Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Tindakan ekstraksi gigi merupakan suatu tindakan yang sehari-hari kita
lakukan sebagai dokter gigi. Walaupun demikian tidak jarang kita temukan
komplikasi dari tindakan ekstraksi gigi yang kita lakukan. Karenanya kita perlu
waspada dan diharapkan mampu mengatasi kemungkinan-kemungkinan
komplikasi yang dapat terjadi.
(1)
Pencabutan gigi merupakan suatu tindakan pembedahan yang melibatkan
jaringan tulang dan jaringan lunak dari rongga mulut tindakan tersebut dibatasi
oleh bibir dan pipi dan terdapat !aktor yang dapat mempersulit dengan adanya
gerakan dari lidah dan rahang bawah.
(")
Terdapat pula hal yang dapat membahayakan tindakan tersebut yaitu
adanya hubungan antara rongga mulut dengan pharynk laryn# dan oeshophagus.
$ebih lanjut daerah mulut selalu dibasahi oleh sali%a dimana terdapat berbagai
macam jenis mikroorganisme yang terdapat pada tubuh manusia.
(")
Tindakan pencabutan gigi merupakan tindakan yang dapat menimbulkan
bahaya bagi penderita dasar pembedahan harus dipahami walaupun sebagian
besar tindakan pencabutan gigi dapat dilakukan ditempat praktek. &eberapa kasus
perlu penanganan di rumah sakit oleh karena ada pertimbangan kondisi sistemetik
penderita. Tindakan dengan teknik yang cermat dengan didasari pengetahuan serta
ketrampilan merupakan !aktor yang utama dalam melakukan tindakan pencabutan
1
gigi. 'aringan hidup harus ditangani dengan hati-hati tindakan yang kasar dalam
penanganan akan mengakibatkan kerusakan atau bahkan kematian jaringan.
(")
Pencabutan gigi dapat dilakukan bilamana keadaan lokal maupun keadaan
umum penderita (physical status) dalam keadaan yang sehat. Kemungkinan terjadi
suatu komplikasi yang serius setelah pencabutan mungkin saja dapat terjadi
walaupun hanya dilakukan pencabutan pada satu gigi.
(")
Pencabutan gigi yang ideal adalah pencabutan sebuah gigi atau akar gigi
yang utuh tanpa menimbulakan rasa sakit dengan trauma sekecil mungkin pada
jaringan penyangganya sehingga bekas pencabutan akan sembuh secara normal
dan tidak menimbulkan problema prostetik pasca bedah.
(()
Pencabutan gigi pertama kali dilakukan hanya dengan menggunakan tang.
)leh karena timbulnya berbagai macam masalah dalam prosedur pencabutan gigi
yang menyebabkan gigi tersebut sulit untuk dicabut*dikeluarkan bila hanya
menggunakan tang saja maka kemudian dilakukan pembedahan.
(()
Pencabutan gigi dengan pembedahan harus dilakukan apabila pencabutan
dengan tang tidak mungkin dilakukan gagal atau apabila gigi impaksi
(terpendam). &aik untuk pencabutan gigi erupsi yang menimbulkan masalah atau
impaksi molar ketiga prinsip-prinsip pembedahan biasanya relati! serupa. +iawali
dengan pembuatan !lap untuk mencapai jalan masuk ke tulang rahang kemudian
jalan masuk ke gigi dicapai dengan mengasah tulang secara konser%ati!. ,khirnya
jalan masuk yang tidak terhalang diperoleh dengan pengasahan kembali ketulang
atau lebih baik dengan memotong gigi secara terencana. Pada akhir prosedur ini
jaringan lunak dikembalikan ke tempatnya dan distabilkan dengan jahitan. .
(()
2
Pembedahan tidak boleh dilakukan secara sembarangan oleh karena dapat
menimbulkan e!ek samping*komplikasi yang tidak diinginkan misalkan
perdarahan edema trismus dry soket dan masih banyak lagi. +okter gigi harus
mengusahakan agar setiap pencabutan gigi yang ia lakukan merupakan suatu
tindakan yang ideal dan dalam rangka untuk mencapai tujuan itu ia harus
menyesuaikan tekniknya untuk menghadapi kesulitan-kesulitan dan komplikasi
yang mungkin timbul akibat pencabutan dari tiap-tiap gigi.
(()
-ntuk itulah pengetahuan yang mendalam tentang teknik-teknik
pencabutan mutlak diperlukan dalam melakukan tindakan pencabutan khususnya
dengan jalan pembedahan agar dapat mencegah atau mengurangi terjadinya e!ek
samping*komplikasi yang tidak kita inginkan. +i samping itu perawatan pasca-
pembedahan juga merupakan suatu hal yang penting agar prosedur pencabutan
gigi yang dilakukan berhasil dengan baik dan sempurna.
(()
I.. !umusan "asalah
&erdasarkan latar belakang masalah diatas maka rumusan masalah
penelitian yaitu apakah Pre%alensi Pencabutan .igi di bagian &edah /ulut -nhas
periode "001-"002 meningkat3
I.#. $u%uan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pre%alensi
3
Pencabutan .igi di bagian &edah /ulut -nhas periode "001-"002 berdasarkan
'enis Kelamin -mur dan 'enis .iginya.
I.&. "an'aat Penelitian
,dapun man!aat yang diharapkan dapat diperoleh dari penelitian ini
adalah sebagai berikut4
1!br0ken!! /an!aat praktis dari penelitian ini adalah diharapkan mendapat
gambaran mengenai pre%alensi pencabutan gigi di 5umah 6akit .igi dan
/ulut 7K. -ni%ersitas 8asanuddin
2!br0ken!! /an!aat bagi penulis adalah untuk mendapatkan pengalaman
meneliti dan menambah wawasan serta pengetahuan tentang pre%alensi
Pencabuta .igi di 56./ -nhas.
BAB II
$IN(AUAN PU)$A*A
II.1. De'inisi Pencabutan +igi
,&-../.0.1/1
Pencabutan gigi merupakan suatu proses pengeluaran gigi dari al%eolus
dimana pada gigi tersebut sudah tidak dapat dilakukan perawatan lagi. Pencabutan
gigi juga merupakan operasi bedah yang melibatkan jaringan bergerak dan
jaringan lunak dari rongga mulut akses yang dibatasi oleh bibir dan pipi dan
selanjutnya dihubungkan*disatukan oleh gerakan lidah dan rahang. +e!inisi
pencabutan gigi yang ideal adalah pencabutan tanpa rasa sakit satu gigi utuh atau
akar gigi dengan trauma minimal terhadap jaringan pendukung gigi sehingga
bekas pencabutan dapat sembuh dengan sempurna dan tidak terdapat masalah
4
prostetik di masa mendatang.
(9)
Pencabutan gigi merupakan tindakan yang sangat komplek yang
melibatkan struktur tulang jaringan lunak dalam rongga mulut serta keselurahan
bagian tubuh. Pada tindakan pencabutan gigi perlu dilaksanakan prinsip-prinsip
keadaan suci hama (asepsis) dan prinsip-prinsip pembedahan (surgery). -ntuk
pencabutan lebih dari satu gigi secara bersamaan tergantung pada keadaan umum
penderita serta keadaan in!eksi yang ada ataupun yang mungkin akan terjadi.
(1)
:kstraksi gigi adalah suatu tindakan bedah pencabutan gigi dari socket
gigi dengan alat-alat ekstraksi (!orceps). Kesatuan dari jaringan lunak dan jaringan
keras gigi dalam ca%um oris dapat mengalami kerusakan yang menyebabkan
adanya jalur terbuka untuk terjadinya in!eksi yang menyebabkan komplikasi
dalam penyembuhan dari luka ekstraksi. )leh karena itu tindakan aseptic
merupakan aturan perintah dalam bedah mulut.
(;)
6elalu diingat bahwa gigi bukanlah <ditarik= melainkan dicabut dengan hati-hati.
8al ini merupakan prosedur pembedahan dan etika bedah yang harus diikuti guna
mencegah komplikasi serius (!raktur tulang*gigi perdarahan in!eksi). .igi geligi
memang banyak namun masing-masing gigi merupakan struktur indi%idual yang
penting dan masing-masing harus dipelihara sedapat mungkin. Tujuan dari
ekstraksi gigi harus diambil untuk alasan terapeutik atau kurati!.
(>)
Gambar 14 pencabutan gigi
(1;)
Sumber: www.wikipedia.dentale#tractioan.com
II.I.1. Pencabutan Intra Alveolar
(18,19,20,21)
Pencabutan intra al%eolar adalah pencabutan gigi atau akar gigi dengan
menggunakan tang atau bein atau dengan kedua alat tersebut. /etode ini sering
5
juga di sebut !orceps e#traction dan merupakan metode yang biasa dilakukan pada
sebagian besar kasus pencabutan gigi.
(1?"1)
+alam metode ini blade atau instrument yaitu tang atau bein ditekan masuk ke
dalam ligamentum periodontal diantara akar gigi dengan dinding tulang al%eolar.
&ila akar telah berpegang kuat oleh tang dilakukan gerakan kea rah buko-lingual
atau buko-palatal dengan maksud menggerakkan gigi dari socketnya. .erakan
rotasi kemudian dilakukan setelah dirasakan gigi agak goyang. Tekanan dan
gerakan yang dilakukan haruslah merata dan terkontrol sehingga !raktur gigi dapat
dihindari.
