Anda di halaman 1dari 50

1

BAHAN KULIAH
ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA
Oleh : Dr. Imam Haryanto, Drs., SH., MH.


SESSION I

BAB I
KETENTUAN UMUM
ISTILAH DAN DEFINISI

Undang-undang tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman Nomor 14
Tahun 1970 (UU Pokok Kekuasaan Kehakiman) menyerahkan kekuasaan kehakiman pada
Badan Peradilan, yaita peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer dan peradilan
tata usaha negara yarag masing-masing diatur dalam undang-undang tersendiri.

Undang-undang ini menentukan pula bahwa penyelesaian sengketa diluar pengadilan
(Out of Court Settlement (OCS)) atas dasar perdamaian atau arbitrase tetap diperbolehkan,
akan tetapi putusan arbiter hanya mempuyai kekuatan eksekutorial setelah izin atau
perintah untuk eksekusi (executoir) dari Pengadilan (Ps. 3 ayat (I) UU Pokok Kekuasaan
Kehakiman).

Penyelesaian sengketa melalui perdamaian berakar dalam budaya masyarakat.
Dilingkungan masyarakat adat (tradisional) dikenal runggun adat, kerapatan adat,
peradilan adat atau peradilan desa. Lembaga musyawarah, mufakat dan tenggang rasa
merupakan falsafah negara yang digali dari hukum adat, dipratekkan dalam kehidupan
sehari-hari.

Hukum positif mengatur perdamaian ini didalam pasal 130 ayat (1) HIR. Dikatakan
bahwa perdamaian boleh dilakukan antara para pihak yang bersengketa dan perdamaian
itu dituangkan dalam akte perdamaian, yang mempunyai kekuatan hukum tetap seperti
putusan hakim dan bersifat final, artinya tidak boleh dilakukan banding atau kasasi.
Didalam perjalanan waktu, ikatan kekeluargaan yang berdasarkan paguyuban
(gemeenschappelijke verhoudingen) memudar dan berkembang kearah masyarakat yang
peternbayan (zakelijke gemeenschap) dimana perhitungan untung rugi lebih menonjol,
maka lembaga peradilan dijadikan wadah untuk menyelesaikan sengketa, karena
perangkat hukum yang tersedia telah memperoleh bentuk yang lengkap dan sempurna.

Namun dilingkungan masyarakat pedagang yang membutuhkan gerak cepat, terlibat
dalam hubungan-hubungan global, maka perhitungan untung rugi terjadi dalam momen-
momen dalam hitungan detik, bukan jam, hari dan bulan serta perhitungan biaya menjadi
unsur penting, maka jika timbul sengketa dibutuhkan penyelesaian yang dan tepat serta
dapat dilaksanakan (eksekusi). Memasuki era globalisasi dirasakan kebutuhan untuk
2

meningkatkan kesejahteraan melalui perbaikan perangkat hukum dalam bidang ekonomi
keuangan beserta penyelesaian sengketa yang timbul daripadanya sangat mendesak dan
karena itu perlu disempurnakan.

Arbitrase yang diatur di dalam Undang-undang No. 30 Tahun 1999 tentang
Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, mengandung ruang lingkup kerangka yang
tertuang dalam Bab I sampai dengan Bab XI, yaitu sebagai berikut :
I. Ketentuan umum.
II. Mengatur mengenai alternatif penyelesaian sengketa melalui cara musyawarah
kedua belah pihak yang bersengketa. Alternatif Penyelesaian Sengketa (Alternative
Dispute Resolution atau ADR) adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda
pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian di luar
pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi atau penilaian ahli.
III. Memberikan suatu ikhtisar khusus dari persyaratan yang harus dipenuhi untuk
arbitrase dan pengangkatan arbiter serta mengatur mengenai hak ingkar daripada
pihak bersengketa.
IV. Mengatur tata cara untuk berencana di hadapan majelis arbitrase dan
dimungkinkannya arbiter mengambil putusan provisionil atau putusan sela,
penetapan sita jaminan, memerintahkan penitipan barang, atau menjual barang
yang sudah rusak serta mengenai pendengaran saksi dan saksi ahli. Seperti halnya
dengan keputusan pengadilan maka dalam putusan arbitrase juga sebagai kepa1a
putusan harus mencantumkan "Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa".
V. Menentukan syarat lain yang berlaku mengenai putusan arbitrase. Dalam Bab ini
diatur pula kemungkinan terjadi suatu persengketaan mengenai wewenang arbiter,
pelaksanaan putusan arbitrase nasional maupun internasional dan penolakan
perintah pelaksanaan putusan arbitrase oleh Ketua Pengadilan Negeri dalam tingkat
pertama dan terakhir, dan Ketua Pengadilan Negeri tidak memeriksa alasan atau
pertimbangan dari putusan arbitrase. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga jangan
sampai penyelesaian sengketa melalui Arbitrase berlarut-larut. Berbeda dengan
proses pengadilan negeri dimana terhadap putusan para pihak masih dapat
mengajukan banding dan kasasi, maka dalam proses penyelesaian sengketa melalui
arbitrase tidak terbuka upaya hukum banding kasasi maupun peninjauan kembali.
Dalam rangka menyusun hukum formil yang utuh, maka undang-undang ini memuat
ketentuan tentang pelaksanaan tugas arbitrase nasional maupun internasional.
VI. Menjelaskan mengenai pengaturan pelaksanaan putusan sekaligus dalam 1 (satu)
paket agar undang-undang ini dapat dioperasionalkan sampai pelaksanaan
keputusan, baik yang menyangkut masalah arbitrase nasional maupun internasional
dan hal ini secara sistem hukum dibenarkan.
VII. Mengatur tentang pembatalan putusan arbitrase. Hal ini dimungkinkan karena
beberapa hal antara lain:
i) Surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan, setelah putusan
dijatuhkan diakui palsu atau dinyatakan palsu;
ii) Setelah putusan diambil ditemukan dokumen yang bersifat menentukan yang
sengaja disembunyikan pihak lawan; atau putusan diambil dari hasil tipu
3

muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa.
Permohonan pembatalan putusan arbitrase diajukan kepada Ketua Pengadilan
Negeri dan terhadap putusan Pengadilan Negeri tersebut hanya dapat diajukan
permohonan banding ke Mahkamah Agung yang memutus dalam tingkat pertama
dan terakhir.
VIII. Mengatur tentang berakhirnya tugas arbiter, yang dinyatakan antara lain bahwa
tugas arbiter berakhir karena jangka waktu tugas arbiter telah lampau dan kedua
belah pihak sepakat untuk menarik kembali penunjukan arbiter. Meninggalnya
salah satu pihak tidak mengakibatkan tugas yang telah diberikan kepada arbiter
berakhir.
IX. Mengenai biaya arbitrase yang ditentukan oleh arbiter.
X. Mengatur mengenai ketentuan peralihan terhadap sengketa yang sudah diajukan,
namun belum diproses, sengketa yang sedang dalam proses atau yang sudah
diputuskan dan mempunyai kekuatan hukum tetap.
XI. Menyebutkan bahwa dengan berlakunya undang-undang ini maka Pasal 615 sampai
dengan Pasal 651 Reglemen Acara Perdata (Reglement op de Rechtsvordering,
Staatsblad 1847: 52) dan Pasal 377 Reglemen Indonesia yang Diperbaharui (Het
Herziene Indonesisch Reglement, Staatsblad 1941: 44 ) dan Pasal 705 Reglemen
Acara untuk Daerah Luar Jawa dan Madura (Rechtsreglement
Buitengewesten,Staatsblad 1927:227) dinyatakan tidak berlaku lagi.


Pengertian pengertian yang terdapat dalam Pasal 1 UU No. 30 Tahun 1999 tentang
Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa :

(1) Arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan
umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh
para pihak yang bersengketa.

(2) Para pihak adalah subyek hukum, baik menurut hukum perdata maupun hukum
publik.

(3) Perjanjian arbitrase adalah suatu kesepakatan berupa kausual arbitras e yang
tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul
sengketa, atau suatu perjanjian arbitarse tersendiri yang dibuat para pihak
setelah timbul sengketa.

(4) Pengadilan Negeri adalah Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat
tinggal termohon.

(5) Pemohon adalah pihak yang mengajukan permohonan penyelesaian sengketa
melalui arbitrase.

(6) Termohon adalah pihak lawan dari Pemohon dalam penyelesaian sengketa melalui
arbitrase.
4


(7) Arbiter adalah seorang atau lebih yang dipilih oleh para pihak yang
bersengketa atau yang ditunjuk oleh Pengadilan Negeri atau oleh lembaga
arbitrase, untuk memberikan putusan mengenai sengketa tertentu yang
diserahkan penyelesaiannya melalui arbitrase.

(8) Lembaga Arbitrase adalah badan yang dipilih oleh para pihak yang
bersengketa untuk memberikan putusan mengenai sengketa tertentu; lembaga
tersebut juga dapat memberikan pendapat yang mengikat mengenai suatu
hubungan hukum tertentu dalam hal belum timbul sengketa.

(9) Putusan Arbitrase Internasional adalah putusan yang dijatuhkan oleh suatu
lembaga arbitrase atau arbiter perorangan di luar wilayah hukum Republik
Indonesia, atau putusan suatu lembaga arbitrase atau arbiter perorangan yang
menurut ketentuan hukum Republik Indonesia dianggap sebagai suatu
putusan arbitrase internasional.

(10)Alternatif Penyelesaian Sengketa adalah lembaga penyelesaian sengketa atau
beda pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian
di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau
penilaian ahli.


Pasal 2
Undang-undang ini mengatur penyelesaian sengketa atau beda pendapat antar
para pihak dalam suatu hubungan hukum tertentu yang telah mengadakan
perjanjian arbitrase yang secara tegas menyatakan bahwa semua sengketa atau
beda pendapat yang timbul atau yang mungkin timbul dari hubungan hukum
tersebut akan diselesaikan dengan cara arbitrase atau melalui alternatif penyelesaian
sengketa.

Pasal 3
Pengadilan Negeri tidak berwenang untuk mengadili sengketa para pihak yang telah
terikat dalam perjanjian arbitrase.



Pasal 4
(1) Dalam hal para pihak telah menyetujui bahwa sengketa di antara mereka akan
diselesaikan melalui arbitrase dan para pihak telah memberikan wewenang, maka
arbiter berwenang menentukan dalam putusannya mengenai hak dan kewajiban
para pihak jika hal ini diatur dalam perjanjian mereka.

5

(2) Persetujuan untuk menyelesaikan sengketa melalui arbitrase sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) dimuat dalam suatu dokumen yang ditandatangani oleh para pihak.

(3)Dalam hal disepakati penyelesaian sengketa melalui arbitrase terjadi dalam
bentuk pertukaran surat, maka pengiriman teleks, telegram, faksimili, e-mail atau
dalam bentuk sarana komunikasi lainnya, wajib disertai dengan suatu catatan
penerimaan oleh para pihak.

Pasal 5
(1)Sengketa yang dapat diselesaikan melalui arbitrase hanya sengketa di bidang
perdagangan dan mengenai hak yang menurut hukum dan peraturan perundang-
undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa.

(2) Sengketa yang tidak dapat diselesaikan melalui arbitrase adalah sengketa yang
menurut peraturan perundang- undangan tidak dapat di diadakan perdamaian.





























6

SESSION II

BAB II
ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA


A. Pengertian Sengketa
Sengketa atau konflik hakekatnya merupakan bentuk aktualisasi dari suatu
perbedaan dan atau pertentangan antara dua pihak atau lebih. (Bambang Sutiyoso,
2006; 3).
Sengketa sebagai perselisihan mengenai masalah fakta hukum atau politik
dimana tuntutan atau penyertaan suatu pihak ditolak, dituntut balik atau diingkari
oleh pihak lain. Dalam arti lebih luas sengketa internasional dikatakan ada bila
perselisihan seperti ini melibatkan pemerintah, juristic persons (badan hukum)
atau individu dalam bagian dunia yang berlainan (JG Merilis, 1986; 1).


B. Cara Penyelesaian Sengketa
Dari berbagai macam cara penyelesaian sengketa yang ada, pada dasarnya
dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu secara adjudikatif, konsensual
dan quasi adjudikatif (Bambang Sutiyoso, 2006; 7)
1. Ajudikatif
Mekanisme penyelesaian adjudikatif ditandai dengan kewenangan pengambilan
keputusan oleh pihak ketiga dalam sengketa yang berlangsung diantara para
pihak. Pihak Kketiga dapat bersifat Voluntary (sukarela) ataupun involuntary
(tidak sukarela). Pada umumnya penyelesaian cara ini menghasilkan putusan
yang bersifat win-lose solution. (Bambang Sutiyoso, 2006; 8)
a. Adjudikatif Publik
Adjudikatif public dilakukan melalui institusi pengadilan negara (litigasi).
Pihak ketiga disini bersifat invokluntary, karena hakimnya sudah
disiapkan oleh pengadilan dan para pihak tidak bisa memilih dan
menentukan sendiri hakimnya.
b. Adjudikatif Privat
Adjudikatif privat dilakukan melalui arbitrase (perwasitan).; pihak ketiga
disini bersifat voluntary, karena arbiter dapat dipilih dan ditentukan
sendiri oleh pihak-pihak yang bersengketa

2. Konsensus
Mekanisme penyelesaian secara konsensual ditandai dengan cara penyelesaian
secara kooperatif/kompromi untuk mencapai solusi yang bersifat win-win
solution. Kehadiran pihak ketiga kalaupun ada tidak memiliki kewenangan
mengambil keputusan. Termasuk dalam hal ini misalnya negosiasi
(perundingan), mediasi (penengahan) dan konsiliasi (permufakatan).


