Anda di halaman 1dari 22

(MONEY LAUNDERING)

PUSDIKLAT KEJAKSAAN
REPUBLIK INDONESIA
PUSDIKLAT KEJAKSAAN
REPUBLIK INDONESIA
SEKILAS
MENGENAI
Pencucian Uang
(Money Laundering
Pengertian tentang Pencucian Uang (money laundering)
Dalam Blacks Law Dictionary, money laundering diartikan sebagai berikut:
Term used to describe investment or other transfer of money flowing from
racketeering, drug transaction, and other illegal sources into legitimate
channels so that its original source cannot be traced
UU Nomor 25 Tahun 2003 tentang Perubahan Tindak Pidana Pencucian
Uang, dalam pasal 1, yang dimaksud dengan Pencucian Uang (money
laundering) adalah:
Perbuatan menempatkan, mentransfer, membayarkan, membelanjakan,
menghibahkan, menyumbangkan, menitipkan, membawa keluar negeri,
menukarkan, atau perbuatan lainnya atas Harta Kekayaan yang
diketahuinya atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana dengan
maksud untuk menyembunyikan, atau menyamarkan asal usul Harta
kekayaan sehingga seolah-olah menjadi Harta Kekayaan yang sah .
KONSEP DASAR PENCUCIAN UANG
Menurut konvensi Vienna tahun 1988 terdapat tiga
jenis tindak pidana pencucian uang dalam the
process of money laundering conduct , yang bisa juga
dikategorikan sebagai konsep dasar kegiatan money
laundering yaitu:
Mengubah atau memindah property yang diketahuinya
berasal dari kejahatan, dengan tujuan menyembunyikan
asal usul gelap dari property tersebut atau untuk
membantu seseorang menghindari akibat-akibat hukum
dari keterlibatannya dalam melakukan kejahatan.
Menyembunyikan keadaan yang sebenarnya dari
propertyyang berasal dari kejahatan itu (baik sumbernya,
asal-usulnya, lokasinya, penempatan/pembagiannya,
pergerakan/penyalurannya, maupun hak-hak yang
berhubungan dengan propertyitu
Menguasai/menerima, memiliki atau menggunakan
property yang diketahuinya berasal dari kejahatan atau
dari keikutsertaanya dalam melakukan kejahatan itu.
Tahap Penempatan (Placement Stage)
Tahap ini adalah suatu upaya menempatkan
uang hasil kejahatan ke dalam sistem
keuangan yang antara lain dilakukan
melalui pemecahan sejumlah besar uang
tunai menjadi jumlah kecil yang tidak
mencolok untuk ditempatkan dalam
simpanan (rekening) bank, atau
dipergunakan untuk membeli sejumlah
instrumen keuangan (cheques, money
orders, etc) yang akan ditagihkan dan
selanjutnya didepositokan di rekening
bank yang berada di lokasi lain.
P
R
O
S
E
S
P
e
n
c
u
c
i
a
n
ang
Tahap Penyebaran (Layering Stage)
Setelah uang hasil kejahatan masuk dalam sistem keuangan, pencuci uang
akan terlibat dalam serentetan tindakan konversi atau pergerakan dana
yang dimaksudkan untuk memisahkan atau menjauhkan dari sumber
dana. Dana tersebut mungkin disalurkan melalui pembelian dan
penjualan instrumen keuangan, atau pencuci uang dengan cara
sederhana mengirimkan uang tersebut melalui electronic funds/wire
transferkepada sejumlah bank yang berada di belahan dunia lain.
Tahap Pengumpulan (Integration Stage)
Dalam tahapan ini merupakan upaya menggunakan harta hasil kejahatan
yang tampak sah, baik untuk dinikmati langsung, diinvestasikan ke dalam
kegiatan ekonomi yang sah misalnya dalam bentuk pembelian real
estate, aset-aset yang mewah, atau ditanamkan dalam kegiatan usaha
yang mengandung risiko. Dalam melakukan money laundering, pelaku
tidak terlalu mempertimbangkan hasil yang akan diperoleh, dan besarnya
biaya yang harus dikeluarkan, karena tujuan utamanya adalah untuk
menyamarkan atau menghilangkan asal usul uang sehingga hasil
akhirnya dapat dinikmati atau digunakan secara aman.
