Anda di halaman 1dari 8

Beton Besar (Mass Concrete)

A. Pendahuluan
Beton adalah pencampuran bahan-bahan seperti aggregat halus dan kasar
dengan semen dan air sebagai perekat yang membantu proses reaksi kimia, dan juga
dapat di tambahkan bahan-bahan pembantu (admixture) untuk merubah sifat-sifat
tertentu dari beton yang bersangkutan. Beton merupakan salah satu pilihan sebagai
bahan struktur dalam konstruksi bangunan. Beton amat diminati penggunaanya karena
memiliki kelebihan-kelebihan dibanding bahan lainnya antara lain harganya yang
relatif murah, mempunyai kekuatan yang baik, bahan baku penyusun mudah didapat,
tahan lama, tahan terhadap api, tidak mengalami pembusukan dan mudah di bentuk
sesuai dengan keinginan. Namun disamping kelebihannya tersebut beton juga
memiliki kelemahan yaitu berat sendiri yang besar. Dalam beton yang direncanakan
dengan seksama dan kemudian dipadatkan dengan baik hanya terdapat sedikit rongga-
rongga udara, yaitu kurang dari dua persen. Sifat-sifat beton dalam keadaan masih
segar dan setelah mengeras dapat memperlihatkan perbedaan-perbedaan yang cukup
besar. Hal ini juga di pengaruhi oleh jenis, mutu, serta perbandingan-perbandingan
dari bahan-bahan campurannya.
Berikut kandungan yang umum terdapat pada beton :
Rongga-rongga udara 1% - 2 %
Agregat (kasar + halus) 60% - 75%
Pasta semen ( semen +air ) 25% - 40%

1. Bahan-Bahan Pembentuk Beton
a. Aggregat
Agregat halus dan agregat kasar merupakan bahan pengisi dalam
adukan beton. Untuk beton yang ekonomis, campuran harus dibuat
sebanyak mungkin agregatnya. Sifat-sifat agregat mempunyai pengaruh
yang besar terhadap perilaku beton yang sudah mengeras. Sifat agregat
bukan hanya mempengaruhi sifat beton, akan tetapi juga mempengaruhi
ketahanan (durability atau daya tahan terhadap kemunduran mutu akibat
siklus pembekuan). Agregat mempunyai sifat-sifat fisik yang
mempengaruhi karakteristik dari agregat yaitu:
Berat jenis dan daya serap
Analisa ayak
Kadar lumpur
Kadar air
Kadar organik (untuk agregat halus)
Bobot isi

b. Semen
Semen adalah bahan yang bertindak sebagai pengikat untuk
agregat. Jika dicampur dengan air, semen akan menjadi pasta. Ada 5 tipe
semen yang secara umum dikenal, yaitu:
Tipe I yaitu semen biasa (normal cement), digunakan untuk pembuatan
kontruksi beton yang dipengaruhi oleh sifat-sifat sulfat, tidak memiliki
perbedaan temperatur yang ekstrem
Tipe II yaitu semen yang digunakan untuk pencegahan serangan sulfat
dari lingkungan, seperti sistem drainase dengan sifat kadar konsentrasi
sulfat tinggi di dalam air tanah
Tipe III yaitu jenis semen dengan waktu perkerasan yang cepat,
umumnya dalam waktu kurang di seminggu
Tipe IV yaitu semen dengan hidrasi panas rendah, yang digunakan
pada struktur-struktur dam, bangunan-bangunan masif
Tipe V yaitu semen penangkal sulfat. Digunakan untuk beton yang
lingkungannya mengandung sulfat,terutama pada tanah/air tanah
dengan kadar sulfat tinggi
Semen mempunyai sifat-sifat fisis yang mempengaruhi
karakteristik dari semen yaitu:
Berat jenis
Kehausan
Waktu pengikatan
Kekekalan
Kekuatan aduk
Panas hidrasi
Pemuaian karena sulfat
c. Air
Air merupakan bahan yang digunakan untuk berlangsungnya
proses reaksi hidrasi semen agar semen membentuk pasta yang bisa
mengikat agregat. Air juga berpengaruh terhadap kuat desak beton, karena
kelebihan air akan menyebabkan penurunan pada kekuatan beton itu
sendiri. Selain itu kelebihan air akan mengakibatkan beton menjadi
bleeding, yaitu air bersama-sama semen akan bergerak ke atas permukaan
adukan beton segar yang baru saja dituang. Hal ini akan menyebabkan
kurangnya lekatan antara lapis-lapis beton. Air pada campuran beton juga
akan berpengaruh terhadap sifat workability adukan beton dan juga besar
kecilnya nilai susut beton.
Air untuk pembuatan beton minimal memenuhi syarat sebagai air
minum yaitu tawar, tidak berbau, bila dihembuskan dengan udara tidak
keruh dan lain-lain, tetapi tidak berarti air yang digunakan untuk
pembuatan beton harus memenuhi syarat sebagai air minum.

