Anda di halaman 1dari 14

SNI 03-2493-1991

1


METODA PEMBUATAN DAN PERAWATAN BENDA UJI BETON
DI LABORATORIUM
BAB I
DESKRIPSI
1.1 Maksud dan Tujuan
1.1.1 Maksud
Metoda Pembuatan dan Perawatan Benda Uji Beton di Laboratorium ini dimaksudkan untuk
digunakan sebagai acuan oleh tenaga laboran damal pembuatan dan perawatan benda uji
beton di laboratorium.
1.1.2 Tujuan
Tujuan metoda ini adalah untuk mendapatkan benda uji di laboratorium yang memenuhi
syarat.
1.2 Ruang Lingkup
Metoda ini mencakup cara pembuatan benda uji beton di laboratorium sampai saat
pengujian dilakukan dengan proporsi sesuai rancang campur yang ditentukan, dimana
ketelitian dalam pengawasan bahan dan kondisi pengujian diperlukan, dan berlaku untuk
beton yang dipadatkan dengan cara penusukan atau penggetaran.
1.3 Pengertian
Yang dimaksud dengan :
1) Penggetar internal adalah penggetar berbentuk jarum yang dalam penggunaannya
dimaksukkan ke dalam beton yang dipadatkan;
2) Penggetar eskternal adalah penggetar berbentuk meja/papan yang dapat
penggunaannya beton yang dipadatkan disimpan diatasnya;
3) Batang penusuk adalah batang yang terbuat dari logam yang digunakan untuk
memadatkan beton;
4) Pengaduk beton adalah drum pengaduk yang digerakkan dengan tenaga penggerak
yang digunakan untuk mengaduk campuran beton;
5) Beton segar adalah campuran beton setelah selesai diaduk hingga beberapa saat
karakteristiknya belum berubah;
6) Beton keras adalah adukan beton yang terdiri dari campuran semen Portland atau
sejenisnya, agregat halus, agregat kasar dan air, dengan atau tanpa bahan tambahan
lainnya yang telah mengeras;
7) Segregasi adalah terpisanya antara pasta semen dan agregat dalam suatu adukan.
SNI 03-2493-1991

2


BAB II
PERSYARATAN-PERSYARATAN
2.1 Alat-alat
2.1.1 Cetakan
Cetakan untuk membuat benda uji yang berhubungan langsung dengan beton harus terbuat
dari baja, besi atau bahan lain yang tidak menyerap air dan tidak bersifat reaktif terhadap
beton atau semen.
Cetakan harus sesuai dengan ukuran yang ditetapkan, atau sesuai pada Tabel 1 dibawah.
Tabel 1 Ukuran Cetakan Benda Uji Beton
Jenis Cetakan Contoh Uji Ukuran Bagian Dalam Cetakan
Kubus
150 x 150 x 150
200 x 200 x 200
Balok
500 x 100 x 100
600 x 150 x 150
Silinder
diameter 50 dan tinggi 100
diameter 150 dan tinggi 300

Cetakan terdiri dari bidang-bidang yang rata betul, kuat, kedap air dan setiap pertemuan
dari masing-masing bagian cetakan dapat diberi bahan yang lunak seperti vaselin/stempet
lemak atau bahan yang sejenis.
Permukaan cetakan bagian dalam harus dioles dengan minyak pelumas seperti oli, solar
atau bahan sejenisnya sebelum digunakan agar dalam pelepasan benda uji dari cetakan
tidak mengalami kesulitan.
2.1.2 Batang Penusuk
Batang penusuk terdiri dari dua macam :
1) Batang penusuk besar, dengan diameter 16 mm dan panjang 610 mm;
2) Batang penusuk kecil dengan diamater 10 mm dan panjang 305 mm.
2.1.3 Palu/Pemukul
Palu/pemukul harus terbuat dari bahan karet, plastik atau bahan lain yang lunak dengan
berat antara 0,34 sampai 0,8 kg.
2.1.4 Penggetar
Ada dua macam alat penggetar yang biasa digunakan, yaitu jarum getar (penggetar internal)
dan meja/papan getar (penggetar eksternal).
1) Penggetar Internal, dengan ketentuan sebagai berikut :
(1) Penggetar internal/jarum getar dapat berbentuk tangki yang fleksibel dengan ujung
yang kaku, digerakkan dengan tenaga motor listrik;
(2) Frekuensi penggetaran pada saat digunakan 7000 getaran per menit atau lebih;
SNI 03-2493-1991

