Anda di halaman 1dari 34

Dee Lya Chan

Jumat, 09 November 2012


Makalah Amfibi

AMPHIBI
MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas pada Mata Kuliah Zoologi Vertebrata










Oleh:
Dede Julia
1210206118
Pendidikan Biologi B/IV

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2012
KATA PENGANTAR


Bismillahirrahmanirrahim
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat-Nya lah
penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada nabi
besar Muhammad SAW. besarta keluarga-Nya, para sahabat-Nya dan kita selaku umat-Nya.
Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Zoologi Vertebrata. Dan
dengan kerendahan hati penulis menyadari akan keterbatasan dan kekurangan yang ada dalam
makalah ini, baik dari segi bahasa maupun tulisannya, karena wawasan pengetahuan dan
pengalaman penyusun masih sangat jauh dari kesempurnaan.
Oleh karenanya kritik serta saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan
untuk kesempurnan makalah selanjutnya, selain itu penulis mengharapkan semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi semua pihak yang khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.




Bandung, Mei 2012


Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah....................................................................................... 2
C. Tujuan......................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................... 3
A. Definisi dan karakteristik Amphibi............................................................ 3
B. Klasifikasi dalam Kelas Amphibi.......................................................... .... 5
1. Ordo Caecilia.................................................................................. .... 6
2. Ordo Urodela (Caudata)..................................................................... 7
3. Ordo Anura.................................................................................... .... 10
4. Ordo Proanura..................................................................................... 15
C. Morfologi Kelas Amphibi........................................................................... 15
D. Anatomi dan fisiologi................................................................................. 17
E. Habitat dan persebaran............................................................................... 31
F. Relasi dengan Manusia............................................................................... 32
BAB III PENUTUP............................................................................................ 33
Kesimpulan................................................................................................ 33
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... iii
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Amfibi adalah kelompok terkecil di antara vertebrata, dengan jumlah hanya 3.000
spesies. Seperti ikan dan reptilia, amfibi adalah hewan berdarah dingin. Ini berarti amfibi tidak
dapat mengatur suhu badannya sendiri. Untuk itu, amfibi memerlukan matahari untuk
menghangatkan badan. Awalnya amfibi mengawali hidup di perairan dan melakukan pernapasan
menggunakan insang. Seiring dengan pertumbuhannya paru-paru dan kakinya berkembang dan
amfibi pun dapat berjalan di atas daratan.
Amfibi dijumpai diseluruh dunia kecuali di kutub. Mereka menempati sejumlah habitat
yang berbeda-beda seperti hutan hujan, kolam, dan danau. Mereka juga ada di daerah berumput
di lereng pegunungan tinggi, bahkan juga di gurun. Meskipun amfibi dewasa dapat bertahan
hidup selama periode kemarau panjang, umumnya mereka membutuhkan tempat-tempat lembab
seperti sungai dan kolam. Di wilayah hutan hujan tropis yang lembab, banyak katak dapat
bertahan hidup tanpa memiliki sumber air tetap.
Sebagai hewan yang berdarah dingin, amfibi tidak aktif dalam kondisi dingin. Pada
kondisi ini mereka melakukan hibernasi, biasanya dalam lumpur di dasar kolam. Musim kawin
amfibi sering berlangsung kacau. Amfibi jantan dan betina berkumpul bersama dalam jumlah
besar. Setelah membuahi telur, biasanya amfibi tidak lagi mempedulikan telurnya. Hanya sedikit
jenis amfibi yang melindungi telur. Umumnya spesies amfibi kecil mengandalkan penyamaran
atau melarikan diri saat terancam pemangsa. Ada pula amfibi yang mengandalkan kulit yang
mencolok untuk menakuti musuh. Ada jenis amfibi yang mempunyai racun.
Katak beracun dari Amerika Selatan memiliki warna yang mencolok sebagai tanda
bahaya pemangsanya. Racun katak sangat kuat racun emas yang dimiliki kodok dart dari
kolombia misalnya, dapat menewaskan sekitar 1.000 orang sekaligus. Kebanyakan orang
kesulitan dalam membedakan anggota dari kelas amphibia yaitu antara katak dan kodok. Maka
dari itulah kita perlu mengenal kelas amphibia lebih jauh lagi.

B. Rumusan masalah
Melihat uraian diatas maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
a. Apa yang dimaksud dengan amphibia dan bagaimana karakteristiknya?
b. Bagaimana klasifikasi dari kelas amphibia?
c. Bagaimana anatomi dan fisiologi pada amphibia?
d. Bagaimana persebaran dan habitat dari amphibia?
e. Bagaimana hubungan manusia dengan amphibia?

C. Tujuan
Adapun maksud dan tujuan makalah ini yaitu:
1. Mengetahui definisi serta karakteristik dari amphibia.
2. Mengetahui klasifikasi dari kelas amphibia
3. Mengetahui anatomi dan fisiologi dari amphibia.
4. Mengetahui bagaimana persebaran dan habitat dari amphibia.
5. Mengetahui hubungan atau relasi antara manusia dengan amphibia.




BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi dan karakteristik Amphibi
Kata amphibi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata, yaitu Amphi
(rangkap) dan bios (hidup). Atau dapat diartikan sebagai hewan bertulang belakang
(vertebrata) dengan kelembaban kulit yang tinggi, tidak tertutupi oleh rambut yang hidup di dua
alam; yakni di air dan di daratan. Karena itu amphibi diartikan sebagai hewan yang mempunyai
dua bentuk kehidupan yaitu di darat dan di air. Pada umumnya, amphibia mempunyai siklus
hidup awal di perairan dan siklus hidup kedua adalah di daratan. ( Zug, 1993)
Pada fase berudu amphibi hidup di perairan dan bernafas dengan insang. Pada fase ini
berudu bergerak menggunakan ekor. Pada fase dewasa hidup di darat dan bernafas dengan paru-
paru. Pada fase dewasa ini amphibi bergerak dengan kaki. Perubahan cara bernafas yang seiring
dengan peralihan kehidupan dari perairan ke daratan menyebabkan hilangnya insang dan rangka
insang lama kelamaan menghilang. Pada anura, tidak ditemukan leher sebagai mekanisme
adaptasi terhadap hidup di dalam liang dan bergerak dengan cara melompat. (Zug, 1993)
Amphibia memiliki kelopak mata dan kelenjar air mata yang berkembang baik. Pada
mata terdapat membrana nictitans yang berfungsi untuk melindungi mata dari debu, kekeringan
dan kondisi lain yang menyebabkan kerusakan pada mata. Sistem syaraf mengalami modifikasi
seiring dengan perubahan fase hidup. Otak depan menjadi lebih besar dan hemisphaerium cerebri
terbagi sempurna. Pada cerebellum konvulasi hampir tidak berkembang. Pada fase dewasa mulai
terbentuk kelenjar ludah yang menghasilkan bahan pelembab atau perekat. Walaupun demikian,
tidak semua amphibi melalui siklus hidup dari kehidupan perairan ke daratan. Pada beberapa
amphibi, misalnya anggota Plethodontidae, tetap tinggal dalam perairan dan tidak menjadi
dewasa. Selama hidup tetap dalam fase berudu, bernafas dengan insang dan berkembang biak
secara neotoni. Ada beberapa jenis amphibi lain yang sebagian hidupnya berada di daratan, tetapi
pada waktu tertentu kembali ke air untuk berkembang biak. Tapi ada juga beberapa jenis yang
hanya hidup di darat selama hidupnya. Pada kelompok ini tidak terdapat stadium larva dalam air.
(Duellman and Trueb, 1986)
Amfibia mempunyai ciri-ciri umum sebagai berikut:
Penutup tubuh Kulit yang berlendir
Alat gerak Dua pasang kaki dan pada setiap kakinya terdapat selaput renang
yang terdapat di antara jari-jari kakinya dan kakinya berfungsi
untuk melompat dan berenang.
Alat pernapasan Pernapasan pada saat masih kecebong berupa insang, setelah
dewasa alat pernapasannya berupa paru-paru dan kulit dan hidung
amfibi mempunyai katup yang mencegah air masuk ke dalam
rongga mulut ketika menyelam
Suhu tubuh tidak tetap, berubah-ubah mengikuti suhu lingkungannya
(berdarah dingin/poikiloterm)
Peredaran darah Tertutup
Alat
penglihatan
Mata dan matanya mempunyai selaput tambahan yang disebut
membrana niktitans yang sangat berfungsi waktu menyelam
Berkembang
biak
Dengan cara melepaskan telurnya dan dibuahi oleh yang jantan di
luar tubuh induknya (pembuahan eksternal
Jantung Terdiri dari tiga ruangan yaitu dua serambi dan satu bilik