METODE-METODE PENCUCIAN UANG
DAPAT DILAKUKAN MELALUI :
-Cash Couriers
-Currency Exchanges
-Structuring
-Purchase of Valuable Assets
-Wire Transfer
-Alternative Remittance Systems &
Underground Banking
-Trade Related Money Laundering
-Corporate Vehicles/Trust
-Gambling Activities
-Investment in Capital Market
-Use of Gatekeepers Professional
Services (Lawyer, Accountant, Etc)
-Mingling (Business Investment)
-Use of Shell Companies
-Use of Nominee, Trust, Family Member or
Third Parties
-Use of Foreign Bank Accounts
-Identity Fraud
-Internet
Hal -hal yang menduk ung
Ti ndak an Penc uc i an Uang
Adanya off share banking, yang dianggap sebagai suatu pelabuhan
atau surga bagi perusahaan-perusahaan yang hendak menyimpan
uang mereka;
Adanya information technology (IT), yang memudahkan pengiriman
uang/transfering secara cepat dari satu orang ke orang lain, dari suatu
tempat ke tempat lain baik melalui internet maupun hand phone.
Ti t i k l emah Penc uc i an Uang
Masuknya dana tunai ke dalam sistem keuangan;
Pembawaan uang tunai melewati batas negara (cross-border);
Transfer antar sistem keuangan;
Transfer dari sistem keuangan ke luar sistem keuangan;
Pengambilalihan saham atau aset lainnya;
Penggabungan perusahaan;
Pembentukan kelompok usaha;
TINDAK PIDANA
PENCUCIAN UANG
Hasil Perbuatan Tindak Pidana
(Sesuai pasal 2 Undang Undang Nomor 25 tahun 2003, yang
tercakup dalam Hasil Tindak Pidana adalah Harta Kekayaan yang
diperoleh dari tindak pidana sebagai berikut :
1. Korupsi;
2. Penyuapan;
3. Penyelundupan barang;
4. Penyelundupan tenaga kerja;
5. Penyelundupan imigran;
6. Di bidang Perbankan;
7. Di bidang pasar modal;
8. Di bidang asuransi;
9. Narkotika;
10.Psikotropika;
11.Perdagangan manusia;
12.Perdagangan senjata gelap
13.Penculikan;
14.Terorisme
15. Pencurian;
16. Penggelapan;
17. Penipuan;
18. Pemalsuan uang;
19. Perjudian;
20. Prostitusi;
21. Di bidang perpajakan;
22. Di bidang kehutanan;
23. Di bidang lingkungan hidup;
24. Di bidang kelautan; atau
25. Tindak pidana lainnya yang diancam
dengan pidana penjara 4 (empat) tahun
atau lebih, yang merupakan tindak
pidana menurut hukum Indonesia.
Undang-Undang Ti ndak Pi dana Penc uc i an Uang
(UU No. 25 Tahun 2003)
Keuntungan menggunakan UU Tindak Pidana Pencucian
Uang :
1.Permintaan keterangan PJK mengenai seseorang yang
sudah dilaporkan ke PPATK, tersangka atau terdakwa
(penerobasan ketentuan rahasia bank).
2.Pembuktian terbalik.
3.Pemblokiran.
4.Penyitaan.
5.Perlindungan saksi dan pihak pelapor
Delik Pencucian Uang menurut UU No. 25 /2003
Sebelumnya telah dijelaskan dalam Pasal 2 UU No. 25 Tahun 2003
terdapat dua puluh lima hasil tindak pidana pencucian uang. Dalam Pasal
tersebut menerangkan secara terperinci mengenai tindak pidana yang
dikategorikan sebagai asal usul tindak pidana pencucian uang. Sedangkan
dalam Pasal 3 UU No. 25 Tahun 2003 menerangkan tindakan yang dengan
sengaja dilakukan oleh setiap orang:
a.Menempatkan Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya
merupakan hasil tindak pidana ke dalam Penyedia Jasa Keuangan (PJK),
baik atas nama sendiri atau atas nama pihak lain.
b.Mentransfer harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya
merupakan hasil tindak pidana dari suatu PJK ke PJK yang lain, baik atas
nama sendiri maupun atas nama pihak lain.
