Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura dapat terjadi oleh banyak hal
diantaranya adanya bendungan seperti pada dekompensasi kordis, penyakit ginjal,
tumor mediastinum, ataupun akibat proses keradangan seperti tuberculosis dan
pneumonia. Hambatan reabsorbsi cairan tersebut mengakibatkan penumpukan cairan
di rongga pleura yang disebut efusi pleura. Efusi pleura tentu mengganggu fungsi
pernapasan sehingga perlu penatalaksanaan yang baik. Pasien dengan efusi pleura yang
telah diberikan tata laksana baik diharapkan dapat sembuh dan pulih kembali fungsi
pernapasannya, namun karena efusi pleura sebagian besar merupakan akibat dari
penyakit lainnya yang menghambat reabsorbsi cairan dari rongga pleura, maka
pemulihannya menjadi lebih sulit. Karena hal tersebut, masih banyak penderita dengan
efusi pleura yang telah di tatalaksana namun tidak menunjukkan hasil yang
memuaskan.
Efusi pleura merupakan manifestasi klinik yang dapat dijumpai pada sekitar 50-
60% penderita keganasan pleura primer. Sementara 95% kasus mesotelioma
(keganasan pleura primer) dapat disertai efusi pleura dan sekitar 50% penderita kanker
payudara akhirnya akan mengalami efusi pleura.
Kejadian efusi pleura yang cukup tinggi apalagi pada penderita keganasan jika
tidak ditatalaksana dengan baik maka akan menurunkan kualitas hidup penderitanya
dan semakin memberatkan kondisi penderita. Paru-paru adalah bagian dari sistem
pernapasan yang sangat penting, gangguan pada organ ini seperti adanya efusi pleura
dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan bahkan dapat mempengaruhi kerja
sistem kardiovaskuler yang dapat berakhir pada kematian.
Perbaikan kondisi pasien dengan efusi pleura memerlukan penatalaksanaan yang
tepat oleh petugas kesehatan termasuk perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan di
rumah sakit. Untuk itu maka perawat perlu mempelajari tentang konsep efusi pleura
dan penatalaksanaannya serta asuhan keperawatan pada pasien dengan efusi pleura.
Maka dalam makalah ini akan dibahas bagaimana asuhan keperawatan pada pasien
dengan efusi pleura.
1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimanakah konsep penyakit efusi pleura?
b. Bagaimanakah proses asuhan keperawatan pada pasien dengan efusi pleura?
1.3 Tujuan
a. Tujuan Umum
Mengetahui bagaimana proses asuhan keperawatan pada pasien dengan efusi
pleura
b. Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi konsep efusi pleura meliputi definisi, etiologi, manifestasi
klinis dan patofisiologi
2. Mengidentifikasi proses keperawatan pada efusi pleura meliputi pengkajian,
analisa data dan diagnosa, intervensi dan evaluasi.

1.4 Manfaat
a. Mahasiswa memahami konsep dan proses keperawatan pada klien dengan
gangguan efusi pleura sehingga menunjang pembelajaran mata kuliah respirasi.
b. Mahasiswa mengetahui proses keperawatan yang benar sehingga dapat menjadi
bekal dalam persiapan praktik di rumah sakit


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Efusi pleura adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleura, proses penyakit
primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. Efusi dapat
berupa cairan jernih, yang mungkin merupakan transudat, eksudat, atau dapat berupa
darah atau pus (Baughman C Diane, 2000).
Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak
diantara permukaan visceral dan parietal, proses penyakit primer jarang terjadi tetapi
biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Secara normal, ruang
pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas
yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C
Suzanne, 2002).
Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga
pleura. (Price C Sylvia, 1995)
2.2 Etiologi
Kelainan pada pleura hampir selalu merupakan kelainan sekunder. Kelainan
primer pada pleura hanya ada dua macam yaitu infeksi kuman primer intrapleura dan
tumor primer pleura. Timbulnya efusi pleura dapat disebabkan oleh kondisi-kondisi :
1. Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura, karena adanya bendungan seperti
pada dekompensasi kordis, penyakit ginjal, tumor mediatinum, sindroma meig
(tumor ovarium) dan sindroma vena kava superior.
2. Peningkatan produksi cairan berlebih, karena radang (tuberculosis, pneumonia,
virus), bronkiektasis, abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura,
karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. Di Indonesia 80%
karena tuberculosis.
Secara patologis, efusi pleura disebabkan oleh keadaan-keadaan:
1. Meningkatnya tekanan hidrostatik (misalnya akibat gagal jantung)
2. Menurunnya tekanan osmotic koloid plasma (misalnya hipoproteinemia)
3. Meningkatnya permeabilitas kapiler (misalnya infeksi bakteri)
4. Berkurangnya absorbsi limfatik
Penyebab efusi pleura dilihat dari jenis cairan yang dihasilkannya adalah:
1. Transudat
Gagal jantung, sirosis hepatis dan ascites, hipoproteinemia pada nefrotik
sindrom, obstruksi vena cava superior, pasca bedah abdomen, dialisis peritoneal,
dan atelektasis akut.
2. Eksudat
a. Infeksi (pneumonia, TBC, virus, jamur, parasit, dan abses)
b. Neoplasma (Ca. paru-paru, metastasis, limfoma, dan leukemia)


Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses penyakit neoplastik,
tromboembolik, kardiovaskuler, dan infeksi. Ini disebabkan oleh sedikitnya satu dari
empat mekanisme dasar :
a. Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik
b. Penurunan tekanan osmotic koloid darah
c. Peningkatan tekanan negative intrapleural
d. Adanya inflamasi atau neoplastik pleura

Perbedaan cairan transudat dan eksudat (Somantri, 2008: 99)
Indikator Transudat Eksudat
1. Warna
2. Bekuan

3. Berat Jenis
4. Leukosit
5. Eritrosit
6. Hitung jenis
7. Protein Total
8. LDH
9. Glukosa
10. Fibrinogen
11. Amilase
12. Bakteri
1. Kuning pucat dan
jernih
2. (-)

3. <1018
4. <1000 /uL
5. sedikit
6. MN (limfosit/mesotel)
7. <50% serum
8. <60% serum
9. =plasma
10. 0,3-4%
11. (-)
12. (-)
1. Jernih, keruh, purulen, dan hemoragik

2. (-)/(+)

3. >1018
4. Bervariasi, >1000/uL
5. Biasanya banyak
6. Terutama PMN
7. >50% serum
8. >60% serum
9. = / < plasma
10. 4-6 % atau lebih
11. >50% serum
12. (-) / (+)


