Anda di halaman 1dari 11

Jurnal Praktikum

Kimia Anorganik II
Sintesis Kobalt Kompleks
Tanggal Percobaan:
Kamis, 22-Mei-2014

Disusun Oleh:
Aida Nadia (1112016200068)
Kelompok 4 Kloter 1:
Amaliyyah mahmudah (1112016200043)
Rizky Harysetiawan (1112016200069)
Lilik Jalaludin (1112016200074)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014
I. Abstrak
Telah dilakukan praktikum mengenai sintesis kobalt kompleks.
Senyawa kompleks merupakan senyawa yang terbentuk dari ion logam yang
berikatan dengan ligan secara kovalen koordinasi. Sintesis kobalt kompleks
dibuat dengan membuat dua larutan, dimana larutan pertama dilarutkannya
(NH
4
)
2
CO
3
kedalam air dan NH
4
OH. Sedangkan, pada larutan kedua
dilarutkannya kobalt nitrat dengan air. Larutan 1 dan 2 dicampurkan dan
ditambahkan asam peroksida 30% dan dipanaskan sampai 85
0
C,
ditambahkan dengan (NH
4
)
2
CO
3
, disaring, filtat didinginkan, Kristal
terbentuk , dicuci dengan air dan etanol 95%.
Kata kunci : kobalt kompleks, senyawa kompleks

