Anda di halaman 1dari 14

1

SHIGELLOSIS

Shigellosis adalah suatu penyakit peradangan akut oleh kuman genus
Shigella spp. yang menginvasi saluran pencernaan terutama usus sehingga
menimbulkan kerusakan sel-sel mukosa usus tersebut. Shigellosis disebabkan oleh
kuman Shigella spp. Kuman ini tergolong genus Shigella yang merupakan bakteri
gram negatif, bentuk batang, non motil dan anaerobik fakultatif. Dibagi 4
kelompok serologik yaitu S.dysenteri (12 serotipe), S.flexneri (6 serotipe),
S.boydii (18 serotipe) dan S.sonnei (1 serotipe).
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau
setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya
lebih dari 200 g atau 200 ml/24 jam. Definisi lain memakai kriteria frekuensi,
yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari. Buang air besar encer
tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah.
Diare merupakan salah satu penyakit penyebab nomor dua kematian balita
dan anak-anak di seluruh dunia (WHO 2010).
Diare akut adalah diare yang onset gejalanya tiba-tiba dan berlangsung
kurang dari 14 hari, sedang diare kronik yaitu diare yang berlangsung lebih dari
14 hari. Diare dapat disebabkan infeksi maupun non infeksi. Dari penyebab diare
yang terbanyak adalah diare infeksi. Diare infeksi dapat disebabkan virus, bakteri,
dan parasit.
Diare akut sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan, tidak saja
di negara berkembang tetapi juga di negara maju. Penyakit diare masih sering
menimbulkan KLB (Kejadian Luar Biasa) dengan penderita yang banyak dalam
waktu yang singkat.
2, 4


EPIDEMOLOGI

Shigellosis sangat endemik di daerah yang sanitasinya sangat kurang.
Biasanya 10-20% penyakit saluran pencernaan dan 50% diare yang berdarah atau
disentri dari anak-anak bisa disebabkan oleh shigellosis. Prevalensi dari penyakit
ini menurun dalam 5 tahun terakhir ini.
Shigella ditemukan di seluruh dunia. Pada tahun 1979, sebanyak 20.135
kasus shigella telah dilaporkan oleh Centre For Disease Control. Distribusi
geografis dan kerentanan antimikroba bervariasi dengan spesies yang berbeda. S.
boydii terbatas pada benua India, S. flexneri dan S. sonnei lebih lazim di negara-
negara berkembang dan negara maju. S. flexneri, bakteri gram negatif yang
enteroinvasif, bertanggung jawab atas endemik disentri basiler di seluruh dunia.

Di negara berkembang dengan kondisi sanitasi yang buruk dan
penduduknya yang padat, penularannya sangat mudah biasanya terjadi melalui
2

fekal-oral. Lalat juga bisa menyebarkan kuman ini melalui feses penderita lalu
hinggap di makanan. Penyebaran juga bisa terjadi melalui benda mati, seperti alat-
alat permainan. Umumnya menginfeksi anak-anak dibawah umur 10 tahun, angka
kejadian tertinggi terdapat pada kelompok umur 1-4 tahun. Shigella hanya
ditemukan pada manusia dan beberapa jenis binatang primata. Penyebaran
shigellosis sering terjadi secara kontak orang ke orang karena dosis infeksiusnya
rendah (10-100 organisme) sudah dapat menyebabkan sakit. Pada umumnya masa
inkubasi shigellosis adalah pendek yaitu antara 24 jam sampai 4 hari. Gejala
biasanya timbul antara hari pertama sampai ketiga terinfeksi. Kebersihan pribadi
sangat penting dalam pencegahan penyakit ini dan orang-orang yang saling
berhubungan di lingkungan sanitasi yang buruk mempunyai resiko lebih besar
untuk menimbulkan cetusan Shigellosis.
2, 3, 4


ETIOLOGI

Shigellosis disebabkan oleh kuman Shigella spp.

