan lebar
dan dangkal pada wanita. Harrison dan Hrdlicka merasa bahwa semakin
besar takik panggulnya semakin baik dalam penentuan jenis kelamin yang
15

berikutnya diklaim 75% tingkat ketepatannya hanya dengan kriteria ini.9


Pada gambar. 5 dapat dilihat cara mengukur diameter rata-rata acetabulum.

Gambar. 6 Diameter rata-rata acetabulum


a

Gambar. 7 Pelvis laki-laki ( gambar. 6a) dan pelvis perempuan ( gambar. 6b)
dilihat dari atas

a.

b.

Gambar 8. Pelvis laki-laki ( gambar. 7a) dan pelvis perempuan ( gambar. 7b)
dilihat dari depan

Foramen obturator pada pria lebih ovoid dan pada wanita


berbentuk segitiga. Sulkus preaurikularis yang menjadi tempat melekatnya
ligamentum sacroiliaca terletak di sebelah lateral sendi sacroiliaca dan
tampak jelas pada wanita dan sering tidak didapatkan pada pria. Pintu
bawah panggul bila dilihat dari atas tampak lebih bulat pada wanita dan
pada pria tampak heart shape sebagai akibat dari protrusi sacrum ke
posterior (Greulich dan Thomas). Sejumlah indeks panggul lainnya telah

16

ditemukan oleh beberapa pengarang seperti Greulich dan Thomas; Turner;


Chadwell dan Molloy; serta Straus dan Derry.
Sacrum secara fungsional adalah bagian dari pelvis dan juga
memiliki perbedaan pada kedua jenis kelamin. Sacrum wanita lebih lebar
dan memiliki cekungan dangkal, sekali lagi hal ini berhubungan dengan
canalis pelvicalis yang lebih luas untuk proses melahirkan. Pada wanita
canalis pelvicalis ini lebih pendek dan kelengkungannya hampir
seluruhnya sampai bagian distal dari pertengahan vertebra sacral ketiga.
Sacrum pada pria dapat memiliki lebih dari lima segmen dimana
hal ini jarang terjadi pada wanita. Kelengkungan sacrum pria berlanjut
sampai ke bawah sampai keseluruhan tulang dan memproyeksikan os
coccyx agak kedepan. Fawcet membandingkan diameter tranversa dari
vertebra sacral pertama (CW) dengan diameter tranversa basis sacrum
(BW). Dengan rumus CW x 100/BW didapatkan pada pria rata ratanya 45,
dan pada wanita rata ratanya 40. kimura telah mengembangkan base wing
index dimana lebar relatif dari sayap dan basis menyediakan koefisien
fungsi diskriminan untuk penentuan jenis kelamin.

Gambar. 9 Pada gambar ini terlihat jelas bahwa kelengkungan sacrum pria berlanjut sampai
ke bawah sampai keseluruhan tulang sehingga proyeksi os coccyx agak kedepan.

17

Tabel 4. Identifikasi jenis kelamin pada tulang panggul yang diadaptasi dari
Buikstra dan Mielke (1985)4
Karakter tulang
Lengkung subpubic

Laki-laki

Perempuan

Bentuk V

Lebih lebar, mendekati


bentuk U

Ramus ischiopubicum

Sedikit elevasio

Elevasi sangat nyata

Simphysis

Tinggi,segitiga,bikonveks Rendah,segiempat,anterior
arah antero-posterior

Foramen obturator
Acetabulum
Incisura

konveks, posterior datar

Besar
Kecil, cenderung segitiga
Besar, lebih mengarah Kecil, lebih mengarah

kedepan
kelateral
ischiadica Sudut agak menutup dan Sudut lebar dan dangkal,

mayor
Ilium

dalam, 30
Tinggi, mengarah keatas

60
Rendah, bagian atas lebih

Sendi sacro-iliaca
Sacrum

Besar
Relatif tinggi dan sempit

mengarah kelateral
Kecil dan oblik
Pendek dan lebar, lebih
oblik, bagian atas kurang
melengkung, susut sakro-

Inlet superior

Bentuk seperti jantung

vertebral lebih menonjol


Lebih eliptik atau bundar,

Sulcus praauricularis
Lengkung ventral

Tidak nyata
Tidak nyata

lebih besar
Nyata
Nyata

b. Tulang Dada
Tulang sternum bisa bermanfaat dalam pengukuran manubrium,
pada wanita setengah dari panjang sternum, sedangkan manubrium pada
laki-laki

kurang

dari

setengah

panjang

sternum.