c.Membayarkan atau membelanjakan harta kekayaan yang diketahuinya
atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana, baik perbuatan itu
atas namanya sendiri maupun atas nama pihak lain.
d.Menghibahkan atau menyumbang harta kekayaan yang diketahuinya
atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana, baik perbuatan itu
atas namanya sendiri atau atas nama pihak lain.
e.Menitipkan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya
merupakan hasil tindak pidana, baik perbuatan itu atas namanya sendiri
maupun atas nama pihak lain.
f.Membawa ke luar negeri harta kekayaan yang diketahuinya atau patut
diduganya merupakan hasil tindak pidana.
g. Menukarkan atau perbuatan lainnya atas harta kekayaan yang
diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana
dengan mata uang atau surat berharga lainnya, dengan maksud
menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan yang
diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana,
dipidana karena tindak pidana pencucian uang dengan pidana penjara
paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan
denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan
paling banyak Rp 15.000.000.000,00 (lima belas milyar rupiah).
Dalam pasal 6 UU Tahun 2003 dinyatakan setiap orang yang menerima
atau menguasai:
1. Penempatan;
2. Pentransferan;
3. Pembayaran;
4. Hibah;
5. Sumbangan;
6. Penitipan;
7. Penukaran;
Harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil
tindak pidana, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima)
tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit
Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp
15.000.000.000,00 (lima belas milyar rupiah).
Dalam pasal 9 ditetapkan setiap orang yang tidak melaporkan uang tunai
berupa rupiah sejumlah Rp 100.000.000,00 atau lebih atau mata uang
asing yang nilainya setara dengan itu yang dibawa ke dalam atau ke luar
wilayah Negara Republik Indonesia, dipidana dengan pidana denda paling
sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp
300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
Dalam pasal 17A, ditetapkan:
a.Direksi, pejabat, atau pegawai PJK dilarang memberitahukan kepada
pengguna jasa keuangan atau orang lain baik secara langsung atau tidak
langsung dengan cara apapun mengenai laporan transaksi keuangan
mencurigakan yang sedang disusun atau telah disampaikan kepada
PPATK.
b.Pejabat atau pegawai PPATK, serta penyelidik/penyidik dilarang
memberitahukan laporan transaksi keuangan mencurigakan kepada
pengguna jasa keuangan yang telah dilaporkan kepada PPATK atau
penyidik secara langsung atau tidak langsung dengan cara apapun.
c.Direksi, pejabat atau pegawai PJK, pejabat atau pegawai PPATK serta
penyelidik/penyidik yang melakukan pelanggaran atas ketentuan
sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) dan (2), dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan
pidana denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan
paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah)
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan yang selanjutnya disebut
PPATK adalah lembaga independen yang dibentuk dalam rangka mencegah
dan memberantas tindak pidana pencucian uang.
Tugas Pokok:
Sesuai dengan pasal 1 Keppres RI Nomor 82 Tahun 2003 tentang Tata Cara
Pelaksanaan Kewenangan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan,
mempunyai tugas sebagai berikut:
1. Mengumpulkan, menyimpan, menganalisis, mengevaluasi informasi yang
diperoleh PPATK sesuai UU No,15 tahun 2002 dan yang telah diubah
dengan UU No.25 tahun 2003.
2. Memantau catatan dalam buku daftar pengecualian yang dibuat oleh
Penyedia Jasa Keuangan
3. Membuat pedoman mengenai tata cara pelaporan Transaksi Keuangan
Mencurigakan
Lembaga Yang Menangani Tindak Pidana Pencucian Uang
(Sesuai pasal 1 angka 10 Undang Undang Nomor 25 tahun 2003:
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK)
4. Memberikan nasihat dan bantuan kepada instansi yang berwenang tentang
informasi yang diperoleh PPATK sesuai UU Tindak Pidana Pencucian
Uang.(TPPU)
5. Membuat pedoman dan publikasi kepada Penyedia Jasa Keuangan tentang
kewajibannya yang ditentukan dalam UU TPPU atau dengan peraturan
perundang-undangan lain, dan membantu dalam mendeteksi perilaku
nasabah yang mencurigakan;
6. Memberikan rekomendasi kepada Pemerintah mengenai upaya-upaya
pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang;
7. Melaporkan hasil analisis transaksi keuangan yang berindikasi tindak
pidana pencucian uang kepada Kepolisian Republik Indonesia dan
Kejaksaan Republik Indonesia
8. Membuat dan memberikan laporan mengenai hasil analisis transaksi
keuangan dan kegiatan lainnya secara berkala 6 (enam) bulan sekali kepada
Presiden. DPR dan Lembaga yang berwenang melakukan pengawasan
terhadap Penyedia Jasa Keuangan.