Sedangkan, ciri-ciri khusus dari amphibi yaitu:
Tubuh diselubungi kulit yang berlendir serta tidak mempunyai sisik
Merupakan hewan berdarah dingin (poikiloterm)
Mempunyai jantung yang terdiri dari tiga ruangan yaitu dua serambi dan satu bilik
Mempunyai dua pasang kaki dan pada setiap kakinya terdapat selaput renang yang
terdapat di antara jari-jari kakinya dan kakinya berfungsi untuk melompat dan berenang
Memiliki dua lubang hidung yang berhubungan dengan ruang mulut yang mempunyai
klep untuk menahan air
Umumnya pada mulut terdapat gigi dan lidah sering kali dapat dikeluarkan
Matanya mempunyai selaput tambahan yang disebut membrana niktitans yang sangat
berfungsi waktu menyelam
Pernapasan pada saat masih kecebong berupa insang, setelah dewasa alat pernapasannya
berupa paru-paru dan kulit dan hidungnya mempunyai katup yang mencegah air masuk
ke dalam rongga mulut ketika menyelam
Berkembang biak dengan cara melepaskan telurnya dan dibuahi oleh yang jantan di luar
tubuh induknya (pembuahan eksternal).
Otak memiliki 10 pasang sarang krainal
Fertilisasi secara internal dan ekternal dan umumnya ovivar dengan stadium larva dalam
air dan bermetamorfosis menjadi dewasa.

B. Klasifikasi dalam Kelas Amphibi
Adapun kedudukan amphibia dalam sistem klasifikasi yaitu:
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Upafilum : Vertebrata
Superkelas : Tetrapoda
Kelas : Amphibia
Anggota amphibia terdiri dari 4 ordo yaitu Apoda (Caecilia), Urodela (Salamander), dan
Anura ( katak dan kodok), Proanura (telah punah).

1. Ordo Caecilia
Ordo ini mempunyai anggota yang ciri umumnya adalah tidak mempunyai kaki sehingga
disebut Apoda. Tubuh menyerupai cacing (gilig), bersegmen, tidak bertungkai, dan ekor
mereduksi. Hewan ini mempunyai kulit yang kompak, mata tereduksi, tertutup oleh kulit atau
tulang, retina pada beberapa spesies berfungsi sebagai fotoreseptor.
Di bagian anterior terdapat tentakel yang fungsinya sebagai organ sensory. Kelompok ini
menunjukkan 2 bentuk dalam daur hidupnya. Pada fase larva hidup dalam air dan bernafas
dengan insang. Pada fase dewasa insang mengalami reduksi, dan biasanya ditemukan di dalam
tanah atau di lingkungan akuatik. Fertilisasi pada Caecilia terjadi secara internal. ( Webb et.al,
1981)
Ordo Caecilia mempunyai 5 famili yaitu Rhinatrematidae, Ichtyopiidae, Uraeotyphilidae,
Scolecomorphiidae, dan Caecilidae. Famili Caecilidae mempunyai 3 subfamili yaitu
Dermophinae, Caecilinae dan Typhlonectinae. ( Webb et.al, 1981)
Famili yang ada di indonesia adalah Ichtyopiidae. Anggota famili ini mempunyai ciri-ciri
tubuh yang bersisik, ekornya pendek, mata relatif berkembang. Reproduksi dengan oviparous.
Larva berenang bebas di air dengan tiga pasang insang yang bercabang yang segera hilang
walaupun membutuhkan waktu yang lama di air sebelum metamorphosis. Anggota famili ini
yang ditemukan di indonesia adalah Ichtyophis sp., yaitu di propinsi DIY.








Contoh ordo caecilia














Anatomi tulang kepala ordo Caecilia

2. Ordo Urodela (Caudata)
Ordo ini mempunyai ciri bentuk tubuh memanjang, mempunyai anggota gerak dan ekor
serta tidak memiliki tympanum. Tubuh dapat dibedakan antara kepala, leher dan badan.
Beberapa spesies mempunyai insang dan yang lainnya bernafas dengan paru-paru. Pada bagaian
kepala terdapat mata yang kecil dan pada beberapa jenis, mata mengalami reduksi. Fase larva
hampir mirip dengan fase dewasa. Anggota ordo Urodela hidup di darat akan tetapi tidak dapat
lepas dari air. Pola persebarannya meliputi wilayah Amerika Utara, Asia Tengah, Jepang dan
Eropa. Urodella mempunyai 3 sub ordo yaitu Sirenidea, Cryptobranchoidea dan
Salamandroidea. Sub ordo Sirenidae hanya memiliki 1 famili yaitu Sirenidae, sedangkan sub
ordo Cryptobranchoidea memiliki 2 famili yaitu Cryptobranchidae dan Hynobiidae. Sub ordo
Salamandroidea memiliki 7 famili yaitu Amphiumidae, Plethodontidae, Rhyacotritoniade,
Proteidae, Ambystomatidae, Dicamptodontidae dan Salamandridae. ( Pough et. al., 1998)
Salamander memiliki tubuh yang memanjang dan memiliki ekor. Sebagian besar
Salamander memiliki empat kaki, meskipun tungkai pada beberapa spesies akuatik jelas sekali
mereduksi. Ada 2 kecenderungan yang cukup menonjol dalam proses evolusi Salamander yaitu
hilangnya (mereduksi) paru-paru serta adanya paedomorphosis (adanya karakteristik larva pada
Salamander dewasa) (Pough et al., 1998).
Sangat mengherankan jika suatu hewan terestrial dapat bertahan hidup tanpa adanya
paru-paru akan tetapi pada family terbesar Salamander yaitu Plethodontidae memiliki
karakteristik tidak adanya paru-paru. Tidak adanya paru-paru mungkin terjadi pada Salamander
karena kulit Salamander memungkinkan terjadinya pertukaran gas. Beberapa penjelasan telah
disusun untuk menunjukkan keuntungan dari hilangnya paru-paru pada Plethodontidae, hipotesis
yang paling mudah diterima berkaitan dengan evolusi hilangnya paru-paru adalah spesialisasi
dari apparatus hyoideus yang terdapat di dalam tenggorokan sebagai suatu mekanisme dalam
menjulurkan lidah untuk menangkap mangsa. Kartilago hyoideus merupakan bagian dari alat
bantu pernapasan pada Salamander yang memiliki paru-paru. Jadi pada Plethodontidae,
apparatus hyoideus yang seharusnya berperan sebagai alat bantu pernapasan jika dia memiliki
paru-paru mengalami modifikasi menjadi mekanisme penjuluran lidah untuk menangkap mangsa
dikarenakan paru-paru mereduksi. Anggota dari Pletodhontidae yang mampu menjulurkan lidah
lebih jauh daripada panjang kepala dan tubuh dikelompokkan dalam Bolitoglossine (Pough et al.,
1998).
Paedomorphosis adalah salah satu contoh dari fenomena evolusi yang disebut dengan
heterochrony. Herterochorny terkait dengan perubahan waktu dan tingkat dari proses
perkembangan (terutama dalam masa embryonik) yang merubah bentuk tubuh hewan
dewasanya. Hewan dewasa yang paedomorphic biasanya memiliki habitat aquatic dan memiliki
karakteristik larva seperti adanya insang luar, hilangnya kelopak mata serta perubahan pola gigi
dewasanya. Paedomorphosis merupakan karakteristik pada beberapa Salamander aquatic seperti
Proteidae. Pada family lain, seperti Ambystomatidae, beberapa spesies paedomorphic tetap
bermetamorfosis menjadi Salamander dewasa yang terrestrial (Pough et al., 1998).
Cau data atau Urodela mempunya anggota sekitar 350 spesies, tersebar terbatas di
belahan bumi utara; Amerika Utara, Amerika Tengah, Asia Tengah (Cina, Jepang) dan Eropa.
Bentuk tubuh setiap anggota Salamander sangat berbeda, sehingga mudah untuk
mengidentifikasi. Kebanyakan family-family dari urodela terdapat di amerika dan tidak terdapat
di Indonesia. Sebagian besar masa hidupnya di darat. Pembuahan ada yang eksternal dan ada
yang internal. Reproduksinya ovipar dan ovovivipar. Ciri yang lainnya yaitu tidak memiliki
tympanum, mempunyai insang atau tanpa insang dan mata kecil atau mereduksi (Pough et al.,
1998).
Salamander merupakan kelompok Amphibia yang berekor. Semua anggota dari family
ini memiliki ekor yang panjang, tubuh silinder yang memanjang serta kepala yang berbeda.
Sebagian besar memiliki tungkai yang berkembang dengan baik, biasanya pendek tergantung
pada ukuran tubuh. Tengkoraknya mereduksi dikarenakan adanya beberapa bagian yang
menghilang. Sebagian besar anggotanya memiliki fertilisasi internal meski tak satu pun anggota
dari family ini yang memiliki organ kopulasi. Fertilisasi internal terjadi ketika jantan
mendepositkan spermatopora yang kemudian akan diterima oleh betina melalui bibir kloakanya
(Zug, 1993).








