Anda di halaman 1dari 35

1

BAB I
PENDAHULUAN
Radiografi kontras merupakan sebuah prosedur sinar X yang
menggunakan senyawa khusus, sebuah medium kontras untuk memperjelas
jaringan dan organ yang tidak terlihat jelas. Di masa lalu, usaha ini telah
dilakukan untuk mendeteksi dan melihat perluasan tumor nasofaring
menggunakan radiografi kontras.
1
Agen kontras yang paling berhasil dan banyak digunakan sekarang ini
adalah agen kontras teriodinasi (ICA) yang pertama kali diperkenalkan dalam
praktik klinis di tahun 1950-an. Namun demikian, radiografi kontras sinar X
sebuah lesi kistik tidak pernah dilaporkan sebelumnya.
2

Kista radikuler adalah kista odontogenik yang paling sering ditemukan
pada rahang. Kista tersebut sering ditemukan secara kebetulan dalam
pemeriksaan radiologis rutin karena biasanya kecil dan tanpa gejala, kecuali
bila besar atau terjadi infeksi sekunder. Kista radikuler, yang disebut juga
dengan periapikal biasanya tebentuk pada apeks gigi non vital.
3

Trauma fisik, bahan kimia atau pulpa nekrosis yang tidak dirawat akan
menjadi lesi periapikal. Salah satunya adalah kista radikuler. Kista yang
terjadi akibat trauma disebut sebagai kista traumatic (traumatic cyst). Trauma
ini biasa terjadi akibat benturan/pukulan keras, terjatuh, dan lain-lain.
2

Perjalanan penyakit kista ini cukup lama dan tidak menimbulkan gejala
hingga penderita tidak menyadari adanya pertumbuhan kista akibat trauma
yang pernah dialami. Bila kista ini berada pada apeks gigi sebagai lokasi
yang paling banyak ditemukan seringkali diberikan istilah sebagai kista
radikuler.
4,5

Kista radikuler merupakan kista yang sering dijumpai dirongga mulut,
kuarang lebih 60%-70% dari seluruh kista odontogenik, dengan frekuensi
tersering di rahang atas terutama di region anterior lebih kurang sekitar 60%,
sedangkan pada rahang bawah sering terjadi pada region posterior, namun
kista ini dapat terjadi di region mana saja pada rahang. Insidensi pada pria
lebih tinggi dibandingkan perempuan dan umumnya terjadi pada decade
ketiga dan keempat.
5
Gambaran radiografi kista radikuler menunjukkan adanya osteolytic atau
lesi radiolusen (berbentuk bulat atau oval) dengan pinggiran radiopak yang
terlihat jelas, kecuali jika daerah tersebut sudah terinfeksi maka gambaran
perifer radiopak tidak akan terlihat.
6




3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 RADIOGRAFI KONTRAS
Radiografi kontras merupakan sebuah prosedur sinar X yang
menggunakan senyawa khusus, sebuah medium kontras untuk memperjelas
jaringan dan organ yang tidak terlihat jelas.
1

Injeksi media kontras kontras ke lesi harus diikuti oleh pengisian media
kontras pada satu atau sejumlah kecil lokul. Agen kontras yang paling
berhasil dan banyak digunakan sekarang adalah agen kontras teriodinasi
(ICA) yang pertama kali diperkenalkan dalam praktik klinis di tahun 1950-an.
3

Iodin memainkan sebuah peranan penting dalam sinar X. Jarak atom dari
atom iodin dengan ikatan kovalen adalah 133 pikometer yang berada dalam
rentang gelombang sinar X:10 sampai dengan 10.000 pikometer, oleh karena
itu, sinar X mudah diperkuat dengan automiodin.
7

2.2 KISTA RADIKULER
Kista radikuler adalah kista yang berhubungan dengan peradangan
(inflammatory cyst). Kista tersebut berasal dari sisa-sisa sel epitel Malassez
di ligament periodontal sebagai hasil periodontitis apikalis yang mengikuti
4

kematian pulpa. Kista radikuler yang tertinggal di rahang setelah
pengangkatan gigi penyebab disebut sebagai kista residual.
5

