Anda di halaman 1dari 16

NEW EMERGING DISEASE DAN KEJADIAN

LUAR BIASA
Kelompok 5:
Nuansa Chali !""#$##%"&$'
Ahma Ri(aii!""#$##)#"*'
Diah Ka+,ika !""#$##-#)"'
I..a A/uia 0akim !""#$##&"5#'
KE1ANI2ERAAN KESE0A2AN MAS3ARAKA2
KED4K2ERAN K4MUNI2AS 5AKUL2AS KED4K2ERAN
UNI6ERSI2AS 3ARSI
1e+ioe 7# Juni 8 * Sep,em9e+ $#"*
1 | P a g e
1) Sistem Pelaporan Kejadian Luar Biasa
Standar baku surveilence KLB bagi instansi pemerintah dalam bidang kesehatan
yaitu :
": Lapo+an Ke;aspaaan !Dilapo+kan alam ;ak,u $* <am'
Laporan kewaspadaan adalah laporan adanya penderita, atau tersangka
penderita penyakit yang dapat menimbulkan wabah. Yang diharuskan
menyampaikan laporan kewaspadaan adalah :
a. Orang tua penderita atau tersangka penderitaorang dewasa yang
tinggal serumah dengan penderita tau tersangka penderita kepala
keluarga ketua !" !#kepala dusun.
b. $okter, petugas kesehatan yang memeriksa penderitadokter hewan
yang memeriksa hewan tersangka penderita.
%. Kepala stasiun kereta api, kepala terminal kendaraan bermotor, kepala
asrama, kepala sekolah pimpinan perusahaan, kepala unit kesehatan
pemerintah atau swasta.
d. &ahkoda kendaraan air dan udara
Laporan kewaspadaan disampaikan kepada Kepala Lurah atau Kepala
$esa dan atau 'nit Kesehatan terdekat selambat(lambatnya )* jam
sejak mengetahui adanya penderita atau tersangka penderita KLB baik
dengan %ara lisan, maupun tertulis. Kemudian laporan kewaspadaan
tersebut harus diteruskan kepada laporan kepala Puskesmas setempat.
+si laporan kewaspadaan tersebut adalah :
&ama penderita hidup atau telah meninggal
,olongan umur
"empat dan alamat kejadian
#aktu kejadian
-umlah yang sakit dan meninggal
ALUR LA14RAN KEWAS1ADAAN
2 | P a g e
Rumah Sakit,
Instansi lain
(Stasiun, Perush)
Dinas
Kesehatan
Camat
Puskesmas
pembantu/bidan
desa
PSK!S"#S
Desa/keluraha
n
Dusun/R$/R%
"as&arakat
Pen&elidikan
epidemi'l'gi dan
penanggulananga
n K()
#lur lap'ran
Pen&elidikan
dan
penanggulanga
Ket*
$: Lapo+an Ke<aian Lua+ Biasa !W"' Dilapo+kan Dalam Wak,u " = $*
<am
.erupakan salah satu laporan kewaspadaan yang dibuat oleh unit
kesehatan, segera setelah mengetahui adanya KLB penyakit
tertentukera%unan makanan. Laporan ini digunakan untuk melaporkan
KLB atau wabah, sebagai laporan peringatan dini kepada pihak(pihak
yang menerijma laporan akan adanya KLB penyakit tertentu di suatu
wilayah tertentu. Laporan KLB ini harus memperhatikan asas dini, %epat,
dapat diper%aya dan bertanggung jawab yang dapat dilakukan dengan
lisan atau tertulis.
Laporan KLB /#01 ini harus diikuti dengan laporan 2asil Penyidikan
KLB dan !en%ana Penanggulangannya.
'nit kesehatan yang membuat laporan KLB /#01 adalah Puskesmas,
$inas Kesehatan KabupatenKota dan Propinsi, dengan berpedoman pada
3ormat Laporan KLB /#01.
