Anda di halaman 1dari 7

PRAKTIKUM SISTEM TELEKOMUNIKASI ANALOG

LAPORAN PRAKTIKUM
DEMODULASI DSBSSSB (Double Side Band Single Side Band)



Disusun Oleh Kelompok 3B :
Anang Mashudi (2A 01)
Dwiska Revananda (2A 03)
Wahyu Indah Permana (2A 21)


POLITEKNIK NEGERI MALANG
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI
2013




BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Demodulasi amplitudo merupakan jenis demodulasi yang cukup sering dipakai. Beberapa
tujuan dari demodulasi ini adalah dengan frekuensi rendah maka panjang gelombang juga
semakin besar sehingga sinyal sub carrier dapat diterima dari jarak yang jauh

1.2 TUJUAN
1. Untuk mengetahui tentang demodulasi SSB dan DSB
2. Untuk mengetahui rangkaian demodulator SSB dan DSB
3. Untuk mengetahui bentuk spectrum sinyal demodulator SSB dan DSB

1.3 ALAT DAN BAHAN
1. Osiloskop 1 buah
2. Kabel power 1 buah
3. Modul GF 1 buah
4. Modul Demodulasi 1 buah
5. Modul Modulasi 1 buah
6. Plug 18 buah
7. BNC to banana 2 buah
8. Banana to banana 4 buah
1.4 LANGKAH PERCOBAAN
Langkah-langkah yang dilakukan saat percobaan ini, yaitu :
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Tempatkan Power Supply, GF dan modul pada rak yang telah disiapkan.
3. Jumper dengan plug antara Power Supply dan GF lalu dengan modul AM dan
Demodulasi. (Menjumper pada +15V, 0V dan -15V) seperti gambar berikut:



4. Gunakan Banana to BNC untuk menghubungkan antara GF dengan osiloskop
sebagai inputan.( merah pada +20V dan hitam pada 0V)
5. Gunakan Banana to BNC lagi untuk menghubungkan antara Modul AM dengan
osiloskop sebagai outputan.Lakukan hal serupa untuk bagian Modul Demodulasi
dan hubungkan dengan Osiloskop channel 2
6. Atur time/div dan volt/div channel 1 dan channel 2 sesuai dengan tabel praktikum.
7. Atur semua alat tersebut sampai mendapatkan sinyal input dengan frekuensi yang
diinginkan.
8. Ubah pada amplitudo GF untuk mendapatkan tegangan yang telah ditentukan pada
tabel praktikum.
9. Amati sinyal keluaran, catat hasil pengamatan serta gambar sinyal keluarannya.
10. Lakukan langkah no.6-9 secara urut sesuai Amplitudo yang diinginkan.
11. Amati dan catat selama melakukan langkah per langkah












BAB II
ISI

2.1 TEORI DASAR

Definisi demodulasi adalah proses suatu sinyal modulasi yang dibentuk kembali
seperti aslinya dari suatu gelombang pembawa (carrier wave) yang termodulasi oleh
rangkaian. Sedangkan demodulator adalah rangkaian penerima komunikasi (radio, televisi,
dan radar) yang berfungsi memisahkan informasi asli dari gelombang campuran (yaitu
gelombang isyarat pembawa yang termodulasi. Demodulator sering juga disebut dengan
detector. Misalnya dalam system modulasi amplitude (AM) dikenal jenis-jenis detector linier,
detector kuadrat, dan detector Kristal. Dalam system modulasi frekuensi (FM) diterapkan
rangkaian demodulator yang disebut diskriminator. Sesudah isyarat informasi dipisahkan dari
gelombang campuran, maka isyarat informasi itu dikuatkan dan ditampilkan sebagai bunyi
atau tanda-tanda lain (misalnya bayangan seperti dalam televisi)
Single Side Band, yaitu salah satu cara pengiriman suatu informasi dengan
menggunakan carrier melalui cara modulasi dengan hanya mengirimkan salah satu side band
(bisa Upper atau Lower Side Band saja). Hal ini ditunjukkan pada gambar di bawah. Sinyal
SSB dimodulasi dengan cara yang sama dengan demodulasi sinyal DSB-SC (Synchronous
Detection)
Spektrum dari sinyal DSB diberikan oleh:



Kisaran spektral diduduki oleh sinyal pesan disebut baseband, dan dengan demikian
sinyal pesan sering disebut sebagai sinyal baseband. Seperti yang terlihat pada gambar di
atas, spectrum X
DSB
(t)
tidak memiliki pembawa diidentifikasi di dalamnya. Dengan demikian,
jenis modulasi dikenal sebagai modulasi double-sideband ditekan-carrier (DSB-SC).

