Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KELOMPOK

FOUNDATION OF NURSING 1
KEPERAWATAN TRANSKULTURAL









Oleh Kelompok 2

Trian Agus Hartanto 115070200111001
Hery Eni Suryani 115070200111013
Bryan Prasetyo 115070200111014
Dwi Handayani Sundoro 115070200111017
M. Junjung Rasa B. 115070200111018
Gigih Adetya Junaedi 115070200111024
Yansa Agustiawan 115070200111025
Afiat Arif Ibrahim 115070207111001
Nita Purnama Sari 115070207111007
M. Maskana Cahya 115070207111009
Anita Ika Lestari 115070207111011



Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya
2013
PENDAHULUAN
Perawat dalam menjalankan tugasnya sering menghadapi klien yang
memiliki latar belakang etnik, budaya, dan agama yang berbeda. Untuk
menghadapi situasi ini penting bagi perawat untuk memahami bahwa klien
memiliki pendangan dan interpretasi mengenai penyakit dan kesehatan
yang berbeda. Pandangan tersebut didasarkan pada keyakinan sosial-
budaya klien.
Perawat harus sensitif dan waspada terhadap keunikan warisan budaya
dan tradisi kesehatan klien dalam memberikan asuhan keperawatan
kepada klien dari latar belakang kebudayaan yang berbeda. Perawat
harus mengkaji dan mendengarkan dengan cermat tentang konsistensi
warisan budaya klien. Pengakajian tentang budaya klien merupakan
pengkajian yang sisrematik dan komprehensif dari nilai-nilai pelayanan
budaya, kepercayaan, dan praktik individual, keluarga, komunitas. Tujuan
engkajian budaya adalah untuk mendapatkan informasi yang signifikan
dari klien sehingga perawat dapat menerapkan kesamaan budaya (
Leininger dan MC Farland, 2002).
Perawat dalam melakukan pengkajian terhadap kebudayaan klien
dimulai dari menentukan warisan kultural budaya klien, latar belakang
organisasi sosial, dan keterampilan bahasa serta menayakan penyebab
penyakit atau masalah untuk mengetahui klien mendapatkan pengobatan
rakyat secaratradisional baik secara ilmiah maupun mesogisoreligus atau
kata ramah, suci untuk mencegah dan mengatasi penyakit. Hal ini
dilakukan untuk pemenuhan kompoen pengakajian budaya untuk
menyediakan informasi yang berguna dalam mengumpulkan data
kebudayaan klien.






