Anda di halaman 1dari 33

Proses Perlakuan Panas Pada Baja

02 Jun

Proses perlakuan panas adalah suatu proses mengubah sifat logam dengan cara mengubah
struktur mikro melalui proses pemanasan dan pengaturan kecepatan pendinginan dengan atau
tanpa merubah komposisi kimia logam yang bersangkutan. Tujuan proses perlakuan panas untuk
menghasilkan sifat-sifat logam yang diinginkan. Perubahan sifat logam akibat proses perlakuan
panas dapat mencakup keseluruhan bagian dari logam atau sebagian dari logam.
Adanya sifat alotropik dari besi menyebabkan timbulnya variasi struktur mikro dari berbagai
jenis logam. Alotropik itu sendiri adalah merupakan transformasi dari satu bentuk susunan atom
(sel satuan) ke bentuk susunan atom yang lain. Pada temperatur dibawah 910
0
C sel satuannya
Body Center Cubic (BCC), temperatur antara 910 dan 1392
o
C sel satuannya Face Center
Cubic (FCC) sedangkan temperatur diatas 1392 sel satuannya kembali menjadi BCC. Bentuk
sel satuan ditunjukan pada Gbr dibawah ini
:Bentuk sel satuan BCC

Bentuk sel satuan FCC
Perubahan bentuk susunan atom (sel satuan) akibat pemanasan ditunjukan pada Gbr. Dibawah
ini

Gbr. Perubahan bentuk sel satuan akibat pemanasan pada logam
Proses perlakuan panas ada dua kategori, yaitu :
1. Softening (Pelunakan) : Adalah usaha untuk menurunkan sifat mekanik agar menjadi
lunak dengan cara mendinginkan material yang sudah dipanaskan didalam tungku
(annealing) atau mendinginkan dalam udara terbuka (normalizing).
2. Hardening (Pengerasan) : Adalah usaha untuk meningkatkan sifat material terutama
kekerasan dengan cara selup cepat (quenching) material yang sudah dipanaskan ke dalam
suatu media quenching berupa air, air garam, maupun oli.
Austenisasi Pada Perlakuan Panas
Tujuan proses austenisasi adalah untuk mendapatkan struktur austenit yang homogen.
Kesetimbangan kadar karbon austenit akan bertambah dengan naiknya suhu austenisasi, ini
mempengaruhi karakteristik isothermal. Bila kandungan karbon meningkat maka temperatur Ms
menjadi rendah, selain itu kandungan karbon akan meningkat pula jumlah grafit akan
membentuk senyawa karbida yang semakin banyak. Proses perlakuan panas selalu diawali
dengan transformasi dekomposisi austenit menjadi struktur mikro yang lain. Struktur mikro yang
dihasilkan lewat transformasi tergantung pada parameter proses perlakuan panas yang diterapkan
dan jenis proses proses perlakuan panas. Struktur mikro yang berubah melalui transformasi
dekomposisi austenit menjadi struktur mikro yang lain, dimaksudkan untuk memperoleh sifat
mekanik dan fisik yang diperlukan untuk suatu aplikasi proses pengerjaan logam. Proses
selanjutnya setelah fasa tunggal austenit terbentuk adalah pendinginan, dimana mekanismenya
dipengaruhi oleh temperatur, waktu, serta media yang digunakan. Pada pendinginan secara
perlahan-lahan perubahan fasa berdasarkan mekanisme difusi, dimana kehalusan dan kekasaran
struktur yang dihasilkan tergantung pada kecepatan difusi.
Bila pendinginan dilakukan secara cepat, maka perubahan fasanya berdasarkan mekanisme geser
menghasilkan struktur mikro dengan sifat mekanik yang keras dan getas. Perubahan struktur
mikro selama proses pendinginan dapat merupakan paduan dari mekanisme difusi dan
mekanisme geser.
Variasi dari pembentukan struktur mikro yang merupakan fungsi dari kecepatan pendinginan
pada baja dari temperatur eutektoid, dapat dilihat pada Gbr. dibawah.

Gbr. Pengaruh Kecepatan pendinginan pada baja terhadap struktur mikro
Annealing
Annealing adalah proses pemanasan baja yang diikuti dengan pendinginan lambat didalam
tungku yang dimatikan. Temperatur pemanasan annealing, untuk baja hypoeutektoid adalah
sekitar sedikit diatas garis A
3
(Gbr. 5.) dan untuk baja hypereutektoid adalah sedikit diatas garis
A
cm
(Gbr.5.). Tujuan dari annealing untuk memperbaiki ; mampu mesin, mampu bentuk,
keuletan, kehomogenan struktur, menghilangkan tegangan dalam, dan lain sebagainya.
Normalizing
Normalizing adalah proses pemanasan baja yang diikuti dengan pendinginannya diudara
terbuka. Tujuan normalizing antara lain untuk memperbaiki sifat mampu mesin, memperhalus
butir dan lain sebagainya. Temperatur pemanasan normalizing, untuk baja hypoeutektoid
dipanaskan pada temperatur 30
o
C sampai dengan 40 C diatas garis A
3
agar diperoleh Austenit
yang homogen.
Daerah temperatur pemanasan untuk proses Annealing dan Normalizing dari diagram fasa
Fe-C, dapat dilihat pada Gbr

Temperatur pemanasan untuk Annealing, Normalizing, Hot Working dan Homogenizing pada
diagram Fe-Fe
3
C
setelah waktu penahanan pada temperatur austenisasi selesai, kemudian baja didinginkan di
udara sampai mencapai temperatur kamar (27
o
C). Struktur Metalurgi baja HypoEutektoid yang
dihasilkan terdiri dari ferit dan perlit.Sifat mekanik baja yang dihasilkan setelah proses annealing
dan normalizing, tergantung pada laju pendinginan diudara. Laju pendinginan yang agak cepat
akan menghasilkan kekuatan dan kekerasan yang lebih tinggi.Siklus dari temperatur pemanasan
dan kecepatan pendinginan dari proses annealing dan normalizing, dapat dilihat pada Gbr

Gbr .Skematik siklus temperatur waktu dari annealing dan normalizing
Struktur yang dihasilkan dari proses pemanasan dan pendinginan yang lambat adalah fasa ferit
dan fasa perlit.

