Anda di halaman 1dari 18

Ersa Nurul Yarizsa | 1513072

1
PERCOBAAN V
DIAGRAM TERNER

I. JUDUL PERCOBAAN
Diagram terner

II. PRINSIP PERCOBAAN
Melakukan ekstraksi dari dua komponen yang berbentuk cair. Komponen cair yang
digunakan ialah aquadest, asam asetat serta CHCl
3
. Dalam hal ini, metode yang digunakan
ialah metode titrasi. Metode titrasi dilakukan dengan menambahkan zat ketiga yang mampu
menambahkan, atau mengurangi campuran dari kedua larutan tersebut. Selain itu, metode
titrasi juga digunakan untuk menentukan volume titran pada titik akhir titrasi, yang biasanya
ditandai dengan perubahan warna pada akhirnya.

III. TUJUAN PERCOBAAN
1. Membuat kurva kelarutan suatu zat cair yang terdapat dalam campuran dua cairan tertentu.
2. Mengetahui jumlah derajat kebebasan untuk system tiga komponen.

IV. TEORI PERCOBAAN
1. Sistem dan Komponen
Sistem adalah suatu zat yang dapat diisolasikan dari zat zat lain dalam suatu bejana
inert, yang menjadi pusat perhatian dalam mengamati pengaruh perubahan temperature,
tekanan serta konsentrasi zat tersebut. Sedangkan komponen adalah yang ada dalam sistem,
seperti zat terlarut dan pelarut dalam senyawa biner. Banyaknya komponen dalam sistem C
adalah jumlah minimum spesies bebas yang diperlukan untuk menentukan komposisi
semua fase yang ada dalam sistem. Definisi ini mudah diberlakukan jika spesies yang ada
dalam sistem tidak bereaksi sehingga kita dapat menghitung banyaknya.
2. Kelarutan
Kelarutan suatu zat adalah suatu konsentrasi maksimum yang dicapai suatu zat dalam
suatu larutan. Partikel-partikel zat terlarut baik berupa molekul maupun berupa ion selalu
berada dalam keadaan terhidrasi (terikat oleh molekul-molekul pelarut air). Makin banyak
partikel zat terlarut makin banyak pula molekul air yang diperlukan untuk menghindari


Ersa Nurul Yarizsa | 1513072
2
partikel zat terlarut itu. Setiap pelarut memiliki batas maksimum dalam melarutkan zat.
Untuk larutan yang terdiri dari dua jenis larutan elektrolit maka dapat membentuk endapan
(dalam keadaan jenuh). Pemisahan suatu larutan dalamcampuran dapat dilakukan dengan
berbagai cara salah satunya dengan ekstraksi. Ektraksi merupakan suatu metoda yang
didasarkan pada perbedaan kelarutan komponen campuran pada pelarut tertentu dimana
kedua pelarut tidak saling melarutkan.
Kelarutan suatu zat adalah suatu konsentrasi maksimum yang dicapai suatu zat dalam
suatu larutan. Partikel-partikel zat terlarut baik berupa molekul maupun berupa ion selalu
berada dalam keadaan terhidrasi (terikat oleh molekul-molekul pelarut air). Makin banyak
partikel zat terlarut makin banyak pula molekul air yang diperlukan untuk menghindari
partikel zat terlarut itu. Setiap pelarut memiliki batas maksimum dalam melarutkan zat.
Untuk larutan yang terdiri dari dua jenis larutan elektrolit maka dapat membentuk endapan
(dalam keadaan jenuh).
Jika kedalam sejumlah air kita tambahkan terus menerus zat terlarut lama kelamaan
tercapai suatu keadaan dimana semua molekul air akan terpakai untuk menghidrasi partikel
yang dilarutkan sehingga larutan itu tidak mampu lagi menerima zat yang akan
dtambahkan. Kita katakan larutan itu mencapai keadaan jenuh. Zat cair yang hanya
sebagian larut dalam cairan lainya, dapat dinaikan kelarutannya dengan menambahkan
suatu zat cair yang berlainan dengan kedua zat cair yang lebih dahulu dicairkan. Bila zat
cair yang ketiga ini hanya larut dalam suatu zat cair yang terdahulu, maka biasanya
kelarutan dari kedua zat cair yang terdahulu itu akan menjadi lebih kecil. Tetapi bila zat
cair yang ketiga itu larut dalam kedua zat cair yang terdahulu, maka kelarutan dari kedua
zat cair yang terdahulu akan menjadi besar. Gejala ini dapat terlihat pada sistem kloroform-
asam asetat-air. Bila asam asetat ditambahkan kedalam suatu campuran heterogen
kloroform dan air pada suhu tertentu, kelarutan kloroform dalam air akan bertambah,
sehingga pada suatu ketika akan menjadi homogen. Jumlah asam asetat yang harus
ditambahkan untuk mencapai titik homogen (pada suhu tertentu tadi), tergantung dari
komposisi campuran kloroform dalam air.
3. Fasa
Fasa merupakan keadaan materi yang seragam di seluruh bagiannya, tidak hanya dalam
komposisi kimianya tetapi juga dalam keadaan fisiknya. Contohnya: dalam sistem terdapat
fasa padat, fasa cair dan fasa gas. Banyaknya fasa dalam sistem diberi notasi P. Gas atau


