Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN III

FRAKSINASI
EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava)
DENGAN KROMATOGRAFI KOLOM
1. TUJUAN
Mahasiswa mampu melakukan fraksinasi ekstrak tumbuhan dengan
kromatografi kolom.
2. DASAR TEORI
Prosedur klasik untuk memperoleh kandungan senyawa organik dari
jaringan tumbuhan yang kering (galih, biji kering,akar,daun) adalah dengan
mengekstraksi serbuk bahan dengan alat Soxhlet dengan menggunakan sederetan
pelarut secara bergantiganti, mulai dengan eter, lalu eter minyak bumi,dan kloroform
(memisahkan lipid dan terpenoid). !emudian digunakan alkohol dan etil asetat
(untuk senyawa yang lebih polar). Metode ini berguna bila kita bekerja dengan skala
gram. "etapi jarang sekali kita mencapai pemisahan kandungan secara sempurna, dan
senyawa yang mungkin saja terdapat (dalam perbandingan yang berbeda) dalam
beberapa fraksi.
#ila terdapat senyawa tunggal, kristal dapat dimurnikan dengan
mengkristalkan kembali, dengan demikian bahan tersedia untuk analisis lebih lanjut.
!ebanyakan kristal tersebut berupa campuran sehingga perlu dipisahkan dan
dilarutkan kembali dalam pelarut yang sesuai dengan kandungannya yang dipisahkan
dengan cara kromatograrfi. #anyak juga senyawa yang tetap berada dalam cairan
induk, dan inipun harus difraksinasi dengan kromatografi. Sebagai tindakan
pencegahan baku untuk mencegah kehilangan senyawa, ekstrak pekat harus disimpan
dalam lemari es dan ditambahkan toluen untuk mencegah pertumbuhan jamur.
$ntuk mendapatkan isolat murni dari ekstrak suatu tumbuhan perlu
dilakukan pemisahan dan pemurnian, karena ekstrak mengandung berbagai
komponen. Pemisahan atau separasi adalah suatu langkah operasional untuk
memisahkan komponen yang dituju dari komponenkomponen lainnya. %da beberapa
metode separasi yaitu ekstraksi (sol&ent extraction), destilasi, kristalisasi dan
kromatografi.
'. (kstraksi
Pemisahan dengan menggunakan dua pelarut yang tidak saling campur.
Prinsip pada pemisahan ini didasarkan pada perbedaan kelarutan komponen yang
akan diambil terhadap dua pelarut tersebut (koefisien distribusi). Pemisahan
dilakukan dengan menggunakan corong pisah, digojog dan didiamkan. !ekuatan dan
lama penggojogan sangat berpengaruh terhadap hasil ekstraksi.
). *estilasi
Pemisahan dengan cara destilasi dilakukan berdasarkan perbedaan titik didih
dari komponenkomponen yang akan dipisahkan. +ampuran komponen yang akan
dipisahkan diletakkan pada sebuah labu destilasi dan dipanaskan hingga menguap.
*engan adanya pendingin, komponenkomponen akan mengembun dan terpisah dari
campurannya.
,. !ristalisasi
!ristalisasi dilakukan apabila komponen yang kita tuju dapat dikristalkan
sedangkan komponen pengotor lainnya tidak mengkristal. +ara ini cukup sederhana
dilakukan dengan cara melarutkan campuran komponen pada pelarut yang sesuai
kemudian didinginkan hingga terbentuk kristal, lalu kristal dipisahkan dari campuran
tersebut.
-. !romatografi
!romatografi adalah suatu teknik pemisahan fisik campuran komponen
dalam suatu sampel (ekstrak), berdasarkan pada perbedaan migrasi komponen
tersebut dari fase diam oleh pengruh fase gerak