3


(3) Diameter penggetar antara 19 mm sampai 38 mm;
(4) Panjang keseluruhan elemen penggetar melampaui kedalaman bagian yang digetar
sedikitnya 76 mm;
(5) Diameter tangki atau ukuran lura dari penggetar internal tidak boleh lebih besar dari
sepertiga lebar cetakan. Dalam hal ini adalah balok atau kubus;
(6) Untuk cetakan silinder perbandingan diameter silinder dengan diameter elemen
penggetar harus empat atau lebih tinggi;
(7) Pada pemadatan benda uji penggetar tidak boleh dibiarkan bersandar atau
menyentuh dasar atau sisi cetakan atau memukul sekeliling cetakan;
(8) Pada saat menjelang selesai penggetaran, penggetar dikeluarkan dengan hati-hati
agar gelembung udara tidak tertinggal.
2) Penggetar Eksternal, dengan ketentuan sebagai berikut :
(1) Apabila digunakan penggetar eksternal, harus dilakukan dengan hati-hati dan harus
yakin bahwa cetakan cukup stabil melekat dengan kokoh pada alas penggetar dan
tidak mudah bergeser;
(2) Alat penggetar eksternal dapat berbentuk meja getar atau papan getar dengan
frekuensi getaran tidak kurang dari 3600 per menit, dan dilengkapi dengan alat
penjepit untuk penahan cetakan.
2.1.5 Alat Uji Slump
Alat untuk mengukur slump harus sesuai dengan spesifikasi alat yang tercakup dalam buku
standar cara pengukuran slump SNI 03-1972-1990.
2.1.6 Wadah Adukan Untuk Contoh Uji
Wadah adukan terbuat dari plat yang datar dari bahan sejenis metal, kedap air dan licin
sehingga mudah dalam pengadukan dengan menggunakan sendok aduk maupun sekop.
Bila pengadukan menggunakan mesin aduk, wadah tersebut harus mampu menahan beban
adukan dan memungkinkan dapat diaduk kembali dengan sendok semen atau sekop.
2.1.7 Ayakan
Bila diperlukan pengayakan basah, peralatan yang digunakan harus sesuai dengan
ketentuan dalam Metode Pengambilan Contoh Beton Segar menurut SNI 03-2458-1991.
2.1.8 Alat Uji Kadar Udara
Alat-alat untuk mengukur kadar udara harus sesuai dengan spesifikasi alat yang ditentukan
dalam buku standar/metoda pengujian kadar udara.
2.1.9 Timbangan
Timbangan harus mempunyai ketelitian 0,3% dari berat yang ditimbang atau 0,1% dari
kapasitas maksimum timbangan.
2.1.10 Pengaduk Beton
Pengaduk beton berupa drum pengaduk dengan tenaga penggerak, wadah adukan yang
dapat berjungkit, atau wadah yang berputar dengan baik/wadah dengan pendayung yang
berputar. Alat ini harus dapat mengaduk secara langsung sesuai dengan banyaknya adukan
dengan slump yang diperlukan.
SNI 03-2493-1991