Ersa Nurul Yarizsa | 1513072
3
campuran gas adalah fasa tunggal ; Kristal adalah fasa tunggal dan dua cairan yang dapat
bercampur secara total membentuk fasa tunggal. Campuran dua logam adalah sistem dua
fasa (P=2), jika logam logam itu tidak dapat bercampur, tetapi merupakan sistem satu
fasa (P=1), jika logam-logamnya dapat dicampur.
Bila suatu campuran cair,misalnya komponen A&B dicampurkan tidak salingmelarutkan
sehingga membentuk dua fasa. Maka untuk memisahkannya digunakan pelarutyang
kelarutannya sama dengan salah satu komponen dalam campuran tersebut.
Sehinggaketiganya membentuk satu fasa.Sistem tiga komponen aturan fase menghasilkan
F= 5 P. Bila terdapat satu fase,maka F = 4, oleh karenanya penggambaran secara
geometrik yang lengkap memerlukan ruang berdimensi empat. Bila tekanan tetap, ruang
tiga dimensi dapat digunakan. Bila suhu maupuntekanan tetap, maka F = 3 P dan sistem
dapat digambarkan dalam ruang dua dimensi: P = 1,F = 2. Bivarian, P = 2, F = 1. Unvarian;
P = 3, F = 0, invarian.Suatu sistem tiga komponen mempunyai dua pengubah komposisi
yang bebas, sebutsaja X2 dan X3. Jadi komposisi suatu sistem tiga komponen dapat
dialurkan dalam koordinatcartes dengan X2 pada salah satu sumbunya, dan X3 pada sumbu
yang lain yang dibatasi olehgaris X2+X3=1. karena X itu tidak simetris terhadap ketiga
komponen, biasanya, komposisidialurkan pada suatu segitiga sama sisi dengan tiap-tiap
sudutnya menggambarkan suatukomponen murni, bagi suatu segitiga sama sisi, jumlah
jarak dari seberang titik didalamsegitiga ketiga sisinya sama dengan tinggi segitiga
tersebut. Jarak antara setiap sudut ketengah-tengah sisi yang berhadapan dibagi 100 bagian
sesuai dengan komposisi dalam persen.Untuk memperoleh suatu titik tertentu dengan
mengukur jarak terdekat ketiga sisi segitiga.
Pada perhitungan dalam keseluruhan termodinamika kimia, J.W Gibbs menarik
kesimpulan tentang aturan fasa yang dikenal dengan Hukum Fasa Gibbs, jumlah terkecil
perubahan bebas yang diperlukan untuk menyatakan keadaan suatu sistem dengan tepat
pada kesetimbangan diungkapkan sebagai:
F = C P + 2 ..........................................................................(1)
dimana,
F = jumlah derajat kebebasan
C = jumlah komponen
P = jumlah fasa


Ersa Nurul Yarizsa | 1513072
4
Kesetimbangan dipengaruhi oleh suhu, tekanan, dan komposisi sistem. Jumlah derajat
kebebasan untuk sistem tiga komponen pada suhu dan tekanan tetap dapat dinyatakan
sebagai :
V = 3 P ...............................................................................(2)