2.2.1 ETIOLOGI dan PATHOGENESIS KISTA RADIKULER
Kista radikuler dapat terjadi akibat factor trauma fisik, kimia atau bakteri
sehingga terjadi kematian pulpa yang diikuti oleh stimulus sel sisa epitel
Malassez yang normalnya terdapat pada ligamentum periodontal. Kista ini
dapat terjadi pada semua usia, namun jarang terjadi pada anak-anak.
8
Secara umum pembentukan kista radikuler terdiri dari tiga tahap, yaitu
tahap inisiasi, tahap pembentukan kista dan tahap pembesaran kista. Pada
tahap inisiasi, sisa-sisa sel Malassez di lagamen periodontal berproliferasi
akibat peradangan di granuloma periapikal. Granuloma periapikal tersebut
merupakan bagian mekanisme pertahanan local tehadap pulpa kronis agar
infeksi tidak meluas. Faktor yang memicu peradangan dan respon imun yang
dapat menyebabkan proliferasi epitel diduga adalah endoktoksin bakteri yang
berasal dari pulpa yang mati. Selanjutnya pada tahap pembentuk kista sisa-
sisa sel Malassez berprolifersi pada dinding granuloma membentuk massa
epitel yang makin membesar. Kurangnya nutrisi terhadap sel-sel epitel di
bagian sentral menyebabkan kematian dan mencairnya sel tersebut sehingga
terbentuk rongga berisi cairan yang dibatasi oleh epitel. Pada tahap
5

pembesaran kista tekanan osmosis diduga merupakan factor yang berperan
penting. Eksudat protein plasma dan asam hialuronat serta produk yang
dihasilkan oleh kematian sel menyebabkan tinginya tekanan osmosis pada
dinding rongga kista yang pada akhirnya menyebabkan resorpsi tulang dan
pembesaran kista.
5,9

2.2.2 TANDA dan Gejala
a. Tanda
1. Gigi non-vital, berubah warna dan goyang
2. Ada sisa akar yang bertahan
3. Terlihat menggelembung, saat ditekan ada cairan
4. Semakin besar kista akan terbentuk pembengkakan yang keras di
intra oral dalam arah bucal maupun lingual
5. Ekspansi lebih lanjut akan menyebabkan erosi pada tulang dan
menimbulkan fluktuasi
6. Gigi yang bersangkutan terasa nyeri saat diperkusi, bila kista
terinfeksi


6

b. Gejala
1. Kista radikuler tidak memiliki gejala dan ditentukan pada
pemeriksaan radiografi
2. Sakit bila terdeteksi
3. Perubahan warna gigi akibat hilangnya vitalitas
4. Cairan purulent dan bau akan keluar bila ada drainase spontan
pada pembengkakan

2.2.3 PENEGAKKAN DIAGNOSIS
a. Gambaran Klinis Kista Radikuler
Kebanyakan pada penyakit kista radikuler tersebut tidak terdapat
gejala-gejala yang signifikan (asimptomatik), terutama pada kista yang
berukuran kecil. Hal ini baru akan terlihat setelah dilakukannya
pemeriksaan rontgen foto pada pasien, kecuali jika kista tersebut
bernanah, di mana rasa sakit terjadi seperti pada gejala yang biasa
ditunjukkan. Kista yang besar akan menghasilkan pembengkakan pada
bagian bukal dan meluas hingga bagian lingual atau palatal.
Pembengkakan ini terjadi sebagai bentuk perluasan pada dasar kortikal
bukal, yang menyebabkannya menjadi tipis dan dapat menimbulkan
bunyi cracking (crepitus). Jika tulang sudah benar-benar hancur
7

maka kista tersebut akan terhubung dengan periosteum dan mukosa
pada daerah tersebut akan terlihat berwarna merah kebiru-biruan.
10

Pada pemeriksaan klinis, hanya kista yang agak besar yang
menimbulkan benjolan intra oral. Mukosa di atasnya berwarna normal.
Kista yang lebih besar dapat menyebabkan pembengkakan ekstra pral
bahkan asimetri wajah. Bila dinding kista telah mendesak korteks tulang,
pada palpasi dapat terjdi pingpong ball phenomenon. Apabila telah
menembus korteks tulang, kista tampak berwarna kebiruan dan teraba
lunak bahkan dapat terjadi fraktur patologis. Anastesi atau parastesi pada
bibir dapat terjadi bila kista menekan saraf sensoris perifer yang
berdekatan. Bila terinfeksi bias timbul rasa sakit dan terbentuk fistula
tempat keluarnya cairan kista. Maloklusi dapat ditemukan karena
perubahan letak dan kegoyangan gigi.
11,12
b. Gambaran Radiografis Kista Radikuler
Secara radiologi, kista radikuler yang kecil atau sedang
memperlihatkan gambaran radiolusen berbentuk bulat atau oval dengan
batas radioopak yang jelas. Batas radioopak ini bersatu dengan lamina
dura gigi penyebab. Pada kista yang terinfeksi batas radioopak ini menjadi
difus sehingga tidak terlalu jelas terlihat. Kista yang besar akan
memperlihatkan gambaran radiolusen yang tidak teratur dan sering
8

melibatkan struktur lain seperti sinus maksilaris dan kanalis mandibularis.
Pada defk yang luas dibutuhkan bone graft sebagai perawatan yang
ideal.
11,12

