Anda di halaman 1dari 27

PRAKTIKUM KONSELING KELOMPOK

KENDALA-KENDALA DALAM KONSELING KELOMPOK


DAN BAGAIMANA CARA MENGATASINYA
Tugas Ini Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Praktikum Konseling Kelompok









Dosen Pengampu : Luh Putu Sri Lestari, S.Pd., M.Pd.

Anggota Kelompok 5 :
Febriyanti Hidayah Ramdayani ( 1111011001 )
Saidah ( 1111011028 )
Nikmatus Sholeha ( 1111011039 )
Ni Made Lestari ( 1111011040 )
Komang Nita Endrayani ( 1111011044 )
I Wayan Wira Arta Kusuma ( 1111011016 )
I Wayan Soma Purmawan ( 1111011029 )
Nur Hikmah ( 1011011081 )
I Made Sumadiyasa ( 1011011103 )

JURUSAN BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
2014
ii

KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena berkat rahmat beliaulah kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Terselesaikannya makalah ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan dari
pihak-pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam proses
penyusunan dan pembuatan makalah ini. Rasa terima kasih kami sampaikan
kepada pihak-pihak yang turut serta membantu demi terselesaikannya makalah ini
sesuai dengan apa yang telah diharapkan sebelumnya.
Kami sebagai manusia yang banyak memiliki kekurangan menyadari
bahwa apa yang kami sampaikan dalam makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan baik dalam proses penyampaiannya maupun isi atau hal-hal yang
terkandung di dalamnya. Maka dari itu kami selaku penulis dan penyusun
makalah ini sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca yang kami
banggakan yang bersifat membangun sehingga dapat membantu kami untuk dapat
lebih menyempurnakan lagi makalah yang kami buat ini. Kami sangat berharap
apa yang kami sajikan dan apa yang kami sajikan dalam makalah ini dapat
memberikan manfaat-manfaat yang sedianya dapat berguna pagi pembaca pada
umumnya dan para calon konselor pada khususnya sehingga apa yang menjadi
tujuan pendidikan di Indonesia serta tujuan Bangsa Indonesia dapat tercapai
sebagaimana yang diharapkan.




Singaraja, 3 April 2014

Kelompok 5,
iii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................. ii
DAFTAR ISI............................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................ 1
1.1. Latar Belakang Masalah......................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah................................................................... 2
1.3. Tujuan..................................................................................... 2
1.4. Manfaat.................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN......................................................................... 3
2.1. Penjelasan .............................................................................. 3
A. Anggota Pembicaraan Kronik .......................................... 4
B. Anggota Dewa atau Dewi Penolong ................................ 6
C. Anggota Kelompok Bersikap Negatif ............................. 6
D. Anggota Kelompok yang Melawan ................................. 8
E. Anggota yang "Menjegal" Pemimpin Kelompok ............ 9
F. Anggota yang Diam ............................................................ 11
G. Anggota yang Menangis .................................................. 13
H. Anggota yang Jatuh Cinta ................................................ 14
I. Anggota yang Saling Bermusuhan .................................. 15
J. Anggota yang Berprasangka, Berpikir Picik dan Tidak
Sensitif ............................................................................. 15
K. Mengeluarkan Anggota Kelompok .................................. 16
BAB III PENUTUP.................................................................................. 23
3.1. Kesimpulan............................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA............................................................................... 24



1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah.
Konseling kelompok adalah salah satu layanan dalam Bimbingan
Konseling yang memanfaatkan suasana atau dinamika kelompok dalam
membantu konseli memecahkan masalahnya. Layanan ini sedikit berbeda
dengan konseling perorangan karena di dalamnya terdapat lebih dari satu
individu dalam proses layanannya. Seorang konselor atau seorang calon
konselor atau seorang calon konselor dituntut mampu memberikan layanan
konseling kelompok ini kepada konseli karena ada beberapa konseli yang
hanya dapat dibantu atau dapat terbantu dalam mengentaskan masalahnya
melalui kegiatan konseling kelompok. Sebelum seorang konselor atau calon
konselor dapat memberikan layanan ini kepada konseli, ia harus mengetahui
hal-hal yang berkaitan dengan konseling kelompok seperti pengertian,
tujuan, manfaat, pentingnya dan lain sebagainya. Layanan konseling
kelompok yang diberikan oleh seorang konselor akan menjadi efektif
apabila kelompok yang dipimpin oleh seorang konselor atau pemimpin
kelompok tersebut dinamis, dinamis dalam artian kelompok tersebut aktif
selama proses layanan konseling kelompok. Kelompok yang aktif atau
dinamis adalah kelompok yang selama proses layanan konseling kelompok
berlangsung tiap-tiap anggotanya mau mengeluarkan atau memberikan
pendapatnya, tidak mendominasi, tidak pasif, kurang sensitif, dll. Jika dalam
prakteknya terdapat anggota yang sedemikian rupa maka seorang konselor
atau calon konselor harus mampu mengidentifikasi dan mampu mengatasi
anggota kelompok yang seperti itu sehingga dengan teratasinya berbagai
hambatan-hambatan tersebut selama proses konseling kelompok maka
kedinamisan atau keaktifan kelompok akan tercipta. Dan berdasarkan pada
pentingnya seorang konselor atau calon konselor mengetahui berbagai
hambatan dan cara mengatasi hambatan tersebut dalam melaksanakan
konseling kelompok inilah makalah ini disusun.


2

1.2. Rumusan Masalah.
Berdasarkan apa yang terdapat di dalam latar belakang masalah,
maka yang menjadi rumusan masalah di sini adalah :
Apa sajakah kendala-kendala dalam konseling kelompok dan
bagaimana cara mengatasinya ?

