Anda di halaman 1dari 8

LP batu saluran kemih

Dalam kehidupan manusia dibutuhkan keadaan yang seimbang (homeostasis) yang dilakukan oleh
organ tubuh kita, salah satunya adalah ginjal. Ginjal merupakan organ vital yang berperan dalam
mempertahankan volume dan komposisi cairan ekstrasel dalam batas-batas normal. Bila
fungsi ginjalterganggu, maka akan timbul ketidak- seimbangan yang salah satu akibatnya akan
timbul batu.

Batu perkemihan dapat timbul pada berbagai tingkat dari sistem perkemihan (ginjal, ureter dan
kandung kemih). Bila terjadi pada kandung kemih dapat menyebabkan penyumbatan dan
pengosongan kandung kemih tidak sempurna, sehingga dapat menyebabkan terjadinya kerusakan
pada ginjal.

Insiden terbentuknya batu menurut A. Suwito mendapatkan angka prevalensi batu saluran kencing
51,9/10.000 penduduk. Pada pria lebih banyak ditemukan batu ureter dan buli-buli sedangkan pada
wanita lebih sering ditemukan batu ginjal. Terbentuknya batu dapat dipengaruhi oleh faktor
intristik seperti : usia, jenis kelamin, ras, dan oleh faktor ekstristik seperti: lokasi geografis,
pekerjaan, iklim, ekonomi. Puncak insiden terjadi pada usia 30 50 tahun.

Gejala awal terbentuknya batu jarang dirasakan oleh penderita, mungkin hanya perubahan dalam
pola perkemihan, namun bila tidak ditindaklanjuti maka dapat menimbulkan keadaan yang parah,
seperti nyeri yang hebat, terjadi penyumbatan saluran kemih bahkan terjadi kerusakan ginjal.

Peran perawat dalam hal ini adalah memberikan penyuluhan tentang: pencegahan terjadinya batu,
seperti mengkonsumsi cairan dalam jumlah banyak (3 4 liter/hari), diit yang seimbang/sesuai
dengan jenis batu yang ditemukan, aktivitas yang cukup serta segera memeriksakan diri bila timbul
keluhan pada saluran kemih agar dapat segera ditangani. Bagi penderita yang mengalami batu pada
kandung kemih agar selalu menjaga kesehatannya agar tidak terjadi pembentukan batu yang baru
pada kandung kemih.
TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk memperdalam anatomi fisiologi penyakit batu saluran kemih yang merupakan
dasar pengkajian dan intervensi keperawatan.
2. Memperoleh dasar atau acuan dalam merawat pasien yang menderita batu saluran kemih,serta
memberikan asuhan keperawatan yang tepat sesuai dengan konsep-konsep yang diperoleh dari
perkuliahan dan literatur.
3. Sebagai salah satu syarat dari mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah IV (DKA 303).

C. METODE PENULISAN
Dalam penulisan makalah ini, kelompok menggunakan metode dengan studi kepustakaan
yaitu menggunakan beberapa literatur yang digunakan sebagai referensi.

D. SISTEM MATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan makalah ini diawali dengan BAB I Pendahuluan yang berisi tentang: Latar
Belakang, Tujuan Penulisan, Metode Penulisan dan Sistematika Penulisan. BAB II Tinjauan Teoritis
yang terdiri dari: Konsep Dasar dan Konsep Asuhan Keperawatan. Dalam konsep dasar medik berisi
tentang definisi, anatomi fisiologi, etiologi, patofisiologi, tanda dan gejala, patoflow diagram, tes
diagnostik, penatalaksanaan dan komplikasi. Pada konsep dasar asuhan keperawatan dibahas
mengenai pengkajian, diagnosa keperawatan dan rencana keperawatan, dischar planning, dan
diakhiri dengan Daftar Pustaka.

TINJAUAN TEORITIS
BATU SALURAN KEMIH

A. KONSEP DASAR MEDIK

1. Pengertian
Batu saluran kemih adalah adanya batu di traktus urinarius. (ginjal, ureter, atau kandung kemih,
uretra) yang membentuk kristal; kalsium, oksalat, fosfat, kalsium urat, asam urat dan
magnesium.(Brunner & Suddath,2002).
Batu saluran kemih atau Urolithiasis adalah adanya batu di dalam saluran kemih. (Luckman dan
Sorensen)
Dari dua definisi tersebut diatas saya mengambil kesimpulan bahwa batu saluran kemih
adalahadanya batu di dalam saluran perkemihan yang meliputi ginjal,ureter,kandung kemih dan
uretra.

2. Etiologi
Penyebab terbentuknya batu saluran kemih sampai saat ini belum diketahui pasti, tetapi ada
beberapa faktor predisposisi terjadinya batu pada saluran kemih yaitu:
a. Infeksi
Infeksi saluran kencing dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan menjadi inti
pembentukan batu saluran kemih . Infeksi bakteri akan memecah ureum dan membentuk amonium
yang akan mengubah pH urine menjadi alkali.
b. Stasis dan Obstruksi urine
Adanya obstruksi dan stasis urine akan mempermudah pembentukan batu saluran kemih.
c. Ras
Pada daerah tertentu angka kejadian batu saluran kemih lebih tinggi daripada daerah lain,
Daerah seperti di Afrika Selatan hampir tidak dijumpai penyakit batu saluran kemih.
d. Keturunan
e. Air minum
Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum air akan mengurangi kemungkinan terbentuknya
batu ,sedangkan kurang minum menyebabkan kadar semua substansi dalam urine meningkat
f. Pekerjaan
Pekerja keras yang banyak bergerak mengurangi kemungkinan terbentuknya batu daripada pekerja
yang lebih banyak duduk.
g. Suhu
Tempat yang bersuhu panas menyebabkan banyak mengeluarkan keringat sedangkan asupan air
kurang dan tingginya kadar mineral dalam air minum meningkatkan insiden batu saluran kemih
h. Makanan
Masyarakat yang banyak mengkonsumsi protein hewani angka morbiditasbatu saluran
kemihberkurang. Penduduk yang vegetarian yang kurang makan putih telur lebih sering
menderitabatu saluran kemih ( buli-buli dan Urethra ).

3. Anatomi Ginjal
Ginjal adalah bagian utama dari sistem perkemihan yang juga masuk didalamnya ureter,
kandung kemih dan uretra. Ginjal terletak pada rongga abdomen posterior, dibelakang peritonium
diarea kanan dan kiri dari kolumna vertebralis. Ginjal dipertahankan dalam posisi tersebut oleh
bantalan lemak yang tebal. Pada orang dewasa normal panjangnya 12 13 cm, lebar 6 cm dan
beratnya antara 120 -150 gram. Setiap ginjal memiliki korteks dibagian luar dan di bagian dalam
yang terbagi menjadi piramide-piramide. Pada setiap piramide membentuk duktus papilaris yang
selanjutnya menjadi kaliks minor, kaliks mayor dan bersatu membentuk ginjal tempat
terkumpulnya urine. Ureter menghubungkan ginjal dengan kandung kemih.
Garis-garis yang terlihat pada piramide disebut nefron yang merupakan satuan fungsional ginjal.
Setiap ginjal terdiri dari satu juta nefron. Setiap nefron terdiri atas glomerulus yang merupakan
lubang-lubang yang terdapat pada piramide-piramide renal, membentuk simpul dan kapiler badan
satu mulpigli, kapsul bowman, tubulus proximal, ansa henle dan tubulus distal.
Ureter menghubungkan pelvis ginjal dengan kandung kemih. Kedua ureter merupakan saluran
yang panjangnya 10 12 inc. Ureter berfungsi menyalurkan urin ke kandung kemih. Kandung kemih
mempunyai tiga muara. Dua maura ureter dan satu muara uretra. Kandung kemih sebagai tempat
menyimpannya urin dan mendorong urin untuk keluar. Uretra adalah saluran kecil yang berjalan
dari kandung kemih sampai ke luar tubuh yang disebuat meatus uretra.


