Anda di halaman 1dari 27

arsip kuliah satria

Kamis, 10 November 2011


askep HIV
BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Ilmu pengetahuan yang terus mengalami perkembangan telah membawa manusia menuju
suatu babak baru dalam kehidupan yang lebih maju. Namun, kemajuan ini ternyata juga telah
menuntun manusia ke kehidupan yang lebih bebas. Sebagai contoh adalah adanya kasus seks
bebas dan penggunaan narkoba. Jika kedua kasus tersebut meningkat, berarti terjadi pula
peningkatan risiko penyebaran penyakit infeksi yang saat ini menjadi fenomena di dunia. Salah
satu penyakit infeksi yang menyebar melalui perilaku seks bebas dan penggunaan narkoba
adalah infeksi HIV/AIDS. Penyakit ini sampai sekarang masih menjadi isu kesehatan publik di
dalam komunitas di seluruh dunia (Smeltzer & Bare, 2002).
Berdasarkan data Departemen kesehatan (Depkes) pada periode Juli-September 2006
secara kumulatif tercatat pengidap HIV positif di Indonesia telah mencapai 4.617 orang dan
AIDS 6.987 orang (Media Indonesia, 2006). HIV/AIDS merupakan penyakit yang tidak dapat
disembuhkan dan belum ditemukan obat yang dapat memulihkannya hingga saat ini. Menderita
HIV/AIDS di Indonesia dianggap aib, sehingga dapat menyebabkan tekanan psikologis terutama
pada penderitanya maupun pada keluarga dan lingkungan di sekeliling penderita.
Secara fisiologis HIV menyerang sistem kekebalan tubuh penderitanya. Jika ditambah
dengan stres psikososial-spiritual yang berkepanjangan pada pasien terinfeksi HIV, maka akan
mempercepat terjadinya AIDS, bahkan meningkatkan angka kematian.
Pada umumnya, penanganan pasien HIV memerlukan tindakan yang hampir sama.
Namun berdasarkan fakta klinis saat pasien kontrol ke rumah sakit menunjukkan adanya
perbedaan respons imunitas (CD4). Hal tersebut menunjukkan terdapat faktor lain yang
berpengaruh, dan faktor yang diduga sangat berpengaruh adalah stres.
Perawat merupakan faktor yang berperan penting dalam pengelolaan stres, khususnya
dalam memfasilitasi dan mengarahkan koping pasien yang konstruktif agar pasien dapat
beradaptasi dengan sakitnya. Selain itu, perawat juga berperan dalam pemberian dukungan sosial
berupa dukungan emosional,informasi, dan material.
1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mengetahui Rencana Tindakan Keperawatan pada Klien HIV/AIDS.
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mengetahui Asuhan Keperawatan Respons Biologis (Aspek Fisik) pada pasien
HIV/AIDS.
b. Mahasiswa mengetahui Asuhan Keperawatan Respons Adaptif Psikologis.
c. Mahasiswa mengetahui Asuhan Keperawatan Respons Sosial.
d. Mahasiswa mengetahui Keperawatan Respons Spiritual

1.3 Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan metode deskriptif yaitu dengan
penjabaran masalah-masalah yang ada dan menggunakan studi kepustakaan dari literatur yang
ada, baik di perpustakaan maupun di internet.

1.4 Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari tiga bab yang disusun dengan sistematika penulisan sebagai berikut :
1. BAB I : Pendahuluan, terdiri dari : latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika
penulisan.
2. BAB II : Tinjauan teoritis terdiri dari : Pengkajian dan Masalah Keperawatan, Diagnosis Keperawatan
pada Pasien HIV/AIDS, Respon Spesifik pada Penderita HIV/AIDS, Intervensi Keperawatan
Pasien Terinfeksi HIV (PHIV), Asuhan Keperawatan Respons Biologis (Aspek Fisik), Asuhan
Keperawatan Respons Adaptif Psikologis (Strategi Koping), Asuhan Keperawatan Respons
Sosial (Keluarga dan Peer Group), Asuhan Keperawatan Respons Spiritual.
3. BAB III : Penutup: terdiri dari kesimpulan dan saran




BAB II
TINJAUAN TEORITIS


2.1 Pengkajian dan Masalah Keperawatan
Perjalanan klinis pasien dari tahap terinfeksi HIV sampai tahap AIDS sejalan dengan
penurunan derajat imunitas pasien, terutama imunitas seluler. Penurunan imunitas biasanya
diikuti oleh adanya peningkatan resiko dan derajat keparahan infeksi oportunistik serta penyakit
keganasan.

Masalah
Fisik
Masalah
Psikis
Masalah
Sosial
Masalah
Ketergantungan
1. Sistem pernafasan:
Dispnea, TBC, dan
pneumonia
2. Sistem pencernaan:
Nausea-Vomiting,
Diare, Dysphagia,
dan BB turun
10persen/3 bulan.
3. Sistem
persyarafan:
letargi, nyeri sendi,
dan encepalopathy.
4. Sistem integumen:
Edema yang
disebabkan
Kaposis Sarcoma,
lesi dikulit atau
1. Integritas ego:
perasaan tidak
berdaya/putus asa
2. Faktor stress:
baru/lama
3. Respon psikologis:
menyangkal,
marah, cemas dan
mudah tersinggung

1. Perasaan minder
dan tidak berguna
di masyarakat
2. Interaksi sosial:
peraaan terisolasi
atau ditolak
Perasaan
membutuhkan
pertolongan orang
lain
mukosa, dan alergi.
5. Lain-lain: Demam
dan risiko
menularkan.

Tabel 2.1 Pengelompokan Masalah Keperawatan Pasien HIV/AIDS (menurut
Teori Adaptasi)
Terjadinya penurunan imunitas dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang perlu
diperhatikan oleh tenaga kesehatan adalah stressor psikososial. Reaksi yang pertama kali yang
ditunjukkan setelah seseorang didiagnosis mengidap HIV adalah penolakan dan terkejut/syok
atau tidak percaya. Pasien beranggapan bahwa sudah tidak ada harapan lagi dan HIV merupakan
penderitaan sepanjang hidup mereka.