1.3. Tujuan.
Sesuai dengan penjelasan dalam latar belakang masalah dan
rumusan masalah, tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
Memenuhi tugas mata kuliah Praktikum Konseling Kelompok.
Memberikan pemahaman kepada pembaca berbagai kendala
dalam pelaksanaan konseling kelompok dan bagaimana cara
mengatasinya.

1.4. Manfaat.
Berdasarkan apa yang terdapat di dalam latar belakang masalah,
rumusan masalah dan tujuan, manfaat dari makalah ini adalah :
Terselesaikannya tugas mata kuliah Praktikum Konseling
Kelompok.
Pembaca dapat memahami dan mengetahui serta mampu
mengatasi berbagai hambatan atau kendala dalam pelaksanaan
konseling kelompok.











3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Penjelasan.
Mekanisme kelompok yang bermanfaat bagi anggota kelompok untuk
memperoleh pengalaman yang mencegah dan memecahkan masalah mereka
adalah kelompok yang memiliki mekanisme dengan dinamika yang cukup
tinggi. Dengan adanya mekanisme seperti itu memungkinkan anggota
kelompok berpartisipasi dalam kelompok berbagi pengalaman, ide dan
perasaan dalam kelompok. Penting bagi pemimpin kelompok untuk
mengenal atau mengetahui berbagai hal yang menjadi potensi maupun
kendala untuk terbentuknya mekanisme kelompok yang dinamis.
Pembahasan dalam bagian ini, menyangkut kendala atau masalah yang
mungkin dialami pemimpin kelompok ketika melaksanakan konseling
kelompok. Akan diidentifikasi masalah yang sangat umum terjadi dalam
setting kelompok. Ada 11 masalah yang telah diidentifikasi dan
dikemukakan oleh Jacob dkk. ( 1988 ) adalah sebagai berikut :
1. Pembicara kronis ( the chronic talker ).
2. Anggota dewa atau dewi penolong ( the rescuing member ).
3. Anggota yang negatif ( the negative member ).
4. Anggota yang melawan ( resistent member ).
5. Anggota yang mencoba "Menjegal" pemimpin kelompok (the member
who tries to "get" the leader).
6. Anggota yang diam atau membisu ( silent member ).
7. Anggota yang menangis ( the crying member ).
8. Anggota saling bermusuhan ( the members who mutualy hostile ).
9. Mengeluarkan anggota kelompok.
10. Anggota yang berprasangka, berpandangan sempit dan tidak sensitif.
11. Anggota yang jauh cinta ( member in sexual feeling ).
Berikut penjelasan dari berbagai kendala-kendala yang sangat umum
terjadi ketika pelaksanaan konseling kelompok :


4

A. Anggota Pembicaraan Kronik.
Tidak sulit mengetahui anggota yang disebut pembicara kronis,
karena anggota ini mencoba mendominasi percakapan dalam kelompok.
Anggota ini terus menerus berbicara bertele-tele dan mengulang-ulang
pembicaraannya. Akibatnya anggota kelompok yang lain kurang
mendapat kesempatan untuk berbicara. Dalam waktu yang singkat akan
terjadi kemarahan dan kekecewaan pada anggota kelompok lain terhadap
anggota kelompok itu ( pembicara kronik ) dan juga kepada pemimpin
kelompok kalau pemimpin kelompok tidak berusaha mengatasinya.
Akhirnya anggota kelompok lain kehilangan minat untuk terlibat dalam
kelompok. Ada tiga penyebab yang menjadikan anggota kelompok
menjadi pembicara kronis, yaitu karena nervus maka disebut bertipe
nervus, berbicara yang melantur, disebut bertipe melantur, dan suka
menonjolkan diri disebut tipe menonjolkan diri ( show off ).
Tipe nervus. Karena nervus maka disebut bertipe nervus, berbicara yang
melantur, disebut bertipe melantur, dan suka menonjolkan diri disebut
tipe menonjolkan diri.
- Anggota kelompok yang berbicara banyak, sebenarnya
menyembunyikan perasaan cemas ( nervus-nya ). Berbicara terus
menerus, merupakan cara mengontrol diri agar tidak cemas. Anggota
seperti ini selalu berbicara kalau dibiarkan oleh pemimpin kelompok,
karena tujuannya untuk mengurangi ketegangan dalam dirinya.
- Tipe melantur. Terjadi dalam kelompok di mana anggota kelompok
mendominasi situasi kelompok dengan berbicara melantur. Anggota
kelompok ini tidak menyadari pengaruh pembicaraannya yang bertele-
tele terhadap anggota kelompok lain. Anggota kelompok ini mudah
dikenal, karena dia berlama-lama menjelaskan sesuatu cerita dan
sering mengulangi kembali penjelasannya. Pembicaraannya kurang
bermutu, remeh dan tidak ada gunanya bagi anggota kelompok lain.
- Tipe menonjolkan diri. Anggota seperti ini sangat aktif berbicara dan
pada dasarnya mengalami perasaan tidak aman dalam kelompok. Ia
ingin memberi kesan atau meminta perhatian pemimpin dan anggota

