Anda di halaman 1dari 40

DOK TELINGA ANAK SAYA SAKIT.

STEP 1
STEP 2
1. Anatomi dan fungsi organ pendengaran?
2. Mengapa terdapat keluhan nyeri pada telinga kananya sejak semalam?
3. Apa hub. Riwayat batuk dan pilek dengan keluhan sekarang?
4. Apa interpretasi dari pemeriksaan fisik yang dilakukan?
5. Apa interpretasi dari pemeriksaan otoskopi?
6. Prognosis dan komplikasi?
7. Mengapa dokter menyarankan dilakukan parasintesis? Apa yang dimaksud, tujuan, dan
komplikasi tindakan.
8. DD? ( kurang dapat mendengar, dan nyeri telinga) lengkap.
9. pemeriksaan penunjang dan Penatalakasanaan?
10. Factor predisposisi?

STEP 3
1. Anatomi dan fungsi organ pendengaran?
Telinga
Luar : ada auricular dan ada meatus acusticus externus
Dibentuk 1/3 oleh cartilage dan 2/3 dalam oleh tulang
- Pars cartilagines (1cm) ada kelenjar sebasea dan kelenjar apokrin menghasilkan
serumen dan berperan terhadap proteksi dan jadi sarani pengangkut debris dan bias
jadi pelumas mencegah kekeringan dari membrane timpani Serumen ada yang
basah dan kering tapi fungsi proteksi saama Efek bakterisid dari asam lemak jenuh,
lisozim dan immunoglobulin dan ;
- pars osseus (2cm) : gak ada tempat expansi ke sampingnya

Tengah
Antara telinga luar dan telinga tengah dipisahkan oleh membrane timpani ( ada organ :
membrane timpani ( memisahkan cavum timpani dan MAE)
Ada pars flaccid ( tipis dan tak dapat menghantarkan suara) dan pars tensa (tebal bias
menghantarkan suara)
Cavum timpani : rongga berisi udara
Terdapat dinding2 yang membatasi
Lateral : membrane timpani dan cincin tulang sebagai pelekat
Medial ; memisahkan cavum timpani dengan telinga bagian dalam , oval window dan
round window
Anterior : tuba auditiva, cabang a.carotis interna
Posterior : eminentia piramidalis yang berisi m.stapedius
Dalam
Cochlea ( organon of corti), apparatus vestibular, 3 kss, utriculus dan saculus

Suara masuk daun telinga MAE CAE menggetarkan membrane timpani
ke telinga tengah (menggetarkan malleus, incus, stapes) ( apa yang dilakukan oleh
osseus auditiva jika suaranya terlalu keras) t.dalam ada cairan Menggetarkan
membrane basilar merangsang sel sel rambut diubah dari mekanis ke biolistrik
impuls saraf saraf aferen ganglion spiralis membentuk saraf auditorius di
persepsikan oleh otak .

2. Mengapa terdapat keluhan nyeri pada telinga kananya sejak semalam?
Telinga secara umum (L,T,D) Ada innervasi
Auricular Kelainannya ada yang secara congenital : fistula , mikrotia
Bias infeksi ; Herpes dan erysipelas
Trauma, tumor

MAE dan CAE congenital ada atresia MAE dan CAE
Infeksi : OE ada juga yang furunkel ( infeksi pada folikel rambut CAE pars cartilaginosa
Tumor : papilloma
Corpus alienum
Tumpukan serumen

Membrane timpani :
Perubahan warna
Hiperemis : infeksi bakteri
Hitam : kronis
Kuning : pus

Posisi
Retraksi : OMA fase oclusi,
Bulging : jendol timbunan pus

Struktur
Perforasi
Rupture
Sikatrik

3. Apa hub. Riwayat batuk dan pilek dengan keluhan sekarang?
Anak pilek pasti ada infeksi menyebar ke t. tengah lewat tuba auditiva inf TA
tersumbatnya saluran Datangnya sel2 darah putih nanah bengkak karena lender
berkumpul di belakang membrane timpani Mengganggu pendengaran karena MT dan
tulang2 kecil tak bias bergerak bebas tekanan tinggi merobek MT

TA pada anak lebih lurus dibanding dewasa karena ada lekukan yang kebawah
Telinga tengah ada mikroba ada proteksi dari silia TA dan enzim2 disitu Kalau
ada sumbata TA merupakan factor utama OMA ( mekanismenya)
4. Factor predisposisi keluhan tsb?
Hipertrofi adenoid kronis
Tumor nasofaring
Trauma
Sinusitis
Rhinitis
Terapi radiologi
Gang.metabolik
Alergi efusi cairan di telinga tengah

5. Apa interpretasi dari pemeriksaan fisik yang dilakukan?

Tak ada nyeri tarik auricular tdk ada patologis di telinga luar nyeri tak ada ruang
expansi
Tak ada nyeri tekan tragus tdk ada patologis di telinga luar infeksi ditelinga luar
Tak ada nyeri ketok retroauricula tdk ada patologis di telinga luar
Mungkin ada kelianan di telinga dalam otoskopi
Persarafan
6. Apa interpretasi dari pemeriksaan otoskopi?

Telinga dektra
Di CAE tak hiperemis tak ada rx.inflamasi
Membrane timpani hiperemis ada inflamasi vasodilatasi pembuluh adarah dari
membrane timpani
Bulging (+) ada penonjolan membrane timpani --. Ada efusi cairan di sebelah dalam
membrane timpani sehingga menonjol ke luar

Telinga sinistra
Di CAE tdk ada kelainan
Membrane timpani sinistra tak ada kelainan

Stadium untuk membedakan
- Stadium oclusi TA membrane timpani tampak normal dan pucat
- Stadium hiperemis MT tampak hiperemis dan edem
- Stadium supuratif MT menonjol atau bulging
- Stadium perforasi
- Stadium resolusi utuh memperbaiki dirinya sendiri


7. Mengapa dokter menyarankan dilakukan parasintesis? Apa yang dimaksud, tujuan, dan
komplikasi tindakan.
Parasintesis seperti pungsi usaha aspirasi cairan secret pada MT dengan
menggunakan siringe atau jarum khusus Untuk pengambilan secret pemeriksaan
mikrobiologi
Tujuan : menghentikan infeksi permanen dan memperbaiki gangguan pendengarannya

Komplikasinya : hampir miringotomi di insisi dari membrane timpaninya ada trauma
dari tulang pendengaran dan dislokasi dari tulang pendengarannya

Pengobatan dengan antibiotic setelah 3 bulan umumnya semua cairan sudah keluar
semua 3 bulan mampu mengeluarkan 90% cairan gak bias pake antibiotiknya lagi

Pake parasintesis disayat Diaspirasi dengan jarum khusus pake alat ventilator

Biasanya terkena di fenestra rotundum bias terkena juga di n. fasialis

8. pemeriksaan penunjang dan Penatalakasanaan?

9. DD? ( kurang dapat mendengar, dan nyeri telinga) lengkap.

Kurang mendengar
SNHL dan CHL ( lengkap)

Nyeri telinga
- Otitis
1. Otitis ekterna
2. Otitis media
3. Labirintis
Otitis sering pada anak , banyak kulit putih, banyak pada laki2
Otitis media : dibagi menjadi 2 ada yang serosa dan mukoid
Serosa : transudasi plasma dari pembuluh darah ke rongga telinga
tengah akibat tekanan hidrostatik plasma tertarik ke luar
Mukoid secresi active kelenjar dan kista pada lapisan epitel celah
telinga tengah
Serosa dan mukoid bias karena disfungsi dari TA

Gambarannya pada OMSerosa membrane timpani berwarna kekuningan ,
malleus tampak pendek dan retraksi dan berwarna putih kaku ada
cairan bias tampak atau tak tampak menembus MT
OMMukoid Gambaran lebih kusam dam keruh lebih rewel ada rasa
tersumbat di telinga ada tinnitus sedikit meras pusing
Pengobatanya bias secara medis dan non medis
Medikamentosa : antibiotic lemah (??????), antihistamin, dekongestan,
latihan ventilasi TA
Pembedahan ;pemasangan ventilator.
Staphilococus pnemoni Arah vaksin
Otitis media ada yang akut:
- Stadium oclusi TA membrane timpani tampak normal dan pucat
- Stadium hiperemis MT tampak hiperemis dan edem
- Stadium supuratif MT menonjol atau bulging pelepasan e[itel dari mukosa
dan penumpukan sekret
- Stadium perforasi bulging menekan dari bagian2 disitu kalau dibiarkan bias
nekrosis perforasi tak teratur
- Stadium resolusi utuh memperbaiki dirinya sendiri
Komplikasi : meningitis, abses otak ( dia adalah komplikasi OMSK)
Penatalaksanaan :
- Stadium oclusi TA membuka kembali TA dikasi HCl efedrin 0,5% < 12 th dan
HCl efedrin 1% > 12th
- Stadium hiperemis antibiotic, tetes hidung dan analgetik ( ampisilin atau
penisilin)
- Stadium supuratif antibiotic + miringotomi ( bila membrane timpani utuh)
- Stadium perforasi obat cuci telinga H2O2 3% selama 3hari disertai antibiotic
memperbaiki dirinya sendiri hingga 7 hari
- Stadium resolusi diberi antibiotic dilanjut hingga 3 minggu

