Anda di halaman 1dari 6

Wanita vs.

Pria
Pertama-tama saya ingin memberitahu pada Anda bahwa tulisan
saya kali ini mencapai enam halaman MS Word. Cukup panjang dan mungkin
sedikit berat. Karena itu pastikan Anda membaca tanpa gangguan, atau save untuk
Anda baca di rumah nanti malam sambil ditemani sebatang rokok (apabila Anda
merokok) dan segelas susu hangat sebelum tidur.

Artikel ini berisi uneg-uneg yang sudah menggumpal di kepala saya semenjak kira-kira enam
bulan yang lalu. Kemungkinan besar apa yang akan saya bahas ini akan memancing reaksi
negatif dari para pembaca wanita, atau mungkin juga pria, karena memang sedikit sekali ada
orang berani blak-blakan dan bicara apa adanya tentang hal ini. Saya akan membeberkan pada
Anda rahasia besar yang wanita tidak ingin pria ketahui.

Apa yang saya bicarakan akan sangat bertentangan dengan kepercayaan yang telah ada selama
ini, tapi justru saya menantang Anda untuk membuka pikiran Anda, meluangkan waktu sejenak
untuk membaca hingga akhir, dan berpikir kritis tentang kebenaran yang terkandung di
dalamnya. Satu kenyataan yang akan membuka mata Anda dan merubah cara pandang Anda
terhadap wanita.

Saya ingin berbicara mengenai sebuah fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat modern di
seluruh dunia (ingat kata kuncinya: modern). Sebuah fenomena yang akhirnya membedakan
dunia kita saat ini dengan dunia kakek dan ayah Anda dulu. Fenomena ini disebut: feminisme.

Mungkin selama ini Anda berpikir bahwa feminisme hanyalah sebuah istilah asing yang hanya
Anda baca di koran dan berita TV, sebuah wacana intelektual yang tidak ada hubungannya
dengan kehidupan nyata. Tapi sebenarnya, feminism sudah menjadi bagian dari hidup kita
sehari-hari. Feminisme ada di kampus Anda, di tempat kerja Anda, di tempat ibadah, di
Facebook, di lingkungan pergaulan Anda, it's everywhere!

Anda hidup dalam dunia yang feminis, sobat. Dan ini jelas sangat berhubungan dengan dinamika
kehidupan romansa yang Anda alami selama ini. Salah satu alasan utama penyebab kefrustrasian
Anda ketika berhadapan dengan wanita.

Istilah 'feminisme' baru mulai populer di tahun 1970an. Ini mengacu pada pergerakan kaum
wanita di belahan dunia barat yang menginginkan persamaan hak dalam politik, sosial, budaya
dan ekonomi antara wanita dengan pria. Wanita tidak lagi puas dengan hanya menjadi istri yang
baik dan ibu rumah tangga yang mengurusi anak dan memasak. Mereka tidak lagi ingin menjadi
pendamping setia yang penurut. Mereka ingin mendapatkan semua yang pria bisa dapatkan.
Alasan mereka sederhana: karena manusia memiliki derajat yang sama terlepas dari jenis
kelaminnya, dan terutama, karena selama ini pria telah semena-mena menyalah gunakan
kekuasaan dan hak yang dimiliki.

Wanita merasa telah menjadi korban, dan mereka protes dengan keras. Dan protes mereka bukan
saja telah didengar, tapi juga telah merubah dunia.

Ketika Margareth Thatcher menjadi Perdana Menteri Inggris tahun 1979, gerakan ini mencapai
puncaknya. Ahirnya seluruh dunia harus mengakui bahwa wanita pun dapat berdiri di puncak
dan menjadi penguasa, termasuk penguasa atas pria. Para wanita di seluruh dunia bersorak sorai
penuh kemenangan, dan ini telah merubah posisi wanita dalam masyarakat.

Harap diingat bahwa saat itu, wanita masih dianggap sebagai warga negara kelas dua. Jadi jelas
kejadian ini adalah sebuah perubahan tatanan sosial yang sangat drastis, dan tentu sangat positif.
Ini menunjukkan bahwa seseorang diakui bukan lagi karena jenis kelaminnya, tapi karena
kompetensinya.

Tapi masalahnya, semua persamaan hak ini telah jauh kebablasan dan malah mendorong wanita
berubah menjadi mahluk yang materialistis, kompetitif, dan Cosmopolitan: fun, fearless female;
sama sekali berbeda dari sosok ibu yang kita kagumi dan sayangi.