5

kelompok lainnya. Anggota seperti ini, ingin memperlihatkan apa
yang dia ketahui kepada orang lain dalam kelompok. Ia menjawab
semua pertanyaan dan bertanya tentang hal-hal yang tidak ada
hubungannya dengan kepentingan kelompok. Ia memberikan saran-
saran yang tidak benar dan tidak berguna kepada kelompok.
Akibatnya anggota kelompok marah dan tidak suka kepada anggota
kelompok ini.
Cara mengatasinya.
Untuk mengatasi tingkah laku anggota kelompok seperti ini, ada
beberapa cara yang dapat dilakukan pemimpin kelompok, yaitu :
- Pada waktu tahap pembentukan, pemimpin kelompok perlu
menekankan pentingnya bergiliran dalam berbicara ( asas
normatif ).
- Kepada anggota kelompok yang suka berbicara banyak ( talk
active ), diperingatkan oleh pemimpin kelompok agar
mempertimbangkan waktu untuk memberi kesempatan kepada
anggota kelompok lain berbicara.
- Memperingatkan kembali anggota kelompok agar berbicara sesuai
dengan ketentuan yang telah dijelaskan pada waktu awal kegiatan
kelompok ( dalam periode pembentukan ) dengan cara berikut
"Ingatlah tujuan kegiatan kelompok adalah untuk berbagi ide,
pengalaman dan perasaan dalam rangka saling membantu di
antara anggota kelompok memecahkan masalah. Oleh karena itu
jika salah satu anggota kelompok terlalu lama berbicara, maka
keinginan anggota kelompok lain untuk berbagi, berubah menjadi
hanya mendengarkan pendapat seorang saja. Tolong masing-
masing anggota kelompok menyadari agar berbicara secukupnya
dan tidak mendominasi diskusi kita".
- Teknik yang sederhana dan efektif adalah dengan berkata kepada
anggota kelompok yang berbicara kronis, sewaktu ia ingin
berbicara: "Coba kita berhenti dulu sebentar, apakah sudah semua
anggota kelompok mendapat kesempatan berbicara ? atau

6

mengatakan "Mari kita beri kesempatan kepada kawan lain yang
belum mengemukakan idenya."

B. Anggota Dewa atau Dewi Penolong.
Anggota yang disebut dewa atau dewi penolong adalah anggota
yang suka mendamaikan perasaan negatif seorang anggota kelompok.
Misalnya, salah seorang anggota kelompok menceritakan kesedihannya,
kecemasan dan kedukaannya dalam menghadapi masalahnya. Salah
seorang anggota kelompok yang menjadi dewa atau dewi penolong,
mencoba menenangkannya dengan berkata :
"Anda tidak perlu cemas, segala sesuatu akan berakhir jika anda sabar".
Ucapan seperti ini biasanya tidak menolong, bahkan bernada
merendahkan dan mencegah anggota kelompok yang bermasalah,
berusaha keras memecahkan masalahnya.
Cara mengatasi.
Cara mengatasi tingkah laku anggota kelompok yang menjadi dewa
atau dewi penolong adalah dengan mengajarinya untuk terbiasa
berbagi penderitaan, bukan melakukan percakapan akrab dan
menyelamatkan anggota kelompok dari masalah. Dari permulaan
kegiatan kelompok, seharusnya pemimpin kelompok sering-sering
melakukan cara untuk menghalangi terjadinya peristiwa ini, karena
anggota kelompok tidak menyadari apa tingkah laku kelompok yang
benar-benar membantu anggota kelompok bermasalah, yang patut
diberikan oleh anggota kelompok. Namun akhirnya intervensi
pemimpin kelompok akan berkurang jika ia dapat melatih anggota
kelompok dengan tepat dan benar cara melakukan pemecahan masalah.

C. Anggota Kelompok Bersikap Negatif.
Seorang anggota kelompok disebut negatif, kalau anggota
kelompok itu terus menerus mencerca, menggerutu atau mengomel setiap
kesempatan ia berbicara dalam kelompok, atau menunjukkan sikap tidak
setuju dengan pendapat anggota kelompok lainnya. Anggota kelompok

7

negatif, mengganggu kelompok, karena tidak tercapai tujuan kelompok,
membina dan mengembangkan kerja sama dan sikap positif terhadap
orang lain. Jika satu atau dua anggota kelompok negatif, dan mulai
mengomel, menggerutu, maka anggota lain cenderung mengikutinya,
baik sewaktu dalam kelompok ataupun di luar kelompok. Akhirnya
pertemuan kelompok pada saat itu menjadi pertemuan kelompok
mengomel.
Ada tiga strategi untuk mengatasi situasi ini, yaitu :
- Berbicara secara terbuka dengan anggota kelompok itu ( bersikap
negatif ) di luar kelompok, tentang apa yang terjadi pada dirinya
yang menyebabkan dia begitu bersikap negatif. Kemudian
menjelaskan kepada anggota kelompok itu, bahwa kelompok harus
menciptakan situasi yang menuntut kerja sama, dan yang produktif.
Kadang-kadang anggota kelompok seperti ini sebenarnya ingin
menarik perhatian pemimpin kelompok atau ingin mendapat
peranan yang positif dalam kelompok.
- Buatlah persekutuan anggota yang positif dalam kelompok dan
arahkan pertanyaan dan komentar kepada mereka. Dengan
memberikan kesempatan berbicara lebih banyak kepada kelompok
positif dapat membantu membina suasana positif dalam kelompok.
- Apabila memberikan pertanyaan kepada anggota kelompok,
jauhilah kontak mata dengan anggota kelompok yang bersikap
negatif.
Kesalahan besar jika menghadapi anggota kelompok yang bersikap
negatif dengan melakukan perlawanan di hadapan kelompok lainnya. Hal
ini akan menimbulkan pertengkaran antara pemimpin kelompok dengan
anggota kelompok yang bersikap negatif itu, dan dapat menciptakan
kemarahan anggota kelompok lain. Anggota kelompok yang bersikap
negatif hendaknya diketahui seawal mungkin, terutama jika anggota
kelompok diharuskan untuk mengikuti kegiatan kelompok. Sikap negatif
akan berkembang sesuai dengan perkembangan kelompok, karena
anggota kelompok itu merasakan nilai kegiatan kelompok itu.

8

Namun dapat terjadi dalam kasus yang ekstrem, ada anggota kelompok
yang tidak mau mengubah sikapnya yang negatif itu, walaupun berbagi
cara telah dilakukan. Dalam kasus seperti ini, perlu meminta anggota
kelompok itu meninggalkan kelompok atau duduk diam saja. Kalau
pemimpin kelompok terlalu banyak memakai waktu untuk menghadapi
anggota kelompok yang negatif, maka anggota kelompok yang tadinya
sangat tertarik untuk berinteraksi dengan cara yang positif dalam
kelompok berubah menjadi bersikap negatif.