10. Prognosis dan komplikasi?
STEP 4











CHL SNHL
- Nyeri tarik
auricular
- Nyeri tekan
tragus
- nyeri ketok
retroauricul
er
Nyeri telinga
media
Penurunan fg.pendengaran




telinga
ekterna

STEP 7
1. Anatomi dan fungsi organ pendengaran?
I. Auris Eksterna

a. Auricula
Disebut juga pinna atau daun telinga, merupakan jaringan cartilage elastic yang
dilapisi oleh kulit yang melekat erat pada perichondrium dan sebagian kecil
terdiri dari jaringan ikat fibrosa dan lemak (lobulus).
i. Morphology
Tampak rigi yang terletak pada tepi auricular (Helix). Sejajar didepan
helix tampak rigi lain (antihelix), diantaranya terdapat parit (scapha).
Anti helix mengelilingi cekungan (concha) yang dibagi oleh crus helicis
menjadi cymba conchae (atas) dan cavitas conchae (bawah).
Anti helix sebelah cranial pecah menjadi dua (crus helicis) yang
membatasi cekungan (fossa triangularis)
Didepan concha terdapat tonjolan kebelakang (Tragus), diseberang
tragus terdapat tonjolan kecil (Anti tragus), diantaranta terdapat
takik (Incisura Intertragica)
Disebelah caudal terdapat lobules yang hanya berisi jaringan ikat
longgar dan lemak
ii. Struktur :
Cartilago Auriculae
Tulang rawan elastic yang member bentuk pada daun telinga
kecuali lobules dan daerah diantara Tragus dan Crus Helicis
Ligamenta Auricularia Valsava
a. Ligamenta ekstrinsik
Menghubungkan auricular dengan bagian lateral kepala :
i. Ligamentum auriculare anterius
Menghubungkan auricular dengan Processus
zygomaticus os temporale
ii. Ligamentum auriculare posterius
Menghubungkan concha dengan processus
mastoideus
b. Ligament intrinsic
Menghubungkan bagian-bagian cartilage auricular satu
sama lain
Musculi auriculares
a. Musculi ekstrinsik
i. M. auricularis anterior (Attrahens aurem)
Origo : galea aponeurotica
Insersio: tonjolan didepan helix
Fungsi : menarik auricula ke depa
ii. M. auricularis superior (Attolens aurem)
Origo : galea aponeurotica
Insersio: facies cranialis auricula
Fungsi : mengangkat auricula
iii. M. auricularis posterior (Retrahens aurem)
Origo : pars mastoidea os temporale
Insersio: facies cranialis auricular
Fungsi : menarik auricula kebelakang
b. Musculi intrinsic
i. M. helicis major
ii. M. helicis minor
iii. M. tagicus
iv. M. antitragus
v. M. transverses auriculares
vi. M. obliquus auriculares
iii. Vascularisasi
Arteri
A. auricularis posterior cabang A. carotis eksterna
Rami auricularis anteriores A. temporalis superficialis
Ramus auricularis A. occipitalis
Vena
1. V. temporalis superficialis bermuara ke V. jugularis interna
2. V. auricularis posterior bermuara ke V. jugularis eksterna. Kadang-
kadang berhubungan dengan sinus transversus melalui
V.emissaria

iv. Innervasi
N. auricularis magnus cabang plexus cervicalis
Rami auricularis N. vagus
Rami auriculotemporalis N. mandibularis
N. occipitalis minor

v. Aliran lymphe
lnn preauriculares dan lnn retroauriculares

b. Meatus acusticus eksternus / canalis auditorius eksternus
Saluran berbentuk huruf S kecil yang membentang dari dasar concha sampai
membrane tympani. Panjang 4 cm bila diukur dari Tragus atau 2,5 cm bila diukur
dari dasar concha. Ditutupi oleh kulit yang sangat tipis melekat erat pada
perichondrium dan periosteum. Kulit ini juga melapisi permukaan luar
membrane tympani. Dibagian yang mengandung jaringan subcutan tebal
terdapat glandula ceruminosa. Kelenjar ini menyerupai glandula sudorifera dan
menghasilkan cerumen

1. Struktur
i. Pars Cartilaginea
Terletak di bagian lateral. Merupakan lanjutan dari Cartilago auriculae.
Melekat erat dengan os temporal. Tidak membentuk tabung sempurna
melainkan bagian superoposteriornya tidak terdapat cartilago, hanya
ditutupi membrane fibrosa.
ii. Pars Osseus
Panjang 16 mm. lumen lebih sempit dibanding pars cartilaginea,
membentang ke dalam sedikit kedepan. Pada ujung dalam terdapat
sulcus tympanicus tempat melekatnya Membrana Tympani. Pada bayi
umur 4 tahun atau kadang pada orang dewasa, bagian inferiornya tidak
sempurna, terdapat celah disebut foramen huschke.

2. Kedudukan CAE
a. Dinding anterior : berhadapan dengan glandula parotis dan condylus
mandibularis
b. Dinding posterior : berhadapan dengan cellulae mastoidea dengan
dipisahkan oleh ossea yang tipis
c. Dinding superior : sebelah medial berhadapan dengan resessus
epitympanicus
d. Dinding inferior : berhadapan dengan glandula parotis

3. Vaskularisasi
Arteri
a. Cabang dari A. auricularis posterior
b. A. auricularis anterior cabang dari A. temporalis superficialis
c. A. auricularis profunda cabang dari A. maxillaries interna bagian I
Vena
Bergabung dengan aliran vena dari auricula

4. Innervasi
a. R auricularis N. Vagus (N. Arnoldii) saraf ini kadang-kadang membawa
serabut saraf N. Facialis
b. R auriculotemporalis N. Mandibularis

5. Aliran limfe
Menuju nnll mastoidei (auricularis posterior), nnll parotidei, dan nnll
cervicalis superficialis

II. Auris Media

a. Cavitas Tympani (Cavum Tympani)
Rongga berisi udara dari Nasopharynx melalui Tuba Auditiva, dan didalam rongga
ini terdapat ossicula auditus. Dindingnya terdiri dari mukosa
Cavum tympany terdiri atas dua bagian, yaitu
Cavitas Tympanica (dibalik membrane tympani)
Kadang disebut mesotypanum, sedangkan bagian yang lebih rendah
disebut hipotympanum
Recessus Epitympanicus (diatas membrane tympani)
Sering disebut Attic (atap)
Untuk lebih mudah dalam menggambarkan cavum tympani, kita anggap rongga
ini berbentuk kubus dengan enam dinding :

a. Pars Tegmentalis (Atap)
Dibentuk oleh tegmen tympani yang merupakan lamina ossea yang tipis
yang memisahkan cavitas tympanica dengan cavum cranii. Tegmen
tympani terletak pada facies anterior pars petrosa os temporal, dekat
squama temporalis.
b. Pars Jugularis (Lantai)
Merupakan keping tulang yang tipis yang disebut fundus tympani
memisahkan cavitas tympani dengan fossa jugularis. Didalam fossa
jugularis diisi oleh bulbus superior V. jugularis interna.
c. Pars Membranasea (dinding lateral)
Terutama ditempati oleh membrane tympany, dan sebagian kecil oleh
cincin tulang yang merupakan perlekatan membrane tympani. Cincin
tulang ini tidak sempurna di bagian atas sehingga membentuk lekuk
disebut fissure tympanica rivini.
Didekat lubang ini terdapat tiga lubang kecil :
Inter chordate posterior, dilalui chorda tympani waktu masuk
cavitas tympanica
Fissure petrotympanica glasseri, dilalui oleh r.tympanicus anterior
A. maxillaries interna
Inter chordate anterior, dilalui oleh chorda tympani waktu
meninggalkan cavitas tympanica

d. Pars Labirynth (dinding medial)
Memishakan cavitas tympani dengan Auris interna. Pada dinding ini
terdapat bangunan-bangunan :
i. Promontorium
Merupakan tonjolan bulat dan berongga. Dibentuk oleh lengkung
pertama cochlea. Pada permukaannya terdapat parit yang ditempati
oleh cabang-cabang pleksus tympanicus, dan permukaannya tertutup
mucosa
ii. Prominentia canalis facialis (prominentia aquaeductus fallopi)
Terletak di sebelah inferior prominentia canalis semicircularis
lateralis. Merupakan petunjuk letak saluran yang berisi N. facialis
iii. Fenestra vestibuli (fenestra ovalis)
Merupakan lubang yang terdapat di inferior canalis facialis. Lubang
ini berbentuk reniformis dan menghubungkan cavitas tympanica
dengan vestibulum. Lubang ini ditutup oleh basis stapedis yang
dilekatkan pada pinggir fenestra vestibuli oleh ligamentum annulare.
iv. Fenestra cochleae (fenestra rotunda)
Terletak dibawah sedikit kebelakang dari fenestra vestibuli. Terhadap
fenestra vestibuli dipisahkan oleh promontorium. Lubang ini
menghubungkan cavitas tympanica dengan cochlea, dan pada
keadaan segar ditutup oleh membrane tympani secundaria.
v. Sinus tympani (recessus tympanicus subcanalis fallopi)
Adalah cekungan yang terletak disebelah promontorium, sebelah
inferomedial eminentia pyramidalis dan disebelah inferior
prominentia canalis facialis
vi. Prominentia canalis semicircularis lateralis
Adalah disebelah posterosuperior. Tonjolan ini dibentuk oleh bagian
anterior dari canalis semicircularis lateralis
vii. Processus cochleariformis
Merupakan tonjolan berlubang, yang terletak disebelah anterior
prominentia canalis facialis. Tonjolan ini berisi M. tensor tympani.
e. Pars Mastoideus (dinding posterior)
Bangunan yang terdapat disini :
1. Aditus ad antrum
Adalah lubang yang terdapat di bagian atas dinding posterior.
Lubangini menghubungkan cavitas tympani dengan ruangan yang
disebut antrum mastoideum yang terletak di processus mastoideus.
Ruangan ini berisi sel-sel udara
2. Eminentia pyramidalis (pyramid)
Adalah tonjolan yang terletak dibelakang fenestra vestibuli, didepan
canalis facialis. Tinjolan ini berongga dan ditempati oleh M.
stapedius. Puncaknya berlubang, untuk keluarnya tendo M.stapedius.
disebelah superoposterior basis pyramid terdapat N. facialis.
3. Fossa incudis
Merupakan cekungan pada bagian inferoposterior recessus
epitympanicum. Fosa ini ditempati oleh crus breve incudis.