2.2 Diagnosis Keperawatan pada Pasien HIV/AIDS
Pada pasien dengan HIV/AIDS, bisa ditemukan beberapa diagnosis keperawatan dan masalah
kolaboratif, antara lain:
1. Resiko komplikasi/infeksi sekuder.
2. Wasting sindrom, sarcoma kaposi, dan limfoma.
3. Meningitis, infeksi oportunistik (misalnya Kandidiasis, Sitomegalovirus, Herpes, Pneumocystis
carinii pneumonia)
Menurut NANDA (North American Nursing Diagnosis) Internasional Taksonomi II, Diagnosis
keperawatan yang kemungkinan ditemukan pada pasien dengan HIV/AIDS antara lain:
1. Intoleransi aktivitas. Hal ini berhubungan dengan kelemahan, kelelahan, efek samping
pengobatan, demam, malnutrisi, dan gangguan pertukaran gas (sekunder terhadap infeksi paru
atau keganasan).
2. Bersihan jalan nafas tidak efektif. Hal ini berhubungan dengan penurunan energy, kelelahan,
infeksi respirasi, sekresi trakeobronkial, keganasan paru, dan pneumothoraks.
3. Kecemasan adalah hal berhubungan dengan prognosis yang tidak jelas, persepsi tentang efek
penyakit, dan pengobatan terhadap gaya hidup.
4. Gangguan gambaran diri. Hal ini berhubungan dengan penyakit kronis, alopesia, penurunan
berat badan, dan gangguan sexsual.
5. Ketegangan peran pemberi perawatan (actual atau resiko) berhubungan dengan keparahan
penyakit penerima perawatan, tahap penyakit yang tidak dapat diprediksi atau ketidak stabilan
dalam perawatan kesehatan penerima perawatan, durasi perawatan yang diperlukan, lingkungan
fisik yang tidak adekuat untuk menyediakan perawatan, kurangnya waktu santai dan rekreasi
bagi pemberi perawatan, serta kompleksitas dan jumlah tugas perawatan.
6. Konfusi (akut atau kronis). Berhubungan dengan infeksi susunan saraf pusat (misalnya
toksoplasmosis), infeksi sitomegalovirus, limfoma,dan perkembangan HIV.
7. Koping keluarga berkaitan dengan ketidak mampuan untuk berhubungan dengan informasi atau
pemahaman yang tidak adekuat atau tidak tepat tentang, penyakit kronis, dan perasaan yang
tidak terselesaikan secara kronis.
8. Koping tidak efektif berhubungan dengan kerentanan individu dalam situasi krisis (misalnya
penyakit terminal).
9. Diare, berhubungan dengan pengobatan, diet, dan infeksi.
10. Kurangnya aktivitas pengalihan, berhubungan dengan sering atau lamanya pengobatan medis,
perawatan dirumah sakit dalam waktu yang lama, bedrest yang lama.
11. Kelelahan, berhubungan dengan proses penyakit serta kebutuhan psikologis dan emosional yang
sangat banyak.
12. Takut, berhubungan dengan ketidak berdayaan, ancaman yang nyata terhadap kesejahteraan diri
sendiri, kemungkinan terkucil, dan kemungkinan kematian.
13. Volume cairan kurang, berhubungan dengan asupan cairan yang tidak adekuat sekunder
terhadap lesi oral dan diare.
14. Berduka disfungfional/diantisipasi, berhubungan dengan: kematian atau perubahan gaya hidup
yang segera terjadi, kehilangan fungsi tubuh, perubahan penampilan dan ditinggal mati oleh
orang yang berarti (orang terdekat).
15. Perubahan pemeliharan rumah, berhubungan dengan system pendukung yang tidak adekuat,
kurang pengetahuan, dan kurang akrab dengan sumber-sumber komunitas.
16. Keputusasaan, berhubungan dengan perubahan kondisi fisik dan prognosis yang buruk.
17. Resiko infeksi berhubungan dengan imunodefisiensi seluler.
18. Resiko injury (jatuh), berhubungan dengan kelelahan, kelemahan, perubahan kognitif,
ensefalopati, dan perubahan neuromuscular.
19. Pengelolaan pengobatan yang tidak efektif, berhubungan dengan kompleksitas dengan bahan-
bahan pengobatan, kurang pengetahuannya tentang penyakit, obat, dan sumber komunitas,
depresi, sakit, malaise.
20. Ketidakseimbangan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh), berhubungan dengan kesulitan
menguyah, kehilangan nafsu makan, lesi oral dan esophagus, malabsorbsi gastrointestinal, dan
infeksi oportunistik (kandidiasis dan herpes).
21. Nyeri akut, berhubungan dengan: pekembanngan penyakit, efek samping pengobatan, odem
limfe, sakit kepala sekunder terhadap infeksi SPP (Sistem Saraf Pusat), neuropati perifer, dan
mialgia parah.
22. Ketidakberdayaan, berhubungan dengan penyakit terminal, bahan pengobatan, dan perjalanan
penyakit yang tidak bisa diprediksi.
23. Kurang perawatan diri yang terdiri atas berhias, toileting, instrumental, makan/ minum, dan
mandi, berhubungan dengan penurunan kekuatan dan ketahanan, intoleransi aktivitas, dan
kebingungan akut/ kronis.
24. Harga diri rendah (kronis dan situasional), berhubungan dengan penyakit kronis dan krisis
situasional.
25. Perubahan persepsi sensori (pendengaran/penglihatan), berhubungan dengan kehilangan
pendengaran sekunder efek pengobatan, kehilangan penglihatan akibat infeksi CMV.
26. Pola seksual tidak efektif, berhubungan dengan tindakan seks yang lebih aman, takut terhadap
penyebaran infeksi HIV, tidak berhubungan seks, impoten sekunder akibat efek obat.
27. Kerusakan integritas kulit, berhubungan dengan kehilangan otot dan jarinagn sekunder akibat
perubahan status nutrisi, ekskoriasi premium eskunder akibat diare dan lesi (kandidiasis dan
herpes), dan kerusakan mobilitas fisik.
28. Perunahan pola tidur, berhubungan dengan nyeri, berkeringat di malam hari, obat-obatan, efek
samping obat, kecemasan, depresi dan putus obat (heroin dan kokain).
29. Isolasi social, berhubungan dengan stigma, ketakutan orang lain terhadap penyebaran infeksi,
ketakutan diri sendiri terhadap penyebaran HIV, moral, budaya, agama, penampilan fisik, serta
gangguan harga diri dan gambaran diri.
30. Distress spiritual, berhubungan dengan tantangan system keyakinan dan nilai dan tes keyakinan
spiritual.
31. Adanya resiko kekerasan yang diarahkan pada diri sendiri, seperti adanya ide bunuh diri akibat
rasa keputusasaan

2.3 Respon Spesifik pada Penderita HIV/AIDS
Selain berdasarkan diagnosis keperawatan, terhadap tanda-tanda lain pada penderita
HIV/AIDS. Mereka umumnya memiliki respons yang spesifik yakni:
2.3.1 Respons Biologis (Imunitas)
Secara imunologis, sel T yang terdiri atas limposit T-helper, disebut limfosit CD4
+
akan
mengalami perubahan baik secara kuantitas maupun kualitas. HIV menyerang CD4
+
baik secara
langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, sampul HIV yang mempunyai efek toksik
akan menghambat fungsi sel T (toxic HIV). Secara tidak langsung, lapisan luar protein HIV yang
disebut sampul gp 120 dan anti p24 berinteraksi dengan CD4
+
yang kemudian menghambat
aktivasi sel yang mempresentasikan anti gen (APC). Setelah HIV melekat melalui reseptor CD4
+