(12"0)

II.I.2. Pencabutan Trans Alveolar
(18,21,22)
Pada beberapa kasus terutama pada gigi impaksi pencabutan dengan
metode intra al%eolar sering kali mengalami kegagalan sehingga perlu dilakukan
pencabutan dengan metode trans al%eolar. /etode pencabutan ini dilakukan
dengan terlebih dahulu mengambil sebagian tulang penyangga gigi. /etode ini
juga sering disebut metode terbuka atau metode surgical yang digunakan pada
kasus-kasus4
- .igi tidak dapat dicabut dengan menggunakan metode intra al%eolar
- .igi yang mengalami hypersementosis atau ankylosis
- .igi yang mengalami germinasi atau dilacerasi
- 6isa akar yang tidak dapat dipegang dengan tang atau dikeluarkan dengan
bein terutama sisa akar yang berhubungan dengan sinus ma#illaris.
Perencanaan dalam setiap tahap dari metode trans al%eolar harus dibuat
secermat mungkin untuk menghindari kemungkinan yang tidak diinginkan.
/asing-masing kasus membutuhkan perencanaan yang berbeda yang disesuaikan
dengan keadaan dari setiap kasus.
6ecara garis besarnya komponen penting dalam perencanaan adalah
bentuk !lap mukoperiostal cara yang digunakan untuk mengeluarkan gigi atau
akar gigi dari socketnya seberapa banyak pengambilan tulang yang diperlukan.
6
II.. Indikasi dan *ontraindikasi Pencabutan +igi
,2-3-&1
II.2.1. Indikasi Pencabutan Gigi
(8,9)
.igi mungkin perlu di cabut untuk berbagai alasan misalnya karena sakit
gigi itu sendiri sakit pada gigi yang mempengaruhi jaringan di sekitarnya atau
letak gigi yang salah. +i bawah ini adalah beberapa contoh indikasi dari
pencabutan gigi4
(?)
a!br0ken!! Karies yang parah
(9)
,lasan paling umum dan yang dapat diterima secara luas untuk
pencabutan gigi adalah karies yang tidak dapat dihilangkan. 6ejauh ini gigi
yang karies merupakan alasan yang tepat bagi dokter gigi dan pasien untuk
dilakukan tindakan pencabutan.
b!br0ken!! Nekrosis pulpa
(9)
6ebagai dasar pemikiran yang ke-dua ini berkaitan erat dengan
pencabutan gigi adalah adanya nekrosis pulpa atau pulpa irre%ersibel yang
tidak diindikasikan untuk perawatan endodontik. /ungkin dikarenakan
jumlah pasien yang menurun atau perawatan endodontik saluran akar yang
berliku-liku kalsi!ikasi dan tidak dapat diobati dengan tekhnik endodontik
standar. +engan kondisi ini perawatan endodontik yang telah dilakukan
ternyata gagal untuk menghilangkan rasa sakit sehingga diindikasikan untuk
pencabutan.
c!br0ken!! Penyakit periodontal yang parah
(9)
,lasan umum untuk pencabutan gigi adalah adanya penyakit
periodontal yang parah. 'ika periodontitis dewasa yang parah telah ada selama
beberapa waktu maka akan nampak kehilangan tulang yang berlebihan dan
mobilitas gigi yang irre%ersibel. +alam situasi seperti ini gigi yang
7
mengalami mobilitas yang tinggi harus dicabut.
d!br0ken!! Alasan orthodontik
(9)
Pasien yang akan menjalani perawatan ortodonsi sering membutuhkan
pencabutan gigi untuk memberikan ruang untuk keselarasan gigi. .igi yang
paling sering diekstraksi adalah premolar satu rahang atas dan bawah tapi
premolar ke-dua dan gigi insisi%us juga kadang-kadang memerlukan
pencabutan dengan alasan yang sama.
e!br0ken!! Gigi yang mengalami malposisi
(9)
.igi yang mengalami malposisi dapat diindikasikan untuk pencabutan
dalam situasi yang parah. 'ika gigi mengalami trauma jaringan lunak dan tidak
dapat ditangani oleh perawatan ortodonsi gigi tersebut harus diekstraksi.
@ontoh umum ini adalah molar ketiga rahang atas yang keluar kearah bukal
yang parah dan menyebabkan ulserasi dan trauma jaringan lunak di pipi.
+alam situasi gigi yang mengalami malposisi ini dapat dipertimbangkan untuk
dilakukan pencabutan.
f!br0ken!! Gigi yang retak
(9)
Andikasi ini jelas untuk dilakukan pencabutan gigi karena gigi yang
telah retak. Pencabutan gigi yang retak bisa sangat sakit dan rumit dengan
tekhnik yang lebih konser%ati!. &ahkan prosedur restorati! endodontik dan
kompleks tidak dapat mengurangi rasa sakit akibat gigi yang retak tersebut.
g!br0ken!! Pra-prostetik ekstraksi
(9)
Kadang-kadang gigi mengganggu desain dan penempatan yang tepat
dari peralatan prostetik seperti gigitiruan penuh gigitiruan sebagian lepasan
atau gigitiruan cekat. Ketika hal ini terjadi pencabutan sangat diperlukan.
h!br0ken!! Gigi impaksi
(9)
8
.igi yang impaksi harus dipertimbangkan untuk dilakukan
pencabutan. 'ika terdapat sebagian gigi yang impaksi maka oklusi !ungsional
tidak akan optimal karena ruang yang tidak memadai maka harus dilakukan
bedah pengangkatan gigi impaksi tersebut. Bamun jika dalam mengeluarkan
gigi yang impaksi terdapat kontraindikasi seperti pada kasus kompromi medis
impaksi tulang penuh pada pasien yang berusia diatas (1 tahun atau pada
pasien dengan usia lanjut maka gigi impaksi tersebut dapat dibiarkan.
i!br0ken!! Supernumary gigi
(9)
.igi yang mengalami supernumary biasanya merupakan gigi impaksi
yang harus dicabut. .igi supernumary dapat mengganggu erupsi gigi dan
memiliki potensi untuk menyebabkan resorpsi gigi tersebut.
j!br0ken!! Gigi yang terkait dengan lesi patologis
(9)
.igi yang terkait dengan lesi patologis mungkin memerlukan
pencabutan. +alam beberapa situasi gigi dapat dipertahankan dan terapi terapi
endodontik dapat dilakukan. Bamun jika mempertahankan gigi dengan
operasi lengkap pengangkatan lesi gigi tersebut harus dicabut.
k!br0ken!! erapi pra-radiasi
(9)
Pasien yang menerima terapi radiasi untuk berbagai tumor oral harus
memiliki pertimbangan yang serius terhadap gigi untuk dilakukan pencabutan.
l!br0ken!! Gigi yang mengalami !raktur rahang
(9)
Pasien yang mempertahankan !raktur mandibula atau proses al%eolar
kadang-kadang harus merelakan giginya untuk dicabut. +alam sebagian besar
kondisi gigi yang terlibat dalam garis !raktur dapat dipertahankan tetapi jika
gigi terluka maka pencabutan mungkin diperlukan untuk mencegah in!eksi.
9
m!br0ken!! "stetik
(9)
Terkadang pasien memerlukan pencabutan gigi untuk alasan estetik.
@ontoh kondisi seperti ini adalah yang berwarna karena tetracycline atau
!luorosis atau mungkin malposisi yang berlebihan sangat menonjol. /eskipun
ada tekhnik lain seperti bonding yang dapat meringankan masalah pewarnaan
dan prosedur ortodonsi atau osteotomy dapat digunakan untuk memperbaiki
tonjolan yang parah namun pasien lebih memilih untuk rekonstruksi ekstraksi
dan prostetik.
n!br0ken!! "konomis
(9)
Andikasi terakhir untuk pencabutan gigi adalah !aktor ekonomi. 6emua
indikasi untuk ekstraksi yang telah disebutkan diatas dapat menjadi kuat jika
pasien tidak mau atau tidak mampu secara !inansial untuk mendukung
keputusan dalam mempertahankan gigi tersebut. Ketidakmampuan pasien
untuk membayar prosedur tersebut memungkinkan untuk dilakukan
pencabutan gigi.
II.2.2. ontraindikasi Pencabutan Gigi
(!)
a!br0ken!! Kontaindikasi sistemik
; Kelainan jantung
; Kelainan darah. Pasien yang mengidap kelainan darah seperti
leukemia haemoragic purpura hemophilia dan anemia
; +iabetes melitus tidak terkontrol sangat mempengaruhi penyembuhan
luka.
; Pasien dengan penyakit ginjal (nephritis) pada kasus ini bila dilakukan
ekstraksi gigi akan menyebabkan keadaan akut
; Penyakit hepar (hepatitis).
10
; Pasien dengan penyakit syphilis karena pada saat itu daya tahan
terutama tubuh sangat rendah sehingga mudah terjadi in!eksi dan
penyembuhan akan memakan waktu yang lama.
; ,lergi pada anastesi local
; 5ahang yang baru saja telah diradiasi pada keadaan ini suplai darah
menurun sehingga rasa sakit hebat dan bisa !atal.
; To#ic goiter
; Kehamilan. pada trimester ke-dua karena obat-obatan pada saat itu
mempunyai e!ek rendah terhadap janin.
; Psychosis dan neurosis pasien yang mempunyai mental yang tidak
stabil karena dapat berpengaruh pada saat dilakukan ekstraksi gigi
; Terapi dengan antikoagulan.
b!br0ken!! Kontraindikasi lokal
; 5adang akut. Keradangan akut dengan cellulitis terlebih dahulu
keradangannya harus dikontrol untuk mencegah penyebaran yang lebih
luas. 'adi tidak boleh langsung dicabut.
; An!eksi akut. Pericoronitis akut penyakit ini sering terjadi pada saat
/( 5& erupsi terlebih dahulu
; /alignancy oral. ,danya keganasan (kanker tumor dll) dikhawatirkan
pencabutan akan menyebabkan pertumbuhan lebih cepat dari
keganasan itu. 6ehingga luka bekas ekstraksi gigi sulit sembuh. 'adi
keganasannya harus diatasi terlebih dahulu.