Penemuan

ini

dikemukakan pada abad ke 19 oleh Hytrl, tapi kemudian dibantah oleh


Krogman dan Dwight. Penemuan terakhir, bahwa ratio manubrium dan
corpus adalah 52 : 100 pada wanita dan 49 : 100 pada laki-laki, terlihat
sedikit perbedaan. Pada saat ini, walaupun metode tersebut telah diperbaiki
oleh Iordanidis yang telah berhasil dengan tingkat keakuratan 80 % dengan
hanya menggunakan tulang sternum dimana rasio panjang dari manubrium

18

sterni dan corpus sterni menentukan jenis kelamin, pada wanita


manubrium sterni melebihi separuh panjang corpus sterni.3
Stewart dan Mc Cormick menggunakan teknik radiologi dan
menegaskan total keakuratannya pengukuran tulang sternum sampai
kurang dari 121 mm pada perempuan dan lebih dari 173 mm pada pria.
Tulang skapula telah dipelajari lebih dalam tetapi lebih erat hubungannya
terhadap umur. Terdapat sedikit hubungan jenis kelamin yang lebih
bervariasi dalam pengukuran diameter vertikal pada cavitas glenoid.
Menurut Dwight pada pria 36 mm lebih kecil dibandingkan wanita.3
c. Tulang Panjang
Pria pada umumnya memiliki tulang yang lebih panjang, lebih
berat dan lebih kasar serta penonjolannya lebih banyak. 1 Tulang panjang
yang paling berguna dalam penentuan jenis kelamin adalah os femur,
dimana panjang dan kepadatannya penting. Ketepatannya pada orang
dewasa sekitar 80%. Seperti biasa, karakteristik jenis kelamin pada tulang
panjang sangat tumpang tindih, tetapi penelitian seril Brash menunjukan
bahwa panjang maksimal (oblik) pada femur pria sekitar 459 mm
sedangkan pada wanita hanya sekitar 426 mm. hasil yang berbeda
didapatkan oleh Pearson dan Bell yaitu rata rata 447 mm untuk laki laki
dan dan 409 mm untuk perempuan. Dengan menggunakan panjang oblik
trokanterika mereka mengusulkan range antara 390-405 mm untuk wanita
dan 430-450 mm untuk pria, meskipun dapat terjadi tumpang tindiih
diantara keduanya. Ras dan status gizi (dimana berhubungan dengan waktu
dan tempat dimana sampel didapatkan) harus dipertimbangkan pada saat
pengukuran.5
Ukuran dari kaput femur bisa dijadikan petunjuk untuk
membedakan jenis kelamin yang lebih baik, ukuran diameter vertikal
seperti yang dicantumkan oleh pearson dan bell hampir lebih besar dari 45
mm untuk laki-laki dan kurang 41 mm untuk perempuan , meskipun yang
lebih sering dipakai adalah ukuran yang berkisar 43 mm. pada pria
umumnya 43-56 mm dan 37-46 mm pada wanita.5
Ukuran kaput femur menurut penelitian Pearson dalam Femur
menurut jenis kelamin bedasarkan perhitungan matematika yang sering
19

dimasukkan dalam beberapa cara pengukuran. Dwight mempelajari ukuran


kaput femur dan kaput humerus dan menegaskan bahwa keduanya lebih
berguna daripada mengukur panjang tulang.5
Satu hal lagi, penggunaan metode dengan melakukan sejumlah
pengukuran untuk menentukan perbedaan pada jenis kelamin sudah
banyak ditinggalkan. Keterangan hal ini lebih lanjut dapat diketahui dari
Miller shavits. Sifat lain femur menurut jenis kelamin adalah pada sudut
yang dibuat badan tulang terhadap garis vertikal karena tulang pelvis pada
wanita relatif lebih besar, badan tulang harus dimiringkan agar bertemu
pada bagian lutut, sehingga condylus terletak pada bagian paling bawah
dari femur dalam posisi horisontal pada lempeng tibia. Dengan demikian
ketika tulang femur wanita diletakkan pada permukaan yang datar, sudut
yang terbentuk oleh tulang dengan permukaan tadi kurang lebih 76
sedangkan pada tulang pria sedikit lebih besar yaitu berkisar 80. Sudut
pada bagian leher dari badan femur (sudut pada collum dan diafisis) telah
dipelajari oleh godycki, hasilnya mengemukaan bahwa tulang dengan
sudut kurang dari 40 hampir 85% terdapat pada pria, sedangkan jika sudut
lebih besar dari 50 hampir 75 % terdapat pada wanita.5
Sebagian besar pekerja telah bekerja dengan spesimen tulang
kering, ketika metode yang digunakan sudah menggunakan tulang segar,
tapi memang akan bermakna bila menggunakan sambungan kartilago yang
dimana lebih relevan.