7

3. Quasi Ajudikatif
Kombinasi antara unsur konsensual dan adjudikatif. Termasuk dalam
mekanisme ini antara lain Med-Arb, Mini Trial, Ombudsman dan lain-lain.

Di samping pembagian seperti di atas, penyelesaian sengketa dapat pula
dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Jalur litigasi (ordinary court)
Merupakan mekanisme penyelesaian perkara melalui jalur pengadilan
dengan menggunakan pendekatan hukum (law approach). Pada dasarnya jalur
litigasi merupakan the last resort atau ultimum remedium, yaitu sebagai upaya
terakhir apabila penyelesaian sengketa secara kekeluargaan tidak menghasilkan
solusi/penyelesaian.


Dewasa ini cara penyelesaian sengketa melalui pengadilan mendapat kritik
yang cukup tajam dari praktisi maupun teoritisi hukum. Peran dan fungsi
peradilan dianggap mengalami beban yang yang terlampau berat (overload),
lamban dan buang waktu (waste of time), biaya mahal (very expensive) dan
kurang tanggap (unresponsive) terhadap kepentingan umum. Atau dianggap
terlampau formalistic dan terlampau teknis (technically).

Dengan lebih rinci, Ridwan Khairandy dkk, menyebutkan beberapa faktor
penyebab tidak disukainya penyelesaian sengketa melalui pengadilan adalah:
a. Lamanya proses beracara dalam persidangan penyelesaian perkara
perdata;
b. Lamanya penyelesaian sengketa dapat juga disebabkan oleh panjangnya
tahapan penyelesaian sengketa, yakni proses beracara di Pengadilan
Negeri, kemudian masih dapat banding ke Pengadilan Tinggi dan Kasasi
ke MA. Bahkan proses masih dapat lebih panjang jika diajukan
Peninjauan Kembali.
c. Lama dan panjangnya proses penyelesaian sengketa melalui pengadilan
tersebut tentunya membawa akibat yang berkaitan dengan tingginya
biaya yang diperlukan (legal cost)
d. Siding pengadilan di PN dilakukan secara terbuka, padahal di sisi lain
kerahasiaan adalah sesuatu yang diutamakan dalam kegiatan bisnis
(dalam hal sengketa bisnis)
e. Seringkali hakim yang menangani atau menyelesaikan perkara dalam
bisnis kurang menguasai substansi hukum sengketa yang bersangkutan
atau dengan kata lainhakim kurang profesiaonal
f. Adanya citra yang kurang baik terhadap dunia peradilan

2. Jalur non Litigasi (extra ordinary court)
Merupakan mekanisme penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Salah
satu cara yang sekarang sedang berkembang dan diminati adalah melalui
lembaga ADR (Alternative Dispute Resolution). Pada umumnya mekanisme
penyelesaian melalui jalur non-litigasi dianggap sebagai premium remedium
8

atau first resort (upaya awal dalam menyelesaikan sengketa.


Urgensi penyelesaian sengketa di luar pengadilan dilandasi oleh berbagai
faktor-faktor yang menempatkannya dengan berbagai keunggulan. Faktor-faktor
tersebut antara lain:
a. Faktor ekonomis
Penyelesaian sengketa di luar pengadilan lebih menguntungkan secara
ekonomis, karena biayanya relative murah daripada dilakukan di
pengadilan dan waktunya lebih cepat. Waktu penyelesaian sengketa juga
berpengaruh terhadap biaya yang dikeluarkan.
b. Faktor budaya hukum
Unsure budaya hukum adalah nilai-nilai dan sikap-sikap anggota
masyarakat yang berhubungan dengan hukum. Budaya hukum
masyarakat juga merupakan faktor yang mempengaruhi arti penting
penyelesaian sengketa bisnis di luar pengadilan. Budaya tradisional yang
menekankan kepada komunalitas, kekerabatan, harmoni, primus inter
pares telah mendorong penyelesaian sengketa bisnis tanpa melalui
pengadilan.
c. Faktor luasnya ruang lingkup permasalahan yang dapat dibahas
ADR memiliki kemampuan untuk membahas ruang lingkup atau agenda
permasalahan secara luas dan komprehensif. Hal ini dapat terjadi karena
aturan permainan dikembangkan serta ditentukan oleh para pihak sesuai
dengan kepentingan dan kebutuhan para pihak yang berselisih.
d. Faktor pembinaan hubungan baik para pihak
ADR menekankan cara-cara penyelesaian yang kooperatif sangat cocok
bagi mereka yang menghendaki pentingnya pembinaan hubungan baik
antara manusia baik yang sedang berlangsung maupun yang akan dating.
e. Faktor proses
Proses ADR yang lebih fleksibel dibandingkan beracara di pengadilan
lebih memiliki kemampuan untuk menghasilkan kesepakatan yang
mencerminkan kepentingan dan kebutuhan para pihak (pareto optimal
atau win-win solution).


Dalam Pasal 6 Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan
Alternatif Penyelesaian Sengketa, di jelaskan bahwa:

(1) Sengketa atau beda pendapat perdata dapat diselesaikan oleh para pihak melalui
alternatif penyelesaian sengketa yang didasarkan pada itikad baik dengan
mengesampingkan penyelesaian secara litigasi di Pengadilan Negeri.

(2) Penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui alternatif penyelesaian
sengketa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselesaikan dalam
pertemuan langsung oleh para pihak dalam waktu paling lama 14 (empat belas)
9

hari dan hasilnya dituangkan dalam suatu kesepakatan tertulis.


(3) Dalam hal sengketa atau beda pendapat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
tidak dapat diselesaikan, maka atas kesepakatan tertulis para pihak, sengketa
atau beda pendapat diselesaikan melalui bantuan seorang atau lebih
penasehat ahli maupun melalui seorang mediator.

(4) Apabila para pihak tersebut dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari
dengan bantuan seorang atau lebih penasehat ahli maupun melalui seorang
mediator tidak berhasil mencapai kata sepakat, atau mediator tidak berhasil
mempertemukan kedua belah pihak, maka para pihak dapat menghubungi
sebuah lembaga arbitrase atau lembaga alternatif penyelesaian sengeketa untuk
menunjuk seorang media tor.

(5) Setelah penunjukan mediator oleh Lembaga arbitrase atau lembaga alternatif
penyelesaian sengketa, dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari usaha mediasi
harus sudah dapat dimulai.

(6) Usaha penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui mediator
sebagaima na dimaksud dalam ayat (5) dengan memegang teguh kerahasiaan,
dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari harus tercapai kesepakatan
dalam bentuk tertulis yang ditandatangani oleh semua pihak yang terkait.

(7) Kesepakatan penyelesaian sengketa atau beda pendapat secara tertulis
adalah final dan mengikat para pihak untuk dilaksanakan dengan itikad baik
serta wajib didaftarkan di Pengadilan Negeri dalam waktu paling lama 30 (tiga
puluh) hari sejak penandatanganan.

(8) Kesepakatan penyelesaian sengketa atau beda pendapat sebagaimana
dimaksud dalam ayat (7) wajib selesai dilaksanakan dalam waktu paling lama
30 (tiga puluh) hari sejak pendaftaran.

(9) Apabila usaha perdamaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sampai
dengan ayat (6) tidak dapat dicapai, maka para pihak berdasarkan
kesepakatan secara tertulis dapat mengajukan penyelesaian melalui lembaga
arbitrase atau arbitrase ad-hoc.

C. Bentuk bentuk Penyelesaian Sengketa Alternatif
Penyelesaian sengketa alternative (Alternative Dispute Resolution / ADR) dapat
dilakukan dengan berbagai cara, berikut ini diuraikan secara singkat masing-masing
10

bentuk ADR baik yang telah disebutkan oleh UU Nomor 30 Tahun 1999 maupun
berbagai varian lainnya:

1. Konsultasi
Merupakan suatu tindakan yang bersifat personal antara suatu pihak tertentu
yang disebut klien dengan pihak lain yang disebut konsultan, yang memberikan
pendapatnya kepada klien tersebut untuk memenuhi keperluan atau
kebutuhannya.
2. Negosiasi (negotiation)
Fisher &Ulry mengemukakan bahwa negosiasi adalah proses komunikasi 2 arah
yang dirancang untuk mencapai kesepakatan pada saat kedua belah pihak
memiliki kepentingan yang sama maupun berbeda, tanpa melibatkan pihak ketiga
sebagai penengah.
3. Mediasi (penengahan)
Adalah peenyelesaian sengketa dengan bantuan pihak ketiga (mediator) yang
tidak memihak (impartial) yang turut aktif memberikan bimbingan atau arahan
guna mencapai penyelesaian, namun ia tidak berfungsi sebagai hakim yang
berwenang guna mencapai penyelesaian, namun ia tidak berfungsi sebagai hakim
yang berwenang mengambil keputusan. Inisiatif penyelesaian sengketa tetap
berada di tangan para pihak, dengan demikian hasil penyelesaian sengketa
bersifat kompromi.
4. Konsolisasi (permufakatan)
penyelesaian dengan intervensi konsiliator, dimana konsiliator lebih bersifat
aktif, dengan mengambil inisiatif menyusun dan merumuskan langkah-langkah
penyelesaian yang selanjutnya diajukan dan ditawarkan kepada para pihak yang
bersengketa. Meskipun demikian konsiliator tidak berwenang membuat putusan,
tetapi hanya berwenang membuat rekomendasi, yang pelaksanaannya sangat
bergantung dari itikad baik para pihak yang bersengketa sendiri,
5. Arbitrase
Merupakan salah satu bentuk adjudikasi privat, dengan melibatkan pihak ketiga
(arbiter) yang diberi kewenangan penuh oleh para pihak untuk menyelesaikan
sengketa, sehingga berwenang mengambil keputusan yang bersifat final dan
mengikat (binding).
6. Good Office (jasa baik)
Penyelesaian sengketa dengan bantuan pihak ketiga yang memberikan jasa baik
berupa penyediaan tempat atau fasilitas-fasilitas untuk digunakan oleh para pihak
yang bersengketa untuk melakukan musyawarah atau perundingan guna
mencapai penyelesaian. Disini pihak ketiga bersifat pasif.
7. Summary Jury Trial (pemeriksaan juri secara sumir)
Penyelesaian sengketa khas Negara-negara yang peradilannya memakai system
jury, khususnya USA. Suatu sengketa diajukan kepada jury yang sebenernya untuk
diputuskan. Keputusan jury ini sifatnya tidak mengikat dan para jury tidak
11

mengetahui bahwa keputusannya tidak mengikat.
8. Mini Trial (persidangan mini)
Hampir sama dengan summary jury trial, bedanya hanya tanpa adanya jury
penasihat (advisory jury). Dalam proses ini, pengacara membuat suatu presentasi
ringkas mengenai perkara masing-masing dihadapan suatu panel yang terdiri dari
atas wakil masing-masing pihak untuk merundingkan dan menyelesaiakn perkara
tersebut.
9. Rent a judge
Penyelesaian sengketa dengan cara para pihak menyewa seorang hakim
pengadilan, biasanya yang sudah pensiun untuk menyelesaikan sengketa. Para
pihak membuat suatu kontrak yang isinya menyatakan bahwa mereka akan
mentaati keputusan hakim tersebut. Jadi pada dasarnya yang mengikat disini
bukan putusannya tetapi kontrak itu sendiri
10. Mediasi-Arbitrase (Med-Arb)
Merupakan bentuk kombinasi penyelesaian sengketa anatara mediasi dan
arbitrase atau merupakan proses penyelesaian sengketa campuran yang
dilakukan setelah proses mediasi tidak berhasil.
Caranya sebelum sengketa diajukan kepada arbitrator, terlebih dahulu harus
diajukan kepada mediator. Mediator membantu para pihak untuk melakukan
perundingan guna mencapai penyelesaian. Jika para pihak tidak mencapai
kesepakatan, maka mediator memberikan pendapat agar penyelesaian sengketa
tersebut diajukan kepada arbitrator. Yang dapat bertindak sebagai arbitratorbisa
mediator yang bersangkutan atau orang lainnya.


D. Sifat sifat Alternatif Penyelesaian Sengketa / APS

Berbeda dengan pengadilan dan arbitrase, maka APS lebih mirip dengan
penyelesaian sengketa secara musyawarah untuk mencapai mufakat. Keterlibatan
pihak ketiga dalam APS adalah dalam rangka mengusahakan agar para pihak mencapai
sepakat untuk menyelesaikan sengketa yang timbul. Memang ada pembedaan antara
mediasi dan konsolidasi dan APS. Perbedaannya terletak pada aktif tidaknya pihak
ketiga dalam mengusahakan para pihak untuk menyelesaikan sengketa. Dilihat dari hal
tersebut sebenernya penyelesaian sengketa melalui APS merupakan hal yang sangat
ideal, mengingat keadilan muncul dari para pihak. Hal ini berbeda dengan penyelesaian
sengketa melalui pengadilan atau arbitrase di mana keadilan muncul dari hakim atau
arbiter.
Sifat lain dari penyelesaian sengketa APS adalah kesukarelaan. Tanpa adanya
kesukarelaan di antara para pihak, maka APS tidak akan bisa terlaksana. Kesukarelaan di
sini meliputi kesukarelaan terhadap mekanisme penyelesaiannya (yaitu melalui APS)
dan kesukarelaan isi kesepakatan.






12


E. Alternatif Penyelesaian Sengketa / APS di Indonesia

Lembaga-lembaga APS yang telah dibentuk di Indonesia antara lain: Badan Arbitrase
Nasional Indonesia (BANI), Badan Arbitrase Muamalat Indonesia (BAMUI), Pusat
Penyelesaian Perselisihan Bisnis Indonesia (P3BI), Indra (Prakarsa Jakarta). Berikut ini
akan dibahas lembaga APS secara singkat.

1. Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI)
Melalui KADIN, BANI didirikan pada tanggal 3 Desember 1977. Menurut
anggaran dasarnya, BANI berwenang menyelesaikan sengketa perdata antara
pengusaha Indonesia atau asing. BANI juga berwenang untuk memberikan suatu
pendapat yang mengikat blinded advise
Meskipun BANI berada dibawah naungan KADIN, tetapi masih tetap mandiri
dan netrak. Anggarannya sebagian besar berasal dari biaya yang dibayar oleh para
pihak yang bersengketa.
BANI menangani penyelesaian sengketa, abik melalui arbitrase sebagai
kelembagaan maupun arbitrase secara ad-hoc. Dalam bentuk pertama, para pihak
yang berperkara memilih BANI dan peraturan mengenai prosedurnya. Sedangkan
dalam bentuk yang kedua, para pihak dapat membentuk suatu tribunal, menunjuk
seorang arbiter, dan membuat prosedur sendiri atau memilih untuk memakai
prosedur BANI.

2. Badan Arbitrase Muamalat Indonesia (BAMUI)
BAMUI dibentuk tanggal 23 Oktober 1993. Yurisdiksi BAMUI meliputi
penyelesaian sengketa yang timbul dari perdagangan, industry, keuangan, jasa, dan
lain-lain, dimanapun para pihak menyerahkan secara tertulis penyelesaian
sengketanya ke BAMUI.
Pendirian BAMUI berakar dari ajaran yang lazim dalam masyarakat islam,
yaitu ajaran ishlahyang mendukung penyelesaian sengketa secara damai dengan
mengenyampingkan perbedaan yang menimbulkan masalah.
Mekanisme penyelesaian sengketa melalui BAMUI dapat dilakukan dengan
arbitrase institusional atau arbitrase ad-hoc. Putusan BAMUI adalah final dan
mengikat, dan tidak dipublikasikan kecuali atas keinginan para pihak yang terlibat.

3. Pusat Penyelesaian Bisnis Indonesia (P3BI)
Sama halnya dengan BANI atau BAMUI, kelahiran P3BI (februari 1996)
merupakan reaksi positif atas pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cepat.
Mekanisme dan prosedur dalam penanganan sengketa, dan juga biaya-biaya tidak
berbeda dengan pola yang digunakan oleh BANI dan BAMUI.
Dalam menangani sengketa, P3BI mempunyai kausul P3BI antara lain:
a) Apabila, sebagai akibat dari kontrak ini, timbul suatu sengketa antara kedua
belah pihak, maka upaya pertama dalam menyelesaikan sengketa adalah
melalui musyawarah.
b) Apabila, musyawarah tidak berhasil, kedua belah pihak sepakat untuk
menyerahkan sengketa ke P3BI agar diselesaikan secara kompromis dengan
pengertian yang menguntungkan kedua belah pihak dengan bantuan
negosiasi, mediasi atau konsiliasi, menurut pilihan para pihak.
c) Apabila dipakai suatu kompromi, maka hasil kompromi tersebut akan
mengikat kedua belah pihak. Apabila antara kedua belah pihak tidak diperoleh
suatu persetujuan, baik melalui kompromi, negosiasi, maupun mediasi atau
13

konsiliasi,l maka para pihak sepakat untuk membawa perselisihan mereka ke
arbitrase P3BI.


F. Kekuatan Mengikat APS

Berbeda dengan arbitrase atau pengadilan, dimana ada pihak ketiga yang
mengambil keputusan, kecuali para pihak yang terlibat dengan sengketa. Yang menjadi
tekanan adalah penyelesaian sengketa dilakukan berdasarkan kesepakatan.
Kesepakatan inilah yang hendak dicari dalam APS. Masalahnya, sejauh mana
kesepakatan ini mempunyai kekuatan hukum (mengikat). Apabila sudah ada
kesepakatan ternyata salah satu pihak wanprestasi, maka bagaimana agar pihak yang
wanprestasi tersebut dituntut untuk melakukan apa yang menjadi prestasi.
Dalam kaitan ini perlu adanya kekuatan mengikat dari kesepakatan APS. Dengan
adanya kekuatan mengikat kekuatan APS ini, maka tidak perlu lagi diulang atau
diperiksa oleh pengadilan atau arbitrase. Di sini Negara melalui undang-undang
mempunyai peran yang sangat penting. Peran ini adalah mengupayakan agar
kesepakatan APS dapat disamakan dengan putusan pengadilan atau putusan arbitrase,
dimana kesepakatan tersebut dapat mempunyai kekuatan eksekutorial. Hal ini
sebetulnya bukanlah hal yang aneh mengingat dalam hukum acara perdata, akta
perdamaian pun dapat dimintakan penetapan.

























14

SESSION III

BAB III
SYARAT ARBITRASE, PENGANGKATAN ARBITER, DAN HAK INGKAR


A. Syarat syarat Arbitrase sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 30 Tahun
1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa

Pasal 7
Para pihak dapat menyetujui suatu sengketa yang terjadi atau yang akan terjadi
antara mereka untuk diselesaikan melalui arbitrase.


Pasal 8
(1) Dalam hal timbul sengketa, pemohon harus memberitahukan dengan surat
tercatat, telegram, teleks, faksimili, e- mail atau dengan buku ekspedisi
kepada termohon bahwa syarat arbitrase yang diadakan oleh pemohon
atau termohon berlaku.
(2) Surat pemberitahuan untuk mengadakan arbitrase sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) memuat dengan jelas :
a. nama dan alamat para pihak;
b. penunjukan kepada klausula atau perjanjian arbitrase yang berlaku;
c. perjanjian atau masalah yang menjadi sengketa;
d. dasar tuntutan dan jumlah yang dituntut, apabila ada;
e. cara penyelesaian yang dikehendaki; dan
f. perjanjian yang diadakan oleh para pihak tentang jumlah arbitrasi
atau apabila tidak pernah diadakan perjanjian semacam itu, pemohon
dapat mengajukan usul tentang jumlah arbiter yang dikehendaki dalam
jumlah ganjil.


Pasal 9
(1) Dalam hal para pihak memilih penyelesaian sengketa melalui arbitrase
setelah sengketa terjadi, persetujuan mengenai hal tersebut harus dibuat
dalam suatu perjanjian tertulis yang ditandatangani oleh para pihak.
(2) Dalam hal para pihak tidak dapat menandatangani perjanjian tertulis
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), perjanjian tertulis tersebut harus
dibuat dalam bentuk akta notaris.
(3) Perjanjian tertulis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memuat :
a. masalah yang dipersengketaan;
b. nama lengkap dan tempat tinggal para pihak;
c. nama lengkap dan tempat tinggal arbiter atau mejelis arbitrase;
15

d. tempat arbiter atau majelis arbitrase akan mengambil keputusan;
e. nama lengkap sekretaris;
f. jangka waktu penyelesaian sengketa;
g. pernyataan kesediaan dari arbiter; dan
h. pernyataan kesediaan dari pihak yang bersengketa untuk menanggung
segala biaya yang diperlukan untuk penyelesaian sengketa melalui
arbitrase.
(4) Perjanjian tertulis yang tidak memuat hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (3)
batal demi hukum.
Pasal 10
Suatu perjanjian arbitrase tidak menjadi batal disebabkan oleh keadaan tersebut di
bawah ini :
a. meninggalnya salah satu pihak;
b. bangkrutnya salah satu pihak;
c. novasi;
d. insolvensi salah satu pihak;
e. pewarisan;
f. berlakunya syarat-syarat hapusnya perikatan pokok;
g. bilamana pelaksanaan perjanjian tersebut dialihtugaskan pada pihak ketiga
dengan persetujuan pihak yang melakukan perjanjian arbitrase tersebut; atau
h. berakhirnya atau batalnya perjanjian pokok.

Pasal 11
(1) Adanya suatu perjanjian arbitrase tertulis meniadakan hak para pihak untuk
mengajukan penyelesaian sengketa atau beda pendapat yang termasuk dalam
perjanjian ke Pengadilan Negeri.
(2) Pengadilan Ne geri wajib menolak dan tidak akan campur tangan di dalam suatu
penyelesaian sengketa yang telah ditetapkan melalui arbitrase, kecuali dalam hal-
hal tertentu yang ditetapkan dalam Undang-undang ini.


B. Syarat Pengangkatan Arbiter

Yang dimaksud dengan Arbiter sebagaimana disebutkan dalam pasal 1 angka &
UU Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa:
Arbiter adalah seorang atau lebih yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa
atau yang tunjuk oleh Pengadilan Negeri atau oleh lembaga arbitrase, untuk
memberikan putusan mengenai sengketa tertentu yang diserahkan
penyelesaiannya melalui arbitrase.

Mengenai persyaratan Arbiter diatur dalam Pasal 12 ayat (1) UU Nomor 30
Tahun 1999 yang menyebutkan Yang d apat ditunjuk atau diangkat menjadi arbiter
harus memenuhi syarat :
a. cakap melakukan tindakan hukum;
16

b. berumur paling rendah 35 tahun;
c. tidak mempunyai hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai dengan
derajat kedua dengan salah satu pihak bersengketa;
d. tidak mempunyai kepentingan finansial atau kepentingan lain atas putusan
arbitrase; dan
e. memiliki pengalaman serta menguasai secara aktif di bidangnya paling sedikit 15
tahun.

Ayat (2) dalam Pasal yang sama dikatakan, Hakim, jaksa, panitera dan pejabat
peradilan lainnya tidak dapat ditunjuk atau diangkat sebagai arbiter.


Pasal 13
(1) Dalam hal para pihak tidak dapat mencapai kesepakatan mengenai pemilihan
arbiter atau tidak ada ketentuan yang dibuat mengenai pengangkatan arbiter,
Ketua Pengadilan Negeri menunjuk arbiter atau majelis arbitrase.
(2) Dalam suatu arbitrase ad-hoc bagi setiap ketidakkesepakatan dalam
penunjukan seorang atau beberapa arbiter, para pihak dapat mengajukan
permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri untuk menunjuk seorang arbiter
atau lebih dalam rangka penyelesaian sengketa para pihak.



Pasal 14
(1) Dalam hal para pihak telah bersepakat bahwa sengketa yang timbul akan
diperiksa dan diputus oleh arbiter tunggal, para pihak wajib untuk mencapai
suatu kesepakatan tentang pengangkatan arbiter tunggal.
(2) Pemohon dengan surat tercatat, telegram, teleks, faksimili, e-mail atau
dengan buku ekspedis harus mengusulkan kepada pihak termohon nama orang
yang dapat diangkat sebagai arbiter tunggal.
(3) Apabila dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari setelah termohon
menerima usul pemohon sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) para pihak
tidak berhasil menentukan arbiter tunggal, atas permohonan dari salah satu
pihak, Ketua Pengadilan negeri dapat mengangkat arbiter tunggal.
(4) Ketua Pengadilan Negeri akan mengangkat arbiter tunggal berdasarkan daftar
nama yang disampaikan oleh para pihak, atau yang diperoleh dari organisasi
atau lembaga arbitrase sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34, dengan
memperhatikan baik rekomendasi maupun keberatan yang diajukan oleh
para pihak terhadap orang yang bersangkutan.


Pasal 15
(1) Penunjukan dua orang arbiter oleh para pihak memberi wewenang kepada dua
arbiter tersebut untuk memilih dan menunjuk arbiter yang ketiga.
17

(2) Arbiter ketiga sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diangkat sebagai ketua
majelis arbitrase.
(3) Apabila dalam waktu palin g lama 30 (tiga puluh) hari setelah pemberitahuan
diterima oleh pemohon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1), dan
salah satu pihak tidak menunjuk seseorang yang akan menjadi anggota majelis
arbitrase, arbiter yang ditunjuk oleh pihak lainnya akan bertindak sebagai
arbiter tunggal dan putusannya mengikat kedua belah pihak.
(4) Dalam hal kedua arbiter yang telah ditunjuk masing-masing pihak sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) tidak berhasil menunjuk arbiter ketiga dalam waktu
paling lama 14 (empat belas) hari setelah arbiter yang terakhir ditunjuk, atas
permohonan salah satu pihak, Ketua Pengadilan negeri dapat mengangkat arbiter
ketiga.
(5) Terhadap pengangkatan arbiter yang dilakukan oleh Ketua Pengadilan Negeri
sebagaimana dimaksud dalam ayat (4), tidak dapat diajukan upaya pembatalan.


Pasal 16
(1) Arbiter yang ditunjuk atau diangkat dapat menerima atau menolak penunjukan
atau pengangkatan tersebut.
(2) Penerimaan atau penolakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), wajib
memberitahukan secara tertulis kepada pihak d alam waktu paling lama 14
(empat belas) hari terhitung sejak tanggal penunjukan atau pengangkatan.

Pasal 17
(1) Dengan ditunjuknya seorang arbiter atau beberapa arbiter oleh para pihak
secara tertulis dan diterimanya penunjukan tersebut oleh seorang arbiter
atau beberapa arbiter secara tertulis, maka antara pihak yang menunjuk dan
arbiter yang menerima penunjukan terjadi suatu perjanjian perdata.
(2) Penunjukan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), mengakibatkan bahwa
arbiter atau para arbiter akan memberikan putusannya secara jujur, adil,
dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan para pihak akan menerima
putusannya secara final dan mengikat seperti yang telah diperjanjikan
bersama.

Pasal 18
(1) Seorang calon arbiter yang diminta oleh satu pihak untuk duduk dalam majelis
arbitrase, wajib memberitahukan kepada pihak tentang hal yang mungkin
akan mempengaruhi kebebasannya atau menimbulkan keberpihakan
putusan yang akan diberikan.
(2) Seorang yang menerima penunjukan sebagai arbiter sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), haru s memberitahukan kepada para pihak
mengenai penunjukannya.