; .igi yang masih dapat dirawat*dipertahankan dengan perawatan
konser%asi endodontik dan sebagainya
II.#. Pemilihan (enis Anastesi
,1#-121
11
Penyakit sistemik mungkin merupakan !aktor penentu yang
mempengaruhi pemilihan anastesi. 6etiap penyakit yang mengganggu e!isiensi
pernapasan atau jalan napas merupakan kontra indikasi terhadap anastesi umum
pada kursi dental.
6ementara beberapa penulis menyarankan untuk tidak memakai adrenalin
dalam larutan anastesi lokal yang digunakan pada pasien-pasien yang menderita
penyakit kardio%askuler. Bamun pendapat yang laCim adalah bahwa adrenalin
dalam jumlah kecil yang diberikan untuk penggunaan di bidang gigi dalam
kenyataannya menguntungkan oleh karena adrenalin ini menyebabkan lebih
terjamin lebih lama dan lebih dalam anastesinya sehingga mengurangi jumlah
adrenalin yang disekresikan oleh pasien itu sendiri sebagai reaksinya terhadap
rasa sakit dan rasa takut.
Penting bahwa setiap pencabutan atau skeling yang dilakukan pada pasien
penderita katup jantung kongenital atau penyakit katup jantung karena reumatik
harus dilakukan hanya dengan perlindungan antibiotik yang memadai.
Pencabutan gigi pada pasien-pasien dengan penyakit jantung yang berat
harus dilakukan di rumah sakit apapun bentuk anastesi yang digunakan.
'ika tendensi untuk terjadinya perdarahan disebabkan oleh adanya
abnormalitas setempat seperti haemangioma maka anastesi lokal harus
dihindarkan dan pencabutan hanya dilakukan dirumah sakit dengan !asilitas-
!asilitas hematologik yang lengkap.
+alam hal ini pemilihan anastetik lokal juga perlu dipertimbangkan.
$ignokain dan deri%ate amide aman dan e!ekti!. :!ek keracunan dan alergi sangat
jarang terjadi dan hampir tidak ada. Walaupun demikian lignokain relati! tidak
e!ekti! tanpa penambahan %asokonstriktor sementara yang lain seperti Prilokain
dapat menahan rasa sakit dalam jangka waktu yang pendek tanpa bantuan apa-
12
apa. Dasokonstriktor seperti adrenalin dan noradrenalin memberikan pengaruh
pada system jantung yang lebih beracun dari anastesi lokal itu sendiri.
Boradrenalin dapat meyebabkan hipertensi yang berbahaya tidak memiliki
keuntungan dan tidak seharusnya digunakan. )leh karena itu kita harus
menghindari anastesi lokal yang mengandung %asokonstriktor pada pasien
penderita jantung dan hipertensi. Karena adanya bahaya utama dari adrenalin yang
jika masuk ke sirkulasi bagian-bagian penting dapat menyebabkan meningkatnya
rangsangan jantung dan detakan jantung.
6ekalipun saat ini prokain jarang digunakan dalam kedokteran gigi namun
patut dicatat bahwa bahan anastesi lokal ini tidak boleh digunakan pada pasien-
pasien yang mendapat sul!onamide untuk perawatan terhadap penyakit
sistemiknya. )leh karena obat-obatan kelompok antibakterial ini mengandung
cincin asam para aminobenCoat yang sama seperti pada prokain yang secara
teoritis bahwa dapat menetralisir sebagian e!ek-e!ek dari yang satu terhadap yang
lainnya jika diberikan bersamaan. 6ekalipun !enomena ini tidak pernah terbukti
secara klinik namun kombinasi ini sebaiknya dihindarkan. Pasien-pasien yang
memiliki riwayat hipersensiti! terhadap sul!onamide tidak boleh diberi bahan
anastesi lokal yang mengandung cincin asam paraminobenCoat.

II.&. Pencabutan *husus +igi +eligi
,141
II.!.1. Insisivus
'arang terjadi kesulitan dalam melakukan pencabutan gigi insisi%us
kecuali kalau giginya berjejal kon!igurasi akar rumit atau gigi sudah dirawat
endodontik. .igi insisi%us atas dicabut dengan menggunakan tang E110 dengan
pinch grasp dan tekanan lateral (!asial*lingual) serta rotasional. Tekanan lateral
lebih ditingkatkan pada arah !asial sedangkan tekanan rotasional lebih ditekankan
13
kearah mesial. Tekanan tersebut diindikasikan karena biasanya pembelokan ujung
akar gigi-gigi insisi%us adalah kearah distal bidang labialnya tipis dan arah
pengungkitannya ke !acial. Ansisi%us bawah dicabut dari posisi kanan*kiri
belakang dengan menggunakan tang E110 dan sling grasp. Tekanan permulaan
adalah lateral dengan penekanan kearah !acial. Ketika mobilitas pertama
dirasakan tekanan rotasional dikombinasikan dengan lateral sangat e!ekti!.
Pengungkitan insisi%us bawah dilakukan kearah !acial dengan perkecualian
insisi%us yang berinklinasi lingual dan berjejal-jejal. -ntuk keadaan tersebut
digunakan E>9 atau E>9B dari kanan*kiri depan. Tang tersebut beradaptasi dengan
baik terhadap insisi%us dan digunakan dengan gerak menggoyah perlahan. Karena
insisi%us bawah tidak tertanam terlalu kuat pengungkitan yang perlahan dan
tekanan yang terkontrol akan mengurangi kemungkinan !raktur.
II.!.2. "aninus
a!br0ken!! Pen#abutan gigi #aninus atas
@aninus sangat sukar dicabut. ,karnya panjang dan tulang ser%ikal
yang menutupinya padat dan tebal. .igi kaninus atas dicabut dengan cara
pinch grasp untuk mendeteksi awal terjadinya ekspansi atau !raktur bidang
!asial dan mengatur tekanan selama proses pencabutan. Tang E110 dipegang
dengan telapak tangan keatas merupakan perpaduan yang sangat cocok dengan
metode diatas. ,da alternati%e untuk gigi kaninus atas yaitu dengan
menggunakan tang kaninus atas khusus E1. Pegangannya lebih panjang dan
paruh tang beradaptasi lebih baik dengan akar kaninus. ,pabila tang sudah
ditempatkan dengan baik pada gigi tersebut paruh masuk cukup dalam
dipegang pada ujung pegangan dan control tekanan cukup baik maka tekanan
pengungkitan dapat dihantarkan. Tekanan pencabutan utama adalah ke lateral
terutama !asial karena gigi terungkit kearah tersebut. Tekanan rotasional
14
digunakan untuk melengkapi tekanan lateral biasanya dilakukan setelah
terjadi sedikit luksasi.
b!br0ken!! Pen#abutan gigi kaninus ba$ah
Kaninus bawah dicabut dengan tang E111 yang dipegang dengan
telapak tangan ke bawah dan sling grasp. 6eperti gigi kaninus atas akarnya
panjang sehingga memerlukan tekanan terkontrol yang cukup kuat untuk
mengekspansi al%eolusnya. 6elama proses pencabutan gigi ini tekanan yang
diberikan adalah tekanan lateral !asial karena arah pengeluaran gigi adalah
!asial. Tekanan rotasional bias juga berman!aat.
c!br0ken!! Prosedur pembedahan (open pro#edure)
+idasarkan atas pertimbangan mengenai pasien dan kesempurnaan
rencana perawatan maka penentuan untuk memilih atau menunda prosedur
pembedahan untuk mencabut gigi-gigi kaninus sebaiknya sudah dibicarakan
sebelum pencabutan. ,pabila dirasa bahwa untuk pencabutan tersebut
diperlukan tekanan tang yang besar untuk luksasi*ekspansi al%eolar sebaiknya
dilakukan prosedur pembukaan !lap.
II.!.#. Pre$olar
a!br0ken!! Pen#abutan gigi premolar atas
.igi premolar atas dicabut dengan tang E110 dipegang dengan telapak
keatas dan dengan pinch grasp. Premolar pertama dicabut dengan tekanan
lateral kearah bukal yang merupakan arah pengeluaran gigi. Karena premolar
pertama atas ini sering mempunyai dua akar maka gerakan rotasional
dihindarkan. ,plikasi tekanan yang hati-hati pada gigi ini dan perhatian
khusus pada waktu mengeluarkan gigi mengurangi insidens !raktur akar.
-jung akar premolar pertama atas yang mengarah ke palatal menyulitkan
15
pencabutan dan !raktur pada gigi ini bias diperkecil dengan membatasi gerak
kearah lingual. .igi premolar kedua biasanya mempunyai akar tunggal dan
dicabut dengan cara yang sama seperti dengan kaninus atas. ,karnya lebih
pendek dan akar bukalnya lebih tipis dari pada gigi kaninus. Tang E110
digunakan kembali dengan tekanan lateral yaitu bukal serta lingual. Pada
waktu mengeluarkan gigi kearah bukal digunakan kombinasi tekanan
rotasional dan oklusal.
b!br0ken!! Pen#abutan gigi premolar ba$ah
Tekhnik pencabutan gigi premolar bawah sangat mirip dengan
pencabutan insisi%us bawah. Tang E111 dipegang dengan telapak tangan
kebawah dan sling grasp. Tekanan yang terutama diperlukan adalah
lateral*bukal tetapi akhirnya bias dikombinasikan dengan tekanan rotasi.
