Anda di halaman 1dari 9

Laporan Praktikum

Kimia Organik II
Sintesis Asam Asetilsalisilat (Aspirin)
Tanggal Percobaan:
Jumat, 06-Juni-2014

Disusun Oleh:
Aida Nadia (1112016200068)
Kelompok 4 Kloter 1:
Amaliyyah mahmudah
Hanna Aulia
Rista Firdausa Handoyo


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014
I. Abstrak
Telah dilakukan praktikum mengenai Sintesis Asam Asetilsalisilat (Aspirin).
Suatu asam karboksilat adalah suatu senyawa organik yang mengandung gugus karboksil,
COOH. Gugus karboksil mengandung sebuah gugus karbonil dan sebuah gugus hidroksil;
antar-aksi dari kedua gugus ini mengakibatkan suatu kereaktivan kimia yang unik untuk
asam karboksilat. Asam-asam karboksilat penting secara biologis maupun komersial.
Aspirin adalah sebuah asam karboksilat, seperti juga asam oleat dan prostaglandin.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka didapat persentase Aspirin sebesar 72%
dengan titik leleh percobaan sebesar 136
o
C, sedangkan titik leleh berdasarkan literatur
yaitu 136
0
C. Maka dari itu, persentase kebenaran percoobaan yaitu 99,27 % dan persentase
kesalahan 0,73%.
Kata kunci : aspirin, asam karboksilat, titik leleh

II. Pendahuluan
Suatu asam karboksilat adalah suatu senyawa organik yang mengandung gugus
karboksil, COOH. Gugus karboksil mengandung sebuah gugus karbonil dan sebuah gugus
hidroksil; antar-aksi dari kedua gugus ini mengakibatkan suatu kereaktivan kimia yang
unik untuk asam karboksilat. Asam-asam karboksilat penting secara biologis maupun
komersial. Aspirin adalah sebuah asam karboksilat, seperti juga asam oleat dan
prostaglandin (Fessenden, 1982:64).
Asetosal atau asam asetil salisilat atau aspirin adalah agen analgesik, antipiretik,
dan anti-inflamasi. Sifat anti-inflamasi berkaitan dengan penghambatan biosintesis
prostaglandin (Astuti, 2011).
Aspirin atau acetyl salicylic acid yang termasuk dalam golongan salisilat
merupakan salah satu jenis nonsteroidal anti-inflammatory drugs atau NSAIDs yang
banyak digunakan pada pengobatan nyeri ringan sampai sedang. Efek farmakologi aspirin
antara lain analgesik (melawan sakit dan nyeri), antipiretik (menurunkan demam), anti
inflamasi serta anti koagulan (Nuraeni, 2007).
Asam asetilsalisilik atau lebih dikenal dengan aspirin merupakan hasil reaksi antara
asam salisilat dengan asetik anhidrida. Aspirin merupakan analgesik yang efektif dalam
mengatasi rasa sakit radang akut. Aspirin umumnya digunakan untuk melepaskan sakit
akibat rematik otot, sakit pinggang, dan beberapa variasi lainnya seperti radang amandel,
radang selaput lendir, sakit gigi, dan sering digunakan untuk pengobatan arthritis serta
insomnia. Selain digunakan sebagai bahan utama pembuatan aspirin, asam salisilat juga
dapat digunakan juga sebagai bahan baku obat yang menjadi turunan asam salisilat
(Kristian dan Amitra, 2007).

