Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Perkembangan industri sebagai bagian dari usaha ekonomi jangka panjang
diarahkan untuk menciptakan struktur ekonomi yang lebih baik dan seimbang yaitu
struktur ekonomi dengan dititikberatkan pada industri maju yang didukung oleh
ekonomi yang tangguh. Indonesia saat ini tengah memasuki era globalisasi dalam segala
bidang yang menuntut tangguhnya sektor industri dan bidangbidang lain yang saling
menunjang. Hal ini tentunya memacu kita untuk lebih meningkatkan dalam melakukan
terobosan-terobosan baru sehingga produk yang dihasilkan mempunyai daya saing,
efisien dan efektif, disamping itu haruslah tetap akrab dan ramah terhadap lingkungan.
Menanggapi situasi tersebut dan dalam upaya untuk mengurangi ketergantungan
import produk petrokimia, pemerintah menetapkan peraturan yang mendorong
perkembangan industri tersebut. Sejalan dengan itu industri petrokimia di Indonesia
seperti industri styrene monomer, juga turut berkembang. Hal ini terutama disebabkan
oleh makin meningkatnya permintaan produkproduk plastik yang menggunakan bahan
dasar styrene monomer. Kegunaan utamanya adalah sebagai zat antara untuk pembuatan
senyawa kimia lainnya dan untuk memperkuat industri hilir seperti :
Polystyrene (PS), industri ini merupakan konsumen terbesar styrene monomer
karena untuk menghasilkan 1 ton Polystyrene diperlukan 950 kg styrene monomer.
Kegunaannya untuk membuat general purpose polystyrene (HIPS).
Acrylonitrile Butadiene Styrene (ABS), industri ini mengkonsumsi 600 kg styrene
monomer untuk menghasilkan 1 ton ABS. Kegunaannya untuk pembuatan plastik keras
bagi komponen mobil, gagang telepon, pipa plastik, dll
Styrene Butadiena Latex (SBL), industri ini mengkonsumsi 550 kg styrene
monomer untuk menghasilkan 1 ton SBL .Kegunaannya untuk pembuatan pelapis
kertas dan pelapis karet.
Impact Polystyrene Rubber (IPR), digunakan pada industri auto mobil. Styrene
Butadiene Rubber (SBR), digunakan dalam industri ban, radiator, heater, dan sebagainya.
Sejak perang dunia II, styrene monomer menjadi sangat penting karena kebutuhan
akan karet sintetis semakin meningkat, sehingga dibuatlah produk styrene monomer secara
komersial dalam skala besar. Sejak itu produksi styrene monomer menunjukkan
2

peningkatan yang pesat dan karena kebutuhan akan styrene monomer terus meningkat,
maka dewasa ini semakin dikembangkan proses pembuatannya yang lebih efisien dan
modern.
Dari tahun ketahun kebutuhan styrene di Indonesia makin meningkat, hal ini
terlihat dengan meningkatnya impor styrene di Indonesia. Diperkirakan kebutuhan
tersebut akan meningkat pada tahun-tahun mendatang dengan makin berkembangnya
industri pengolahan styrene.
Dengan berkembangnya pasar otomotif dunia dan peningkatan jumlah penduduk
dunia yang berakibat semakin meningkatnya penggunaan plastik yang berbahan baku
styrene. Hal ini dapat menjadi peluang yang bagus untuk perkembangan styrene di
Indonesia.
Pada umumnya pabrik ethylbenzena dan styrene monomer terintegrasi sehingga
memudahkan transportasi bahan baku dan produknya. Berikut adalah tabel teknologi yang
digunakan pada pembuatan ethylebenzene dan styrene monomer:

Tabel 1.1 Pabrik styrene monomer di Amerika Serikat dan teknologi yang digunakan
tahun 1995
Pabrik dan Lokasinya
Kapasitas
(10
3
ton/tahun)
Teknologi yang digunakan
Ethylbenzene Styrene
Amoco
( Texas City, Texas )
364 AlCl3 Dehydro
Arco
( Channeview, Texas )
511 Monsanto AlCl3 ARCO PO/SM
636 Mobil-Badger ZSM-5 ARCO PO/SM
Chevron
( St. James, La )
682 Mobil-Badger ZSM-5 Fina-Badger Dehydro
Cos-Mar ( Carville, La ) 864 Mobil-Badger ZSM-5 Fina-Badger Dehydro
Dow ( Freeport, Tex ) 636 Dow AlCl3 Dow Dehydro
Hunstman
( Bayport, Tex )
568 Mobil-Badger ZSM-5 Fina-Badger Dehydro
Resene ( Odessa, Tex ) 145 UOP Alkar UOP Dehydro
Steding
( Texas City, Tex )
727 Monsanto AlCl3 Monsanto Dehydro
Wesdake
( Lake Charles, La )
159 Mobil-Badger ZSM-5 Fina-Badger Dehydro
( Othmer, Vol 22, 1998 )