Dr. Alice von Hildebrand, seorang professor dan penulis buku "The Privilege of Being Women"
mengatakan: Feminism is a metaphysical revolt against the characteristics of women. Men seem
to have all the advantages, and so feminists try to become a caricature of men.

Mari saya elaborasi lebih jauh.

Wanita dan pria adalah dua entitas yang berbeda, baik secara fisik maupun pisikis, maka secara
logika istilah persamaan hak sangatlah absurd. Dan wanita sendiri pun tahu benar akan hal ini,
oleh karena itu feminisme hanya menuntut persamaan hak, tapi tidak persamaan kewajiban.
Dengan kata lain, wanita menginginkan semua keuntungan dan hak yang dimiliki pria namun
tidak mau menjalani kewajiban yang dimiliki pria. Lebih simpelnya lagi: wanita mau yang
enaknya saja.

Kaum wanita tidak puas hanya dengan persamaan hak. Mereka terus menerus, sedikit-demi
sedikit, perlahan namun pasti, merubah nilai-nilai sosial yang telah menjaga kita sejak jaman
nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu. Mereka ingin membentuk sebuah dunia di mana
wanita dihargai, diutamakan dan diistimewakan lebih daripada pria. Yang jelas sangat
bertentangan dengan prinsip awal gerakan feminisme itu sendiri: PERSAMAAN hak antara pria
dan wanita.

Dan mereka telah berhasil. Sangat berhasil, malah.

Dalam bukunya "The Manipulated Man", Esther Vilar, sang pengarang yang juga seorang
wanita, membongkar habis tentang bagaimana wanita telah menyalah gunakan perlakuan
istimewa yang diberikan oleh pria. Dan sampai saat ini beliau masih sering menerima surat
ancaman dari para wanita feminis garis keras.

Entah Anda sadari atau tidak, kita sekarang hidup dalam dunia yang dikuasai oleh wanita.
Sebuah dunia yang menempatkan wanita jauh lebih tinggi daripada pria. Sebuah dunia yang pilih
kasih pada wanita. Sebuah dunia yang timpang dan berat sebelah. Sebuah dunia yang membuat
Anda, para pria, tidak lagi menjadi pria yang sesungguhnya, tapi menjadi pria yang terkekang
oleh peraturan dan norma-norma yang ditentukan oleh wanita. Sebuah dunia yang membuat
Anda tumbuh menjadi pria lossy.
Beberapa contoh sederhana:

• Pria harus bekerja dan berpenghasilan. Wanita boleh bekerja, boleh tidak.
• Di tempat kerja, wanita berhak untuk ijin sekali setiap bulan dengan alasan 'datang bulan'.
Wanita berhak untuk berekspresi dengan fashion, mewarnai rambut dan potongan yang
berbeda-beda. Sedangkan pria harus potong pendek rapi, tidak boleh di warnai serta
wajib memakai kemeja, dasi dan celana bahan.
• Pria masih dituntut untuk bisa mengerjakan 'kerjaan' pria, seperti mengganti ban mobil,
menyetir kendaraan, memperbaiki komputer dsb. Wanita tidak lagi dituntut untuk bisa
mengerjakan 'kerjaan' wanita, seperti masak, mencuci, dandan, dsb.
• Pria minta tolong pada wanita untuk mencuci pakaian, dia akan anggap itu merendahkan.
Silakan minta tolong pada pria untuk mengangkat barang berat, ia akan melakukannya
dengan senang hati.
• Pria wajib membayari wanita makan, sedangkan wanita tidak harus memasak untuk pria.
• Pria wajib membiayai keluarga. Wanita boleh ya, boleh tidak.
• Wanita selalu diprioritaskan dan diperlakukan spesial: tempat parkir khusus wanita,
ladies nite di nite club, apabila ada musibah dahulukan wanita dan anak kecil biarkan pria
mati duluan.
• Pria menggoda wanita secara vulgar disebut pelecehan dan dapat dilaporkan ke pihak
berwenang. Wanita menggoda pria secara vulgar hanya disebut agresif dan apabila
dilaporkan tidak akan ada yang percaya.
• Tidak apa-apa bila wanita menyentuh pria, tapi bila pria menyentuh wanita disebut tidak
sopan.