Salamander
Morfologi ordo Urodela :









Tulang Rangka ordo urodela :

3. Ordo Anura
Nama anura mempunyai arti tidak memiliki ekor. Seperti namanya, anggota ordo ini
mempunyai ciri umum tidak mempunyai ekor, kepala bersatu dengan badan, tidak mempunyai
leher dan tungkai berkembang baik. Tungkai belakang lebih besar daripada tungkai depan. Hal
ini mendukung pergerakannya yaitu dengan melompat. Pada beberapa famili terdapat selaput
diantara jari-jarinya.
Membrana tympanum terletak di permukaan kulit dengan ukuran yang cukup besar dan
terletak di belakang mata. Kelopak mata dapat digerakkan. Mata berukuran besar dan
berkembang dengan baik. Fertilisasi secara eksternal dan prosesnya dilakukan di perairan yang
tenang dan dangkal. (Duellman and Trueb, 1986)
Ordo Anura dibagi menjadi 27 famili, yaitu:
Ascaphidae Leiopelmatidae
Bombinatoridae Discoglossidae
Pipidae Rhinophrynidae
Megophryidae Pelodytidae
Pelobatidae Allophrynidae
Bufonidae Branchycephalidae
Centrolenidae Heleophrynidae
Hylidae,Leptodactylidae Myobatrachidae
Pseudidae Rhinodermatidae
Sooglossidae Arthroleptidae
Dendrobatidae Hemisotidae
Hyperoliidae Microhylidae,
Ranidae Rachoporidae
Ada 5 Famili yang terdapat di indonesia yaitu Bufonidae, Megophryidae, Ranidae,
Microhylidae dan Rachoporidae. Adapun penjelasan mengenai kelima famili tersebut adalah
sebagai berikut:

a. Bufonidae
Famili ini sering disebut kodok sejati. Ciri-siri umumnya yaitu kulit kasar dan berbintil,
terdapat kelenjar paratoid di belakang tympanum dan terdapat pematang di kepala. Mempunyai
tipe gelang bahu arciferal.
Sacara diapophisis melebar, Bufo mempunyai mulut yang lebar akan tetapi tidak
memiliki gigi. Tungkai belakang lebih panjang dari pada tungkai depan dan jari-jari tidak
mempunyai selaput. Fertilisasi berlangsung secara eksternal.
Famili ini terdiri dari 18 genera dan kurang lebih 300 spesies. Beberapa contoh famili
Bufo yang ada di Indonesia antara lain: Bufo asper, Bufo biporcatus, Bufo melanosticus dan
Leptophryne borbonica. ( Eprilurahman, 2007)







(Bufo melanostictus)
b. Megophryidae
Ciri khas yang paling menonjol adalah terdapatnya bangunan seperti tanduk di atas
matanya, yang merupakan modifikasi dari kelopak matanya. Pada umumnya famili ini berukuran
tubuh kecil. Tungkai relatif pendek sehingga pergerakannya lambat dan kurang lincah.
Gelang bahu bertipe firmisternal. Hidup di hutan dataran tinggi. Pada fase berudu
terdapat alat mulut seperti mangkuk untuk mencari makan di permukaan air. Adapun contoh
spesies anggota famili ini adalah Megophrys montana dan Leptobranchium hasselti. (
Eprilurahman, 2007)


Megophrys montana
c. Ranidae
Famili ini sering disebut juga katak sejati. Bentuk tubuhnya relatif ramping. Tungkai
relatif panjang dan diantara jari-jarinya terdapat selaput untuk membantu berenang. Kulitnya
halus, licin dan ada beberapa yang berbintil.
Gelang bahu bertipe firmisternal. Pada kepala tidak ada pematang seperti pada Bufo.
Mulutnya lebar dan terdapat gigi seperti parut di bagian maxillanya. Sacral diapophysis gilig.
Fertilisasi secara eksternal dan bersifat ovipar.
Famili ini terdiri dari 36 genus. Adapun contoh spesiesnya adalah: Rana chalconota,
Rana hosii, Rana erythraea, Rana nicobariensis, Fejervarya cancrivora, Fejervarya
limnocharis, Limnonectes kuhli, Occidozyga sumatrana.( Eprilurahman,2007).









Rana chalconota



d. Microhylidae
Famili ini anggotanya berukuran kecil, sekitar 8-100 mm. Kaki relatif panjang
dibandingkan dengan tubuhnya. Terdapat gigi pada maxilla dan mandibulanya, tapi beberapa
genus tidak mempunyai gigi.
Karena anggota famili ini diurnal, maka pupilnya memanjang secara horizontal. Gelang
bahunya firmisternal. Contoh spesiesnya adalah: Microhyla achatina. ( Eprilurahman, 2007)









Microhyla achatina
e. Rachoporidae
Famili ini sering ditemukan di areal sawah. Beberapa jenis mempunyai kulit yang kasar,
tapi kebanyakan halus juga berbintil.
Tipe gelang bahu firmisternal. Pada maksila terdapat gigi seperti parut. Terdapat pula gigi
palatum. Sacral diapophysis gilig. Berkembang biak dengan ovipar dan fertilisasi secara
eksternal. ( Eprilurahman, 2007).
Rhacophorus leucomystax sexvirgata
4. Ordo Proanura
Anggota-anggota ordo ini tidak dapat diketemukan atau dapat dikatakan telah punah.
Anggota-anggota ordo ini hidupnya di habitat akuatik sebagai larva dan hanya sedikit saja yang
menunjukkan perkembangan ke arah dewasa.
Ciri-ciri umumnya adalah mata kecil, tungkai depan kecil, tanpa tungkai belakang, kedua
rahang dilapisi bahan tanduk, mempunyai 3 pasang insang luar dan paru-paru mengalami sedikit
perkembangan. Amphibi ini tidak menunjukkan adanya dua bentuk dalam daur hidupnya.
(Duellman and Trueb, 1986)

C. Morfologi Kelas Amphibi
Kelompok hewan amfibi adalah binatang bertulang belakang berkulit lembab tanpa bulu
yang hidup di dua alam. Kebanyakan hewan amfibi pada waktu berupa berudu hidup di air dan
bernapas dengan insang. Selanjutnya setelah dewasa hidup di darat dan bernapas dengan paru-
paru dan kulit. Hewan amfibi termasuk kelompok hewan berdarah dingin, artinya hewan yang
memanfaatkan suhu lingkungan untuk mengatur suhu tubuhnya.
Kepala dan badan lebar bersatu, ada dua pasang kaki atau anggota, tak ada leher dan
ekor. Bagian dalam ditutupi dengat kulit basah halus lunak. Pada kepala mempunyai mulut yang
lebar untuk mengambil makanan, 2 lubang hidung/ nares externa yang kecil dekat ujung hidung
yang berfungsi dalam pernapasan, terdapat sepasang mata yang bulat, dibelakangnya terdapat 2
lubang pipih tertutup oleh membrane tympani yang berfungsi sebagai telinga untuk menerima
gelombang suara. Tiap mata mempunyai kelopak mata atas dan bawah, serta di dalamnya
mempunyai selaput mata bening membrane nictitans untuk menutupi mata apabila berada di
dalam air. Di bagian ujung belakang badan dijumpai anus, lubang kecil untuk membuang sisa-
sisa makananyang tak dicerna, urine dan sel-sel kelamin/ telur atau sperma dari alat reproduksi.
Kaki katak terdiri atas sepasang kaki depan dan sepasang kaki belakang. Kaki depan
terdiri atas lengan atas (brancium), lengan bawah (antebrancium), tangan (manus), dan jari-jari
(digiti). Pada kaki belakang terdiri atas paha (femur), betis (crus), kaki (pes) dan jari-jari (digiti).
Tubuh katak bentuknya bilateral simetris, dengan bagian sisi kiri dan kanan equal. Bagian
tengah disebut medial, samping/lateral, badan muka depan adalah ujung anterior, bagian
belakang disebutujung posterior, bagian punggung atau dorsal, sedang bagian muka ventral.
Bagian badan terdiri atas kepala/ caput, kerongkongan/ cervik, dada/ thorax atau pectoral, perut
atau abdomen, pantat pelvis serta bagian kaudal pendek.







Gambar morfologi katak
Pada rongga mulut ( cavum oris), dibatasi oleh maxillae (rahang atas), sedangkan
dibagian bawah dibatasi oleh mandibula (rahang bawah) dan os hyoid. Pada rongga mulut
terdapat lingula yang pipih berpangkal pada dasar sebelah antrior mulut.Pada permukaannya
terdapat kuncup perasa dan papil yang dilapisi oleh lendir dan dapat dijulurkan dari belkang ke
muka untuk menangkap mangsa. Pada maxillae sebelah luar terdapat denta maxillaris (gigi
maxillaris), sedangkan dibelakang maxillae terdapat gigi vormerin yang berfungsi untuk
menahan mangsa yang akan ditelan.Dekat denta vomerin terdapat dua lubang nares interna yang
berhubungan dengan nares eksterna. Glotis terletak pada medium ventral pharynx sebelah
belakang lingula yang merupakan pintu menuju ke pulmo. Dibelakang masing-masing mata di
dekat sudut mulut terdapat ostium pharyngeum dari tuba Eustachii yang menghubungkan cavum
oris dengan ruang telinga dalam.Pada katak jantan dari banyak spesies memiliki saccus vocalis
(saku suara) yang terbuka disebelah muka dari ostium pharyngeum auditiivae Eustachii. Saku
suara ini dapat dikembang kempiskan sehingga menimbulkan suara.

D. Anatomi dan fisiologi
Sistem Rangka
Rangka katak tersusun atas endoskeleton yang disokong oleh bagian-bagian yang lunak.
Fungsi rangka adalah untuk melindungi bagian-bagian tubuh yang vital, melekatnya otot daging
berguna untuk gerak dan berjalan. Pada fase cebong (berudu) tulang-tulang masih
lunak.Kemudian pada fase dewasa menjadi keras. Tapi pada sambungan-sambungan tulang
masih tetap lunak dengan permukaan yang licin.Tempurung kepala,vertebrae dan sternum
merupakan skeleton axiale sedang kaki merupakan skeleton appendiculare.
Tempurung kepala yang besar serta pipih terdiri atas:
1. Cranium yang sempit
2. Beberapa pasang kapsula sensoris dari hidung kapsula pendengar dan kapsula yang besar untuk
mata.
3. Tulang-tulang rahang, os hyoid dan tulang rawan dari larynx (skleton viseral).
Bangsa amphibi merupakan Vertebrata yang pertama mempunyai sternum (tulang dada)
tetapi perkembangannya kurang sempurna. Tulang iga hanya pendek dan kurang berkembang
sehingga tidak berhubungan dengan sternum seperti yang terjadi pada reptil, burung atau mamal.
Sebagian besar amfibi mempunyai dua pasang tungkai dengan empat jari kaki pada kaki
depan dan lima jari kaki belakang.Jumlah jari mungkin ada yang berkurang seperti pada
salamander, dan pasangan tungkai tidak ada pada Caecillia.Tungkai biasanya tidak mempunyai
kuku, tapi ada semacam tanduk pada jari-jarinya.
Tulang punggung yang bersambung dengan kepala dan extrimitas berfungsi menyokong
tubuh dan melindungi sumsum, terdiri atas 9 columna vertebralis dan urostyl, yang merupkan
silindris, masing-masing vertebrae merupakan satu segmen pendek yang fleksibel seperti
vertebrae lainnya. Tiap-tiap vertebrae terdiri atas centrum atau corpus yang memiliki lengkung
atas (archus neuralis) sebagai tempat sumsum.Sebelah atasnya terdapat cuatan neuralis terdapat
sepasang processus articularis yang menyebabkan vertebrae dapat sedikit bergerak; tidak
memunyai tulang rusuk (costale).
Tempat tumpuan extemitas anterior berupa cingulum cranialis (pectoral gridle) yang
berbentuk sebagai rangka yang melingkari alat-alat dalam thorax. cingulum cranialis melekat
pada vertebrae dengan otot daging. Masing-masing setengahnya terdiri atas tulang rawan lebar.
Supra scapula sebelah dorsal, scapula kecil sebelah lateral dan clavicula yang silindris dan
coracoid yang lebar sebelah ventral.Coracoid bergabung dengan sternum yang berupa tulang
rawan besar, tersusun atas episternum, omosternum,mesosternum,xiphisternum.Pada sternum
bertemulah os scapula dan carocoid, dan terbentuk mangkok cavitalis glenoidalis yang
merupakan sendi tempat kepala os humerus.
Tumuan extemitas posterior berupa cingulum posterior (pelvic gridle) merupakan
persatuan tulang yang mempunyai bentuk yanng terdiri atas os illium sebelah anterior, os
oschium sebelah posterior dan os pubis sebelah ventral. Pada ketiga tulang tersebut bertemu
teerdapat mangkokan yang disebut acetabulum tempat kepala os femur melekat.Tiap-tiap bagian
dari sepasang os illium yang merupakan tulang yang memanjang sejajar dengan urostyl dan
sejajar dengan sacrum.









Gambar Sistem Rangka Katak
Bentuk tulang mempunyai hubungan erat dengan tugasnya.Tulang tempurung kepala
bersenyawa, sedang cingulum anterior dengan cingulum posterior merupakan tulang-tulang yang
terangkai menjadi satu. Tulang yang bersenyawa tidak dapat digerak-gerakkan terhadap satu
sama lain. Pada humerus dan femur terdapat satu hubungan bentuk bola dan mangkokan yang
menyebabkan gerak putar. Hubungan engsel terdapat pada siku dan lutut. Gerakan-gerakan itu
dimungkinkan oleh adanya otot ligamen dari jaringan ikat.Kecuali itu juga disebabkan oleh otot-
otot daging yang dapat memanjang dan memendek, sebagai penggeraknya.Pada tulang yang
panjang dibedakan atas bagian central yang disebut diaphyse sedang kedua ujungnya disebut
epiphyse.Pada tulang-tulang yang bersenyawa terdapat hubungan satu sama lain, dan amsing-
masing epiphyse dan diaphyse juga terdapat hubungan tidak teratur dan terkunci oleh sutura.Pada
katak sutura masih berupa tulang rawan, sehingga tulang itu dapat tumbuh terus.Pada burung dan
sebagian besar mamalia, masing-masing sutura menjadi tulang keras pada saat tertentu. Dengan
demikian pertumbuhan menjadi lebih besar lagi tidak mungkin terjadi.
Sistem Otot
Sistem otot pada amfibi, seperti sistem-sistem organ yang lain, sebagai transisi antara ikan
dan reptil. Sistem otot paada ikan berpusat pada gerakana tubuh ke lateral, membuka dan
menutup mulut serta gill apertura (celah insang) dan gerakan sirip yang relatif
sederhana.Kebutuhan hidup di darat mengubah susunan ini.
Sistem otot pada amfibi masih metamerik seperti pada ikan, tetapai tampak tanda-tanda
perbedaan. Sekat horizontal membagi otot dorsal dan ventral. Bagian dari otot epeksial atau
dorsal mempengaruhi gerakan kepala. Otot ventral adalah menjadi bukti dalam pembagian otot-
otot setiap segmen tubuh amfibi.
Selanjutnya otot hipaksial terlepas atau terbagi-bagi dalam lapisan-lapisan, kemudian
membentuk otot-otot oblique eksternal,oblique internal dan otot tranversus, sedangkan otot
dermal sangat kurang.Berbagai macam gerakan pada amfibi yaitu, berenang,berjalan, meloncat
atau memanjat, melibatkan perkembangan berbagai tipe otot.Beberapa diantaranya terletak
dalam tungkai itu dan berupa otot intrinsik.
Tubuh katak dan vertebrata lainnya mengandung tiga macam otot daging, yaitu otot
daging berserat halus, otot daging jantung, dan otot daging berserat melintang. Perbedaan itu
berdasar susunan secara mikroskopis dan fisologis. Otot daging sebelah luar tediri atas otot
daging skletal atau otot daging yang melekat pada tulang-tulang.Otot daging tersebut
terkendalikan oleh kemauan pada gerakannya.Masing-masing otot daging itu terdiri atas serat-
serat yang satu sama lain digabung oleh jaringan ikat.Kedua ujung biasanya melekat pada tulang
yang berlainan.Bagian central yang sedikit gerak disebut origin sedang bagian distal yang
merupakan bagian yang banyak gerak disebut insertion. Banyak otot daging yang memiliki
perluasan dengan jaringan ikat sehingga dapat membungkus sebelah ujung tulang yang disebut
tendon.
Otot daging mengadakan aktivitas dengan jalan kontraksi yakni memanjang-
memendekkan jari;dengan demikian kedua tulang yang terikat olehnya akan bergerak.Otot
daging secara umum dibagi atas dua kelompok yang berlawanan. Dibawah ini akan disebutkan
tipe umum dari otot-otot daging dengan model aktivitasnya dengan masing-masing contoh:
Flexor : Mengikat satu bagian dengan bagian lain; contoh biceps sebagai pengikat
lengan bawah dengan lengan atas.
Extensor : Meluruskan atau memperluas suatu bagian; contoh triceps meluruskan lengan
bawah pada lengan atas.
Abductor : Menarik suatu bagian menjauh dari sumbu tubuh (atau anggota); contoh deltoid
menarik lengan ke samping.
Adductor : Menarik satu bagian menuju ke arah sumbu tubuh (atau anggota); contoh
atianus dorsi menarik lengan keatas dan kembali.
Depressor : Menurunkan suatu bagian; contoh depresor manbulae menggerakkan kebawah
rahang bawah untuk menggerakkan mulut.
Levator : Mengangkat atau meninggikan suatu bagian;contoh masseter mengangkat
rahang untuk menutup mulut.
Rotator : Memutar suatu bagian;contoh pyriformis, meninggikan dan memutar femur.
Otot daging yang tunduk kepada kemauan dibagian atas tiga bentuk struktur umum: (1)
otot daging lebar dan pipih misalnya obliqus externus dan transversus yang membentuk didnding
abdomen; (2) otot daging gilik (silindris) dengan ujung yang menyisip, misalnya biceps atau
deltoid dan (3) otot daging sphincter dengan serat melingkar, misalnya sphincter ini yang
berfungsi untuk menutup anus.
Dalam banyak gerakan berbagai tubuh beberapa otot daging bereaksi bersama-sama
dengan beberapa kontraksi. Koordinasi dalam hal tersebut dilaksanakan oleh sistem saraf. Tiap-
tiap serat atau berkas otot mempunyai akhir ujung saraf motoris yang membawa perintah untuk
merangsang kontraksi.

Sistem Pencernaan
Di dalam mulut terdapat gerigi kecil di sepanjang rahang atas, dan ada gigi vomerin pada
langit-langit mulut. Lidah berotot dan bfurfate (cabang dua) pada ujungnya, dan bertaut pada
bagian anterior mulut. Saluran pencernaan mulai dari esophagus (bedinding lurus dan besar)
langsung bersatu dengan lambung. Lambung memanjang dan erkelok ke samping kiri dan
berotot. Usus terdiri dari intestinum (keci, panjang, berkelok-kelok), rectum yang langsung
bersatu dengan cloaca. Hati dn pancreas mempunyai mempunyai saluran-saluran menuju ke
duodenum, kandung empedu, lambung intestinum. Pada potongan melintang intestinum terdiri
dari empat lapisan, yaitu: peritoneum, lapisan otot, submukosa dan mukosa (Brotowidjoyo,
1994: 56).
Alat pencernaan makanan diawali oleh cavum oris dan di akhiri oleh anus. Pada beberapa
bagian dari trackus digestoria mempunyai struktur dan ukuran yang berbeda. Mangsa yang
berupa hewan kecil yang ditangkap untuk dimakan akan dibasahi oleh air liur. Katak tidak begitu
banyak mempunyai kelenjar ludah. Dari cavum oris makanan akan melalui pharynx, oesophagus
yang menghasilkan sekresi alkalis dan mendorong makanan masuk ke dalam vetriculus yang
berfungsi sebagai gudang pencernaan. Kontraksi dinding otot ventriculus meremas makanan
menjadi hancur dan dicampur dengan sekresi ventriculus yang mengandung enzim, yang
merupakan katalisator. Enzim yang dihasilkan oleh ventriculus dan intestinum terdiri atas pepsin,
tripsin, erepsin untuk protein, lipase untuk lemak. Di samping itu ventrikulus menghasilkan asam
klorida untuk mengasamkan bahan makanan. Gerakan yang menyebabkan bahan makanan
berjalan dalam saluran disebut gerak peristaltik. Makanan masuk ke dalam intestinum dari
ventriculus melalui klep pyloris. Kelenjar pencernaan yang besar ialah hepar dan pancreaticum
yang memberikan sekresinya pada intestinum. Hepar yang besar terdiri dari beberapa lobus dan
bilus (zat empedu) yang dihasilkan akan ditampung sementara dalam vesica felea, yang
kemudian akan dituangkan dalam intestinum melalui ductus Cystecus dahulu kemudian melalui
ductus cholydocus yang merupakan saluran gabungan dengan dengan saluran yang dari
pankreas. Fungsi bilus untuk mengemulsikan zat lemak. Bahan yang merupakan sisa di dalam
intestinum mayor menjadi feses dan selanjutnya di keluarkan melalui anus.
Amfibi darat juga memiliki kelenjar intermaksilari pada dinding mulutnya. Ada beberapa
amfibi yang lidahnya tidak dapat bergerak, tetapi sebagian besar bangsa Amfibi mempunyai
lidah yang dapat dijulurkan ke luar serta katak dan kodok lidah digulung ke lambung. Usus
menunjukkan berbagai variasi. Pada Caecillia menunjukkan ada gulungan kecil dan tidak
dibedakan antara usus kecil dan usus besar, pada katak dan kodok terdapat usus yang relatif
panjang, menggulung yang membuka kloaka.