Jika dalam sistem hanya terdapat satu fasa maka V = 2 berarti untuk menyatakan suatu
sistem dengan tepat perlu ditentukan konsentrasi dari dua komponennya. Sedangkan bila
dalam sistem terdapat dua fasa dalam kesetimbangan, V = 1; berarti hanya satu komponen
yang harus ditentukan konsentrasinya dan konsentrasi komponen yang lain sudah tertentu
berdasarkan diagram fasa untuk diagram fasa untuk sistem tersebut. Oleh karena itu sistem
tiga komponen pada suhu dan tekanan tetap punya derajat kebebasan maksimum = 2
(jumlah fasa minimum = 1), maka diagram fasa sistem ini dapat digambarkan dalam satu
bidang datar berupa suatu segitiga samasisi yang menggambarkan suatu komponen murni
disebut diagram terner.
4. Sistem Zat Cairan Tiga Komponen
Cara terbaik untuk menggambarkan sistem tiga komponen adalah dengan mendapatkan
suatu kertas grafik segitiga. Konsentrasi dapat dinyatakan dengan istilah persen berat atau
fraksi mol. Fraksi mol tiga komponen dari sistem terner (C = 3) sesuai dengan: XA + XB +
XC = 1. Diagram fasa yang digambarkan segitiga sama sisi, menjamin dipenuhinya sifat ini
secara otomatis, sebab jumlah jarak ke sebuah titik di dalam segitiga sama sisi yang diukur
sejajar denga sisi-sisinya sama dengan panjang sisi segitiga itu, yang dapat diambil sebagai
satuan panjang. Puncak puncak dihubungi ke titik tengah dari sisi yang berlawanan yaitu
: Aa, Bb, Cc. Titik nol mulai dari titik a,b,c dan A,B,C menyatakan komposisi adalah 100%
atau 1, jadi garis Aa, Bb, Cc merupakan konsentrasi A,B,C merupakan konsentrasi A,B,C.
Jumlah fasa dalam sistem zat cair tiga komponen bergantung pada daya saing larut
antara zat cair tersebut dan suhu praktikum. Apabila pada suhu dan tekanan yang tetap
digunakan kurva bimodal untuk menentukan kelarutan C dalam berbagai komposisi A dan
B. Pada daerah di dalam kurva merupakan daerah dua fasa, sedangkan yang di luarnya
adalah daerah satu fasa. Untuk menentukan kurva bimodal yaitu dengan menambahkan zat
B ke dalam campuran A dan C. Penambahan zat C kedalam campuran A dan B akan
memperbesar atau memperkecil daya saling larut A dan B.


Ersa Nurul Yarizsa | 1513072
5
Pada praktikum ini hanya akan ditinjau sistem yang memperbesar daya saling larut A
dan B. Dalam hal ini A dan C serta B dan C saling larut sempurna. Kelarutan cairan C
dalam berbagai komposisi campuran A dan B pada suhu tetap dapat digambarkan pada
suatu diagram terner. Prinsip menggambarkan komposisi dalam diagram terner dapat
dilihat pada gambar di bawah ini:








Fraksi mol tiga komponen dari sistem terner (C = 3) sesuai dengan X
A
+ X
B
+ Xc = 1.
Titik pada sisi AB : campuran biner A dan B
BC : campuran biner B dan C
AC : campuran biner A dan C
Diagram fase yang digambarkan sebagai segitiga sama sisi menjamin dipenuhinya sifat
ini secara otomatis sebab jumlah jarak ke sebuah titik didalam segitiga sama sisi yang
diukur sejajar dengan sisi-sisinya sama dengan panjang sisi segitiga itu yang dapat diambil
sebagai satuan panjang.
Sistem 3 komponen sebenarnya banyak memungkinkan yakni pada percobaan ini
digunakan sistem 3 komponen yang terdiri atas zat cair yang sebagian tercampur.
Sistem 3 zat cair yang sebagian dibagi menjadi :
Tipe 1 : Pembentukan sepasang zat cair bercampur sebagian
Tipe 2 : Pembentukan 2 pasang zat cair bercampur sebagian
Tipe 3 : Pembentukan 3 pasang zat cair bercampur sebagian
Dalam percobaan yang dilakukan menggunakan tipe 1.
Tipe 1 : Pembentukan sepasang zat cair yang bercampur sebagian.