Pada pemeriksaan radiografi menggunakan bahan kontras, kistra
radikuler terlihat sebagai gambaran bulat, berbatas halus, densitas
radiografiknya rata.
13


9



10


c. Aspirasi pada Isi Kantung Kista
Sebagai tambahan dari pemeriksaan klinis dan radiologi, aspirasi
terhadap isi kantung kista tersebut merupakan diagnosis tambahan yang
sangat berharga. Kista dengan ukuran yang lebih besar dari 1,5-2 cm,
sedikit atau banyaknya cairan, tetap dapat diaspirasi untuk mencegah
timbulnya lesi yang lebih padat lainnya.
14

2.2.4 PENATALAKSANAAN KISTA RADIKULER
a. Rencana Perawatan pada Kista Radikuler
Terdapat dua teknik pembedahan yang dapat digunakan dalam
pengangkatan kista yaitu enukleasi dan marsupialisasi.
15

2.1 Inukleasi
Merupakan teknik yang melibatkan seluruh pengangkatan kista dan
11

penyembuhan luka sebagai tujuan utamanya. Metode ini merupakan
metode yang paling memuaskan pada perawatan kista dan diindikasikan
pada semua kasus yang melibatkan kista, dimana dinding kista akan
diangkat tanpa melukai gigi didekatnya dan struktur anatomi lainnya.
Prosedur pembedahan pada perawatan kista dengan inukleasi terdiri dari
empat tahap, yaitu:
a. Refleksi pada mukoperiosteal flap
b. Mengangkat tulang dan bagian padat pada kista
c. Inukleasi pada kantung kista
d. Perawatan luka dan suturing
Setelah melihat hasil radiografi untuk menentukan lokasi yang
tepat dan ukuran lesi, dibuatlah trapezoidal flap, di mana ukuran kista
dapat menetukan akses yang memadai serta visualisasi luas bidang
bedah. Kemudian setelah refleksi pada mukoperiosteum, tertutupnya
tulang oleh lesi dapat dievaluasi, seperti yang disebutkan di atas,
dapat berbentuk normal, tipis, atau benar-benar sudah hancur.
Pada tulang yang normal, round bur digunakan untuk
mengangkat bagian kortikal bukal yang menutupi kista, dan
tergantung dari besarnya kista tersebut, rongeur dapat digunakan untuk
memperluas pembuatan saluran ke osseous. Pembuatan saluran ke
osseous haruslah cukup lebar agar semua bagian rongga kista dapat
12

terjangkau dan mencegah kesulitan pada saat pengangkatan.
Jika dinding tulang sudah tipis dan mengalami perforasi, maka
pengangkatan tulang dilakukan dengan cara perifer menggunaka rongeur
hingga mencapai tulang yang padat. Kuret digunakan pada inukleasi
pada kista yang berukuran kecil, sedangkan pada kista yang berukuran
besar,penggunaan broad end pada elevator periosteal banyak diminati,
di mana diletakkan di dalam kavitas dan menekan dengan lembut
diantara dinding kista dan tulang, sementara kista dipegang dengan hati-
hati menggunakan gunting.
Setelah pengangkatan kista, kuret digunakan untuk memeriksa
adanya sisa- sisa kista pada kavitas, dan irigasi yang banyak dengan
menggunakan saline solution lalu penjahitan/suturing dengan mengikuti
bentuk flap.
Teknik pembedahan pada pengangkatan kista mandibular hampir
sama dengan yang dijelaskan di atas.

2.2 Marsupialisasi
Metode ini biasanya digunakan untuk mengangkat kista yang
berukuran besar dan memerlukan pembukaan jalur pembedahan yang
tepat di atas lesi. Untuk pembuatan jalur bedah diawali dengan
pembuatan insisi berbentuk circular, dimana termasuk mukoperiosteum,
13

tulang yang mengalami perforasi, dan dinding respektiv pada kantung
kista. Setelah prosedur ini, isi dari kista lalu dikeluarkan, dan penjahitan
disekitar perifer kista, mukosa periosteum dan dinding kista secara
bersamaan. Setelah itu lubang kista diirigasi dengan saline solution dan
dibungkus dengan iodoform gauze, dimana nantinya akan dibuka satu
minggu kemudian bersama bekas jahitan. Selama periode ini, bekas luka
akan mengalami proses penyembuhan dengan membangun penghubung
yang permanen. Irigasi pada lubang kista dilakukan beberapa kali dalam
sehari untuk menjaganya tetap bersih dari debris makanan dan
menghindari infeksi potensial.

