Anda di halaman 1dari 22

Tinjauan Pustaka

Definisi
Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium
tuberculosis complex. Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit granulomatosa kronis
menular yang disebabkan oleh MT. Penyakit ini biasanya mengenai paru, tetapi dapat
menyerang semua organ atau jaringan tubuh, misalnya pada lymph node, pleura dan area
osteoartikular. Biasanya pada bagian tengah granuloma tuberkel mengalami nekrosis
perkijuan.
Epidemiologi
Di ndonesia saat ini diperkirakan terdapat !"#.### penderita TB menular setiap
tahunnya (atau suatu pre$alensi sebesar %##&'##.###) dengan angka insidens ((".### kasus
pertahunnya. )ur$ei pre$alensi TB* yang dilakukan di enam propinsi pada tahun '+,%-'++%
menunjukkan bah.a pre$alensi TB* di ndonesia berkisar antara #,( / #,0"1. )edangkan
menurut laporan Penanggulangan TB* 2lobal yang dikeluarkan oleh 345 pada tahun (##!,
angka insidensi TB* pada tahun (##( mencapai """.### kasus (("0 kasus&'##.###
penduduk), dan !01 diantaranya diperkirakan merupakan kasus baru.
munisasi B*2 (antituberkulosis) tidak menjamin anak bebas dari penyakit tersebut.
6uman penyebab TB* yakni Mycobacterium tuberculosis ditularkan melalui percikan dahak.
7ika terkena kuman terus-menerus dari orang-orang de.asa di dekatnya, terutama orangtua,
maka anak tetap terkena. Di antara sesama anak kecil sendiri sangat kecil kemungkinan
menularkan. nteraksi orangtua sangat dekat dan intens dengan anak, apalagi yang masih
bayi, sehingga anak mendapat percikan dahak dari orangtua yang sakit TB*.
5leh karena itu, angka anak penderita TB* sangat terpengaruh jumlah orang de.asa
yang dapat menularkan TB*. Tim 8xternal TB 9onitoring 9ission mencatat fakta umum,
setiap tahun di ndonesia ditemukan seperempat juta kasus baru TB* dan sekitar '!#.###
kematian akibat penyakit tersebut. ndonesia merupakan negara ketiga terbesar yang
bermasalah dengan TB*, setelah ndia dan *hina.
9asalahnya orangtua sering kali malu mengakui dirinya terkena tuberkulosis atau
enggan berobat. )edangkan penggunaan masker tidak efektif untuk memutus rantai
penyebaran TB* kepada anak. :ang terpenting orangtua menyadari jika mendapat gejala
TB* segera memeriksakan diri serta menjalani pengobatan
Etiologi
Mycobacterium tuberculosis adalah suatu jenis kuman yang berbentuk batang dengan
ukuran panjang '-!&um dan tebal #,%-#,0&um, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap
asam pada pe.arnaan . MTB memiliki dinding yang sebagian besar terdiri atas lipid,
kemudian peptidoglikan. ;ipid inilah yang membuat kuman lebih tahan asam dan ia juga
lebih tahan terhdap gangguan kimia danfisis.6uman dapat hidup dalam udara kering maupun
dalam keadaan dingin(dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es) dimana kuman dalam
keadaan dormant. Dari sifat ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan penyakit
tuberkulosis menjadi aktif lagi.
2ambar'. 9ikroskopik 9TB.
6uman hidup sebagai parasit intra selular yakni dalam sitoplasma makrofag di dalam
jaringan. 9akrofag yang semula memfagositosis kemudian disenanginya karena banyak
mengandung lipid. )ifat lain kuman ini adalah aerob. )ifat ini menunjukkan bah.a kuman
lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan oksigen
pada bagian apikal paru lebih tinggi dari bagian lain, sehingga bagian apikal ini merupakan
tempat predileksi penyakit tuberkulosis.
Patogenesis
6uman tuberkulosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di jaringan
paru, dimana ia akan membentuk suatu sarang pneumonik, yang disebut sarang primer atau
afek primer. )arang primer ini mugkin timbul di bagian mana saja dalam paru, berbeda
dengan sarang reakti$asi. Dari sarang primer akan kelihatan peradangan saluran getah bening
menuju hilus (limfangitis lokal). Peradangan tersebut diikuti oleh pembesaran kelenjar getah
bening di hilus (limfadenitis regional). <fek primer bersama-sama dengan limfangitis
regional dikenal sebagai kompleks primer. 6ompleks primer ini akan mengalami salah satu
nasib sebagai berikut =
'. )embuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali (restitution ad integrum)
(. )embuh dengan meninggalkan sedikit bekas (antara lain sarang 2hon, garis
fibrotik, sarang perkapuran di hilus)
%. 9enyebar dengan cara =
Perkontinuitatum, menyebar kesekitarnya )alah satu contoh adalah
epituberkulosis, yaitu suatu kejadian dimana terdapat penekanan bronkus,
biasanya bronkus lobus medius oleh kelenjar hilus yang membesar sehingga
menimbulkan obstruksi pada saluran napas bersangkutan, dengan akibat
atelektasis. 6uman tuberkulosis akan menjalar sepanjang bronkus yang tersumbat
ini ke lobus yang atelektasis dan menimbulkan peradangan pada lobus yang
atelektasis tersebut, yang dikenal sebagai epituberkulosis
Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan maupun ke paru sebelahnya.
Penyebaran ini juga terjadi ke dalam usus. Penyebaran secara hematogen dan limfogen.
