Anda di halaman 1dari 9

http://kimiadahsyat.blogspot.com/2009/06/soal-titrasi-asam-basa.

html
Soal Titrasi Asam-Basa

SSoal

Penetralan (Titrasi) Asam Basa

1. Untuk menetralkan 80 mL larutan asam sulfat diperlukan 50 mL larutan 0,2 M kalium hidroksida.
Tentukan berapa gram asam sulfat tersebut terdapat dalam tiap liter larutan

2. Ke dalam 750 mL larutan 0,8 M KOH dialirkan gas hidrogen bromida, jika molaritas larutan KOH
sekarang menjadi 0,2 M. Berapa L gas HBr yang telah dialirkan pada suhu 00 C, 1 atm.

3. 45 gram asam berbasa 2 dilarutkan dalam air sampai 200 mL. 50 mL larutan ini dapat tepat dinetralkan
oleh 80 mL larutan KOH. Jika diketahui tiap liter larutan KOH yang digunakan mengandung 175 gram
KOH murni. Berapakah Mr asam tersebut?

4. 3,6 gram asam H2A dilarutkan dalam air sampai volumenya tepat 200 mL. 50 mL larutan asam ini
dapat dinetralkan oleh 80 mL larutan 0,25 M KOH. Tentukanlah Mr asam H2A ini!

5. 75 mL asam benzoat dicampur dengan 25 mL larutan 2 M NaOH. Untuk menetralkan 50 mL larutan


campuran ini masih dibutuhkan 40 mL larutan 0,125 M asam oksalat. Berapa gram asam benzoat
(C6H5COOH) terdapat dalam tiap liter asam tersebut!

6. Ke dalam 250 mL larutan 0,125 M KOH dialirkan gas hidrogen klorida (00 C, 1atm). Setelah pengaliran
gas ini, ternyata 50 mL larutan yang terjadi dapat dinetralkan oleh 25 mL larutan 0,025 M H2SO4. Berapa
liter gas HCl telah dialirkan ke dalam larutan tersebut?

7. Berapa mL larutan 0,08 M H2SO4 harus dimasukkan ke dalam 500 mL larutan 1 M NaOH, supaya
Molaritas larutan NaOH dalam larutan campuran menjadi 0,4 M?

8. Untuk menetralkan 100 mL larutan yang berisi 6,32 gram campuran asam sulfat dan asam klorat
(HClO3) dapat tepat dinetralkan oleh 200 mL larutan 0,5 M NaOH. Tentukan berapa gram masing-masing
asam dalam tiap Liter larutan tersebut!

Kristal/Kadar

1. Untuk menentukan rumus kristal soda abu (Na2CO3 . X H2O). 14,3 gram soda dilarutkan dalam air
sampai 400 mL. 80 mL larutan ini dicampurkan dengan 50 mL larutan 0,5 M HCl. Untuk menetralkan
campuran ini diperlukan 20 mL larutan 0,25 M KOH. Tentukan berapa molekul air (X) terdapat dalam tiap
molekul kristal soda tersebut!

2. Untuk menentukan kadar amonium sulfat dalam pupuk ZA, 4 gram pupuk ZA dilarutkan dalam 100 mL
air murni. larutan yang terjadi dicampurkan dengan larutan NaOH berlebih. Gas yang terjadi dialirkan ke
dalam 150 mL larutan 0,4 M asam klorida, jika untuk menetralkan larutan HCl yang telah dialirkan tadi
diperlukan 200 mL larutan 0,1 M KOH, tentukan % kadar (NH4)2SO4 dalam pupuk tersebut!

3. 74,5 gram campuran logam natrium dan kalsium dilarutkan dalam air sampai volumenya 500 mL. 100
mL larutan ini dititrasi dengan larutan 5 M asam klorida, sampai titik akhir tercapai telah digunakan 140
mL larutan asam tersebut.

a. berapa gram masing-masing logam dalam campuran mula-mula?

b. Berapa liter gas yang terjadi (00 C, 1 atm ) ?