Fungsi ginjal:
a. Fungsi ekskresi
1) Mempertahankan osmolaritas plasma sekitar 285 cm osmol dengan mengubag ekskresi air.
2) Mempertahankan kadar masing-masing elektrolit plasma dalam rentang normal.
3) Mempertahankan pH plasma dengan mengeluarkan kelebihan dan membentuk kembali Hco3.
4) Mengekskresikan produk ahkir nitrogen dan metabolisme protein terutama urea, asam urat dan
kretinin.
b. Fungsi non ekskresi
1) Menghasilkan renin, penting untuk mengatur tekanan darah.
2) Menghasilkan eritropoitin, faktor penting dalam stimulasi produksi sel darah merah dan sumsum
tulang.
3) Metabolisme vitamin D menjdai bentuk aktifnya.
4) Degradasi insulin.
5) Menghasilkan prostaglandin.

4. Patofisisiologi
Mekanisme terbentuknya batu pada saluran kemih atau dikenal dengan urolithiasis belum
diketahui secara pasti. Namun demikian ada beberapa faktor predisposisi terjadinya batu antara
lain: peningkatan konsentrasi larutan urin akibat dari intake cairan yang kurang serta peningkatan
bahan-bahan organik akibat infeksi saluran kemih atau statis urin menjadikan sarang untuk
pembentukan batu.
Supersaturasi elemen urin seperti kalsium, fosfat dan faktor lain yang mendukung
terjadinya batu meliputi: pH urin yang berubah menjadi asam, jumlah casiran urin. Masalah-
masalah dengan metabolisme purin mempengaruhi pembentukan batu asam urat. pH urin juga
mendukung pembentukan batu. Batu asam urat dan cyscine dapat mengendap dalam urin yang
alkalin, sedangkan batu oxalat tidak dipengaruhi oleh pH urin.
Imobilisasi yang lama akan menyebabkan gerakan kalsium menuju tulang akan
terhambat. Peningkatan serum kalsium akan menambah cairan yang akan diekskresikan. Jika cairan
masuk tidak adekuat maka penumpukan atau pengendapan semakin bertambah dan pengendapan
ini makin kompleks sehingga terjadi batu. Batu yang terbentuk dalam saluran kemih sangat
bervariasi. Ada batu yang kecil, ada yang besar. Batu yang kecil dapat lekuar lewat urin dan akan
menimbulkan rasa nyeri, trauma pada saluran kemih dan akan tampak darah dalam urin; sedangkan
batu yang besar dapat menyebabkan obstruksi saluran kemih yang menimbulkan dilatasi struktur,
akibat dari dilatasi akan terjadi refluks urin dan akan menimbulkan terjadinya hidronefrosis karena
dilatasi ginjal. Kerusakan pada srtuktur ginjal yang lama akan mengakibatkan kerusakan-kerusakan
pada organ dalam ginjal sehingga terjadi gagal ginjal kronis karena ginjal tidak mampu melakukan
fungsinya secara normal, yang mengakibatkan terjadinya penyakit gagal ginjal kronik yang dapat
menyebabkan kematian.

5. Tanda dan gejala
Manifestasi klinis adanya batu dalam traktus urinarius tergantung pada adanya obstruksi, infeksi
dan edema.
a. Ketika batu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi piala ginjal serta ureter proksimal.
1) Infeksi pielonefritis dan sintesis disertai menggigil, demam dan disuria, dapat terjadi iritasi batu
yang terus menerus. Beberapa batu menyebabkan sedikit gejala, namun secara perlahan merusak
unit fungsional (nefron) ginjal.
2) Nyeri hebat dan ketidaknyamanan.
b. Batu di ginjal
1) Nyeri dalam dan terus menerus di area kontovertebral.
2) Hematuri.
3) Nyeri berasal dari area renal menyebar secara anterior dan pada wanita nyeri kebawah mendekati
kandung kemih sedangkan pada pria mendekati testis.
4) Mual dan muntah.
5) Diare.
c. Batu di ureter
1) Nyeri menyebar kepaha dan genitalia.
2) Rasa ingin berkemih namun hanya sedikit urin yang keluar.
3) Hematuri akibat abrasi batu.
4) Biasanya batu keluar secara spontan dengan diameter batu 0,5 1 cm.
d. Batu di kandung kemih
1) Biasanya menimbulkan gejala iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus urinarius dan
hematuri.
2) Jika batu menimbulkan obstruksi pada leher kandung kemih akan terjadi retensi urin.
Teori terbentuknya batu
a. Teori Intimatriks
Terbentuknya BSK. memerlukan adanya substansi organik sebagai inti .Substansi ini terdiri dari
mukopolisakarida dan mukoproptein A yang mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi
pembentukan batu.
b. Teori Supersaturasi
Terjadi kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urine seperti; sistin, santin, asam urat,kalsium
oksalat akan mempermudah terbentuknya batu.
c. Teori Presipitasi-Kristaliasi
Perubahan pH urine akan mempengaruhi solubilitas substasi dalam urine .Urine yang bersifat asam
akan mengendap sistin,santin,asam dan garam urat,urine alkali akan mengendap garam-garam
fosfat..
d. Teori Berkurangnya faktor penghambat
Berkurangnya faktor penghambat seperti peptid fosfat, pirofosfatpolifosfat, sitrat
magnesium, asam mukopolisakarida akan mempermudah terbentuknya batu saluran kemih.