Gbr.Struktur mikro baja karbon medium (AISI 1045) yang dinormalisasi hasil austenisasi pada
temperatur 1095
o
C pendinginan diudaraDari Gbr.terlihat fasa ferit dan perlit. Fasa ferit adalah
fasa yang terlihat berwarna terang, fasa ini mempunyai mempunyai sifat lunak. Sedangkanfasa
perlit yang terlihat berwarna gelap adalah lapisan ferit dan sementit, fasa ini mempunyai sifat
mampu mesin yang baik.Temperatur pemanasan austenisasi yang semakin tinggi (super
heating) diatas garis A
3
akan menghasilkan pertumbuhan butir austenit yang semakin besar,
sehingga pada saat pendinginan yang lambat akan menghasilkan butir ferit dan perlit yang
semakin kasar.Pada Gbr.dapat dilihat skema pengaruh temperatur austenisasi pada struktur mikro
baja hasil proses annealing dan normalizing.
Gbr.Skema pengaruh temperatur austenisasi yang
menunjukan perubahan struktur baja dalam proses annealing dan normalizing.Temperatur
pemanasan yang sangat tinggi (overheating) pada proses annealing dan normalizing ini sedikit
berpengaruh pada kekuatan luluh, kekuatan tarik dan kekerasan suatu baja. Persentase
perpanjangan, reduksi dan kekuatan impak akan meningkat dengan semakin meningkatnya besar
butir.
(Ref.4)
Proses Hardening Proses ini berguna untuk memperbaiki kekerasan dari baja tanpa
dengan mengubah komposisi kimia secara keseluruhan. Proses ini mencakup proses pemanasan
sampai pada austenisasi dan diikuti oleh pendinginan dengan kecepatan tertentu untuk
mendapatkan sifat-sifat yang diinginkan. Temperatur yang dipilih tergantung pada jenis baja
yang diproses, dimana temperatur pemanasan 50 C 100 C di atas garis A
3
untuk baja
hypoeutektoid. Sedangkan proses pendinginannya bermacam-macam tergantung pada kecepatan
pendinginan dan media quenching yang dikehendaki. Untuk pendinginan yang cepat akan
didapatkan sifat logam yang keras dan getas sedangkan untuk pendinginan yang lambat akan
didapatkan sifat yang lunak dan ulet.Pada baja hypoeutektoid temperatur diatas garis Ac
3
,
struktur baja akan seluruhnya berkomposisikan butir austenit, dan pada saat pendinginan cepat
akan menghasilkan martensit. Quenching baja hypoeutektoid dari temperatur diatas temperatur
optimum akan menyebabkan terjadinya overheating. Overheating dalam hardening akan
menghasilkan butir martensit kasar yang mempunyai kerapuhan yang tinggi
(Ref.4)
Proses ini
sangat dipengaruhi oleh parameter tertentu seperti :
Temperatur pemanasan, yaitu temperatur austenisasi yang dikehendaki agar dicapai
transformasi yang seragam pada material.
Waktu pemanasan, yaitu lamanya waktu yang diperlukan untuk mencapai temperatur
pemanasan tertentu (temperatur austenisasi).
Waktu penahanan, yaitu lamanya waktu yang diperlukan agar didapatkan distribusi
temperatur yang seragam pada benda kerja.
Waktu pemanasan ini merupakan fungsi dari dimensi dan daya hantar panas benda kerja.
Lamanya waktu penahanan akan menimbulkan pertumbuhan butir yang dapat menurunkan
kekuatan material.Pada Gbr. berikut dapat dilihat pengaruh parameter tersebut di atas, dengan
kekerasan yang dihasilkan.
Grafik pengaruh parameter
pengerasan.Berdasarkan faktor-faktor tadi maka selanjutnya pembentukan austenit dan
pengontrolan butiran austenit merupakan aspek penting dalam proses hardening, karena
transformasi austenit dan sifat mekanis dari struktur mikro yang terbentuk ditentukan oleh
ukuran butir austenit.QuenchingUntuk memperoleh kekerasan yang diinginkan, maka dilakukan
proses quenching. Media quech yang biasa dipergunakan diantaranya :
Larutan Garam
Air
Oli
Pemilihan media quech untuk mengeraskan baja tergantung pada laju pendinginan yang
diinginkan agar dicapai kekerasan tertentu. Untuk lebih memahami laju pendinginan dari setiap
media queching, perlu memeriksa kurva pendinginan seperti terlihat pada Gbr.17. Kurva ini
menyatakan perubahan temperatur benda kerja pada saat didinginkan atau di quench dari
temperatur pengerasannya. Pada pendinginan tersebut terjadi dalam 3 tahap berbeda yang
ditandai A, B, C, dimana masing-masing tahap memiliki karakteristik pendinginan yang berbeda-
beda.
Gbr.17. Tahapan dari pendinginan selama
quenching
(Ref.5)
Jika suatu benda kerja diquench ke dalam medium queching, lapisan cairan
disekeliling benda kerja akan segera terpanasi sehingga mencapai titik didihnya dan berubah
menjadi uap. Pada tahap ini (tahap A) benda kerja akan segera dikelilingi oleh lapisan uap yang
terbentuk dari cairan pendingin yang menyentuh permukaan benda kerja. Uap yang terbentuk
menghalangi cairan pendingin menyentuh permukaan benda kerja. Sebelum terbentuk lapisan
uap, permukaan benda kerja mengalami pendinginan yang sangat intensif. Dengan adanya
lapisan uap, akan menurunkan laju pendinginan, karena lapisan terbentuk dan akan berfungsi
sebagai isolator.
(Ref.5)
Pendinginan dalam hal ini terjadi efek radiasi melalui lapisan uap ini lama-
kelamaan akan hilang oleh cairan pendingin yang mengelilinginya. Kecepatan menghilangkan
lapisan uap makin besar jika viskositas cairan makin rendah.Jika benda kerja didinginkan lebih
lanjut, panas yang dikeluarkan oleh benda kerja tidak cukup untuk tetap menghasilkan lapisan
uap, dengan demikian tahap B dimulai. Pada tahap ini cairan pendingin dapat menyentuh
permukaan benda kerja sehingga terbentuk gelembung-gelembung udara dan menyingkirkan
lapisan uap sehingga laju pendinginan menjadi bertambah besar.Tahap C dimulai jika
pendidihan cairan pendingin sudah berlalu sehingga cairan pendingin tersebut pada tahap ini
sudah mulai bersentuhan dengan seluruh permukaan benda kerja. Pada tahap ini pula
pendinginan berlangsung secara konveksi karena itu laju pendinginan menjadi rendah pada saat
temperatur benda kerja turun. Untuk mencapai struktur martensit yang keras dari baja karbon
dan baja paduan, harus diciptakan kondisi sedemikian sehingga kecepatan pendinginan yang
terjadi melampaui kecepatan pendinginan kritik dari benda kerja yang diquench, sehingga
transformasi ke perlit atau bainit dapat dicegah.Fluida yang ideal untuk media quench agar
diperoleh struktur martensit, harus bersifat :
Mengambil panas dengan cepat didaerah temperatur yang tinggi.
Mendinginkan benda kerja relatif lambat di daerah temperatur yang rendah, misalnya di
bawah temperatur 350C agar distorsi atau retak dapat dicegah.
Pada tabel.berikut dapat dilihat beberapa sifat dan keunggulan dari setiap media quenching yang
biasa digunakan.Tabel. Nilai kekerasan (severity) dari media quenching

Air Oil
Wate
r
Brin
e
No Circulation of Fluid or
Agitation of Piece
0.0
2
0.2
5 to
0.3
0
0.9 to
1.0
2
Mild Circulation

.

0.3
0 to
0.3
5
1.0 to
1.1
2 to
2.2
Moderate Circulation


0.3
5 to
0.4
0
1.2 to
1.3

Good Circulation



0.4
to
0.5
1.4 to
1.5

Strong Circulation
..
0.0
5
0.5
to
0.8
1.6 to
2.0

Violent Circulation
.

0.8
to
1.1
4 5












Sifat mekanik tidak hanya tergantung pada komposisi kimia suatu paduan, tetapi juga tergantung pada
strukturmikronya. Suatu paduan dengan komposisi kimia yang sama dapat memiliki strukturmikro yang
berbeda, dan sifat mekaniknya akan berbeda. Strukturmikro tergantung pada proses pengerjaan yang
dialami, terutama proses laku-panas yang diterima selama proses pengerjaan.
Proses laku-panas adalah kombinasi dari operasi pemanasan dan pendinginan dengan kecepatan
tertentu yang dilakukan terhadap logam atau paduan dalam keadaan padat, sebagai suatu upaya untuk
memperoleh sifat-sifat tertentu. Proses laku-panas pada dasarnya terdiri dari beberapa tahapan, dimulai
dengan pemanasan sampai ke temperatur tertentu, lalu diikuti dengan penahanan selama beberapa
saat, baru kemudian dilakukan pendinginan dengan kecepatan tertentu.
Secara umum perlakukan panas (Heat treatment) diklasifikasikan dalam 2 jenis :
1. Near Equilibrium (Mendekati Kesetimbangan)
Tujuan umum dari perlakuan panas jenis Near Equilibrium ini diantaranya adalah untuk : melunakkan
struktur kristal, menghaluskan butir, menghilangkan tegangan dalam dan memperbaiki machineability.
Jenis dari perlakukan panas Near Equibrium, misalnya : Full Annealing (annealing), Stress relief
Annealing, Process annealing, Spheroidizing, Normalizing dan Homogenizing.
2. Non Equilirium (Tidak setimbang)
Tujuan umum dari perlakuan panas jenis Non Equilibrium ini adalah untuk mendapatkan kekerasan dan
kekuatan yang lebih tinggi. Jenis dari perlakukan panas Non Equibrium, misalnya : Hardening,
Martempering, Austempering, Surface Hardening (Carburizing, Nitriding, Cyaniding, Flame hardening,
Induction hardening)