Pengeluaran gigi premolar bawah adalah kearah bukal.
c!br0ken!! Pen#abutan untuk tu%uan ortodonsi
Pencabutan gigi premolar sering merupakan persyaratan perawatan
ortodonsi. .igi-gigi ini biasanya diambil dari orang muda kadang-kadang
akarnya belum sempurna atau baru saja lengkap. Pencabutan premolar dengan
hanya menggunakan tang dengan menghindari penggunaan ele%ator sangat
dianjurkan. Tempat tumpuan yang minimal bagi ele%ator dapat mengakibatkan
luksasi yang tidak disengaja atau bahkan tercabutnya gigi didekatnya pada
pasien muda.
II.!.!. %olar
-ntuk mengekspansi al%eolus pada gigi molar diperlukan tekanan
terkontrol yang besar. Kunci keberhasilan pencabutan gigi-gigi molar adalah
keterampilan menggunakan ele%ator untuk luksasi dan ekspansi al%eolus sebelum
16
menggunakan tang. Tekanan yang diperlukan untuk mencabut molar biasanya
lebih besar dari pada gigi premolar.
a!br0ken!! Pen#abutan gigi molar atas
.igi molar atas dicabut dengan menggunakan tang E110 E1( atau
E"10 dipegang dengan telapak tangan ke atas dan pinch grasp.apabila ukuran
mahkotanya cocok lebih sering dipakai E1( daripada E110 karena adaptasi
akar lebih baik dengan paruh anatomi. Tang E"10 walaupun ideal untuk
pencabutan molar ketiga atas dianggap uni%ersal dan dapat digunakan untuk
mencabut molar pertama dan kedua kanan dan kiri atas. Tekanan pencabutan
utama adalah kea rah bukal yaitu arah pengeluaran gigi.
b!br0ken!! Pen#abutan gigi molar ba$ah
Tang yang digunakan untuk pencabutan gigi molar bawah adalah E111
E"( E""". Tang E111 mempunyai kekurangan yang sama dengan E110 atas
bila digunakan untuk pencabutan molar yaitu paruh tangnya sempit sehingga
menghalangi adaptasi anatomi yang baik terhadap akar. Tang E1> bawah
mempunyai paruh yang lebih lebar yang didesain untuk memegang bi!urkasi
dan merupakan pilihan yang baik bila mahkotanya cocok. Tang E"( (cowhorn)
penggunaanya berbeda dengan tang mandibula yang lain dalam hal tekanan
mencengkram yang dilakukan sepanjang proses pencabutan. Tekanan ini
dikombinasikan dengan tekanan lateral yaitu kearah bukal dan lingual akan
menyebabkan terungkitnya bi!urkasi molar bawah dari al%eolus atau !raktur
pada bi!urkasi. Tang E""" seperti tang E"10 maksila adalah spesi!ik untuk
molar ketiga tetapi sering digunakan pula untuk pencabutan gigi /1 dan /".
Tekanan lateral permulaan untuk pencabutan gigi molar adalah kearah lingual.
Tulang bukal yang tebal menghalangi gerakan ke bukal dan pada awal
17
pencabutan gerak ini hanya mengimbangi tekanan lingual yang lebih e!ekti!.
.igi molar sering dikeluarkan kearah lingual.
II.!.&. Gigi susu
.igi susu dicabut menggunakan tang E110 atau E111 (E1106 atau E1116).
.igi molar susu atas mempunyai akar yang memancar yang menyulitkan
pencabutannya. ,pabila permasalahan tersebut ditambah adanya resorpsi maka
tekanan yang berlebihan sebaiknya dihindari. 6eperti pada pencabutan semua gigi
atas digunakan pinch grasp dan telapak menghadap keatas.
a!br0ken!! Pen#abutan gigi-gigi susu ba$ah
-ntuk pencabutan gigi molar susu digunakan tang E111 dengan sling
grasp. 6eperti pada molar atas biasanya gigi ini mempunyai akar resorpsi
yang di%ergen. Pertimbangan utama pada pencabutan gigi susu adalah
menghindari cedera pada gigi permanen yang sedang berkembang. /isalnya
tang E"( (cowhorn) bukan merupakan pilihan yang cocok untuk molar bawah
susu. ,pabila diperkirakan akan terjadi cedera selama pencabutan dengan
tang sebaiknya direncanakan pembedahan dan pemotongan gigi susu.
5esorpsi akar menimbulkan masalah dalam menentukan apakah akar ini sudah
keluar semuanya ataukah belum. ,pabila ada keraguan sebaiknya dilakukan
!oto rontgen. 6edangkan apabila pengambilan !raktur akar dianggap
membahayakan gigi permanen penggantinya pencabutan gigi sebaiknya
ditunda karena rasio man!aat*resiko tidak menguntungkan.
b!br0ken!! Gigi molar susu yang ankilosis
.igi molar bawah susu lebih sering mengalami ankilosis*terbenam
disbanding dengan yang diatas. 5esorpsi akar dianggap ikut menyebabkan
terjadinya ankilosis. )leh karena itu gigi molar susu dan gigi molar permanen
18
yang terkena trauma sering mengalami ankilosis. ,nkilosis bias diperkirakan
secara klinis dan dikon!irmasikan secara radiogra!is atau sebaliknya. Tidak
terlihatnya celah ligament periodontal dan !usi sementum dengan tulang
al%eolus yang nyata merupakan perubahan radiogra!is yang berhubungan
dengan hal ini. Penemuan klinis adalah tidak adanya mobilitas dan apabila
diketuk akan timbul suara yang berbeda dengan suara yang samar dari gigi
normal. .igi yang ankilosis biasanya dicabut secara pembedahan sering
dengan memotong gigi dari tulang dengan menggunakan bur gigi dan irigasi
larutan salin steril.
II... *omplikasi Pencabutan +igi
,11-1-1#-1&-1.-1/-101
&erbicara masalah pencabutan gigi tidak terlepas dari beberapa komplikasi
normal yang menyertainya seperti terjadinya perdarahan sesaat oedem
(pembengkakan) dan timbulnya rasa sakit. Komplikasi sendiri merupakan
kejadian yang merugikan dan timbul diluar perencanaan dokter gigi. )leh karena
itu kita selaku dokter gigi harus tetap mewaspadai segala kemungkinan dan
berusaha untuk mengantisipasinya sebaik mungkin. 8al ini bertujuan untuk
mencegah terjadinya komplikasi lanjutan dengan resiko yang lebih besar pula.
(11)
,dapun beberapa !aktor penyebab terjadinya komplikasi diantaranya
karena kondisi sistemik dan lokal pasien lalu keahlian keterampilan dan
pengalaman sang operator serta standar prosedur pelaksanaan juga
mempengaruhi. &erbagai komplikasi dapat terjadi seperti4
(11)
II.&.1.Perdara'an
,11
Perdarahan mungkin merupakan komplikasi yang paling ditakuti karena
oleh dokter maupun pasien dianggap dapat mengancam kehidupan. Pasien dengan
gangguan pembekuan darah sangatlah jarang ditemukan kebanyakan adalah
indi%idu dengan penhyakit hati misalnya seorang alkoholik yang menderita
19
sirosis pasien yang menerima terapi antikoagulan atau pasien yang
mengkonsumsi aspirin dosis tinggi atau agen antiradang nonsteroid. 6emua itu
mempunyai resiko perdarahan.
Pembedahan merupakan tindakan yang dapat mencetuskan perdarahan
untuk penderita dengan kondisi yang normal perdarahan yang terjadi dapat
ditangani. 8al yang berbeda dapat terjadi apabila pasien mengalami gangguan
sistem hemostasis perdarahan yang hebat dapat terjadi dan sering mengancam
kelangsungan hidupnya.
&ukanlah hal yang tidak mungkin terjadi kita dihadapkan dengan kelainan
hemostasis ringan sehingga dalam e%aluasi pra bedah tidak terdeteksi secara
klinis. Kesulitan kemudian timbul setelah dilakukan pembedahan terjadi
perdarahan selama ataupun sesudah pembedahan sehingga dapat mengancam jiwa
pasien. )leh karenanya kelainan hemostasis sekecil apapun sebaiknya diketahui
sebelum tindakan bedah dikerjakan agar dapat dilakukan persiapan dan
pencegahan sebelumnya.
II.&.2. (raktur
,1#-&-1.1
a!br0ken!! &raktur mahkota gigi
(1()
6elama pencabutan mungkin tidak dapat dihindari bila gigi sudah
mengalami karies atau restorasi besar. Bamun hal ini sering juga disebabkan
oleh tidak tepatnya aplikasi tang pada gigi bilah tang di aplikasikan pada
mahkota gigi bukan pada akar atau massa akar gigi atau dengan sumbu
panjang tang yang tidak sejajar dengan sumbu panjang gigi. &ila operator
memilih tang dengan ujung terlalu lebar dan hanya memberikan Fkontak 1
titikG gigi dapat pecah bila tang ditekan. &ila tangkai tang tidak dipegang
dengan kuat ujung tas mungkin terlepas dari akar dan mematahkan mahkota
gigi. Terburu-buru biasanya merupakan penyebab dari semua kesalahan yang
20
sebenarnya dapat dihindari bila operator bekerja sesuai metode. Pemberia
tekanan berlebihan dalam upaya mengatasi perlawanan dari gigi tidak
dianjurkan dan bisa menyebabkan !raktur mahkota gigi.