Di Indonesia sendiri hanya ada satu perusahaan yang menghasilkan styrene
monomer, yaitu PT Styrindo Mono Indonesia. Perusahaan ini merupakan anak dari
PT Chandra Asri sebagai penghasil naphta cracker yang digunakan sebagai bahan baku
3

pembuatan ethyl benzene. PT Styrindo Mono Indonesia (SMI) merupakan satu-satunya
produsen Styrene Monomer di Indonesia yang melayani baik industri hilir domestik dan
pasar ekspor regional, Pabrik SMI memproduksi Styrene Monomer dengan kapasitas
340,000 MT per tahun. Dua unit pabrik Ethyl Benzene dirancang dengan lisensi dari
Mobil/Badger dan teknologi-teknologi Lummus. Kedua unit Ethyl Benzene tersebut
terintegrasi dengan dua unit pabrik Styrene Monomer yang direkayasa menggunakan
teknologi Lummus/UOP (anonim1, 2014). Pada saat ini PT Styrindo Mono Indonesia
menguasai 80% pangsa pasar styrene monomer di Indonesia dan menjadi salah satu
produsen penting di kawasan Asia Tenggara dan China (anonim2, 2014).
Berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik, data ekspor, impor, dan kebutuhan
dalam negeri di Indonesia dapat dilihat dalam Tabel 1.2 berikut:

Tabel 1.2 Data ekspor, impor, dan kebutuhan styrene monomer di Indonesia
Tahun Ekspor (ton) Impor (ton) Kebutuhan dalam negeri (ton)
2006 12.439 2.558 9.881
2007 21.281 2.674 18.606
2008 82.265 1.037 81.228
2009 101.469 16.903 84.566
2010 90.318 2.948 87.370
2011 139.611 6.655 132.956
2012 123.275 5.355 117.920

(Badan Pusat Statistik, 2013)

Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa kebutuhan dalam negeri untuk
styrene monomer dari tahun ke tahun cenderung terus meningkat. Jumlah ekspor yang
sedemikian besar juga dapat dijadikan pangsa pasar yang sangat bagus untuk kedepannya.
Pabrik yang direncanakan ini nantinya akan berusaha memenuhi dan menjadi key player
dalam industri styrene monomer di dunia. Pada tabel dapat dilihat bahwa jumlah styrene
monomer yang diekspor setiap tahun cenderung naik, hal ini menunjukkan adanya pangsa
pasar yang sangat besar di kawasan asia tenggara dan asia timur. Hal ini juga dapat
diketahui karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi di wilayah asia, termasuk Indonesia
sehingga daya beli terhadap barang-barang yang menggunakan bahan baku styrene
monomer terus bertambah.
Berdasarkan deskripsi di atas akan sangat menguntungkan apabila saat ini
mendirikan pabrik styrene monomer, karena pangsa pasar yang sangat besar styrene
4

monomer yang dihasilkan dapat dijual di dalam dan di luar negeri sehingga dapat
menambah devisa negara dan memperkuat industri kimia di Indonesia. Dilihat dari
perbandingan harga bahan baku dan hasil produknya, pendirian pabrik styrene monomer
ini juga sangat menguntungkan. Menurut data diperoleh data harga bahan baku
(etilbenzen) yaitu US$ 1375/ton sedangkan harga produk yang dihasilkan (styrene
monomer) yaitu US$ 1686/ton.

1.2 Maksud dan Tujuan Prarancangan Pabrik
Kebutuhan styrene di Indonesia belum dapat terpenuhi, dan di Indonesia
belum banyak berdiri pabrik yang memproduksi styrene, sehingga untuk memenuhi
kebutuhan styrene di dalam negeri maka dirasa perlu untuk mendirikan suatu pabrik
pembuatan styrene.
Tujuan prarancangan pabrik styrene dengan proses dehidrogenasi katalitik adalah
sebagai berikut :
1. Mengaplikasikan ilmu teknik kimia khususnya di bidang perancangan, analisa proses
dan operasi teknik kimia sehingga memberikan gambaran kelayakan perancangan
pabrik pembuatan styrene.
2. Memenuhi kebutuhan dalam negeri dan mengurangi impor styrene di Indonesia.
3. Memproduksi styrene dengan nilai ekonomis yang tinggi dengan biaya rendah.
4. Menunjang program pemerintah yaitu menyediakan lapangan pekerjaan dan menekan
jumlah pengangguran di Indonesia.