II. Pendahuluan
Analisis kualitatif dapat dilakukan dengan cara, yaitu: dalam skala
mikro, semi mikro, makro dan dengan cara kering dan cara basah. Cara
Pengenalannya bisa dengan cara, yaitu:
1. Sifat yang langsung dapat diamati. Contoh : Warna, bau, bentuk kristal
2. Sifat fisik. Contoh : titik didih, titik leleh, indeks bias
3. Reaksi dengan zat lain. Pengenal : endapan, gas, kompleks yang berwarna
Dalam analisis kualitatif, pembentukan kompleks sering digunakan untuk
pemisahan atau identifikasi. Terbentuknya ion kompleks antara lain ditandai
dengan adanya: perubahan warna dalam larutan dan kenaikan kelarutan
(Darsati, 2012).
Senyawa kompleks merupakan senyawa yang terbentuk dari ion
logam yang berikatan dengan ligan secara kovalen koordinasi. Ikatan
koordinasi merupakan ikatan kovalen dimana ligan memberikan sepasang
elektronnya pada ion logam untuk berikatan. Atom pusat yang digunakan
dalam peercobaan ini adalah kobalt. Ligan yang digunakan adalah nitrat,
amina, karbonil, dan aqua. Kestabilan senyawa kompleks dipengaruhi oleh
faktor ligan dan atom pusat. Faktor yang mempengaruhi kestabilan
kompleks berdasarkan pengaruh atom pusat antara lain besar dan muatan
dari ion, nilai CFSE, dan faktor distribusi muatan (Agustina, dkk., 2013).
Kobalt merupakan salah satu logam unsur transisi dengan
konfigurasi elektron 3d
7
yang dapat membentuk kompleks. Kobalt yang
relatif stabil berada sebagai Co(II) ataupun Co(III). Namun dalam senyawa
sederhana Co, Co(II) lebih stabil dari Co(III). Ion ion Co
2+
dan ion
terhidrasi [Co(H
2
O)
6
]
2+
stabil di air. Kompleks kobalt dimungkinkan dapat
terbentuk dengan berbagai macam ligan, diantaranya sulfadiazin dan
sulfamerazin. Ion pusat dalam kompleks kobalt(II) adalah Co
2+
. Kobalt
adalah logam transisi golongan VIII B dan terletak pada periode ke empat
dalam sistem periodik unsur. Kobalt memiliki bilangan oksidasi tertinggi IV,
sedangkan kobalt(II) paling stabil di antara bilangan oksidasi lainnya.
Senyawa kompleks terbentuk akibat terjadinya ikatan kovalen koordinasi
antara suatu atom atau ion logam dengan suatu ligan (ion atau molekul
netral). Logam yang dapat membentuk kompleks biasanya merupakan
logam transisi, alkali, atau alkali tanah. Studi pembentukan kompleks
menjadi hal yang menarik untuk dipelajari karena kompleks yang terbentuk
dimungkinkan memberi banyak manfaat, misalnya untuk ekstraksi dan
penanganan keracunan logam berat (Muarip, 2012).
Kobalt adalah logam berwarna abu-abu seperti baja, dan bersifat
sedikit magnetis. Ia melebur pada 1490
0
C. Logam ini mudah melarut dalam
asam-asam mineral encer. Dalam larutan air dari senyawa-senyawa
kobalt(II), terdapat ion Co
2+
yang merah. Senyawa-senyawa kobalt(II) yang
tak berhidrat atau tak berdisosiasi, berwarna biru. Jika disosiasi dari
senyawa-senyawa kobalt ditekan, warna larutan berangsur-angsur berwarna
biru. Kompleks-kompleks kobalt(II) dapat dioksidasikan dengan mudah
menjadi kompleks-kompleks kobalt(III). Reaksi-reaksi ion kobalt(II) dapat
dipelajari dengan larutan kobalt(II) klorida, CoCl
2
.6H
2
O, 0,5M atau
kobalt(II) nitrat, Co(NO
3
)
2
.6H
2
O, 0,5M (Svehla, 1985: 276).
Kobalt merupakan logam yang jarang ditemukan, diperkirakan
meliputi 20 ppm dalam kerak bumi. Kobalt ditemukan dalam cadangan yang
mengumpul sehingga produksi tahunannya mencapai jutaan pon. Kobalt
terutama digunakan untuk membuat campuran dengan logam lain. Seluruh
logam sederhana mempunyai orbital yang bisa membentuk ion kompleks
(Petrucci, 1987: 154-155).
Garam-garam unsur triad besi biasanya terkristal dari larutan sebagai
hidrat. Hidrat Co(II) klorida mempunyai sifat-sifat yang menarik. Jika
diletakkan pada uap lembab atmosfer, tergantung pada tekanan atmosfer,
tergantung pada tekanan parsial H
2
O
(g)
, hidrat dapat terjadi dalam warna-
warna yang berbeda. Pada udara kering, air hidrat lepas dan padatan
berangsur-angsur berubah warna dari biru menjadi merah muda (Petrucci,
1987: 158).
Gugus yang terikat pada ion logam pusat disebut ligan, dan
gabungan ion pusat dengan ligan yang terikat adalah suatu kompleks
(Petrucci, 1987: 180).
Pengeringan udara (temperature lingkungan). Sebagai endapan dapat
dikeringkan secukupnya untuk penentuan analitik tanpa harus melalui
temperature yang tinggi. Misalnya, MgNH
4
PO
4
.6H2O kadang-kadang
dikeringkan dengan mencuci menggunakan suatu campuran alcohol dan eter
dan menyaring air dari endapan selama beberapa menit. Namun, prosedur ini
normalnya tidak disarankan karena bahaya dari penghilangan air yang tidak
tuntas dengan pencucian (Underwood, 2002: 78).
Banyak sekali reaksi yang digunakan dalam analisis anorganik
kualitatif melibatkan pembentukan endapan. Endapan adalah zat yang
memisahkan diri sebagai suatu fase padat keluar dari larutan. Endapan
mungkin berupa kristal (kristalin) atau koloid, dan dapat dikeluarkan dari
larutan dengan penyaringan atau pemusingan (centrifuge). Endapan
terbentuk jika larutan menjadi terlalu jenuh dengan zat yang bersangkutan.
Kelarutan (S) suatu endapan, menurut definisi adalah sama dengan
konsentrasi molar dari larutan jenuhnya. Kelarutan bergantung pada
berbagai kondisi, seperti suhu, tekanan, konsentrasi bahan-bahan lain dalam
larutan itu, dan pada komposisi pelarutnya (Shevla, 1985: 72).

III. Material dan Metode Kerja
A. Material
Alat:
Gelas kimia
Gelas ukur
Pipet tetes
Batang pengaduk
Pipet Volumetric
Corong gelas
Tang krus (Penjepit besi)
Termometer
Neraca Ohauss
Kaca arloji
Spatula
Penangas air
Cawan porselin
Oven
Kertas saring
Desikator
Stopwatch
Wadah untuk ice bath



Bahan:
Padatan (NH
4
)
2
CO
3

Air
Larutan Amoniak (NH
3
)
Padatan kobalt nitrat
Larutan H
2
O
2
30%
Es batu
Etanol

