Anda di halaman 1dari 22

1

BAB I
PENDAHULUAN

Pertumbuhan dan perkembangan wajah serta rongga mulut merupakan suatu proses yang sangat
kompleks. Gangguan yang terjadi pada saat intrauterin terutama pada masa-masa pembentukan organ,
bisa menyebabkan timbulnya kelainan pada anak yang akan dilahirkan. Kelainan yang sering muncul
adalah kelainan pada wajah, seperti celah bibir dan celah palatum.
1
Pertumbuhan yang salah pada awal perkembangan merupakan dasar dari kelainan kraniofasial,
antara lain kelainan celah palatum yangterjadi akibat kegagalan penyatuan palatum yang mempengaruhi
baik jaringan lunak, komponen tulang bagian atas, alveolar ridge, serta palatum keras dan lunak.Celah
palatum terjadi setiap delapan ratus kelahiran dan ditemukan dua kali lebih banyak pada perempuan.
1
Penyebab celah palatum ini antara lain faktor herediter dan faktor lingkungan. Beberapa
penelitian yang dilakukan pada hewan memberikan informasi kepada kita bahwa kekurangan nutrisi
menyebabkan peningkatan insiden celah palatum.Radiasi energi, hipoksia, aspirin, dan obat-obatan lain
juga dapat menyebabkan terbentuknya celah palatum.
1
Kelainan yang ditimbulkan akibat celah palatum dapat terlihat, terasa dan terdengar maka
kelainan tersebut menyebabkan penderitaan bagi pasien.Adanya kelainan ini juga menimbulkan shock
berat bagi orang tua. Akibat fisik yang ditimbulkan antara lain berupa, kelainan bentuk wajah, rongga
mulut, suara, gangguan pertumbuhan dan perkembangan rahang, erupsi dan letak gigi tidak teratur. Hal
tersebut mengakibatkan aktifitas makan dan minum terganggu, suara sengau, bicara kurang jelas karena
intonasi huruf tidak sempurna. Dampak yang kemudian muncul adalah rasa rendah diri.
1
Untuk mengatasi keadaan tersebut maka tindakan bedah labioplasty atau palatoplasty perlu
dilakukan untuk merekonstruksi celah bibir dan palatum.Rekonstruksi celah bibir sebaiknya dikerjakan
sedini mungkin.Teknik pembedahan untuk pasien dengan celah palatum meliputi :Von Langenbeck, V-Y
pushback palatoplasty, Furlow double opposing Z-plasty. Pemilihan metode ini di dasarkan pada kondisi
kelainan celah bibir pada masing-masing pasien.
1
2

BAB II
CELAH PALATUM (CLEFT PALATE)

2.1. Pertumbuhan dan Perkembangan Wajah
Palatum primer dan palatum sekunder terbentuk berdasarkan perkembangan embriologi. Palatum
primer atau premaksila merupakan daerah triangular pada bagian anterior palatum keras (palatum durum),
meluas secara anterior ke foramen insisif sampai ke lateral insisif kanan dan kiri, termasuk bagian
alveolar ridge gigi-gigi insisif maksila. Palatum sekunder teridiri dari sisa bagian palatum keras dan
semua palatum lunak (gambar 2.1).
2

Gambar 2.1. Anatomi Bibir dan Palatum
(Sumber : Millard, Ralph D., Jr. Cleft Craft. Bonston: Little, Brown 1977.)

Menurut Petterson, perkembangan embriologi hidung, bibir, dan palatum terjadi antara minggu
ke-5 hingga ke-10. Pada minggu ke-5, tumbuh dua penonjolan dengan cepat, yaitu prossesus lateralis
danprossesus nasal medialis. Maxillary swelling secara bersamaan akan mendekati prossesus nasal
medialis dan lateralis, tetapi tetap akan terpisah dengan batas groove yang jelas. Selama dua minggu
selanjutnya,prossesus maksilaris akan meneruskan pertumbuhannya kearah medial dan menekan
3

prossesus nasal medialis kearah midline. Kedua penonjolan ini akan bersatu dengan maxillary swelling
dan terbentuklah bibir.
2
Dari prossesus maksilaris akan tumbuh dua shelfike yang disebut palatine shelves yang akan
terbentuk pada minggu ke-6, kemudian pada minggu ke-7 palatine shelves akan naik ke posisi horizontal
diatas lidah dan berfusi satu sama lain membentuk palatum sekunder dan dibagian anteriornya dua shelf
ini akan bersatu dengan triangular palatum primer, dan terbentuklah foramen insisif. Penggabungan kedua
palatine shelf dengan palatum primer terjadi antara minggu ke-7 sampai minggu ke-10. Pada anak
perempuan, pembentukan palatum sekunder ini terjadi 1 minggu kemudian, karena itu celah palatum
lebih sering terjadi pada anak perempuan (gambar 2.2 dan 2.3).
2