D. Anggota Kelompok yang Melawan ( the resistent member ).
Ada beberapa anggota kelompok yang bersikap melawan atau
menentang dalam kegiatan kelompok, karena mereka dipaksa mengikuti
kegiatan kelompok. Mereka akan terus menerus melawan jika mereka
mendapat kesempatan untuk mengekspresikan perasaan marah mereka.
Cara menghadapi anggota kelompok seperti ini adalah sebagai berikut:
- Memungkinkan anggota kelompok itu berbagi perasaan dalam
kelompok. Perasaannya dibahas dalam kelompok, sehingga terjadi
kepuasan. Dapat juga pembicaraan dilakukan di luar kelompok dan
menolongnya untuk mengubah sikapnya itu.
- Jika anggota kelompok yang melawan adalah karena ia ingin
menentang usaha pemimpin kelompok untuk menolong dirinya,
bukan melawan anggota kelompok, maka cara yang terbaik
dilakukan adalah dengan mengatur situasi kelompok yang
memungkinkannya lebih banyak berinteraksi dengan anggota
kelompok lainnya daripada dengan pemimpin kelompok, misalnya
melalui diskusi berpasangan, diskusi bertigaan atau diskusi dalam
kelompok kecil, tanpa partisipasi pemimpin kelompok.
- Sebaliknya jika terjadi anggota kelompok melawan terhadap
bantuan anggota kelompok, maka jalan satu-satunya adalah
melakukan konseling individual perlu hendaknya dipahami benar
oleh pemimpin kelompok perbedaan antara anggota kelompok
yang melawan terhadap proses pelaksanaan kelompok dengan

9

anggota melawan yang disebabkan tidak ingin mengubah situasi di
dalam dirinya.

E. Anggota yang "Menjegal" Pemimpin Kelompok.
Ketika memimpin kelompok, pemimpin kelompok perlu bersiap-
siap anggota kelompok yang suka menarik perhatian pemimpin
kelompok. Anggota kelompok ini mencoba menyabotase apa yang
dikatakan atau dilakukan pemimpin kelompok dalam kelompok. Anggota
kelompok seperti ini memperlihatkan sikap tidak setuju dengan
pemimpin kelompok, tidak mau mengikuti petunjuk dan anjuran-anjuran
pemimpin kelompok, memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak
mungkin di jawab, dengan maksud agar pemimpin kelompok mendapat
malu di depan anggota kelompok atau berbicara dengan anggota lain
selagi pemimpin kelompok berbicara. Anggota kelompok yang menjegal,
hanya menunjukkan perlawanannya kepada pemimpin kelompok, bukan
kepada anggota kelompok. Penyebab anggota kelompok ingin menjegal
pemimpin kelompok banyak macamnya. Mungkin saja pemimpin
kelompok pernah berbicara atau melakukan sesuatu yang menyebabkan
anggota kelompok itu menjadi malu atau sakit hati. Di bawah ini
dikemukakan tingkah laku pemimpin kelompok yang menyebabkan
anggota kelompok ingin menjegal pemimpin kelompok.
- Meminta seorang anggota berdiri di depan anggota kelompok lain
dengan serta-merta.
- Memutus pembicaraan seorang anggota kelompok dengan cara yang
tidak pantas.
- Tidak memberikan kesempatan berbicara kepada seorang anggota
kelompok atau gagal mengetahui seorang anggota kelompok yang
ingin berbicara.
- Membiarkan anggota-anggota kelompok memberikan masukan
negatif terhadap seorang anggota kelompok tertentu.
- Tidak memiliki keterampilan yang memadai dalam mengontrol
kelompok.

10

- Membiarkan anggota kelompok bosan karena pemimpin kelompok
kurang keterampilan.
- Menempatkan dirinya di atas kelompok dengan mengemukakan
ungkapan-ungkapan memerintah, seperti "Saya ingin kamu ....
Daripada mengizinkan kamu .... ". Walaupun penjegalan terhadap PK
adalah disebabkan oleh tingkah laku PK sendiri yang salah, namun
ada juga penjegalan itu disebabkan oleh anggota kelompok sendiri
yaitu :
a. Anggota kelompok yang tidak mampu mengarahkan diri sendiri
kadang-kadang menyatakan kekecewaan dan kemarahannya
kepada pemimpin kelompok.
b. Anggota kelompok memproyeksikan ketakutannya tentang
sesuatu yang akan terjadi dalam kelompok, karena tingkah laku
pemimpin kelompok.
c. Anggota yang berjuang dalam membina hubungan keakraban
dengan figur berkuasa yang ingin mencoba mengganggu usaha
pemimpin kelompok.
d. Anggota yang ingin menjadi "favorit" pemimpin kelompok dan
marah jika hal itu tidak terjadi.
Mungkin yang penting dilakukan pemimpin kelompok adalah
menjauhi perebutan kekuasaan dengan anggota kelompok yang menjegal.
Sewaktu pemimpin kelompok menghindari percobaan dan seorang
anggota kelompok yang menjegalnya, maka ia seharusnya mencoba
memahami mengapa anggota kelompok itu ingin menjegalnya. Jika
permasalahannya karena sikapnya yang tidak menyenangkan terhadap
anggota kelompok itu, maka pemimpin kelompok hendaknya
memberikan perhatian kepada anggota kelompok itu. Kembali kepada
pembicaraan anggota kelompok yang menjegal, meyakini bahwa anggota
kelompok itu tidak dalam posisi, dan pemimpin kelompok melakukan
perbaikan. Jika pemimpin kelompok tidak juga mengerti tentang sebab
seorang anggota kelompok selalu menjegalnya, maka ia harus berdialog
tatap muka dengan anggota kelompok itu, atau berbicara dengannya