Sistem saraf
Sistem saraf pada amfibi terdiri atas sistem saraf sentral dan sistem saraf periforium.
Sistem saraf sentral terdiri dari : encephalon (otak) dan medulla spinalis. Enchephalon terdapat
pada kotak otak (cranium). Pada sebelah dorsal akan tampak dua lobus olfactorium menuju
saccus nasalis, dua haemisperium cerebri atau cerebrum kanan kiri yang berbentuk ooid yang
dihubungkan dengan comisure anterior, sedangkan bagian anteriornya dergabung dengan
dienchepalon medialis. Dibagian belakang ini terdapat dua bulatan lobus opticus yang ditumpuk
otak tengah tengah (mesenchepalon) sebelah bawahnya merupakan cerebreum (otak kecil).
Dibelakang terdapat bagian terbuka sebelah atas yakni medulla oblongata yang berhubungan
dengan medulla spinalis dan berakhir disebelah felium terminale (Jasin, 1984: 271).
Terdiri atas sistem nervorum central dan sistem nervorum periforium. Dalam Sistem
nervorum central terdiri dari encephalon (otak) dan medulla spinalis (nervecord). Encephalon
terdapat dalam kotak otak (Cranium). Dari pandangan sebelah dorsal akan tampak dua lobus
olfactorius menuju saccus nasalis, dua hemispherium cerebri atau cerebrum kanan kiri yang
berbentuk ovoid yang dihubungkan oleh comissura anterior sedang bagian anteriornya
bergabung dengan diencephalon medialis. Di bagian belakang terdapat dua bulatan lobus opticus
yang ditumpu otak tengah (mesencephalon) sebelah bawah dan selanjutnya diikuti oleh
cerebellum (otak kecil) yang merupakan bagian kecil. Di belakangnya terdapat bagian yang
terbuka sebelah atas yaitu medulla oblongata yang selanjutnya berhubungan dengan medulla
spinalis, berakhir di sebelah caudal dengan felium terminale. Diencephalon mempunyai badan
sebelah dorsal yang disebut epiphyse atau glandulae pinealis. Di bawah diencephalon terdapat
chiasma opticua, yang selanjutnya diikuti oleh infudibulum yang tumbuh keluar sebagai segitiga
tumpul dengan hypophyse atau glandulae pituitaria pada posteriornya. Di dalam otak terdapat
rongga-rongga yang disebut ventriculus. Cairan cerebrospinalis mengisi ventriculus-ventriculus
tersebut dan sekitar otak. Pertukaran zat atau metabolism pada otak dilakukan oleh pembuluh-
pembuluh darah arteri dan venulae yang meliputi jaringan permukaan otak. Otak dan medulla
spinalis dibungkus oleh dua membran yang tebal yaitu duramater yang berbatasan dengan tulang,
dan membran halus yaitu piamater yang berbatasan dengan jaringan saraf. System nervorum
perivorum terdiri atas nervi Cranialis dan nervi spinalis. Nervi spinalis berpusat pada otak di
berbagai lobus.
Sistem respirasi
Respirasi adalah suatu proses penyediaan oksigen bagi tubuh. Sistem ini terdiri atas paru-
paru (pulmo) dan cutan (kulit), serta lapisan rongga kulit. Alat-alat ini mempunyai permukaan
yang basah (lapisan epithelium yang banyak mengandung pembuluh darah). Oksigen yang
berasal dari udara larut dalam cairan permukaan respirasi dengan jalan difusi masuk ke
pembuluh darah. Dalam proses ini hemoglobin memegang peranan dalam oksidasi yang
selanjutnya akan dibawa ke jaringan-jaringan tubuh yang memerlukan. Sebagian besar
karbondioksida diangkut oleh plasma darah dari jaringan ke alat respirasi. Struktur paru-paru
amphibi masih sederhana. Paru-paru katak terdiri atas dua sakus yang elastis yang berisi lipatan
yang membentuk kamar-kamar kecil yang disebut alviola, yang masing-masing diliputi oleh
pembuluh-pembuluh kapiler. Masing-masing sakus paru-paru dihubungkan dengan saluran
bronchi yang pendek, kemudian kedua bronchi bersatu menuju larynx (kotak suara) dengan
lubangnya yang disebut glottis.
Pada kodok, oksigen berdifusi melalui kulit, dan paru-paru. Kecuali pada fase berudu
bernapas dengan insang karena hidupnya di air. Selaput rongga mulut dapat berfungsi sebagai
alat pernapasan karena tipis dan banyak terdapat kapiler yang bermuara di tempat itu. Pada saat
terjadi gerakan rongga mulut dan faring, Iubang hidung terbuka dan glotis tertutup sehingga
udara berada di rongga mulut dan berdifusi masuk melalui selaput rongga mulut yang tipis.
Selain bernapas dengan selaput rongga mulut, katak bernapas pula dengan kulit, ini
dimungkinkan karna kulitnya selalu dalam keadaan basah dan mengandung banyak kapiler
sehingga gas pernapasan mudah berdifusi (Godknecht, 2004).
Oksigen yang masuk lewat kulit akan melewati vena kulit (vena kutanea) kemudian
dibawa ke jantung untuk diedarkan ke seluruh tubuh. Sebaliknya karbon dioksida dari jaringan
akan di bawa ke jantung, dari jantung dipompa ke kulit dan paru-paru lewat arteri kulit pare-paru
(arteri pulmo kutanea). Dengan demikian pertukaran oksigen dan karbon dioksida dapat terjadi
di kulit. Selain bernapas dengan selaput rongga mulut dan kulit, katak bernapas juga dengan
paruparu walaupun paru-parunya belum sebaik paru-paru mamalia. Katak mempunyai sepasang
paru-paru yang berbentuk gelembung tempat bermuaranya kapiler darah. Permukaan paru-paru
diperbesar oleh adanya bentuk- bentuk seperti kantung sehingga gas pernapasan dapat berdifusi.
Paru-paru dengan rongga mulut dihubungkan oleh bronkus yang pendek. Dalam paru-paru
terjadi mekanisme inspirasi dan ekspirasi yang keduanya terjadi saat mulut tertutup. Fase
inspirasi adalah saat udara (kaya oksigen) yang masuk lewat selaput rongga mulut dan kulit
berdifusi pada gelembung-gelembung di paru-paru.
Mekanisme inspirasi adalah dimulai dari otot Sternohioideus berkonstraksi sehingga
rongga mulut membesar, akibatnya oksigen masuk melalui koane. Setelah itu koane menutup
dan otot rahang bawah dan otot geniohioideus berkontraksi sehingga rongga mulut mengecil.
Mengecilnya rongga mulut mendorong oksigen masuk ke paru-paru lewat celah-celah. Dalam
paru-paru terjadi pertukaran gas, oksigen diikat oleh darah yang berada dalam kapiler dinding
paru-paru dan sebaliknya, karbon dioksida dilepaskan ke lingkungan.
Mekanisme ekspirasi adalah sebagai berikut. Otot-otot perut dan sternohioideus
berkontraksi sehingga udara dalam paru-paru tertekan keluar dan masuk ke dalam rongga mulut.
Celah tekak menutup dan sebaliknya koane membuka. Bersamaan dengan itu, otot rahang bawah
berkontraksi yang juga diikuti dengan berkontraksinya geniohioideus sehingga rongga mulut
mengecil. Dengan mengecilnya rongga mulut maka udara yang kaya karbon dioksida keluar.