4


2.2 Benda Uji
2.2.1 Benda Uji Silinder
Benda uji silinder digunakan untuk berbagai macam pengujian seperti kuat tekan, modulus
elastisitas, kuat tarik belah dan lain-lain, terdiri dari berbagai variasi ukuran dengan minimum
berdiameter 50 mm dan panjang 100 mm.
Bila diperlukan hubungan atau perbandingan dengan silinder yang digunakan di lapangan,
ukuran silinder harus berdiameter 150 mm dan tinggi 300 mm.
Untuk ukuran silinder yang lain dapat dilihat pada Bab 3.3 di bawah.
2.2.2 Benda Uji Berbentuk Prisma
Benda uji berbentuk prisma seperti balok untuk kuat lentur, kubus untuk kuat tekan, kuat
rekat, dan lain-lain harus dicetak dengan sumbu memanjang terletak horisontal dan harus
sesuai dengan ukuran yang ditentukan untuk pengujian tertentu.
Ukuran benda uji yang biasa digunakan dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini.
Tabel 2 Ukuran Benda Uji Berbentuk Prisma
Jenis Benda Uji Ukuran (mm)
Kubus 150 x 150 x 150
200 x 200 x 200
Balok 500 x 100 x 100
600 x 150 x 150
2.2.3 Ukuran Benda Uji Yang Disesuaikan dengan Ukuran Agregat
Diameter dari contoh uji silinder dan ukuran prisma tidak boleh kurang dari 3 kali diameter
maksimum dari agregat kasar yang digunakan dalam beton.
Agregat yang lebih besar daripada yang diijinkan harus dibuang keluar pada waktu
pencetakan benda uji, atau dilakukan pengayakan terlebih dahulu sebelum agregat
digunakan untuk campuran beton.
2.3 Bahan-bahan
2.3.1 Semen
Semen yang digunakan harus memenuhi syarat sesuai yang ditentukan dalam Spesifikasi
Bahan Bangunan Bagian A, SK SNI 03-6851-2002.
2.3.2 Agregat
Agregat yang digunakan harus memenuhi syarat sesuai yang ditentukan dalam Spesifikasi
Bahan Bangunan Bagian A, SK SNI S 03-6861.1-2002.
2.3.3 Air
Air yang digunakan harus memenuhi syarat sesuai yang ditentukan dalam Spesifikasi Bahan
Bangunan A, SK SNI 03-6861.1-2002.
SNI 03-2493-1991

5


2.3.4 Bahan Tambahan Untuk Beton
Bahan tambahan untuk beton harus sesuai dengan petunjuk yang diberikan pada buku
standar mengenai bahan tambahan untuk beton SNI 03-2496-1991.





































SNI 03-2493-1991

6


BAB III
KETENTUAN-KETENTUAN
3.1 Jumlah Benda Uji
Banyaknya benda uji minimum 3 buah untuk setiap jenis, umur dan kondisi pengujian.
Bila contoh uji yang mencakup variabel yang ditentukan harus dibuat dari 3 kali adukan
terpisah dari berbagai umur pengujian.
Umur pengujian yang biasa dilakukan adalah 7 dan 28 hari untuk kuat tekan, kecuali beton
yang menggunakan bahan tambahan jenis mempercepat waktu pengikatan atau
menggunakan semen tipe III pengujian juga dilakukan pada umur 3 hari, serta 14 dan 28 hari
untuk kuat lentur.
3.2 Temperatur
Bahan-bahan disimpan dalam ruangan dengan temperatur yang seragam antara 20-30
o
C
sebelum pengadukan.
3.3 Semen
Penyimpanan semen harus ditempat yang kering atau dalam wadah yang kedap air,
sebaiknya terbuat dari logam.
Untuk mendapatkan semen yang seragam, dapat dilakukan pengadukan secara
menyeluruh. Semen harus lolos ayakan 1 mm dan setelah diayak dilakukan pengadukan
diatas lembaran plastik selanjutnya disimpan dalam wadah.
3.4 Agregat
Dalam pengadaan agregat, apabila terdapat susunan besar butir yang tidak masuk dalam
batas gradasi yang ditetapkan sehingga dapat menimbulkan segregasi, maka harus
dilakukan pengayakan dan dipisahkan masing-masing fraksi kemudian digabung kembali
sesuai dengan kebutuhan agar didapatkan agregat dengan besar butir yang beragam dan
masuk dalam batas grading.
Sebelum pencampuran beton, kondisi dan kadar air seluruh agregat harus dijamin seragam.
Untuk hal ini, agregat dapat disimpan dalam ruangan lembab sampai saat agregat
digunakan.
Apabila agregat dalam kondisi alami, maka besarnya penyerapan air yang sebenarnya harus
dihitung dan ditambahkan pada jumlah air adukan.
Untuk beton yang menggunakan agregat ringan, dijelaskan pada buku standar ini.