b. Gambar Penatalaksanaan Kista Radikuler
1. Inukleasi

Gambar (1) Gambar (2)
14


Gambar (3) Gambar (4)

Gambar (5) Gambar (6)
15


Gambar (7) Gamabr (8)
Keterangan Gambar:
1. Gambar radiografi yang menunjukkan lesi redikuler pada area M1
rahang bawah
2. Gambaran klinis kasus sesuai dengan gambar radiografi pada
gambar (1)
3. Insisi dan refleksi pada mukoperiosteum
4. Pengeboran untuk pembuatan lubang untuk memindahkan bucal
alveolar plate
5. Penyelesaian pembuatan jalur pada osseus, setelah
menggunakan fissure bur pada saat pembuatan lubang
6. Pengangkatan lesi dengan bantuan hemostat dan kuret
7. Bidang pembedahan setelah pemindahan lesi
8. Penjahitan luka dengan interrupted suture
16


2. Marsupialisasi

Gambar (1) Gambar (2)


Gambar (3) Gambar (4)

17


Gambar (5) Gambar (6)


Gambar (7) Gambar (8)

Keterangan Gambar:
1. Gambaran radiografi menunjukkan adanya kista pada
mandibula. Perawatan dengan malsupialisasi emrupakan
indikasi kasus ini
18

2. Insisi mucosa pada daerah di sekitar mukosa dan periosteum
3. Pembukaan buccal cortical plate dan pengambilan bagian
tulang dengan round bur
4. Perluasan jalur pada osseus dengan rongeur
5. Pengangkatan kista setelah pengambilan tulang
6. Penjahitan (suturing) pada daerah luka
7. Membalut lubang kista dengan iodoform gauze
8. Lubang kista setelah insersi gauze

2.3 LAPORAN KASUS
Suatu laporan kasus menunjukkan seorang perempuan berusia 45 tahun
berkunjung ke departemen penyakit mulut dan radiologi, Vasantdada Patil
Dental College and Hospital, Sangli dengan keluhan utama pembengkakan
di regio palatal. Pasien mengamati adanya pembengkakan kecil di palatal 1
bulan lalu yang mengalami pertambahan ukuran secara bertahap. Pasien
tidak merasakan adanya sesuatu yang keluar dari pembengkakan. Pasien
tidak memiliki riwayat rasa sakit dan demam. Pasien mengatakan dia
mengalami trauma di regio anterior rahang pada usia 14 tahun. Riwayat
medis menunjukkan pasien mengalami hipertensi dan sedang menggunakan
medikasi (Atenolol tablet 25 mg O.D.) selama 5 tahun terakhir.
Pada pemeriksaan umum dan ekstraoral tidak menunjukkan abnormalitas.
Pemeriksaan intraoral (Gambar 1) menunjukkan pembengkakan oval soliter
19

yang terletak di posterior papilla insisivum (palatal) di bagian kanan palatum
durum yang meluas dari raphae mediopalatinal ke medial menuju gigi
premolar pertama dan kedua kanan rahang atas di bagian lateral. Secara
anteroposterior, pembengkakan meluas dari posterior papilla insisivum ke
regio premolar kedua kanan atas. Pembengkakan tersebut berukuran 1,5 cm
x 1 cm. Pembengkakan tersebut memiliki batas jelas. Warna pembengkakan
adalah merah muda yang sama dengan mukosa palatal sekitar. Permukaan
pembengkakan halus. Tidak dirasakan denyut pada pembengkakan. Jaringan
sekitar terlihat normal. Hasil pengamatan yang didapatkan dilakukan melalui
palpasi. Pembengkakan tidak terasa sakit dan memiliki variasi konsistensi,
sebagai contoh lunak di tengah dan sekeras tulang di bagian perifer. Krepitus
dapat dirasakan. Nodus limfe regional tidak dapat dipalpasi. Pemeriksaan gigi
menunjukkan gigi insisivus sentral kanan atas mengalami diskolorasi
sempurna (Gambar 2).

Gambar 1. Pembengkakan dengan batas jelas diamati di anterior palatum
posterior terhadap papilla insisivum.
20


Gambar 2. Gigi insisivus sentral kanan atas dengan diskolorasi secara
keseluruhan.