PEMBAHASAN
I. Konsep Budaya
a. Konsep Budaya
Kebudayaan berasal dari bahasa Latin colere yang berarti
mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan. Dari
konsep ini berkembanglah pengertian kebudayaan yaitu segala daya
dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam. Ditinjau
dari sudut bahasa Indonesia, kebudayaan berasal dari bahasa
Sansekerta buddhayah yaitu bentuk jamak dari buddhi, yang berarti
budi atau akal. Dengan demikian kebudayaan adalah hal-hal yang
bersangkutan dengan akal.
Kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks yang
didalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian,
moral, hokum, adat-istiadat dan kemampuan yang lain yang di dapat
manusia sebagai anggota masyarakat (Tylor dalam Wiranata, 2002).
Menurut Koentjaningrat kebudayaan adalah seluruh system gagasan
tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan
bermasyarakat yang didapat dengan belajar dan dijadikan milik
manusia sendiri (Syafrudin, 2009).
b. Wujud Kebudayaan
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi
tiga yaitu pertama, gagasan wujud ideal yaitu berbentuk kumpulan ide,
nilai, norma dan peraturan aktivitas, dan artefak. Kedua, aktivitas atau
disebut juga dengan sistem sosial yaitu terdiri dari aktivitas, interaksi,
yang mempunyai pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata
kelakuan. Ketiga, artefak (karya) yaitu wujud kebudayaan fisik yang
berupa hasil dari aktivitas, perbuatan dan karya manusia dalam
masyarakat (Syafrudin, 2009).
Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud
kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan
yang lain. Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat
digolongkan atas dua komponen utama yaitu kebudayaan material dan
kebudayaan non material. Kebudayaan material mengacu pada semua
ciptaan masyarakat yang nyata dan konkrit. Termasuk dalam
kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari
suatu penggalian arkeologi yaitu mangkuk tanah liat, perhiasan,
senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-
barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian,
gedung pencakar langit, dan mesin cuci. Kebudayaan non material
adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke
generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, lagu dan tarian
tradisional (Syafrudin. 2009).
c. Ciri-Ciri Kebudayaan
Ciri-ciri khas kebudayaan yaitu pertama, bersifat historis yaitu
manusia membuat sejarah yang bergerak dinamis dan selalu maju
yang diwariskan secara turun-temurun (Syafrudin, 2009). Kedua,
bersifat geografis yaitu kebudayaan manusia tidak selalu berjalan
seragam, ada yang berkembang pesat dan ada yang lamban, serta
ada pula yang mandeg (stagnan) yang nyaris berhenti kemajuannya.
Dalam interaksi dengan lingkungan, kebudayaan tersebut berkembang
pada komunitas tertentu lalu meluas dalam kesukuan dan
kebangsaan/ras, selanjutnya kebudayaan itu meluas dan mencakup
wilayah/regional, serta makin meluas ke seluruh penjuru belahan bumi.
Puncaknya adalah kebudayaan kosmo (duniawi) dalam era informasi
di mana terjadi saling melebur dan berinteraksinya kebudayaan-
kebudayaan. Ketiga, bersifat perwujudan nilai-nilai tertentu yaitu dalam
perjalanan kebudayaan, manusia selalu berusaha melampaui (batas)
keterbatasannya.
d. Aspek Budaya dalam Keperawatan
Menurut Leininger (Tomey & Alligood, 2006) transcultural
nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada proses
belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan
dan kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat
dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan
tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan
keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya kepada
manusia.
Menurut Giger dan Davidhizar (1995) keperawatan transkultural
dipandang sebagai bahan untuk melatih secara kompeten menilai
budaya yang berpusat pada klien. Meskipun keperawatan transkultural
dipandang sebagai berpusat pada klien, penting bagi perawat untuk
mengingat budaya yang dapat dan tidak mempengaruhi bagaimana
klien dilihat dan perawatan yang diberikan. Perawat harus berhati-hati
untuk menghindari memproyeksikan pada klien mereka sendiri
keunikan budaya dan pandangan dunia, sehingga culture care harus
disediakan. Dalam memberikan culture care, perawat harus ingat
bahwa setiap individu adalah unik dan produk dari pengalaman masa
lalu, keyakinan, dan nilai-nilai yang telah dipelajari dan diwariskan dari
satu generasi ke generasi berikutnya.
Teori keperawatan kultural menurut Leininger yaitu cultur care
diversity dan cultural care universality (Tomey & Alligood, 2006).
Cultur care diversity (perbedaan budaya dalam asuhan
keperawatan) merupakan bentuk yang optimal dari pemberian
asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan variasi
pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan
asuhan budaya yang menghargai nilai budaya individu,
kepercayaan dan tindakan termasuk kepekaan terhadap
lingkungan dari individu yang datang dan individu yang mungkin
kembali lagi.
Cultural care universality (kesatuan perawatan kultural) mengacu
kepada suatu pengertian umum yang memiliki kesamaan ataupun
pemahaman yang paling dominan, pola-pola, nilai-nilai, gaya hidup
atau simbol-simbol yang dimanifestasikan diantara banyak
kebudayaan serta mereflesikan pemberian bantuan, dukungan,
fasilitas atau memperoleh suatu cara yang memungkinkan untuk
menolong orang lain (terminology universality) tidak digunakan
pada suatu cara yang absolut atau suatu temuan statistik yang
signifikan.
Paradigma Transcultural Nursing
Leininger mengartikan paradigma keperawatan transkultural
sebagai cara pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam
terlaksananya asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar
belakang budaya terhadap empat konsep sentral keperawatan yaitu :
manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan (Andrew & Boyle dalam
Geiger and Davidhizar, 1995).
1. Manusia
Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang
memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang diyakini dan berguna
untuk menetapkan
pilihan dan melakukan pilihan. Menurut manusia memiliki
kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap
saat dimanapun dia berada (Geiger and Davidhizar, 1995).