4ormulir Laporan KLB /#01 adalah sama untuk Puskesmas, KabKota
dan Propinsi, dengan Kode berbeda. Berisi nama daerah KLB /desa,
ke%amatan, kabupatenkota dan nama puskesmas1, jumlah penderita dan
+ | P a g e
)antuan Pen&elidikan
dan penanggulangan
meninggal pada saat laporan, nama penyakit, dan langkah(langkah yang
sedang dilakukan. Satu 3ormulir #0 berlaku untuk 0 jenis penyakit saja.
ALUR LA14RAN KLB !W"'
Lapo+an KLB 1uskesmas !W"1U' :
Laporan KLB Puskesmas /#0Pu1 dibuat oleh Puskesmas kepada %amat
dan $inas Kesehatan KabupatenKota
Lapo+an KLB Rumah Saki, !KD>RS' :
Laporan adanya penyakit KLB di !S dibuat oleh !umah sakit dikirim ke
Puskesmas dan $inas Kesehatan KabupatenKota.
, | P a g e
"enteri Kesehatan
(Dir-en PP".P()
/ubernu
r
)upati/0alik'
ta
Dinas
Kesehatan
Pr'pinsi
Dinas
Kesehatan
kab/k'ta
Rumah
sakit
Puskesmas
Camat
Lapo+an KLB Ka9upa,en>Ko,a !W"Ka' :
Laporan KLB KabupatenKota /#0Ka1 dibuat oleh dinas Kesehatan
KabupatenKota Kepada Bupati#alikota dan $inas Kesehatan Propinsi.
Lapo+an KLB 1+opinsi !W"1+':
Laporan KLB Propinsi /#0Pr1 dibuat oleh $inas Kesehatan Propinsi
kepada ,ubernur dan $epartemen Kesehatan, ub. $irektorat -enderal
yang menangani KLB Penyakit /$irjen PP.5PL1
7: Lapo+an 1en/eliikan Epiemiolo?i KLB an Ren@ana
1enan??ulan?an KLB
Setelah diterbitkan laporan KLB /#01, maka pelapor segera melakukan
penyelidikan epidemiologi KLB yang dimaksud, dan segera membuat
laporan hasil penyelidikan KLB. Laporan penyelidikan epidemiologi
KLB berguna untuk memberikan pedoman pada berbagai pihak yang
menerima laporan untuk memberikan kewaspadaan yang tepat, dan
apabila diperlukan dapat memberikan dukungan yang e3ekti3 dan e3isien.
$isamping itu, laporan penyelidikan epidemiologi KLB, dapat
diman3aatkan oleh Bupati, ,ubernur dan $epartemen Kesehatan untuk
menjelaskan kepada masyarakat tentang adantya KLB penyakit dari
langkah(langkah yang sedang dan akan dilakukan, sekaligus mendorong
sikap tanggap masyarakat terhadap kejadian tersebut.
Laporan Penyelidikan 6pidemiologi KLB dan !en%ana Penangulangan
KLB berisi:
a. Kebenaran terjadinya KLB penyakit tertentu.
1 | P a g e
b. $aerah yang terserang, desa, ke%amatan, kabupaten dan puskesmas
yang bertanggung jawab terhadap wilayah kejadian KLB.
%. Penjelasan diagnosis penyebab KLB dan sumber(sumber penularan
atau pen%emaran yang sudah dapat diidenti3ikasi, termasuk bukti(
bukti laboratorium.
d. #aktu dimulainya kejadian KLB dan keadaan pada saat penyelidikan
epidemiologi KLB sedang dilakukan.
e. Kelompok penduduk terserang beserta jumlah kesakitan dan kematian
karena KLB /kur7a epidemi, angka serangan dan angka kematian
karena penyakit84!1.
3. Keadaan yang memperberat keadaan KLB, misalnya status ,i9i,
musim kemarau, banjir dsb.
g. 'paya penanggulangan yang sedang dan akan dilakukan.
h. :pabila diperlukan adanya jenis dan jumlah bantuan yang dibutuhkan
i. "im penyelidikan 6pidmiologi KLB.
j. "anggal penyelidikan 6pidemiologi dilaksanakan.