6ejadian penyebaran ini sangat bersangkutan dengan daya tahan tubuh, jumlah dan $irulensi
basil. )arang yang ditimbulkan dapat sembuh secara spontan, akan tetapi bila tidak terdapat
imuniti yang adekuat, penyebaran ini akan menimbulkan keadaan cukup ga.at seperti
tuberkulosis milier, meningitis tuberkulosa, typhobacillosis Landouzy. Penyebaran ini juga
dapat menimbulkan tuberkulosis pada alat tubuh lainnya, misalnya tulang, ginjal, anak ginjal,
genitalia dan sebagainya. 6omplikasi dan penyebaran ini mungkin berakhir dengan, sembuh
dengan meninggalkan sekuele (misalnya pertumbuhan terbelakang pada anak setelah
mendapat ensefalomeningitis, tuberkuloma ) atau meninggal.
>ntuk lebih memahami berbagai aspek tuberkulosis, perlu diketahui proses patologik
yang terjadi. Batuk yang merupakan salah satu gejala tuberkulosis paru, terjadi karena
kelainan patologik pada saluran pernapasan akibat kuman M.tuberculosis. 6uman tersebut
bersifat sangat aerobik, sehingga mudah tumbuh di dalam paru, terlebih di daerah apeks
karena p5( al$eolus paling tinggi.
6elainan jaringan terjadi sebagai respons tubuh terhadap kuman. ?eaksi jaringan
yang karakteristik ialah terbentuknya granuloma, kumpulan padat sel makrofag. ?espons
a.al pada jaringan yang belum pernah terinfeksi ialah berupa sebukan sel radang, baik sel
leukosit polimorfonukleus (P9@) maupun sel fagosit mononukleus. 6uman berproliferasi
dalam sel, dan akhirnya mematikan sel fagosit. )ementara itu sel mononukleus bertambah
banyak dan membentuk agregat. 6uman berproliferasi terus, dan sementara makrofag (yang
berisi kuman) mati, sel fagosit mononukleus masuk dalam jaringan dan menelan kuman yang
baru terlepas. 7adi terdapat pertukaran sel fagosit mononukleus yang intensif dan
berkesinambungan. )el monosit semakin membesar, intinya menjadi eksentrik,
sitoplasmanya bertambah banyak dan tampak pucat, disebut sel epiteloid. )el-sel tersebut
berkelompok padat mirip sel epitel tanpa jaringan diantaranya, namun tidak ada ikatan
interseluler dan bentuknya pun tidak sama dengan sel epitel.
)ebagian sel epiteloid ini membentuk sel datia berinti banyak, dan sebagian sel datia
ini berbentuk sel datia Langhans (inti terletak melingkar di tepi) dan sebagian berupa sel
datia benda asing (inti tersebar dalam sitoplasma). ;ama kelamaan granuloma ini dikelilingi
oleh sel limfosit, sel plasma, kapiler dan fibroblas. Di bagian tengah mulai terjadi nekrosis
yang disebut perkijuan, dan jaringan di sekitarnya menjadi sembab dan jumlah mikroba
berkurang. 2ranuloma dapat mengalami beberapa perkembangan , bila jumlah mikroba terus
berkurang akan terbentuk simpai jaringan ikat mengelilingi reaksi peradangan. ;ama
kelamaan terjadi penimbunan garam kalsium pada bahan perkijuan. Bila garam kalsium
berbentuk konsentrik maka disebut cincin Liesegang . Bila mikroba $irulen atau resistensi
jaringan rendah, granuloma membesar sentrifugal, terbentuk pula granuloma satelit yang
dapat berpadu sehingga granuloma membesar. )el epiteloid dan makrofag menghasilkan
protease dan hidrolase yang dapat mencairkan bahan kaseosa. Pada saat isi granuloma
mencair, kuman tumbuh cepat ekstrasel dan terjadi perluasan penyakit.
?eaksi jaringan yang terjadi berbeda antara indi$idu yang belum pernah terinfeksi dan
yang sudah pernah terinfeksi. Pada indi$idu yang telah terinfeksi sebelumnya reaksi jaringan
terjadi lebih cepat dan keras dengan disertai nekrosis jaringan. <kan tetapi pertumbuhan
kuman tretahan dan penyebaran infeksi terhalang. ni merupakan manifestasi reaksi
hipersensiti$iti dan sekaligus imuniti.
Faktor resiko infeksi TB dan faktor resiko penyakit TB
Faktor resiko infeksi TB
Anak-anak yang terekspose dengan orang dewasa resiko tinggi
Orang asing yang lahir di negara prevalensi tinggi
Orang-orang yang miskin dan kumuh, terutama di kota-kota besar
Orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal
Orang-orang pengguna obat-obatan suntik
Petugas kesehatan yang merawat pasien beresiko tinggi
Faktor resiko penyakit TB
Bayi dan anak-anak usia 4 tahun, terutama usia < 2 tahun
ewasa dan dewasa muda
Pasien dengan in!eksi penyertanya "#$
Orang dengan tes kulit konversi % & 2 tahun yang lalu
Orang dengan imunokompromais, terutama kasus keganasan dan
tranplantasi organ, pengobatan imunosupresi!, diabetes melitus, gagal gin'al kronik,
silikosis dan malnutrisi(
) ikutip dari * +elson te,tbook o! pediatri-s( %.
th
ed( Philadelphia * saunders, 2//40 %1. *
123-.2 4
Cara penularan
Penyakit TB* biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri
9ycobacterium tuberculosis yang dilepaskan pada saat penderita TB* batuk, dan pada anak-
anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TB* de.asa. Bakteri ini bila sering
masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama
pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh
darah atau kelenjar getah bening. 5leh sebab itulah infeksi TB* dapat menginfeksi hampir
seluruh organ tubuh seperti= paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar
getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu
paru-paru.