2. Sehat
Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien
dalam mengisi kehidupannya, terletak pada rentang sehat sakit.
Kesehatan merupakan suatu keyakinan, nilai, pola kegiatan dalam
konteks budaya yang digunakan untuk menjaga dan memelihara
keadaan seimbang/sehat yang dapat diobservasi dalam aktivitas
sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai tujuan yang sama yaitu
ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-sakit
yang adaptif (Geiger and Davidhizar, 1995).
3. Lingkungan
Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena
yang mempengaruhi perkembangan, kepercayaan dan perilaku
klien. Lingkungan dipandang sebagai suatu totalitas kehidupan
dimana klien dengan budayanya saling berinteraksi.
Terdapat tiga bentuk lingkungan yaitu :
Lingkungan fisik adalah lingkungan alam atau diciptakan oleh
manusia seperti daerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman
padat dan iklim.
Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur sosial yang
berhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau
kelompok ke dalam masyarakat yang lebih luas. Di dalam
lingkungan sosial individu harus mengikuti struktur dan aturan-
aturan yang berlaku di lingkungan tersebut.
Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk dan simbol
yang menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu
seperti musik, seni, riwayat hidup, bahasa dan atribut yang
digunakan (Geiger and Davidhizar, 1995).
4. Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian
kegiatan pada praktik keperawatan yang diberikan kepada klien
sesuai dengan latar belakang budayanya. Asuhan keperawatan
ditujukan memandirikan individu sesuai dengan budaya klien.
Strategi yang digunakan dalam asuhan keperawatan adalah
perlindungan/ mempertahankan budaya,
mengakomodasi/negoasiasi budaya dan mengubah/mengganti
budaya klien (Geiger and Davidhizar, 1995).

Mempertahankan budaya
Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak
bertentangan dengan kesehatan. Perencanaan dan
implementasi keperawatan diberikan sesuai dengan nilai-nilai
yang relevan yang telah dimiliki klien sehingga klien dapat
meningkatkan atau mempertahankan status kesehatannya,
misalnya budaya berolahraga setiap pagi.
Negosiasi budaya
Intervensi dan implementasi keperawatan pada tahap ini
dilakukan untuk membantu klien beradaptasi terhadap budaya
tertentu yang lebih menguntungkan kesehatan. Perawat
membantu klien agar dapat memilih dan menentukan budaya
lain yang lebih mendukung peningkatan kesehatan, misalnya
klien sedang hamil mempunyai pantang makan yang berbau
amis, maka ikan dapat diganti dengan sumber protein hewani
lain.
Restrukturisasi budaya
Restrukturisasi budaya klien dilakukan bila budaya yang dimiliki
merugikan status kesehatan. Perawat berupaya
merestrukturisasi gaya hidup klien yang biasanya merokok
menjadi tidak merokok. Pola rencana hidup yang dipilih
biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai dengan
keyakinan yang dianut.
Menurut Brunner & Suddarth (2002) istilah dan defenisi lain
yang memberikan tilikan lebih lanjut ke dalam asuhan kultur dan
kesehatan meliputi:
Akulturasi yaitu proses dimana anggota kelompok kultural
beradaptasi dan belajar bagaimana memperlakukan kelompok
lain.
Kebutaan kultural yaitu ketidakmampuan individu untuk
mengenali nilai, kepercayaan dan praktik mereka sendiri dan
kelompok lain akibat kecenderungan etnosentris yang kuat.
Imposisi kultural yaitu kecenderungan memaksakan
keyakinan, nilai-nilai, dan pola perilaku seseorang atau
kelompok orang dari kultur yang berbeda.
Tabu kultural yaitu aktvitas yang diatur oleh peraturan perilaku
yang dihindari, dilarang atau yang tidak diizinkan oleh kelompok
cultural tertentu.
Asuhan keperawatan yang cakap atau kongruen secara
kultural mengacu kepada integrasi kompleks sikap, pengetahuan,
dan keterampilan (termasuk pengkajian, pengambilan keputusan,
penilaian, berfikir kritis dan evaluasi) yang memungkinkan perawat
untuk memberikan asuhan dengan cara yang peka secara kultural
(Brunner & Suddarth, 2002).
Kebijakan yang meningkatkan asuhan yang kongruen
secara kultural membuat regulasi fleksibel sehingga dapat
disesuaikan dengan pengunjung (pengunjung, frekuensi, dan lama
kunjungan), dengan memperhitungkan peran dukun dalam
perencanaan, implementasi, dan evaluasi asuhan, menyediakan
pelayanan penerjemahan bagi pasien yang tidak bisa berbahasa
Indonesia, mengetahui kebutuhan diet khusus bagi pasien dari
kelompok kultur tertentu dan menciptakan lingkungan yang
mendukung praktik spiritual dan religious pasien (Brunner &
Suddarth, 2002).
Model asuhan transkultural dapat memperluas hubungan
teraupetik antara perawat dan pasien jika mereka menggunakan
cara yang dianjurkan untuk berkembangnya sikap saling
menguntungkan dan rasa menilai masing-masing individu dari
budaya lain. Keadaan ini akan dapat bekerjasama dengan mitra
secara lebih baik dan menemukan solusi yang baik terhadap
masalah kesehatan. Walaupun tujuannya untuk mengembangkan
dan keseimbangan dan hubungan timbal balik (Basford & Slevin,
2006).