&ila !raktur mahkota gigi terjadi metode yang digunakan untuk
mengambil sisa dari gigi bergantung pada banyaknya gigi yang tersisa serta
penyebab kegagalannya. Terkadang diperlukan aplikasi tang atau ele%ator
tambahan untuk mengungkit gigi dan metode pencabutan transal%eolar.
b!br0ken!! &raktur tulang al'eolar
(19)
+apat terjadi pada waktu pencabutan gigi yang sukar. &ila terasa
bahwa terjadi !raktur tulang al%eolar sebaiknya giginya dipisahkan terlebih
dahulu dari tulang yang patah baru dilanjutkan pencabutan.
c!br0ken!! &raktur tuberositas ma(illaris
(19)
Terjadi pada waktu pencabutan gigi molar tiga rahang atas. Perlu
dihindari oleh karena tuberositas diperlukan sebagai retensi pada pembuatan
gAgi palsu.
d!br0ken!! &raktur yang bersebelahan atau gigi antagonis
(1()
7raktur gigi yang bersebelahan atau gigi antagonis selama pencabutan
dapat dihindari. Pemeriksaan praoperasi secara cermat dapat menunjukkan
apakah gigi yang berdekatan dengan gigi yang akan dicabut telah mengalami
karies restorasi besar atau terletak pada arah pencabutan. &ila gigi yang akan
dicabut adalah gigi penjangkaran mahkota jembatan harus dibelah dengan
disk %ulkarbo atau intan sebelum pencabutan. &ila gigi sebelahnya terkena
karies dan tambalannya goyang atau mengaung (o%erhanging) maka harus
diambil atau ditambal dengan tambalan sementara sebelum dilakukan
pencabutan. Tidak boleh diaplikasikan tekanan pada gigi yang berdekatan
21
selama pencabutan dan gigi lainnya tidak boleh digunakan sebagai !ulcrum
untuk ele%ator kecuali bila gigi tersebut juga akan dicabut pada kunjungan
yang sama.
.igi antagonis bisa pecah atau !raktur bila gigi yang akan dicabut tiba-
tiba diberikan tekanan yang tidak terkendali dan tang membentur gigi tersebut.
Tekhnik pencabutan yang terkontrol dapat mencegah kejadian ini.
e!br0ken!! &raktur mandibula atau ma(illa
(11)
Kondisi ini terjadinya !raktur (patah tulang) yang tidak diharapkan dari
bagian soket gigi atau bahkan tulang mandibula atau maksila tempat
melekatnya tulang al%eolar berada. Paling umum terjadi dikarenakan
kesalahan tehnik operator saat melakukan pencabutan gigi. )leh karena itu
operator diharuskan memiliki tehnik yang benar dan bisa memperhitungkan
seberapa besar penggunaan tenaga saat mencabut gigi dan cara menggunakan
alat dengan tepat.
II.&.#. In)eksi
,1/1
/eskipun jarang terjadi tapi hal ini jangan dianggap sepeleh. &ila terjadi
dokter gigi dapat memberikan resep berupa antibiotik untuk pasien yang beresiko
terkena in!eksi.
II.!.!. Pe$bengkakan
,1.-1/1
Keadaan ini terjadi akibat perdarahan yang hebat saat pencabutan gigi. Ani
terjadi karena bermacam hal sepertiH kelainan sistemik pada pasien.
("1)
Gambar )4 pembengkakan pasca pencabutan gigi
(1;)
22
Sumber: www.wikipedia.dentale#traction.com
II.&.&. *r+ socket
,1/-101
Kerusakan bekuan darah ini dapat disebabkan oleh trauma pada saat
ekstraksi (ekstraksi dengan komplikasi) dokter gigi yang kurang berhati-hati
penggunaan kontrasepsi oral penggunaan kortikosteroid dan suplai darah (suplai
darah di rahang bawah lebih sedikit daripada rahang atas). Kurangnya irigasi saat
dokter gigi melakukan tindakan juga dapat menyebabkan dry socket. .erakan
menghisap dan menyedot seperti kumur-kumur dan merokok segera setelah
pencabutan dapat mengganggu dan merusak bekuan darah.
(1>)
6elain itu kontaminasi bakteri adalah !aktor penting oleh karena itu
orang dengan kebersihan mulut yang buruk lebih beresiko mengalami dry socket
paska pencabutan gigi. +emikian juga pasien yang menderita gingi%itis (radang
gusi) periodontitis (peradangan pada jaringan penyangga gusi) dan perikoronitis
(peradangan gusi di sekitar mahkota gigi molar tiga yang impaksi).
(1>)
Gambar *4 dry socket pasca ekstraksi
(1;)
Sumber4 www.wikipedia.dentale#traction.com
II.&.,. -asa sakit
,1#1
5asa sakit pasca operasi akibat trauma jaringan keras dapat berasal dari
cederanya tulang karena terkena instrument atau bur yang terlalu panas selama
pembuangan tulang. +engan mencegah kesalahan tekhnis dan memperhatikan
penghalusan tepi tulang yang tajam serta pembersihan soket tulang setelah
23
pencabutan dapat menghilangkan penyebab rasa sakit setelah pencabutan gigi.
BAB III
"E$5D5L5+I PENELI$IAN
AAA.1. &ahan dan ,lat 4&ahan yang digunakan berupa &uku Tahunan
tentang Pencabutan .igi di bagian &edah /ulut
56./ 7K. -B8,6 periode "001-"002
sedangkan ,lat yang digunakan berupa pulpen dan
kalkulator untuk mencatat dan menghitung
pre%alensinya.
AAA.". 'enis Penelitian 4 )bser%asional +eskripti!
AAA.(. $okasi Penelitian 4 &agian &edah /ulut 56./ 7K. -B8,6
AAA.9. Waktu Penelitian 4 " /inggu
AAA.1. Populasi Penelitian 4Pasien dengan kasus Pencabutan .igi di &agian
&edah /ulut 56./ 7K. -B8,6
AAA.;. /etode 6ampling 4 Total 6ampling
AAA.>. 'umlah 6ampel 4 11.200 kasus
AAA.?. +e!inisi )perasional4
a!br0ken!! Pre%alensi pencabutan gigi adalah jumlah orang yang mengalami
pencabutan gigi pada suatu daerah dan waktu tertentu.
b!br0ken!! Pencabutan gigi adalah suatu proses pengeluaran gigi dari al%eolus
Pencabutan gigi juga merupakan operasi bedah yang melibatkan jaringan
bergerak dan jaringan lunak dari rongga mulut akses yang dibatasi oleh
24
bibir dan pipi dan selanjutnya dihubungkan*disatukan oleh gerakan lidah
dan rahang.
AAA.2. +ata4
a!br0ken!! +ata diperoleh melalui pemeriksaan pada &uku @atatan Tahunan
tentang Pencabutan .igi di &agian &edah /ulut 56./ 7K. -B8,6
Periode "001-"002.
b!br0ken!! 'enis data adalah data sekunder.
c!br0ken!! Penyajian data dalam bentuk tabel distribusi dan diagram batang
AAA.10. ,nalisa +ata4
,nalisa data dilakukan secara deskripti! yaitu dengan membuat uraian secara
sistematik dan menyajikannya ke dalam bentuk tabel distribusi.
*E!AN+*A PI*I!
Pencabutan .igi
indikasi I kontra indikasi
25
Pencabutan +igi
Indikasi 6 *ontraindikasi
Pencabutan Intra Alveolar Pencabutan Trans Alveolar
sus
BA+AN PENELI$IAN
26
(enis *elamin
(enis +igi Umur
Pengelompokan Data
pengumpulan Data
Pengambilan Data Periode 44.7443
Pencabutan +igi
Pencabutan *husus
Insisi8us
9aninus
Premolar
"olar
+igi )usu
Dicocokkan Pada $abel
Buat Dalam Bentuk Diagram Batang
5lah Data
Analisa Data
*omplikasi Pasca Pencabutan
Pemilihan Jenis Anastesi
BAB I:
HA)IL PENELI$IAN
&ab ini menguraikan hasil penelitian tentang Pre%alensi .igi di 5umah
6akit .igi dan /ulut 7akultas Kadokteran .igi -ni%ersitas 8asanuddin
/akassar periode "001-"002.
Penelitian ini merupakan suatu jenis penelitian obser%asional deskripti!
dengan tekhnik pengambilan sampel secara Total ampling pada buku tahunan
Pencabutan .igi di bagian &edah /ulut 5umah 6akit .igi dan /ulut 7akultas
Kedokteran .igi -ni%ersitas 8asanuddin /akassar periode "001-"002. +ata
yang berhasil dikumpulkan sebanyak 11.200 kasus yang kemudian
dikelompokkan berdasarkan ( kriteria kedalam suatu bentuk tabel dan diagram
yang terdiri dari4
Tabel 14 Pre%alensi Pencabutan .igi di 5umah 6akit .igi dan /ulut
7akultas Kedokteran .igi -ni%ersitas 8asanuddin berdasarkan
-mur dan 'enis .igi periode "001-"002.