2.3 Patofisiologi
Pada umumnya, efusi terjadi karena penyakit pleura hampir mirip plasma
(eksudat) sedangkan yang timbul pada pleura normal merupakan ultrafiltrat plasma
(transudat). Efusi dalam hubungannya dengan pleuritis disebabkan oleh peningkatan
permeabilitas pleura parietalis sekunder (efek samping dari) peradangan atau
keterlibatan neoplasma. Contoh bagi efusi pleura dengan pleura normal adalah payah
jantung kongestif. Pasien dengan pleura yang awalnya normal pun dapat mengalami
efusi pleura ketika terjadi payah/gagal jantung kongestif. Ketika jantung tidak dapat
memompakan darahnya secara maksimal ke seluruh tubuh terjadilah peningkatan
tekanan hidrostatik pada kapiler yang selanjutnya menyebabkan hipertensi kapiler
sistemik. Cairan yang berada dalam pembuluh darah pada area tersebut selanjutnya
menjadi bocor dan masuk ke dalam pleura. Peningkatan pembentukan cairan dari
pleura parietalis karena hipertensi kapiler sistemik dan penurunan reabsorbsi
menyebabkan pengumpulan abnormal cairan pleura.
Adanya hipoalbuminemia juga akan mengakibatkan terjadinya efusi pleura.
Peningkatan pembentukan cairan pleura dan berkurangnya reabsorbsi. Hal tersebut
berdasarkan adanya penurunan pada tekanan onkotik intravaskuler (tekanan osmotic
yang dilakukan oleh protein).
Luas efusi pleura yang mengancam volume paru-paru, sebagian akan tergantung
atas kekuatan relatif paru-paru dan dinding dada. Dalam batas pernapasan normal,
dinding dada cenderung rekoil ke luar sementara paru-paru cenderung untuk rekoil ke
dalam (paru-paru tidak dapat berkembang secara maksimal melainkan cenderung
untuk mengempis).
2.4 Manifestasi Klinis
Biasanya manifestasi klinisnya adalah yang disebabkan penyakit dasar.
Pneumonia akan menyebabkan demam, menggigil, dan nyeri dada pleuritis, sementara
efusi malignan dapat mengakibatkan dipsnea dan batuk. Ukuran efusi akan
menentukan keparahan gejala. Efusi pleura yang luas akan menyebabkan sesak nafas.
Area yang mengandung cairan atau menunjukkan bunyi napas minimal atau tidak sama
sekali menghasilkan bunyi datar, pekak saat diperkusi. Egofoni akan terdengar di atas
area efusi. Deviasi trakea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika penumpukan
cairan pleural yang signifikan. Bila terjadi efusi pleural kecil sampai sedang, dipsnea
mungkin saja tidak terdapat. Berikut tanda dan gejala:
1. Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan, setelah
cairan cukup banyak rasa sakit hilang. Bila cairan banyak, penderita akan sesak
napas.
2. Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil, dan nyeri dada
pleuritis (pneumonia), panas tinggi (kokus), subfebril (tuberkulosisi), banyak
keringat, batuk, banyak riak.
3. Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan
cairan pleural yang signifikan.
4. Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan, karena
cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam
pernapasan, fremitus melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati daerah
pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung
(garis Ellis Damoiseu).
5. Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian
atas garis Ellis Domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz, yaitu daerah pekak karena
cairan mendorong mediastinum kesisi lain, pada auskultasi daerah ini didapati
vesikuler melemah dengan ronki.
6. Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura.
Keberadaan cairan dikuatkan dengan rontgen dada, ultrasound, pemeriksaan fisik,
dan torakosentesis. Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri, pewarnaan Gram,
basil tahan asam (untuk tuberkulosis), hitung sel darah merah dan putih, pemeriksaan
kimiawi (glukosa,amylase, laktat dehidrogenase, protein), analisis sitologi untuk sel-
sel malignan, dan pH. Biopsi pleura mungkin juga dilakukan.
2.5 Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar, untuk mencegah
penumpukan kembali cairan, dan untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta dipsnea.
Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (misal gagal jantung kongestif,
pneumonia, serosis)
Torakosintesis dilakukan untuk membuang cairan, untuk mendapatkan specimen
guna keperluan analisis, dan untuk menghilangkan dipsnea. Namun bila penyebab
dasar adalah malignansi, efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari atau minggu.
Torakosentesis berulang menyebabkan nyeri, penipisan protein dan elektrolit, dan
kadang pneumotoraks. Dalam keadaan ini pasien mungkin diatasi dengan pemasangan
selang dada dengan drainase yang dihubungkan ke system drainase water-seal atau
pengisapan untuk mengevaluasi ruang pleura dan pengembangan paru.
Agens yang secara kimiawi mengiritasi, seperti tetrasiklin, dimasukkan ke dalam
ruang pleura untuk mengobliterasi ruang pleural dan mencegah akumulasi cairan lebih
lanjut. Setelah agens dimasukkan, selang dada diklem dan pasien dibantu untuk
mengambil berbagai posisi untuk memastikan penyebaran agens secara merata dan
untuk memaksimalkan kontak agens dengan permukaan pleural. Selang dilepaskan
klemnya sesuai yang diresepkan, dan drainase dada biasanya diteruskan beberapa hari
lebih lama untuk mencegah reakumulasi cairan dan untuk meningkatkan pembentukan
adhesi antara pleural viseralis dan parietalis.
Modalitas penyakit lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk radiasi dinding
dada, bedah pleurektomi, dan terapi diuretic. Jika cairan pleura merupakan eksudat,
posedur diagnostic yang lebih jauh dilakukan untuk menetukan penyebabnya.
Pengobatan untuk penyebab primer kemudian dilakukan.
2.6 Pemeriksaan Penunjang
1. Foto Thorax
Permukaan cairan yang terdapat dalam rongga pleura akan membentuk bayangan
seperti kurva, dengan permukaan daerah lateral lebih tinggi daripada bagian
medial. Bila permukaannya horisontal dari lateral ke medial, pasti terdapat udara
dalam rongga tersebut yang dapat berasal dari luar atau dari dalam paru-paru
sendiri. Kadang-kadang sulit membedakan antara bayangan cairan bebas dalam
pleura dengan adhesi karena radang (pleuritis). Disini perlu pemeriksaan foto dada
dengan posisi lateral dekubitus.
2. CT SCAN
Pada kasus kanker paru Ct Scan bermanfaat untuk mendeteksi adanya tumor paru
juga sekaligus digunakan dalam penentuan staging klinik yang meliputi :
a. menentukan adanya tumor dan ukurannya
b. mendeteksi adanya invasi tumor ke dinding thorax, bronkus, mediatinum dan
pembuluh darah besar
c. mendeteksi adanya efusi pleura
Disamping diagnosa kanker paru CT Scan juga dapat digunakan untuk menuntun
tindakan trans thoracal needle aspiration (TTNA), evaluasi pengobatan,
mendeteksi kekambuhan dan CT planing radiasi.
2.8 Asuhan Keperawatan Efusi Pleura
A. Pengkajian
1. Anamnesis :
Pada umumnya tidak bergejala . Makin banyak cairan yang tertimbun makin
cepat dan jelas timbulnya keluhan karena menyebabkan sesak, disertai demam
sub febris pada kondisi tuberkulosis.
2. Kebutuhan istrahat dan aktifitas
Klien mengeluh lemah, napas pendek dengan usaha sekuat-kuatnya, kesulitan
tidur, demam pada sore atau malam hari disertai keringat banyak.
Ditemukan adanya tachicardia, tachypnea/dyspnea dengan usaha bernapas
sekuat-kuatnya, perubahan kesadaran (pada tahap lanjut), kelemahan otot, nyeri
dan stiffness (kekakuan).
3. Kebutuhan integritas pribadi
Klien mengungkapkan faktor-faktor stress yang panjang, dan kebutuhan akan
pertolongan dan harapan
Dapat ditemukan perilaku denial (terutama pada tahap awal) dan kecemasan
4. Kebutuhan Kenyamanan/ Nyeri
Klien melaporkan adanya nyeri dada karena batuk
Dapat ditemukan perilaku melindungi bagian yang nyeri, distraksi, dan kurang
istrahat/kelelahan
5. Kebutuhan Respirasi
Klien melaporkan batuk, baik produktif maupun non produktif, napas pendek,
nyeri dada
Dapat ditemukan peningkatan respiratory rate karena penyakit lanjut dan
fibrosis paru (parenkim) dan pleura, serta ekspansi dada yang asimetris,
fremitus vokal menurun, pekak pada perkusi suara nafas menurun atau tidak
terdengan pada sisi yang mengalami efusi pleura. Bunyi nafas tubular disertai
pectoriloguy yang lembut dapat ditemukan pada bagian paru yang terjadi lesi.
Crackles dapat ditemukan di apex paru pada ekspirasi pendek setelah batuk.
Karakteristik sputum : hijau/purulen, mucoid kuning atau bercak darah
Dapat pula ditemukan deviasi trakea
6. Kebutuhan Keamanan
Klien mengungkapkan keadaaan imunosupresi misalnya kanker, AIDS ,
demam sub febris
Dapat ditemukan keadaan demam akut sub febris
7. Kebutuhan Interaksi sosial
Klien mengungkapkan perasaan terisolasi karena penyakit yang diderita,
perubahan pola peran.