Gambar 2.2.Aspek frontal dari wajah.(A) Embrio 5 minggu, (B) Embrio 6 minggu. Tonjol nasal sedikit
demi sedikit terpisah dari tonjol maksila dengan alur yang dalam, (C) Embrio 7 bulan, (D)
Embrio 10 bulan. Tonjol maksila berangsur-angsur bergabung dengan lipatan nasal dan alur
terisi dengan mesenkim. (Sumber : Langman J: Medical embryology,ed 3, Baltimore, 1975,
Williams & Wilkins.)
4




Gambar 2.3. Gambaran Frontal Kepala Embrio Usia 6 Minggu-10 Minggu. (A) Gambaran frontal
embrio usia 6 minggu. Palatine shelves berada di posisi vertical pada tiap sisi lidah, (B)
Gambaran ventral embrio usia 6 minggu, (C) Gambaran frontal kepala embrio usia 7
minggu. Lidah sudah bergerak turun dan palatine helves mencapai posisi horizontal, (D)
Gambaran frontal kepala embrio usia 7 minggu (E) Gambaran frontal kepala embrio usia
10 minggu, Kedua palatine shelves sudah bersatu satu sama lain juga dengan nasal septum.
(Sumber : Petterson. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery 2
nd
Ed. 1993.Hal 627.)

C
D
E
F
C
5

Celah pada palatum primer dapat terjadi karena kegagalan mesoderm untuk berpenetrasi ke dalam
grooves diantara prossesus maksilaris dan prossesus nasal medialis, sehingga proses penggabungan antara
keduanya tidak terjadi. Sedangkan celah pada palatum sekunder diakibatkan karena kegagalan palatine
shelf untuk berfusi satu sama lain.
2
Pada embrio normal, epitel diantara prosseus nasal medialis dan lateralis dipenetrasikan oleh
mesenkim dan akan menghasilkan fusi diantara keduanya. Jika penetrasi tidak terjadi, maka epitel akan
terpisah dan membentuk celah. Prossesus facialis mengandung sel-seldescendent yang bermigrasi dari
neural crest. Perubahan kuantitas dari sel-sel neural crest, tingkat migrasi atau arah migrasi dapat
berpengaruh dalam pembentukan celah bibir atau palatum.
2
Defek yang muncul dapat bervariasi tingkat keparahannya. Apabila faktor etiologi dari
pembentukan celah terjadi pada akhir perkembangan, efeknya mungkin ringan, namun jika faktor etiologi
muncul pada tahap awal perkembangan, celah yang terjadi bisa lebih parah.
2

2.2.Definisi dan Etiologi Celah Palatum
3
Cleft palate atau palatoschisisadalah kelainan bawaan yang terjadi oleh karena tidak adanya
penyatuan (fusi) secara normal dari palatum pada proses embrional, yang dapat terjadi sebagian atau
sempurna. Posisi normal dari kanalis nasopalatinalis membagipalatum menjadi dua bagian yaitu primary
palate dan secondary palate. Celah yang melibatkan bibir dan tulang alveolar disebut palatum primer
(primary palate) dan celah yang melibatkan palatum lunak dan palatum keras disebut dengan palatum
sekunder (secondary palate).
Secara garis besar etiologi yang diduga menjadi penyebab terjadinya celah palatum dibagi dalam
dua kelompok, yaitu faktor herediter dan faktor lingkungan.
a. Faktor herediter
Faktor herediter dianggap sebagai faktor yang dipastikan sebagai penyebab terjadinya celah
palatum.Penyebabnya karena terjadinya mutasi gen dan aberasi kromosom. Pada mutasi gen biasanya
ditemukan sejumlah sindrom yang diturunkan, baik secara autosomal dominan, resesif, maupun X-linked.
6