Tabel "4 Pre%alensi Pencabutan .igi di 5umah 6akit .igi dan /ulut
7akultas Kedokteran .igi -ni%ersitas 8asanuddin berdasarkan
'enis Kelamin dan 'enis .igi Periode "001-"002
27
Pada tabel 1 memperlihatkan data tentang pre%alensi gigi impaksi
berdasarkan umur dengan jumlah sampel sebanyak 11.200 orang. +ata tersebut
terurai sebagai berikut4
1!br0ken!! Terdapat ".>;( ("("1J) kasus pada umur 1"-"1 tahun dengan
jenis gigi4
a!br0ken!! "1 (020J) kasus untuk gigi Ansisi%us satu 5, dan Ansisi%us
dua 5&
b!br0ken!! (2 (191J) kasus untuk gigi Ansisi%us satu 5&
c!br0ken!! 91 (1;"J) kasus untuk gigi Ansisi%us dua 5,
d!br0ken!! 11 (0(2J) untuk kasus gigi @aninus 5,
e!br0ken!! 9 (019J) untuk kasus gigi @aninus 5&
f!br0ken!! 91; (1;10J) untuk kasus gigi Premolar satu 5,
28
g!br0ken!! 19> (1("J) untuk kasus gigi Premolar satu 5&
h!br0ken!! "00 (>"(J) untuk kasus gigi Premolar dua 5,
i!br0ken!! ?> ((19J) untuk kasus gigi Premolar dua 5&
j!br0ken!! 12; (>02J) untuk kasus gigi /olar satu 5,
k!br0ken!! 1.1>> (9"12J) untuk kasus gigi /olar satu 5&
l!br0ken!! 1; (01>J) untuk kasus gigi /olar dua 5,
m!br0ken!! "21 (101(J) untuk kasus gigi /olar dua 5&
n!br0ken!! 11 (019J) untuk kasus gigi /olar tiga 5,
o!br0ken!! "2 (109J) untuk kasus gigi /olar tiga 5&
2!br0ken!! Terdapat (."10 (">(1J) kasus pada umur ""-(1 tahun dengan
jenis gigi4
a!br0ken!! ;> ("0;J) untuk kasus gigi Ansisi%us satu 5,
b!br0ken!! 10 (01(J) untuk kasus gigi Ansisi%us satu 5&
c!br0ken!! (; (110J) untuk kasus gigi Ansisi%us dua 5,
d!br0ken!! 1> (01"J) untuk kasus gigi Ansisi%us dua 5&
e!br0ken!! 11 (09;J) untuk kasus gigi @aninus 5,
f!br0ken!! 2 (0">J) untuk kasus gigi @aninus 5&
g!br0ken!! ((1 (101?J) untuk kasus gigi Premolar satu 5,
h!br0ken!! 112 ((;;J) untuk kasus gigi Premolar satu 5&
i!br0ken!! 112 (9?2J) untuk kasus gigi Premolar dua 5,
j!br0ken!! "10 (;9;J) untuk kasus gigi Premolar dua 5&
k!br0ken!! "1; (;;9J) untuk kasus gigi /olar satu 5,
l!br0ken!! 1.011 ((110J) untuk kasus gigi /olar satu 5&
m!br0ken!! 10> (("2J) untuk kasus gigi /olar dua 5,
n!br0ken!! 11( (11>?J) untuk kasus gigi /olar dua 5&
29
o!br0ken!! 10" ((1(J) untuk kasus gigi /olar tiga 5,
p!br0ken!! ("? (1002J) untuk kasus gigi /olar tiga 5&
3!br0ken!! Terdapat 1.;22 (19">J) kasus pada umur ("-91 tahun dengan
jenis gigi4
a!br0ken!! ;0 ((1(J) untuk kasus gigi Ansisi%us satu 5,
b!br0ken!! (1 ("0;J) untuk kasus gigi Ansisi%us satu 5&
c!br0ken!! >2 (9;9J) untuk kasus gigi Ansisi%us dua 5,
d!br0ken!! (; ("11J) untuk kasus gigi Ansisi%us dua 5&
e!br0ken!! >0 (91"J) untuk kasus @aninus 5,
f!br0ken!! 10 ("29J) untuk kasus @aninus 5&
g!br0ken!! 111 (;>;J) untuk kasus Premolar satu 5,
h!br0ken!! 1(> (?0;J) untuk kasus Premolar satu 5&
i!br0ken!! 1"9 (>"2J) untuk kasus Premolar dua 5,
j!br0ken!! 119 (20;J) untuk kasus Premolar dua 5&
k!br0ken!! 19> (?;1J) untuk kasus /olar satu 5,
l!br0ken!! 1>" (101"J) untuk kasus /olar satu 5&
m!br0ken!! 1(9 (>??J) untuk kasus /olar dua 5,
n!br0ken!! 112 (2(1J) untuk kasus /olar dua 5&
o!br0ken!! ?? (11>J) untuk kasus /olar tiga 5,
p!br0ken!! 1(2 (?1?J) untuk kasus /olar tiga 5&
4!br0ken!! Terdapat ".0(1 (1>10J) kasus pada umur 9"-11 tahun dengan
jenis gigi4
a!br0ken!! 199 (>0>J) kasus untuk Ansisi%us satu 5,
b!br0ken!! 1(0 (;(?J) kasus untuk Ansisi%us satu 5&
30
c!br0ken!! 1(9 (;9?J) kasus untuk Ansisi%us dua 5,
d!br0ken!! 11" (110J) kasus untuk Ansisi%us dua 5&
e!br0ken!! 11? (>>;J) kasus untuk @aninus 5,
f!br0ken!! 1;( (?00J) kasus untuk @aninus 5& dan Premolar satu
5,
g!br0ken!! 1"9 (;02J) kasus untuk Premolar satu 5&
h!br0ken!! 111 (191J) kasus untuk Premolar dua 5,
i!br0ken!! 1"0 (1?2J) kasus untuk Premolar dua 5&
j!br0ken!! 190 (;?>J) kasus untuk /olar satu 5,
k!br0ken!! 101 (92;J) untuk kasus /olar satu 5&
l!br0ken!! 11" (>9;J) untuk kasus /olar dua 5,
m!br0ken!! 11; (1>0J) untuk kasus /olar dua 5&
n!br0ken!! 109 (111J) untuk kasus /olar tiga 5,
o!br0ken!! ;( ((02J) untuk kasus /olar tiga 5&
5!br0ken!! Terdapat 1.(;0 (119"J) kasus pada umur 1"-;1 tahun dengan
jenis gigi4
a!br0ken!! 10 ((;>J) untuk kasus Ansisi%us satu 5,
b!br0ken!! 2> (>1(J) untuk kasus Ansisi%us satu 5&
c!br0ken!! 1> (912J) untuk kasus Ansisi%us dua 5,
d!br0ken!! 10> (>?;J) untuk kasus Ansisi%us dua 5&
e!br0ken!! 101 (>>"J) untuk kasus @aninus 5, dan Premolar satu
5,
f!br0ken!! 10( (>1>J) untuk kasus @aninus 5&
g!br0ken!! 1(( (2>>J) untuk kasus Premolar satu 5&
h!br0ken!! 119 (?(?J) untuk kasus Premolar dua 5,
31
i!br0ken!! 1"> (2((J) untuk kasus Premolar dua 5&
j!br0ken!! 2? (>"0J) untuk kasus /olar satu 5,
k!br0ken!! 1" ((?"J) untuk kasus /olar satu 5&
l!br0ken!! ?9 (;1>J) untuk kasus /olar dua 5,
m!br0ken!! ;1 (9>>J) untuk kasus /olar dua 5&
n!br0ken!! (1 ("1>J) untuk kasus /olar tiga 5,
o!br0ken!! "? ("01J) untuk kasus /olar tiga 5&
6!br0ken!! Terdapat >2( (;;;J) kasus pada umur ;"->1 tahun dengan jenis
gigi4
a!br0ken!! 99 (119J) untuk kasus gigi Ansisi%us satu 5, dan 5&
b!br0ken!! 92 (;1>J) untuk kasus gigi Ansisi%us dua 5, dan /olar
dua 5,
c!br0ken!! >9 (2((J) untuk kasus gigi Ansisi%us dua 5&
d!br0ken!! 10 (;(0J) untuk kasus gigi @aninus 5,
e!br0ken!! 10( (1"2?J) untuk kasus gigi @aninus 5&
f!br0ken!! 1> (>1?J) untuk kasus gigi Premolar satu 5,
g!br0ken!! ?? (1102J) untuk kasus gigi Premolar satu 5&
h!br0ken!! ;? (?1>J) untuk kasus gigi Premolar dua 5,
i!br0ken!! 1> (>1?J) untuk kasus gigi Premolar dua 5&
j!br0ken!! 91 (1;>J) untuk kasus gigi /olar satu 5,
k!br0ken!! 19 (1>;J) untuk kasus gigi /olar satu 5&
l!br0ken!! "1 ((11J) untuk kasus /olar dua 5&
m!br0ken!! 1> ("19J) untuk kasus /olar tiga 5,
n!br0ken!! 2 (11(J) untuk kasus /olar tiga 5&
32
33
Pada tabel " tersebut di perlihatkan data tentang pre%alensi Pencabutan
.igi berdasarkan jenis kelamin sebanyak 11.?1( orang. +ata tersebut terurai
sebagai berikut4
1!br0ken!! Terdapat 1.1"1 (9;.;1J) orang pada jenis kelamin laki-laki dengan
jenis gigi4
a!br0ken!! 1;1 ((.0>J) orang untuk gigi Ansisi%us satu 5,
b!br0ken!! 20 (1.>1J) orang untuk gigi Ansisi%us satu 5&
c!br0ken!! 1>0 ((.1;J) orang untuk gigi Ansisi%us dua 5,
d!br0ken!! 111 (1.12J) orang untuk gigi Ansisi%us dua 5& dan /olar
dua 5,
e!br0ken!! 191 (".>"J) orang untuk gigi @aninus 5,
f!br0ken!! 1;0 (".22J) orang untuk gigi @aninus 5&
g!br0ken!! 1>1 (10."2J) orang untuk gigi Premolar satu 5,
h!br0ken!! (11 (;.9"J) orang untuk gigi Premolar satu 5&
i!br0ken!! (11 (1.>1J) orang untuk gigi Premolar dua 5,
j!br0ken!! (?1 (;.29J) orang untuk gigi Premolar dua 5& dan /olar
satu 5,
k!br0ken!! 1.""0 ("1.;(J) orang untuk gigi /olar satu 5&
34
l!br0ken!! >91 (1(."?J) orang untuk gigi /olar dua 5&
m!br0ken!! 1?1 ((.9(J) orang untuk gigi /olar tiga 5,
n!br0ken!! 900 (>."1J) orang untuk gigi /olar tiga 5&
2!br0ken!! Terdapat ;.("? (1(.(2J) orang pada jenis kelamin perempuan
dengan jenis gigi4
a!br0ken!! ">? (9.(2J) orang untuk gigi Ansisi%us satu 5,
b!br0ken!! "2; (9.;>J) orang untuk gigi Ansisi%us satu 5&
c!br0ken!! ">0 (9.";J) orang untuk gigi Ansisi%us dua 5,
d!br0ken!! "2" (9.;1J) orang untuk gigi Ansisi%us dua 5&
e!br0ken!! (00 (9.>9J) orang untuk gigi @aninus 5,
f!br0ken!! ("0 (1.01J) orang untuk gigi @aninus 5&
g!br0ken!! >"" (11.90J) orang untuk gigi Premolar satu 5,
h!br0ken!! 9(? (;.2"J) orang untuk gigi Premolar satu 5&
i!br0ken!! (>" (1.?>J) orang untuk gigi Premolar dua 5,
j!br0ken!! (20 (;.1;J) orang untuk gigi Premolar dua 5&
k!br0ken!! 999 (>.01J) orang untuk gigi /olar satu 5,
l!br0ken!! 2"0 (19.1(J) orang untuk gigi /olar satu 5&
m!br0ken!! (10 (1.1(J) orang untuk gigi /olar dua 5,
n!br0ken!! 91; (>."0J) orang untuk gigi /olar dua 5&
o!br0ken!! "99 ((.?1J) orang untuk gigi /olar tiga 5,
p!br0ken!! "(; ((.>"J) orang untuk gigi /olar tiga 5&
35
BAB :
PE"BAHA)AN
&erdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 11.200 kasus
Pencabutan .igi di 5umah 6akit .igi dan /ulut 7akultas Kedokteran .igi
-ni%ersitas 8asanuddin maka dapat diketahui pre%alensi Pencabutan .igi
berdasarkan umur jenis kelamin dan jenis gigi.
