Anda di halaman 1dari 6

Karakteristik Fisik Lumpur

Setelah sebelumnya mengenal proses-proses pengolahan lumpur dan jenis-jenis lumpur di dalam instalasi
pengolahan air limbah, kali ini saya ingin berbagi informasi mengenai karakteristik fisik lumpur. Informasi ini
saya peroleh dari buku yang berjudul Sludge engineering : the treatment and disposal of wastewater sludges
karangan F. Dilek Sanin, William W. Clarkson, dan P. Aarne Vesilind. Di dalam buku ini disebutkan bahwa
setidaknya ada sembilan karakteristik fisik dari lumpur. Berikut ini uraiannya satu per satu.
1. Specific gravity (Sg)
Sg merupakan rasio antara densitas (berat jenis, BJ) lumpur dengan BJ air. Lumpur hampir selalu membentuk
flok. Mengetahui densitas flok merupakan hal yang sangat diperlukan pada tiap tahapan pengolahan karena
semakin besar densitas maka flok akan semakin mudah mengendap. Metode yang paling umum digunakan
untuk mengukur densitas flok adalah dengan pycnometer.
2. Konsentrasi padatan
Tujuan utama pengolahan lumpur adalah menyisihkan padatan dari air. Berikut ini adalah tabel mengenai
konsentrasi padatan yang terkandung di dalam berbagai jenis lumpur.
Lumpur Konsentrasi Padatan (%)
Raw primary 4 8
Anaerobic primary digested 6 10
Filter humus 3 4
Waste activated 0.5 1.5
Mixed digested (primary + waste activated) 2 4
Aerobic digested 1 3
Waste alum 0.5 1.5

Konsentrasi padatan penting untuk diketahui karena merupakan tolok ukur keberhasilan pengolahan lumpur.
3. Keterendapan lumpur
Keterendapan (settleability) lumpur dapat diuji dengan dua macam cara yaitu dengan pengukuran kecepatan
zona pengendapan dan sludge volume index (SVI). SVI merupakan parameter yang menunjukkan kemampuan
lumpur untuk menjadi lebih kental. SVI yang baik biasanya ada pada kisaran 80-120. SVI yang bernilai 200
mengindikasikan terjadinya bulking sludge.
4. Ukuran dan bentuk flok/partikel
Flok dapat berbentuk bulat, lonjong, atau pipih. Ukuran flok dipengaruhi oleh faktor berikut ini:
Jenis mikroorganisme
Agitasi (pencampuran/pengadukan)
Konsentrasi oksigen terlarut
Umur lumpur
Karakteristik substrat

5. Distribusi air
Air pada lumpur dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:
Free (bulk) water, yaitu air yang tidak terpengaruh dan tidak berkaitan dengan padatan tersuspensi.
Interstitial water, yaitu air yang terjebak di sela-sela mikroorganisme atau flok. Jenis air ini dapat
menjadi free water apabila flok/mikroorganisme yang berada di sekelilingnya dihancurkan.
Vicinal water, yaitu lapisan-lapisan molekul air yang melekat kuat pada permukaan partikel akibat
adanya ikatan hidrogen. Berbeda dengan interstitial water, vicinal water tidak dapat bebas bergerak
melainkan melekat pada permukaan padatan. Dibanding dengan bulk water, vicinal water memiliki
densitas yang lebih rendah serta viskositas yang lebih tinggi.
Water of hydration, yaitu air yang terikat secara kimia pada partikel dan hanya bisa dihilangkan dengan
menggunakan energi termal.
6. Filterability dan Dewaterability
Kedua istilah tersebut menyatakan seberapa mudah lumpur dapat melepaskan air (terpisah dari air). Apabila
kedua nilai parameter tersebut tinggi, artinya lumpur mudah untuk di-dewater. Filterability dapat diukur
dengan metode SRF (Specific Resistance to Filtration) dan CST (Capillary Suction Time).
7. Rheology
Rheology adalah ilmu mengenai hubungan antara deformasi dan tegangan fluida. Hmmmmterdengar
scientific sekali, ya? Anyway, pada pelaksanaannya konsep ini dipakai untuk mengetahui sifat-sifat aliran serta
viskositas lumpur. Salah satu manfaat dari mengetahui karakteristik reologis lumpur adalah dalam penentuan
dosis koagulan dengan cara pemantauan perubahan reologi lumpur.
8. Struktur dan porositas flok
Flok yang terdapat pada lumpur aktif tersusun dari tiga komponen yaitu mikroorganisme, polimer ekstraseluler,
dan air. Struktur flok dipenuhi oleh saliran-saluran kecil serta rongga pori sehingga memungkinkan air untuk
masuk ke dalam flok.
9. Konduktivitas termal
Konduktivitas termal lumpur akan menurun bersamaan dengan konsentrasi padatan hingga konsentrasi
padatan mencapai nilai tertentu (2% untuk waste activated sludge dan 10% untuk digested primary sludge).
Setelah padatan mencapai nilai tersebut, konduktivitas termal lumpur akan konstan pada kisaran 0.8510
-3
cal
cm
-1
s
o
C.