SNI 03-2493-1991

7


BAB IV
CARA PELAKSANAAN
4.1 Penimbangan Bahan
Timbanglah masing-masing bahan dengan menggunakan timbangan yang mempunyai
ketelitian sesuai yang ditetapkan pada Bab 2.1.9.
Banyaknya bahan sesuai yang ditetapkan dari hasil rancang campur beton (concrete mix
design) dengan koreksi seperlunya bila agregat dalam kondisi alami.
4.2 Cara Pembuatan
4.2.1 Pengadukan Beton meliputi :
1) Umum
Aduklah beton dalam sebuah pengaduk yang umum digunakan atau diaduk dengan
tangan dalam sebuah wadah yang banyaknya 10% melebihi dari adukan beton yang
diperlukan dalam pencetakan benda uji.
Cara pengadukan dengan tangan kurang begitu bagus untuk kadar udara pada beton
disamping nilai slump juga tidak tetap.
Pengadukan dengan tangan tidak boleh lebih dari 7 liter setiap mengaduknya.
2) Pengadukan dengan Mesin
J alan mesin aduk terlebih dahulu kemudian dimasukkan agregat kasar dan sejumlah air
adukan, atau disesuaikan dengan tipe mesin adukan.
Apabila digunakan bahan tambahan untuk beton, bahan tersebut dicampurkan terlebih
dahulu pada air adukan atau disesuaikan dengan petunjuk penggunaan selanjutnya
ditambahkan bahan agregat halus, semen, dan seluruh sisa air adukan.
Apabila penambahan bahan tersebut tidak dapat dilakukan pada saat mesin aduk
berjalan, maka mesin aduk dapat dihentikan terlebih dahulu.
Beton diaduk kembali setelah seluruh bahan masuk kedalam tempat pengaduk (mixer)
selama 3 menit, kemudian 3 menit berhenti dan dilanjutkan 2 menit diaduk kembali
sampai rata betul.
Selama berhenti dalam pengadukan, tempat adukan (mixer) harus ditutup rapat.
Agar tidak terjadi segregasi, sisa adukan dibersihkan dan dicampur kembali kedalam
campuran dan diaduk kembali dengan menggunakan sendok aduk atau sekop sampai
didapatkan adukan yang rata.
3) Pengadukan dengan Tangan
Campurlah adukan pada sebuah wadah yang bersih dan kedap air yang telah dibasahi
terlebih dahulu.
Alat pengaduk dapat digunakan sekop, dengan kondisi agregat sesuai dengan yang
telah diuraikan pada Bab 3.4 yang pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
SNI 03-2493-1991