f. Paries caroticus (dinding anterior)
Terdapat bangunan :
Tuba auditiva (eustachii), fungsi untuk menyamakan tekanan telinga
tengah dan faring
Canalis untuk M. tensor tympanicus
Cabang-cabang arteri carotis interna

b. Membrane tympani

Memisahkan cavum tympani dengan meatus acisticus externum (m.a.e)
Membrane tipis, semitransparan, oval, kedudukan miring caudomedial, 50
derajat terhadap m.a.e.
Terdiri dari pars flaccid/membrane Shrapnell (superior) dan pars
tensa/membrane propria (inferior)
Dilekati oleh manubrium malei pada permukaan medialnya sampai ke tengah-
tengah / titik pusat disebut umbo.
Pada otoscopi membran timpani yang tampak memantulkan cahaya disebut
conus cahaya
Membrane timpani dibagi menjadi 4 kuadran :
o Antero-superior
o Postero-superior
o Antero-inferior
o Postero-inferior
Bila melakukan miringotomi atau parasentesis, dibuat insisi di bagian postero-
inferior, sesuai dengan arah serabut
Vascularisasi :
Arteri
- Cabang-cabang eksternal (berasal dari arteri yang memperdarahi CAE)
R. auriculares profundus cabang A. maxillaries Interna
- Cabang-cabang interna (berasal dari arteri-arteri yang memperdarahi cavitas
tympani)
a. A.tympanica anterior cabang A. maxillaries Interna
b. A.Stylomastoidea cabang A. auriculares posterior
Vena
Cabang eksternal bermuara ke V. jugularis externa
c. Ossicula auditus


1) Maleus
Bagian-bagian :
Caput : bersendi dengan corpus incudis
Leher (collum mallei)
Manubrium
o Tempat insertion M. tensor tympanicum
o Melekat pada membrane tympani
Processus anterior : berhubungan dengan fissure petrotympanicum
Processus lateralis : berhubungan dengan bagian atas membrane tympani
2) Incus
Bagian-bagian :
Corpus : bersendi dengan caput mallei
Crus longum : bersendi dengan caput stapedis pada processus lenticularis
Untuk menyatakan letak perforasi
Crus brevis : berhubungan dengan recessus epitympanicus
3) Stapes
Caput : bersendi dengan incus
Collum : tempat insertion M. stapedius
Crus : menghubungkan collum dengan basis
Basis : melekat pada fenestra ovalis
Persendian ossicula auditiva : articulation synovial
Fungsi : menghantarkan getaran suara ke telinga dalam
OTOT-OTOT
B. M. stapedius
Origo : pyramida pada dd posterior
Insertion : collum stapedii
Persarafan : N. facialis
Fungsi : relaksasi basis stapedii di fenestra ovalis, untuk mengurangi
tegangan di membrane tympani
B. M. tensor tympani
Origo : pars cartilage tuba auditiva
Insertion : manubrium mallei
Persarafan : cabang N. pterygoidi medialis (N. mandibularis)
Fungsi : menarik membrane tympani ke dalam dan menekan basis
stapedii pada fenestra ovalis, sehingga membrane tympani
menjadi lebih tegang.

d. Tuba uditiva
Menghubungkan C.timpani dengan nasofaring
Terdiri dari 2 bagian :
pars osseus ; 1/3 bag. lateral ( 12 mm) dan selalu terbuka
pars cartilaginosa/ membranasea ; 2/3 bag.medial ( 24 mm) dan
selalu tertutup

o Terbuka ok kontraksi m. tensor timpani dan m.tensor veli
palatini serta m. levator velipalatini, yaitu pada
saat meniup, menelan, buka mulut,
menghisap. Keadaan normal- istirahat.
o Pada anak ; lebih pendek, lebih lebar, lebih horisontal sering terjadi
OMA
e. Adnexa mastoidea
Dibentuk oleh pars squamosa dan pars petrosa dari os temporal
Di sini melekat : m. sternokleidomastoideus dan m. digastrikus venter
posterior.
Mengandung rongga-rongga udara yg dis. selulae-selulae dan berhub dg.
Anthrum.
Anthrum sudah ada sejak lahir selulae terbentuk sejak kehidupan tahun-
tahun pertama sampai usia 5-6 th. proses pneumatisasi
g. Auris Interna

Berfungsi untuk pendengaran dan keseimbangan.
LABYRINTH OSSEA
Struktur ini letaknya di dalam pars petrosa ossis temporalis, dilapisi periosteum dan
mengandung cairan perilymphe. Didalamnya terdapat labyrinth membranaceae yang
terdiri dari 3 bagian :
B. Vestibulum
Letaknya diantara cochlea (depan) dan canalis semicircularis (belakang).
Isi
o Sacculus
o Utriculus
o Sebagian dari ductus endolymphaticus
B. Cochlea
Berfungsi dalam proses pendengaran dan keseimbangan
Berbentuk konus (seperti rumah keong)
Modiolus adalah tulang pusat, sebagai sumbu dimana cochlea melingkar seperti
spiralis
Isinya ductus cochlearis
Membrane basilaris membagi saluran didalam cochlea menjadi dua (scala
tympani dan scala vestibuli) dan saling berhubungan di apeksnya
Membrane vestibularis
Diantara membrane vestibularis dan membrane basilaris terdapat spiral organ
atau organ dari Corti.
B. Canalis semicircularis
Berfungsi dalam keseimbangan kinetic
Terdiri dari 3 buah canalis
Anterior
Posterior
Lateral
Semua canalis ini saling tegak lurus 90 derajat dan saling tegak lurus satu dengan
lain, dan terletak 45 derajat thd bidang sagital
Semua canalis berbentuk 2/3 lingkaran
Pada satu ujungnya melebar membentuk ampula




ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam bentuk gelombang yang
dialirkan melalui udara atau tulang ke cochlea menggetarkan membrane
timpani telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan
mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian
perbandingan luas membrane timpani dan tingkap lonjong Energi getar yang
telah diamplifikasi ke stapes Tulang stapes yang bergetar masuk-keluar
dari tingkat oval menimbulkan getaran pada perilimfa pada skala vestibule
bergerak getaran diteruskan melalui membrane Reissner yang mendorong
endolimfa menimbulkan gerak relative antara membrane basilaris dan
membrane tektoria (Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan
terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan
terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel) menimbulkanproses
depolarisasi sel rambut melepaskan neurotransmitter ke dalam sinapsis
potensial aksi pada saraf auditorius dilanjutkan ke nucleus auditorius ke
korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis.
Buku ajar ilmu kesehatan THT kepala leher,FKUI

2. Mengapa terdapat keluhan nyeri pada telinga kananya sejak semalam?
Ada 4 penyebab terjadinya patologi aurikulum, yaitu :
1. Kongenital. Misalnya fistula preaurikularis kongenital & mikrotia.
2. Infeksi. Misalnya erisipelas, dermatitis aurikularis, perikondritis & herpes zoster
oticus.
3. Trauma. Misalnya othematoma & pseudothematoma.
4. Tumor. Misalnya ateroma.

Ada 5 penyebab terjadinya patologi meatus akustikus eksterna, yaitu :
1. Kongenital. Misalnya atresia kongenital & stenosis kongenital.
2. Infeksi. Misalnya furunkel, otitis eksterna difusa & granulasi.
3. Tumor. Misalnya polip, papiloma & karsinoma.
4. Korpus alienum.
5. Serumen.

Ada 3 jenis patologi membrana timpani, yaitu :
1. Perubahan warna.
2. Perubahan posisi.
3. Perubahan struktur.
Perubahan warna membrana timpani dari putih mengkilat menjadi merah dapat
disebabkan oleh hiperemia akibat peradangan. Jamur dapat mengubah
warnanya menjadi hitam, kuning atau putih. Selain penyebabnya jamur,
perubahan membrana timpani menjadi putih dapat juga disebabkan oleh asidum
borikum pulveratum.

Ada 2 perubahan posisi membrana timpani yang dapat kita temukan, yaitu :
1. Retraksi.
2. Bombans.

Ada 5 efek yang dapat kita amati akibat retraksi membrana timpani, yaitu :
1. Manubrium mallei memendek akibat tertarik ke medial dan posisinya lebih
horisontal.
2. Refleks cahaya berubah bentuk atau menghilang.
3. Prosesus brevis menonjol keluar.
4. Plika posterior lebih jelas.
5. Plika anterior tidak tampak akibat tertutup oleh prosesus brevis yang menonjol.

Ada 2 efek yang dapat kita amati akibat bombans membrana timpani, yaitu :
1. Bentuknya lebih cembung karena membrana timpani terdorong ke lateral.
2. Warnanya merah.

Ada 4 perubahan struktur membrana timpani yang dapat kita temukan, yaitu :
1. Perforasi. Jenisnya terbagi berdasarkan letak dan bentuk perforasi.
2. Ruptur. Penyebabnya trauma dengan bentuk bintang dan terdapat bekuan
darah.
3. Sikatriks. Sebagai bekas perforasi yang sudah menutup.
4. Granulasi.
Berdasarkan letaknya, perforasi membrana timpani terbagi atas sentral,
marginal, dan atik. Sedangkan berdasarkan bentuknya, terbagi atas bulat, oval,
jantung, ginjal, subtotal dan total.

