Anda di halaman 1dari 11

TUGAS I

TEKNIK PELEDAKAN TAMBANG



Oleh
FAIZAL NASIR
09 321 0000 8
TB6. C

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2014

PELEDAKAN TAMBANG

Bahan Peledak
Sejarah bahan peledak yang sekarang banyak diproduksi dan dijual berasal dari penemuan
dan pengembangan dari black powder adalah campuran NaNo
3
+ C + S atau salt peter atau nitrat.
Bahan peledak pada dasarnya terdiri dari campuran 3 bahan utama yaitu (1) Zat kimia yang
mudah bereaksi yang berfungsi sebagai bahan peledak dasar (eksplosive best) misalnya : NG
(Nitrogileshering, C
3
H
5
(No
3
)
3
, TNT (Trinitrowena, C
6
H
2
CH
3
(No
3
)
3
, Etilene Glyolnitrate
C
3
H
4
(No
3
)
2
, dan sebagainya, (2) Oksidator berfungsi memberikan oksigen misalnya KCLO
3
,
NaClO
3
, NH
4
NO
3
, dan sebagainya, (3) Zat penyerap/tambahan misalnya serbuk kayu, serbuk
batubara, chalt (CaCo
3
) kiesel guhr (SiO
2
) dan sebagainya.
Bahan peledak yang dimaksudkan adalah bahan peledak kimia yang didefinisikan sebagai
suatu bahan kimia senyawa tunggal atau campuran berbentuk padat, cair, atau campurannya yang
apabila diberi aksi panas, benturan, gesekan atau ledakan awal akan mengalami suatu reaksi
kimia eksotermis sangat cepat dan hasil reaksinya sebagian atau seluruhnya berbentuk gas
disertai panas dan tekanan sangat tinggi yang secara kimia lebih stabil.
Bahan peledak diklasifikasikan berdasarkan sumber energinya menjadi bahan peledak
mekanik, kimia, dan nuklir. Karena pemakaian bahan peledak kimia lebih luas dibandingkan
dengan sumber energi lainnya, maka pengklasifikasian bahan peledak kimia lebih intensif
diperkenankan. Pertimbangan pemakaiannya antara lain, harga relatif murah, penanganan teknis
lebih mudah, lebih banyak variasi waktu tunda (delay time) dan dibandingkan dengan nuklir
bahayanya lebih rendah.
Klasifikasi bahan peledak yaitu :
1. Bahan peledak kuat contohnya TNT, Dinamite, Gelatine
2. Agen peledakan contohnya ANFO, Slurries, Emulsi, Hybrid ANFO, Slurry mixtures
3. Bahan peledak khusus contohnya Seismik, Trimming, Permisible, shaped Charges,
Binary, LOX, Liquid
4. Pengganti bahan peledak contohnya Compressed air/gas, Expansion agents, mechanical
methods, waterjets, jet piercing.
Sifat-sifat fisik bahan peledak adalah suatu kenampakan nyata dari sifat bahan peledak ketika
menghadapi perubahan kondisi lingkungan sekitarnya, yaitu antara lain :
1. Densitas yaitu angka yang menyatakan perbandingan berat per volume
2. Sensitifitas adalah sifat yang menunjukan kemudahan inisiasi bahan peledak atau ukuran
minimal booster yang diperlukan
3. Ketahanan terhadap air (water resistence)
4. Kestabilan kimia (chemical stability)
5. Karekteristik gas ( fumes characteristic)
Teknik Peledakan
Perkembangan teknik peledakan saat ini berjalan dengan sangat cepat, perkembangan bahwa
peledak mulai dari black powder, nitrogiseria, ammonium nitrat, yang dicampur dengan fuel oil
sampai kepada wather gel explosive. Sistem inisiasi penyelaan yang tradisional yaitu metode cap
and face telah banyak diganti dengan system yang lebih aman dan fleksibel dari system elektrik
dan non elektrik yang memakai sitem tunda. Sedangkan pemilihan didalam proses peledakan ada
dua unsur utama yaitu batuan dan bahan peledak. Dari unsur utama tersebut akan terlihat juga
unsur-unsur penunjang seperti manusia, metode, pelengkap, dan peralatan peledakan serta biaya.
1. Batuan
a. Macam-macam batuan
Dalam peledakan terlihat dari 2 unsur utama yang memegang peranan penting yaitu :
1. Batuan atau material yang akan diledakkan
2. Bahan peledak dan peralatan yang akan digunakan disamping unsur manusia
khususnya, sehingga untuk memilih metode peledakan yang tepat diperlukan
pengetahuan yang baik terutama kedua unsur tersebut berdasarkan mineral
pembentuknya batuan secara konvensional dapat dibagi menjadi : batuan beku,
batuan sedimen, dan batuan metamorf.
Sedangkan yang titik tolak dari suatu pengertian teknik, batuan dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Intract rock
Bagian atau possibly goodies dari suatu batuan yang relatif uniform dari suatu tipe
petronik yang mengalami suatu pengerusan mekanis berat dari keadaan geologi
semula seperti patahan atau join.
2. Insitu rock
Massa batuan dari suatu ukuran tertentu yang mengandung contoh represan tatik yang
sudah mengalami kerusakan-kerusakan berat massa batuan dapat lebih dari satu tipe.
Karakteristik dari intec rock berhubungan dengan proses seperti pemboran, pemecahan,
grinding atau operasi- operasi mechanic lainnya dimana persentase terbesar dari
permukaan batuan adalah feash, sedangkn karakteristik dari insitu rock berhubungan
dengan persoalan- persoalan dalam desaing terhadap stabilitas lereng ataupun bukaan-
bukaan.
b. Sifat batuan/bahan galian yang mempengaruhi hasil peledakan
Kebanyakan batuan atau bahan galian mempunyai sifat tidak merata dan homogen. Sifat-
sifat batuan/bahan galian yang tidak mempengaruhi hasil peledakan terutama :
1. Struktur seperti patahan, rekahan, perlapisan atau perlipatan yang akan
memepengaruhi perencaan pemboran untuk keperluan lubang tembak. Apabila hal ini
kurang mendapat perhatian maka dapat terjadi hasil yang tidak diharapkan seperti
boulder, back break, dan sebagainya. Dip dan strike dari batuan yang mempunyai
struktur berlapis-lapis (bedde D dr stractified rock). Bila peledakan searah dengan dip
hal-hal yang diharapkan terjadi :
Lebih banyak bad break
Lantai pit (pit floor) yang lebih rata atau halus
Penggunaan energy bahan peledak yang lebih baik karena strata/berlapis terletak
sejajar ke lubang bor persoalan akan lebih sedikit
Pergerakan batuan dari space lebih banyak sehingga dihasilkan profil yang lebih
rendah dan lebih menguntungkan didalam operasi terutama untuk alat pemuatan
misalnya dari shovel ke frount looder.
Bila peledakan berlawanan arah dengan dip maka diharapkan terjadi :
Block break lebih sedikit karena strata (pelapisan) miring kearah dinding wall
Persoalan-persoalan akan lebih banyak muncul
kondisi lantai pit akan lebih kasar
Pergerakan batuan dari face lebih kurang sehingga menghasilkan muck yang lebih
tinggi.
Bila peledakan berlawanan dengan strike diharapkan terjadi sebagai berikut :
Saw-tooth floor formation, sebagai akibat dari berbagai reaksi peledakan oleh
berbagai macam jenis batuan yang terletak berselang seling pada lantai jenjang
Kondisi back break tidak menentu bisa baik, bisa juga buruk
Orientasi working face (peremukan kerja) tidak menguntungkan sehingga
diperlukan suatus seri peledakan kembali untuk mendapatkan kondisi yang baik.
Baik kedalam pemboran maupun face mempunyai pengaruh langsung terhadap
floor atau elevasi dasar.
c. Resistance
Adalah sifat batuan yang untuk mempertahankan diri menahan kejutan agar keadaannya
tetap seperti semula. Sifat ini penting diketahui untuk dapat menentukan jumlah dan jenis
bahan
d. Straight
Sifat ini biasanya dihubungkan dengan tarikan (tension) batuan sangat lemah terhadap
tarikan dan lebih tahan terhadap tekanan (compersion) pada prinsipnya compersive straigt
jauh lebih besar dari pada tensile straigt (limostone : batu gamping mempunyai
kompersive straight antara 3500-25000 psi akan tetapi tensile straigt antara 500-2500 psi.
Karakteristik ini erat hubungannya dengan peledakan.
e. Density
Batuan atau bahan galian yang lebih erat memerlukan lebih banyak energi untuk pecah
dan pindah tempat, sehingga diperlukan bahan peledak dengan kekuatan atau jumlah
muatan yang lebih besar.
f. Velocity of energy prepagation
Percepatan merambatkan energy dalam batuan adalah sawah atau lebih kecil dari
kecepatan reaksi untuk bahan peledak dan akan bertambah besar dengan bertambahnya
density kecepatan rambat gelombang pada batuan selalu dicirikan sebagai kecepatan
longingtudinal.
Alat Bantu Peledakan
Untuk mendapat suatu bahan peledak maka kita membutuhkan kelengkapan (komponen yang
disebut dengan alat bantu peledakan. Setiap bagian dan pelengkap masing-masing mempunyai
fungsi tersendiri, salah satu alat bantu peledak yaitu Penggalak awal (Detonator/sumbu ledak)
DETONATOR (Sumbu Ledak)
Perlengkapan peledakan adalah bahan-bahan yang membantu peledakan yang habis dipakai
yaitu (1) Detonator (2) Sumbu peledakan.
Detonator adalah alat pemicu awal yang menimbulkan inisiasi dalam bentuk letupan (ledakan
kecil) sebagai bentuk aksi yang memberikan efek kejut terhadap bahan peledak peka detonator
atau primer. Sedangkan yang dimaksud dengan sumbu peledakan disini adalah sumbu api dan
sumbu ledak. Sumbu api adalah sumbu yang disambung ke detonator biasa pada peledakan
dengan menggunakan detonator biasa. Dapat dikatakan bahwa sumbu api merupakan pasangan
detonator biasa, karena detonator biasa tidak dapat digunakan tanpa sumbu. Fungsi sumbu api
adalah untuk merambatkan api dengan kecepatan tetap pada detonator biasa. Sedangkan sumbu
ledak adalah sumbu yng pada bagian intinya terdapat bahan peledak PETN. Fungsi sumbu ledak
adalah untuk merangkai suatu sistem peledakan tanpa menggunakan detonator didalam lubang
ledak. Sumbu ledak mempunyai sifat tidak sensitive terhadap gesekan, benturan, arus liar, dan
listrik statis.
Terdapat dua jenis muatan bahan peledak dalam detonator yang masing-masing fungsinya
berbeda, yaitu :
1. Isian utama (primary charge) berupa bahan peledak kuat yang peka (sensitive), fungsinya
untuk menerima efek panas dengan sangat cepat dan meledak sehingga menimbulkan
gelombang kejut.
2. Isian dasar (base charge) disebut juga isian sekunder adalah bahan peledak kuat dengan
VoD tinggi, fungsinya adalah menerima gelombang kejut dan meledak dengan kekuatan
besarnya tergantung pada berat isian dasar tersebut.
Berdasarkan kekuatan ledak (strength) detonator ditentukan oleh jumlah isian dasarnya. Jenis-
jenis detonator yaitu :
1. Detonator Biasa (plain detonator)
Merupakan sejenis detonator yang penyalannya dengan api/panas yang dihantarkan melalui
sumbu bakar.
a. Kelebihan Detonator Biasa
Ramuan pembakarnya dapat berfungsi untuk meneruskan nyala api dari sumbu bakar.
Isian utama tertentu oleh nyala atau panas akan menghasilkan gelombang sentakan. Isian
dasar karena pengaruh dari gelombang sentakan dari isian utama sehingga isian dasar
meledak, dan kemudian menghentak dinamik atau primer.
b. Kekurangan Detonator Biasa
Detonator biasa selalu digunakan bersama-sama dengan sumbu bakar, sehingga dapat
disimpulkan bahwa detonator biasa hanya dapat digunakan bila disambung atau dipasang
bersama dengan sumbu bakar.

Gambar
Detonator Biasa
2. Detonator Listrik (electric detonator)
Merupakan jenis detonator yang penyalaannya dengan arus listrik yang dihantarkan melalui
kabel khusus untuk itu pada kedua ujung kabe kedalam tabung detonator listrik dilengkapi
dengan jenis kawat halus yang telanjang yang apabila dilewati arus listrik akan berpijar. Pada
prinsipnya susunan dan jenis kandungan ini, detonator ini sama dengan detonator biasa, pijar
dari kawat halus akan membakar ramuan pembakar dan kemudian menyentuh isian utama
sehingga menghasilkan gelombang sentak yang akan meledakkan isian dasar, jadi terlihat
disini bahwa prinsipnya detonator listrik sama dengan detonator biasa bedanya hanya pada
penyalaannya.
a. Kelebihan Detonator Listrik
Jumlah lubang ledak yang dapat diledakkan sekaligus relative lebih banyak.
Pola peledakan lebih leluasa
Hasil peledakan lebih leluasa
Penanganan lebih mudah dan praktis
b. Kekurangan Detonator Listrik
Untuk daerah peledakan yang banyak kilat pemakaian detonator listrik kurang aman
Pengaruh gelombang radio, tv dan sumber arus listrik dan sebagainnya.
Membutuhkan perlengkapan tambahan seperti sumber arus listrik dan alat pengetes
dan lain-lain.

Gambar
Detonator Listrik
3. Detonator Nonel (Nonel detonator/ non elektrik)
Merupakan jenis detonator tetapi cara penyalaan tidak dengan nyala api atau panas (sumbu
bakar) atau dengan arus listrik (kabel listrik), melainkan dengan detonasi yang dihantarkan
dengan suatu pipa plastic kecil (3 mm) yang berisi suatu bahan yang sangat mudah bereaksi.
Bahan isian yang sangat mudah bereaksi. Bahan isian pipa plastic ini dapat menghantarkan
gelombang detonasi sampai 2000 m/detik (6000 feat/second) sumber gelombang detonasi
yang dihantarkan dari sumbu ledak.
a. Kelebihan Detonator Nonel
Relatif aman terhadap kilat
Aman terhadap pengaruh listrik dan gelombang radio
Pipa plastiknya cukup kuat terhadap gesekan dan pukulan, cukup lentur
b. Kekurangan Detonator Nonel
Dilarang memotong ujug pipa plastik
Hubungan pipa plastik dari nonel dengan sumbu plastik harus benar-benar baik jika
tidak, maka tdak dapat digunakan
Dilarang menyambung pipa plastik dengan pipa yang lain.
Pada detonator ini menggunakan sistem tunda, jika terjadi kesalahan pemasangan
pipa.

Gambar
Detonator Nonel
4. Detonator Elektronik (electronic detonator)
Perkembangan elektronik membuat penciptaan mesin peledakan sekuensial. Sekuensial
mesin peledakan memberikan waktu semburan secara elektronik waktu energi dapat diatur
untuk beberapa kawat timah, secara dramatis meningkatkan jumlah maksimum detonator
listrik blasters dapat terhubung dan karenanya meningkatkan jumlah kombinasi potensial.
a. Kelebihan Detonator Elektronik
Detonator elektronik menawarkan fleksibilitas yang luar biasa dalam pilihan waktu
inisiasi. Fleksibilitas ini bersama-sama dengan akurasi dikontrol secara elektronik
membuka pintu untuk penundaan short rangkaian inisiasi kompleks yang sejak itu
menunjukkan manfaat yang signifikan (pengurangan gangguan, meningkatkan
produktifitas). Perangkat lunak simulasi numerik telah dikembangkan untuk membantu
dunia pertambangan yang berurusan dengan sejumlah besar kemungkinan dalam desain
shots mereka.
b. Kekurangan Detonator Elektronik
Detonator tidak dapat digunakan apabila tidak dialiri oleh arus listrik. Detonator ini juga
tidak dapat meledak apabila arus listrik rendah.

Gambar
Detonator Elektronik
Dari ke empat detonator masing-masing memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut yaitu :
Detonator biasa, detonator ini penyalaannya menggunakan api/panas yang dihantarkan
melalui sumbu bakar
Detonator Listrik, detonator ini penyalaannya dengan arus listrik yang dihantarkan
melalui kabel khusus yang di lengkapi dengan kawat halus yang telanjang dan apabila
dialiri arus listrik akan berpijar. Pada dasarnya susunan dan jenis kandungan detonator ini
sama dengan detonator biasa, pijar dari kawat halus akan membakar ramuan pembakar
dan kemudian menyentuh isian utama sehingga menghasilkan gelombang sentak yang
akan meledakkan isian dasar, jadi terlihat disini bahwa prinsipnya detonator listrik sama
dengan detonator biasa bedanya hanya pada penyalaannya.
Detonator Nonel, detonator ini penyalaannya tidak menggunakan api atau panas (sumbu
bakar) atau dengan arus listrik (kabel listrik), mealinkan dengan menggunakan suatu pipa
plastik kecil yang berisi bahan yang mudah bereaksi atau mudah meledak.
Detonator Elektronik, detonator ini menggunakan mesin peledakan yang memberikan
waktu semburan secara elektronik. Waktu energi dapat diatur dengan menggunakan
kawat timah.