Prinsip pada Praktik Keperawatan
Menurut J.N Giger dan Davidhizar, ada 10 konsep dan prinsip
dalam asuhan keperawatan, antara lain :



1. Budaya
Norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari,
dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan
mengambil keputusan.
2. Cultural
Seseorang yang memiliki pertentanan antara dua individu dari budaya,
gaya hidup, dan hukum hidup. Contohnya, Didin adalah anak yang
dilahirkan dari pasangan suku sunda dan batak.
3. Diversity
Diversity atau keragaman budaya adalah suatu bentuk yang ideal dari
asuhan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan
budaya individu, kepercayaan, dan tindakan.
4. Etnosentris
Prsepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap bahwa
budayanya adalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki
oleh orang lain.
5. Ras
Perbedaan manusia didasarkan pada asal muasal manusia.
6. Cultural shock
Suatu keadaan yang dialami klien pada suatu kondisi dimana perawat
tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya dan
kepercayaan. Hal ini dapat menyebabkan munculnya rasa
ketidaknyamanan, ketidakberdayaan dan beberapa mengalami
disorientasi.
7. Diskriminasi
Perbedaan perlakuan individu atau kelompok berdasarkan ras, etnik,
jenis kelamin, social, dan lain sebagainya.
8. Sterotyping
Anggapan suatu individu atau kelompok bahwa semua anggota dari
kelompok budaya adalah sama. Seperti, perawat beranggapan bahwa
semua orang Indonesia menyukai nasi.
9. Assimilation
Suatu proses individu untuk membangun identitas kebudayaannya,
sehingga akan menghilangkan budaya kelompoknya dan memperoleh
budaya baru.
10. Perjudice
Adalah prasangka buruk atau beranggapan bahwa para pemimpin
lebih suka untuk menghukum terlebih dahulu suatu anggota.
II. Model Pengakajian Transuktural
Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi
masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien
(Giger and Davidhizar, 1995). Pengkajian dirancang berdasarkan 7
komponen yang ada pada "Sunrise Model" yaitu :
a. Faktor teknologi (tecnological factors)
Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau
mendapat penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan
kesehatan. Perawat perlu mengkaji : persepsi sehat sakit, kebiasaan
berobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan
kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatif dan persepsi
klien tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi
permasalahan kesehatan saat ini.
b. Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical
factors)
Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang
amat realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi
yang sangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya,
bahkan di atas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang harus dikaji
oleh perawat adalah : agama yang dianut, status pernikahan, cara
pandang klien terhadap penyebab penyakit, cara pengobatan dan
kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap kesehatan.
c. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors)
Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : nama
lengkap, nama panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin,
status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga, dan
hubungan klien dengan kepala keluarga.

d. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)
Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan
oleh penganut budaya yang dianggap baik atau buruk. Norma-norma
budaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas
pada penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah :
posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang
digunakan, kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi
sakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan
kebiasaan membersihkan diri.
e. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal
factors)
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala
sesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan
keperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995). Yang perlu dikaji
pada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan
jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, cara
pembayaran untuk klien yang dirawat.
f. Faktor ekonomi (economical factors)
Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber
material yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh.
Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat diantaranya : pekerjaan
klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga,
biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor
atau patungan antar anggota keluarga.
g. Faktor pendidikan (educational factors)
Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam
menempuh jalur pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi
pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya didukung oleh bukti-
bukti ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar
beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi
kesehatannya. Hal yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : tingkat
pendidikan klien, jenis pendidikan serta kemampuannya untuk belajar
secara aktif mandiri tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak
terulang kembali.
III. Pemahaman Budaya Internasional dan Lokal
Keperawatan transkultural model Giger & Davidhizar
Dalam model ini klien/individu dipandang sebagai hasil unik dari suatu
kebudayaan,pengkajian keperawatan transkultural model ini meliputi:
1) Komunikasi (Communication)
Bahasa yang digunakan,intonasi dan kualitas suara,pengucapan
(pronounciation),penggunaan bahasa non verbal,penggunaan diam.
Komunikasi miskomunikasi merupakan masalah yang sering terjadi
di rumah sakit. Perselisihan dapat timbul dari berbagai situasi.
Contoh yang paling jelas adalah ketika pasien dan staf rumah sakit
tidak berbicara bahasa yang sama, maka perilaku non verbal dan
lain-lain. Mengetahui norma dalam budaya akan memfasilitasi
pemahaman dan mengurangi miskomunikasi.
2) Space (ruang gerak)
Tingkat rasa nyaman yang berkaitan dengan ruang pribadi.
Kenyamanan dalam percakapan,hubungan kedekatan dengan
orang lain,persepsi tentang ruang gerak dan pergerakan tubuh.
Kontak mata, ruang, dan praktek sentuhan mungkin sangat
berbeda dengan lingkungan antara klien dan perawat.
3) Orientasi social (social orientastion)
Budaya,etnisitas,tempat,peran dan fungsi keluarga,pekerjaan,waktu
luang,persahabatan dan kegiatan social keagamaan.
Pola perilaku budaya belajar melalui enkulturasi, proses sosial
melalui mana manusia sebagai makhluk yang bernalar, punya daya
refleksi dan inteligensia, belajar memahami dan mengadaptasi pola
pikir, pengetahuan, dan kebudayaan sekelompok manusia lain.
Mengakui dan menerima bahwa individu-individu dari latar belakang
budaya yang berbeda-beda ke dalam budaya yang dominan. Faktor-
faktor siklus hidup harus diperhatikan dalam interaksi dengan
individu dan keluarga (misalnya nilai tinggi ditempatkan pada
keputusan orang tertua,peran orang tua ayah atau ibu dalam
keluraga, atau peran dan harapan anak-anak dalam keluarga).
Budaya tidak hanya ditentukan oleh etnisitas terapi oleh faktor
seperti geografi, usia, agama, jenis kelamin, orientasi seksual, dan
status sosial ekonomi. Memahami faktor usia dan siklus hidup haruss
diperhatikan dalam interaksi dengan semua individu dan keluarga.
4) Waktu (time)
Penggunaan waktu,definisi dan pengukuran waktu,waktu untuk
bekerja dan menjalin hubungan social,orientasi waktu saat ini,masa
lalu dan yang akan datang.
5) Kontrol lingkungan (environmental control)
Nilai-nilai budaya,definisi tentang sehat-sakit,budaya yang berkaitan
dengan sehat-sakit.
Kemampuan seseorang untuk mengendalikan alam lingkungan.
Praktek kesehatan, nilai-nilai, definisi kesehatan dan penyakit.
6) Variasi biologis (Biological variation)
Struktur tubuh,warna kulit & rambut, dimensi fisik lainnya seperti;
eksistensi enzim dan genetic,penyakit yang spesifik pada populasi
terntentu,kerentanan terhadap penyakit tertentu,kecenderungan pola
makan dan karakteristik psikologis,koping dan dukungan social.