Sebelum kita membahas lebih jauh lagi tentang perlakuan panas, tidak ada salahnya jika kita sedikit
mereview kembali (mengulang kembali) pengetahuan kita tentang Diagram Near Equilibrium Ferrite-
Cementid (Fe-Fe3C) Penekanan kita terletak pada
Struktur mikro, garis-garis dan Kandungan Carbon.
Kandungan Carbon
0,008%C = Batas kelarutan maksimum Carbon pada Ferrite pada temperature kamar
0,025%C = Batas kelarutan maksimum Carbon pada Ferrite pada temperature 723 Derajat Celcius
0,83%C = Titik Eutectoid
2%C = Batas kelarutan Carbon pada besi Gamma pada temperature 1130 Derajat Celcius
4,3%C = Titik Eutectic
0,1%C = Batas kelarutan Carbon pada besi Delta pada temperature 1493 Derajat Celcius
Garis-garis
Garis Liquidus ialah garis yang menunjukan awal dari proses pendinginan (pembekuan).
Garis Solidus ialah garis yang menunjukan akhir dari proses pembekuan (pendinginan).
Garis Solvus ialah garis yang menunjukan batas antara fasa padat denga fasa padat atau solid solution
dengan solid solution.
Garis Acm = garis kelarutan Carbon pada besi Gamma (Austenite)
Garis A3 = garis temperature dimana terjadi perubahan Ferrit menjadi Autenite (Gamma) pada
pemanasan.
Garis A1 = garis temperature dimana terjadi perubahan Austenite (Gamma) menjadi Ferrit pada
pendinginan.
Garis A0 = Garis temperature dimana terjadi transformasi magnetic pada Cementid.
Garis A2 = Garis temperature dimana terjadi transformasi magnetic pada Ferrite.
Struktur mikro
Ferrite ialah suatu komposisi logam yang mempunyai batas maksimum kelarutan Carbon 0,025%C pada
temperature 723 Derajat Celcius, struktur kristalnya BCC (Body Center Cubic) dan pada temperature
kamar mempunyai batas kelarutan Carbon 0,008%C.
Austenite ialah suatu larutan padat yang mempunyai batas maksimum kelarutan Carbon 2%C pada
temperature 1130 Derajat Celcius, struktur kristalnya FCC (Face Center Cubic).
Cementid ialah suatu senyawa yang terdiri dari unsur Fe dan C dengan perbandingan tertentu
(mempunyai rumus empiris) dan struktur kristalnya Orthohombic.
Lediburite ialah campuran Eutectic antara besi Gamma dengan Cementid yang dibentuk pada
temperature 1130 Derajat Celcius dengan kandungan Carbon 4,3%C.
Pearlite ialah campuran Eutectoid antara Ferrite dengan Cementid yang dibentuk pada temperature 723
Derajat Celcius dengan kandungan Carbon 0,83%C.

Dari sedikit penjelasan diatas dapat kita tarik
benang merah bahwa secara umum laku panas dengan kondisi Near Equilibrium itu dapat disebut
dengan anneling.
Anneling ialah suatu proses laku panas (heat treatment) yang sering dilakukan terhadap logam atau
paduan dalam proses pembuatan suatu produk. Tahapan dari proses Anneling ini dimulai dengan
memanaskan logam (paduan) sampai temperature tertentu, menahan pada temperature tertentu tadi
selama beberapa waktu tertentu agar tercapai perubahan yang diinginkan lalu mendinginkan logam
atau paduan tadi dengan laju pendinginan yang cukup lambat. Jenis Anneling itu beraneka ragam,
tergantung pada jenis atau kondisi benda kerja, temperature pemanasan, lamanya waktu penahanan,
laju pendinginan (cooling rate), dll. Sehingga kita akan mengenal dengan apa yang disebut : Full
Annealing (annealing), Stress relief Annealing, Process annealing, Spheroidizing, Normalizing dan
Homogenizing.
1. Full annealing (annealing)
Merupakan proses perlakuan panas untuk menghasilkan perlite yang kasar (coarse pearlite) tetapi lunak
dengan pemanasan sampai austenitisasi dan didinginkan dengan dapur, memperbaiki ukuran butir serta
dalam beberapa hal juga memperbaiki machinibility.
Pada proses full annealing ini biasanya dilakukan dengan memanaskan logam sampai keatas
temperature kritis (untuk baja hypoeutectoid , 25 Derajat hingga 50 Derajat Celcius diatas garis A3
sedang untuk baja hypereutectoid 25 Derajat hingga 50 Derajat Celcius diatas garis A1). Kemudian
dilanjutkan dengan pendinginan yang cukup lambat (biasanya dengan dapur atau dalam bahan yang
mempunyai sifat penyekat panas yang baik).
Perlu diketahui bahwa selama pemanasan dibawah temperature kritis garis A1 maka belum terjadi
perubahan struktur mikro. Perubahan baru mulai terjadi bila temperature pemanasan mencapai garis
atau temperature A1 (butir-butir Kristal pearlite bertransformasi menjadi austenite yang halus). Pada
baja hypoeutectoid bila pemanasan dilanjutkan ke temperature yang lebih tinggi maka butir kristalnya
mulai bertransformasi menjadi sejumlah Kristal austenite yang halus, sedang butir Kristal austenite yang
sudah ada (yang berasal dari pearlite) hampir tidak tumbuh. Perubahan ini selesai setelah menyentuh
garis A3 (temperature kritis A3). Pada temperature ini butir kristal austenite masih halus sekali dan tidak
homogen. Dengan menaikan temperature sedikit diatas temperature kritis A3 (garis A3) dan memberI
waktu penahanan (holding time) seperlunya maka akan diperoleh austenite yang lebih homogen dengan
butiran kristal yang juga masih halus sehingga bila nantinya didinginkan dengan lambat akan
menghasilkan butir-butir Kristal ferrite dan pearlite yang halus.
Baja yang dalam proses pengerjaannya mengalami pemanasan sampai temperature yang terlalu tinggi
ataupun waktu tahan (holding time) terlalu lama biasanya butiran kristal austenitenya akan terlalu kasar
dan bila didinginkan dengan lambat akan menghasilkan ferrit atau pearlite yang kasar sehingga sifat
mekaniknya juga kurang baik (akan lebih getas). Untuk baja hypereutectoid, annealing merupakan
persiapan untuk proses selanjutnya dan tidak merupakan proses akhir.
2. Normalizing
Merupakan proses perlakuan panas yang menghasilkan perlite halus, pendinginannya dengan
menggunakan media udara, lebih keras dan kuat dari hasil anneal.
Secara teknis prosesnya hampir sama dengan annealing, yakni biasanya dilakukan dengan memanaskan
logam sampai keatas temperature kritis (untuk baja hypoeutectoid , 50 Derajat Celcius diatas garis A3
sedang untuk baja hypereutectoid 50 Derajat Celcius diatas garis Acm). Kemudian dilanjutkan dengan
pendinginan pada udara. Pendinginan ini lebih cepat daripada pendinginan pada annealing.
3. Spheroidizing
Merupakan process perlakuan panas untuk menghasilkan struktur carbida berbentuk bulat (spheroid)
pada matriks ferrite. Pada proses Spheroidizing ini akan memperbaiki machinibility pada baja paduan
kadar Carbon tinggi. Secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut : bahwa baja hypereutectoid
yang dianneal itu mempunyai struktur yang terdiri dari pearlite yang terbungkus oleh jaringan
cemented. Adanya jaringan cemented (cemented network) ini meyebabkan baja (hypereutectoid) ini
mempunyai machinibility rendah. Untuk memperbaikinya maka cemented network tersebut harus
dihancurkan dengan proses spheroidizing.
Spheroidizing ini dilaksanakan dengan melakukan pemanasan sampai disekitar temperature kritis A1
bawah atau sedikit dibawahnya dan dibiarkan pada temperature tersebut dalam waktu yang lama
(sekitar 24 jam) baru kemudian didinginkan. Karena berada pada temperature yang tinggi dalam waktu
yang lama maka cemented yang tadinya berbentuk plat atau lempengan itu akan hancur menjadi bola-
bola kecil (sphere) yang disebut dengan spheroidite yang tersebar dalam matriks ferrite.
4. Process Annealing
Merupakan proses perlakuan panas yang ditujukan untuk melunakkan dan menaikkan kembali keuletan
benda kerja agar dapat dideformasi lebih lanjut. Pada dasarnya proses Annealing dan Stress relief
Annealing itu mempunyai kesamaan yakni bahwa kedua proses tersebut dilakukan masih dibawah garis
A1 (temperature kritis A1) sehingga pada dasarnya yang terjadi hanyalah rekristalisasi saja.
5. Stress relief Annealing
Merupakan process perlakuan panas untuk menghilangkan tegangan sisa akibat proses sebelumnya.
Perlu diingat bahwa baja dengan kandungan karbon dibawah 0,3% C itu tidak bisa dikeraskan dengan
membuat struktur mikronya berupa martensite. Nah, bagaimana caranya agar kekerasannya meningkat
tetapi struktur mikronya tidak martensite? Ya, dapat dilakukan dengan pengerjaan dingin (cold working)
tetapi perlu diingat bahwa efek dari cold working ini akan timbu yang namanya tegangan dalam atau
tegangan sisa dan untuk menghilangkan tegangan sisa ini perlu dilakukan proses Stress relief Annealing.