Limbah cair memiliki 2 karakteristik yaitu karakteristik fisik dan kimia.
Adapaun karakter fisiknya antara lain :
1. 1. Padatan : pada limbah cair terdapat padatan organic dan nonorganik yang mengendap dan tersuspensi sehingga bisa
mengendap dan menyebabkan pendangkalan.
2. 2. Kekeruhan : kekeruhan menunjukkan sifat optis di dalam air karena terganggunya cahaya matahari saat masuk ke dalam air
akibat adanya koloid dan suspensi
3. 3. Bau : bau dikarenakan karena adanya mikroorganisme yang menguraikan bahan organic.
4. 4. Suhu : limbah cair memiliki suhu yang berbeda dibandingkan dengan air biasa, biasanya suhunya lebih tinggi karena adanya
proses pembusukan

Bau pada Pengolahan Lumpur
Idealnya, lumpur yang telah mengalami proses pengolahan tidak akan menimbulkan bau kecuali bau seperti
tanah lembab. Akan tetapi, ada kalanya di lapangan kita menemukan bau pada saat lumpur sedang
dikeringkan maupun pada saat penyimpanan. Pada kesempatan kali ini saya akan sharingseputar bau yang
ditimbulkan pada pengolahan lumpur. Artikel ini terilhami dari email salah satu pembaca. Beliau bertanya
mengenai cara penanggulangan bau yang ditimbulkan pada saat pengeringan lumpur. Semoga artikel ini dapat
memberi informasi untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.
Mengapa lumpur bisa menimbulkan bau?
Bau dalam proses pengolahan lumpur dapat terjadi selama thickening, dewatering, conditioning, drying, hampir
di setiap titik pengolahan lumpur. Jika kita tengok lagi artikel sebelumnya mengenaiproses pengolahan
lumpur, terdapat salah satu tahapan yang bertujuan menghilangkan bau pada lumpur. Tahap yang dimaksud
adalah stabilisasi. Jadi, jika Anda menemukan bau pada saat proses pengeringan maupun penyimpanan lumpur
yang sudah diolah, kemungkinan karena lumpur tersebut belum mencapai kestabilan. Dengan kata lain, masih
ada senyawa-senyawa di dalam lumpur yang tidak stabil yang akhirnya menimbulkan bau pada lumpur.
Apa saja penyebab bau pada lumpur?
Seperti kita ketahui, di dalam pengolahan air limbah terjadi degradasi senyawa-senyawa organik. Degradasi
senyawa organik tersebut menghasilkan senyawa-senyawa lain yang menimbulkan bau. Berikut ini adalah tabel
yang berisi senyawa-senyawa yang berpotensi sebagai sumber bau pada pengolahan lumpur.

sumber: Son & Striebig, 2003
Bagaimana cara menanggulangi bau pada pengolahan lumpur?
Mengutip dari USEPA (2000), kuantitas dan intensitas bau yang ditimbulkan oleh senyawa-senyawa di atas
dapat dikurangi dengan cara:
1. Menghindari kondisi anaerobik (kecuali pada pengolahan anaerob, tentunya)
2. Penambahan oksidator untuk mencegah terbentuknya hidrogen sulfida
3. Memilih polimer yang tidak mudah terurai pada temperatur dan pH yang tinggi
4. Optimalisasi proses stabillisasi lumpur
5. Mengevaluasi dampak pencampuran lumpur dari jenis yang berbeda
6. Mengaplikasikan proses chemical scrubbing maupun biofilter secara benar
Dari segi proses pengolahan lumpur, tahapan stabilisasi memegang peranan penting dalam
mencegah/mengurangi bau yang ditimbulkan. Selain dengan cara memastikan bahwa proses sludge
stabilization berjalan dengan optimal, berikut ini adalah beberapa alternatif yang dapat ditempuh untuk
mengatasi bau pada pengolahan lumpur.