Tabel 5. Perbandingan panjang relative tulang panjang antara pria dan


perempuan menurut Krogman 5
Tulang

Laki-laki

Perempuan

Rasio laki-laki

Panjang (mm)

Panjang (mm)

dan perempuan

20

Femur
Tibia
Fibula
Humerus
Radius
Ulna

491
409
388
336
255
276

434
359
351
317
220
236

88,5
88,0
90,5
94,5
86,4
85,5

C. PENENTUAN UMUR BERDASARKAN PEMERIKSAAN TULANG


1. Penentuan umur berdasarkan morfologi symphysis pubis 8
Adapun metode-metode yang sering digunakan adalah sebagai berikut:
a. Metode Todd (1920-1921)
Berdasarkan penelitian atas kerangka manusia 18-50 tahun, Todd
membagi umur dalam 10 fase sebagai berikut :
1) Fase paska adolosen pertama ( umur 18-19 tahun )
Permukaan simfisis kasar, terbagi oleh tonjolan melintang yang di
batasi oleh cekungan yang jelas, tak ditemukan nodulus ossifikasi
(epifiseal) yang menyatu dengan permukaan, tidak dijumpai tepi yang
berbatas tegas, tidak dijumpai batas ektremitas.
2) Fase pasca adolesen kedua (umur 20-21 tahun)
Permukaan simfisis masih kasar dengan tonjolan melintang dan
cekungan diantaranya, tetapi cekungan mulai berkurang idekat batas
dorsal karwena terisi oleh tulang yang teksturnya halus. Formasi ini
mulai menyamarkan ekstremitas inferior dari tonjolan horizontal.
Nodulus ossifikasi (epifiseal) mungkin bersatu dengan permukaan
simfisis bagian atas, batas tepi dorsal mulai terbentuk, tidak ada batas
ektremitas, bagian depan samar-samar terhadap lereng ventral (ventral
bevel).

3) Fase pasca adolesen ketiga (umur 22-24 tahun)


Permukaan simfisis menunjukan obliterasi progressif tonjolan dan
cekung. Terbentuk plato dorsal, terdapat nodulus ossifikasi, tepi dorsal
bertahap makin jalas, tidak dijumpi pembatsan ekstremitas.
4) Fase keempat (umur 25-26)

21

Peningkatan keras daerah lerng ventral, berhubungan dengan


hilangnya tonjolan dan cekungan, batas tepi dorsal sempurna akibat
terbentuknya plato dorsal, terdapat pembatasan ektremitas.
5) Fase kelima (umur 27-30 tahun)
Sedikit atau tidak ada perubahan pada permukan simfisis dan plato
dorsal, kecuali dijumpai adanya usaha sporaik dan premau pmbetukan
tanggul ventral (ventral rampart), ekstremitas bwah perti tepi dorsal,
baasnya makin bertambah jelas, pembentukan ekstremitas atas atau
tanpa bawah intervensi nodulus tulang (epifiseal).
6) Fase keenam (umur 39-44 tahun)
Batas ekstremitas makin jelas, perkembangan dan penyempurnaan
tanggul ventral terdapat gambaran granular pada permukaan simfisis
dan bagian ventral pubis tidak dijumpai bibir (lipping) pada tepi
simfisis.
7) Fase ketujuh (umur 35-39 tahun)
Perubahan pada permukaan simfisis dan bagian ventral pubis akibat
berkurangnya aktivitas, terjadi pertumbuhan tulang pada peltqakan
tendon

dan

ligamen

terutama

tendon

gracilis

dan

ligamen

sakrotuberosum.
8) Fase kedelapan (39-44 tahun)
Permukaan simfisis umumnya halus dan inaktif, permukaan ventral
juga inaktif, batas oval sempurna atau hampir sempurna, ekstremitas
sangat jelas, tidak dijumpai bingkai (rim) yang jela pada permukaan
simfisis, tidak dijumpai bibir yang jelas baik pada tepi ventral aupun
dorsal.
9) Fase kesembilan (umur 45-50 tahun)
Permukaan simfisis menunjukan lebih kurang bingkai yang jelas, tepi
dorsal smuanya berbibir, tepi ventral berbibir tidak teratur.
10) Fase kesepuluh (umur 50 tahun keatas)
Permukaan simfisis mengalami erosi dan menunjukan osifikasi yang
tidak menentu, tepi ventral lebih kurang mulai hancur dengan
bertambahnya umur.