Keperawatan transkultural model Andrew & Boyle
Komponen-komponenya meliputi:
1. Identitas budaya
2. Ethnohistory
3. Nilai-nilai budaya
4. Hubungan kekeluargaan
5. Kepercayaan agama dan spiritual
6. Kode etik dan moral
7. Pendidikan
8. Politik
9. Status ekonomi dan social
10. Kebiasaan dan gaya hidup
11. Faktor/sifat-sifat bawaan
12. Kecenderungan individu
13. Profesi dan organisasi budaya
Komponen-komponen diatas perlu dikaji pada diri perawat (self
assessment) dan pada klien, Kemudian perawat mengkomunikasikan
kompetensi transkulturalnya melalui media: verbal, non verbal & teknologi,
untuk tercapainya lingkungan yang kondusif bagi kesehatan dan
kesejahteraan klien.

Contoh instrumen pengkajian warisan budaya
1. Dimana ibu anda lahir?
2. Dimana ayah anda lahir?
3. Dimana kakek-nenek anda lahir?
a. Ibu dari ibu anda?
b. Ayah dari ibu anda?
c. Ibu dari ayah anda?
d. Ayah dari ayah anda?
4. Berapa saudara dari laki-laki ________ dan perempuan ________
5. Dimana anda dibesarkan? Desa ____ Kota ____ Pinggir kota ____
6. Dimana orang tua anda dibesarkan?
Ayah __________________
Ibu ____________________
7. Berapa usia anda ketika datang ke Indonesia?
8. Berapa usia orang tua anda ketika datang ke Indonesia?
9. Ketika anda dibesarkan, siapa yang tinggal dengan anda?
Keluarga inti ________________ atau keluarga besar____________

10. Apakah anda mempertahan kontak dengan
a. Bibi, paman, sepupu? (1) ya ____ (2) tidak ____
b. Saudara laki-laki & perempuan (1) ya ____ (2) tidak ____
c. Orang tua laki-laki (1) ya ____ (2) tidak ____
d. Anak anda sendiri (1) ya ____ (2) tidak ____
11. Apakah kebanyakan dari bibi, paman, sepupu anda tinggal dekat
rumah anda? (1) ya ____ (2) tidak ____
12. Kira-kira seberapa sering anda mengunjungi anggota keluarga anda
yang tinggal di luar rumah anda?
(1) Setiap hari_____ (2) Setiap minggu_____ (3) Setiap Bulan_____
(4) Hanya liburan khusus_____ (5) Tidak pernah_____
13. Apakah nama asli keluarga anda di ganti?
(1) ya ____ (2) tidak ____
14. Apakah kepercayaan anda?
(1) Katolik_____ (2) Protestan_____ (3) Islam_____
denominasi_____ (4) Lain-lain_____ (5) Tidak ada_____
15. Apakah pasangan anda mempunyai kepercayaan yang sama
dengan anda? (1) ya ____ (2) tidak ____
16. Apakah pasangan anda mempunyai latar belakang etnik sama
dengan anda? (1) ya ____ (2) tidak ____
17. Anda sekolah dimana?
(1) Pemerintah_____ (2) Swasta_____ (3) Seminari/Pesantren_____
18. Sebagai seorang dewasa, apakah anda tinggal di daerah diman
tetangga mempunyai kepercayaan dan latar belakang yang sama
dengan anda? (1) ya ____ (2) tidak ____
19. Apakah anda memiliki institusi keagamaan?
(1) ya ____ (2) tidak ____
20. Dapatkah anda menggambarkan diri anda sendiri sebagai anggota
yang aktif? (1) ya ____ (2) tidak ____
21. Seberapa sering anda menghadiri institusi keagamaan anda?
(1) Lebih dari 1 minggu______ (2) Setiap minggu______
(3) Setiap bulan______ (4) Sekali setahun atau kurang______
(5) Tidak pernah______
22. Apakah anda mempraktikan keagamaan anda di rumah?
(1) ya ____ (2) tidak ____ (bila ya, sebutkan tempatnya)__________
(3) Berdoa____ (4) Membaca kitab suci____ (5) Diet____
(6) Merayakan hari besar keagamaan_____
23. Apakah anda menyiapkan makanan sesuai latar belakang etnik
anda? (1) ya ____ (2) tidak ____
24. Apakah anda berpartisipasi dalam aktivitas etnik?
(1) ya ____ (2) tidak ____ 9bila ya, sebutkan tempatnya)__________
(3)Bernyanyi____ (4) Perayaan hari besar____ (5) Berdansa____
(6) Festival____ (7) Adat istiadat____ (8) Lain-lain____
25. Apakah teman anda dari latar belakang kepercayaan yang sama
dengan anda? (1) ya ____ (2) tidak ____
26. Apakah teman anda dari latar belakang etnik yang sama dengan
anda? (1) ya ____ (2) tidak ____
27. Apa bahasa asli anda? (1) ya ____ (2) tidak ____
28. Apakah anda berbicara dengan bahasa tersebut?
(1) ya ____ (2) tidak ____
29. Apakah anda membaca dalam bahasa asli anda?
(1) ya ____ (2) tidak ____