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik didapatkan perkusi pekak, fremitus vokal menurun atau
asimetris bahkan menghilang, bising napas juga menurun atau hilang. Gerakan pernapasan
menurun atau asimetris, lenih rendah terjadi pada sisi paru yang mengalami efusi pleura.
Pemeriksaan fisik sangat terbantu oleh pemeriksaan radiologi yang memperlihatkan jelas
frenikus kostalis yang menghilang dan gambaran batas cairan melengkung.

Pemeriksaan Diagnostik
Kultur sputum : dapat ditemukan positif Mycobacterium tuberculosis
Apusan darah asam Zehl-Neelsen : positif basil tahan asam
Skin test : positif bereaksi (area indurasi 10 mm, lebih besar, terjadi selama 48 72
jam setelah injeksi.
Foto thorax : pada tuberkulosis ditemukan infiltrasi lesi pada lapang atas paru, deposit
kalsium pada lesi primer, dan adanya batas sinus frenikus kostalis yang menghilang,
serta gambaran batas cairan yang melengkung.
Biakan kultur : positif Mycobacterium tuberculosis
Biopsi paru : adanya giant cells berindikasi nekrosi (tuberkulosis)
Elektrolit : tergantung lokasi dan derajat penyakit, hyponatremia disebabkan oleh
retensi air yang abnormal pada tuberkulosis lanjut yang kronis
ABGs : Abnormal tergantung lokasi dan kerusakan residu paru-paru
Fungsi paru : Penurunan vital capacity, paningkatan dead space, peningkatan rasio
residual udara ke total lung capacity, dan penyakit pleural pada tuberkulosis kronik
tahap lanjut.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan pembersihan jalan nafas berhubungan dengan kelemahan dan
upaya batuk buruk
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan
permukaan paru dan atalektasis
3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh ditandai dengan kelemahan, dispnea
dan anoreksia

C. Intervensi
1. Ketidak efektifan pembersihan jalan nafas berhubungan dengan kelemahan dan
upaya batuk buruk.
NOC :
Menunjukkan pembersihan jalan nafas yang efektif dan dibuktikan dengan status
pernafasan, pertukaran gas dan ventilasi yang tidak berbahaya, ditandai dengan :
Mempunyai jalan nafas yang paten
Mengeluarkan sekresi secara efektif.
Mempunyai irama dan frekuansi pernafasan dalam rentang yang normal.
Mempunyai fungsi paru dalam batas normal.
Menunjukkan pertukaran gas yang adekuat, ditandai dengan :
Mudah bernafas
Tidak ada kegelisahan, sianosis dan dispnea.
Saturasi O2 dalam batas normal
Rontgen toraks dalam rentang yang diharapkan.
NIC :
Kaji dan dokumentasikan :
Keefektifan pemberian oksigen dan perawatan yang lain.
Keefektifan pengobatan.
Kecenderungan pada gas darah arteri.
Auskultasi dada anterior dan posterior untukmengetahui adanya penurunan atau
tidak adanya ventilasi dan adanya bunyi hambatan.
Penghisapan jalan nafas
Tentukan kebutuhan penghisapan oral/trakeal.
Pantau status oksigen dan status hemodinamik serta irama jantung sebelum,
selama dan setelah penghisapan.
Pertahankan keadekuatan hidrasi untuk menurunan viskositas sekresi.
Jelaskan penggunaan peralatan pendukung denganbenar, misalnya oksigen, alat
penghisap lender.
Informasikan kepada pasien dan keluarga bahwa merokok merupakan kegiatan yang
dilarang di dalam ruang perawatan.
Instruksikan kepada pasien tentang batuk dan teknik nafas dalam untuk
memudahkan keluarnya sekresi.
Rundingkan dengan ahliterapi oernafasan sesuai dengan kebutuhan.
Berikan oksigen yang telah dihumidifikasi.
Beritahu dokter tentang hasil analisa gas darah yang abnormal.
Bantu dalam pemberian aerosol. Nebulizer dan perawatan paru lain sesuai dengan
kebijakan dan protocol institusi.
Anjurkan aktivitas fisik untuk meningkatkan pergerakan sekresi.
Jika pasien tidak mampu untuk melakukan ambulasi, letak posisi tidur pasien
diubah tiap 2 jam.
Informasikan kepada pasien sebelum memulai prosedur untuk menurunkan
kecemasan dan peningkatan kontrol diri.