X
B

X
A

X
C

C
A
B


Ersa Nurul Yarizsa | 1513072
6









Penambahan A pada campuran B dan C akan memperbesar daya larut keduanya. C
adalah susunan keseluruhan antara B dan C. Pada penambahan A, susunan keseluruhan
bergerak sepanjang CA. Susunan masing-masing lapisan dinyatakan dengan garis
kesetimbangan
2 2 1 1
, dan seterusnya.
Pada titik b
4
kedua lapisan hilang dan terbentuk lapisan tunggal. Hilangnya kedua
lapisan tidak bersama-sama.
Kedua lapisan dapat menjadi identik hanya pada satu susunan yaitu d, titik D disebut
titik isotermal kritis atau plait point.
Semua campuran yang terdapat di daerah a D b selalu terbagi kedalam dua lapisan.
Grafik, a D b disebut kurva binodal. Hanya plait point tidak berimpit dengan maksimal
grafik binodal.
5. Titrasi
Titrasi merupakan salah satu teknik analisis kimia kuantitatif yang dipergunakan untuk
menentukan konsentrasi suatu larutan tertentu, dimana penentuannya menggunakan suatu
larutan standar yang sudah diketahui konsentrasinya secara tepat. Pengukuran volume
dalam titrasi memegang peranan yang amat penting sehingga ada kalanya sampai saat ini
banyak orang yang menyebut titrasi dengan nama analisis volumetric.
Terdapat dua macam larutan standar yaitu larutan standar primer dan larutan standar
sekunder. Larutan standar dalam titrasi memegang peranan yang amat penting, hal ini
disebabkan larutan ini telah diketahui konsentrasi secara pasti (artinya konsentrasi larutan
standar adalah tepat dan akurat). Larutan standar primer adalah larutan standar yang
konsentrasinya diperoleh dengan cara menimbang. Larutan standar sekunder adalah
B
A
C
a
1
a
2
a
3
a
4
b
1
b
2
b
3
b
4
D
Diagram : 3 Cairan dengan 1 Binodal
Kalau B bercampur sebagian, maka
campuran antara B dan C pada
temperatur dan tekanan tertentu
membentuk dua lapisan
I larutan C dalam B
II larutan B dalam C


Ersa Nurul Yarizsa | 1513072
7
larutan yang konsentrasinya diperoleh dengan cara mentitrasi dengan larutan standar
primer.
Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan adanya berubahan warna indicator disebut
sebagai titik akhir titrasi. Titrasi yang bagus memiliki titik equivalent yang berdekatan
dengan titik akhir titrasi dan kalau bisa sama. Titik akhir dilihat karena adanya perubahan :
a. Warna, yaitu : larutan tidak berwarna menjadi berwarna tertentu atau larutan berwarna
berubah menjadi warna lain.
b. Kekeruhan atau endapan, larutan yang jernih menjadi keruh atau sebaliknya.
6. Analisis Bahan
a. Aquadest
Sifat fisik aquades, cairan tak warna. Sifat kimia aquadest, densitas 1,00 (4
0
C), titik
leleh 0
0
C, titik didih 100
0
C. Air terurai dengan sangat lemah menjadi H
3
O
+
dan OH
-
lewat swaionisasi, banyak digunakan sebagai pelarut polar karena sifatnya yang polar.
b. CH
3
COOH
Mempunyai BM 60,053 gr/gmol, titik leleh pada 1 atm 16,6
o
C, titik didih pada 1 atm
117,9
o
C.
c. Indicator PP
Indikator Phenol ptalein dibuat dengan cara kondensasi anhidrida ftalein (asam ftalat)
dengan fenol. Trayek pH 8,2 10,0 dengan warna asam yang tidak berwarna dan
berwarna merah muda dalam larutan basa. Warna larutan indicator pada lingkungan
asam (tidak berwarna), basa (merah), netral (tidak berwarna).
d. H
2
C
2
O
4

Sifat fisik kristal putih, sifat kimia massa molar 90,03 g/mol; densitas 1,90 g/cm
3
;
kelarutan dalam air 90 g dm
-3
(20
o
C).
e. KOH
Merupakan kristal padat berwarna putih, basa kuat, larut dalam air, memiliki BM
56,10564 gr/mol, titik lebur pada 1 atm (
o
C) 360, titik didih pada 1 atm (
o
C) 1320,
densitas 2,044 gr/cm
3
, kelarutan dalam air (25
o
C) 1100 g/L.
f. CHCl
3

Kloroform adalah nama umum untuk triklorometana (CHCl
3
). Kloroform dikenal
karena sering digunakan sebagai bahan pembius, akan tetapi penggunaanya sudah
dilarang karena telah terbukti dapat merusak liver danginjal. Kloroform kebanyakan


Ersa Nurul Yarizsa | 1513072
8
digunakan sebagai pelarut nonpolar di laboratorium. Wujudnya pada suhu ruang
berupa cairan bening, mudah menguap, dan berbau khas.