1. Wet Air Scrubbing
Proses yang memanfaatkan proses kimia ini digunakan untuk menyisihkan senyawa H
2
S, NH
3
, dan senyawa-
senyawa organik yang menjadi polutan bau. Dalam prosesnya, senyawa kimia penyebab bau yang berfasa uap
(vapour) akan terlarut dalam larutan kimia sehingga pada akhirnya akan berada dalam suatu larutan.
2. Carbon Adsorption
Proses adsorpsi dengan karbon aktif dapat dipakai untuk mengatasi bau dari berbagai sumber. Pengolahan
dengan metode ini efektif untuk H
2
S dan senyawa sulfur lainnya namun tidak efektif untuk NH
3
dan senyawa
nitrogen lain.
3. Biofiltration
Proses biofiltrasi digunakan untuk mengatasi berbagai polutan bau yang bersifat biodegradable(mudah
didegradasi secara biologis). Polutan bau yang berfasa uap akan terlarut menjadi fasa aqueous pada
permukaan filter. Oleh sebab itu permukaan material filter harus selalu lembab. Media filter yang digunakan
merupakan material alami sehingga tidak perlu melakukan inokulasi bakteri. Material yang dapat digunakan
sebagai media filter antara lain kompos, gambut, atau mulch(campuran jerami basah dan daun/rerumputan)
4. Regenerative Thermal Oxidizers (RTOs)
Teknologi ini biasanya dipakai pada biosolid heat dryer, incinerator, atau pada exhaust dari tangki
penyimpanan biosolid. RTOs merupakan teknologi yang mahal dari segi operasional dan maintenance karena
memerlukan temperatur yang tinggi (1300-1600F, atau 704-871
o
C) untuk insinerasi polutan bau di dalam
ruang bakar pada waktu yang singkat (0.3-3 detik).
5. Zat-zat Penetral/Penyamar Bau
Zat yang digunakan biasanya adalah essential oil atau bahan pengharum lain yang tidak berbahaya bagi
manusia dan lingkungan. Biasanya zat-zat tersebut diaplikasikan dengan cara menyembrotkan ke udara sekitar
atau menambahkannya ke dalam aliran limbah cair. Metode yang satu ini cocok untuk mengatasi bau yang
sifatnya menyebar (area source).
Apakah ada regulasi di Indonesia yang mengatur tentang bau?
Ya, ada. Regulasi yang saya temukan yang mengatur tentang bau adalah Keputusan Menteri Lingkungan Hidup
No.50/ Tahun 1996. File peraturan dapat diperoleh di sini.
Nah, bagi pembaca lain yang memiliki pengalaman (success story) dalam penganggulangan bau pada
pengolahan lumpur, jangan ragu untuk sharing di sini. Begitu pula kalau ada usulan mengenai artikel yang
ingin ditampilkan. Apabila space di comment box kurang untuk sharing cerita Anda, silakan email
ke muti@airlimbah.com untuk kemudian saya tampilkan sebagai salah satu artikel.

Sumber:
1. USEPA. Odor Control in Biosolids Management, Biosolids and Residuals Management Fact Sheet EPA 832-
F-00-067. September 2000.
2. Son, H.-K., & Striebig, B. A. (2003). Quantification and Treatment of Sludge Odor. [electronic
version]. Environmental Engineering Research, 8(5), 252-258.
3. http://digilib-ampl.net/file/pdf/Kepmen_LH_No_50_Tahun_1996.pdf (diakses & diunduh tanggal 14
November 2012)
4. http://www.wwdmag.com/decentralized-wastewater/wastewater-odor-control-evaluation-technologies
(diakses tanggal 8 November 2012)