Diposkan oleh Dody Catur P di 23:33
Label: soal kimia kelas XI

http://farmasi07itb.wordpress.com/2009/10/30/titrasi-bebas-air-praktikum-ku-yang-tak-terlaksana/
TUJUAN

Menentukan kuantitas senyawa obat dengan Titrasi Bebas Air

PRINSIP PECOBAAN

Sebagian senyawa organik aktif tidak dapat ditentukan kadarnya dalam larutan air menurut cara titrasi
protolisis karena keasaman atau kebasaannya sangat lemah. Dalam hal ini, titrasi protolisis dilakukan
dalam lingkungan pelarut bukan air berdasarkan atas teori asam-basa Bronsted.

Pada titrasi asam lemah dan basa lemah dalam pelarut bukan air pengaruh pelarut terhadap tetapan
disosiasi (Ki) tetapan disosias (Kd) dan dan tetapan keasaman dan kebasaan senyawa yang akan
ditentukan harus diperhatikan. Terutama pengaruh tetapan dielektrik pelarut pada reaksi protolisis
senyawa yang terjadi dalam larutan bukan air. Prinsip lebih lanjut diterangkan dalam pembahasan.

PROSEDUR

Pembakuan
Asam Perklorat 0,1 N

700 mg Kalium Biftalat ditimbang yang telah dihaluskan dan dikeringkan pada suhu 120oC selama 2 jam

Larutkan dalam 50 ml asam asetat glasial dalam labu 250 ml

Tambahkan 2 tetes Kristal violet

Titrasi dengan asam perklorat sampai warna ungu menjadi biru

Lakukan penetapan blangko (gunakan 50 ml asam asetat)