Klasifikasi
- Kingdom : Bacteria
- Phylum : Proteobacteria
- Class : Gamma Proteobacteria
- Order : Enterobacteriales
- Family : Enterobacteriaceae
- Genus : Shigella
- Species : Shigella dysentriae

Kuman ini tergolong genus Shigella yang merupakan bakteri gram
negatif, bentuk batang, non motil dan anaerobik fakultatif. Bakteri ini terbagi
4 kelompok serologik yaitu S.dysenteri (12 serotipe), S.flexneri (6 serotipe),
S.boydii (18 serotipe) dan S.sonnei (1 serotipe).
1, 3


PATOFISIOLOGI
Yang berperan pada terjadinya diare akut terutama karena infeksi yaitu
faktor kausal (agent), dan faktor pejamu host. Faktor kausal yaitu daya
penetrasi yang dapat merusak sel mukosa, kemampuan memproduksi toksin
yang mempengaruhi sekresi cairan usus halus serta daya lekat kuman.
Sifat virulensi dasar yang dimiliki bersama oleh semua shigella adalah
kemampuannya menginvasi sel epitel kolon. Sifat ini dikodekan pada plasmid
besar (120-140 MD) yang menyebabkan sintesis kelompok polipeptida yang
terlibat pada invasi dan pembunuhan sel.
Pemasukan hanya 200 basil Shigella dapat mengakibatkan infeksi dan
Shigella dapat bertahan dari keasaman sekresi lambung selama 2 jam.
Sesudah masuk melalui mulut dan mencapai usus, bakteri invasif ini di
3

dalam usus besar memperbanyak diri. Shigella sebagai penyebab diare
mempunyai 3 faktor virulensi yaitu :
1.) Dinding polisakarida sebagai antigen halus
2.) Kemampuan mengadakan invasi enterosit dan proliferasi
3.) Mengeluarkan toksin sesudah menembus sel
Struktur kimiawi dari dinding sel tubuh bakteri ini dapat berlaku sebagai
antigen O (somatik) adalah sesuatu yang penting dalam proses interaksi bakteri
shigella dengan sel enterosit. Dupont (1972) dan Levine (1973) mengutarakan
bahwa Shigella setelah menembus enterosit dan berkembang didalamnya sehingga
menyebabkan kerusakan sel enterosit tersebut. Peradangan mukosa memerlukan
hasil metabolit dari kedua bakteri dan enterosit, sehingga merangsang proses
endositosis sel-sel yang bukan fagositosik untuk menarik bakteri ke dalam
vakuola intrasel, yang mana bakteri akan memperbanyak diri sehingga
menyebabkan sel pecah dan bakteri akan menyebar ke sekitarnya serta
menimbulkan kerusakan mukosa usus. Sifat invasif dan pembelahan intrasel dari
bakteri ini terletak dalam plasmid yang luas dari kromosom bakteri Shigella.

Invasi bakteri ini mengakibatkan terjadinya infiltrasi sel-sel polimorfonuklear
dan menyebabkan matinya sel-sel epitel tersebut, sehingga terjadilah tukak-tukak
kecil didaerah invasi yang menyebabkan sel-sel darah merah dan plasma protein
keluar dari sel dan masuk ke lumen usus serta akhirnya ke luar bersama tinja.
Shigella juga mengeluarkan toksin (Shiga toksin) yang bersifat nefrotoksik,
sitotoksik (mematikan sel dalam benih sel) dan enterotoksik (merangsang sekresi
usus) sehingga menyebabkan sel epithelium mukosa usus menjadi nekrosis.
1,2,3,4

4


5

MANIFESTASI KLINIS
Disentri basiler secara klinis serupa tanpa memandang apakah penyakitnya
disebabkan oleh E.coli enteroinvasif atau salah satu dari empat spesies Shigella;
namun ada beberapa perbedaan klinis, terutama yang berkaitan dengan keparahan
dan risiko kompliksi dengan infeksi S.dysentriae serotipe 1.
Setelah penelanan shigella ada masa inkubasi beberapa hari sebelum
terjadi gejala-gejala. Khas adalah nyeri abdomen , demam tinggi, muntah,,
anoreksia, toksisitas menyeluruh, mendadak ingin buang air besar, dan terjadi
nyeri infeksi.
Diare mungkin berair dan banyak mulanya, berkembang menjadi
sering sedikit-sedikit, tinja berlendir darah, namun beberapa anak
tidak pernah menjelek sampai stadium diare berdarah., sedang pada
yang lain tinja pertama berdarah. Dapat terjadi dehidrasi yang berat
yang terkait dengan kehilagan cairan dan elketrolit pada tinja
maupun muntah. Diare yang tidak diobati dapat berakhir 1-2
minggu, hanya sekitar 10 % penderita diare menetap selama lebih
dari 10 hari. Diare kronis jarang kecuali pada bayi malnutrisi.
5