18



Pasal 19
(1) Dalam hal arbiter telah menyatakan menerima penunjukan atau pengangkatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal16, maka yang bersangkutan tidak dapat
menarik diri, kecuali atas persetujuan para pihak.
(2) Dalam hal arbiter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang telah menerima
penunjukan atau pengangkatan, menyatakan menarik diri, maka yang
bersangkutan wajib mengajukan permohonan secara tertulis kepada para
pihak.
(3) Dalam hal para pihak dapat menyetujui permohonan penarikan diri sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2), maka yang bersangkutan dapat dibebaskan dari tugas
sebagai arbiter.
(4) Dalam hal permohonan penarikan diri mendapat persetujuan para pihak,
pembebasan tugas arbiter ditetapkan oleh Ketua Pengadilan Negeri.

Pasal 20
Dalam hal arbiter atau majelis arbitrase tanpa alasan yang sah tidak memberikan
putusan dalam jangka waktu yang telah ditentukan, arbiter dapat dihukum untuk
mengganti biaya dan kerugian yang diakibatkan karena kelambatan tersebut
kepada para pihak.

Pasal 21
Arbiter atau majelis arbitrase tidak dapat dikenakan tanggung jawab hukum
apapun atas segala tindakan yang diambil selama proses persidangan berlangsung
untuk menjalankan fungsinya sebagai arbiter atau majelis arbitrase, kecuali dapat
dibuktikan adanya itikad tidak baik dari tindakan tersebut.


Seorang Arbiter dapat pula ditunjuk dengan beberapa cara yang berbeda, yaitu
sebagai berikut:
a. Melalui kesepakatan diantara para pihak dalam perjanjian arbitrase
b. Ditunjuk berdasarkan klausula dalam kontrak oleh orang ketiga misal nya
ketua suatu lembaga professional seperti BANI
c. Ditunjuk oleh pengadilan

C. Hak Ingkar

Pasal 22
(1) Terhadap arbiter dapat diajukan tuntutan ingkar apabila terdapat cukup
bukti otentik yang menimbulkan keraguan bahwa arbiter akan melakukan
tugas nya tidak secara bebas dan akan berpihak dalam mengambil
keputusan.
19

(2) Tuntutan ingkar terhadap seorang arbiter dapat pula dilaksanakan
apabila terbukti adanya hubungan kekeluargaan, keuangan atau pekerjaan
dengan salah satu pihak atau kuasanya.

Pasal 23
(1) Hak ingkar terhadap arbiter yang diangkat oleh Ketua Pengadilan Negeri
diajukan kepada Pengadilan Negeri yang bersangkutan.
(2) Hak ingkar terhadap arbiter tunggal diajukan kepada arbiter yang
bersangkutan.
(3) Hak ingkar terhadap anggota majelis arbitrase diajukan kepada majelis
arbitrase yang bersangkutan.

Pasal 24
(1) Arbiter yang diangkat tidak dengan penetapan pengadilan, hanya dapat
diingkari berdasarkan alasan yang baru diketahui pihak yang mempergunakan
hak ingkarnya setelah pengangkatan arbiter yang bersangkutan.
(2) Arbiter yang diangkat dengan penetapan pengadilan, hanya dapat
diingkari berdasarkan alasan yang diketahuinya setelah adanya penerimaan
penetapan pengadilan tersebut.
(3) Pihak yang keberatan terhadap penunjukan seorang arbiter yang dilakukan
oleh pihak lain , harus mengajukan tuntutan ingkar dalam waktu paling lama 14
(empat belas) hari sejak pengangkatan.
(4) Dalam hal alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (10) dan (2)
diketahui kemudian, tuntutan ingkar harus diajukan dalam waktu paling lama 14
(empat belas) hari sejak diketahuinya hal tersebut.
(5) Tuntutan ingkar harus secara tertulis, baik kepada pihak lain maupun kepada
pihak arbiter yang bersangkutan dengan menyebutkan alasan tuntutannya.
(6) Dalam hal tuntutan ingkar yang diajukan oleh salah satu pihak tidak
disetujui oleh pihak lain, arbiter yang bersangkutan harus mengundurkan diri
dan seorang arbiter pengganti akan ditunjuk sesuai dengan cara yang
ditentukan dalam Undang-undang ini.

Pasal 25
(1) Dalam hal tuntutan ingkar yang diajukan oleh salah satu pihak tidak disetujui
oleh pihak lain dan arbiter yang bersangkutan tidak bersedia mengundurkan
diri, pihak yang berkepentingan dapat mengajukan tuntutan kepada Ketua
Pengadilan negeri yang putusannya mengikat kedua belah pihak, dan tidak dapat
diajukan perlawanan.
(2) Dalam hal Ketua Pengadilan Negeri memutuskan bahwa tuntutan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) beralasan, seorang arbiter pengganti
harus diangkat dengan cara sebagaimana yang berlaku untuk
pengangkatan arbiter yang digantikan.
(3) Dalam hal Ketua Pengadilan negeri menolak tuntutan ingkar, arbiter melanjutkan
20

tugasnya.

Pasal 26
(1) Wewenang arbiter tidak dapat dibatalkan dengan meninggalnya arbiter dan
wewenang tersebut selanjutnya dilanjutkan oleh penggantinya yang kemudian
diangkat sesuai dengan Undang-undang ini.
(2) Arbiter dapat dibebastugaskan bilamana berpihak atau menunjukkan sikap
tercela yang harus dibuktikan melalui jalur hukum.
(3) Dalam hal selama pemeriksaan sengketa berlangsung, arbiter meninggal dunia,
tidak mampu, atau mengundurkan diri, sehingga tidak dapat melaksanakan
kewajibannya, seorang arbiter pengganti akan diangkat dengan cara
sebagaimana yang berlaku bagi pengangkatan arbiter yang bersangkutan.
(4) Dalam hal seorang arbiter tunggal atau ketua majelis arbitrase diganti, semua
pemeriksaan yang telah diadakan harus diulang kembali.
(5) Dalam hal anggota majelis yang diganti, pemeriksaan sengketa hanya diulang
kembali secara tertib antara arbiter.





























21

SESSION IV

BAB IV
ACARA YANG BERLAKU DIHADAPAN MAJELIS ARBITRASE

A. Acara Arbiter

Prosedur pemeriksaan di arbitrase pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan di
pengadilan karena sama-sama mekanisme adjudikatif. Berdasarkan UU Nomor 30
Tahun 1999, pada prinsipnya pemeriksaan perkara di arbitrase melalui tiga tahapan,
yaitu: tahap persiapan (pra pemeriksaan), tahap pemeriksaan (penentuan) dan tahap
pelaksanaan.

Tahap persiapan adalah tahap untuk mempersiapkan segala sesuatunya guna
sidang pemeriksaan perkara. Tahap persiapan antara lain meliputi:
1. Persetujuan arbitrase dalam dokumen tertulis
2. Penunjukan arbiter
3. Pengajuan surat tuntutan oleh pemohon
4. Jawaban surat tuntutan oleh termohon
5. Perintah arbiter agar para pihak menghadap siding arbitrase

Tahap kedua adalah tahap pemeriksaan, yaitu tahap mengenai jalannya siding
pemeriksaan perkara, mulai dari awal pemeriksaan peristiwanya, proses pembuktian
sampai dijatuhkannya putusan oleh arbiter.

Tahap pelaksanaan, yaitu tahap untuk merealisir putusan arbiter yang final dan
mengikat.

Hukum acara yang berlaku dalam pemeriksaan arbitrase diatur mulai Pasal 27 51
UU Nomor 30 Tahun 1999.

Pasal 27
Semua pemeriksaan sengketa oleh arbiter atau majelis arbitrase dilakukan secara
tertutup.

Pasal 28
Bahasa yang digunakan dalam semua proses arbitrase adalah bahasa Indonesia,
kecuali atas persetujuan arbiter atau majelis arbitrase para pihak dapat memilih
bahasa lain yang akan digunakan.

Pasal 29
(1) Para pihak yang bersengketa mempunyai hak dan kesempatan yang sama
dalam mengemukakan pendapat masing-masing.
(2) Para pihak yang bersengketa dapat diwakili oleh kuasanya dengan surat kuasa
khusus.
22



Pasal 30
Pihak ketiga di luar perjanjian arbitrase dapat turut serta dan
menggabungkan diri dalam proses penyelesaian sengketa melalui arbitrase,
apabila terdapat unsur kepentingan yang terkait dan keturutsertaannya
disepakati oleh para pihak yang bersengketa serta disetujui oleh arbit er
majelis arbitrase yang memeriksa sengeka yang bersangkutan.


Pasal 31
(1) Para pihak dalam suatu perjanjian yang tegas dan tertulis, bebas untuk
menentukan acara arbitrase yang digunakan dalam pemeriksaan sengketa
sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-undang ini.
(2) Dalam hal para pihak tidak menentukan sendiri ketentuan mengenai acara
arbitrase yang akan digunakan dalam pemeriksaan, dan arbiter atau majelis
arbitrase telah terbentuk sesuai dengan Pasal 12, Pasal 13, dan Pasal 14,
semua sengketa yang penyelesaiannya diserahkan kepada arbiter atau
majelis arbitrase akan diperiksa dan diputus menurut ketentuan dalam
Undang-undang ini.
(3) Dalam hal para pihak yang telah memilih acara arbitrase sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), harus ada kesepakatan mengenai ketentuan
jangka waktu dan tempat diselenggarakan arbitrase dan apabila jangka waktu
dan tempat arbitrase tidak ditentukan, arbiter atau mejalis arbitrase yang akan
menentukan.

Pasal 32
(1) Atas permohonan salah satu pihak, arbiter atau majelis arbitrase dapat
mengambil putusan provisionil atau putusan sela lainnya untuk mengatur
ketertiban jalannya pemeriksaan sengketa termasuk penetapan sita jaminan,
memerintahkan penitipan barang kepada pihak ketiga, atau menjual barang
yang mudah rusak.
(2) Jangka waktu pelaksanaan putusan provisionil atau putusan sela lainnya
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak dihitung dalam jangka waktu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48.


Pasal 33
Arbiter atau majelis arbitrase berwenang untuk memperpanjang jangka waktu
tugasnya apabila :
a. diajukan permohonan oleh salah satu pihak mengenai hal khusus tertentu;
b. sebagai akibat ditetapkan putusan provisionil atau putusan sela lainnya; atau
c. dianggap perlu oleh arbiter atau mejalis arbitrase untuk kepentingan
23

pemeriksaan.

Pas al 34
a. Penyelesaian sengketa melalui arbitrase dapat dilakukan dengan menggunakan
lembaga arbitrase nasional atau internasional berdasarkan kesepakatan para
pihak.
b. Penyelesaian sengketa melalui lembaga arbitrase sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) dilakukan menurut peraturan dan acara dari lembaga dipilih,
kecuali ditetapkan lain oleh para pihak.

Pasal 35
Arbiter atau majelis arbitrase dapat memerintahkan agar setiap dokumen atau
bukti disertai dengan terjemahan ke dalam bahasa yang ditetapkan oleh arbiter
atau majelis arbitrase.

Pasal 36
(1) Pemeriksaan sengketa dalam arbitrase harus diajukan secara tertulis.
(2) Pemeriksaan secara lisan dapat dilakukan apabila disetujui para pihak atau
dianggap perlu oleh arbiter atau majelis arbitrase.

Pasal 37
(1) Tempat arbitrase ditentukan oleh arbiter atau majelis atau majelis arbitrase,
kecuali ditentukan sendiri oleh para pihak.
(2) Arbiter atau majelis arbitrase dapat mendengar keterangan saksi atau
mengadakan pertemuan yang dianggap perlu pada tempat tertentu di luar
tempat arbitrase diadakan.
(3) Pemeriksaan saksi dan saksi ahli di hadapan arbiter atau majelis arbitrase,
diselenggarakan menurut ketentuan dalam hukum acara perdata.
(4) Arbiter atau majelis arbitrase dapat mengadakan pemeriksaan setempat atas
barang yang dipersengketakan atau hal lain yang berhubungan dengan sengketa
yang sedang diperiksa, dan dalam hal dianggap perlu, para pihak akan dipanggil
secara sah agar dapat juga hadir dalam pemeriksaan tersebut.

Pasal 38
(1) Dalam jangka waktu yang ditentukan oleh arbiter atau majelis arbitrase,
pemohon harus menyampaikan surat tuntutannya kepada arbiter atau majelis
arbitrase.
(2) Surat tuntutan tersebut harus memuat sekurang-kurangnya :
a. nama lengkap dan tempat tinggal atau tempat kedudukan para pihak;
b. uraian singkat tentang sengketa dis ertai dengan lampiran bukti-bukti; dan
c. isi tuntutan yang jelas.


24

Pasal 39
Setelah menerima surat tuntutan dari pemohon, arbiter atau ketua majelis
arbitrase menyampaikan satu salinan tuntutan tersebut kepada termohon
dengan disertai perintah bahwa termohon harus menanggapi dan memberikan
jawabannya secara tertulis dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari sejak
diterimanya salinan tuntutan tersebut oleh termohon.

Pasal 40
(1) Segera setelah diterimananya jawaban dari termohon atas perintah arbiter
atau ketua majelis arbitrase, salinan jawaban tersebut diserahkan kepada
pemohon.
(2) Bersamaan dengan itu, arbiter atau ketua majelis arbitrase memerintahkan
agar para pihak atau kuasa mereka menghadap di muka sidang arbitrase
yang ditetapkan paling lama 14 (empat belas) hari terhitung mulai hari
dikeluarkannya perintah itu.