22

b. Metode Hanihara Suzuki


Ada 7 komponen yang diperiksa, yaitu :
1) Tonjolan dan cekungan horizontal
Tonjolan dan cekungan horizontal ini sangat jelas pada yang berumur
20 tahun : tonjolan tinggi dan cekungan tajam serta dalam. Pada umur
antara 20-23 tahun cekungan menjadi dangkal dan tonjolan relatif
tumpul. Pengikisan yang berlanjut sampai kira-kira umur 27 tahun,
setelah umur 28 tahun dengan sedikit kekecualian gambar ini akan
hilang seluruhnya permukaan simfisis akan menjadi datar.
2) Tuberkulum pubikum.
Pada tulang pubis orang yang berumur dibawah 23 tahun,
tuberkulumnya melekat melalui tulang rawan sehingga garis efisial
masih terlihat. Setelah umur 24 tahun tuburkulum akan menyatu
dengan tulang pada semua orang tanpa kecuali.
3) Ujung bawah
Sebelum umur 22 dan 23 tahun, ujung bawah permukaan simfisis tak
dapat dibedakan dari ujung atas rumus pubis inferior. Pada umur 2330 tahun, bagian bawah permukaan simfisis di batasi oleh tonjolan
sempit dan setelah 30 tahun, tonjolan itu melebar dan banyak kasus
bentuknya menjadi segitiga menonjol.
4) Tepi dorsal
Sampai dengan umur 19 tahun, tidak terdapat tonjolan pada batas
dorsal pada permukaan simfisis. Pada sekitar 20 tahun suatu tonjolan
samar-samar muncul pada batas dorsal permukaan. orang yang lebih
tua dari 27 tahun menunjukkan pembentukan tonjolan yang hampir
sempurna meskipun masih sempit pada seluruh panjang tepi dorsal.
Pada separuh kasus setelah 33 atau 34 tahun, tapi hal ini sangat
bervariasi.
5) Nodulus osifikasi superior.
Pembentukan nodulus terjadi pada permukaan pubis bagian atas
selama waktu yang terbatas. Tak ditemukannya nodulus bisa berarti
umurnya dibawah 20 tahun diatas 27 tahun. Ia jelas terlihat pada umur
21-27 tahun.
23

6) Lereng ventral.
Sampai umur 22 tahun keatas, batas ventral permukaan simfisis pubis
bersatu dengan permukaan ventral permukaan tulang pubis. Pada
umur yang lebih tua terbentuk permukaan sempit diantara keduanya.
Tood menyebutkan lereng ventral permukaan intermedia dan
menganggapnya sebagai gambaran yang berguna untuk perkiraan
umur. Ia mulai muncul pada umur 23 tahun dan baru sempurna pada
umur 27 tahun. Antara 28-33 tahun ia telah terbentuk sempurna
sepanjang permukaan simfisis pubis. Pada individu yang pada
umurnya lebih tua dari 33 atau 34 tahun bagian atas lereng ventral
menghilang tapi pada variasi hal ini sangat besar.
7) Bingkai simfisis
Pada orang yang lebih tua, permukaan simfisis kadang-kadang
dibatasi oleh bingkai yang relatif lebar dan tumpul. Hal ini dapat
dijumpai pada orang yang berumur diatas 30 tahun dan frekuensinya
meningkat setelah umur 34 tahun, meskipun variasinya juga besar.
karenanya bila dijumpai bingkai yang jelas secara aman dapat
dikatakan bahwa umur 35-an atau lebih, tetapi individu tanpa bingkai
mungkin tidak selalu mudah.