11

setelah periode kelompok selesai. Tujuannya adalah untuk mendapatkan
informasi, mengapa anggota kelompok itu berusaha menjegalnya dengan
mengatakan seperti berikut : "Nampaknya sesuatu terjadi antara engkau
dan aku, apakah sesuatu itu mengganggu kamu ?"
Jika anggota kelompok ini tidak mau mengatakan pikiran dan
perasaannya, pemimpin kelompok dapat mencari informasi dari
kelompok lain. Biasanya anggota kelompok itu lebih terbuka dengan
teman sekelompoknya dari pada dengan pemimpin kelompok
menceritakan tentang ketidakpuasannya. Jika pemimpin kelompok
berhasil mendapatkan informasi itu, maka pemimpin kelompok harus
hati-hati agar anggota kelompok yang menjegal itu tidak tertekan,
sehingga ia tidak mau berbagi atau mengemukakan sesuatu yang ia
rasakan, karena ia merasa ia tidak perlu lagi mengemukakannya. Jika
anggota kelompok ini tetap juga melakukan penjegalan, padahal
pemimpin kelompok sudah berbicara kepadanya bahwa tindakannya itu
tidak berguna, maka pemimpin kelompok dapat meminta bantuan
kelompok untuk memberi masukan, tentang manfaat tingkah laku yang
selalu menyanggah. Hal ini ia lakukan kalau ia yakin bahwa seluruh atau
hampir seluruh kelompok menyokong dirinya. Dengan cara seperti ini si
penjegal dapat menyadari bahwa yang dilakukannya itu tidak benar dan
menyakitkan banyak orang sehingga dengan demikian menghentikan
tingkah lakunya. Namun jika usaha ini tidak juga berhasil maka
sebaiknya anggota ini dikeluarkan dari kelompok. Namun bantuan oleh
konselor lain perlu dilakukan.

F. Anggota yang Diam.
Suasana diam dalam kelompok terdiri dua, yaitu suasana diam yang
produktif dan non-produktif. Diam yang produktif terjadi apabila anggota
kelompok sedang dalam proses menginternalisasikan apa yang dikatakan
atau apa yang dikerjakan dalam kelompok. Diam yang non-produktif
terjadi apabila anggota menjadi sepi, karena mereka bingung tentang apa
yang akan dikatakan, takut berbicara, atau bosan. Suasana diam kadang-

12

kadang memberikan tanda-tanda tertentu bagi pemimpin kelompok. Jika
suasana diam terjadi pemimpin kelompok bertanya kepada dirinya
sendiri, apakah ini suasana diam produktif atau non-produktif. Tanda itu
dapat diamati dari reaksi anggota kelompok dan apa yang telah terjadi
dalam kelompok. Jika anggota kelompok duduk dan sedang berpikir
keras karena rangsangan kegiatan dari anggota lainnya yang bersemangat,
maka suasana diam dibiarkan. Kadang-kadang pemimpin kelompok
dapat membiarkan suasana diam dalam kelompok selama 2 atau 3 menit
atau dalam jangka waktu tertentu jika suasana ini menghasilkan suatu
yang produktif. Pemimpin kelompok dapat menunggu sampai seorang
anggota kelompok memecahkan suasana diam itu, atau pemimpin
kelompok sendiri berusaha memecahkan kesepian itu dengan berkata :
"Sepertinya kalian benar-benar memikirkan tentang apa yang barusan
terjadi. Saya senang sekali jika kamu dapat berbagi tentang apa yang
kamu pikirkan itu dengan anggota kelompok lain". Jika kelompok tetap
saja diam, maka pemimpin kelompok hendaknya mengubah fokus atau
mengajak kelompok untuk membahas mengapa mereka kurang berminat.
Kadang-kadang anggota kelompok menjadi diam, karena pada awal
kegiatan kelompok tahap pembentukan kurang berhasil sehingga
kelompok tidak siap memasuki kegiatan kelompok. Pada periode ini
anggota kelompok butuh pemahaman dan bertingkah laku yang
menjadikan mereka menyatu dalam kelompok. Untuk mengatasi suasana
ini pemimpin kelompok hendaknya berusaha mengarahkan fokus
kegiatan kelompok, bukan menunggu sampai ada anggota kelompok
yang mengatasi suasana ini. Jika anggota duduk dengan wajah nervus,
bingung tentang siapa yang akan memulai, atau duduk dengan pandangan
kosong, disarankan agar pemimpin kelompok memecahkan suasana itu
setelah 15 atau 20 detik kemudian dengan maksud untuk memulai
kegiatan kelompok. Terjadinya suasana ini, karena anggota kelompok
bingung tentang apa yang sedang berlangsung dan bosan menunggu
sesuatu yang akan terjadi. Hal ini dapat membangkitkan serangan verbal
dari anggota kelompok. Oleh karena itu pemimpin kelompok secepatnya

13

mengatasi suasana ini dengan cara memberikan pertanyaan, atau suatu
latihan yang relevan dan produktif.
Pemimpin kelompok dapat berkata seperti berikut :
Mari kita memfokuskan kepada topik yang baru. Masing-masing kamu
memikirkan saat-saat terakhir kamu marah dan mengemukakan dalam
kelompok apa yang terjadi.
Apa yang dapat menolong agar kamu dapat berbicara ? Pikirkan satu
topik yang dapat menimbulkan minat berbicara pada saat ini. Kita akan
membahas itu.

