Anda di halaman 1dari 6

TUGAS TINJAUAN PUSTAKA

BLOK XII : RESPIRASI



EDEMA PARU


ELINA INDRASWARI
H1A012016




FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MATARAM
2014
PENDAHULUAN
Cairan yang berlebihan di luar pembuluh darah yang disebut sebagai edema paru
merupakan problem klinik yang sangat penting. Hal ini disebabkan karena banyak penyakit atau
keadaan yang bisa menimbulkan edema paru, dan edema paru bisa berakibat fatal apabila tidak
ditangani dengan benar. Penanganan yang rasional harus berdasarkan patofisiologi edema paru,
disamping menangani kelainan penyebabnya.
1
Edema paru didefinisikan sebagai akumulasi
cairan yang abnormal pada kompartemen ekstraselular paru.
2


ETIOLOGI
Edema paru disebabkan oleh elevasi tekanan hidrostatik kapiler paru yang mengarah ke
transudasi cairan ke dalam interstisium dan alveoli.
3
Selain itu, edema paru juga dapat
disebabkan oleh gagal jantung kongestif, gagal ginjal, aspirasi, trauma, kerusakan paru karena
gas beracun atau infeksi berat, dan sempitnya arteri yang membawa darah ke ginjal.
4


PATOGENESIS
Pathogenesis edema paru dapat dibagi menjadi dua peristiwa, yaitu berpindahnya cairan
dari rongga vaskuler ke dalam interstisium dan masuknya cairan ke dalam rongga alveolar.
Kekuatan yang melawan transudasi cairan mengurang, migrasi cairan keluar dari rongga
vaskuler menjadi lebih sensitif terhadap perubahan tekanan hidrostatik kapiler. Permeabilitas
membrane endotel juga penting sebagai penentu pembentukan edema. Perubahan intraseluler
yaitu kadar kalsium, radikal oksigen bebas, dam eicosanoid menyebabkan perubahan di sel
endotel yang membuka saluran interseluler dan mengakibatkan cairan keluar dari rongga
vaskuler. Peristiwa perubahan dari edema interstisial menjadi edema alveolar dimulai ketika
kecepatan menumpuknya edema interstisial melebihi kapasitas normal berbagai mekanisme
klirens paru, seperti aliran limfe. Dengan pembengkakan interstisial yang cukup, barrier epitel
menjadi rusak dan terjadilah alveolar flooding.
1

Bila terjadi edema paru, perubahan fisiologi yang terjadi adalah pertukaran gas, mekanik
paru, peningkatan work of breathing, dan gangguan hemodinamik pulmonal. Gangguan utama
pertukaran gas adalah hipoksemi oleh karena peningkatan shunting. Daerah atelectasis dan
alveoli yang terisi cairan tidak bisa ikut pertukaran gas dan menyebabkan ventilasi dan perfusi
tidak seimbang. Pada perubahan mekanik paru, paru jadi lebih kaku sehingga perlu tekanan
transpulmoner yang besar untuk mencapai sejumlah volume. Kekakuan bukan hanya karena
penurunan sifat-sifat elastic, tetapi terkait dengan pengurangan volume aerated lung.
Pengurangan surfaktan juga mengurangi aeratable lung. Pada beberapa pasien, hipereaktivitas
bronkus meningkatkan tahanan saluran nafas dan menerangkan wheezing pada auskultasi. Work
of breathing meningkat pada edema paru dan sering sebagai tanda kebutuhan ventilasi mekanik.
Hipertensi pulmonal ringan-sedang timbul pada edema paru. Gangguan hemodinamik ini
terutama akibat hypoxic vasoconstriction.
5


MANIFESTASI KLINIS
Gejala pada edema paru antara lain batuk berdarah, sulit bernapas ketika tidur, sering
terbangun di malam hari karena merasa kekurangan udara, ditemukan wheezing, dan kesulitan
berbicara karena napas yang pendek. Selain itu, pasien merasakan cemas, bengkak pada tungkai,
berkeringat, kulit terlihat pucat, dan kurang istirahat.
4