6. Pemeriksaan Diagnostik.
a. Urinalisa; warna mungkin kuning ,coklat gelap,berdarah,secara umum menunjukan SDM, SDP,
kristal ( sistin,asam urat,kalsium oksalat), pH asam (meningkatkan sistin dan batu asam urat) alkali
( meningkatkan magnesium, fosfat amonium, atau batu kalsium fosfat), urine 24 jam :kreatinin,
asam urat kalsium, fosfat, oksalat, atau sistin mungkin meningkat), kultur urine menunjukan ISK,
BUN/kreatinin serum dan urine; abnormal (tinggi pada serum/rendah pada urine) sekunder
terhadap tingginya batu obstruktif pada ginjal menyebabkan iskemia/nekrosis.
b. Darah lengkap: Hb,Ht,abnormal bila psien dehidrasi berat atau polisitemia.
c. Hormon Paratyroid mungkin meningkat bila ada gagal ginjal ( PTH. Merangsang reabsobsi kalsium
dari tulang, meningkatkan sirkulasi serum dan kalsium urine.
d. Foto Rntgen; menunjukan adanya kalkuli atau perubahan anatomik pada area ginjal dan sepanjang
ureter.
e. IVP: memberikan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri, abdominal atau
panggul.Menunjukan abnormalitas pada struktur anatomik (distensi ureter).
f. Sistoureterokopi;visualiasi kandung kemih dan ureter dapat menunjukan batu atau efek obstruksi.
g. USG ginjal: untuk menentukan perubahan obstruksi,dan lokasi batu.

7. Therapy dan Penatalaksanaan medik
a. Tujuan:
1) Menghilangkan obstruksi
2) Mengobati infeksi.
3) Mencegah terjadinya gagal ginjal.
4) Mengurangi kemungkinan terjadinya rekurensi (terulang kembali).
b. Operasi dilakukan jika:
1) Sudah terjadi stasis/bendungan.
2) Tergantung letak dan besarnya batu, batu dalam pelvis dengan bendungan positif harus dilakukan
operasi.
c. Therapi
1) Analgesik untuk mengatasi nyeri.
2) Allopurinol untuk batu asam urat.
3) Antibiotik untuk mengatasi infeksi.
d. Diet
Diet atau pengaturan makanan sesuai jenis batu yang ditemukan.
1) Batu kalsium oksalat
Makanan yang harus dikurangi adalah jenis makanan yang mengandung kalsium oksalat seperti:
bayam, daun sledri, kacang-kacangngan, kopi, coklat; sedangkan untuk kalsium fosfat mengurangi
makanan yang mengandung tinggi kalsium seperti ikan laut, kerang, daging, sarden, keju dan sari
buah.
2) Batu struvite; makanan yang perlu dikurangi adalah keju, telur, susu dan daging.
3) Batu cystin; makanan yang perlu dikurangi antara lain sari buah, susu, kentang.
4) Anjurkan konsumsi air putih kurang lebih 3 -4 liter/hari serta olah raga secara teratur.