Pemulihan dari sinyal pesan dari sinyal termodulasi disebut demodulasi atau deteksi.
Pesan sinyal m (t) dapat pulih dari sinyal termodulasi X
DSB
(t)
oleh operator lokal dan
menggunakan low-pass filter pada sinyal produk, seperti yang ditunjukkan pada gambar di
atas.
Dalam single-side-band demodulasi, pembawa dimasukkan kembali sebelum
modulasi sinyal diekstrak menggunakan deteksi amplop. Amplitudo carrier dimasukkan
kembali menentukan seberapa dekat sinyal didemodulasi adalah sinyal modulasi asli.

2.2 TABEL HASIL PERCOBAAN
1. SSB
no amplitudo frekuensi Gambar
Gel sinus Gel kotak
1 2 vpp 1 KHZ


2 3 VPP 1KHz







2. DSB
no amplitudo frekuensi Gambar
Gel sinus Gel kotak
1 2 vpp 1 KHZ
2 3 VPP 1KHz




2.3 ANALISA DATA
SSB Saat amplitudo 2Vpp dan frekuensi 1KHz
Pada Demodulasi SSB Saat amplitudo masukkan bernilai 2 Vpp dan frekuensi pada generator
fungsi sebesar 1 KHz. Maka, gelombang output yang terjadi seperti pada gambar di tabel.
Ada dua kondisi yang digunakan, pertama dengan menggunakan gelombang sinus dan yang
kedua dengan menggunakan gelombang kotak. Saat menggunakan gelombang sinus
amplitudo sinyal keluaran sebesar 1,8 Vpp sedangkan pada gelombang kotak sebesar 2,4
Vpp.
SSB saat amplitudo 3 Vpp dan frekuensi 1 KHz
Pada Demodulasi SSB Saat amplitudo masukkan bernilai 3 Vpp dan frekuensi pada generator
fungsi sebesar 1 KHz. Maka, gelombang output seperti pada gambar di tabel. Ada dua
kondisi yang digunakan, sama seperti diatas, pertama dengan menggunakan gelombang sinus
dan yang kedua dengan menggunakan gelombang kotak. Saat menggunakan gelombang sinus
amplitudo sinyal keluaran sebesar 2,6 Vpp sedangkan pada gelombang kotak sebesar 3,2
Vpp.




DSB saat amplitudo 2 Vpp dan frekuensi 1 KHz
Pada Demodulasi DSB Saat amplitudo masukkan bernilai sebesar 2 Vpp dan frekuensi pada
generator fungsi sebesar 1 KHz. Maka, gelombang yang terjadi seperti pada gambar di tabel.
Ada dua kondisi yang digunakan, pertama dengan menggunakan gelombang sinus dan yang
kedua dengan menggunakan gelombang kotak. Saat menggunakan gelombang sinus
amplitudo sinyal keluaran sebesar 1,1 Vpp sedangkan pada gelombang kotak sebesar 1,4
Vpp.
DSB saat amplitudo 3 Vpp dan frekuensi 1 KHz
Pada Demodulasi DSB Saat amplitudo masukkan bernilai 3 Vpp dan frekuensi pada
generator fungsi sebesar 1 KHz. Maka, gelombang yang terjadi seperti pada gambar di tabel.
Ada dua kondisi yang digunakan, pertama dengan menggunakan gelombang sinus dan yang
kedua dengan menggunakan gelombang kotak. Saat menggunakan gelombang sinus
amplitudo sinyal keluaran sebesar 1,8 Vpp sedangkan pada gelombang kotak sebesar 2 Vpp.

KESIMPULAN
Dari analisis diatas dapat diambil kesimpulan bahwa nilai amplitudo dengan nilai
frekuensi yang berbanding lurus dengan besar gelombang yang dihasilkan .Baik pada
demodulasi SSB maupun demodulasi DSB. Pada SSB ketika nilai amplitude dinaikkan
dengan frekuensi yang tetap maka gelombang juga berrtambah besar nilai amplitudonya.
Begitu juga dengan DSB ketika nilai amplitude dinaikkan dengan nilai frekuensi yang tetap
diperoleh hasil output gelombang yang juga bertambah besar.