V. ALAT dan BAHAN
1. Alat
a. Labu erlenmeyer 250 ml
b. Corong pemisah
c. Buret
d. Beaker glass
e. Statif dan klem
f. Corong kaca
g. Botol semprot
h. Picnometer
i. Gelas ukur
2. Bahan
a. Asam asetat 100 ml
b. Aquadest
c. CHCl
3
100 ml
d. KOH
e. Asam oksalat

VI. PROSEDUR KERJA
1. Tentukan berat jenis CHCl
3
, CH
3
COOH dan H
2
O.
2. Buat 100 ml larutan 17%, 22%, 27% CH
3
COOH dalam 100 ml air.
3. Pipet 25 ml dari larutan ini masing-masing konsentrasi kemudian di titer dengan CHCl
3

diburet. Selama di titrasi pada setiap penambahan harus dikocok secara kuat. Titrasu
diakhiri bila pada permukaan timbul kabut.
4. Buat larutan 17%, 22%, 27% CH
3
COOH dalam 25 ml CHCl
3
kemudian di titrasi dengan
H
2
O sampai timbul kabut.
5. Standarisasi KOH dengan asam oksalat 0,05 N dalam 20 ml, kemudian tambahkan PP dan
titrasi dengan menggunakan KOH hingga merah muda seulas.
6. Buatlah 20% CHCl
3
, 30% CH
3
COOH dan 50% H
2
O, ketiga larutan tersebut masukan ke
dalam corong pemisah dan kocok selama 20 menit hingga terbentuk 2 lapisan.
7. Kemudian pisahkan kedua lapisan tersebut. Hitung berat jenis masing-masing lapisan,
kemudian ambil 2 ml lapisan bawah untuk di titrasi menggunakan KOH hingga merah
muda seulas.
8. Ambil lapisan atas 5 ml kemudian di titrasi dengan KOH hingga merah muda seulas.



Ersa Nurul Yarizsa | 1513072
9
VII. DATA PENGAMATAN
1. Perhitungan Berat Jenis


a. Asam Asetat
BJ =

= 0,9872
b. H
2
O
BJ =

= 0,9844
c. CHCl
3

BJ =

= 1,4408
2. Pembuatan Asam Asetat dalam H
2
O


a. Larutan Asam Asetat 17% dalam H
2
O
CH
3
COOH =
0,17 25
0,9872
= 4,3 ml
H
2
O =
0,83 25
0,9844
= 21,1 ml
b. Larutan Asam Asetat 22% dalam H
2
O
CH
3
COOH =
0,22 25
0,9872
= 5,6 ml
H
2
O =
0,78 25
0,9844
= 19,8 ml
c. Larutan Asam Asetat 27% dalam H
2
O
CH
3
COOH =
0,27 25
0,9872
= 6,8 ml
H
2
O =
0,73 25
0,9844
= 18,5 ml
3. Titrasi Dengan Chloroform
Konsentrasi (ml) Vol. Asam Asetat (ml) Vol. H
2
O (ml) Vol. Chloroform (ml)
17% 4,3 21,1 1,2
22% 5,6 19,8 3,4
27% 6,8 18,5 5,8

BJ =


CH
3
COOH =
persen asam asetat



H
2
O =
persen H2O
H2O




Ersa Nurul Yarizsa | 1513072
10
4. Menghitung % Berat dari masing-masing konsentrasi
Berat CH
3
COOH = Vol. Asam Asetat x BJ Asam Asetat
Berat CHCl
3
= Vol. Chloroform x BJ Chloroform
Berat H
2
O = Vol. H
2
O x BJ H
2
O
% Berat CH
3
COOH =
Berat Asam Asetat
Berat Total
x 100%
% Berat CHCl
3
=
Berat CHCl3
Berat Total
x 100%
% Berat H
2
O =
Berat H2O
Berat Total
x 100%