Prof. Dr. dr. Sardjono Soedjak, MHPEd, Sp.THT. Teknik Pemeriksaan Telinga, Hidung &
Tenggorok. EGC.


Virus respiratori juga dapat meningkatkan kolonisasi dan adhesi bakteri, sehingga
menganggu pertahanan imum pasien terhadap infeksi bakteri. Jika sekret dan pus
bertambah banyak dari proses inflamasi lokal, perndengaran dapat terganggu karena
membran timpani dan tulang-tulang pendengaran tidak dapat bergerak bebas terhadap
getaran. Akumulasi cairan yang terlalu banyak akhirnya dapat merobek membran
timpani akibat tekanannya yang meninggi (Kerschner, 2007).
Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang
telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran
di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami
umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat
menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45db (kisaran pembicaraan normal).
Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Dan yang paling berat, cairan yang terlalu
banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya (Pracy R,
1983).


3. Apa hub. Riwayat batuk dan pilek dengan keluhan sekarang?
Biasanya diawali oleh infeksi akut saluran napas atas. Infeksi saluran nafas atas
menyebabkan penyumbatan tuba eustachius. Terjadi gangguan ventilasi kavum timpani,
dengan akibat timbulnya kavum timpani vakum.
(Pedoman diagnosis dan terapi ilmu penyakit THT RSUD DR SOETOMO, Surabaya, 1994)
Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang
tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Saat
bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran
tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran, dan
datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan
membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya
terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar
saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah
terkumpul di belakang gendang telinga.
Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena
gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ
pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang
dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Namun cairan yang lebih banyak
dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan
normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Dan yang paling berat, cairan yang
terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya.

Buku Ajar Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher edisi kelima editor Dr.H.Efiaty Arsyad
Soepardi, Sp.THT

Pathogenesis OMA pada sebagian besar anak-anak dimulai oleh infeksi saluran pernapasan atas
(ISPA) atau alergi, sehingga terjadi kongesti dan edema pada mukosa saluran napas atas,
termasuk nasofaring dan tuba Eustachius. Tuba Eustachius menjadi sempit, sehingga terjadi
sumbatan tekanan negatif pada telinga tengah. Bila keadaan demikian berlangsung lama akan
menyebabkan refluks dan aspirasi virus atau bakteri dari nasofaring ke dalam telinga tengah
melalui tuba Eustachius. Mukosa telinga tengah bergantung pada tuba Eustachius untuk
mengatur proses ventilasi yang berkelanjutan dari nasofaring. Jika terjadi gangguan akibat
obstruksi tuba, akan mengaktivasi proses inflamasi kompleks dan terjadi efusi cairan ke dalam
telinga tengah. Ini merupakan faktor pencetus terjadinya OMA dan otitis media dengan efusi.
Bila tuba Eustachius tersumbat, drainase telinga tengah terganggu, mengalami infeksi serta
terjadi akumulasi sekret di telinga tengah, kemudian terjadi proliferasi mikroba patogen pada
sekret. Akibat dari infeksi virus saluran pernapasan atas, sitokin dan mediator-mediator
inflamasi yang dilepaskan akan menyebabkan disfungsi tuba Eustachius. Virus respiratori juga
dapat meningkatkan kolonisasi dan adhesi bakteri, sehingga menganggu pertahanan imum
pasien terhadap infeksi bakteri. Jika sekret dan pus bertambah banyak dari proses inflamasi
lokal, perndengaran dapat terganggu karena membran timpani dan tulang-tulang pendengaran
tidak dapat bergerak bebas terhadap getaran. Akumulasi cairan yang terlalu banyak akhirnya
dapat merobek membran timpani akibat tekanannya yang meninggi (Kerschner, 2007).
Obstruksi tuba Eustachius dapat terjadi secara intraluminal dan ekstraluminal. Faktor
intraluminal adalah seperti akibat ISPA, dimana proses inflamasi terjadi, lalu timbul edema pada
mukosa tuba serta akumulasi sekret di telinga tengah. Selain itu, sebagian besar pasien dengan
otitis media dihubungkan dengan riwayat fungsi abnormal dari tuba Eustachius, sehingga
mekanisme pembukaan tuba terganggu. Faktor ekstraluminal seperti tumor, dan hipertrofi
adenoid (Kerschner, 2007).

Bakteri piogenik merupakan penyebab OMA yang tersering. Menurut penelitian, 65-75%
kasus OMA dapat ditentukan jenis bakteri piogeniknya melalui isolasi bakteri terhadap
kultur cairan atau efusi telinga tengah. Kasus lain tergolong sebagai non-patogenik
karena tidak ditemukan mikroorganisme penyebabnya. Tiga jenis bakteri penyebab
otitis media tersering adalah Streptococcus pneumoniae (40%), diikuti oleh Haemophilus
influenzae (25-30%) dan Moraxella catarhalis (10-15%). Kira-kira 5% kasus dijumpai
patogen-patogen yang lain seperti Streptococcus pyogenes (group A beta-hemolytic),
Staphylococcus aureus, dan organisme gram negatif. Staphylococcus aureus dan
organisme gram negatif banyak ditemukan pada anak dan neonatus yang menjalani
rawat inap di rumah sakit. Haemophilus influenzae sering dijumpai pada anak balita.
Jenis mikroorganisme yang dijumpai pada orang dewasa juga sama dengan yang
dijumpai pada anak-anak (Kerschner, 2007).

Virus
Virus juga merupakan penyebab OMA. Virus dapat dijumpai tersendiri atau bersamaan
dengan bakteri patogenik yang lain. Virus yang paling sering dijumpai pada anak-anak,
yaitu respiratory syncytial virus (RSV), influenza virus, atau adenovirus (sebanyak 30-
40%). Kira-kira 10-15% dijumpai parainfluenza virus, rhinovirus atau enterovirus. Virus
akan membawa dampak buruk terhadap fungsi tuba Eustachius, menganggu fungsi
imun lokal, meningkatkan adhesi bakteri, menurunkan efisiensi obat antimikroba
dengan menganggu mekanisme farmakokinetiknya (Kerschner, 2007). Dengan
menggunakan teknik polymerase chain reaction (PCR) dan virus specific enzyme-linked
immunoabsorbent assay (ELISA), virus-virus dapat diisolasi dari cairan telinga tengah
pada anak yang menderita OMA pada 75% kasus (Buchman, 2003).

4. Factor predisposisi keluhan tsb?
Faktor risiko terjadinya otitis media adalah umur, jenis kelamin, ras, faktor genetik, status
sosioekonomi serta lingkungan, asupan air susu ibu (ASI) atau susu formula, lingkungan
merokok, kontak dengan anak lain, abnormalitas kraniofasialis kongenital, status imunologi,
infeksi bakteri atau virus di saluran pernapasan atas, disfungsi tuba Eustachius, inmatur tuba
Eustachius dan lain-lain (Kerschner, 2007).
Faktor umur juga berperan dalam terjadinya OMA. Peningkatan insidens OMA pada bayi dan
anak-anak kemungkinan disebabkan oleh struktur dan fungsi tidak matang atau imatur tuba
Eustachius. Selain itu, sistem pertahanan tubuh atau status imunologi anak juga masih rendah.
Insidens terjadinya otitis media pada anak laki-laki lebih tinggi dibanding dengan anak
perempuan. Anak-anak pada ras Native American, Inuit, dan Indigenous Australian
menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi dibanding dengan ras lain. Faktor genetik juga
berpengaruh. Status sosioekonomi juga berpengaruh, seperti kemiskinan, kepadatan
penduduk, fasilitas higiene yang terbatas, status nutrisi rendah, dan pelayanan pengobatan
terbatas, sehingga mendorong terjadinya OMA pada anak-anak. ASI dapat membantu dalam
pertahanan tubuh. Oleh karena itu, anak-anak yang kurangnya asupan ASI banyak menderita
OMA. Lingkungan merokok menyebabkan anak-anak mengalami OMA yang lebih signifikan
dibanding dengan anak-anak lain. Dengan adanya riwayat kontak yang sering dengan anak-anak
lain seperti di pusat penitipan anak-anak, insidens OMA juga meningkat. Anak dengan adanya
abnormalitas kraniofasialis kongenital mudah terkena OMA karena fungsi tuba Eustachius turut
terganggu, anak mudah menderita penyakit telinga tengah. Otitis media merupakan komplikasi
yang sering terjadi akibat infeksi saluran napas atas, baik bakteri atau virus (Kerschner, 2007).
Dipercayai bahwa anak lebih mudah terserang OMA dibanding dengan orang dewasa. Ini
karena pada anak dan bayi, tuba lebih pendek, lebih lebar dan kedudukannya lebih horizontal
dari tuba orang dewasa, sehingga infeksi saluran pernapasan atas lebih mudah menyebar ke
telinga tengah. Panjang tuba orang dewasa 37,5 mm dan pada anak di bawah umur 9 bulan
adalah 17,5 mm (Djaafar, 2007). Ini meningkatkan peluang terjadinya refluks dari nasofaring
menganggu drainase melalui tuba Eustachius. Insidens terjadinya otitis media pada anak yang
berumur lebih tua berkurang, karena tuba telah berkembang sempurna dan diameter tuba
Eustschius meningkat, sehingga jarang terjadi obstruksi dan disfungsi tuba. Selain itu, sistem
pertahanan tubuh anak masih rendah sehingga mudah terkena ISPA lalu terinfeksi di telinga
tengah. Adenoid merupakan salah satu organ di tenggorokan bagian atas yang berperan dalam
kekebalan tubuh. Pada anak, adenoid relatif lebih besar dibanding orang dewasa. Posisi
adenoid yang berdekatan dengan muara tuba Eustachius sehingga adenoid yang besar dapat
mengganggu terbukanya tuba Eustachius. Selain itu, adenoid dapat terinfeksi akibat ISPA
kemudian menyebar ke telinga tengah melalui tuba Eustachius (Kerschner, 2007).