dan ko-reseptor nya, bagian sampul tersebut melakukan fusi dengan membrane sel dan bagian
intinya masuk kedalam sel membrane. Pada bagian inti terdapat enzim reverse transcriptase yang
terdiri atas DNA polymerase dan ribonuklease. Pada inti yang mengandung RNA, enzim DNA
polymerase menyusun kopi DNA dari RNA tersebut. Enzim ribonuklease memusnahkan RNA
asli. Enzim polymerase kemudian membentuk kopi DNA kedua dari DNA pertama yang
tersusun sebagai cetakan (Stewart, 1997; Baratawidjaja, 2000).
Kode genetic DNA berupa untai ganda serta terbentuk, maka akan masuk keinti sel.
Kemudian oleh enzim integrase, DNA kopi dari virus di sispkan dalam DNA pasien. HIV
provirus yang berada pada limfosit CD4
+
, kemudian bereplikasi yang menyebabkan sel limfosit
CD4 yang mengalami sitolisis ( Stewart,1997).
Virus HIV yang telah berhasil masuk dalam tubuh pasien, juga menginfeksi berbagai
macam sel, terutama monosit, magrofag, sel-sel microglia diotak, sel-sel hobfour plasenta, sel-sel
dendrite pada kelenjar limfe, sel-sel epitel pada usus, dan sel Langerhans dikulit. Efek infeksi
pada sel epitel usus adalah diare yang kronis(stewart, 1997).
Gejala-gejala klinis yang ditimbulkan akibat infeksi tersebut biasanya baru disadari
pasien setelah beberapa waktu lamanya tidak mengalami kesembuhan. Pasien yang terinfeksi
virus HIV dapat tidak memperlihatkan tanda dan gejala selama bertahun-tahun. Sepanjang
perjalanan penyakit tersebut sel CD4
+
mengalami penurunan jumlahnya dari 1000/l sebelum
terinfeksi menjadi sekitar 200-300/l setelah terinfeksi 2-10 tahun (stewart 1997).
2.3.2 Respon adaptif psikososial-spiritual
Pengalaman mengalami suatu penyakit akan membangkitkan berbagai perasaan dan
reaksi steress, frustasi, kecemasan, kemarahan, penyangkalan, rasa malu, berduka, dan
ketidakpastian dengan adaptasi terhadap penyakit.


Reaksi Proses Psikologis Hal-hal yang Biasa
Dijumpai
1. Shock (kaget,
goncangan batin)
Merasa bersalah, marah, dan
tidak berdaya
Rasa takut, hilang akal,
frustasi rasa sedih, susah,
acting out
2. Mengucilkan diri Merasa cacat, tidak berguna,
dan menutup diri
Khawatir menginfeksi
orng lain, murung
3. Membuka status secara
terbatas
Ingin tau reaksi orang lain,
pengalihan stres, ingin dicintai
Penolakan, strees, dan
konfronntasi
4. Mencari orang lain
yang HIV positf
Berbagi rasa, pengenalan,
kepercayaan, penguatan dan
dukungan sosial
Ketergantungan, canpur
tangan, tidak percaya
pada pemegang rahasia
dirinya
5. Status khusus Perubahan keterasingan
menjadi manfaat khusus,
perbedaan menjadi hal yang
istimewa, dibutuhkan oleh
yang lainnya
Ketergantungan, dikotomi
kita dan mereka (semua
orang dilihat sebagai
terinfeksi HIV dan
direspons seperti itu),
over identification.
6. Perilaku
mementingkan orang
lain
Komitmen dan kesatuan
kelompok, kepuasan memberi
dan membagi, perasaan
Pemadaman, reaksi, dan
konpensasi yang
berlebihan
sebagai kelompok
7. Penerimaan Integrasi status positif HIV
dengan identitas diri,
keseimbangan antara
kepentinggan orang lain
dengan diri sendiri, bisa
menyebutkan kondisi
seseorang
Apatis dan sulit berubah

Tabel 2.2 Reaksi Psikologis Pasien HIV

2.3.3 Respons Psikologis (penerimaan diri) terhadap Penyakit
Kubler ross (1974) menguraikan lima tahap reaksi emosi seseorang terhadap penyakit yaitu :
a. Pengingkaran (denial)
Pada tahap pertama, pasien menunjukkan karakteristik perilaku pengingkaran, mereka gagal
dapat memahami dan mengalami makna rasional dan dampak emosional dara diagnosis.
Pengingkaran dapat di sebabkan karena tidak di ketahuan pasien pada sakitnya atau sudah
mengetahui dan mengancam dirinya. Pengingkaran dapat di nilai dari ucapan pasien saya di
sini istirahatpengingkaran dapat dapat yang berlalu sesuai dengan kemungkinan
memproyeksikan pada aapa yang di terima bahwa alat yang tidak berfungi dengan baik
kesalahan laboratorium, atau lebih mungkin perkiraan dokter dan perawat yang tidak kopenten.
Penginkatan diri yang mencolok tanmpak menimbulkan kecemasan. Peningkatan ini merupakan
buffer untuk menerima kenyataan. Pengingkaran sementara dan segera berubah menjadi fase lain
dalam menghadapi kenyatan ( Achir, Yani 1999).
b. Kemarahan (anger)
Apabila pengingkaran tidak daapat di pertahan kan lagi maka fase pertama menjadi kemarahan.
Perilaku pasien secra kareteristik yang di hubungkan dengan marah dan rasa bersalah pasen
akan mengalihkan kemarahan pada segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Biasannya kemarahan
di arahkan kepada dirinya sendiri timbul penyesalan. Yang menjadi sasaran utama atas
kemarahan perawat. Semua tindakan perawat menjadi serba salah. Pasien menjadi banya
penuntut, cerewet cemberut tida bersahabat, kasar, menentang, tidak mau kerjasama, mudah
tersinggung meminta banyak perhatian jika keluarga mengunjungin mereka sikap menolak
sehingga mengakibatkan keluarga segan untuk datang, hal ini menyebabkan keagresipan ( hudak
dan gallo, 1996).
c. Sikap tawar menawar (bargaining)
Setelah fase memarah-marah berlalu, pasien akan berpikir dan merasakan bahwa protesnya tidak
berarti. .pasien mulai timbul rasa bersalah dan mulai membina hubungan ,pasien berdoa,
meminta dan berjanji pada tuhan, tindakan ini merupakan ciri yang jelas, yaitu pasien
menyanggupi aakan menjadi lebih baik bila jika dia dapat sembuh (Aher Yani 1990).
d. Depresi
Selama fase ini pasien sedih/berkabung mengesampingkan dan sikap pertahananya, serta mulai
mengatasi kehilangan secara kontrukstif pasien mencoba perilaku baru yang konsisten dengan
keterbatasan waktu. Tingkat emosional adalah kesedihan, tidak berdaya, tidak ada harapan,
bersalah, penyesalan yang dalam, kesepian, dan waktu untuk menangis berguna pada saat ini.
Prilaku fase ini termasuk didalamnya adalah ketakutan akan masa depan, bertanya peran baru
dalam keluarga intensitas depresi tergantung pada makna dan beratnya penyakit (Netty, 1999).