Larutan Natrium Metoksida 0,1 N

400 mg Asam Benzoat ditimbang

Larutkan dalam 80 ml dimetilformida dalam labu erlenmeyer

Tambahkan 3 tetes biru timol

Titrasi dengan natrium metoksida sampai titik akhir warna biru

Lakukan penetapan blangko

Penetapan Kadar

Antazolin Hidroklorida

250 mg zat ditimbang

Larutkan dalam 20 ml asam asetat glasial dalam labu Erlenmeyer, hangatkan

Dinginkan, tambahkan 15 ml raksa (II) asetat


Tambahkan 3 tetes Kristal violet

Titrasi dengan asam perklorat 0,1 N titik akhir warna biru

Lakukan penetapan blangko

Atropine Sulfat

100 mg zat ditimbang

Larutkan dalam 10 ml asam asetat glasial dalam labu Erlenmeyer, hangatkan

Tambahkan 3 tetes Kristal violet

Titrasi dengan asam perklorat 0,1 N titik akhir warna biru

Lakukan penetapan blangko

Bisakodil

250 mg zat ditimbang

Larutkan dalam 20 ml asam asetat glasial

Dinginkan, tambahkan 15 ml raksa (II) asetat

Tambahkan 3 tetes Kristal violet

Titrasi dengan asam perklorat 0,1 N titik akhir warna biru

Lakukan penetapan blangko

Klorfeniramin Maleat

500 mg zat ditimbang

Larutkan dalam 20 ml asam asetat glasial

Tambahkan 2-3 tetes Kristal violet

Titrasi dengan asam perklorat 0,1 N titik akhir warna biru

Lakukan penetapan blangko

Kodein Sulfat

200 mg zat ditimbang

Larutkan dalam 10 ml asam asetat glasial, hangatkan jika perlu

Tambahkan 3 tetes Kristal violet

Titrasi dengan asam perklorat 0,1 N titik akhir warna biru

Lakukan penetapan blangko


Dekstrometorfan

200 mg zat ditimbang

Larutkan dalam 20 ml asam asetat glasial, hangatkan agar larut

Tambahkan 2 tetes Kristal violet

Titrasi dengan asam perklorat 0,1 N titik akhir warna biru

Lakukan penetapan blangko

Fenilpropamolamin hidroklorida

250 mg zat ditimbang

Larutkan dalam 20 ml asam asetat glasial

tambahkan 10 ml raksa (II) asetat

Tambahkan 2-3 tetes Kristal violet

Titrasi dengan asam perklorat 0,1 N titik akhir warna biru

Lakukan penetapan blangko

Fenitoin

250 mg zat ditimbang

Larutkan dalam 20 ml dimetilformamida

Tambahkan 3 tetes azo violet

Titrasi dengan Natrium metoksida 0,1 N

Lakukan penetapan blangko

Allopurinol

50 mg zat ditimbang

Larutkan dalam 20 ml dimetilformamida

Tambahkan 3 tetes biru timol

Titrasi dengan Natrium metoksida 0,1 N

Lakukan penetapan blangko

Barbital

200 mg zat ditimbang

Larutkan dalam 20 ml dimetilformamida


Tambahkan 3 tetes biru timol

Titrasi dengan natrium metoksida 0,1 N

Lakukan penetapan blangko

PEMBAHASAN

Titrasi Bebas Air

Titrasi bebas air adalah titrasi yang dilakukan dalam pelarut bukan air. Sebelum kita membahas
mengenai titrasi bebas air maka kita harus mengetahui tentang pelarut. Pelarut memiliki bentuk cair pada
suhu kamar, dan diharapkan memiliki toksisitas rendah. Pelarut memiliki kemampuan khusus yang
berkaitan dengan disosiasi, sifat keasaman dan kebasaan, tetapan dielektrik.
Klasifikasi pelarut berdasarkan kemampuan berdisosiasi dapat dibedakan menjadi pelarut yang dapat
berdisosiasi dan pelarut yang tidak dapat berdisosiasi. Suatu pelarut yang dapat berdisosiasi memiliki
tetapan disosiasi atau tetapan protolisis. Misal air akan berdisosiasi menjadi H+ dan OH-. Tetapan
disosiasi air (Kw) adalah 10-14. Contoh pelarut yang tidak dapat berdisosiasi adalah eter, CHCl3, CCl4,
dan pelarut hidrokarbon seperti benzene dan toluene.

Berdasarkan karakter keasaman dan kebasaanya (menurut teori Bronster-Lowry) dapat dibedakan
menjadi pelarut protogenik, pelarut protofilik, pelarut amfiprotik, pelarut aprotik. Pelarut protogenik adalah
pelarut yang bersifat asam. Pelarut protogenik ini dapat mendonorkan proton (H3O+) pada saat
berdisosiasi. Contoh dari pelarut ini adalah HCl, HNO3¬, H2SO4¬, asam asetat. Pelarut protofilik adalah
pelarut yang bersifat basa atau pelarut yang dapat mendonorkan proton (H3O+). Contoh dari pelarut ini
adalah etilen diamin, piridin. Pelarut amfiprotik adalah pelarut yang dapat meneriman dan mendonorkan
proton. Contoh dari pelarut ini adalah H¬2O, Metanol, NH3. Pelarut amfiprotik akan mengalami ionisasi
sendiri atau protolisis. Tetapan protolisis pelaut amfiprotik ini dinyatakan dengan suatu tetapan protolisis
atau konstanta disosiasi.

H2O + H2O –> H3O+ + OH-


NH3 + NH3 –> NH4+ + NH2-

Pelarut yang tidak dapat meneriman dan mendonorkan proton adalah pelarut aprotik. Contoh pelarut ini
adalah CHCl3, CCl4, hidrokarbon.
Sifat Keasaman dan Kebasaan Suatu Pelarut

AB –> A+ + B-

A+ merupakan lionium yang menentukan keasaman suatu pelarut, sedangkan B- merupakan ion liat yang
menentukan kebasaan suatu pelarut. Jika AB merupakan suatu asam lemah maka ion liat yang
dihasilkan dari pelarut ini merupakan satu basa kuat. Sebagai contoh:

2 CH3COOH –>CH3COOH2+ + CH3COO-

Ion asetat (OAc-) merupakan basa kuat dalam pelarut asam asetat. Hal ini sama berlaku pada ion
hidroksida (OH-) dalam pelarut air.
Pengaruh Tetapan Dielektrik

Suatu asam-basa dalam pelarut SH akan mengalami kesetimbangan sebagai berikut

HB + SH –> H2S+.B-

Dalam pelarut yang memiliki konstanta dielektrik yang tinggi pasangan ion tersebut akan terdisosiasi
sempurna membentuk ion bebas.
H2S+.B- –> H2S+ + B-

Sehingga reaksi keseluruhan yang terjadi adalah

HB + SH –> H2S+ + B-

disimpulkan bahwa keasaman dan kebasaan suatu senyawa bergantung pada tetapan ionisasi (Ki) dan
tetapan disosiasi (Kd) dari pelarutyang digunakan. untuk senyawa asam kuat dapat diasumsikan bahwa
Ki >>> 1 maka Ka= Kd dan Kb=Kd. Sedangkan untuk asam atau basa lemah diasumsikan bahwa
Ki<<HNO3>HOAc dan menyetarakan keasaman asam mineral HClO4, H2SO4 , HCl dan HNO3. Dari
kedua contoh di atas dapat disimpulkan bahwa asam dan basa dalam pelarut amfiprotik kesempurnaan
reaksinya bergantung pada kerakter keasaman dan kebasaan pelarut, tetapan dielektrik pelarut,
keasaman dan kebasaan senyawa, tetapan autoprotolisis pelarut. Berikut adalah tetapan autoprotolisis
pelarut

Pelarut pKs
Air 14.00
Methanol 16.70
Etanol 19.10
Asam asetat 14.45
Anhidrida asetat 14.50
Asetonitril 26.50

Kesimpulannya yaitu semakin kecil nilai Ks atau semakin besar nilai pKs maka semakin besar rentang
potensial yang tersedia untuk titrasi.

Interaksi solut-pelarut

Pelarut basa atau yang lebih basa dalam air, disebut juga sebagai pelarut protofilik, memiliki kemampuan
penyetingkat atau penyetara kekuatan solut asam-asam lemah dan mampu membedakan kekuatan
basa-basa. Pelarut asam, disebut juga sebagai pelarut protogenik, juga memiliki kemampuan
penyetingkat atau penyetara kekuatan solut basa-basa lemah dan mampu membedakan kekuatan asam-
asam. Pelarut aprotik tidak mempengaruhi kekuatan asam maupun basa. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa untuk membuat basa lemah menjadi basa kuat dapat digunakan pelarut asam kuat,
sedangkan penggunaan pelarut basa yang kuat ditujukan untuk membuat asam lemah menjadi asam
kuat.
Beberapa panduan dalam titrasi bebas air yaitu meliputi
Solut hendaknya larut dalam pelarut atau pada kelebihan peniter
Hasil titrasi harus larut dalam pelarut
Pelarut yang digunakan tidak menimbulkan reaksi samping yang mengganggu
Pelaksanaan titrasi harus bebas air, meliputi pelarut dan pereaksi dengan penambahan anhidrida asetat,
dan peralatan yang digunakan harus kering.
Titrasi bebas air untuk senyawa asam
Pelarut protofilik (pelarut basa) merupakan cairan yang dapat meningkatkan disosiasi asam lemah
dengan cara bereaksi dengan proton yang tersedia. Contoh-contoh pelarut protifilik yaitu piridin,
dimetilformamida, n-butilamin, dan sebagainya. Contohnya yaitu fenol yang merupakan asam lemah,
dilarutkan dalam piridin sehingga bisa berdisosiasi dengan sempurna. Kesetimbangan akan bergeser ke
kanan dan menjadikan fenol dalam piridin sebagai asam kuat. Jika fenol dititrasi dengan basa kuat
CH3ONa maka terjadi persaingan antara piridin terprotonasi dengan CH3ONa. Tetapi karena ion
metoksida lebih basa daripada piridin, maka fenol akan bereaksi dengan CH3ONa.
Contoh peniter yang bisa digunakan dalam titrasi bebas air untuk senyawa asam yaitu garam Li-
metoksida, garam K-metoksida, garam Na-metoksida, dan tetrabutil ammonium hidroksida. Peniter bisa
dibakukan dengan asam benzoat.
Contoh senyawa asam yang bisa dititrasi yaitu fenobarbital. Fenobarbital dapat dilarutkan dalam DMF
yang sudah netral dengan indicator merah kuinaldin, kemudian dititrasi dengan Li-metoksida. Titik akhir
tercapai dengan terjadinya perubahan warna dari pink menjadi tidak berwarna.

Penerapan titrasi bebas air untuk senyawa basa

Pelarut asam asetat glasial digunakan untuk meningkatkan ionisasi amin sehingga dihasilkan senyawa
OAc- yang bersifat basa kuat (lebih kuat dibandingkan ion perklorat) sesuai dengan persamaan reaksi
berikut

RNH2 + HOAc ↔ RNH3 + OAc-

Peniter yang digunakan harus merupakan asam yang lebih kuat daripada asam asetat dan larut baik
dalam asam asetat. Peniter yang umum digunakan yaitu asam perklorat dan dibakukan dengan kalium
biftalat. Cara yang digunakan yaitu kalium biftalat diberi indicator kristal violet dan dititrasi dengan asam
perklorat. Indikator yang digunakan yaitu kristal violet / metil violet yang memiliki warna violet dalam
keadaan basa dan warna dengan variasi biru hingga kuning pada keadaan asam tergantung basa yang
dititrasi.

Supaya reaksi bisa berhasil, umumnya kandungan air dalam pelarut dan peniter harus dibebaskan. Hal
ini bisa dilakukan dengan penambahan anhidrida asetat karena anhidrida asetat akan bereaksi dengan
air sesuai reaksi (CH3CO)2O + H2O  2 CH3COOH. Asam asetat yang digunakan tidak higroskopis
(menyerap air) sehingga titrasi dapat dilakukan secara terbuka (bahkan jika perlu dipanaskan) dan
dilakukan titrasi blangko. Jika sampel berupa asam amino yang tidak larut dalam asam asetat maka
dilakukan titrasi tidak langsung. Asam amino dapat ditambahkan asam perklorat berlebih dan kemudian
kelebihan asam perklorat dititrasi dengan Na-asetat sesuai

dengan reaksi berikut:

RCHRNH2COOH + HClO4 RCHRNH3 + COOH + ClO4-


HClO4 (sisa) + CH3COONa  CH3COOH + NaClO4

Perkecualian untuk garam halida senyawa basa tidak dapat dititrasi secara langsung dengan HClO4
karena ion halide merupakan basa yang lebih lemah daripada ion perklorat. Dalam reaksi perlu
ditambahkan Hg asetat untuk mengikat halide sehingga dibebaskan ion asetat yang bersifat basa kuat
yang dapat dititrasi dengan HClO4. Kelebihan Hg asetat tidak mengganggu karena HgCl2 tidak
terdisosiasi dalam asam asetat. Persamaan reaksi yang terjadi yaitu:

RNH2.HCl +Hg(CH3COO)2 –>RNH3 + CH3COO- + HgCl2


RNH3 + CH3COO- + HClO4 –>RNH3 + ClO4- + CH3COOH

Morfin HCl merupakan contoh senyawa yang bisa dititrasi. Morfin HCl dilarutkan dalam Hg asetat,
ditambah indicator, dan dititrasi dengan asam perklorat.