5. Apa interpretasi dari pemeriksaan fisik yang dilakukan?

6. Apa interpretasi dari pemeriksaan otoskopi?
Stadium OMA
OMA dalam perjalanan penyakitnya dibagi menjadi lima stadium, bergantung pada
perubahan pada mukosa telinga tengah, yaitu stadium oklusi tuba Eustachius, stadium
hiperemis atau stadium pre-supurasi, stadium supurasi, stadium perforasi dan stadium resolusi
(Djaafar, 2007).
Gambar 2.5. Membran Timpani Normal

1. Stadium Oklusi Tuba Eustachius

Pada stadium ini, terdapat sumbatan tuba Eustachius yang ditandai oleh retraksi
membran timpani akibat terjadinya tekanan intratimpani negatif di dalam telinga tengah,
dengan adanya absorpsi udara. Retraksi membran timpani terjadi dan posisi malleus menjadi
lebih horizontal, refleks cahaya juga berkurang. Edema yang terjadi pada tuba Eustachius juga
menyebabkannya tersumbat. Selain retraksi, membran timpani kadang-kadang tetap normal
dan tidak ada kelainan, atau hanya berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi tetapi
tidak dapat dideteksi. Stadium ini sulit dibedakan dengan tanda dari otitis media serosa yang
disebabkan oleh virus dan alergi. Tidak terjadi demam pada stadium ini (Djaafar, 2007; Dhingra,
2007).
2. Stadium Hiperemis atau Stadium Pre-supurasi

Pada stadium ini, terjadi pelebaran pembuluh darah di membran timpani, yang ditandai
oleh membran timpani mengalami hiperemis, edema mukosa dan adanya sekret eksudat serosa
yang sulit terlihat. Hiperemis disebabkan oleh oklusi tuba yang berpanjangan sehingga
terjadinya invasi oleh mikroorganisme piogenik. Proses inflamasi berlaku di telinga tengah dan
membran timpani menjadi kongesti. Stadium ini merupakan tanda infeksi bakteri yang
menyebabkan pasien mengeluhkan otalgia, telinga rasa penuh dan demam. Pendengaran
mungkin masih normal atau terjadi gangguan ringan, tergantung dari cepatnya proses
hiperemis. Hal ini terjadi karena terdapat tekanan udara yang meningkat di kavum timpani.
Gejala-gejala berkisar antara dua belas jam sampai dengan satu hari (Djaafar, 2007; Dhingra,
2007).

Gambar 2.6. Membran Timpani Hiperemis
3. Stadium Supurasi

Stadium supurasi ditandai oleh terbentuknya sekret eksudat purulen atau bernanah di
telinga tengah dan juga di sel-sel mastoid. Selain itu edema pada mukosa telinga tengah
menjadi makin hebat dan sel epitel superfisial terhancur. Terbentuknya eksudat yang
purulen di kavum timpani menyebabkan membran timpani menonjol atau bulging ke
arah liang telinga luar
Pada keadaan ini, pasien akan tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat serta rasa
nyeri di telinga bertambah hebat. Pasien selalu gelisah dan tidak dapat tidur nyenyak. Dapat
disertai dengan gangguan pendengaran konduktif. Pada bayi demam tinggi dapat disertai
muntah dan kejang.
Stadium supurasi yang berlanjut dan tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan
iskemia membran timpani, akibat timbulnya nekrosis mukosa dan submukosa membran
timpani. Terjadi penumpukan nanah yang terus berlangsung di kavum timpani dan akibat
tromboflebitis vena-vena kecil, sehingga tekanan kapiler membran timpani meningkat, lalu
menimbulkan nekrosis. Daerah nekrosis terasa lebih lembek dan berwarna kekuningan atau
yellow spot.
Keadaan stadium supurasi dapat ditangani dengan melakukan miringotomi. Bedah kecil
ini kita lakukan dengan menjalankan insisi pada membran timpani sehingga nanah akan keluar
dari telinga tengah menuju liang telinga luar. Luka insisi pada membran timpani akan menutup
kembali, sedangkan apabila terjadi ruptur, lubang tempat perforasi lebih sulit menutup
kembali. Membran timpani mungkin tidak menutup kembali jikanya tidak utuh lagi (Djaafar,
2007; Dhingra, 2007).
Gambar 2.7. Membran Timpani Bulging dengan Pus Purulen

4. Stadium Perforasi

Stadium perforasi ditandai oleh ruptur membran timpani sehingga sekret berupa nanah
yang jumlahnya banyak akan mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Kadang-
kadang pengeluaran sekret bersifat pulsasi (berdenyut). Stadium ini sering disebabkan
oleh terlambatnya pemberian antibiotik dan tingginya virulensi kuman.
Setelah nanah keluar, anak berubah menjadi lebih tenang, suhu tubuh menurun dan
dapat tertidur nyenyak.
Jika mebran timpani tetap perforasi dan pengeluaran sekret atau nanah tetap
berlangsung melebihi tiga minggu, maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut. Jika
kedua keadaan tersebut tetap berlangsung selama lebih satu setengah sampai dengan dua
bulan, maka keadaan itu disebut otitis media supuratif kronik (Djaafar, 2007; Dhingra, 2007).
Gambar 2.8. Membran Timpani Peforasi

5. Stadium Resolusi

Keadaan ini merupakan stadium akhir OMA yang diawali dengan berkurangnya dan
berhentinya otore. Stadium resolusi ditandai oleh membran timpani berangsur normal hingga
perforasi membran timpani menutup kembali dan sekret purulen akan berkurang dan akhirnya
kering. Pendengaran kembali normal. Stadium ini berlangsung walaupun tanpa pengobatan,
jika membran timpani masih utuh, daya tahan tubuh baik, dan virulensi kuman rendah.
Apabila stadium resolusi gagal terjadi, maka akan berlanjut menjadi otitis media supuratif
kronik. Kegagalan stadium ini berupa perforasi membran timpani menetap, dengan sekret yang
keluar secara terus-menerus atau hilang timbul.
Otitis media supuratif akut dapat menimbulkan gejala sisa berupa otitis media serosa.
Otitis media serosa terjadi jika sekret menetap di kavum timpani tanpa mengalami
perforasi membran timpani (Djaafar, 2007; Dhingra, 2007).


7. Mengapa dokter menyarankan dilakukan parasintesis? Apa yang dimaksud, tujuan, dan
komplikasi tindakan.



MIRINGOTOMI
Miringotomi ialah tindakan insisi pada pars tensa mebran timpani, agar terjadi drenase
secret dari telinga tengah ke liang telinga luar.
Istilah miringotomi sering dikacaukan dengan parasentesis. Timpanosintesis sebetulnya
berarti pungsi pada membrane timpani untuk mendapatkan secret guna pemeriksaan
mikrobiologik (dengan semprit dan jarum khusus).
Miringotomi merupakan tindakan pembedahan kecil yang dilakukan dengan syarat
tindakan ini harus dilakukan secara a-vue (dilihat langsung), anak harus tenang dan dapat
dikuasai, (sehingga membrane timpani dapat dilihat dengan baik). Lokasi miringotomi ialah di
kuadran posterior-inferior. Untuk tindakan ini haruslah memakai lampu kepala yang
mempunyai sinar cukup terang, memakai corong telinga yang sesuai dengan besar liang telinag,
dan pisau khusus (miringotom) yang digunakan dalam ukuran kecil dan steril.
KOMPLIKASI MIRINGOTOMI
Komplikasi miringotomi yang mungkin terjadi ialah perdarahan akibat trauma pada liang
telinga luar, dislokasi tulang pendengaran, trauma pada venestra rotundum, trauma pada n.
facialis, trauma pada bulbus jugulare (bila ada anomaly letak).
Mengingat komplikasi itu, maka dianjurkan untuk melakukan miringotomi dengan
narcosis umum dan memakai mikroskop. Tindakan miringotomi dengan memakai mikroskop
selain aman, dapat juga mengisap secret dari telinga tengah sebanyak-banyaknya. Hanya
dengan cara ini biayanya lebih mahal.
Bila terapi yang diberikan sudah adekuat, sebetulnya miringotomi tidak perlu dilakukan,
kecuali bila jelas tampak adanya nanah pada telinga tengah. Dewasa ini sebagian ahli
berpendapat bahwa miringotomi tidak perlu dilakukan, apabila terapi yang adekuat sudah
dapat diberikan (antibiotika yang tepat dan dosis yang cukup). Komplikasi timpanosintesis
kurang lebih sama dengan komplikasi miringotomi.
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher, FK UI