e. Penerimaan dan partisipasi
Seiring dengan berlalunya waktu pasien mulai beradaptasi, kepedihan yang menyakitkan
berkurang, dan bergerak menuju identifikasi sebagai seseorang yang memiliki keterbatasan
karena penyakitnya sebagai seorang yang cacat. Pasien mampu bergantung pada orang lain jika
perlu dan tidak membutuhkan dorongan melebihi daya tahannya atau terlalu memaksakan
keterbatasan atau ketidakadekuatan (Hudak dan Gallo, 1996)
2.3.4 Respon Adaptif Spiritual
Respons adaptif spiritual dikembangkan dari konsep Ronaldson (2000) dan
Kauman dan Nipan (2003). Respon adaptif spiritual, meliputi :
1) Harapan yang realistis
2) Tabah dan sabar
3) Pandai mengambil hikmah
2.3.4 Respons adaptif sosial
Aspek psikososial menurut Stewart (1997) dibedakan menjadi 3 hal, yaitu:
1. Stigma social dapat memperparah depresi dan pandangan yang negatif tentang harga diri pasien.
2. Diskriminasi terhadap oaring yang terinfeksi HIV, misalnya penolakan bekerja dan hidup
serumah juga akan berpengaruh terhhadap kondisi kesehatan. Bagi pasien homoseksuaal,
penggunaan obat-obat narkotika akan berakibat terhadap kurangnya dukungan social, hal ini
akan memperparah strees pasien.
3. Terjadinya waktu yang lama terhadap respons psikologis mulai penolakan, marah-marah, tawar
menawar, dan depresi berakibat terhadap keterlambatan upaya pencegahan dan pengobatan.
Pasien akhirnya mengonsumsi obat-obat terlarang untuk menghilangkan strees yang dialami.

2.4 Intervensi Keperawatan Pasien Terinfeksi HIV (PHIV)
Tujuan asuhan keperawatan pasien terinfeksi HIV (PHIV) adalah untuk mengubah
perilaku ketika berada dalam masa perawatan dan dalam rangka meningkatkan respon imunitas
PHIV melalui pemenuhan kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual dilakukan oleh
perawat agar dapat menurunkan stresor.
Perawat memiliki peran penting dalam asuhan keperawatan pasien HIV/AIDS. Ada dua
hal yang penting yang harus dilakukan perawat yakni:
A. Menfasilitasi strategi koping:
1. Memfasilitasi sumber penggunaan potensi diri agar terjadi respon penerimaan sesuai tahapan
dari Kubler-Ross.
2. Teknik kognitif, dapat berupa upaya untuk membantu penyelesaian masalah, memberikan
harapan yang realitis, dan mengingatkan pasien agar pandai menganbil hikmah.
3. Teknik perilaku, dilakukan dengan cara mengajarkan perilaku yang mendukung kesembuhan,
seperti: kontrol dan minum obat teratur, konsumsi nutrisi seimbang, istirahat dan aktivitas
teratur, dan menghindari konsumsi atau tindakan yang dapat menambah parah sakitnya.
B. Dukungan sosial:
1. Dukungan emosional, agar pasien merasa nyaman, dihargai, dicintai, dan diperhatikan.
2. Dukungan informasi, untuk meningkatkan pengetahuan dan penerimaan pasien terhadap
sakitnya.
3. Dukungan material, untuk bantuan/kemudahan akses dalam pelayanan kesehatan pasien.