Laporan penyelidikan 6pidemiologi KLB dan ren%ana penggulangan
KLB diikuti dengan L:PO!:& B6!K:L: P6!K6.B:&,:& KLB
dengan isi laporan yang sama tetapi disesuaikan dengan keadaan terakhir,
ditambah denagn perkembangan KLB.
*: Lapo+an 1ena??ulan?an KLB
Berbeda dengan Laporan KLB /#01 dan Laporan Penyelidikan dan
!en%ana Penanggulangan KLB yang dibuat pada awal kejadian KLB,
maka Laporan Penanggulangan KLB dibuat setelah KLB berakhir.
2 | P a g e
Laporan penanggulangan KLB berguna untuk menjelaskan data
epidemiologi KLB, sumber daya yang telah diman3aatkan dan
kkemungkinan terjadinya KLB lanjutan atau KLB dimasa yang akan
datang, serta kemungkinan terjadinya peyebaran kedaerah lain.
+si laporan Penanggulangan KLB hampir sama dengan laporan
penyelidikan epidemiologi dan ren%ana pemnanggulangan KLB, sebagai
berikut:
a. Kebenaran terjadinya KLB penyakit tertentu.
b. $aerah yang terserang, desa, ke%amatan, kabupaten, dan puskesmas
yang bertanggung jaw;ab terhadap wilayah kejadian KLB.
%. Penjelasan diagnosis penyebab KLB dan sumber(sumber penularan
atau pen%emaran yang sudah dapat diidenti3ikasi, termasuk bukti(
bukti laboratorium.
d. #aktu dimulainya KLB dan berakhirnya KLB /periode serangan
KLB1.
e. Kelompok penduduk yang terserang beserta jumlah kesakitan dan
kematian karena KLB /kur7a epidemi, angka serangan dan angka
kematian karena penyakit84!1.
3. Keadaan yang memperberat keadaan KLB, misal, status gi9i, musim
kemarau, banjir dsb.
g. 'paya penanggulangan yang telah dilakukan.
h. 'paya pen%egahan dan kesiapsiagaan terhadap KLB dimasa yang
akan datang.
i. "im Penanggulangan KLB.
j. "anggal Laporan dibuat
3 | P a g e
Laporan ini merupakan sumber data epidemiologi yang sangat
penting untuk merumuskan kebijakan dan ren%ana kerja program
penanggulangan KLB dimasa akan datang.
5: Lapo+an Min??uan Wa9ah !W$'
Laporan .ingguan #abah /#)1 merupakan bagian dari sistem
Kewaspadaan $ini KLB yang dilaksanakan oleh unit kesehatan terdepan
/Puskesmas1.
Sumber data laporan mingguan #abah /#)1 adalah data rawat jalan dan
rawat inap dari puskesmas, puskesmas pembantu, puskesmas keliling,
posyandu, masyarakat dan !umah Sakit pemerintah maupun Swasta.
Setiap daerah KabupatenKota atau Propinsi memiliki beberapa penyakit
potensial KLB yang perlu diwaspadai dan deteksi dini. Sikap waspada
terhadap penyakit potensial KLB ini juga diikuti dengan sikap tim
pro3esional, logistik dan tata %ara penanggulangannya, termasuk sarana
administrasi, komunikasi dan transportasi.
Se%ara nasional penyakit yang wajib diwaspadai adalah diare dan
polio:4P ditambah dengan penyakit potensial KLB spesi3ik lokal misal
$B$, .alaria dan lain(lain, baik Propinsi maupun KabupatenKota.
Penyakit ini yang dimasukkan dalam Laporan .ingguan #abah /#)1 ini,
Puskesmas dan $inas Kesehatan KabupatenKota membuat kur7a
.ingguan #abah untuk setiap jenis penyakit potensial KLB, sebagai alat
deteksi respon dini KLB.