9. Memberikan informasi kepada publik tentang kinerja kelembagaan
sepanjang pemberian informasi tersebut tidak bertentangan dengan UU
TPPU.
Wewenang PPATK :
1.Meminta dan menerima laporan Penyedia Jasa Keuangan
2.Meminta informasi mengenai perkembangan penyidikan atau penuntutan
terhadap tindak pidana pencucian uang yang telah dilaporkan kepada
penyidik atau penuntut umum;
3.Melakukan audit terhadap Penyedia Jasa Keuangan mengenai kepatuhan
kewajiban sesuai dengan ketentuan dalam UU TPPU dan terhadap pedoman
pelaporan mengenai transaksi keuangan;
4.Memberikan pengecualian terhadap kewajiban pelaporan mengenai
transaksi keuangan yang dilakukan secara tunai oleh Penyedia Jasa
Keuangan.
Bagaimana PPATK bekerja?
1.Melakukan analisis atas laporan:
-Yang disampaikan PJK dalam bentuk LTKM dan LTKT.
-Laporan pembawaan uang tunai yang diterima dari Dirjen Bea Cukai.
-Informasi penegak hukum dan masyarakat.
2. Pertukaran informasi dalam/luar negeri.
Database PPATK;
PJK Pelapor;
PJK yang terkait dengan transaksi;
Ditjend Pajak;
Ditjend Bea dan Cukai;
BAPEPAM & LK;
Bank Indonesia;
Kepolisian RI;
Kejaksaan Agung RI;
FIU di LN;
Pihak terkait lainnya yang dapat membantu tugas analisis
PPATK.
Free Public Information i.e internet, media massa dll
Apabila kita membahas mengenai pencucian uang maka tidak terlepas dari fungsi
PPATK maupun lembaga lain yang berhubungan yang terdapat di UU No 25
Tahun 2003 , yaitu:
-PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
-PJK (Penyedia Jasa Keuangan).
-Perbankan.
-Lembaga Keuangan Non Bank.
-Perusahaan Efek, Pengelola Reksa Dana dan Bank Kustodian.
-Penyedia Jasa Keuangan Lainnya.
Dalam melaksanakan tugasnya,
PPATK berkerja sama dengan
instansi terkait dalam rangka
melakukan pencegahan dan
pemberantasan tindak pidana
pencucian uang, PPATK dapat
melakukan kerjasama dengan pihak
terkait baik nasional maupun
internasional dalam forum bilateral
dan multilateral berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
PPATK DAN LEMBAGA TERKAIT LAINNYA
19
Kerjasama PPATK dengan Penyidik Korupsi
MOU dengan Kapolri, 16 Juni 2004
MOU dengan Ketua KPK, 29 April 2004
MOU dengan Jaksa Agung RI, 27 September 2004
INFORMATION, INTELLIGENCE, EVIDENCE
PENYEDIA JASA = INFORMATION
KEUANGAN
PPATK = INTELLIGENCE
PENEGAK HUKUM = EVIDENCE
ISTILAH ISTILAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN
MATERI PEMBELAJARAN:
- FINANCIAL INTELLIGENCE yaitu produk yang
didapatkan dari menambahkan nilai terhadap informasi
KEUANGAN untuk memberikan pandangan dan
pengaruh dalam membuat keputusan.
-ASSET TRACING yaitu upaya pelacakan atau
pentransiran atas harta kekayaan yang diduga
merupakan hasil kejahatan.
-ASSET RECOVERY yaitu upaya pengembalian atau
pemulihan harta kekayaan yang diduga merupakan hasil
kejahatan

Anda mungkin juga menyukai