2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan
permukaan paru dan atalektasis.
NOC :
Gangguan pertukaran gas akan terkurangi yang dibuktikan dengan status pernafasan
yang tidak bermasalah.
Pertukaran gas tidak akan terganggu dibuktikan dengan indicator :
Status neurologist dalam rentang yang diharapkan.
Tidak ada dispnea saat istirahat dan aktifitas.
Tidak ada gelisah, siamosis dan keletihan
Pa O2, Pa CO2, pH arteri dan saturasi O2 dalam batas normal.
NIC :
Kaji bunyi paru, frekuensi nafas, kedalaman, usaha bernafas, produksi sputum.
Pantau saturasi O2 dengan oksimeter.
Pantau hasil analisa gas darah.
Pantau status mental ( tingkat kesadaran, gelisah, confuse)
Peningkata frekuanse pemantauan pada saatpasien tampak somnolen.
Observasi terhadap sianosis, terutama membrab mukosa mulut.
Jelaskan penggunaan alat bantu yang digunakan.
Ajarkan teknik bernafas dan relaksasi.
Ajarkan batuk yang efektif.
Konsultasikan dengan dokter tentang kebutuhan pemeriksaan AGD dan alat Bantu
yang dianjurkan sesuai dengan perubahan kondisi pasien.
Laporkan perubahan kondisi pasien: bunyi nafas, pola nafas, hasil AGD dan efek
dari pengobatan.
Berikan obat-obat yang diresepkan.
Jelaskan kepada pasien sebelum memulai pelaksanaan prosedur, untuk menurunkan
ansietas.
Lakukan tindakan untuk menurunkan konsumsi oksigen.
Atur posisi pasien untuk memaksimalkan ventilasi dan mengurangi dispnea.

3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum.
NOC :
Mentoleransi aktifitas yang biasa dilakukan dan ditunjukkan dengan daya tahan,
penghematan energi dan aktifitas kehidupan sehari-hari.
Menunjukkan penghematan energi ditandai dengan indicator :
Menyadari keterbatasan energi.
Menyeimbangkan aktifitas dan istirahat.
Tingkat daya tahan adekuat untuk beraktifitas.
NIC :
Kaji respon emosi, sosial dan spiritual terhadap aktifitas.
Tentukan penyebab keletihan.
Pantau respon kardiorespiratori terhadap aktivitas.
Pantau asupan nutrisi untuk memastikan keadekuatan sumber energi.
Pantau pola istirahat pasien dan lamanya istirahat.
Ajarkan kepada pasien dan keluarga tentang teknik perawatan diri yang akan
meminimalkan konsumsi oksigen.
Ajarkan tentang pengaturan aktivitas dan teknik manajemen waktu untuk mencegah
kelelahan.
Hindari menjadwalkan aktivitas perawatan selama periode istirahat.
Bantu pasien untuk mengubah posisi tidur secara berkala dan ambulasi yang dapat
ditolerir.
Rencanakan aktifitas dengan pasien / keluarga yang meningkatkan kemandirian dan
daya tahan.
Bantu pasien untuk mengidentifikasi pilihan aktifitas.
Rencanakan aktivitas pada periode pasien mempunyai energi paling banyak.

4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh ditandai dengan kelemahan, dispnea
dan anoreksia.
NOC :
Menunjukkan status gizi yang baik dengan indicator adekuatnya makanan oral,
pemberian makanan lewat NGT atau nutrisi parenteral.
Mempertahankan berat badan dalam batas normal.
Nilai laboratorium albumin, transferin dan elektrolit dalam batas normal.
NIC :
Tentukan motivasi pasien untk mengubah kebiasaan makan.
Pantau nilai laboratorium khususnya transferin, albumin dan elektrolit.
Ketahui makanan kesukaan pasien.
Tentukan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan.
Timbang pasien pada interval yang tepat.
Ajarkan keluarga dan pasien tentang makanan yang bergizi dan tidak mahal.
Diskusikan dengan ahli gizi dalam memberikan asupan diet.
Rujuk ke dokter untuk menentukan penyebab perubahan nutrisi.
Ciptakan lingkungan yang menyenangkan untuk makan.
Bantu makan sesuai kebutuhan.
Identifikasi faktor-faktor yang dapat berpengaruh terhadap hilangnya nafsu makan.



BAB III
TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN
Tgl Masuk RS : Rabu, 5 Februari 2014
Jam Masuk : 13.00 WIB
Tgl Pengkajian : Jumat, 7 Februari 2014
No. RM : 11.09.68.45
Diagnosa Masuk : small cell carcinoma + efusi pleura (D)
IDENTITAS
Nama : Tn. B
Umur : 53 tahun/ 3 bulan/ 5 hari
Suku/ Bangsa : Jawa/ WNI
Agama : Khatolik
Alamat : Candi Lontar blok 41-I/ 30, Surabaya, Jawa Timur
Pekerjaan : Pedagang Asongan
Keluhan Utama : sesak napas
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien rujukan dari Puskesmas X dengan mula-mula sesak pada bulan Desember
2013. Sesak hilang timbul, disertai nyeri dada terutama saat beraktifitas dan terkadang juga
pada malam hari sesak timbul kembali, ketika pasien sesak, pasien mencoba tidur dengan
posisi duduk. Sebelum sesak pasien mengeluh batuk selama kurang lebih selama satu bulan.
Batuk tanpa disertai dahak, dan mengkonsumsi obat batuk namun tidak sembuh. Karena
sesak bertambah hebat, pasien ke Puskesmas X dan setelah di sana kurang lebih 1,5 jam
pasien dirujuk ke poli paru RS. Y karena keadaan ekonomi.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Agustus 2013 pasien operasi hernia di RS. Y (preoperasi melakukan rongent dan di
katakan ada sesuatu di paru-paru). Post operasi disuruh untuk kontrol lagi bulan Oktober
(pasien melakukan foto dada dan CT-scan). Sebelumnya tidak ada batuk darah, keringat
dingin, DM, HT, asma, alergi.

