Anda di halaman 1dari 24

Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 1

Penanganan Penyakit Kusta Pada Masyarakat


Maria Sunvratys
102011313
Kelompok : B 7
Email : sunvratysmaria@yahoo.com
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510
Pendahuluan
Penyakit kusta merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh kuman
Mycobacterium leprae yang terutama menyerang saraf tepi, kulit dan organ tubuh lain kecuali
susunan saraf pusat. Mycobacterium leprae untuk pertama kali ditemukan oleh G.A. Hansen
dalam tahun 1873. Pada umumnya penyakit kusta terdapat di negara yang sedang berkembang,
dan sebagian besar penderitanya adalah dari golongan ekonomi lemah. Hal ini sebagai akibat
keterbatasan kemampuan negara tersebut dalam memberikan pelayanan yang memadai di bidang
kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat. penderita kusta dapat
disembuhkan. Kesembuhan ini diperoleh melalui diagnosis awal, pengobatan dini dan teratur.
Melalui tiga hal pokok tersebut hampir semua kasus kusta dapat disembuhkan, dan sebagian
besar kerusakan serta kecacatan dapat dicegah. Mengingat pengobatan penyakit kusta
memerlukan waktu yang lama dan kepatuhan, sehingga diperlukan program promosi kesehatan
dalam rangka memberikan pemahaman, pengertian dan menumbuhkan ketaatan penderita kusta
untuk melaksanakan perawatan diri secara teratur, minum obat, dan memelihara kebersihan diri.
rendahnya angka cakupan RFT rate di Indonesia adalah karena masih banyak penderita kusta
tidak terus menerus mengkonsumsi obat yang telah diberikan, selain itu petugas kesehatan tidak
melakukan monitoring terhadap rutinitas pengobatan penderita kusta, serta masih ada stigma di
masyarakat bahwa penyakit kusta tidak dapat disembuhkan, bahkan pada penderita itu sendiri.

Puskesmas
Di Indonesia puskesmas merupakan tulang punggung pelayanan kesehatan tingkat pertama.
Departemen Kesehatan RI pada tahun 1991 mendefinisikan puskesmas sebagai suatu kesatuan
organisasi kesehatan fungsuional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat di
Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 2

wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok.
1
Puskesmas memiliki wewenang dan tanggung
jawab yang sangat besar dalam memelihara kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya dalam
rangka meningkatkan status kesehatan seoptimal mungkin.
1

Ada 3 fungsi puskesmas, yaitu:
1. Sebagai pusat pembangunan keshatan masyarakat di wilayahnya.
2. Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka meningkatkan
kemampuan untuk hidup sehat.
3. Memberikan pelayananan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat
di wilayah kerjanya.
1

Berdasarkan Buku Pedoman Kerja Puskesmas yang terbaru ada 20 usaha pokok kesehatan yang
dapat dilakukan di puskesmas, itupun sangat tergantung kepada faktor tenaga, sarana dan
prasarana serta biaya yang tersedia berikut kemampuan manajemen dari tiap-tiap puskesmas.
Disini saya akan menyebutkan ke 20 kegiatan pokok puskesmas tersebut, yakni :
1. Upaya kesehatan ibu dan anak
2. Upaya keluarga berencana
3. Upaya peningkatan gizi
4. Upaya kesehatan lingkungan
5. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
6. Upaya pengobatan termasuk pelayanan darurat karena kecelakaan
7. Upaya penyuluhan kesehatan
8. Upaya kesehatan sekolah
9. Upaya kesehatan dan olahraga
10. Upaya perawatan kesehatan masyarakat
11. Upaya kesehatan kerja
12. Upaya kesehatan gigi dan mulut
13. Upaya kesehatan jiwa
14. Upaya kesehatan mata
15. Upaya laboratorium sederhana
16. Upaya pencatatan dan pelaporan dalam rangka sistem informasi kesehatan
17. Upaya kesehatan usia lanjut
18. Upaya pembinaan pengobatan tradisional
Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 3

19. Upaya kesehatan remaja
20. Dana sehat
1

Berkaitan dengan kasus penyakit kusta di atas, maka program puskesmas yang sangat penting
dilaksanakan disini adalah upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, upaya
pengobatan, dan juga upaya penyuluhan. Berikut adalah penjabaran mengenai ketiga upaya
tersebut:
1. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
a. Mengumpulkan danmenganalisa data penyakit
b. Melaporkan kasus penyakit menular
c. Menyelidiki di lapangan untuk melihat benar atau tidaknya laporan yang masuk, untuk
menemukan kasus-kasus baru dan untuk mengetahui sumber penularan.
d. Tindakan permulaan untuk menahan penularan penyakit
e. Menyembuhkan penderita, hingga ia tidak lagi menjadi sumber infeksi
f. Pemberian imunisasi
g. Pemberantasan vektor
h. Pendidikan kesehatan kepada masyarakat
2. Upaya pengobatan
a. Melaksanakan diagnosa sedini mungkin melalui:
Mendapatkan riwayat penyakit
Mengadakan pemeriksaan fisik
Mengadakan pemeriksaan laboratorium
Membuat diagnosa
b. Melaksanakan tindakan pengobatan
c. Melakukan upaya rujukan bila dipandang perlu, rujukan tersebut dapat berupa:
Rujukan diagnostik
Rujukan pengobatan/rehabilitasi
Rujukan lain
3. Upaya penyuluhan kesehatan masyarakat
a. Penyuluhan kesehatan masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tiap-
tiap program puskesmas. Kegiatan penyuluhan kesehatan dilakukan pada setiap
Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 4

kesempatan oleh petugas, apakah di klinik, rumah dan kelompok-kelompok
masyarakat.
b. Di tingkat puskesmas tidak ada petugas penyuluhan tersendiri, tetapi di tingkat
kabupaten diadakan tenaga-tenaga koordinator penyuluhan kesehatan. Koordinator
membantu para petugas puskesmas dalam mengembangkan teknik dan materi
penyuluhan di puskesmas.
1


Puskesmas harus bertanggung jawab untuk setiap masalah kesehatan yang terjadi di wilayah
kerjanya, meskipun masalah tersebut lokasinya berkilo-kilo meter dari puskesmas. Dengan azas
inilah puskesmas dituntut untuk lebih mengutamakan tindakan pencegahan penyakit, dan bukan
tindakan untuk pengobatan penyakit. Dengan demikian puskesmas harus secara aktif terjun ke
masyarakat dan bukan menantikan masyarakat datang ke puskesmas.
Wilayah kerja puskesmas, bisa kecamatan, faktor kepadatan penduduk, luas daerah, keadaan
geografik dan keadaan infrastruktur lainnya merupakan bahan pertimbangan dalam menentukan
wilayah kerja puskesmas.
1