2.5 Asuhan Keperawatan Respons Biologis (Aspek Fisik)
Aspek fisik pada PHIV adalah pemenuhan kebutuhan fisik sebagai akibat dari tanda dan
gejala yang terjadi. Aspek perawatan fisik meliputi:
(a) Universal precautions
(b) Pengobatan infeksi sekunder dan pemberian ARV (Antiretroviral)
(c) Pemberian nutrisi
(d) Aktivitas dan istirahat.
2.5.1 Universal Precautions
Selama sakit, penerapan universal precautions oleh perawat, keluarga, dan pasien sendiri
sangat penting. Hal ini ditujukan untuk mencegah terjadinya penularan virus HIV. Prinsip-
prinsip universal precautions meliputi:
1. Menghindari kontak langsung dengan cairan tubuh. Bila menangani cairan tubuh pasien
menggunakan alat pelindung, seperti sarung tangan, masker, kacamata pelindung, penutup
kepala, apron, dan sepatu boot. Penggunaan alat pelindung disesuaikan dengan jenis tindakan
yang dilakukan.
2. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan, termasuk setelah melepas sarung
tangan.
3. Dekontaminasi cairan tubuh pasien.
4. Memakai alat kedokteran sekali pakai atau mensterilisasi semua alat kedokteran yang dipakai
(tercemar). Tidak memakai jarum suntik lebih dari satu kali, dan tidak memasukkannya kembali
ke dalam penutup jarum atau dibengkokkan.
5. Memelihara kebersihan tempat pelayanan kesehatan.
6. Membuang limbah yang tercemar berbagai cairan tubuh secara benar dan aman (Depkes RI,
1997).
2.5.2 Peran perawat dalam Pemberian ARV
Penggunaan obat ARV kombinasi:
1. Manfaat penggunaan obat dalam bentuk kombinasi adalah:
a. Memperoleh khasiat yang lebih lama untuk memperkecil kemungkinan terjadinya resistensi.
b. Meningkatkan efektivitas dan lebih menekan aktivitas virus. Bila timbul efek samping, bisa
diganti dengan obat lainnya, dan bila virus mulai resisten terhadap obat yang sedang digunakan
bisa memakai kombinasi lain.
2. Efektivitas obat ARV kombinasi:
a. ARV kombinasi lebih efektif karena mempunyai khasiat ARV yang lebih tinggi dan menurunkan
viral load lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan satu jenis obat saja.
b. Kemungkinan terjadinya resistensi virus kecil, akan tetapi bila pasien lupa minum obat dapat
menimbulkan terjadinya resistensi.
c. Kombinasi menyebabkan dosis masing-masing obat lebih kecil, sehingga kemungkinan efek
samping lebih kecil.
3. Saat memulai menggunakan ARV
Menurut WHO (2002), penggunaan ARV bisa dimulai pada orang dewasa berdasarkan kriteria
sebagai berikut :
1) Bila pemeriksaan CD4 bisa dilakukan pada:
a. Pasien stadium IV (menurut WHO), tanpa memperhatikan hasil tes CD4.
b. Pasien stadium I, II, III (menurut WHO) dengan hasil perhitungan limfosit total <200/l
(Yayasan Kerti Praja, 1992).
2) Bila pemeriksaan CD4 tidak dapat dilakukan:
a. Pasien stadium IV (menurut WHO), tanpa memperhatikan hasil hitung limfosit total.
b. Pasien stadium I, II, III (menurut WHO) dengan hasil perhitungan limfosit total <1000-1200/l.
3) Limfosit total <1000-1200l dapat diganti dengan CD4 dan dijumpai tanda-tanda HIV. Hal ini
kurang penting pada pasien tanpa gejala (stadium I menurut WHO) dan hendaknya jangan
dilakukan pengobatan terlebih dahulu karena belum ada petunjuk tentang beratnya penyakit.
4) Pengobatan juga dianjurkan untuk pasien stadium III lanjut, termasuk kambuh, luka pada mulut
yang sukar sembuh, dan infeksi pada mulut yang berulang dengan tidak memperhatikan hasil
pemeriksaan CD4 dan limfosit total (Depkes, 2003).
4. Cara memilih obat
a. Pertimbangan dalam memilih obat adalah hasil pemeriksaan CD4, viral load, dan
kemampuan pasien mengingat penggunaan obatnya. Pertimbangan yang baik adalah memilih
obat berdasarkan jadwal kerja dan pola hidup.
b. Kebanyakan orang lebih mudah mengingat obat yang diminum sewaktu makan.
5. Efek samping obat
a. Efek samping jangka pendek adalah mual, muntah, diare, sakit kepala, lesu dan susah tidur. Efek
samping ini berbeda-beda pada setiap orang, jarang pasien mengalami semua efek samping
tersebut. Efek samping jangka pendek terjadi segera setelah minum obat dan berkurang setelah
beberapa minggu. Selama beberapa minggu penggunaan ARV, diperbolehkan minum obat lain
untuk mengurangi efek samping.
b. Efek samping jangka panjang ARV belum banyak diketahui.
c. Efek samping pada wanita lebih berat daripada laki-laki, salah satu cara mengatasinya adalah
dengan menggunakan dosis yang lebih kecil. Beberapa wanita melaporkan menstruasinya lebih
berat dan sakit, atau lebih panjang dari biasanya, namun ada juga wanita yang berhenti sama
sekali menstruasinya. Mekanisme ini belum diketahui secara jelas.
6. Kepatuhan minum obat
1) Kepatuhan terhadap aturan pemakaian obat membantu mencegah terjadinya resistensi dan dapat
menekan virus secara terus-menerus.
2) Kiat penting untuk mengingat minum obat:
a. Minumlah obat pada waktu yang sama setiap hari.
b. Harus selalu tersedia obat di tempat manapun biasanya pasien berada, misalnya di kantor, di
rumah, dan lain-lain
c. Bawa obat kemanapun pergi (di kantong, di tas, dan lain-lain asal tidak memerlukan lemari es).
d. Pergunakan peralatan (jam, Hp yang berisi alarm yang bisa diatur agar berbunyi setiap waktunya
minum obat) (Yayasan Kerti Praja, 1992)
2.5.3 Pemberian nutrisi
Pasien dengan HIV/AIDS (ODHA) sangat membutuhkan vitamin dan mineral dalam
jumlah yang lebih banyak dari yang biasanya diperoleh dalam makanan sehari-hari. Sebagian
besar ODHA akan mengalami defisiensi vitamin sehingga memerlukan makanan tambahan (New
Mexico AIDS Infonet, 2004 dan Falma Foundation 2004).
Dalam beberapa hal, HIV sendiri akan mengalami perkembangan lebih cepat pada
ODHA yang mengalami defisiensi vitamin dan mineral. Kondisi tersebut sangat berbahaya bagi
ODHa yang mengalami defisiensi vitamin dan mineral. Vitamin dan mineral juga berfungsi
untuk meningkatkan kemampuan tubuh dalam melawan berkembangnya HIV dalam tubuh
(Yayasan Kerti Praja, 2002 dan William 2004).
HIV menyebabkan hilangnya nafsu makan dan gangguan penyerapan nutrien. Hal ini
berhubungan dengan menurunnya atau habisnya cadangan vitamin dan mineral dalam tubuh.
Defisiensi vitamin dan mineral pada ODHA dimulai sejak masih stadium dini. Walaupun jumlah
makanan ODHA sudah cukup dan berimbang seperti orang sehat, tetapi akan tetap terjadi
defisiensi vitamin dan mineral.
Berdasarkan beberapa hal tersebut, selain mengkonsumsi dalam jumlah yang tinggi, para
ODHA juga harus mengkonsumsi suplemen atau nutrisi tambahan. Pemberian nutrisi tambahan
bertujuan agar beban ODHA tidak bertambah akibat defisiensi vitamin dan mineral.
2.5.4 Aktivitas dan Istirahat
a) Manfaat olahraga terhadap imunitas tubuh
Hampir semua organ merespons stres olahraga. Pada keadaan akut, olahraga akan berefek buruk
pada kesehatan, sebaliknya, olahraga yang dilakukan secara teratur menimbulkan adaptasi organ
tubuh yang berefek menyehatkan. Olahraga yang dilakukan secara teratur menghasilkan
perubahan pada jaringan, sel, dan protein pada sistem imun.
b) Pengaruh latihan fisik terhadap tubuh
(1) Perubahan sistem sirkulasi
Olahraga meningkatkan cardiac output dari 5 1/menit menjadi 20 1/menit pada orang dewasa
sehat. Hal ini menyebabkan peningkatan darah ke otot skelet dan jantung. Latihan yang teratur
meningkatkan adaptasi pada sistem sirkulasi, meningkatkan volume dan masa ventrikel kiri. Hal
ini berdampak pada peningkatan isi sekuncup dan cardiac output sehingga tercapai kapasitas
kerja yang maksimal.
(2) Sistem Pulmoner
Olahraga meningkatkan frekuensi nafas, meningkatkan pertukaran gas serta pengangkutan
oksigen, dan penggunaan oksigen oleh otot
(3) Metabolisme
Untuk melakukan olahraga, otot memerlukan energi. Pada olahraga intensitas rendah
sampai sedang, terjadi pemecahan trigliserida dan jaringan adiposa menjadi glikogen dan FFA
(Free Fatty Acid). Pada olahraga intensitas tinggi kebutuhan energi meningkat, otot makin
tergantung glikogen sehingga metabolisme berubah dari metabolisme aerob menjai anaerob.
Metabolisme anaerob menghasilkan dua ATP dan asam laktat yang menurunkan kerja otot.
Pada saat olahraga tubuh juga meningkatkan ambilan glukosa darah, untuk mencegah
hipoglikemia, tubuh meningkatkan glikogenolisis dan glukoneogenesis hati untuk
mempertahankangula darah normal.
Olahraga berlebihan menyebabkan hipernatremia karena banyak cairan isotonis yang
keluar bersama keringat, serta hiperkalemia karena kalium banyak dilepas dari otot. Selain itu
bisa juga terjadi dehidrasi dan hiperosmoslaritas.