)aat Mycobacterium tuberculosa berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan segera
akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat). Biasanya melalui serangkaian
reaksi imunologis bakteri TB* ini akan berusaha dihambat melalui pembentukan dinding di
sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru. 9ekanisme pembentukan dinding itu membuat
jaringan di sekitarnya menjadi jaringan parut dan bakteri TB* akan menjadi dormant
(istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai tuberkel pada
pemeriksaan foto rontgen.
Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap dormant
sepanjang hidupnya. )edangkan pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang
kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak.
Tuberkel yang banyak ini membentuk sebuah ruang di dalam paru-paru. ?uang inilah yang
nantinya menjadi sumber produksi sputum (dahak). )eseorang yang telah memproduksi
sputum dapat diperkirakan sedang mengalami pertumbuhan tuberkel berlebih dan positif
terinfeksi TB*.
?esiko terinfeksi akan menjadi lebih tinggi jika pasien de.asa tersebut mempunyai
produksi sputum yang banyak dan encer, batuk produktif dan kuat, serta faktor lingkungan
yang kurang sehat dan sirkulasi udara yang tidak baik.
9eningkatnya penularan infeksi yang telah dilaporkan saat ini, banyak dihubungkan
dengan beberapa keadaan, antara lain memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum
optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang
tidak mempunyai tempat tinggal dan adanya epidemi dari infeksi 4A. Disamping itu daya
tahan tubuh yang lemah&menurun, $irulensi dan jumlah kuman merupakan faktor yang
memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TB*.
<nak-anak juga dapat tertular tuberkulosis dari susu atau daging sapi. Mycobacterium
bovis menginfeksi sapi yang menghasilkan susu, kemudian susu tersebut diminum tanpa
dimasak. 9. bo$is tersebut akan mengin$asi mukosa usus atau kelenjar limfe di oropharing,
terjadilah infeksi primer pada usus atau pada amandel. Pasien tuberkulosis anak jarang
menularkan kuman pada anak-anak atau orang de.asa yang lain. 4al ini disebabkan karena
basil-basil tuberkulosis hanya sedikit jumlahnya dalam sekret endobronkial dan jarang
terdapat batuk.
Gambaran Klinik
Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinik, pemeriksaan
fisik&jasmani, pemeriksaan bakteriologik, radiologik dan pemeriksaan penunjang lainnya.
2ejala klinik tuberkulosis dapat dibagi menjadi ( golongan, yaitu gejala respiratorik (atau
gejala organ yang terlibat) dan gejala sistemik.
'. 2ejala respiratorik
batuk % minggu
batuk darah
sesak napas
nyeri dada
2ejala respiratorik ini sangat ber$ariasi, dari mulai tidak ada gejala sampai gejala yang cukup
berat tergantung dari luas lesi. 6adang penderita terdiagnosis pada saat medical check
up. Bila bronkus belum terlibat dalam proses penyakit, maka penderita mungkin tidak ada
gejala batuk. Batuk yang pertama terjadi karena iritasi bronkus, dan selanjutnya batuk
diperlukan untuk membuang dahak ke luar. 2ejala tuberkulosis ekstra paru tergantung dari
organ yang terlibat, misalnya pada limfadenitis tuberkulosa akan terjadi pembesaran yang
lambat dan tidak nyeri dari kelenjar getah bening, pada meningitis tuberkulosa akan terlihat
gejala meningitis, sementara pada pleuritis tuberkulosa terdapat gejala sesak napas B kadang
nyeri dada pada sisi yang rongga pleuranya terdapat cairan.
(. 2ejala sistemik
Demam
gejala sistemik lain= malaise, keringat malam, anoreksia, berat badan menurun
Gejala sistemik/umum:
Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam
hari disertai keringat malam. 6adang-kadang serangan demam seperti influenCa
dan bersifat hilang timbul.
Penurunan nafsu makan dan berat badan.
Batuk-batuk selama lebih dari % minggu (dapat disertai dengan darah). 2ejala ini
sering ditemukan.Batuk terjadi karena ada iritasi pada bronkus. Batuk ini
diperlukan untuk membuang keluar produk / produk radang. 6arena terlibatnya
bronkus pada setiap penyakit tidak sama, mungkin saja batuk baru ada setelah
penyakit berkembang dalam jaringan paru yakni setelah berminggu/minggu atau
berbulan / bulan sejak a.al peradangan . )ifat batuk dimulai dari batuk kering
( non-produktif ) kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif
(menghasilkan sputum). 6eadaan yang lanjut adalah berupa batuk darah karena
terdapat pembuluh darah yang pecah. 6ebanyakan batuk darah pada tuberkulosis
terjadi pada ka$itas, tetapi dapat juga terjadipada ulkus dinding bronkus.
Perasaan tidak enak (malaise), lemah.
@afsu makan berkurang.
Berat badan turun selama % bulan berturut-turut tanpa sebab yang jelas, dan tidak
naik setelah penanganan giCi adekuat.
Diare kronik yang tidak ada perbaikan setelah ditangani.