a. Konsentrasi 17%
Berat CH
3
COOH = 4,3 x 0,9872 = 4,245 gram
Berat CHCl
3
= 1,2 x 1,4408 = 1,729 gram
Berat H
2
O = 21,1 x 0,9844 = 20,771 gram +
Berat Total = 26,745 gram
% Berat CH
3
COOH =
4,245
26,745
x 100% = 15,872%
% Berat CHCl
3
=
1,729
26,745
x 100% = 6,465%
% Berat H
2
O =
20,771
26,745
x 100% = 77,663%
b. Konsentrasi 22%
Berat CH
3
COOH = 5,6 x 0,9872 = 5,528 4,899 gram
Berat CHCl
3
= 3,4 x 1,4408 = 4,899 gram
Berat H
2
O = 19,8 x 0,9844 = 19,491 gram +
Berat Total = 29,918 gram
% Berat CH
3
COOH =
5,528
29,918
x 100% = 18,477%
% Berat CHCl
3
=
4,899
29,918
x 100% = 16,375%
% Berat H
2
O =
19,491
29,918
x 100% = 65,148%
c. Konsentrasi 27%
Berat CH
3
COOH = 6,8 x 0,9872 = 6,713 gram
Berat CHCl
3
= 5,8 x 1,4408 = 8,357 gram
Berat H
2
O = 18,3 x 0,9844 = 18,211 gram +
Berat Total = 73,312 gram


Ersa Nurul Yarizsa | 1513072
11
% Berat CH
3
COOH =
6,713
73,312
x 100% = 9,157%
% Berat CHCl
3
=
8,357
73,312
x 100% = 11,399%
% Berat H
2
O =
18,211
73,312
x 100% = 24,840%
5. Pembuatan Asam Asetat dalam Chloroform





a. Larutan Asam Asetat 17% dalam H
2
O
CH
3
COOH =
0,17 25
0,9872
= 4,305 ml
CHCl
3
=
0,83 25
1,4408
= 14,402 ml
b. Larutan Asam Asetat 22% dalam H
2
O
CH
3
COOH =
0,22 25
0,9872
= 5,571 ml
CHCl
3
=
0,78 25
1,4408
= 13,534 ml
c. Larutan Asam Asetat 27% dalam H
2
O
CH
3
COOH =
0,27 25
0,9872
= 6,838 ml
CHCl
3
=
0,73 25
1,4408
= 12,667 ml
6. Titrasi dengan H
2
O
Konsentrasi (ml) Vol. Asam Asetat (ml) Vol. H
2
O (ml) Vol. Chloroform (ml)
17% 4,305 2 14,402
22% 5,571 5,3 13,534
27% 6,838 9,8 12,667

7. Menghitung % Berat dari masing-masing konsentrasi
Berat CH
3
COOH = Vol. Asam Asetat x BJ Asam Asetat
Berat CHCl
3
= Vol. Chloroform x BJ Chloroform
Berat H
2
O = Vol. H
2
O x BJ H
2
O
H
2
O =
persen H2O
H2O


CH
3
COOH =
persen asam asetat





Ersa Nurul Yarizsa | 1513072
12
% Berat CH
3
COOH =
Berat Asam Asetat
Berat Total
x 100%
% Berat CHCl
3
=
Berat CHCl3
Berat Total
x 100%
% Berat H
2
O =
Berat H2O
Berat Total
x 100%

a. Konsentrasi 17%
Berat CH
3
COOH = 4,305 x 0,9872 = 4,250 gram
Berat CHCl
3
= 14,402 x 1,4408 = 20,750 gram
Berat H
2
O = 2 x 0,9844 = 3,969 gram +
Berat Total = 28,969 gram
% Berat CH
3
COOH =
4,250
28,969
x 100% = 14,671%
% Berat CHCl
3
=
20,750
28,969
x 100% = 71,628%
% Berat H
2
O =
3,969
28,969
x 100% = 13,701%
b. Konsentrasi 22%
Berat CH
3
COOH = 5,571 x 0,9872 = 4,500 gram
Berat CHCl
3
= 13,534 x 1,4408 = 19,500 gram
Berat H
2
O = 5,3 x 0,9844 = 5,217 gram +
Berat Total = 30,217 gram
% Berat CH
3
COOH =
5,500
30,217
x 100% = 18,202%
% Berat CHCl
3
=
19,500
30,217
x 100% = 64,533%
% Berat H
2
O =
5,217
30,217
x 100% = 17,265%
c. Konsentrasi 27%
Berat CH
3
COOH = 6,838 x 0,9872 = 6,750 gram
Berat CHCl
3
= 12,667 x 1,4408 = 18,251 gram
Berat H
2
O = 9,8 x 0,9844 = 9,647 gram +
Berat Total = 34,648 gram
% Berat CH
3
COOH =
6,750
34,648
x 100% = 19,482%
% Berat CHCl
3
=
18,251
34,648
x 100% = 52,675%