Pada autosomal dominan, orangtua yang mempunyai kelainan ini menghasilkan anak dengan kelainan
yang sama, sedangkan pada autosomal resesif kedua orangtua normal, tetapi sebagai pembawa gen
abnormal. Pada kasus terkait X (X-linked), wanita dengan gen abnormal tidak menunjukkan tanda-tanda
kelainan sedangkan pria dengan gen abnormal menunjukkan tanda-tanda kelainan ini.Sedangkan aberasi
kromosom, keadaan celah palatum merupakan suatu bentuk manifestasi dari berbagai macam sindrom,
misalnya Trisomi 18 dan Trisomi 13.
b. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan embrio, seperti
usia ibu saat hamil, penggunaan obat-obatan, defisiensi nutrisi, penyakit infeksi, radiasi, stress emosional
dan trauma pada masa kehamilan.
1. Usia ibu saat hamil, faktor usia ibu hamil di usia lanjut biasanya beresiko melahirkan bayi
dengan bibir sumbing, keadaan ini dapat meningkatkan resiko ketidaksempurnaan pembelahan
meiosis yang akan menyebabkan bayi lahir dengan kelainan trisomi. Resiko ini meningkat didiga
sebagai akibat bertambahnya umur sel telur yang dibuahi.
2. Penggunaan obat-obatan, penggunaan obat-obatan untuk ibu hamil juga harus diperhatikan
karena terdapat beberapa obat yang bias menyebabkan terjadinya celah palatum antara lain
asetosal atau aspirin sebagai obat analgetik, juga obat anti inflamasi non steroid (NSAID) seperti
Sodium Naproxen dan Ketoprofen, dan obat golongan antihistamin yang digunakan sebagai anti
emetic pada masa kehamilan trimester pertama. Beberapa obat-obatan lainnya yang sebaiknya
tidak dikonsumsi selama kehamilan, yaitu acetaminophen, antidepresan, antihipertensi,
sulfonamide, aminoglikosid, indometasin, asam flufetamat, ibuprofen, penisilamin, dan beberapa
obat-obatan kortikosteroid.
3. Defisiensi nutrisi, khususnya defisiensi asam folat dan vitamin B6 pada masa kehamilan.
Mengkonsumsi asam folat sejak kehamilan dini dapat mengurangi resiko terjadinya celah
palatum. Asam folat bias ditemukan pada hati, sayuran hijau, dan kacang-kacangan.
7

4. Penyakit infeksi, infeksi yang terjadi dalam trimester pertama kehamilan dapat mengganggu
fetus, karena infeksi yang terjadi dapat menghalangi pembentukan jaringan baru.
5. Radiasi, radiasi yang berlebihan saat kehamilan juga dapat mengakibatkan terbentuknya celah.
Efek ini terjadi bila mengenai organ reproduksi seseorang. Semakin besar dosis radiasi yang
diberikan, semakin besar kemungkinan terjadinya defek ini.
6. Trauma, Strean dan Peer melaporkan bahwa trauma mental dan trauma fisik dapat menyebabkan
terjadinya celah. Stress yang timbul menyebabkan fungsi korteks adrenal terangsang untuk
mensekresi hidrokortison sehingga nantinya dapat mempengaruhi keadaan ibu yang sedang
mengandung dan dapat menimbulkan celah, dengan terjadinya stress yang mengakibatkan celah
yaitu : terangsangnya hipothalamus adrenocorticotropic hormone (ACTH). Sehingga merangsang
kelenjar adrenal bagian glukokortikoid mengeluarkan hidrokortison, sehingga kadarnya akan
meningkat di dalam darah yang dapat menganggu pertumbuhan.
2.3. Klasifikasi Celah Palatum
3
Klasifikasi dari celah palatum yang sering digunakan adalah klasifikasi dari Veau, yang
mengklasifikasikan celah palatum menjadi empat kelas, yaitu : (gambar 2.4)
Klas I : Celah pada palatum lunak (incomplete cleft palate)
Klas II : Celah pada palatum lunak dan palatum keras sempurna tanpa melibatkan tulang alveolar
(complete cleft palate)
Klas III : Celah palatum sempurna yang melibatkan palatum lunak dan palatum keras, tulang
alveolar, serta bibir hanya pada satu sisi (unilateral complete cleft lip and palate)
Klas IV : Celah palatum sempurna yang melibatkan palatum lunak dan palatum keras, tulang
alveolar, serta bibir pada dua sisi (bilateral complete cleft lip and palate)
8


Gambar 2.4. (A) Celah pada palatum lunak (B) Celah pada palatum lunak dan keras, (C) Celah yang
meliputi palatum lunak, keras & alveolar pada satu sisi, (D) Celah yang meliputi palatum
lunak, keras, alveolar & bibir pada dua sisi. (Sumber : Balaji SM. Textbook of Oral and
Maxillaofacial Surgery. 2009. Hal 495.)

2.4. Kelainan Oklusi Akibat Celah Palatum
Oklusi adalah hubungan permukaan gigi geligi pada maksila dan mandibula, yang terjadi selama
pergerakan mandibula dan berakhir dengan kontak penuh dari gigi geligi pada kedua rahang.Oklusi gigi
geligi bukanlah merupakan keadaan gigi yang statis selama mandibula bergerak, sehingga didapati
bermacam bentuk oklusi, seperti oklusi sentrik, eksentrik, habitual, supra-infra, mesial, distal, lingual dan
sebagainya.
Maloklusi merupakan masalah kelainan pada gigi-gigi atas dan bawah dalam proses menggigit
atau mengunyah. Kata maloklusi secara harfiah berarti menggigit dengan cara buruk. Kondisi ini juga
dapat disebut sebagai gigitan tidak teratur, crossbite, overbite, ataupun deepbite.Kondisi maloklusi ini
biasanya menimbulkan keadaan terlalu banyak atau terlalu sedikit ruang antara gigi, mulut dan rahang
9

yangtidak beraturan ukuran dan bentuknya, berbentuk atipikal rahang dan wajah seperti celah palatum,
dan lain-lain.
Celah palatum dapat menyebabkan kelainan oklusi pada gigi-gigi di maksila, sehingga dapat
menyebabkan terganggunya fungsi pengunyahan.Setelah dilakukan tindakan untuk memperbaiki celah
palatum, jaringan parut yang berkembang mempunyai peranan penting dalam menyebabkan gangguan
pada pertumbuhan normal maksila Hipoplasia yang terjadi di maksila dapat mengakibatkan perawatan
secara ortodonti dan bedah ortognatik tidak mencapai hasil yang memuaskan.
Masalah utama yang ditimbulkan oleh celah palatum ini adalah masalah psikis, fungsi, dan
estetik.Masalah psikis adalah adanya orang tua yang belum tentu bisa menerima keadaan anaknya yang
seperti itu. Masalah fungsi antara lain gangguan pada waktu minum. Pada bayi yang meminum ASI harus
diberikan secara hati-hati karena dikhawatirkan ASI akan mengalir ke telinga tengah dan mengakibatkan
terjadinya infeksi. Selain itu fungsi suara akan terganggu jika kelainan ini terlambat diobati. Kelainan
estetik tidak begitu jelas dan diperhatikan oleh karena letaknya di dalam rongga mulut.

2.5.Efek dari celah palatum
3
a. Efek pada gigi geligi
Jumlah gigi bisa kurang ataupun lebih dari normal.Daerah tempat terjadinya celah palatum
biasanya paling sering kehilangan jumlah gigi. Selain itu morfologi gigi terutama gigi insisivus
lateralis yang terdapat pada celah palatum umumnya berukuran kecil atau peg shaped. Demikian
pula struktur gigi, bisa terjadi enamelhipoplasia atau hipomineralisasi pada gigi, terutama pada
daerah terdapatnya celah palatum.
Gigi insisivus lateralis pada sisi yang mengalami celah palatum kemungkinan berlokasi pada
salah satu bagian tulang alveolar yang berdekatan dengan celah ini. Posisi gigi-gigi yang tumbuh
akan berputar. Selain itu juga terjadi penundaan erupsi gigi pada daerah yang terkena celah
palatum, dan bahkan sering juga terjadi penundaan perkembangan rahang yang normal.
10

b. Efek pada bidang oklusal
Dalam kasus celah palatum bilateral, gigi susu mungkin awalnya berada pada susunan klas I atau
klas II divisi 1, tetapi pada masa awal gigi bercampur pertumbuhan maksila yang terbatas sering
berada dalam overjet.
c. Efek skeletal
Sampai pada umur 6 atau 8 tahun, celah palatum memiliki premaksila yang protrusi.Namun,
dengan adanya pembatasan pertumbuhan yang dipaksakan akibat perbaikan secara pembedahan
memungkinkan terjadinya perubahan menjadi bentuk retrusi pada maksila dalam masa awal
remaja.Hal ini juga disertai dengan peningkatan tinggi wajah anterior.
d. Efek pertumbuhan
Ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa perbaikan celah palatum pada masa-masa awal
kehidupan memiliki efek yang merusak terhadap pertumbuhan tulang dan wajah.Ini dibuktikan
oleh studi terhadap orang-orang yang celah palatumnya tidak diperbaiki.
e. Efek pendengaran
Otot-otot dari palatum lunak bertindak sebagai katup pada akhir faring tuba eustachius untuk
menyeimbangkan tekanan antara telinga tengah dan rongga mulut serta memungkinkan terjadinya
drainase cairan. Perbaikan palatum lunak tidak dapat selalu memperbaiki fungsi otot sehingga
akan menghasilkan kehilangan pendengaran.
f. Efek berbicara
Perkembangan normal berbicara tergantung pada pendengaran yang baik, yang merupakan bagian
dari mekanisme untuk berbicara yang benar.Fungsi yang inadekuat dari palatum lunak setelah
perbaikan dapat menyebabkan sebagian aliran udara beralih dari hidung sehingga menyebabkan
hypernasal speech.