Pendekatan Epidemiologi Penyakit Kusta
Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang sifat, penyebab, pengendalian, dan
faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi dan distribusi penyakitm kecacatanm dan kematian
dalam populasi manusia. Epidemiologi juga meliputi pemberian ciri pada distribusi status
kesehatan, penyakit, atau masalah kesehatan masyarakat lainnya berdasarkan usia, jenis kelamin,
ras, geografi, agama, pendidikan, pekerjaan , perilaku, waktu, tempat, dan orang. Karakterisasi
ini dilakukan guna menjelaskan distribusi suatu penyakit atau masalah yang terkait dengan
kesehatan jiga dihubungkan dengan faktor penyebab. Epidemiologi berguna untuk mengkaji dan
menjelaskan dampak dari tinakan pengendalian kesehatan masyarakat, program pencegahan,
intervensi klinis, dan pelayanan kesehatan terhadap penyakit atau mengkaji dan menjelaskan
faktor lain yang berdampak pada status kesehatan penduduk.
1
Epidemiologi dapat dikatagorikan
sebagai berikut: dilihat dari agen nya, host, faktor lingkungan, dan cara penularannya.
a. Faktor Daya Tahan Tubuh (host)
Sebagian besar manusia kebal terhadap penyakit kusta (95%). Dari hasil penelitian
menunjukkan bahwa dari 100 orang yang terpapar, 95 orang tidak menjadi sakit, 3 orang
Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 5

sembuh sendiri tanpa obat, dan 2 orang menjadi sakit. Hal ini belum memperhitungkan
pengaruh pengobatan.
2

b. Faktor Kuman (agent)
Kuman mycobacterium leprae. Dimana microbacterium ini adalah kuman aerob, tidak
membentuk spora, berbentuk batang, dikelilingi oleh membran sel lilin yang merupakan
ciri dari spesies Mycobacterium, berukuran panjang 1 8 micro, lebar 0,2 0,5 micro
biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu, hidup dalam sel dan bersifat tahan
asam (BTA) atau gram positif, tidak mudah diwarnai namun jika diwarnai akan tahan
terhadap dekolorisasi oleh asam atau alkohol sehingga oleh karena itu dinamakan sebagai
basil tahan asam. Selain banyak membentuk safrifit, terdapat juga golongan organisme
patogen (misalnya Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium leprae) yang
menyebabkan penyakit menahun dengan menimbulkan lesi jenis granuloma infeksion.
Mycobacterium leprae belum dapat dikultur pada laboratorium.Kuman Mycobacterium
Leprae menular kepada manusia melalui kontak langsung dengan penderita dan melalui
pernapasan, kemudian kuman membelah dalam jangka 14-21 hari dengan masa inkubasi
rata-rata dua hingga lima tahun. Setelah lima tahun, tanda-tanda seseorang menderita
penyakit kusta mulai muncul antara lain, kulit mengalami bercak putih, merah, rasa
kesemutan bagian anggota tubuh hingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

c. Faktor Lingkungan (environment)
Syarat Rumah Sehat
Pencahayaan
Rumah sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak kurang dan tidak terlalu
banyak. Kurangnya cahaya yang masuk ke dalam rumah dapat menyebabkan rasa kurang
nyaman untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang membutuhkan pencahayaan seperti
kegiatan menulis, membaca dan aktivitas lain selain itu dapat merupakan media yang baik
bagi pertumbuhan dan perkembangbiakan kuman penyakit. Sebaliknya terlalu banyak
cahaya yang masuk akan menyebabkan silau dan akhirnya akan merusak mata.
2

Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 6

Pencahayaan yang cukup, baik cahaya alami maupun buatan. Pencahayaan yang memenuhi
syarat sebesar 60 120 lux. Luas jendela yang baik minimal 10 % - 20 % dari luas lantai.


Cahaya bedasarkan sumbernya dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
a. Cahaya Alami
Cahaya alamiah yakni matahari. Cahaya ini sangat penting, karena dapat membunuh
bakteri-bakteri patogen di dalam rumah, misalnya kuman TBC. Oleh karena itu, rumah
yang cukup sehat seyogyanya harus mempunyai jalan masuk yang cukup (jendela),
luasnya sekurang-kurangnya 15 % - 20 %. Perlu diperhatikan agar sinar matahari dapat
langsung ke dalam ruangan, tidak terhalang oleh bangunan lain. Fungsi jendela disini
selain sebagai ventilasi, juga sebagai jalan masuk cahaya. Selain itu jalan masuknya
cahaya alamiah juga diusahakan dengan genteng kaca.
1,2

Kualitas pencahayaan alami siang hari yang masuk ke dalam ruangan ditentukan oleh:
2

kegiatan yang membutuhkan daya penglihatan (mata),
lamanya waktu kegiatan yang membutuhkan daya penglihatan (mata),
tingkat atau gradasi kekasaran dan kehalusan jenis pekerjaan,
cahaya minimum sepersepuluh dari luas lantai ruangan,
sinar matahari langsung dapat masuk ke ruangan minimum 1 (satu) jam setiap hari
efektif dapat diperoleh dari jam 08.00 sampai dengan jam 16.00.
Matahari sebagai potensi terbesar yang dapat digunakan sebagai pencahayaan alami pada
siang hari. Adapun letak rumah terhadap matahari yang paling menguntungkan bila
memilih arah dari timur ke barat.
b. Cahaya Buatan
Cahaya buatan yaitu cahaya yang menggunakan sumber cahaya yang bukan alamiah,
seperti lampu minyak tanah, listrik, api dan lain-lain. Kualitas dari cahaya buatan
tergantung dari terangnya sumber cahaya (brightness of the source). Pencahayaan buatan
bisa terjadi dengan 3 cara, yaitu direct, indirect, semi direct atau general diffusing.

Penghawaan (Ventilasi)
Udara merupakan kebutuhan pokok manusia untuk bernafas sepanjang hidupnya.
Udara akan sangat berpengaruh dalam menentukan kenyamanan pada bangunan rumah.
Kenyamanan akan memberikan kesegaran terhadap penghuni dan terciptanya rumah yang
Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 7

sehat, apabila terjadi pengaliran atau pergantian udara secara kontinyu melalui
ruanganruangan, serta lubang-lubang pada bidang pembatas dinding atau partisi sebagai
ventilasi.
2,3,4
Ventilasi adalah proses penyediaan udara segar ke dalam rumah dan
pengeluaran udara kotor dari ruangan rumah secara alamiah maupun mekanis. Secara
alamiah dengan pemasangan jendela, pintu atau lubang udara. Secara mekanis pertukaran
udara menggunakan alat-alat bantu.
1, 2
Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi
pertama adalah untuk agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini berarti
keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya
ventilasi akan menyebabkan O2 didalam rumah yang berarti kadar CO2 yang bersifat
racun bagi penghuninya menjadi meningkat. Disamping itu tidak cukupnya ventilasi akan
menyebabkan kelembaban udara didalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan
dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini akan merupakan media yang baik untuk bakteri-
bakteri, patogen (bakteri-bakteri penyebab penyakit.) Fungsi kedua daripada ventilasi
adalah untuk membebaskan udara ruangan-ruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri
patogen, karena disitu selalu terjadi aliran udara yang terus-menerus. Bakteri yang terbawa
oleh udara akan selalu mengalir.
4,5

Bedasarkan bagiannya ventilasi dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
a. Ventilasi Alam
Ventilasi alam berdasarkan pada tiga kekuatan, yaitu: daya difusi dari gas-gas, gerakan
angin dan gerakan massa di udara karena perubahan temperatur. Ventilasi alam ini
mengandalkan pergerakan udara bebas (angin), temperatur udara dan kelembabannya.
Selain melalui jendela, pintu dan lubang angin, maka ventilasi pun dapat diperoleh dari
pergerakan udara sebagai hasil sifat porous dinding ruangan, atap dan lantai.
4

Adapun letak rumah terhadap arah mata angin yang paling menguntungkan bila memilih
arah tegak lurus terhadap arah angin itu.
2,4
b. Ventilasi buatan
Pada suatu waktu, diperlukan juga ventilasi buatan dengan menggunakan alat mekanis
maupun elektrik. Alat-alat tersebut diantaranya adalah kipas angin, exhauster dan AC
(air conditioner).
2
Agar diperoleh kesegaran udara dalam ruangan dengan cara
penghawaan alami, maka dapat dilakukan dengan memberikan atau mengadakan
peranginan silang (ventilasi silang) dengan ketentuan sebagai berikut:
2,4
Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 8

Lubang penghawaan minimal 5% (lima persen) dari luas lantai ruangan.
Udara yang mengalir masuk sama dengan volume udara yang mengalir keluar
ruangan.
Udara yang masuk tidak berasal dari asap dapur atau bau kamar mandi/WC.
Khususnya untuk penghawaan ruangan dapur dan kamar mandi/WC, yang memerlukan
peralatan bantu elektrikal-mekanikal seperti blower atau exhaust fan, harus memenuhi
ketentuan sebagai berikut:
5
Lubang penghawaan keluar tidak mengganggu kenyamanan bangunan
disekitarnya.
Lubang penghawaan keluar tidak mengganggu kenyamanan ruangan kegiatan
dalam bangunan seperti: ruangan keluarga, tidur, tamu dan kerja.

Suhu Rumah
Suhu adalah panas atau dinginnya udara yang dinyatakan dengan satuan derajat
tertentu. Suhu udara dibedakan menjadi: 1). Suhu kering, yaitu suhu yang ditunjukkan
oleh termometer suhu ruangan setelah diadaptasikan selama kurang lebih sepuluh menit,
umumnya suhu kering antara 24 34 C; 2) Suhu basah, yaitu suhu yang menunjukkan
bahwa udara telah jenuh oleh uap air, umumnya lebih rendah daripada suhu kering, yaitu
antara 20-25 C.Secara umum, penilaian suhu rumah dengan menggunakan termometer
ruangan. Berdasarkan indikator pengawasan perumahan, suhu rumah yang memenuhi
syarat kesehatan adalah antara 20-25 C, dan suhu rumah yang tidak memenuhi syarat
kesehatan adalah < 20 C atau > 25 C .Suhu dalam rumah akan membawa pengaruh bagi
penguninya. Menurut Walton (1991), suhu berperan penting dalam metabolisme tubuh,
konsumsi oksigen dan tekanan darah. Sedangkan Lennihan dan Fletter (1989),
mengemukanan bahwa suhu rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan
meningkatkan kehilangan panas tubuh dan tubuh akan berusaha menyeimbangkan
dengan suhu lingkungan melalui proses evaporasi. Kehilangan panas tubuh ini akan
menurunkan vitalitas tubuh dan merupakan predisposisi untuk terkena infeksi terutama
infeksi saluran nafas oleh agen yang menular.
3,6


Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 9

Kelembaban Udara
Kelembaban udara adalah presentase jumlah kandungan air dalam udara (Depkes
RI, 1989). Kelembaban terdiri dari 2 jenis, yaitu 1) Kelembaban absolut, yaitu berat uap
air per unit volume udara; 2) Kelembaban nisbi (relatif), yaitu banyaknya uap air dalam
udara pada suatu temperatur terhadap banyaknya uap air pada saat udara jenuh dengan
uap air pada temperatur tersebut.Secara umum penilaian kelembaban dalam rumah
dengan menggunakan hygrometer. Menurut indikator pengawasan perumahan,
kelembaban udara yang memenuhi syarat kesehatan dalam rumah adalah 40-60 % dan
kelembaban udara yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah < 40 % atau > 60 %
(Depkes RI, 1989).Rumah yang tidak memiliki kelembaban yang memenuhi syarat
kesehatan akan membawa pengaruh bagi penghuninya. Rumah yang lembab merupakan
media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme, antara lain bakteri, spiroket,
ricketsia dan virus. Mikroorganisme tersebut dapat masuk ke dalam tubuh melalui udara.
Selain itu kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan membran mukosa hidung menjadi
kering sehingga kurang efektif dalam menghadang mikroorganisme.
3,6


Memenuhi Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Dalam menjaga keamanan dan keselamatan jiwa manusia yang berada dalam
rumah, kita juga perlu memperhatikan bahan yang dipakai untuk membangun rumah.
Bahan bagunan yang baik tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan bahan yang
dapat membahayakan keseha
2
, asbestos
kurang dari 0,5 serat/m
3
per 24 jam, plumbum (Pb) kurang dari 300 mg/kg bahan. Lalu,
tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme
patogen.
6
Pada dasarnya bagian-bagian struktur pokok untuk bangunan rumah tinggal
adalah: dinding, lantai dan atap.
Dinding Rumah
Fungsi dari dinding selain sebagai pendukung atau penyangga atap juga untuk
melindungi rumah dari gangguan panas, hujan dan angin dari luar dan juga sebagai
pembatas antara dalam dan luar rumah. Dinding berguna untuk mempertahankan suhu
dalam ruangan, merupakan media bagi proses rising damp (kelembaban yang naik dari
tanah) yang merupakan salah satu faktor penyebab kelembaban dalam rumah. Bahan
Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 10

dinding yang baik adalah dinding yang terbuat dari bahan yang tahan api seperti batu bata
atau yang sering disebut tembok. Dinding dari tembok akan dapat mencegah naiknya
kelembaban dari tanah (rising damp) (Depkes RI, 1994b). Dinding dari anyaman bambu
yang tahan terhadap segala cuaca sebenarnya cocok untuk daerah pedesaan, tetapi mudah
terbakar dan tidak dapat menahan lembab, sehingga kelembabannya tinggi.
Lantai Rumah
Lantai dari tanah, batu atau bata biasanya langsung diletakkan di atas tanah asli
sehingga menjadi lembab. Hal ini disebabkan penguapan air tanah di bawah lantai,
karenanya perlu dilapisi dengan satu lapisan semen yang kedap air atau susunan tegel,
teraso, marmer, keramik untuk mencegah masuknya air ke dalam rumah. Sebaiknya lantai
dinaikkan kira-kira 20 cm dari permukaan tanah.
4,5,6
Ubin atau semen adalah baik, namun
tidak cocok untuk kondisi ekonomi pedesaan. Lantai kayu sering terdapat pada rumah-
rumah orang yang mampu di pedesaan, dan inipun mahal. Oleh karena itu, untuk lantai
rumah pedesaan cukuplah tanah biasa yang dipadatkan. Syarat yang penting disini adalah
tdak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim hujan. Untuk memperoleh
lantai tanah yang padat (tidak berdebu) dapat ditempuh dengan menyiram air kemudian
dipadatkan dengan benda-benda yang berat, dan dilakukan berkali-kali. Lantai yang basah
dan berdebu merupakan sarang penyakit.
5

Atap Rumah
Atap genteng adalah umum dipakai baik di daerah perkotaan maupun pedesaan.
Disamping atap genteng cocok untuk daerah tropis, juga dapat terjangkau oleh masyarakat
dan bahkan masyarakat dapat membuatnya sendiri. Namun demikian, banyak masyarakat
pedesaan yang tidak mampu untuk itu, maka atap daun rumbai atau daun kelapa pun dapat
dipertahankan. Atap seng ataupun asbes tidak cocok untuk rumah pedesaan, di samping
mahal juga menimbulkan suhu panas didalam rumah.
5,6


Memenuhi Kebutuhan Sanitasi Rumah
Sanitasi adalah sebuah sistem perencanaan pengadaan fasilitas air bersih dan
pembuangan limbah dalam lingkungan rumah. Dengan sanitasi maka lingkungan rumah
akan bersih dan sehat. Air bersih yang digunakan untuk keperluan di dalam rumah harus
Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 11

memenuhi persyaratan untuk layak minum dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari
seperti memasak, mandi, mencuci, dan lain-lain.

Pengadaan Air Bersih
Pengadaan air bersih dapat diperoleh dari PAM (Perusahaan Air Minum) dan sumur.
Namun, untuk beberapa wilayah kota-kota besar penggunaan air tanah yang tidak
terkontrol dan sistem tata kota yang buruk mengakibatkan tercemarnya air tanah, sehingga
sumber air dari sumur tidak dapat digunakan. Namun, beberapa daerah yang
lingkungannya belum tercemar dan fasilitas air bersih belum tersedia penggunaan air
sumur dapat dilakukan. Cara dipakai umumnya air sumur dipompa dan ditampung dalam
dalam bak penampungan yang letaknya cukup tinggi untuk mengalirkan air.

Klasifikasi Penyakit Kusta
Tujuan klasifikasi ini untuk menentukan regimen pengobatan dan perencanaan operasional.
Untuk keperluan pengobatan kombinasi atau Multidrug Therapy (MDT) yaitu menggunakan
gabungan Rifampicin, Lamprene dan DDS, maka penyakit kusta di Indonesia diklasifikasikan
menjadi 2 tipe seperti klasifikasi menurut WHO (1998) yaitu:
a. Tipe PB (Pausibasiler)
Yang dimaksud dengan kusta tipe PB adalah penderita kusta dengan Basil Tahan Asam
(BTA) pada sediaan apus, yakni tipe I (Indeterminate) TT (Tuberculoid) dan BT
(Boderline Tuberculoid) menurut kriteria Ridley dan Joplin dan hanya mempunyai
jumlah lesi 1-5 pada kulit.


b. Tipe MB (Multi Basiler)
Kusta MB adalah semua penderita kusta tipe BB (Mid Boderline), BL (Boderline
lepromatous) dan LL (lepromatosa) menurut kriteria Ridley dan Joplin dengan jumlah
lesi 6 atau lebih dan skin smer positif.
3

Menurut teori Blum kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu; genetik, lingkungan,
perilaku dan pelaynan kesehatan
Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 12

a. Perilaku
Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah respon seseorang (organisme) terhadap stimulus
yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta
lingkungan. Respon atau reaksi manusia baik bersifat pasif (pengetahuan, persepsi dan
sikap) maupun bersifat aktif/tindakan yang nyata (practice). Dengan demikian secara
lebih terperinci perilaku kesehatan itu meliputi :
1. Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit, yaitu bagaimana manusia merespon,
baik secara pasif maupun aktif yang dilakukan sehubungan dengan penyakit, dengan
sendirinya sesuai dengan tingkat-tingkat pencegahan penyakit.
- Perilaku sehubungan de peningkatan dan pemeliharaan kesehatan (health
promotion behavior)
- Perilaku pencegahan penyakit (health prevention behavior)
- Perilaku sehubungan dengan pencarian pengobatan (health seeling behavior)
- Perilaku pemulihan kesehatan (health rehabilitation behavior)
2. Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan
3. Perilaku terhadap makanan
4. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan (environmental health behavior)
Seorang petugas kesehatan berperilaku tertentu dalam mewujudkan keaktifannya
disebabkan karena adanya dorongan yang menggerakkan hatinya agar berbuat sesuatu.
Dorongan tersebut juga sebagai motif. Pada setiap petugas kesehatan motif dapat berbeda
tergantung dengan latar belakang pendidikan, pengalaman, kebutuhan.

b. Lingkungan
Lingkungan memiliki pengaruh yang dan peranan terbesar diikuti perilaku, fasilitas
kesehatan dan keturunan. Lingkungan sangat bervariasi, umumnya digolongkan menjadi
tiga kategori, yaitu yang berhubungan dengan aspek fisik dan sosial. Lingkungan yang
berhubungan dengan aspek fisik contohnya sampah, air, udara, tanah, ilkim, perumahan,
dan sebagainya. Sedangkan lingkungan sosial merupakan hasil interaksi antar manusia
seperti kebudayaan, pendidikan, ekonomi, dan sebagainyaFaktor lingkungan yang kurang
memenuhi kebersihan. Basil ini dapat ditemukan dimana-mana, misalnya didalam tanah,
Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 13

air, udara, dan pada manusia terdapat dipermukaan kulit, rongga hidung, dan
tenggorokan. Basil ini dapat berkembang biak didalam otot polos /otot bergaris sehingga
dapat ditemukan pada otot erector pili, otot dan endotel kapiler, otot di skrotum, dan otot
iris mata. Kuman dapat ditemukan di kulit, folikel rambut, kelenjar keringat, dan air susu
ibu, jarang didapat dalam urine. Spuntum dapat banyak mengandung M.leprae yang
berasal dari traktus respiratorius atas.
2,3,5
C. Perilaku
Dari segi biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk
hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu dari sudut pandang biologis semua makhluk
hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang sampai dengan manusia itu berperilaku,
karena mereka mempunyai aktivitas masing-masing. Dan yang dimaksud dengan perilaku
pada hakikatnya adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai
bentangan yang sangat luas antara lain : berbicara, berjalan, menangis, tertawa, bekerja,
menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksud dengan perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat
diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.
2,3,5
Diagnosa Penyakit Kusta
Penyakit kusta dapat menunjukkan gejala yang mirip dengan banyak penyakit lain. Sebaliknya
penyakit lain dapat menunjukkan gejala yang mirip dengan penyakit kusta.
2
Oleh karena itu
dibutuhkan kemampuan untuk mendiagnosis penyakit kusta secara tepat dan membedakannya
dengan berbagai penyakit lain agar tidak membuat kesalahan yang merugikan penderita.
Diagnosa penyakit kusta didasarkan pada penemuan tanda kardinal (gejala utama), yaitu :
a. Bercak kulit yang mati rasa
Bercak hipopigmentasi atau eritematosa, mendatar (makula) atau meninggi (plakat). Mati
rasa pada bercak bersifat total atau sebagian saja terhadap rasa sentuh, rasa suhu, dan rasa
nyeri
b. Penebalan saraf tepi
Dapat disertai rasa nyeri dan juga dapat disertai atau tanpa gangguan fungsi saraf yang
terkena, yaitu gangguan fungsi sensoris (mati rasa), gangguan fungsi motoris (paresis
Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 14

atau paralysis), dan gangguan fungsi otonom (kulit kering, retak, edema, pertumbuhan
rambut yang terganggu).
c. Ditemukan basil tahan asam
Bahan pemeriksaan adalah hapusan kulit cuping telinga dan lesi kulit pada bagian yang
aktif. Kadang-kadang bahan diperoleh dari biopsy kulit atau saraf.
Untuk menegakkan penyakit kusta, paling sedikit harus ditemukan satu tanda kardinal. Bila tidak
atau belum dapat ditemukan, maka kita hanya dapat mengatakan tersangka kusta dan penderita
perlu diamati dan diperiksa ulang setelah 3-6 bulan sampai diagnosis kusta dapat ditegakkan atau
disingkirkan.
2
Pemeriksaan Penderita
1. Anamnesis
a. Keluhan penderita
b. Riwayat kontak dengan penderita
c. Latar belakang keluarga, misalnya keadaan sosial ekonomis
2. Inspeksi
Dengan penerangan yang baik, lesi kulit harus diperhatikan dan juga kerusakan kulit.
3. Palpasi
a. Kelainan kulit, nodus infiltrate, jaringan perut, ulkus, khususnya paa tangan dan kaki
b. Kelainana saraf : pemeriksaan saraf, termasuk meraba dengan teliti : N.aurikularis
magnus, N.ulnaris, dan N.peroneus. Petugas harus mencatat, adanya nyeri tekan dan
penebalan saraf. Harus diperhatikan raut wajah si penderita, apakah kesakitan atau
tidak pada waktu saraf diraba. Pemeriksaan saraf harus sistematis, meraba atau
palpasi sedemikian rupa jangan sampai menyakiti atau penderita mendapat kesan
kurang baik.
4. Tes fungsi saraf
a. Tes sensoris
- Rasa raba : dengan kapas atau sepotong kapas yang dilancipkan dipakai untuk memeriksa
perasaan dengan menyinggung kulit. Yang diperiksa harus duduk pada waktu
pemeriksaan. Terlebih dahulu petugas menerangkan bahwa bila mana merasa disinggung
bagian tubuhnya dengan kapas, ia harus menunjukkan kulit yang disinggung dengan jari
telunjuknya dan dikerjakan dengan mataterbuka. Tanda-tanda di kulit dan bagian-bagian
Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 15

kulit lain yang dicurigai, diperiksa sensibilitasnya. Harus diperiksa sensibilitas kulit yang
tersangka diserang kusta. Bercak-bercak di kulit harus diperiksa ditengahnya dan jangan
dipinggirnya.
- Rasa nyeri : diperiksa degan memakai jarum. Petugas menusuk kulit dengan ujung jarum
yang tajam dan dengan pangkal tangkainya yang tumpul dan penderita harus mengatakan
tusukan mana yang tumpul.
- Rasa suhu : dilakukan dengan mempergunakan 2 tabung reaksi, yang satu berisi air
panas(sebaiknya 40C) yang lainnya air dingin (sebaiknya sekitar 20C). kenudian mata
penderita ditutup atau menoleh ke tempat lain, lalu bergantian kedua tabung tersebut
ditempelkan pada daerah kulit yang dicurigai. Bila penderita salah menyebutkan rasa
pada tabung yang ditempelkan, maka dapat disimpulkan bahwa sensasi suhu di daerah
tersebut terganggu.
Berdasarkan adanya gangguan berkeringat di makula anestesi pada penyakit kusta,
pemeriksaan lesi kulit dapat dilengkapi dengan test anhidrosis

Pencegahan Penyakit Kusta
Mengingat di masyarakat masih banyak yang belum memahami tentang penyakit kusta yang bisa
menjadi hambatan bagi pelaksanaan program pemberantasan kusta termasuk dalam
mengikutsertakan peran serta masyarakat, maka diperlukan upaya-upaya pencegahan untuk dapat
mengurangi prevalensi, insidens dan kecacatan penderita kusta. Upaya-upaya pencegahan diatas
dibagi menjadi beberapa tingkatan sesuai dengan perjalanan penyakit yaitu : pencegahan primer,
sekunder, dan pencegahan tersier
1. Pencegahan Primer
Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang
sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Secara garis besar,
upaya pencegahan ini dapat berupa pencegahan umum dan pencegahan khusus.
Pencegahan umum dimaksudkan untuk mengadakan pencegahan pada masyarakat umum,
misalnya personal hygiene, pendidikan kesehatan masyarakat dengan penyuluhan dan
kebersihan lingkungan. Pencegahan khusus ditujukan pada orang-orang yang mempunyai
resiko untuk terkena suatu penyakit, misalnya pemberian immunisasi.
5,6

Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 16

2. Pencegahan Sekunder
Tingkat pencegahan kedua ini merupakan upaya manusia untuk mencegah orang yang
telah sakit agar sembuh dengan pengobatan, menghindarkan komplikasi kecacatan secara
fisik. Pencegahan sekunder mencakup kegiatan-kegiatan seperti dengan tes penyaringan
yang ditujukan untuk pendeteksian dini serta penanganan pengobatan yang cepat dan
tepat. Tujuan utama kegiatan pencegahan sekunder adalah untuk mengidentifikasikan
orang-orang tanpa gejala yang telah sakit atau yang jelas berisiko tinggi untuk
mengembangkan penyakit.
5,6
3. Pencegahan Tersier
Pencegahan ini dimaksudkan untuk mengurangi ketidak mampuan dan mengadakan
rehabilitasi. Upaya pencegahan tingkat tiga ini dapat dilakukan dengan memaksimalkan
fungsi organ tubuh, membuat protesa ekstremitas akibat amputasi dan mendirikan pusat-
pusat rehabilitasi medik.
5,6


Pencegahan Kecacatan
M.leprae menyerang saraf tepi pada tubuh manusia. Tergantung dari kerusakan urat saraf tepi,
maka akan terjadi gangguan fungsi saraf tepi : sensorik, motorik, dan otonom.
Menurut WHO tahun 1996 batasan istilah dalam cacat kusta adalah :
a) Impairment : segala kehilangan atau abnormalitas struktur fungsi yang bersifat
psikologik, fisiologik, atau anatomik.
b) Disability : segala keterbatasan atau kekurangmampuan (akibat impairment) untuk
melakukan kegiatan dalam batas-batas kehidupan yang normal bagi manusia.
c) Handicap : kemunduran pada seorang individu (akibat impairment dan disability)
yang membatasi atau menghalangi penyelesaian tugas normal yang bergantung
pada umur, seks, dan faktor sosial budaya.
Jenis cacat kusta dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu :
a) Kelompok cacat primer, adalah kelompok cacat yang disebabkan langsung oleh aktifitas
penyakit, terutama kerusakan akibat respons jaringan terhadap M.leprae. yang termasuk
cacat primer adalah cacat pada fungsi saraf sensorik, fungsi saraf motorik, dan cacat pada
fungsi otonom serta gangguan refleks vasodilatasi.
Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 17