G. Anggota yang Menangis.
Mungkin ada anggota kelompok yang menangis selama kegiatan
kelompok berlangsung. Kemungkinan penyebabnya adalah dia atau
anggota lain sedang membicarakan topik yang menimbulkan penderitaan
dalam dirinya, seperti pembicaraan tentang kematian orang yang dicintai,
perceraian dirinya sendiri, orang tua, atau anggota kelompok lain,
kehilangan pekerjaan, penyakit, dll. Perasaan yang terjadi dalam diri
anggota yang menangis dapat saja sedih, marah, sakit hati, takut tertekan
kehampaan, kebingungan kecemasan dan kebahagiaan.
Yang dilakukan oleh pemimpin kelompok jika ada kelompok yang
menangis pertama sekali adalah memahami arti tangisan tersebut. Jika
tangisan itu berarti bahwa anggota kelompok sedang berjuang menguasai
perasaan sehubungan dengan topik pembicaraan maka yang dilakukan
oleh pemimpin menciptakan suasana diam, selama satu atau dua menit.
Biasanya dalam rentangan waktu seperti itu anggota kelompok yang
menangis dapat menguasai dirinya. Kemudian pemimpin kelompok dapat
memberikan pertanyaan tentang apa yang dirasakan.
Namun jika anggota kelompok itu terus menerus menangis maka,
ajaklah anggota itu untuk mengungkapkan perasaannya setelah kegiatan
kelompok berakhir dengan pemimpin kelompok saja. Berapa kesalahan
yang harus dihindari dalam mengatasi anggota kelompok yang menangis
adalah :

14

a. Langsung anggota kelompok menjadi dewi/ dewa penolong.
b. Anggota kelompok bertanya terus menerus selama anggota
kelompok menangis.
c. Jangan membuang waktu terlalu banyak untuk anggota kelompok
yang menangis, sehingga kegiatan kelompok lainnya yang berguna
bagi kelompok lain sedikit. Kemungkinan anggota kelompok yang
lain menjadi marah.

H. Anggota yang Jatuh Cinta.
Dapat terjadi adanya anggota kelompok yang tertarik kepada
anggota kelompok lainnya. Keadaan ini biasa terjadi, dalam kelompok
pembahasan dan rasa berbagi masalah pribadi yang dalam, seperti
kelompok konseling ( kelompok terapi ). Jika hal ini terjadi maka
dinamika kelompok dengan suasana tertentu muncul yaitu anggota
kelompok yang saling tertarik berusaha bertingkah laku yang
menimbulkan kesan satu dengan yang lainnya. Mereka menahan untuk
berbagi pendapat karena memikirkan yang lainnya. Mungkin terjadi
kecemburuan, sakit hati atau marah kepada kelompok lainnya jika
mereka sedang berbagi dalam rangka pembahasan masalah. Suasana
seperti ini dapat mengganggu proses kelompok.
Apa yang harus dilakukan oleh pemimpin kelompok mengatasi
suasana ini ?
Yang pasti pemimpin kelompok tidak mungkin berhasil dengan
cara membuat peraturan bahwa hubungan keakraban cinta tidak boleh
dilakukan di luar kegiatan kelompok, karena perasaan cinta dapat terjadi
di mana saja. Anggota ini akan tetap melakukan hubungan di luar
kelompok dengan melanggar peraturan. Oleh karena itu cara yang terbaik
dilakukan oleh PK adalah dengan membicarakan secara pribadi dengan
anggota yang terlibat tentang hubungan mereka yang dapat menimbulkan
masalah. Lain waktu isu tentang adanya peristiwa cinta dalam kelompok
dapat dibahas dalam kelompok. Namun jika situasi hubungan itu
dirasakan anggota kelompok lain benar-benar mengganggu suasana

15

kelompok, maka PK perlu mengeluarkan salah satu dari mereka dari
kegiatan kelompok.

I. Anggota yang Saling Bermusuhan.
Ada kemungkinan pemimpin kelompok menemukan anggota
kelompok yang saling bermusuhan dalam sebuah kelompok. Tingkah
laku bermusuhan itu diperlihatkan dalam pembicaraan yang saling
beradu argumentasi, sanggahan-sanggahan, dan saling diam di antara
anggota kelompok itu. Terjadinya permusuhan mungkin jauh sebelum
mereka masuk ke dalam kelompok. Oleh karena itu sebaiknya pemimpin
kelompok berusaha mengantisipasi keadaan ini sewaktu membentuk
kelompok. Misalnya dengan menanyakan :
"Adakah di antara kamu yang merasa kurang suka jika anggota
lain berada sekelompok denganmu ?"
Namun cara ini tidak mengatasi masalah itu, karena dapat saja
terjadi, anggota kelompok tidak mengetahui siapa saja yang menjadi
anggota kelompoknya. Apabila situasi ini terjadi, maka pemimpin
kelompok dapat saja mendiskusikan hal ini dalam kelompok kalau
dianggap pemimpin kelompok bermanfaat bagi kelangsungan kegiatan
kelompok.
Tetapi jika perasaan bermusuhan itu begitu besar sehingga
mengganggu kelancaran dinamika kelompok, maka salah satu dari
anggota kelompok itu harus dikeluarkan, atau kalau mungkin
ditempatkan pada kelompok lain. Jika terjadi pola tingkah laku
bermusuhan salah seorang anggota kelompok diarahkan kepada salah
orang anggota kelompok, maka disarankan agar anggota kelompok ini
diberi pelayanan konseling individu terlebih dahulu.

J. Anggota yang Berprasangka, Berpikir Picik dan Tidak Sensitif.
Pemimpin kelompok mungkin saja berhadapan dengan seorang
anggota kelompok yang berprasangka, berpikir picik dalam memandang
kehidupan di dunia ini. Anggota kelompok seperti ini bertingkah laku

16

seperti seorang moralis atau ulama picik. Keadaan seperti ini dapat
menimbulkan kesulitan, jika salah satu tujuan anggota kelompok adalah
untuk mendengarkan dan menerima saja pandangan yang berbeda dan
belajar bertoleransi pada orang lain. Anggota kelompok itu dikeluarkan
kalau ia tidak mau menahan dirinya bertingkah laku yang menghujat, dan
menghukum anggota kelompok lain.
Namun bukanlah pemimpin kelompok yang baik, jika membiarkan
anggota kelompok seperti itu berbicara menghujat dan menghukum
anggota kelompok lain. Misalnya seorang wanita berbicara tentang
peristiwa perselingkuhannya dengan seorang pria. Dengan serta-merta
seorang anggota kelompok lain mengatakan betapa berdosanya dan
cabulnya tingkah laku seperti itu. Secepatnya pemimpin kelompok
menghentikan pembicaraan anggota kelompok itu. Contoh lain lagi
adalah apabila seorang anggota kelompok berkata bahwa orang yang
tidak beribadah akan masuk neraka. Dalam kasus seperti ini pemimpin
kelompok hendaknya meminta anggota kelompok itu untuk berbicara
lebih sopan dan memahami adanya pandangan agama yang berbeda.