System respirasi pada amphibi
Sistem Reproduksi
Reproduksi pada amphibi ada dua macam yaitu secara eksternal pada anura pada
umumnya dan internal pada Ordo Apoda. Proses perkawinan secara eksternal dilakukan di dalam
perairan yang tenang dan dangkal.
Di musim kawin, pada anura ditemukan fenomena unik yang disebut dengan amplexus,
yaitu katak jantan yang berukuran lebih kecil menempel di punggung betina dan mendekap erat
tubuh betina yang lebih besar. Perilaku tersebut bermaksud untuk menekan tubuh betina agar
mengeluarkan sel telurnya sehingga bisa dibuahi jantannya.
Amplexus bisa terjadi antara satu betina dengan 2 sampai 4 pejantan di bagian dorsalnya
dan sering terjadi persaingan antar pejantan pada musim kawin. Siapa yang paling lama bertahan
dengan amplexusnya, dia yang mendapatkan betinanya.
Amphibi berkembang biak secara ovipar, yaitu dengan bertelur, namun ada juga beberapa famili
amphibi yang vivipar, yaitu beberapa anggota ordo apoda. (Duellman and Trueb, 1986)
Reproduksi pada katak yaitu dengan cara fertilisasi eksternal, katak jantan menjepit katak
betina ketika perkawinan (yaitu ketika telur dilepaskan dan sperma disemprotkan)
(Brotowijdoyo.1989: 201).
Organon Uropetricum
Ginjal amfibi, seperti pada ikan sejenis opistonefros. Amfibi berekor ginjalnya
berstruktur elongasi seperti pada Elasmobranchii tetapi pada jenis Anura ada tendensi menjadi
pendek. Banyak amphibi yang sebagian atau seluruh hidupnya berada dalam air, korpuskel
renalis nya berkembang untuk membantu mencegah pengenceran yang berlebihan dari cairan
tubuh. Pembuluh arkinefrik amfibi jantan berupa genital ekskretori. Pembuluh arkinefrik tersebut
hanya melakukan transport sperma.
Sistem ini masih disebut sebagai suatu sistem gabungan karena masing-masing sistem
masih tergabung pada kloaka sebagai muara bersama baik untuk sistem ekskresi maupun untuk
sistem reproduksi, dan kecuali untuk feses.
Sistem ekskresi sebagai sistem pembuangan zat-zat yang tidak berguna pada amphibi
dilakukan oleh kulit, paru-paru, dan beberapa zat yang tidak berguna itu dilepaskan oleh hati
berupa empedu dan yang terpenting dilakukan oleh ren. Ren yang berbentuk bulat panjang,
berwarna coklat terpisah dari coelom di bawah vertebrae. Pemisahan ini disebut
retroperitonial. Ren merupakan alat filter selektif untuk membuang sisa-sisa zat organis dan
garam-garam mineral dari pembuluh darah. Proses filtrasi terjadi pada capsula renalis. Sebuah
capsula renalis terdiri atas:
1. Pembuluh darah kecil yang berlekuk-lekuk yang disebut glomerulus
2. Dinding ganda yang berbentuk mangkokan yang disebut capsula bowman
3. Tubulus uriniferus yang merupakan pembuluh lanjutan dari capsula bowman dililiti oleh
pembuluh darah arteri. Tubulus itu akan menyalurkan isinya pada pembuluh pengumpul yang
disebut ductus Wolfian atau ureter, yang merupakan pembuluh sepanjang dorsal menuju ke
vesica urinaria sebagai penyimpan sementara. Akhirnya urin sebagai bahan sampah dibuang ke
kloaka dan selanjutnya dikeluarkan dari tubuh.
Organon Genitale
Organon ini terdiri atas:
Organon genitalis masculinus yang berupa sepasang testis berbentu oval berwarna keputih-
putihan, terletak di sebelah anterior dari ren; diikat oleh alat penggantungnya yang kita sebut
mesorchium yang terjadi dari lipatan peritoneum. Di sebelah cranial testis melekatlah corpus
adiposum, suatu zat lemak yang berwarna kekuning-kuningan, sedang di sebelah median dataran
testis terdapat saluran-saluran halus yang disebut vasa efferentia yang bermuara pada saluran
kencing, kemudian menuju ke kloaka. Akhir dari ureter mengalami pembesaran dan disebut
vesicular seminalis, sebagai tempat penampungan spermatozoa sementara.
Organon genitalis femimus yang terdiri atas sepasang ovarium dilekatkan dengan bagian
dorsal coelom oleh alat penggantung yang disebut mesovarium, yang terjadi dari lipatan
peritoneum. Pada hewan yang telah dewasa kadang-kadang terdapat ova yang berwarna hitam
dan putih berbentuk bintik-bintik. Pada ovarium juga terdapat corpus adiposum yang berwarna
kekuning-kuningan. Pada breeding season ova yang telah masak menembus dinding ovarium
untuk masuk ke dalam oviduct, yaitu suatu saluran yang berkelok-kelok dengan ujung terbuka
sehingga tidak berhubungan dengan ovarium. Pada sebelah posterior saluran ini melebar dengan
dinding yang tipis, kadang-kadang ada yang menyebut sebagai uterus. Selanjutnya ovum menuju
ke kloaka pada suatu papilae. Fertilisasi terjadi di luar tubuh, tapi walaupun demikian pada
breeding season katak jantan menempel di punggung katak betina untuk memudahkan
terjadinya fertilisasi.









Sistem reproduksi pada katak
Organ Indra
Perubahan yang terjadi pada lingkungan hewan merupakan rangsangan bagi organon
sensoris atau receptor tubuh. Organon sensoris mempunyai hubungan dengan nervi sensori yang
membawa rangsangan ke pusat (lobos pada otak). Tiap-tiap rangsangan akan merangsang
organon sensoris tertentu. Organon visus akan menerima rangsangan yang berupa gelombang
sinar, sedangkan reseptor kulit menerima rangsangan yang berupa sentuhan. Pada lingua terdapat
papil-papil yang berupa tonjolan yang berisi reseptor perasa yang peka terhadap zat-zat kimia
yang larut dalam air. Saccus nasalis yang mengandung receptor yang peka terhadap rangsangan
yang berupa gas. Telinga yang berisi organon auditorius dan alat kesetimbangan tubuh.
Lensa mata tetap dan tidak berubah kecembungannya untuk jarak pandangan yang
relative jauh. Kelopak mata kurang bagus bagi yang di air tetapi berkembang bagus pada spesies
yang di darat. Kelopak bagian bawah biasanya lebih mudah bergerak daripada bagian atas karena
kornea amphibi darat menjadi kering akibat evaporasi, sehingga perlu dibasahi dengan cairan
yang dihasilkan oleh kelenjar Harderian. Parietal dan pinael body berfungsi sebagai fotoreseptor,
sensitive terhadap gelombang panjang dan intensitas cahaya, berperan dalam termoregulasi dan
orientasi arah. Untuk alat pendengaran, salamander dan golongannya tidak mempunyai
pendengaran tengah, sedangkan katak dan kodok mempunyai pendengaran tengah dan gendang
telinga.

Sistem Kelenjar Endokrin
Sistem endokrin mirip dengan vertebrata tingkat tinggi. Pada dasar otak terdapat
glandula pituitari atau glandula hypophysa. Bagian anteriokelenjar ini pada larva menghasilkan
hormon pertumbuhan. Hormon ini mengontrol pertumbuhan tubuh terutama panjang tulang. Bila
seekor berudu diambil bagian anterior glandula hypophysanya, berudu tersebut tak akan tumbuh
menjadi katak. Tapi bila potongan ini ditranspantasikan kembali, maka pertumbuhan akan terjadi
sebagaimana mestinya. Pemberian hormon yang dihasilkan oleh bagian anterior glandula
hypophysa ini baik secara oral maupun suntik mengakibatkan pertumbuhan raksasa. Kelenjar
paratiroid ada (tidak ada pada ikan), sebagai regulator kalsium dalam sistem endokrin.
Pada katak dewasa bagian anterior glandula pituitaria ini menghasilkan hormon yang
merangsang gonad untuk menghasilkan sel kelamin. Jika dilakukan inplantasi kelenjar ini
dengan sukses pada seekor katak dewasa yang tak dalam keadaan berkembangbiak , maka mulai
saat itu segera terjadi perubahan. Inplantasi pada katak betina menyebabkan hewan ini
menghasilkan ovum yang telah masak. Inplantasi pada katak jantan mengakibatkan hewan ini
menghasilkan sperma.
Bagian tengah glandula pituitaria akan menghasilkan hormon intermidine yang
mempunyai peranan dalam pengatran chromorophora dalam kulit.
Bagian posterior glandula pituitaria menghasilkan suatu hormon yang mengatur
pengambilan air.
Glandula thyroidea yang terdapat di belakang tulang rawan hyoid menghasilkan hormon
thyroid yang mengatur metabolisme secara umum. Kelenjar ini menjadi besar pada berudu
sebelum metamorphose menjadi katak. Jika kelenjar ini di ambil maka berudu tidak akan
menjadi katak. Bila ekstrak ini disuntikan pada berudu yang secara normal memerlukan waktu
dua tahun (untuk katak yang diam di daerah dingin ) untuk berubah menjadi dewasa maka waktu
metamorphose ini akan dipercepat. Kelenjar tiroid tidak hanyamengatur aktivitas metabolisme
tubuh tetapi dipercaya sangat penting dalam mempengaruhi periode pengelupasan lapisan luar
kulit.
Kelenjar pancreas di samping menghasilkan enzim juga menghasilkan hormon insuline
yang mengatur metabolisme zat gula. Hormon ini juga dihasilkan oleh sekelompok sel dalam
pulau Langerhans.
Pada permukaan sebelah luar dari ginjal terdapat glandulae supra renalis atau glandulae
adrenalis yang menghasilkan hormon adrenalin atau aphinephrine yang bekerja berlawanan
dengan insuline (hormon adrenalin mengubah glycogen menjadi glucosa, kecuali itu
menyebabkan pigmen mengumpul sehingga kulit berwarna lebih gelap. Kelenjar adrenal,
korteks dan medula bergabung tidak terpisah seperti pada ikan.