b) Kelompok cacat sekunder, yaitu cacat yang terjadi akibat cacat primer, terutama akibat
adanya kerusakan saraf. Anastesi akan memudahkan terjadinya luka akibat trauma
mekanis atau termis yang dapat mengalami infeksi sekunder dengan segala akibatnya.
Derajat cacat kusta menurut WHO (1988), di bagi menjadi tiga tingkatan, yaitu :
a) Cacat pada tangan dan kaki :
Tingkat 0 : tidak ada anestesi dan kelainan anatomis
Tingkat 1 : ada anestesi, tetapi tidak ada kelainan anatomis
Tingkat 2 : terdapat kelainan anatomis
b) Cacat pada mata :
Tingkat 0 : tidak ada kelainan pada mata (termasuk visus)
Tingkat 1 : ada kelainan mata, tetapi tidak terlihat, visus sedikit berkurang
Tingkat 2 : ada lagoftalmos dan visus sangat terganggu
Upaya pencegahan cacat terdiri atas :
a) Upaya pencegahan cacat primer, yang meliputi :
- Pengobatan secara teratur dan adekuat
- Diagnosa dini dan penatalaksanaan neuritis
- Diagnosa dini dan penatalaksanaan reaksi

b) Upaya pencegahan cacat sekunder, yang meliputi :
- Perawatan diri sendiri untuk mencegah luka
- Latihan fisioterapi pada otot yang mengalami kelumpuhan untuk mencegah terjadinya
kontraktur
- Bedah rekonstruksi untuk koreksi otot yang mengalami kelumpuhan agar tidak mendapat
tekanan yang berlebihan
- Bedah plastic untuk menguragi perluasan infeksi
Perawatan mata, tangan, dan atau kaki yang anestesi atau mengalami kelumpuhan
otot.
Penemuan Kasus Penderita
Dalam program pemberantasan penyakit kusta, penemuan penderita secara
dini sangat penting untuk mencegah penularan dan timbulnya cacat pada penderita.
Cara penemuan penderita kusta ada 2 (dua) yaitu :
Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 18

Penemuan penderita secara pasif (sukarela)
Penemuan ini dilakukan oleh penderita baru atau tersangka yang belum pernah berobat
kusta, datang sendiri atau saran dari orang lain ke sarana kesehatan. Hal ini tergantung
dari pengertian dan kesadaran penderita itu sendiri untuk mendapatkan pengobatan.
Faktor-faktor yang menyebabkan penderita terlambat datang berobat ke
Puskesmas/sarana kesehatan lainnya, yaitu :
- Tidak mengerti tanda dini kusta
- Malu datang ke Puskesmas
- Tidak tahu bahwa ada obat yang tersedia cuma-cuma di Puskesmas
- Jarak penderita ke Puskesmas/sarana kesehatan lainnya terlalu jauh.
Penemuan secara aktif
Kegiatan yang dilakukan dalam penemuan penderita secara aktif adalah :
- Pemeriksaan kontak serumah (Survei Kontak)
Dengan melakukan pemeriksaan kepada semua anggota keluarga yang tinggal serumah
dengan penderita. Pemeriksaan dilakukan minimal 1 tahun sekali, terutama ditujukan
pada kontak tipe MB.
- Pemeriksaan anak sekolah
Penderita pada usia dibawah 14 tahun atau anak Sekolah Dasar dan Taman Kanak-kanak
cukup banyak. Ini untuk mengantisipasi kemungkinan adanya penderita kusta pada anak
dan mencegah terjadinya penularan di lingkungan sekolah.
- Chase Survey
Mencari penderita baru sambil membina partisipasi masyarakat untuk mengetahui tanda-
tanda kusta dini secara benar.
- Survei Khusus
Survei ini dilakukan apabila suatu daerah dimana proporsi penderita MB minimal 60%
dan dijumpai penderita pada usia muda cukup tinggi sesuai dengan perencanaan dan
petunjuk dari Depkes yang sudah diadakan Set Upsecara statistik oleh ahli statistik dari
WHO.tahun 2000.
5




Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 19

Penanggulangan Penyakit Kusta
Penanggulangan penyakit kusta telah banyak didengar dimana-mana dengan
maksudmengembalikan penderita kusta menjadi manusia yang berguna, mandiri, produktif
danpercaya diri. Metode penanggulangan ini terdiri dari : metode pemberantasan danpengobatan,
metode rehabilitasi yang terdiri dari rehabilitasi medis, rehabilitasi sosial,rehabilitasi karya dan
metode pemasyarakatan yang merupakan tujuan akhir dari rehabilitasi,dimana penderita dan
masyarakat membaur sehingga tidak ada kelompok tersendiri.
5
Ketigametode tersebut
merupakan suatu sistem yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
1. Penanggulangan Penyakit Kusta melalui Rehabilitasi
Rehabilitasi Medik
Kiranya tidak perlu diragukan lagi bahwa timbulnya cacat pada penyakit
kustamerupakan salah satu hal yang paling penting ditakuti. Dari hasil penelitian pada
bulan Maret1996 di Rumah Sakit Kusta Sitanala, menunjukkan bahwa lebih dari 73%
pasien yang datangberobat di poliklinik telah disertai cacat kusta. Walaupun dengan
pengobatan yang benar danteratur penyakit kusta dapat disembuhkan, akan tetapi cacat
yang telah timbul atau mungkinyang akan timbul merupakan persoalan yang cukup
kompleks. Bila hal ini tidak ditanganisecara benar, maka akan berlanjut semakin parah
serta berakhir fatal. Makin berat keadaansuatu cacat, maka makin cepat pula keadaan
memburuk. Diperlukan pencegahan cacat sejak dini dengan disertai pengelolaan yang
baik danbenar. Untuk itulah diperlukan pengetahuan rehabilitasi medik secara terpadu,
mulai daripengobatan, psikoterapi, fisioterapi, perawatan luka, bedah rekonstruksi dan
bedah septik,pemberian alas kaki, protese atau alat bantu lainnya, serta terapi okupasi.
Penting puladiperhatikan rehabilitasi selanjutnya, yaitu rehabilitasi sosial (rehabilitasi
nonmedis), agar mantan pasien kusta dapat siap kembali ke masyarakat, kembali
berkarya membangunnegara, dan tidak menjadi beban pemerintah. Kegiatan terpadu
pengelolaan pasien kustadilakukan sejak diagnosis ditegakkan. Rehabilitasi medis dan
rehabilitasi sosial merupakansatu kesatuan kegiatan yang dikenal sebagai rehabilitasi
paripurna.Menghadapi kecacatan pada pasien kusta, perlu dibuat program rehabilitasi
medik yang terencana dan terorganisasi. Dokter, terapis dan pasien harus bekerjasama
untuk mendapat hasil yang maksimal. Pengetahuan medis dasar yang perlu dikuasai
adalah anatomianggota gerak, prinsip dasar penyembuhan luka, pemilihan dan saat yang
Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 20

tepat untuk pemakaian modalitas terapi dan latihan. Diagnosis dan terpai secara dini,
disusul denganperawatan yang cermat, akan mencegah pengembangan terjadinya
kecacatan. Perawatanterhadap reaksi lepra mempunyai 4 tujuan, yaitu :a) Mencegah
kerusakan saraf, sehingga terhindar pula dari gangguan sensorik, paralisis, dan
kontraktur.
6