ALUR 1ELA14RAN MINGGUAN WABAJ !W$' an
1EMAN5AA2ANN3A
4 | P a g e
5 | P a g e
+6 "embuat kur7a
mingguan
kab/k'ta dan tabel
mingguan
perPuskesmas
setiap pen&akit
p'tensial K()
,6 #nalisis deteksi
dini K()
16 "embuat kur7a
mingguan Puskesmas
dan tabel mingguan
per desa setiap
pen&akit p'tensial K()
26 #nalisis deteksi dini
K()
Dinas
Kesehatan
kab/k'ta
Rumah Sakit
Puskesmas
Praktek
s0asta
"as&arak
at
"as&araka
t
)idan
desa
Puskesm
as
pembant
u
P'liklinik
Puskesm
as
2) Faktor yang mempengaruhi tingginya angka Zoonosis di Indonesia
Peningkatan interaksi antara hewan domestik, satwa liar dan manusia adalah
faktor kritis dan penting secara progresif dalam dinamika kemunculan penyakit
dan penularan patogen zoonosis. Suatu model konvergensi yang disajikan
dibawah ini membantu untuk mengkonseptualisasikan bagaimana faktor-faktor
yang mendorong kemunculan penyakit baru dan penyakit lama yang muncul
kembali bergabung satu sama lain dan menyatu serta merubah keterkaitan antara
hewan-manusia-mikroba, sehingga kemudian mampu memproduksi dan
menularkan penyakit.
Faktor yang berpengaruh adalah :
a. Faktor manusia yang berkontribusi terhadap kemunculan zoonosis
mencakup elemen seperti perilaku dan gaya hidup, mobilitas (perjalanan dan
keimigrasian), serta kondisi kehidupan ekonomi dan teknologi. Skala
populasi manusia dan kepadatan habitat juga mempengaruhi kemunculan
zoonosis.
b. Faktor hewan meliputi keragaman geografis, perdagangan legal dan ilegal
hewan domestik dan satwa liar, biodiversitas, keseimbangan
predator/pemangsa hewan lain, habitat dan kesehatan hewan.
c. Faktor lingkungan beragam mulai dari tanah dan vegetasi, cuaca dan
musim, perubahan iklim jangka panjang, serta kondisi lokal seperti
ketinggian tempat, temperatur, kelembaban yang mempengaruhi populasi
hewan dan vektor.
18 | P a g e
Gambar 2: Matriks dan interaksi antara faktor-faktor pendorong dengan
patogen yang berkontribusi terhadap kemunculan zoonosis baru dan yang
muncul kembali.
d. Globalisasi, pertumbuhan dan pergerakan populasi orang dan hewan;
urbanisasi yang cepat; ekspansi perdagangan hewan dan produk hewan;
meningkatnya kecanggihan teknologi dan praktek budidaya ternak; interaksi
yang lebih dekat dan lebih intensif antara ternak dan satwa liar;
meningkatnya perubahan ekosistem, perubahan ekologi vektor dan
reservoir; perubahan pemanfaatan lahan, termasuk perambahan hutan; dan
perubahan pola perburuan dan konsumsi satwa liar. Tidak dapat dihindarkan
bahwa orang, hewan, dan produk secara global bergerak lebih cepat dari
masa inkubasi hampir setiap patogen yang pernah dikenal sampai saat ini.
3) Kelemahan Sistem Dalam Penanggulangan New Emerging Disease
Faktor yang Berperan
Berbagai faktor dapat berperan dalam timbulnya penyakit lingkungan berbasis
wilayah seperti water born diseases, air born diseases, vector born diseases, food born
diseases, antara lain dukungan ekosistem sebagai habitat dari berbagai vektor,
peningkatan iklim global (global warming) yang meningkatkan akselerasi
perkembangbiakan nyamuk, peningkatan kepadatan populasi penduduk yang dijadikan
11 | P a g e
hamparan kultur biakan bagi berbagai macam penyakit serta dijadikan persemaian subur
bagi virus sekaligus sarana eksperimen rekayasa genetika.