8. pemeriksaan penunjang dan Penatalakasanaan?
2.3.8.1. Pemeriksaan Audiometri
Pada pemeriksaan audiometri penderita OMSK biasanya didapati tuli
konduktif. Tapi dapat pula dijumpai adanya tuli sensotineural, beratnya ketulian
tergantung besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas
sistim penghantaran suara ditelinga tengah.
Paparela, Brady dan Hoel (1970) melaporkan pada penderita OMSK
ditemukan tuli sensorineural yang dihubungkan dengan difusi produk toksin ke
dalam skala timpani melalui membran fenstra rotundum, sehingga menyebabkan
penurunan ambang hantaran tulang secara temporer/permanen yang pada fase
awal terbatas pada lengkung basal kohlea tapi dapat meluas kebagian apek kohlea. Gangguan
pendengaran dapat dibagi dalam ketulian ringan, sedang, sedang
berat, dan ketulian total, tergantung dari hasil pemeriksaan ( audiometri atau test
berbisik). Derajat ketulian ditentukan dengan membandingkan rata-rata kehilangan
intensitas pendengaran pada frekuensi percakapan terhadap skala ISO 1964 yang
ekivalen dengan skala ANSI 1969. Derajat ketulian dan nilai ambang pendengaran
menurut ISO 1964 dan ANSI 1969.
Derajat ketulian Nilai ambang pendengaran
Normal : -10 dB sampai 26 dB
Tuli ringan : 27 dB sampai 40 dB
Tuli sedang : 41 dB sampai 55 dB
Tuli sedang berat : 56 dB sampai 70 dB
Tuli berat : 71 dB sampai 90 dB
Tuli total : lebih dari 90 dB.
Evaluasi audimetri penting untuk menentukan fungsi konduktif dan fungsi
kohlea. Dengan menggunakan audiometri nada murni pada hantaran udara dan
tulang serta penilaian tutur, biasanya kerusakan tulang-tulang pendengaran dapat
diperkirakan, dan bisa ditentukan manfaat operasi rekonstruksi telinga tengah untuk
perbaikan pendengaran. Untuk melakukan evaluasi ini, observasi berikut bisa
membantu :
1. Perforasi biasa umumnya menyebabkan tuli konduktif tidak lebih dari 15-20 dB
2. Kerusakan rangkaian tulang-tulang pendengaran menyebabkan tuli konduktif
30-50 dB apabila disertai perforasi.
3. Diskontinuitas rangkaian tulang pendengaran dibelakang membran yang masih
utuh menyebabkan tuli konduktif 55-65 dB.
4. Kelemahan diskriminasi tutur yang rendah, tidak peduli bagaimanapun keadaan
hantaran tulang, menunjukan kerusakan kohlea parah.
Pemeriksaan audiologi pada OMSK harus dimulai oleh penilaian pendengaran
dengan menggunakan garpu tala dan test Barani. Audiometri tutur dengan masking
adalah dianjurkan, terutama pada tuli konduktif bilateral dan tuli campur.
2.3.8.2. Pemeriksaan Radiologi.
Pemeriksaan radiografi daerah mastoid pada penyakit telinga kronis nilai
diagnostiknya terbatas dibandingkan dengan manfaat otoskopi dan audiometri.
Pemerikasaan radiologi biasanya mengungkapkan mastoid yang tampak sklerotik,
lebih kecil dengan pneumatisasi leb ih sedikit dibandingkan mastoid yang satunya
atau yang normal. Erosi tulang, terutama pada daerah atik memberi kesan
kolesteatom
Proyeksi radiografi yang sekarang biasa digunakan adalah :
1. Proyeksi Schuller, yang memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid dari
arah lateral dan atas. Foto ini berguna untuk pembedahan karena
memperlihatkan posisi sinus lateral dan tegmen. Pada keadaan mastoid yang
skleritik, gambaran radiografi ini sangat membantu ahli bedah untuk
menghindari dura atau sinus lateral.
2. Proyeksi Mayer atau Owen, diambil dari arah dan anterior telinga tengah. Akan
tampak gambaran tulang-tulang pendengaran dan atik sehingga dapat
diketahui apakah kerusakan tulang telah mengenai struktur-struktur.
3. Proyeksi Stenver, memperlihatkan gambaran sepanjang piramid petrosus
dan yang lebih jelas memperlihatkan kanalis auditorius interna, vestibulum dan
kanalis semisirkularis. Proyeksi ini menempatkan antrum dalam potonganmelintang sehingga
dapat menunjukan adanya pembesaran akibat
kolesteatom.
4. Proyeksi Chause III, memberi gambaran atik secara longitudinal sehingga
dapat memperlihatkan kerusakan dini dinding lateral atik.
Politomografi dan atau CT scan dapat menggambarkan kerusakan tulang oleh
karena kolesteatom, ada atau tidak tulang-tulang pendengaran dan beberapa kasus
terlihat fistula pada kanalis semisirkularis horizontal. Keputusan untuk melakukan
operasi jarang berdasarkan hanya dengan hasil X-ray saja. Pada keadaan tertentu
seperti bila dijumpai sinus lateralis terletak lebih anterior menunjukan adanya
penyakit mastoid.
2.3.8.3. Bakteriologi
Walapun perkembangan dari OMSK merupakan lanjutan dari mulainya infeksi
akut, bakteriologi yang ditemukan pada sekret yang kronis berbeda dengan yang
ditemukan pada otitis media supuratif akut. Bakteri yang sering dijumpai pada OMSK
adalah Pseudomonas aeruginosa, Stafilokokus aureus dan Proteus. Sedangkan
bakteri pada OMSA Streptokokus pneumonie, H. influensa, dan Morexella kataralis.
Bakteri lain yang dijumpai pada OMSK E. Coli, Difteroid, Klebsiella, dan bakteri
anaerob adalah Bacteriodes sp.
Infeksi telinga biasanya masuk melalui tuba dan berasal dari hidung, sinus
parasanal, adenoid atau faring. Dalam hal ini penyebab biasanya adalah
pneumokokus, streptokokus, atau hemofilius influenza. Tetapi pada OMSK keadaan
ini agak berbeda. Karena adanya perforasi membran timpani, infeksi lebih sering
berasal dari luar yang masuk melalui perforasi tadi.
Pengobatan penyakit infeksi ini sebaiknya berdasarkan kuman penyebab dan
hasil kepekaan kuman. Bakteri penyebab OMSK dapat berupa :
2.3.8.3.1. Bakteri spesifik
Misalnya Tuberkulosis. Dimana Otitis tuberkulosa sangat jarang ( kurang dari
1% menurut Shambaugh). Pada orang dewasa biasanya disebabkan oleh infeksi paru
yang lanjut. Infeksi ini masuk ke telinga tengah melalui tuba. Otitis me dia
tuberkulosa dapat terjadi pada anak yang relatif sehat sebagai akibat minum susu
yang tidak dipateurisasi. Mycobacterium tuberkulosa pada OMSK (Munzel 1978,
Jeang dan Fletcher, 1983).
2.3.8.3.2. Bakteri non spesifik baik aerob dan anaerob.
Bakteri aerob yang sering dijumpai adalah Pseudomonas aeruginosa,
stafilokokus aureus dan Proteus sp. Para penulis mendapat presentase yang berbeda
terhadap jenis kuman OMSK.
Proteus sp dan Pseudomonas aeruginosa lebih predominan ( Palva dan
Hallstrom, 1965; Ojala dkk, 1981; Sugita dkk, 1981 ; Constable dan Butler, 1982;
Sweeney, Picozzi dan Browning, 1982 ; Brook, 1985). Stafilokokus aureus (
Friedman, 1952; Karma dkk 1978) dan Eserikia koli ( constable dan Butler 1982;
Sweeney, Picozzi dan Browning, 1982) yang juga sering diisolasi.
Freidmann (1952) mengisolasi dari Stafilokokus aureus 32,7% dari 318 kasus
dimana 41% resisten terhadap penisilin dan 59% sensitif, diantaranya terdapat
organisma gram negatif, Proteus sp yang diisolasi 27%, Pseudomonas aeruginosa
16% dan Eserikia koli 10,7%. Dari penilaian ini dijumpai penyebaran luas dari
organisma gram positif yang campuran dengan kuman aerob negatif yang
predominan. Losin dan kawan-kawan ( 1983), melaporkan hasil penilaiannya pada OMSK
dengan atau tanpa jaringan patologis, dengan urutan determinasi kuman aerob
sebagai berikut : Proteus sp (34,39%), Bacillus sp. (29,44%), Pseudomonas sp.
(15,90%), Stafilokokus patogen (11,36%), Klebiella sp. (4,55%)38. Vartiainen
(1999), melaporkan kultur sekret telinga OMSK dengan kolesteatom, dari 201 kasus
didapatkan Stafilokokus aureus (23%), Pseudomonas aeruginosa (17%), Proteus sp
(8%). Bakteri yang ditemukan secara statistik tidak ada perbedaan bermakna pada
anak dewasa, dimana Pseudomonas aeruginosa sedikit lebih tinggi pada anak dari
pada dewasa. Dari penelitian Pseudomonas terdapat pada umur < 16 tahun 25%