Jenis perlakuan panas dan permukaan
2012
06.17
Sifat mekanik tidak hanya tergantung pada komposisi kimia suatu paduan, tetapi juga tergantung
pada struktur mikronya. Suatu paduan dengan komposisi kimia yang sama dapat memiliki
struktur mikro yang berbeda, dan sifat mekaniknya akan berbeda. Struktur mikro tergantung
pada proses pengerjaan yang dialami, terutama proses perlakuan panas yang diterima selama
proses pengerjaan.
Secara umum perlakukan panas (Heat treatment) diklasifikasikan dalam 2 jenis :
1. Near Equilibrium (Mendekati Kesetimbangan)
Tujuan dari perlakuan panas Near Equilibrium adalah untuk :
a. Melunakkan struktur kristal
b. Menghaluskan butir
c. Menghilangkan tegangan dalam
d. Memperbaiki machineability.
Jenis dari perlakukan panas Near Equibrium, misalnya :
Full Annealing (annealing)
Normallizing
Spheroidizing
Homogenizing
Stress relief Annealing
2. Non Equilirium (Tidak setimbang)
Tujuan panas Non Equilibrium adalah untuk mendapatkan kekerasan dan kekuatan yang lebih
tinggi.
Jenis dari perlakukan panas Non Equibrium, misalnya :
Hardening
Martempering
Austempering
Surface Hardening (Carburizing, Nitriding, Cyaniding, Flame hardening, Induction hardening)
Annealing : Memanaskan suatu bahan hingga diatas suhu transformasi (723 C) kemudian
didinginkan dengan perlahan-lahan. Tujuannya adalah untuk melunakan bahan.

Stress Relieving : Yaitu proses menghilangkan tegangan sisa dari suatu bahan dengan
memanaskan kemudian ditahan beberapa waktu lalu dilakukan dengan pendinginan perlahan-
lahan. Tujuannya adalah untuk menghilangkan tegangan sisa selama proses fabrikasi.

Hardening : Memanaskan suatu bahan hingga diatas suhu transformasi (723 C) kemudian
didinginkan secara cepat, melalui media pendingin seperti air, oli atau media pendingin lainnya.
Tujuannya adalah untuk mengeraskan bahan.

Aging : Proses pemanasan kembali bahan yang telah dikeraskan, Suhu pemanasannya relatif
rendah yaitu dibawah suhu transformasi eutektoid.
Tujuannya adalah untuk mengurangi kekerasan bahan sehingga keuletan (ketangguhan) bahan
tersebut dapat naik.



















PERLAKUAN PANAS PADA BAJA
2
PERLAKUAN PANAS PADA BESI/BAJA
1. Stress Relieving
Besi/baja akan mengalamami tegangan dalam akibat dari pemanasan atau pendinginan yang
tidak kontinue akibat dari tuang, las maupun tempa, atau karena pengepresan, tekuk, tekan,
maupun juga karena proses potong.
Karena jika tegangan dalam ini tidak dihilangkan akan mengganggu proses selanjutnya misalnya
rentan terjadinya keretaan maupun penyusutan pada proses pemanasan lanjutan.
Prinsip dari pemanasan ini adalah memanaskan besi/baja sampai temperatur di bawah titik ubah
A1 (pada diagram FEC) kemudian didinginkan perlahan-lahan.
Untuk pemanasan Stress Relieving pada baja idealnya 550 C sampai 650 C yang dipertahankan
selama 3 jam atau sesuai dengan tebal dari baja.
Jika proses pendinginan terlalu cepat malahan akan timbul tegangan baru, semuanya itu dapat
dicegah dengan cara pendinginan dalam dapur / oven sampai suhu 400 C dan jika dapur/oven
tidak ada pelindung oksidasi ( dengan gas Nitrogen ) maka baja yang dipanaskan harus
dibungkus/ dikubur dengan tatal dari besi tuang supaya tidak terjadi oksidasi karena pertemuan
dengan gas oksigen.
2. Normalizing
Proses normalizing bertujuan untuk memperbaiki dan menghilangkan struktur butiran kasar dan
ketidak seragaman struktur dalam baja menjadi berstrukrur yang normal kembali yang otomatis
mengembalikan keuletan baja lagi.
Struktur butiran kasar terbentuk karena waktu pemanasan dengan temperatur tinggi atau di
daerah austenit yang menyebabkan baja berstruktur butiran kasar.
Sedangkan penyebab dari ketidak seragaman struktur karena :
- pengerjaan rol atau tempa
- pengerjaan las atau potong las
- temperatur pengerasan yang terlalu tinggi
- menahan terlalu lama di daerah austenit
- Pengepresan, penglubangan dengan punch, penarikan
Pada proses normalizing ini baja di panaskan secara pelan-pelan sampai suhu 20 C sampai 30 C
diatas suhu pengerasan, ditahan sebentar lalu didinginkan dengan perlahan dan kontinue.
Proses normalizing ini dilakukan juga sebelum kita melakukan proses Soft anneling

3. Soft Anneling
Proses soft anneling bertujuan untuk melunakkan besi atau baja sehingga dapat dengan mudah
dilakukan proses permesinan dan dapat dengan mudah dilakukan pengerasan lagi dengan resiko
keretakan yang kecil.
Proses soft anneling ini dapat dilakukan dengan 2 cara :
- Benda kerja dipanaskan secara merata sampai temperatur titik ubah A1 ( diatas 721 C ) ditahan
sebentar supaya suhu pada inti benda kerja sama dengan suhu pada permukaan benda kerja, lalu
didinginkan di oven agar pendinginan dapat berlangsung secara teratur.
- Benda kerja dipanaskan dibawah titik ubah atau hampir menyentuh titik ubah lalu ditahan
dengan waktu yang lama 2sampai 20 jam, baru didinginkan secara teratur. Tidak seperti cara
pertama, pada cara kedua ini kecepatan pendinginan disini tidak mempunyai pengaruh apapun.
4. Full Hardening
Untuk memenuhi tuntutan fungsi seperti harus keras, tahan gesekan atau beban kerja yang berat,
maka baja harus dikeraskan melalui proses pengerasan.
Prinsip dari full hardening adalah memanaskan baja sampai titik temperatur austenit kemudian
didinginkan secara memdadak / quenching dengan kecepatan pindinginan diatas kecepatan
pendinginan kritis agar terjadi pembentukan martensit dan diperoleh kekerasan yang tinggi.
Besarnya Temperatur pemanasan austenit tergantung dari jenis baja, dan biasanya tiap-tiap
produsen sudah mengeluarkan diagram suhunya masing-masing.
Untuk mencapai suhu austenit 900 C harus dilakukan pemanasan bertahap,

Misalnya untuk Special K (Bohler)
Suhu hardening 950-980 C untuk mencapai kekerasan 63-65 RC
Media quenching oli atau udara
Untuk mencapai suhu 950 C harus dipanaskan bertahap yaitu
Suhu 450 ditahan selama 10 menit / 10 mm tebal material
Lalu dipanaskan lagi ke 750 C selama 10 menit / 10 mm tebal material
Lalu dipanaskan kembali sampai suhu 950-980 C
Di tahan sebentar lalu di keluarkan dan di celupkan kedalam oli quenching sambil digoyang
goyang supaya gelembung asap cepat terlepas dari permukaan baja sehingga pendinginannya
dapat merata .
Jika bentuk dari material yang dikeraskan berpenampang komplex atau benda tersebut
berpenampang tipis, temperatur pengerasan harus memakai atas bawah, sedangkan juka material
besar dan tebal atau berbentuk sederhana memakai temperatur pengerasan batas atas.
Media dari quenching ada bermacam-macam menurut jenis baja yang dikeraskan :
a. Air
Biasanya air ini diberi garam dapur sebanyak 10% atau bahan kimia lainnya seperti osmanil
untuk mencegah terjadinya gelembung asap yang berlebihan yang dapat mengakibatkan
terjadinya flek hitam pada permukaan material yang dikeraskan.
Air sebagai media quenching harus bersuhu 10 -40 C.
b. Oli
c. Larutan garam
d. Udara.
e. Di dalam dapur listrik