(Anonim, 2007).
Pengeringan udara (temperature lingkungan). Sebagai endapan dapat dikeringkan
secukupnya untuk penentuan analitik tanpa harus melalui temperature yang tinggi.
Misalnya, MgNH
4
PO
4
.6H2O kadang-kadang dikeringkan dengan mencuci menggunakan
suatu campuran alcohol dan eter dan menyaring air dari endapan selama beberapa menit.
Namun, prosedur ini normalnya tidak disarankan karena bahaya dari penghilangan air yang
tidak tuntas dengan pencucian (Underwood, 2002: 78).
Banyak sekali reaksi yang digunakan dalam analisis anorganik kualitatif
melibatkan pembentukan endapan. Endapan adalah zat yang memisahkan diri sebagai suatu
fase padat keluar dari larutan. Endapn mungkin berupa kristal (kristalin) atau koloid, dan
dapat dikeluarkan darilarutan dengan penyaringan atau pemusingan (centrifuge). Endapan
terbentuk jika larutan menjadi terlalu jenuh dengan zat yang bersangkutan. Kelarutan(S)
suatu endapan, menurut definisi adalah sama dengan konsentrasi molar darilarutan
jenuhnya. Kelarutan bergantung pada berbagai kondisi, seperti suhu,tekanan, konsentrasi
bahan-bahan lain dalam larutan itu, dan pada komposisi pelarutnya (Shevla, 1985:72).
Asam asetilsalisilat terurai bila dipanaskan dan untuk menentukan benar tidaknya
suatu zat, maka dilakukan dengan penentuan titik leleh yang jelas. Titik terurainya mulai
dari 128
0
-137
0
C, yang tercantum dalam literatur (Irwandi, 2014: 30).
III. Material dan Metode Kerja
A. Material
* Alat:
Spatula
Kaca arloji
Neraca Ohauss
Gelas kimia
Gelas ukur
Pipet tetes
Batang pengaduk
Stopwatch
Hot plate
Magnetic stirer
Wadah/ panci untuk ice bath
Kertas saring
Cawan porselen
Oven
Desikator
Penangas minyak
Kaki tiga
Kawat kasa
Bunsen
Statif dan klem
Termometer alkohol
Termometer raksa
Pipa kapiler
Batang pulpen
Karet


* Bahan:
Asam salisilat murni
Air
Asam asetat glasial
Asam sulfat pekat
Es batu

B. Metode Kerja
1. Larutkan 1 gram asam salisilat murni dalam 50 mL air.
2. Tambahkan 2 mL asam asetat glasial, lalu di stirer di hot plate.
3. Tambahkan 2 tetes asam sulfat pekat (di kocok sampai 2 menit).
4. Di diamkan selama 5 menit (sampai terbentuk endapan).
5. Tambahkan 20 mL air (endapan bukan larut tapi sampai tercampur)
6. Letakkan larutan kedalam ice bath sampai terbentuk endapan.
7. Lalu, di saring.
8. Endapan di oven selama 30 menit pada suhu 105
0
C.
9. Lalu, di timbang residu (endapan).
10. Lalu, uji titik leleh.

III. Hasil Praktikum dan Pembahasan
A. Hasil Praktikum
Hasil pengamatan:
Hasil Pengamatan
Kertas saring 0,8 gram
Asam salisilat murni - Berupa bubuk
- Berwarna putih
- Massa yang digunakan 1 gram

1 g Asam salisilat murni + 50 mL air

- Hasil larutan tidak larut.

Asam asetat glasial - Volume 2 mL
- Larutan tidak berwarna

Stirer larutan 1 g Asam salisilat murni +
50 mL air + 2 mL Asam asetat glasial
di hot plate

- Hasil larutan dikocok sampai larut
(tercampur sempurna)
- Larutan berminyak

Ditambahkan larutan dengan asam
sulfat pekat, lalu di kocok
- Volume asam sulfat: 2 tetes
- Lama pengocokkan selama 2 menit
- Hasil larutan berminyak sedikit larut,
tapi masih ada sedikit endapan putih
dan larutan tidak berwarna

Larutan didiamkan - Waktu pendiaman selama: 5 menit
- Hasil sampai terbentuk endapan
Di tambahkan dengan air pada larutan
yang sudah didiamkan dan terbentuk
endapan, lalu di kocok

- Volume air: 20 mL
- Hasil: larutan tercampur, tapi endapan
tidak larut
Larutan di letakkan di ice bath - Hasil terbentuk Kristal (endapan)

Larutan di saring - Filtrat: tidak berwarna
- Endapan (Kristal): berwarna putih

Dikeringkan 6esidua tau endapan - Pada suhu 105
0
C.
- Lama pengovenan 30 menit.

Residu di timbang - Massa sampel: 0,72 gram.