2.6 Asuhan Keperawatan Respons Adaptif Psikologis (Strategi Koping)
Mekanisme koping adalah mekanisme yang digunakan individu untuk menghadapi
perubahan yang diterima. Apabila mekanisme koping berhasil, maka orang tersebut akan dapat
beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi. Mekanisme koping dapat di pelajari , sejak awal
timbulnya stresor sehingga induvidu tersebut menyadari dampak dari sresor tersebut Carlson,
1994). Kemampuan koping individu tergantung dari temperamen, persepsi, kognisi serta latar
belakang budaya/norma tempatnya dibesarkan ( Carlson, 1994).
Mekanisme koping terbentuk melalui proses belajar dan mengingat. Belajar yang
dimaksud adalah kemampuan menyesuaikan diri (adaptasi) pada pengaruh faktor internal dan
eksternal (Nursalam , 2003). Mekanisme belajar merupakan suatu proses didalam sistem
adaptasi (cognator) yang meliputi mempersepsikan suatu informasi, baik dalam bentuk implisit
maupun eksplisit. Belajar implisit umumnya bersifat reflektf dan tidak memerlukan keasadaran
(focal). Keadaan ini ditemukan pada perilaku kebiasaan, sensitisasi, dan keadaan. Pada habituasi
timbul suatu penurunan dari tranmisi sinaps pada neuron sensoris sebagai akibat dari penurunan
jumlah neurotransmitter yang berkurang yang dilepas oleh terminal. Pada habituasi menuju ke
depresi homosinapsis untuk suatu aktivitas dari luar yang terangsang terus-menerus . Sensitivitas
sifatnya lebih komplek dari habituasi, mempunyai potensial jangka panjang (beberapa menit
sampai beberapa minggu).
Koping yang efektif menempati tempat yang central terhadap ketahanan tubuh dan daya
penolakan tubuh terhadap gangguan maupun serangan suatu penyakit baik bersifat fisik maupun
psikis, sosial, spritural. Perhatian terhadap koping tidak hanya terbatas pada sakit ringan tetaapi
justru penekanannya pada kondisi sakit yang berat.
Lipowaski membagi koping dalam 2 bentuk yaitu coping style dan coping strategy. Coping
style merupakan mekanisme adaptasi individu meliputi mekanisme psikologis dan mekanisme
kognitif dan persepsi. Sifat dasar coping style adalah mengurangi makna suatu konsep yang
dianutnya, misalnya penolakan atau pengingkaran yang bervariasi yang tidak realistis atau berat
(psikosis) hingga pada tingkatan yang sangat ringan saja terhadap suatu keadaan.
Coping strategy merupakan koping yang digunakan individu secara sadar dan terarah
dalam mengatasi sakit atau stresor yang dihadapinya. Terbentuknya mekanisme koping bisa
diperoleh melalui proses belajar dalam pengertian yang luas dan relaksasi. Apabila individu
mempunyai mekanisme koping yang efektif dalam menghadapi stressor, maka stresor tidak akan
menimbulkan stres yang berakibat kesakitan (disease), tetapi stressor justru menjadi stimulan
yang mendatangkan wellness dan prestasi.
A. Strategi koping (Cara Penyelesaian Masalah)
Beradaptasi terhadap penyakit memerlukan berbagai strategi tergantung keterampilan koping
yang bisa digunakan dalam menghadapi situasi sulit. Menurut Mooss (1984) yang dikutip
Brunner dan Suddarth (2002) menguraikan tujuh koping yang negatif kategori keterampilan,
yakni :
1. Penyangkalan (avoidance). Penyangkalan meliputi penolakan untuk menerima atau menghargai
keseriusan penyakit. Pasien biasanya menyamarkan gejala yang merupakan bukti suatu penyakit
atau mengacuhkan beratnya diagnosis penyakit dan penyangkalan ini merupakan mekanisme
pertahanan ego yang melindungi terhadap kecemasan.
2. Menyalahkan diri sendiri (self-blame). Koping ini muncul sebagai reaksi terhadap suatu
keputusasaan. Pasien merasa bersalah dan semua yang terjadi akibat dari perbuatannya.
3. Pasrah (Wishfull thinking). Pasien merasa pasrah terhadap masalah yang menimpanya, tanpa
adanya usaha dan motivasi untuk menghadapi.
B. Koping yang positif (tenik koping)
Ada 3 teknik koping yang ditawarkan dalam mengatasi strees:
a) Pemberdayaan sumber daya psikologis (potensi diri)
Sumber daya psikologis merupakan kepribadian dan kemampuan individu dalam
memanfaatkannya menghadapi stres yang disebabkan situasi dan lingkungan. Karakteristik
dibawah ini bawah ini merupakan sumber daya psikologis yang penting.
1. Pikiran yang positif tentang dirinya (harga diri)
Jenis ini bermanfaat dalam mengatasi situasi strees, sebagaimana teori dari Cooleys looking-
glass self: rasa percaya diri, dan kemampuan untuk mengatasi masalah yang dihadapi.
2. Mengontrol diri sendiri
Kemampuan dan keyakinan untuk mengontrol tentang diri sendiri dan situasi (internal control)
dan external control (bahwa kehidupannya dikendalikan oleh keberuntungan dan nasib dari luar)
sehimngga pasien akan mampu mengambil hikmah dari sakitnya. Kemampuan mengontrol diri
akan dapat memperkuat koping pasien, perawat harus menguatkan kontrol diri pasien dengan
melakukan tindakan untuk:
(1) Membantu pasien mengidentifikasi masalah dan seberapa jauh dia dapat mengontrol diri.
(2) Meningkatkan perilaku menyelesaikan masalah
(3) Membantu meningkatkan rasa percaya diri, bahwa pasien akan mendapatkan hasil yang lebih
baik.
(4) Memberi kesempatan kepada pasien untuk mengambil keputusan terhadap dirinya.
(5) Mengidentifikasi sumber-sumber pribadi dan lingkungan yang dapat meningkatkan control diri:
keyakinan, agama.
b) Rasionalisasi (teknik kognitif)
Upaya memahami dan menginterpretasikan secara spesifik terhadap stres dalam mencari arti dan
makna strees. Dalam menghadapi situasi stres, respons individu secara rasional adalah dia akan
menghadapi secara terus terang, mengabaikan atau memberitahukan kepada diri sendiri bahwa
masalah tersebut bukan sesuatu yang penting untuk dipikirkan dan semuanya akan berakhir
dengan sendirinya. Sebagian orang berfikir bahwa setiap suatu kejadian akan menjadi suatu
tantangan dalam hidupnya. Sebagian lagi menggantungkan semua permasalahan dengan
melakukan kegiatan spiritual, lebih mendekatkan dirinya kepada sang pencipta untuk mencari
hikmah dan makna dari semua yang terjadi.
c) Teknik perilaku
Teknik perilaku dapat dipergunakan untuk membantu individu dalam mengatasi situasi strees.
Beberapa individu melakukan kegiatan yang bermanfaat dalam menunjang kesembuhannya.
Misalnya, pasien HIV akan melakukan aktivitas yang dapat membantu peningkatan daya tahan
tubuhnya dengan tidur secara teratur, makan seimbang, minum obat anti retroviral dan obat
untuk infeksi sekunder secara teratur, tidur dan istirahat yang cukup, dan menghindari konsumsi
obat-obat yang memperparah keadaan sakitnya.