Gigi-geligi lain tergolong normal. Uji vitalitas pulpa elektrik dengan alat uji
vitalitas pulpa digital menunjukkan gigi insisivus sentral dan lateral kanan
atas tidak vital. Berdasarkan riwayat dan pemeriksaan klinis, diagnosis
provisional kista radikuler ditetapkan. Abses ruang palatal, kista
nasopalatinus, kista mediopalatinus, karsinoma mukoepidermoid, dan
mukokel ditetapkan sebagai diagnosis banding. Pemeriksaan yang dilakukan
adalah radiografi periapikal intraoral, radiografi oklusal, FNAC (fine needle
aspiration cytology) pada pembengkakan, analisis protein dari aspirat, dan
radiografi kontras pada lesi.
Radiografi periapikal intraoral (Gambar 3) di regio yang sama
menunjukkan bayangan radiolusen oval, berbatas jelas dengan kortikasi yang
jelas berukuran 1,9 x 1,2 cm (diukur pada diameter terbesar) di regio
periapikal gigi insisivus sentral dan lateral kanan atas. Garis radiopak yang
21

melewati bayangan radiolusen di sepertiga superior dapat diamati. Resorpsi
akar internal dan eksternal pada gigi insisivus sentral kanan atas dapat
diamati. Saluran akar gigi insisivus lateral kanan atas nampak mengalami
kalsifikasi secara keseluruhan. Radiografi oklusal anterior maksila (Gambar
4).


Gambar 3. Radiografi periapikal intraoral menunjukkan bayangan radiolusen
oval berbatas jelas, dan cukup terkortikasi berukuran 1,9 x 1,2 cm (diukur
pada diameter terbesar) di regio peripaikal gigi insisivus sentral dan lateral
kanan atas. Garis radiopak yang melewati bayangan radiolusen di sepertiga
superior dapat diamati.

22



Gambar 4. Radiografi oklusal anterior maksila menunjukkan bayangan
radiolusen oval, berbatas jelas, dan cukup terkortikasi di regio periapikal gigi
insisivus sentral dan lateral kanan atas. Garis radiopak yang melewati
banyan radiolusen di sepertiga posterior merupakan tanda lesi multilokuler.

Berdasarkan hasil pengamatan menggunakan radiografi periapikal
intraoral dan garis radiopak yang melewati bayangan radiolusel di sepertiga
superior, lesi tersebut merupakan lesi multilokuler.
Aspirasi positif dapat membedakan antara kista dan tumor. Warna dan
kandungan aspirat dapat menjadi alat diagnostik untuk kista tertentu,
sehingga kami memutuskan untuk melakukan FNAC (fine needle aspiration
cytology). Permukaan palatum dianestesi menggunakan spray anestesi
topikal lignokain 4%. Jarum gauge 21 yang dipasang pada syringe 10 ml
sekali pakai diinsersikan melalui fenestrasi yang terdapat di pertengahan
pembengkakan. Cairan yang didapatkan berwarna jerami yang memiliki
23

sejumlah granul mengkilap yang merupakan tanda kristal kolesterol (Gambar
5).

Gambar 5. Cairan berwarna jerami dengan sejumlah granul mengkilap yang
didapatkan sewaktu melakukan aspirasi.

Cairan ditempatkan pada slide dan diamati menggunakan mikroskop cahaya
dengan lensa 10x dan 40x dan menunjukkan kristal kolesterol dengan tepi
tidak beraturan (Gambar 6).

Gambar 6. Foto mikro yang menunjukkan kristal kolesterol dengan tepi tidak
beraturan dalam perbesaran 40x.

Analisis protein aspirat menunjukkan kandungan protein 6,5 m/dl yang
merupakan tanda kista non-keratinisasi. Untuk mengetahui apakah garis
radiopak IOPA dan radiografi oklusal menunjukkan septa dalam lesi atau
superimposisi oleh struktur anatomi normal dan juga untuk menentukan
24

perluasan lesi, kami memutuskan untuk melakukan radiografi kontras lesi
kistik.