E. Habitat dan persebaran
Amphibi muncul pada pertengahan periode Jura, pra era Paleozoik sebagai vertebrata
yang tertua. Kebanyakan Amfibi adalah hewan tropis, karena sifatnya yang poikiloterm atau
berdarah dingin. Amphibi memerlukan sinar matahari untuk mendapatkan panas ke tubuhnya,
karena tidak bisa memproduksi panas sendiri.
Oleh karena itu banyak amphibi yang ditemukan di wilatah tropis dan sub tropis,
termasuk di seluruh indonesia.
Amphibi umumnya merupakan makhluk semi akuatik, yang hidup di darat pada daerah
yang terdapat air tawar yang tenang dan dangkal. Tetapi ada juga amphibi yang hidup di pohon
sejak lahir sampai mati, dan ada juga yang hidup di air sepanjang hidupnya.
Amphibi banyak ditemukan di areal sawah, daerah sekitar sungai, rawa, kolam, bahkan di
lingkungan perumahan pun bisa ditemukan.

F. Relasi dengan Manusia
Adapun relasi manusia dengan katak adalah sebagai berikut:
a. Digunakan untuk pengobatan khususnya di negara Cina
b. Dijadikan bahan kosmetik
c. Dijadikan sebagai bahan penelitian ilmu pengetahuan
d. Digunakan sebagai umpan ikan
e. Salah satu kelas amphibi yaitu Bufo melanosticus sebagai alat tes kehamilan
f. Digunakan sebagai bahan makanan
g. Dijadikan hewan peliharaan




















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa, kedudukan amphibia dalam sistem
klasifikasi yaitu:
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Upafilum : Vertebrata
Superkelas : Tetrapoda
Kelas : Amphibia
Kata amphibi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata, yaitu Amphi
(rangkap) dan bios (hidup). Atau dapat diartikan sebagai hewan bertulang belakang
(vertebrata) dengan kelembaban kulit yang tinggi, tidak tertutupi oleh rambut yang hidup di dua
alam; yakni di air dan di daratan.
Anggota amphibia terdiri dari 4 ordo yaitu Urodela (Salamander), Apoda (Caecilia), dan
Anura ( katak dan kodok), Proanura (telah punah).
Adapun morfologi kelas amphibi yaitu kepala dan badan lebar bersatu, ada dua pasang kaki
atau anggota, tak ada leher dan ekor. Kaki katak terdiri atas sepasang kaki depan dan sepasang
kaki belakang. Kaki depan terdiri atas lengan atas (brancium), lengan bawah (antebrancium),
tangan (manus), dan jari-jari (digiti). Pada kaki belakang terdiri atas paha (femur), betis (crus),
kaki (pes) dan jari-jari (digiti).
Anatomi kelas amphibi yaitu
Rangka katak tersusun atas endoskeleton yang disokong oleh bagian-bagian yang lunak.Fungsi
rangka adalah untuk melindungi bagian-bagian tubuh yang vital, melekatnya otot daging berguna
untuk gerak dan berjalan.
Sistem otot pada amfibi masih metamerik seperti pada ikan, tetapai tampak tanda-tanda
perbedaan. Tubuh katak dan vertebrata lainnya mengandung tiga macam otot daging, yaitu otot
daging berserat halus, otot daging jantung, dan otot daging berserat melintang.
Jantung amfibi terdiri dari tiga ruang yaitu 2 atrium dan 1 ventrikel. Jantung mempunyai sekat
interatrial, kantong ventrikulur, dan pembagian konus arteriosus dalam pembuluh sistemik dan
pembuluh pulmonari.
Sistem lymphatic terdiri dari beberapa macam saccus yaitu : Saccus submaxillaris, Saccus
pectolaris, Saccus abdominalis, Saccus lateralis, Saccus brachialis, Saccus femuralis, Saccus
inter-femuralis dan Saccus cruralis.
Sistem pencernaan terdiri atas beberapa alat pencernaan yaitu cavum oris, pharynx, oesophagus,
ventriculus, intestinum dan di akhirin oleh anus.
Respirasi adalah suatu proses penyediaan oksigen bagi tubuh. Sistem ini terdiri atas paru-paru
(pulmo) dan cutan (kulit), serta lapisan rongga kulit.
Sistem urogenital disebut sebagai suatu sistem gabungan karena masing-masing sistem masih
tergabung pada kloaka sebagai muara bersama baik untuk sistem ekskresi maupun untuk sistem
reproduksi, dan kecuali untuk feses. Terdiri dari organon uropetricum dan organon genitalis.
Organon genitalis terdiri dari organon genitalis masculinus dan organon genitalis feminus.
Sistem saraf terdiri atas sistem nervorum central dan sistem nervorum periforium.
Sistem indra terdiri dari beberapa organ seperti lingua, organon visus Saccus nasalis, telinga.
Sistem endokrin terdiri dari beberapa glandula yang menghasilkan hormone tertentu yaitu
glandula pituitari atau glandula hypophysa, glandula thyroidea, kelenjar pancreas, glandulae
supra renalis atau glandulae adrenalis
Amphibi umumnya merupakan makhluk semi akuatik, yang hidup di darat pada daerah
yang terdapat air tawar yang tenang dan dangkal. Tetapi ada juga amphibi yang hidup di pohon
sejak lahir sampai mati, dan ada juga yang hidup di air sepanjang hidupnya.
DAFTAR PUSTAKA

Djarubito Brotowidjoyo, Mukayat.1994. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.
Campbell, Reece, Michele. 2003. Biologi Edisi Kelima-Jilid III. Jakarta: Erlangga.
Tuti Kurniati, M.Pd, Bintarti Yusriana, M.Si, Sumiyati Saadah M.Si. 2011. Zoologi Vertebrata. Prodi
Pendidikan Biologi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. UIN SGD Bandung.
http://202.153.132.136/hadiruntukmu/fahutanipb/BOBY%20DARMAWAN_E34103018.pdf
http://zonabawah.blogspot.com/2011/07/sistem-rangka-dari-kelasamfibiamphibia.html
http://ksh.biologi.ugm.ac.id/index.php?option=com_content&view=section&layout=blog&id=3
&Itemid=14
http://id.wikipedia.org/wiki/Amfibia
http://www.gudangmateri.com/2010/03/amphibi.html
http://biologionline.blogspot.com/2011/04/kelas-amphibia.html
http://blog.uad.ac.id/uminatifatulchusnah/2011/12/06/kelas-amphibia/
http://zonabawah.blogspot.com/2011/07/morfologi-amfibiamphibia.html
www.scribd.com/doc/80092463/dunia-hewan
http://dhey2riska.blogspot.com/2009/10/kelas-amfibi-hewan-amfibi-kelas.html