Pasal 41
Dalam hal termohon setelah lewat 14 (empat belas) hari sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 39 tidak menyampaikan jawabannya, termohon akan dipanggil dengan
ketentuan sebagaimana dimaksud d alam Pasal 40 ayat (2).


Pasal 42
(1) Dalam jawabannya atau selambat-lambatnya pada sidang pertama termohon
dapat mengajukan tuntutan balasan dan terhadap tuntutan balasan tersebut
pemohon diberi kesempatan untuk menanggapi.
(2) Tuntutan balasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diperiksa dan diputus
oleh arbiter atau majelis arbitrase bersama -sama dengan pokok sengketa.

Pasal 43
Apabila pada hari yang ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (2)
pemohon tanpa suatu alasan yang sah tidak datang menghadap, sedangkan telah
dipanggil secara patut, surat tuntutannya dinyatakan gugur arbiter atau majelis
arbitrase dianggap selesai.

Pasal 44
(1) Apabila pada hari yang telah ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
40 ayat (2), termohon tanpa suatu alasan sah tidak datang menghadap,
sedangkan termohon telah dipanggil secara patut, arbiter atau majelis
arbitrase segera melakukan pemanggilan sekali lagi.
(2) Paling lama 10 (sepuluh) hari setelah pemanggilan kedua diterima termohon
dan tanpa alasan sah termohon ju ga tidak datang menghadapi di muka
25

persidangan, pemeriksaan akan diteruskan tanpa hadirnya termohon dan
tuntutan pemohon dikabulkan seluruhnya, kecuali jika tuntutan tidak beralasan
atau tidak berdasarkan hukum.

Pasal 45
(1) Dalam hal para pihak datang menghadap pada hari yang telah ditetapkan,
arbiter atau majelis arbitrase terlebih dahulu mengusahakan perdamaian
antara para pihak yang bersengketa.
(2) Dalam hal usaha perdamaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tercapai,
maka arbiter atau majelis arbitrase memb uat suatu akta perdamaian yang
final dan mengikat para pihak dan memerintahkan para pihak untuk
memenuhi ketentuan perdamaian tersebut.


Pasal 46
(1) pemeriksaan terhadap pokok sengketa dilanjutkan apabila usaha perdamaian
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (1) tidak berhasil.
(2) Para pihak diberi kesempatan terakhir kali untuk menjelaskan secara
tertulis pendirian masing-masing serta mengajukan bukti yang dianggap
perlu untuk menguatkan perndiriannya dalam jangka waktu yang ditetapkan
oleh arbiter atau maje lis arbitrase.
(3) Arbiter atau majelis arbitrase berhak meminta kepada para pihak untuk
mengajukan penjelasan tambahan secara tertulis, dokumen atau bukti lainnya
yang dianggap perlu dalam jangka waktu yang ditentukan oleh arbiter atau
majelis arbitrase.


Pasal 47
(1) Sebelum ada jawaban dari termohon, pemohon dapat mencabut surat
permohonan untuk menyelesaikan sengketa melalui arbitrase.
(2) Dalam hal sudah ada jawaban dari termohon, perubahan atau penambahan
surat tuntutan hanya diperbolehkan dengan persetujuan termohon dan
sepanjang perubahan atau penambahan itu menyangkut hal-hal yang bersifat
fakta saja dan tidak menyangkut dasar-dasar yang menjadi dasar permohonan.

Pasal 48
(1) Pemeriksaan atas sengketa harus diselesaikan dalam waktu paling lama 180
(seratus delapan puluh) hari sejak arbiter atau majelis arbitrase terbentuk.
(2) Dengan persetujuan para pihak dan apabila diperlukan sesuai Pasal 33, jangka
waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diperpanjang.



26

B. Saksi dan Saksi Ahli

Pasal 49
(1) Atas perintah arbiter atau majelis arbitrase atau atas permintaan para pihak
dapat dipanggil seorang saksi atau lebih atau seorang saksi ahli atau lebih, untuk
didengar keterangannya.
(2) Biaya pemanggilan dan perjalanan saksi atau saksi ahli dibebankan kepada pihak
yang meminta. (3) Sebelum memberikan keterangan, para saksi atau saksi ahli
wajib mengucapkan sumpah.

Pasal 50
(1) Arbiter atau mejalis arbitrase dapat meminta bantuan seorang atau lebih saksi
ahli untuk memberikan keterangan tertulis mengenai suatu persoalan khusus
yang berhubungan dengan pokok sengketa.
(2) Para pihak wajib memberikan segala keterangan yang diperlukan oleh para saksi
ahli.
(3) Arbiter atau majelis arbitrase meneruskan salinan keterangan saksi ahli
tersebut pada para pihak agar dapat ditanggapi secara tert ulis oleh para pihak
yang bersengketa.
(4) Apabila terdapat hal yang kurang jelas, atas permintaan para pihak yang
berkepentingan, saksi ahli yang bersangkutan dapat didengar
keterangannya di muka sidang arbiter dengan dihadiri oleh para pihak
atau kuasanya.

Pasal 51
Terhadap kegiatan dalam pemeriksaan dan sidang arbitrase dibuat berita acara
pemeriksaan oleh sekretaris.


Beberapa hal penting dalam proses pemeriksaan arbitrase menurut UU Nomor 30
Tahun 1999, antara lain:
1. Pemeriksaan dilakukan secara tertutup untuk menjaga kerahasiaan para pihak
(Pasal 27)
2. Menggunakan bahasa Indonesia (Pasal 28)
3. Mendengar para pihak (audi et alteram partem) (pasal 29)
4. Bebas menentukan arbiter dan ketentuan acara mengenai arbitrase (Pasal 31
dan 34)
5. Pemeriksaan harus selesai palig lama dalam waktu 180 hari (Pasal 48)







27

SESSION V

BAB V
PENDAPAT DAN PUTUSAN ARBITRASE


Putusan arbitrase dapat dibedakan atas putusan arbitrase nasional dan putusan
arbitrase internasioanl. Untuk menentukan apakah putusan arbitrase itu merupakan
putusan arbitrase nasional atau internasional, didasarkan pada prinsip kewilayahan
(territory) dan hukum yang dipergunakan dalam penyelesaian sengketa arbitrase
tersebut.
Disamping berdasarkan tempat dijatuhkan putusan arbitrase, juga didasarkan pada
hukum yang dipergunakan para pihak dalam menyelesaikan sengketa arbitrase
tersebut. Kalau mempergunakan hukum asing sebagai dasar penyelesaian
sengketanya, walaupun putusan dijatuhkan di dalam wilayah hukum RI, putusan
tersebut tetap akan merupakan putusan arbitrase internasional. Sebaliknya walaupun
para pihak yang bersengketa itu bukan kewarganegaraan Indonesia, tetapi
mempergunakan hukum Indonesia sebagai dasar penyelesaian sengketa arbitrasenya.
Maka putusan arbitrase yang demikian merupakan putusan arbitrase nasional.


Pasal 52
Para pihak dalam suatu perjanjian berhak untuk memohon pendapat yang
mengikat dari lembaga arbitrase atas hubungan hukum tertentu dari suatu
perjanjian.

Pasal 53

Terhadap pendapat yang mengikat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 tidak
dapat dilakukan perlawanan melalui upaya hukum apapun.


Pasal 54

(1) Putusan arbitrase harus memuat :
b. kepala putusan yang berbunyi DEMI KEADILAN BERDASARKAN
KETUHANAN YANG MAHA ESA;
c. nama lengkap dan alamat para pihak;
c. uraian singkat sengketa;
d. pendirian para pihak;
e. nama lengkap dan alamat arbiter;
f. pertimbangan dan kesimpulan arbiter atau majelis arbitrase mengenai
keseluruhan sengketa;
g. pendapat tiap-tiap arbitrase dalam hal terdapat perbedaan pendapat
dalam majelis arbitrase;
h. amar putusan;
i. tempat dan tanggal putusan; dan
28

j. tanda tangan arbiter atau mejelis arbitrase.
(2) Tidak ditandatanganinya putusan arbitrase oleh salah seorang arbiter dengan
alasan sakit atau meninggal dunia tidak mempengaruhi kekuatan berlakunya
putusan dipenuhinya ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),
berakibat putusan arbitrase tidak dapat dilaksanakan.
(3) Alasan tentang tidak adanya tanda tangan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2) harus dicantumkan dalam putusan.
(4) Dalam putusan ditetapkan suatu jangka waktu putusan tersebut harus
dilaksanakan.

Pasal 55
Apabila pemeriksaan sengketa telah selesai, pemeriksaan segera ditutup dan
ditetapkan hari sid ang untuk mengucapkan arbitrase.

Pasal 56
(1) Arbiter atau majelis arbitrase mengambil putusan berdasarkan ketentuan
hukum, atau berdasarkan keadilan dan kepatutan.
(2) Para pihak berhak menentukan pilihan hukum yang akan berlaku terhadap
penyelesaian sengketa yang mungkin atau telah timbul antara para pihak.

Pasal 57
Putusan diucapkan dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah
pemeriksaan ditutup.

Pasal 58
Dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari setelah putusan diterima, para
pihak dapat mengaju kan permohonan kepada arbiter atau majelis arbitrase untuk
melakukan koreksi terhadap kekeliruan administratif dan atau menambah atau
mengurangi sesuatu tuntutan putusan.














29

SESSION VI

BAB VI
PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE


A. Pengaruh Putusan

Pada hakekatnya pelaksanaan putusan merupakan realisasi dari kewajiban pihak
yang dikalahkan untuk memenuhi suatu prestasi, yang merupakan hak dari pihak yang
dimenangkan, sebagaimana tercantum dalam putusan arbitrase. Hukum eksekusi
hanya diperlukan apabila pihak yang dikalahkan tidak memenuhi putusan secara
sukarela, oleh karena itu pelaksanaannya dilakukan secara paksa oleh pengadilan.

Setelah arbiter membuat putusan finalnya, putusan tersebut tidak dapat
dipersoalkan lagi. Hanya dapat dirubah jika dikembalikan kepadanya, kecuali dalam
soal biaya. Karena menurut kebiasaan, andaikata jangka waktu arbitrase yang di
tetapkan (Pasal 48 UU No. 30 Tahun 1999, 6 bulan misalnya) terlewati dan
diperpanjang menurut kesepakatan, arbitrase berhak dan perlu diberi tambahan biaya
(keadaan semacam ini banyak terjadi pada arbitrase ad-hoc. Lain kalau arbitrase
dilakukan melalui lembaga seperti BANI yang telah menetapkan pembiayaan dengan
table yang komperhensif). Pengadilan tidak dapat merubah atau mengganti sebuah
putusan arbitrase, kecuali kalau terjadi pelanggaran pidana dan harus dapat
dibuktikan. Selanjutnya putusan bersifat mengikat pihak ketiga yang mempunyai klaim
(Pasal 30 UU No. 30 Tahun 1999).


B. Putusan Tidak memindahkan Status Benda-Benda Tidak Bergerak/Hak Milik

Hak milik nyata atau pribadi tak dapat dipindah tangankan sebagai akibat suatu
putusan. Para pihak dapat diarahkan (apabila ada kewenangan) untuk melaksanakan
atau melakukan pemindahan hak tertentu dalam sengketa melalui instansi yang
terkait, misalnya tanah, rumah, saham dan lain-lain. Jadi para pihak melalui
persidangan berhak menyepakati bahwa putusan dapat menetapkan hal yang
berkaitan dengan hak hukum, misalnya hak atas tanah yang mungkin jadi objek
sengketa.


C. Putusan Sebagai Bukti

Sebuah putusan yang sah dan dapat dilaksanakan merupakan bukti konklusif
mengenai fakta-fakta yang ditemukan oleh arbiter. Sebvuah putusan juga merupakan
bukti yang menentukan hak antara para pihak dan juga sebagai bukti hak atas property
yang dipersengketakan.

Sebuah putusan hanya berlaku terhadap para pihak yang terkait dan tidak dapat
diakui sebagai bukti terhadap pihak yang ketiga. Tidak pula suatu putusan merupakan
bukti berkaitan dengan reputasi sesorang.
30



D. Bunga (Uang) Dalam Putusan

Arbiter mempunyai wewenang untuk menetapkan memerintahkan pembayaran
sejumlah % bunga atas sejumlah uang yang diputuskan untuk dibayarkan. Bunga
tersebut dapat sama besar dengan tingkat bunga yang berlaku dipasaran dan
perbankan.


E. Pelaksanaan Putusan

Undang-undang menetapkan bahwa putusan akan mengikat hanya terhadap para
pihak yang terlibat secara langsung dan terhadap pihak ketiga yang mempunyai klai.
Yang dimaksud dengan pelaksanaan suatu putusan adalah pelaksanaan substansi
putusan. Pelaksanaan putusan harus diselesaikan dengan car-cara yang jujur dan
benar, dan sebaliknya setiapupaya melaksanakan putusan yang cenderung
menyimpang, akan menjadikan pelaksanaannya gugur menurut hukum.

Putusan dapat dilaksanakan sebagian pada suatu waktu dan suatu tempat, dan
sebagian lagi di waktu dan tempat yang lain. Jika salah satu pihak meninggal sebelum
putusan dilaksanakan, maka pihak yang berkewajibanharus melaksanakananya,
meskipun ahli waris (atau wakilnya) tidak disebutkan didalam putusan, karena suatu
putusan menciptakan kewajiban hukum. Ahli warispun harus melaksanakan kewajiban
pihak yang telah meninggal kecuali bila kewajiban ini semata-mata hanya dapat
dilaksanakan oleh orang yang meninggal.

Bila arbiter memberi pengarahan yang melampaui kewenangannya, maka
putusannya dapat dikesampingkan. Juga suatu pengarahan arbiter yang tak pasti dapat
berakibat kemungkinan untuk dikesampingkan.