1.3 Analisa Pasar dan Perencanaan Kapasitas Produksi
1.3.1 Analisa Pasar
Dalam menentukan kapasitas produksi yang menguntungkan, digunakan beberapa
pertimbangan yaitu :
Industri yang bergerak dalam produk yang sama
Satu-satunya industri yang menghasilkan styrene monomer di Indonesia adalah PT
Styrindo Mono Indonesia (PT SMI) yang saat ini merupakan anak perusahaan PT Chandra
Asri Petrochemical dengan kapasitas 340.000 ton/tahun. Sebagai satu-satunya pabrik yang
menghasilkan styrene monomer PT SMI dapat menguasai pasar Indonesia, tentu saja hal
ini kurang baik bagi pertumbuhan iklim industri yang ada, sehingga diperlukan pabrik
yang menjadi saingannya. PT SMI didirikan pada tahun 1992 oleh Barito Putra group.
Dengan kondisi seperti itu, maka yang dapat dijadikan sasaran awal dalam penjualan nanti
5

adalah mengambil alih pangsa pasar impor, sehingga Indonesia dapat menjadi satu-
satunya negara yang mengekspor styrene monomer.
Pabrik Styrene monomer kapasitas minimum pabrik styrene monomer yang pernah
dibangun adalah Santide Refining Co, Corpus City, Texas, USA dengan kapasitas sebesar
27.220 ton/tahun sedangkan kapasitas terbesar pabrik Styrene Monomer adalah Cos-Mar
Co dengan kapasitas 1.000.000 ton/tahun (yudistira dkk, 2012)

1.3.2 Perencanaan kapasitas produksi
Proyeksi kebutuhan styrene di Indonesia
Berdasarkan penjelasan sebelumnya, yang akan menjadi target marketing pabrik
ini nantinya adalah mengambil alih pangsa pasar styrene monomer yang menjadi
kebutuhan dalam negeri dan melakukan kegiatan ekspor karena pangsa pasar yang sangat
besar, berdasarkan tabel 1.2 kita dapat menentukan jumlah kebutuhan styrene monomer di
indonesia pada tahun 2018 dengan metoda Least Square : y = a + b ( )
Dimana :
a =
b =
()()
( )


( )( )


( )


()


Keterangan :
= rata-rata x
= rata-rata y
n = jumlah data yang diobservasi
Tabel 1.3 Perhitungan persamaan kebutuhan styrene monomer di Indonesia
Tahun x y x
2
y
2
xy
2006 1 9.881 1 97.632.580,05 9.880,92
2007 2 18.606 4 346.185.878,06 37.212,14
2008 3 81.228 9 6.597.918.453,02 243.682,72
2009 4 84.566 16 7.151.474.994,16 338.265,58
2010 5 87.370 25 7.633.482.825,74 436.849,03
2011 6 132.956 36 17.677.416.798,86 797.738,68
2012 7 117.920 49 13.905.199.746,34 825.442,18
2013 8 120.651 64 14.556.558.110,92 965.204,50
Jumlah 36 653.178 204 67.965.869.387,14 3.654.275,73
Rata-rata 4,5 81.647,26 25,5 8.495.733.673,39 456.784,47

6

= 4,5
= 81.647,26
a = 81.647,26
b = 18143,43
Dari perhitungan, maka diperoleh persamaan sebagai berikut:
y = 18143,43x 0,02
Dari persamaan tersebut maka dapat diketahui proyeksi kebutuhan styrene monomer di
Indonesia tahun 2014 2020 (tabel 1.4).
Tabel 1.4 Proyeksi kebutuhan styrene monomer di Indonesia tahun 2014 - 2020
Tahun Jumlah (ton)
2014 163.295
2015 181.438
2016 199.582
2017 217.726
2018 235.870
2019 254.014
2020 272.158

Berdasarkan data tersebut, dapat diasumsikan jika kebutuhan styrene monomer
pada tahun 2018 adalah 235.870 ton. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka ditetapkan
kapasitas pabrik styrene monomer yang akan didirikan pada tahun 2018 adalah sebesar
150.000 ton/tahun dengan alasan sebagai berikut:
1. Ketersediaan bahan baku berupa ethylbenzena yang dapat disediakan oleh PT SMI
adalah 380.000 ton/tahun.
2. Produksi styrene monomer nasional saat ini hanya dilakukan oleh PT SMI dengan
kapasitas 340.000 ton/tahun, namun masih belum mencukupi kebutuhan styrene
monomer dalam negeri.
3. Kebutuhan styrene monomer dalam negeri pada tahun 2018 adalah 235.870 ton,
sehingga dengan kapasitas 150.000 ton/tahun dapat memenuhi 64% kebutuhan
styrene monomer dalam negeri.
4. Kapasitas pabrik styrene monomer yang pernah ada adalah 36.000 ton/tahun sehingga
dengan pabrik styrene monomer dengan kapasitas 150.000 ton/tahun mempunyai nilai
ekonomis yang baik.