K. Mengeluarkan Anggota Kelompok.
Saat di mana pemimpin kelompok harus mengeluarkan seorang
anggota kelompok memang jarang terjadi. Memang ada sejumlah alasan
seperti yang telah dikemukakan di atas. Alasan lainnya adalah terjadinya
perbedaan bahkan pertentangan kepentingan seorang anggota kelompok
dengan anggota-anggota kelompok lain dalam mengikuti konseling
kelompok. Misalnya jika seorang anggota kelompok butuh pemecahan
masalah pribadi dalam berbagai bidang masalah, seperti masalah
pernikahan, konsep diri, dan berat badan, namun tujuan anggota
kelompok adalah untuk belajar cara merawat anak, maka sebaiknya
anggota kelompok ini dikeluarkan dari keanggotaan kelompok.
Setelah memutuskan bahwa anggota kelompok itu tidak menjadi
bagian dari anggota kelompok yang harus dipikirkan oleh pemimpin
kelompok adalah bagaimana dan kapan saatnya untuk memberitahu

17

anggota itu agar tidak ikut lagi dalam kelompok yang sekarang. Kadang-
kadang tugas ini cukup mudah, misalnya sewaktu istirahat, pemimpin
kelompok dapat menemui anggota kelompok itu dan berbicara sebagai
berikut :
"Toni, nampaknya apa yang kamu butuhkan dari kelompok tidak
seperti apa yang dibutuhkan oleh kelompok. Mungkin kamu akan sia-sia
saja untuk mengharapkan kelompok ini memenuhi kebutuhanmu. Apa
yang kamu butuhkan tidak dapat disediakan oleh kelompok ini. Saya
pikir lebih baik kamu memilih alternatif lain yang lebih baik bagimu.
Kami dapat mengusahakan kelompok lain yang lebih sesuai atau
mengusahakan konselor yang mampu melayani secara individu.
Alasan lain untuk mengeluarkan seorang anggota kelompok dari
kelompok adalah kalau anggota kelompok itu mengganggu, sehingga
fungsi kelompok terhalang. Anggota kelompok itu melakukan perdebatan
atau berbantah-bantahan dengan anggota kelompok lain, terang-terangan
mengancam pemimpin kelompok, secara terus menerus menjegal
pemimpin kelompok, atau bertingkah laku yang sangat negatif terhadap
anggota kelompok lain. Tentu saja pemimpin kelompok menyadarkan
anggota kelompok itu dengan baik-baik agar tingkah laku yang sesuai
dengan etika-etika kelompok dan mendukung kelancaran dinamika
kelompok, sebelum dia dikeluarkan dari kelompok. Jika cara tidak
berhasil barulah pemimpin kelompok mengeluarkan anggota kelompok
itu. Sebaiknya hal ini dilakukan pada akhir kegiatan kelompok. Cara
untuk mencegah terjadinya pertengkaran di depan anggota kelompok
lainnya. Misalnya, setelah kegiatan kelompok berakhir, pemimpin
kelompok berbicara kepada anggota kelompok itu seperti ini :
( Dengan suara yang tenang )
"Adi, bapak harus menyampaikan kepadamu secara terang
terangkan sekarang ini. Apakah kamu sadar atau tidak sadar, tingkah
laku telah mengganggu kelancaran kegiatan kelompok. Saya cemas
anggota-anggota kelompok yang lain tidak dapat mengambil manfaat
dari kegiatan kelompok seperti itu. Semua anggota kelompok yang lain

18

berusaha menghentikan gangguan tingkah lakumu itu, namun mereka
tidak berhasil. Saya pikir lebih baik kamu tidak ikut dalam kegiatan
kelompok selanjutnya. Sebagai tanggung jawab sebagai pemimpin
kelompok saya akan mengirimmu ke kelompok lain atau kepada konselor
yang dapat memberikan pelayanan individual.

Berikut ini akan diuraikan dalam tabel tentang beberapa masalah-
masalah yang mungkin dialami Pemimpin Kelompok dan upaya
mengatasinya.
No. Masalah Upaya Mengatasi
1. Pembicara kronis ( the cronic talker )
- Tipe nervus.
- Tipe melantur ( ramling ).
- Tipe menonjolkan diri ( show off ).
- Pada tahap pembentukan tekankan
pentingnya bergiliran ( asas normatif ).
- Diingatkan untuk mempertimbangkan
waktu memberi kesempatan kepada anggota
yang lain.
- Ingatkan tujuan kelompok untuk berbagi
ide, pengalaman dan perasaan.
- Berkata Apakah semua anggota kelompok
sudah mendapatkan kesempatan
berbicara ? atau Mari kita beri
kesempatan kepada kawan lain yang belum
mengemukakan idenya.
2. Anggota dewa atau dewi penolong
( the rescuing member ).
- Suka mendamaikan perasaan
negatif.
- Mengajari untuk terbiasa berbagi
penderitaan bukan melakukan percakapan
akrab dan menyelamatkan anggota
kelompok.
3. Anggota yang negatif ( the negative
member ).
- Mencerca.
- Menggerutu.
- Berbicara secara terbuka di luar kelompok.
- Arahkan pertanyaan dan komentar kepada
anggota yang positif.
- Apabila memberikan pertanyaan kepada