Gejala khusus:
Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian
bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah
bening yang membesar, akan menimbulkan suara DmengiD, suara nafas melemah
yang disertai sesak.
6alau ada cairan dirongga pleura, dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada
suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada
muara ini akan keluar cairan nanah.
Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut
sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya
penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TB* dapat terdeteksi kalau diketahui
adanya kontak dengan pasien TB* de.asa. 6ira-kira %#-"#1 anak yang kontak dengan
penderita TB* paru de.asa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia % bulan /
" tahun yang tinggal serumah dengan penderita TB* paru de.asa dengan BT< positif,
dilaporkan %#1 terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi&darah.
Petunjuk 345 untuk diagnosis TB pada anak=
'. Dicurigai TB ( suspected TB )
- <nak sakit dengan ri.ayat kontak penderita TB dengan BT< positif.
- <nak dengan =
i. 6eadaan klinis tidak membaik setelah menderita campak atau batuk
rejan
ii. Berat badan menurun tanpa sebab yang jelas, batuk dan mengi yang
tidak membaik dengan pengobatan antibiotika untuk penyakit
pernafasan
iii. Pembesaran kelenjar superfisial yang tidak sakit
(. 9ungkin TB ( probable TB ) anak yang dicurigai TB
- >ji tuberculin positif ( '# mm atau lebih )
-Eoto roentgen paru sugestif TB
- Pemeriksaan histopatologis biopsy sugestif TB
- ?espon yang baik pada pengobatan dengan 5<T
%. Pasti TB ( confirmed TB )
Ditemukan basil TB pada pemeriksaan langsung atau biakan.
Pemeriksaan asmani
Pada pemeriksaan jasmani kelainan yang akan dijumpai tergantung dari organ yang terlibat.
Pada tuberkulosis paru, kelainan yang didapat tergantung luas kelainan struktur paru. Pada
permulaan (a.al) perkembangan penyakit umumnya tidak (atau sulit sekali) menemukan
kelainan. 6elainan paru pada umumnya terletak di daerah lobus superior terutama daerah
apex dan segmen posterior , serta daerah apex lobus inferior. Pada pemeriksaan jasmani dapat
ditemukan antara lain suara napas bronkial, amforik, suara napas melemah, ronki basah,
tanda-tanda penarikan paru, diafragma B mediastinum.
Pada pleuritis tuberkulosa, kelainan pemeriksaan fisik tergantung dari banyaknya cairan di
rongga pleura. Pada perkusi ditemukan pekak, pada auskultasi suara napas yang melemah
sampai tidak terdengar pada sisi yang terdapat cairan.
Pada limfadenitis tuberkulosa, terlihat pembesaran kelenjar getah bening, tersering di daerah
leher (pikirkan kemungkinan metastasis tumor), kadang-kadang di daerah ketiak. Pembesaran
kelenjar tersebut dapat menjadi Fcold abscessG
Pemeriksaan !akteriologik
a. Bahan pemeriksaan
Pemeriksaan bakteriologik untuk menemukan kuman tuberkulosis mempunyai arti yang
sangat penting dalam menegakkan diagnosis. Bahan untuk pemeriksaan bakteriologik ini
dapat berasal dari dahak, cairan pleura, liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan
lambung, kurasan bronkoal$eolar (bronchoal$eolar la$age&B<;), urin, faeces dan jaringan
biopsi (termasuk biopsi jarum halus&B74)
b. *ara pengumpulan dan pengiriman bahan
*ara pengambilan dahak % kali, setiap pagi % hari berturutturut atau dengan cara=
)e.aktu&spot (dahak se.aktu saat kunjungan)
Dahak Pagi ( keesokan harinya )
)e.aktu&spot ( pada saat mengantarkan dahak pagi)
Bahan pemeriksaan&spesimen yang berbentuk cairan dikumpulkan&ditampung dalam pot yang
bermulut lebar, berpenampang 0 cm atau lebih dengan tutup berulir, tidak mudah pecah dan
tidak bocor. <pabila ada fasiliti, spesimen tersebut dapat dibuat sediaan apus pada gelas
objek (difiksasi) sebelum dikirim ke laboratorium.
Bahan pemeriksaan hasil B74, dapat dibuat sediaan apus kering di gelas objek atau untuk
kepentingan biakan dan uji resistensi dapat ditambahkan @a*l #,+1 %-" ml sebelum dikirim
ke laboratorium. )pesimen dahak yang ada dalam pot (jika pada gelas objek dimasukkan ke
dalam kotak sediaan) yang akan dikirim ke laboratorium, harus dipastikan telah tertulis
identitas penderita yang sesuai dengan formulir permohonan pemeriksaan laboratorium.
Bila lokasi fasiliti laboratorium berada jauh dari klinik&tempat pelayanan penderita, spesimen
dahak dapat dikirim dengan kertas saring melalui jasa pos.*ara pembuatan dan pengiriman
dahak dengan kertas saring=
- 6ertas saring dengan ukuran '# x '# cm, dilipat empat agar terlihat bagian tengahnya
- Dahak yang representatif diambil dengan lidi, diletakkan di bagian tengah dari kertas
saring sebanyak H ' ml
- 6ertas saring dilipat kembali dan digantung dengan melubangi pada satu ujung yang
tidak mengandung bahan dahak
- Dibiarkan tergantung selama (! jam dalam suhu kamar di tempat yang aman, misal di
dalam dus
- Bahan dahak dalam kertas saring yang kering dimasukkan dalam kantong plastik kecil
- 6antong plastik kemudian ditutup rapat (kedap udara) dengan melidahapikan sisi
kantong yang terbuka dengan menggunakan lidi
- Di atas kantong plastik dituliskan nama penderita dan tanggal pengambilan dahak
- Dimasukkan ke dalam amplop dan dikirim melalui jasa pos ke alamat laboratorium.