Adakalanya dalam praktek perlu untuk diperhitungkan bilamana suatu putusan
tidak dapat dilaksanakan. Disebabkan sebagai berikut:

(1) putusan diterbitkan secara tidak tertulis, dan dengan demikian nyata-nyata
menyalahi ketentuan arbitrase.
(2) Jika putusan itu hanya berbentuk suatu pernyataan/pengumuman.
(3) Putusan tidak jelas, juga tata cara melaksanakannya.
(4) Putusan merupakan putusan asing/internasional; fatwa MA harus diperoleh
berdasarkan undang-undang (Baca Perma 1/1990 berkaitan dengan Konvensi
New York 1958).








31

F. Pelaksanaan Melalui Juru Sita

Tindakan dapat dilakukan dalam bentuk-bentuk yang berbeda, menurut ketentuan-
ketentuan didalam suatu putusan, baik melalui suatu tindakan untuk memperoleh
kembali sejumlah uang, atau suatu tindakan untuk melaksanakan kontrak secara
khusus, atau suatu putusan untuk mencegah dilakukannya sebuah tindakan.


G. Pelaksanaan Putusan Bersifat Khusus

Pengadilan memutuskan pelaksanaan khusus putusan arbitrase dengan cara yang
sama seperti dalam hukum kontrak. Jika putusan berkaitan dengan pelaksanaan suatu
tindakan khusus (selain membayar sejumlah uang) dan kemudian pelaksanaan tidak
dilakukan dengan memadai, pengadilan berwenang memerintahkan suatu pelaksanaan
secara khusus. Juga berhak memerintahkan pelaksanaan secara khusus suatu putusan
yang tidak berlaku sebagian, jika bagian lainnya yang sah dapat dengan jelas
dibedakan.


H. Arbitrase Nasional

Pelaksanaan putusan arbitrase nasional diatur dalam UU Nomor 30 Tahun 1999
Pasal 59 64.


Pasal 59
(1) Dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal putusan
diucapkan, lembar asli atau salinan otentik putusan arbitrase diserahkan dan
didaftarkan oleh arbiter atau kuasanya kepada Panitera Pengadilan Negeri.
(2) Penyerahan dan pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),
dilakukan dengan pencatatan dan penandatanganan pada bagian akhir atau
di pinggir putusan oleh Panitera Pengadilan Negeri dan arbiter atau
kuasanya yang menyerahkan, dan catatan tersebut merupakan akta
pendaftaran.
(3) Arbiter atau kuasanya wajib menyerahkan putusan dan lembar asli
pengangkatan sebagai arbiter atau salinan otentiknya kepada Panitera
Pengadilan Negeri.
(4) Tidak dipenuhinya ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),
berakibat putusan arbitrase tidak dapat dilaksanakan.
(5) Semua biaya yang berhubungan dengan pembuatan akta pendaftaran
dibebankan kepada para pihak.


Pasal 60
Putusan arbitrase bersifat final dan mempunyai kekuatan hukum tetap dan
mengikat para pihak.
32


Pasal 61
Dalam hal para pihak tidak melaksanakan putusan arbitrase secara sukarela,
putusan dilaksanakan berdasarkan perintah Ketua Pengadilan Negeri atas
permohonan salah satu pihak yang bersengketa.



Pasal 62
(1) Perintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 diberikan dalam waktu paling
lama 30 (tiga puluh) hari setelah permohonan eksekusi didaftarkan kepada
Panitera Pengadilan Negeri.
(2) Ketua Pengadilan Negeri sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sebelum
memberikan perintah pelaksanaan, memeriksa terlebih dahulu apakah
putusan arbitrase memenuhi ketentuan Pasal 4 dan Pasal 5, serta tidak
bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum.
(3) Dalam hal putusan arbitrase tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (2), Ketua Pengadilan Negeri menolak permohonan pelaksanaan
eksekusi dan terhadap putusan Ketua Pengadilan Negeri tersebut tidak
terbuka upaya hukum apapun.
(4) Ketua Pengadilan Negeri tidak memeriksa alasan atau pertimbangan dari
putusan atbitrase.


Pasal 63
Perintah Ketua Pengadilan Negeri ditulis pada lembar asli dan salinan otentik
putusan arbitra se yang dikeluarkan.

Pasal 64
Putusan arbitrase yang telah dibubuhi perintah Ketua Pengadilan Negeri,
dilaksankaan sesuai ketentuan pelaksanaan putusan dalam perkara perdata yang
putusannya telah mempunyai kekuatan hukum tetap.


I. Arbitrase Internasional

Menurut Pasal 1 angka 9 UU Nomor 30 Tahun 1999 Putusan arbitrase
internasional adalah putusan yang dijatuhkan oleh suatu lembagaarbitrase atau
arbiter peroranagan diluar wilayah hukum Republik Indonesia, atau putusan
suatu lembaga arbitrase atau arbiter perorangan yang menurut ketentuan hukum
Republik Indonesia dianggap sebagai suatu putusan arbitrase internasional.

Pengakuan dan pelaksanaan terhadap keputusan arbitrase asing didasarkan
pada pasal 65 69 UU Nomor 30 Tahun 1999.
33


Pasal 65 menyebutkan: Yang berwenang menangani masalah pengakuan dan
pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional adalah Pengadilan negeri, Jakarta
Pusat.

Secara lebih rinci Pasal 66 menjelaskan bahwa Putusan Arbitrase Internasional
hanya diakui serta dapat dilaksanakan di wilayah hukum Republik Indonesia,
apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Putusan Arbitrase Internasional dijatuhkan oleh arbiter atau majelis
arbitrase di suatu negara yang dengan negara Indonesia terkait pada
perjanjian, baik secara bilateral maupun multilateral, mengenai pengakuan
dan pelaksanaan Putusan Arbitrasi Internasional.
b. Putusan Arbitrase Internasional sebagaimana dalam huruf a terbatas pada
putusan yang menurut ketentuan hukum Indonesia termasuk dalam ruang
lingkup hukum perdagangan.
c. Putusan Arbitrase Internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf a hanya
dapat dilaksanakan di Indonesia terbatas pada putusan yang tidak bertentangan
dengan ketertiban umum.
d. Putusan Arbitrase Internasional dapat dilaksanakan di Indonesia setelah
memperoleh eksekuatur dari Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat; dan
e. Putusan Arbitrase Internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf a yang
menyangkut Negara Republik Indonesia sebagai salah satu pihak dalam
sengketa, hanya dapat dilaksanakan setelah memperoleh eksekuatur dari
Mahkamah Agung Republik Indonesia yang selanjutnya dilimpahkan kepada
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Teknis dari pelaksanaan putusan arbitrase internasional diatur dalam Pasal 67
yaitu:
(1) Permohonan pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional dilakukan
setelah putusan tersebut diserahkan dan didaftarkan oleh arbiter atau
kuasanya kepada Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
(2) Penyampaian berkas permohonan pelaksanaan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) harus disertai dengan :
a. lembar asli atau salinan otentik Putusan Arbitrase Internasional, sesuai
ketentuan perihal otentifikasi dokumen asing, dan naskah terjemahan
resminya dalam Bahasa Indonesia;
b. lembar asli atau salinan otentik perjanjian yang menjadi dasar Putusan
Arbitrase Internasional sesuai ketentuan perihal otentifikasi dokumen
asing, dan naskah terjemahan resminya dalam bahasa Indonesia; dan
c. keterangan dari perwakilan diplomatik Republik Indonesia di negara
tempat Putusan Arbitrase Internasional tersebut ditetapkan, yang
menyatakan bahwa segera bahwa negara pemohon terkait pada
perjanjian, baik secara bilateral maupun multilateral dengan negara
34

Republik Indonesia perihal pengakuan dan pelaksanaan Putusan
Arbitrase Internasional.

Pasal 68
(1) Terhadap putusan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 66 huruf d yang mengakui dan melaksanakan Putusan
Arbitrasi Internasional, tidak dapat diajukan banding atau kasasi.
(2) Terhadap putusan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 66 huruf d yang menolak untuk mengakui dan
melaksanakan suatu Putusan Arbitrase Internasional, dapat diajukan kasasi.
(3) Mahkamah Agung mempertimbangkan serta memutuskan setiap pengajuan
kasasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), dalam jangka waktu paling lama
90 (sembilan puluh) hari setelah permohonan kasasi tersebut diterima oleh
Mahkamah Agung.
(4) Terhadap putusan Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66
huruf e, tidak dapat diajukan upaya perlawanan.


Pasal 69
(1) Setelah Ketua Pengadilan Jakarta Pusat memberikan perintah eksekusi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 maka pelaksanaan selanjutnya
dilimpahkan kepada Ketua Pengadilan Negeri yang secara relatif berwenang
melaksanakannya.
(2) Sita eksekusi dapat dilakukan atas harta kekayaan serta barang milik termohon
eksekusi.
(3) Tata cara penyitaan serta pelaksanaan putusan mengikuti tata cara
sebagaimana ditentuka n dalam Hukum Acara Perdata.

Suatu putusan eksekusi arbitrase internasional baru dapat dilaksanakan
eksekusinya dengan putusan Ketua PN Jakarta Pusat dalam bentuk perintah
pelaksanaan selanjutnya dilimpahkan kepada Ketua Pengadilan Negeri yang secara
relative berwenang melaksanakannya. Sita eksekusi dapat dilakukan atas harta
kekayaan serta barang milik termohon eksekusi yang mana tata cara penyitaan serta
pelaksanaan putusan mengikuti tata cara sebagaimana ditentukan dalam Hukum
Acara Perdata.









35

SESSION VII

BAB VII
PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE
DAN MENGENYAMPINGKAN PUTUSAN ARBITRASE

I. Pembatalan Putusan Arbitrase

Putusan arbitrase bersifat final dan mengikat, dalam artian tidak ada upaya
hukum seperti perlawanan, banding, kasasi atau peninjauan kembali. Namun karena
beberapa hal dimungkinkan pembatalan putusan arbitrase tersebut. Pembatalan
putusan arbitrase ini dapat dilakukan jika terdapat hal-hal yang bersifat luar biasa.

Dalam Pasal 70 UU Nomor 30 Tahun 1999, Terhadap putusan arbitrase para
pihak dapat mengajukan permohonan pembatalan apabila putusan tersebut
diduga mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
a. surat atau dokumen yang diaju kan dalam pemeriksaan, setelah putusan
dijatuhkan, diakui palsu atau dinyatakan palsu;
b. setelah putusan diambil ditemukan dokumen yang bersifat menentukan, yang
disembunyikan oleh pihak lawan; atau
c. putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan ole h salah satu pihak
dalam pemeriksaan sengketa.

Selanjutnya secara rinci dalam Pasal 71 dan Pasal 72 UU No 30 Tahun 1999
dijelaskan bahwa:

Pasal 71
Permohonan pembatalan putusan arbitrasi harus diajukan secara tertulis dalam
waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak hari penyerahan dan
pendaftaran putusan arbitrase kepada Panitera Pengadilan Negeri.


Pasal 72
(1) Permohonan pembatalan putusan arbitrase harus diajukan kepada Ketua
Pengadilan Negeri.
(2) Apabila permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikabulkan,
Ketua Pengadilan Negeri menentukan lebih lanjut akibat pembatalan
seluruhnya atau sebagian putusan arbitrase.
(3) Putusan atas permohonan pembatalan ditetapkan oleh Ketua Pengadilan
Negeri dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak permohonan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diterima.
(4) Terhadap putusan Pengadilan Negeri dapat diajukan permohonan banding ke
Mahkamah Agung yang memutus dalam tingkat pertama dan terakhir.
(5) Mahkamah Agung mempertimbangkan serta memutuskan permohonan
36

banding sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) dalam waktu paling lama
30 (tiga puluh) hari setelah permohonan banding tersebut diterima oleh
Mahkamah Agung.

II. Mengenyampingkan Putusan Arbitrasse
Mengenyampingkan suatu putusan merupakan suatu hal yang lebih serius bagi
para pihak daripada membatalkan putusan tersebut. Sebagaimana dinyatakan
diatas mengenyampingkan suatu putusan menyebabkan seluruh proses arbitrase
menjadi nihil dan percuma. Terdapat lebih dari enam alasan untuk
menyampingkan suatu putusan yang secara singkat diuraikan sebagai berikut:
(1) Putusan tersebut tidak berlaku
(2) Putusan tersebut batal, karena proses arbitrase berlangsung secara tidak
sesuai dengan kesepakatan.
(3) Suatu kesalahan hukum pada suatu putusan. Kealahan tersebut harus
berbentuk materi, atau ada suatu dokumen dilampirkan pada putusan tersebut
yang memuat usulan hukum yang keliru.
(4) Bukti yang baru ditemukan kemudian (discovery-novum) dan ada kesepakatan
untuk diajukan kemudian.
(5) Ketika arbiter melakukan penyimpangan secara sepihak. penyimpangan
dalam hal ini termasuk penyimpangan secara sengaja dan dapat dianggap
sebagi tindak pidana/korupsi. Termasuk disini segala sesuatu yang membuat
proses perkaraberlawanan dengan keadilan. Akan tetapi perlu diperhatikan
bahwa bilamana terjadi penyimpangan, dan majelis terdiri dari beberapa
arbiter, maka bilamana putusan diterbitkan secara kesepakatan penuh, maka
menurut hukum walaupun putusan tersebut kurang sempurna dalam hukum
tidak merupakan suatu penyimpangan.
(6) Ketika arbitrase dan/atau putusannya diterbitkan secara tidak layak atau
perilaku yang tidak layak dari para pihak.

