Pemisahan dan pemurnian kandungan tumbuhan terutama dilakukan dengan
menggunakan salah satu dari empat teknik kromatografi atau gabungan teknik
kromatografi tersebut, yaitu .
'. !!t (!romatografi !ertas)
). !/" (!romatografi /apis "ipis)
,. !0 (!romatografi 0as)
-. !+!" (!romatografi +air !inerja "inggi)
Pemilihan teknik kromatografi sebagian besar bergantung pada sifat
kelarutan dan keastirian senyawa yang akan dipisah. !!t dapat digunakan terutama
bagi kandungan tumbuhan yang mudah larut dalam air, yaitu karbohidrat, asam
amino, basa asam nukleat, asam organik, dan senyawa fenolat.
!/" merupakan metode pilihan untuk pemisahan semua kandungan yang
larut dalam lipid, yaitu lipid, steroid, karotenoid, kuinon sederhana,dan klorofil.
Sebaliknya, teknik ketiga yaitu !0+. Penggunaan utamanya ialah pada pemisahan
senyawa astiri yaitu. asam lemak, mono dan ses1uiterpena, hidrokarbon, dan senyawa
belerang. "etapi, keatsrian kandungan tumbuhan yang bertitik didih tinggi dapat
diperbesar dengan mengubahnya menjadi ester dan atu eter trimetilsilil sehingga
hanya ada sediit saja golongan yang sama sekali tidak cocok dipisahkan dengan cara
!0+.
+ara lain yaitu !+!", dapat memisahkan kandungan yang keatsirianya
kecil. !+!" adalah suatu metode yang menggabungkan keefisienan kolom dan
kecepatan analisis. *isamping itu, perlu dikemukakan bahwa ada tumpang tindih di
atas. Sering gabungan !!t dan !/", !/" dan !+!", atau !/" dan !0+ mungkin
merupakan pendekatan terbaik untuk memisahkan golongan senyawa tumbuhan
tertentu. Semua teknik tersebut dapat digunakan pada skala mikro maupun makro.
$ntuk pekerjaan penyiapan, !/" dilakukan pada lapisan penjerap yang tebal, dan
!!t pada lembaran kertas saring yang tebal. $ntuk isolasi pada skala yang lebih
besar dari itu, biasanya digunakan kromatografi kolom yang digabungkan dengan
pengumpul fraksi otomatis. Prosedur ini akn menghasilkan senyawa murni dalam
skala gram.
Suatu teknik lain yang pemakaiannya agak luas dalam fitokimia adalah
elektroforesis. Pada mulanya teknik hanya dapat digunakan untuk senyawa yang
bermuatan, yaitu asam amino, beberapa alkaloid, amina asam organic, dan protein.
"etapi, selain itu golongan senyawa netral tertentu (gula, fenol) dapat diusahakn
bergerak dalam medan listrik dengan mengubahnya menjadi senyawa kompleks
logam (misalnya dengan mengunakan natrium borat). Sergent ('232) telah menyusun
suatu pengantar teknik elektroforeis yang sederhana. *isamping teknik yang telah
dikemukakan, beberapa teknik lain kadangkadang digunakan pada penelitian
fitokimia. Pemisahan dengan eksraksi caircair sederhana masih tetap bermanfaat
dibidang karotenoid. %lat untuk ekstraksi caircair otomatis berupa alat sebar lawan
arus +raig telah ada sejak lama, tetapi ada kecenderungan alat tersebut barudigunakan
sebagai usaha akhir bila teknik lain gagal. %lat yang lebih menyenangkan untuk
ekstraksi caircair telah dikembangkan barubaru ini, yang dinamai kromatografi
lawanarus tetes (!/%") yang digunakan pada skala penyiapan. Pengunaannya
terutama untuk memisahkan kandungan yang larut dalam air (4ostetman, '25').
Pemisahan protein tumbuhan dan asam nukleat sering memerlukan teknik khusus