Pelarut (asam asetat glasial) yang digunakan peka terhadap pemuaian oleh suhu. Oleh karena itu maka
normalitas HClO4 harus dikoreksi dengan rumus Vc = V [ 1+ (t1-t2) 0.0011)]
Keterangan : Vc = Volume terkoreksi
V = Volume HClO4 yang digunakan
t1 = Suhu larutan HClO4 pada saat dilakukan pembakuan (oC)
t2 = Suhu larutan HClO4 pada saat dilakukan titrasi (oC)

Faktor Penyebab Tidak Dilakukannya Praktikum

Berdasarkan prinsip titrasi bebas air, titrasi ini dilakukan pada senyawa dengan keasaman atau kebasaan
sangat lemah (kebanyakan senyawa organik aktif) yang tidak dapat ditentukan kadarnya dengan pelarut
air. Untuk sampel senyawa organik basa digunakan pelarut asam asetat glasial yang dapat meningkatkan
kebasaan senyawa sehingga dapat ditentukan kadarnya dengan peniter asam perklorat. Asam perklorat
memiliki syarat lebih asam dari asam asetat glasial dan larut dalam asam asetat.

Pelaksanaan percobaan titrasi bebas air tidak dapat dilakukan karena kadar air yang terkandung di dalam
pereaksi (peniter, pelarut dan indikator) sangat tinggi. Pada pembuatan pereaksi didapatkan kadar air
yang terkandung di dalam asam asetat glasial (99,5%) sangat tinggi. Hal ini dapat dibuktikan dengan:
Penentuan kadar air asam asetat glasial
Dari titrasi asam asetat glasial dengan NaOH 0,5 N didapat kadar asam asetat glasial 88%. Artinya syarat
asam asetat glasial yang seharusnya 99,5% tidak terpenuhi.

Proses pembebasan cairan peniter (asam perklorat) dengan menggunakan Na2SO4 eksikatus
menunjukkan bahwa Na2SO4 eksikatus melarut. Hal ini dikarenakan kadar air dalan asam perklorat
sangat tinggi. Jika kadar air rendah maka seharusnya Na2SO4 eksikatus mengendap.

Penambahan anhidrida asetat dengan jumlah sesuai teori, tidak efektif dengan kandungan air dalam
asam asetat glasial sangat tinggi (tidak sesuai dengan teori yang seharusnya hanya 2% air)
Berdasarkan uraian di atas, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan pereaksi.
Asam asetat glasial dan methanol harus bebas air. Untuk itu terlebih dahulu diperlukan penentuan kadar
air dan dilakukan langkah yang sesuai untuk pembebasairan, antara lain dalam:
Penambahan Na2SO4 eksikatus
Penambahan CuSO4 putih (bebas air)
Penambahan anhidrida asetat
Perhitungan kadar air dalam asam asetat glasial
CH3COOH + NaOH → CH3COONa + H2O
Massa dari titrasi didapat dan dibandingkan dengan masa CH3COOH awal. Hasil massa titrasi
berkurang, hal ini menunjukkan adanya kandungan air di dalam asam asetat glasial.
Penambahan anhidrida asetat
(CH3COO)2O + H2O → 2CH3COOH
Dari kadar air yang didapatkan berdasarkan reaksi di atas dapat ditentukan massa anhidrida asetat yang
perlu ditambahkan

Asam asetat
Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam format. Asam
asetat memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH,
CH3COOH, atau CH3CO2H. Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya
hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-.

Disosiasi asam asetat dalam air


Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industri yang penting. Asam asetat digunakan
dalam produksi polimer seperti polietilena tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun
berbagai macam serat dan kain. Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur
keasaman.