tahun 18%.
Adenin. A (1973) menemukan bakteri aerob pada OMSK yang sering dijumpai
adalah: Proteus (48%), Psedomonas (11%), Klebeilla (11%), Eserikia koli (4%),
Streptokokus haemolitikus (3%), Diplokokus (1%)8. Dan mendapatkan kuman
anaerob pada OMSK adalah Peptokokus dan Peptostreptokokus. Dan ternyata
Kanamisin sensitif terhadap Peptokokus (85%) dan Peptostreptokokus (66,67%).
Karma (1978) menemukan kuman aerob Stafilokokus 36,88% (59 dari 160),
gram negatif rod 22, 50% ( 36 dari 160), Difteroid basili 21,25% (34 dari 160),
Pseudomonas sp 10% ( 16 dari 160).
Pada penelitian dari Indudharan ( Januari 1994 - Desember 1995) diantara 500
yang diisolasi, kuman yang sering dijumpai Pseudomonas aeruginosa (27,2%),
diikuti oleh Stafilokokus aureus (23,6%), Stafilokokus epidermidis (8,8%), Proteus
sp (7,4%), Streptokokus beta hemolitikus (7%), Haemofilus influensa (6,4%),
Enterobakter (3,6%), Klebsiella (3,2%). Antibiotik yang sensitif untuk Pseudomonas
aeruginosa adalah ceftazidime (100%), gentamisin (96,3%), polimiksin B (95,4%)
dan Ciprofloksasin (98,9%). Resisten pada ampisilin (97,6%) dan kloramfenikol
(96,6%). Stafilokokus aureus sensitif pada kloramfenikol (87,5%), cloxacillin
(97,4%), kotrimoksazol (96,5%), eritromisin (89,5%), gentamisin (90,7%) dan
ciptofloksasin (98,6%), dimana resisten terhadap ampisilin (73,8%) dan polimiksin B
(98,3%).
Pseudomonas aeruginosa merupakan kuman tersering ditemukan pada biakan
sekret OMSK tanpa kolesteatom. Hasil penelitian dibagian THT FKUI / RSCM
ditemukan kuman OMSK dengan kolesteatom dari operasi radikal mastoidektomi. Di
RSCM dari Januari sampai April 1996 didapat kuman aerob yang paling sering
ditemukan Proteus mirabilis (58,5%), sedangkan Pseudomonas (31,5%). Sedangkan
OMSK tanpa kolesteatom kuman aerob yang tersering adalah Pseudomonas
aeruginosa (22,46%), Stafilokokus (16,33%). Pada penelitian OMSK benigna tipe
aktif ditemukan kuman yang terbanyak adalah pseudomonas aeruginosa (27,5%),
juga dijumpai antigen Clamydia trachomatis sebesar 25%
Spiric dari tahun 1994-1996 menemukan kuman yang sering dijumpai adalah
Pseudomonas aeruginosa gram negatif 22%, Proteus mirabilis 20%, Stafilokokus
aureus 17% dan Eserikia koli 11%. Antibiotik yang sensitif untuk Pseudomonas
aeruginosa adalah ceftazidime dan ciprofloksasin, dan resisten pada penisilin,
sefalosporin dan makrolid. Sedangkan Proteus mirabilis sensitif untuk antibiotik
kecuali makrolid. Stafilokokus aureus resisten terhadap sulfonamid dan trimethoprim
dan sensitif untuk sefalosforin generasi I dan gentamisin.
Pada otitis media banyak terdapat mixed infection dari kuman aerob dan
kuman anaerob sedangkan mixed infection antara kuman aerob hanya 60%. Oleh
karena itu Oderdank menfasirkan tingginya mixed infection kuman aerob dankuman anaerob
disebabkan oleh karena itu metabolisme dari kuman aerob
menyebabkan lingkungan kecil sekali untuk hidupnya kuman-kuman anaerob.
Menurut Feingold kuman anaerob banyak terdapat dalam jaringan nekrotis,
pada radang yang telah diberi pengobatan dengan aminoglikosida, pada pus yang
busuk, pada pus yang aseptis yang ternyata steril pada pemeriksaan untuk kumankuman
aerob dan pada kasus-kasus dimana pemberian kemoterapi penyakitnya
tidak menyembuh.
Menurut Sugita dkk (1981), bahwa kuman anaerob sering ditemukan pada
otitis media yang disertai dengan kolesteatom dan granulasi. Adanya kolesteatom
dan granulasi menghalang-halangi perputaran udara diantara udara luar dan ruang
telinga tengah. Hal ini menyebabkan supali oksigen ke telinga berkurang dan
berakibat tekanan parsiil oksigen turun dan sebaiknya tekanan parsiil CO2 naik
akibat jumlah kuman aerob turun dan kuman anaerob meningkat.
Pseudomonas aeruginosa termasuk kuman gram negatif, aerob dan jumlah
kecil sering dijumpai sebagai flora saprofit normal pada kulit dan usus. Perubahan
sifat saprofit menjadi patogen pada OMSK terjadi karena faktor-faktor predisposisi
yaitu serangan otitis media akut sebelumnya, adanya perforasi membran timpani,
efusi kronis telinga tengah, abnormalitas struktur epitel telinga tengah, disfungsi
tuba auditiva.
Stafilokokus aureus termasuk golongan gram positif, aerob dan hidup
saprofit pada kulit normal manusia . Perubahan sifat saprofit menjadi apatogen
terjadi pada kondisi kuman mampu memproduksi toksin dan enzim sehingga
mempermudah terjadinya invasi lokal.
Proteus sp. Termasuk kuman gram negatif, aerob, normal terdapat dalam
saluran nafas atas, masuk kavum timpani diperkirakan sebagai kuman sekunder
sewaktu terjadi otitis media akut, baru mampu menyebabkan infeksi bila pertahanan
auris media lemah.
Sipila (1981) melakukan penyelidikan kuman pada telinga normal. Dia telah
melakukan pemeriksaan bakteriologi pada 20 telinga yang tidak meradang. Ternyata
45% telinga tengah dan 70% liang telinga mengandung kuman, walaupun jumlah
koloninya kecil. Jumlah koloni pada telinga tengah umumnya lebih sedikit dibanding
liang telinga. Bakteri pada telinga tengah yang tersaring adalah Stafilokokus
epidermidis dan stafilokokus aureus. Sedangkan pada liang telinga adalah
Stafilokokus epidermidis, stafilokokus aureus dan difteroid basil.

9. DD? ( kurang dapat mendengar, dan nyeri telinga) lengkap.
OMA
1. Definisi
Ialah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius , antrum
mastoid dan sel-sel mastoid
Buku Ajar THT KL Dr.H.Efiaty Arsyad Soepardi, Sp.THT

2. Etiologi
penyebab dasar pada OMA : Obstruksi tuba eustachius sehingga hilanglah sawar
utama terhadap invasi bakteri dan spesies bakteri yang tidak biasanya patogenik ,
dapat berkolonisasi dalam telinga tengah , menyerang jaringan dan menimbulkan
infeksi
sebagian besar infeksi OMA disebabkan oleh bakteri piogenik
bakteri yang sering ditemukan antara lain Streptococcus pneumoniae(tersering pada
semua kelompok umur), Haemophilus influenza(patogen yang sering ditemukan
pada anak dibawah usia 5 tahun) dan streptococcus beta hemolitikus
BOIES Buku Ajar Penyakit THT Adams , Boies , Higler
Kuman penyebab utama pada OMA ialah bakteri piogenik, seperti Streptokokus hemo-
litikus, Stafilokokus aureus, Pneumokokus. Selain itu kadang-kadang ditemukan juga
Hemofilus influenza, Esheria colli, Streptococcus anhemoliticus, Proteus vulgaris dan
Pseudomonas aurugenosa.
Hemofillus influenza sering ditemukan pada anak yang berusia di bawah 5 tahun.











Otitis Media Supuratif Kronik
(OMSK) Benigna
Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Maligna
Proses peradangan terbatas pada
mukosa.
Proses peradangan tidak terbatas pada mukosa.
Proses peradangan tidak mengenai
tulang.
Proses peradangan mengenai tulang.
Perforasi membran timpani tipe
sentral.
Perforasi membran timpani paling sering tipe marginal &
atik. Kadang-kadang tipe sub total (sentral) dengan
kolesteatoma.
3. Klasifikasi Otitis Media

4. Stadium
STADIUM OKILUSI TUBA EUSTACHIUS
Tanda adanya oklusi tuba Eustachius ialah adanya gambaran retraksi membran timpani
akibat terjadinya tekanan negatif di dalam telinga tengah, karena adanya absorpsi
udara. Kadang-kadang membran timpani tampak normal (tidak ada kelainan) atau
berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi, tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium
ini sukar dibedakan dengan otitis media serosa yang disebabkan oleh virus atau alergi.
STADIUM HIPEREMIS (STADIUM PRESUPURASI)
Pada stadium hiperemis, tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani
atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edem. Sekret yang telah
terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat.
STADIUM SUPURASI
Edem yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial, serta
terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani, menyebabkan membran timpani
menonjol (bulging) ke arah liang telinga luar.
Pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta rasa nyeri
di telinga bertambah hebat.
Apabila tekanan nanah di kavum timpani tidak berkurang, maka terjadi iskernia, akibat
tekanan pada kapiler-kapiler, serta timbul tromboflebitis pada vena-vena kecil dan
nekrosis mukosa clan submukosa. Nekrosis ini pada membran timpani terlihat sebagai
daerah yang lebih lembek dan berwarna kekuningan. Di tempat ini akan terjadi ruptur.
Bila tidak dilakukan insisi membran timpani (miringotomi) pada stadium ini, maka
kemungkinan besar membran timpani akan ruptur dan nanah keluar ke liang telinga
luar.
Dengan melakukan miringotomi, luka insisi akan menutup kembali, sedangkan apabila
terjadi ruptur, maka lubang tempat ruptur (perforasi) ticlak mudah menutup kembali.
STADIUM PERFORASI
Karena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotika atau virulensi
kuman yang tinggi, maka dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar
mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Anak yang tadinya gelisah sekarang
menjadi tenang, suhu badan turun dan anak dapat tertidur nyenyak. Keadaan ini disebut
dengan otitis media akut stadium perforasi.
STADIUM RESOLUSI
Bila membran timpani tetap utuh, maka keadaan membran timpani perlahan-lahan
akan normal kembali. Bila sudah terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang dan
akhirnya kering. Bila daya tahan tubuh baik atau virulensi kuman rendah, maka resolusi
dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan. OMA berubah menjadi OMSK bila perforasi
menetap dengan sekret yang keluar terus menerus atau hilang timbul. OMA dapat
menimbulkan gejala sisa (sequele) berupa Otitis Media Serosa bila sekret menetap di
kavurn timpani tanpa terjadinya perforasi.