Mobilisasi penduduk yang memungkinkan ekspor-import penyakit yang tidak
lagi mengenal batas administrasi wilayah, Kemampuan mikroba patogen untuk mengubah
sifat dirinya dari waktu ke waktu, misalnya mutasi yang menimbulkan perubahan sifat,
resistensi terhadap obat obatan dan lain sebagainya, kurangnya kesadaran masyarakat
dalam membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat atau perubahan perilaku yang
mendukung aksesbilitas agent menginfeksi host serta pencemaran lingkungan yang cukup
intens sebagai konsekuensi oleh eksplorasi, manipulasi, dan eksploitasi terhadap
lingkungan biologis, kimiawi, fisis dan sosial. Berbagai kegiatan pembangunan manusia
yang dikerjakan secara sendiri-sendiri berkelompok maupun yang diprogramkan karena
kepentingan negara, bahkan dunia sekalipun akan menimbulkan dampak, faktor-faktor ini
bisa menyebabkan kerentanan terhadap kemampuan tubuh dalam menangkal penyakit
sehingga melahirkan berbagai penyakit menular berbasis lingkungan yang melengkapi
koleksi penyakit di tanah air.
Pada kejadian suatu penyakit, berbagai variabel lingkungan dan kependudukan
termasuk didalamnya perilaku hidup sehat adalah dua faktor risiko utama penyakit.
Penyehatan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat merupakan upaya utama
pengendalian berbagai faktor risiko penyakit dalam satu wilayah. Manajemen penyakit
lingkungan berbasis wilayah, dapat dilakukan melalui manajemen kasus (case
management) dan manajemen kesehatan masyarakat (public health management).
1. Manajemen Kasus (case management)
Merupakan bagian penting dari manajemen penyakit infeksi baru maupun penyakit
infeksi lama yang muncul kembali, penerapan teknik dan kemampuan diagnosis,
pemeriksaan laboratorium, pengobatan, perawatan dan rehabilitasi serta pencegahan
agar tidak menular kepada orang lain. Manajemen kasus yang berhasil, merupakan
upaya pencegahan yang efektif agar penyakit tidak menyebar, dan tidak menjadi
12 | P a g e
sumber penularan. Surveilans kasus, yang dilakukan dengan baik, sampai
menimbulkan aksi, merupakan salah satu item penting yang perlu dilakukan.
Surveilans terpadu adalah kegiatan pengumpulan data, baik faktor risiko maupun
kejadian penyakit yang dilakukan secara simultan, sistematik, periodik,
berkesinambungan dan terencana, yang diikuti oleh analisis data untuk mendapatkan
informasi yang digunakan dalam pengambilan keputusan (manajemen).
2. Manajemen Kesehatan Masyarakat (Public Health Management)
Manajemen penyakit berbasis lingkungan tidak bisa dilaksanakan secara sendiri.
Oleh sebab itu, kemitraan dan Networking adalah salah satu kunci utama. Global
Networking dilakukan antarnegara, misalnya ASEAN, ASEAN + 3 negara (Japan,
China, Korea). Dalam pola baru ini disamping digunakan cara klasifikasi gejala
penyakit yang praktis dan sederhana dengan teknologi tepat guna, juga dipisahkan
antara tatalaksana penyakit Pneumonia dan tatalaksana penderita penyakit infeksi
akut telinga dan tenggorok.
National Networking
Di Indonesia networking antara Pusat dengan Dinas Kesehatan, dengan laboratorium baik
di Rumah Sakit maupun Laboratorium Kesehatan Masyarakat seperti seperti Balai Teknik
Kesehatan Lingkungan dan Penyelidikan Penyakit Menular (BTKLP2M). Demikian pula
dengan unit vertikal lainnya seperti Kantor Kesehatan Pelabuhan serta dengan LSM yang
bergerak di bidang kesehatan yang relevan. Networking juga harus dilakukan dengan
semua pelaku kesehatan dan tentu saja masyarakat itu sendiri, melalui berbagai media.
Kerja Sama Lintas Sektor
Sesuai dengan kasus yang berkembang, maka kerjasama dengan berbagai instansi lintas
sektor diperlukan, koordinasi dengan Departemen Pertanian beserta UPT Dinasnya di
daerah dalam menangani KLB Flu burung oleh Virus Influenza A subtype H5N1.