19

- Mengomel. anggota kelompok jauhi kontak mata
dengan anggota kelompok yang negatif.
- Jangan melakukan perlawanan langsung
kepada anggota kelompok yang negatif.
- Apabila upaya belum berhasil ( anggota
negatif terlalu ekstrem ), anggota negatif
disuruh duduk diam saja atau meninggalkan
kelompok.
4. Anggota yang melawan ( the resistent
member ).
- Mengkondisikan anggota kelompok itu
berbagai perasaan dalam kelompok supaya
puas ( bisa juga pembicaraan di luar
kelompok ).
- Jika pertentangannya dengan pemimpin
kelompok, ciptakan kegiatan interaksi
dengan berpasangan anggota kelompok lain.
- Bila melawan anggota kelompok lainnya,
ajaklah dia untuk konseling kelompok.
- Bedakan anggota yang melawan proses
pelaksanaan kelompok dengan melawan
karena tidak ingin merubah situasi dirinya.
5. Anggota kelompok yang mencoba
menarik perhatian pemimpin
kelompok ( the member who tries to
get the leader ).
- Menyabotase.
- Memperlihatkan sikap tidak setuju.
- Tidak mau mengikuti petunjuk dan
anjuran-anjuran.
- Memunculkan pertanyaan-
pertanyaan yang tidak mungkin
dijawab.
- Menjauhi perebutan kekuasaan dengan
anggota yang menjegal.
- Berdialog tatap muka setelah kegiatan.
- Jika tidak mau terbuka, pemimpin
kelompok dapat mencari informasi dari
anggota kelompok lain.
- Bila tetap menjegal pemimpin kelompok
dapat meminta pendapat anggota lain apa
ada manfaatnya jika terus menjegal.
- Jika upaya-upaya di atas tetap tidak
berhasil, anggota penjegal dapat dikeluarkan

20

- Berbicara dengan anggota lain.
- Hanya menunjukkan perlawanan
pada pemimpin kelompok tidak
kepada anggota kelompok.
Penyebab mungkin pemimpin
kelompok pernah membuat anggota
kelompok menjadi malu atau sakit
hati, misalnya :
- Menyuruh anggota berdiri di depan
anggota lain dengan serta-merta.
- Memutus pembicaraan anggota
dengan cara yang tidak pantas.
- Tidak memberi kesempatan kepada
anggota.
- Membiarkan anggota memberikan
masukan negatif terhadap anggota
tertentu.
- Tidak memiliki keterampilan yang
memadai dalam mengontrol
kelompok.
- Membiarkan anggota bosan karena
pemimpin kelompok kurang
terampil.
- Ungkapan-ungkapan bernada
memerintah misalnya Saya ingin
kamu . . . . sebaiknya Saya
mengizinkan kamu untuk . . . .
Dari anggota kelompok itu sendiri
mungkin disebabkan :
- Tidak mampu mengarahkan diri
sendiri sehingga menyatakan
dari kelompok.

21

kekecewaan dan kemarahan kepada
pemimpin kelompok.
- Memproyeksikan ketakutannya
tentang sesuatu yang akan terjadi
dalam kelompok.
- Anggota ingin menjadi favorit.
6. Anggota yang diam atau membisu
( the silent member ).
Diam ada dua yaitu diam produktif dan
diam non-produktif.
Diam produktif apabila anggota dalam
proses menginternalisasikan apa yang
dikatakan atau apa yang dikerjakan
dalam kelompok.
Diam non-produktif apabila anggota
menjadi sepi, karena mereka bingung
tentang apa yang dikatakan, takut
berbicara, atau bosan.
- Pahami suasana diam tersebut produktif
atau non-produktif.
- Jika suasana diam produktif, beri
kesempatan 2-3 menit untuk menghasilkan
sesuatu yang produktif.
- Jika non-produktif, arahkan untuk fokus
kembali kepada kegiatan.
7. Anggota yang menangis ( the crying
member ).
Menangis dapat saja karena :
- Sedih.
- Marah.
- Sakit hati.
- Takut tertekan kehampaan.
- Kebingungan.
- Kecemasan.
- Kebahagiaan.
- Pahami arti tangisan itu.
- Beri kesempatan untuk menguasai dirinya.
- Beri pertanyaan tentang apa yang dirasakan.
- Jika terus menerus menangis, ajaklah untuk
mengungkapkan perasaannya setelah
kegiatan kelompok berakhir dengan
pemimpin kelompok saja.
Yang harus dihindari dalam mengatasi anggota
kelompok yang menangis :
- Anggota kelompok langsung menjadi dewa
atau dewi penolong.
- Anggota kelompok bertanya terus menerus
selama anggota kelompok menangis.

22

- Jangan membuang waktu terlalu banyak
untuk anggota kelompok yang menangis.































23

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan.
Berdasarkan apa yang telah dijelaskan sebelumnya maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa dalam setiap pelaksanaan layanan konseling kelompok
seorang pemimpin kelompok harus dapat memelihara kedinamisan
kelompok guna tercapainya tujuan kelompok tersebut. Untuk dapat menjaga
agar kelompok tetap dinamis, seorang pemimpin kelompok dituntut
mengetahui berbagai macam masalah-masalah yang dapat dihadapi selama
pelaksanaan konseling kelompok sesuai dengan yang telah dijelaskan pada
bab sebelumnya. Dengan pengetahuan dan pemahaman terhadap berbagai
macam masalah tersebut, maka seorang pemimpin kelompok dapat
mengatasi masalah-masalah tersebut dan mampu menjaga kedinamisan
kelompok yang pada akhirnya dapat tercapainya tujuan kelompok.


















24

DAFTAR PUSTAKA

Suranata, Kadek. 2010. Panduan Memimpin Kelompok dalam Konseling
Kelompok. Singaraja : Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu
Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha.