Anda di halaman 1dari 83

NYMPHADORA

Karya : AyEx “TiLaR”Merebean

Nymphadora antara Duka dan Cinta

(layar tertutup, lampu mati, musik tegang, tiba-tiba terdengar suara seorang kakek-
kakek)

Suara Seorang kakek-kakek

Nymphadora

Kisah antara duka dan cinta

Dia Mahluk Yang begitu indah untuk dimiliki…

Untaian rambutnya...

Sinar matanya...

Menandakan bahwa cinta abadi tak akan berakhir dengannya...

Cintanya milikku seutuhnya....

Tak seorangpun boleh memandangnya...

Tak seorangpun boleh mencintainya...

Tak seorangpun boleh menyentuhnya...


Tetapi...

Malam itu...

Pisau itu...

Percikan darah...

Erangan kesakitan...

Biarkanlah kunikmati sari madunya...

Biarkanlah jiwaku bersatu kembali....

Tanpa denyut nadi....

Tanpa rasa sakit...

Tanpa desah nafas...

Babak I

(setting beranda kamar Lorenzo dengan pakaian putih berlumur darah)

Malam itu…

Nymphadora

(Nymphadora berada dipelukan Lorenzo dengan baju yang berlumuran darah, dan mencoba melepaskan pelukan
Lorenzo. Ia menuju pot bunga mawar kesayangannya. Tapi jatuh terhuyung-huyung)

Lorenzo… kekasihku… pemuja tunggalku…

Tahukah malam ini begitu indah…


Bintang begitu banyak bertebaran seperti butiran pasir di pantai…

Sungguh beruntung Bapa Abraham dianugerahi keturunan sebanyak bintang dilangit dan butiran
pasir di pantai…

Mengapa kita tak mampu wujudkan anugerah Tuhan itu?

Mengapa??!!

Mengapa Lorenzo!!?? (Nymphadora terisak)

Lorenzo

Nymphadora kekasihku… Aku mencintaimu belahan jiwaku…

Ampuni aku...

Hentikan...

Jangan kau tambahkan kepedihan dalam jiwaku...

Jangan kau teteskan air matamu...

Cukup.. sayang!!

Cukup..!!

Aku telah menderita dengan semua ini...

Jangan kau tambahkan kepedihan itu lagi...

Jangan... jangan sayang...(membelai mesra Nymphadora)

Nymphadora

Mengapa engkau menangis kekasihku...(membelai wajah lorenzo dan mengusap air mata lorenzo)
Meyesalkah engkau mencintai aku Lorenzo??

Tidakkah senja di beranda kamarku akan tetap memerahkan langit??

Bukankah belaian lembut embun turut menari saat mentari terbit??

Kelak aku pasti akan merindukannya...

Duka akan merundung hariku jika mentari esok tak lagi bersinar...

Ingatkah kau kekasihku??

Saat bunga mawar kita merekah...

Ingatkah engkau...

Benih bunga yang kutanam di pot buatanmu??

Lorenzo

(Lorenzo menutup lembut mulut Nymphadora dengan telunjuk)

Ya... iya...Nymphadora.... tentu saja aku mengingatnya...

Dan akan selalu mengingat peristiwa itu...

Pot, benih, bunga mawar di beranda kamarmu...

Pertemuan kita dan semuanya Nymphadora...

(menahan tangis)

Aku pasti akan mengingatnya...

Dengan sepenuh hati aku akan mengingatnya... Nymphadora

Nymphadora
(terbatuk-batuk)

Lorenzo...(mencoba menegakkan badannya)

Peluklah aku Lorenzo...

Lihatlah langit begitu lengang...

Dunia terasa begitu sepi...

Aku merasakan dingin begitu menyengatkan racun dalam ragaku...

Dunia begitu terasa gelap...

Mataku sudah tak mampu melihat indahnya dunia...

Semua terasa begitu asing bagiku...

Apakah jiwaku telah melayang...??

(penari berpakaian hitam-hitam mulai mengitari sandro dan Nymphadora)

Lorenzo

Nymphadora... apa yang kau katakan?? (panik, melepaskan baju dan menyelimuti nymphadora)

Tetaplah bersamaku...

Tetaplah terjaga kekasihku...

(menahan isak tangis)Jangan kau tinggalkan aku...

Jangan hibahkan kesedihan padaku...

Engkau ingat bunga mawar itu??(membelai lembut ramput nymphadora)

Bunga mawar pilihan kita??


Kau ingat pot di beranda kamarmu...

Mawarmu mulai berbunga...(mencoba tersenyum)

Mawar kita berbunga Nymphadora...

Bukalah matamu sayang... sadarlah... sadarlah... Nymphadora..

Aku mohon jangan tinggalkan aku dalam kehampaan ini….(mencium tangan Nymphadora)

Nymphadora

Loren...Lor...Lorenzo...

(mencoba menenangkan Lorenzo dengan membelai wajah Lorenzo dan tersenyum)

De..dek..dekaplah aku untuk terakhir kalinya...

Bi..bi..biarkan aku pergi...

Me...Me...Mereka... te..te..telah menungguku...

Dek..dekaplah a..a..aku kekasihku...

a..a..aku mencintaimu...

(Nymphadora mati meninggalkan senyum simpul di wajahnya)

Lorenzo

Tidak sayang.. tidak...

(mencium bibir Nymphadora dan menengadah ke atas)

Jangan pergi...

Jangan tinggalkan aku...


Tidak..!!! Tidak...!!!

Tiiiiiiiiiiiiidddddddddddaaaaaaaaaaaaaakkkkkk!!!!!

Nyyyyyyymphaaaaaaaadoooooooraaaaaa.......(memeluk erat jasad nymphadora yang tergeletak di


pangkuannya)

Babak II

(setting di taman rumah Nymphadora)

Prolog:

Alkisah ini hadir berikan goresan pena cerita tentang gambaran embun pagi yang menetes
di sela-sela kelopak mawar merah yang memaksakan diri hidup diantara semak belukar penuh
duri, terhimpit oleh segala ketidakmampuannya. Bagaikan proses metamorfosis ulat saat menjadi
kepompong, menghadirkan sebentuk nuansa kesepian yang sengaja dibuat bagai kumpulan para
pendoa di kerumunan penguburan orang mati.

Sangmerpati sudah tak lagi setia bagai seringai lembut angsa hitam, saat mencari
pasangan jiwanya. Dunia terasa begitu gelap, kaburkan alunan kicau burung menyambut pagi
hari... terkadang kehidupan berjalan sesuai dengan irama musik yang selaras, tapi saat ironis
berkata, suka cita seseorang dihadapkan dengan hunusan pedang, mengancam jiwa manusia
tawanan. Dimanakah dunia hadir serukan keperkasaan cinta sejati? Kemanakah langkah jiwa
sang petualang harus tertunduk pada cerita keabadian cinta? Semua mengalir seturut alur yang
telah tercipta...

Bunga yang indah akan terlihat begitu mempesona jika ia ditempatkan pada tempat yang
terlihat serasi dengan bentuk bunga itu. Bagaikan seorang puteri yang terlihat anggun saat
mengenakan gaun kesayangannya. Lemah gemulai gerakannya, seakan kesemuanya selaras dan
tiada cela sedikitpun.
Seperti itulah rupa dunia saat mulai bergejolak dan menggeliat, menggelora
mengembangkan angan yang begitu mulia laksana seorang pemimpin agama dalam
bersenandung doa.

Jauh sebelum tertulis takdir antara duka dan cinta... Kisah ini hadir begitu indah terpadu
dan menyatu dalam sebentuk kanvas, cerita tentang kehidupan dua insan yang terbuai dalam
sebuah balada asmara seperti yang orang-orang katakan...

Terpaan badai di permukaan bumi ataupun goncangan bumi yang bergetar seakan
semakin membuat kekuatan cinta kian tak tertandingi kesaktiaannya. Bagaikan pedang-pedang
sakti yang ditempa oleh seorang pertapa. Ampuhdan penuh dengan kekuatan magis serta
kharisma. Seperti itu pulalah rupa kisah cinta, tak sedikit terpaan badai yang harus dilalui saat
seorang anak manusia mencoba mencari tahu arti dari cinta. Perjuangan, pengorbanan, atau
bahkan ujung kematian yang menjadi titik akhir dari pencarian cinta. Sebuah kisah yang begitu
sakral dan takkan pernah kunjung henti dalam pengertiannya.

Sore itu langit begitu bersahabat... angin tebarkan nuansa kesejukan yang mendalam
kepada semua mahluk di bumi, membuat jiwa yang terasing begitu menikmati suasana itu...
burung-burung gereja bercanda beterbangan diantara ranting sebelum mereka kembali
keperaduan karena senja akan segera menjelang.

Nymphadora

(Nymphadora berjalan keluar kamar menuju beranda kamar dan duduk melamun menikmati keindahan alam)

Betapa indah senja ini...

Semua terasa begitu selaras...

Kenikmatan yang sungguh tiada tara kurasakan...

Semua terasa damai dan indah adanya...

(mendekati pot bunga tanaman kesayangannya dan membelai lembut tanaman itu)
Hai engkau tanaman, adakah engkau juga merasakan kebahagian setara denganku??

Agar genaplah sudah kebahagiaan yang kurasakan...

Alam yang indah ditambah dengan kebahagiaanmu wahai tanaman sahabatku...

Algerina

(mengendap-endap masuk dan kemudian menutup mata Nymphadora dari berlakang dengan kedua tangannya)

Diam di tempat dan jangan pernah engkau bergerak!

Atau suatu hal yang buruk akan menimpamu nona…!

Nymphadora

Hei…

Siapakah gerangan engkau??

Adakah aku mengenalmu?

Hingga kau berani menggodaku dengan menutup mataku?

Begitu lembut tangan ini, tak mungkin seorang pria, siapakah engkau??

Algerina

Tebakanmu benar Nona...

Aku seorang perempuan...

Akumengenalmu hingga ke alam suka dan dukamu...

Dari semasa kecil aku selalu ada dalam kehidupanmu...

Tidakkah engkau mengenalku Nymphadora??


Nymphdora

Bagaimana aku bisa mengenalmu jika tangan lembutmu masih menutup kedua mataku??

Mengakulah agar aku tak marah padamu...

Algerina

(melepaskan tangannya sambil berdiri membelakangi Nymphadora)

Sudah ku lepaskan kekakangan tanganku adakah kau tidak mengenalku?

Nymphadora

(berbalik dan menatap Algerina)

Astaga!!

Algerina sahabatku... (memeluk algerina dan kemudian menjabat kedua tangan algerina)

Bermimpikah diriku?

Tidak salahkah penangkapan kedua bola mataku ini?

Algerina de Cruz... gadis cantik yang selalu setia menjadi sahabat sejatiku??

Bagaimana kabarmu saudariku??

Engkau nampak begitu dewasa kini...

Kau bukan Algerina kecilku dulu...

Kemarilah dan duduklah di sampingku…(menarik tangan algerina dan mengajak duduk, tapi algerina
sedikit menolah)

Hei.. ada apa denganmu Algerina?

Tidakkah kau merindukanku sahabatku?


Tunggu…

Mengapaauramu menampung kepedihan...

Ada apakah gerangan Algerina?

Algerina

Hatiku terundung kesepian yang mendalam...

Kini aku telah menjadi sebatang kara Nymphadora...

Aku ditakdirkan hidup sendiri...

Aku bagai menerima siksa langit...

Nymphadora

(membelai bahu Algerina)

Apa maksudmu perkataanmu, hingga kau berkata seperti itu Algerina?

Kau bagai bukan Algerina sahabatku?

Algerina yang begitu ceria di setiap tutur katanya?

Katakan padaku apa yang terjadi dengan kisah hidupmu sahabatku...

Algerina

(menahan isak, duduk sedikit menjauh dari Nymphadora dan menerawang ke atas)

Ayahanda dan ibundaku telah berpisah Nymphadora...

Beliau berdua telah memutuskan tali pertemuan kami dalam dunia fana ini...

Mereka... mereka...
Nymphadora

(mencoba mendekat,memegang bahu algerina dan mengernyitkan dahi dan bertanya dengan lembut)

Algerina...

Apa yang telah terjadi dengan beliau?

Apa maksudmu?

Algerina

(mendesah melepaskan kegalauan)

Hidupku telah ditakdirkan untuk sendiri...

Kedua orang tuaku telah berpulang...

Raga mereka telah kembali ke tanah seperti awal mereka tercipta...

Kini aku harus hidup sendiri dan kesepian...

Nymphadora

Aku turut berduka untukmu Algerina...

Nasib kita sama...

Namun kau tak boleh bersedih seorang diri...

ingatlah saudariku...

Kau tidak sendiri!

Ada aku sahabatmu...(tersenyum)

Tinggallahbersamaku Algerina...
Jadikan rumahku bagai rumahmu sendiri...

Dan janganlah engkau bersedih hati lagi...

Algerina

Sungguh berbudi engkau Nymphadora...

Betapa bahagianya hidup ini jika orang-orang di sekitarku sebaik engkau...

Kau sungguh malaikat hatiku Nymphadora..

Terima kasih atas kebaikan budimu sahabat kecilku...

Nymphadora

Cukup dengan pujianmu...

Kau telah membuat wajahku merah tersipu oleh pujianmu...

Jangan kau tambahkan pujian yang akan membuatku terbang melayang...

Dan ingat!

Nymphadora bukan gadis kecil sahabatmu dulu!

Kini aku telah menjadi gadis! Ha..ha..

Ayo kita masuk Algerina...

Dan biarlah kusambut engkau masuk ke rumahku dengan segala kesederhanaan...

Semoga engkau nyaman dengan keberadaan rumah barumu...

Rumah kita Algerina...(lampu berkilat-kilat)

Lagipula nampak hujan akan turun malam ini...


Algerina

Baiklah Nymphadora...

Aku turut dengan kehendakmu...

(mereka berdua masuk ke dalam rumah, tiba-tiba suasana berubah mencekam karena kedatangan mahluk dari
neraka yang jatuh hati pada Nymphadora)

Baltazar

Hrrrrrr....

Sungguh elok paras gadis itu...

Belum pernah kutemukan gadis secantik perempuan itu di duniaku...

Sungguh menawan hati kecantikannya...

Aku ingin mempersuntingnya...

Aku harus mendapatkannya dengan segala daya upayaku...

Hra..ra...ra..ra..

(musik berubah bagai musik para dewa, tiba-tiba datang dewa seketika itu)

Amor

Jangan bermimpi Baltazar!!! (tersenyum sinis)

Penghuni neraka sepertimu takkan pernah memenangkan karya agung para dewa!!

Kau hanyalah mahluk yang hidup di neraka jahanam!

Kejahatan adalah tabiat perilakumu!


Tak mungkin kau mengenal apa yang dinamakan cinta!

Hanya para dewalah yang memilki kisah cinta di dunia ini!

Baltazar

Hrrrrrrr....

Kurang ajar!!

Amor...!!

Jangan kau pikir dunia ini hanya milik para dewa!

Tidakkah kau lupa, mahluk seburuk aku ini adalah ciptaan Sang Maha Pencipta??

Kekuatanku sebanding dengan kekuatanmu!!

Ayo kita buktikan jika kau meragukannya...!!

Hrrrrrrr....(melotot marah)

Amor

Tunggu Baltazar!!

Aku tidak setuju denganmu kalau kita beradu kekuatan!

Aku datang kemari juga karena aku ingin tahu siapa gerangan gadis itu...

Aku terbuai dibuatnya!!

Akupun tak segan-segan melakukan segala cara untuk mendapatkan gadis itu!!

Baltazar

Hrrrrrrrr....
Tutup mulutmu Amor!

Kau memang dewa cinta...

Tapi bukan berarti kau akan memenangkan hati gadis itu!!

Dan jangan seenaknya kau mengakui kemenangan yang belum terbukti!

Langkahi dulu mayatku baru kau akan mendapatkannya!

Amor

Ha.. ha... Dasar penghuni neraka yang dungu!

Bagaimanapun juga kekuatan kejahatan tidak akan menang melawan kekuatan kebajikan!!

Kau hanyalah sampah...!!

Tak sebanding dengan kekuatan dewa yang aku miliki!

Baiklah kalau itu keinginanmu!

Ayo kita selesaikan perseteruan ini!

Dan ingat Baltazar!!

Siapa yang kalah harus rela mengalah dan pergi jauh!!!

Bersiaplah...!!

Baltazar

Baik!!

Aku setuju!

Sudah lama aku tidak mencabik-cabik dan memakan daging para dewa...!!
Mungkin kaulah santapanku malam ini...

Majulah!!

Hrrrrrr...rrrr..rrrr

(kedua mahluk mengambil senjata mereka masing-masing langit berubah menjadi mencekam dan kekuatan alam
turut berubah drastis, kilatan-kilatan cahaya menuansai langit seperti hendak badai )

Suara

Hentikan pertikaian kalian!

Kalian telah melanggar tatanan jagad raya!

(pertarungan berhenti)

Baltazar

Hrrr...rrr...

Kurang ajar!!

Siapa kau?!!

Berani benar menghalangiku menghabisi musuh bebuyutanku!

(keluar seorang gadis berbaju putih bersih)

Suara

Akulah Penguasa jagad raya ini!

Berani benar kalian merusak tatanan jagad raya ini!!

Amor

(bertekuk lutut menegadah ke langit)


Apa kau bilang?

Kau penguasa jagad ini? Ha…ha…

Mana mungkin seorang penguasa jagad seorang anak kecil?? Ha… ha…

Suara

Cukup Amor...

Kebajikanmu telah kau nodai dengan tanganmu sendiri!

Terimalah takdirmu!

Segala kekuatan para dewa yang kau miliki akan terhapus dari dirimu!

Kau akan terbutakan matamu seperti mata hatimu saat ini!

Itulah hukuman setimpal yang akan kau jalani di jagad ini!

Amor

Aku tak percaya dengan kata-katamu!

Kemarilah anak manis biarkan kuantarkan kau pulang ke rumah orang tuamu! (mendekati suara
namun tiba-tiba amor merasakan pusing dan matanya mendadak kabur kemudian buta)

Oh… mataku… mengapa semua menjadi gelap? Mataku… oh… Arrrrgggghhhh....

Ampun….(jatuh tersungkur dan meraba kesana-kemari)

Ampunkan hamba Sang Penguasa Langit Kebajikan...

Amarah dan iri dengki telah meracuni jiwa hamba...

Ampunkan hamba wahai Paduka yang bertahta...


Ini semua karena hamba jatuh hati dengan gadis itu...

(terguling-guling merasakan sakit di kedua bola matanya dan mencoba lari dari tempat itu dengan susah payah
dan menabrak sebuah pot)

Baltazar

(setelah melihat peristiwa penghukuman amor dia mencoba melarikan diri dengan mengendap-endap tapi terhenti
dan mematung)

Suara

Dan kau Baltazar...!!

Kau tidak akan pernah bisa menghindari hukumanmu!

Hawa nafsu dan amarahmu telah menghancurkan sinergi alam ini!

Tangan-tangan jahatmu akan terpatri dalam kehampaan!

Kau takkan pernah berjalan dengan gagah perkasa layaknya manusia biasa!

Itulah hukuman yang setimpal untukmu!

Baltazar

Tidak….!! Jangan! Jangan kau lakukan! Jangan!

(baltazar menyadari perubahan dalam tubuhnya, tangannya terasa ngilu dan kaku, kakinya lumpuh sebelah, iapun
mengerang kesakitan)

Hrrrr..rrr..

Arrrrggghhhh.....

(keadaan kembali datar... namun peristiwa itu mengejutkan Nymphadora)

Nymphadora
(keluar dari kamar menuju beranda dan melihat keadaan sekitar taman itu dan mendapati sebuah potnya pecah)

Apa yang telah terjadi??

Aku mendengar sebuah benda jatuh...

Oh ternyata ada yang menjatuhkan pot bunga kesayanganku...

Rupanya angin telah menjatuhkannya...

Biarlah besok kucari penggantinya...

Betapa malang wahai kau mawar...

Aku berjanji, besok akan kucarikan pot yang baru untukmu...

(memungut pot dan merapikannya, kemudian melihat kelangit heran)

Hei...

Mengapa langit berubah cerah kembali??

Bukankah tadi badai akan datang?

Tetapi mengapa kini langit terlihat begitu terang?

Adakah gerangan peristiwa yang telah terjadi malam ini??

(memegang dadanya)Mengapa hatiku tiba-tiba menjadi gundah...

Aneh sekali malam ini...

Huhhhhh.....(melenguh, menghembuskan nafas dan duduk melamun)

Algerina

(mendekati Nymphadora)
Nymphadora...

Apakah kau baik-baik saja?

Mengapa engkau begitu gundah dan bingung?

Bukankah alam memang penuh dengan misteri yang tak mungkin bisa terpecahkan oleh nalar
kita sebagai manusia?

Nymphadora

(menghela nafas panjang)

Entahlah Algerina...

Hatiku tiba-tiba menjadi gundah...

Dan...

Beberapa malam ini mimpiku begitu aneh...

Hati kecilku mengatakan mimpiku ada kaitannya dengan kejadian malam ini...

Tapi....(diam sejenak)

Ah entahlah...

Mungkin hanya perasaanku saja...

(tersenyum pada algerina)

Algerina..

Lebih baik kita masuk ke dalam rumah, kita buat secangkir coklat panas dan meneruskan
perbincangan kita di dalam...

Biarlah alam ini berjalan sesuai dengan aturannya...


Alegerina

(mengangguk tanda setuju)

Lekaslah, malam telah larut...

Tidak baik juga angin malam yang dingin ini menyelimuti kulit kita, lebih baik secangkir coklat
panas dan selimut pasti lebih nyaman terasa...

Babak III

(teater gerak yang menggambarkan seorang perempuan cantik duduk termenung di sebuah batu menatap ke langit
seakan menantikan sesuatu, duduk dan melamun. Kemudian perempuan itu berdiri dan melihat keadaan sekitar dan
terjadi perubahan alam dengan permainan lampu yang berkedap-kedip. Perempuan itu bersujud merasakan
ketakutan, kekalut dan kesedihan hingga ia tertunduk diam mematung. Kemudian datang beberapa orang laki-laki
bertelanjang dada, berjalan seperti Zombi mengitari perempuan itu, menggeliat seperti ular dan bergerak
mendekati perempuan itu. Perempuan terkejut hendak melarikan diri. Namun tangan-tangan kekar para lelaki itu
mencengkeram erat, menjamah dan membasahi seluruh tubuh perempuan itu dengan darah. Selanjutnya datang
seorang pemuda dengan membawa setangkai mawar merah dan membuat takut para lelaki yang menjamah
perempuan itu. Pemuda menghampiri perempuan itu, mengangkat wajah perempuan itu dan mengajak perempuan
itu berdiri. Pemuda itu memberikan mawar merah dengan mesra, perempuan itu mencium aroma bunga itu dan
tidak menyangka bahwa bunga itu beracun dan tercekik kesakitan dan perempuan itu jatuh lunglai, pemuda itu
mencium kening perempuan itu, kemudian tertawa terbahak-bahak dan akhirnya menangis. Para lelaki yang
tadinya terpisah dan tergeletak kemudian bangkit dan mendekati perempuan yang tergeletak itu dan menjamah
kembali. Kemudian lampu mati. Dan Nymphadora terbangun karena algerina membangunkannya)

Algerina

Nymphadora...

Bangun Nymphadora...

Apa yang terjadi denganmu? (mengguncang-guncang badan Nymphadora dan mengelap keringat dingin
Nymphadora)

Nymphadora
(terbangun dengan terkejut merasakan mimpi aneh)

Astaga Tuhanku...!!

Aku bermimpi lagi...

Aku takut Algerina... takut...

Algerina

Mimpi buruk kembali mendatangimu?

(sedikit panik, mengambilkan secangkir air putih)

Minumlah air ini Nymphadora agar kau sedikit lebih tenang...

Minumlah Nymphadora dan tenangkanlah hatimu...

Apakah gerangan mimpimu itu Nymphadora sahabatku??(menyalakan lilin)

Nymphadora

(meminum air yang diberikan algerina)

Mimpi yang serupa datang kembali di setiap malam-malamku Algerina...

Semua terasa begitu menakutkan...

Perempuan teraniaya oleh zombi-zombi berlumuran darah...

Akupun tak mengerti...

(memeluk Bantal dan diam sejenak)

Algerina

Perempuan?? Zombi??
Apa maksudmu??

Nymphadora

Pemuda itu... bunga mawar...(kalut bingung)

Aku tak mengerti...

(termenung sejenak)

Siapa pemuda itu?

Algerina

Pemuda?? Mawar?? (bertambah bingung)

Nymphadora

Iya... (membenahi posisi duduk dan menerawang jauh)

Seorang pemuda...

Seorang pemuda memberikan mawar yang beracun kepada seorang perempuan dengan penuh
kelembutan dan cinta kasih Algerina...

Perempuan itu menghirup bunga itu dan mati...!!

Mati Algerina!!!

Tetapi...

Pemuda itu tertawa melihat kematian perempuan itu, tapi anehnya mengapa akhirnya pemuda itu
tertunduk sedih??

Mengertikah kau Algerina arti mimpiku ini?

Algerina
Aku...?? (bingung)

Aku tak mengerti arti mimpimu Nymphadora...

Mimpi yang aneh dan mengerikan...

Nymphadora

Aku tahu Algerina...

Tapi aku sungguh tak mengerti arti mimpi-mimpi yang selalu sama hadir di setiap malamku...

Lama-lama aku bisa gila tersiksa oleh mimpi buruk ini...!!

Tolong aku Algerina...

Aku Takut! (ketakutan)

Algerina

Besarkan hatimu untuk bersabar Nymphadora...

Tenangkan jiwamu...

Aku akan selalu menemanimu....

Kau tak sendiri Nymphadora..

Aku akan selalu menjadi sahabat terbaikmu di dalam suka maupun duka..(saling berpelukan,
algerina mengelus rambut Nymphadora)

Sekarang tidurlah kembali dan tenangkan hatimu...

Nymphadora

Baiklah Algerina...
Akan kucoba lanjutkan tidurku...

Kuharap kau selalu bersamaku Algerina...

Algerina

Ya... aku janji...

(menyelimuti Nymphadora dan kemudian meninggalkan tempat itu)

Selamat malam Nymphadora sahabatku...

Semoga nyeyak tidurmu oleh buaian malam...

Babak IV

Mimpi-mimpi yang selalu hadir di setiap malam Nymphadora, tak kunjung lengang oleh
pulasnya tidur. Semua terjadi berulang-ulang, seakan tak mau mengerti kegalauan hati menjadi
akibatnya. Repihan rasa ingin tahu akan sebuah peristiwa dalam mimpi Nymphadora, selalu
menghantuinya di setiap detik perjalanan hidupnya. Sebuah harapan yang redup bagai sebatang
lilin yang berusaha mempertahankan api, tergambar serupa di dalam diri Nymphadora. Hanya
hasrat yang tersirat tepat menjadi semburat di setiap lamunannya untuk mengartikan setiap kisah
di ujung mimpinya...

Hari telah berganti hari yang baru, pertanda permainan waktu tetap berjalan sesuai roda
jaman yang mulai mendekati titik akhir... Kerapuhan jiwa mendatangkan petaka ketika bergelut
dan bergumul dengan permainan sang waktu... Kerinduan hati dalam sebuah penantian
pergulatan takdir takkan sampai pada titik akhir, jikalau batin mudah terkoyak oleh pisau-pisau
jaman.

Kisah ini beralih ke sisi yang lain, menceritakan sesosok manusia yang bernama lorenzo.
Pergulatan hidup dalam tatanan sebuah kasta, terkadang memaksa manusia untuk tidak mampu
berkutik dalam menyatakan keberadaannya... semuanya serba terbatas... semuanya serba penuh
dengan aturan yang terkadang menggilas arti sebuah kebebasan. Seperti kebebasan kehidupan
Lorenzo...

(setting di toko bunga tuan Benedicto, lorenzo dan sandro sedang merapikan pot-pot bunga mawar untuk siap
dijual, lorenzo duduk agak menjauh membersihkan daun, bunga, serta pot di dekatnya )

Lorenzo

(membersihkan pot dengan sedikit enggan)

Hei bunga mawar...

Betapa bahagianya kehidupannmu...

Tiap hari kau mendapat perlakuan kasih sayang dariku dengan sepenuh hatiku...

Benihmu kutanam...

Kusirami... kuberikan pupuk sebagai makananmu...

Kubuatkan pot-pot terbaik untuk rumah akarmu!

Seperti layaknya seorang bayi yang selalu diberi Air susu dan selalu dalam pengawasan ibunya
tanpa henti...

Penuh dengan kebahagiaan..

Kau memang mahluk ciptaan Tuhan yang paling beruntung menurutku...

Tidak seperti aku...

Hidupku selalu saja diatur...

Punya sebuah angan saja, selalu kandas karena sebuah larangan...

Batinku tersiksa...
Jiwaku terasa ditindas oleh ayah tiriku...

Aku bagai burung dalam sangkar...

Yang selalu rindu ingin terbang seperti burung-burung lain...

Tidak hanya bisa meihat kebahagiaan burung lain dari sangkar yang sempit dan terkadang
menghimpit...

Sandro

(mencuri dengar dan tersenyum)

Itukan hanya imajinasimu saja kawan... ha..ha...

Bukankah hidupmu terasa begitu nyaman dan tercukupi?

Kau bisa makan disaat pengemis-pengemis menangis meminta sedekah makanan?

Coba kau bayangkan seorang minta-minta...

Dia hidup bergantung dari derma orang-orang yang tidak sengaja lewat di dekatnya dan
bermurah hati memberikannya sedekah!

Setidaknya bersyukurlah kau masih memiliki ayah tiri yang menghidupimu!

Tidak seperti seorang pengemis kawan...

Bayangkan saja kalau tidak ada orang lewat? Mana mungkin pengemis itu bisa makan? Iya
kan??

Lorenzo

Heh Sandro...(menatap kesal pada sandro)

Tahu apa kau tentang jalan pikiranku?


Tahu apa kau tentang keinginan hatiku?

Sudah... kerjakan saja pekerjaanmu dan jangan campuri urusanku!

Sandro

(menggelengkan kepala sambil tersenyum sabar)

Aku selalu tahu jalan pikiranmu kawan...

Dari kecil aku mengenalmu dan aku mengasihimu bagai saudara kandungku sendiri!

Tentu saja aku mengerti keinginan dan kerinduan hatimu!

(diam sejenak, duduk di samping lorenzo dan menepuk bahu lorenzo)

Sabarlah kawan...

Langit akan selalu mendukung kita jika kita bersabar dan ikhlas menjalani hidup ini!

Semua indah pada waktunya...

Lorenzo

(mencibirkan bibir)

Huh... sok tahu kamu!

(pergi dan duduk agak menjauh dari sandro dan menatap kearah lain seperti orang melamun)

Sandro

(diam sejenak)

Ngomong-ngomong, bagaimana dengan rencanamu merantau?

Apakah kau akan tetap pergi kawan?


Tidakkah kau merasa iba dengan ayah tirimu?

Siapa yang akan meneruskan usaha ayahmu ini jika kau pergi nanti?

Lorenzo

(jengkel)Kubilang bukan urusanmu!

Kemana aku mau pergi ya aku akan pergi!

Untuk apa aku peduli dengan orang yang selalu mengekang kebebasanku dengan menyuruhku
menjadi pewaris usahanya berjualan bunga!?!

Lorenzo sang penjual bunga!!! Huh... tidak sudi aku!

Dirantau, siapa tahu aku bisa lebih baik daripada harus berjualan bunga!!

Menjadi orang kaya, istri cantik dan menjadi orang yang besar tidak seperti nasib penjual bunga!

Yang selalu berurusan dengan tanah yang kotor, pupuk yang bau, tanah liat yang lengket...

Bosan aku dengan semua ini sandro!

Sandro

Kau malu menjadi penjual bunga Lorenzo?(berkata lembut sambil menepuk bahu Lorenzo)

Ya sudahlah, sebagai teman aku akan tetap mendukungmu!

Apapun yang kamu mau dan cita-citakan!

Aku selalu kalah kalau berdebat denganmu!

Benedicto

(terbatuk-batuk)Lorenzo!!!
Lorenzo!!

Kemari kau anak sial!

Lorenzo

(terkejut dan segera menghampiri)

Iya ayah...

(berbicara pada sandro)

Panjang umur juga orang tua itu! Baru saja berhenti mulutku membicarakannya... eh dia muncul
tiba-tiba! Sial benar aku!

(berbicara pada benedicto)

Iya ayah sebentar...(menghadap benedicto)

Benedicto

(berjalan pelan-pelan melihat toko bunga miliknya)

Dasar anak sial!(dengan nada marah)

Bicara hal-hal yang tidak penting saja pekerjaanmu!

Mana bunga pesanan tuan Antonio? (mengerutkan dahi dan menatap tajam Lorenzo)

Apakah kau lupa kalau hari ini kau harus mengirim pesanan bunga tuan Antonio?

Kalau kerjamu seperti ini, bagaimana usaha kita bisa maju!?? Hah??

Bisa jadi, usaha kita hancur karena calon penerusnya bekerja saja tidak becus!!

Lorenzo

(terkejut, memukul dahinya sendiri)


Aduh... saya lupa ayah...

Maaf ayah...

Segera saya akan siapkan pesanan tuan Antonio dan segera saya kirimkan!

Benedicto

(marah-marah)

Dasar anak sial! (menampar lorenzo)

Kalau bukan karena aku mencintai mendiang ibumu, sudah kuusir kau dari rumah ini!

Kau hanya bisa menyusahkan aku saja!

Kau sama saja dengan ayah kandungmu! (terbatuk-batuk)

Lorenzo

(diam dan terpaku)

Sandro

(mendekati benedicto dan mencoba mendinginkan suasana)

Paman... sabar paman...

Tenangkan diri paman...

Ingat kesehatan paman!

Paman jangan sering marah-marah...

Biarlah nanti saya membantu lorenzo menyiapkan pesanan!

Paman istirahat saja di dalam, mari saya bantu paman ke dalam!


Benedicto

Cukup Sandro!

Jangan coba-coba membela dia!!

Kau sama saja dengan dia!

Kalian berdua sama saja!

Selalu membuatku pusing!!

Aaahhh...Sudah... sudah...(melepaskan bantuan sandro)

Aku bisa jalan sendiri!

Pusing kepalaku dengan kerja kalian!

Dan ingat Lorenzo… besok aku akan keluar kota! Aku mau kau menjaga toko bunga ini dengan
baik! Awas jikalau kau berani melanggar perintahku! Tongkat ini yang akan menghajarmu!

(pergi masuk ke dalam rumah)

Lorenzo

ii..iiya ayah.. (gugup ketakutan)

Sandro

(menghampiri lorenzo)

Sabar kawan...

Lebih baik kita ikuti saja perintah paman biar tidak lagi beliau marah-marah seperti ini!

(saling terdiam sejenak. Menyindir dengan sedikit mengejek)


Jadi kau pergi merantau kawan? He..he..

Kau tak mungkin berani! He..he..

Lorenzo

Diam kau Sandro!

Sial benar hidupku...

Harus hidup bersama ayah tiri yang tak mengerti sedikitpun keinginan anaknya...

Sandro

Sudahlah lupakan saja Lorenzo...

Nanti kita pikirkan kembali...

Lebih baik kita bergegas mengirim pesanan tuan Antonio sebelum kesiangan...

Lorenzo

Lebih baik kau saja Sandro yang mengirim pesanan bunga itu...

Enggan aku mengerjakannya!

Aku masih ingin sendiri meratapi nasibku pagi ini...(pergi masuk rumah)

Sandro

Baiklah biar aku saja yang kerjakan...

(mengambil 2 pot dan pergi)

Lorenzo adalah sepenggal kisah sebagian orang tertindas dalam kasta yang tak berujung
pangkal. Keretakan keluarga kandungnya, mengirimkan takdirnya untuk menjadi seorang anak
yatim. Ayah kandungnya adalah seorang perompak berkasta rendah yang mati oleh kekuatan
orang-orang kerajaan kala itu. Sebuah perbedaan peradaban antara si kaya dan si miskin.

Angan lorenzo melayang... jiwanya tertekan oleh sejuta peristiwa yang mengaharu
birukan setiap sisi kehidupannya. Tangan dan kakinya terasa terpasung dalam kekuatan takdir
yang terlihat begitu ketat memenjarakan kebebasan alam berpikirnya. Taburan kristal-kristal
garam atau bahkan lelehan asam cuka yang mengenai luka terasa ribuan tingkat lebih rendah dari
pada kepedihan dan rasa sakit di setiap relung hati lorenzo.

Lorenzo hanya terpaku... menangisi hati dan jiwanya yang terhimpit batu karang
keagungan kekuasaan yang tak dapat ia elakkan... air matanya tak lagi meleleh seperti saat
penguburan mendiang ibunya, dia hanya terpaku... diam... dan membisu...

(setting di jalan dekat toko bunga tuan Benedicto, banyak orang berlalu lalang)

Algerina

(tersenyum)

Bagaimana keadaan hatimu saat ini tuan puteri Nymphadora??

Apakah seindah langit hari ini?

Biru...

Angin bertiup sepoi-sepoi seperti mengajak kita untuk bercanda bagai masa kecil kita dulu?

Nymphadora

Tentu saja Algerina..

Jiwaku merasa nyaman sekali selaras dengan keindahan alam ini...

Seakan menjadikanku seperti peri hutan yang bersayap mungil, mengajakku terbang ke awang-
awang...
Algerina

Lega hatiku jika hatimu telah kembali dan tak terasing karena mimpi-mimpi malammu itu
Nymphadora...

Nymphadora

Aku telah melupakannya Algerina...

Mungkin itu hanya bunga tidur...

Lebih baik kita pikirkan apa yang hendak kita lakukan saat ini...

Algerina

Kau memang wanita yang penuh dengan pesona Nymphadora...

Kelak akan banyak pemuda-pemuda yang hadir memohon cintamu...

Aku percaya itu...

Nymphadora

Ah...

Kau selalu saja membuatku tersipu malu

Biarlah cerita langit sajalah yang menentukan jalan hidupku...

Karena kehidupan manusia, Tuhanlah yang menentukan...

(tersenyum pada algerina, diujung jalan tampak seorang wanita tua berjalan payah dan terduduk sendiri di tepi
jalan)

Algerina... ( tiba-tiba bagai teringat sesuatu ia menggapai tangan Algerina)

Mengapa di dunia ini masih saja banyak orang yang berbeda nasib kehidupannya...??
(memandang pengemis tua dengan sedih)

Algerina

Mengapa kau berkata seperti itu Nymphadora??

Apakah gerangan pertanyaanmu itu memuat sebuah arti?(melihat arah sorotan mata nymphadora)

Dan apakah pengemis tua itu yang membuatmu tersentuh??

Nymphadora

Kamu benar Algerina...

Hatiku tersentuh oleh keberadaan wanitaitu...

Betapa durhakanya jiwa kita jika tak mampu mengayomi orang papa sepertinya...

Dan betapa durhaka anak-anaknya yang membiarkan ibu mereka bernasib seperti itu!

Aku ingin memberikan sesuatu kepada pengemis itu...

Algerina

Baiklah...

Ayo kita ke sana...

(algerina dan nymphadora menghampiri pengemis itu dan memberikan sebuah bungkusan dan syal)

Nymphadora

Nyonya...

Terimalah barang sedikit roti dan syal ini...

Agar sedikit lebih hangat tubuh anda nyonya...


Pengemis

(mata berkaca-kaca)

Terimakasih nona...

Kebaikanmu tak akan aku lupakan...

Nymphadora

(mengangguk)

Baiklah nyonya kami permisi...

(menjabat tangan)

Pengemis

(merengkuh tangan Nymphadora dan menatap matanya dalam-dalam)

Nona...

Ijinkan aku melakukan sedikit kebajikan untukmu...

(meraba telapak tangan nymphadora)

Kau gadis yang sangat rupawan...

Kecantikanmu melebihi semua keindahan di jagad ini...

Semua mahkluk terpesona oleh paras dan kebaikan hatimu...

Algerina

(menyahut)

Aku setuju dengan pendapat nyonya...


Nymphadora, memang gadis yang baik...

Semua orang menyukainya..

Nymphadora

(tersipu malu)

Janganlah kalian berkata seperti itu...

Tak pantas aku mendapatkan sanjungan itu...

Aku malu mendengarnya...

Kalian terlalu berlebihan...

Pengemis

Nona...

Kecantikanmu dan kelembutan hatimu menggoyahkan jagad ini...

(matanya melotot dan tangannya bergetar)

Dan...

Dan...

(terbata-bata dan tidak sanggup meneruskan kata-kata)

Algerina

Dan??

Apa yang ingin nyonya katakan??

Katakan saja...
Nymphadora

(terkejut bingung)

Nyonya apa yang terjadi??

Mengapa tangan nyonya menjadi dingin dan bergetar??

Pengemis

Petaka hitam...(berbisik lirih)

Petaka... hitam...

(mata tiba-tiba terbelalak dan menatap tajam mata Nymphadora)

Di sekelilingmu terhambur malapetaka...

Banyak jiwa yang akan hancur karenamu...

Petaka...

(berdiri dan bergegas pergi)

Petaka..

Petaka telah menaungimu...

Aura hitam terlahir dari padamu!!

Petaka...

(pergi dan berlalu dari hadapan Nymphadora dan Algerina)

Algerina

Perempuan tua yang aneh...


Sudahlah Nymphadora...

Tak perlu kau masukkan dalam hati perkataan orang itu...

Nymphadora

Algerina...

Aku jadi teringat akan mimpi-mimpi mengerikan itu...

Aku.. Aku takut Algerina...(sandro lewat dan duduk serta mencari Lorenzo kemudian duduk berjaga di toko
bunga)

Algerina

(menghibur Nymphadora)

Ah... sudahlah Nymphadora...

Kau hanya terbawa perasaan saja...

Ayo kita cari bunga kesukaanmu...

Tadi kulihat ada toko bunga di sekitar jalan ini...

Kita bisa singgah sejenak untukmu...

Kau bisa memilih mawar yang terindah yang paling kau suka...

Bukankah mawar di pot yang jatuh malam itu telah mati??

Nymphadora

(mencoba melupakan yang terjadi)

Kau benar Algerina...

Itu toko bunga yang kau maksud...


Aku sudah tak sabar ingin memilih bunga terindah untuk beranda kamarku...

Akan kuganti mawarku yang malang itu dengan mawar baru yang tak kalah indahnya...

Atau kalau perlu, sekalian kubeli benih serta pot-pot agar aku bisa menanamnya sendiri...

Oh senangnya hatiku...(ekspresi senang berubah sedih)

Kegelisahan dalam hati Nymphadora semakin berkembang. Hatinya bagai tertusuk


pedang mendengar pendapat sang pengemis itu. Kegelisahan terus merajutkan rasa keingin
tahuan akan apa yang terjadi di kemudian hari. Nymphadora hanya berpikir bahwa roda
kehidupan sudah ada yang mengatur... kepasrahan dan keikhlasan menjalani kehidupan sajalah
yang menjadikannya wanita yang kuat. Dan Nymphadorapun mencoba melupakan semua itu...

Algerina

Permisi tuan...

Kami ingin melihat-lihat bunga paling indah yang tuan miliki

Sandro

Silahkan nona...

Banyak koleksi keindahan yang ada di toko kami ini...

Semoga anda berkenan dengan salah satu bunga kami...

Kami memiliki benih dan juga pot-pot serta pupuk jika nona memerlukannya...

Ada juga yang kami simpan di belakang rumah ini… mari silahkan ikuti aku…(menunjuk dalam
rumah)

Algerina

(memandang Nymphadora)
Bagaimana Nymphadora?

Nymphadora

Biarlah aku melihat-lihat sebelah sini saja… pergilah kau dengan tuan itu algerina dan carilah
bunga terindah untukku…

Algerina

Baiklah Nymphadora… Mari Tuan…(mengikuti sandro masuk ke dalam rumah)

Nymphadora

(sibuk memilih bunga mawar dengan agak melamun di dekat lorenzo yang sedang merapikan pot dan tanpa sengaja
duri mawar melukai tangannya)

(setengah berteriak) Aduh...

Lorenzo

Hei...!!

Hati-hati dengan bunga-bungaku!!

(kaget, dan segera memegang tangan Nymphadora)

Oh... maafkan aku...

Nona anda telah mengejutkan aku...!

(memandang nymphadora dan terpana. Jantungnya berdegup tak menentu, seperti merasakan sengatan listrik yang
sangat luar biasa. Karena dilihat Nymphadora, akhirnya lorenzo tersadar dan tergagap)

Ja...Ja...

Jarimu berdarah...
Ijinkan aku mengobatinya...

(menghisap jari Nymphadora yang berdarah)

Nymphdora

Duri mawar ini telah melukaiku...

Tuan...

Jangan kau korbankan bibirmu untuk menghisap darah di lukaku...

Aku bisa melakukannya sendiri...! (tersinggung)

Lorenzo

(menatap dalam mata nymphadora)

Tidak mengapa nona...

Biarkan saja darahmu mengalir dalam rongga tubuhku...

Dan biarkan hatiku ini terikat dengan setiap sel-sel darahmu yang ku hisap...

Bagai detak jantungmu yang selalu memompa darahmu ke seluruh tubuhmu...

(menjabat dan mencium tangan nymphadora)

Emmm…Siapa namamu nona?

Nymphadora

Namaku Nymphadora...

Anda sungguh berlebihan tuan...

Aku hanyalah perempuan biasa...


Aku malu mendengarnya..

(mengalihkan perhatian dengan melepaskan jabatan tangan lorenzo dan memegang mawar kembali)

Nampaknya bunga mawarmu ini tak bersahabat denganku...

Biarlah dia hidup disini, dia merasa tak nyaman saat ku sentuh tadi...

Mungkin ketenangannya terusik oleh kedatanganku...

Padahal aku tertarik padanya untuk menghiasi beranda kamarku...

Lorenzo

Bawalah serta bersamamu bunga itu jika kau menginginkannya nona...

Biarlah menjadi penghias beranda kamar nona...

Dan menambah keanggunan dan kecantikan nona...

Bawalah juga bersama bunga itu, pot buatanku ini...

Tanamlah dan siramilah dengan penuh cinta...

Maka bunga itu akan mencintaimu juga...

Oya... namaku Lorenzo...(Lorenzo dan sandro dating membawa 1 pot bunga)

Nymphadora... (sedikit berbisik)

Nama yang sungguh indah dan mempesona persis seperti pemilik nama itu...

Algerina

(tiba-tiba langit mendung, pertanda badai akan tiba. Algerina bergegas menarik tangan Nymphadora)

Tuan tolong jangan ganggu dia!


Dan jangan coba-coba merebut hatinya!

Ambil bunga pilihanmu dan lekas kita pulang!

Nymphadora... Lekaslah...

Kita harus pulang! Nampaknya pemuda ini seorang perayu ulung! Dan derajatnya tak setara
dengan kita...

Kau jangan terpengaruh oleh rayuan gombalnya!

Nymphadora

Ah tak mengapa Algerina...

Tuan ini telah menolongku tadi...

Algerina

Cukup Nymphadora...

Jangan terhasut oleh rayuannya!(bergegas menarik Nymphadora ke tempat lain)

Ayo lekas kita pulang...(berbalik dan melihat sinis pada Lorenzo)

Aku takkan rela membiarkan pemuda miskin ini merayumu!

Lorenzo

Apa kau bilang? (tersinggung)

Sandro

(mencegah amarah Lorenzo)

Sabar Lorenzo…
Tenangkan hatimu!

Algerina

Nymphadora… lekaslah!

Nymphadora

Baiklah Algerina...

(mengikuti langkah algerina, berpaling pada lorenzo sambil tersenyum)

Sampai jumpa tuan...

Lorenzo

Maafkan saya nona...(merasa bersalah)

Ini Bunganya... (saling bertatap mata)

Jagalah bunga ini sepenuh hatimu!!

Jangan biarkan dia terasing...

Sampai jumpa nona Nymphadora...

(terkejut karena lupa menanyakan tempat tinggal nymphadora)

Nonaaaa...!!!

Ah... (kecewa)

Kecantikan gadis itu membiusku hingga aku tak sempat bertanya dimana ia tinggal...

Ah... Nymphadora...kemana aku harus mencari tahu peraduanmu?

(merasa kecewa sembari memukul-mukul jidatnya)


Sandro

(berdehem mengagetkan lorenzo)

Ehem.. ehem...

Mengapa tingkahmu menjadi aneh??

Aha...

Kau tertangkap basah kawan!

Hatimu telah tercuri oleh gadis itu..

Haha...

Kau jatuh cinta kawan!

Kau jatuh cinta!!!

Ha..ha..ha..

Lorenzo

(tersipu malu)

Sialan kau Sandro…(memukul lengan sandro)

Sandro…

Tahukah kau kawan?

Jiwaku melayang tak terkendali...

Jemarinya begitu lembut, tatapan matanya begitu indah... tubuhnya begitu wangi...

Kau benar kawan...


Hatiku telah tertawan oleh pesonanya...

Tapi... kemana aku harus mencari rumah gadis itu?

Oh Nymphadora....

Sandro

Serahkan saja padaku kawan...

Aku akan mencari tahu keberadaan nona sang pencuri hatimu itu...

(bergegas berlari kearah nymphadora pergi dan mengikutinya)

Tunggu kabar terindah dariku kawan...

Akan kucoba ikuti kemana mereka pergi!

Nymphadora akan menjadi milikmu!! Ha..ha..ha..

Lorenzo

(teringat perkataan algerina, diam dan tertunduk sedih)

Jangan Sandro...!!

Kita berbeda kasta dengan mereka!

Dia gadis orang kaya sedangkan aku hanya penjual bunga yang kotor...

Aku hanya akan menjadi punguk yang merindukan bulan!

Bisa-bisa kita tergilas oleh kemegahan mereka!

Sandro

Tenang kawan...
Kasta atau derajat hanyalah buatan manusia!

Tapi cinta adalah anugerah sang Pencipta!

Tunggu saja kabar dariku kawan...

Selamat tinggal!

Lorenzo

San... Sandro!! Tunggu!!

Babak V

Kebahagian menghiasi hati Lorenzo. Sebuah pertemuan yang tak pernah di duga, ketika
seorang perempuan berparas cantik datang ke toko bunga milik ayah tirinya. Duri tajam bunga
mawar telah mempertemukannya dengan perempuan itu. Jiwanya melayang mengenang kejadian
di saat tangan lorenzo menggapai tangan yang terluka dari perempuan itu. Otaknya berhamburan
bagai mozaik yang membutuhkan tangan lembut untuk menatanya kembali, yaitu perempuan
yang telah mencuri hati lorenzo. Harapan lorenzo mengarah pada sandro yang bersedia akan
mencarikan tempat peraduan perempuan itu. Kegalauannya menjadi surut ketika keyakinan telah
memenuhi hatinya, bahwa sandro mampu menepati janjinya...

Di sudut yang lain, kisah ini kembali menceritakan tentang keberadaan amor dan baltazar
yang sedang menjalani hukumannya menjadi manusia tak sempurna. Kenihilan kemampuan
amor dalam hal indera penglihatan menjadikannya mampu berdamai dengan baltazar yang cacat
untuk bersatu menjalani kehidupan mereka. Iri dan dengki telah menjadikan mereka bagai
pasukan rahasia yang selalu menjaga nymphadora. Tak seorang manusiapun boleh memiliki dan
mendekati nymphadora... hingga akhirnya...

(setting di kamar lorenzo)

Sandro

(terluka dan berdarah-darah)


Lorenzo...

Lorenzo...

Dimana kau lorenzo?? (terhuyung-huyung)

Lorenzo

(bersuara dari dalam)

Masuk dan duduklah sandro...

Aku segera keluar...

(keluar dan terkejut)

Sandro...!!!

Apa yang terjadi kawan??

Mengapa...

Mengapa lenganmu berlumur darah seperti ini??

Siapa yang berani melakukan ini kepadamu kawan??

Katakan!

Katakan Sandro!!

Sandro

Istana gadis itu...

Istana gadis itu begitu menyeramkan...

Gelap...
Sunyi...

Dan... dan...

Mahluk buruk rupa itu yang melukaiku...

Aku dihadang oleh mahluk-mahluk aneh!

Seorang buta dan seorang cacat!

Aku tak mengenal mereka...

Mereka datang begitu saja dan menusukkan pisau ke lenganku saat aku mencari tahu rumah
gadis pujaan hatimu lorenzo...

Mereka...

Mereka pasti mengira aku sudah mati...

Tapi aku lari...

Aku lari Lorenzo!!

Lorenzo

(marah)

Kurang ajar!

Akan kubalas perlakuan mereka kepadamu...

(hendak bergegas pergi sambil membawa belati)

Akan kubunuh mereka malam ini!

Sandro
Lorenzo Tunggu...!!

Dengarkan aku kawan!!

Jangan kau dekati istana itu...

2 penjaga itu takkan segan-segan membunuhmu kawan jika kau mendekati istana itu!!

Aku yakin... Tak seorangpun luput dari kematian jika berani menginjak rumah perempuan itu!

Aku sungguh beruntung bisa lolos dari mereka!

Kau jangan pergi Lorenzo!

Tenangkan hatimu... aku tidak apa-apa!

Lebih baik, kau bantu aku merawat luka ini kawan!

Jangan gegabah kawan!

Kau bisa mati di tangan mereka!

Aku mohon...

Jangan pergi!

Lorenzo

(tertunduk menahan emosi memukul meja)

Aaaaaaarrrghhhh!!! Siiiaaaalll!!!

(diam sejenak dan duduk menerawang)

Baiklah Sandro...

Aku akan bersabar...


Mari biarkan aku merawat lukamu...

Sebentar kuambilkan obat dan air hangat untuk membasuh lukamu...

(lorenzo mengambil perban dan baskom air hangat, kemudian merawat sandro dan memapahnya untuk berbaring
di tempat tidurnya)

(lampu mati menandakan perubahan waktu)

Kegalauan hati semakin berkecamuk di dalam benak lorenzo. Kerinduan akan


Nymphadora telah menjadikannya bagai sebuah prasasti yang diam termangu tak bergerak.
Keinginan hatinya menemui Nymphadora harus tertutup dengan penderitaan sahabatnya sandro...

Segudang penyesalan karena jatuh cinta kepada perempuan dalam hatinya, membuat
jiwanya semakin meronta-ronta tak menentu. Antara keinginan untuk bertemu dan keadaan
sandro membuatnya semakin bingung untuk mengambil sebuah keputusan bertemu dengan
perempuan pujaan hati ataukah merawat sahabatnya...

Waktu beranjak menempuh jalur yang pasti seperti adanya aturan alam yang
membuatnya terjadi seperti itu adanya... Lorenzo masih dalam imanjinasi tentang kisah cintanya
kepada Nymphadora.. kehadiran Nymphadora dalam hati lambat laun menumbuhkan benih-
benih cinta yang semakin dalam dan benih itu telah bertunas kini...

Lorenzo

(duduk menerawang dan merokok)

Beberapa hari ini aku sungguh tak dapat mengendalikan otakku...

Aku tak mengerti dengan semua yang terjadi di depan mataku!

Aku merindukan perempuan itu, tapi sahabatku sandro telah menjadi korban keganasan para
penjaganya...

Sial...
Sandro

(duduk di sebelah lorenzo)

Lorenzo...

Kau selalu duduk dan terdiam saat mempunyai masalah...

Ada apa?

Lorenzo

(terkejut mendengar suara sandro)

Sandro...??

Bagaimana keadaanmu kawan?

Sandro

Aku sudah merasa lebih baik!

Kau pasti memikirkan Nymphadora gadis ningrat itu?

Sudahlah lupakan gadis itu kawan...

Kedua penjaga mengerikan itu takkan pernah mengijinkan kau mendekatinya!

Istana itu sarang iblis!!

Lorenzo

Aku tahu Sandro...

Tapi...
Bukan Lorenzo namaku jika aku tak mampu menghabisi mereka! (tersinggung karena sandro tak
meendukungnya kemudian merenung kembali)

Bukankah kau sendiri bilang bahwa cinta adalah anugerah Sang Pencipta dan kasta hanyalah
buatan manusia??

Mengapa sekarang kau berubah pikiran??

Sandro...

Hatiku telah tertambat begitu dalam pada Nymphadora...

Aku percaya akan kekuatan cintaku bahwa Nymphadoraku bukan iblis!

Tapi para penjaganyalah yang serupa dengan iblis kawan!

(mendesah lirih pertanda sedikit putus asa)

Aku bingung harus berbuat apa kawan...

Logikaku terasa mati oleh perasaanku...!

Aku harus menemuinya!!

Aku tak peduli apapun yang terjadi meskipun Nymphadoraku dikelilingi oleh orang-orang
berperangai iblis!

Aku mencintainya Sandro...

Sandro

Tapi...

Para penjaga itu??

Lorenzo
Cukup Sandro!! Jangan halangi aku untuk kali ini!

Besok malam ...

Aku akan menemui perempuan itu apapun yang terjadi!

Kalaupun jiwaku menjadi tumbal atas cintaku...

Aku rela!

Aku rela Sandro!

Sandro

Baiklah jika itu kemauanmu!

Tapi ijinkan aku ikut bersamamu kawan agar aku bisa berjaga-jaga jikalau kau lengah!

Lorenzo

Tidak Sandro...

Aku akan pergi seorang diri, menyelinap masuk tanpa seorangpun yang akan mengenaliku!

Siapapun yang menghalangiku, aku tak kan pernah segan menghancurkannya!

Kau tak perlu mengkhawatirkan aku!

Babak VI

Malam dimana kesunyian menghantui dua jiwa yang jatuh hati, menebarkan suasana
kesepian di dalam hati Lorenzo dan Nymphadora. Keberadaan raga yang terhubung hanya
mengenal nama, membuat pikiran mereka melayang seakan-akan bertemu di dalam tangkupan
pesona mimpi yang begitu indah. Nymphadora menyepikan diri, menyendiri dan merenungi
titik-titik air hujan yang mengguyur malam itu. Angannya melayang, menghayalkan sejuta asa
agar angin malam itu membisikkan dengan lembut di telinga pemuda pujaannya yang tak lain
adalah lorenzo. Agar ia sudi bergegas menemani setiap malam-malam sepinya. Namun asa itu
terpupuskan karena sebuah belenggu keadaan yang sangat tidak memungkinkan untuk dua anak
manusia yang sedang jatuh hati itu untuk bertemu. Karena pertemuan di toko bunga itu terasa
begitu sekejap mata. Mengalir begitu saja tanpa tahu siapa nama mereka masing-masing.

Nymphadora sempat terisak menahan himpitan kerinduan yang begitu mendalam. Namun
apalah daya, sayap-sayap sang peri mulai meringkuk basah karena air hujan. Jiwanya terasa
terkungkung oleh jurang ketidak pastian akan nasib cinta mereka.

Nymphadora

(di tempat duduk taman rumah Nymphadora, berbisik tanpa sadar di dengarkan oleh baltazar dan amor)

Wahai malamku...

Tahukah engkau perasaan hatiku?

Aku telah jatuh hati pada seorang pemuda penjual bunga, Lorenzo namanya...

Perlakuan begitu lembut, membuatku luluh...

Tatapan mata ketulusan tersirat dari matanya...

Menjadikan jiwaku tertawan api asmara...

(mendesah lirih)

Apakah ini yang dinamakan cinta?

Cinta...

Menjadikan malam-malamku terasa sepi tanpa kehadirannya...

Aku merindukannya...

Dimanakah gerangan pemuda itu?


Oh Lorenzo...

Adakah kau juga merindukan aku??

Algerina

Nymphadora...

Mengapa engkau duduk menepi seperti itu?

Tak biasanya tatapanmu mengisyaratkan kerinduaan mendalam...

Siapa gerangan yang kau rindukan Nymphadora??

Nymphadora

(terkejut dan berpura-pura menutupi)

Oh... kau Algerina...

Sapaanmu telah mengejutkan aku...

Aku tidak sedang melamun...

Dan aku tidak sedang merindukan siapapun...

Algerina

Nymphadora...

Bibirmu bisa berbohong tapi tidak dengan matamu sahabatku...

Aku tahu sorotan mata itu...

Apakah engkau merindukan pemuda penjual bunga itu??

(menatap lebih dalam dan tersenyum sinis)


Kau mencintainya?

Nymphadora

(mengalihkan pandangan ke arah lain)

Ah... engkau bisa saja Algerina...

Engkau seakan bisa menangkap isi hatiku...

Engkau benar Algerina...

Aku telah jatuh cinta pada Lorenzo, pemuda penjual bunga itu...

Tapi apakah mungkin semua ini terjadi Algerina??

Algerina

Nymphadora...

Lihatlah dirimu...(menunjuk ke ruangan kamar Nymphadora)

Engkau seorang darah biru...

Adat telah mengikatmu!

Kau takkan pernah bisa melawan takdir itu sahabatku...

Nymphadora

Mengapa tidak?

Tidak selamanya darah biru harus mencintai darah biru...

Itu hanyalah kasta rekayasa manusia!

Tapi yang kurasakan adalah anugerah Algerina...


Ciptaan sang Maha Kuasa...

Cinta ...

Iya Algerina...

Cinta...

Engkau mengertikan??

Algerina

Tapi...

Nymphadora

Sudahlah Algerina sahabatku...

Resiko apapun akan aku terima meski nyawaku yang menjadi korbannya...

Algerina

Ssssttttt.....(menutup mulut Nymphadora)

Jangan katakan itu Nymphadora!!!

Jangan!

Jangan sahabatku!

Jikalau langit mendengar, perkataanmu akan menjadi doa permohonan bagimu!

Nymphadora

Biarlah langit tahu dan seluruh isi dunia ini tahu...

Bahwa cinta butuh pengorbanan...


Cinta butuh segala perjuangan dengan ikhlas...

Hingga nyawapun yang menjadi titik akhir dari perjuangan cinta itu sendiri!

Algerina

(tersinggung merasa tak didengarkan)

Terserah padamu Nymphadora...

Aku hanyalah seorang sahabat bagimu...

Dan peranku ada hanya untuk mengingatkan seorang sahabat sepertimu...

Jangan sampai engkau terjerumus oleh pilihan yang salah...!

Baiklah Nymphadora...

Aku mengerti dan menghargai perasaanmu sebagai wanita...

Nantikanlah dengan setia kehadiran kekasihmu itu...

Dan biarkan aku pergi!

Karena sedikitpun perkataanku tak kau dengar!

Selamat tinggal Nymphadora!!

(Algerina pergi meninggalkan Nymphadora)

Nymphadora

Algerina!!

Tunggu..!!

Ya.. Tuhan...
Baltazar

(jalan tertatih-tatih)

Satu-persatu orang-orang yang kau cintai pergi meninggalkanmu!

Termasuk juga kekasihmu!

Kau tak kan pernah bertemu lagi dengannya nona...

Sahabatmu... dan juga kekasihmu... hra...ra..ra...

Karena kekasihmu telah mati di tanganku...

Hrraaa...ra...raa...

Nymphadora

(terkejut, ketakutan)

Siapa kau?

Berani masuk ke halaman rumahku?

Kau tak serupa manusia baik-baik!

Mahluk apakah engkau ini?

Dan apa maksud perkataanmu??

Amor

(masuk dan tersenyum tipis)

Kami adalah penguasa hidup dan matimu di dunia ini!

Dan kau akan menjadi milik kami!


Karena para penghalang telah musnah!

Dan itulah kemauan kami...

Sahabat terkasihmu pergi meninggalkanmu...

Pemuda pujaan hatimu pun telah mati di tangan Baltazar!

Engkau takkan pernah menemuinya di dunia ini!

Dan kami telah mengantarnya ke akhirat!

Ha..ha..ha..

Oh Nymphadora betapa malang nasibmu...

Kau merana seorang diri...

Nymphadora

Apa maksudmu?

Kalian telah membunuh pemuda penjual bunga itu?

Kalian...

Kalian telah membunuh Lorenzoku??

Kejam...(menangis, terduduk lemas)

Kalian sungguh kejam!!

Baltazar

Iya...!

Aku telah menusukkan pisau ke tubuh pemuda itu!


Dan dia menggelepar kesakitan!

Begitu menderita!

Namun aku menyukainya!

Aku menikmati detik-detik akhir kematian kekasihmu...

Penderitaan seorang menusia pemuja cinta!

Hrrraaa...rrra...raa...

Amor

(tersenyum sinis)

Cinta... oh cinta...

Mengapa kisahmu begitu indah??

Kematian seorang pemuda yang mabuk cinta...

Dan seorang putri yang merana karena ditinggal mati kekasih pujaannya!!

Ha...ha...

Indah... sungguh indah cerita ini...

Sangat eksotis...

Dan begitu mengharukan!!!

Oh.. betapa malang nasibmu nona...!!

Ha...ha...

Nymphadora
(mengangis)

Kalian!!!

Kalian memang biadab!

Terkutuklah kalian!!

Sampai matiku, aku takkan pernah memaafkan kalian!

Kalian sungguh kejam!

Baltazar

(mendekati Nymphadora)

Mendekatlah padaku nona...

Aku adalah milikmu!!

Mari sayang datanglah padaku...

Aku berjanji akan membahagiakanmu...

Lupakan saja pemuda pujaanmu yang sudah menjadi bangkai...

Hrrra...ra..ra..

Amor

Benar nona manis...

Kau tak perlu takut dengan kami...

Meski hatimu bukan milik kami...

Tapi ragamu akan menjadi penghangat kami malam ini...


Datanglah dan kita nikmati bersama malam ini...

Nymphadora

Pergi!!!

Jangan mendekat!!

(mengangkat salah satu pot)

Atau benda ini akan menghancurkan kepalamu!!

Pergi kalian!!

Sampai matipun aku tak sudi memberikan cinta ataupun ragaku pada kalian!!

Kalian iblis!! Pergi kataku!!!

Baltazar

(mengambil pisau mengancam dan berhasil menangkap nymphadora dan menjambaknya)

Apa kau bilang??

Kau benar!!

Aku memang iblis! Dan aku ingin kau melayaniku...!!!

Atau pisau yang telah kulumuri racun ini akan membunuhmu??

Kau adalah milikku Nymphadora! katakan kepadaku Aku adalah milikmu! Aku adalah milikmu!
Dan mendekatlah kepadaku! (menhipnotis Nymphadora)

Nymphadora

Aku adalah milikmu... aku adalah milikmu...(terhuyung dan mendekati Baltazar)


Lorenzo

(memakai topeng)

Hentikan perbuatan kalian!!!

Jikalau memang kalian seorang laki-laki, lawan aku!!

Lepaskan gadis itu!

Amor

(terkejut)

Siapa kau?!!

Aku tak mengenalmu!

Enyahlah kau pemuda sial! Jangan ganggu kesenangan kami!

Baltazar

(melepaskan jambakan pada Nymphadora)

Tunggu Amor!!

Biarkan aku yang membereskan pemuda bertopeng ini!

Rupanya kau menginginkan wanita ini?

Ambilah...(menggoreskan pisau ke leher Nymphadora dan melempar Nymphadora ke arah Lorenzo)

Tapi tak semudah kau dapat mengambilnya dariku! Ha..ha..

Majulah dan hadapi aku!!

Lorenzo
Baiklah...

(terjadi perkelahian antara Lorenzo dan Baltazar. Baltazar mati di tangan Lorenzo dengan pisaunya sendiri)

Lorenzo

(menggeletakkan mayat baltazar dengan kasar)

Mati kau pecundang busuk!!

Matilah dan mengeraklah di neraka bersama kebiadabanmu!!

Kini tiba giliranmu orang buta!!

Majulah dan biarkan kurobek-robek dadamu!!

Aku haus akan darahmu!!

Amor

Anak muda...

Aku takkan melawan keberanianmu!!

Lebih baik aku pergi...

Aku menyerah!!

Lorenzo

Lekas pergi!

Sebelum pisau ini turut mencabut nyawamu!

Pergi!!

(amor pergi meninggalkan tempat itu, lorenzo menghardik amor. Menghela nafas kemudian ia teringat nymphadora
yang menggigil )
Nona...

Nona sadarlah?

Tubuhnya menggigil...

Nona... bangunlah.. nona...

Biarlah kurawat dia di rumahku...

Babak VII

(setting di kamar Lorenzo)

Kepedihan silih berganti menaungi jiwa Lorenzo... Keinginan untuk menemui pujaan
hatinya telah berbuah kesedihan yang mendalam. Nymphadora yang ia cintai dengan segenap
hatinya telah berubah kini. Racun yang tersebar di seluruh tubuh Nymphadora, karena goresan
pisau baltazar telah melemahkan syaraf ingatannya.

Dalam kehidupannya, Nymphadora tersiksa oleh serangan racun yang mulai menjalar ke
seluruh tubuhnya... terkadang ingatannya pulih, namun terkadang ingatannya menerawang jauh
ke arah mimpi-mimpi yang pernah menghantui di setiap malam-malamnya... kepedihan kian
menggeluti jiwa Lorenzo... Sandropun turut ikut terhanyut dalam kepedihan Lorenzo...

Lorenzo

(lorenzo memegang tangan Nymphadora diam terpaku menatap nymphadora yang tergeletak tak
berdaya, sandro terdiam menatap kepedihan sahabatnya)

Tuuuuhhhhaaaan...

Siksa apa yang kau berikan kepadaku??

Mengapa takdir hidupku tak lepas dari derita??

Mengapa kau ciptakan air mata dalam hidupku??


Setiap detik aku terisak oleh kepedihan...

Setiap jam aku menangisi keadaanku...

Sandro

Kawan...(menepuk bahu lorenzo)

Aku turut prihatin dengan keadaanmu...

Katakan apa yang dapat aku lakukan untukmu Lorenzo?

Lorenzo

Entahlah Sandro!!

Aku hanya ingin Nymphadoraku sembuh...

Aku tak kuasa melihatnya menderita Sandro...

Racun itu telah menjalar keseluruh tubuhnya...

Sandro

(menepuk bahu lorenzo mencoba menghibur)

Tabahkan hatimu Lorenzo...

Aku akan pergi mencari penawar racun itu kawan...

Aku mengenal beberapa tabib ahli racun...

Aku harap aku bisa membantumu...

Tetaplah di sini dan jagalah Nymphadoramu...

Aku pergi kawan...(Sandro pergi meninggalkan lorenzo)


Lorenzo

Baiklah Sandro sahabatku...

Harapanku bergantung padamu...

Nymphadora

(bangun dan terkejut)

Siapa kamu?

Dimana aku?

Lorenzo

Nymphadora...

Tenanglah...

Ini aku...

Ini aku Nymphadora...

Tataplah aku...(mencoba menenangkan nymphadora)

Kenalilah aku Nymphadora...

Kau berada di rumahku kini...

Nymphadora

(meronta-ronta)

Siapa kamu??

Aku tak mengenalmu!


Pergi!!

Lorenzo

Ini aku Nymphadora...

Aku Lorenzo...

Pemuda sang penjual bunga...

Nymphadora

(mendorong lorenzo hingga hampir jatuh)

Bohong!!!

Lorenzoku telah mati...

Kekasihku telah tega meninggalkanku sendiri...

(mencabut pisau di pinggang lorenzo dan mencoba menghujamkan pisau itu ke dadanya)

Lebih baik aku mati...

Lorenzo

(lorenzo mencoba merebut pisau miliknya)

Jangan Nymphadora...

Jangan lakukan itu...

Lihat aku...

Pandang aku...

Aku Lorenzo kekasihmu...


Nymphadora

(kalut, depresi) Pergi!!

Aku hanya ingin sendiri meratapi kepergian kekasihku...

Biarkan aku mati...

Aku tak kuasa menjalani hidup ini seorang diri...

Sahabatku pergi meninggalkan aku...

Kekasihku mati di tangan para penjahat itu...

Lorenzo

(berlutut memohon)

Nymphadora...

Aku mohon...

Sadarlah sayang...

Sadarlah Nymphadora...

(mendekati nymphadora dan terjadi perebutan pisau dengan nymphadora, tanpa sadar Lorenzo menusukkan belati
itu ke tubuh nymphadora)

Tidaaakkkk...(lampu mati)

Nymphadora

(menjerit kesakitan dan memeluk Lorenzo)

Aarrrrggghhh..(lampu nyala, jatuh di pelukan lorenzo)


Babak VIII

Kepedihan yang terangkum teramat dalam begitu menyayatkan hati dan menciptakan
siksa batin yang begitu hebat bagi Lorenzo... Kenangan demi kenangan terindah yang pernah
tercipta antara Lorenzo dan Nymphadora hanya tersimpan begitu dalam di setiap relung hati dan
pikiran Lorenzo. Semua telah terungkap sudah... kegelisahan dan cinta abadi Lorenzo. Segala
bentuk pengorbanan cinta dan torehan kemegahan arti sebuah cinta...

(setting tempat seperti babak I)

Lorenzo

(tertunduk lesu sambil memeluk jasad Nymphadora)

Sandro

(sandro masuk mengamati lorenzo sehabatnya dan terkejut. Berjalan pelan mendekati Lorenzo yang tertunduk lesu
di samping jasad Nymphadora)

Lorenzo...

Aku telah medapatkan racun untuk penawar racun yang ada di tubuh kekasihmu Nymphadora?
(mencoba menjamah bahu lorenzo dengan hati-hat dan menunjukkan botol racuni)

Lorenzo mengapa kau tak menjawab aku kawan?? (curiga)

(menatap heran) Lorenzo...

Apa yang terjadi?

Peristiwa apa yang menjadikan kisahmu berakhir seperti ini?

(mencoba menjamah dengan pasti bahu lorenzo)

Lorenzo...

Apa yang terjadi kawan??


Penawar itu telah ada ditanganku...

Cepat minumkan pada Nymphadoramu kawan, agar racun penawar racun ini segera
menyembuhkan pujaan hatimu...

Lorenzo jawab aku...

Lorenzo

(bangun dan terkejut serta menjauh dari jasad nymphadora serta sandro)

Siapa kamu!!??

Kaukah jiwa laknat itu??

Pergi...!!

Pergi..!!(kalut, depresi)

Sandro

(melihat jasad Nymphadora dan melihat keadaan Nymphadora)

Nymphadora...?!? (meletakkan botol racun di dekat tubuh nymphadora)

Lorenzo..!!

(diam sejenak seraya menyimpulkan)

Jangan katakan padaku kau pelakunya!! (marah, kalut, bingung)

Lorenzo

(tidak mengenali sandro sahabatnya karena depresi)

Pergi..!!

Jangan dekati kekasihku!!


Pergi!!

Atau ku bunuh kau!!

(mengacungkan pisau ke hadapan sandro dan menyerang sandro. Terjadi perkelahian)

Sandro

(membela diri sambil terus menenangkan lorenzo, menempeleng lorenzo berkali-kali)

Lorenzo!!!

Sadarlah kawan...

Ini aku Sandro sahabatmu!

Tenangkan hatimu...

Ini aku Sandro...

Lorenzo

Bohong!!

Kau sama saja dengan mahluk-mahluk laknat itu!!

Kau pasti ingin mengambil Nymphadoraku!!

Pergi!!

Sandro

Lorenzo...!!

Bukalah matamu! (menampar lorenzo)

Ini aku kawan!


Sandro sahabat yang selalu setia menemanimu!

Sadarlah Lorenzo!

(menempelengi lorenzo, sambil menangisi keadaan yang terjadi)

Sadarlah!

(mendekati dan mengambil halus pisau yang diacungkan ke arahnya)

Ini aku kawan...

Sahabatmu...

Lorenzo

Sandro...

Sandro sahabatku...

(sedih dan depresi kembali)

Aku telah melakukannya Sandro!!

Aku telah merenggut nyawa kekasihku Nymphadora!!

Sandro...

Nymphadora mati...

Tangan inilah yang telah mencabut nyawa kekasihku!!

Tangan inilah yang telah menodai cintaku...

Aku hanya ingin jiwanya abadi bersama dengan imajinasiku saja...

Aku mencintainya Sandro...


Aku mencintai Nymphadora...

Sandro

(memeluk menenangkan lorenzodan mencoba mendudukkan lorenzo)

Tenang kawan...

Aku sandro sahabatmu...

Lepaskan tangismu kawan...

Luapkan kepedihanmu...

Aku disini untukmu...

Lorenzo

Tidak....

Kau Bohong...!!

Tidak ada seorangpun di dunia ini yang sudi menemaniku!!

Tidak kau! Tidak juga para dewa! Tidak juga Nymphadora!!

Tidak...!!(depresi)

Pergi..!!

Biarkan aku sendiri!!

Jangan dekati aku!!(menyorot tajam pada sandro, diam dan mematung)

Ha..ha.. (memegangi kepala merasakan sakit kemudian tertawa hilang kontrol)

Kau tak ubahnya seperti mereka!!


Kau datang hanya untuk menghancurkan hidupku!! Iyakan!!??

Pergi kau pengkhianat!!!

Sandro

Astaga Lorenzo!!

Aku Sandro sahabatmu!

Aku takkan pernah mengkhianatimu kawan...

Akan kujaga semua rahasia peristiwa ini...

Aku berjanji Lorenzo...

Aku janji...

Lorenzo

Perggggiiiii..!!!!

(merebut pisau dari tangan sandro)

Atau kusayatkan pisau ini dan kutancapkan tepat dijantungmu!!(sandro mencoba mendekati lorenzo)

Berhenti kataku!!!

Satu langkah lagi kau mendekat, akan kutancapkan pisau ini!!

Pergi...

Pergilah...

Aku ingin sendiri...(menangis pedih)

Sandro
Tidak kawan...

Aku tidak akan meninggalkanmu seperti ini!!

Biarkan aku menemanimu...

Lorenzo

Pergi..!!!

Aku hanya ingin menikmati kesendirianku dengan Nymphadora!!

Pergi...!!

Sandro

Baiklah kawan...(sandro melangkah pergi ragu-ragu)

Aku akan pergi...

Lorenzo

(mendekati jasad Nymphadora)

Sayang...

Dengarkah kau suaraku??

Katakan bahwa hatimu hanyalah untukku...

Cintamu, kecantikanmu, dan segala yang kau miliki adalah milikku??

Katakan...

Katakan itu kepadaku Nymphadora...

(mengambil botol berisi racun di samping tubuh nymphadora)


Lihatlah Nymphadora...

Inilah jalan untukku pergi menemanimu...

Akan kuminum racun ini agar aku bisa bersamamu selamanya...

Biarlah hanya otakku, hatiku dan mataku melihatmu dan memilikimu seutuhnya...

Seutuhnya dan hanya akulah yang berhak atasmu...

Cintamu dan kenanganmu kan abadi bersama cairan laknat ini...

Dan kau takkan pernah pergi meninggalkanku selamanya...

Selamanya Nymphadora...

Selamanya...

(Lorenzo meneguk botol racun, dan merasakan khasiat dari racun itu. Matanya tiba-tiba buta,
telinganya tuli dan lidahnya mati tak bisa berkata apapun)

Argghhhhhhh......

(Lorenzo mencoba berdiri dan manabarak segala sesuatu yang berada di dekatnya, dia seakan-
akan mengucapkan kata-kata, namun tak satupun kata yang keluar dari mulutnya... kemudian di
akhirnya Lorenzo tersenyum seperti telah bertemu dengan Nymphadora hanya diangannya,
hatinya dan otaknya)

(layar tertutup)

Epilog:

Jika cinta itu tercipta dengan begitu menyakitkan, untuk apa cinta itu terlahir?? Bukankah
lebih baik jika cinta itu musnah seperti abu pembakaran mayat yang tersiram oleh air laut...
musnah dan takkan mungkin kembali....
Mengapa dunia mengijinkan cinta itu hadir?? Bukankah cinta juga telah merenggut
nyawa Sang Anak Manusia utusan surgawi?? Cinta jugalah yang membutakan Adam ikut
memakan buah surgawi itu??

Kisah ini mengilhami agar kita jangan pernah mencintai seseorang dengan terlalu
berlebihan... Karena cinta yang terlalu mendalam tanpa logika akan membutakan hati nurani
yang luhur, membutakan kepekaan terhadap orang lain yang juga membutuhkan kasih sayang
kita, dan membuyarkan arti dari cinta itu sendiri. Cinta yang penuh dengan kelembutan,
keikhlasan, pengorbanan, dan sejuta keindahan pesona cinta itu sendiri.

TAMAT