2.3.1 Penggunaan Radiografi Kontras pada Laporan Kasus
Sebelum inisiasi prosedur, pasien diberikan pertanyaan mengenai alergi
terhadap makanan laut dan iodine. Pasien tidak memiliki riwayat gangguan
tiroid dan tidak menunjukkan tanda dan gejala gangguan tiroid. Untuk
prosedur ini, peneliti memutuskan untuk menggunakan Urografin 76%
(larutan aquaeous 0,1g sodium amidotrizoat dan 0,66 g meglumin
amidotrizoat (sodium diatrizoatdan meglumin diatrizoat) sebagai agen
kontras. Mukosa palatal diberikan larutan antiseptik Betadine oral. Urografin
dihangatkan dalam inkubator dengan suhu 37
o
C. Sebanyak 1 ml Urografin
diinjeksikan ke lesi menggunakan jarum gauge 26 dan syringe 2 ml sekali
pakai dalam periode 1 menit. Titik pemasukan jarum dilakukan melalui
fenestrasi di pertengahan lesi. Reaksi hipersensitivitas tidak diamati selama
dan setelah prosedur. Radiografi periapikal intraoral dan radiografi oklusal
maksila dilakukan segera setelah injeksi agen kontras. Radiografi dilakukan
pada angulasi vertikal dan horizontal yang sama dengan parameter paparan
yang sama dengan radiografi diagnostik. Seluruh radiografi diproses
menggunakan film processor otomatis Kodak. Kedua radiografi menunjukkan
gambaran uniformis kavitas kistik dari media kontras yang diinjeksikan
melalui tampilan bayangan radiopak homogen (Gambar 7).
25


Gambar 7. Kedua radiografi menunjukkan kavitas kistik yang terisi secara
uniformis oleh media kontras yang diinjeksi melalui tampilan banyangan
radiopak homogen. Lesi terlihat sebagai lesi unilokuler.

Lesi terlihat sebagai lesi unilokuler. Oleh karena itu, radiografi kontras lesi
mengekslusikan kemungkinan lesi sebagai lesi multilokuler yang sekali yang
berhubungan dengan diagnosis kistaradikuler (tampilan unilokuler paling
umum diamati). Pasien tergolong stabil setelah prosedur dan tidak diamati
komplikasi setelah prosedur. Radiografi setelah prosedur juga dilakukan
untuk memastikan kavitas telah kosong. Setelah itu, pasien dirujuk ke
departemen bedah mulut, lalu pasien menjalani prosedur enukleasi kista, dan
spesimen dikrim untuk menjalani pemeriksaan histopatologis. Hasil
pemeriksaan menegaskan spesimen tersebut sebagai kista radikuler
(Gambar 8).
26



Gambar 8. Foto mikro yang menunjukkan stratified squamous epithelial lining
non-keratinisasi dengan berbagai ketebalan. Susunan epitel mengalami
proliferasi dan menunjukkan adanya sekat.

2.3.2 Perawatan yang Dilakukan pada Laporan Kasus

Gigi insisivus sentral dan lateral kanan atas diekstraksi akibat
ketidakmampuan untuk merestorasi gigi tersebut secara endodontik. Setelah
itu, perawatan saluran akar intensional dilakukan pada gigi kaninus kanan
atas untuk pembuatan gigitiruan. Pasien tidak merasakan gejala selama 9
bulan terakhir. Pemeriksaan radiografi setelah 9 bulan pada waktu
pemantauan menunjukkan penurunan dimensi radiolusensi dan keberadaan
pembentukan tulang baru (Gambar 9).
27


Gambar 9. Radiografi pemantauan setelah 9 bulan menunjukkan penurunan
dimensi radiolusensi dan adanya pembentukan tulang baru.

2.3.3 Pembahasan

Kista umum terjadi di regio anterior maksila dalam dekade ketiga sampai
dengan kelima, dan lebih umum terjadi pada laki-laki.
18
Perkembangan
pembengkakan tulang terjadi secara perlahan atau dapat bersifat
asimptomatik, dan lesi ini dapat diamati secara tidak sengaja pada radiografi
periapikal. Karena kista mengalami peningkatan ukuran, tulang yang
menutupi menjadi sangat tipis walaupun terdapat deposisi tulang
subperiosteal dan pembengkakan menunjukkan kekenyalan dan jika kista
telah menyebabkan erosi pada tulang secara keseluruhan, maka akan
terdapat fluktuasi. Di maksila, pembesaran di bukal atau palatal dapat terjadi,
28

sedangkan di mandibula pembesaran dapat terjadi di labial atau bukal, dan
jarang di lingual.
16
Dalam laporan kasus ini, pembesaran palatal dan fenestrasi (bone
window) dapat dipalpasi secara klinis di pertengahan pembengkakan.
Sebuah prasyarat untuk diagnosis kista radikulerr adalah keberadaan sebuah
gigi dengan pulpa non-vital.
16

Aspirasi kista radikuler menunjukkan cairan berwarna jerami dengan
granul mengkilap (kristal kolesterool). Kristal tersebut diidentifikasi oleh tepi
kristal yang tidak beraturan. Secara radiografi, sejumlah kista radikuler terlihat
sebagai lesi radiolusen unilokuler berbentuk bulat atau oval di regio
periapikal. Perbedaan di antara granuloma dan kista sulit dilakukan secara
radiografi walaupun sejumlah peneliti mengatakan jika lesi berukuran lebih
dari 2 cm, maka lesi tersebut cenderung merupakan sebuah kista.