Dan berkat media yang selalu menayangkan wanita cantik dan seksi, pria-pria jadi memuja
kecantikan dibanding kepribadian seorang wanita. Akibatnya, wanita dapat melakukan apa saja
yang buruk dan tidak berkenan namun para pria tetap saja berkumpul dan memperebutkannya.

Saya pernah pergi dinner dengan seorang wanita yang baru dikenal. Ketika menjemput dia di
rumahnya, apa yang dilakukannya membuat saya langsung ilfeel. Begitu masuk ke dalam mobil,
dia langsung menaikkan kakinya dan duduk ala warteg. Sambil berkata, "Eh gue naikkin kaki
yah.. gue emang orangnya begini, apa adanya." Dan saya tidak pernah menghubunginya lagi
sejak saat itu.

Kejadian yang lain, saya pernah pergi nonton dengan seorang wanita. Ketika saya mengajak dia
untuk dinner dengan teman-teman saya yang lain, dia bukannya berinteraksi dengan teman-
teman saya dan bersosialisasi layaknya manusia normal, tapi malahan sibuk sendiri dengan
Blackberry dan Facebook. Hal itu membuat suasana sungguh tidak nyaman. Dan jelas, saya yang
merasa malu, karena saya yang mengajak dia.

Dan seiring pengalaman saya dengan begitu banyak wanita, saya menemukan bahwa sedikit
sekali wanita yang masih bersikap sebagai wanita. Wanita jaman sekarang telah kehilangan
kewanitaannya.
Saya tidak akan tertarik pada wanita yang tidak wanita. Sama seperti halnya wanita tidak akan
tetarik pada pria yang tidak pria: cengeng, labil dan tidak punya prinsip.

Margareth Thatcher sendiri dijuluki 'Wanita Bertangan Besi', apakah Anda bisa membayangkan
apabila Anda menjadi anaknya? Atau suaminya? Apakah itu sosok wanita sejati yang diidamkan
oleh setiap pria? Apabila Anda perhatikan, hampir semua wanita-wanita berkarir sukses yang
berdiri di puncak, biasanya selalu kesepian dan tetap melajang hingga usia lanjut, atau selalu
gagal dalam hubungannya, nikah-cerai dsb.

Dan masih banyak lagi contoh-contoh nyata yang saya yakin selalu Anda lihat sehari-harinya di
sekitar Anda. Wanita MENUNTUT pria agar bersikap sebagai gentleman, menghargai dan
memperlakukan wanita dengan penuh hormat, tapi mereka sendiri tidak mau bersikap seperti
seorang lady dan menghormati pria. Parahnya, mereka merasa tidak perlu berubah, karena, toh,
dengan bersikap semaunya pun, semua pria sudah bertekuk lutut dan mengantri dengan ngarep di
hadapan mereka.

Feminisme yang kebablasan.

Salah satu penyebab mengapa wanita-wanita seperti itu tetap eksis dan makin bertingkah, adalah
karena pria-pria tetap menginginkan mereka meskipun mereka bukanlah wanita yang layak
untuk dijadikan pasangan.

Terserah Anda menilai saya sexist atau stereotyping. Yang jelas itu adalah kenyataannya. Dari
jaman batu hingga jaman postmodern sekarang ini, kenyataan itu tetap berlaku. Harap diingat
bahwa saya tidak berbicara soal harkat dan martabat: sebagai manusia, wanita dan pria semuanya
sejajar.

Jangan salah paham. Saya sangat setuju dengan persamaan hak wanita untuk memperoleh
pendidikan setinggi mungkin, memilih karir/profesi yang mereka inginkan, memiliki hak politik,
memiliki hak perlindungan hukum, dsb.

Saya berbicara soal peran dan mentalitas. Dalam hal hubungan romansa, wanita dan pria punya
peran dan posisi yang berbeda. Dan ini yang tidak diketahui oleh banyak orang dan menjadi
sumber masalah romansa mereka.

Dengan pola pikir 'be yourself' yang selalu digembar-gemborkan di mana-mana lewat media, kita
mulai melenceng dari peran kita yang seharusnya. Wanita mulai menjadi maskulin dengan
slogan fun fearless female dan girl power, dan pria mulai menjadi feminin dengan menjadi
terlalu sensitif secara emosional dan metroseksual. Dan ini yang menyebabkan banyak orang
mengeluh tidak dapat menemukan pasangan yang tepat. Mereka sudah memilih peran yang salah
dari awal!