Diagnosis
Diagnosis TB pada anak sulit sehingga terjadi misdiagnosis, baik o$erdiagnosis maupun
underdiagnosis. Pada anak, batuk bukan merupakan gejala utama. Diagnosis pasti TB
ditegakkan dengan ditemukannya 9.tuberculosis pada pemeriksaan sputum atau bilasan
lambung, cairan serebrospinal, cairan pleura atau pada biopsi jaringan. 6esulitan
menegakkan diagnosis pasti pada anak disebabkan oleh ( hal, yaitu sedikitnya jumlah kuman
dan sulitnya pengambilan spesimen sputum.
<namnesis =
- Berkurangnya berat badan ( bulan berturut-turut tanpa sebab yang jelas atau gagal
tumbuh
- Demam tanpa sebab yang jelas, terutama berlanjut sampai ( minggu
- Batuk kronik lebih dari % minggu dengan atau tanpa .heeCe
- ?i.ayat kontak dengan pasien TB paru de.asa
Pemeriksaan fisis=
- Pembesaran kelenjar limfe leher, aksila, inguinal
- Pembengkakan progresif atau deformitas tulang, sendi, lutu, falang
- >ji tuberkulin. Biasanya positif pada anak dengan TB paru
>ntuk memudahkan penegakkan diagnosis TB anak, D< merekomendasikan diagnosis TB
anak dengan menggunakan sistem skoring, yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda
klinis yang dijumpai.
)koring TB
Parameter " # $ %
6ontak TB tidak
jelas
;aporan keluarga
BT< (-)
Tidak tahu
6a$itas (H)
BT< tidak jelas
BT< (H)
>ji Tuberkulin negatif Positif (I '#mm atau
I"mm pada keadaan
imunosupresi)
Berat badan &
keadaan giCi
BB&TB J+#1
BB&> J,#1
6linis giCi buruk
BB&TB JK#1
BB&> J0#1
Demam tanpa sebab
jelas
I( minggu
Batuk I% minggu
Pembesaran 62B
colli, axilla, inguinal
I' cm
7umlah L'
Tidak nyeri
Pembengkakan
tulang&sendi panggul,
lutut, falang
<da pembengkakan
Eoto rontgen @ &
tidak
jelas
nfiltrat
Pembesaran 62B
6onsolidasi
segmental&lobar
<telektasis
6alsifikasiHinfi
ltrat
Pembesaran
62BHinfiltrat
Pemeriksaan Penunjang
&ji tuberkulin
Pada anak, uji tuberkulin merupakan pemeriksaan paling bermanfaat untuk
menunjukkan sedang&pernah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis dan sering digunakan
dalam D)creening TB*D. 8fektifitas dalam menemukan infeksi TB* dengan uji tuberkulin
adalah lebih dari +#1.
Penderita anak umur kurang dari ' tahun yang menderita TB* aktif uji tuberkulin
positif '##1, umur '/( tahun +(1, (/! tahun K,1, !/0 tahun K"1, dan umur 0/'( tahun
"'1. Dari persentase tersebut dapat dilihat bah.a semakin besar usia anak maka hasil uji
tuberkulin semakin kurang spesifik.
<da beberapa cara melakukan uji tuberkulin, namun sampai sekarang cara mantou
lebih sering digunakan. ;okasi penyuntikan uji mantou umumnya pada M bagian atas lengan
ba.ah kiri bagian depan, dengan menyuntikkan PPD (!urified !rotein "erivate) " >
sebanyak #,' cc secara intrakutan (ke dalam kulit). Penilaian uji tuberkulin dilakukan !,/K(
jam setelah penyuntikan dan diukur diameter dari pembengkakan (indurasi) yang terjadi.
'nterpretasi hasil test (antou)
'. Pembengkakan (ndurasi) = #/!mm, uji mantoux negatif.
<rti klinis = tidak ada infeksi M. tuberculosis.
(. Pembengkakan (ndurasi) = %/+mm, uji mantoux meragukan.
4al ini bisa karena kesalahan teknik, reaksi
silang dengan M. atipik atau setelah $aksinasi
B*2.
%. Pembengkakan (ndurasi) = I '#mm, uji mantoux positif.
<rti klinis = sedang atau pernah terinfeksi M.
tuberculosis.
Pada reaksi uji tuberculin dapat terjadi reaksi local yang cukup kuat bagi indi$idu
tertentu dengan derajat sensiti$itas yang tinggi, berupa eritema, $esikel dan ulsera pada
tempat suntikan. ;imfangitis, limfadenopati regional dan konjungti$itis fliktenularis yang
dapat disertai panas, .alaupun jarang terjadi.
Pada anak, kontak erat dengan pasien TB de.asa aktif dan BT< positif atau anak
dengan immunokompromais misalnya giCi buruk, keganasan dan lain-lain, diameter indurasi
I " mm harus dicurigai telah terinfeksi TB. Pada anak tanpa resiko tetapi tinggal di daerah
endemis TB, uji tuberculin perlu dilakukan pada umur ' tahun, ! / 0 tahun dan '' / '0 tahun.