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Riwayat penyakit keturunan: keluarga mengaku tidak ada anggota keluarga yang
mengalami sakit seperti pasien. Keluarga mengatakan tidak ada riwayat keganasan, batuk
lama, batuk berdarah, keringat dingin, DM, HT, asma, alergi.
PERILAKU YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN
Pasien tidak mengkonsumsi alcohol, tetapi pasien adalah perokok berat dimana dapat
mengkonsumsi satu bungkus dalam sehari dan hal itu sudah dilakukan lebih dari 10 tahun.
Dalam sehari pasien mampu manghabiskan rokok 1 bungkus bahkan lebih. Pekerjaan pasien
sebagai pedagang asongan yang selalu keluar sejak pagi hingga malam hari. Saat pengkajian
pasien mengaku tidak mengerti bahwa pola hidupnya dapat mengakibatkan kanker paru, hal
tersebut merupakan kurangnya sumber informasi bagi pasien.
OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK
1. Tanda Tanda Vital
Kesadaran compos mentis. Tanda-tanda vital: Suhu: 37C, Nadi: 96/ menit, RR:
26x/menit, TD: 140/90 mmHg.
Sistem Pernafasan
Nafas pasien tersengal-sengal cepat, pendek, terasa lebih sesak meningkat/
bertambah setelah beraktifitas dan terdapat nyeri. Tidak ada pernafasan cuping hidung
dan tidak ada retraksi otot bantu nafas. Gerak dada kiri dan kanan simetris, terdapat
suara nafas tambahan berupa ronki di bagian dekstra apeks. Adanya secret dan batuk
produktif tetapi batuk tidak efektif. Irama nafas teratur terdapat dispnoe, pasien tidak
menggunakan alat bantu nafas, suara nafas vesikuler. Terdapat hasil torakosintesis yang
dilakukan pada pukul 11.30, dan ternyata masih terdapat cairan di kavum pleura
sebanyak 500 cc.
Sistem Kardiovaskuler
Pasien tidak mengalami nyeri dada, irama jantung regular. Pasien tidak terpasang
CVC sehingga CVP tidak terkaji. CRT normal kurang dari tiga detik, dan akral merah,
hangat dan kering.



Sistem Persyarafan
Pasien tidak merasa pusing, tidak terdapat gangguan pendengaran, dan tidak
mengalami gangguan penciuman. Istirahat pasien 8 jam/ hari. Dan pasien mengaku tidak
mengalami gangguan tidur. Namun setelah bangun tidur sering sesak nafas.
Sistem Perkemihan
Menurut pasien, alat genetalia nya dalam kondisi bersih, dan tidak mengalami
keluhan kencing. Volume urin pasien normal, dan tidak terpasang kateter.
Sistem Pencernaan
Mulut pasien tampak bersih, lembab dan tidak ada stomatitis, tidak bau mulut, gigi
sempurna (tidak terdapat karies gigi), lidah merah, kelainan tidak ada, pasien tidak
mengalami gangguan menelan. Tidak terdapat luka operasi, peristaltic 9x/ menit dengan
suara peristaltic terdengar lemah, BAB 1x sehari terakhir pada tanggal 7-2-2014 dengan
konsistensi lunak warna kecoklatan, dan bau khas, nafsu makan menurun.
Sistem Muskoleskeletal
Pergerakan sendi pasien bebas, tidak mengalami fraktur. Tidak mengalami
kelainan tulang belakang, tidak menggunakan traksi gips spalk, permukaaan kulit terlihat
mengkilat, dan tekstur halus. Rambut putih hitam bersih, tidak terdapat dekubitus. Pasien
mengalami intoleransi aktifitas dikarenakan jika terlalu banyak bergerak, akan timbul
sesak napas.
Sistem Endokrin
Leher pasien tidak terlihat membesar, saat pemeriksaan Pasien tidak mengalami
pembesaran kelenjar tiroid dan tidak mengalami pembesaran kelenjar betah bening,
Hiperglikemia (-), hipoglikemia (-).
PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL
Pasien tidak mengalami gangguan pada psikososial. Pasien dapat berinteraksi dengan
lingkungan sekitarnya dan dapat kooperatif dengan tenaga medis.
PERSONAL HYGIENE DAN KEBIASAAN
Klien mengatakan mandi sehari 2x dan keramas 1-2 kali seminggu. Kuku terlihat bersih
dan pendek, memakai arloji di tangan sebelah kanan pasien untuk melihat waktu kapan dia
harus menjalani pengobatan, membersihkan diri, jam istirahat, dan makan. Semua nya terlihat
bersih dan rapi, pakaian ganti sehari 2x, menggosok gigi 2x sehari, tidak lupa untuk
membersihkan telinga serta lubang hidung setiap hari.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Foto Thorax
Hasil torakosintesis pada tanggal 5-2-2014 sebesar 500cc
Hasil torakosintesis 7-2-2014 pukul11.30 sebesar 500cc
Foto Thorak 7-2-2014: efusi pleura dekstra
2. CT SCAN
CT Scan 20-10-2010: Ca paru dextra


ANALISIS DATA
No. Data Etiologi Masalah
1 S : Pasien mengatakan
batuk sesekali
O : sesekali batuk
tetapi tidak efektif.
Terdapat ronkhi pada
bagian apeks dextra.
sekret (+) putih
kekuningan, kental
batuk produktif, tidak
efektif
Ca paru

Massa di broncus

Respon silia berusaha
menghilangkan massa
dengan hipersekresi mukus

Secret/mucus tertahan di
saluran napas

Ronkhi (+)

Bersihan jalan napas tidak
Bersihan jalan napas tidak
efektif.
efektif
2. S : Pasien mengeluh
sesak napas saat
bernapas.
O :
RR = 26 x/ menit
Denyut nadi =
96 x/menit
Pasien bernapas
tersengal-sengal cepat,
pendek
ICS melebar dekstra
retraksi (-) otot bantu
nafas (-)
fremitus raba
perkusi redup (D)

Efusi Pleura

Akumulasi
cairan pada rongga
pleura

Ekspansi paru menurun

RR meningkat

Pola napas tidak efektif
Pola napas tidak efektif.

3.
S : Pasien mengeluh
nyeri dada sesak saat
beraktifitas yang berat.
O : Pasien tampak
lemah.
sesak nyeri saat
dipindahkan posisinya
dari duduk ke berdiri

Efusi Pleura

Ekspansi paru tidak
maksimal

Suplai oksigen menurun

RR meningkat

Distribusi oksigen ke
seluruh tubuh menurun

Terjadi metabolisme
anaerob dalam tubuh
Intoleransi aktifitas


Timbul asam laktat

Nyeri

Intoleransi aktifitas
4. S : Pasien mengeluh
nyeri pada bagian dada
(D).
P : perpindahan posisi
Q : nyeri sedang
R : dada (D)
S : 5
T : muncul saat
aktivitas
O : Nadi
Efusi Pleura

Cairan menekan dinding
pleura

Rangsangan pada
nosiseptor nyeri

Nyeri
Nyeri
96x/menit, ekspresi
wajah menyeringai/
kesakitan saat
dipindahkan posisinya
dari duduk ke berdiri.

RENCANA INTERVENSI
Hari /
tgl
Jam Diagnose
keperawatan
(tujuan, criteria
hasil)
Intervensi Rasional
7-2-14 12.00 Bersihan jalan
nafas tidak
efektif berhubun
gan dengan
adanya secret
tertahan di jalan
nafas
Tuj : 3 X 24 jam
bersihan jalan
1. Berikan posisi semi
fowler (30 45)


2. Ajarkan pasien untuk
nafas dalam dan batuk
efektif
1. Peninggian kepala tempat tidur
mempermudah fungsi
pernafasan dengan
menggunakan gravitasi, dan
untuk meningkatkan ekspansi
paru.

2. Nafas dalam membantu
memenuhi kecukupan O2 dan
memobilisasi secret untuk
nafas efektif
KH:
Secret bisa keluar
(+)
Ronkhi (-)
RR: 16-
20x/menit


3. Lakukan postural
drainage


4. Kolaborasi pemberian
ekspetoran pada pasien

5. Anjurkan pasien untuk
banyak minum, terutama
air hangat.
membersihkan jalan nafas dan
membantu mencegah
komplikasi pernafasan.

3. Memobilisasi secret untuk
membersihkan jalan nafas dan
membantu mencegah
komplikasi pernafasan.

4. Obat yang membantu untuk
mengencerkan dahak sehingga
mudah dikeluarkan.
5. Untuk mengencerkan secret
sehingga lebih mudah untuk
dikeluarkan.
7-2-14 12.10 Pola nafas tidak
efektif
berhubungan
dengan
penurunan
ekspansi paru
akibat akumulasi
cairan di kavum
1. Berikan posisi semi
fowler (30 45)

2. Kolaborasi oksigen
tambahan sesuai
dengan indikasi
3. Ajarkan pola nafas
efektif (teknik
1. Peninggian kepala tempat tidur
mempermudah fungsi
pernafasan dengan
menggunakan gravitasi, dan
untuk meningkatkan ekspansi
paru.
2. Meningkatkan supplai oksigen

plura.
Tuj : 3X 24 jam
pola nafas pasien
efektif

KH:
Sesak (-)
RR: 16-
20x/menit
Retraksi otot
bantu nafas (-)
Pernafasan
cuping hidung (-)
Pengembangan
dinding dada
simetris
Cairan pungsi
pleura (-)
nafas dalam)

4. Berikan informasi
penyebab sesak
5. Observasi TTV
terutama RR dan
nadi serta status
pernafasan(pernafa
san cuping hidung,
retraksi otot bantu
nafas,kesimetrisan
dinding dada)
6. Kolaborasi
tindakan
torakosintesis ulang
atau pemasangan
WSD
3. Mengatur irama nafas sehingga
meningkatkan suplai O2

4. Klien patuh terhadap terapi
5. Memantau pola nafas pasien






6. Mengurangi cairan pada kavum
pleura sehingga ekspansi paru
bisa maksimal dan sesak
berkurang.

Nadi: 60-
100x/menit
7-2-14 12.20 Intoleransi ak
tivitas
berhubungan
dengan
penurunan
suplai O
2
ke
jaringan
sekunder
karena
gangguan pol
a nafas tidak
efektif.
Tujuan : 3X24
jam
meningkatkan
toleransi
aktivitas
pasien


KH:
Kelelahan
1. Rancang jadwal
harian pasien
2. Anjurkan individu
untuk istirahat 1
jam setelah makan
(misalnya
berbaring dan
duduk-duduk).

3. Tingkatkan
aktivitas secara
bertahap dengan
periode istirahat
diantara dua
aktifitas misalnya
duduk dulu
sebelum berjalan
setelah tidur
4. Kolaborasi :
pemberian oksigen
setelah beraktivitas
bila terjadi
peningkatan status
pernafasan
5. Observasi respon
1. Meningkatkan tingkat
toleransi aktivitas Px.
2. Meningkatkan perfusi
jaringan dan meningkatkan
suplai oksigen



3. Evaluasi kelemahan dan
tingkat toleransi aktivitas Px.

berkurang
Toleransi
terhadap
aktivitas
meningkat
Mampu
beraktivitas
secara mandiri
individu terhadap
aktivitas (status
pernafasan dan
pucat)
1. Mencegah
aktivitas Px
yang
berlebihan
2. Meningkatk
an complain
paru-paru
dan
mencegah
kelelahan
yang
berlebihan.
7-2-14 12:20 Nyeri pada
dada yang
berhubungan
dengan
penekanan
dinding pleura
oleh cairan
1. Mengajarkan.
2. Tehnik relaksasi:
nafas dalam/
distraksi



efusi pleura

Tujuan : nyeri
berkurang
sampai
dengan hilang
3 X 24 jam

KH :
Nyeri
berkurang
skala (01)

Ekspresi
menyeringai
(-)
Nadi :
60100
x/menit
3. Anjurkan pasien
untuk melakukan
tirah baring.




4. Kolaborasi
pemberian obat
analgesic.








5. Evaluasi
karakteristik nyeri
(PQRST)
6. Mengalihkan
perhatian pasien
terhadap rasa nyeri
yang sedang
dirasakan.
7. Untuk
meminimalkan
mobilisasi pasien,
diharapkan agar
nyeri dapat
berkurang.
8. menghindari
puncak periode
nyeri, alat dalam
penyembuhan otot,
dan memperbaiki
fungsi pernafasan
dan kenyamanan /
koping emosi
9. untuk mengetahui

perubahan
karakteristik nyeri
setelah dilakukan
penatalaksanaan.
BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Efusi pleural adalah adanya sejumlah besar cairan yang abnormal dalam ruang antara
pleural viseralis dan parietalis. Bergantung pada cairan tersebut, efusi dapat berupa transudat
(Gagal jantung, sirosis hepatis dan ascites) atau eksudat (infeksi dan neoplasma) ; 2 jenis ini
penyebab dan strategi tata laksana yang berbeda. Efusi pleura yang disebabkan oleh infeksi
paru disebut infeksi infeksi parapneumonik. Penyebab efusi pleura yang sering terjadi di
negara maju adalah CHF, keganasan, pneumonia bakterialis, dan emboli paru. Di Negara
berkembang, penyebab paling sering adalah tuberculosis.
Pasien dapat datang dengan berbagai keluhan, termasuk nafas pendek, nyeri dada,
atau nyeri bahu. Pemeriksaan fisik dapat normal pada seorang pasien dengan efusi kecil.
Efusi yang lebih besar dapat menyebabkan penurunan bunyi nafas, pekak pada perfusi,
atau friction rub pleura.

4.2 Saran
Efusi pleura merupakan penyakit komplikasi yang sering muncul pada penderita
penyakit paru primer, dengan demikian segera tangani penyakit primer paru agar efusi yang
terjadi tidak terlalu lama menginfeksi pleura.


DAFTAR PUSTAKA

1. Amin, Muhammad dkk (ed). 1989. Ilmu penyakit paru. Surabaya : Airlangga
University Press
2. Baughman, C Diane. 2000. Keperawatan medical bedah. Jakarta: EGC
3. Doenges, E Mailyn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk
perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Ed3. Jakarta: EGC
4. Hudak,Carolyn M. 1997. Keperawatan kritis : pendekatan holistic. Vol.1, Jakarta:
EGC
5. J., Purnawan. 1982. Kapita Selekta Kedokteran, Ed2. Jakarta: Media Aesculapius.
FKUI
6. Price, Sylvia A. 1995. Patofisiologi : Konsep klinis proses-pross penyakit Ed4.
Jakarta: EGC
7. Somantri, Irman. 2008. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika
8. Suzanne, Smeltzer c. 2002. Buku Ajar Keperawatan medical Bedah ( Ed8. Vol.1).
Jakarta: EGC
9. Syamsuhidayat, Wim de Jong. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah (Ed. Revisi). Jakarta:
EGC