Gambaran
kista radikuler dan granuloma dengan menggunakan bahan kontras
menunjukkan kista radikuler terlihat sebagai gambaran bulat, berbatas halus,
densitas radiografinya rata, sedangkan pada granuloma periapikal bentuknya
tidak teratur, batas dan densitas radiografinya tidak rata.
13,17
Injeksi media kontras ke lesi harus diikuti oleh pengisian media kontras
pada satu atau sejumlah kecil lokul, tetapi tidak pada kavitas secara
keseluruhan. Sebaliknya, radiografi setelah injeksi menunjukkan medium
kontras mengisi kavitas secara keseluruhan.
7
29

Dalam kasus ini, peneliti menggunakan agen kontras teriodinasi.
Urografin 76% (1 ml Urografin mengandung 0,1 sodium amidotrizoat dan
0,66 g meglumin amidotrizoat (sodium diatrizoat dan meglumin diatrizoat)
dalam larutan aquaeous. Larutan tersebut juga digunakan untuk sialografi.
Kontra indikasi Urografin adalah hipertiroidisme, decompensated cardiac
insufficiency. Reaksi berlawanan penggunaan Urografin adalah
hipersensitivitas, disfungsi tiroid. Reaksi berat dapat terjadi pada pasien
lansia. Penggunaan secara intravaskular dapat memperparah gagal ginjal
akut.
7

Agen tersebut dapat menyebabkan asidosis laktat pada pasien yang
mengonsumsi biguanida. Urografin tidak untuk digunakan dalam mielografi,
ventrikulografi atau sisternografi karena agen tersebut nampak memicu
gejala neurotoksik dalam pemeriksan tersebut. Selama prosedur intravena,
sebanyak 50 ml media kontras dapat diinjeksikan secara aman.
18

Dalam kasus ini, peneliti menginjeksikan sejumlah kecil kuantitas media
kontras yang tidak nampak menyebabkan efek sistemik selain
hipersensitivitas. Walaupun granuloma periapikal dan kista radikuler tidak
dapat dibedakan menggunakan tampilan radiografi saja, jika radiolusensi
berukuran 1,6 mm atau 200 mm atau lebih,maka lesi tersebut lebih
cenderung dikategorikan sebagai kista.Dalam kasus ini, diameter terbesar
lesi yang dinilai berdasarkan radiografi adalah 1,9 mm yang mendukung
diagnosis peneliti.
19,20

30

Abses ruang palatum menyebabkan rasa sakit, lunak dan fluktuan, dan
mengeluarkan pus ketika dilakukan aspirasi. Kista medipalatina merupakan
sebuah kista tulang yang tidak umum terjadi dan berkembang di median
palatum posterior dari papilla palatine. Pasien dengan kista mediopalatina
mengeluhkan pembengkakan tanpa rasa sakit disertai pertambahan ukuran
di palatum. Lesi tersebut terlihat sebagai radiolusensi unilokuler di median
palatum secara radiografi. Aspirasi kista akan menghasilkan sebuah cairan
berwarna kuning. Dalam kasus ini, pembengkakan terjadi di lateral dari garis
median berdasarkan pemeriksaan klinis dan radiografi. Selain itu, aspirasi
kista dalam kasus ini menghasilkan cairan berwarna jerami.
21

Kista kanal insisivum dan papilla palatinal merupakan subklasifikasi kista
nasopalatina yang berasal dari epitel yang tetap pada setelah disintegrasi
duktus nasopalatinus. Struktur tersebut merupakan struktur fetal awal yang
terdapat dalam kanal insisivum.

Kista kanal insisivus diamati sebagai
radiolusensi berbentuk hati pada radiografi oklusal dan periapikal di area gigi
insisivus sentral maksila. Seringkali, kista tersebut terletak di atas apeks gigi
insisivus sentral. Kista tersebut berhubungan dengan gigi vital.
22
Dalam kasus ini, kedua gigi insisivus sentral dan lateral tidak vital. Kista
papilla palatinus terletak dalam jaringan lunak, sehingga tidak dapat diamati
pada radiografi. Karsinoma mukoepidermoid dan mukokel dimasukkan dalam
urutan terakhir dalam diagnosis banding. Kedua kondisi patologis tersebut
tidak mengeluarkan cairan sewaktu dilakukan aspirasi. Karsinoma
31

mukoepidermoid low grade dapat menghasilkan cairan lengket, kental, dan
bening (mukous terkonsentrasi). Tumor tersebut seringkali diamati di aspek
lateral dari posteror palatum di regio foramen palatina anterior. Dalam kasus
kami, pembengkakan terletak di anterior dan aspirasi menghasilkan sebuah
cairan berwarna jerami.
22


