yang belum disebutkan, seperti penyaringan melalui gel 6Sephadex7, kromatografi
afinitas, dan ultrapemusingan diferensial.
a. Kromatografi Krta! (KKt"
!euntungan utama !!t ialah kemudahan dan kesederhanaannya pada
pelaksanaan pemisahan, yaitu hanya pada lembaran kertas saring yang berlaku
sebagai medium pemisahan dan juga sebagai penyangga. Selain itu keterulangan
bilangan 8f yang besar pada kertas sehingga pengukuran 8f merupakan parameter
yang berharga dalam memaparkan senyawa tumbuhan baru. Memang untuk
senyawa antosianin yang tidak mempunyai ciri fisik lain yang jelas, 8f adalah
sarana terpenting dalam memaparkan dan membedakan pigmen yang satu dengan
pigmen yang lain (4arborner, '239). %ir murni ialah pengembang kromatografi
yang sungguhsungguh serba guna dan dapat dinakan untuk memisahkan Purina
dan pirimidin biasa, dan secara umum dapat dipakai juga untu senyawa fenol dan
glikosida tumbuhan. Pada !!t, senyawa biasanya dideteksi sebagai bercak
berwarna atau bercak berfluoresensi$: setelah direaksikan dengan pereaksi
kromogenik yang digunakan sebagai pereaksi semprot atau pereaksi celup. $ntuk
lembaran besar, pencelupan biasnya lebih mudah tetapi susunan pereaksi semprot
harus diubah agar mudah kering, dan dengan demikian mencegah difusi waktu
pencelupan. Selanjutnya kertas dapat dipanaskan untuk menimbulkan warna.
#ilangan 8f adalah jarak yang ditempuh senyawa pada kromatografi,
nisbi terdapat garis depan. #ilangan 8f diperoleh dengan mengukur jarak antara
titik awal dan pusat bercak yang dihasilkan senyawa, jarak ini kemudian dibagi
dengan jaerak antara titik awal dengan garis depan (yaitu jarak yang ditempuh
cairan pengembang). #ilangan ini selalu berupa pecahan dan terletak antara ;,;'
dan ;,22.
#. Kromatografi La$i! Ti$i! (KLT"
!elebihan !/" dibanding dengan !!t ialah keserbagunaaan, kecepatan,
dan kepekaannya. !eserbagunaan !/" disebabkan oleh kenyataan bahwa
disamping selulosa, sejumlah penjerap yang berbedabeda dapat disaputkan pada
pelat kaca atau penyangga lain da digunakan untuk kromatografi. !ecepatan !/"
yang lebih besar disebabkan oleh sifat penjerap yang lebih padat bila disaputkan
pada pelat dan merupakan keuntungan bila kita menelaah senyawa labil.
Sedangkan kekurangan !/" yang asli ialah kerja penyaputan pelat kaca
dengan penjerap. !erja ini kemudian agak diringankan dengan adanya penyaput
otomatis. <enis !/" yang paling baru ialah !/" yang menggunakan pelat
bersaputkan mikropartikel silica yang halus yang biasa digunakan untuk kolom
!+!". !romatografi yang demikian disebut !romatografi /apis "ipis !inerja
"inggi (!/"!") dan biasanya menghasilkan pemisahan yang lebih efisien dan
lebih cepat dari pada pemisahan pada lapisan silica yang biasa. !/" preparati&e
dilakukan dengan menggunakan lapisan tebal (sampai 'mm) sebagai pengganti
lapisan penjerap yang tipis (;,';;,)= mm).
%. Kromatografi Ga! (KG"
!0 dinyatakan dengan &olume retensi Rv, yaitu &olume gas pembawa
yang diperlukan untuk mengelusi suatu komponen dari kolom, atau dinyatakan
dengan waktu retensi 8t, yaitu waktu yang diperlukan untuk mengelusi komponen
dari kolom. !edua parameter ini hamper selalu dinyatakan nisbi terhadap senyawa