24

2. Penentuan umur dengan mulai bersatunya epiphysis dengan diaphysis


Tabel 6. Penentuan umur dengan mulai bersatunya epiphysis dengan
diaphysis
Epiphysis

Umur saat mulai


bersatunya Epiphysis (tahun)
Laki-laki
Perempuan
18 22
17 21
14 22
13 20
14 21
14 20

Klavikula, medial
Scapula: processus acromialis
Humerus : caput
Tuberkel mayor

24

24

11 15

9 13

Epicondylus lateralis
Radius: caput

11 17
14 19

10 14
13 16

distal
Ulna, distal
Ilium : Krista iliaca
Ischium: pubis
Tuberositas ischium
Femur: caput

16 20
18 20
17 20
79
17 22
15 18

16 19
16 19
17 19
79
16 20
13 17

Distal
Tibia: proximal

14 19
15 19

14 17
14 17

Distal
Fibula : proximal

14 18
14 20

14 16
14 18

14 18

13 16

Trochlea

distal

3. Penentuan umur dengan penutupan sutura pada krania.2


Salah satu teknik yang dikembangkan oleh Meindl dan Lovejoy (1985) untuk
menentukan umur mati adalah latero-anterior suture closure, penutupan
sutura cranial pada daerah lateral dan anterior. Sutura-sutura yang diperiksa
adalah:
a. Midcoronal
b. Pterion
c. Sphenofrontal: titik tengah
d. Sphenotemporal inferior

25

e. Sphenotemporal superior

4. Penentuan umur dengan pertumbuhan gigi


Klasifikasi dan erupsi gigi terjadi pada umur tertentu, sehingga pengetahuan
mengenai saat gigi mengalami erupsi bisa dipakai sebagai acuan penentuan
umur individu dari umur intrauterine sampai dengan dewasa.
Dikenal tiga periode pertumbuhan gigi:9
a. Periode gigi sulung (6 bulan 6 tahun)
Patokan waktu pertumbuhan gigi sulung:
-

Gigi incisivus 1

: 6 8 bulan

Gigi incisivus 2

: 8 10 bulan

Gigi caninus

: 16 20 bulan

Gigi molar 1

: 16 20 bulan

Gigi molar 2

: 20 30 bulan

b. Periode gigi pergantian (6 12 tahun)


c. Periode gigi tetap (> 12 tahun)
Patokan waktu pertumbuhan gigi tetap:
Rahang Atas

Rahang Bawah

Incisivus 1

7 8 tahun

6 7 tahun

Incisivus 2

8 9 tahun

7 8 tahun

Caninus

11 13 tahun

8 10 tahun

Premolar 1

10 11 tahun

10 11 tahun

Premolar 2

12 13 tahun

11 12 tahun

Molar 1 (6 tahun)

6 7 tahun

6 7 tahun

Molar 2 (12 tahun)

11 13 tahun

11 13 tahun

26

Molar 3

17 21 tahun

27

17 21 tahun

BAB III
KESIMPULAN
Jenis kelamin dan umur bisa ditentukan dari pemeriksaan tulang. Secara garis
besar penentuan jenis kelamin dari sebuah rangka dilakukan melalui 2 cara, yaitu cara
yang pertama adalah melalui pengamatan dari karakteristik tulang-tulang tertentu dan
cara yang kedua yaitu dengan cara pengukuran. Tulang-tulang yang dapat digunakan
sebagai bahan identifikasi jenis kelamin diantaranya adalah tulang kranium, tulang
panggul, tulang dada, dan tulang panjang. Sedangkan penentuan umur bisa
berdasarkan morfologi simpisis pubis, mulai bersatunya epifisis dan diafisis,
penutupan sutura kranium, dan erupsi gigi.

28

DAFTAR PUSTAKA
1. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Winardi T, Munim A, Hertian S, et al.
Ilmu kedokteran forensik. Jakarta: Badan Penerbit FKUI, 1997
2. Indrati E. Antropologi forensik. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press, 1993
3. Knight B. Forensic pathology. Second ed. New York: Oxford University Press,
1996
4. Briggs CA. Anthropological assessment. In : Clement JG, Ranson DL, editors.
Craniofacial identification in forensic medicine. New York: Oxford University
Press, 1998. p. 53-55
5. Determination of sex by foramen magnum. Available from URL: HYPERLINK
http://www.ispub.com
6. Idries AM. Pedoman ilmu kedokteran forensic. Edisi pertama. Jakarta: Bina Rupa
Aksara, 1997
7. Fatteh A. Handbook of forensic pathology. Philadelphia: J.B.Lippincot Company,
1973. p. 51-65
8. Ritonga

M, Penentuan umur

melihat

dari perubahan

bentuk simfisis

pubis.Medan:Universitas Sumatra Utara Digital Library.2004


9. Susanti. Pertumbuhan Gigi. Bahan kuliah gigi dan mulut Mahasiswa FK UNDIP.

29

30