Uji titik leleh - Titik leleh hasil percobaan: 136
0
C
- Titik leleh menurut literature: 128
0
137
0
C.
Perhitungan
Kadar Aspirin





Uji titik leleh
*Persentase kebenaran:



x 100%

x 100% = 99,27 %
*Persentase kesalahan:



x 100%

x 100% = 0,73 %
Persamaan reaksi

B. Pembahasan
Pada praktikum kali ini telah dilakukan percobaan mengenai Sintesis Aspirin
(Asam Asetilsalisilat).
Asam salisilat sendiri merupakan asam karboksilat yang biasa digunakan dalam
dunia kedokteran sebagai obat demam atau pusing. Menurut Nuraeni (2007), Aspirin atau
acetyl salicylic acid yang termasuk dalam golongan salisilat merupakan salah satu jenis
nonsteroidal anti-inflammatory drugs atau NSAIDs yang banyak digunakan pada
pengobatan nyeri ringan sampai sedang. Efek farmakologi aspirin antara lain analgesik
(melawan sakit dan nyeri), antipiretik (menurunkan demam), anti inflamasi serta anti
koagulan. Aspirin dijual secara bebas dan tersebar luas di masyarakat untuk pengobatan
sendiri.
Pada percobaan kali ini bertujuan untuk mensintesis aspirin dari asam salisilat
murni, dari percobaan tersebut dihasilkan kristalin putih aspirin sebanyak 0.72 gram dari
1 gram asam salisilat murni. Melalui proses esterifikasi, asam salisilat direaksikan dengan
asam asetat anhidrat. Pada proses pembuatan reaksi esterifikasi ini dibantu oleh suatu
katalis asam untuk mempercepat reaksi. Tetapi pada penambahan katalis ini tidak terlalu
berefek maka dilakukanlah pemanasan untuk mempercepat reaksinya. Pada pembuatan
aspirin juga ditambahkan air 20 ml yang berfungsi untuk melakukan rekristalisasi, untuk
itulah digunakan icebath dimana kristalisasi ini dapat berlangsung cepat dan akan terbentuk
endapan. Kemudian endapan disaring dan dikeringkan sehingga diperoleh kristalin putih
yang disebut aspirin.
Berdasarkan percobaan tersebut maka didapat persentase kadar Aspirin (Asam
Asetilasetat) yaitu sebesar 72% dan titik leleh percobaan sebesar 136
o
C, sedangkan titik
leleh berdasarkan literatur yaitu antara 128
0
C-137
0
C. Maka dari itu persentase kebenaran
percoobaan yaitu 99,27 % dan persentase kesalahan 0,73%. Berdasarkan hasil yang didapat
tersebut maka praktikan dapat menyimpulkan, bahwa percobaan yang telah dilakukan kali ini
dianggap berhasil karena ditunjukkan dari titik leleh aspirin yang didapatkan pada percobaan sesuai
dengan literature.

IV. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan:
1. Aspirin adalah sebuah asam karboksilat, seperti juga asam oleat dan prostaglandin.
2. Asam asetil salisilat atau aspirin dapat dibuat dari sintesis dengan asam salisilat dan
direksikan dengan asam asetat anhidrat.
3. Titik leleh kafein pada percobaan yaitu 136
0
C, sedangkan Titik leleh kafein menurut literatur
yaitu antara 128
0
C-137
0
C.
4. Residu yang di uji cobakan benar murni mengandung aspirin dengan persentase
kadarnya yaitu 72%, karena titik lelehnya sesuai atau berada pada range titik leleh
literature.
5. Persentase kebenaran percobaan 99,27% dan persentase kesalahan 0,73%.


V. Referensi
Irwandi, Dedi. 2014. Experiments of Organic Chemistry. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta P.IPA-FITK Press.
JR., R.A. DAY dan UNDERWOOD,A.L. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam.
Jakarta: Erlangga.
Svehla, G. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Bagian I Edisi ke
Lima. Jakarta: PT.Kalman Media Pusaka.


Anonim. 2007. Sintesis Asetilsalisilat (Aspirin) dari Asam Salisilat dan Asam Anhidrida.
http://www.oc-praktikum.de/nop/id/instructions/pdf/5012_id.pdf . Diakses pada
tanggal 12 Juni 2014 pada pukul 17.20 WIB.
Kristian, R dan Amitra, P.S. 2007. Asam Salisilat dari Phenol.
http://rieko.files.wordpress.com/2007/12/asam-salisilat-dara-phenol.pdf . Diakses
pada tanggal 12 Juni 2014 pada pukul 17.24 WIB.
Nuraeni, D. 2007. Pengaruh Pemberian Aspirin Dosis Toksik Per Oral Terhadap Gambaran
Histopatologi Gaster, Duodenum, dan Jejunum Tikus Wistar.
http://eprints.undip.ac.id/22600/1/Dindarti.pdf . Diakses pada tanggal 12 Juni 2014
pada pukul 17.17 WIB.