Tetapi pada anak dengan resiko tinggi di daerah enemis TB, uji tuberculin perlu dilakukan
setiap tahun.
&ji tuber*ulin positif dapat dijumpai pada % keadaan sebagai berikut :
'. nfeksi TB alamiah
a. nfeksi TB tanpa sakit
b. nfeksi TB dan sakit TB
c. Pasca terapi TB
(. munisasi B*2 ( infeksi TB buatan )
%. nfeksi mikrobakterium atipik & M. leprae.
&ji tuber*ulin negatif pada % kemungkinan keadaan berikut :
Tidak ada infeksi TB
Dalam masa inkubasi infeksi TB
<nergi
<lergi adalah keadaan penekanan system imun oleh berbagai keadaan sehingga tubuh
tidak memberikan reaksi terhadap tuberculin .alaupun sebenarnya sudah terinfeksi TB.
Beberapa keadaan yang dapat menimbulkan anergi adalah giCi buruk, keganasan, penggunaan
steroid jangka panjang, sitostatika, penyakit campak, pertusis, $arisela, influenCa ( bukan
batuk-pilek-panas biasa, yang biasanya disebabkan oleh rhinovirus ), TB yang berat, serta
pemberian $aksinasi dengan $aksin $irus hidup.
@amun demikian, pada keadaan-keadaan di atas, uji tuberculin dapat positif sehingga
pada pasien-pasien dengan dugaan anergi tetap dilakukan uji tuberculin jika dicurigai TB. >ji
tuberculin positif palsu dapat juga ditemukan pada keadaan penyuntikan salah dan
interpretasi salah, demikian juga negati$e palsu, disamping penyimpanan tuberculin yang
tidak baik sehingga potensinya menurun.
Definisi positif uji tuber*ulin pada ba+i, anak dan de-asa
'ndurasi . / mm
6ontak dengan penderita atau suspek penyakit TB
<nak-anak dengan tanda klinis dan gambaran radiologi penyakit TB
<nak-anak dengan keadaan imunosupresi seperti 4A dan tranplantasi organ
Pasien dalam pengobatan immunosupresif seperti kortikosteroid ( I '" mg&(!
jam prednison atau sejenisnya selama I ' bulan )
'ndurasi . #" mm
Bayi dan anak-anak usia N ! tahun
<nak-anak dengan kondisi medis lemah yang meningkatkan resiko ( penyakit
ginjal, gangguan hematologi, diabetes melitus, malnutrisi, pengguna obat
suntik )
<nak-anak yang kontak erat dengan orang de.asa yang beresiko tinggi TB
;ahir atau baru pindah ( N " tahun ) dari negara dengan angka pre$alensi TB
tinggi
'ndurasi .#/ mm
<nak-anak usia L ! tahun atau lebih tanpa ada faktor resiko
( Dikutip dari = @elson textbook of pediatrics. 'K
th
ed. Philadelphia = saunders, (##!O
'+K = +",-K(
Pen+ebab hasil positif palsu dan negati0e palsu uji tuber*ulin mantouks.
Positif palsu
o Penyuntikan salah
o nterpretasi tidak betul
o ?eaksi silang dengan Mycobacterium atipik
1egatif palsu
o 9asa inkubasi
o Penyimpanan tuberculin tidak baik dan penyuntikan salah
o nterpretasi tidak betul
o 9enderita tuberculosis luas atau berat
o Disertai infeksi $irus ( campak, rubella, cacar air, influenCa atau 4A )
o munokompetensi selular, termasuk pemakaian kortikosteroid
o 6ekurangan komplemen
o Demam
o ;eukositosis
o 9alnutrisi
o )arkoidosis
o Psoriasis
o 7ejunoileal by pass
o Terkena sinar ultra$iolet ( matahari, solaria )
o Defisiensi Cinc
o <nemia perniosa
o >remia
( Dikutip dari rahajoe, @. @astiti. Tatalaksana Tuberkulosis pada #nak. )ari
pediatric Aol% @o', juni (##' = (! / %" )
>ji tuberculin merupakan alat diagnosis TB yang sudah sangat lama dikenal, tetapi
hingga saat ini masih mempunyai nilai diagnostic yang tinggi terutama pada anak dengan
sensiti$itas dan spesifisitas di atas +#1. Tuberkulin yang tersedia di ndonesia saat ini adalah
PPD ?T-(% (T> ( tuberculin unit ) buatan )tatents )erum nstitute Denmark dan PPD )
"T>.
2adiologis
Pemeriksaan radiologis dapat memperkuat diagnosis, karena lebih +"1 infeksi primer
terjadi di paru-paru maka secara rutin foto thora harus dilakukan. 6omplek primer lebih
banyak ditemukan pada foto torax paru bayi dan anak kecil daripada de.asa. 2ambaran
rontgen paru pada TB tidak khas. 6elainan radiologis tersebut dapat juga dijumpai pada
penyakit lain. )ebaliknya foto rontgen paru yang normal (tidak terdeteksi) tidak dapat
menyingkirkan diagnosis TB jika klinis dan pemeriksaan penunjang lain mendukung. <kan
tetapi, pemeriksaan rontgen paru saja tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis
tuberkulosis.