Di bawah ini ada beberapa penyebab kegagalan proses Hardening :
a. Suhu pengerasan terlalu rendah sehingga suhu belum mencapai pada temperature austenit
sehingga kekerasan tidak tercapai seperti yang diharapkan.
b. Pemanasan terlalu cepat sehingga temperatur inti dari benda kerja belum sama dengan
temperatur kulit luar pada baja.
c. Tidak adanya proses pemanasan bertahap dan tidak adanya waktu penahanan pada proses
pemanasan sehingga pada waktu di quenching benda kerja akan mengalami retak.
d. Timbulnya nyala api yang mengakibatkan terlepasnya karbon pada permukaan benda kerja,
sehingga permukaan benda kerja kurang keras.
e. Kesalahan pemilihan media quenching, misalnya baja keras ilo di quenching dengan air.
5. Tempering
Setelah proses hardening biasanya baja akan sangat keras dan bersifat rapuh, untuk itu perlu
proses lanjutan yaitu proses tempering.
Tempering ini bertujuan untuk :
Mengurangi kekerasan
Mengurangi tegangan dalam
Memperbaiki susunan struktur Baja
Prinsip dari tempering adalah baja dikeraskan sampai temperature dibawah A1(diagram FeC)
ditahan selama 1 jam/ 25 mm tebal baja, lalu didinginkan di udara dan pada suhu 300-400 C
dapat di quenching dengan media oli atau dapat juga didinginkan di udara.
Secara kimia selama tempering yang terjadi adalah atom C yang setelah proses hardening
terperangkap pada jaringan besi Alfa dan pada proses pemanasan tempering atom C mendapat
kesempatan untuk melakukan diffuse yaitu pemerataan kadar C tanpa adanya halangan dan
kembali menjadi Zementit.
Proses ini berlangsung terus sehingga diperoleh struktur ferrite yang bercampur dengan zementit,
dan diperoleh struktur yang ulet.
6. Martempering
Pada proses ini baja dipanaskan hingga temperatur austenit kemudian didinginkan secara
mendadak / di quenching pada bak yang berisi air garam yang panas yaitu pada temperatur
Martensit ( 210-220 C ) dan ditahan dalam bak sedemikian lama hingga permukaan maupun inti
baja memiliki suhu sama yaitu suhu martensit, lalu diangkat dan didinginkan di udara, baru
setelah mencapai suhu kamar baru dilakukan tempering.
Perubahan bagian dari inti baja dari austenit menjadi martensit selalu disertai dengan perubahan
volume ditambah pula perbedaan suhu antara kulit dan inti dari baja yang di quenching ( kulit
lebih cepat menjadi martensit ) menyebabkan terjadinya tegangan maupun deformasi, pada
pemanasan bertahap ini ( martempering ) kemungkinan diatas dapat diperkecil karena perubahan
dari austenit ke martensit berlangsung serentak.
Kekerasan yang dihasilkan pada proses martempering ini sedikit lebih rendah dari pada proses
hardening dengan oli karena waktu tahan pada martempering berjalan lama sehingga strukturnya
sedikit terbentuk struktur bainit.
Pengerasan dalam bak panas ini hanya cocok untuk jenis baja yang proses perubahannya lambat.

7. Pengerasan Bainit
Prinsip dari pengerasan ini adalah dengan cara memanaskan baja sampai temperature austenit
kemudian di quenching dalam bak air garam yang panasnya diatas temperature martensit atau
tepatnya pada temperature bainit yaitu 200-400 C dan ditahan dengan waktu yang cukup lama
sehingga austenit berubah menjadi bainit keseluruhannya.
Setelah proses pengerasan bainit benda kerja tidak perlu di tempering lagi.
Strukteu yang dihasilkan lebih ulet dibandingkan dengan pengerasan martempering, dan
biasanya dipakai untuk elemen mesin yang mementingkan keuletan dan berdinding tipis.

8. Carburising ( Pengerasan Permukaan dengan karbon )
Pengerasan permukaan biasanya dibutuhkan untuk as/poros yang mengalami beban kerja berat,
karena biasanya membutuhkan kekerasan di permukaan tetapi didalamnya/inti bajanya masih
tetap ulet.
Untuk mencapai kondisi diatas maka baja yang digunakan adalah jenis baja carbon rendah atau
kadar C max 0.2 % sehingga jika dikeraskan bagian inti tidak menjadi keras dan permukaan yang
dikehendaki keras harus melalui proses diffuse dengan carbon/pengkarbonan untuk
menghasilkan kekerasan yang diinginkan.
Prinsip dari carburizing ini adalah men diffusi kan permukaan benda kerja dengan carbon
sehingga permukaan memiliki kadar karbon sebesar 0.9% pada suhu 850 950 C kemudian
baru didinginkan.
Cara carburizing ini ada berbagai macam:
A. Pack Carburizing ( Pengkarbonan dengan media padat )
Cara ini sudah dikenal sejak dahulu dan dianggap cara yang paling praktis. Benda kerja
dimasukkan ke dalam kotak yang tahan panas dan didalamnya diberi arang bakar atau kokas
berdiameter 3 mm yang mengelilingi benda kerja dengan tebal lapisan minimal 3 Cm dan
ditambahkan barium karbonat atau sodium karbonat sebagai katalisator lalu ditutup rapat agar
carbon tidak keluar sia-sia . Lalu dipanaskan sampai 900 C dengan waktu tahan sesuai dengan
ketebalan kekerasan yang dikehendaki, untuk 1 jam lama penahanan menghasilakan lapisan
keras setebal 0.1 mm. Jika ketebalan lapisan keras sudah tercapai baru dikeluarkan dan dibiarkan
dingin di udara .
Cara ini juga memiliki kelemahan :
- Terdapat banyak debu arang
- Waktu pemanasan tergolong lama sampai ke inti benda kerja karena terlapisi oleh kotak dan
media carbon.
- Kadang proses pengkarbonan berlangsung tidak merata terutama pada kotak yang besar.
B. Cyaniding ( pengkarbonan dengan media cair )
Pada proses ini pembawa carbon berasal dari cairan garam yaitu Natrium cyanid (Na CN) yang
dimasukkan kedalam bak panas. Karena pemindahan panas dari cairan ke benda kerja sangat
tinggi maka pemanasan berlangsung sangat cepat. Pengkarbonan dalam bak garam ini
menghasilkan kedalaman sampai 0.5 mm.
Rumusan suhu : Pengkarbonan pada temperatur 850 C menghasilkan ketebalan carbon 0.1 mm
untuk pencelupan selama 20 menit.












Annealing

Annealing ialah suatu proses laku panas (heat treatment) yang sering dilakukan terhadap
logam atau paduan dalam proses pembuatan suatu produk. Tahapan dari proses Anneling ini
dimulai dengan memanaskan logam (paduan) sampai temperature tertentu, menahan pada
temperature tertentu tadi selama beberapa waktu tertentu agar tercapai perubahan yang
diinginkan lalu mendinginkan logam atau paduan tadi dengan laju pendinginan yang cukup
lambat. Jenis Anneling itu beraneka ragam, tergantung pada jenis atau kondisi benda kerja,
temperature pemanasan, lamanya waktu penahanan, laju pendinginan (cooling rate), dll.
1. Full annealing (annealing)
Merupakan proses perlakuan panas untuk menghasilkan perlite yang kasar (coarse
pearlite) tetapi lunak dengan pemanasan sampai austenitisasi dan didinginkan dengan dapur,
memperbaiki ukuran butir serta dalam beberapa hal juga memperbaiki machinibility.
Pada proses full annealing ini biasanya dilakukan dengan memanaskan logam sampai
keatas temperature kritis (untuk baja hypoeutectoid , 25 Derajat hingga 50 Derajat Celcius diatas
garis A3 sedang untuk baja hypereutectoid 25 Derajat hingga 50 Derajat Celcius diatas garis
A1). Kemudian dilanjutkan dengan pendinginan yang cukup lambat (biasanya dengan dapur atau
dalam bahan yang mempunyai sifat penyekat panas yang baik).
Perlu diketahui bahwa selama pemanasan dibawah temperature kritis garis A1 maka
belum terjadi perubahan struktur mikro. Perubahan baru mulai terjadi bila temperature
pemanasan mencapai garis atau temperature A1 (butir-butir Kristal pearlite bertransformasi
menjadi austenite yang halus).
Pada baja hypoeutectoid bila pemanasan dilanjutkan ke temperature yang lebih tinggi
maka butir kristalnya mulai bertransformasi menjadi sejumlah Kristal austenite yang halus,
sedang butir Kristal austenite yang sudah ada (yang berasal dari pearlite) hampir tidak tumbuh.
Perubahan ini selesai setelah menyentuh garis A3 (temperature kritis A3). Pada temperature ini
butir kristal austenite masih halus sekali dan tidak homogen. Dengan menaikan temperature
sedikit diatas temperature kritis A3 (garis A3) dan memberI waktu penahanan (holding time)
seperlunya maka akan diperoleh austenite yang lebih homogen dengan butiran kristal yang juga
masih halus sehingga bila nantinya didinginkan dengan lambat akan menghasilkan butir-butir
Kristal ferrite dan pearlite yang halus.
Baja yang dalam proses pengerjaannya mengalami pemanasan sampai temperature yang
terlalu tinggi ataupun waktu tahan (holding time) terlalu lama biasanya butiran kristal
austenitenya akan terlalu kasar dan bila didinginkan dengan lambat akan menghasilkan ferrit atau
pearlite yang kasar sehingga sifat mekaniknya juga kurang baik (akan lebih getas). Untuk baja
hypereutectoid, annealing merupakan persiapan untuk proses selanjutnya dan tidak merupakan
proses akhir.
2. Normalizing
Merupakan proses perlakuan panas yang menghasilkan perlite halus, pendinginannya
dengan menggunakan media udara, lebih keras dan kuat dari hasil anneal.
Secara teknis prosesnya hampir sama dengan annealing, yakni biasanya dilakukan
dengan memanaskan logam sampai keatas temperature kritis (untuk baja hypoeutectoid , 50
Derajat Celcius diatas garis A3 sedang untuk baja hypereutectoid 50 Derajat Celcius diatas garis
Acm). Kemudian dilanjutkan dengan pendinginan pada udara. Pendinginan ini lebih cepat
daripada pendinginan pada annealing.
3. Spheroidizing
Merupakan process perlakuan panas untuk menghasilkan struktur carbida berbentuk
bulat (spheroid) pada matriks ferrite. Pada proses Spheroidizing ini akan memperbaiki
machinibility pada baja paduan kadar Carbon tinggi. Secara sederhana dapat dijelaskan sebagai
berikut : bahwa baja hypereutectoid yang dianneal itu mempunyai struktur yang terdiri dari
pearlite yang terbungkus oleh jaringan cemented. Adanya jaringan cemented (cemented
network) ini meyebabkan baja (hypereutectoid) ini mempunyai machinibility rendah. Untuk
memperbaikinya maka cemented network tersebut harus dihancurkan dengan proses
spheroidizing.
Spheroidizing ini dilaksanakan dengan melakukan pemanasan sampai disekitar
temperature kritis A1 bawah atau sedikit dibawahnya dan dibiarkan pada temperature tersebut
dalam waktu yang lama (sekitar 24 jam) baru kemudian didinginkan. Karena berada pada
temperature yang tinggi dalam waktu yang lama maka cemented yang tadinya berbentuk plat
atau lempengan itu akan hancur menjadi bola-bola kecil (sphere) yang disebut dengan
spheroidite yang tersebar dalam matriks ferrite.
4. Process Annealing
Merupakan proses perlakuan panas yang ditujukan untuk melunakkan dan menaikkan
kembali keuletan benda kerja agar dapat dideformasi lebih lanjut. Pada dasarnya proses
Annealing dan Stress relief Annealing itu mempunyai kesamaan yakni bahwa kedua proses
tersebut dilakukan masih dibawah garis A1 (temperature kritis A1) sehingga pada dasarnya yang
terjadi hanyalah rekristalisasi saja.
5. Stress relief Annealing
Merupakan process perlakuan panas untuk menghilangkan tegangan sisa akibat proses
sebelumnya. Perlu diingat bahwa baja dengan kandungan karbon dibawah 0,3% C itu tidak bisa
dikeraskan dengan membuat struktur mikronya berupa martensite. Nah, bagaimana caranya agar
kekerasannya meningkat tetapi struktur mikronya tidak martensite? Ya, dapat dilakukan dengan
pengerjaan dingin (cold working) tetapi perlu diingat bahwa efek dari cold working ini akan
timbu yang namanya tegangan dalam atau tegangan sisa dan untuk menghilangkan tegangan sisa
ini perlu dilakukan proses Stress relief Annealing.