B. Metode Kerja
1. Membuat larutan 5 gram (NH
4
)
2
CO
3
kedalam 15 mL air,
2. Tambahkan dengan 15 mL NH
4
OH atau larutan NH
4
OH ini dibuat
dari larutan (NH
3
sebanyak 12 mL + H
2
O sebanyak 3 mL) lalu
diaduk campuran larutan pada nomor 1 dan 2 ini, campuran larutan
ini sebagai larutan nomor 1,
3. Ambil 3,5 gram kobalt nitrat dan larutkan dalam 7,5 mL air, larutan
ini sebagai larutan 2,
4. Campurkan larutan 1 dan 2, lalu diaduk,
5. Tambahkan dengan 2 mL H
2
O
2
30% (dalam penambahannya harus
setetes demi setetes),
6. Panaskan sampai 85
0
C jangan sampai mendidih,
7. Tambahkan dengan (NH
4
)
2
CO
3
sebanyak 1,2 gram
8. Disaring filtratnya, lalu diambil filtratnya ini tapi residunya jangan
dibuang,
9. Didinginkan filtratnya sampai suhunya menjadi 5
0
C didalam ice
bath, nanti di ice bath ini akan terbentuk Kristal,
10. Kristal yang terbentuk di cuci dengan 60,2 mL air (sedikit demi
sedikit),
11. Lalu, Kristal di cuci lagi dengan 7,5 mL larutan etanol 95%, lalu
disaring,
12. Residu dikeringkan selama 30 menit dengan suhu 105
0
C,
13. Setelah pengeringan masukkan ke desikator timbang residu dan cari
rendemennya.

IV. Hasil dan Pembahasan
A. Hasil
Hasil pengamatan
Hasil Pengamatan
Padatan (NH
4
)
2
CO
3
Berupa bubuk putih halus
Berwarna putih
Massa yang digunakan 5 gram
Larutan NH
3
+ H
2
O NH
4
OH Larutan tidak berwarna
Larutan NH
3
konsentrasi 5M
Padatan kobalt nitrat + air Berupa Kristal
Berwarna merah pekat
Massa yang digunakan 3,5
gram (pada penambahan
pertama) + air volume 7,5 mL
Hasil kobalt nitrat + air
larutan berwarna merah pekat
agak kehitaman
Massa yang digunakan 1,2
gram (pada penambahan
kedua)
Campuran larutan 1 dan 2
(keterangan larutan 1 dan 2 ini
ada di langkah kerja)
Larutan menjadi berwarna
ungu pekat.
Campuran larutan 1 dan 2 +
larutan H
2
O
2

Larutan menjadi berwarna biru
dongker
Larutan dipanaskan Suhu pemanasan sampai 85
0
C
(jangan sampai mendidih)
Penyaringan Filtrat berwarna merah darah
Residu merahh pekat
Pendinginan di ice bath Suhu pendinginan sampai 5
0
C
Terbentuk Kristal berwarna
merah kehitaman
Pencucian Kristal dengan air dan
etanol 95%
Volume air yang digunakan
60,2 mL
Volume etanol 95% yang
digunakan 5 mL
Hasil setelah pencucian dengan
keduanya yaitu residua tau
Kristal menjadi hilang atau
larut jadi tidak ada residu yang
dihasilkan.

B. Pembahasan
Pada praktikum kali ini telah dilakukan percobaan mengenai
sintesis kobalt komplek. Sintesis kobalt kompleks dibuat dengan
melakukan dua larutan.
Pada langkah pembuatan larutan pertama yaitu dengan
membuat larutan dari 5 gram (NH
4
)
2
CO
3
kedalam 15 mL air dan 15 mL
NH
4
OH dimana larutan NH
4
OH ini dapat dibuat dari (NH
3
sebanyak
12mL dan H
2
O sebanyak 3 mL). maka akan menghasilkan larutan
berwarna putih.
Pada langkah pembuatan larutan kedua yaitu dengan membuat
larutan dari 3,5 gram kobalt nitrat kedalam 7,5 mL air. Larutan kedua ini
menghasiilkan larutan berwarna merah tua pekat atau merah darah.
Setelah semua larutan sudah selesai dibuat, dilannjutkan
dengan dicampurkannya larutan 1 dan 2, sehingga dihasilkannya larutan
yang berwarna ungu pekat.
Ketika sudah dicampurkan semua larutan ini ditambahkan
dengan 2 mL H
2
O
2
30% dalam penambahannya harus setetes demi
setetes karena larutan asam peroksida ini sangat berbahaya jadi kalau
sekaligus di tuangkan akan bisa sampai meledak atau hanya
mengeluarkan asap, hasil dari penambahan asam peroksida ini yaitu
larutan enjadi berwarna biru dongker. Setelah itu, larutan dipanaskan
sampai 85
0
C akan tetapi ingat jangan sampai mendidih dikarenakan
didalam larutan ini tadi terkandung asam perooksida yang sangat mudak
meledak. Selanjutnya, larutan ini ditambahkan lagi dengan larutan
(NH
4
)
2
CO
3
dalam keadaan masih panas agar dapat larut secara
sempurna. Kemudian, larutan ini disaring sehingga menghasilkan filtrat
berwarna merah darah dan endapan (residu) berwarna merah pekat.
Setelah disaring, filtrat ini didinginkan sampai 5
0
C di ice bath sehingga
teerbentuk Kristal berwarna merah kehitaman. Selanjutnya Kristal ini
dicuci dengan 60,2 mL air (dalam penuangannya sedikit demi sedikit
agar Kristal Kristal tetap terjaga keseimbangannya atau tidak tumpah),
hasil dengan pencucian dengan air ini yaitu Kristal yang dihasilkan
menjadi lebih sedikit atau berkurang. Hal ini terjadi karena penambahan
air yang volumenya terlalu banyak sehingga perbandingannya dengan
jumlah kkristal tidak sebanding sehingga diakibatkan endapan yang
tersisa hanya tertinggal sedikit saja. Setelah dicuci dengan air, Kristal
dicuci lagi akan tetapi menggunakan etanol hal ini bertujuan agar Kristal
dapat cepat kering. Etanol 95% yang digunakan untuk mencuci Kristal
ini sebanyak 5 mL. hasil setelah ditambahkan dengan etanol ini adalah
Kristal menjadi hilang atau habis atau sama sekali tidak tersisa didalam
kertas saring tadi, hal ini dikarenakan karena tadi pada saat pencucian
dengan air dalam jumlah yang sangat banyak maka Kristal yang teersisa
hanya sedikit sekali, sehingga pada saat pencucian dengan etanol karena
jumlah Kristal yang tersisa sangat sedikit jadinya Kristal habis tercuci.
Akibat Kristal setelah pencucian habis tercuci atau tidak tersisa
lagi endapannya, maka dari itu didalam percobaan kali ini tidak dapat
dilanjutkan ketahap selanjutnya untuk mencari rendemennya, karena
untuk mencari rendemennya ini harus didapat residu. Berdasarkan
keterangan diatas maka dapat disimpulkan bahwa percobaan kali ini
praktikan dianggap belum berhasil. Hal ini dimungkinkan karena adanya
kesalahan dan kekurangtelitian praktikan dalam menjalani praktikum
seperti kurang teliti dalam menimbang, bahan yang digunakan kurang
fresh, dan faktor-faktor lainnya yang sudah disebutkan diatas dengan
jelas yaitu karena tidak dihasilkannya residu akibat perbandingan jumlah
pencuci dengan residu atau Kristal tidak sebanding dimana volume
pencuci terlalu banyak.

V. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan:
1. Pada percobaan kali ini praktikan dianggap belum berhasil dalam
melakukan praktikum karena praktikan kehilangan Kristal atau residu pada
saat pencucian, dikarenakan akibat perbandingan jumlah pencuci dengan
residu atau Kristal tidak sebanding dimana volume pencuci terlalu banyak.










VI. Referensi
Petrucci, Ralph, H. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Jilid 3
Edisi Keempat. Jakarta: Erlangga.
JR., R.A. DAY dan UNDERWOOD,A.L. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif
Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga.
Svehla, G. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro.
Jakarta: PT.Kalman Media Pusaka.

Agustina, L., dkk. 2013. Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks
Cu(II)-8-Hidroksikuinolin dan Co(II)-8-Hidroksikuinolin.
http://download.portalgaruda.org/article.php?captcha=marrano&article
=74285&val=4709&title=&yt0=Download%2FOpen . Diakses pada
tanggal 02 Mei 2014 Pukul 21:13 WIB.
Darsati, Siti. 2012. Analisis Kualitatif Zat Anorganik.
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._KIMIA/19560323
1981012-SITI_DARSATI/Analisa_Kualitatif_pny_bu_siti.pdf .
Diakses pada tanggal 04 Juni 2014 Pukul 13:01 WIB.
Muarip, S. 2012. Kompleks Kobalt (Co) dan Nikel (Ni) dalam Tubuh.
http://al-chemi.blogspot.com/2012/06/kompleks-kobalt-co-dan-nikel-
ni-dalam.html . Diakses pada tanggal 04 Juni 2014 Pukul 13:04 WIB.