32


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemeriksaan radiografi kontras pada laporan kasus
tersebut, pasien mengalami kista radikuler. Dimana kista radikuler
merupakan sebuah lesi inflamasi kronis dengan sebuah kavitas patologis
yang tertutup, tersusun secara parsial atau sempurna oleh stratified
squamous epithelium non-keratinisasi. Secara radiografi, sejumlah kista
radikuler terlihat sebagai lesi radiolusen unilokuler berbentuk bulat atau oval
di regio periapikal.

3.2 Saran
Penggunaan radiografi kontras saat ini masih kurang dilakukan
dikarenakan bahan kontras yang digunakan masih dapat menyebabkan efek
samping terhadap pasien. Untuk itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
dengan menggunakan radiografi kontras tersebut.




33

DAFTAR PUSTAKA

1. Gordon evison. Contrast radiography of the nasopharynx. Postgrad,
Med.J (November 1968) 44.825-829
2. Christiansen C. X-Ray contrast media-a overview. Toxicology.
2005:209(2). 185-187
3. Ellis E. Surgical management of oval pathologic lesions. Dalam
Paterson LJ. Ellis E, Hupp J, Tucker M : Contemporary oral and
maxillofacial surgery. 4
th
ed. San Francisco : Mosby Inc. 2003. P.480-
81
4. Nur asmah, Moch richatul, Fadil, Endang S, Milly A. Management of a
radicular cyst of upper lateral incisive by using calcium hydroxide.
Bagian konservasi Unpad. 2012
5. Shear M. Cyst of the oral and maxillary regions. 4
th
ed.
Copenhagen:Blackwel Munksgaard:2007.P.123-142
6. E
7. Dean JA, ed. Langes Handbook of Chemistry. 14
th
ed. New York,
NY:McGraw Hill; 1992; 4.18
8. Chung W, Cox DP, Ochs MW. Odontogenic cyst, tumours and related
jaw lesion. In: Baley BJ, Jhonson JT, Head and neck otolaryngology.
Lippincot Williams & Wilkins. Volume 1.2006.P.1570-83
9. Nuryana E, Syafriadi M. Pembentukan kista radikuler dalam
34

granuloma dental. Jurnal PDGI. Edisi khusus kongres PDGI XXIII
2008. P.61-65
10. Fragiskos FD. Oral surgery. Chapter 12. Heideberg:308-301
11. Laskin D. Oral and maxiilofacial surgery. Vol.2. San Francisco: The
C.V Mosby Company; 1985. P.123-142
12. Pedlar J. Oral and maxillofacial surgery an objective-based
textbook. New York: Churchill Livingstone; 2001. P.107-115
13. Forsberg A. Hagglund F. Deferential diagnosis of radicular cyst and
granuloma : Use of x-ray contras medium. Dent Radiol. 1982;11; 89-
92
14. Alexandridis C. Surgical Treatment of Radicular Cysts. In : Oral
Surgery . Fragiskos D. Fragiskos (Ed.) Greece. Springer ; 2007. p.
301- 8
15. Joshi NS. Sujan SG. Rachappa MM. An unusual case report of
bilateral mandibular radicular cyst. Contemp Clin Dent 2011:2: 59-62
16. Shear M. Cysts of the oral regions, 3 edition. Boston. Wright. 1992.
Pp 136-70
17. Cawson RAM Odekk E, Porter S. Cawsons essentials of oral
pathology and oral medicine. 7
th
ed. Churchill Livingstone, Edinburgh.
2002; 209(2) 185-187
18. Data sheet provided by manufacturers of Urografin
19. Kizil Z, Energin: An evaluation of radiographic and histopathological
35

findings in periapical lessions. J Marmara Univ. Dent Fac 1:16-23,
1990
20. Lalonde E R : A new rationale for the management of periapical
granulomas and cyst; an evaluation of histopathologis and
radiographic findings-J Am Dent Assoc-80; 1056-1059, 1970
21. Norman K, Wood, Paul W.Goaz. Defferential diagnosis of oral and
maxillofacial lesion. 5
th
ed. Chapter 19. Pages no,326
22. Norman K, Wood, Paul W.Goaz. Defferential diagnosis of oral and
maxillofacial lesion. 5
th
ed. Chapter 19. Pages no303-305