Ersa Nurul Yarizsa | 1513072
13
% Berat H
2
O =
9,647
34,648
x 100% = 27,843%
8. Standarisasi KOH dengan Asam Asetat
a. Pembuatan Asam Oksalat
N
1
x V
1
= N
2
x V
2
0,05 x 20 = 0,1 x V
2

V
2
=

= 10 ml
b. Normalitas KOH
Hasil titrasi = 0,2 ml
N
1
x V
1
= N
2
x V
2
0,05 x 5 = N
2
x 0,2
N
2
=

= 1,25 ml
9. Mencari Berat Lapisan Atas dan Lapisan Bawah
a. Komposisi Lapisan Atas
Asam Asetat =

= 30,4 ml
Chloroform =

= 13,9 ml
H
2
O =

= 55,7 ml
b. Hasil
Lapisan Atas Lapisan Bawah
Pikno Kosong 23,67 23,67
Pikno + Isi 47,51 37,23
Volume 91 9

10. Mencari BJ Lapisan Atas dan Lapisan Bawah


a. Lapisan Bawah
BJ =

= 1,507 gr/ml
b. Lapisan Atas
BJ =

= 0,9536 gr/ml
BJ =




Ersa Nurul Yarizsa | 1513072
14
11. Titrasi Lapisan Bawah dan Lapisan Atas dengan KOH
a. Lapisan Atas = 0,2 ml
b. Lapisan Bawah = 0,05 ml
12. Menghitung Berat Lapisan Atas dan Lapisan Bawah
a. Lapisan Atas
V
1
. N
1
= V
2
. N
2
Berat Asetat =


Berat La = V la x BJ la

V
1
. N
1
= V
2
. N
2
20 x 0,05 = 91 x N
2
N
2 =

= 0,011 N
Berat Asetat =

= 0,060 gr
Berat La = 91 x 0,9536 = 86,778 gr
b. Lapisan Bawah
V
1
. N
1
= V
2
. N
2
Berat Asetat =


Berat Lb = V lb x BJ lb

V
1
. N
1
= V
2
. N
2
20 x 0,05 = 9 x N
2
N
2 =

= 0,111 N
Berat Asetat =

= 0,06 gr
Berat La = 9 x 0,9536 = 13,563 gr

VIII. PEMBAHASAN
Pada percobaan diagram terner kali ini larutan yang digunakan adalah CH
3
COOH, CHCl
3
,
dan H
2
O. Mula-mula hitung berat jenis masing-masing larutan menggunakan piknometer,
timbang pikno dalam keadaan kosong, lalu timbang pikno dengan isi masing-masing larutan
sampai penuh dan ditutup. Berat jenis masing-masing larutan dapat dihitung dengan cara:


Ersa Nurul Yarizsa | 1513072
15
pikno isi-pikno kosong / volume. Setelah itu buat larutan CH
3
COOH dalam air dengan 17%,
22%, dan 27% CH
3
COOH, hitung volume CH
3
COOH dan air dengan rumus:
Misal: 17% CH
3
COOH = 0,17 x vol. CH
3
COOH / BJ CH
3
COOH
83% air = 0,83 x vol. air / BJ air
Lalu titrasi masing-masing larutan tersebut dengan CHCl
3
dalam buret
,
selama dititrasi
pada setiap penambahan harus dikocok secara kuat. Titrasi diakhiri bila pada permukaan
timbul kabut/gelembung/keruh. Catat volume CHCl
3
yang terpakai untuk titrasi.
Hal yang sama dilakukan untuk pembuatan larutan CH
3
COOH dalam CHCl
3
dengan 17%,
22%, 27% CH
3
COOH, lalu titrasi masing-masing larutan tersebut dengan air dalam buret
sampai timbul kabut/gelembung/keruh. Catat volume air yang terpakai untuk titrasi.
Setelah itu, buat larutan CH
3
COOH, CHCl
3
, dan H
2
O dengan perbandingan 30 gram : 20
gram : 50 gram. Hitung volume (ml) masing-masing larutan dengan menggunakan rumus:
gram larutan / BJ larutan. Kemudian masukkan larutan tersebut ke dalam corong pemisah, lalu
kocok selama 20 menit sampai terbentuk lapisan atas dan lapisan bawah dari larutan dalam
corong pemisah tersebut. Kemudian siapkan beaker glass, lalu masukkan dan pisahkan
masing-masing lapisan ke dalam beaker glass. Setelah itu, tuang lapisan atas dan lapisan
bawah ke dalam piknometer untuk ditimbang beratnya secara bergantian. Setelah ditimbang,
masukkan ke dalam gelas ukur untuk dihitung volumenya.
Setelah itu ambil 5 ml lapisan bawah, masukkan ke dalam erlenmeyer lalu beri PP
sebanyak 3 tetes, kemudian titrasi dengan KOH dalam buret. Titirasi diakhiri sampai larutan
berwarna merah muda seulas. Hal yang sama dilakukan juga untuk mentitrasi lapisan atas.
Catat volume KOH yang terpakai untuk mentitrasi larutan tersebut.
Kemudian langkah selanjutnya adalah standarisasi KOH. Mula-mula encerkan Asam
oksalat dalam 100 ml aquadest. Hitung volume asam oksalat yang dibutuhkan untuk
pengenceran dengan rumus:
V
1
. N
1
= V
2
. N
2

20 . 0,05 = V
2
. 0,1
V
2
= 10 ml
Dengan V
1
,N
1
adalah konsentrasi dan volume asam oksalat yang diketahui dan V
2
,N
2
adalah konsentrasi dan volume asam oksalat yang diinginkan.
Setalah dihitung, masukkan 10 ml asam oksalat ke dalam beaker glass lalu tambahkan
aquadest sebanyak 10 ml (20 ml larutan-10 ml asam oksalat). Setelah larutan jadi, pipet 5 ml


Ersa Nurul Yarizsa | 1513072
16
larutan asam oksalat tersebut + pipet PP 3 tetes lalu dititrasi dengan KOH. Titrasi diakhiri
sampai larutan berwarna merah muda seulas. Pada percobaan kali ini, volume KOH yang
terpakai untuk standarisasi KOH adalah 0,2 ml.

IX. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan terlihat bahwa semakin banyak volume asam
asetat dan air yang digunakan semakin banyak maka kloroform yang digunakan semakin
sedikit. Larutan yang mengandung dua komponen yang saling larut sempurna akan
membentuk daerah berfase tunggal, sedangkan untuk komponen yang tidak saling larut
sempurna akan membentuk daerah fase dua. Semakin kecil perbandingan volume asam asetat
maka konsentrasinya makin kecil.

X. TUGAS
1. Buatlah kurva sistem 3 komponen dalam suatu segitiga sama sisi yang puncaknya mewakili
zat-zat murni.
(Terlampir)
2. Apa yang dimaksud dengan tie line, plat point, dan kurva binoidal?
a. Tie line : garis yang menghubungkan antara titik puncak dengan titik garis tepi.
b. Plate point : garis yang berfungsi sebagai garis pembatas supaya bisa menemukan
nilai titik tengah dari kurva bionidal.
c. Kurva binoidal : kedua ujung kurva memiliki frekuensi maksimum, dan bisa
menentukan titik pusat.
3. Gambarkan kurva binoidal untuk jenis-jenis sistem 3 komponen yang diketahui!
Kurva binaidal system 3 komponen










Ersa Nurul Yarizsa | 1513072
17














4. Percobaan yang dilakukan diatas termasuk jenis yang mana?
Percobaan yang dilakukan diatas termasuk jenis gambar yang kedua, karena bentuk
kurvanya sesuai dengan apa yang kita telah ujikan dalam percobaan.

















Ersa Nurul Yarizsa | 1513072
18
XI. DAFTAR PUSTAKA
Dogra. 2008. Kimia Fisik Dan Soal-Soal. Erlangga: Bandung.
Jr, R.A Day dan A. L. Underwood. 2001. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. Jakarta:
Erlangga.
Depkes. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Serbamurni.blogspot.com/2012/06/llaporan-diagram-terner.html