Yang terjadi pada sebanyak 40% anak terinfeksi yang dirawat inap
adalah nyeri kepala dan lesu badan.
2,

3, 4

DIAGNOSIS
Dasar untuk menentukan diagnosis adalah dengan memperhatikan gejala-
gejala klinik dan pemeriksaan makroskopik dan mikroskopik atas tinja untuk
membedakan dengan infeksi oleh kuman lain misalnya amebiasis.
Gejala klinis yang didapat pada Shigellosis adalah :
Diare cair yang banyak bercampur darah dan lendir.
Demam tinggi mendadak sampai mencapai 42 C
Nyeri perut, tenesmus
Nausea dan vomitus
Dehidrasi
Takikardi dan takipneu
Lamanya sakit 5 7 hari.
Penderita dengan kasus ringan gejalanya berlangsung selama 3-5 hari,
kemudian sembuh sempurna. Pada tipe fulminant yang berat, penderita dapat
mengalami kolaps dan mendadak diikuti dengan menggigil, demam tinggi dan
muntah-muntah disusul dengan penurunan temperatur, toksemia yang berat dan
diakhiri dengan kematian penderita.
Pemeriksaan darah rutin kadang didapatkan leukopenia dan apabila sudah
terjadi komplikasi HUS (Hemolytic Uremic Syndrom) maka didapatkan gambaran
anemia hemolitik dan trombositopenia. Biakan tinja sebaiknya berasal dari
hapusan rectum, akan dapat menentukan dengan pasti kuman penyebab penyakit.
Biasanya pasien datang sudah dalam keadaan dehidrasi.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan :
Pemeriksaan tinja
o Makroskopis : suatu disentri amoeba dapat ditegakkan bila
ditemukan bentuk trofozoit dalam tinja
o Benzidin test
o Mikroskopis : leukosit fecal (petanda adanya kolitis), darah fecal .
Biakan tinja :
o Media : agar MacConkey, xylose-lysine deoxycholate (XLD), agar
SS.
Pemeriksaan darah rutin : leukositosis (5.000 15.000 sel/mm3), kadang-
kadang dapat ditemukan leukopenia.

6

DIAGNOSIS BANDING

Amebiasis, infeksi yang disebabkan oleh Entamoeba Histolytica
amoeba yang berada dalam lumen usus besar mengadakan invasi
kedinding usus. Setelah masa inkubasi yang pendek (1-3 hari) secara
mendadak timbul nyeri perut, demam, dan tinja encer. Tinja yang encer
tersebut berhubungan dengan kerja eksotoksin dalam usus halus. Sehari
atau beberapa hari kemudian, karena infeksi meliputi ileum dan kolon,
maka jumlah tinja meningkat, tinja kurang encer tapi sering mengandung
lendir dan darah.
Eschericiae coli Enteroinvasive (EIEC) Patogenesisnya seperti Shigelosis
yaitu melekat dan menginvasi epitel usus sehingga menyebabkan kematian
seldan respon radang cepat (secara klinis dikenal sebagai
kolitis).Serogroup ini menyebabkan lesi seperti disentri basiller,ulserasi
atau perdarahan dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear dengan khas edem
mukosa dan submukosa. Manifestasi klinis berupa demam, toksisitas
sistemik, nyerikejang abdomen, tenesmus, dan diare cair atau darah.
Escherichia coli Enterohemoragik (EHEC) Manifestasi klinis dari EHEC
dapat menyebabkan penyakit diare sendiri atau dengan nyeri abdomen.
Diare padamulanya cair tapi beberapa hari menjadi berdarah (kolitis
hemorragik). Meskipun gambarannya sama dengan Shigellosis yang
membedakan adalah terjadinya demam yang merupakanmanifestasi yang
tidak lazim. Beberapa infeksi disertai dengansindrom hemolitik uremik.
3,4


KOMPLIKASI

1. Dehidrasi
Diare berat yang disertai nausea dan muntah sehingga asupan oral
berkurang dapat menyababkan dehidrasi, terutama pada anak dan lanjut
usia. Dehidrasi bermanifestasi sebagai rasa haus yang meningkat,
berkurangnya jumlah buang air kecil dengan warna urin gelap, tidak
mampu berkeringat, dan perubahan ortostatik. Hal ini disebabkan oleh
tubuh yang senantiasa menjaga homeostatis. Rasa haus dan pengeluaran
urin yang sedikit saat tubuh kekurangan cairan bertujuan mengatur
osmolaritas cairan ekstraseluler.