2.7 Asuhan Keperawatan Respons Sosial (Keluarga dan Peer Group)
Dukungan sosial sangat diperlukan terutama pada PHIV yang kondisinya sudah sangat
parah. Individu yang termasuk dalam memberikan dukungan sosial meliputi pasangan
(suami/istri), orang tua, anak, sanak keluarga, teman, tim kesehatan, atasan dan konselor.
a. Konsep Dukungan Sosial
Beberapa pendapat mengatakan bahwa dukungan sosial terutama dalam konteks hubungan yang
akrab atau kualitas hubungan perkawinan dan keluarga barangkali merupakan sumber dukungan
sosial yang paling penting.
b. Pengertian Dukungan Sosial
Sebagai satu diantara fungsi pertalian/ikatan sosial segi fungsionalnya mencakup dukungan
emosional, mendorong adanya ungkapan perasaan, memberi nasehat atau informasi, pemberian
bantuan material. Sebagai fakta sosial yang sebenarnya sebagai/kognisi individual atau dukungan
yang dirasakan melawan dukungan yang diterima. Dukungan sosial terdiri atas informasi atau
nasehat verbal dan atau non verbal, bantuan nyata atau tindakan yang diberikan oleh keakraban
sosial atau didapat karena kehadiran mereka dan mempunyai manfaat emosional atau efek
perilaku bagi pihak penerima.
c. Jenis Dukungan Sosial
House dalam Depkes (2002) membedakan empat jenis atau demensi dukungan sosial menjadi:
1) Dukungan emosional
Mencakup ungkapan empati, kepedulian, dan perhatian terhadap orang yang bersangkutan.
2) Dukungan penghargaan
Terjadi lewat ungkapan hormat/penghargaan positif untuk orang lain itu, dorongan maju atau
persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu, dan perbandingan positif orang itu dengan
orang lain, misalnya orang itu kurang mampu atau lebih buruk keadaannya (menambahkan harga
diri).
3) Dukungan instrumental
Mencakup bantuan langsung, misalnya orang memberi pinjaman uang kepada orang yang
membutuhkan atau menolong dengan memberi pekerjaan pada orang yang tidak punya
pekerjaan.
4) Dukungan informatif
Mencakup pemberian nasihat, saran, pengetahuan, dan informasi serta petunjuk.
d. Hubungan dukungan sosial dengan kesehatan
Menurut hipotesis penyangga dukungan sosial mempengaruhi kesehatan dan melindungi
orang itu terhadap efek negatif dari stres berat. Fungsi yang bersifat melindungi ini hanya atau
terutama efektif jika orang itu mengalami stres yang kuat. Dalam stres yang rendah terjadi
sedikit atau tidak ada penyangga bekerja dengan dua orang. Orang-orang dengan dukungan
sosial tinggi mungkin akan kurang menilai situasi penuh stress (mereka akan tahu bahwa
mungkin akan ada seseorang yang dapat membantu mereka). Orang-orang dengan dukungan
sosial tinggi akan mengubah respon mereka terhadap sumber stress misalnya pergi ke seorang
teman untuk membicarakan masalahnya.
Hipotesis efek langsung berpendapat bahwa dukungan sosial itu bermanfaat bagi
kesehatan dan kesejahteraan, tidak peduli banyaknya stres yang dialami orang-orang menurut
hipotesis ini efek dukungan sosial yang positif sebanding di bawah intensitas stres tinggi dan
rendah. Contohnya adanya orang-orang dengan dukungan sosial tinggi dapat memiliki
penghargaan diri yang lebih tinggi yang membuat mereka tidak begitu mudah diserang stres.
e. Dukungan sosial (social support)
Hampir setiap orang tidak mampu menyelesaikan masalah sendiri, tetapi mereka
memerlukan bantuan orang lain. Berdasarkan hasil penelitian bahwa dukungan sosial merupakan
mediator yang penting dalam menyelesaikan masalah seseorang. Hal ini karena induvidu
merupakan bagian dari keluarga, teman sekolah atau kerja, kegiatan agama ataupun bagian dari
kelompok lainnya.

2.8 Asuhan Keperawatan Respons Spiritual
Asuhan keperawatan pada aspek spiritual ditekankan pada penerimaan pasien terhadap
sakit yang dideritanya (Ronaldson, 2000), sehingga PHIV akan dapat menerima dengan ikhlas
terhadap sakit yang dialami dan mampu mengambil hikmah. Asuhan keperawatan yang dapat
diberikan adalah :
a. Menguatkan harapan yang realistis kepada pasien terhadap kesembuhan.
Harapan merupakan salah satu unsur yang penting dalam dukungan sosial. Perawat harus
meyakinkan kepada pasien bahwa sekecil apapun kesembuhan, akan memberikan ketenangan
dan keyakinan pasien untuk berobat.
b. Pandai mengambil hikmah.
Peran perawat dalam hal ini adalah mengingatkan dan mengajarkan kepada pasien untuk selalu
berfikiran positif terhadap semua cobaan yang dialaminya. Dibalik semua cobaan yang dialami
pasien, pasti ada maksud dari sang pencipta. Pasien harus difasilitasi untuk lebih mendekatkan
diri kepada Sang Pencipta dengan jalan melakukan ibadah secara terus menerus. Sehingga pasien
diharapkan memperoleh suatu ketenangan selama sakit.
c. Ketabahan hati.
Karakteristik seseorang didasarkan pada keteguhan dan ketabahan hati dalam menghadapi
cobaan. Individu yang mempunyai kepribadian yang kuat akan tabah dalam menghadapi setiap
cobaan. Induvidu tersebut biasanya mempunyai keteguhan hati dalam menentukan
kehidupannya. Ketabahan hati sangat dianjurkan kepada PHIV. Perawat dapat menguatkan diri
pasien dengan memberikan contoh nyata dan atau mengutip kitab suci atau pendapat orang bijak;
bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan pada umat-Nya. Melebihi kemampuannya (Al
Baqarah, 2:286). Pasien harus di yakinkan bahwa semua cobaan yang diberikan pasti
mengandung hikmah yang sangat penting dalam kehidupannya. Pada respon spiritual pasien
HIV, penggunan strategi koping meningkatkan harapan dan ketabahan pasien serta memacu
pasien untuk pandai mengambil hikmah.





BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Pada pengkajian klien dengan HIV/AIDS, sering ditemukan penurunan imunitas yang
biasanya diikuti oleh adanya peningkatan resiko dan derajat keparahan infeksi oportunistik serta
penyakit keganasan. Terjadinya penurunan imunitas dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor
yang perlu diperhatikan oleh tenaga kesehatan adalah stressor psikososial.
Tujuan asuhan keperawatan pasien terinfeksi HIV (PHIV) adalah untuk mengubah
perilaku ketika berada dalam masa perawatan dan dalam rangka meningkatkan respon imunitas
PHIV melalui pemenuhan kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual dilakukan oleh
perawat agar dapat menurunkan stresor.
Aspek fisik pada PHIV adalah pemenuhan kebutuhan fisik sebagai akibat dari tanda dan
gejala yang terjadi. Aspek perawatan fisik meliputi: Universal precautions, pengobatan infeksi
sekunder dan pemberian ARV (Antiretroviral), pemberian nutrsi dan Aktivitas serta istirahat.
Dukungan sosial sangat diperlukan terutama pada PHIV yang kondisinya sudah sangat parah.
Individu yang termasuk dalam memberikan dukungan sosial meliputi pasangan (suami/istri),
orang tua, anak, sanak keluarga, teman, tim kesehatan, atasan dan konselor. Asuhan keperawatan
pada aspek spiritual ditekankan pada penerimaan pasien terhadap sakit yang dideritanya
(Ronaldson, 2000), sehingga PHIV akan dapat menerima dengan ikhlas terhadap sakit yang
dialami dan mampu mengambil hikmah.

3.2 Saran
Penerapan universal precautions oleh perawat, keluarga, dan pasien sangat penting. Hal ini
ditujukan untuk mencegah terjadinya penularan virus HIV. Dalam melakukan rencana tindakan
pada klien dengan HIV/AIDS, kita harus melihat masalah-masalah yang sedang dialami oleh
klien dari hasil pengkajian keperawatan kita.