8


Campurlah semen dengan bubuk bahan tambahan (apabila berupa bubuk dan tidak
larut dalam air) dan pasir tanpa air terlebih dahulu hingga didapatkan campuran yang
rata.
Tambahkan agregat kasar dan diaduk tanpa air terlebih dahulu sampai distribusi
kerikil terlihat rata betul dan sempurna.
Selanjutnya air adukan yang telah dicampur dengan bahan tambahan (bila digunakan
berupa cairan) ditambahkan dan diaduk sampai didapatkan adukan beton yang homogen
dan kekentalan yang sesuai dengan beton yang diinginkan.
4) Adukan Beton
Ambillah adukan beton untuk pencetakan benda uji yang dapat mewakili sifat dan
kondisi adukan beton.
Sebelum dicetak, dilakukan kembali pengadukan selanjutnya ditutup rapat
permukaannya agar tidak terjadi penguapan.
4.2.2 Slump dan Kadar Udara
1) Slump
Ukurlah slump dari tiap-tiap pengadukan secepatnya setelah selesai pengadukan,
sesuai dengan metoda dalam buku standar cara pengukuran slump.
2) Kadar Udara
Bila dibutuhkan, ukurlah kadar udara dari adukan beton dengan metoda yang sesuai
dengan buku standar cara penentuan kadar udara pada beton segar.
4.2.3 Pembuatan Benda Uji
1) Penempatan Cetakan
Tempatkan cetakan dekat dengan penyimpanan awal dimana benda uji akan disimpan
selama 24 jam. Apabila pencetakan benda uji tidak dapat dikerjakan dekat tempat
penyimpanan awal, benda uji tersebut harus dipindahkan segera setelah dibentuk.
Cetakan ditempatkan pada tempat yang permukaannya rata, keras, bebas dari getaran
dan gangguan lainnya.
Permukaan contoh uji harus dihindari dari benturan, jungkitan dan goresan pada saat
pemindahan ke tempat penyimpanan/perawatan.
2) Pencetakan
Masukkan adukan beton dalam cetakan dengan menggunakan sendok aduk, sendok
bahan atau sekop.
Setiap pengambilan adukan dari wadah harus dapat mewakili dari campuran tersebut.
Apabila diperlukan campuran beton diaduk kembali dengan menggunakan sendok aduk
agar tidak terjadi segregasi selama pencetakan benda uji.
Sekop atau sendok aduk diletakkan dibawah permukaan bagian atas cetakan dimana
adukan beton akan dituangkan, untuk menjamin distribusi atau mengurangi segregasi
agregat kasar pada cetakan.
Selanjutnya beton diratakan dengan menggunakan alat penusuk terlebih dahulu untukl
pemadatan awal. Pada lapisan akhir, ditambahkan adukan beton sampai melebihi
permukaan cetakan agar tidak perlu penambahan kembali setelah beton dipadatkan.
SNI 03-2493-1991

9


3) Jumlah Lapisan
J umlah lapisan pencetakan benda uji harus sesuai pada Tabel 3 di bawah.
Tabel 3 Jumlah Lapisan Pada Pembuatan Benda Uji
J enis benda
uji
Tinggi
(mm)
Cara
pemadatan
J umlah lapisan
Tebal
lapisan
(mm)
Silinder <300
>300
<400
>400
ditusuk
ditusuk
digetar
digetar
3
sesuai yang dibutuhkan
2
3 atau lebih
100
100
200
200
Prisma <200
>200
<200
>200
ditusuk
ditusuk
digetar
digetar
2
3 atau lebih
1
2 atau lebih
100
100
200
200
4.2.4 Pemadatan
1) Metode Pemadatan
Metode pemadatan dapat dilakukan dengan cara ditusuk, digetar dari dalam (dengan
jarum getar/getaran internal) atau digetar dari luar (dengan meja getar).
Pemilihan metoda yang akan digunakan berdasarkan nilai slump dari adukan beton yang
akan digunakan.
Adukan beton dengan slump lebih dari 75 mm, pemadatan dilakukan dengan cara
ditusuk. Slump antara 25 sampai dengan 75 mm dapat ditusuk atau digetar, dan slump
dibawah 25 mm dilakukan dengan cara digetar.
Pemadatan dengan getaran internal jangan dilakukan untuk contoh uji silinder dengan
diameter 100 mm atau kurang, dan contoh uji prisma atau balok dengan sisi 100 mm
atau kurang.
Catatan :
Untuk beton dengan kadar air rendah atau dengan slump nol, tidak tercakup dalam metode ini.
2) Penusukan
Tuangkanlah adukan beton pada cetakan dengan ketebalan dan jumlah lapisan sesuai
dengan yang ditetapkan.
Tusuklah setiap lapisan ditusuk dengan ujung bagian yang runcingnya dari batang
penusuk, yang mana jumlah tusukan dan besar batang penusuk sesuai dengan
Tabel 4.