baku (sebagai 88& atau 88t) yang dapat ditambahkan kedalam ekstrak cuplikan
atau dapat berupa pelarut yang digunakan untuk melarutkan cuplikan. Perubahan
utama dalam !0 adalah sifat fase diam dalam kolom dan suhu kerja. !eduannya
diubahubah menurut kepolaran dan keastirian senyawa yang dipisahkan. #anyak
golongan senyawa dibuat turunnnya secara rutin (terutama menjadi eter
trimetilsilil).
8adas yang diperlukan untuk !0 sangat canggih dan mahal dibandingkan
radas untuk !/" atau !!t. "etapi pada prinsipnya !0 tidaklah lebih rumit dari
prosedur kromatografi yang lain.
8adas !0 mempunyai empat bagian utama berikut.
'. !olom
#erupa pipa kecil yang panjang (misalnya ,m x 'mm), biasanya
terbentuk dari logam yang berbentuk gelungan untuk menghemat ruang. !olom
ini dikemas dengan fase diam (misalnya silikon ='=>) yang melekat pada
serbuk lembam. !emasan tersebut bukanlah suatu keharusan karena dapat pula
digunakan cara lain seperti kolom silika terbuka. *isini fase diam disaputkan
film pada permukaan kolom bagian dalam (!0 kapiler)
). Pemanas
*isediakan untuk memanaskan kolom secara meningkat, mulai dari
=;,=;+ dengan laju baku. #ila perlu suhu dapat dipertahankan pada batas
tertinggi. Suhu di tempat masuk kolom dikendalikan terpisah sehingga cuplikan
dapat diuapkan dengan cepat ketika diteruskan ke kolom. +uplikan yang
dilarutkan dalam eter atau heksana disuntikkan jarum semprit ke dalam gerbang
masuk melalui septum karet.
,. %liran 0as
"erdiri atas gas pembawa yang lembam seperti nitrogen dan argon.
Pemisahan senyawa dalam kolom bergantung pada pengaliran gas ini melalui
kolom dengan laju aliran yang terkendali.
-. 0awai Pendeteksi
*iperlukan untuk mengukur senyawa ketika senyawa itu dialirkan
melalui kolom. Sering pendeteksian didasarkan pada pengionan nyala atau
tangkapelektron. +ara pertama memerlukan tambahan gas hidrogen dalam
campuran gas dan akan terbakar habis dalam pendeteksi yang sebenarnya.
0awai pendeteksi dihubungkan dengan perekam potensiometri yang
memberikan hasil pemisahan berupa serangkaian puncak yang berbedabeda
kekuatannya.
4asil !0 dapat dinyatakan dengan &olume retensi 8&, yaitu &olume gas
pembawa yang diperlukan untuk mengelusi suatu komponen dari kolom, atau
dinyatakan dengan waktu retensi 8t, yaitu waktu yang diperlukan untuk mengelusi
komponen dari kolom. !edua parameter ini hampir selalu dinyatakan nisbi
terhadap senyawa baku (Sebagai 88& atau 88t) yang dapat ditambahkan ke dalam
ekstrak cuplikan atau dapat berupa pelarut yang digunakan untuk melarutkan
cuplikan. Perubah utama dalam !0 adalah fase diam dalam kolom dan suhu kerja.
!eduaduanya diubahubah menurut kepolaran dan keatsirian senyawa yang
dipisahkan. #anyak golongan senyawa dibuat turunannya secara rutin (terutama
menjadi eter trimetilsilil) sebelum dikromatografi gas, karena dengan demikian
memungkinkan pemisahan pada suhu yang lebih rendah.
%lat !0 dapat disusun sedemikian rupa sehingga komponen yang
dipisahkan dapat dianalisis dengan cara spektrometri atau dengan cara lain. ?ang
paling sering dilakukan adalah menghubungkan !0 dengan spektrometer massa
(SM). 8adas gabungan !0SM ini telah muncul pada tahuntahun belakangan ini
sebagai cara terpenting dari semua cara analisis fitokimia.