7

Derajat Dehidrasi menurut WHO :
Yang dinilai Skore
1 2 3
Keadaan Umum Baik Lesu/haus Gelisah, lemas
ngantuk, syok
Mata Biasa cekung Sangat Cekung
Mulut Biasa kering Sangat kering
Pernapasan < 30 x 30 40 x >40 kali
Turgor Baik Kurang Jelek
Nadi < 120x 120-140x >140x
Skore : 6 : Tanpa Dehidrasi
7-12 : Dehidrasi ringan sedang
>13 : Dehidrasi berat

2. Gangguan elektrolit, terutama hiponatremia
3. Kejang
4. Protein loosing enteropathy
5. Sindroma Hemolitik Uremik . Bila pemeriksaan laboratorium tidak dapat
dilakukan, maka pikirkan kemungkinan sindrom hemolitik-uremik (HUS)
pada pasien dengan mudah memar, pucat, kesadaran menurun atau tidak
ada output urin.
6. Malnutrisi/malabsorpsi
7. Hipoglikemia
8. Prolapsus rektum. Sedikit tekan kembali prolaps rektum menggunakan
sarung tangan bedah atau kain basah. Atau, siapkan cairan yang hangat
dari magnesium sulfat dan kompres dengan larutan ini untuk mengurangi
prolaps dengan mengurangi edema tersebut.
9. Reactive arthritis
10. Sindroma Guillain-Barre
11. Megakolon toksik
12. Perforasi lokal. Hal ini dapat terjadi bila abses menembus lapisan
muskular dinding usus besar. Sering mengakibatkan peritonitis yang
mortalitasnya tinggi.
13. Ameboma . Peristiwa ini terjadi akibat infeksi kronis yang mengakibatkan
reaksiterbentuknya massa jaringan granulasi. Biasanya terjadi di daerah
sekum dan rektosigmoid. Sering mengakibatkan ileus obstruktif atau
penyempitan usus.






8

PENATALAKSANAAN
1. Penanganan Dehidrasi (Rehidrasi)
Yang perlu dihindari apabila terserang diare adalah mencegah
terjadinya dehidrasi, sebab ini bisa berakibat fatal.
Tingkat keparahan dehidrasi dapat digolongkan sbb:
Dehidrasi ringan (kehilangan cairan sekitar 5% dari berat badan semula).
Diare berlangsung sekali tiap 2 jam atau lebih. Gejala lain: rasa haus,
gelisah, tapi elastisitas kulit bila dicubit masih baik dan penderita masih
sadar.
Dehidrasi sedang (kehilangan cairan 5-10% dari berat badan semula).
Diare semakin sering dengan volume lebih besar. Gejala lain terasa haus,
gelisah, pusing jika berubah posisi, pernapasan terganggu, ubun-ubun dan
mata cekung, elastisitas kulit lambat.
Dehidrasi berat (kehilangan cairan lebih dari 10% dari berat badan
semula). Diare hebat disertai muntah. Gejala lain: mengantuk, lemas,
berkeringat dingin, kulit kaki dan tangan keriput, kejang otot, pernapasan
cepat dan dalam, ubun-ubun dan mata sangat cekung, elastisitas kulit
sangat lambat.
Dalam keadaan darurat, dehidrasi ringan dapat diatasi dengan memberikan
cairan elektrolit/oralit yang cukup dilarutkan dalam air minum. Bila larutan oralit
tidak tersedia, kita dapat membuat larutan gula-garam dengan komposisi 1 sendok
teh gula pasir + 1/4 sendok teh garam + 200 cc air matang hangat. Atau bisa juga
dicoba dengan air beras, air kelapa atau kaldu sayuran (tanpa lemak). Sedangkan
pada dehidrasi sedang sampai berat, dalam keadaan darurat juga diberikan oralit
sebelum dibawa ke rumah sakit. Penderita perlu segera dilarikan ke rumah sakit
terutama kalau penderita muntah terus sehingga oralit tidak bisa masuk, tidak
kencing selama 6 jam, tinja telah bercampur darah, terus menerus diare tanpa
henti.
Di rumah sakit biasanya pasien segera diberi cairan rehidrasi parenteral seperti
Ringer Laktat atau Darrow Glukosa. Oralit atau garam rehidrasi oral tadi
merupakan campuran garam dan gula dalam perbandingan mirip dengan cairan
tubuh. Larutan ini penting diberikan pada penderita diare, terutama pada penderita
anak-anak atau lansia, guna menggantikan air yang hilang akibat diare, muntah,
berkeringat.
Pasangan glukosa dan garam Na dapat diserap baik oleh usus penderita
diare. Na merupakan ion yang berfungsi allosterik (berhubungan dengan
penghambatan enzim karena bergabung dengan molekul lain), dengan
kemampuan meningkatkan pengangkutan dan meninggikan daya absorbsi gula
melalui membran sel. Gula dalam larutan NaCl (garam dapur) juga berkhasiat
meningkatkan penyerapan air oleh dinding usus secara kuat (sekitar 25 x lebih
banyak daripada biasanya). Takaran umum oralit, 1 bungkus oralit 200 cc
dimasukkan ke dalam 1 gelas belimbing air, diaduk sampai larut.
9