Asam asetat glasial


Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna, dan memiliki
titik beku 16.7°C. Asam Asetat glasial mengandung tidak kurang dari 99,5% C2H4O2, merupakan cairan
jernih tidak berwarna dengan bau khas dan tajam, dapat bercampur dengan air, etanol P dan gliserol P
serta larut (1=3) memberikan reaksi terhadap asetat. Asam asetat glasial merupakan nama trivial yang
merujuk pada asam asetat yang tidak bercampur air. Disebut demikian karena asam asetat bebas-air
membentuk kristal mirip es pada 16.7°C, sedikit di bawah suhu ruang. Ternyata asam asetat glasial
memiliki banyak perbedaan sifat dengan larutan asam asetat dalam air, sehingga banyak ahli kimia yang
mempercayai bahwa keduanya sebenarnya adalah dua zat yang berbeda.

Pereaksi pada percobaan masih mengandung air dapat disebabkan karena bahan asam asetat glasial
yang telah disimpan dalam jangka waktu lama menyerap air (bersifat higroskopis) dari udara,
dikarenakan kondisi penyimpanan yang tidak sesuai. Penyerapan air oleh asam asetat glasial tersebut
menyebabkan senyawa tidak mengandung 99,5% asam asetat (tidak memenuhi syarat), namun hanya
mengandung 88% asam asetat yang menyatakan asam asetat glasial yang didapatkan tidak murni
(masih mengandung air).

Proses pembuatan dan pembakuan asam perklorat 0,1 N dengan menggunakan pelarut asam asetat
glasial. Asam asetat glasial yang tidak murni (masih mengandung air) akan menyebabkan asam perklorat
yang dibuat juga mengandung air. Dibuktikan dengan penambahan Na2SO4 eksikatus yang melarut,
seharusnya mengendap bila kadar air rendah. Pembuatan indikator yang digunakan dalam percobaan,
yaitu kristal violet dan alfa-naftolbenzein masing-masing 0,05% dan 0,2% dalam asam asetat glasial.
Asam asetat glasial yang telah mengandung air, akan menyebabkan hasil akhir indikator yang dibuat juga
mengandung air. Dengan demikian, keseluruhan pereaksi utama yang diperlukan dalam titrasi bebas air
mengandung air, sehingga percobaan tidak dapat dilakukan.

Pereaksi yang masih mengandung air, mengakibatkan fungsi pereaksi untuk meningkatkan kebasaan
senyawa dan menentukan kadar senyawa tidak dapar berjalan dengan baik. Bila titrasi berlangsung
dengan pelarut yang masih mengandung air, maka akan mempengaruhi tingkat kebasaan senyawa
dalam pelarut menjadi lebih rendah dari seharusnya (bila ditambahkan pelarut bebas air). Selain itu,
kadar senyawa organik yang ditentukan juga akan berkurang dari kadar seharusnya karena tidak semua
senyawa dapat bereaksi, masih terdapat kandungan air yang akan mempengaruhi reaksi. Semua
pereaksi yang dibuat mengandung air sehingga pada titrasi bebas air, jumlah kelebihan air dari peniter,
pelarut serta indikator tersebut akan mempengaruhi titik akhir titrasi, perubahan warna dapat terjadi di
luar titik akhir titrasi seharusnya, titrasi menjadi tidak presisi dan akurat.

KESIMPULAN
Pereaksi Mengandung air sehingga penetapan akdar senyawa obat dengan titrasi bebas air tidak dapat
dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_asetat diakses 28 oktober 2009
http://duniakimia.com/index.php?option=com_content&view=article&id=113:asam-asetat-
glasial&catid=47:metode-analisa-bahan-kimia&Itemid=65 diakses 28 oktober 2009

download.fa.itb.ac.id/.../02.%20Aplikasi%20Titrasi%20Asam%20Basa.pdf
ejournal.unud.ac.id/abstrak/j%20kim%20vol%203%20no%202%20-5.pdf
http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_benzoat