Kerja sama dengan Dinas Pariwisata ketika terjadi wabah SARS dan lain sebagainya.
1+ | P a g e
Untuk keberhasilan program dalam skala massal dan berkesinambungan perlu diterapkan
pendekatan kesehatan berbasis masyarakat. Pembentukan kemampuan diagnosis dini dan
respon dini secara proaktif di level desa, dalam rangka pengendalian yang cepat dan tepat
sasaran berdasarkan spesifik wilayah, yang memiliki potensi risiko yang berbeda.
Lembaga pendidikan kesehatan sebagai institusi yang memiliki tugas tridharma
perguruan tinggi perlu melakukan rekonstruksi kurikulum pendidikan kesehatan
masyarakat yang berbasis kompetensi, boleh jadi diarahkan dari subject based knowledge
ke problem based learning yang antara lain didasari oleh SPICES (Student center,
Problem based, Integrated learning, Community oriented, Early clinical/exposure
environmental epidemiological serta Systematic) tema skenario yang diangkat
berdasarkan berbagai masalah penyakit infeksi baru yang memiliki evidenced based,
penyebaran (global dan local epidemiologi), teknik penyelidikan epidemiologi serta
manajemen penyakit infeksi baru tersebut.
Di satu sisi, penanggulangan eksposure lingkungan antara lain upaya pencemaran
lingkungan merupakan tanggung jawab semua pelaku pembangunan. Departemen
Kesehatan tidak mungkin dapat mewujudkan kesehatan masyarakat, tanpa komitmen
pelaku pembangunan, mulai dari aspek perundang-undangan termasuk PERDA,
penerapan strategi, adanya perioritas kebijakan dan program pelaksanaan dan evaluasi di
masing-masing instansi, untuk mewujudkan lingkungan yang sehat dan bersih.
Kesimpulan
Masalah penyakit lingkungan berbasis wilayah meliputi penyakit New Emerging
Infectious Disease (NEID) dan Re Emerging Infectious Disease (REID)
merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang harus diantisipasi, karena
berpotensi terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB), menyebar dalam tempo
singkat dan menimbulkan dampak luar biasa terhadap kehidupan masyarakat
serta merupakan salah satu ancaman serius di masa mendatang. Untuk itu
dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, lintas program maupun lintas negara dalam
manajemen penanggulangannya, termasuk keterlibatan aktif lembaga pendidikan
kesehatan.
Weak Surveillance System< tidak bisa dipungkiri untuk negara berkembang
terutama di +ndonesia sendiri sistem pen%atatan dan pelaporannya pun
masih minim dan jauh dari nilai(nilai e3ekti3itas misalnya dalam hal
1, | P a g e
sur7eilans epidemiologi pun masih sangat lemah dan banyak kekeliruan
ditambah lagi masih ada sebagian besar yang menggunakan sistem
manual.
DA52AR 1US2AKA
0. 63endy. &asrul.0==>. Dasar-dasar Kesehatan Masyarakat. Jakarta; EGC.
). Budiarto. 6ko. $ewi :nggraeni. )??@. Pengantar Eidemi!l!gi. Jakarta; EGC.
@. $irektorat Kesehatan dan ,i9i .asyarakat. )??A. "a!ran Ka#ian Ke$i#akan
Penanggulangan %Wa$ah& Penyakit Menular. Badan Peren%anaan Pembangunan &asional
"ahun )??A Badan Peren%anaan Pembangunan &asional "ahun )??A.
*. King L.-. /)??*1. 6merging and re(emerging 9oonoti% diseases: 8hallenges and opportunities.
O+6 do%ument B) S,=. B)nd O+6 ,eneral Session, Paris, )@()> .ay )??*.
11 | P a g e
C. 4ineberg 2.D. and #ilson ..6. /)?0?1. 6merging +n3e%tious $iseases. Paper a%%ompanies the
+nternational !isk ,o7ernan%e 8oun%il /+!,81 report E"he 6mergen%e o3 !isks: 8ontributing
4a%torsF.
12 | P a g e