Pada tabel 1 (&ab AD) memperlihatkan keadaan pre%alensi Pencabutan
.igi berdasarkan umur dan jenis giginya dimana tampak bahwa pada umur 1"-"1
tahun terdapat ".>;( kasus pencabutan gigi. &erarti secara umum presentase kasus
pencabutan gigi pada umur 1"-"1 tahun sebesar "("1J dari 11.200 kasus yang
36
telah diperiksa. Tetapi persentase ini kemudian meningkat pada umur ""-(1 tahun
sebesar ">(1J dengan jumlah kasus pencabutan gigi sebanyak (."10 kasus
pencabutan gigi. 6edangkan pada umur ("-91 tahun jumlah kasus pencabutan gigi
menurun menjadi 1.;22 kasus dengan persentase 19">J dari 11.200 kasus yang
diperiksa. Kemudian persentase ini meningkat lagi pada umur 9"-11 tahun sebesar
1>10J dengan jumlah ".0(1 kasus pencabutan gigi umur 1"-;1 tahun menurun
lagi sebesar 119"J dengan jumlah 1.(;0 kasus pencabutan gigi dan terus
menurun pada kelompok umur ;"->1 tahun sebanyak >2( kasus dengan
persentase ;;;J.
+ari keterangan diatas dapat dilihat bahwa pre%alensi terbesar terdapat
pada kelompok umur ""-(1 tahun dimana tingginya insiden pada kelompok umur
tersebut dapat dikaitkan dengan etiologi karies yang merupakan !aktor penyebab
utama dalam pencabutan gigi. 8al ini sesuai dengan hasil penelitian dari +inda ,-
Niessen dan .obert /- 0eyant yang meneliti penyebab kehilangan gigi pada
populasi kelompok umur "0-"2 tahun. 8al ini mungkin terjadi akibat masih
tingginya insidens karies dalam masyarakat terutama jika pendidikan dan
pengertian akan pentingnya pemeliharaan kesehatan gigi masih sangat kurang.
6ebagian besar dari pasien yang datang saat keadaan giginya sudah tidak mungkin
lagi untuk dipertahankan.
("("9)
Pre%alensi terbesar kedua terdapat pada kelompok umur 1"-"1 tahun
terutama pada kasus pencabutan gigi molar ketiga 5& (kasus impaksi) dimana
tingginya insiden pada kelompok umur tersebut dapat dikaitkan dengan telah
erupsinya seluruh gigi geligi permanen. 6ebagaimana kita ketahui bahwa erupsi
gigi molar tiga sebagai gigi yang terakhir bererupsi terdapat pada umur 1>-"1
tahun sehingga kemungkinan tidak cukupnya ruangan bagi molar tiga untuk
bererupsi dan mengakibatkan terjadinya impaksi pada kelompok umur ini sangat
37
besar. 6aat erupsi pasien biasanya belum menyadari adanya masalah dengan gigi
impaksi tersebut.
(""">)
$ebih rendahnya insiden pada umur ("-91 tahun jika dibandingkan dengan
umur ("-91 tahun dan turunnya insiden pada kelompok usia 1"-;1 tahun dan ;"-
>1 tahun dimungkinkan karena pada kelompok umur tersebut para pasien telah
melakukan pencabutan gigi sebelumnya.
Pada tabel " memperlihatkan tentang pre%alensi pencabutan gigi
berdasarkan jenis kelamin. 'umlah kasus pencabutan gigi pada jenis kelamin laki-
laki sebanyak ;.("? orang dengan presentase sebesar 9;;1J sedangkan pada
jenis kelamin perempuan sebanyak ;.("? orang dengan presentase 1((2J. 8al
ini menunjukkan bahwa pre%alensi pada jenis kelamin perempuan lebih tinggi jika
dibandingkan pada jenis kelamin laki-laki. Pencabutan pada perempuan
dikarenakan oleh karies yang lebih banyak dialami oleh kaum perempuan
dibanding laki-laki. hal ini disebabkan karena adanya !aktor predisposisi
terjadinya karies yang dialami oleh perempuan tetapi tidak dialami oleh laki-laki
yaitu !aktor kehamilan.
("9)
Pada diagram 1 dan " memperlihatkan pre%alensi pencabutan gigi tertinggi
dari tiap-tiap kelompok umur dan jenis kelamin yang terdapat pada jenis gigi
/olar satu 5& sebanyak ".110 orang dengan presentase 1?1(J. Kemudian pada
gigi Premolar satu 5, sebanyak 1.(0> orang dengan presentase 110"J. $alu
berturut-turut pada gigi /olar dua 5& terdapat 1."11 (10"1J) gigi /olar satu
5, dengan ?2( (>0>J) Premolar satu 5& dengan ?0( (;>>J) gigi Premolar
dua 5& dengan >?1 (;;"J) gigi Premolar dua 5, dengan ;2> (1??J) gigi
/olar tiga 5& dengan ;9; (191J) gigi @aninus 5& dengan 920 (91(J) gigi
/olar dua 5, 9>1 (9J) gigi @aninus 5, dengan 911 ((?(J) gigi Ansisi%us 5,
dengan 91( ((?"J) gigi Ansisi%us dua 5, 910 ((>2J) gigi /olar tiga 5,
38
dengan 9(2 ((>0J) gigi Ansisi%us dua 5& dengan 91> ((12J) dan terakhir
pada gigi Ansisi%us satu 5& dengan (2; (((9J).
Pre%alensi pencabutan tertinggi tedapat pada gigi /olar satu 5& karena
/olar satu 5& ini merupakan gigi permanen yang paling pertama erupsi yakni
pada saat anak berumur ;-> tahun sehingga anak ini belum berdisiplin dalam hal
membersihkan gigi dan mulutnya yang berdampak pada kerusakan gigi tersebut
sehingga orang tua anak menyangka bahwa /olar satu 5& belum merupakan gigi
permanen dan masih dapat tergantikan bila rusak. 6elain itu pencabutan untuk
gigi /olar satu 5& juga sama yakni disebabkan oleh karies.
("1)

Kemudian dari hasil penelitian ditemukan bahwa pre%alensi tertinggi
berikutnya setelah gigi /olar satu 5& adalah terdapat pada gigi Premolar satu
5,. 8al ini dikarenakan karena alasan orthodontik dimana keputusan ahli
orthodontik dalam menentukan gigi mana yang akan dicabut berdasarkan
beberapa pertimbangan antara lain yaitu jumlah ruang yang dibutuhkan
kee!kti!an perawatan estetik kelas maloklusi dan keadaan patologi gigi geligi
sehingga ditentukan bahwa Premolar satu 5, sangat potensial dalam
menyediakan jumlah ruangan yang cukup dalam mengoreksi crowded dan
protrusi. Kee!ekti!an perawatan dengan pencabutan Premolar satu 5, telah
terbukti dari perawatan klinik beberapa ahli karena pencabutan Premolar satu 5,
tidak akan mengganggu estetik pasien. .igi yang dicabut untuk keperluan
orthodontik biasanya diusahakan untuk memilih gigi yang patologis dari yang
sehat. 6elain itu pencabutan untuk Premolar satu 5& dan Premolar dua 5, dan
5& juga disebabkan oleh karena alasan orthodontik.
(";)
Pre%alensi tertinggi berikutnya setelah gigi Premolar satu 5, adalah
terdapat pada gigi /olar dua 5&. Pencabutan gigi ini disebabkan oleh karena
adanya penyakit periodontal yang ditemukan tersebar pada gigi-gigi anterior dan
39
posterior terutama pada gigi /olar dua 5&. 8al ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh $inda @. Biessen dan 5obert '. Weyant juga menemukan bahwa
pencabutan dengan alasan periodontal yang lebih banyak ditemukan pada gigi
,nterior dan /olar dibandingkan yang ditemukan pada gigi Premolar.