SNI 03-2493-1991

10


Tabel 4 Diameter Batang Penusuk dan
Jumlah Tusukan pada Pencetakan Benda Uji
J enis benda uji Diameter batang
penusuk (mm)
J umlah pemadatan
tiap lapis
Silinder dengan diameter
50-150 mm
150 mm
200 mm
250 mm

10
16
16
16

25
25
50
75
Prisma dengan luas
permukaan (cm
2
)
160
165-310
320


10
10
16


25
1 x per 7 cm
2
luas permukaan
1 x per 7 cm
2
luas permukaan

Tusuklah lapisan yang paling bawah ditusuk hingga menembus ketebalannya.
Penusukkan dilakukan secara merata pada penampang permukaan cetakan dan untuk
setiap lapisan atas batang penusuk dibiarkan menembus sedalam 12 mm kedalam
lapisan dibawahnya, untuk lapisan setebal 100 mm dan kira-kira 25 mm untuk lapisan
setebal diatas 100 mm.
Setelah selesai penusukan, bagian luar dipukul-pukul secara ringan dengan palu karet
agar lubang udara tertutup.
Setelah seluruh lapisan ditusuk, permukaan cetakan diratakan dengan alat perata
seperti roskam, atau alat lainnya agar dipadatkan permukaan benda uji yang licin dan
rata.
3) Penggetaran
Lamanya penggetaran tergantung pada tingkat kemudahan pengerjaan beton dan
efektifitas dari alat getar.
Pada umumnya penggetaran yang cukup dilakukan sampai permukaan beton menjadi
licin.
Penggetaran dilakukan terus menerus pada setiap lapis sampai diperoleh beton yang
cukup padat.
Penggetaran yang berlebihan akan menyebabkan pemisahan agregat dan pasata
semen. Semua beton dituangkan kedalam setiap lapisan cetakan sebelum penggetaran
dilakukan. Permukaan dilicinkan selama penggetaran, jika digunakan alat getar eksternal
(meja getar) atau sesudah penggetaran jika digunakan alat penggetar internal.
Khusus untuk pencetakkan benda uji berbentuk silinder, gunakan tiga sisipan penggetar
pada titik yang berbeda untuk setiap lapisan.
Biarkan penggetar menembus melalui lapisan yang sedang digetar, dan kedalam lapisan
dibawahnya sampai mendekati mm. Setelah masing-masing lapisan digetar, pukul
bagian luar cetakan sebanyak 10 sampai 15 kali dengan palu/pemukul.
SNI 03-2493-1991

11


4.2.5 Penyelesaian
Setelah dipadatkan dengan salah satu dari berbagai metoda di atas, kecuali contoh uji yang
dapat dilicinkan/diselesaikan pada saat penggetaran, permukaan diratakan dengan roskam
dan bagian sisanya (kelebihannya) dibuang hingga didapatkan permukaan beton yang betul-
betul rata dan licin.
Untuk contoh uji silinder, selesai dipadatkan permukaannya diratakan dengan batang
penusuk bila kekentalannya memungkinkan dan dengan roskam apabila kekentalannya tidak
memungkinkan.
Bila diinginkan, permukaan silinder dapat diberi lapisan tipis dari pasta semen portland
sebagai perata.
4.3 Cara Perawatan
4.3.1 Penutupan Setelah Penyelesaian
Untuk menjaga penguapan air dari beton segar, benda uji setelah diselesaikan/dilicinkan
harus ditutup dengan bahan yang tidak mudah menyerap air, tidak reaktif dan mudah
digunakan, tetapi juga harus dapat menjaga kelembaban sampai saat contoh uji dilepas dari
cetakan.
Bila digunakan lembaran plastik tersebut dihamparkan melebihi permukaan dari seluruh
benda uji untuk menjaga kelembabannya.
Permukaan cetakan bagian luar harus dijaga jangan sampai berhubungan langsung dengan
air selama 24 jam pertama setelah beton dicetak, sebab dapat merubah air dalam adukan
dan menyebabkan rusaknya benda uji.
4.3.2 Pelepasan Benda Uji dari Cetakan
Lepaslah benda uji dari cetakan setelah 20 jam dan jangan lebih dari 48 jam setelah
pencetakan.
4.3.3 Perawatan Benda Uji
J ika tidak ditentukan dengan cara lain, rendamlah seluruh benda uji dalam air yang
mempunyai suhu 23 2
o
C mulai pelepasan dari cetakan hingga saat pengujian dilakukan.
Ruang penyimpanan harus bebas dari getaran terutama pada waktu 48 jam pertama setelah
benda uji disimpan.
Untuk pencetakan ulang, perlakuan kondisi perawatan harus sama seperti yang diuraikan
di atas.
Kondisi perawatan seperti inijuga dapat dilakukan dengan cara merendam didalam air yang
jenuh kapur juga dapat disimpan didalam ruang lembab atau dalam lemari lembab.
Benda uji harus dijaga dari tetesan air atau aliran air dari luar.
4.3.4 Benda Uji untuk Kuat Lentur
Perlakuan benda uji untuk kuat lentur sama seperti di atas, (4.3.3), kecuali pada akhir
perawatan selema minimum 24 jam sebelum diuji harus direndam dahulu dalam air yang
jenuh kapur dengan suhu 23 2
o
C.
Setelah itu keluarkan benda uji dari tempat perendaman beberapa saat sebelum dilakukan
pengujian agar permukaannya cukup kering terlebih dahulu.
SNI 03-2493-1991