)ecara umum gambaran radiologis yang sugestif TB adalah sebagai berikut =
pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal dengan & tanpa infiltrate
konsolidasi segmental & lobar
milier
klasifikasi
atelektasis
ka$itas
efusi pleura
Eoto rontgen paru sebaiknya dilakukan P< dan lateral. 7ika dijumpai tidak
ketidaksesuaian antara gambaran klinis ( ringan ) dengan gambaran radiologis ( berat ) , harus
dicurigai TB. Pada keadaan foto rontgen paru tidak jelas, bila perlu dilakukan pemeriksaan
pencintraan lain seperti *T- scan toraks.
Tata-laksana
Pada sebagian besar kasus TB anak pengobatan selama 0 bulan cukup adekuat. )etelah
pemberian obat 0 bulan, lakukan e$aluasi baik klinil maupun pemeriksaan penunjang.
8$aluasi klinik pada TB anak merupakan parameter terbaik untuk menilai keberhasilan
pengobatan. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata .alupun gambaran radiologi tidak
menunjukkan perubahan yang berarti, 5<T tetap dihentikan
Panduan obat TB pada anak
Pengobatan TB pada anak dibagi dalam ( tahap yaitu tahap a.al (( bulan pertama) dan
sianya sebagai tahap lanjutan. Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal % macam obat
pada fase a.al dan dilanjutkan dengan ( macam obat pada fase lanjutan. 5<T pada anak
diberikan setiap hari, baik pada tahap intensif maupun lanjutan.
>ntuk menjamin ketersediaan 5<T untuk setiap pasien, 5<T disediakan dalam bentuk
paket. )atu paket dibuat untuk satu pasien untuk satu masa pengobatan. Paket 5<T berisi
obat untuk tahap a.al yaitu, ?ifampisin , soniaCid, PiraCinamid, sedangkan untuk tahap
lanjutan yaitu ?ifampisin dan soniaCid.
Dosis
@4 = "-'"mg&kgBB&hari dosis maksimal %##mg&hari
?ifampisin = '#-(#mg&kgBB&hari dosis maksimal 0##mg&hari
PiraCinamid = '"-%#mg&kgBB&hari, dosis maksimal (###mg&hari
8tambutol = '"-(#mg&kgBB&hari dosis maksimal '("#mg&hari
)trepstomisisn = '"-!#mg&kgBB&hari, dosis maksimal '###mg&hari
Pada keadaan TB berat, baik pulmonal maupun ekstrapulmonal seperti TB milier, meningitis
TB, TB sendi dan tulang
- Pada tahap a.al diberikan ! macam obat (@4, ?ifampisin, PiraCinamid, 8tambutol
atau )treptomisin)
- Pada tahap lanjutan diberikan @4 dan ?ifampisin selama '# bulan
- >ntuk kasus TB tertentu yaitu TB milier, efusi pleura TB, perikarditis TB, TB
endobronkial, meningitis TB dan peritonistis TB diberikan kortikosteroid (prednison)
dengan dosis '-(mg&kgBB&hari, dibagi dalam % dosis. ;ama pemberian (-! minggu
dengan dosis penuh dilanjutkan tappering off dalam jangka .aktu (-0minggu. Tujuan
pemeberian steroid ini untuk mengurangi proses inflamasi dan mencegah terjadi
perlekatan jaringan.
'sonia3id 4'156
@4 adalah obat antituberkulosis yang sangat efektif saat ini, bersifat bakterisid dan sangat efektif
terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif yaitu kuman yang sedang berkembang dan bersifat
bakteriostatik terhadap kuman yang diam. 5bat ini efektif pada intrasel dan ekstrasel kuman. @4
cukup murah dan sangat efektif untuk mencegah multiplikasi basil tuberkulosis. Terdapat dalam
sediaan oral dan intramuskuler (i.m). Dalam sediaan oral, kadar obat dalam plasma, sputum dan
cairan seresrospinal dapat dicapai dalam beberapa jam saja dan bertahan minimal 0 / , jam. @4
diberikan secara oral, dosis harian yang biasa diberikan (" / '" mg&kgbb&hari), maksimal %## mg&hari,
diberikan satu kali pemberian.
8fek toksik=
@euritis perifer, ini terjadi karena inhibisi kompetitif pada piridoksin. Pada orang-orang
malnutrisi dan orang-orang dengan diit tidak adekuat perlu diberikan supplemen
piridoksin. Dosis supplemen piridoksin adalah (" / "# mg&hari atau '# mg piridoksin
setiap '## mg @4.
4epatotoksik, jarang terjadi pada anak-anak. )ebaiknya kita memantau kadar
transaminase dari hepar ()25T B )2PT).
ntoleransi traktus digesti$usO ini akan menimbulkan rasa mual dan ingin muntah.
2ifampisin
?ifampisin bersifat bakterisid pada intrasel dan ektrasel, dapat memasuki semua jaringan, dapat
membunuh kuman semi-dormant yang tidak dapat dibunuh oleh @4. 5bat ini diserap tubuh saat
lambung kosong. 8kskresi yang utama le.at traktus biliaris. Pada kebanyakan pasien yang memakai
rifampisin, air mata, ludah, urin, faeces akan menjadi ber.arna merah. ni disebabkan oleh metabolit
dari rifampisin. ?ifampisin diberikan dalam bentuk oral dengan dosis '# / (# mg&kgbb&hari, dosis
maksimal 0## mg&hari, dengan dosis pemberian satu kali perhari.