("()
Pre%alensi pencabutan pada gigi /olar tiga 5& disebabkan oleh karena
impaksi. /ead melaporkan bahwa dari 1?1 gigi impaksi yang ditelitinya
ditemukan >(9J terjadi pada gigi /olar dimana gigi impaksi lainnya yaitu
@aninus 1(2J Premolar 9;J gigi 6upernumerary (1J dan gigi lainnya 0(J.
Pre%alensi terjadinya impaksi pada /olar tiga hampir mencapai 9 kali lipat dari
jumlah presentase terjadinya impaksi pada seluruh gigi. Pasien biasanya datang
mencari pengobatan bila merasa adanya gangguan. .igi impaksi yang paling
sering menimbulkan komplikasi sehingga menyebabkan pasien merasa terganggu
adalah gigi /olar tiga 5&. +engan melihat kenyataan diatas maka dapat
dipahami apabila pencabutan oleh karena impaksi hanya ditemukan oleh gigi
/olar tiga 5&.
(""">)
BAB :I
*E)I"PULAN DAN )A!AN
:I.1. *esimpulan
+ari hasil penelitian yang telah dilakukan pada 5umah 6akit .igi dan
/ulut 7akultas Kedokteran .igi -ni%ersitas 8asanuddin Periode "001-"002
maka dapat disumpalkan sebagai berikut4
40
1!br0ken!! 6ecara umum pre%alensi pencabutan gigi pada 5umah 6akit .igi
dan /ulut 7akultas Kedokteran .igi -ni%ersitas 8asanuddin meningkat
sesuai dengan pertambahan umur yang dimulai dari umur 1"-"1 tahun dan
mencapai titik tertinggi pada umur ""-(1 tahun kemudian menurun pada
kelompok umur yang lebih tinggi antara umur ("-91 tahun dan kembali
meningkat pada kelompok umur 9"-11 tahun yang kemudian kembali lagi
menurun hinggga kelompok umur yang lebih tinggi yaitu antara umur ;"-
>1 tahun. Tingginya pre%alensi pencabuta gigi pada kelompok umur ""-(1
tahun sebesar (."10 kasus dengan presentase ">(1J dapat dikaitkan
dengan telah erupsinya seluruh gigi geligi permanen.
2!br0ken!! Pre%alensi pencabutan gigi di 5umah 6akit .igi dan /ulut
7akultas Kedokteran .igi -ni%ersitas 8asanuddin pada laki-laki sebesar
9;;1J lebih rendah dari pada perempuan yang mencapai 1((2J. 8al ini
dihubungkan dengan adanya !actor predisposisi terjadinya karies yang
dialami oleh perempuan tetapi tidak dialami oleh laki-laki yaitu !actor
kehamilan.
3!br0ken!! Ansiden tertinggi terjadinya pencabutan gigi terdapat pada jenis gigi
/olar satu 5& dengan nilai pre%alensi sebesar 1?1(J. 8al ini disebabkan
karena pada pencabutan gigi /olar satu 5& ini ditemukan banyak karies
yang kemudian diindikasikan untuk dilakukan pencabutan gigi.
4!br0ken!! 7aktor umur dan jenis kelamin tidak memberikan cukup
memberikan pengaruh yang besar terhadap tindakan pencabutan gigi.
:I.. )aran
1!br0ken!! /eningkatkan kegiatan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut
sedini mungkin kepada anak-anak dan masyarakat umum akan pentingnya
41
memelihara kesehatan gigi melalui sekolah-sekolah puskesmas setempat
serta 5umah 6akit .igi dan /ulut 7akultas Kedokteran .igi -ni%ersitas
8asanuddin pada khususnya.
2!br0ken!! /eningkatkan peranan dari 5umah 6akit .igi dan /ulut 7akultas
Kedokteran .igi -ni%ersitas 8asanuddin agar membantu menguraangi
timbulnya masalah kesehatan gigi dan mulut.
3!br0ken!! /eningkatkan kesadaran masyarakat untuk memelihara kesehatan
gigi dan mulut dengan menggunakan sebaik-baiknya sarana kesehatan
yang telah disediakan oleh pemerintah setempat termasuk 5umah 6akit
.igi dan /ulut .akultas Kedokteran .igi -ni%ersitas 8asanuddin
/akassar.
DA;$A! PU)$A*A
1!br0ken!! P+.A )nline. Perdarahan Pasca :kstraksi .igi. "010. ,%ailable
!rom4 http4**www.perdarahan-pasca-ekstraksi-gigi.htm. ,ccessed4 "? )ktober
"010.
2!br0ken!! &log -ttu. Pencabutan .igi atau :#odontia. "010. ,%ailable !rom4
http4**www.pencabutan-gigi.com. ,ccessed4 12 )ktober "010.
3!br0ken!! 6etengah &aya An!o. &edah 7lap Pada Proses Pencabutan .igi.
"010. ,%ailable !rom4 http4**www.bedah-!lap-pada-proses-pencabutan-
gigi.htm. ,ccessed4 1> )ktober "010.
4!br0ken!! &log Bina. Thalasemia dan :kstraksi .igi. "002. ,%ailable !rom4
http4**www.thalasemia-dan-ekstraksi-gigi.html. ,ccessed4 "2 )ktober "010.
5!br0ken!! Tooth and Teeth. Tooth :#tractioan. "010. ,%ailable !rom4
http4**www.toothandteeth.com. ,ccessed4 1 Bo%ember "010.
42
6!br0ken!! &log -lin. Kapan .igi 8arus +icabut. "002. ,%ailable !rom4
http4**www.kapan-gigi-harus-dicabut.html. ,ccessed4 "" )ktober "010.
7!br0ken!! ,nimated Teeth. Tooth :#tractions. "010. ,%ailable !rom4
http4**www.animated-teeth.com. ,ccessed4 "" )ktober "010.
8!br0ken!! 5obinson +. Paul. Tooth :#traction. Wright )#!ord ,ucland
&oston 'ohannes &urg /elbourne Bew +elhi . "001 pp4 ".
9!br0ken!! Peterson '. $arry. )ral and /a#illo!acial 6urgery. 9
th
ed The @.D.
/osby @ompany 6t. $ouis "00( pp4 11;-11>.
10!br0ken!! Pederson W. .ordon. &uku ,jar Praktis &edah /ulut. 1
st
ed
Penerbit &uku Kedokteran :.@ 'akarta 122; pp4 (;-99 ;0.
11!br0ken!! &log 5iwan. Komplikasi Pencabutan. "00>. ,%ailable !rom4
http4**www.martariwansyah.com. ,ccessed4 2 Bo%ember "010.
12!br0ken!! P6/K.A. Penanganan Perdarahan Pasca :kstraksi .igi. "00>.
,%ailable !rom4 http4**www.penanganan-perdarahan-pasca-ekstraksi-gigi.htm.
,ccessed4 19 )ktober "010.
13!br0ken!! 8owe $. .eo!!rey. Pencabutan .igi .eligi. :disi Ketiga 5e%isi.
Penerbit &uku Kedokteran :.@ 'akarta 1222 pp4 ?(-20.
14!br0ken!! Tanya Pepsodent. Komplikasi Pencabutan .igi. "010. ,%ailable
!rom4 http4**www.komplikasi-pencabutan-gigi.htm. ,ccessed4 12 )ktober
"010.
15!br0ken!! &log 6ya!akallah. @abut .igi. "00?. ,%ailable !rom4
http4**www.cabut-gigi.htm. ,ccessed4 " Bo%ember "010.
16!br0ken!! Wikipedia. +ental e#traction. "010. ,%ailable !rom4
http4**www.wikipedia.com. ,ccessed4 ? Bo%ember "010.
17!br0ken!! @pddokter. +ry 6ocket. "010. ,%ailable !rom4
http4**www.cpddokter.com. ,ccessed4 "( )ktober "010.
43
18!br0ken!! ,rcher W.8arry. )ral and /a#illo!acial 6urgery. 1
th
ed. 6aunders
@ompany. Philadelphia. 12>1. pp4 1;-1>
19!br0ken!! &rown $.' )li%er 5.@ $oe. 8. Periodontal +isease in the -6 in
12?1. +alam4 'ournal o! Periodontology. Dol.;0 Bo.>. ,merican ,cademi o!
Periodontology. 12?2. pp4 (;(-(>0.
20!br0ken!! @arranCa ,.7. Tooth /obility and Pathologic. +alam4 .lickmanGs
@linical Periodontology. >
th
. W.&. 6aunders Philadelphia. 12?9. pp4 "?(-"20.
21!br0ken!! @awson 5.,. :ssential o! +ental 6urgery and Phatology. 9
th
ed.
@hurchil $i%ingstone $ondon. 12?9. pp4 >;-119 19(-11?
22!br0ken!! /ac. .regor ,.'. The Ampacted $ower Wisdom Tooth. )#!ord
-ni%ersity Press 12?1. pp4 1-9;
23!br0ken!! Biessen @.$ Weyant 5.'. @ause o! Tooth $oss in a Deteran
Population. +alam4 'ournal o! Public 8ealth +entistry. Dol.92 Bo.1. 12?2. pp4
12-""
24!br0ken!! 6churs 8.&. Patologi .igi .eligi Kelainan-kelainan 'aringan
Keras .igi. .ajah /ada -ni%ersity Press. pp4 1(9-1;"
25!br0ken!! Biki!oruk... -nderstanding +ental @aries :tiology and
/echanism &asic and @linical ,spects Karger 6.Karger. 12?1. pp4 ;1-?1
26!br0ken!! Pro!it W.5 7ields W.7. @ontemporary )rthodontics. The @.D.
/osby @ompany. $ondon. 12?;. pp4 1(9-1;"
27!br0ken!! Tetsch P Wagner W. )perati%e :#traction o! Wisdom Teeth. Wol!e
/edical Publication $td. &erlin. 12?". pp4 2-11
44