Rehabilitasi Nonmedik
Meskipun penyakit kusta tidak menyebabkan kematian, namun penyakit ini
termasuk penyakit yang paling ditakuti diseluruh dunia. Penyakit ini sering kali
menyebabkanpermasalahan yang sangat kompleks bagi penderita kusta itu sendiri,
keluarga, danmasyarakat. Pada penyakit kusta ini dikenal 2 jenis cacat yaitu cacat
psikososial dan cacat fisik.Seringkali penyakit kusta di identikkan dengan cacat fisk yang
menimbukan rasa jijik atau ngeri serta rasa takut yang berlebihan terhadap mereka yang
melihatnya. Akibat hal-haltersebut di atas, meskipun penderita kusta telah diobati dan
dinyatakan sembuh secara medis,akan tetapi bila fisinya cacat, maka predikat kusta akan
tetap melekat untuk seluruh sisahidup penderita, sehingga ia dan keluarganya akan
dijauhi oleh masyarakat di sekitarnya.Bayangan cacat kusta menyebabkan penderita
sering kali tida dapat menerimakeputusan bahwa ia menderita kusta. Akibatnya aka nada
perubahan mendasar padakepribadian dan tingkah laku penderita. Ia akan selalu sedapat
mungkin menyembunyikankeadaannya sebagai seorang penderita kusta. Hal ini tidak
menunjang proses pengobatan dankesembuhan, sebaliknya kan memperbesar resiko
timbulnya cacat bagi penderita itu sendiri.Tentu saja semua tersangka kasus kusta harus
diperiksa secara cermat dan hati-hati sekaliuntuk menghindari salah diagnosis, karena
setiap kesalahan dalam penegakkan diagnosisakan dapat menimbulkan beban psikis dan
dampak social yang tidak hanya dapat dialamioleh penderita itu sendiri, tetapi juga
terhadap keluargannya. Masalah psikososial yang timbul pada penderita kusta lebih
menonjol dibandingkandengan masalah medisnya sendiri. Hal ini disebabkan oleh karena
adanya stigma leprofobi yang banyak dipengaruhi oleh berbagai paham keagamaan, serta
informasi yang kelirutentang penyakit kusta. Sikap dan perilaku masyarakat yang
negative terhadap penderitakusta seringkali menyebabkan penderita kusta tidak
mendapatkan tempat di dalamkeluarganya dan masyarakat lingkungannya.Setelah
diagnosis ditegakkan, maka upaya rehabilitasi harus segera dimulai sedinimungkin,
Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 21

sebaiknya sebelum pengobatan kusta itu dimulai dan dilakukan secara terusmenerus
secara paripurna sampai ia dapat mencapai kemandirian dan hidup bermasyarakatseperti
sediakala. Dengan kata lain tujuan akhir rehabilitasi adalah resosialisasi penderita
itusendiri.Bila tanda-tanda cacat kusta sudah sedemikian jelas, tetapi hasil pemeriksaan
klinis, bakteriologis, dan histopatologis menyatakan bahwa penyakit kusta dalam keadaan
inaktif,maka pengobatan tidak diperlukan lagi dan hanya dilakukan upaya-upaya
rehabilitasi. Padapenderita harus ditekankan bahwa obat-obat kusta tidak dapat
menyembuhkan cacat fisik yang telah ada, supaya ia tidak mencari pengobatan di luar
ketentuan yang telah digariskanoleh Departemen Kesehatan. Pengobatan hanya diberikan
pada penderita kusta aktif, denganatau tanpa cacat kusta.
6
Rehabilitasi Mental
Pada umumnya mereka dibayang-bayangi oleh ketakutan yang sangat mendalam
akantimbulnya cacat fisik akibat penyakit ini. Suatu hal yang perlu kita sadari bahwa
tidak seorang sehatpun ingin mendapatkan cacat dalam kehidupannya. Hal ini merupakan
dasar bagi setiap petugas kesehatan dalam melakukan penyuluhan kusta. dengan
menekankanbahwa sebenarnya penyakit kusta bila diobati secara dini dan benar akan
dapat mengurangirisiko terjadinya cacat semaksimal mungkin. Penyuluhan kesehatan
berupa bimbingan mental, harus diupayakan sedini mungkinpada setiap penderita,
keluarganya, dan masyarakat sekitarnya, untuk memberikan dorongandan semangat agar
mereka dapat menerima kenyataan ini. Selain itu juga agar penderita dapatsegera mulai
menjalani pengobatan dengan teratur dan benar sampai dinyatakan sembuhsecara medis.
6
Rehabilitasi Karya
Tidak semua penderita kusta bila sembuh datang kembali bekerja pada pekerjaan
semula, apalagi bila pekerja terlanjur mengalam cacat fisik. Walaupun telah
diupayakanrehabilitasi medis dan dinyatakan sembuh dari penyakitnya, mantan penderita
tidak dapatmelakukan pekerjaan yang sama seperti sediakala. Dalam banyak hal adanya
stigma atau leprofobia akan menyebabkan penderita (mantan) kerap kali menghadapi
kendala sosial,sehungga perlu mengganti jenis pekerjaan untuk memugkinkan mencari
nafkah bagi diri dankeluarganya. Adanya hilang rasa (anastesi) pada palmar atau plantar
menyebabkanpekerjaan tertentu harus dihindari.Upaya rehabilitasi karya ini dilakukan
agar penderita yang sudah terlanjur cacat dapatkembali melakukan pekerjaan yang sama,
Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 22

atau dapat melatih diri terhadap pekerjaan barusesuai dengan tingkat cacat, pendidikan
dan pengalaman bekerja sebelumnya. Disampng itupenempatan di tempat kerja yang
aman dan tepat akan mengurangi risiko berlanjutnya cacatpada penderita kusta.
6
Rehabilitasi Sosial
Rehabilitasi social bertujuan memulihkan fungsi social ekonomi pernderita. Hal
inisangat sulit dicapai oleh penderita sendiri tanpa partisipasi aktif dari masyarakat
disekitarnya. Rehabilitasi social bukanlah bantuan social yang harus diberikan secara
terus menerus, melaikan upaya yang bertujuan untuk menunjang kemandirian penderita.
6