11

2.5. Penatalaksanaan perawatan cleft palate
6
Perawatan praoperasi
o Fasilitas penyesuaian yang positif dari orang tua terhadap bayi :
Bantu orangtua dalam mengatasi reaksi berduka.
Dorong orangtua untuk mengekspresikan perasaannya.
Diskusikan tentang rencana pembedahan.
Berikan informasi yang membangkitkan harapan dan perasaan yang positif
terhadap bayi.
Tunjukkan sikap penerimaan terhadap bayi.
Berikan dan kuatkan informasi pada orangtua tentang prognosis dan pengobatan
bayi.
Tingkatkan dan pertahankan asupan dan nutrisi yang adekuat.
Fasilitasi menyusu dengan ASI atau susu formula dengan botol atau dot yang
cocok. Observasi kemampuan menelan dan menghisap.
Tempatkan bayi pada posisi yang tegak dan arahkan airan susu ke dinding mulut.
Arahkan cairan ke sebelah dalam gusi di dekat lidah.
Akhiri pemberian susu dengan air
Tingkatkan dan pertahankan jalan nafas.
Pantau status pernafasan.
Posisikan bayi miring kekanan dengan sedikit ditinggikan.
Letakkan selalu alat penghisap di dekat bayi.
Perawatan paskaoperasi
o Tingkatkan asupan cairan dan nutrisi yang adekuat.
Berikan makan cair selama 3 minggu mempergunakan alat penates atau sendok.
Lanjutkan dengan makanan formula sesuai toleransi.
12

Lanjutkan dengan diet lunak.
Sendawakan bayi selama pemberian makanan.
Tingkatkan penyembuhan dan pertahankan integritas daerah insisi anak.
Bersihkan garis sutura dengan hati-hati.
Oleskan salep antibiotik pada garis sutura.
Hindari memasukkan obyek ke dalam mulut anak sesudah pemberian makan
untuk mencegah terjadinya aspirasi.
Pantau tanda-tanda infeksi pada tempat operasi dan secara sistemik.
Pantau tingkat nyeri pada bayi dan perlunya obat pereda nyeri.
Perhatikan pendarahan, edema, drainage.
Monitor keutuhan jaringan kulit.
Perhatikan posisi jahitan, hindari jangan kontak dengan alat-alat tidak steril.













13

BAB III
PALATOPLASTY

Tujuan palatoplasty adalah memisahkan rongga mulut dan rongga hidung, membentuk katup
velofaringeal yang kedap air dan kedap udara serta memperoleh tumbuh kembang maksilofasial yang
mendekati normal. Tantangan daripada palatoplasty ini bukanlah hanya bagaimana menutup defek celah
palatum, namun juga bagaimana didapatkan fungsi bicara yang optimal tanpa mengganggu pertumbuhan
maksilofasial.
4
Waktu yang paling tepat untuk dilakukannya palatoplasty masih tetap menjadi kontroversi.
Sebagian ahli bedah mendukung, waktu palatoplasty sebelum usia 18 bulan karena lebih menguntungkan
perkembangan bicara psien, sebab proses belajar bicara dimulai pada usia 18 bulan. Penundaan
palatoplasty lebih menguntungkan untuk perkembangan maksilofasil, namun lebih merugikan untuk
perkembangan bicara pasien. Waktu yang paling optimal untuk palatoplasty sampai sejauh ini secara
ilmiah belum terbukti namun sebagian besar ahli bedah sepakat bahwa palatoplasty harus dilakukan
sebelum usia 2 tahun.
4
Berbagai faktor seperti teknik operasi, keahlian dokter bedah dan rendahnya standar evaluasi
terapi wicara juga berperan besar dan mempengaruhi hasil palatoplasty. Terdapatberbagai jenis taknik
palatoplasty, namun yang paling sering dipakai adalah teknik Von langenbeck, V-Y push back (Veau-
Wardill-Kilner), Furlow double opposing Z-palatoplasty, dan two flap palatoplasty.
4
1. Von Langenbeck Palatoplasty
4,5

Merupakan suatu prosedur sederhana untuk penutupan palatum yang diperkenalkan oleh von
Langenbeck pada tahun 1859, yang mungkin merupakan palatoplasty tertua dan masih dipakai sampai
sekarang.Teeknik ini umumnya digunakan untuk celah sebagian dari palatum sekunder tanpa disertai
celah bibir dan alveolar.

14

Teknik ini menutup sebagian celah palatum keras dan lunak tanpa memanjangkan palatum
dengan memobilisasi flap bipedikel mukoperiosteal kearah medial. Batas-batas celah dapat
diperkirakan insisi relaksasi lateral mulai dari posterior ke tuberositas maksila dan mengikuti bagian
posterior alveolar ridge (gambar 3.1)

Gambar 3.1.Teknik von Langenbeck palatoplasty.(A) Membuat tanda untuk desain flap, (B) Elevasi
flap bipedikel mukoperiosteal dari insisi lateral ke tepi-tepi celah, (C) Penutupan lapisan
mukoperiosteal nasal (D) Penutupan flap mukoperiosteal sempurna. (Sumber : Chang
Gung.Palatoplasty Evolution and Controversies.Med J. Vol 13(4). 2008.)