7

1.4 Pemilihan Lokasi Pabrik
Pemilihan lokasi pabrik merupakan hal yang sangat penting dalam setiap
perancangan suatu pabrik, karena menyangkut kelangsungan dan keberhasilannya, baik
dari segi ekonomi, maupun teknisnya. Orientasi perusahaan dalam menentukan lokasi
pabrik pada prinsipnya ditentukan berdasarkan pertimbangan pada letak geografis, teknis,
ekonomis dan lingkungan. Dari pertimbangan tersebut lokasi pabrik dari prarancangan
pabrik Styrene monomer ini dipilih di daerah Cilegon, Banten dengan pertimbangan
sebagai berikut :
1. Bahan baku
Bahan baku ethylbenzene dari dalam negeri tersedia di daerah Cilegon, sehingga jarak
yang dekat dengan sumber bahan baku akan menekan biaya transportasi dan akan
memudahkan dalam penyediaanya.
2. Pasar
Pabrik-pabrik polimer yang mempergunakan styrene monomer sebagai bahan baku
atau bahan pembantu banyak terdapat di daerah Cilegon, Jakarta, dan sekitarnya atau
masih di dalam Pulau Jawa sehingga akan lebih mudah memasarkan produk styrene
monomer tersebut.
3. Transportasi
Daerah Cilegon mempunyai sarana transportasi darat dan laut yang cukup memadai,
yaitu jalan tol yang menghubungkan Merak-Jakarta-Cikampek dan pelabuhan laut
yang mampu untuk berlabuhnya kapalkapal besar sehingga memudahkan pengiriman
produk styrene monomer.
4. Kebutuhan Utilitas
Cilegon merupakan kawasan industri yang cukup besar sehingga sebagian besar
kebutuhan utilitas seperti tenaga listrik dari PLN, dan air mudah terpenuhi. Karena
dekat dengan laut kebutuhan air untuk proses produksi dimungkinkan menggunakan
air laut dengan proses treatment.
5. Tenaga Kerja
Karena banyak terdapat pabrik-pabrik besar, di daerah Cilegon dan sekitarnya banyak
terdapat tenaga kerja yang sudah terlatih dan berpengalaman.
6. Sifat Bahan
Produk Styrene yang dihasilkan akan dipasarkan dalam bentuk cair, sehingga dari
Cilegon produk akan mudah diangkut melalui jalan darat maupun melalui laut untuk
8

dieksport. Selain itu, Styrene monomer mudah terpolimerisasi namun karena Cilegon
dekat dengan pasar maka akan mengurangi resiko kerusakan bahan.
7. Proses Produksi
Dalam proses produksi Styrene monomer terjadi kehilangan berat bahan tetapi
jumlahnya relatif kecil. Secara ekonomi hal tersebut akan merugikan, tetapi karena
dekat dengan sumber bahan baku dan pasar maka pendirian pabrik di daerah Cilegon
masih menguntungkan.
8. Pengolahan limbah dan pengembangan Pabrik
Lokasi pabrik yang tidak berada di kota besar akan memudahkan dalam pengolahan
limbahnya maupun dalam usaha perluasan pabrik khususnya dalam penyediaan lahan
baru untuk perluasan pabrik.
9. Pemerintah dan Politik
Kebijaksanaan pemerintah untuk menjadikan daerah Cilegon, Merak dan sekitarnya
sebagai kawasan industri akan memudahkan dalam hal perijinan dan pengembangan
pabrik.














9

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bahan Baku dan Bahan Pembantu Pembuatan Styrene monomer
Salah satu faktor yang menentukan dalam prarancangan suatu pabrik adalah dengan
mengetahui sifat-sifat fisika dan kimia dari zat yang ikut berperan di dalamnya. Karena
dengan mengetahui sifat-sifat tersebut maka dapat ditentukan peralatan yang digunakan
dan kondisi operasi yang memungkinkan agar perancangan dapat berjalan dengan baik.