Contoh lain instrumen pengkajian keperawatan terbuka
1. Menurut anda apa yang menyebabkan penyakit anda?
2. Seperti apa kami dapat memecahkan masalah anda?
Terfokus
1. Apakah anda pernah mengalami masalah sebelumnya?
2. Apakah ada seseorang yang anda ingin agar kami bicara
dengannya mengenai perawatan anda?
Kontras
1. Bagaimana perbedaan masalah ini dengan masalah sebelumnya?
2. Apa perbedaan antara apa yang perawat kerjakan dengan apa
yang anda pikirkan bagaimana perawat lakukan untuk anda?
Riwayat etnik
1. Berapa lama anda / orang tua anda tinggal dinegara ini?
2. Apa latar belakang etnik atau asal leluhur anda?
3. Seberapa kuat budaya mempengaruhi anda?
4. Ceritakan alsan anda meninggalkan tanah air anda?
Organisasi sosial
1. Siapa yang tinggal dengan anda?
2. Siapa yang anda anggap sebagai anggota keluarga anda?
3. Dimana anggota keluarga anda yang lain tinggal?
4. Siapa yang membuat keputusan untuk anda dan keluarga anda?
5. Siapa yang anda cari saat memerlukan bantuan untuk keluarga
anda?
6. Apa harapan anda terhadap anggota keluarga yang pria, wanita,
tua, atau muda?
Sosioekonomi
1. Apa yang anda lakukan untuk kehidupan?
2. Bagaimana perbedaan kehidupan anda disini dibandingkan tempat
asal?
Ekologi biokultural dan Risiko Kesehatan
1. Apa penyebab masalah anda?
2. Apa bahasa yang anda gunakan untuk membaca dan menulis?
3. Bagaimana perawat harus berbicara dan memanggil anda?
4. Apa jenis komunikasi yang mengganggu anda?
Kepercayaan dan Praktik Pelayanan
1. Apa yang anda lakukan untuk menjaga kesehatan anda?
2. Apa yang anda lakukan untuk menunjukkan kepedulian anda?
3. Bagaimana anda merawat anggota keluarga yang sakit?
4. Pemberi layanan mana yang anda cari saat anda sedang sakit?
5. Bagaimana perbedaan yang perawat lakukan dengan yang
dilakukan keluarga anda saat anda sedang sakit?