Modifikasi teknik ini dapat memperbaiki m.levator palatine dan intravelar veloplasty untuk
menghasilkan kembali fungsi otot normal. Perbaikan dapat juga dilakukan dengan kombinasi
dariteknik Furlow double opposing Z palatoplasty, untuk menambah panjang palatal dengan
melakukan undermine mukoperiosteal yang minimal.
15


2. Veau-Wardill-Kilner (VY pushback palatoplasty)
4,5

Velofaringeal inkompeten merupakankeadaan yangrelative umum pada palatoplasty, hal ini
disebabkan karena terjadinya suatu kegagalan mobilitas dari palatum lunak atau perpanjangan
palatum yang telah diperbaiki tidak adekuat untuk mencapai dinding faringeal posterior.
Veau-Wardill-Kilner atau V-Y pushback palatoplasty berasal dari modifikasi teknik von
Langenbeck, teknik ini dapat digunakan untuk menambah panjang palatal dan terutamadigunakan
untuk perbaikan celahy=tidak lengkap pada palatum keras. Desain flap dari teknik ini sama
dengan teknik von Langenbeck.Prinsip dari teknik ini adalah insisi V to Y dan penutupan pada
palatum keras (gambar 3.2).Teknik pushback memiliki keuntungan, yaitu memanjangkan palatum
dan mereposisi m.levator dalam posisi yang lebih baik.Bagaimanapun juga modifikasi ini
meliputi diseksi yang luas.Teknik V-Y push-back mencakup dua flap unipedikel dengan satu atau
dua flap palatum unipedikel dengan dasarnya disebelah anterior. Flap anterior dimajukan dan
diputar ke medial sedangkan flap posterior dipindahkan ke belakang dengan teknik V to Y akan
menambah panjang palatum yang diperbaiki..Modifikasi ini merupakan perluasan teknik von
langenbeck yang lebih luas dan mampu memperpanjang palatum sampai ke posterior, sehingga
diperoleh velofaringeal yang kompeten.
Keuntungan :
Teknik mudah dikerjakan
dan sedikit dilakukan
diseksi
Waktu operasi cepat
Kerugian :
Tidak mampu
memanjangkan palatum ke
posterior sehingga
kemungkinan terjadinya
velopharingeal
incompetence lebih tinggi
disebabkan oleh
keterbatasan dalam
penutupan secara tepat
16


Gambar 3.2.Teknik Veau-Wardill-Kilner atau VY pushback palatoplasty.(A) Membuat tanda untuk insisi, (B)
Memperpanjang flap mukoperiosteal dari palatin mayor pada kedua sisi,(C)Retroposisi dan perbaikan
dari m.levator palatine setelah perbaikan dari nasal mucoperiosteal selesai, (D) Penutupan flap
mukoperiosteal. (Sumber : Chang Gung. Palatoplasty Evolution and Controversies.Med J. Vol 13(4).
2008.)

Veau-Wardill-Killner pushback palatoplasty dapat memperbaikifungsi bicara yang lebih
signifikan.Pushback palatoplasty memiliki beberapa kelemahan, pengurangan tulang palatum dari
flap mukoperiosteal yang akan mempengaruhi pertumbuhan midfacial pada pasien-pasien celah
palatum. Teknik ini juga mempunyai hasil fistula yang lebih tinggi dalam celah palatum
sempurna daripada teknik-teknik lain, karena teknik ini hanya memberikan suatu lapisan
mukosanasal yang tunggal di bagian anterior.
Pada unit celah bibir dan palatum Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita,
palatopasty dilakukan dengan menggunakan teknik V- Y Push Back dan Partial split flap. Adapun
Partial split flap bertujuan untuk tetap mempertahankan periousteum didaerah lateral flap
sehingga tidak ada daerah tulang terbuka dengan tujuan mengurangi jaringan parut didaerah
lateral insisi.
17