2.1.1 Etil Benzena
Etil benzena merupakan senyawa kimia organik yang merupakan hidrokarbon
aromatik. Penggunaan utama adalah dalam industri petrokimia sebagai senyawa
intermediate untuk produksi stirena, yang pada gilirannya digunakan untuk membuat
polistiren, bahan plastik yang umum digunakan. Meskipun sering hadir dalam jumlah
kecil dalam minyak mentah, etil benzena diproduksi dalam jumlah massal dengan
menggabungkan benzena petrokimia dan ethylene dalam asam katalis reaksi kimia.
Hidrogenasi katalitik dari etil benzena kemudian diberi gas hidrogen dan stirena, yang
menghasilkan vinil benzena. Etil benzena juga merupakan bahan dalam cat.
Etil Benzena pertama kali diproduksi secara skala komersial pada tahun 1930
oleh Dow Chemical di US dan oleh BASF di Republik Federal Jerman. Hingga
tahun 1980, hampir semua etil benzena diproduksi dengan katalis Alumunium Klorida
menggunakan mekanisme reaksi Fridal Crafts. Beberapa etil benzena diproduksi dengan
katalis Boron Trifluorida. Sedikitnya etil benzena diproduksi dari campuran xylene dengan
menggunakan proses distilasi sangat intensif. Pada tahun 1980, fasilitas pertama
menggunakan proses berbasis zeolit yang didasarkan pada reaktor fasa uap pada suhu
lebih dari 400
o
C, pada suhu ini reaksi seperti isomerisasi dan transfer hydrogen
mencemari produk etil benzena. Upaya mengurangi pencemaran produk dengan mengubah
kondisi operasi pada temperature lebih rendah dari 270
o
C didapat etil benzena kemurnian
tinggi. Zeolit kemurnian tinggi pertama berbasis teknologi dikembangkan oleh UOP dan
ABB Lummus Global dimulai pada tahun 1990.
Etil benzena sering disebut peniletana atau etil benzoate dengan rumus molekul
C
6
H
5
C
2
H
5
adalah salah satu senyawa kimia berupa cairan tidak berwarna, berbau khas dan
mudah mengiritasi kulit dengan titik didih 13
o
C yang mempunyai peranan penting
10

dalam industri kimia seperti dalam stiren monomer, etil antraquinon, asam
benzoate, dan industri pembuatan cat.
Adapun ketiga jenis produk tersebut masing masing styrene monomer untuk
bahan baku pembuatan polystyrene, styrene butadiene rubber (SBR), unsaturated
polyester resin (UPR), dan styrene acrilonitril polimer (SAP). Sedangkan etil antraquinon
digunakan untuk bahan baku pemutih dan pelumas. Kemudian benzoate digunakan
untuk bahan baku pembuatan parfum, phenol dan barang barang dari plastic.
Konsumsi etil benzene yang potensial adalah untuk bahan baku industri styrene
monomer. Sedikitnya 90% produk etil benzene digunakan untuk industri tersebut.
Sehingga kebutuhan etil benzene berkaitan langsung dengan kebutuhan styrene monomer.
Bahan baku pembuat etil benzene adalah benzene yang mengalami proses alkilasi dengan
menggunakan etilen, AlCl
3
, atau BF
3
dipakai sebagai katalisator, sedangkan senyawa
dari klorida, biasanyadari HCl atau HF dapat digunakan sebagai promoter reaksi
( Othmer, Vol 22, 1998 ).

A. Sifat Fisis dan Kimia ethylbenzena
Sifat Fisis:
Wujud
Berat Molekul
Density pada 25 C
Titik beku
Titik didih
Kelarutan
Kapasitas panas

Tekanan kritis
Volume kritis
Suhu kritis
Indek reaksi
Faktor aksentrik
Kompresibilitas kritis
Flash point
Panas latent fusi
:
:
:
:
:
:

:

:
:
:
:

:
:
Cair
106,167 gr / mol
0,8671 gr / ml
- 94,94 C
136,185 C
larut dalam ethanol, 0,001% dalam air
untuk gas ideal = 1169 J/kg

K
untuk cairan = 1752 J/kg

K
38,1 atm
374,0 cm/mol
346,4 C
pada 25 C = 1,4932
0,3011
0,264
15 C
9,164 J/mol

K
11

Refraktif indeks
Surface tension
Viskositas pada 25
0
C
Panas penguapan pada 25
0
C
Panas pembentukan pada 25
0
C
Entropy pembentukan
Specific heat pada 25
0
C
:
:
:
:
:
:
:
:
1,4959
31,50 dyne/cm
0,64 cp
42,226 J/mol

K
-12,456 J/mol

K
255,2 J/mol

K
185,06 J/mol

K
Sifat Kimia
1. Reaksi Dehidrogenasi
Proses ini dilakukan pada fase gas dengan katalis Fe
2
O
3
. Reaksi berlangsung secara
seimbang dan membutuhkan panas.
Reaksi yang terjadi :
C
6
H
5
CH
2
CH
3
C
6
H
5
= CH
2
+ H
2
H (600 C) = 124,9 kJ/mol
Ethylbenzene Styrene Hidrogen
(Ullman, vol A 10, 1994)
2. Reaksi Oksidasi
Reaksi oksidasi menghasilkan Ethyl benzene Hidroperokside
Reaksi yang terjadi :
C
6
H
5
CH
2
CH
3
+ O
2
C
6
H
5
CH(OOH)CH
3
Reaksi fase cair dengan bubbling udara melalui cairan terhadap katalis. Akan tetapi
karena Hidroperokside merupakan senyawa yang tidak stabil, maka kemungkinan
kenaikan temperatur harus dihindari karena akan terjadi dekomposisi.
Polyethylbenzene merupakan produk samping dari pembuatan Ethylbenzene.
3. Reaksi Hidrogenasi
Dapat terjadi dengan bantuan katalis Ni, Pt, atau Pd menghasilkan Ethylcyclohexane.
Reaksi yang terjadi :
C
6
H
5
CH
2
CH
3
+ 3H
2
C
6
H
11
C
2
H
5

Ethylbenzene Ethylcyclohexane
4. Reaksi Halogenasi
Dapat terjadi dengan adanya bantuan panas atau cahaya.
Reaksi yang terjadi :
2C
6
H
5
CH
2
CH
3
+ Cl
2
C
6
H
5
CH-ClCH
3
+ C
6
H
5
CH
2
Cl
Ethylbenzene 1-chloro-2phenilethan 2-chloro phenilethan
12

B. Kegunaan Etil Benzena
Etil benzena merupakan senyawa kimia yang mempunyai peranan penting dalam
industri monomer stirena, dimana selanjutnya stirena monomer digunakan sebagai bahan
baku pembuatan plastik (polistirena) hampir 90% etil benzena yang dihasilkan digunakan
sebagai bahan baku pembuatan styrene monomer. Selain itu, etil benzena juga
dimanfaatkan untuk pembuatan bahan pewarna dan deterjen. Etil benzena juga banyak
digunakan sebagai pelarut (solvent) dalam berbagai industri.

2.1.2 Bahan Pembantu : Katalis Shell 105
Wujud
Bentuk
Komposisi
Bulk density
Diameter
Porositas
:
:
:
:
:
:
Padat
Pellet
84,3 % Fe
2
O
3
, 2,4%Cr
2
O
3
, 13,3% K
2
CO
3

2146,27 kg/cm
3

4,7 mm
0,35

2.2 Styrene Monomer
A. Sifat Fisis dan Kimia
Sifat Fisis :
Wujud
Berat molekul
Density

Density kritis
Volume kritis
Tekanan kritis
Suhu kritis
Flash point
Indek refraksi
Kelarutan

Viscositas

:
:
:

:
:
:
:
:
:
:

:

Cair
104,1036 gr / mol
pada 30 C = 0,8970 gr / ml
pada 40 C = 0,888 gr / ml
0,279 gr / ml
3,55 cm
3
/mol
37,6 atm
346,4 C
31 C
pada 20 C = 1,546
larut dalam ethanol dan ether, 0,032 %
dalam air
pada 20 C = 0,703 cp
pada 40 C = 0,586 cp
13

Panas spesifik

Surface tension (20
0
C)
Panas pembentukan (25
0
C)
Factor accentric
:
:
:
:
:
pada gas (25 C) = 0,2818 Kal / g C
pada cairan (40 C) = 0,4178 Kal/g C
30,86 dyne/cm
-12,456 KJ/mol

K
0,257

Sifat Kimia
1. Polimerisasi Styrene menjadi Polyvinylbenzene
Reaksi yang terjadi :
n (C
6
H
5
CH = CH
2
) + O
2
(CHCH
2
)
n
-C
6
H
5
2. Styrene ditambah Ozon menjadi Benzaldehyde
Reaksi yang terjadi :
C
6
H
5
CH = CH
2
+ O
3
C
6
H
5
CHO
3. Alkilasi Styrene dengan Methanol menjadi Methylether
Reaksi yang terjadi :
C
6
H
5
CH = CH
2
+ CH
3
OH C
6
H
5
-CH(OCH
3
)CH
3

B. Kegunaan Styrene Monomer
Styrene monomer dapat digunakan antara lain dalam bentuk :
Polystyrene
Digunakan dalam industri pengemasan, alat-alat rumah tangga, mobil, elektronik.
Acrylonitrile Butadiena Styrene
Digunakan dalam industri pipa, interior mobil dan refrigerator.
Styrene Butadiena Rubber
Digunakan dalam industri ban, radiator dan heater.
Styrene Butadiena Latex
Digunakan dalam industri pelapis kertas dan. pelapis karet.

2.3 Pembuatan Styrene Monomer
Styrene monomer pertama kali diperoleh dengan cara isolasi dari destilasi storaks
pada abad ke-19. Saat itu Styrene monomer sudah dapat dijadikan polimer tetapi polimer
yang dihasilkan masih getas dan mudah patah, sehingga belum ada yang tertarik untuk
menjadikan Styrene monomer dalam skala industri, dan hanya skala laboratorium saja.
14

Tahun 1925, Naugatuck Chemical Co. mencoba memproduksi Styrene monomer
dalam skala besar untuk komersial, tetapi gagal. Baru pada saat perang dunia II teknologi
pembuatan Styrene monomer berhasil dikembangkan oleh Badische Anilin Soda Fabrics
(BASF) dengan cara Dehidrogenasi Ethylbenzene. Dalam produksi secara komersial
pada umumnya menggunakan proses Dehidrogenasi Katalitik (85%) dan Oksidasi
Ethylbenzene (15 %).
(Kirk Othmer, vol 21, 1980)