Dewasa ini, wanita yang mampu mengalahkan pria di segala hal dianggap hebat dan dikagumi,
dan pria yang tidak takut untuk menangis dan menunjukkan kelemahannya dianggap pria yang
sejati.

Tapi jujur saja, tidak ada pria yang menyukai wanita yang kasar, dominan, tukang ngatur, terlalu
girl power dan cuek. Sama seperti tidak ada wanita yang menyukai pria yang terlalu sensitif,
sedikit-sedikit mellow, panik dan terbawa perasaan.

Peggy Giordano, seorang professor sosiologi di Amerika Serikat, pada Majalah TIME edisi
September 2006, membeberkan hasil penelitiannya selama beberapa tahun: pria-pria generasi
sekarang lebih sensitif tentang cinta dan romansa daripada wanita. Mereka tidak ada niat
bermain-main atau memanfaatkan wanita dalam hubungan romansa, karena itu pria lebih serius
dalam sebuah hubungan. Anggapan bahwa pria hanya menginginkan seks dan bersenang-senang
sudah dipatahkan lewat penelitian ini. This is the new age of romance, where the boys want to
get married and the girls just want to have fun!

Kalau Anda bertanya pada orang-orang tua atau kakek-nenek kamu, Anda akan mendengar
kisah-kisah romansa yang begitu sederhana dan indah. Mereka bertemu, saling jatuh cinta,
menikah dan hidup bahagia hingga hari ini. 30-50 tahun yang lalu belum ada deviasi sosial yang
kita lihat sekarang. Orang-orang di jaman itu mengikuti peranan mereka yang seharusnya.

Di jaman itu, men were men and women were women. That's why it's relatively easy to find the
mate of your life. It's so natural.

Jadi pelajaran apa yang bisa Anda ambil dari semua ocehan panjang lebar ini? Dan bagaimana
pengetahuan ini dapat memperbaiki kehidupan romansa Anda?

Sederhana saja: ANDA HARUS PUNYA STANDAR.

Wanita saja punya standar. Mereka tahu dengan jelas pria seperti apa yang mereka inginkan. Pria
yang maskulin, dewasa, mapan, mampu bersikap tegas, tidak emosional, memiliki integritas, bisa
memimpin sebuah hubungan dan dapat membimbing serta melindungi mereka. Dengan kata lain,
wanita hanya menginginkan pria sejati.

Karena itu, Anda pun harus punya standar.

Wanita seperti apa yang Anda inginkan? Wanita yang cantik dan seksi tapi tidak tahu caranya
bersikap seperti seorang wanita? Atau wanita yang tahu caranya menghargai dan menghormati
Anda sebagai seorang pria, yang tahu caranya membawa diri dan bersikap di hadapan teman-
teman atau keluarga Anda. Wanita yang memiliki kualitas keibuan yang penyayang, lemah
lembut, halus tutur katanya, yang membuat Anda yakin bahwa Anda dapat mempercayakan anak
Anda kelak dalam perawatannya? Dengan kata lain, seorang wanita sejati yang dapat Anda
banggakan.

Apabila Anda menginginkan seorang wanita sejati, maka mulai sekarang janganlah menjadikan
kecantikan atau bentuk tubuh seorang wanita sebagai prioritas Anda. Jadilah tegas. Katakan
TIDAK apabila Anda menemukan wanita yang tidak wanita. Dia tidak layak untuk seorang pria
sejati seperti Anda. Sudah cukup banyak pria berkualitas yang jatuh bergelimpangan dan hancur
hanya karena wanita yang sebenarnya tidak layak untuk dikejar. Jangan lah menjadi pria-pria
tersebut.

Tapi tentu, sebelum Anda menuntut hak, Anda pun harus melakukan kewajiban Anda. Rasanya
tidak adil apabila Anda menuntut wanita menjadi wanita sedangkan Anda sendiri belum menjadi
pria yang layak untuk mendapatkan mereka. Karena itu lakukan segala macam cara untuk
meningkatkan kualitas Anda sebagai pria. Salah satu hal yang dapat Anda lakukan adalah dengan
mengikuti HSMS 2009: Revolusi Romansa, di mana saya dan para instruktur lainnya akan
membahas habis bagaimana caranya bersikap sebagai seorang pria sejati dalam dunia romansa.