Pengobatan Penyakit Kusta
Sampai pengembangan dapson, rifampin, dan klofazimin pada 1940an, tidak ada
pengobatan yang efektif untuk kusta. Namun, dapson hanyalah obat bakterisidal (pembasmi
bakteri) yang lemih terhadap M. leprae. Penggunaan tunggal dapson menyebabkan populasi
bakteri menjadi kebal.Pencarian terhadap obat anti kusta yang lebih baik dari dapson, akhirnya
menemukan klofazimin dan rifampisin pada 1960an dan 1970an. Obat terapi multiobat kusta.
Kemudian, Shantaram Yawalkar dan rekannya merumuskan terapi kombinasi dengan rifampisin
dan dapson, untuk mengakali kekebalan bakteri. Terapi multiobat dan kombinasi tiga obat di atas
pertama kali direkomendasi oleh Panitia Ahli WHO pada 1981. Cara ini menjadi standar
pengobatan multiobat. Tiga obat ini tidak digunakan sebagai obat tunggal untuk mencegah
kekebalan atau resistensi bakteri.Terapi di atas lumayan mahal, maka dari itu cukup sulit untuk
masuk ke negara yang endemik. Pada 1985, kusta masih menjadi masalah kesehatan masyarakat
di 122 negara. Pada Pertemuan Kesehatan Dunia (WHA) ke-44 di Jenewa, 1991, menelurkan
sebuah resolusi untuk menghapus kusta sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 2000,
dan berusaha untuk ditekan menjadi 1 kasus per 100.000. WHO diberikan mandat untuk
mengembangkan strategi penghapusan kusta.Kelompok Kerja WHO melaporkan Kemoterapi
Kusta pada 1993 dan merekomendasikan dua tipe terapi multiobat standar. Yang pertama adalah
pengobatan selama 24 bulan untuk kusta lepromatosa dengan rifampisin, klofazimin, dan dapson.
Yang kedua adalah pengobatan 6 bulan untuk kusta tuberkuloid dengan rifampisin dan dapson.
Sejak 1995, WHO memberikan paket obat terapoi kusta secara gratis pada negara
endemik, melalui Kementrian Kesehatan. Strategi ini akan bejalan hingga akhir 2010.Pengobatan
multiobat masih efektif dan pasien tidak lagi terinfeksi pada pemakaian bulan pertama. Cara ini
Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 23

aman dan mudah. jangka waktu pemakaian telah tercantum pada kemasan obat.Setelah
menegakkan diagnosa dan ternyata seseorang menderita kusta segera diberikan pengobatan
dengan kombinasi Multi Drug Therapy (MDT) secara gratis dan dicatat oleh petugas dalam kartu
penderita. Memberikan penderita dosis pertama di puskesmas dan menganjurkan ambil obat
secara teratur di puskesmas. Kemasan blister obat kombinasi atau Multi Drug Ttherapy (MDT)
adalah gratis, disimpan ditempat yang kering, aman, teduh dan jauh dari jangkauan anak-anak.
Selama menjalani pengobatan penderita dapat menjalani kehidupan normal, dapat tinggal
dirumah, pergi kesekolah, bekerja, bermain, menikah, mempunyai anak serta dalam acara-acara
sosial (Depkes RI, 2000).
Tujuan pengobatan penderita untuk memutuskan mata rantai penularan, menyembuhkan
penyakit penderita dan mencegah terjadinya cacat. Penderita yang sudah cacat permanen,
pegobatan yang dilakukan hanya mencegah cacat lebih lanjut. Penderita kusta yang tidak
meminum obat secara teratur maka kuman kusta dapat aktif kembali dan menimbulkan gejala-
gejala baru yang memperburuk keadaan penderita. Pentingnya pengobatan sedini mungkin dan
teratur minum obat agar tidak timbul cacat yang baru. Sejak tahun 1982 Indonesia memberikan
pengobatan secara gratis padapenderita kusta dengan kombinasi Multi Drug Therapy (MDT)
yaitu kombinasi Dapsone atau DDS (Diamino Diphenyl Sulfone), Lamprene atau Clofazimine
dan Rifampisin. Keuntungan Multi Drug Therapy (MDT) adalah: mengubah konsep dari terapi
panjang yang hanya mencegah perluasan penyakit ke terapi pendek yang menyembuhkan
penyakit, mencegah resistensi obat, meningkatkan ketaatan berobat dari 50% ke 95%, mencegah
deformitas secara lebih efisien dan menurunkan jumlah kasus-kasus setiap tahunnya. Pengobatan
pada penderita Pauci Baciler (PB) lesi 1 diberikan dosis tunggal ROM ( Rifampisin Ofloxacin
Minocylin). Obat yang diberikan pada penderita Tipe PB 1 Lesi 1 langsung di telan di depan
petugas dan apabila obat tersebut tidak ada maka sementara diobati dengan dosis obat Pauci
Baciler 2-5. Untuk tipe Pauci Baciler (PB) lesi 2-5, pada dewasa pengobatan bulanan, hari
pertama diminum di depan petugas 2 kapsul Rifampisin 600 mg dan 1 tablet Dapsone 100 mg,
pengobatan harian hari ke 2- 28, 1 tablet Dapsone 100 mg 1 blister untuk 1 bulan dan diminum
sebanyak 6 blister (Depkes RI, 2005).
Untuk tipe Multi Baciler (MB) pada dewasa pengobatan bulanan, hari pertama dosis
diminum di depan petugas 2 kapsul Rifampisin 600 mg, 3 tablet Lampren 300 mg dan 1 tablet
Dapsone 100 mg, pengobatan harian yang ke 2-28 hari 1 tablet Lamprene 50 mg, 1 tablet
Penanganan Penyakit Kusta dalam Masyarakat 24

dapsone 100 mg. Satu blister untuk 1 bulan dan diminum sebanyak 12 blister.Untuk anak
dibawah usia 10 tahun obat diberikan berdasarkan berat badan dengan dosis sebagai berikut :
Rifampisin 10-15 mg/kg BB, Dapsone 1-2 mg/Kg BB dan Clofazimin 1 mg/Kg BB (Depkes RI,
2005).

Kesimpulan
Penyakit kusta merupakan penyakit menular yang sulit diketahui awal penyakitnya, maka para
medis dan medis hendaknya perlu informasi yang lebih banyak tentang penyakit kusta ini. Agar
terhindar dari penyakit kusta ini perlu dilakukan pencegahan penyakit dengan tiga tahap
pencegahan penyakit yaitu primary prevention, secondary prevention, tertiery pervention.
Penderita penyakit kusta bisa sembuh dengan melakukan pencegahan dan pengobatan yang
teratur. Penderita kusta sebagai manusia yang juga mendapat perlakuan secara manusia, sehingga
tidak perlu untuk dijauhi jadi keluarga dan masyarakat tidak perlu mendorong untuk
mengasingkan penderita kusta tersebut, karena kesembuhan dari penderita kusta tersebut juga
memerlukan dukungan keluarga dan masyarakat sekitar.


Daftar pustaka
1. Effendy N. Dasar-dasar kesehatan masyarakat. Jakarta: EGC, 2000.h. 48-50
2. Mitchell RN, Hartono A, Tania I. Buku saku dasar patologis penyakit robbins & cotran.
Jakarta: EGC, 2008.h. 213-8
3. Pohan IS. Jaminan mutu layanan kesehatan: dasar-dasar pengertian dan penerapan.
Jakarta: EGC, 2006.h.120-7
4. George P. Kesehatan masyarakat: administrasi dan praktik. Jakarta: EGC, 2008.h. 123-5
5. Luanaigh PO, Carlson C. Ilmu kesehatan masyarakat . Jakarta: EGC, 2008.h. 104-9
6. Chandra B. Ilmu kedokteran pencegahan & komunitas. Jakarta: EGC, 2009.h.160-8