8fek toksik=
4epatitis
;eukopenia
Trombositopenia
Perlu diingat bah.a ketiga efek toksik rifampisin di atas sangat jarang terjadi. 7ika menghendaki
memberikan ?ifampisin bersama dengan @4, maka salah satu dosis dari obat diatas harus dikurangi
menjadi M dosis agar tidak mengganggu fungsi hepar (hepatotoksik).
Pira3inamid
PiraCinamid adalah deri$at dari nikotinamid, berpenetrasi baik pada jaringan dan cairan tubuh
termasuk ))P, ;*), bakterisid hanya pada intrasel pada suasana asam, diresorbsi baik pada saluran
pencernaan. 5bat ini juga resisten terhadap kuman 9ycobacterioum bo$is. 5bat ini juga dapat
mencapai cairan serebrospinal. 8fek dari piraCinamid sudah dapat dilihat pada a.al bulan ke (
menjalani terapi. 4epatotoksisitas dapat terjadi pada pemakaian dosis tinggi tetapi jarang pada dosis
normal. PiraCinamid juga dapat mengakibatkan meningkatnya asam urat serum. Pemberian secara oral
denga dosis '" / %# mg&kgbb&hari dengan dosis maksimal ( gram&hari.
8fek toksik=
Elushing
4ipersensiti$itas pada kulit
<thralgia
2out
ritasi saluran cerna
Etambutol
8tambutol jarang diberikan pada anak karena potensi toksisitasnya pada mata. Peran utama dari obat
ini adalah untuk mencegah resistensi obat lain. Dengan dosis '" / (# mg&kgBB&hari, dosis maksimal
',(" gram&hari. )ifat etambutol adalah bakteriostatik dan bakterisidal. Toksisitas utama adalah
neuritis optika berupa kebutaan terhadap .arna merah-hijau ( red-green color blindness). 8fek ini
cukup sering dijumpai pada orang de.asa. nsidensi dari toksisitas optalmologika cukup rendah. 5leh
karena pemeriksaan lapang pandang dan .arna pada anak-anak cukup sulit dilakukan maka etambutol
tidak direkomendasikan untuk terapi rutin pada anak-anak.
7treptomisin
)treptomisin bersifat bakteriosid dan bakteriostatik kuman ekstraselular pada keadaan basa atau
netral, jadi efektif membunuh kuman intraseluler. )treptomisin dapat diberikan secara intramuskular
dengan dosis '" / !# mg&kgBB&hari, maksimal dosis ' gram&hari. 5bat ini dapat mele.ati selaput
otak yang meradang, berdifusi dengan baik pada jaringan dan cairan pleura, diekskresi melalui ginjal.
Toksisitas utama dari streptomisin terjadi pada ner$us kranial A yang mengganggu keseimbangan
dan pendengaran berupa tinismus dan pusing.
Pengobatan TB* pada anak-anak jika @4 dan rifampisin diberikan bersamaan, dosis maksimal
perhari @4 tidak melebihi '# mg&kgbb dan rifampisin '" mg&kgbb.
Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal dua macam obat dan diberikan dalam .aktu relatif lama
(0 / '( bulan). Pengobatan TB dibagi dalam dua fase yaitu fase intensif (( bulan pertama) dan sisanya
sebagai fase lanjutan. Pemberian panduan obat ini ditujukan untuk mencegah terjadinya resistensi
obat dan untuk membunuh kuman intraseluler dan ekstraseluler. )edangkan pemberian obat jangka
panjang selain untuk membunuh kuman juga untuk mengurangi kemungkinan terjadinya relaps.
Dosis anak @4 dan rifampisin yang diberikan untuk kasus=
T! tidak berat
@4 = " mg&kgbb&hari
?ifampisin = '# mg&kgbb&hari
T! berat 4milier dan meningitis T!C6
@4 = '# mg&kgbb&hari
?ifampisin = '" mg&kgbb&hari
Dosis prednison = '-( mg&kgbb&hari (maks. 0# mg)
8i)ed Dose Combination 48DC6
ED* adalah sediaan obat kombinasi dalam dosis yang telah ditentukan. >ntuk menjaga
kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan yang relatif lama dengan jumlah obat yang
banyak.
Dosis kombinasi 8DC T!C pada anak.
!erat badan 4kg6
$ bulan
259 4:///"/#/" mg6
; bulan
25 4///" mg6
" / + ' tablet ' tablet
'# / '+ ( tablet ( tablet
(# / %( ! tablet ! tablet
Tabel Dosis kombinasi 8DC T!C
*atatan=
Bila BB I%% kg dosis sesuai tabel yang sebelumnya.
Bila BB J " kg sebaikna dirujuk ke ?).
5bat harus diberikan secara utuh (tidak boleh dibelah).
D<8T<2 P&7T<K<
@asti ?, Darma.an B ), dkk. Tuberkulosis. Bab !. Buku ajar respirologi anak, edisi pertama. D<
(##,. '0+-'K0.
@elson ;7, )chneider 8, 3ells *D, and 9oore 9.@elson Textbook of Pediatrics. $hapter %&''
'nfection ( )ection ''' Bacterial 'nfection( Tuberculosis. ',th edition. Philadelphia= 3.B.)aunders
*ompany, (##K.
@@.Pedoman@asionalPenanggulanganTuberkulosis.(K7uli(##+.<$ailablefrom
htt p =&&.. . .tbindo n esia.o r. id&pdf&BP@P(##K.pdf
?ahajoe, @astiti @., dkk, !edoman *asional Tuberkulosis #nak. >66 Pulmonologi PP D<, 7uni,
(##".