Oralit diberikan ke penderita sedikit demi sedikit dengan sendok, jangan
sekaligus banyak. Jika penderita muntah, berikan 1 sendok oralit, tunggu 5- 10
menit, lanjutkan lagi sedikit demi sedikit. Usahakan jumlah yang diberikan 10-15
cc/kg BB/jam. Jumlah ini sesuai dengan kecepatan pengosongan lambung. Efek
samping hanya dapat terjadi pada takaran terlalu tinggi atau terlalu pekat yang
bisa mengakibatkan rasa kantuk, lidah bengkak, denyut jantung cepat, kulit
menjadi merah.
Untuk menghindari terbukanya luka-luka usus atau perdarahan, hendaknya
penderita diare beristirahat total. Perlu juga melakukan diet makanan yang
merangsang (asam, pedas) serta makanan yang tidak mudah dicerna (berserat
tinggi) dan berlemak.
1,2


Diare : Oralit
- Diare tanpa dehidrasi
- Umur, 1 tahun
24 jam pertama harus habis 400 cc, gelas tiap kali mencret.
- Umur 1-5 tahun
24 jam pertama harus habis 600-800 cc, 1 gelas tiap kali mencret.
- Umur > 5 tahun
24 jam pertama harus habis 800-1000 cc 1 gelas tiap kali mencret.
- Diare Dehidrasi ringan/sedang
- Umur < 1 tahun
3 jam I : 1 gelas, gelas tiap kali mencret.
- Umur 1-5 tahun
3 jam I : 3 gelas , 1 gelas tiap kali mencret
- Umur > 5 tahun
3 jam I : 6 gelas, 1 gelas tiap kali mencret.
IVFD diberikan pada diare dehidrasi berat atau imtake yang tidak terjamin.
< 2 tahun : ASERING sistem 24 jam
4 Jam I : 5 tts/kgBB/menit
20 Jam II : 3 tts/kgBB/menit
Asetat Ringer, karena asam asetat dimetabolisme di otot menjadi
Bikarbonat. Asering sering dipakai pada anak < 2 tahun kaena fungsi
heparnya belum matang sehingga belum dapat mengubah laktat
menjadi bikarbonat.
> 2 tahun : RINGER LAKTAT
1 Jam I : 10 tts/kgBB/menit
7 jam II : 3 tts/kgBB/menit
RL karena fungsi hati sudah sempurna.
1



10

2. Medikamentosa

Pemberian antibiotik secara selektif. Antibiotik hanya diberikan jika ada
indikasi seperti diare berdarah atau diare karena kolera atau diare dengan
disertai penyakit lain. Dikarenakan selain bahaya resistensi kuman,
pemberian antibiotik yang tidak tepat bisa membunuh flora normal yang
justru dibutukan tubuh.