8. Komplikasi:
a. Obstruksi
b. Hidronephrosis.
c. Gagl ginjal
d. Perdarahan.
e. Pada laki-laki dapat terjadi impoten.

9. Patoflowdaigram

B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
1) Riwayat penyakit ginjal akut dan kronik.
2) Riwayat infeksi saluran kemih.
3) Pajanan lingkungan: zat-zat kimia.
4) Keturunan.
5) Alkoholik, merokok.
6) Untuk pasien wanita: jumlah dan tipe persalinan (SC, forseps, penggunaan kontrasepsi).
b. Pola nutrisi metabolik
1) Mual, muntah.
2) Demam.
3) Diet tinggi purin oksalat atau fosfat.
4) Kebiasaan mengkonsumsi air minum.
5) Distensi abdominal, penurunan bising usus.
6) Alkoholik
c. Pola eliminasi
1) Perubahan pola eliminasi: urin pekat, penurunan output.
2) Hematuri.
3) Rasa terbakar, dorongan berkemih.
4) Riwayat obstruksi.
5) Penurunan hantaran urin, kandung kemih.
d. Pola aktivitas dan latihan
1) Pekerjaan (banyak duduk).
2) Keterbatasan aktivitas.
3) Gaya hidup (olah raga).
e. Pola tidur dan istirahat
1) Demam, menggigil.
2) Gangguan tidur akibat rasa nyeri.
f. Pola persepsi kognitif
1) Nyeri: nyeri yang khas adalah nyeri akut tidak hilang dengan posisi atau tindakan lain, nyeri tekan
pada area ginjal pada palpasi
2) Pengetahuan tentang terjadinya pembentukan batu.
3) Penanganan tanda dan gejala yang muncul.
g. Pola reproduksi dan seksual
1) Keluhan dalam aktivitas seksual sehubungan dengan adanya nyeri pada saluran kemih.
h. Pola persepsi dan konsep diri
1) Perubahan gaya hidup karena penyakit.
2) Cemas terhadap penyakit yang diderita.
i. Pola mekanisme copying dan toleransi terhadap stres
1) Adakah pasien tampak cemas
2) Bagaimana mengatasi masalah yang timbul.
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul adalah ;
a. Nyeri berhubungan dengan iritasi pada saluran kemih
b. Perubahan pola eliminasi: urine berhubungan dengan obstruksi karena batu.
c. Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah
d. Ketidakefektifan management regiment terapeutik tentang perawatan post operasi dan
pencegahan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan/informasi
e. Kecemasan berhubungan dengan tindakan invansif, pemeriksaan.
f. Risiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan status kesehatan
g. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan stasis urine dan adanya batu pada ureter.