3. Two-flap Palatoplasty
5

Janusz Bardach yang berasal dari Poland adalah orang pertama yang memperkenalkan
teknik two-flap palatoplasty pada tahun 1967.Awalnya, teknik ini hanya dapat digunakan untuk
menutup celah yang relatif sempit dengan melepaskan flap mukoperioasteal dari tepi-
tepicelah.Modifikasi teknik ini melibatkan diseksi yang lebih luas dan perpanjangan dari insisi
sepanjang tepi alveolar ke tepi celah agar menghasilkan penutupan tanpa tegangan (gambar 3.3).
Desain dari flap ini sepenuhnya tergantung pada pedikel neurovascular palatine mayus dan
memberikan fleksibilitas yang lebih besar untuk menutup celah.
Pada celah unilateral sempurna, flap mukoperiosteal pada bagian medial dapat bergeser
pada celah dan ditutup tepat dibelakang tepi alveolar.Fistula pada anterior dari palatum keras
dapat dihilangkan dengan teknik ini. Two-flap palatoplasty juga memiliki efek minimal pada
pertumbuhan maksila karena terbatasnya area denudasi tulang pada palatum keras saat
mengangkat flap mukoperiosteal. Keterbatasan dari teknik ini adalah tidak memberikan panjang
tambahan untuk perbaikan palatum aga memungkinkan untuk bicara dengan normal.
Perbedaan dari teknik ini adalah menggunakan flap supraperiosteal dan bukan teknik
mukoperiosteal untuk penutupan palatum. Penambahan panjang palatum pada palatoplasty masih
dianggap penting untuk mengurangi ruang dinding posterior faring.
Keuntungan :
Memperpanjang palatum ke
posterior dan mereposisi
m.levator dalam posisi yang lebih
baik
Meningkatkan fungsi bicara
karena palatum yang bisa
diperpanjang lebih ke posterior
Kerugian :
Kemungkinan timbul fistula pada
daerah antara palatum keras dan
palatum lunak karena
mukoperiousteum yang tipis
didaerah tersebut
Meninggalkan tulang trabekula
(demuded bone) yang lebar pada
tepi lateral celah palatum, yang
kemudian akan membentuk
jaringan parut yang berperan
pada konstriksi lengkung
mandibula
Waktu operasi yang lebih lama
18


Gambar 3.3.Teknik two flap palatoplasty.(A) Membuat tanda untuk desain flap, (B) Elevasi kedua flap
mukopeiosteal dari permukaan mulut. Pembuluh palatine mayor pada kedua sisi
dipertahankan, (C) Retroposisi dan perbaikan darI m.levator veli palatine setelah perbaikan
dari nasal mucoperiosteal selesai, (D) Penutupan flap mukoperiosteal. (Sumber : Chang
Gung.Palatoplasty Evolution and Controversies.Med J. Vol 13(4). 2008.)

4. Furlow double opposing Z-palatoplasty
5
Pada tahun 1978, Leonard T. Furlow Jr. secara tidak resmi memperkenalkan teknik
double Z-palatoplasty yang kemudian di publikasikan pada tahun 1986.Teknik ini tidak
membutuhkan flap mukoperiosteal yang besar dari palatum keras. Teknik ini telah menunjukkan
keberhasilan pada kemampuan bicara dan pertumbuhan skeletal wajah.Furlow Z-palatoplasty
Keuntungan :
Melibatkan diseksi yang lebih luas
dan perpanjangan dari insisi
sepanjang tepi alveolar ke tepi celah
agar menghasilkan penutupan tanpa
tegangan
Memberikan fleksibilitas yang lebih
besar untuk menutup celah
Fistula pada anterior dari palatum
keras dapat dihilangkan
Memiliki efek minimal pada
pertumbuhan maksila karena
terbatasnya area denudasi tulang
pada palatum keras saat mengangkat
flap mukoperiosteal
Kekurangan :
Tidak dapat memberikan panjang
tambahan untuk perbaikan palatum
agar memungkinkan untuk bicara
dengan normal
19

efektif untuk penutupan primer dari celah palatum submukosa dan koreksi sekunder dari
insufisiensi velopharyngeal.
Penutupan palatal pada Furlow Z-palatoplasty tidak memerlukan anatomi dan benar-
benar mengabaikan otot uvula, namun hasil keseluruhan sebanding atau lebih baik dibandingkan
dengan teknik lain. Masalah yang mungkin ditemui adalah ketika teknik ini digunakan untuk
penutupan celah palatum yang sangat luas. Modifikasi dari teknik ini untuk mengurangi tegangan
yang berlebih selama penutupan yang melibatkan insisi panjang dari anterior ke tepi celah untuk
membuat island flap berdasarkan pada pembuluh palatine.
Prosedur tambahan lainnya agar tidak terjadi tegangan saat dilakukan penutupan pada
celah palatum yang luas, harus dilakukan : undermine mukoperiosteal palatum keras, diseksi
secara hati-hati ke dalam ruang, infrastruktur hamulus atau peregangan bundle neurovascular
palatine mayor.