Perlakuan Panas & Permukaan Diagram TTT (Time Temperature
Transformation)
March 13th, 2012 Muhammad Khairul Huda Leave a comment Go to comments
Diagram TTT adalah suatu diagram yang menghubungkan transformasi austenit terhadap waktu
dan temperature. Jika dilihat dari bentuk grafiknya diagram ini mempunyai nama lain yaitu
diagram S atau diagram C. Proses perlakuan panas bertujuan untuk memperoleh struktur baja
yang diinginkan agar cocok dengan penggunaan yang direncanakan. Struktur yang diperoleh
merupakan hasil dari proses transformasi dari kondisi awal. Proses transformasi ini dapat dibaca
dengan menggunakan diagram fasa namun untuk kondisi tidak
setimbang diagram fasa tidak dapat digunakan, untuk kondisi seperti ini maka digunakan
diagram TTT. Melalui diagram ini dapat dipelajari kelakuan baja pada setiap tahap perlakuan
panas, diagram ini juga dapat digunakan untuk memperkirakan struktur dan sifat mekanik dari
baja yang diquench dari temperatur austenitisasinya kesuatu temperatur diagram ini menunjukan
dekomposisi austenit dan berlaku untuk macam baja tertentu. Baja yang mempunyai komposisi
berlainan akan mempunyai diagram yang berlainan, selain itu besar butir austenit, adanya
inclusi atau elemen lain yang terkandung juga mempunyai pengaruh yang sama.

Bila baja tersebut kita dinginkan cepat sampai dibawah A dan dibiarkan beberapa saat (
30 detik pada 1250 F) sedemikian rupa jatuh pada daerah dimana perlit baru sebagian terjadi,
kemudian dilanjutkan segera dengan quench maka akan terjadi struktur perlit dan martensit
sebagian. Martensit ini adalah hasil transformasi isotermis sebagian austenit pada suhu
diatas tadi. Lamanya baja berada pada suhu dibawah A akan menentukan banyaknya
pembentukan perlit atau bainit, dan menentukan jumlah austenit sisa yang
membentuk martensit setelah quench. Deengan kata lain perkataan proses pembentukan
perlit/bainit pada suhu tersebut terhenti pada saat quenching.
Garis sebelah kiri menunjukkan saat setelah berapa lama dimulai transformasi dan garis
sebelah kanannya adalah akhir transformasi (100%) pada tiap-tiap suhu. Dilihat dari
bentuk kurva maka untuk suhu diatas 1000F, makin rendah suhu pembentukkan phase
(perlit) lebih cepat dan dibawah 1000F sampai dengan 500F makin rendah suhu, makin lama
untuk pembentukkan phase (disisni terjadi struktur bainite).
Dengan demikian pembentukan martensit bisa terjadi dengan pendinginan cepat dari setiap
suhu tertentu bilamana waktu lama pada suhu-suhu tersebut berada disebelah kiri garis kurva
kanan. Paling cepat terjadinya transformasi ke phase perlit/bainit adalah pada suhu sekitar
1000F (merupakan nosedari kurva). Makin pendek lamanya baja tersebut dibiarkan pada
suhu tertentu, makin besar jumlah austenit dan makin besar pula jumlah martensit yang
terbentuk setelah quenching. Dari diagram, cenderung tidaklah mungkin memperoleh
martensit dengan membiarkan baja tersebut pada suhu tertentu (konstan) untuk waktu yang
sangat lama.
Kembali pada pembicaraan semula, dekomposisi austenit dapat menghasilkan spherodite, perlit,
bainit atau martensit, dan mungkin juga diperoleh campuran. Tempering dari struktur
martensit juga bisa merubah menjadi spherodite, tempered martensite (atau sorbite) atau
martensit dengan secondary troostite.
Baja dengan struktur martensit mempunyai sifat magnetis dan cocok untuk permanent
magnit. Dalam pemakaian teknis baja martensit di-temper untuk memperoleh sifat
ductile dan tonghness. Proses temper dipilih menurut keperluan optimasi antara kekuatan
(hardness) dan keliatan.
Perlit adalah struktur eutektoida 0.8%C yang terdiri dari phase ferit yang diselingi dengan
lapisan-lapisan carbida cement(Fe3C). sedang bainit adalah konstitusi mikro campuran phase
karbida dan phase ferit (ferrite-cementite-aggregate). Dari diagram TTT perlit dan bainit
terbentuk pada suhu konstan (isothermal) dari phase austenit pada suhu diantara A1 dan
dibawah nose. Bila austenit didinginkan cepat ampai pada suhu ini, perlit belum
terbentuk, baru beberapa saat dibiarkan pada suhu ini akan mulai terbentuk (gejala seperti
recrystalisasi dari cold worked metal). Dekomposisi dimulai dari nucleus cementit yang
nantinya membentuk nodule dari ferit, ini terjadi pada boundary kristal austenit atau pada
inclusi. Nucleasasi (pengintian) dan growth (pertumbuhan) dan terjadinya perlit.Nodul perlit
terbentuk terdiri dari plat-plat ferit yang diselingi dengan pelat-pelat cementit.
Pada suhu lebih rendah maka waktu untuk pertumbuhan berkurang sehingga pelat-pelat cementit
dan perit menjadi tipts dan hal ini memberikan gejala meningkatkan kekerasan. Gejala
bertambahnya kekerasan karena suhu dekomposisi austenit yang rendah, sama pada
pembentukan bainit. Pada suhu dekomposisi austenit pada daerah nose akan
menghasilkan campuran perlit dan bainit dalam periode waktu tertentu. Lebih rendah dari suhu
ini (dan masih diatas suhu s) akan dihasilkan bainite. Jadi yang mempengaruhi
pembentukan bainite adalah suhu dimana austenit akan dekomposisi isothermis. Pada suhu
yang lebih tinggi (pada daerah antara nose dan s) dibawah nose, akan terbentuk
mikrostruktur bainite feather like yang disebut high bainite atau upperbainite. Pada suhu
yang lebih rendah akan terbentuk mikrostruktur bainite needle-like atau bainite acicular,
atau disebut low bainite. Struktur bainite ini pada umumnya campuran ferit dan carbida yang
mengelompok bersama yang terbentuk melalui pengintian perit. Diagram TTT dari baja
paduan biasa mempunyai 2 buah nose yaitu nose untuk pembentukan perlit dan nose
untuk pembentukan bainit. Dalam hal ini bisa terjadi bainit pada waktu quenching,
sedang untuk baja carbon struktur bainite baru terjadi dengan proses isothermis.
Dalam diagram TTT, sumbu horizontal adalah sumbu yang menunjukan waktu yang
diperlukan bagi perubahan transformasi austenit pada setiap suhu (dalam sumbu vertikal) ,
atau keadaan transformasi pada setiap perubahan suhu persatuan waktu (kecepatan
pendinginan) pada proses pendinginan. Kecepatan pendinginan makin lambat (kecil) makin
besar waktu yang ditunjukan dalam sumbu tersebut, atau makin kekanan dalam diagram, dan
sebaliknya. Kecepatan pendinginan terkecil untuk memperoleh martensit ditentukan oleh
posisi nose dari diagram S. martensit akan diperoleh pada setiap kecepatan
pendinginan yang sedemikian rupa tidak memotong diagram S tersebut. Kecepatan
pendinginan yang terendah untuk menghasilkan martensit (menyinggung nose) disebut
kecepatan pendinginan kritis (critical cooling rates). Kecepatan pendinginan kritis ini
tergantung dari posisi nose berhubungan erat dengan sumbu waktu (waktu yang diperlukan
untuk transformasi) dan ini ditentukan oleh komposisi, grain size , dan kondisi austenit sebelum
quenching, yang semua ini tergantung dari macam baja.
Bilamana kecepatan pendinginan lebih cepat dari kecepatan kritis maka transformasi
austenit menjadi martensit terjadi pada garis s (martensit start). Pada suhu ini martensit
terbentuk kira-kira 1% lebih rendah dari suhu s jumlah martensit bertambah sampai pada garis
suhu f (martensit finish) dengan 99% martensit. Sesuai dengan garis s dan f yang paralel
horizontal terhadap sumbu waktu, maka untuk kecepatan pendinginan yang lebih besar dari
kecepatan kritis pembentukan tidak banyak tergantung lagi dari waktu atau kecepatan
pendinginan. Bilamana austenit didinginkan sampai pada suhu diantara s dan f dan dibiarkan
pada suhu ini (isothermally colled) maka austenit yang belum menjadi martensit akan menjadi
bainit.
Beberapa unsur seperti carbon dan unsur-unsur paduan lainnya (kecuali Codan Al)
mempengaruhi garis Ms dan Mf. Bila kadar carbon dalam baja naik Ms akan turun, begitu juga
unsur-unsur paduan baja tersebut mempunyai pengaruh yang sama. Pengaruh terhadap suhu Mf
menunjukan gejala yang mirip. Bila suatu baja mempunyai komposisi kimia sedemikian rupa
mempunyai Ms diatas suhu kamar dan Mf dibawah suhu kamar, maka pada proses
dekomposisi austenit tersebut, pada suhu kamar masih terdapat phase austenit (retained austenit).
Hal ini sering terjadi pada heat-treatment high-speed tool steel dan memungkinkan
terjadinya retak. Untuk ini proses dekomposisi dengan metode deep-freezing (dibawah Mf dan
jauh dibawah suhu kamar) diperlukan.
Martensit terbentuk tanpa adanya carbon (carbida cement), seluruh karbon yang tadinya
berada larut dalam -iron masih terlarut interstisi dalam iron. Adanya atom-atom carbon
interstisi ini, lattice martensit merupakan body-centered-tetragonal. Reaksi martensit yang
terjadi pada pendinginan cepat adalah transformasi tanpa pengintian (nukleisasi), pertumbuhan
dan difusi carbon, dan komposisi kimia terlarut dari martensit adalah sama dengan komposisi
pada keadaan larutan padatnya.