12


BAB V
LAPORAN
5.1 Ketelitian Pekerjaan
Untuk mengetahui ketelitian dari pekerjaan, dibuat laporan dari berbagai hasil pengujian.
Dari data-data tersebut dianalisa untuk mendapatkan nilai deviasi standar berdasarkan
pelaksana pengujian pada laboratorium yang sama dan juga dibandingkan dengan hasil dari
laboratorium yang lain.
Selanjutnya hasil yang diperoleh dibandingkan dengan ketentuan pada Tabel 5 di bawah.
Tabel 5 Nilai Standar Deviasi yang Diijinkan untuk Ketelitian Pekerjaan
di Laboratorium dengan Minimum 2 Kali Pengujian
J umlah Nilai standar deviasi
Pelaksana Percobaan Laboratorium Slump
(cm)
Kadar
Udara (%)
Berat Isi
(kg/m
3
)
Kuat Tekan
7 hari (Mpa)
1 orang 1 1 1,8 0,3 14 1,4
2 orang 2 1 5,0 0,8 40 4,1
>2 orang >2 >2 2,5 0,4 22 2,5
5.2 Data-data Bahan
Semua data-data bahan dan proporsi adukan yang digunakan dalam pembuatan beton
harus dicatat dan dilaporkan dalam bentuk formulir seperti contoh berikut :












SNI 03-2493-1991

13


Tabel 6 Formulir Penerimaan Bahan dan Proporsi Adukan
No Uraian Keterangan
1. Nama Bahan .
2. Asal Bahan .
3. Pengiriim .
4. Tanggal diterima .
5. Minta diuji .
6. Tanggal diuji .
7. Proporsi Adukan : .
Semen (kg) .
Pasir (kg) .
Kerikil (kg) .
Air (kg) .
Bahan Tambahan (%) .

Tempat dan tanggal diterima

Mengetahui
Penanggung J awab;

ttd


nama jelas

Yang mengirim;

ttd


nama jelas

Yang menerima;

ttd


nama jelas



















SNI 03-2493-1991

14


LAMPIRAN A
DAFTAR ISTILAH
Batang penusuk : Tamping roads
Penggetar internal/jarum getar : Internal vibratiors
Penggetar eksternal/meja getar : External vibratiors
Alat uji slump : Slump apparatus
Alat uji kadar udara : Air content apparaturs
Pengaduk beton : Concrete mixer
Beton segar : Freshly concrete
Beton keras : Hardened concrete
Sekop : Shovel
Sendok aduk : Hand scoop
Lembab : Mosit
Perawatan : Curing