2. Jenis Jenis Beton
Berikut beberapa jenis beton yang telah mengalami perkembangan seiring
dengan kemajuan teknologi untuk menanggulangi kekurangna yang di miliki
beton pada umum nya.
a. Beton ringan (Lightweight Concrete)
Di buat dengan aggregat ringan dengan sedemikian rupa sehingga
di dapat berat isi yang lebih kecil dibandingkan beton normal. Berat isi
beton jenis ini bisa mencapai 2/3 dari berat isi beton normal.
b. Beton mutu tinggi (High Strength Concrete)
Beton dengan kuat tekan lebih dari 40 Mpa sudah dapat dikatakan
beton mutu tinggi. Beton ini di kembangkan untuk membuat struktur yang
mempunyaitinggkat kepentingan yang tinggi misalnya bangunan-
bangunan yang memiliki tingkat kemanan yang tinggi seperti jembatan,
gedung yang tinggi, reaktor nuklir dan lain sebagainya.
c. Beton dengan workabilitas tinggi (High Workability Concrete)
Umumnya tingkatkesulitan dalam pengerjaan beton dikaitkan
dengan tingkat keenceran campuranya atau kemaapuannya mengalir.
Keenceran yang dimaksud disini bukanlah semata-mata dengan
pengunaan air yang berlebihan. Beton dengan workability yang di maksud
disini adalah beton yang mudah mengalir atau pun mudah dikerjakan
namun tetap memiliki mutu yang baik seperti beton normal atau beton
mutu tinggi.
d. Beton serat (Fiber Reinforced Concrete)
Beton serat adalah beton yang materialnya ditambah komponen
seratyang bisa berupa serat baja, serat plastik, ataupun serabut dari bahan
alami.
e. Beton dengan polimer (Polymers Consrete)
Beton dengan polimers adalah beton yang dalam pembuatannya
menggunakan bahan polimer sebagai bahan campuran agar didapat beton
dengan kuat tekan ynag tinggi dan dalam waktu yang relatif singkat.
f. Beton berat (Heavyweight Concrete)
Beton jenis ini memiliki berat isi yang lebih dibandingkan
dengan beton normal yakni sekitar 3300 kg/m3 sampai dengan 3800
kg/m3. Biasanya digunakan untuk pembangunan fasilitas biologi,
pengujian dan penelitain atom dan lain sebagainya
g. Beton besar (Mass Concrete)
Merupakan beton pada struktur masifdengna volume yang sangat
besar seperti pada bendungan, pintu air maupun pada pilar besar yang
masif.
h. Beton dengan pemadatan roller (Roller Compacted Concrete)
Adalah beton yang dipadatkan dengan menggunakan roller
vibrator, hal ini biasanya dilakukan pada pekerjaan-pekerjaan besar dan
khusus seperti jalan berbahan beton dan bendungan. Untuk pemadatan
dengan roller campuran beton harus cukup kering agar roller tidak
tenggelam namun juga harus memiliki sifat basah agar distribusi semen
keseluruh permukaan aggregat merata.
B. Beton besar (Mass Concrete)
Merupakan beton pada struktur masif dengan volume yang sangat besar
seperti pada bendungan, pintu air maupun pada pilar besar yang masif. Beton ini
sering juga disebut beton massal. Salah satu hal yang paling berpengaruh terhadap
beton adalah suhu. Pengaruh suhu pada beton segar adalah percepatan pada kecepatan
hidrasi semen. Hal ini mengakibatkan hal-hal sebagai berikut :
Slump loss yang tinggi
Kebutuhan air meningkat
Waktu pengikatan (set) lebih cepat
Susut atau retak yang tinggi
Hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan beton massal adalah kontrol
terhadap panas yang di hasilkan dari proses hidrasi dari massa beton yang besar.
Panas yang dihasilkan dari proses hidrasi dapat menyebabkan terjadinya perbedaan
suhu yang tinggi antara titik-titik di dalam beton itu.
Panas hidrasi ini disebabkan oleh reaksi hidrasi campuran semen yang
merupakan reaksi eksotermik. Panas hidrasi yang dihasilkan akan menaikkan suhu
beton. Pada permukaan beton, panas hidrasi itu dapat lepas karena berbatasan dengan
lingkungan sehingga suhu permukaan rendah, sedangkan panas hidrasi pada bagian
dalam beton massal tidak dapat lepas sehingga menimbulkan suhu yang tinggi.
Perbedaan suhu antara permukaan dan bagian dalam beton massal ini dapat
menimbulkan retak termal pada usia awal (Cindy Lucia L.T dkk, 2005). Maksimum
perubahan suhu (Thermal shock) yang dapat menyebabkan terjadinya kontraksi dan
mengakibatkan retak adalah 40 C/Jam (ACI.224.1R93.7) dan adanya perbedaan
Temperatur beton dengan lingkungan tidak lebih dari 20 C (ACI.Jurnal
Vol.94.no.2.1997)
Keretakan yang terjadi pada pelaksanaan pengecoran beton massal di lapangan
sering diabaikan oleh pelaksana pengecoran, mereka menganggap keretakan itu
merupakan hal yang wajar. Namun jika tidak cepat ditanggulangi akan memberikan
dampak pada kegagalan struktur, sehingga kekuatan struktur bangunan akan
berkurang saat terkena beban. Untuk itu perlu adanya penanggulangan lebih awal
sebelum pengecoran beton massal. Beberapa cara yang dilakukan untuk
meminimumkan retak termal adalah yaitu usaha pendinginan yang dilakukan dengan
memompakan air dingin melalui kisi - kisi pipa yang ditanam dalam beton (pipe
cooling) atau dengan pendinginan permukaan (surface isolated cooling) (Cindy Lucia
L.T dkk, 2005).
Dari hasil analisa diperoleh bahwa pada pengecoran beton massal dengan
permukaan tertutup mengakibatkan differensial temperatur antara permukaan dan
bagian dalam beton dapat diperkecil yaitu kurang dari 20C dimana temperatur
tersebut merupakan syarat tidak terjadinya retak pada beton massal. Dengan
differensial temperatur yang kurang dari 20C menyebabkan tegangan tarik yang
terjadi pada beton tidak melebihi tegangan tarik yang diijinkan sehingga keretakan
tidak terjadi. Untuk pengecoran beton massal dengan ketebalan lebih dari 1m perlu
diterapkan surface isolation (permukaan tertutup) agar tidak terjadi retak. Namun
penerapan surface isolation berguna dalam mencegah keretakan hanya sampai
ketebalan pengecoran 5m, lebih dari 5m perlu diterapkan cara penanggulangan retak
pada beton massal seperti pelaksanaan pipe cooling. Hal lain yang dapat dilakukan
antara lain ialah menggunakan air dingin pada campuran beton sehingga menurunkan
suhu beton dari keadaan normal, atau juga dapat menggunakan aggregat yang telah di
siram air.