Macammacam proses pembuatan Styrene monomer
1. Dehidrogenasi Katalitik
Dehidrogenasi katalitik adalah reaksi langsung dari ethylbenzene menjadi Styrene,
cara tersebut adalah proses pembuatan Styrene monomer yang banyak dikembangkan
dalam produksi komersial. Reaksi terjadi pada fase uap dimana steam melewati katalis
padat. Katalis yang digunakan adalah Shell 105, yang terdiri dari campuran Besi sebagai
Fe
2
O
3
, Kromium sebagai Cr
2
O
3
dan Potasium sebagai K
2
CO
3
. Reaksi bersifat endothermis
dan merupakan reaksi kesetimbangan. Sedangkan reaktornya dapat bekerja secara adiabatis
dan isothermal.
Reaksi yang terjadi :
C
6
H
5
CH
2
CH
3
C
6
H
5
CH = CH
2
+ H
2
Yield rendah jika reaksi ini tanpa menggunakan katalis. Temperatur reaktor
600650
0
C pada tekanan atmosfer. Pada saat kesetimbangan konversi Ethylbenzene
berkisar antara 5070% dengan yield 8889 %.
(Ullman, vol A25, 1994)
2. Oksidasi Ethylbenzene
Proses ini ada 2 macam yaitu dari Union Carbide dan Halogen Internasional. Proses
dari Union Carbide mempunyai 2 produk yaitu Styrene dan Acetophenon. Menggunakan
katalis Acetate diikuti dengan reaksi reduksi menggunakan katalis Chrome-Besi-Tembaga
kemudian dilanjutkan dengan reaksi hidrasi alkohol menjadi Styrene dengan katalis Titania
pada suhu 250
0
C.
Reaksi yang terjadi berturut turut adalah sebagai berikut :
C
6
H
5
CH
2
CH
3
+ O
2
C
6
H
5
COCH
3
+ H
2
O
C
6
H
5
COCH
3
+ H
2
O C
6
H
5
CH (OH )CH
3

C
6
H
5
CH(OH)CH
3
C
6
H
5
CH = CH
2
+ H
2
O

15

Kehilangan proses ini adalah terjadinya korosi pada tahap oksidasi dan produk yang
dihasilkan 10% lebih kecil dibandingkan reaksi dehidrogenasi. Proses Halogen
Internasional menghasilkan Styrene dan Propyleneoxide. Yaitu proses mengoksidasi
Ethylbenzene menjadi Ethyl benzene Hidroperoxide kemudian direaksikan dengan
propylene membentuk propyleneoxide dan -phenil-ethylalkohol kemudian didehidrasi
menjadi Styrene.
Dari beberapa uraian proses pembuatan Styrene tersebut diatas, maka akan dirancang
pabrik Styrene monomer dengan proses Dehidrogenasi Katalitik dengan menggunakan
katalis Shell 105 dengan alasan sebagai berikut :
1. Proses dehidrogenasi adalah proses yang paling sederhana.
2. Proses dehidrogenasi katalitik yang paling banyak dipakai secara komersial.
3. Tidak menimbulkan korosi.
4. Hasil samping berupa Toluen dan Benzene bisa dijual sehingga dapat menambah
keuntungan.
Tabel 2.1 Perbandingan proses Dehidrogenasi katalitik dan oksidasi Ethylbenzene
Parameter
Proses Dehidrogenasi
katalitik
Proses oksidasi
Ethylbenzene
Bahan Baku
Bahan Pembantu



Kondisi Operasi
Suhu reaksi
Tekanan
Hasil konversi
Yield
Selektivitas
Katalis yang digunakan

Jenis reaktor
Alat utama
Ethyl Benzene
Steam dan katalis




580 650
0
C
0,7 1,5 atm
35 45 %
88 95 %
95 %
Fe
2
O
3
, Cr
2
O
3
, K
2
CO
3

Reaktor tunggal
1 Reaktor dan 2 menara
destilasi
Ethyl Benzene
Propilen, oksigen,
hidrogen, dan
bermacam-macam
katalis

135 160
0
C
120 220 psi
25 30 %
80 85 %
70 %
Acetone, krom, besi,
tembaga, dan titania
Reaktor seri
3 Reaktor dan 3 Menara
Destilasi

16


Gambar 1. Diagram alir proses oksidasi ( PO-SM)