DIAGNOSIS
Diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan darah lengkap, gas darah arteri, foto
toraks, ekokardiogram, dan elektrokardiogram.
4
Pada radiologi atau foto toraks, pola radiologi
dapat membantu membedakan edema kardiogenik dan non kardiogenik. Pada edema kardiogenik,
ditemukan kardiomegali, efusi pleura, Kerley lines, pulmonary vascular redistribution, dan
peribronchial cuffing. Pada edema non kardiogenik, dapat ditemukan diffuse non gravity-
dependent opacities tanpa gambaran tipikal kongesti kardiak. Pada CT scan, infiltrate cenderung
di bagian dorsal paru. Kondisi heterogen minimal ini disebabkan oleh atelectasis. Jika edema
berlanjut sampai edema alveolar, baik kardiak dan non kardiak mempunyai gambaran serupa,
yaitu infiltrate yang menebal.
5


TATALAKSANA
Edema pulmoner hampir selalu ditangani di UGD. Oksigen diberikan dengan face mask
atau dengan tube yang dipasang di hidung. Selang tersebut dapat dipasang di trakea sehingga
dapat dihubungkan dengan ventilator. Selain itu, penyebab edema juga harus diidentifikasi dan
ditangani secara cepat. Jika penyebabnya adalah serangan jantung, penyebab tersebut harus
ditangani secepatnya.
4

Terapi edema paru dapat dibagi menjadi dua, yaitu terapi suportif dan terapi penyakit
dasar. Terapi penyakit dasar merupakan faktor yang sangat penting dalam pengobatan, sehingga
perlu diketahui dengan segera penyebabnya. Mengingat penyebab cedera paru belum diketahui
dengan jelas, perlu dipikirkan kemungkinan proses infeksi sebagai penyebab karena infeksi
merupakan salah satu penyebab tersering dan secara umum dapat diatasi. Terapi suportif
bertujuan untuk mempertahankan fungsi fisiologik dan seluler dasar seperti pertukaran gas,
perfusi organ, dan metabolisme aerob. Pemberian oksigen dengan flow tinggi sebaiknya dengan
masker dengan sasaran PaO
2
minimal 60 mmHg sepanjang PaCO
2
dalam batas normal. Jika
upaya ini tidak mampu mempertahankan PaO
2
> 60 mmHg atau terjadi retensi CO
2
, diperlukan
intubasi endotrakeal tube dengan ventilator mekanik. Selain itu, keseimbangan cairan dan nutrisi
juga diperhatikan. Jika hematokrit turun < 30%, dapat diberikan transfusi PRC untuk
meningkatkan kapasitas pengangkut oksigen.
5


PROGNOSIS
Tingkat mortalitas di rumah sakit cukup tinggi, yaitu 15-20%. Hal ini tergantung dari
penyebab terjadinya edema paru. Semakin berat penyebabnya, semakin tinggi tingkat
mortalitas.
3
Beberapa pasien mungkin membutuhkan alat bantu nafas untuk waktu yang lebih
lama. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat mengancam jiwa.
4


PENUTUP
Edema paru merupakan manifestasi kelainan lain yang sering kali amat serius dan sering
kali edema paru timbul pada tahapan penyakit yang gawat sehingga harus bisa segera diatasi dan
jika memungkinkan juga dilakukan pencegahan. Diagnosis dapat ditegakkan dengan foto toraks
untuk mengetahui penyebabnya. Secara umum, tatalaksana untuk edema paru adalah terapi
suportif. Terapi yang lain diberikan menurut penyebab yang menyertai. Pencegahan yang dapat
dilakukan adalah diet sehat untuk menurunkan risiko dari penyakit yang dapat menyebabkan
edema paru.


DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Ilmu Penyakit Paru FK Unair dan RSUD Dr. Soetomo. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Paru. Surabaya: FK Unair-RSUD Dr. Soetomo. 2010.
2. Gluecker et al. Clinical and Radiologic Features of Pulmonary Edema. Scientific Exhibit.
1999.
3. Sovari, Ali A. Cardiogenic Pulmonary Edema. 3 Februari 2012. Tersedia di
http://emedicine.medscape.com/article/157452-overview diakses pada tanggal 23
Juni 2014.
4. Dugdale, David C. dan Chen, Michael A. Pulmonary Edema. 4 Juni 2012. Tersedia di
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000140.htm diakses pada
tanggal 23 Juni 2014.
5. SMF Ilmu Penyakit Paru. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/SMF Ilmu Penyakit Paru.
Surabaya: FK Unair-RSUD Dr. Soetomo. 2005.