Usia < 6 bulan

- Pemeriksaan feses lekosit > 10/LPB, maka diberi kolistin
100.000-150.000 IU/kgBB/hari (3x pemberian selama 2 hari)
- Bila tidak ada perbaikan dan pemeriksaan feses masih
memberikan hasil positif diganti dengan kanamisin 50-100
mg/kgBB/hari
Usia > 6 bulan
- Pemeriksaan feses lekosit > 10 /LPB, maka diberi kotrimixazole
(dosis trimetropin dan Sulfamethoxazole 6-10 mg/kgBB/hari) 2x
pemberian 2 hari.
- Bila tidak ada perbaikan dan lekosit >10 LPB, maka diganti
dengan asam nalidiksat dosis 55/kgBB/hari selama 5 hari.
Usia > 6 Tahun
Tetrasiklin 30-50 mg/kgBB/hr (4 kali pemberian)
Dasar pengobatan pada Shigellosis yaitu dengan penggunaan
antibiotik, memperbaiki dan mencegah dehidrasi dan mengendalikan
gejala penyerta. Penatalaksanaan dehidrasi pada umumnya sama dengan
diare oleh sebab yang lain. Pengobatan dengan suportif yaitu memperbaiki
kehilangan cairan dan elektrolit yang dapat menimbulkan dehidrasi,
asidosis, syok dan kematian. Penatalaksanaan terdiri dari penggantian
cairan dan memperbaiki keseimbangan elektrolit secara oral atau
intravena, menurut keadaan masing-masing penderita. Selain pemberian
cairan, pemberian makanan juga harus diperhatikan. Terapi diatetik
disesuaikan dengan status gizi penderita yang didasarkan pada umur dan
berat badan.


Antibiotik yang digunakan adalah Ampicillin sebagai drug of
choice, tetapi banyak yang sudah resisten terhadap obat ini sehingga
digunakan antibiotik lain. Trimethoprim-Sulfamethoxazole/ TMP-SMX
(Kotrimoksasol) merupakan pilihan efektif untuk Shigellosis. Obat
golongan Sefalosporin generasi ketiga seperti Cefriaxone ataupun
Cefixime bagi pasien yang mempunyai kontraindikasi terhadap pemberian
Kotrimoksasol. Obat golongan Quinolone generasi pertama (Nalidixic
acid) juga efektif bagi pasien yang alergi terhadap Sulfas dan Sefalosporin.
11

Kotrimoksasol pada orang dewasa dapat diberikan dengan dosis 160
mg/kali per oral sedangkan untuk anak dibawah 2 bulan tidak dianjurkan.
Untuk anak dosisnya 8-10 mg/kg/ kali per oral diberikan selama 5 hari.
Obat ini tidak boleh digunakan pada penderita anemia megaloblastik dan
defisiensi G-6PD.
Cefriaxone pada orang dewasa dapat diberikan 2 g IV/IM sekali
pakai atau dibagi menjadi 2 kali pemberian. Untuk dosis pediatrik 50
mg/kg/kali IV/IM diberikan sekali sehari. Untuk Cefixime pada dewasa
diberikan 400 mg/kali per oral sekali sehari atau dibagi menjadi 2 kali
sehari, dosis pediatrik 15 mg/kg per oral sebagai dosis awal lalu
dilanjutkan 8 mg/kg/kali per oral untuk 5 hari.
Nalidixic acid pada dewasa diberikan 1 gr per oral 4 kali sehari.
Untuk dosis pediatrik 55 mg/kg/kali per oral dibagi dalam 4 kali
pemberian selama 5 hari.
Obat-obat yang berkhasiat menghentikan diare secara cepat seperti
anti spasmodik/spasmolitik tidak dianjurkan untuk dipakai, karena akan
memperburuk keadaan. Obat ini dapat menyebabkan terkumpulnya cairan
di lumen usus, dilatasi usus, gangguan digesti dan absorpsi lainnya. Obat
ini hanya berkhasiat untuk menghentikan peristaltik usus saja tetapi justru
akibatnya sangat berbahaya. Diarenya terlihat tidak ada lagi tetapi perut
akan bertambah kembung dan dehidrasi bertambah berat.
Obat-obat absorben (pengental tinja) seperti kaolin, pectin, norit,
dan sebagainya, telah terbukti tidak bermanfaat. Obat-obat stimulans
seperti adrenalin, nikotinamide dan sebagainya, tidak akan dapat
memperbaiki syok atau dehidrasi beratnya karena penyebabnya adalah
kehilangan cairan (hypovolemic shock), sehingga pengobatan yang paling
tepat yaitu pemberian cairan secepatnya.
Penderita Shigellosis harus istirahat penuh di tempat tidur. Makanan
harus kaya akan protein dan vitamin serta mudah dicerna..
3, 4