37

SESSION VIII

BAB VIII
BERAKHIRNYA TUGAS ARBITER


Pasal 73
Tugas arbiter berakhir karena :
a. putusan mengenai sengketa telah diambil;
b. jangka waktu yang telah ditentukan dalam perjanjian arbitrase atau sesudah
diperpanjang oleh para pihak telah lampau; atau
c. para pihak sepakat untuk menarik kembali penunjukan arbiter.


Pasal 74
(1) Meninggalnya salah satu pihak tidak mengakibatkan tugas yang telah diberikan
kepada arbiter berakhir.
(2) Jangka waktu tugas arbiter sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 ditunda paling
lama 60 (enam puluh) hari sejak meninggalnya salah satu pihak.


Pasal 75
(1) Dalam hal arbiter meninggal dunia, dikabulkannya tuntutan ingkar atau
pemberhentian seorang atau lebih arbiter, para pihak harus mengangkat arb iter
pengganti.
(2) Apabila para pihak dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari tidak
mencapai kesepakatan mengenai pengangkatan arbiter pengganti
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka Ketua Pengadilan Negeri atas
permintaan dari pihak yang berkepentin gan, mengangkat seorang atau lebih
arbiter pengganti.
(3) Arbiter pengganti bertugas melanjutkan penyelesaian sengketa yang
bersangkutan berdasarkan kesimpulan terakhir yang telah diadakan.











38


BAB IX
BIAYA ARBITRASE


Pasal 76
(1) Arbiter menentukan biaya arbitrase. Biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
meliputi :
a. honorarium arbiter;
b. biaya saksi dan atau saksi ahli yang dikeluarkan oleh arbiter;
c. biaya saksi dan atau saksi ahli yang dipelrukan dalam pemeriksaan sengketa;
dan
d. biaya administrasi.

Pasal 77
(1) Biaya arbitrase dibebankan kepada pihak yang kalah.
(2) Dalam hal tuntutan hanya dikabulkan sebagian, biaya arbitrase dibebankan
kepada para pihak secara seimbang.

Yurisdiksi kebijaksanaan arbiter tentang biaya dapat bervariasi karena
perjanjian arbitrase yang berbeda memberikan persyaratan yang berbeda terhadap
biaya. Namun demikian kebijaksanaan apapun yang ditetapkan oleh arbiterwaji b ia
berpedoman kepada hukum dan kewajaran.
Menilai kebebasan arbiter menetapkan biayanya, tergantung dari perjanjian
arbitrase (kecuali bila biaya ditetapkan oleh suatu lembaga arbitrase seperti BANI):
a. Diam mengenai biaya
b. Menyerahkan kebijaksanaan kepada arbiter tentang biaya
c. Minta arbiter untuk menilai biaya, atau
d. Membuat persyaratan yang jelas pihak mana yang dibebankan membayar biaya.

Arbiter berhak dan memiliki kewenangan dan tidak dapat diintervensi oleh
siapapun untuk memutuskan sendiri berkaitan dengan masalah biaya. Ia dapat
menetapkan suatu lump sum untuk biaya. Tetapi kewenangan sebaiknya melalui
kesepakatan dengan para pihak secara khusus.
Imbalan jasa arbiter biasanya ditetapkan pada saat sengketa mulai diajukan dan
sejauh itu merupakan pengaturan yang paling baik. Ketika memutuskan dan
menetapkan imbalan jasa arbiter, imbalan jasa tersebut harus dipisahkan dari biaya-
biaya lain. Pada umumnya arbiter dalam prakteknya memberitahukan pada para pihak
kapan putusan tersebut siap untuk diterbitkan dengan pembayaran imbalan jasanya dan
menyatakan jumlahnya. Ia mempunyai hak menahan putusan dan dokumen-dokumen
lain yang terkait dalam kasus tersebut sampai imbalan jasanya lunas dibayar. Tetapi ia
tidak dibenarkan menahan dokumen yang dimasukan sebagai bukti pada waktu dengar
pendapat.
Harus ada suatu kontrak yang jelas atau tersirat antara semua pihak dan arbiter
untuk pembayaran imabalan. Selanjutnya arbiter pun berhak atas pembayaran biaya
tambahan bilamana waktu arbitrase yang telah disepakati ternyata perlu diperpanjang.

39

BAB X
KETENTUAN PERALIHAN


Pasal 78
Sengketa yang pada saat Undang-undang ini berlaku sudah diperiksa kepada
arbiter atau lembaga arbitrase tetapi belum dilakukan pemeriksaan, proses
penyelesaiannya dilakukan berdasarkan Undang-undang ini.

Pasal 79
Sengketa yang pada saat Undang-undang ini mulai berlaku sudah diperiksa tetapi
belum diputus, tetap diperiksa dan diputus berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang lama.

Pasal 80
Sengketa yang pada saat Undang-undang ini mulai berlaku sudah diputus dan
putusannya telah memperoleh kekuataan hukum tetap, pelaksanaannya dilakukan
berdasarkan Undang-undang ini.



























40

BAB XI
KETENTUAN PENUTUP


Pasal 81
Pada saat Undang-undang ini mulai berlaku, ketentuan mengenai arbitrase
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 615 sampai dengan Pasal 651 Reglemen Acara
Perdata (Reglement of de Rechtsvodering, Staatsblad 1847:52) dan Pasal 77
Reglement Indonesia Yang Diperbaharui (Het Herziene Indonesisch Reglement,
Staatsblad 1941:44) dan Pasal 705 Reglement Acara Untuk Daerah Luar Jawa dan
Madura (Rechtsreglement Buitengewesten, Staatsblad 1927:227), dinyatakan tidak
berlaku.

Pasal 82
Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang
mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan
penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

















41

BAB XII
KOMPETENSI ARBITRASE DAN KONFLIK YURISDIKSI


Berdasarkan UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, di Indonesia
disamping Pengadilan Negeri, masih ada lingkungan peradilan lain yang secara resmi
diakui oleh negara Indonesia, yaitu Pengadilan Agama, Pengadilan TUN, Pengadilan Niaga
dan Pengadilan Militer. Masing-masing lingkungan peradilan mempunyai kompetensi atau
kewenangan masing-masing, baik kompetensi absolute dan kompetensi relative.

Kompetensi absolute adalah kewenangan badan peradilan dalam memeriksa dan
mengadili mengenai perkara tertentu secara mutlak tidak dapat diperiksa oleh badan
peradilan lainnya, baik dalam lingkungan peradilan yang sama maupun berbeda.
Kompetensi relative adalah kewenangan dari badan peradilan sejenis dalam memeriksa
dan mengadili suatu perkara atas dasar letak atau lokasi wilayah hukumnya.

A. Kompetensi Arbitrase

Arbitrase diatur secara khusus dalam UU Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase
dan Alternative Penyelesaian Sengketa. Dalarn ketentuan Pasal 3 UU Nomor 30 Tahun
1999 tentang Arbitrase dan Alternative Penyelesaian Sengketa disebutkan bahwa
Pengadilan Negeri tidak berwenang untuk mengadili sengketa para pihak yang telah
terikat dalam perjanjian arbitrase. Ini berarti bahwa setiap pejanjian yang
mencantumkan klausula arbitrase atas suatu perjanjian arbitrase yang dibuat oleh para
pihak menghapuskan kewenangan dari Pengadilan Negeri untuk menyelesaikan setiap
sengketa yang timbul dari perjanjian yang memuat klausula arbitrase tersebut.

Adapun objek pemeriksaan Arbitrase disebutkan dalarn Pasal 5 ayat (1) UU Nomor
30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternative Penyelesaian Sengketa, yaitu:
Sengketa yang dapat diselesaikan meialui arbitrase hanya sengketa di bidang
perdagangan dan mengenai hak yang menurut hukum dan peraturan perundang-
undangan dikuasai sepenuhnya oleh pibak yang bersengketa.

Penjelasannya tidak memberikan apa yang termasuk dalam bidang perdagangan,
akan tetapi jika dihubungkan dengan Pasal 66, termasuk ruang lingkup perdagangan
adalah kegiatan-kegiatan antara lain di bidang perniagaan, perbankan, keuangan,
penanaman modal, industri, dan HAKI.


B. Konflik Yurisdiksi

Kofflik yudsdiksi atau sengketa kewenangan mengadili dapat terjadi terutama
antara badan peradilan umum dengan arbitrase dalam memeriksa dan memutuskan
perkara yang mengandung klausula arbitrase.
42

Dalam Pasal 3 UU No.30 Tahun 1999, disebabkan bahw Pengadilan Negeri tidak
berwenang untuk mengadili sengketa para pihak yang telah terikat dalam perjanjian
arbitrase. Pasal 11 ayat (1) mempertegas yurisdiksi absolute arbitrase, dengan lebih
menegaskan bahwa adanya suatu perjanjian arbitrase tertulis meniadakan hak dari
para pihak yang telah terkait dalam perjanjian arbitrase untuk mengajukan
penyelesaian sengketa ke Pengadilan Negeri. Klausul perjanjian arbitrase semestinya
berlaku asas pacta sunt servanda, yaitu berlaku mengikat sebagai undang-undang di
antara para pibak yang terlibat dalam perjanjian tersebut (Pasal 1338 KUHPerdata).
Penegasan tersebut dapat dijumpai pula dalam yurisprudentsi Mahkamah Agung
Nomor 3179/K/Pdt/I984 yang menyatakan bahwa dalam hal ada klausula arbitrase,
Pengadilan Negeri tidak berwenang memeriksa dan mengadili gugatan baik dalam
konpensi maupun rekonpensi.
Akan tetapi, kalau dilihat dalam Pasal 11 ayat (2) UU Nomor 30 tahun 1999 yang
menyatakan Pengadilan Negeri wajib menolak dan tidak akan campur tangan di dalam
suatu penyelesaian sengketa yang telah ditetapkan melalui arbitase, kecuali dalam hal-
hal tertentu yang ditetapkan dalam Undang-undang ini", membuka kemungkinan
adanya intervensi pengadilan terhadap suatu perkara yang mengandung klausul
arbitrase. Misalnya dalam hal berkaitan dengan pelaksanaan putusan arbitrase
sebagaimana diatur dalam Bab VI, mulai dari Pasal 59 sampai 69 UU Nomor 30 Tahun
1999. Demikian pula dalam pengangkatan arbiter kalau para pihak tidak mencapai
kesepakatan, Ketua PN dapat melakukan intervensi, yaitu dengan menunjuk arbiter
atau majelis arbiter Pasal 13 ayat (1) dan (2) UU Nomor 30 Tahun 1999.
Mesidpun demikian, memang ada salah satu aliran yang menyatakan bahwa
suatu klausul arbitrase adalah bukan ketertiban umum, artinya klausul arbitrase tidak
mutlak menyingkirkan kewenangan pegadilan untuk memeriksa dan mengadili perkara
yang timbul dari perjanjian. Aliran ini secara tersirat dapat dilihat dalam putusan
Hooge Raad (HR) tanggal 8 Januari 1925, yang intinya bahwa kalusul arbitrase tidak
bersifat absolute, klausul tersebut harus dipertahankan para pihak jika timbul sengketa.
Namun, apabila salah satu pihak mengajukan sengketa ke Pengadilan, pengadilan tetap
berwenang untuk memeriksa dan mengadili sengketa tersebut, selama pihak tergugat
tidak mengajukan eksepsi terhadap adanya klausula arbitrase tersebut.




43

BAB XIII
MEDIASI DAN NEGOSIASI


A. MEDIASI

I. Pengertian dan Karakteristik Mediasi

Mediasi berasal dari bahasa Inggris mendiation" atau penengahan, yaitu
penyelesaian sengketa yang melibatkan pihak ketiga sebagai penengah atau
penyelesaian sengketa secara menengahi. Christopher W Moore mengemukakan bahwa
mediasi adalah intervensi dalam sebuah sengketa oleh pihak ketiga yang bisa diterima
pihak yang besengketa, bukan merupakan bagian dari kedua belah pihak dan bersifat
netral Pihak Ketiga ini tidak mempunyai wewenang untuk mengambil keputusan. Dia
bertugas untuk membantu pihak-pibak yang bertikai agar secara sukarela mau
mencapai kata sepakat yang diterima oleh masing-masing pihak dalam sebuah
persengketaan.

Dalam Blacks law dictionary, disebutkan sebagai berikut mediation is private,
informal dispute resolution process in which a neutral third person, the mediator,
helps, disputing parties to reach an agreement. The Mediator has no power to impose a
decision on the parties.

Mediasi ini sebenernya diatur dalam pasal 6 UU Nomor 30 Tahun 1999 tentang
Arbitrase dan Alternatif penyelesaian Sengketa, berturut-turut dari ayat 1 sampai 9
menyebutkan :
(1) Sengketa atau beda pendapat perdata dapat diselesaikan oleh para pihak melalui
alternatif penyelesaian sengketa yang didasarkan pada itikad baik dengan
mengesampingkan penyelesaian secara litigasi di Pengadilan Negeri.
(2) Penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui alternatif sengketa
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselesaikan dalam pertemuan langsung
oleh para pihak dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari dan hasilnya
dituangkan dalam suatu kesepakatan tertulis.
(3) Dalam hal sengketa atau pendapat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak
dapat diselesaikan, maka atas kesepakatan tertulis para pihak, sengketa atau beda
pendapat diselesaikan melalui bantuan seorang atau lebih penasehat ahli maupun
melalui seorang mediator.
(4) Apabila para pihak tersebut dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari
dengan bantuan seorang atau lebih penasehat ahli maupun melalui seorang
mediator tidak berhasil mencapai kata sepakat, atau mediator tidak berhasil
mempertemukan kedua belah pihak, maka para pihak dapat menghubungi sebuah
lembaga arbitrase atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa untuk
menunjukan seorang mediator.
(5) Setelah penunjukan mediator lembaga arbitrase atau alternatif penyelesaian
sengketa, dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari usaha mediasi harus sudah
dapat dimulai.
44

(6) Usaha penyelesaian sengketa melalui sebagaimana dinaksud dalam ayat (5)
dengan memegang teguh kerahasiaan, dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh)
hari harus tercapai kesepakatan dalam bentuk tertulis yang ditandatangani oleh
semua pihak yang terkait.
(7) Kesepakatan penyelesaian sengketa atau beda pendapat secara tertulis adalah
final dan mengikat para pihak untuk dilaksanakan dengan itikad baik serta wajib
didaftarkan di Pengadilan Negeri dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari
sejak penandatanganan.
(8) Kesepakatan penyelesaian sengketa atau beda pendapat sebagaimana dimaksud
dalam ayat (7) wajib selesal dilaksanakan dalam waktu paling lama 30 (tiga
puluh) hari sejak pendaftaran.
(9) Apabila usaha perdamaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sampai dengan
ayat (6) tidak dapat dicapai, maka para pibak berdasarkan kesepakatan secara
tertulis dapat mengajukan usaha penyelesaiannya melatui lembaga arbitrase atau
arbitrase ad-hoc.