Pedoman dalam berhubungan dengan klien dengan budaya yang
berbeda
1. Kaji nilai-nilai kepercayaan pribadi anda terhadap budaya yang
berbeda.
Review kembali pengalaman pribadi
Singkirkan nilai-nilai biasa, ide-ide dan tingkah laku yang
berpengaruh negatif terhadap perawatan
2. Kaji variabel-variabel komunikasi dari perspektif budaya
Tentukan identitas etnis pasien
Gunakan pasien sebagai sumbernya (apabila memungkinkan).
Kaji faktor-faktor kulturalyang dapat mempengaruhi hubungan
perawat dan klien kemudian beresponlah dengan tepat.
3. Rencanakan perawatan sesuai dengan kebutuhan komunikasi dan
latar belakang budaya.
Pelajari sebanyak mungkin tentang budaya dan kepercayaan
klien.
Dorong pasien untuk menyatakan persepsinya terhadap
kesehatan, sakit, dan pelayanan kesehatan.
Rasa sensitif terhadap keunikan pasien.
Komunikasi pada tingkatan fungsi pasien.
Evaluasi efektifitas tindakan keperawatan dan modifikasi apabila
diperlukan.
4. Modifikasi pendekatan komunikasi untuk memenuhi kebutuhan
budaya.
Perhatikan tanda-tanda rasa takut, kecemasan dan kebingungan
klien.
Beri respon yang menenangkan hati dengan mempertahankan
budaya klien.
5. Pahami bahwa penghargaan terhadap klien merupakan hubungan
yang terapeutik.
Berkomunikasi denagan hormat menggunakan pendekatan-
pendekatan yang baik dan menenangkan hati.
Gunakan teknik mendengar yang sesuai.
6. Berkomunikasi tanpa cara-cara yang kelihatan mengancam
Lakukan wawancara tanpa terburu-buru
Ramah tamah
Tanyakan pertanyaan yang umum selama mengumpulakn
informasi
Bersikap sabar apabila respon klien tidak sesuai dengan
persoalan kesehatan klien.
Ciptakan hubungan saling percaya denagan mendengar secara
teliti, dan berikan waktu serta perhatian penuh pada klien.
7. Gunakan teknik validasi dalam komunikasi
Sadar akan feedback/respon klien tidak mengerti
Jangan membuat asumsi pengertian tanpa distorsi
8. Pahami adanya keengganan untuk membicarakan masalah yang
berhubungan dengan seksualitas.
Sadari bahwa dalam beberapa budaya permasalahan seksual
tidak dapat dibicarakan secara leluasa dengan perawat/orang
dengan jenis kelamin yang berbeda.
9. Adopsi pendekatan khusus, apabila pasien berbicara denagan
bahasa yang berbeda.
Gunakan intonasi suara dan ekspresi wajah yang perhatian untuk
membantu mengurangi ketakutan klien.
Bicara dengan perlahan dan jelas, namun tidak keras.
Gunakan bahasa isyarat, gambar, dan bermain peran untuk
membantu pemahan klien.
Ulangi pesan dengan cara yang berbeda jika diperlukan.
Perhatikan kata-kata yang dipahami klien dan guankan itu
sesering mungkin.
Pertahankan pesan yang sederhan dan ulangi terus menerus.
Hindari penggunaan istialh medis dan singkatan yang tidak
dipahami klien.
Gunakan kamus bahasa yang tepat.
10. Gunakan interpreter (penerjemah) untuk meningkatkan komunikasi.
Minta interpreter untuk menerjemahkan pesan, tidak hanya kata-
kata pribadi.
Dapatkan feedback untuk mengkonfirmasi pemahaman.
Gunakan interpreter yang sensitif terhadap budaya.



























KESIMPULAN
Transcultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada
proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang
perbedaan dan kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan,
sehat dan sakit didasarkanpada nilai budaya manusia, kepercayaan dan
tindakan, dan ilmu ini digunakanuntuk memberikan asuhan keperawatan
khususnya budaya atau keutuhan budaya kepada manusia (Leininger,
2002).
Asumsi mendasar dari teori adalah perilaku Caring. Caring adalah esens
idari keperawatan, membedakan, mendominasi serta mempersatukan
tindakan keperawatan. Tindakan Caring dikatakan sebagai tindakan yang
dilakukan dalam memberikan dukungan kepada individu secara utuh.
Perilaku Caring semestinya diberikan kepada manusia sejak lahir, dalam
perkembangan dan pertumbuhan,masa pertahanan sampai dikala
manusia itu meninggal. Human caring secara umum dikatakan sebagai
segala sesuatu yang berkaitan dengan dukungan dan bimbingan pada
manusia yang utuh. Human caring merupakan fenomena yang universal
dimana ekspresi, struktur dan polanya bervariasi diantara kultur satu
tempat dengan tempat lainnya.












DAFTAR PUSTAKA
Andrew . M & Boyle. J.S, (1995), Transcultural Concepts in Nursing
Care, 2nd Ed, Philadelphia, JB Lippincot Company
Giger. J.J & Davidhizar. R.E, (1995), Transcultural Nursing :
Assessment and Intervention, 2nd Ed, Missouri , Mosby Year Book Inc
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Politeknik Kesehatan
Surabaya. Prodi Keperawatan Sutopo. 2011
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27032/4/Chapter%2
0II.pdf
http://b302fikui.files.wordpress.com/2011/11/fg-1.pdf