5. Patofisiologi

6. Manifestasi
nyeri
demam , demam dapat tinggi pada anak kecil namun dapat pula tidak ditemukan
pada 30% kasus
malaise
kadang2 nyeri kepala disamping nyeri telinga
khususnya pada anak dapat terjadi anoreksia dan kadang2 mual dan muntah
seluruh atau sebagian membrana timpani secara khas menjadi merah dan
menonjol
pembuluh pembuluh darah di atas membrana timani dan tangkai maleus
berdilatasi dan menjadi menonjol.Secara ringkas dikatakan terdapat abses
telinga tengah
7. Diagnosis
anamnesis

- Nyeri
- demam , demam dapat tinggi pada anak kecil namun dapat pula tidak
ditemukan pada 30% kasus
- malaise
- kadang2 nyeri kepala disamping nyeri telinga
- khususnya pada anak dapat terjadi anoreksia dan kadang2 mual dan muntah
- seluruh atau sebagian membrana timpani secara khas menjadi merah dan
menonjol
- pembuluh pembuluh darah di atas membrana timani dan tangkai maleus
berdilatasi dan menjadi menonjol.Secara ringkas dikatakan terdapat abses
telinga tengah

pemeriksaan fisik
seluruh atau sebagian membrana timpani secara khas menjadi merah dan menonjol
pembuluh pembuluh darah di atas membrana timani dan tangkai maleus berdilatasi
dan menjadi menonjol.Secara ringkas dikatakan terdapat abses telinga tengah
BOIES Buku Ajar Penyakit THT edisi 6 Adams , Boies , Higler


8. Penatalaksanaan
pengobatan OMA tergantung pada stadium penyakitnya
stadium oklusi , pengobatan terutama bertujuan untuk membuka kembali tuba
eustachius sehingga tekanan negatif ditelinga tengagh hilang.Untuk ini diberikan
obat tetes hidung.HCL efedrin 0,5% dalam larutan fisiologik (anak < 12 tahun) atau
HCl efedrin 1 % dalam larutan fisiologik untuk yang berumur di atas 12 tahun dan
pada orang dewasa.Disamping itu sumber infeksi harus diobati.Antibiotika diberikan
apabila penyebab penyakit adalah kuman, bukan virus atau alergi
Terapi pada stadium presupurasi ialah antibiotika, obat tetes hidung dan
analgetika.Bila membran timpani sudah terlihat hiperemis difus, sebaiknya dilakukan
miringotomi.Antibiotika yang dianjurkan ialah dari golongan penisillin atau
ampisilin.Terapi awal diberikan penisilin i.m agar didapatkan konsentrasi yang
adekuat didalam darah, sehingga tidak terjadi mastoiditis yang terselubung ,
gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan.Pemberian antibiotika
dianjurkan minimal selama 7 hari.Bila pasien alergi terhadap penisilin , maka
diberikan eritromisin.Pada anak ampisilin diberikan dengan dosis 50 100 mg/BB
perhari, dibagi dalam 4 dosis atau amoksisilin 40 mg/BB/hari dibagi dalam 3 dosis
atau eritromisin 40 mg/BB/hari

Pengobatan OMA tergantung pada stadium penyakitnya.
Pada stadium oklusi pengobatan terutama, bertujuan untuk membuka kembali tuba
Eustachius, sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Untuk ini diberikan obat
tetes hidung. HCI efedrin 0,5 % dalam larutan fisiologik (anak < 12 tahun) atau HCI
efedrin 1 % dalam larutan fisiologik untuk yang berumur di atas 12 tahun clan pada
orang dewasa.
Disamping itu sumber infeksi harus diobati. Antibiotika diberikan apabila penyebab
penyakit adalah kuman, bukan oleh virus atau alergi.
Terapi pada stadium presupurasi ialah antibiotika, obat tetes hidung dan analgetika. Bila
membran timpani sudah terlihat hiperemis difus, sebaiknya dilakukan miringotomi.
Antibiotika yang dianjurkan ialah dari golongan penisilin atau ampisilin. Terapi awal
diberikan penisilin intramuskular agar didapatkan konsentrasi yang adekuat di dalam
darah, sehingga tidak terjadi mastoiditis yang terselubung, gangguan pendengaran
sebagai gejala sisa, dan kekambuhan. Pemberian antibiotika dianjurkan minimal selama
7 hari. Bila pasien alergi. terhadap penisilin, maka diberikan eritromisin.
Pada anak, ampisilin diberikan dengan dosis 50-100 mg/BB per hari, dibagi dalarn 4
dosis, atau amoksisilin 40 mg/BB/hari dibagi dalam 3 dosis, atau eritromisin 40
mg/BB/hari.
Pada stadium supurasi disamping diberikan antibiotika, idealnya harus disertai dengan -
miringotomi, bila membran timpani masih utuh. Dengan miringotomi gejala-gejala klinis
lebih cepat hilang dan ruptur dapat dihindari.
Pada stadium perforasi sering terlihat sekret banyak keluar dan kadang terlihat.
Keluarnya sekret secara berdenyut (pulsasi). Pengobatan yang diberikan adalah obat
cuci 3% selama 3-5 hari serta telinga H202 antibiotika yang adekuat. Biasanya sekret
akan hilang dan perforasi dapat menutup kembali dalarn waktu 7-10 hari.
Pada stadium resolusi, maka membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak
ada lagi dan perforasi membran timpani menutup.
Bila tidak terjadi resolusi biasanya akan tampak sekret mengalir di liang telinga luar
melalui perforasi di membran timpani. Keadaan ini dapat disebabkan karena
bedanjutnya edem mukosa telinga tengah. Pada keadaan demikian antibiotika dapat
dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila 3 minggu setelah pengobatan sekret masih tetap
banyak, kemungkinan telah teladi mastoiditis.
Bila OMA berlanjut dengan keluamya sekret dari telinga tengah lebih dari 3 minggu,
maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut.
Bila perforasi menetap dan sekret tetap keluar lebih dari satu setengah bulan atau dua
bulan, maka keadaan ini disebut otitis media supuratif kronis (OMSK).

Jenis ketulian sesuai dengan letak kelainan.
1) Tuli konduktif Pada tuli konduktif terdapat gangguan hantaran suara,
disebabkan oleh kelainan atau penyakit di telinga luar atau di telinga
tengah.
i) Etiologi :
(a) Sumbatan tuba eustachius menyebabkan gangguan
telinga tengah dan akan terdapat tuli konduktif.
Gangguan pada vena jugulare berupa aneurisma akan
menyebabkan telinga berbunyi sesuai dengan denyut
jantung.
(b) Antara inkus dan maleus berjalan cabang n. fasialisis
yang disebut korda timpani. Bila terdapat radang di
telinga tengah atau trauma mungkin korda timpani
terjepit, sehingga timbul gangguan pengecap.
2) Tuli saraf (sensorineural deafness) Pada tuli saraf (perseptif,
sensorineural) kelainan terdapat pada koklea (telinga dalam), nervus
VIII atau di pusat pendengaran. Terbagi atas tuli koklea dan tuli
retrokoklea.
i) Etiologi :
(a) Di dalam telinga dalam terdapat alat keseimbangan dan
alat pendengaran. Obat-obat dapat merusak stria
vaskularis, sehingga saraf pendengaran rusak, dan terjadi
tuli saraf. Setelah pemakaian obat ototoksik seperti
streptomisin, akan terdapat gejala gangguan
pendengaran berupa tuli saraf dan gangguan
keseimbangan.
3) Tuli campur (mixed deafness) disebabkan oleh kombinasi tuli
konduktif dan tuli saraf. Tuli campur dapat merupakan satu penyakit,
misalnya radang telinga tengah dengan komplikasi ke telinga dalam
atau merupakan dua penyakit yang berlainan, misalnya tumor nervus
VIII (tuli saraf) dengan radang telinga tengah (tuli konduktif).

10. Prognosis dan komplikasi?
Prognosis
Sembuh setelah std. Resolusi.
- sembuh spontan tanpa perforasi
- sembuh dg perforasi bila menutup sikatrik
- sembuh setelah parasentesis
TIDAK sembuh.
- tanpa perforasi OME sekret kental Glue ear
- dg. perforasi OMK
bila sembuh dan tetap perforasi
Dry ear
Komplikasi
Sebelum ada antibiotika, OMA dapat menimbulkan komplikasi, yaitu abses sub-periosteal
sampai komplikasi yang berat (meningitis dan abses otak).
Sekarang setelah ada antibiotika, semua jenis komplikasi itu biasanya didapatkan sebagai
komplikasi dari OMSK.
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher, FK UI

Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK)
Benigna
Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK)
Maligna
Proses peradangan terbatas pada
mukosa.
Proses peradangan tidak terbatas pada
mukosa.
Proses peradangan tidak mengenai
tulang.
Proses peradangan mengenai tulang.
Perforasi membran timpani tipe sentral.
Perforasi membran timpani paling sering
tipe marginal & atik. Kadang-kadang tipe
sub total (sentral) dengan kolesteatoma.
Jarang terjadi komplikasi yang
berbahaya.
Sering terjadi komplikasi yang berbahaya.
Kolesteatoma tidak ada. Kolesteatoma ada.