Mediator dalam hal ini dapat dibedakan 2 macam, yaitu mediator yang ditunjuk
secara bersama oleh para pihak dan mediator yang dftunjuk oleh lembaga arbitrase
atau lembaga Atemative penyelesaian sengketa yang ditunjuk oleh para pihak.

Pada dasarnya mediasi mempunyai karakteristik sebagai berikut:

1. Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa di luar pengadilan berdasarkan
pengadilan
2. Mediator terlibat dan cliterima oleh para pibak yang bersengketa di dalarn
perundingan.
3. Mediator bertugas membantu para pihak yang bersengketa untuk mencari
penyelesaian
4. Mediator bersifat pasif dan hanya berfungsi sebagai fasilitator dan penyambung
lidah dari para pihak yang bersengketa, sehingga tidak tedibat dalam menyusun dan
merumuskan rancangan atau proposal kesepakatan
5. Mediator tidak mempunyai kewenangan membuat keputusan selama perundingan
beriangsung
6. Tujuan mediasi adalah untuk mencapai kesepakatan yang dapat diterima pihak-
pihak yang bersengketa guna mengakhiri sengketa.

II. Syarat-syarat Keberhasilan Mediasi

Erman Rajaguguk mengemukakan bahwa mediasi akan berhasil bila memilild hal-
hal sebagai berikut :
1. Para pihak ingin melanjutkan hubungan bisnis mereka
2. Para pihak mempunyai kepentingan yang sama untuk menyelesaikan sebuah
sengketa mereka dengan cepat
3. Litigasi dianggap oleh para pihak akan memakan waktu yang panjang, mahal dan
akan menimbulkan pandangan buruk bagi kedua belah pihak karena adanya
publikasi dan lagi belum tentu menang
45

4. Walaupun para pihak dalam keadaan emosi, proses mediasi dianggap mereka
sebagai tempat bertemu dan menyampaikan kepentingan masing-masing.
5. Waktu adalah inti dari penyelesaian
6. Mediator yang baik akan mampu niembuat kedua belah phak berkomunikasi,
Mediasi tidak berhasil bila salah satu pihak mengajukan qugatan atau klaim
sembrono dan pihak lain merasa ia akan menang melalui litigasi. Begitu juga.
mediasi akan gagal bila salah satu pihak menunda-nunda penyelesaian sengketa
selama mungkin, salah satu pihak atau kedua belah pihak memang beritikad buruk,

III. Prosedur Mediasi

Garry Goodpaster merincikan prosedur mediasi sebagai berikut :
1. Tahap Pertama : Menciptakan Forum
a. Mengadakan pertemuan bersama
b. Pernyataan pembukaan mediator
c. Membimbing para pihak
d. Menetapkan aturan dasar perundingan
e. Mengembangkan hubungan dan kepercayaan di antara para pihak
f. Pernyataan-pernyataan para pihak
g. Para pihak mengadakan atau melakukan hearing dengan mediator
h. Mengembangkan, menyampaikan dan melakukan klarifikasi informasi
i. Menciptakan interaksi model dan disiplin

2. Tahap Kedua: Pengumpulan dan pembagian informasi
Dalam tahap ini, mediator akan mengadakan pertemuan-pertemuan (caucus-
caucus) secara terpisah, guna :
a. Mengembangkan informasi lanjutan
b. Melakukan eksplorasi yang mendalam mengenai keinginan atau kepentingan
para pihak
c. Membantu para pihak dalam menaksir dan menilai kepentingan
d. Membimbing para pihak dalam tawar menawar penyelesaian masalah

3. Tahap Ketiga: Penyelesaian Masalah
Dalam tahap ketiga, mediator dapat mengadakan pertemuan-pertemuan
bersama atau terpisah sebagai kelanjutan dan pertemuan sebelumnya, dengan
maksud untuk :
a. Menyusun dan menetapkan agenda
b. Merumuskan kegiatan-kegiatan penyelesian masalah
c. Meningkatkan kerjasama
d. Melakukan identifikasi dan klarifikasi masalah
e. Mengadakan piiihan penyelesaian
f. Membantu melakukan pilihan penaksiran
g. Membantu para pihak dalam menaksir, menilai, dan membuat prioritas
kepentingan-kepentingan mereka


46

4. Tahap Keempat: Pengambilan Keputusan
a. mengadakan caucus-caucus dan pertemuan-pertemuan bersama
b. Melokasikan peraturan, mengambil sikap dan membantu para pibak
mengevaluasi paket-paket pemecahan masalah.
c. Membantu para pihak untuk memperkecil perbedaan-perbedaan
d. Mengkonfirmasi dan mengklarifikasi perjanjian.
e. Membantu para pihak untuk membandingkan proposal penyelesaian masalah
dengan pilihan di luar perjanjian.
f. Mendorong atau mendesak para pilhak untuk menerima pemecahan masalah
g. Memikirkan formula pemecahan masalah yang win-win solution dan tidak
hilang muka.
h. Membantu para pihak melakukan mufakat dengan pemberi kuasa mereka
i. Membantu para pihak membuat pertanda perjaniian.

IV. Institusionalisasi Mediasi Dalam Sistem Peradilan

lnstitusionalisasi mediasi sebagai mekanisme penyelesaian sengketa yang integral
dalam proses peradilan diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 2
Tahun 2003 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan yang sebelumnya di dahului Surat
Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 1 Tahun 2002 tentang Penyelesaian Perkara
di Luar Pengadilan Dengan Cara Mediasi.


B. Negosiasi

I. Pengertian dan Karakteristik
Pada dasarnya negosiasi adalah fact of life atau keseharian. Setap orang melakukan
negosiasi untuk mendapatkan apa yang diinginkan dari orang lain. Negosiasi berasal
dari bahasa Inggris negotiation artinya perundingan. Dalam bahasa sehari-hari
negosiasi sepadan dengan istlah berunding, bermusyawarah atau bermufakat. Orang
yang mengadakan perundingan disebut negosiator.

Garry Goadpaster mengemukakan, bahwa negosiasi adalah suatu proses untuk
mencapai kesepakatan dengan pihak lain, suatu proses interaksi dan komunikasi yang
dinamis dan beraneka ragam, dapat lembut dan bernuansa sebagaimana manusia itu
sendiri. Fisher & Ulry memberi batasan negosiasi sebagai proses komunikasi 2 arah
yang dirancang untuk mencapai kesepakatan pada saat kedua belah pihak memiliki
berbagai kepentingan yang sama maupun berbeda, tanpa melibatkan pihak ketiga
sebagai penengah.
Pada umumnya negosiasi digunakan dalam sengketa yang tidak terlalu pelik,
dimana para pihak masih beritikad baik dan bersedia untuk duduk bersama
memecahkan masalah.

II. Teknik-teknik Negosiasi
Beberapa bentuk teknik negosiasi yang dikenal selama ini antara lain:
1. Teknik Negosiasi kompetitif
47

a. Diterapkan untuk negosiasi yang bersifat alot
b. Mengajukan permintaan yang tinggi di awal negosiasi
c. Menjaga tuntutan tetap tinggi sepanjang proses
d. Konsesi yang diberikan sangat langka atau terbatas
e. Perunding lawan dianggap musuh
f. Menggunakan cara-cara yang berlebihan untuk menekan pihak lawan
g. Negosiator fidak memiliki data-data yang baik dan akurat

2. Teknik Negosiasi Kooperatif
a. Mengganggap negosiator lawan sebagai mitra bukan musuh
b. Para pihak saling menjajaki kepentingan, nilai-nilai bersama dan mau
bekerjasama
c. Tujuan negosiator adalah penyelesaian sengketa yang adil berdasar analisis
yang objektf dan atas fakta hukum yang jelas

3. Teknik negosiasi Lunak (soft)
a. Menempatkan pentingnya hubungan baik antar pihak
b. Tujuannya untuk mencapai kesepakatan
c. Memberi konsesi untuk menjaga hubungan baik
d. Mempercayai perunding
e. Mudah mengubah posisi
f. Mengalah untuk mencapai kesepakatan
g. Beresiko manakala menghadapi perunding keras

4. Teknik Negosiasi Keras (Hard)
a. Negosiator lawan dianggap sebagai musuh
b. Tujuannya adalah kemenangan
c. Menuntut konsesi sebagai prasyarat dari hubungan baik
d. Keras terhadap orang maupun masalah
e. Tidak percaya terhadap perunding lawan
f. Menuntut perotehan sepihak sebagai harga kesepakatan (win lose)
g. Memperkuat posisi dan menerapkan tekanan

5. Teknik Megosiasi InterestBased
a. Sebagai jalan tengah antara soft and bard
b. Mempunyai 4 komponen Dasar yaitu people, interest, option/solution and
objective criteria.

III. Syarat-syarat Keberhasilan Negosiasi

Negosiasi yang baik dan efektif adalah negosiasi yang didasarkan pada data real
yang akurat dan factual, sehingga setiap argument dan kehendaknya tidak tedepas dari
fakta yang ada. Disamping itu juga harus ditopang dengan negosiator yang handal dan
professional, yang memahami tujuan negoasiasi dilakukan dan mempunyai daya
kemampuan optimal dalam menemukan solusi terhadap masalah yang dihadapi dan
terhindar dari kemungkinan dead lock.
48

Adapun syarat-syarat negosiator antara lain:
1. Berkepribadian mantap dan penuh percaya diri
2. Tidak sombong
3. Bersikap simpatik, ramah dan sopan
4. Disiplin dan memiliki prinsip
5. Komunikatif
6. Wawasan dan pengetahuan luas
7. Cepat membaca situasi dan jeli menangkap peluang
8. Ulet, sabar dan tidak mudah putus asa.
9. Akomodatif dan kompromis
10. Berpikir positif dan optimis
11. Dapat mengendalikan emosi
12. Berpikir jauh ke depan
13. Memiliki selera humor

Erman Rajaguguk mengatakan suksesnya negosiasi Setidaknya ada 4 petunjuk,
yaitu:
1. Jangan mengusulkan sesuatu, yang jika hal itu diusulkan kepada kita, kita sendiri
tidak akan menerimanya.
2. Dalam negosiasi tidak satupun pihak ingin dipaksa.
3. Dalam negosiasi kita memerlukan kesabaran
4. Kita tidak pernah tahu apa yang pihak lawan akan lakukan, atau bagaimana kita
menjawabnya. Tetap santai, lentur, optimistic dan percaya diri suatu waktu akan
ada titik temu.

IV. Prosedur Negosiasi

1. Tahap Persiapan
a. Konsolidasi dengan tim/kolega
b. Mempersiapkan agenda/materi
c. Menetapkan tujuan dan target negosiasi
d. Membuat dan memenuhi janji
e. Mempelajari siapa pihak lawan
f. Checking seluruh persiapan
g. Apakah negosiasi diperlukan?
h. Bagaimana kualitas hubungan diantara para pihak?

2. Tahap Berlangsungnya Negosiasi
a. Statemen pembuka dari negosiator
b. Menetapkan persoalan
c. Menetapkan posisi awal
d. Memberikan argumentasi
e. Menyelidiki kemungkinan respon lawan
f. Pemberian konsesi
g. Menetapkan proposal
h. Menetapkan dan menandatangani persetujuan
49


3. Tahap Akhir
a. Mengambil kesimpulan kesepakatan
b. Kesimpulan yang dibuat dalam ketentuan tertulis
c. Menindaklanjuti kesepakatan
d. Membentuk tim monitoring/evaluasi pelaksanaan

V. Kendala Para Negosiator
Ulry & Fisher mengemukakan minimal ada 5 kendala utama yang sering dihadapi
negosiator, antara lain:
1. Reaksi Kita (your reaction)
Reaksi emosional kita menghadapi serangan pihak lawan terdapat kecenderungan
untuk membalas serangan.
2. Emosi mereka (their emotion)
Kendala terletak pada pihak lawan, yaitu emosi yang bersifat negative, sikap non
kooperatif curiga, takut kalah, marah dll.
3. Posisi Mereka (their position)
Manakala pihak lawan bertahan pada posisi terhadap tawaran kita, seringkah kita
tergoda serta merta menolaknya. Sikap demikan dapat mengakibatkan pihak lawan
semakin dalam lagi mempertahankan posisinya.
4. Ketdakpuasan Mereka (their satisfactions)
Tujuan interest based dengan model pemecahan masalah bersama tidak hanya
bertujuan mencapai kesepakatan, tetapi juga kesepakatan yang memenuhi
kepuasan bersama.
5. Kekuatan Mereka (their powers)
Seringkali pihak lawan melihat negosiasi sebagai suatu proses yang bertujuan
mencipatakan win lose, sehingga mereka berkepenfingan mengaiahkan kita.






50