HEAT TREATMENT
Posted: 20th March 2012 by jefri yuristianto in Uncategorized
0
Perlakuan panas (Heat Treatment) adalah suatu metode yang digunakan untuk mengubah sifat
fisik, dan kadang-kadang sifat kimia dari suatu material. Aplikasi yang paling umum adalah
untuk material logam walaupun perlakuan panas juga digunakan dalam pembuatan berbagai
materi lain, seperti kaca. Secara umum perlakuan panas adalah memanaskan atau mendinginkan
material, biasanya dalam suhu ekstrem, untuk mencapai hasil yang diinginkan seperti pengerasan
atau pelunakan material. Yang termasuk Teknik Perlakuan Panas adalah Annealing, case
Hardening, precipitation Strengthening, Tempering dan Quenching. Perlu dicatat bahwa
walaupun perlakuan panas sengaja dilakukan untuk untuk tujuan mengubah sifat secara khusus,
di mana pemanasan dan pendinginan dilakukan untuk tujuan mengubah sifat, pemanasan dan
pendinginan sering terjadi secara kebetulan selama proses manufaktur lain seperti pembentukan
panas (Hot forming) atau Pengelasan.
Tujuan :
Untuk mendapatkan sifat-sifat yang di inginkan sesuai dengan yang direncanakan (dalam batas-
batasnya). Untuk mencapai struktur dan sifat mekanis yang dikehendaki dari bahan tersebut,
seperti:
1. Mengeraskan
2. Melunakkan
3. Menghilangkan tegangan sisa
4. Menaikan ketangguhan
5. dll
Prinsip Proses Perlakuan Panas adalah setiap proses pada logam tujuannya untuk memperbaiki
sifat.
Proses perlakuan panas yang berbeda akan menghasilkan struktur mikro yang berbeda pula.
Struktur mikro yang akan ada pada baja akibat proses perlakuan panas adalah ferit, sementit,
perlit, bainit, martensit dan karbida.
Ferit
Terbentuk dari proses pendinginan yang lambat dari austenit (baja hypoeutectoid)
Bersifat lunak dan ulet
Mempunyai konduktivitas panas yang tinggi
Sementit
Senyawa besi dan karbon (Fe
3
C)
Bersifat keras
Pada pendinginan lambat bentuknya lamellar.
Perlit
Campuran antara ferit dan sementti
Pada 0,8% karbon perlit yang tebentuk berupa campuran ferit dan sementit yang tampak seperti
pelat-pelat yang tersusun secara bergantian.
Bainit
Merupakan fasa yang kurang stabil (metastabil)
Diperolah dari austenit pada temperatur yang lebih dari temperatur transformasi ke perlit dan
lebih tinggi dari temperatur transformasi ke martensit.
Hasil transformasi berupa struktur yang terdiri dari ferit dan sementit (tetapi bukan perlit).
Kekerasan bervariasi tergantung pada temperatur transformasinya.
Jika terbentuk pada temperatur yang relatif tinggi disebut upper bainit (strukturnya seperti
perlit yang sangat halus).
Jika terbentuk pada temperatur yang relatif rendah disebut lower bainit (strukturnya
menyerupai martensit temper).
Martensit
Merupakan fasa yang terbentuk akibat karbon larut lewat jenuh pada besi alfa.
Terjadi dengan pendinginan yang cepat
Sel satuannya Body Center Tetragonal (BCT)
Atom karbon dianggap menggeser latis kubus menjadi tetragonal
Makin tinggi konsentrasi karbon, makin banyak posisi interstisi yang terisi sehingga efek
tetragonalitasnya makin besar.
Karbida
Unsur-unsur paduan banyak digunakan untuk baja-baja perkakas (misalnya hot work tool steel,
cold work tool steel, HSS)
Meningkatkan ketahanan aus dan memelihara kestabilan pada temperatur tinggi.
Keberadaan unsur paduan pada baja akan menimbulkan terbentuknya karbida seperti
M
3
C,M
23
C
6
,M6C,M7C
3.

Karbida mempunyai kekerasan yang tinggi
Banyaknya karbida yang terbentuk sangat dipengaruhi oleh persentase karbon dan unsur
paduan serta tergantung jenis karbida yang akan terbentuk.