C. Kesimpulan dan saran
1. Kesimpulan
Kontrol terhadap beton menjadi hal yang harus di utamakan dalam
pengerjaan beton massal
Perawatan setelah beton dihampar harus di perhatikan untuk
meminimalisasi terjadinya keretakan akibat perubahan suhu antara beton
dan lingkungan sekitarnya
2. Saran
Bila dimungkinkan untuk melakukan pekerjaan pengecoran secara kecil-
kecilan dan berkelanjutan baik dari segi waktu maupun biaya ada baiknya
dilakukan yang seperti itu untuk mengurangi resiko keretakan pada beton
yang dapat mengancam terjadinya kegagalan struktur.
Bila harus dilaksanakan pengerjaan beton massal, maka beberapa cara
yang telah di sebutkan sebelumnya dapat di laksanakan untuk menghindari
keretakan pada beton. Kemudian penghamparan hendaknya dilakukan
malam hari untuk menekan tingkat penguapan air yang berlebihan untuk
mencegah terjadinya retak, bila di siang hari dapat digunakan tenda agar
beton yang baru dihampar tidak langsung tekena cahaya matahari.
Kemudian dalam penggunaan concrete pump sebaiknya pipa penyalur
dilapisi oleh karung dan disiram secara periodik untuk menjaga pipa
tersebut tetap dingin agar mengurangi resiko terjadinya kenaikan
temperatur akibat gesekan antara baton dengan dinding pipa.
Penggunaan semen yang pada campuran beton juga harus diperhatikan
untuk mencegah tingginya hidrasi yang terjadi
Penggunaan bahan tambah juga dapat di mungkinkan untuk menurunkan
reaksi hidrasi pada campuran beton tersebut






























Daftar Pustaka
Marsiano, Studi Pembuatan Beton Massa dan Pengaruhnya terhadap Temperatur, ISTN,
2009.
NRMCA, Thermal Cracking of Concret, 2009
Mehta, P.K and P.J.M. Monteiro, Concrete : Microstructure, Properties, and Materials.
Brahmantyo, Dody, Pelaksanaan Gedung MKPB UNNAR.
Mulyono, T., 2004, Teknologi Beton, Edisi Pertama, ANDI, Yogyakarta.