&. Kromatografi 'air Ki(r)a Ti(ggi (K'KT"
!+!" dapat disamakan dengan !0 dalam hal kepekaan dan
kemampuannya menghasilkan data kualitatif dan kuantitatif dengan sekali kerja
saja. Perbedaannya ialah fase diam yang terikat pada polimer berpori terdapat
dalam kolom baja tahan karat yang bergaris tengah kecil, dan fase gerak cair
mengalir akibat tekanan yang besar. %lat !+!" lebih mahal dari pada !0,
terutama karena diperlukan system pompa yang cocok serta semua sambungan
harus disekrup agar menahan tekanan. @ase geraknya adalah campuaran pelarut
yang dapat bercampur. +ampuran ini dapat tetap susunannya (pemisahan
isokratik) atau dapat diubah perbandingannya secara sinambung dengan
menambahkan ruang pencampur kepada susunan alat (elusi landaran). Senyawa
dipantau ketika keluar dari kolom dengan menggunakan pendeteksi, biasanya
dengan mengukur spectrum serpan $:. *apat ditmbahkan pemadu (integrator)
untuk mengolah data yang dihasilkan dengan mikro prosesor.
Perbedan utama antara !+!" dan !0 ialah bahwa cara pertama biasanya
dilakukan pada suhu kamar sehingga senyawa tidak mendapat perlakuan yag
memungkinkan terjadinya tata susun ulang termal selama pemisahan. "etapi,
mungkin saja pengendalian suhu kolom !+!" menguntungkan pada pemisahan
kritis sehingga mungkin diperlukan selubung yang dikendalikan dengan
thermostat. !olom, yang biasanya dikemas dengan partikel bulat kecil yang
terbuat dari silica yang berlapiskan atau berkaitan dengan fase diam, terutama peka
terhadap cemaran. *engan demikian ekstrak tumbuhan perlu dimurnikan dan
disaring sebelum disuntikkan kedalam pangkal kolom.
!+!" digunakan terutama untuk golongan atsiri, misalnya terpenoid
tinggi, segala jenis fenol, alkolid, lipid, dan gula. !+!" berhasil paling baik untuk
senyawa yang dapat dideteksi didaerah spectrum $: atau spectrum sinar tampak.
$ntuk gula yang tidak menunjukkan serapan $: dapat digunakan pendeteksi
indeks bias, tetapi kepekaannya lebih rendah. Protein telah dipisahkan dengan
!+!" dengan menggunakan kolom 6sephadex7 yang dimodifikasi dengan silica
gel atau penukar ion.
Sebagian besar pemisahan dengan !+!" modern mengunakan kolom
siap pakai, dan berbagai jenis kolom ii disediaakan oleh pabrik. "etapi,
kebanyakan pemisahan dapat dilakukan dengan menggunakan kolom partikel
silica mikropori (untuk senyawa nonpolar) atau kolom fase balik, yaitu faseikat
+'5 (untuk senyawa polar) 4amilton dan sewell, '25). satu hal praktis terakhir
yang patut disebutkan yaitu pelarut harus ultramurni. !+!" merupakan cara
kromatografi paling baru yang ditambahkan kedalam perlengkapan fitokimiawan.
"erlepas dari biaya alat dan pelarut, !+!" memberi harapan sebagai alat
terpenting dan serba guna pada analisis kuantitatif tumbuhan. Aamun demikian,
!+!" harus dapat membuktikan kegunaannya pada skala preparatif.
*. ALAT +
#eaker glass
0elas ukur
/abu alas bulat
/empeng !/"
#ak kromatografi
(rlenmeyer
0lass wool
0lass colum
:ial = m/
Mikropipet
/ampu $: )=- nm dan ,3= nm
,. BA-AN +
(kstrak daun jambu biji (Psidium guajava)
(tanol 23 >
Metanol
4+l =9>
!loroform
%seton
%sam formiat
Silika gel
.. 'ARA KERJA +
a. Preparasi ekstrak
Sampel ;,, gram

*itambah )= m/ metanol dan ;,9 m/ 4+l =9> &B&

4idrolisis selama ,; menit pada suhu 9;


;
+ (menggunakan refluks)
b. Pemilihan eluen untuk fraksinasi
Standar kuersetin dan ekstrak daun Psidium guajava

+uci kemudian larutkan dalam etanol 23 >

"otolkan )= mikro /iter

/empeng !/"

(luasi dengan eluen kloroform . aseton . asam formiat C '=; . ,, . '9

(luasi sampai tanda batas

%mati lempeng

/ampu $: )=- nm dan ,3= nm


c. @raksinasi dengan kromatografi kolom
Silica gel ';; kali bobot ekstrak daun Psidium guajava

Masukkan (rlenmeyer

"ambahkan D ) cm
diatas permukaan silica gel
(luen
!ocok pelan merata, lalu masukkan
!olom kromatografi
*iamkan selama ' hari
"ambahkan eluen sampai ;,= cm diatas permukaan silica gel
"ambahkan
(kstrak daun Psidium guajava ('> bobot silica)
%lirkan dan tampung D =; m/
(rlenmeyer
Sisihkan
#uka kran kembali (' tetesBdetik) dan tampung

:ial ); m/
"iap &ial diuji dengan !/"
Aoda yang sama digabungkan dalam satu &ial
/. -ASIL PENGAMATAN
a. Preparasi (kstrak
#eaker glass E ekstrak C ,-,',-' gram
#eaker glass C ,,,95)) gram
#erat ekstrak C ;,,='2 gram
b. Pembuatan (luen
(luen dibuat ';; m/ dengan perbandingan kloroform . aseton . asam format C
'=; . ,, . '9
c. @raksinasi dengan !romatografi !olom
Penampungan sampel '; &ial masingmasing berisi ); m/.
Sampel &ial no.' F , . kolom masih baik
Sampel &ial no.- F '; . kolom sudah pecah
$ji dengan !/" . &ial no.3 mengandung !uersetin
0. PEMBA-ASAN
@raksinasi adalah pemisahan suatu golongan senyawa dalam suatu simplisia
menjadi senyawa yang lebih sederhana. Sebelum dilakukan fraksinasi, maka ekstrak
harus dipreparasi dulu. (kstrak sebanyak ;,, gram dicampurkan dengan )= m/
metanol dan ;,9 m/ 4+l =9> &B& dalam labu alas bulat. /alu dihidrolisis selama ,;
menit pada suhu 9;
;
+ menggunakan refluks. !uersetin di dalam tumbuhan
berbentuk glikosida, dimana glikonnya adalah glukosa sedangkan aglikonnya adalah
kuersetin. 0likon dan aglikon ini diikat oleh ikatan glikosidik. $ntuk keperluan
identifikasi, maka ikatan glikosidik ini harus diputus. 4idrolisis dengan
menggunakan refluks berfungsi intuk memutuskan ikatan glikosidik antara glikon
dan aglikon.
Prinsip kerja refluks ialah mendidihkan ekstrak hingga menjadi uap
kemudian uap ekstrak tersebut bergerak naik menuju ke kondensor dan diembunkan
kembali oleh kondensor. *engan adanya pemanasan tinggi, maka diharapkan ikatan
glikosidik kuersetin akan terputus. 4asil hidrolisis ekstrak disaring dengan kertas
saring lalu disimpan dalam cawan bertutup.
Setelah itu, dilakukan fraksinasi dengan kromatografi kolom. Mulamula
silika gel sebanyak ';; kali bobot ekstrak dimasukkan dalam erlenmeyer dan
ditambahkan eluen ) m/ di atas permukaan silika gel tersebut. +ampuran dikocok
perlahan dan dimasukkan hatihati ke dalam kolom kromatografi yang bagian
bawahnya sudah diberi glass wool. Penuangan campuran silika gel dan eluen ke
dalam kolom kromatografi tidak boleh terlalu cepat ataupun terlalu lambat, tetapi
sebaiknya konstan (tetap). !arena jika ada udara yang terperangkap dalam kolom
dapat menyebabkan kolom tersebut retakBpecah. !olom dibiarkan selama satu hari
untuk memampatkan dan melihat ada tidaknya keretakan. <ika kolom tidak retak,
maka ditambahkan eluen ;,= cm di atas permukaan silika gel. /alu ekstrak yang telah
dicampur dengan '> bobot silika dimasukkan dalam kolom tersebut. Setelah itu
eluen dialirkan dan ditampung =; m/ dalam erlenmeyer. (luen ini belum membawa
Gat kimia tanaman sehingga dapat dibuang. Selanjutnya, kran dibuka dan diatur
penetesannya (' tetesBdetik) dan ditampung dalam '; &ial yang berkapasitas ); m/.