3. Rencana tindakan keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan adanya iritasi pada saluran kemih
Hasil yang diharapkan:
- Pasien bebas dari rasa nyeri
- Pasien tampak rileks, bisa tidur dan istirahat.
Intervensi:
1. Kaji karakteristik nyeri ( lokasi, lama, intensitas dan radiasi)
Rasional: membantu mengevaluasi perkembangan dari obstruksi.
2. Observasi tanda-tanda vital, tensi, nadi, cemas
Rasional: nyeri hebat ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan nadi.
3. Jelaskan penyebab rasa nyeri
Rasional: mengurangi kecemasan pasien.
4. Ciptakan lingkungan yang nyaman
Rasional: meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot.
5. Bantu untuk mengalihkan rasa nyeri: teknik napas dalam.
Rasional: meningkatkan relaksasi dan mengurangi nyeri.
6. Beri kompres hangat pada punggung
Rasional: mengurangi ketegangan otot.
7. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik
Rasional: analgetik menghilangkan rasa nyeri.
b. Perubahan pola elminasi: urine berhubungan dengan inflamasi, obstruksi karena batu.
Hasil yang diharapkan:
- Pola eliminasi urine dan output dalam batas normal.
- Tidak menunjukkan tanda-tanda obstruksi (tidak ada rasa sakit saat berkemih, pengeluaran urin
lancar).
Intervensi:
1. Monitor intake dan output.
Rasional: menginformasikan fungsi ginjal.
2. Anjurkan untuk meningkatkan cairan per oral 3 4 liter per hari.
Rasional: mempermudah pengeluaran batu, mencegah terjadinya pengendapan.
3. Kaji karakteristik urine
Rasional: adanya darah merupakan indikasi meningkatnya obstruksi/iritasi ureter.
4. Kaji pola Bak normal pasien, catat kelainnya.
Rasional: batu dapat menyebabkan rangsangan mervus yang menyebabkan sensasi untuk buang air
kecil
c. Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah.
Hasil yang diharapkan:
- Keseimbangan cairan adekuat
- Turgor kulit baik
Intervensi:
1. Monitor intake dan output
Rasional: membandingkan secara aktual dan mengantisipasi output yang dapat dijadikan tanda
adanya renal stasis.
2. Berikan intake cairan 3 4 liter per hari.
Rasional: menjaga keseimbangan cairan untuk homeostasis.
3. Monitor tanda-tanda vital, turgor kulit, membran mukosa.
Rasional: dapat menunjukkan tanda-tanda dehidrasi.
4. Berikan cairan intra vena sesuai intruksi dokter.
Rasioanal: menjaga keseimbangan cairan bila intake per oral kurang.
5. Kalau perlu berikan obat anti enemik.
Rasional: mengurangi mual dan muntah.
d. Ketidakefektifan management regiment terapeutik tentang perawatan post operasi dan
pencegahan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan/informasi
Hasil yang diharapkan:
- Pasien mengungkapkan proses penyakit, faktor-faktor penyebab.
- Pasien dapat berpartisipasi dalam perawatan.
Intervensi:
1. Kaji pengetahuan pasien/tanyakan proses sakit dan harapan pasien.
Rasional: mengetahui tingkat pengetahuan pasien dan memimih cara untuk komunikasi yang tepat.
2. Jelaskan pentingnya peningkatan cairan per oral 3 4 liter per hari.
Rasional: dapat mengurangi stasis urine dan mencagah terjadinya batu.
3. Jelaskan dan anjurkan pasien untuk melakukan aktivitas secara teratur.
Rasional: kurang aktivitas mempengaruhi terjadinya batu.
4. Identifikasi tanda-tanda nyeri, hematuri, oliguri.
Rasional: mendeteksi secara dini, komplikasi yang serius dan berulangnya penyakit.
5. Jelaskan prosedur pengobatan dan perubahan gaya hidup.
Rasional: membantu pasien merasakan, mengontrol melalui apa yang terjadi dengan dirinya.

3. Discharge planning
a. Mengubah pola berkemih; hindari menahan BAK.
b. Mengubah pola minum:
1) Minum banyak > 2000 cc/hari.
2) Hindari minuman yang mengandung tinggi kalsium( susu, air yang mengandung
kapur).
c. Mengubah pola makan: mengurangi makanan yang menyebabkan batu:
1) Tinggi kalsium ( keju, coklat).
2) Tinggi purin (ikan,unggas, daging).
3) Tinggi oksalat (bayem, sledri, kopi).
d. Mengurangi konsumsi obat-obatan bebas yang dapat menimbulkan batu saluran
kemih.
e. Memberitahu tentang tanda dan gejala komplikasi yaitu demam. Pengeluaran urin
yang sedikit, nyeri pada saat BAK.
f. Jelaskan teknik higiene personal yang benar.
g. Libatkan keluarga dalam pengelolaan diet dan pola makan.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth (2002). Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8, volume 2,
EGC.Jakartta.
Carpenito, Linda Juall (1995) Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan
( terjemahan) PT EGC, Jakarta.
Doenges,et al, (2000). Rencana Asuhan Keperawatan ( terjemahan),
PT EGC, Jakarta
Digiulio Mary, dkk (2007). Medical Surgical Nursing Demystified. New York Chicago
San Fransisco Lisbon London, Mexico City Milan New Delhi San Juan Seoul, Singapore Sydney
Toronto.
Soeparman, ( 1990), Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
Sylvia dan Lorraine ( 1999). Konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi empat,
buku
kedua. EGC. Jakarta