Gambar 3.4. Teknik Furlow double opposing Z-palatoplasty.(A) Membuat tanda untuk Z-plasty daninsisi.Ppada
celaha palatum yang luas, insisi dibuat lebih ke anterior dari tepi celah (B)Elevasi dari flap. Lapisan dari mulut terdiri
dari flap muckulomucosal pada sisi kiri dan flap mucosal pada sisi kanan, (C) Flap musculomucosa nasal pada sisi
kanan dialihkan melintasi celah, (D) Hasil akhir dari penutupan permukaan oral dengan Z-palatoplasty.(Sumber :
Chang Gung. Palatoplasty Evolution and Controversies.Med J. Vol 13(4). 2008.)

20

Saat ini, metode yang diterima secara luas untuk mengurangi insufisiensi velopharyngeal
termasuk retroposisi dan reorienstasi dari m.levi adalah dengan teknik intraveolar valoplasty atau
furlow double opposing z-palatoplasy.Teknik ini telah terbukti berguna untuk menambah panjang
palatal pada celah palatum yang luas dan memberikan jaringan yang lebih baik untuk menutup
lubang pada palatum daripada metode sebelumnya.













Keuntungan :
Tidak membutuhkan flap
mukoperiosteal yang besar dari
palatum keras
Memperbaiki kemampuan bicara dan
pertumbuhan skeletal wajah
Efektif untuk penutupan primer dari
submukosa celah palatum submukosa
dan koreksi sekunder dari insufisiensi
velopharyngeal
Penutupan palatal tidak memerlukan
anatomi dan benar-benar
mengabaikan otot uvula, namun hasil
keseluruhan sebanding atau lebih baik
dibandingkan dengan teknik lain
Kerugian :
Tidak dapat digunakan untuk
penutupan celah palatum yang sangat
luas
21

BAB IV
KESIMPULAN

Celah palatum merupakan kelainan kongenital yang terbentuk akibat gagalnya kombinasi
antara penyatuan dan pembentukan rahang atas yang akan berefek pada jaringan lunak dan
komponen tulang rahang atas, alveolar, serta palatum keras dan lunak. Celah palatum ditemukan dua
kali lebih banyak pada perempuan.
Penyebab celah palatum ini antara lain akibat faktor herediter dan faktor lingkungan.
Investigasi yang dilakukan pada hewan memberikan informasi kepada kita bahwa kekurangan nutrisi
menyebabkan peningkatan insiden celah palatum.Radiasi energi, hipoksia, aspirin, dan obat-obatan
lain juga dapat menyebabkan peningkatan celah palatum.
Kelainan yang ditimbulkan akibat celah palatum dapat terlihat, terasa dan terdengar maka
kelainan tersebut menyebabkan penderitaan bagi pasien.Adanya kelainan ini juga menimbulkan shock
berat bagi orang tua. Akibat fisik yang ditimbulkan antara lain berupa, kelainan bentuk wajah, rongga
mulut, suara, gangguan pertumbuhan dan perkembangan rahang, erupsi dan letak gigi tidak teratur. Hal
tersebut mengakibatkan aktifitas makan dan minum terganggu, suara sengau, bicara kurang jelas karena
intonasi huruf tidak sempurna.Dampak yang kemudian muncul adalah rasa rendah diri.
Untuk mengatasi keadaan tersebut maka tindakan bedah labioplasty atau palatoplasty perlu
dilakukan untuk merekonstruksi celah bibir dan palatum.Rekonstruksi celah bibir sebaiknya dikerjakan
sedini mungkin.Teknik pembedahan untuk pasien dengan celah palatum meliputi :Von Langenbeck, V-Y
pushback palatoplasty, Furlow double opposing Z-plasty. Pemilihan metode ini di dasarkan pada kondisi
kelainan celah bibir pada masing-masing pasien.
Waktu yang paling tepat untuk dilakukannya palatoplasty adalah 1,5 tahun atau 18 bulan. Waktu
yang paling optimal untuk palatoplasty sampai sejauh ini secara ilmiah belum terbukti namun sebagian
besar ahli bedah sepakat bahwa palatoplasty harus dilakukan sebelum usia 2 tahun.

22

DAFTAR PUSTAKA
1. Arumsari Asri, Kasim Alwin. Embriogenesis celah bibir dan langit-langit akibat merokok selama
kehamilan. Majalah PABMI; 2004:2:268-271.
2. Hupp JR. Oral and Maxillofacial Surgery. Ed.5;2008.
3. Balaji SM. Textbook of oral and maxillofacial surgery.2008.
4. Aik-Ming Leow, MD. Palatoplasty : Evolution and Controversies. Chang Gung med J. Vol 31(4);
2008: 335-344.
5. Saunders WB, Recontructive Plastic Surgery. Vol 4; 1988.
6. http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/7326/Sri%20Haryuti.pdf?sequence=1