Selama proses pemisahan dengan kromatografi kolom berlangsung, eluen harus tetap
ditambahkan dan dijaga agar selalu berada di atas permukaan sampel ekstrak. <ika
eluen dibiarkan habis hingga berada di bawah permukaan sampel ekstrak, hal tersebut
dapat menyebabkan kolom pecahBretak. 4al ini disebabkan karena dengan
berkurangnya eluen sampai di bawah permukaan sampel ekstrak, maka kemungkinan
terperangkapnya udara di dalam kolom menjadi semakin besar. %kibatnya, kolom
menjadi retak. Silika gel berfungsi sebagai fase diam sedangkan eluen (kloroform,
aseton dan asam formiat) berfungsi sebagai fase gerak. 0olongan senyawa yang lebih
mudah terikat pada fase gerak akan keluar terlebih dahulu dari kolom kromatografi,
sebaliknya golongan senyawa yang lebih mudah terikat pada fase diam akan keluar
pada saatsaat terakhir.
$ntuk praktikum ini, kelompok kami menampung '; &ial eluen dengan
kapasitas masingmasing ); m/. "etapi pada saat menampung eluen untuk &ial ke-,
kolom kromatografi sudah retakBpecah. <adi, selama menampung &ial ke- sampai ke
';, kolom kromatografi dapat dikatakan sudah tidak layak lagi untuk memisahkan
golongan senyawa dalam tumbuhan. Pecahnya kolom disebabkan karena praktikan
tidak menambahkan eluen secara terusmenerus ke atas permukaan sampel ekstrak,
sehingga kemungkinan terperangkapnya udara dalam kolom semakin besar dan
menyebabkan kolom pecah.
Setiap &ial diuji dengan !/" untuk melihat noda yang dihasilkan. <ika
menghasilkan noda yang sama &ial&ial tersebut digabung. *alam praktikum ini, ';
&ial dan standar kuersetin masingmasing ditotolkan pada lempeng !/". /alu
dikeringkan dan dilihat nodanya pada panjang gelombang )=- nm dan ,3= nm.
*igunakan panjang gelombang )=- nm karena lempeng !/" yang digunakan dapat
berpendar pada panjang gelombang tersebut, sehingga noda akan tampak gelap.
Sedangkan pada panjang gelombang ,3= nm, yang tampak berpendar adalah
nodanya, sedangkan lempeng !/" tampak gelap. Setelah dilihat pada panjang
gelombang tersebut, ternyata hanya &ial ke3 yang positif menunjukkan adanya
kuersetin (noda berwarna coklat), sedangkan &ial&ial yang lain tidak menampilkan
noda apapun. Padahal saat menampung &ial ke3, kolom sudah pecah dan seharusnya
tidak layak lagi untuk melakukan pemisahan. @enomena ini mungkin bisa disebabkan
oleh beberapa hal yaitu .
'. untuk &ial ke3, mungkin terlalu banyak massa yang ditotolkan sehingga
noda dapat tampak meskipun kolom pecah,
). untuk &ial&ial yang tidak menampilkan noda, mungkin massa yang
ditotolkan terlalu sedikit sehingga noda tidak tampak.
1. KESIMPULAN
#erdasarkan hasil praktikum dan pembahasan yang dilakukan maka dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut .
a. @raksinasi adalah pemisahan suatu golongan senyawa dalam suatu simplisia
menjadi senyawa yang lebih sederhana.
b. !olom kromatografi menggunakan fase diam serbuk silica dan fase gerak berupa
campuran pelarut pengembang kloroform . aseton . asam formiat dengan
perbandingan '=; . ,, . '9.
c. !olom kromatografi masih dalam kondisi baik saat menampung &ial ke' hingga
&ial ke,
d. !olom kromatografi retakBpecah saat menampung &ial ke- hingga &ial ke';
e. *ari '; &ial, hanya eluen pada &ial ke3 yang menampakkan noda positif sebagai
kuersetin
f. (luen yang ditampung pada &ial&ial lain kecuali &ial ke3 sama sekali tidak
menampakkan noda
DAFTAR PUSTAKA
4arborne. <. #. '223. Metode Fitokimia Terbitan Kedua. #andung . H"# #andung, <awa
#arat
%nonim. '225. Materia Medika Indonesia. <akarta. *epartemen !esehatan 8epublik
Hndonesia
(luen terusmenerus ditambahkan ke atas permukaan sampel ekstrak
!olom kromatografi sudah pecahBretak