PELUNAKAN (SOFTENI NG)
Pelunakan: Pelunakan ini dilakukan untuk mengurangi kekuatan atau kekerasan, menghilangkan
tegangan sisa, meningkatkan kekerasan, memulihkan keuletan, perbaikan ukuran butir atau
mengubah sifat-sifat elektromagnetik dari baja.
Mengembalikan keuletan atau menghapus tegangan sisa diperlukan ketika sejumlah besar
pendinginan harus dilakukan, seperti dalam sebuah operasi rolling-cold atau wiredrawing.
Pendinginan dari keseluruhan proses, spheroidizing, normalizing dan hipertemple tempering,
martempering adalah cara utama yang digunakan untuk melunakan baja.
Pendinginan (Annealing)
Pendinginan adalah proses perlahan meningkatkan suhu sekitar 50 C (90 F) di atas suhu
Austenitik garis A
3
atau garis A
CM
dalam kasus baja Hypoeutectoid (baja dengan Karbon
<0,77%) dan 50 C (90 F) ke dalam wilayah austenit-Cementite dalam kasus baja
Hypereutectoid (baja dengan Karbon> 0,77%). Hal ini diadakan pada suhu ini selama waktu
yang cukup untuk semua bahan untuk berubah menjadi austenit atau austenit-sementite sebagai
kasus yang mungkin. Hal ini kemudian perlahan-lahan didinginkan pada laju sekitar 20 C / jam
(36 F / jam) dalam tungku untuk sekitar 50 C (90 F) ke kisaran Ferrite-Cementite. Pada titik
ini, dapat didinginkan di udara suhu kamar dengan konveksi alami.

Struktur butir perlit kasar dengan ferit atau Sementit (tergantung pada apakah eutektoid rendah
atau tinggi). Baja menjadi lembut dan ulet.

Proses Pendinginan
Proses Pendinginan digunakan untuk perlakukan kerja-keras bagian-bagian yang terbuat dari
baja karbon rendah (<0,25% Karbon). Hal ini memungkinkan bagian menjadi cukup lembut
untuk menjalani kerja lebih dingin tanpa patah. Proses pendinginan dilakukan dengan
meningkatkan suhu hanya di bawah wilayah ferit-austenit, garis A
1
pada diagram. Suhu ini
sekitar 727 C (1341 F) sehingga pemanasan ke sekitar 700 C (1292 F) seharusnya cukup.
Hal ini diadakan cukup lama untuk memungkinkan rekristalisasi dari fase ferit, dan kemudian
didinginkan dalam keadaan masih udara. Karena materi tetap dalam fase yang sama di seluruh
proses, perubahan yang terjadi hanya ukuran, bentuk dan distribusi struktur butir. Proses ini lebih
murah daripada pendinginan penuh atau normalisasi karena bahan tersebut tidak dipanaskan
sampai suhu yang sangat tinggi atau didinginkan dalam tungku.
Tekanan Bantuan Pendinginan
Tekanan Bantuan Pendinginan digunakan untuk mengurangi tegangan sisa pada tuangan besar,
bagian las dan bagian bentuk dingin. Bagian tersebut cenderung memiliki tekanan akibat siklus
termal atau kerja pengerasan. Bagian yang dipanaskan sampai suhu sampai 600 650 C (1112-
1202 F), dan ditahan untuk waktu yang lama (sekitar 1 jam atau lebih) dan kemudian perlahan-
lahan didinginkan dalam keadaan masih udara.
Normalizing
proses untuk meningkatkan suhu lebih dari 60 C (108 F), di atas garis A
3
atau garis A
CM

sepenuhnya ke kisaran austenit. Hal ini diadakan pada suhu ini untuk sepenuhnya mengubah
struktur menjadi austenit, dan kemudian dihapus bentuk tungku dan didinginkan pada suhu
ruangan di bawah konveksi alami. Hal ini menghasilkan struktur butir halus dengan perlit
kelebihan ferit atau Cementite. Bahan yang dihasilkan lembut; tingkat kelembutan tergantung
pada kondisi lingkungan pendinginan sebenarnya. Proses ini jauh lebih murah daripada
pendinginan penuh karena tidak ada biaya tambahan pendinginan tungku yang dikontrol.
Perbedaan utama antara pendinginan penuh dan normalisasi adalah bahwa bagian pendinginan
sepenuhnya seragam dalam kelembutan (machinablilty) di seluruh bagian; karena seluruh bagian
pendinginan tungku dikontrol. Dalam kasus bagian dinormalisasi, tergantung pada geometri
bagian, pendinginan adalah non-seragam yang dihasilkan di non-seragam sifat material di
seluruh bagian. Ini mungkin tidak diinginkan jika mesin lebih lanjut yang diinginkan, karena itu
membuat pekerjaan mesin agak tak terduga. Dalam kasus seperti itu adalah lebih baik untuk
melakukan pendinginan penuh.

PENGERASAN (HARDENI NG)
Kekerasan adalah fungsi dari isi Karbon baja. Pengerasan baja membutuhkan perubahan dalam
struktur dari struktur berpusat badan kubik yang ditemukan pada suhu kamar dengan struktur
kubik berpusatpada muka yang ditemukan di wilayah Austenitik. Baja dipanaskan ke wilayah
Autenitic. Ketika tiba-tiba dipadamkan, martensit terbentuk. Ini adalah struktur yang sangat kuat
dan rapuh. Ketika perlahan-lahan dipadamkan itu akan membentuk austenit dan perlit yang
merupakan struktur keras sebagian dan sebagian lembut. Ketika tingkat pendinginan sangat
lambat maka sebagian besar perlit akan sangat lembut.
Pengerasan, yang merupakan
ukuran dari kedalaman kekerasan penuh dicapai, terkait dengan jenis dan jumlah elemen paduan.
Paduan yang berbeda, yang memiliki jumlah konten Karbon yang sama, akan mencapai jumlah
kekerasan maksimal yang sama, namun kedalaman kekerasan penuh akan bervariasi dengan
paduan yang berbeda. Alasan untuk baja paduan bukan untuk meningkatkan kekuatan, tetapi
meningkatkan kekerasan, kekerasan dapat dicapai seluruh materi.
Biasanya ketika baja panas didinginkan, sebagian besar pendinginan terjadi di permukaan,
seperti halnya pengerasan. Hal ini menyebar ke kedalaman materi. Paduan membantu dalam
pengerasan dan dengan menentukan paduan yang tepat seseorang dapat mencapai sifat yang
diinginkan untuk aplikasi tertentu.
Paduan tersebut juga membantu dalam mengurangi kebutuhan untuk pendinginan yang cepat
sehingga menghilangkan distorsi dan retak potensial. Selain itu, bagian tebal dapat mengeras
sepenuhnya.
Proses Umum Pengerasan Selektif
Pengerasan api: Sebuah intensitas api oxy-acetylene tinggi diterapkan ke daerah selektif. Suhu
dinaikkan cukup tinggi berada di wilayah transformasi austenit. Yang benar suhu ditentukan
oleh operator berdasarkan pengalaman dengan melihat warna baja. Perpindahan panas
keseluruhan dibatasi oleh obor dan dengan demikian interior tidak pernah mencapai suhu tinggi.
Wilayah dipanaskan didinginkan untuk mencapai kekerasan yang diinginkan. Tempering dapat
dilakukan untuk menghilangkan kerapuhan.
Kedalaman pengerasan dapat ditingkatkan dengan meningkatkan waktu pemanasan. Sebanyak
6,3 mm (0,25 di) kedalaman dapat dicapai. Selain itu, bagian besar, yang biasanya tidak akan
muat dalam tungku, dapat perlakuan panas.
Induksi Pengerasan: Dalam Induksi pengerasan, bagian baja ditempatkan di dalam kumparan
listrik yang memiliki arus bolak-balik. Ini memberi energi pada bagian baja dan menalikkan
pemanasan. Tergantung pada frekuensi dan arus listrik, tingkat pemanasan serta kedalaman
pemanasan dapat dikendalikan. Oleh karena itu, ini cocok untuk permukaan perlakuan panas.
Rincian perlakuan panas mirip dengan pengerasan api.
Pengerasan Sinar Laser: pengerasan sinar laser adalah variasi lain dari pengerasan api. Sebuah
lapisan fosfat diaplikasikan di atas baja untuk memfasilitasi penyerapan energi laser. Area yang
dipilih dari bagian yang terkena energi laser. Hal ini menyebabkan daerah yang dipilih untuk
memanaskan. Dengan memvariasikan kekuatan laser, kedalaman penyerapan panas dapat
dikontrol. Proses ini sangat tepat dalam menerapkan panas selektif ke daerah-daerah yang perlu
dipanaskan. Selanjutnya, proses ini dapat dijalankan pada kecepatan tinggi, menghasilkan
distorsi yang sangat kecil.
Pengerasan Berkas Elektron: Pengerasan Berkas Elektron mirip dengan pengerasan sinar laser.
Sumber panas adalah sinar elektron energi tinggi.Sinar ini dimanipulasi menggunakan kumparan
elektromagnetik. Proses ini dapat sangat otomatis, tetapi harus dilakukan di bawah kondisi
vakum karena berkas elektron dengan mudah menghilang di udara. Seperti dalam pengerasan
sinar laser, permukaan dapat mengeras sangat tepat baik di kedalaman dan di lokasi.