DAFTAR PUSTAKA


Brunner and Suddarth. 2002. Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC
Doenges, Marilynn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC
Nursalam. 2001. Proses Dokumentasi Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Nursalam dkk. 2009. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta:
Salemba Medika











Diposkan oleh satria dwi priangga di 09.46
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)
Mengenai Saya

satria dwi priangga
saya adalah lulusan prog.s1 dari STIKes Hang Tuah Tanjungpinang dan melanjutkan
Prog.Profesi Ners di stikes Alma Ata yogyakarta, alamat saya jl.pramuka lr. pulau raja
3 no 44 tanjungpinang,kepulauan riau bagi saya kunci hidup adalah tekun, sabar, dan
ikhlas
Lihat profil lengkapku
Laman
Beranda
Label
S.O.P KMB (37)
S.O.P MATERNITAS (15)
Pengikut
Arsip Blog
2014 (3)
2013 (1)
2012 (6)
2011 (104)
o Desember (1)
o November (103)
Antibiotik (Ceftriaxon)
askep tonsilitis
BAYI BARU LAHIR NORMAL(CIRI-CIRI DAN REFLEKS)
(S.O.P) MEMBERIKAN TERAPI INJEKSI INSULIN ATAU INS...
(S.O.P) PEMERIKSAAN GULA DARAH KURVA HARIAN (KH)
(S.O.P) PEMERIKSAAN GULA DARAH NPP
(S.O.P) PROSEDUR TINDAKAN KEPERAWATAN MEDIKAL
BEDA...
(S.O.P) MENGAMBIL SAMPEL URINE UNTUK
PEMERIKASAAN
(S.O.P) MEMASANG KATETER URINE PADA PRIA
(S.O.P) PROSEDUR TINDAKAN KEPERAWATAN MEDIKAL
BEDA...
(S.O.P) MENYIAPKAN KLIEN UNTUK PEMERIKSAAN CT
SCAN...
(S.O.P) MENYIAPKAN KLIEN UNTUK PEMERIKSAAN USG
ABD...
(S.O.P) MELAKUKAN PERAWATAN LUKA : MENGANGKAT
JAHI...
(S.O.P) MERAWAT LUKA DENGAN DRAIN DAN
MEMPERPENDEK...
(S.O.P) MELAKUKAN PERAWATAN LUKA : MENGGANTI
BALUT...
(S.O.P) PERSIAPAN DAN PERAWATAN KLIEN PADA
PEMERIK...
(S.O.P) PERSIAPAN DAN PERAWATAN KLIEN PADA
PEMERIK...
(S.O.P) PERSIAPAN DAN PERAWATAN KLIEN PADA
PEMERIK...
(S.O.P) MELAKUKAN HUKNAH / ENEMA / LAVAMENT
(S.O.P) PERAWATAN KLIEN DENGAN COLOSTOMY
(S.O.P) PEMBERIAN MAKANAN MELALUI NASO GASTRIC
TUB...
(S.O.P) PROSEDUR TINDAKAN KEPERAWATAN MEDIKAL
BEDA...
(S.O.P) PROSEDUR TINDAKAN KEPERAWATAN MEDIKAL
BEDA...
(S.O.P) MELAKUKAN ASISTENSI PENGUKURAN TEKANAN
VEN...
(S.O.P) MELAKUKAN ASISTENSI PEMASANGANCVP DAN
MERA...
(S.O.P) MELAKUKAN PEMERIKSAAN EKG
(S.O.P ) PROSEDUR TINDAKAN KEPERAWATAN MEDIKAL
BED...
(SOP) Merawat Klien DENGAN TRAKHEOSTOMI
(SOP) Sampel sputum UNTUK MENGAMBIL PEMERIKSAAN
(S.O.P) PENGAMBILAN DARAH UNTUK PEMERIKSAAN AGD
(S.O.P) MELAKUKAN ASISTENSI PADA TINDAKAN
TORASENT...
(S.O.P) MEMBANTU DALAM PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
ARTE...
(S.O.P) MELAKUKAN TES MANTOUX / PPD TEST (TES KULI...
(S.O.P) MELAKUKAN FISIOTERAPI DADA
(S.O.P) MEMBANTU KLIEN DENGAN TEKNIK NAFAS DALAM,
...
(S.O.P) MENGKAJI STATUS OKSIGENASI DENGAN
OKSIMETR...
(S.O.P) MERAWAT KLIEN DENGAN WSD(Water Seal Draina...
(S.O.P) MELAKUKAN INHALASI DENGAN NEBULIZER
(S.O.P) suction
(S.O.P) PROSEDUR TINDAKAN KEPERAWATAN MEDIKAL
BEDA...
askep hernia
askep katarak
askep pasien dengan luka bakar (COMBUSTIO)
(S.O.P) Pemeriksaan fisik prenatal
(S.O.P) Pengukuran pangul luar
PERAWATAN TALI PUSAT
SENAM HAMIL
PERAWATAN PERINEUM POST PARTUM
TEKNIK MENYUSUI BAYI
PERAWATAN PAYUDARA
PERTOLONGAN PERSALINAN
OBSERVASI HIS
PEMERIKSAAN DALAM (TOUCHE)
PEMERIKSAAN LEOPOLD
PENILAIAN ASUHAN KEPERAWATAN ANAK
PEMERIKSAAN FISIK BAYI BARU LAHIR
PEMBERIAN SITOSTATIKA
MEMBERI OBAT SALEP TELINGA
MEMBERI OBAT TETES TELINGA
INJEKSI SUBCUTANEUS
INJEKSI INTRA MUSKULAR
INJEKSI INTRADERMAL/INTRACUTAN ...
UJI TORNIQUET (REMPLE LEED)
TEPID SPONGING
PERAWATAN TALI PUSAT
obstruksi laring
fraktur nasal
epistaksis
corpus alienum
Sindroma Distres Pernafasan Dewasa (SDPD)
Sindroma Distres Pernafasan Dewasa (SDPD)
FIBRILASI VENTRIKEL
ASKEP PASIEN DENGAN GANGGUAN WAHAM
ASUHAN KEPERAWATAN DAN PRE PLANNING KLIEN
DENGAN D...
masalah-masalah kesehatan jiwa masyarakat
askep resiko bunuh diri
ASUHAN KEPERAWATAN DAN PRE PLANNING KLIEN
DENGAN D...
psikofarmaka
askep aritmia
askep pasien dengan isolasi sosial
asuhan keperawatan dan pre planning klien dengan d...
ASUHAN KEPERAWATAN DAN PRE PLANNING KLIEN
DENGAN D...
asuhan keperawatan gangguan jiwa pada usia lanjut
Kedaruratan Psikiatrik
Ventilator mekanis
Resusitasi jantung paru
Basic Life Support
askep HIV
vibrilasi fentrikel
perdarahan pencernaan
askep trauma abdomen
askep tur syndrom
askep Sindroma TUR
kedaruratan endokrin dengan ketoasidosis dan hipog...
askep Diabetes ketoasidosis
kedaruratan endokrin dengan ketoasidosis dan hipog...
askep pangkreatitis
askep gastritis
askep Gastritis
askep gastritis
askep asfeksia
PROSEDUR PENATALAKSANAAN ASFIKSIA NEONATORUM
halo teman-teman bloger, blog ini saya buat untuk ...
Template Ethereal. Diberdayakan oleh Blogger.