3. Zink
Zink merupakan salah satu zat gizi mikro yang penting untuk
kesehatan dan perumbuhan anak. Zink yang ada dalam tubuh akan
menurun dalam jumlah besar ketika anak mengalami diare. Untuk
menggantikan zink yang hilang selama diare, anak dapat diberikan zink
yang akan membantu penyembuhan diare serta menjaga agar anak tetap
sehat. Zink juga meningkatkn sistem kekebalan tubuh sehigga dapat
mencegah risiko terulangnya diare selama 2-3 bulan setelah anak sembuh
dari diare.
Berdasarkan sudi WHO selama lebih dari 18 tahun, manfaat zink
sebagai pengobatan diare adalah mengurangi :
1. Prevalensi diare sebesar 34 %
2. Insidens pneumonia sebesar 26%
12

3. Durasi diare akut sebesar 20%
4. Durasi diare persisten sebesar 24 %, hingga :
5. Kegagalan terapi atau kematian akibat diare persisten sebesar 42 %.
Berdasarkan usia pasien :
Balita < 6 bulan = tablet (10 mg)/hari
Balita > 6 bulan = 1 tablet (20 mg)/hari
Pemberian zink selama 10 hari berturut-turut. Pemberian zink harus tetap
dilanjutkan meskipun diare sudah berhenti. Hal ini dimaksudkan untuk
meningkatkan ketahanan tubuh terhadap kemungkinan berulangnya diare
pada 2-3 bulan ke depan. zink berfungsi sebagai immunomodulator yang
berperan dalam hal meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan
reepitelisasi.
1,2


4. ASI dan pemberian Makanan

ASI bukan penyebab diare. ASI bahkan dapat mencegah diare. Bayi
dibawah umur 6 bulan sebaiknya hanya mendapat ASI untuk mencegah
diare dan meningkatkan sistem imunitas tubuh bayi. Untuk anak tetap
diberi makan seperti biasa dengan frekuensi lebih sering. Jangan
membatasi makanan anak jika ingin frekuensi lebih dari biasanya, karena
lebih banyak makan akan membantu mempercepat penyembuhan,
pemulihan dan mencegah malnutrisi.
2


5. Edukasi (pencegahan)

Belum ada vaksin yang tersedia untuk penyakit ini. Untuk itu ada
dua cara sederhana mengurangi resiko shigellosis pada anak :

Mendorong pemberian ASI yang lama pada kelompok dimana shigellosis
sering ada . ASI menurunkan resiko shigellosis bergejala dan mengurangi
keparahannya pada bayi yang mendapat infeksi walaupun dengan ASI.
Mendidik keluarga dalam tekhnik mencuci tangan, terutama sesudah
buang air besar dan sebelum mempersiapkan dan mengkonsumsi
makanan. Cara-cara kesehatan masyarakat lain adalah penanganan air dan
sampah.
4

.





13

PROGNOSIS

Pada kebanyakan anak sehat, Shigellosis merupakan penyakit yang dapat
sembuh sendiri (self-limiting) dan biasanya sembuh spontan. Gejala demam
biasanya berkurang dalam 24 jam dan frekuensi tinja juga berkurang dalam 2-3
hari.
3





















14

DAFTAR PUSTAKA


1. SMF Anak. 2012. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Departemen
Ilmu Kesehatan Anak Fakultas kedokteran Unhas

2. Kliegman, R.M. Stanton B.F. Behrman R.E. 2011. Nelson Textbook of
Paediatrics. Elsevier Saunders : United States

3. Abuhammour, Walid. 2002. Shigella Infection.
http://emedicine.medscape.com/article/968773-overview#showall

4. Kroser, Joyann. 2005. Shigellosis.
http://emedicine.medscape.com/article/182767-overview#showall


5. Fauci A.S. Kasper D.L. Longo D.L. Braunwald E. Harrisons Principles Of
Internal Medicine. 2008. McGraw Hill.