Gambar 2. Diagram alir proses dehidrogenasi ethylbenzene





17

BAB III
TINJAUAN PROSES DEHIDROGENASI SECARA UMUM

Dehidrogenasi adalah salah satu reaksi yang penting dalam industri kimia meskipun
penggunaannya relatif sedikit bila dibandingkan dengan proses Hidrogenasi. Reaksi
dehidrogenasi adalah reaksi yang menghasilkan komponen yang berkurang kejenuhannya
tetapi lebih reaktif. Pada prinsipnya semua senyawa yang mengandung atom hidrogen
dapat dihidrogenasi, tetapi umumnya yang dibicarakan adalah senyawa yang mengandung
Carbon seperti Hidrocarbon dan Alkohol. Proses dehidrogenasi kebanyakan berlangsung
secara Endothermis yaitu membutuhkan panas.
Reaksi dapat didefinisikan sebagai berikut :
Reaksi pembentukan Aldehyde dari Alkohol primer.
C
2
H
5
OH + O
2
CH
2
CHO + H
2
O
Reaksi pembentukan Keton dari Alkohol Sekunder.
CH
2
CHOH + O
2
CH
2
COCH
2
+ H
2
O
Dehidrogenasi adalah reaksi yang bersifat endothermis yaitu membutuhkan panas
untuk terjadinya reaksi dan suhu yang tinggi diperlukan untuk mencapai konversi yang
tinggi pula. Reaksi dehidrogenasi yang sering digunakan dalam skala besar adalah
dehidrogenasi Ethylbenzene menjadi Styrene.
Reaksi dehidrogenasi berperan pula dalam pirolitis, cracking, gasifikasi oleh
pembakaran sebagian karbonisasi dan reforming yang semuanya terjadi dalam industri
refining dan petrokimia.
Diharapkan reaksi dehidrogenasi sebagai berikut :
CH
2
CH
3
CH = CH
2


+ H
2
.( 1 )

Reaksi bilangan tambahan untuk kepentingan identifikasi.
Maksud dan tujuan reaksi dan akibatnya harus dipertimbangkan untuk pemilihan
reaktor waktu dioperasikan.
Didalam pembahasan ini diasumsikan bahwa reaktor dioperasikan pada temperatur
lebih 600C dan tekanan atmosfer dan jika reaksi terjadi pada temperatur 650C atau lebih
18

dapat dipastikan konversi Ethylbenzene menjadi Styrene berada pada kondisi
kesetimbangan.
Beberapa macam kemungkinan percepatan atau reaksi paralel dan akibatnya.
Reaksi pertama adalah pembentukan Ethylbenzene dari dehidrogenasi Styrene.
CH
2
CH
3
CH CH
2


+ H
2
( 2 )

Konstanta kesetimbangan reaksi untuk menghitung kesetimbangan
thermodinamika pembentukan yang tidak diinginkan dari produk, dan dapat
digambarkan bahwa pembentukan Ethylbenzene dapat dikontrol secara efektif
dari operasi reaktor pada temperatur di bawah 700C.
Dua reaksi tambahan untuk pembentukan Benzene dan Toluene dari
Ethylbenzene adalah sebagai berikut :
CH
2
CH
3


+ C
2
H
4
..(3)
dan
CH
2
CH
3
CH
3


+ H2 + CH
4
..(4)

Reaksi ketiga adalah kebalikan dari reaksi Alkilasi Benzene.
Jadi jika hanya mempertimbangkan faktor thermodinamika saja maka seperti
kasus sintesa Methanol, pemilihan katalis memberikan hasil yang lebih tinggi
dalam dehidrogenasi dan meningkatkan angka reaksi seperti yang diinginkan
untuk perbandingan reaksi. Tetapi bagaimanapun juga perlu dipertimbangkan
analisa Kinetik.
Dari tinjauan Thermodinamika, pembuatan Styrene dari bahan Ethylbenzene dapat
ditentukan berdasarkan prinsipprinsip yang penting :
o Jika reaktor dioperasikan pada temperatur lebih dari 500
0
C maka kelayakan konversi
Ethylbenzene menjadi Styrene lebih terjamin.
o Dari konsep konversi kesetimbangan, sebaiknya temperatur reaktor dioperasikan pada
temperatur lebih dari 600
0
C, tetapi hal-hal seperti angka percepatan reaksi, terjadinya
19

cracking dari Ethylbenzene menjadi Benzene, pembentukan Toluene dari
Ethylbenzene, Hidrogen yang merupakan reaksi pemanasan dari konversi pada semua
temperatur harus menjadi pertimbangan.
o Pemakaian katalis untuk pembentukan Styrene dengan Dehidrogenasi adalah penting,
pada temperatur lebih dari 600
0
C dapat menyebabkan percepatan Dehidrogenasi
Ethylbenzene menjadi Styrene.
o Temperatur operasi reaktor diatur pada temperatur 600
0
C < T < 650
0
C dengan
katalis pada proses dehidrogenasi yang mungkin menghasilkan gas inert.